Hukum Khitan bagi Wanita

Bagaimana hukum sunat bagi perempuan menurut hukum Islam? Jazakumullah khair sebelumnya atas jawabannya. Heru R heruxxxxxx@gmail.com

Bismillah.

Khitan bagi wanita juga disyariatkan sebagaimana halnya bagi pria. Memang, masih sering muncul kontroversi seputar khitan bagi wanita, baik di dalam maupun di luar negeri. Perbedaan dan perdebatan tersebut terjadi karena berbagai alasan dan sudut pandang yang berbeda. Yang kontra bisa jadi karena kurangnya informasi tentang ajaran Islam, kesalahan penggambaran tentang khitan yang syar’I bagi wanita, dan mungkin juga memang sudah antipati terhadap Islam. Lepas dari kontroversi tersebut, selaku seorang muslim, kita punya patokan dalam menyikapi segala perselisihan, yaitu dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)

Setelah kita kembalikan kepada Allah  Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta telah jelas apa yang diajarkan oleh Allah  Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, kewajiban kita adalah menerima ajaran tersebut sepenuhnya dan tunduk sepenuhnya dengan senang hati tanpa rasa berat. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orangorang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orangorang yang beruntung. (an-Nur: 51)

Tentang sunat bagi wanita, tidak diperselisihkan tentang disyariatkannya. Hanya saja para ulama berbeda pendapat, apakah hukumnya hanya sunnah atau sampai kepada derajat wajib. Pendapat yang kuat (rajih) adalah wajib dengan dasar bahwa ini adalah ajaran para nabi sebagaimana dalam hadits,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ -أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ، وَا سْالِْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah ada lima—atau lima hal termasuk fitrah—: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, menggunting kuku, dan menggunting kumis.” (Sahih, HR. al- Bukhari dan Muslim)

Fitrah dalam hadits ini ditafsirkan oleh ulama sebagai tuntunan para nabi, tentu saja termasuk Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan kita diperintah untuk mengikuti ajarannya. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif.” (an-Nahl: 123)

Alasan yang kedua, ini adalah pembeda antara muslim dan kafir (nonmuslim). Pembahasan ini dapat dilihat lebih luas dalam kitab Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim rahimahullah dan Tamamul Minnah karya asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Bagian Manakah yang Dikhitan?

Ini adalah pembahasan yang sangat penting karena hal inilah yang menjadi sebab banyaknya kontroversi. Dari sinilah pihak-pihak yang kontra memandang sinis terhadap khitan untuk kaum wanita. Perlu diingat, jangan sampai kita membenci ajaran agama Islam dan berburuk sangka terhadapnya, lebihlebih jika kita tidak tahu secara benar tentang ajaran Islam dalam hal tersebut, termasuk masalah ini. Perlu diketahui, khitan wanita telah dikenal di berbagai negeri di Afrika, Asia, dan wilayah yang lain. Di Afrika dikenal istilah khitan firauni (khitan ala Fir’aun) yang masih berlangsung sampai sekarang. Karena sekarang banyak pelakunya dari muslimin, pihak-pihak tertentu memahami bahwa itulah ajaran Islam dalam hal khitan wanita, padahal yang melakukan khitan firauni bukan hanya muslimah. Khitan tersebut sangat sadis dan sangat bertentangan dengan ajaranajaran Islam.

Seperti apakah khitan firauni tersebut? Ada beberapa bentuk:

1 . Dipangkas kelentitnya (clitoridectomy).

2. Ada juga yang dipotong sebagian bibir dalam vaginanya.

3. Ada juga yang dijahit sebagian lubang tempat keluar haidnya.

Sebuah pertanyaan diajukan kepada al-Lajnah ad-Daimah.

Kami wanita-wanita muslimah dari Somalia. Kami tinggal di Kanada dan sangat tertekan dengan adat dan tradisi yang diterapkan kepada kami, yaitu khitan firauni, yang pengkhitan memotong klitoris seluruhnya, dengan sebagian bibir dalam kemaluan dan sebagian besar bibir luar kemaluan. Itu bermakna menghilangkan organ keturunan yang tampak pada wanita, yang berakibat memperjelek vagina secara total. Setelahnya lubang dijahit total, yang diistilahkan dengan ar-ratq, yang mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa bagi wanita saat malam pernikahan dan saat melahirkan. Bahkan karena hal itu, tidak jarang sampai mereka memerlukan operasi. Selain itu, hal ini juga mengakibatkan seksualitas yang dingin dan menyebabkan berbagai macam kasus medis, seorang wanita kehilangan kehidupan, kesehatan, atau kemampuannya berketurunan. Saya akan melampirkan sebagian hasil studi secara medis yang menerangkan hal itu. Kami ingin mengetahui hukum syar’i tentang perbuatan ini. Sungguh, fatwa Anda semua terkait dengan masalah ini menjadi keselamatan banyak wanita muslimah di banyak negeri. Semoga Allah  Subhanahu wata’ala memberikan taufik kepada Anda semua dan memberikan kebaikan. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan Anda sekalian simpanan kebaikan bagi muslimin dan muslimat.

Jawab: Apabila kenyataannya seperti yang disebutkan, khitan model seperti yang disebutkan dalam pertanyaan tidak diperbolehkan karena mengandung mudarat yang sangat besar terhadap seorang wanita. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ ضَرَرَ وَ ضِرَارَ

“Tidak boleh memberikan mudarat.

Khitan yang disyariatkan adalah dipotongnya sebagian kulit yang berada di atas tempat senggama. Itu pun dipotong sedikit, tidak seluruhnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada pengkhitan, “Apabila kamu mengkhitan, potonglah sedikit saja dan jangan kamu habiskan. Hal itu lebih mencerahkan wajah dan lebih menyenangkan suami.” (HR. al-Hakim, ath-Thabarani, dan selain keduanya)

Allah  Subhanahu wata’ala lah yang memberi taufik. Semoga Allah l memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya. (Tertanda: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz [Ketua], Abdul Aziz Alu Syaikh [Wakil Ketua], Abdullah Ghudayyan [Anggota], Shalih al-Fauzan [Anggota], dan Bakr Abu Zaid [Anggota] fatwa no. 20118)

Dalam pandangan ulama Islam dari berbagai mazhab, yang dipotong ketika wanita dikhitan adalah kulit yang menutupi kelentit yang berbentuk semacam huruf V yang terbalik. Dalam bahasa Arab bagian ini disebut qulfah dan dalam bahasa Inggris disebut prepuce. Bagian ini berfungsi menutupi klitoris atau kelentit pada organ wanita, fungsinya persis seperti kulup pada organ pria yang juga dipotong dalam khitan pria. Khitan wanita dengan cara semacam itu mungkin bisa diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan prepucectomy. Berikut ini kami nukilkan beberapa penjelasan para ahli fikih.

• Ibnu ash-Shabbagh rahimahullah mengatakan, “Yang wajib atas seorang pria adalah dipotong kulit yang menutupi kepala kemaluan sehingga terbuka semua. Adapun wanita, dia memiliki selaput (kulit lembut yang menutupi klitoris, -pen.) semacam jengger ayam yang terletak di bagian teratas kemaluannya dan berada di antara dua bibir kemaluannya. Itu dipotong dan pokoknya (klitorisnya) yang seperti biji kurma ditinggal (tidak dipotong).”

• Al-Mawardi rahimahullah berkata, “Khitan wanita adalah dengan memotong kulit lembut pada vagina yang berada di atas tempat masuknya penis dan di atas tempat keluarnya air kencing, yang menutupi (kelentit) yang seperti biji kurma. Yang dipotong adalah kulit tipis yang menutupinya, bukan bijinya.”

• Dalam kitab Hasyiyah ar-Raudhul Murbi’ disebutkan, “Di atas tempat keluarnya kencing ada kulit yang lembut semacam pucuk daun, berada di antara dua bibir kemaluan, dan dua bibir tersebut meliputi seluruh kemaluan. Kulit tipis tersebut dipotong saat khitan. Itulah khitan wanita.”

• Al-‘Iraqi rahimahullah mengatakan, “Khitan adalah dipotongnya kulup yang menutupi kepala penis seorang pria. Pada wanita, yang dipotong adalah kulit tipis di bagian atas vagina.” Dari kutipan-kutipan di atas, jelaslah kiranya seperti apa khitan yang syar’I bagi wanita.

Namun, ada pendapat lain dari kalangan ulama masa kini, di antaranya asy-Syaikh al-Albani, yaitu yang dipotong adalah klitoris itu sendiri, bukan kulit lembut yang menutupinya, kulup, atau prepuce. Sebelum ini, penulis pun cenderung kepada pendapat ini. Tetapi, tampaknya pendapat ini lemah, dengan membandingkan dengan ucapan-ucapan ulama di atas. Namun, pemilik pendapat ini pun tidak mengharuskan semua wanita dikhitan, karena tidak setiap wanita tumbuh klitorisnya. Beliau hanya mewajibkan khitan yang demikian pada wanita-wanita yang kelentitnya tumbuh memanjang. Ini biasa terjadi di daerahdaerah yang bersuhu sangat panas, semacam Sa’id Mesir (Epper Egypt), Sudan, dan lain-lain. Banyak wanita di daerah tersebut memiliki kelentit yang tumbuh, bahkan sebagian mereka tumbuhnya pesat hingga sulit melakukan ‘hubungan’. (Rawai’uth Thib al-Islami, 1/109, program Syamilah)

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah khitan yang tidak syar’i, yaitu khitan firauni, khitan menurut pendapat yang lemah, dan khitan syar’i sebagaimana penjelasan ulama di atas. Oleh karena itu, tiada celah bagi siapa pun untuk mengingkari khitan yang syar’i, karena khitan yang syar’I bagi wanita sejatinya sama dengan khitan bagi pria. Tidak ada kerugian sama sekali bagi yang bersangkutan. Bahkan, wanita tersebut akan mendapatkan berbagai maslahat karena banyaknya hikmah yang terkandung. Di antaranya, dikhitan akan lebih bersih karena kotoran di sekitar kelentit akan mudah dibersihkan, persis dengan hikmah khitan pada kaum pria. Bahkan, khitan akan sangat membantu wanita dalam hubungannya dengan suaminya, karena dia akan lebih mudah terangsang dan mencapai puncak yang dia harapkan. Hikmah yang paling utama adalah kita bisa melaksanakan tuntunan para nabi  dan beribadah kepada Allah  Subhanahu wata’ala dengan melaksanakannya.

Yang aneh, orang-orang yang anti- Islam di satu sisi mendiskreditkan Islam dengan alasan khitan wanita, padahal khitan ini juga dilakukan di negeri nonmuslim, walau tidak dengan nama khitan. Bahkan, tindakan ini menjadi pengobatan atau solusi bagi wanita yang kesulitan mencapai orgasme, dan solusi ini berhasil. Pada 1958, Dr. McDonald meluncurkan sebuah makalah di majalah General Practitioner yang menyebutkan bahwa dia melakukan operasi ringan untuk melebarkan kulup wanita pada 40 orang wanita, baik dewasa maupun anak-anak, karena besarnya kulup mereka dan menempel dengan klitoris. Operasi ringan ini bertujuan agar klitoris terbuka dengan cara menyingkirkan kulup tanpa menghabiskannya. Dr. McDonald menyebutkan bahwa dirinya dibanjiri ucapan terima kasih oleh wanita-wanita dewasa tersebut setelah operasi. Sebab, menurut mereka, mereka bisa merasakan kepuasan dalam hubungan biologis pertama kali dalam kehidupannya.

Seorang dokter ahli operasi kecantikan di New York ditanya tentang cara mengurangi kulup klitoris dan apakah hal itu operasi yang aman. Dia menjawab, caranya adalah menghilangkan kulit yang menutupi klitoris. Kulit ini terdapat di atas klitoris, menyerupai bentuk huruf V yang terbalik. Terkadang kulit ini kecil/sempit, ada pula yang panjang hingga menutupi klitoris. Akibatnya, kepekaan pada wilayah ini berkurang sehingga mengurangi kepuasan seksual. Sesungguhnya memotong kulit ini berarti mengurangi penutup klitoris. David Haldane pernah melakukan wawancara—yang kemudian diterbitkan di majalah Forum UK di Inggris—dengan beberapa ahli spesialis yang melakukan penelitian tentang pemotongan kulup pada vagina. Di antara hasil wawancara tersebut sebagaimana berikut ini.

David Haldane melakukan wawancara dengan dr. Irene Anderson, yang menjadi sangat bersemangat dalam hal ini setelah mencobanya secara pribadi. Operasi ini dilakukan terhadapnya pada 1991 sebagai pengobatan atas kelemahan seksualnya. Ia mendapatkan hasil yang luar biasa sebagaimana penuturannya. Ia kemudian mempraktikkannya pada sekitar seratus orang wanita dengan kasus yang sama (kelemahan seksual). Semua menyatakan puas dengan hasilnya, kecuali tiga orang saja. (Khitanul Inats) Sungguh benar sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para pengkhitan wanita saat itu,

إِذَا خَفَضْتِ فَأَشِمِّي وَلاَ تَنْهَكِي، فَإِنَّهُ أَسْرَى لِلْوَجْهِ وَأَحْظَى لِلزَّوْجِ

“Apabila engkau mengkhitan, potonglah sedikit saja dan jangan engkau habiskan. Hal itu lebih mencerahkan wajah dan lebih menguntungkan suami.” (HR. ath-Thabarani, dll. Lihat ash- Shahihah no. 722)

Sungguh, hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ini termasuk mukjizat yang nyata. Selaku seorang muslim, kita jelas meyakininya. Ringkas kata, orang-orang kafir pun mengakui kebenarannya. Selanjutnya kami merasa perlu menerangkan langkah-langkah pelaksanaan khitan wanita karena informasi tentang hal ini sangat minim di masyarakat kita, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada penjelasan yang mendetail. Yang ada hanya bersifatnya global, padahal informasi ini sangat urgen. Sebetulnya, rasanya tabu untuk menjelaskan di forum umum semacam ini. Namun, ini adalah syariat yang harus diketahui dengan benar, dan “Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran.” Kami menyadari bahwa kekurangan informasi dalam hal ini bisa berefek negatif yang luar biasa:

1. Anggapan yang negatif tehadap syariat Islam.

2. Bagi yang sudah menerima Islam dan ajarannya, lalu ingin mempraktikkannya, bisa jadi salah praktik (malapraktik), akhirnya sunnah ini tidak terlaksana dengan benar. Bahkan, bisa jadi terjerumus ke dalam praktik khitan firauni yang kita sebut di atas sehingga terjadilah kezaliman terhadap wanita yang bersangkutan, dan mungkin kepada orang lain.

Maka dari itu, sebelumnya kami mohon maaf. Kami hanya ingin menjelaskan langkah-langkah khitan. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan, harap dimaklumi.

Tata Cara Pelaksanaan Khitan Wanita

1. Siapkan kejiwaan anak yang hendak dikhitan. Hilangkan rasa takut dari dirinya. Bekali orang tuanya dengan menjelaskan hukumnya dengan bahasa yang sederhana dan menyenangkan.

2. Sterilkan alat-alat dan sterilkan pula daerah yang hendak dikhitan.

3 . Gerakkan atau tarik qulfah (prepuce) ke belakang hingga terpisah atau tidak lekat lagi dengan ujung klitoris, hingga tampak pangkal atas prepuce yang bersambung dengan klitoris. Hal ini akan mempermudah pemotongan kulit bagian luar sekaligus bagian dalam prepuce tersebut tanpa melukai sedikit pun klitorisnya sehingga prepuce tidak tumbuh kembali. Apabila prepuce dan klitoris sulit dipisahkan, hendaknya khitan ditunda sampai hal itu mudah dilakukan.

4. Lakukan bius lokal pada lokasi— meski dalam hal ini ada perbedaan pendapat ulama—dan tunggu sampai bius itu benar-benar bekerja.

5. Qulfah ( prepuce) ditarik ke atas dari ujungnya menggunakan jepit bedah untuk dijauhkan dari klitoris. Perlu diperhatikan, penarikan tersebut diusahakan mencakup kulit luar dan kulit dalam prepuce, lalu dicapit dengan jepit arterial. Perlu diperhatikan juga, jangan sampai klitoris ikut tercapit. Setelah itu, potong kulit yang berada di atas pencapit dengan gunting bengkok, lalu biarkan tetap dicapit sekitar 5—10 menit untuk menghindari pendarahan, baru setelah itu dilepas. Jika terjadi pendarahan setelah itu, bisa dicapit lagi, atau bisa dijahit dengan senar 0/2 dengan syarat tidak bertemu dan menempel lagi antara dua sisi prepuce yang telah terpotong. Tutuplah luka dengan kasa steril dan diperban. Perban bisa dibuang setelah empat jam. Apabila terjadi pendarahan di rumah, tahan lagi dengan kapas dan konsultasikan ke dokter. Hari – hari berikutnya , jaga kebersihannya dengan air garam atau semacamnya. Sangat perlu diperhatikan, jangan sampai dua sisi prepuce yang telah terpotong bertemu lagi atau menyambung, atau bersambung dan menempel dengan klitoris. Semoga bermanfaat, walhamdulillah awwalan wa akhiran.

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Nasihat Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah Tentang Kebid’ahan & Pelakunya

 Al-Imam al-Barbahari rahimahullah mengatakan, “Jika engkau melihat seseorang duduk bersama ahli bid’ah, ingatkan dan beri tahu dia. Jika ia masih saja duduk bersama ahli bid’ah setelah mengetahuinya, jauhilah dia karena sesungguhnya dia adalah pengikut hawa nafsu.” (Syarhus Sunnah poin ke-144 hlm. 121)

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Jika tampak bagimu suatu kebid’ahan dari diri seseorang, hati-hatilah engkau darinya. Sebab, yang dia sembunyikan lebih banyak daripada yang dia tampakkan.” (Syarhus Sunnah poin ke-148 hlm. 123)

Beliau rahimahullah mengatakan pula, “Berhati-hatilah, kemudian berhatihatilah engkau dari orang-orang pada masamu secara khusus. Lihatlah siapa yang engkau ajak duduk, dari siapa engkau mendengar, dan siapa yang engkau jadikan teman. Sebab, manusia hampir-hampir berada dalam kerendahan, kecuali orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wata’ala.” (Syarhus Sunnah poin ke-150 hlm. 125)

Meluruskan Sikap Iman kepada Para Nabi

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mengimani para nabi dan rasul tak semata memercayai adanya para nabi dan rasul yang diutus. Ada beberapa hal yang mesti kita wujudkan dalam sikap dan keyakinan kita sebagai konsekuensi keimanan tersebut, terutama menyangkut kedudukan manusia-manusia termulia di muka bumi itu. Adalah wajib bagi kita untuk meyakini bahwa mereka adalah manusia termulia, pilihan Allah Subhanahu wata’ala. Namun, tidak berarti kita mendudukkan mereka secara berlebihan.

Sikap ghuluw (berlebihan) sehingga mendudukkan mereka seperti Rabb yang disembah adalah sikap yang menggelincirkan kaum Nasrani kepada kekafiran. Keyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah awal kejadian, alam semesta diciptakan dari nur (cahaya) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lah alam itu diciptakan, juga salah satu bentuk ghuluw lain yang beraroma Nasrani. Inilah akidah Ibnu Arabi dan orangorang Sufi pengikutnya. Sufi mengangkat derajat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedemikian tinggi sehingga seolah-olah sama kedudukannya dengan Yesus (Anak Allah) dengan Tuhan Bapak menurut kepercayaan Kristen.

Ada juga sufi ekstrem yang meyakini bahwa wali mereka punya derajat yang lebih tinggi dari nabi dan rasul. Demikian juga Syiah Rafidhah yang menganggap imam mereka mempunyai derajat yang tidak dicapai oleh nabi dan rasul dan malaikat yang terdekat. Wali versi sufi dan imam versi Syiah (Rafidhah), bahkan diyakini mempunyai sifat rububiyah, turut mengatur alam semesta, mematikan dan menghidupkan, mengetahui urusan gaib. dsb., sebuah keyakinan yang tentu saja lebih sesat daripada Nasrani. Berseberangan dengan itu adalah Yahudi dan yang membebek kepada mereka. Yahudi menjadi bangsa yang suka menista dan menghujat para nabi, bahkan membunuh sebagian di antaranya. Kelakuan bangsa Yahudi, tentu tidak pantas diikuti. Menyematkan karakter-karakter buruk kepada para nabi Allah sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh Ikhwanul Muslimin, Sayyid Quthub, kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam— berarti menghujat pilihan Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala tidak mungkin salah pilih. Dia pasti memilih hamba-Nya yang terbaik guna menyampaikan risalah-Nya kepada manusia. Tak perlu banyak dalil untuk membantah omongan penghujat nabi.

Cukuplah sebuah cermin dihadapkan pada mereka, siapakah nabi dan siapa yang menghujat? Keimanan kepada para nabi dan rasul dipungkasi dengan keimanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain beriman kepada kenabian dan kerasulan Muhammad, seorang muslim wajib pula meyakini bahwa Muhammad n adalah khatamun-nabiyyin (penutup para nabi), tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya sampai hari kiamat. Maka dari itu, keimanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa disejajarkan dengan keimanan kepada nabi palsu pengidap waham, semacam Mirza Ghulam Ahmad dan yang sejenisnya. Keimanan kepada nabi juga harus melingkupi seluruh nabi. Mengingkari seorang nabi saja yang disebutkan al-Qur’an dan as-Sunnah berarti mengingkari nabi dan rasul seluruhnya. Ketika Nasrani dan Yahudi mengingkari kerasulan Muhammad, mereka sama saja mengingkari seluruh nabi, yang berarti keluar dari lingkup keislaman.

Keyakinan aneh dalam hal keimanan kepada para nabi yang banyak bertebaran di sekitar kita, tentunya tak bisa didiamkan dengan dalih ukhuwah. Keyakinan-keyakinan semacam inilah yang jika dibiarkan justru akan memecah belah umat. Jangan sampai kita salah bersikap. Dakwah yang mencegah umat dari kesesatan justru dianggap memecah belah, sedangkan dakwah yang mendiamkan kesesatan justru dianggap merajut ukhuwah. Semoga kita lebih bisa menyayangi umat, tumbuh kecemburuan manakala saudara-saudara kita terperangkap jerat kesesatan Sufi atau Syiah. Mari kita buang sikap diam terhadap kesesatan dengan dalih ukhuwah.

Dengan itu kita berharap, pemahaman dan akidah umat bisa lurus sesuai yang dimaukan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Surat Pembaca Edisi 90

Bahasan Poligami Ditulis Wanita

Dalam pembahasan masalah poligami di edisi 85, sebagai masukan kenapa banyak kaum hawa kurang begitu tertarik pada poligami karena para penyampai fatwa atau penjelasan adalah dari para ustadz saja (pria), mungkin hal tersebut akan lebih mengena kepada kaum hawa bila penyampainya adalah ustadzah (wanita) pula. Mungkin untuk ke depan, bagaimana Asy-Syariah memberikan pembahasan-pembahasan tentang poligami yang penyampainya adalah ustadzah. Porsinya ustadzah 60% dan ustadz 40%. Eko P-Bugisan Selatan 081331xxxxxx

jawaban redaksi

Kesan buruk poligami (baca: menikah lagi) sudah telanjur mengakar di masyarakat. Ini diperparah dengan propaganda musuh-musuh Islam dan buruknya praktik poligami di masyarakat. Jadi, penolakan poligami bukan soal jenis kelamin siapa yang memfatwakan atau menafsirkan. Memang ada alasan semacam ini dari kalangan feminis, bahwa poligami disuarakan oleh ulama yang menganut budaya patriarki (kedudukan laki-laki lebih tinggi). Dari sini sebenarnya sudah tampak, yang dimaukan oleh kalangan feminis tidak semata-mata menolak poligami, tetapi menolak syariat yang mendudukkan laki-laki lebih tinggi. Bahkan, tidak hanya ini, poligami sejatinya hanyalah secuil dari syariat-syariat yang terus dan akan terus ditolak dengan dalih persamaan hak, kesetaraan gender, ketidakadilan, demokrasi, dan sebagainya. Siapa yang menulis di majalah ini, tetap saja akan mengutip penjelasan ayat atau hadits yang dijelaskan para ulama (baca: laki-laki). Yang menulis ustadzah sekalipun, itu tidak banyak membantu jika akal atau hawa nafsu kita banyak bermain dalam urusan ini. Lebih dikhawatirkan lagi, akan merembet pada penolakan hadits, karena hadits disampaikan oleh Rasul n yang notabene adalah laki-laki. Oleh karena itu, mari tundukkan hati dan akal kita di bawah bimbingan syariat. Allah l tidak mungkin menciptakan syariat yang sia-sia dan menzalimi para hamba-Nya. Jika ada kezaliman, jangan salahkan syariatnya, tapi salahkan manusia sebagai pelaku-pelakunya. Sudahkah mereka mempraktikkan syariat sesuai dengan bimbingan Rasul Nya? Sudah luruskah niat mereka dalam berpoligami? Sudahkah kita mempersiapkan poligami

secara lahir & batin dengan baik, bukan karena dorongan syahwat semata, lantas memahami berbagai konsekuensinya? Semoga pertanyaan ini bisa menjadi jawaban dari kegalauan kita terhadap poligami. Wallahu alam.

Bahas Tuntas Syiah

Semoga majalah Asy-Syariah selalu tetap eksis dalam membimbing umat, amin. Saya punya usul agar majalah ini membahas juga tentang kejahatan Syiah, karena masyarakat kami sering tertipu oleh “permusuhan” mereka dengan Amerika Serikat dan Yahudi, semoga dipertimbangkan. Muhamad Rijal-Aceh Tamiang 082363xxxxxx

Jawaban redaksi

Sering sekali umat terkecoh dengan berita-berita di media yang sering menggambarkan heroisme Syiah (Iran) saat memusuhi AS. Padahal konspirasi politik berbicara lain, di belakang itu mereka justru bahu-membahu membantai kaum muslimin. Lebih-lebih jika kita mengingat Syiah lahir dari rahim Yahudi. Lihatlah buktinya di Yaman dan Suriah, berapa banyak nyawa kaum muslimin yang dibantai Syiah? Tunggu kehadiran bahasan Syiah di edisi 92, insya Allah.

Hak-Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang Wajib Kita Tunaikan

Hidup di dunia tentu bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Dalam konsep Islam, hidup di dunia tiada lain untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala semata. Itulah hakikat misi penciptaan manusia dan jin di muka bumi ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. (adz Dzariyat: 56)

Misi penciptaan yang merupakan amanat berat itu telah disanggupi oleh manusia, padahal makhluk-makhluk besar semisal langit, bumi, dan gunung-gunung tak menyanggupinya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat al-Ahzab: 72. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Amanat berat itu akhirnya berada di pundak setiap insan. Allah Subhanahu wata’ala Rabb alam semesta, menjadikannya sebagai ujian. Dengannya akan diketahui siapa di antara mereka yang terbaik amalannya. AllahSubhanahu wata’ala  berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

(Dialah Allah) yang telah menciptakan kematian dan kehidupan demi menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. (al-Mulk: 2)

Ujian itu amat berat, sedangkan tabiat dasar manusia amat zalim dan amat bodoh. Dengan kasih sayang-Nya yang sangat luas, Allah Subhanahu wata’ala mengutus orang-orang pilihan (para nabi) sebagai pemberi peringatan bagi yang lalai dari amanat berat itu; sekaligus pemberi kabar gembira bagi yang menjalankannya dengan baik. Allah Subhanahu wata’ala sertakan pula kitab suci sebagai pedoman hidup bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi putusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (al Baqarah: 213)

Semua nabi utusan Allah Subhanahu wata’ala itu benar-benar telah menunaikan tugas yang mereka emban. Tidaklah ada satu kebaikan yang mereka ketahui kecuali telah mereka tunjukkan kepada umat kepada. Tidak ada pula satu kejelekan yang mereka ketahui kecuali telah mereka peringatkan umat darinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

Sesungguhnya, tidak ada seorang nabi pun kecuali melainkan bersungguhsungguh menunjuki umatnya kepada kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang diketahuinya. (HR. Muslim no. 1844, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma)

Nabi Terbaik yang Diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di Muka Bumi

Di antara para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi terbaik yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini, sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta. (al-Anbiya: 107)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keutamaan yang banyak. Berbagai keutamaan yang tak dimiliki oleh para nabi sebelumnya pun beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sandang. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِي المَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ حِألََدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Aku diberi lima karunia yang belum pernah diberikan kepada seorang (nabi) pun sebelumku: (1) aku diberi kemenangan dengan ditimpakan rasa gentar pada hati musuhku sebulan sebelum bertemu denganku; (2) dijadikan untukku bumi sebagai tempat shalat dan sarana bersuci sehingga siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaknya mengerjakannya di mana saja; (3) dihalalkan bagiku harta pampasan perang yang tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelumku; (4) aku diizinkan memberi syafaat (untuk segenap manusia di hari kiamat); (5) dan sungguh tiap-tiap nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia. (HR. al-Bukhari no. 335, dan Muslim no. 521, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

Beliau n diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di akhir zaman, memberi kabar gembira dan memberi peringatan, dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menjadi pelita yang menerangi dengan seizin-Nya. Allah Subhanahu wata’ala menutup risalah kenabian dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyelamatkan manusia dari kesesatan dan mengentaskan mereka dari kebodohan. Dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa, Allah Subhanahu wata’ala membuka mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan jiwa-jiwa yang terkunci. Bumi yang dipenuhi kegelapan pun menjadi bersinar dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa itu. Jiwa-jiwa yang bercerai-berai menjadi bersatu dengannya, keyakinan yang bengkok menjadi lurus, dan jalan-jalan menjadi terang bercahaya. Allah Subhanahu wata’ala telah melapangkan dada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menurunkan beban yang memberati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, meninggikan sebutan (nama) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadikan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Subhanahu wata’ala mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dunia lengang dari rasul, kitab-kitab suci (yang murni) telah lenyap, syariat yang lurus telah diselewengkan. Setiap kaum bersandar kepada pendapat mereka yang paling zalim, bahkan menghukumi antara Allah Subhanahu wata’ala dan para hamba-Nya dengan teori-teori yang rusak dan hawa nafsu. Melalui beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala menunjuki seluruh makhluk, menjelaskan jalan kebenaran, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, menerangi kebodohan, dan meluruskan penyimpangan yang ada di tengah-tengah mereka. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembagi surga dan neraka (maksudnya, yang menaati beliau masuk ke dalam surga dan yang menyelisihi beliau masuk ke dalam neraka, -pen.). Allah Subhanahu wata’ala juga menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembeda antara orang yang baik dan orang yang jahat. Allah Subhanahu wata’ala menetapkan bahwa petunjuk dan keberuntungan akan diraih dengan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan kesesatan dan kebinasaan dituai dengan menentang dan menyelisihi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 19/102—103) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepada kalian cahaya dari Allah (Nabi Muhammad) dan kitab yang menerangkan (al-Quran). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (al-Maidah: 15- 16)

Demikianlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, amanat ilahi telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tunaikan dengan sebaik-baiknya. Segenap nasihat telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada umat. Perjuangan menegakkan kalimat Allah l telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan dengan sebenar-benar perjuangan. Berbagai halangan dan rintangan, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam hadapi dengan penuh kesabaran. Betapa besarnya jasa beliau n kepada manusia. Sebesar itu pula sesungguhnya hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang wajib mereka tunaikan. Semakin kuat dalam menunaikan hak-hak beliau, berarti semakin kuat pula dalam merealisasikan syahadat, “Asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”

Mengenal Hak-Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Kata pepatah Arab, faqidusy syai la yuthihi. Artinya, seseorang yang tak punya sesuatu, tak mungkin dapat memberikan sesuatu itu. Demikian pula dalam hal ini, seseorang yang tidak mengenal hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, tak mungkin dapat menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita selaku umat Muhammad n untuk mengenal hak-hak beliau n agar dapat menunaikannya dengan baik dan tepat. Bila dicernati lebih jauh, sesungguhnya ada di antara manusia yang menunaikan hak-hak beliau n namun masih belum baik dan tepat. Mereka adalah,

1. Orang yang bermudah-mudahan dalam menunaikan hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Orang yang berlebihan-lebihan dalam menunaikan hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga memosisikan beliau n sejajar dengan Allah Subhanahu wata’ala. Diberikan kepada beliau sanjungan rububiyah (kekuasaan ilahi) yang sesungguhnya hanya milik Allah Subhanahu wata’ala semata.1

Adapun menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dinilai baik dan tepat adalah manakala tidak keluar dari koridor “abdullah wa rasuluhu”, yakni posisi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai hamba Allah Subhanahu wata’ala dan utusan-Nya. Sebagai hamba Allah Subhanahu wata’ala beliau tidak boleh disejajarkan dengan Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula, sebagai utusan-Nya, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam harus dimuliakan, ditaati, dan tidak boleh diselisihi. Di antara hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus ditunaikan adalah sebagai berikut.

1. Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbesar. Ia adalah amalan mulia yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala pada banyak ayat. Bahkan, ketaatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan realisasi ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barang siapa menaati Rasul, sungguh dia telah menaati Allah. (an- Nisa: 80)

Menaati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengantarkan kepada kesuksesan yang besar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah meraih sukses yang besar. (al-Ahzab: 71)

Hidayah dan rahmat Allah Subhanahu wata’ala pun akan diraih dengannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

Jika kalian menaati beliau, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk. (an-Nur: 54)

وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Taatlah kepada Rasul, niscaya kalian dirahmati. (an-Nur: 56)

Dengannya pula kenikmatan surga akan didapatkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang besar. (an-Nisa: 13)

2. Membenarkan segala yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Setiap muslim wajib membenarkan segala yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik terkait dengan masa lampau, yang sedang terjadi, maupun yang akan datang. Kabar yang datang dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti benar, walaupun berlawanan dengan logika atau hawa nafsu.3 Sebab, tidaklah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertutur kata kecuali berdasarkan wahyu Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsu. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (an-Najm: 34)

Sebenarnya pula, logika yang sehat tidak akan bertentangan dengan berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti jelek dan mendatangkan murka Allah Subhanahu wata’ala. Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ

Segala yang dibawa oleh Rasul kepada kalian maka ambillah, dan segala yang kalian dilarang darinya maka tinggalkanlah! (al-Hasyr: 7)

Maka dari itu, menjauhkan dari dari segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.

4. Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala kecuali dengan syariat yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak boleh dilakukan semaunya. Sebab, ibadah ialah munajat dan pendekatan diri (taqarrub) kepada Rabb alam semesta Subhanahu wata’ala. Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala harus dilakukan dengan ikhlas karena-Nya. Demikian pula, ia harus dilakukan sesuai dengan bimbingan dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak sesuai dengan bimbingan dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, amalannya ditolak oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

. مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَ دّ

Barang siapa melakukan sebuah amalan (dalam agama ini) yang tidak ada perintahnya dari kami, ia tertolak. (HR. Muslim no. 1718, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha)4

Empat hak di atas disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab t dalam kitab beliau, Tsalatsatul Ushul, ketika menjelaskan konsekuensi syahadat Muhammadar rasulullah.

5. Mengikuti jejak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan dalam segenap sendi kehidupan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. (al-Ahzab: 21)

6. Menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemutus dalam segala hal yang diperselisihkan

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisa: 65)

7. Mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kepada siapa pun

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga aku menjadi yang lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia semuanya. (HR. Muslim no. 70, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

8. Membela dan tidak menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang pedih. (at-Taubah: 61)

Akhir kata, demikianlah di antara hak-hak Nabi Muhammad n yang wajib kita tunaikan. Menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berarti merealisasikan syahadat Asyhadu anna Muhammadar rasulullah”. Lebih dari itu, dengan menunaikan hakhak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan diraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Semoga taufik, hidayah, dan inayah Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengiringi kita, sehingga dimudahkan dalam menunaikan hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Menghiasi Kalbu dengan Iman Kepada Para Nabi dan Rasul

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kalian, tetapi kepada kalbu dan amalan kalian. Demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya. Kalbu dan amalan, inilah dua hal yang Allah Subhanahu wata’ala lihat pada diri hamba- Nya. Oleh karena itu, keduanya selalu menjadi perhatian wali-wali Allah Subhanahu wata’ala. Mereka selalu berupaya membersihkan kalbu dari penyakit dan kotoran berupa syirik, takabur, ujub, hasad, dan penyakit kalbu lainnya. Di samping itu, wali-wali Allah Subhanahu wata’ala berupaya memperbaiki amalan, demi meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Mereka yakin bahwa kalbu yang bersih sajalah yang akan bermanfaat kelak, sebagaimana keyakinan mereka bahwa amalan saleh saja yang bisa menjadi bekal perjalanan panjang menuju negeri akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ () إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak keturunan, kecuali orang yang datang dengan membawa qalbun salim. (asy-Syuara: 8889)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa di alam barzakh, setiap orang, baik mukmin maupun kafir, akan ditemani oleh amalannya di dunia. Apabila seorang mukmin telah menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir, terdengarlah seruan dari langit, Hamba-Ku benar. Hamparkanlah untuknya dari hamparan dari jannah. Berilah pakaian dari jannah, dan bukakan untuknya pintu menuju jannah. (Di tengah kesendirian) datanglah seorang yang sangat indah wajah dan bajunya, sangat harum aromanya. Ia berkata, Bergembiralah dengan apa yang membahagiakanmu, inilah hari yang dahulu dijanjikan. Berkatalah si mukmin, Siapa kamu, wajahmu tampak datang dengan kebaikan? Dia menjawab, Aku adalah amalan salehmu. Berkatalah si mukmin, Wahai Rabb, tegakkanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.

Demikian penggalan hadits al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad (4/287—288) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/93—94).

 

Iman, Hal Asasi dalam Kehidupan

Iman adalah urusan terpenting yang dengannya kalbu menjadi hidup, lapang dan dipenuhi kebahagiaan. Dengan iman pula manusia terbebas dari kerugian. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. (al-Ashr: 13)

Iman adalah sebab kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, serta syarat diterimanya amalan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (an-Nahl: 97)

Ayat-ayat al-Qur’an tegas menunjukkan bahwa bani Adam harus selalu menghiasi kalbunya dengan iman dan dibuktikan dengan amalan saleh saat mengarungi samudra hidup menuju negeri keabadian. Iman sendiri memiliki rukunrukun dan cabang-cabang yang harus ditunaikan, di antaranya adalah enam pokok iman: Iman kepada Allah Subhanahu wata’ala, iman kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada takdir. Pembaca rahimakumullah, dengan memohon bimbingan Allah Subhanahu wata’ala, mari kita mentadabburi beberapa ayat al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang iman kepada rasul. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menghiasi kalbu kita dengan kecintaan yang tulus kepada nabi dan rasul- Nya, lebih-lebih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, hanya melalui merekalah manusia mengerti jalan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan, yaitu shiratal mustaqim, yang Allah Subhanahu wata’ala pancangkan di hadapan para hamba-Nya. Adapun jalan-jalan yang menyelisihi para nabi dan rasul adalah jalan-jalan setan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalanjalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Hal itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (al- Anam: 153)

 

Nash-Nash tentang Iman kepada Rasul-Rasul Allah Subhanahu wata’ala

Setiap mukallaf, baik jin maupun manusia, wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah memilih para nabi dan rasul di antara hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala memilih mereka sebagai wasithah (perantara) antara Allah Subhanahu wata’ala dan manusia dalam penyampaian risalah. Mereka adalah hamba pilihan dan manusia terbaik di muka bumi. Ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah kita untuk beriman kepada nabi dan rasul Allah Subhanahu wata’ala. Di antara nash-nash tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنزَلْنَا ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (at-Taghabun: 8)

Ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kabarkan kepadaku tentang iman!” Beliau menjawab,

أَنْ تُؤْمِنَ بِا وَمَ ئَالِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Hendaklah engkau beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, beriman kepada para malaikat- Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan- Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Karena pentingnya iman kepada nabi dan rasul, kita dapatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan banyak zikir dan doa harian untuk selalu dibaca dan direnungkan, yang mengandung pokok iman tersebut. Di antara zikir tersebut adalah bacaan di waktu pagi dan petang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْ مَالِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا؛ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُرْضِيَهُ

Barang siapa ketika sore hari membaca, Aku ridha Allah Subhanahu wata’ala sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad n sebagai nabi, Allah Subhanahu wata’ala pasti meridhainya. (HR. at-Tirmidzi dari Tsauban z. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.”)

Demikian pula dalam doa istiftah. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika berdiri shalat di tengah malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca doa istiftah yang cukup panjang. Di tengahtengah doa tersebut beliau berkata,

وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ حَقٌّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ

“… Dan segala puji adalah milik- Mu, Engkau adalah al-Haq, janji-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, perjumpaan dengan-Mu adalah benar, al-Jannah adalah perkara yang haq, neraka adalah perkara yang haq, seluruh nabi adalah haq, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah haq.” (al-Hadits)

Sebelum tidur, ketika seorang berada di atas tempat tidurnya, disyariatkan membaca doa,

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tempat keselamatan dari kemurkaanMu kecuali dengan mendekat kepada- Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang engkau turunkan dan aku beriman dengan nabi-Mu yang engkau utus. (HR. al-Bukhari)1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan agar di waktu malam kita membaca dua ayat akhir surat al-Baqarah. Beliau menjanjikan, barang siapa membaca kedua ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan kecukupan kepadanya.2 Dua ayat di akhir surat al-Baqarah mengandung pokok-pokok iman yang harus kita yakini, termasuk di dalamnya keimanan kepada seluruh nabi dan rasul. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada al- Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orangorang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul- Nya, dan mereka mengatakan, Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa), Ampunilah kami, ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali. (al-Baqarah: 285)

Subhanallah, betapa indah kehidupan seorang muslim. Di awal dan akhir hari, kita diajari untuk selalu mengingat pokokpokok iman, termasuk iman kepada nabi dan rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala. Betapa sejuknya kehidupan seorang muslim. Kalbunya dihiasi oleh iman, lisannya dihiasi oleh iman, dan anggota tubuhnya pun dihiasi oleh iman. Ya Allah, kokohkanlah hati ini di atas iman. Janganlah Engkau palingkan hati kami sesudah Engkau anugerahkan keimanan kepada kami. Sesungguhnya, Engkaulah Dzat yang membolak-balikkan kalbu.

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ

Akan tetapi, Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. (al- Hujurat: 7)

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman, jadikanlah kami teladan yang membimbing dan mendapatkan bimbingan. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Bagaimana Beriman kepada Nabi dan Rasul?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya, Syarh Tsalatsatul Ushul, menyebutkan bahwa keimanan kepada rasul mengandung empat unsur pokok.

1. Mengimani bahwa Allah Subhanahu wata’ala benar-benar telah mengutus para nabi dan rasul kepada setiap umat.

Tidak boleh seorang mukallaf mengkufuri walaupun seorang rasul saja. Sungguh, orang yang mengingkari walaupun hanya satu orang rasul, artinya dia telah mengingkari seluruh nabi dan rasul. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam,

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. (asy-Syuara: 105)

Perhatikan ayat di atas, walaupun kaum Nuh hanya mendustakan Nabi Nuh ‘Alaihissalam, namun Allah Subhanahu wata’ala menghukumi mereka sebagai kaum yang mendustakan seluruh rasul. Ayat-ayat yang semisal ini banyak dalam al-Qur’an.

2. Mengimani nama-nama nabi dan rasul yang disebutkan dalam nash.

Dalam al-Qur’an terdapat 25 nama nabi dan rasul yang disepakati, mereka adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Syu’aib, Ayyub, Dzulkifli, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ‘Isa, dan Muhammad shalawatullah wa salamuhu alaihim. Adapun nabi dan rasul yang tidak diketahui nama-nama mereka, kewajiban kita adalah mengimaninya secara global.

3. Membenarkan semua berita baik dari al-Quran maupun hadits-hadits sahih tentang para nabi dan rasul.

4. Mengamalkan syariat nabi yang nabi tersebut diutus kepadanya.

Manusia yang hidup di zaman Nabi Nuh ‘Alaihissalam harus mengikuti semua syariat Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Yang hidup di zaman Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, harus mengikuti semua syariat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, demikian seterusnya. Penutup para nabi adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Jadi, ketika telah datang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, wajib bagi seluruh manusia hingga hari kiamat, termasuk ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), untuk tunduk dan berserah diri pada Islam. Allah berfirman Subhanahu wata’ala,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisa: 65)

 

Manusia Membutuhkan Nabi dan Rasul

Rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala  memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Mereka mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala, yaitu syariat yang akan mengantarkan manusia kepada jalan- Nya Subhanahu wata’ala. Merekalah perantara antara Allah Subhanahu wata’ala dan hamba-Nya dalam hal penyampaian risalah. Perlu ditekankan bahwa perantara yang dimaksud adalah perantara dalam menyampaikan risalah, bukan perantara ala sufi-quburi, yang meyakini bahwa mereka adalah perantara dalam menyampaikan hajat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Quburiyun (pengagung kuburan), baik dari kalangan sufi atau Syiah Rafidhah, berkeyakinan bahwa wali-wali Allah Subhanahu wata’ala, termasuk nabi dan rasul, mendengar dan mengetahui keadaan manusia yang masih hidup, meski mereka berada di dalam kubur.

Quburiyun meyakini bahwa mereka mampu menjadi perantara di sisi Allah Subhanahu wata’ala dalam hal permintaan. Jadi, para penyembah kubur pun mengerumuni kuburan guna menyampaikan hajat kepada nabi dan rasul sebagai perantara doa mereka dengan Allah Subhanahu wata’ala. Sungguh, tidak diragukan bahwasanya keyakinan ini adalah keyakinan kufur. Keyakinan ini sama persis dengan keyakinan musyrikin Arab yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam surat az-Zumar.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah Subhanahu wata’ala-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sedekat-dekatnya. (az-Zumar: 3)

 

Diutusnya Nabi dan Rasul, Nikmat Besar yang Wajib Disyukuri

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia dalam masa jahiliah. Kesyirikan menguasai muka bumi; kebejatan akhlak dan moral menjadi simbol-simbol zaman itu; pembunuhan, kezaliman, dan segala macam kerusakan bukan hal yang asing; hukum rimba berlaku; serta tidak ada kasih sayang dan penghormatan pada hak-hak kemanusiaan.

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ () يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (an- Nahl: 5859)

Kemudian Allah Subhanahu wata’ala mengutus nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin Abdillah, menyibak kegelapan-kegelapan itu. Beliau mengantarkan manusia kepada cahaya iman. Sungguh, kebutuhan manusia kepada rasul sangatlah besar. Melalui rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala lah, jalan kebenaran terbentang lebar. Ya, nikmat diutusnya nabi dan rasul kepada umat manusia adalah nikmat besar yang wajib disyukuri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (Al- Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali Imran: 164)

Menjadi teranglah betapa kebutuhan manusia pada para nabi dan rasul-Nya sangatlah primer. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan oleh hamba. Kebutuhan mereka kepada risalah ini melebihi hajat mereka kepada segala sesuatu yang lain. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan bagi alam dunia ini. Bagaimana mungkin alam semesta menjadi baik jika tidak ada ruhnya, tidak ada kehidupannya, dan tidak ada cahayanya?!” Sungguh, telah datang ribuan nabi dan rasul kepada umat manusia, hingga diutusnya nabi dan rasul terakhir sebagai bukti kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya.

 

Berapa Jumlah Nabi dan Rasul?

Di antara nabi dan rasul ada yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan kisahnya dalam al- Qur’an. Namun, banyak para nabi dan rasul yang tidak disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kisahkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu…. (al-Mumin: 78)

Jumlah nabi dan rasul sangat banyak, karena pada Allah Subhanahu wata’ala telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah l (saja) dan jauhilah thaghut itu! (an-Nahl: 36)

Bahkan, dalam satu negeri bisa jadi Allah Subhanahu wata’ala mengutus lebih dari seorang rasul, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan dalam surat Yasin tentang penduduk sebuah negeri yang diutus di tengahtengah mereka tiga orang rasul-Nya.

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ () إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu. (Yasin: 1314)

Tentang jumlah nabi dan rasul, Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ كَمْ عِدَّةُ اْلاَنْبِيَاءِ؟ قَالَ: مِائَةُ اَلْفٍ وَاَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ اَلْفًا اَلرُّسُلُ مِنْ ذَالِكَ ثَلاَثَةُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيْرًا

Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi seluruhnya? Rasul bersabda, Jumlah seluruhnya 124.000 nabi. Yang termasuk rasul di antara mereka adalah 315 orang, suatu jumlah yang banyak. (HR. al-Imam Ahmad dalam al-Musnad, dinyatakan sahih oleh al- Albani dalam al-Misykah [3/1599 no. 5732] dan ash-Shahihah no. 2668)

Riwayat yang menyebutkan jumlah nabi dan rasul juga kita dapatkan dari hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dalam hadits tersebut, seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai Rasulullah, apakah Adam seorang Nabi? Beliau menjawab, Ya, beliau seorang nabi yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wata’ala. Dia bertanya, Berapa generasikah antara Adam dan Nuh? Beliau menjawab, Sepuluh generasi. Wahai Rasulullah, berapakah jumlah rasul? Beliau bersabda, Tiga ratus lima belas. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, Ibnu Mandah dalam Kitabu at-Tauhid, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, ath-Thabarani dalam al-Ausath, dan al-Hakim dalam al- Mustadrak. Al-Hakim berkata, “Hadits ini sahih menurut syarat Muslim.” Ucapan beliau ini disepakati oleh adz-Dzahabi rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Perbedaan Nabi dan Rasul

Nabi dan rasul adalah dua kata yang sering kita dapatkan dalam nash-nash syariat. Tentu sebuah kewajaran ketika muncul pertanyaan, “Adakah perbedaan antara nabi dan rasul? Apakah keduanya memiliki makna yang sama atau berbeda?” Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi dan rasul sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya dari sisi makna. Namun, pendapat ini tidak diperkuat oleh dalil. Bahkan, tampak bahwa dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tidak sejalan dengan pendapat ini. Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Mereka menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul.

Pendapat ini diperkuat oleh dalil-dalil yang sahih dari al-Kitab dan as-Sunnah, termasuk hadits Abu Dzar dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhuma tentang jumlah nabi dan jumlah rasul. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah setelah menyebut hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu tentang jumlah nabi dan rasul—yang telah kita bahas bersama—berkata, “Ketahuilah, hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu yang baru saja kita sebut, demikian pula hadits-hadits lain yang telah kita ketengahkan sebelumnya, semua menunjukkan adanya perbedaan antara rasul dan nabi. Perbedaan ini ditunjukkan pula oleh al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, kecuali apabila ia mempunyai sebuah keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (al-Hajj : 52)

Demikian pendapat yang diikuti seluruh ahli tafsir, seperti al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Katsir, hingga yang terakhir dari ahli tafsir, al-Imam al-Alusi rahimahumullah. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam banyak fatwa beliau. Beliau berkata,

“Semua rasul adalah nabi, namun tidak semua nabi adalah rasul.” (lihat Majmu Fatawa [10/ 209] dan [18/7]) Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata bahwa al-Mahdawi menyatakan, “Inilah yang benar, seluruh rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul.” (Tafsir al-Qurthubi [12/80])

Perbedaan antara Nabi dan Rasul

Mayoritas ulama menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul, sebagaimana pembahasan di atas. Tetapi, mengenai letak perbedaan antara nabi dan rasul, ada beberapa pendapat sebagai berikut.

1. Rasul adalah orang yang diturunkan kepadanya wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia. Adapun nabi, mereka adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat, namun tidak diperintah untuk menyampaikannya.

2. Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat baru. Adapun nabi diutus dengan membawa syariat rasul sebelumnya. Pendapat kedua ini menyatakan bahwa nabi dan rasul diperintahkan menyampaikan syariat kepada umatnya.

3. Rasul adalah orang yang mendapatkan kitab dan syariat tersendiri (baru). Adapun nabi tidak diturunkan padanya kitab, tetapi menyeru kepada syariat rasul sebelumnya.

Masih ada pendapat lain di kalangan ulama, kita cukupkan tiga pendapat di atas. Dari sekian pendapat para ulama, guru kami, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah mengatakan, “Mengenai perbedaan antara nabi dan rasul, yang masyhur (selama ini) bahwa nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia. Adapun rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan. Namun, terdapat dalil yang menunjukkan tidak benarnya pendapat ini… Di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat. Di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah. (al-Maidah: 44)

Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi bani Israil setelah Musa ‘Alaihissalam berhukum dengan Taurat dan menyeru manusia (berpegang dengan) Taurat. Atas dasar (ayat) ini, bisa kita katakan tentang perbedaan antara nabi dan rasul, bahwasanya rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan diturunkan kepadanya al-Kitab. Adapun nabi, ia adalah orang yang mendapatkan wahyu untuk menyampaikan risalah rasul sebelumnya. Pendapat inilah yang sesuai dengan dalil-dalil…. (diringkas dari Qathfu Jana ad-Dani hlm. 110)

Nabi dan Rasul adalah Laki-Laki Merdeka

Nabi dan rasul semua adalah laki laki merdeka dan bukan budak. Tidak ada seorang nabi pun dari kalangan wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui. (al-Anbiya: 7)

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ

Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkata, “Dalam ayat yang mulia ini ada keterangan bahwasanya rasul-rasul yang diutus oleh Allah l itu berasal dari kalangan laki-laki, bukan perempuan. Sebab, lelaki lebih sempurna daripada kaum perempuan.” (Majmu Rasail asy- Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad [1/250])

Sebagian manusia beranggapan bahwa Sarah istri Ibrahim, ibu Nabi Musa, dan Maryam binti Imran adalah para nabi. Mereka berdalil bahwasanya malaikat Allah Subhanahu wata’ala memberikan kabar gembira kepada Sarah akan kelahiran Ishaq. Demikian pula malaikat memberikan kabar gembira kepada Maryam akan kelahiran Isa. Mereka berdalil pula dengan firman Allah Subhanahu wata’ala tentang ibu Nabi Musa ‘Alaihissalam,

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Kami ilhamkan kepada ibu Musa, Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (al-Qashash: 7)

Namun, semua dalil tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka adalah nabi. Wahyu yang dikatakan dalam kisah ibu Musa adalah ilham, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala memberikan wahyu kepada lebah, yakni ilham. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang diyakini Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan ini pula yang dinukilkan oleh asy-Syaikh Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il al-Asy’ari, tidak ada seorang nabi pun dari kaum wanita. Yang ada adalah shiddiqah (derajat tertinggi di bawah nabi dan rasul, -pen.). Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan tentang Maryam binti Imran dalam firman-Nya,

مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ

Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang shiddiqah (yang sangat benar), keduanya biasa memakan makanan. (al-Maidah: 75) (Tafsir Ibnu Katsir)

Nuh ‘Alaihissalam, Rasul yang Pertama

Di antara dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya. (an-Nisa: 163)

Lebih tegas dari ayat di atas adalah hadits syafaat yang panjang dalam Shahih Muslim, ketika manusia dikumpulkan di Mahsyar. Mereka berkata kepada Nuh ‘Alaihissalam, “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama.”

Adakah Nabi dan Rasul dari Kalangan Jin?

Jumhur ( mayoritas ) ulama berpendapat tidak ada nabi dan rasul dari kalangan jin, semua dari kalangan manusia. Demikian pendapat sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Di antara dalil jumhur adalah firman Allah Subhanahu wata’ala

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia…. (al-Hajj: 75)

Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’alal tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam,

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub, serta Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya. (al-Ankabut: 27)

Ulama mengatakan, berdasarkan ayat ini, semua nabi yang diutus setelah Ibrahim adalah dari keturunan beliau. Telah dimaklumi bahwa jin bukan dari keturunan Ibrahim ‘Alaihissalam. Demikianlah pendapat jumhur dan beberapa dalil yang mereka bawakan. Sebagian ulama berpendapat bahwa bisa jadi ada nabi dan rasul dari kalangan jin. Ada pula sekelompok ulama yang tawaqquf (tidak memberikan pendapat) dalam masalah ini, tidak menetapkan tidak pula meniadakan. Wallahu taala alam.

Buah Mengimani Nabi dan Rasul

Iman kepada rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala membuahkan berbagai faedah yang agung, di antaranya:

1. Bertambahnya keimanan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan cinta kepada-Nya ketika menyaksikan betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya.

Allah Subhanahu wata’alamengutus para nabi dan rasul untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan dua negeri: dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wata’ala tidak membiarkan manusia hidup sia-sia dan terbengkalai.

2. Dengan beriman kepada rasul, seseorang akan menyaksikan betapa agungnya hikmah Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan syariat berupa perintah, larangan, atau hukum yang sesuai dengan keadaan setiap umat.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim: 4)

3. Iman kepada para rasul mendorong setiap insan untuk sering memuji Allah Subhanahu wata’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang sangat agung.

4. Iman kepada rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala adalah sebab yang mengantarkan seseorang ke dalam jannah, karena Allah Subhanahu wata’ala akan mengumpulkan seseorang bersama yang dicintainya.

Seandainya seseorang jujur dalam mencintai para nabi dan rasul, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan kumpulkan bersama mereka. Dalam hadits, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Pokok-Pokok Keimanan Kepada Nabi dan Rasul

Dasar pijakan Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam hal mengimani para nabi dan rasul, bahkan dalam semua urusan agama adalah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang lurus, yaitu pemahaman salaful ummah. Telah kita lalui keterangan asy- Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tentang empat hal yang terkandung dalam iman kepada rasul, di antaranya adalah membenarkan seluruh berita yang sahih, baik dari al- Quran atau hadits-hadits sahih tentang para nabi dan rasul. Untuk menyempurnakan pembahasan, berikut ini kita sebutkan beberapa pokok iman kepada rasul sebagai rincian dari berita al-Qur’an serta sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang nabi dan rasul Allah Subhanahu wata’ala. Di antara pokok-pokok yang wajib diyakini adalah:

 

Pertama: Meyakini bahwa kenabian dan kerasulan adalah ikhtiyar (pilihan) Allah Subhanahu wata’ala

Kenabian dan kerasulan bukan kedudukan yang bisa diusahakan layaknya jabatan duniawi, seperti raja, presiden, menteri, atau jabatan-jabatan lainnya. Dengan upaya perang, penggulingan kekuasaan, warisan, tirakat, atau sebab lain yang ditempuh, seseorang bisa menduduki kursi kekuasaan sebagaimana kita lihat dalam sejarah umat manusia. Akan tetapi, kenabian dan kerasulan adalah murni pilihan Allah Subhanahu wata’ala, bukan derajat yang bisa diupayakan atau diwarisi dari nenek moyang. Tidak ada campur tangan manusia untuk mengusahakan seseorang menjadi nabi dan rasul. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (al-Hajj: 75)

Allah Maha Mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang berhak mendapatkan derajat yang mulia ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَن نُّؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ

Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, Kami tidak akan beriman hingga kami diberi yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada para utusan Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (al-Anam: 124)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang nabi- Nya Musa ‘Alaihissalam,

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ () إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى () وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ

Ketika datang ke tempat api itu, ia dipanggil, Hai Musa, sesungguhnya Aku inilah Rabbmu, maka lepaskanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). (Thaha: 1113)

Dalam ayat-ayat al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala sering menyebutkan bahwasanya kenabian dan kerasulan adalah benarbenar anugerah Allah Subhanahu wata’ala dan pilihan-Nya. Oleh karena itu, ketika musyrikin Arab melakukan aksi protes menyatakan ketidakpuasan atas kerasulan Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa kerasulan tidak diberikan kepada orang yang lain, Allah Subhanahu wata’ala membantah sanggahan mereka. Firman-Nya,

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ () أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Mereka berkata, Mengapa al- Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan penghidupan di antara mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (az-Zukhruf: 3132)

 

Kedua: Meyakini bahwa nabi dan rasul adalah manusia terbaik dan termulia

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwasanya para nabi dan rasul adalah manusia paling mulia di sisi Allah Subhanahu wata’ala, karena Allah Subhanahu wata’ala lah yang memilih mereka. Mereka menjadi orang termulia karena jasa mereka, yaitu mendakwahi kaumnya, menyeru manusia kepada agama Allah Subhanahu wata’ala, dan mengajak manusia mencapai kebahagiaan. Semua mereka tempuh dengan penuh pengorbanan dan kesabaran. Mereka adalah manusia terbaik karena Allah Subhanahu wata’alamenjadikan mereka memiliki sifat-sifat paling mulia yang dicapai oleh makhluk, seperti pujian Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau benarbenar memiliki akhlak yang agung. (al-Qalam: 4)

Berbeda halnya dengan keyakinankeyakinan menyimpang, seperti kesesatan yang ada pada sufi ekstrem dan agama Syiah Rafidhah. Sufi ekstrem meyakini bahwa derajat tertinggi di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah wali, kemudian nabi, dan derajat terakhir adalah rasul. Jadi, tidak mengherankan apabila mereka sangat mengagungkan tokoh-tokoh mereka melebihi para nabi dan rasul. Demikian pula Syiah Rafidhah. Mereka meyakini bahwa imam-imam mereka lebih tinggi derajatnya dari nabi dan rasul serta malaikat-malaikat Allah Subhanahu wata’ala. Salah seorang pemimpin mereka, Khomeini, sebuah ucapan kekafirannya dalam buku yang ia tulis, al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 52, terbitan Maktabah al-Islamiyah al-Kubra, Teheran), Dan sesungguhnya termasuk masalah dharuri (pasti dan tidak ditawar-tawar lagi) dalam keyakinan mazhab kami (baca: agama kami) bahwasanya para imam kami memiliki derajat yang sangat tinggi yang tidak dicapai oleh malaikat muqarrabin, serta para nabi dan rasul.…” Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut kotor Khomeini ini tidak diragukan kekufurannya, di samping kekafirankekafiran lain yang berserakan dalam buku-buku Rafidhah.

 

Ketiga: Meyakini bahwa para nabi dan rasul terbebas dari sifat dusta, menipu, dan khianat.

Sifat-sifat buruk ini sangat bertolak belakang dengan tugas mereka sebagai penyampai risalah Allah Subhanahu wata’ala  kepada manusia. Sifat ini sangat tidak pantas dimiliki oleh seorang da’i atau manusia yang mulia, lebih-lebih manusia yang dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mengemban risalah. Oleh karena itu, seluruh nabi dan rasul adalah manusia yang terbebas dari kedustaan, khianat, penipuan, atau sifat menyembunyikan kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala  menjaga nabi dan rasul- Nya dari sifat-sifat buruk ini. Bahkan, sebelum mereka diutus, Allah Subhanahu wata’ala telah menjaga mereka sehingga manusia mengenali mereka sebagai sosok yang bersih dari cela dan cacat, lebih-lebih sifat-sifat ini. Penutup para nabi dan rasul, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum diangkat sebagai rasul telah diakui sebagai seorang yang sangat jujur, kuat memegang amanat, serta bersih dari cela dan cacat. Seluruh manusia memberikan persaksian atas kejujuran beliau. Bahkan, tanpa keraguan mereka bersepakat menggelari beliau sebagai al-Amin (jujur dan tepercaya). Sejenak kita tengok fragmen sejarah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin al-Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala turun ayat,

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat. (asy-Syuara: 214)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segera menuju Shafa, naik ke atasnya, lalu berseru memanggil kaum Quraisy, “Wahai bani Fihr, wahai bani ‘Adi…” panggilan beliau tujukan kepada semua suku Quraisy. Mereka semua pun berkumpul. Yang berhalangan hadir mengirim utusan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Setelah Quraisy berkumpul, beliau pun berkata, “Jika aku kabarkan bahwa di lembah ini ada sepasukan berkuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” Serempak Quraisy menimpali, “Kami memercayai beritamu. Sungguh, kami belum pernah sekali pun mendapati engkau berdusta.” Subhanallah, pengakuan seluruh Quraisy, bahkan bangsa Arab, tentang kejujuran dan sifat amanah beliau. Namun, ketika kemudian Rasulullah n memperingatkan manusia dari kesyirikan dan memerintah mereka untuk mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, mereka berbalik memusuhi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lebih mengherankan lagi, tatkala Quraisy bersepakat untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum hijrah. Mereka memilih sekelompok pemuda tangguh untuk mengepung rumah beliau. Di saat makar Quraisy demikian hebat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih menugaskan Ali radhiyallahu ‘anhu untuk tetap tinggal di Makkah guna mengembalikan amanat-amanat Quraisy yang dititipkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allahu Akbar.

Demikianlah para nabi dan rasul. Mereka maksum dari sifat dusta, khianat, dan menyembunyikan kebaikan.

 

Keempat: Meyakini bahwa seluruh nabi dan rasul telah melaksanakan tugas menyampaikan risalah dengan sempurna.

Tidak ada satu kebaikan yang dibutuhkan oleh umat kecuali semua nabi dan rasul telah menyampaikannya. Demikian pula tidak ada satu kejelekan yang membahayakan umat kecuali mereka telah diperingatkan darinya. Nabi dan rasul telah menyampaikan risalah dengan sempurna, sehingga tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk tidak beriman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka kami utus) selaku rasulrasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (an-Nisa: 165)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan persaksian bahwa semua nabi dan rasul telah menyampaikan segala yang dibutuhkan oleh umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali diwajibkan atasnya menerangkan seluruh kebaikan yang mereka ketahui kepada umatnya, dan memberikan peringatan dari seluruh kejelekan yang ia ketahui. (HR. Muslim, “Kitab al-Imarah”)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul terakhir, beliau telah menyampaikan semua risalah. Ketika haji wada’, Rasulullah n berkhutbah kepada para sahabatnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Bukankah aku telah menyampaikan (risalahku)?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi mengulang, “Bukankah aku telah menyampaikan (risalahku)?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi mengulang, “Bukankah aku telah menyampaikan (risalahku)?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi bersabda, “Ya Allah, saksikanlah!” Nabi menunjuk dengan jarinya ke langit dan mengarahkannya kepada hadirin. (HR. Muslim)

Saat haji wada’ itulah turun firman Allah Subhanahu wata’ala mempersaksikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan semua yang dititahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, hingga agama ini sempurna,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. (al-Maidah: 3)

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara, kecuali beliau telah sebutkan ilmu tentangnya.” Kemudian beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari api neraka, kecuali telah dijelaskan kepada kalian. (HR. ath-Thabarani no. 1647 dengan sanad yang sahih)

Seorang musyrik berkata kepada Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, sahabat kalian (yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah mengajarkan segala sesuatu kepada kalian, sampai pun tentang adab buang hajat.” Jika Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan para sahabat rasul sebagai generasi terbaik umat ini telah mempersaksikan kesempurnaan Islam, kita pun harus demikian. Kita harus meyakini bahwa seluruh nabi dan rasul, termasuk nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menyampaikan seluruh kebaikan.

 

Kelima: Meyakini bahwa nabi dan rasul adalah manusia biasa sehingga bisa ditimpa apa yang menimpa manusia. Mereka adalah hamba Allah  Subhanahu wata’ala bukan ilah.

Nabi dan rasul tidak lepas dari keberadaan mereka sebagai manusia. Mereka bukan Allah Subhanahu wata’ala, bukan pula putra Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana halnya keyakinan Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah manusia. Nabi dan rasul merasakan lapar dan dahaga. Mereka pun makan dan minum, menikah, memiliki anak, berusaha mencari penghidupan, dan berjalan ke pasar untuk membeli atau menjual barang kebutuhan. Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam riwayat al-Bukhari, tidaklah Allah Subhanahu wata’ala mengutus nabi atau rasul kecuali mereka pernah menggembala kambing. Hakikat ini sering disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an, demikian pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah, Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, Bahwa sesungguhnya Ilah (sesembahan) kamu itu adalah Ilah Yang Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya. (al-Kahfi: 110)

Nabi dan rasul makan dan minum, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ () وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Dan Rabb-ku, Dialah yang memberi makan dan minum kepadaku. Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. (asy-Syuara: 7980)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نسَِ يْتُ فذََكِّرُوْنيِ

Aku tidak lain hanyalah manusia seperti kalian. Aku juga lupa seperti kalian. Maka dari itu, jika aku lupa, ingatkanlah! ( HR. al-Bukhari no. 401, Muslim no. 572 dan lainnya. Ini adalah lafadz al-Bukhari, dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

 Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) kecuali dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu). (ar-Rad: 38)

Sebagai manusia, mereka juga bisa sakit, bahkan meninggal dunia. Keyakinan ini memberikan faedah besar bagi umat manusia: meski para nabi dan rasul memperoleh wahyu serta menjadi manusia pilihan dan terdekat dengan Allah Subhanahuwata’ala, tidak berarti mereka keluar dari sifat kemanusiaan. Mereka tidaklah memiliki sifat-sifat yang hanya khusus untuk Allah Subhanahuwata’ala seperti rububiyah, uluhiyah. Mereka juga tidak mengetahui urusan gaib yang merupakan kekhususan bagi Allah Subhanahuwata’ala; dan mereka tidak berhak diibadahi.

 

Keenam: Dalam mengimani nabi dan rasul, seorang mukmin harus berhati-hati dari ghuluw (melampaui batas) terhadap para nabi dan rasul.

Ghuluw atau melampaui batas dalam hal mencintai, menyanjung, dan mengagungkan orang saleh, termasuk para nabi dan rasul, adalah sebab kebinasaan umat-umat di muka bumi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِيْ الدِّيْنِ

Jauhilah ghuluw. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tidaklah binasa kecuali karena ghuluw dalam agama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula,

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian berlebihan (melampaui batas) dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.1

Nabi dan rasul, adalah manusia biasa yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepada mereka. Nabi dan rasul tidak sedikit pun memiliki sifat-sifat yang menjadi kekhususan bagi Allah Subhanahu wata’ala, seperti rububiyah atau uluhiyah. Di antara bentuk ghuluw yang kita saksikan adalah keyakinan dan ucapan Nasrani yang menyatakan bahwa Isa ‘Alaihissalam adalah anak Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula ucapan Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman menyebutkan kelancangan Yahudi dan Nasrani,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata, Uzair itu putra Allah dan orang Nasrani berkata, Al-Masih itu putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allahlah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (at-Taubah: 30)

Termasuk ghuluw adalah ucapan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya mengetahui urusan yang gaib. Sungguh, nabi dan rasul tidak mengetahui urusan yang gaib, karena hal itu adalah kekhususan Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin para rasul dan yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wata’ala juga tidak mengetahui urusan gaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyakbanyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (al-Araf: 188)

Adapun urusan gaib yang dikabarkan oleh para nabi dan rasul tidak lain adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai- Nya. Sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (al-Jin: 2627)

Lebih dari itu, di antara manusia ada yang meniatkan ibadah untuk Rasulullah n. Sebagian manusia berdoa kepada nabi dengan keyakinan bahwa para nabi dan rasul adalah perantara untuk menyampaikan hajat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Lahaula wala quwwata illa billah.

Salah seorang guru kami mengisahkan sebuah kejadian menyedihkan di Masjid Nabawi. Ada seseorang berdoa dengan sangat khusyuk, bahkan menangis terisak. Namun, ketika diperhatikan, ternyata yang ia panggil adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah…! Bantulah kami, penuhilah hajat kami…!” Mengapa mereka tidak mengarahkan doanya kepada Allah Subhanahu wata’ala? Karena pentingnya masalah ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengingatkan dalam sabda-sabda beliau, melarang umatnya bersikap ghuluw terhadap beliau dan orang-orang saleh.

 

Ketujuh: Meyakini bahwa sebagian nabi dan rasul memiliki keutamaan atas sebagian yang lain.

Semua nabi dan rasul adalah hambahamba Allah Subhanahu wata’ala yang paling mulia. Allah Subhanahu wata’ala memilih dan menempatkan mereka pada derajat-derajat tertinggi di jannah-Nya.

 

Hadits-Hadits Maudhu (Palsu) berisi Ghuluw terhadap Rasul

Sebagai tambahan pembahasan, kami sajikan hadits-hadits palsu berisi perilaku ghuluw (melampaui batas) yang dibuat oleh manusia untuk menyanjung dan mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, di antara hadits tersebut ada yang menyeru kepada kesyirikan atau kebid’a han. Di antaranya adalah,

فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَّ اللهِ عَظِيمٌ   تَوَسَّلُوا بِجَاهِي

Bertawassullah kalian dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah Subhanahu wata’ala agung.

احْلِفُوا بِجَاهِي فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَ اللهِ عَظِيمٌ

/p>Bersumpahlah kalian dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah Subhanahu wata’ala agung.

Tidak diragukan bahwa bersumpah dengan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wata’ala melarang hamba-Nya bersumpah selain dengan nama atau sifat-Nya. Adapun bersumpah dengan nama makhluk termasuk syirik. Hadits ini maudhu, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Asy-Syaikh al-Albani menjelaskan panjang lebar kepalsuan hadits ini dalam Silsilah adh-Dhaifah (jilid 1 no. 25). Di antara hadits maudhu yang mengajak kepada ghuluw adalah,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ نُورَ مُحَمَّدٍ وَمِنْ نُورِهِ خَلَقَ الْخَلْقَ كُلَّهُ

Sesungguhnya makhluk yang pertama Allah Subhanahu wata’ala ciptakan adalah nur (cahaya) Muhammad, dan dari cahaya itulah Allah Subhanahu wata’ala ciptakan makhluk seluruhnya.

يَا عِيْسَى، آمِنْ بِمُحَمَّدٍ، فَلَوْلَاهُ لَمَا خَلَقْتُكَ وَلَمَا خَلَقْتُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada Isa, Wahai Isa, berimanlah engkau kepada Muhammad, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak menciptakanmu, tidak pula aku menciptakan langit dan bumi.

Semua hadits di atas maudhu (palsu) sebagaimana diterangkan oleh para ulama rahimahumullah. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwasanya di antara para nabi dan rasul ada yang Dia muliakan di atas sebagian lainnya.

ٻ

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengannya) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. (al-Baqarah: 253)

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Dan Rabbmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur (kepada) Dawud. (al-Isra: 55)

Dari seluruh nabi dan rasul, Allah Subhanahu wata’ala memilih lima orang rasul sebagai ulul azmi. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad shalawatullah wa salamuhu alaihim. Dari kalangan ulul azmi, Allah Subhanahu wata’ala memilih dua rasul sebagai khalil (kekasih)-Nya: Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Allah mengambil Ibrahim menjadi khalil (kesayangan)-Nya. (an-Nisa: 125)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيل

Sungguh, Allah telah menjadikanku sebagai khalil-Nya sebagaimana telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil-Nya. (HR. Muslim no. 532)

Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas seluruh nabi dan rasul. Hal ini ditunjukkan oleh banyak dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah. Di antaranya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ

Aku adalah pemuka keturunan Adam.

 

Kedelapan: Meyakini bahwa nabi dan rasul mendakwahkan seruan yang sama. Inti dakwah mereka satu, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala.

Demikian Allah Subhanahu wata’ala menyatakan dalam banyak ayat al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah l (saja), dan jauhilah Thaghut itu. (an-Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku! (al-Anbiya: 25)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

Para nabi ibarat saudara sebapak, ibu-ibunya berbeda, namun agama mereka satu. (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah )

Hadits di atas menjelaskan bahwa inti dakwah nabi dan rasul sama yaitu Islam, menyeru manusia kepada tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Adapun syariat-syariat ibadah, bisa jadi ada perbedaan.

 

Kesembilan: Meyakini bahwa nabi dan rasul memiliki kekhususankekhususan.

Telah kita lalui bersama bahwa nabi dan rasul adalah manusia biasa. Mereka tidak memiliki sifat rububiyah, uluhiyah, atau sifat-sifat lain yang menjadi kekhususan Allah Subhanahu wata’ala Secara umum mereka adalah manusia. Namun, mereka memiliki kekhususan dibandungkan dengan manusia lainnya. Di antara kekhususan-kekhususan mereka ialah:

1. Mereka mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala, baik secara langsung maupun melalui perantaraan Jibril ‘Alaihissalam.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ

Katakanlah, Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku. (al-Kahfi: 110)

2. Harta nabi dan rasul tidak diwariskan kepada manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نَحْنُ مَعْشَرُ الْأَنْبِيَاءِ لاَ نُورِثُ، كُلُّ مَا تَرَكْنَاهُ صَدَقَةٌ

Kami seluruh nabi tidak mewariskan harta. Semua yang kami tinggalkan menjadi sedekah. (HR. al-Bukhari)

3. Nabi dan rasul dimakamkan di tempat mereka meninggal.

Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dimakamkan di kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha, karena di tempat itulah beliau wafat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَمْ يُدْفَنْ نَبِيٌّ إِلاَّ حَيْثُ يَمُوتُ

Tidaklah seorang nabi dimakamkan melainkan di tempat ia meninggal. (HR. Ahmad)

4. Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan bumi memakan jasad nabi dan rasul.

Ini berdasar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi memakan jasadjasad para nabi. (HR. Ibnu Majah no. 1085)

 

Kesepuluh: Meyakini bahwa seluruh nabi dan Rasul Allah Subhanahu wata’ala membawa mukjizat sebagai bukti kebenaran dakwah mereka.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ. وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوْتِيتُ وَحْيًا أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ. فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidak ada seorang nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dengan semisal itu manusia beriman. Dan (di antara) mukjizat yang dianugerahkan kepadaku adalah wahyu yang Allah Subhanahu wata’ala turunkan kepadaku. Aku berharap menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya di hari kiamat.

Sebagai contoh mukjizat, sejenak kita renungkan berita al-Qur’an tentang mukjizat Ibrahim al-Khalil. Allah Subhanahu wata’ala  kisahkan betapa gigih Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menyeru umatnya agar menyembah Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan kesyirikan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Ibrahim berkata, Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kalian? Ah (celakalah), kamu dan apa yang kalian sembah selain Allah. Apakah kamu tidak memahami? (al-Anbiya: 6667)

Dakwah Ibrahim justru dibalas dengan makar, membakar Ibrahim. Namun, Allah Subhanahu wata’ala menampakkan sebuah mukjizat yang sangat menakjubkan.

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ () أُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mereka berkata, Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman, Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (al-Anbiya: 6870)

Demikian pula nabi kita Muhammad n. Mukjizat terbesar beliau adalah al- Qur’an, di samping banyak mukjizat lain. Di antara mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pernah mendaki Gunung Uhud bersama Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, dan Utsman bin Affan . Tiba-tiba Gunung Uhud bergoncang. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Wahai Uhud, diamlah, karena di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.” Kisah ini diriwayatkan oleh al- Bukhari dan Muslim. Dalam berita ini ada dua mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pertama: Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Uhud, Diamlah!” Uhud pun menjadi tenang dengan izin Allah Subhanahu wata’ala.

Kedua: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan berita gaib dari Allah Subhanahu wata’ala. Beliau mengabarkan bahwa Umar dan Utsman akan mati syahid. Apa yang beliau sabdakan benarbenar terwujud. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mati syahid, dibunuh seorang budak Majusi bernama Abu Lu’lu’. Demikian pula Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dibunuh dalam sebuah fitnah besar yang didalangi oleh seorang Yahudi, Abdullah bin Saba’ al-Himyari. Kita sebutkan mukjizat ini sekaligus sebagai bantahan terhadap agama Syiah Rafidhah yang dengan lancang mengafirkan tiga orang sahabat mulia ini. Bahkan, hari wafat Umar mereka rayakan! Mereka sanjung pula pembunuh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu! Di mana letak akal mereka?

Rasul menyatakan ketiga sahabat ini sebagai ahlul jannah (penduduk surga), sedangkan Syiah Rafidhah mengatakan mereka sebagai penghuni neraka? Mereka memang tidak berakal dan tidak beragama.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Beberapa Kekhususan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Sebagai rasul yang terakhir, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki kekhususan dibandingkan dengan nabi yang lain. Beliau juga memiliki hak-hak atas umat manusia. Di antara yang wajib diimani sebagai kekhususan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau menjadi penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau. Beliau diutus untuk seluruh manusia sepanjang zaman hingga hari kiamat, sedangkan nabi dan rasul sebelumnya hanya diutus untuk umatnya masing-masing.

Selain itu, wajib diimani pula bahwa syariat beliau menghapus syariat-syariat sebelumnya. Beliau  Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memiliki beberapa kekhususan lainnya. Dalam ruang yang terbatas ini, mari kita melihat beberapa kekhususan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan hak-hak beliau atas umatnya. Kita awali dengan pembahasan kekhususan beliau atas para nabi dan rasul.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Khatamun Nabiyyin (Penutup Para Nabi)

Di antara kekhususan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya. Keyakinan bahwasanya Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi, merupakan keyakinan umat Islam seluruhnya, tanpa kecuali. Keyakinan ini adalah salah satu prinsip yang disepakati oleh seluruh ulama terdahulu dan yang belakangan. Banyak dalil, baik dalil-dalil naqli (nash al-Kitab dan as-Sunnah) maupun aqli (akal) yang menunjukkannya. Di antara dalil naqli adalah empat dalil berikut.

1. Dalam al-Qur’an secara tegas Allah Subhanahu wata’ala menyatakan bahwa Muhammad adalah khatamun nabiyyin (penutup para nabi). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

 Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, melainkan rasulullah dan penutup para nabi. Adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Ahzab: 40)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini adalah nash bahwa tidak ada nabi setelahnya. Jika tidak ada nabi setelahnya, berarti tidak ada rasul setelahnya. Kerasulan lebih pantas dan lebih layak untuk tidak ada, karena risalah (kerasulan) lebih khusus daripada nubuwah (kenabian). Semua rasul adalah nabi, namun tidak sebaliknya.” (Tafsir al-Quranul Azhim)

2. Diriwayatkan dalam hadits mutawatir dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَضَتْ فَلاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدِي

Sesungguhnya risalah kenabian itu telah habis, maka tidak ada nabi dan rasul sesudahku. (HR. Ahmad)

3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا بِنَاءً فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membuat sebuah rumah. Diperindah dan diperbagusnya (serta disempurnakan pembangunannya) kecuali satu tempat untuk sebuah batu bata di salah satu sudutbya. Orang-orang pun mengelilingi rumah dan mengaguminya lantas bertanya, Mengapa batu bata ini belum dipasang? Nabi pun berkata, Sayalah batu bata (terakhir) itu, dan sayalah penutup para nabi. (HR. al- Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

4. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ قَرِيْبٌ مِنْ ثَلاَثِيْنَ كُلُّهُمْ يَزْعَمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ

Tidak akan terjadi kiamat kecuali akan keluar (muncul) tiga puluh pendusta (penipu). Semuanya mengaku sebagai rasul Allah Subhanahu wata’ala. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam riwayat lain, “… Dan sesungguhnya akan muncul pada umatku pendusta yang jumlahnya tiga puluh orang. Mereka semua mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi sepeninggalku. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dengan sanad yang sahih menurut syarat Muslim)

Inilah empat dalil naqli yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi. Adapun dalil-dalil aqli, yang menunjukkan keyakinan Ahlus Sunnah adalah dua dalil berikut.

1. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwa agama Islam telah sempurna sehingga syariat tidak perlu lagi penambahan atau pengurangan hingga hari kiamat. Artinya, tidak perlu diutus nabi atau rasul lagi. Tentang kesempurnaan syariat Islam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah kucukupkan nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagi kalian. (al-Maidah: 3)

2. Al-Qur’an dan as-Sunnah telah dijamin sebagai pembimbing hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala juga menjamin akan menjaga keduanya sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr: 9)

Jika al-Qur’an dan as-Sunnah telah dijaga hingga hari kiamat, tidak ada perubahan, cukuplah keberadaan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul yang terakhir dengan risalah yang dijamin kemurniannya hingga hari kiamat. Oleh karena itulah, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam menjamin kebaikan bagi mereka yang berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dalam sabda beliau,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku tinggalkan dua hal pada kalian, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua hal itu adalah al- Quran dan Sunnah Rasul-Nya. (HR. al-Imam Malik)

Hadits di atas menjelaskan bahwa cukup bagi umat Islam untuk menjadikan al-Qur’an dan sunnah Nabi sebagai pedoman hidupnya. Artinya, tidak perlu adanya nabi dan rasul sesudah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, jika ada nabi lagi, pasti wahyu Allah Subhanahu wata’ala akan turun lagi. Akan ada lagi hadits-hadits dari nabi atau rasul yang baru tersebut,yang menambah atau mengurangi apa yang telah ada dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini sangatlah mustahil dan sangat bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wata’ala tentang kesempurnaan Islam. Jika ada yang meyakini diutusnya nabi setelah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti Ahmadiyah yang menetapkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi1, sungguh dia telah mencela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya. Ia telah keluar dari barisan kaum muslimin. Asy-Syaikh Jamaluddin Muhammad al-Anshari berkata, “Merujuk kepada al-Qur’an dan hadis mutawatir di atas, kalau ada orang yang mengatakan masih akan ada nabi setelah nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam atau ada orang yang mengaku menjadi nabi atau rasul, maka mereka telah sesat dan kafir.” (Lisanul Arab)

Sebagai penutup pembahasan, ada sebuah hal yang mungkin menjadi pertanyaan, “Bukankah di akhir zaman nanti Nabi Isa ‘Alaihisslam akan turun ke muka bumi? Apakah artinya ada nabi sesudah beliau  Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Jawabannya, benar bahwa Nabi Isa ‘Alaihissalam akan turun ke muka bumi di akhir zaman sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat ini Nabi Isa q berada di langit. Akan tetapi, beliau turun tidak membawa syariat baru. Beliau turun untuk menegakkan syariat Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Lihat Fatawa al-Haram al-Makki, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

 

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam Diutus untuk Seluruh Manusia

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya diutus untuk orang-orang Arab, bukan pula kepada manusia di masa beliau saja. Yang wajib kita yakini, beliau diutus untuk seluruh manusia sepanjang masa hingga hari kiamat. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala juga mengutus beliau untuk kalangan jin. Berbeda halnya dengan nabi dan rasul yang lain, mereka diutus khusus untuk kaumnya. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

… وَكَانَ  :  أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً ، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Aku diberi lima kekhususan yang tidak diberikan oleh Allah l kepada nabi sebelumku… di antaranya: setiap nabi hanya diutus kepada umatnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.” (HR. al-Bukhari)

Ayat – ayat al – Qur ’ an p n menunjukkan bahwa syariat beliau bersifat universal, berlaku untuk seluruh alam hingga hari kiamat. Di antara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (al Furqan : 1)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-Anbiya107 )

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutusmu kecuali kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba: 28)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. (al-Araf : 158)

Syariat Beliau Menghapus Syariat- Syariat Sebelumnya

Dengan diutusnya Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, terhapuslah semua syariat nabi sebelum beliau, dan tidak ada syariat lain yang diterima selain syariat yang beliau bawa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ڦ

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85)

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam menguatkan makna ini dalam sabda beliau,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tak seorang pun dari umat ini yang beragama Yahudi dan tidak pula Nasrani, yang pernah mendengar tentangku lantas dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia menjadi penghuni neraka. (HR. Muslim)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc