Buah Keimanan (8)

Keimanan yang benar akan mencegah seorang hamba dari terjatuh ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan. Hal ini disebutkan dalam ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina yang berzina saat ia berzina dikatakan orang yang beriman. Tidaklah seorang pencuri saat ia mencuri dikatakan orang yang beriman. Tidaklah peminum khamr saat ia meminumnya dikatakan orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Barang siapa terjatuh ke dalamnya, itu disebabkan oleh imannya yang lemah. Hilang cahaya iman pada dirinya, ia tidak memiliki rasa malu dari Dzat yang selalu melihat padahal Dia Subhanahu wata’ala telah melarang perbuatan tersebut. Ini adalah hal yang nyata dan dapat disaksikan. Keimanan yang jujur dan benar, senantiasa disertai oleh rasa malu terhadap Allah Subhanahu wata’ala, rasa cinta kepada- Nya, rasa harap yang kuat akan pahala dari-Nya, rasa takut akan hukuman- Nya, dan cahaya yang menghilangkan kegelapan dalam hati. Hal-hal yang menjadi penyempurna keimanan tersebut—tidak diragukan lagi—akan mendorong pemiliknya menuju segala amalan kebaikan dan mencegahnya dari segala amalan keburukan. Ketahuilah, apabila keimanan menyertai seseorang saat dihadapkan pada sebab-sebab yang dapat mengantarkannya pada perbuatan keji, cahaya keimanan akan mencegahnya untuk terjatuh ke dalam perbuatan keji tersebut. Rasa malunya kepada Allah Subhanahu wata’ala—yang merupakan salah satu cabang keimanan terbesar—akan mencegahnya dari terjatuh ke dalam perbuatanperbuatan keji tersebut. (diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 59—60, karya asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Ilmu Bukan Banyaknya Riwayat & Ucapan

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, orang-orang terdahulu (para ulama salaf, -red.) diam karena ilmu. Mereka pun menahan diri (dari sesuatu) karena mata hati yang tajam. Sungguh, mereka lebih mampu meneliti (sebuah masalah) kalau mereka mau melakukannya.”

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Sungguh, banyak orang belakangan yang tertipu dengan hal ini. Mereka menyangka bahwa siapa yang banyak bicara, debat, dan perbantahannya dalam masalah agama, berarti dia lebih berilmu. Ini adalah murni kebodohan. Lihatlah para sahabat yang senior dan ulama mereka, seperti Abu Bakr, Umar, Ali, Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu.

Betapa sedikit ucapan mereka dibandingkan dengan ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu , padahal mereka lebih berilmu. Demikian pula ucapan generasi tabi’in lebih banyak daripada ucapan generasi sahabat, padahal generasi sahabat lebih berilmu. Ucapan generasi setelah tabi’in pun lebih banyak daripada ucapan generasi tabi’in, padahal generasi tabi’in lebih berilmu. Jadi, ilmu itu bukan karena banyaknya riwayat dan ucapan, melainkan cahaya yang diletakkan di kalbu. Dengan cahaya itu, seorang hamba akan mengenal kebenaran dan bisa membedakannya dengan kebatilan….” (Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, hlm. 82—83)

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Ulama Kita Bukan Berhala

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ada saja tuduhan dari orang-orang yang asal bunyi (asbun) dalam menentang dakwah tauhid ini. Caci-maki, hujatan, hingga fitnah sudah menjadi menu keseharian bagi “Ahlul Asbun”. Yang paling asbun adalah tuduhan bahwa sejumlah ulama dituding sebagai berhala kaum Wahabi. Na’udzubillah.

Memahami apa itu Wahabi saja masih belepotan, bisa-bisanya tudingan keji itu terlontar oleh mereka yang mengaku sebagai “Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Sebagai “Ahlus Sunnah”, semestinya mereka mengagungkan sunnah. Tetapi, alih-alih mengagungkan sunnah, mereka acap berada di barisan terdepan dalam mengolok-olok sunnah dan gandrung dengan ritual-ritual bid’ah (dan syirik), termasuk ritual-ritual yang bersumber dari agama Hindu, na’udzubillah. Dalam menyikapi ulama, Ahlus Sunnah bukanlah orang yang membabi buta, bukan orang yang membebek alias taklid seperti orang-orang “asbun” tadi. Berfatwa nyeleneh— bahkan menjurus kufur—justru diikuti, dibela mati-matian, dianggap wali, dan kuburannya dikeramatkan.

Kalau begitu, siapa yang lebih pantas disebut memberhalakan? Ahlus Sunnah juga bukan orang yang gemar mengultuskan. Percaya diri menggelari tokoh tertentu dengan “asy-Syahid”, menganggap imam seorang tokoh hanya karena tokoh itu meletup-letup kebenciannya terhadap Amerika Serikat dan mengampanyekan terorisme, atau menyematkan gelar ahli fatwa terhadap tokoh yang hanya tahu soal “politik”. Kapasitas keilmuan, seperti ilmu hadits, akidah, tafsir, fikih, dll., menjadi tidak penting lagi. Yang dipegangi Ahlus Sunnah sejatinya adalah kebenaran, bukan individunya. Jadi ia bersikap dengan tarjih, memilih dalil mana yang paling sahih. Jadi sangat mungkin dalam amaliah tertentu—seperti gerakan shalat—, ia mengikuti pendapat ulama A, namun dalam gerakan shalat yang lain, ia memegangi pendapat ulama B.

Sikap ini juga yang dipegangi asy- Syaikh bin Baz, salah satu ulama masa kini yang dimiliki umat ini. Walaupun dalam memahami fikih beliau memakai thariqah (mazhab) Ahmad bin Hanbal rahimahullah (mazhab secara istilah, bukan mazhab syakhshi, yaitu mengambil semua pendapatnya), namun dalam menghadapi ikhtilaf ulama, beliau tetap memakai metodologi tarjih, dengan mengambil pendapat yang didukung oleh dalil yang paling sahih. Demikian pula ketika mengeluarkan fatwa, karena sebagaimana kata beliau, al-haq itulah yang pantas diikuti. Kebutaan total yang dialami beliau sejak usia dua puluh tahun, tak menyurutkan semangat beliau dalam menggali banyak ilmu. Alhasil, kealiman ulama yang bernama lengkap Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Muhammad bin Abdillah Ali Baz ini tidak diragukan lagi.

Penjelasan dan fatwa beliau sangat dicari dan dibutuhkan oleh umat. Semangat ibadah, kesungguhan, kedermawanan, dan kasih sayang beliau menjadi teladan bagi kaum muslimin. Akidah dan manhaj dakwah beliau tecermin dari tulisan atau karya-karyanya. Aqidah Shahihah dan at-Tahdzir minal Bida’ adalah di antara karya beliau yang menunjukkan pembelaan beliau kepada sunnah dan kebenciannya terhadap kebid’ahan, serta komitmennya yang kuat dalam menegakkan tauhid dan membersihkan sekaligus memerangi kesyirikan dan pelakunya. Jabatan Rektor Universitas Islam Madinah, Ketua Hai’ah Kibaril ‘Ulama (Majelis Ulama Besar), Ketua al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) Kerajaan Saudi Arabia, dan pimpinan Majelis Tinggi Rabithah ‘Alam Islami yang pernah disandangnya, setidaknya menunjukkan kapasitas beliau, sekaligus kepercayaan dan keridhaan umat terhadapnya.

Maka dari itu, kala menyikapi ulama, yang terpenting, kita tidak terperangkap dalam jeruji taklid. Menutup seluruh dinding hati dari menerima kebenaran, hanya karena ulama tersebut berfatwa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Hanya karena dia berasal dari Arab Saudi kemudian aroma kebencian kita tersulut, sedikit-sedikit langsung berkomentar, “Ini ajaran Wahabi,” tanpa melihat bahwa dalil yang beliau bawa demikian gamblang dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Jangan sampai fanatisme melilit mati hati kita, sehingga kita justru memberhalakan kesesatan.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Surat Pembaca Edisi 88

Jejak Rasul atau Jejak Kuda Jibril?

Pada Asy-Syariah no. 86/1433 H/2012, bani Israil menyembah anak sapi, ayat 96 surah Thaha, Samiri mengatakan, mengambil dari jejak rasul. Tetapi penjelasan dari penulis bekas tapak kuda kaki kuda Jibril. Yang manakah yang benar? Mohon penjelasannya. 085730xxxxxx

jawaban redaksi
Rasul yang dimaksud adalah Jibril yang naik kuda membawa rombongan Nabi Musa q dan bani Israil. Wallahu a’lam.

Pajak dan Pungutan Pemerintah
Saya sangat senang sekali dengan majalah Asy-Syariah. Saya ingin sekali majalah ini membahas tentang pajak dan pungutan pemerintah lainnya dalam tinjauan Islam secara lengkap. Rizki M 085292xxxxx

jawaban redaksi
Jazakumullahu khairan atas masukannya. Akan kami pertimbangkan.

Rubrik “Kaidah Fikih”
Mohon Asy-Syariah menambah rubrik “Kaidah Fikih”. Abu Ibrahim 085728xxxxxx

jawaban redaksi
Jazakumullahu khairan atas masukannya. Akan kami pertimbangkan.

Cuplikan Ayat Sama?
Mohon diteliti kembali pada Asy- Syariah edisi 86 pada artikel pandai bersyukur pada cuplikan ayat Ibrahim: 34 dan an-Nahl: 18, apakah memang sama seperti itu? Mohon untuk ke depannya lebih teliti lagi. 085326xxxxx

jawaban redaksi
Memang sama, silakan dilihat di mushaf pada ayat terkait. Barakallahu fikum.

Istilah “Kader”
Afwan, mau usul, di Asy-Syariah no. 85 hlm. 11 poin no. 8, terdapat istilah “kader”, mohon agar tidak digunakan lagi sebab istilah ini sering dipakai/dikenal untuk hal berbau politis, mungkin bisa diganti “insan”, dsb. Ummu Abdirrahman-Sebaung 085331xxxxxx

jawaban redaksi
Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Tema Mukjizat Rasul
Bismillah. Maaf, apakah majalah Asy Syariah pernah mengangkat permasalahan tentang mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Karena akhir-akhir ini tersebar di tengah-tengah kita buku yang menyatakan tentang ramalan beliau. Padahal itu sebenarnya bukanlah ramalan, melainkan mukjizat. Kalau sudah pernah diangkat di dalam majalah, pada edisi berapa? Kalau belum ada, bagusnya diangkat, guna meluruskan pemahaman umat. 08985xxxxxx

jawaban redaksi
Tema tersebut memang belum pernah kami angkat secara khusus. Alhamdulillah, tema tersebut sudah kami rencanakan untuk diangkat pada edisi 93. Tunggu kehadirannya, insya Allah.

Saat Ujian Menerpa

Ketika iman bersemayam di hati, menetap, tumbuh, dan mewarnai setiap perilaku seorang hamba, ujian pun sejenak menghampiri. Keimanan yang menyembul di dada akan diuji, seberapa kokoh keimanan itu ada. Demikianlah ketentuan yang ada. Setiap manusia akan mendapatkan ujian sesuai dengan kadar kemampuan dirinya. Allah Subhanahu wata’ala telah menggambarkan perihal ujian keimanan itu melalui firman-Nya,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ {} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta.” (al-Ankabut: 2—3)

Ingatkah kisah ashhabul-ukhdud? Saat para pembesar Najran (saat itu masuk wilayah Yaman) membuat parit. Di dalam parit tersebut diletakkan kayu bakar yang kemudian disulut api. Parit itu pun diliputi bara api. Para pembesar Najran itu duduk-duduk di sekitar parit dengan jilatan api yang menyala-nyala. Mereka berada di sekitar parit guna menyaksikan penyiksaan terhadap orangorang yang beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah Subhanahu wata’ala  abadikan kisah ini dalam firman-Nya,

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ {}النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ {} إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ {} وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ {} وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Binasa dan terlaknatlah orangorang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (al-Buruj: 4—8)

Mereka dilahapkan ke dalam parit dengan api yang menyala tiada lain karena iman yang ada pada mereka. Mereka diuji dengan hal tersebut. Hal ini juga menimpa para sahabat saat awal kemunculan Islam di Makkah. Keluarga Yasir radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia pun tak luput menghadapi kesadisan kaum musyrikin Quraisy. Penyiksaan demi penyiksaan terus mendera keluarga Yasir radhiyallahu ‘anhu. Selain diri Yasir radhiyallahu ‘anhu, istri pun tak luput mendapat siksaan.

Begitu pula putranya, Ammar radhiyallahu ‘anhu. Ayah, ibu, dan anak mendapat perlakuan tidak manusiawi. Mengapa mereka mengalami hal yang demikian? Tak lain karena iman telah singgah di lubuk hati mereka nun dalam. Walau tubuh mereka disakiti, jasad mereka dicabik tiada henti, namun iman yang teguh kukuh memaksanya bertahan dalam keislaman. Keluarga Yasir tetap menyimpan itu di dalamnya. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Sekali lagi, karena iman mereka disiksa, disakiti, dan dizalimi tiada henti. Bilal bin Rabah z juga mengalami hal serupa. Sahabat yang mulia ini mengalami penyiksaan fisik nan teramat sadis.

Walau demikian, imannya terus menyuarakan, “Ahad… ahad….” sebuah ucapan yang menerangkan secara nyata bahwa al-Khaliqur ar-Rahman, Allah ksebagai satu-satu-Nya yang diibadahi. Tubuhnya kerap menerima deraan yang menyedihkan karena iman yang ada padanya. Ia disiksa, disakiti. Namun, semua itu tak memadamkan cahaya di hatinya. Tentu saja, masih banyak para sahabat lainnya yang pada awal kemunculan Islam mengalami tindak kekerasan. Semakin tekanan menguat, iman yang ada pada mereka pun semakin kokoh. Mereka tergolong as-sabiqunal awwalun. Mereka itulah yang telah mendapat pujian dari AllahSubhanahu wata’ala. Hal ini tergambar dalam firman-Nya,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Lantaran keimanan mereka, kaum musyrikin pun menggasak libas mereka. Namun, mereka justru makin kokoh keimanannya. Mereka senantiasa terus diingatkan untuk senantiasa bersabar menghadapi kekerasan kaum tak beriman. Mereka terus dibimbing oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi penindasan kaum yang memusuhi Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya. Mereka sabar dan terus bersabar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (al-Baqarah: 214)

Cobaan demi cobaan datang silih berganti. Beragam ujian pun menimpa para nabi dan rasul. Orang-orang yang shiddiq (jujur keimanannya), para syuhada (yang mati syahid), hamba-Nya yang saleh, dan yang beriman, mereka bersabar. Demikianlah apa yang digambarkan dalam hadits sahih berikut,

وَ
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ  رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras dikenai cobaan?” Jawab beliau, “Para nabi, lantas yang semisal, dan yang semisal. Seseorang akan tertimpa cobaan sesuai dengan keadaan agamanya. Jika agamanya kuat, cobaan itu pun keras. Jika agamanya masih lemah, ia akan diuji sesuai dengan agamanya. Tiadalah cobaan itu senantiasa menimpa seorang hamba sampai ia meninggalkan si hamba berjalan di muka bumi tanpa ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2398, hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya)

Para ulama yang teguh memegang syariat pun tak lepas dari cobaan. Sebut saja al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau adalah seorang ulama yang diliputi kesabaran luar biasa kala cobaan menimpanya. Selain itu, al-Imam al- Barbahari rahimahullah juga termasuk salah seorang ulama yang diuji dengan sikap keras masyarakat pada waktu itu. Beliau dikucilkan di tengah masyarakat. Beliau hidup menyendiri hingga akhir hayat. Demikianlah cobaan hidup yang

bisa menimpa siapa pun dan di mana pun. Hanya orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala dan diberi kesabaran yang akan berhasil melewati masa-masa ujian tersebut. Mereka akan tetap kokoh di atas agama Allah Subhanahu wata’ala dan teguh memegang as-Sunnah. Berbeda halnya dengan orang-orang yang munafik. Ketika ujian menerpa, mereka akan lari meninggalkan prinsip agamanya. Ia berbalik kembali kepada kekafiran. Wal ‘iyadzubillah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tanpa keyakinan). Jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)

Melalui cobaan itulah akan terbukti keimanan seseorang. Jika ia seorang hamba yang jujur dan benar keimanannya, ia akan tetap memegang teguh agamanya. Sebaliknya, jika ia lemah, maka prinsip agamanya akan dicampakkan dan ia berpaling untuk meraup kepentingan dunia. Ia menjadi manusia yang terfitnah oleh keadaan dunia. Rasulullah n telah mengingatkan hal itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian melakukan berbagai macam amal sebelum tiba beragam fitnah yang seperti potonganpotongan malam yang gelap gulita. Yang seseorang pada pagi hari dia beriman, sore harinya ia menjadi kafir. Pada sore hari beriman dan pagi hari ia menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan barang keduniawian.” (HR. at- Tirmidzi no. 2195 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullah)

Para ulama di masa sekarang pun tak lepas dari beragam ujian. Mereka dicerca, dihujat, dan diolok-olok. Kalangan hizbiyyun mengumbar tuduhan keji terhadap para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebut saja misalnya para tokoh FIS di Aljazair, mereka menyebut asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan as-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin sebagai antek-antek Amerika. Hujatan yang mereka lontarkan terkait Krisis Teluk yang saat itu sedang menghangat. Demikian pula Muhammad Surur Zainal Abidin, para pengikutnya lebih dikenal dengan sebutan sururiyyun menghujat para ulama di Saudi Arabia.

Muhammad Surur Zainal Abidin yang lebih senang hidup di negara kafir Inggris ini menyebut para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai budak Amerika. Cercaan Muhammad Surur Zainal Abidin ini dilatarbelakangi fatwa para ulama yang memperkenankan meminta bantuan (pasukan) asing dalam upaya menghadapi agresi Sadam Husain kala itu. Tak ketinggalan Abdurrahman Abdul Khaliq, ia menyebut para ulama Ahlus Sunnah dengan pelecehan, “… hanya mengerti qusyur (kulit) Islam yang setingkat masa lalu….”

Para ulama dituduh tidak memahami perkembangan kekinian. Sebuah tuduhan gegabah dalam menyikapi para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menyatakan bahwa hal itu (mencaci maki ulama) dalam rangka memisahkan umat ini dari ulamanya. Apabila berhasil, akan memudahkan bagi mereka (kalangan ahlul bid’ah) untuk menyusupkan berbagai kerancuan pemikiran (syubhat) dan kesesatan yang menyesatkan umat dan memecah belah kekuatan umat. Kata beliau, “Tak seorang pun yang melanggar kehormatan para ulama yang istiqamah di atas jalan yang haq, kecuali satu di antara tiga keadaan berikut ini.

Pertama, bisa jadi ia seorang munafik yang telah diketahui kemunafikannya.

Kedua, ia seorang fasik yang membenci ulama karena mereka (para ulama) telah mencegahnya dari kefasikan/ tindakan fasik.

Ketiga, dia seorang hizbi, sesat, membenci ulama karena ulama tersebut tidak mencocoki selera hizbiyah mereka dan pemikiran-pemikirannya yang menyimpang.” (al-Ajwibah al-Mufidah, hlm. 51)1 Ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ini sebagaimana

disebutkan Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)

Begitulah para ulama. Amalnya senantiasa dilandasi karena Allah Subhanahu wata’ala. Niat dan perilakunya senantisa bersendikan pada apa yang telah dituntunkan oleh Allah Subhanahu wata’aladan Rasul-Nya. Bagaimana tidak? Para ulamalah yang mewarisi ilmu yang dibawa oleh para nabi. Para ulamalah yang menjabarkan ilmu tersebut dengan perbuatan. Nabi n bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mampu mendapatkannya, (berarti) ia telah mendapatkan keberuntungan yang banyak.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 6297)

Karena itu, sungguh tercela orang yang meremehkan dan mencela seorang alim atau para ulama yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, ulama yang istiqamah di atas al-haq. Berikut sejumlah kisah dari kehidupan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t. Seorang ulama yang masyhur lantaran keluasan ilmu dan kedermawanannya. Selain tentu saja sifat-sifat terpuji lainnya yang tak bisa disebut satu demi satu dalam lembaran ini.

Suatu hari, asy-Syaikh Muhammad Hamid, ketua perhimpunan Ashabul Yaman di Eritria tiba di Riyadh. Malam itu begitu dingin, padahal dirinya tak memiliki bekal untuk bisa menyewa kamar hotel. Saat itu timbul pikiran untuk bertamu ke rumah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Malam itu waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Awalnya, beliau ragu untuk bertamu ke rumah asy-Syaikh Abdul Aziz. Namun, akhirnya diputuskan tetap berkunjung. Kata asy-Syaikh Muhammad Hamid, “Saya tiba di rumah beliau yang sederhana dan bertemu dengan seseorang yang sedang tidur di pintu pagar. Setelah terbangun, ia bukakan pintu untuk saya.

Saya memberi salam kepadanya secara pelan agar tak ada orang lain mendengar lantaran malam yang masih larut. Tak berapa lama, saya melihat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berjalan menuruni tangga seraya membawa semangkuk makanan. Beliau ucapkan salam dan memberikan makanan itu kepada saya.” Beliau katakan, “Saya mendengar suara Anda kemudian saya mengambil makanan itu karena saya berpikir Anda belum makan malam ini.” “Demi Allah, saya tidak bisa tidur malam itu. Saya menangis karena telah mendapat perlakuan yang sedemikian baik.” (Mawaqif Madhiyah fi Hayati al- Imam Abdul Aziz bin Baz, hlm. 223, lihat Mereka Adalah Teroris, al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, hlm. 312)

Cermatilah betapa kehidupan beliau yang demikian sederhana. Tak tampak gemerlap kemewahan padanya. Betapa beliau begitu peduli, begitu peka terhadap sesama. Sungguh, contoh akhlak terpuji dan menjadikan hati terasa sejuk karenanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ب

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)

Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

“Sungguh, keutamaan seorang alim (yang berilmu) dibandingkan dengan seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan di malam purnama dibandingkan atas segenap bintang kemintang.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash- Shagir no. 6297)

Hanya orang-orang yang rendahan yang akan merendahkan para ulama yang senantiasa berpegang pada perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Biografi Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah” “

Ulama adalah pewaris para nabi. Keberadaannya di tengah umat bagai pelita dalam kegelapan. Titah dan bimbingannya laksana embun penyejuk dalam kehausan. Keharuman namanya pun selalu dikenang oleh umat sepanjang zaman. Maka dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya, Allah Subhanahu wata’ala yang Maharahman lagi Mahahakim tak membiarkan umat Islam—dalam setiap generasinya—lengang dari para ulama yang membimbing mereka kepada jalan kebenaran. Diawali oleh para pendahulu terbaik umat ini (as-salafush shalih) dari kalangan sahabat Nabi n, tabi’in (murid-murid para sahabat), dan tabi’ut tabi’in (muridmurid para tabi’in), kemudian secara estafet dilanjutkan oleh para ulama setelah mereka generasi demi generasi.

Orang orang mulia yang dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai pewaris para nabi yang selalu sigap membela agama Allah Subhanahu wata’ala dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat dengan kedok agama, dan penakwilan menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang jahil. Di antara para ulama yang mulia tersebut adalah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Seorang ulama besar abad ini yang berilmu tinggi, berakidah lurus, berbudi pekerti luhur, dan berkedudukan mulia.

Nama dan Kelahiran Beliau

Pada tanggal 12 Dzulhijjah 1330 H (1912 M), di Riyadh, ibu kota Kerajaan Saudi Arabia, lahirlah bayi laki-laki dari Alu Baz (keluarga Baz). Tunas mulia yang menjalani tahapan demi tahapan hidupnya dengan titian ilmu, pupukan amal saleh, dan mutiara hikmah, hingga tercatat dalam sejarah sebagai al-Imam (seorang tokoh agama), al-‘Allamah (yang sangat luas ilmunya), al-Muhaddits (pakar hadits), al-Faqih (pakar fikih), Syaikhul Islam (syaikh yang kesohor dalam Islam), Mufti al- Anam (ahli fatwa untuk segenap umat manusia), al-Mujaddid (pembaru agama), dan asy-Syaikh (yang dituakan dalam hal ilmu agama). Beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah Alu Baz (keluarga Baz).

Alu Baz (keluarga Baz) adalah sebuah keluarga yang berasal dari kota Madinah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sebagian mereka pindah ke Dir’iyyah, Huthah Bani Tamim dan Riyadh. Asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan keluarga besar beliau termasuk dari mereka yang berdomisili di kota Riyadh. Di Kerajaan Saudi Arabia, Alu Baz (keluarga Baz) termasuk keluarga yang mempunyai andil besar di bidang ilmu agama, perdagangan, dan pertanian. Lebih dari itu, mereka kesohor akan kemuliaan dan budi pekerti yang luhur.

Masa Kecil dan Tumbuh-Kembang Beliau

Di Riyadh, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjalani masa kecilnya. Sejak usia balita sang ayah telah meninggal dunia. Layaknya seorang anak yatim, beliau pun tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ibu dan keluarga terdekat. Puji syukur hanya milik Allah Subhanahu wata’ala semata manakala para pengasuhnya itu adalah orangorang yang baik dan mulia.

Bahkan, di antara mereka adalah orang-orang yang berilmu. Berkat taufik dan inayah Allah Subhanahu wata’alakemudian para pengasuh yang baik lagi mulia tersebut, Abdul Aziz bin Baz kecil tumbuh di atas ketaatan, cinta kepada ilmu dan hormat kepada ulama. Hariharinya dipenuhi dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Derap langkahnya laju menuju kebaikan. Sanubarinya kokoh di atas keimanan dan ketakwaan. Dengan itu turunlah berbagai kemudahan dan pertolongan dari Rabbul ‘Alamin, sehingga sebelum memasuki usia baligh beliau telah berhasil menghafalkan al-Qur’an 30 juz. Semakin lengkap keutamaan itu manakala beliau rajin membaca dan menulis, bahkan mencatat berbagai faedah ilmiah dari para guru (masyayikh) beliau. Pada tahun 1346 H, penyakit menyerang indra penglihatan beliau. Saat itu beliau berusia 16 tahun. Penyakit mata itu ternyata sangat berefek terhadap daya penglihatan beliau. Secara berangsur-angsur daya penglihatan beliau pun melemah hingga berakhir dengan kebutaan.

Peristiwa itu terjadi pada Bulan Muharram 1350 H, saat usia beliau menginjak 20 tahun. Semuanya beliau hadapi dengan penuh kesabaran, seraya memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar mendapatkan ganti yang lebih baik darinya. Demikianlah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Ketika indra penglihatan tak lagi beliau miliki, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada beliau penglihatan hati yang tajam dan pancaran iman yang terangbenderang sebagai penggantinya. Karena itu, ketiadaan indra penglihatan yang vital itu tidak begitu berpengaruh terhadap kehidupan yang beliau jalani. Termasuk dalam hal kesungguhan menuntut ilmu, beramal dengan ilmu yang telah dipelajari, dan berhias dengan akhlak yang mulia. Bahkan, ketika usia beliau semakin bertambah, semakin bertambah pula ketegaran beliau di atas ilmu dan ketaatan. Tak mengherankan apabila beliau selalu tampak menonjol di antara anak-anak yang sebaya dengan beliau.

Bentuk Fisik Beliau

Ketika tumbuh dewasa, asy-Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berperawakan sedang, tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi sekali dan tidak pula pendek. Dada beliau tampak bidang, antara bahu satu dan bahu lainnya tampak lebar. Wajah tampak berwibawa, agak condong ke bulat. Kulit sawo matang, hidung mancung, dan mulut berukuran sedang. Berjambang tipis dan berjenggot. Ketika jenggot tersebut mulai beruban, beliau menyemirnya dengan inai (pacar). Ketika tersenyum, tampak menawan.

Guru-guru (Masyayikh) Beliau

Seorang yang mencintai ilmu, tumbuh kembangnya di atas ilmu, dan mempelajarinya dengan penuh kesungguhan tentu mempunyai banyak guru (masyayikh). Demikianlah dengan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Lebihlebih tempat berdomisili beliau adalah kota Riyadh, ibu kota Kerajaan Saudi Arabia yang dipenuhi oleh para ulama besar (kibar). Peluang emas itu tak beliau sia-siakan. Beliau berhasil menimba berbagai disiplin ilmu agama dan bahasa Arab dari banyak ulama di kota tersebut. Di antara guru-guru (masyayikh) beliau yang paling kesohor adalah:

1. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

2. Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Hasan rahimahullah, Qadhi (Hakim Agama) kota Riyadh.

3. Asy-Syaikh Sa’ad bin Hamd bin Atiq rahimahullah, Qadhi (Hakim Agama) kota Riyadh.

4. Asy-Syaikh Hamd bin Faris rahimahullah, wakil baitul mal (badan keuangan) kota Riyadh.

5. Asy-Syaikh Sa’ad Waqqash al- Bukhari rahimahullah (seorang ulama Makkah), guru beliau di bidang ilmu tajwid.

6. Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.  Beliau adalah seorang ulama besar yang sangat luas ilmunya, lurus agamanya, dan mulia akhlaknya. Beliau adalah Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masanya yang membimbing umat dengan ilmu dan takwa.

Beliaulah guru besar asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai disiplin ilmu agama. Kurang lebih 10 tahun lamanya dari tahun 1347 H s.d 1357 H, beliau selalu menghadiri majelis-majelis ilmu sang guru yang mulia ini. Dari para ulama yang mulia itulah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menguasai al-Qur’anul Karim dan Sunnah Rasulullah n dengan pemahaman generasi terbaik umat ini (salaful ummah). Dari mereka pula, beliau mendapatkan bimbingan untuk selalu mengikuti jejak Rasulullah n dan meninggalkan semua yang diada-adakan dalam agama ini (bid’ah). Beliau juga dididik untuk selalu bersikap ilmiah dalam beragama dengan memilih pendapat yang kuat (rajih) dan tegak di atas dalil dari al-Qur’anul Karim ataupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun bertentangan dengan mazhab yang dianut. Dengan demikian, sikap fanatik terhadap mazhab tertentu tidak didapati dalam kehidupan beragama beliau.

Terjun Ke Masyarakat

Perjalanan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang panjang dalam menuntut ilmu dan penguasaan beliau yang bagus atas berbagai disiplin ilmu agama mendapatkan nilai penghormatan dari guru beliau, Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah yang saat itu menjabat sebagai Mufti Kerajaan Saudi Arabia. Beliau diproyeksikan menjadi qadhi (hakim agama) yang menangani berbagai problem sosial kemasyarakatan dan dakwah. Saat itu beliau baru berusia 27 tahun. Pada Jumadal Akhir 1357 H, keluarlah surat penunjukan beliau sebagai qadhi (hakim agama) untuk kota Kharj dan seluruh wilayah cakupannya.

Tugas baru sebagai qadhi (hakim agama) diterima oleh beliau dengan penuh tawadhu’ (rendah hati). Beliau menyakini bahwa jabatan itu adalah amanat yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan kelak akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah l. Tidak lama kemudian beliau meninggalkan kota Riyadh dan pindah ke kota Kharj, tepatnya di daerah Dalm yang merupakan pusat pemerintahan kota Kharj. Satu hal yang menarik bahwa tugas sebagai qadhi (hakim agama) yang diemban oleh beliau tidak menghalangi beliau dari kegiatan dakwah dan penyebaran ilmu agama. Bahkan, beliau sangat antusias memberikan yang terbaik untuk masyarakat kota Kharj dengan mencurahkan segenap kemampuan yang dimiliki.

Setelah tiba di tempat penugasan, gayung pun bersambut. Tugas beliau di kota Kharj ternyata tak sebatas sebagai qadhi (hakim agama). Beliau juga diberi amanat sebagai imam Masjid Jami’, khatib jum’at, nazhir wakaf, penanggung jawab anak-anak yatim, da’i (pegiat dakwah), penanggung jawab di bidang pertanian dan pelayanan umum. Karena itu, semangat beliau untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat kota Kharj dapat terealisasi melalui berbagai media tersebut. Pada saat jam kerja, beliau aktif di Kantor Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah) menangani beragam kasus yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Dalam hal ini, beliau dikenal sebagai seorang hakim yang adil dan bijak. Di luar jam kerja, sejak usai shalat subuh hingga waktu isya. beliau sibuk membina umat dengan mengajarkan berbagai disiplin ilmu agama di Masjid Jami’. Bahkan, di hari-hari berpasarnya masyarakat, yaitu Senin dan Kamis tepatnya pukul 08.00 pagi, beliau melakukan ceramah agama di pasar yang dihadiri oleh khalayak ramai terkhusus kalangan pedagang. Dengan khidmat mereka mengikuti acara pengajian tersebut. Kota Kharj bercahayakan ilmu, sehingga ramai dikunjungi oleh para penuntut ilmu (thullabul ilmi) dari berbagai kota. Dalam hal ini pun, beliau dikenal sebagai da’i (pegiat dakwah), guru agama, dan pendidik yang sukses dalam membina masyarakatnya. Di bidang pelayanan umum, kinerja beliau diakui oleh masyarakat Kharj. Ketika kendaraan roda empat alias mobil semakin banyak, sedangkan jalanan umum masih tergolong sempit maka beliau mencanangkan proyek pelebaran jalan. Ketika datang musim penghujan dan jalan-jalan tergenang oleh air hujan, beliau mencanangkan pembuatan sanitasi air yang sekiranya bisa mengatasi problem tersebut. Ketika banjir mengancam daerah Dalm yang letak geografisnya di dataran rendah, beliau menggalakkan kerja bakti massal untuk pembuatan tanggul, sebagai langkah antisipasi.

Di bidang pertanian, beliau pun berupaya untuk menyatu dengan para petani. Berbagai program beliau canangkan untuk kemajuan pertanian di kota Kharj. Termasuk program pemberantasan hama, beliau langsung terjun di lapangan bersama para petani. Selain itu, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah seorang yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap masyarakat. Rumah beliau selalu terbuka bagi para tamu dan siapa saja yang membutuhkan bantuan. Selama 14 tahun (1357 H—1371 H) berkiprah di kota Kharj, beliau telah memberikan yang terbaik untuk masyarakatnya. Tak mengherankan apabila masyarakat kota Kharj dari berbagai strata sosial sangat menghormati dan mencintai beliau.

Perjalanan Hidup Penuh Ilmu dan Takwa

Setelah 14 tahun berkiprah di kota Kharj (1357—1371 H), asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditarik ke kota Riyadh untuk memperkuat lini pendidikan di sana. Pada 1372 H, beliau ditetapkan sebagai pengajar di Ma’had Ilmi. Setahun setelahnya, 1373 H, beliau ditunjuk sebagai dosen di Fakultas Syari’ah untuk mata kuliah fikih, tauhid, dan hadits. Tugas mulia ini beliau jalani hingga tahun 1380 H. Sekitar sembilan tahun beliau berkecimpung dalam dunia pendidikan dan dakwah di kota Riyadh. Tidak sedikit dari alumnus Fakultas Syari’ah didikan beliau itu yang menjadi ulama besar (kibar) di kemudian hari. Pada 10 Rabi’ul Awal 1381 H, tugas baru menghampiri beliau. Beliau ditunjuk sebagai Wakil Rektor al-Jami’ah al-Islamiyyah (Universitas Islam Madinah). Setelah berlalu 9 tahun, tepatnya tahun 1390 H, beliau diangkat menjadi rektor universitas tersebut. Jabatan rektorat beliau emban selama 5 tahun, yaitu hingga tahun 1395 H.

Dalam menjalankan roda pendidikan di kota Madinah itu, beliau dibantu oleh para ulama terkemuka di masa itu, di antaranya asy-Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani, asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, asy-Syaikh Hammad bin Muhammad al-Anshari, asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami, asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad, dll. Di luar kegiatan kampus, beliau aktif mengajar di Masjid Nabawi dan berdakwah di tengah masyarakat. Pada tanggal 14 Syawwal 1395 H, beliau ditunjuk sebagai ketua umum al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad (Komite Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan) Kerajaan Saudi Arabia yang bermarkas di Kota Riyadh. Setelah berlalu 19 tahun, tepatnya tahun 1414 H, beliau dikukuhkan sebagai Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia, sekaligus sebagai Ketua Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia. Jabatan di atas dan berbagai jabatan penting lainnya beliau sandang hingga wafat.

Murid-Murid Beliau

Perjalanan panjang di dunia dakwah dan pendidikan yang beliau jalani dengan penuh kesungguhan dan kesabaran, di samping mengantarkan beliau pada posisi imamah (kepemimpinan umat) juga melahirkan murid-murid yang banyak jumlahnya. Baik dari dakwah dan pendidikan yang beliau lakukan di masjid-masjid, di ma’had, maupun di aljami’ah (universitas). Tidak sedikit dari murid-murid tersebut yang berpotensi dan berguna bagi umat, bahkan menjadi referensi utama bagi kehidupan beragama mereka dalam skala internasional. Di antara murid-murid tersebut adalah para ulama yang tergabung dalam lembaga Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia, seperti asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, asy-Syaikh al- Luhaidan, asy-Syaikh al-Ghudayyan, dll. Murid-murid beliau yang lain adalah para alumni Universitas Islam Madinah baik yang diajar oleh beliau di bangku kuliah maupun yang mengikuti kajian beliau di Masjid Nabawi, seperti asy- Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Zaid bin Muhammad al- Madkhali, asy-Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al- Wadi’i, asy-Syaikh Ubaid bin Abdullah al-Jabiri, dll.

Karya Ilmiah Beliau

Karya ilmiah beliau sangat banyak, baik dalam bentuk tulisan murni maupun hasil transkrip dari rekaman suara. Sebagian karya ilmiah beliau itu telah disusun dan didokumentasikan dalam beberapa bentuk media cetak ataupun elektronik. Di antaranya terdapat dalam program komputer al-Maktabah asy- Syamilah. Adapula yang terkoleksi dalam bentuk kumpulan fatwa, seperti Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (30 juz), dan Fatawa Nur Alad Darb (14 juz). Ada juga yang terkoleksi dalam bentuk transkrip ceramah, wawancara, dan yang semisalnya, seperti Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz. Adapula yang terkoleksi secara terpisah dalam bentuk satuan buku. Karya-karya ilmiah beliau mempunyai ciri khas tersendiri. Ilmiah, ringkas, padat, berbobot, dan mudah dipahami. Oleh karena itu, karya-karya ilmiah beliau itu selalu diminati oleh umat, bahkan menjadi rujukan utama terutama dalam menyibak hal-hal kekinian yang bersifat musykil. Hampir-hampir pada setiap sendi kehidupan beragama ada karya ilmiah beliau, di samping untaian-untaian fatwa berharga tentunya.

• Dalam masalah akidah; al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah, Syarh al- Aqidah al-Wasithiyyah, Iqamatul Barahin ala Hukmi Man Istaghatsa Bighairillah au Shaddaqal Kahanah wal Arrafin, dll.

• Dalam masalah rukun iman; Ushulul Iman.

• Dalam masalah rukun Islam; Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’allaqu bi Arkanil Islam, Nawaqidhul Islam, Kaifiyah Shalatin Nabi, Fatawa fiz Zakati wash Shiyam, at-Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masailil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, Fatawa Tata’allqu bi Ahkamil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, dll.

• Dalam masalah berpegang teguh dengan Sunnah Nabi n; Wujub Luzumis Sunnah wal Hadzar Minal Bid’ah, at- Tahdzir Minal Bida’, Wujubul Amal bi Sunnatir Rasul wa Kufru Man Ankaraha, dll.

• Dalam masalah ilmu waris; al- Fawaid al-Jaliyyah fil Mabahits al- Faradhiyyah.

• Dalam masalah keagungan al- Quran dan Rasulullah n; Hukmul Islam fi Man Tha’ana fil Quran au fi Rasulillah.

• Dalam masalah dakwah dan para da’inya; ad-Da’watu Ilallah wa Akhlaqud Da’iyah, dll.

• Dalam masalah realitas kekinian; Naqdul Qaumiyyah al-Arabiyyah ala Dhau’il Islam wal Waqi’, al-Ghazwul Fikri, al-Adillah an-Naqliyyah wal Hissiyyah ala Jarayanisy Syamsi wa Sukunil Ardhi wa Imkanish Shu’ud ilal Kawakib, dll.

• Dalam masalah bimbingan kemasyarakatan; ad-Durus al-Muhimmah li Ammatil Ummah, ‘Awamil Ishlahil Mujtama’, dll.

• Dalam masalah jihad; al-Jihad fi Sabilillah dan beberapa risalah yang mengimbau umat Islam untuk berpartisispasi dalam jihad Afghnistan melawan Uni Soviet, dll.

• Dalam bidang hadits; Hasyiyah Mufidah ala Fathil Bari sampai Kitabul Hajji.

• Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; Wujubut Tahkim ala Syar’illah, Fi Zhilli asy-Syari’ah Yatahaqqaqul Amnu wal Hayah lil Muslimin, berbagai risalah dan nasihat tentang sikap yang syar’i terhadap pemerintah, dll. Masih banyak karya ilmiah beliau yang tak mungkin disebutkan semuanya dalam kajian ini. Untuk mengetahui lebih rinci silakan melihat situs resmi beliau.

Ketika Ajal Menjemput

Pada Kamis dini hari menjelang azan shubuh, 27 Muharram 1420 H (1999 M) beliau mengembuskan napas penghabisan. Pada usia yang ke-90 tahun itulah lembar kehidupan beliau dilipat dengan datangnya ajal yang menjemput. Beliau pergi meninggalkan dunia yang fana ini dengan mewariskan ilmu, nasihat, bimbingan, dan kenangan yang indah untuk umat. Para pembesar Kerajaan Saudi Arabia kehilangan seorang pembimbing yang sangat mereka segani. Para ulama dan penuntut ilmu (thullabul ilmi) kehilangan salah seorang rujukan utama dalam kehidupan beragama.

Para janda dan anak-anak yatim kehilangan seorang yang selalu memerhatikan dan menyantuni mereka. Golongan lemah dan fakir miskin kehilangan seorang penderma yang selalu membantu dan memperjuangan nasib mereka. Umat Islam di dunia kehilangan seorang ulama, da’i, mufti, dan teladan mulia yang menghabiskan umurnya di jalan Allah l. Jenazah beliau dibawa ke Kota Suci Makkah guna dishalatkan di Masjidil Haram. Jenazah dishalatkan ba’da shalat jum’at. Sekitar sejuta orang menyalatkan jenazah beliau dengan penuh khidmat. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari luar Kota Makkah, bahkan luar negeri. Mereka ingin turut menyalati jenazah orang yang mulia itu, termasuk Raja Fahd bin Abdul Aziz, putra mahkota Abdullah bin Abdul Aziz, dan jajaran pejabat penting Kerajaan Saudi Arabia. Demikian pula para pejabat dan tokoh muslim dari negara-negara Teluk dan dunia Islam. Usai dishalatkan, jenazah langsung dibawa ke permakaman al-Adl di timur Makkah.

Iring-iringan pelayat yang menyertai jenazah beliau sangat banyak jumlahnya. Kota Makkah diselimuti suasana duka. Demikian pula Kerajaan Saudi Arabia, bahkan dunia Islam secara keseluruhan. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah pergi untuk selamanya. Tunai sudah amanat suci yang beliau emban. Pahlawan Islam yang sangat berjasa dalam memperbarui Islam yang pelitanya mulai redup dalam kehidupan. Seorang imam yang selalu sigap membela agama Allah Subhanahu wata’ala dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat dengan kedok agama, dan penakwilan menyimpang yang dilakukan oleh orangorang jahil. Seorang penderma yang selalu berderma dengan ilmu, amal, nasihat, kedudukan, harta, dan segala yang dimilikinya.

Rahimahullahu rahmatan wasi’ah wa askanahu fi fasihi jannatih…

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Sumber Bacaan:

Majmu’ Fatawa Ibn Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Namudzaj Minar Ra’ilil Awwal, karya asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Al-Mauqi’ ar-Rasmi lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz (Situs Resmi asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Al-Kitab al-Watsaiqi ‘Anil Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al- Munawwarah.

Majmu’ Kutub wa Rasail wa Fatawa asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi bin Umair al-Madkhali jilid 3.

Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah “

Akidah (Prinsip Keyakinan) Beliau

 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang yang berakidah lurus. Akidah beliau tegak di atas al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta bimbingan generasi terbaik umat ini (as-salafush shalih). Di antara akidah yang mulia itu adalah sebagai berikut:

1. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala Rabb semesta alam, Maha Esa (tunggal) dan Mahakuasa. Tiada yang berhak diibadahi selain Dia semata. Dialah satu-satunya tempat bergantung. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan- Nya. Barang siapa mempersembahkan sebuah ibadah kepada selain-Nya, ia telah musyrik dan kafir.

2. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang mulia bagi Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana yang terdapat dalam al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua nama Allah Subhanahu wata’ala mengandung sifat yang dikandung oleh nama itu. Demikian pula semua sifat Allah Subhanahu wata’ala menunjukkan makna zahir (yang tampak) yang dikandungnya tanpa dipalingkan dari makna zahirnya (takwil), atau dianalogikan dengan sesuatu (takyif). Semua itu dinilai sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Subhanahu wata’ala, tanpa menyerupakannya sedikit pun dengan makhluk-Nya.

3. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala berada di atas Arsy-Nya, dan terpisah dengan makhluk sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Dia berbicara dengan sifat bicara yang azali (tidak berawal) dan berbicara kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana akidah salaf.

4. Meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah Subhanahu wata’ala) bukan makhluk. Dari Allah-lah Subhanahu wata’ala al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya ia kembali. Barang siapa meyakini bahwa al-Qur’an itu makhluk, ia telah kafir dan keluar dari Islam.

5. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala mempunyai sifat cinta dan ridha, suka dan tidak suka, menghidupkan dan mematikan, marah dan senang, turun setiap malam ke langit dunia dengan sifat turun yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak serupa dengan makhluk-Nya.

6. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala dapat dilihat oleh orang-orang yang beriman pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka, sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits sahih.

7. Meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala dan rasul-Nya yang diutus kepada seluruh manusia dan jin (tsaqalain). Risalah Islam telah beliau sampaikan seutuhnya, amanat pun telah beliau tunaikan dengan sebaik-baiknya.

8. Meyakini bahwa para malaikat benar adanya, kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul pilihan benar adanya, para nabi dan rasul benar adanya, hari kebangkitan setelah kematian benar adanya, surga dan neraka benar adanya, timbangan amal di hari kiamat benar adanya, dan telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di hari kiamat benar adanya.

9. Meyakini bahwa syafaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para nabi, dan orang-orang saleh di hari kiamat benar adanya. Namun, semua itu bergantung pada izin Allah Subhanahu wata’ala terhadap yang memberi syafaat dan keridhaan-Nya kepada yang diberi syafaat.

10. Meyakini bahwa sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah Subhanahu wata’ala dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

11. Meyakini bahwa sejelek-jelek perkara dalam agama ini adalah yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam). Setiap perkara dalam agama ini yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka.

12. Meyakini bahwa iman adalah keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

13. Meyakini bahwa takdir Allah Subhanahu wata’ala yang baik ataupun yang buruk benar adanya.

14. Meyakini bahwa shalat, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji bagi yang mampu ialah bagian dari rukun Islam yang melengkapi dua kalimat syahadat. Semua itu harus diimani dan diamalkan sesuai dengan bimbingan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

15.Tidak boleh mengafirkan seorang pun dari kaum muslimin kecuali jika melakukan salah satu dari pembatal keislaman. Adapun pelaku dosa besar di bawah dosa syirik, seperti zina, mencuri, memakan harta riba, meminum minuman keras, durhaka kepada kedua orang tua, dll, tidaklah dikafirkan selama tidak menghalalkan kemaksiatan tersebut. Jika meninggal dunia dan belum bertobat dari dosanya, dia di bawah kehendak (masyi’ah) Allah Subhanahu wata’ala. Jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak untuk mengampuninya— secara langsung—, ia akan mendapatkan ampunan dan masuk ke dalam surga tanpa disiksa; dan jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak untuk menyiksanya, dia akan disiksa terlebih dahulu, namun tempat kembalinya adalah surga. Tidak seperti Khawarij yang mengkafirkannya, dan tidak pula seperti Murji’ah yang meyakini bahwa pelaku dosa besar—di bawah dosa syirik itu—adalah mukmin yang sempurna keimanannya.

16. Wajib menaati pemerintah kaum muslimin yang adil atau yang jahat sekalipun, selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika memerintahkan kepada kemaksiatan, pemerintah tidak boleh ditaati (dalam urusan tersebut) namun masih wajib ditaati dalam hal lain yang bukan kemaksiatan. Disyariatkan jihad bersamanya, walaupun dia seorang yang jahat. Boleh menyalurkan harta sedekah kepadanya (untuk dibagikan kepada yang berhak). Demikian pula, boleh shalat Jum’at dan shalat berjamaah di belakangnya, tanpa harus mengulanginya. Barang siapa mengulanginya, dia tergolong mubtadi’ (pelaku bid’ah).

17. Tidak boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin walaupun dia seorang yang jahat. Berbeda halnya dengan prinsip sesat Khawarij yang mengafirkannya dan mewajibkan memberontak kepadanya. Berbeda pula halnya dengan prinsip sesat Mu’tazilah yang mewajibkan memberontak, walaupun tidak mengafirkannya. Barang siapa memberontak, dia telah menghancurkan tongkat kesatuan kaum muslimin.

18. Seseorang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wata’ala maka tidak keluar dari empat keadaan:

a. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

b. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

c. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,” maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

d. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini,” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah l tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi, dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia mengerjakannya karena perintah dari atasan, maka dia kafir dengan kekafiran kecil yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.

19. Wajibnya menjaga hati dan lisan dari membenci, mencela, atau melecehkan para sahabat Rasulullah n. Sebab, mereka adalah generasi terbaik umat ini, bahkan manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Barang siapa membenci, mencela, atau melecehkan salah seorang dari mereka, dia adalah mubtadi’, hingga benar-benar bertobat dan mendoakan kebaikan untuk sahabat tersebut.

20. Sahabat terbaik adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar bin al-Khaththab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian yang tersisa dari sepuluh orang yang diberitakan oleh Rasulullah n sebagai penduduk jannah (yaitu Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, Zubair bin al-Awwam, dan Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail), kemudian para sahabat lainnya.

21. Menahan hati dan lisan terhadap perselisihan yang terjadi di antara para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meyakini bahwa pihak yang benar mendapatkan dua pahala dan pihak yang salah mendapatkan satu pahala. Sebab, mereka semua adalah ahli ijtihad (orang-orang yang berhak berijtihad dalam urusan agama dan umat).

22. Mencintai semua ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) yang beriman, baik dari generasi sahabat maupun yang setelah mereka. Selain itu juga memuliakan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka adalah para ibu kaum mukminin (ummahatul mukminin) dan termasuk ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Berbeda halnya dengan kelompok Syi’ah yang membenci, bahkan mengafirkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk ummahatul mukminin, di sisi lain memuliakan ahlul bait (orangorang tertentu yang mereka kehendaki) dan berlebihan memuliakan mereka. Tidak pula seperti kelompok Nawashib yang beragama dengan menyakiti ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) baik dengan perkataan maupun perbuatan. (Lihat Situs Resmi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz seputar akidah beliau dan berbagai kitab, risalah, ta’liq, atau fatwa tentang akidah yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Akhlak dan Perangai Beliau

Asy-Abdul Aziz bin Baz rahimahullah kesohor akan akhlak dan perangainya yang mulia. Pertemuan dengan beliau selalu menghadirkan pesan dan meninggalkan kesan. Hal itu karena banyaknya akhlak dan perangai mulia yang terkumpul pada diri beliau. Suatu keistimewaan yang sulit didapati pada diri seorang ulama di zaman ini. Di antara akhlak dan perangai beliau yang mulia itu adalah:

1. Ikhlas dalam beramal karena Allah Subhanahu wata’ala.

2. Sangat tawadhu’ (rendah hati), walaupun berkedudukan mulia dan berilmu tinggi.

3. Berpikiran jernih.

4. Tegar, tabah, dan mempunyai etos kerja yang tinggi hingga di usianya yang lanjut.

5. Berbudi pekerti luhur dan penuh pengertian.

6. Dermawan dalam segala hal yang dimiliki; harta, waktu, kesempatan, ilmu, kebaikan, mediator untuk kebaikan, kemurahan, dll.

7. Berkepribadian tenang dan mempunyai daya ingat yang kuat.

8. Stabil dalam hal semangat dan kemauan, tidak goyah dengan berbagai perubahan situasi dan kondisi.

9. Adil dalam memberikan keputusan.

10. Teguh di atas kebenaran dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.

11. Berwawasan luas, berpandangan jauh, dan selalu mengikuti berbagai perkembangan peristiwa di dunia internasional.

12. Keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

13. Zuhud terhadap dunia; harta, pangkat, kedudukan, pujian, dll.

14. Semangat yang tinggi dalam merealisasikan Sunnah (bimbingan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

15. Berjiwa sabar.

16. Murah senyum dan selalu tampak ceria.

17. Sangat menjaga adab dalam berbicara, bermajelis, dll.

18. Setia terhadap guru, kawan, dan orang yang beliau kenal.

19. Menjalin hubungan silaturahmi dengan segenap keluarga.

20. Memerhatikan hak-hak tetangga.

21. Bertutur kata mulia.

22. Jauh dari sikap bangga diri, merendahkan orang lain, atau mencela makanan.

23. Tidak menerima berita kecuali dari orang yang dapat dipercaya.

24. Selalu berbaik sangka terhadap orang lain.

25. Sedikit bicara dan banyak diam.

26. Banyak berzikir dan berdoa.

27. Tidak mengangkat suara ketika tertawa.

28. Sering menangis ketika mendengar bacaan al-Qur’an, dibacakan kepada beliau sejarah para ulama, atau hal-hal yang berkaitan dengan keagungan al-Qur’an dan as-Sunnah.

29. Menerima hadiah dari orang lain dan berusaha untuk membalasnya.

30. Mencintai orang-orang miskin, dekat dengan mereka, dan kerap kali makan bersama-sama mereka.

31. Sangat menjaga efesiensi waktu.

32. Selalu bersemangat mengajak orang lain kepada kebaikan.

33. Jauh dari sifat iri/dengki kepada orang yang mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala.

34. Membalas kejelekan dengan kebaikan.

35. Tidak berlebihan dalam hal menu makanan dan minuman.

36. Memerhatikan janji dan selalu menjaganya.

37. Penuh harap, jauh dari sifat putus asa.

Sepenggal Kisah Cerminan Akhlak Beliau

• Kira-kira 30 tahun sebelum wafat, beliau pernah mendatangi sebuah masjid untuk menyampaikan ceramah. Alas masjid tersebut menggunakan tikar, sedangkan khusus untuk beliau disediakan alas berupa sajadah (permadani). Ketika beliau merasa bahwa alas beliau berbeda dengan keumuman alas di masjid tersebut, digulunglah sajadah itu oleh beliau. Hal itu karena karakter beliau yang tidak suka diistimewakan atas orang lain.

• Pada suatu hari ada seorang pemuda yang menghubungi beliau via telepon seraya berkata, “Wahai Samahatusy Syaikh, umat Islam sangat membutuhkan para ulama yang mempunyai kemampuan berfatwa (mufti). Untuk itu saya mengusulkan kepada Anda agar menempatkan seorang mufti di setiap kota.” Beliau berkata, “Masya Allah, semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaikimu. Berapa umurmu?” Pemuda itu menjawab, “13 tahun.” Beliau pun berkata, “Ini usulan yang bagus, berhak untuk mendapat perhatian.” Kemudian beliau menyuruh sang sekretaris pribadi untuk menulis surat kepada penanggung jawab di Hai’ah Kibar Ulama yang isinya, “Amma ba’du, ada masukan dari seorang penasihat bahwa sudah saatnya ada seorang mufti di setiap kota. Kami memandang, usulan ini perlu diteruskan ke al-Lajnah ad- Daimah (Komite Tetap Fatwa) agar bisa kita diskusikan.”

• Ketika asy-Syaikh Dr. Muhammad Taqiyuddin al-Hilali rahimahullah menulis bait-bait syair yang secara berlebihan memuji beliau dan dimuat di Majalah al-Jami’ah as-Salafiyyah India edisi

09/Sya’ban 1397 H, beliau mengirim surat kepada redaksi majalah tersebut, menyampaikan ketidakrelaan beliau terhadap pujian itu dan meminta redaksi memuat ketidakrelaan beliau itu pada edisi berikutnya.

• Pada musim haji tahun 1418 H, saat beliau duduk di sebuah mushalla di Padang Arafah dan dikitari oleh ratusan orang, dihidangkanlah di hadapan beliau buah-buahan yang sudah dipotongpotong. Mengingat, kebiasaan beliau di hari-hari itu (mayoritasnya) tidak makan

selain buah-buahan, kurma, dan yoghurt. Ketika buah-buahan telah terhidang di hadapan beliau, beliau pun bertanya, “Apakah semua yang hadir di sini juga mendapatkan hidangan seperti ini?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau marah seraya berkata, “Jauhkanlah hidangan ini!”

• Suatu hari (30 tahun sebelum wafat) beliau hendak menjual rumah karena utang yang menumpuk. Hal ini tercium oleh salah seorang pejabat kerajaan dan dia pun segera mengirimkan uang kepada beliau. Sang pejabat berkata, “Telah sampai kepada saya berita bahwa Anda hendak menjual rumah karena kesempitan yang sedang mengimpit. Sungguh, berita itu membuat saya gelisah, kumohon Anda berkenan menerima hadiah dari saya ini3 dan izinkan saya untuk menyampaikan hal ini kepada Raja.” Beliau balas ucapan pejabat itu

dengan banyak-banyak terima kasih dan doa kebaikan untuknya lalu berkata, “Berita yang sampai kepada Anda itu benar, karena banyaknya tamu yang berdatangan dan orang-orang yang membutuhkan bantuan baik di kota Riyadh maupun di kota Madinah, namun saya

tidak ingin hal ini sampai kepada Raja.”

• Asy-Syaikh Ahmad bin Abdul Aziz bin Baz berkata, “Aku adalah salah seorang putra Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Aku dilahirkan saat ayahku telah berusia di atas 60 tahun. Usia beliau yang sudah lanjut itu, ditambah dengan aktivitas kantor, dakwah, dan fatwa yang sangat padat tidaklah menjadi penghalang bagi beliau untuk menjadi seorang ayah bagiku dan saudara-saudaraku, bahkan untuk umat Islam. Beliau sangat memerhatikan kami selaku anak. Layaknya seorang ayah terhadap anaknya, beliau mencurahkan segenap kasih sayang, pengawasan, nasihat, bimbingan, arahan, bahkan dakwah. Dengan segala cara beliau berupaya untuk menjadi seorang ayah yang dekat dengan anak-anaknya di tengah kesibukan beliau yang sangat padat.” Untuk melengkapi berbagai kisah cerminan akhlak beliau yang mulia, silakan membaca rubrik “Akhlak” dan “Manhaji” pada edisi ini.

Agenda Harian Beliau

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mempunyai agenda harian yang sangat ketat dan bagus. Dengan taufik dari Allah Subhanahu wata’ala, kemudian berkat agenda harian yang tertata itulah berbagai amanat yang berada di pundak beliau dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Berikut ini agenda harian beliau, semoga menjadi teladan bagi kita semua.

1. Beliau bangun pagi kurang lebih 1 jam sebelum shubuh. Kemudian shalat tahajjud 11 rakaat dengan khusyu’ dan rendah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Beliau pun banyak berdoa, di antaranya mendoakan umat Islam dan kebaikan para penguasa mereka, berzikir, membaca al-Qur’an, dan beristighfar.

2. Setelah azan subuh (terkadang sebelumnya), beliau pergi ke masjid dengan tenang dan penuh penghambaan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan membaca doa keluar rumah (dan doa menuju masjid, pen.) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah n. Sesampainya di masjid, beliau masuk dengan mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa masuk masjid dan shalat sunnah qabliyah. Beliau kemudian memperbanyak doa hingga iqamat. Setelah itu, beliau menunaikan shalat shubuh berjamaah. Selepas shalat, beliau membaca zikir-zikir yang khusus dibaca setelah shalat, kemudian membaca wirid-wirid doa dan zikir yang dituntunkan untuk dibaca di setiap pagi.

3. Setelah dirasa cukup membaca wirid-wirid pagi, beliau memulai taklim (kajian) rutin di masjid tersebut dari beberapa kitab yang dibacakan kepada beliau. Taklim (kajian) rutin itu menghabiskan waktu sekitar 3 jam, bahkan terkadang lebih. Setelah itu, beliau menjawab berbagai pertanyaan agama yang diajukan kepada beliau dengan penuh perhatian dan ketelitian, kemudian pulang ke rumah. Jika berhalangan

3 Permohonan tersebut disampaikan oleh sang pejabat karena asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dikenal tidak mudah menerima bantuan. Dia khawatir jika bantuannya itu ditolak. mengajar, beliau langsung pulang ke rumah seusai membaca wirid doa dan zikir pagi.

4. Beliau duduk di rumah sekitar dua jam. Beliau manfaatkan kesempatan itu untuk menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab dan karya ilmiah. Setelah itu beliau masuk ke bagian dalam rumah guna beristirahat. Tepat pukul 08.00 pagi, beliau keluar dari tempat peristirahatan dan bersiap-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi, beliau berwudhu lalu shalat dua rakaat, kemudian berangkat ke kantor dengan tenang dan kemauan yang kuat. Begitu naik mobil, diajukan kepada beliau beberapa persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab. Setibanya di kantor, beliau turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ruangan pribadi beliau. Berbagai tulisan dan persoalan pun diajukan kepada beliau hingga memasuki ruangan tersebut.

5. Di ruangan pribadi tersebut, beliau mengerjakan berbagai tugas harian yang berat dengan penuh semangat, seperti menyelesaikan berbagai kasus dan persoalan yang diajukan kepada beliau, menyambut para delegasi/tamu, mengeluarkan fatwa terkait pertanyaanpertanyaan yang berdatangan dari para penanya, melayani para pengunjung yang sedang mengalami kasus talak, dan sebagainya. Hal ini berlangsung hingga pukul 14.30 siang atau lebih sedikit. Dengan demikian, seringkali beliau menjadi orang yang terakhir keluar dari kantor. Setelah itu beliau pulang ke rumah.

6. Dalam perjalanan menuju rumah (di atas mobil), diajukan kembali kepada beliau berbagai persoalan, atau dibacakan kitab. Jika tidak ada yang membacakan, beliau manfaatkan untuk berzikir dan membaca al-Qur’an. Dalam kesempatan itu pula terkadang beliau manfaatkan untuk mendengarkan siaran berita radio pukul 14.30.

7. Setiba di rumah, beliau langsung disambut oleh banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keperluan dengan beliau. Ada yang meminta fatwa, ada yang sekadar mengucapkan salam, ada yang mempunyai kasus talak, ada yang meminta bantuan, orang fakir, pejabat, dan pengunjung dari daerah yang dekat ataupun jauh. Beliau ucapkan salam kepada mereka, kemudian mempersilakan para tamu tersebut untuk menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan di rumah beliau. Beliau makan siang sembari berbincang dengan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan menjawab berbagai pertanyaan mereka.

Setelah dirasa cukup, beliau berhenti dan masih menemani mereka beberapa saat agar mereka tidak terburu-buru menyelesaikan makan. Kemudian beliau berdiri untuk mencuci tangan seraya mengatakan, “Tidak usah terburu-buru, masing-masing hendaknya melanjutkan makannya.” Ketika beliau berdiri menuju tempat cuci tangan, mulailah diajukan berbagai pertanyaan kepada beliau. Setelah mencuci tangan, beliau kembali ke tempat yang semula. Jika waktu agak sempit dan masuk waktu ashar, maka beliau mengambil air wudhu, menjawab azan lalu berangkat ke masjid. Namun, jika masih tersisa banyak waktu, beliau

meluangkan waktu untuk duduk-duduk bersama para tamu sambil minum teh dan memakai minyak wangi, kemudian masuk ke dalam rumah sejenak. Beliau keluar saat dikumandangkan azan ashar guna berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat ashar.

8. Seusai shalat ashar, imam masjid membacakan beberapa poin dari kitab Riyadhush Shalihin, al-Wabilush Shayyib, atau Kitabut Tauhid, atau yang lainnya, lalu beliau menerangkannya kepada para jamaah. Berikutnya, beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan di majelis tersebut. Kemudian beliau pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju rumah pun, beliau masih menjawab banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang berjalan mengiringi beliau.

9. Menjelang maghrib, beliau mengambil air wudhu lalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Seusai shalat, beliau pulang ke rumah dan melakukan shalat ba’diyah maghrib. Kemudian beliau duduk bersama orangorang yang mengunjungi beliau dengan problemnya masing-masing. Hal itu jika tidak ada jadwal mengajar atau memberikan catatan penting dalam acara seminar.

10. Saat azan isya dikumandangkan, beliau menjawabnya, lalu beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat isya. Ketika tiba di masjid, beliau menunaikan shalat tahiyatul masjid. Seusai shalat sunnah tersebut, imam masjid segera membacakan beberapa hadits untuk diterangkan kepada para jamaah oleh beliau. Setelah itu beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Kemudian ditnuaikanlah shalat isya.

11. Seusai shalat isya, jika tidak ada janji di luar rumah, ceramah, undangan khusus, undangan walimah nikah, mengunjungi orang sakit, atau agenda yang semisalnya, beliau langsung pulang ke rumah. Beliau manfaatkan waktu tersebut untuk membaca beberapa persoalan yang membutuhkan solusi, atau memuraja’ah beberapa kitab. Terkadang ada acara rapat di rumah beliau, terkadang pula kedatangan para tamu, atau ada rekaman untuk siaran radio, atau ceramah via telepon untuk kaum muslimin di luar negeri.

12. Setelah itu, beliau makan malam bersama para tamu, para pegawai di kantor pribadi (di rumah) beliau, dan siapa saja yang hadir saat itu. Selepas makan malam, beliau melanjutkan pekerjaan yang dilakukan sebelum makan malam, atau melanjutkan perbincangan dengan para tamu beliau, atau duduk untuk membaca beberapa kitab, atau menyelesaikan beberapa persoalan yang membutuhkan solusi dari beliau hingga larut malam. Terkadang hingga pukul 23.00 atau pukul 24.00 malam. Kemudian beliau masuk ke bagian dalam rumah, lalu berjalan-jalan sekitar 30 menit, setelah itu beranjak tidur. Demikianlah agenda harian asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang penuh ilmu, hikmah, derma, dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya. Semoga menjadi teladan dan pelajaran berharga bagi kita semua. Amin.

Sumber Bacaan:

Majmu’ Fatawa Ibn Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Asy-Abdul Aziz bin Baz Namudzaj Minar Ra’ilil Awwal, karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, program al- Maktabah asy-Syamilah.

Al-Mauqi’ ar-Rasmi lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz (Situs Resmi asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Tonggak Perjuangan Umat Islam

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang tokoh umat Islam yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan berakidah lurus. Pengalaman beliau sebagai qadhi (hakim agama) dan da’i (pegiat dakwah) selama 14 tahun di kota Kharj membuahkan wawasan yang luas tentang kehidupan sosial kemasyarakatan dan seluk-beluknya. Pengalaman beliau yang cukup lama di dunia pendidikan, diawali sebagai dosen di Fakultas Syari’ah Riyadh selama 9 tahun, kemudian sebagai wakil rektor Universitas Islam Madinah selama 9 tahun pula, hingga menjabat sebagai rektor Universitas Islam Madinah selama 5 tahun, memosisikan beliau sebagai seorang pakar di dunia ilmu pendidikan, baik tentang keilmuannya, teknis pembelajarannya, sekaligus manajemen pengelolaan institusinya dengan taraf internasional.

Pengalaman beliau sebagai ketua umum al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad (Komite Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan) Kerajaan Saudi Arabia yang setingkat menteri selama 19 tahun, kemudian dilengkapi dengan jabatan Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia dan sekaligus Ketua Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia, semakin memperkaya wawasan global beliau tentang dunia Islam dengan berbagai problematikanya. Karena keluasan ilmu agama dan segudang pengalaman yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wata’ala itulah, beliau terposisikan sebagai imam (tokoh terkemuka) di tengah-tengah umat Islam. Tak heran, bila nasihat dan bimbingan beliau selalu ditunggu kehadirannya oleh umat. Lebih dari itu, beliau terposisikan sebagai tonggak perjuangan umat dalam menghadapi berbagai pergolakan yang terjadi di dunia internasional. Semua itu karena besarnya perhatian beliau terhadap eksistensi umat.

Upaya beliau dalam menjaga persatuan umat sangat luar biasa. Pembelaan beliau terhadap umat dan kehormatan mereka tak pernah pupus. Demikian pula pembentengan beliau terhadap hal-hal yang membahayakan umat, senantiasa lekat dengan derap langkah kehidupan beliau. Itulah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, tonggak perjuangan umat Islam yang menerangi mereka dengan lentera hikmah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membalas jasa dan perjuangan beliau dengan surga-Nya yang bertaburkan kenikmatan abadi. Amiin.…

Perhatian Beliau Terhadap Eksistensi Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat memerhatikan eksistensi umat. Kejayaan Islam dan umat Islam seringkali menjadi topik bahasan beliau pada acara-acara sentral berskala internasional. Berbagai nasihat dan bimbingan berharga selalu beliau sampaikan demi kejayaan Islam dan umat Islam. Di antara nasihat dan bimbingan berharga itu adalah apa yang pernah beliau sampaikan pada Muktamar Islam Tingkat Tinggi bahwa kejayaan Islam dan umat Islam tidak akan bisa diraih kecuali dengan dua hal penting:

Pertama: Keimanan yang kokoh kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang meliputi:

a. Mengikhlaskan setiap amalan hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata.

b. Menjalankan segala perintah Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

c. Berhukum dengan syari’at Allah Subhanahu wata’ala dalam segenap sendi kehidupan.

d. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.1

e . Mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan di tengah umat kepada Kitabullah (al- Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

f. Menyiapkan kekuatan yang maksimal untuk membela agama Allah Subhanahu wata’ala dan kehormatannya, serta menegur pihak yang menyimpang agar kembali kepada kebenaran.

Kedua: Jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh kesungguhan, yang hakikatnya termasuk dari konsekuensi keimanan. Beliau menegaskan, apabila dua hal penting itu ada pada suatu umat atau negara, pasti kemenangan akan mengiringinya dan kejayaan di muka bumi akan diraihnya. Demikianlah janji Allah Subhanahu wata’ala yang tak akan terselisihi dan ketetapan-Nya (sunnatullah) yang tak akan berubah. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/167) Dalam kesempatan lain, beliau memperingatkan bahwa sebab utama kehancuran umat adalah menjamurnya kesyirikan, kebid’ahan (perkara baru yang diada-adakan dalam agama), dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Semua itu harus diatasi bersama dengan cara:

a. Saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

b. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. (Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 3/243)

Upaya Beliau dalam Menjaga Persatuan Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat peduli terhadap persatuan umat Islam. Berbagai upaya untuk mempersatukan umat Islam dan menjauhkan mereka dari perpecahan telah dicurahkan oleh beliau. Bahkan, beliau termasuk ulama yang paling getol menyerukan proyek at-Tadhamun al-Islami di dunia Islam, yaitu sikap saling membantu, bekerja sama, bahu-membahu, tolong-menolong, serta berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran dengan sesama umat Islam di seluruh dunia. Di antara cakupan at-Tadhamun al-Islami itu adalah:

• Amar ma’ruf nahi mungkar.

• Dakwah di jalan Allah Subhanahu wata’ala dan memberikan pembelajaran kepada orangorang yang tidak berilmu.

• Mengarahkan umat kepada sebabsebab kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

• Membantu orang yang lemah, menolong orang yang teraniaya, dan mencegah perbuatan aniaya dari pelakunya.

• Menegakkan hukum had (pidana Islam), menjaga stabilitas keamanan, menindak para perusak, mengontrol keamanan jalur-jalur lalu lintas baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

• Memperbanyak sarana transportasi yang memudahkan umat Islam di seluruh dunia untuk saling berhubungan baik via darat, laut, maupun udara. Demikian pula memperbanyak sarana komunikasi dengan membuka seluruh jaringan komunikasi yang memungkinkan. Semua itu demi lebih memudahkan koordinasi antarumat Islam di seluruh dunia dan diraihnya kebaikan bersama secara lebih maksimal, baik dalam urusan agama maupun dunia.

• Menegakkan keadilan, menebarkan ketenteraman, dan memelopori perdamaian dunia.

• Menjalin kebersamaan yang solid antarumat Islam, menyelesaikan pertikaian bersenjata di antara mereka, dan memerangi kelompok yang membangkang di tengah-tengah mereka hingga kembali kepada kebenaran. Menurut beliau, dengan at-Tadhamun al-Islami inilah kebersamaan umat Islam di seluruh dunia akan semakin kokoh, kemaslahatan di tengah-tengah mereka akan semakin tertata, persatuan mereka akan semakin kuat, sehingga semakin berwibawa di hadapan musuh-musuhnya. (Disarikan dari at-Tadhamun al-Islami. Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/192—193)

Ketika ditanya tentang persatuan, beliau menjawab, “Konsep yang saya tawarkan dalam permasalahan ini adalah mengajak umat secara keseluruhan kepada tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala semata, berpegang teguh dengan syariat-Nya, dan berupaya untuk tidak menyelisihinya. Inilah yang dapat menyatukan umat di atas kebenaran, memangkas perpecahan, dan menghilangkan sikap fanatik terhadap mazhab tertentu. Dengan kata lain, mengajak umat Islam untuk istiqamah di atas agama Allah Subhanahu wata’ala, menjaga syariat-Nya, serta tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

Dengan inilah barisan umat Islam dan kekuatan mereka akan bersatu, dan menjadi satu kesatuan laksana satu tubuh, satu bangunan, dan satu pasukan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Adapun jika setiap pribadi muslim berfanatik terhadap mazhabnya, gurunya, atau ideologi yang menyelisihi salaful ummah (pendahulu terbaik umat ini), sungguh akan terjadi perpecahan di tubuh umat. Oleh karena itu, wajib bagi para ulama, para da’i, dan para penguasa umat Islam untuk bahu-membahu mengajak umat kepada kebenaran, berpegang teguh dengannya, dan istiqamah di atasnya. Hendaknya target utama semua pihak adalah menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n, berjalan di atas al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta berupaya tidak menyelisihinya. Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan kesatuan umat Islam, merapatkan barisan mereka, dan meraih kemenangan atas musuh mereka. Wallahu waliyyut taufiq (Majalah al-Buhuts al- Islamiyah edisi 18, tahun 1407 H. Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/448—449)

Pembelaan Beliau Terhadap Umat Islam dan Kehormatan Mereka

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah sosok ulama yang menyatu jiwanya dengan umat Islam di seluruh dunia. Bagi beliau, problem umat Islam di suatu negeri adalah problem bersama umat Islam di seluruh dunia. Tidak dibatasi oleh bangsa, warna kulit, ataupun bahasa. Tak jarang, ketika umat Islam di suatu negeri dihinakan, diperangi, disiksa, atau dianiaya beliau tergolong orang yang terdepan dalam membangkitkan semangat kebersamaan umat, agar segera terwujud sebuah pembelaan terhadap mereka. Di antara yang terkoleksi dari kiprah beliau dalam hal yang mulia ini adalah surat terbuka yang beliau tujukan kepada para penguasa muslim dan segenap umat Islam di seluruh dunia sebagaimana berikut ini,

“Wahai para penguasa muslim dan segenap umat Islam di seluruh dunia, saya mengajak kalian semua untuk merealisasikan kandungan firman Allah Subhanahu wata’ala, {Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara}, merajut persaudaraan yang hakiki antarpribadi muslim walaupun berbeda bangsa, warna kulit, dan bahasa. Sudah seharusnya umat Islam satu kata dalam menghadapi umat-umat selain mereka… Sungguh pada hari ini umat Islam telah mendengar atau menyaksikan musibah yang menimpa saudara-saudara mereka di Filipina, Afghanistan, Eriteria, Ethopia, Palestina, dan di banyak negeri lainnya termasuk minoritas muslim yang hidup di bawah cengkeraman kekuatan negara-negara komunis yang kafir. Namun sayang, umat Islam tidak memerhatikan hak-hak mereka. Tidak pula berupaya memberikan pertolongan, pembelaan, dan bantuan….

Padahal para ulama telah menetapkan, jika ada seorang wanita muslimah yang dizalimi atau dihinakan di belahan bumi bagian barat, wajib bagi umat Islam yang berada di belahan bumi bagian timur untuk membelanya. Lalu bagaimanakah jika yang terjadi adalah pembunuhan, pengusiran, penganiayaan, permusuhan, dan penangkapan-penangkapan tanpa bukti?! Semua itu sungguh telah menimpa ratusan umat Islam, sementara saudarasaudara mereka seislam hanya berpangkutangan, tak ada yang mau peduli dan membela mereka kecuali hanya segelintir orang saja. Maka dari itu, wajib bagi negara-negara muslim dan semua pihak yang mempunyai kemampuan untuk memberikan perhatian kepada mereka yang lemah….

Jika umat Nasrani, Yahudi, komunis, dan yang lainnya dari kalangan orang kafir sangat memerhatikan hak-hak anggotanya walaupun berada di luar negeri yang jauh dari mereka, mengirimkan segala bantuan yang dibutuhkan, bahkan mengancam pihak-pihak yang menyakitinya walaupun anggota tersebut adalah seorang penjahat di negerinya; mengapa umat Islam hanya berpangku tangan terhadap pembantaian,

penyiksaan, dan gangguan yang menimpa saudara-saudara mereka di banyak negeri?!

Ketahuilah, barang siapa dari umat ini yang tidak mau peduli terhadap penderitaan saudaranya seislam dan tidak tergerak hatinya untuk membela mereka maka sangat dikhawatirkan musibah itu berbalik kepadanya. Yaitu ketika ia ditimpa musibah yang sama maka tidak ada seorang pun yang membelanya, atau menghentikan penganiayaan dan penyiksaan tersebut….” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/162—163)

Ketika Masjid Babri di kota Ayodhya India diserang dan dihancurkan oleh kelompok militan Hindu, beliau mengeluarkan pernyataan keras terhadap para pelaku dan terhadap Pemerintah India sebagai berikut, “Kami meyakini bahwa penyerangan dan penghancuran Masjid Babri adalah kejahatan besar yang tak termaafkan, karena termasuk penghinaan terhadap Islam, umat Islam, dan tempat-tempat suci mereka. Pemerintah India harus bertanggung jawab atas kejadian itu, dengan cara menghukum para pelaku kejahatan yang menyakitkan itu, membangun kembali masjid tersebut, dan menghentikan segala kejahatan dari pihak Hindu yang ditujukan kepada Islam, umat Islam, dan tempat-tempat suci mereka….

Pemerintah India juga harus menghormati Islam dan umat Islam di India, memilihkan tempat yang tepat untuk mereka, menghormati tempat-tempat suci mereka, serta mengayomi mereka dari gangguan orang-orang jahat dengan penuh kekuatan dan kesungguhan….” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 7/349—351)

Upaya Beliau dalam Pembentengan Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat menyayangi umat Islam. Dengan gigih beliau berjuang membentengi mereka dari hal-hal yang membahayakan, baik yang bersifat fisik sebagaimana keterangan di atas maupun yang bersifat nonfisik sebagaimana yang akan disebutkan. Adapun pembentengan yang bersifat nonfisik adalah dalam bentuk pembentengan umat dari ghazwul fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan

oleh musuh-musuh Islam dan para kaki tangannya. Pembentengan tersebut meliputi:

1. Pembentengan akidah umat dari pemurtadan yang dewasa ini gencar dilakukan oleh kaum Nasrani, Yahudi, dan komunis.

2. Pembentengan manhaj (metode mengamalkan agama) umat dari bid’ah dan kesesatan, termasuk ideologi teroris.

3. Pembentengan akhlak umat dari dekadensi moral dan kemaksiatan. Rincian konsep dan bimbingan beliau seputar pembentengan umat tersebut dapat dilihat pada beberapa jilid dari kitab Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz terkhusus 3/338.

Meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal (King Faisal International Prize) atas Pengabdian untuk Islam

Pengabdian yang dilakukan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sangat dirasakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia, kecuali orangorang yang menutup mata karena kesumat benci yang menyelimuti hatinya. Demikianlah perjuangan beliau yang tiada henti. Tak mengherankan apabila Penghargaan Internasional Raja Faisal menganugerahkan penghargaan kepada beliau atas segala pengabdian yang beliau lakukan untuk Islam dan umat Islam.

Penghargaan yang tidak diberikan kepada sembarang orang itu dikeluarkan di Riyadh pada 6 Jumadal Ula 1402 H, bertepatan dengan 1 Maret 1982 M. Disebutkan padanya beberapa contoh dari pengabdian yang telah beliau lakukan sebagaimana berikut ini,

• Ragam aktivitas beliau yang banyak di medan dakwah ilallah dan ketegaran beliau di atas jihad, perjuangan, dan amal saleh di zaman ini.

• Militansi beliau dalam merealisasikan Islam yang tercermin pada pemikiran, perilaku, pedoman hidup, dan dakwah beliau.

• Peran aktif beliau yang bagus di bidang riset dan studi keilmuan Islam, di bidang pendidikan Islam, penyebaran ragam buku Islam dan pembagiannya secara gratis di berbagai penjuru dunia, hingga tercatat sebagai salah satu tokoh kebudayaan Islam yang terkemuka.

• Semangat beliau yang besar dalam memberikan berbagai solusi yang tepat untuk problematika Islam dan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

• Bantuan beliau terhadap berbagai gerakan jihad (syar’i, bukan terorisme, pen.) di berbagai belahan bumi ini.

• Dukungan beliau terhadap proyekproyek Islami dan dorongan beliau terhadap para ulama, pribadi-pribadi, dan lembaga-lembaga agar membantu proyek-proyek tersebut. (Lihat al-Kitab al-Watsaiqi ‘Anil Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah hlm. 221)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Pembelaa Terhadap Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Para pembaca yang mulia, predikat sebagai ulama yang menguasai urusan agama merupakan anugerah agung dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaalim. Titian jalan yang ditempuhnya senantiasa diiringi barakah Ilahi. Kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wata’ala pun berada pada tingkatan yang tinggi lagi mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kita mendapati orang-orang yang berilmu selalu menyandang pujian. Setiap disebut (nama mereka), pujian pun tertuju untuk mereka. Ini merupakan bentuk diangkatnya derajat mereka di dunia. Adapun di akhirat akan meraih derajat yang tinggi lagi mulia sesuai dengan dakwah yang mereka lakukan di jalan Allah Subhanahu wata’ala dan realisasi ilmu yang mereka miliki.” (Kitabul Ilmi, hlm.14) Ulama adalah referensi utama dalam menyibak berbagai problem musykil yang terjadi di tengah umat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orangorang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Oleh karena itu, keberadaan mereka di tengah umat sangatlah berarti, sedangkan ketiadaan mereka adalah musibah tersendiri. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Selama para ulama masih ada, umat pun masih berada dalam kebaikan. Para setan dari kalangan jin dan manusia tidak akan leluasa untuk menyesatkan mereka. Karena para ulama tidak akan tinggal diam untuk menerangkan jalan kebaikan dan kebenaran sebagaimana mereka selalu memperingatkan umat dari jalan kebinasaan.” (Ma Yajibu Fit Ta’amuli Ma’al Ulama, hlm. 7)

Namun, menjadi ketetapan Allah Subhanahu wata’ala (sunnatullah) bahwa setiap orang yang baik, taat, dan istiqamah di atas kebenaran pasti mendapatkan ujian dan cobaan. Di antara bentuk ujian dan cobaan itu adalah adanya orang-orang jahat yang memusuhinya. Demikianlah yang telah dialami oleh para nabi dan rasul yang mulia, sebagaimana pula yang dialami oleh orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaikbaiknya (terkhusus para ulama) hingga hari kiamat kelak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi para musuh dari kalangan orang-orang yang jahat. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan pembela.” (al-Furqan: 31)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Mata Orang-Orang yang Memusuhinya

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, seorang ulama besar yang kesohor akan kealiman dan ketokohannya di kalangan umat tak luput pula dari orang-orang jahat yang memusuhinya. Padahal memusuhi beliau itu tiada berguna. Berbagai permusuhan yang ditujukan kepada beliau itu justru semakin mengangkat derajat beliau dan membuat harum nama beliau. Laksana kayu gaharu yang sudah harum, akan semakin semerbak aroma harumnya ketika terkena panasnya api. Para pembaca yang mulia, bila mencermati ragam orang yang memusuhi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dapatlah disimpulkan bahwa mereka tidak keluar dari dua jenis manusia; orang bodoh yang tidak berilmu dan pengikut hawa nafsu. Jenis manusia yang pertama seringkali terjebak pada kasus menuduh tanpa bukti atau menyalahkan tanpa dasar. Sedangkan jenis manusia yang kedua seringkali terjatuh pada kasus memutarbalikkan fakta atau memotong perkataan sesuai yang dimaukan untuk memaksakan kesan buruk atau sesat tentang diri beliau. Di antara contoh kasus-kasus itu adalah pernyataan yang dimuat dalam blog Abu Syafiq al-Asy’ari (Malaysia), sebagai berikut:

– Menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Mengharamkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai autsan yaitu patung berhala.

Tanggapan

1. Pernyataan Abu Syafiq al-Asy’ari di atas adalah tuduhan tanpa bukti bahkan kedustaan yang keji terhadap asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Sebab, berbagai karya tulis dan ceramah beliau sangat bertolak belakang dengan pernyataan tersebut.

2. Dengan demikian bisa jadi Abu Syafiq al-Asy’ari itu termasuk dari jenis manusia yang pertama yaitu orang bodoh yang tidak berilmu yang seringkali terjebak pada kasus menuduh tanpa bukti atau menyalahkan tanpa dasar. Bisa jadi juga termasuk jenis manusia yang kedua yaitu pengikut hawa nafsu yang seringkali terjatuh pada perbuatan memutarbalikkan fakta atau memotong perkataan sesuai yang dimaukan untuk memaksakan kesan buruk atau sesat tentang diri beliau rahimahullah.

3. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah termasuk ulama yang getol mengajak umat untuk memuliakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan tertinggi dalam segenap sendi kehidupan ini. Menurut asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dengan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan diraih petunjuk Allah Subhanahu wata’ala dan rahmat-Nya, kebahagiaan, serta kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat. Simaklah perkataan beliau berikut ini,

“Beberapa ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna semuanya menunjukkan tentang kewajiban mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menaatinya. Demikian pula petunjuk Allah Subhanahu wata’ala dan rahmat-Nya, kebahagiaan, serta kesudahan yang baik, akan diraih dengan mengikuti dan menaati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa mengingkari hal ini berarti telah mengingkari Kitabullah. Barang siapa mengklaim bahwa dirinya hanya mengikuti al-Qur’an tanpa mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah berdusta, keliru, dan kafir, karena al-Qur’an memerintahkan untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa tidak mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berarti tidak beramal dengan al- Qur’an, tidak beriman dengannya, dan tidak patuh terhadap bimbingannya, karena di dalam al-Qur’an itu terdapat perintah untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan terdapat pula ancaman bagi siapa saja yang menyelisihi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 25/14)

Lebih dari itu, beliau memperingatkan umat dari semua perbuatan yang menyelisihi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan menegaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan sebab kebinasaan di dunia dan di akhirat. Simaklah perkataan beliau berikut ini, “Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa orang yang menyelisihi perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam bahaya yang sangat besar, yaitu akan ditimpa fitnah berupa penyimpangan, kesyirikan, kesesatan, atau azab yang pedih. Na’udzu billah min dzalik.” (Majmu’ Fatawa asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz 25/13—14)

4. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat besar pembelaannya terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lisan beliau selalu basah dengan sanjungan shalawat. Hampirhampir semua karya ilmiah atau ceramah beliau selalu didahului dengan memuji Allah Subhanahu wata’ala dan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sikap beliau pun sangat tegas terhadap orang yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Simaklah perkataan beliau berikut ini:

“Saya telah melihat apa yang dimuat oleh surat kabar Shautul Islam Mesir yang menukil dari surat kabar al-Masa’ al-Mishriyah yang terbit pada tanggal 29 Januari lalu. Isinya adalah sikap lancang terhadap sosok yang mulia nan berkedudukan agung, yaitu sayyiduna wa imamuna Muhammad bin Abdillah semoga shalawat dan salam yang tak terhingga tercurahkan kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau. Sikap lancang itu adalah menyerupakan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seekor binatang yaitu ayam jantan. Seorang muslim tidak akan ragu bahwa perbuatan itu jelas-jelas kekafiran, penyimpangan yang nyata, dan penghinaan secara terang-terangan terhadap sosok pemimpin seluruh umat manusia, utusan Rabb alam semesta, dan pemuka orang-orang yang bercahaya di hari kiamat. Sungguh, ini merupakan sikap lancang yang meresahkan setiap muslim, melukai hati setiap mukmin.

Sikap lancang yang mengharuskan laknat, kehinaan, kekal di neraka, mendapatkan kemarahan dari Allah Subhanahu wata’ala Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, keluar dari lingkaran Islam dan iman menuju kesyirikan, kemunafikan, dan kekafiran bagi orang yang melakukannya atau yang menyetujuinya. Di dalam al-Qur’anul Karim telah ditegaskan kafirnya orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesuatu dari al-Qur’an, atau syariat-Nya yang bijak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ {} لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Mengapa kepada Allah, ayatayat- Nya, dan Rasul-Nya kalian (selalu) berolok-olok? Tidak perlu kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman.” (at-Taubah: 66—65)

Maka ayat ini sebagai pernyataan yang jelas dan bukti yang kuat atas kafirnya orang yang menghina Allah Subhanahu wata’ala Dzat yang Mahaagung, Rasul-Nya yang mulia, atau kitab-Nya yang gamblang. Sungguh para ulama telah sepakat (ijma’) di setiap masa dan tempat tentang

kafirnya orang yang menghina Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, kitab-Nya, atau sesuatu dari agama ini. Mereka juga sepakat bahwa seseorang yang asalnya muslim lalu melakukan perbuatan tersebut maka dengan itu dia menjadi kafir keluar dari Islam dan wajib dibunuh…—kemudian

beliau menukilkan perkataan para ulama seputar permasalahan ini.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 6/253)

5. Bagi orang yang berakal, perkataan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di atas cukuplah sebagai bukti bahwa pernyataan Abu Syafiq al-Asy’ari tersebut adalah tuduhan tanpa bukti dan kedustaan yang keji. Bagaimana tidak?! Ketika beliau dinyatakan sebagai orang yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, justru beliaulah orang yang sangat tegas terhadap siapa saja yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau dinyatakan sebagai orang yang mengharamkan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, justru beliaulah orang yang sangat memperhatikan shalawat dalam setiap karya tulis dan ceramahnya, termasuk pada perkataan beliau di atas “semoga shalawat dan salam yang tak terhingga tercurahkan kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau”. Ketika dinyatakan bahwa beliau menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai autsan yaitu patung berhala, justru sikap tegas beliau di atas terkait dengan penyerupaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sesuatu yang hina. Wallahul musta’an

Para pembaca yang mulia, masih di blog Abu Syafiq al-Asy’ari, dia menyatakan bahwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengharuskan pakai lambang salib kristen.

Tanggapan

1. Dalam pandangan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Kristen dan semua agama selain Islam adalah batil. Hanya Islamlah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini banyak didapati pada berbagai karya tulis dan ceramah beliau. Simaklah perkataan beliau berikut ini, “Sesungguhnya agama selain Islam: Yahudi atau Nasrani (Kristen) semuanya batil, tidak ada agama yang benar kecuali hanya agama Islam.” (Fatawa Nur alad Darb 1/295)

2. Pernyataan Abu Syafiq al-Asy’ari bahwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengharuskan memakai lambang salib Kristen hanyalah tuduhan tanpa bukti dan kedustaan yang keji. Sebab, sikap beliau tentang salib sangat jelas dan gamblang. Dengan tegas beliau melarang sesuatu yang ada lambang salibnya, apalagi memakainya. Simaklah perkataan beliau berikut ini, “Demikian pula salib, tidak boleh memakai jam tangan yang ada lambang salibnya kecuali setelah dihapus atau dihilangkan lambang salib tersebut darinya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat lambang salib kecuali menghapusnya.” (Majmu’ Fatawa asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz 10/417) “Demikian pula tidak boleh baginya memakai salib. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat lambang salib kecuali menghapusnya, karena hal itu menyerupai orang Kristen.” (Fatawa Nur alad Darb 7/288)

3. Jika demikian, dari manakah klaim Abu Syafiq al-Asy’ari bahwa beliau mengharuskan (tidak sekadar membolehkan, pen.) pakai lambang salib Kristen?! Usut punya usut ternyata sumbernya adalah berita dusta yang disandarkan kepada beliau rahimahullah. Bagaimana kisahnya? Kisahnya adalah sebagai berikut. Pada pertengahan tahun 1417 H beredar sebuah kaset di Yordania yang menyebutkan bahwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz membolehkan (bukan mengharuskan, pen.) memakai lambang salib. Ternyata hal ini mengganjal di hati salah seorang warga negara Yordania yang berinisial J.A.A, sehingga mendorongnya untuk menulis surat mengklarifikasi tentang kebenaran isi kaset tersebut. Ketika disampaikan isi surat tersebut kepada beliau, dengan serta-merta terucap dari lisan beliau inna lillahi wainna ilaihi raji’un, la haula wala quwwata illa billah, hasbunallah wa ni’mal wakil. Kemudian beliau membalas surat tersebut dengan berikut ini, “Dari Abdul Aziz bin Baz, untuk saudara yang mulia J.A.A semoga Allah Subhanahu wata’ala mencurahkan taufik kepadanya dalam semua hal yang diridhai-Nya dan mengokohkannya di atas agama-Nya. Amiin….

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wa ba’du. Telah sampai kepada saya surat Anda tertanggal 14 Rabi’ul Awal 1417 H yang ditujukan kepada Dr. Muhammad bin Sa’ad asy- Syuwai’ir seputar kaset yang disandarkan kepada saya, yang memuat keterangan bahwa saya membolehkan memakai lambang salib. Perlu Anda ketahui bahwa fatwa tersebut belum pernah keluar dari saya. Sungguh ini adalah sebuah kedustaan terhadap saya yang tak berdasar sama sekali. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membalas pelakunya dengan balasan yang setimpal. Kejadian semacam ini bukanlah hal baru bagi saya dan para ulama selain saya. Sudah berlalu sekian kedustaan yang diluncurkan oleh orang-orang yang tak suka dengan mengatasnamakan kami.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 28/242—243)

Demikianlah model Abu Syafiq al- Asy’ari yang asal comot dalam menukil berita. Wallahul musta’an.

Para pembaca yang mulia, kelompok teroris Khawarij tak ketinggalan pula dalam memusuhi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Mereka memusuhi karena merasa gerah dengan berbagai fatwa beliau yang memorak-porandakan eksistensi terorisme yang mereka lakukan. Simaklah pernyataan mereka berikut ini. Usamah bin Laden saat memperingatkan umat dari fatwa-fatwa beliau rahimahullah berkata, “Oleh karena itu kami mengingatkan umat dari fatwa-fatwa batil seperti ini yang tidak memenuhi syarat.” (Surat Usamah bin Laden, tanggal 28-8-1415, MAT hlm. 264) Imam Samudra berkata, “Ia (yakni Raja Fahd) dan gerombolan pembisiknya

mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang—dengan segala hormat—kurang mengerti trik-trik politik….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 92)

Tanggapan

1. Terkait penyimpangan Usamah bin Laden dan Imam Samudra, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah edisi 13 Terorisme Berkedok Jihad dan edisi 86 Mengapa Teroris Tak Pernah Habis.

2. Pernyataan Imam Samudra bahwa Dewan Fatwa Saudi Arabia (yang ketika itu diketuai oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah) kurang mengerti trik-trik politik sangat tidak mendasar. Karena siapa pun yang mengkaji perjalanan hidup asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah terkhusus kiprah beliau dalam perjuangan Islam dan berbagai pergolakan yang terjadi di banyak negeri pasti mengakui keandalan beliau di bidang politik, tentunya politik syar’i bukan politik ala teroris khawarij. Sepenggal darinya dapat dibaca pada sub kajian utama pada edisi ini yang berjudul asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Tonggak Perjuangan Umat Islam.

3. Tampaknya arah pembicaraan Imam Samudra tersebut berkaitan dengan kasus meminta bantuan kepada pasukan multinasional asing yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) untuk membendung agresi pasukan Saddam Husain yang berpaham sosialis komunis terhadap Kuwait dan Saudi Arabia. Hal itu diketahui dari pernyataan Imam Samudra berikut ini,

“Pada saat mana ulama-ulama kian asyik tenggelam dalam tumpukan kitabkitab dan gema pengeras suara. Mereka tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan, dan penjajahan terhadap kiblat dan tanah suci mereka….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 93)

4. Permasalahan meminta bantuan kepada orang kafir dalam hal ini adalah pasukan multinasional asing (walaupun hakikatnya ada yang dari negara-negara muslim) yang dipimpin oleh AS untuk membendung pendudukan pasukan Saddam Husain yang berpaham sosialis komunis merupakan masalah yang mempunyai porsi untuk didudukkan secara cermat dan ilmiah. Oleh karena itu, para ulama yang tergabung dalam Hai’ah Kibar Ulama dan diketuai oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mendudukkannya dalam konteks pembahasan ilmiah yang kesimpulannya boleh. Terkhusus asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau membahas permasalahan ini secara ilmiah beserta dalil-dalilnya sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz,

– (6/76—80) dengan judul Mauqif asy-Syari’ah minal Ghazwil Iraqi lil Kuwait.

– (6/183—186) dengan judul al-Isti’anah bil Kuffar fi Qitalil Kuffar.

– (6/142) dengan judul al-Ghazwul Iraqi Jarimah ‘Azhimah.

– (18/343) dengan judul Liqa’ ajrahu Mandub Majallah al-Mujtama’ Haula al-Ghazwil Iraqi lil Kuwait.

5. Tentunya fatwa beliau ini tidak hanya didukung oleh 16 ulama dari Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama besar) dan para ulama Saudi Arabia yang tidak tergabung dalam Komite tersebut. Tokoh-tokoh muslim dunia pun banyak yang mendukungnya. Untuk lebih rincinya, silakan membaca kitab Fatawa wa Ara’ Ulama al-Alam al- Islami fi al-Ghazwil Iraqi lil Kuwait wa Atsaruhu al-Mudmirah. Berikutnya, dengan dikeluarkannya fatwa tersebut alhamdulillah kiblat dan tanah suci umat Islam hingga hari ini terlindungi dari penodaan, penistaan, dan penjajahan pasukan sosial komunis Saddam Husain atau pasukan kafir asing, tidak sebagaimana prediksi Imam Samudra.

Para pembaca yang mulia, di antara celaan yang ditujukan kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah bahwa beliau seorang ulama yang tidak mengerti waqi’ (realita kekinian) dan antijihad. Padahal beliau adalah seorang ulama yang sangat mengerti waqi’ (realita kekinian) dan sangat mendukung jihad di berbagai penjuru dunia. Berbagi karya tulis dan ceramah beliau sebagai saksi atas itu semua. Di antaranya perkataan beliau berikut ini, “Jihad Afghanistan adalah jihad yang syar’i untuk melawan negara kafir (Uni Soviet, pen.), maka wajib untuk dibantu dengan berbagai bantuan yang ada. Bagi saudara kita penduduk Afghanistan hukumnya fardhu ain membela agama, tanah air, dan saudara muslim setanah air. Sedangkan bagi selain mereka, hukumnya fardhu kifayah.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 5/151)

Tentu masih banyak perkataan dan perbuatan beliau yang menunjukkan bahwa sangat mengerti waqi’ (realita kekinian) dan sangat mendukung jihad di berbagai penjuru dunia. Tak heran, bila di antara poin yang dimuat dalam piagam Penghargaan Internasional Raja Faisal atas pengabdian Islam adalah Semangat beliau yang besar dalam memberikan berbagai solusi yang tepat untuk problematika Islam dan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bantuan beliau terhadap berbagai gerakan jihad (syar’i, bukan terorisme, -pen.) di berbagai belahan bumi ini. Para pembaca yang mulia, tentu masih ada (bahkan banyak) celaan, tuduhan, dan kedustaan yang disandarkan kepada sosok mulia asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah oleh ahlul batil yang memusuhi beliau.

Nama beliau tetap harum, sedangkan nama baik orangorang yang memusuhi beliau menjadi hancur. Laksana kambing bertanduk yang menghantamkan tanduknya ke batu besar dengan keyakinan dapat menghancurkannya. Bukannya batu besar itu yang hancur, justru tanduk kambing itulah yang menjadi hancur. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Menggunjing ulama, melecehkan dan menjelek-jelekkan mereka merupakan jenis ghibah dan namimah yang paling berat, karena dapat memisahkan umat dari ulamanya dan terkikisnya kepercayaan umat terhadap mereka. Jika ini terjadi, maka akan terjadi kejelekan yang besar.” (Ma Yajibu Fit Ta’amuli Ma’al Ulama, hlm. 17)

Teladan as-Salafush Shalih dalam Memuliakan Ulama

Berikut ini beberapa contoh tentang keteladanan as-salafush shalih dalam memuliakan ulama. Kami meletakkannya sebagai khatimah yang mengakhiri kajian ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

• Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, suatu hari menuntun hewan tunggangan yang dinaiki oleh sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, seraya beliau berkata, “Seperti inilah kita diperintah untuk memuliakan ulama.”

• Ketika al-Imam al-Auza’i rahimahullah menunaikan ibadah haji dan masuk ke kota Makkah, maka al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah yang menuntun tali kekang untanya seraya mengatakan, “Berilah jalan untuk Syaikh!”. Sedangkan al-Imam Malik bin Anas rahimahullah yang menggiring unta tersebut (dari belakang) hingga mereka mempersilakan al-Imam al-Auza’i rahimahullah untuk duduk di sekitaran Ka’bah. Kemudian mereka berdua duduk di hadapan al-Imam al-Auza’i rahimahullah untuk menimba ilmu darinya.

• Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Dahulu aku membuka lembaranlembaran kitab di hadapan al-Imam Malik rahimahullah dengan perlahan-lahan agar tidak terdengar oleh beliau, karena rasa hormatku yang sangat tinggi kepada beliau.” (Dinukil dari Kitab Ad-Diin Wal ‘Ilm, hlm. 27)

Demikianlah seharusnya yang terpatri dalam hati sanubari setiap insan muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Wajib bagi seluruh kaum muslimin—setelah mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya—untuk mencintai orangorang yang beriman sebagaimana yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an, terkhusus para ulama pewaris para nabi yang diposisikan oleh Allah Subhanahu wata’ala seperti bintang-bintang di angkasa yang menjadi penunjuk arah di tengah gelapnya daratan maupun lautan. Kaum muslimin pun sepakat bahwa para ulama merupakan orang-orang yang berilmu dan dapat menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (Raf’ul Malam ‘Anil Aimmatil A’lam, hlm.3)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Tanya Jawab Ringkas Edisi 88

Cara Duduk Shalat Witir Satu Rakaat

Bagaimana duduknya orang yang shalat witir satu rakaat? 085329XXXXXX

Pendapat yang rajih (kuat), shalat yang hanya punya satu tasyahud, duduknya iftirasy, baik satu rakaat maupun lebih.

—————————————————————————————————————————————

Batasan Amalan bagi Yang Tidak Mampu

Sejauh mana kriteria mengamalkan agama sesuai dengan kemampuan? Apakah tidak mengamalkan agama karena takut pada celaan orang lain/ anggapan buruk lainnya dari orang lain bisa disebut tidak mampu? 085740XXXXXX

Sesuai dengan kemampuan adalah kita mengerahkan segenap daya dan upaya secara maksimal untuk beramal. Jika sudah sampai pada batas di luar kemampuan kita, hal itu dimaafkan. Adapun tidak beramal karena sematamata takut celaan orang, ini tidak termasuk masalah di atas. Hal ini justru menunjukkan kelemahan iman. Yang benar, terus beramal dan tidak menghiraukan celaan siapa pun, dengan cara hikmah yang sesuai dengan sunnah.

—————————————————————————————————————————————-

Bendera Tanda Kematian

Apakah hukumnya memberi tanda kain putih/bendera kuning jika ada orang yang meninggal?

085394XXXXXX

Fungsi bendera dalam Islam adalah untuk jihad fi sabilillah, dipegang oleh panglima atau pimpinan mujahidin yang ditunjuk. Bendera untuk jenazah tidak ada contohnya, dan bila ada keyakinan tertentu bisa saja terjatuh dalam bid’ah. Waffaqakumullah. 

—————————————————————————————————————————————–

Tata Cara Shalat Orang Lumpuh

Bagaimana tata cara shalat orang yang lumpuh dan hanya bisa berbaring di tempat tidurnya?

082194XXXXXX

Kaidahnya adalah melakukan sesuai dengan kemampuan. Untuk kasus orang lumpuh, maka ia shalat sambil berbaring dengan isyarat kepala. Jika tidak mampu, dengan isyarat mata, apabila mungkin kepala ke arah kiblat. Jika tidak, ke arah mana pun. Yassarallahu umurakum. 

—————————————————————————————————————————————–

Keringanan Mandi Junub bagi Orang Sakit

Adakah keringanan untuk orang yang sedang sakit panas yang setelah bangun tidur ia junub padahal harus menjalankan shalat subuh? Bolehkah jika dia hanya membersihkan kemaluannya saja dari air mani? Sebab, dikhawatirkan sakitnya akan bertambah parah jika ia membasahi seluruh tubuhnya. 085742XXXXXX

Apabila seseorang memang tidak mungkin menggunakan air untuk mandi janabah, gantinya adalah tayamum, sampai mampu menggunakan air. Ketika itu, wajib mandi janabah. Waffaqakumullah. 

—————————————————————————————————————————————–

Lele yang Mati Dipukul

Dalam surat al-Maidah ayat 3 disebutkan bahwa binatang yang dipukul hukumnya haram. Bagaimana dengan lele yang cara membunuhnya dengan dipukul-pukul? Bagaimana hukum lele yang makanannya adalah kotoran (manusia)? 085643XXXXXX

Hewan yang mati karena dipukul adalah haram, kecuali jenis ikan— termasuk lele—semuanya halal, bahkan bangkainya pun halal. Lele yang hanya diberi makan kotoran termasuk kategori jallalah, haram dimakan. Solusinya, taruh di air yang bersih sampai diperkirakan hilang kotoran dalam tubuh lele tersebut, baru boleh dimakan. Namun, kalau makanannya campuran dan beragam, tidak masalah. 

——————————————————————————————————————————————-

Ghibah yang Diperbolehkan

Apakah termasuk ghibah , membicarakan orang yang ucapannya kadang membuat sakit hati? +6285XXXXXXXXX

Ghibah adalah menyebut seseorang dengan apa yang dia benci. Hukumnya haram, kecuali beberapa kondisi yang diperbolehkan oleh ulama karena maslahat syar’i, seperti ketika meminta fatwa, tahdzir kepada ahli bid’ah dan orang yang terang-terangan berbuat fasik. Waffaqakumullah. 

——————————————————————————————————————————————-

Hukum Kredit

Bagaimana hukumnya seseorang yang memberikan kredit barang tetapi direalisasikan berupa pinjaman uang sebesar 1,5 juta yang kemudian dilunasi dengan cara dicicil sebesar 2 juta?

081386XXXXXX

Sistem kredit yang Anda sebutkan adalah riba. Hakikatnya adalah pinjam 1,5 juta dengan melunasi 2 juta. Yang benar, orang tersebut kulakan dahulu barang yang diinginkan, setelah itu baru mengadakan akad jual beli, walau dengan harga lebih. Perlu diingat, sistem ini tidak mengikat, penjual bisa menjual ke orang lain dan pembeli bisa membatalkan niat beli.

—————————————————————————————————————————————–

Hukum Musik Barat dan Rock

Apakah diperbolehkan jika seorang muslim bernyanyi lagu Barat yang beraliran rock?

087812XXXXXX

Nyanyian hukumnya haram, baik Barat maupun Timur; rock, pop, dangdut, atau yang lain. Lihat pembahasan musik pada Asy-Syariah edisi 40. Waffaqakumullah.

——————————————————————————————————————————————-

Hidayah

Apakah setiap orang yang beragama Islam berarti telah mendapatkan hidayah? 081572XXXXXX

Setiap muslim telah mendapat hidayah taufik untuk masuk Islam dan selamat dari kekufuran. Tetapi, ada hidayah yang lebih agung, yaitu hidayah taufik mengenal sunnah, mempelajari, dan mengamalkannya. Hidayah ini menyelamatkan seseorang dari penyimpangan dan kemungkaran. Waffaqallahu lil jami’. 

——————————————————————————————————————————————-

Toko Hasil Pinjaman Bank

Suami saya mendapat hibah sebuah toko yang dahulu dibangun oleh orang tuanya dengan bantuan bank, sedangkan toko itulah satu-satunya sumber penghidupan kami sekeluarga. Bagaimana hukumnya? 085299XXXXXX

Apa yang terjadi pada masa lalu dimaafkan selama karena tidak mengetahui ilmunya. Toko tersebut bisa digunakan disertai banyak infak untuk membersihkan harta. 

—————————————————————————————————————————————

Uang Muka

Bagaimana hukumnya jika uang muka yang dibayarkan kepada penjual menjadi hak penjual karena pemesan barang/pembeli membatalkan pesanannya? 085740XXXXXX

Boleh, itu yang disebut dengan istilah akad ‘urbun. Zadakallahu ‘ilman.

——————————————————————————————————————————————

Bedug yang Terbuat dari Kulit Hewan Kurban

Bagaimana hukum kulit hewan kurban yang dijadikan bedug? 081910XXXXXX

Jelas tidak boleh, karena:

1. Hewan kurban beserta kulitnya harus dibagikan kepada fakir miskin dan mustahiq lainnya.

2. Bedug tidak ada sunnahnya, justru termasuk bid’ah yang dimasukkan ke dalam masjid. Waffaqakumullah. 

—————————————————————————————————————————————–

Imam Shalat yang Beramal Syirik dan Bid’ah

Bagaimana hukum menjadi makmum yang imamnya berbuat syirik dan bid’ah? 081903XXXXXX

Kalau imam tersebut sudah dihukumi kafir, tidak sah shalat di belakangnya. Kalau masih muslim, tetap sah, hanya saja yang afdal adalah shalat di belakang orang yang saleh. 

—————————————————————————————————————————————-

Shalat di Masjid Hasil Uang Riba

Bagaimana hukumnya shalat di masjid yang dibangun dari hasil uang riba? 085242XXXXXX

Shalat di masjid tersebut sah, tidak ada kaitannya antara ibadah shalat dan sumber pembangunan masjid. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Namun, yang afdal adalah shalat di tempat lain. 

——————————————————————————————————————————————-

Bagi Hasil Usaha yang Sebagian Dimodali oleh Bank

Saya mempunyai sebidang tanah yang digunakan orang tua berusaha. Bolehkah saya mengambil bagi hasilnya karena usaha itu dimodali sebagian oleh bank? 085256XXXXXX

Boleh, karena harta bagi hasil tersebut bercampur antara yang halal dan haram. Namun, lebih dominan yang halal, apalagi saat pinjam bank dalam keadaan tidak tahu ilmunya. Segera lunasi tanggungan kepada bank dan perbanyak sedekah untuk membersihkan harta yang ada. Waffaqakumullah. 

Tiup Lilin Ulang Tahun

Apakah boleh jika ada orang tua yang merayakan acara syukuran (ulang tahun) dengan meniup lilin di atas kue sebagai rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas berkah (umur panjang) yang diberikan kepada anaknya? 087841XXXXXX

Acara ulang tahun tidak ada sunnahnya dan termasuk tasyabuh dengan orang kafir. Tidak boleh mengadakan syukuran dengan niat tersebut walau detail acaranya tidak seperti acara orang kafir. Waffaqakumullah.

Membeli Beras dari Dukun

Bolehkah membeli beras/kebutuhan lain dari dukun? Padahal kita ketahui bahwa dukun tersebut mendapatkan uang dari praktik kesyirikan. 085315XXXXXX

Harta hasil perdukunan adalah haram. Kaidahnya, harta yang haram tidak boleh bagi pemiliknya, tetapi boleh bagi orang lain. Membeli beras atau yang lain dari dukun tersebut hukumnya boleh, walau yang afdal adalah tidak. Pada zaman Rasul n, para sahabat bertransaksi dengan kaum musyrikin yang sumber hartanya banyak dari hal yang haram.

Tidak Membaca Basmalah untuk Permainkan Setan

Bolehkah seseorang yang memulai makan tanpa membaca basmalah secara sengaja sehingga setan turut serta makan  bersama, kemudian ketika sedang makan dia membaca basmalah sehingga setan memuntahkan makanan tadi? Hal ini hanya bertujuan untuk mempermainkan setan. 085261XXXXXX

Tindakan tersebut jelas salah, sebab dia sengaja melakukan tindakan menyelisihi sunnah, bahkan sengaja meninggalkan yang wajib. Menghinakan setan tidak dengan cara seperti itu. Yang benar, dengan cara mengamalkan sunnah. Waffaqakumullah. 

Tata Cara Haji yang Paling Mulia

Mana yang paling mulia dan banyak pahalanya; haji ifrad atau tamattu’? 08124XXXXXX

Haji tamattu’ lebih afdal, bahkan sebagian ulama berpendapat wajib. 

Sunnah Berdoa setelah Shalat

Apakah ada sunnah berdoa mengangkat tangan setelah selesai shalat? 082167XXXXXX

Yang sunnah setelah shalat adalah berzikir, bukan berdoa. Namun, bila dia lakukan sekali waktu, maka tidak masalah dan adabnya dengan angkat tangan. 

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin