Hakikat Yakin

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Yakin adalah engkau tidak mencari keridhaaan manusia dengan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’la, engkau tidak memuji seorang pun atas rezeki dari-Nya, engkau tidak pula mencela orang lain atas sesuatu yang tidak Dia berikan untukmu. Sesungguhnya, rezeki itu tidak ditarik oleh semangat seseorang, tidak pula bisa ditolak oleh ketidaksukaan seseorang. Allah subhanahu wa ta’la—dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya—menjadikan kelapangan dan kesenangan ada bersama keyakinan dan keridhaan. Dia juga menjadikan kegundahan dan kesedihan ada bersama keraguan dan ketidakridhaan.”

(Jami’ul Ulum wal Hikam hlm. 392)

Meminta Kebaikan Dunia dan Akhirat

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Adalah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling sering (beliau ucapkan):

اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Muttafaqun alaih)

Wanita Mengobati Laki-Laki

Apakah di dalam Islam dibolehkan seorang wanita mengobati laki-laki yang bukan mahramnya? Bagaimana pula sebaliknya, seorang wanita berobat kepada dokter laki-laki?

(Akhawat, Jateng)

Jawab:
Bila memang keadaannya darurat dan di sana tidak ada orang lain yang dapat mengobati laki-laki tersebut, maka dibolehkan bagi seorang wanita untuk mengobatinya, dengan dalil hadits ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiallahu ‘anha, ia berkata,

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ نَسْقِي وَنُدَاوِي الْجَرْحَى وَنَرُدُّ الْقَتْلَى إِلَى الْمَدِيْنَةِ

“Kami (para wanita) pernah ikut dalam satu peperangan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tugas kami adalah memberi minum kepada mujahidin, mengobati orang-orang yang luka, dan mengembalikan orang-orang yang terbunuh ke Madinah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2882, 2883)

Hadits di atas menunjukkan dibolehkannya wanita ajnabiyyah mengobati laki-laki ajnabi (yang bukan mahram) karena darurat. (Fathul Bari, 6/98)

Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyyah radhiallahu ‘anha juga pernah menceritakan:

غَزَوْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ سَبْعَ غَزَوَاتٍ، أَخْلُفُهُمْ فِي رِحَالِهِمْ فَأَصْنَعُ لَهُمُ الطَّعَامَ وَأُدَاوِي الْجَرْحَى وَأَقُوْمُ عَلَى الْمَرْضَى

“Aku pernah ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tujuh peperangan. Aku yang menggantikan mereka untuk menjaga kendaraan/ tunggangan mereka (para mujahidin), aku yang membuatkan makanan untuk mereka, mengobati orang yang luka-luka, serta merawat orang sakit.” (Sahih, HR. Muslim no. 1812)

Namun dalam hal ini harus diperhatikan sisi-sisi yang tidak mengundang fitnah (godaan) dan kerusakan, sehingga harus dihindari adanya khalwat (berduaan) antara si sakit dengan wanita yang mengobatinya. Atau wanita tersebut ketika mengobati si sakit, ditemani oleh mahramnya. Wallahu a‘lam.

Adapun bila di sana ada laki-laki yang bisa mengobati si sakit maka tidak dibolehkan ia diobati oleh wanita tersebut. (Jami’ Ahkamin Nisa’, 5/542)

Bagaimana bila seorang wanita berobat ke dokter laki-laki? Maka permasalahannya sama dengan di atas. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang permasalahan ini, beliau menjawab, “Berobatnya seorang wanita kepada dokter laki-laki karena tidak adanya dokter wanita tidaklah mengapa. Demikian yang disebutkan oleh ahli ilmu. Boleh baginya untuk membuka bagian tubuhnya yang sakit/ yang diperlukan untuk dilihat oleh dokter tersebut, namun wanita tadi harus ditemani oleh mahramnya dan tanpa berkhalwat dengan dokter tersebut, karena khalwat adalah perkara yang diharamkan. Tentunya hal ini sebatas keperluan.” (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, 2/979)

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah berkata, “Menyentuh wanita ajnabiyyah (bukan mahram) tanpa ada keperluan/kebutuhan, tidaklah diperkenankan. Adapun bila diperlukan, seperti ia seorang dokter atau wanita itu sendiri seorang dokter dan tidak didapatkan dokter lain yang bisa mengobati si sakit selain dirinya, maka ketika itu dibolehkan menyentuh orang yang bukan mahramnya. Namun tetap penuh waspada terhadap fitnah (godaan) yang akan timbul.” (Ijabatus Sa’il, hlm. 32)

Hukum Memakai Celak

Seseorang pernah bertanya kepada Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-’Utsaimin rahimahullah tentang hukum memakai celak. Beliau rahimahullah pun menjawab, “Bercelak itu ada dua macam:

Pertama: Bercelak untuk menajamkan pandangan, menjadikan selaput mata bertambah terang/jelas, membersihkan dan menyucikan mata bukan untuk tujuan agar kelihatan cantik/indah, maka hal ini tidak mengapa. Bahkan sepantasnya dilakukan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencelaki kedua matanya. Terlebih lagi bila yang digunakan itu adalah itsmid (salah satu jenis celak, red.) yang asli.

Kedua: Bercelak untuk tujuan kecantikan dan berdandan, maka hal ini memang dituntut dari seorang wanita/istri karena wanita diharuskan berhias untuk suaminya. Adapun bila yang melakukannya kaum pria (dengan tujuan kedua ini) maka perlu ditinjau kembali (boleh atau tidaknya). Saya sendiri tawaqquf (tidak dapat menentukan boleh tidaknya) dalam permasalahan ini. Terkadang dibedakan dalam hal ini antara seorang pemuda yang dikhawatirkan bila ia bercelak akan mendatangkan fitnah maka ia dilarang melakukannya, dengan seorang tua yang tidak dikhawatirkan fitnah tersebut darinya, maka ia tidaklah dilarang melakukannya.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4/116)

Bolehkah Merapikan Gigi?

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah berkata dalam fatwanya, “Dibolehkan merapikan/ meluruskan gigi-geligi dan mendekatkan sebagian gigi dengan sebagian yang lain (hingga tidak terpisah/berjauhan) bila memang hal ini diperlukan karena gigi tampak jelek, misalnya, atau perlu untuk diperbaiki. Adapun bila tidak ada keperluan, tidaklah diperbolehkan. Bahkan datang larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikir gigi dengan tujuan memperindahnya karena hal ini merupakan perbuatan sia-sia dan mengubah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun bila tujuannya untuk pengobatan misalnya, atau untuk menghilangkan kejelekan, atau ada kebutuhan seperti seseorang tidak dapat makan makanan kecuali bila giginya diperbaiki terlebih dahulu dan diluruskan, maka yang seperti ini tidak menjadi permasalahan.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, hlm. 34)

Dibalik Perhiasanmu

Wanita memang mempunyai kecenderungan untuk tampil cantik. Tak heran kalau kemudian ada yang meluangkan waktu secara khusus untuk perawatan kecantikan di salon ataupun spa. Bahkan ada yang melakukannya dengan cara yang lebih ekstrem, seperti mengerik alis mata, bertato, dan sebagainya. Bagaimana sesungguhnya Islam mengatur ini semua? Simak bahasan berikut!

Lanjutkan membaca Dibalik Perhiasanmu

Shaffiyah Binti Huyai Cinta dari Tanah Khaibar

Benteng-benteng Khaibar menyisakan kemenangan bagi kaum muslimin setelah terkepung selama 20 hari. Pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak hanya pulang membawa kegemilangan, namun juga membawa cinta seorang wanita, Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha.

Lanjutkan membaca Shaffiyah Binti Huyai Cinta dari Tanah Khaibar

Saat Cemburu Menyapa; Bagian ke-2

Suatu ketika, di malam giliran ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan selendangnya, melepas kedua sandalnya, serta meletakkannya di sisi kedua kakinya. Lalu beliau membentangkan ujung sarungnya di atas tempat tidurnya, setelah itu beliau pun berbaring. Tak berapa lama, beliau bangkit lalu mengambil selendangnya dengan perlahan dan mengenakan sandalnya dengan perlahan agar tidak mengusik tidur ‘Aisyah, kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar ‘Aisyah. Setelahnya, pintu ditutup kembali dengan perlahan. ‘Aisyah yang ketika itu disangka telah lelap dalam tidurnya, ternyata melihat apa yang diperbuat suaminya. Ia pun bangkit mengenakan pakaian dan kerudungnya.


Selanjutnya, kita dengar penuturan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Kemudian aku mengikuti beliau, hingga beliau sampai di pekuburan Baqi’. Beliau berdiri lama lalu mengangkat kedua tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berbalik dan aku pun berbalik. Beliau bersegera, aku pun bersegera. Beliau berlari kecil, aku pun berlari kecil. Beliau berlari lebih cepat, aku pun melakukan yang sama, hingga aku dapat mendahului beliau lalu segera masuk ke dalam rumah. Belum lama aku membaringkan tubuhku, beliau masuk.

Melihat keadaanku beliau pun berkata, “Ada apa dengan dirimu wahai ‘Aisyah, kulihat napasmu memburu?”

Aku menjawab, “Tidak ada apa-apa.”

Beliau berkata, “Beritahu aku atau Allah subhanahu wa ta’ala yang akan mengabarkan kepadaku.”

Aku pun menceritakan apa yang baru berlangsung. Mendengar ceritaku beliau berkata, “Berarti engkau adalah sosok yang aku lihat di hadapanku tadi?”

Aku menjawab, “Iya.” Beliau mendorong dadaku dengan kuat hingga membuatku kesakitan. Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu[1]?”

Aisyah berkata, “Bagaimana pun manusia menyembunyikannya, niscaya Allah mengetahuinya, memang semula aku menyangka demikian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, “Jibril datang menemuiku saat itu. Dia memanggilku, maka aku pun menyembunyikannya darimu. Aku penuhi panggilannya. Jibril tidak mungkin masuk ke kamar ini sementara engkau telah membuka pakaianmu. Tadi aku menyangka engkau sudah tidur maka aku tidak ingin membangunkan tidurmu, karena aku khawatir engkau akan merasa sendirian (dalam sepi) dalam kegelapan malam. Jibril berkata kepadaku saat itu, ‘Sesungguhnya Rabbmu memerintahkanmu untuk mendatangi pekuburan Baqi’ guna memintakan ampun bagi penghuninya’…” (Sahih, HR. Muslim no. 974)

Masih kisah malam-malam ‘Aisyah. Ia pernah merasa kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia pun meraba-raba mencari beliau. Ia menyangka beliau pergi ke rumah istri yang lain. Ternyata ‘Aisyah mendapatkan beliau sedang ruku’ atau sujud seraya berdoa:

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.”

‘Aisyah pun berkata, “Sungguh, aku berada dalam satu keadaan, sementara engkau berada dalam keadaan yang lain.” (Sahih, HR. Muslim no. 485)

‘Aisyah juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari rumahnya pada suatu malam, maka kata ‘Aisyah, “Aku pun cemburu.”

Lalu beliau datang melihat apa yang kuperbuat. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu, wahai ‘Aisyah, apakah engkau cemburu?”

Aku menjawab, “Bagaimana orang sepertiku tidak cemburu dengan orang yang semisalmu?”

Beliau berkata, “Sungguh setanmu telah mendatangimu.[2] (Sahih, HR. Muslim no. 2815)

Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila hendak bepergian (safar) beliau mengundi di antara istri-istrinya siapa yang diajak dalam safar tersebut. Suatu ketika jatuhlah undian kepada ‘Aisyah dan Hafshah, maka keduanya pun keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam safar tersebut, bila malam telah menjelang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersisian dengan unta yang ditunggangi ‘Aisyah (yang berada di dalam sekedup/semacam tandu yang diletakkan di atas unta, sehingga tidak terlihat orang-orang di sekitarnya) dan beliau berbincang bersamanya. Suatu ketika Hafshah berkata kepada ‘Aisyah, “Tidakkah engkau mau menaiki untaku malam ini dan aku menaiki untamu, hingga engkau bisa melihat dan aku bisa melihat?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.”[3]

Lalu ia pun menaiki unta Hafshah sementara Hafshah menaiki untanya. Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju unta yang biasa dinaiki ‘Aisyah tanpa mengetahui bahwa di dalam sekedupnya adalah Hafshah, bukan ‘Aisyah. Beliau mengucapkan salam kemudian berjalan bersisian dengan unta tersebut hingga mereka singgah di suatu tempat. ‘Aisyah merasa kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu. Ia pun cemburu, hingga ketika mereka berhenti dan singgah di suatu tempat, ‘Aisyah memasukkan kakinya ke dalam rumput-rumputan seraya berkata, “Ya Rabbku, biarkanlah seekor kalajengking atau seekor ular menyengatku. Aku tidak sanggup berkata apa-apa kepada Rasul-Mu.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5211 dan Muslim no. 2445)

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ‘terbagi’ dalam dua kelompok, satu kelompok terdiri dari ‘Aisyah, Hafshah, Shafiyyah, dan Saudah. Sedangkan kelompok lain terdiri dari Ummu Salamah, Zainab bintu Jahsyin, Ummu Habibah, Juwairiyah, dan Maimunah[4]. Kaum muslimin mengetahui bagaimana kecintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap ‘Aisyah. Maka bila mereka ingin memberikan hadiah kepada beliau, mereka menanti saat beliau berada di rumah ‘Aisyah. Mengetahui hal tersebut, berkatalah kelompok Ummu Salamah kepada Ummu Salamah, “Bicaralah kepada Rasulullah agar beliau menyampaikan kepada manusia, ‘Siapa yang ingin memberikan suatu hadiah kepada Rasulullah maka hendaklah dia menyerahkan hadiah tersebut kepada beliau di mana saja beliau berada dari rumah istri-istrinya (jangan hanya di rumah ‘Aisyah)’.”

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pun menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau hanya diam, tidak mengatakan sesuatu. Ketika Ummu Salamah ditanyai oleh kelompoknya, ia katakan, “Beliau tidak berkata apa-apa kepadaku.” Mereka berkata, “Sampaikan lagi kepada beliau.”

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pun menyampaikan kembali keinginan mereka saat gilirannya, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap diam. Pada kali yang ketiga, Ummu Salamah kembali diminta untuk menyampaikan keinginan kelompoknya. Ketika itu berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan engkau menyakiti aku dalam perkara ‘Aisyah, karena sesungguhnya wahyu tidak pernah diturunkan kepadaku saat aku berada dalam selimut seorang istriku kecuali dalam selimut ‘Aisyah.”

Mendengar pernyataan demikian, Ummu Salamah berkata, “Aku bertaubat kepada Allah dari menyakitimu, wahai Rasulullah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2581)

Mereka pun pernah mengutus Fathimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menemui ayahnya guna meminta keadilan beliau dalam permasalahan ‘Aisyah, karena mereka mengetahui besarnya kedudukan ‘Aisyah di hati beliau dan besarnya cinta beliau kepadanya[5]. Fathimah pun minta izin masuk menemui ayahnya yang ketika itu sedang berbaring bersama ‘Aisyah di dalam selimutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkan. Fathimah radhiallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, istri-istrimu mengutusku untuk menemuimu guna meminta keadilan kepadamu dalam permasalahan putri Abu Quhafah (maksudnya putri Abu Bakr, yakni ‘Aisyah).”[6]

‘Aisyah terdiam mendengar hal tersebut. Sedangkan Rasulullah berucap, “Wahai putriku! Bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Ya.”

Rasulullah berkata, “Kalau begitu cintailah ‘Aisyah.”

Mendengar hal tersebut, Fathimah pun bangkit, pamit kepada ayahnya dan berlalu untuk mengabarkan hal itu kepada istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain. Mereka pun berkata kepada Fathimah, “Kami memandangmu sedikit pun belum mencukupi apa yang kami inginkan. Kembalilah kepada Rasulullah dan sampaikan lagi kehendak kami agar beliau berlaku adil dalam permasalahan putri Abu Quhafah.”

Fathimah berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan berbicara lagi tentang permasalahan ini kepada beliau.”

Maka istri-istri Nabi pun mengutus Zainab bintu Jahsyin. Kata ‘Aisyah, “Zainab inilah yang menyamaiku dan menyaingiku di antara mereka dalam kedudukan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum pernah melihat seorang wanita pun yang paling baik agamanya daripada Zainab. Dia seorang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, paling jujur dalam ucapan, paling menyambung hubungan silaturahmi, paling banyak bersedekah, paling banyak mencurahkan kemampuannya untuk bekerja lalu hasilnya ia sedekahkan serta untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kecuali satu kekurangannya, ia cepat marah (emosional) namun ia cepat pula menyadari kemarahannya tersebut dan tidak terus-menerus dalam emosinya.”

Zainab pun meminta izin masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu berada dalam selimut bersama ‘Aisyah sebagaimana keadaan beliau ketika Fathimah menemuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkan. Zainab lalu mengutarakan maksud kedatangannya. Setelah itu ia mencela ‘Aisyah habis-habisan. ‘Aisyah berkata, “Aku mengamat-amati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari tahu apakah beliau mengizinkan aku untuk membalas. Terus-menerus Zainab melemparkan kemarahannya terhadapku hingga aku tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempermasalahkan bila aku membela diri.”

Maka ‘Aisyah pun membalas perbuatan Zainab tersebut, hingga ia dapat mematahkan ucapan Zainab dan mengalahkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum seraya berkata, “Inilah dia putri Abu Bakr.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 2442, lafadz di atas adalah menurut riwayat Muslim)

Kecemburuan ini juga ada di kalangan para shahabiyyah. Al-Imam an-Nasa’i meriwayatkan dari Anas bin Malik  bahwasanya para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menikahi wanita Anshar?” Beliau menjawab,

إِنَّ فِيْهِمْ لَغِيْرَةً شَدِيْدَةً

“Pada diri mereka ada kecemburuan yang sangat.” (HR. an-Nasa’i, 6/69. Asy-Syaikh Muqbil berkata dalam ash-Shahihul Musnad [1/82], “Hadits sahih di atas syarat Muslim.”)

Cemburu Tidak Membutakan Mereka

Kisah-kisah cemburu di atas kita bawakan bukan untuk mencela istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan kita katakan mereka adalah wanita-wanita yang paling mulia. Cukuplah bagi mereka kemuliaan dengan Allah subhanahu wa ta’ala memilih mereka menjadi pendamping hidup Rasul-Nya yang mulia. Seandainya ulama kita tidak membawakan kisah cemburu mereka dalam kitab-kitab yang kita warisi sampai hari ini niscaya kita pun tidak akan menyinggungnya. Namun karena pada kisah mereka ada pelajaran dan ilmu maka disampaikanlah kepada umat. Sekali lagi bukan dengan tujuan melekatkan aib pada mereka.

Jangan pula kisah mereka dijadikan dalil oleh wanita-wanita sekarang untuk membenarkan tindakan salah mereka dengan dalih cemburu. Jangan pula wanita-wanita itu menolak ucapan baik dari suami mereka yang menasihati mereka dalam masalah cemburu dengan mengatakan, “Istri-istri Rasulullah juga cemburu dan berbuat ini dan itu karena dorongan cemburunya.” Memang benar, mereka (istri-istri Rasul) cemburu dan engkau pun cemburu, namun kebaikan yang ada pada diri mereka tidak didapatkan pada dirimu….

Ketahuilah, bagaimanapun cemburu yang ada di tengah mereka, tidaklah membuat mereka menutup mata dari kebaikan yang ada pada madu mereka. Tidak pula mengantarkan mereka untuk membuat kedustaan guna menjatuhkan madu mereka.

Satu contoh, ketika peristiwa Ifk[7], Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat Zainab bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha, salah seorang istri beliau, tentang diri ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau berkata kepada Zainab:

مَاذَا عَلِمْتِ أَوْ رَأَيْتِ؟ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي، وَاللهِ مَا عَلِمْتُ إِلاَّ خَيْرًا

“Apa yang engkau ketahui tentang Aisyah dan apa pendapatmu?” Zainab menjawab, “Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku, demi Allah aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 4141)

Lihatlah bagaimana kejujuran Zainab. Cemburunya kepada ‘Aisyah tidak membuatnya lupa akan kebaikan dan keutamaan ‘Aisyah. Demikian pula sebaliknya pada diri ‘Aisyah, ia pernah memuji Zainab, “Aku belum pernah melihat seorang wanita pun yang paling baik agamanya daripada Zainab. Dia seorang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, paling jujur dalam ucapan, paling menyambung hubungan silaturahmi, paling banyak bersedekah, paling banyak mencurahkan kemampuannya untuk bekerja lalu hasilnya ia sedekahkan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” Padahal Zainab inilah yang menyamainya dalam kedudukan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Dengarkan pula pujian ‘Aisyah terhadap Juwairiyah radhiallahu ‘anha, salah seorang Ummahatul Mukminin, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang wanita yang lebih besar berkahnya terhadap kaumnya daripada Juwairiyah.” (al-Istiab, 4/1805)

Pujian ini dilontarkan ‘Aisyah ketika Bani Mushthaliq, kaum Juwairiyah, dibebaskan oleh kaum muslimin dari penawanan karena pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Juwairiyah. Pujian ini dengan jujur diucapkan ‘Aisyah padahal sebelumnya ‘Aisyah cemburu kepada Juwairiyah. ‘Aisyah mengatakan, “Juwairiyah adalah wanita yang berparas elok dan manis. Setiap orang yang memandangnya pasti akan terpikat. Aku melihatnya dari balik pintu saat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tolong dalam perkara pembebasan dirinya dari status tawanan perang. Ketika itu aku tidak menyukainya karena aku tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melihat keelokannya sebagaimana yang aku lihat.” (al-Isti’ab, 4/1804)

Demikian sedikit contoh dari kejadian yang ada yang menunjukkan bahwa kecemburuan tidaklah membutakan mereka dari kebenaran dan dari melihat kenyataan.

Bandingkan dengan apa yang ada pada diri wanita-wanita yang cemburu pada hari ini… Sungguh cemburu membuat mereka buta. Mereka jatuhkan kehormatan wanita yang mereka cemburui di hadapan suami mereka dan di hadapan orang lain. Bahkan mereka menempuh cara-cara yang dilarang oleh agama ini guna “menyingkirkan” wanita yang membuat panas hatinya dengan luapan api cemburu. Wallahu al-musta’an (Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang dimintai pertolongan).

Meredam Cemburu

Kita pasti memiliki cemburu seperti halnya istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Namun seharusnyalah kita bersabar dengan kecemburuan yang ada pada diri kita dan berupaya meredamnya dengan kesabaran yang indah ini. (Nashihati lin Nisa’, hlm. 161).

Ketahuilah kesabaran itu termasuk buah iman kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala. (al-Jami’ush Shahih fil Qadar, asy-Syaikh Muqbil, hlm. 11)

Apa pun yang menimpa dan terjadi pada diri kita, semuanya tidak lepas dari ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dan takdir-Nya. Hendaknya kita sadari bahwasanya semua ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala itu memiliki hikmah, dan hikmah itu terkadang bisa kita ketahui dan pada waktu lain tidak kita ketahui. Allah subhanahu wa ta’ala sekali-kali tidak berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya. Dia Mahatahu apa yang pantas dan baik bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya baik bagi diri mereka, di dunia mereka dan di akhirat mereka kelak.

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah


[1] Dengan pergi ke tempat istri yang lain sementara malam ini adalah malam giliranmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mungkin melakukan hal tersebut tanpa izin dari Allah subhanahu wa ta’ala. (Hasyiyah al-Imam as-Sindi terhadap Sunan an-Nasa’i, 4/75)

[2] Dengan engkau menyangka bahwa aku pergi ke rumah istriku yang lain, karena itu engkau menyelidikiku. (Hasyiyah al-Imam as-Sindi terhadap Sunan an-Nasa’i, 4/72)

[3] ‘Aisyah memenuhi permintaan Hafshah karena ia sangat berkeinginan untuk melihat apa yang belum pernah ia lihat. Hal ini menunjukkan ketika dalam perjalanan, unta keduanya tidaklah berdekatan. (Fathul Bari, 9/375)

[4] Sedangkan istri beliau yang bernama Zainab bintu Khuzaimah Ummul Masakin radhiallahu ‘anha telah meninggal sebelum beliau menikah dengan Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, demikian disebutkan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat.

[5] Namun sebenarnya dalam permasalahan cinta ini, seorang suami tidaklah dituntut untuk berlaku adil terhadap semua istrinya. Ia diperkenankan untuk mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan ulama bahwasanya tidak wajib bagi seorang suami untuk menyamakan di antara istri-istrinya dalam masalah jima’ (senggama). Ini merupakan pendapat al-Imam Malik dan asy-Syafi’i rahimahumallah. Hal ini karena terjadinya jima’ berawal dari dorongan syahwat dan adanya kecondongan hati, serta tidak akan bisa seorang suami bersikap sama di antara istri-istrinya dalam hal ini, karena hatinya kadang lebih condong kepada salah seorang istrinya lebih dari yang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ

“Kalian tidak akan mampu untuk berbuat adil di antara para istri walaupun kalian sangat ingin untuk berlaku adil.” (an-Nisa’: 129)

‘Abidah as-Silmani berkata, “Yakni kalian tidak bisa berlaku adil dalam masalah cinta dan jima’.” Namun bila seorang suami memungkinkan baginya berlaku adil dalam perkara jima’, maka itu lebih baik dan lebih utama. Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi giliran di antara istri-istri beliau dan beliau berlaku adil terhadap mereka. Beliau pernah berkata, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam apa yang aku mampu. Maka janganlah Engkau mencelaku dalam perkara yang aku tidak mampu.” (al-Mughni, 7/35)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh seorang suami melebihkan salah seorang istrinya dalam pembagian. Akan tetapi bila ia mencintai salah seorang istrinya lebih dari yang lain, begitu pula ia menjima’inya lebih dari yang lain, maka tidak ada dosa atasnya dalam hal ini.” (al-Fatawa, 32/269)

[6] Mereka meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan di antara mereka dalam masalah cinta. (Syarh Shahih Muslim, 15/205)

[7] Dalam peristiwa itu, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dituduh berzina dengan Shafwan ibnul Mu’aththal radhiallahu ‘anhu sekembalinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dari perang Bani Mushthaliq. (Mukhtashar Siratir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hlm. 125)