Menepis Bayang-Bayang Isis

 السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

ISIS memang lagi eksis. Setiap ada aksi radikalisme sedikit-sedikit langsung dihubungkan dengan ISIS. Kalau dahulu, sedikit-sedikit al-Qaeda atau Jamaah Islamiyah, sekarang “kiblat” itu beralih ke ISIS.

Sejatinya ISIS atau al-Qaeda, atau gerakan radikal yang lain, tetaplah 11-12. Sebagai organisasi menyimpang, yang pijakan akidah dan prinsip syar’inya rapuh, mereka juga gontok-gontokan, dan main kafir-kafiran juga. Geli sekaligus miris.

Gerakan radikal, apa dan di mana pun, dipastikan berakar dari paham Khawarij di masa lalu, yang merupakan kelompok sempalan pertama dalam Islam. Walaupun di sisi lain, sejarah juga mencatat, betapa gerakan radikal juga selalu ditumpangi oleh kepentingan musuh-musuh Islam.

Sebutlah peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yang diotaki oleh “Mossad” kala itu, yaitu Abdullah bin Saba’. Paham Khawarij yang waktu itu tumbuh subur di Irak dan Mesir, seperti gayung bersambut bagi tokoh Yahudi asal Yaman ini. Terjadilah apa yang terjadi, seorang manusia terbaik setelah para nabi dan rasul meninggal akibat provokasi si Yahudi.

Demikian juga dengan pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Lagi-lagi paham Khawarij menjadi motor penggerak peristiwa ini. Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij, kelompok ini membiarkan para penyembah berhala, namun membunuhi kaum muslimin, termasuk orang-orang terbaiknya. Na’udzubillah.

ISIS menjadi fenomenal karena banyaknya rekaman kekejamannya yang beredar di internet. Walaupun masih jadi pertanyaan apakah segala perilaku kejamnya benar-benar dilakukan ISIS atau sekadar stigmatisasi, memang muncul beberapa anomali. ISIS belum pernah berkonfrontasi dengan Syiah, yang notabene musuh ideologis ISIS. ISIS juga belum pernah terlibat pertempuran dengan Israel yang seharusnya juga menjadi musuh nyata ISIS.

Tak mengherankan, jika ada analisis intelijen yang menyebutkan bahwa pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, sesungguhnya adalah agen Mossad. Serangan koalisi Rusia dan AS, dkk, yang berburu ISIS dikhawatirkan juga tidak pernah menyasar ke tempat-tempat yang terduga markas ISIS, tetapi justru kaum muslimin.

Jadi, ISIS seperti sebuah entitas yang sengaja diciptakan untuk menjadi magnet kalangan Islam radikal. Dengan menjadikan ISIS sebagai magnet, musuh-musuh Islam akan menjadi lebih mudah kala memetakan afiliasi gerakan Islam radikal di negara-negara lain. Lebih diharapkan lagi, ada yang mau berdatangan ke wilayah ISIS, kemudian ditumpas dengan sekali pukul.

ISIS sebagai boneka atau benar-benar sebuah gerakan murni dari kelompok militan, akhirnya menjadi pembenar pihak Barat untuk membantai umat Islam. Jadi, Barat (nonmuslim) dengan sekali dayung bisa melampaui lebih dari dua pulau, bahkan lebih. Islam kian dikesankan sebagai agama yang horor, Barat pun bisa dengan leluasa memilih sasaran serangan yang tak ada hubungannya dengan ISIS. Belum lagi keuntungan ekonomi yang didapat sebagai konsesi atas peran militer mereka.

Maka dari, kita perlu lebih cerdas bersikap. Apa yang tampak di atas panggung, tidak melulu sama dengan skenarionya. Semangat keislaman tak lantas membuat kita melontarkan puja-puji setinggi langit terhadap ISIS. Di lain pihak, kita pun tak perlu berkata nyinyir, menuduh setiap paham yang berbeda dengan ormas yang dia anut secara fanatik, sebagai Islam radikal, lantas dengan membabi buta dan asal pukul rata, menghubung-hubungkannya dengan ISIS.

Kita anti-ISIS tetapi kita juga perlu kritis.

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mengenal Negara Calon Markas Pasukan Dajjal

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Dalam hadits sahih diberitakan bahwa Dajjal akan diikuti oleh pasukan Yahudi berjumlah 70.000 personel dari Isfahan. Isfahan adalah nama kota terbesar ketiga di Iran. Isfahan saat ini menjadi salah satu kota dengan komunitas Yahudi terbesar di Iran. Pertanyaannya, bagaimana bisa komunitas Yahudi tumbuh di negara yang selama ini digembar-gemborkan sebagai anti-Yahudi?

Merunut sejarah, kota-kota di Iran adalah tujuan utama pelarian bangsa Yahudi saat Yerusalem Kuno dibumihanguskan Kerajaan Babilonia sekitar 500 SM. Tak mengherankan, ketika Yahudi berhasil menganeksasi wilayah Palestina untuk mendirikan negara Israel, mayoritas warga Yahudi di wilayah pendudukan berasal dari kota-kota di Iran, terutama Tehran, Isfahan, dan Hamedan. Warga Yahudi yang eksodus dari Iran diperkirakan mencapai 120.000 orang.

Walaupun telah berdiri negara Israel, Iran tidak berarti ditinggalkan. Menurut Komite Yahudi Tehran, saat ini komunitas Yahudi di Iran “tersisa” 25—30 ribu orang. Terbanyak di Tehran sekitar 15 ribu orang. Bagi sebagian Yahudi, Iran memang dianggap tempat suci karena mereka meyakini beberapa nabi dari bani Israil seperti Nabi Daniel ‘alaihimassalam, dimakamkan di Iran.

Kota Isfahan sendiri, bagi Yahudi, punya nilai sejarah yang tinggi. Selain dahulu adalah salah satu kota terbesar di dunia, Isfahan adalah kota pengungsian pertama bangsa Yahudi pasca-pemusnahan kota Yerusalem.

Isfahan, di abad pertengahan, sempat menjadi ibukota negara pada masa Dinasti Shafawiyah (beragama Syiah) dan Dinasti Seljuk. Walaupun jumlah komunitas Yahudi di Iran sekarang “hanya” sekitar 30 ribu orang, tetapi mereka diberi kebebasan beribadah seluas-luasnya oleh Pemerintah Iran, yang sekali lagi, konon katanya anti-Yahudi.

Wikipedia menyebut, ada 36 sinagog di Iran, separuh di antaranya berada di ibu kota Iran, Tehran. Di ranah politik, Yahudi bahkan punya wakil di parlemen Iran sejak lebih dari satu abad lalu.

Bandingkan dengan umat Islam yang mencapai 20% dari jumlah penduduk Iran, namun mendapatkan diskriminasi yang teramat kuat. Sekadar contoh, umat Islam sulit mendapatkan masjid untuk shalat Jumat di hampir seluruh wilayah Iran. Di Ahwaz, yang sejatinya wilayah Arab, pembunuhan dan pemenjaraan atas umat Islam atau ulamanya, sudah menjadi pemandangan umum.

Selama ini kita memang dininabobokan oleh opini yang berkembang bahwa Iran adalah negara anti-Yahudi. Opini yang selama ini kita telan mentah-mentah. Tak banyak yang tahu bahwa sejatinya Iran berkolaborasi dengan Yahudi untuk menghancurkan umat Islam. Munculnya agama Syiah yang merupakan gado-gado “Islam”, Yahudi, dan Majusi, yang diciptakan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi asal Yaman, merupakan salah satu bukti yang menguatkan “chemistry” ini.

Opini yang digoreng media mainstream internasional yang dikuasai Yahudi nyatanya juga tak pernah terbukti. Kegarangan Iran hanyalah gertak sambal. Belum ada sejarahnya, Iran berkonfrontasi dengan Israel. Demikian juga AS dan sekutunya, tak pernah terbukti menyerang Iran yang diopinikan sering menjadi sasaran kecurigaan AS soal senjata nuklirnya.

Iran memang demikian kondusif sebagai “kawah candradimuka” pasukan militan Yahudi akhir zaman. Semoga yang selama ini mengatakan bahwa Islam dan Syiah hanya beda mazhab, segera kembali punya akal, agar tidak menjadi bagian dari pendukung pasukan Dajjal

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mematahkan Logika Dangkal Islam Liberal

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Islam demikian bercahaya saat kaum muslimin mengagungkan ulamanya. Saat kita dihadapkan pada permasalahan agama, ulama menjadi tempat kita bertanya. Saat kita dibelit banyak kesulitan hidup, ulama menjadi tempat kita merujuk. Agama benar-benar terbentengi dengan keberadaan ulama.

Para ulama dengan banyak kemuliaan: hafal banyak hadits, bahasa Arab demikian fasih, ilmu tafsir yang mumpuni, dan amalan keseharian mereka yang sulit ditiru, namun mereka tetap terbingkai dengan akhlak mulia. Dengan segala kelebihan itu, mereka justru bersikap wara’ (berhatihati) saat berbicara soal agama. Lanjutkan membaca Mematahkan Logika Dangkal Islam Liberal

Anak Yahudi Mengancam Negeri

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sebagai sebuah bangsa dan agama sekaligus, Yahudi jelas memusuhi Islam sejadijadinya. Ini sebuah realita. Merunut sejarah, Yahudi adalah bangsa pembangkang yang membunuh sejumlah nabi. Pembangkangan itu lantas menggumpalkan kedengkian yang kuat mengakar hingga kini, setelah nabi terakhir muncul dari bangsa non-Yahudi.

Banyak pertempuran melawan Yahudi tercatat dalam sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dan masih tersisa satu pertempuran besar melawan Yahudi di akhir zaman nanti yang menjadi penanda dekatnya hari kiamat. Hal ini—selain dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang demikian gamblang—menunjukkan bahwa Yahudi memang seteru abadi kaum muslimin.

Dengan kelicikannya, Yahudi menciptakan segala cara untuk meruntuhkan Islam. Tak hanya menyerang dari luar, tetapi juga dari dalam. Dari dalam, Yahudi—berkolaborasi dengan Nasrani—mengemas segala macam kemaksiatan kemudian dijejalkan kepada generasi Islam.

Ketika segala macam kemaksiatan subur makmur, semangat keislaman kaum muslimin pun luntur lebur. Muncullah rasa minder dengan agamanya. Selanjutnya, pemurtadan dengan beragam kemasan berjejer antri menunggu giliran dilempar ke pasar.

Tak hanya “mengemas”, Yahudi juga “memproduksi” pelbagai aliran sesat atau agama-agama baru berlabel Islam. Produk “klasik” yang sudah jadi “brand” kuat di masyarakat dunia adalah agama Syiah Rafidhah. Betapa kuat “branding” Syiah, sampai sebagian orang menganggapnya bagian dari Islam, mazhab ke-5 dalam Islam.

Syiah memang salah satu proyek Yahudi yang dianggap paling berhasil. Ajaran sesatnya yang meletupkan kebencian kepada para sahabat dan kaum muslimin, telah menghasilkan banyak peristiwa berdarah. Korbannya tentu saja kaum muslimin. Secara otomatis, Syiah menjadi kaki tangan Yahudi melawan Islam.

Sinergi Yahudi-Syiah kian kuat karena media-media internasional mendukung persekongkolan ini. Seperti biasa, dengan goreng-menggoreng opini, media berhasil mengesankan bahwa Syiah itu anti-Yahudi. Alhasil, ada yang menyebut revolusi di Iran pimpinan Khomeini sebagai titik kebangkitan Islam.

Revolusi Syiah turut diekspor ke Indonesia. Pelan tapi pasti, jumlah pemeluk Syiah di Indonesia bertambah. Dalam jumlah sedikit, mereka berani bikin onar di sejumlah kota di Indonesia. Tak terbayang—na’udzubillah—jika populasi Syiah terus menggelembung. Syiah juga mampu menancapkan kuku-kukunya di lingkaran kekuasaan. Para penganut dan pembelanya bertebaran di pemerintahan dan lembaga legislatif. Repotnya, tokoh-tokoh ormas Islam malah memompakan pembelaan dan pembenaran terhadap ajaran Syiah. Syiah pun kian mendapat angin. Apalagi salah satu tokohnya, Jalaludin Rahmat “ditahbiskan” sebagai “cendekiawan muslim” oleh media-media nasional.

Sudah mafhum, di mana ada Syiah, di situ bau anyir darah. Di situ ada Syiah, di situ pula muncul api fitnah. Drama-drama pengkhianatan, adu domba, fitnah, dan konflik berdarah, yang didalangi Syiah sudah banyak yang memenuhi lembar sejarah. Yang paling baru, memanasnya konflik di Timur Tengah, terutama Yaman dan Suriah yang telah menelan ribuan korban jiwa, adalah ulah Syiah setempat yang didukung oleh Iran.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara dengan populasi muslim yang besar, Indonesia tak luput dari sasaran bidik Syiah. Jika proyek mensyiahkan Indonesia berhasil, bisa dibayangkan, Indonesia akan menjadi negara Syiah besar yang menjadi pintu perluasan Syiah ke seluruh dunia.

Ya Allah, jangan biarkan negeri ini dikuasai Syiah. Ya Allah, jangan basahi negeri ini dengan darah. Katakan tidak pada Syiah!

 

و السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Indonesia Siaga Komunis

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Komunisme belum mati. Ibarat ilalang, setiap kali dibabat, ia tetap saja tumbuh. Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai representasi komunisme di Indonesia, meski secara fisik sudah mati, tetapi tetap hidup sebagai ideologi. Di masa lalu, PKI pernah menjadi partai besar, bahkan disebut-sebut yang terbesar di luar Uni Soviet dan China. Wajar jika sisa kekuatannya tidak bisa dipandang remeh. Anak biologis mereka yang dididik secara komunis atau kader-kader militannya, akan melanjutkan “estafet” ideologinya, berupaya mengembalikan kejayaan PKI.

Bermetamorfosa ke mana-mana, diiringi pemutarbalikan fakta sejarah, penyusupan/infiltrasi, agitasi dan propaganda, upaya untuk kembali menghidupkan paham komunisme tidak lagi hanya retorika.

Reformasi yang kebablasan memberi peluang munculnya multiideologi, termasuk komunis yang terus unjuk gigi. Maraknya simbol palu arit di berbagai tempat dan peristiwa, kelompok-kelompok diskusi yang membela “HAM” PKI, konsolidasi kader PKI melalui kongres, temu raya, dll., hingga munculnya buku Aku Bangga Jadi Anak PKI menjadi bukti keberanian komunis untuk eksis.

Gagal masuk parlemen melalui PRD dan Papernas, mereka menyusup di partai-partai. Selama bisa mengantongi suara yang cukup, mudah saja kader komunis melenggang ke Senayan.

Dengan bumbu fitnah dan pemutarbalikan fakta, Komunis Gaya Baru (KGB) juga melakukan propaganda melalui film-film “pelurusan sejarah” terkait peristiwa G30S PKI, versi komunis tentu saja. Masyarakat mau dininabobokkan bahwa isu PKI sudah tidak lagi relevan, paham komunis tidak lagi berbahaya, bahkan sudah tidak ada.

Dengan percaya diri, mereka menuntut lawan-lawannya dengan isu pelanggaran HAM berat, meminta digelar pengadilan HAM atas tragedi 1965, menuntut dicabutnya TAP MPRS No. XXV Tahun 1966 yang menetapkan PKI sebagai partai terlarang di Indonesia, meminta rekonsiliasi, rehabilitasi, dan kompensasi atas “korban-korban” dari PKI.

Hasilnya, kini kekejaman PKI tak lagi dibahas dalam buku-buku sejarah di sekolah, padahal sejarah kekejaman komunis harus diketahui dari generasi ke generasi. Sejarah dunia pun mencatat, komunisme internasional telah melancarkan kudeta di puluhan negara. Hasilnya, puluhan juta jiwa jadi “tumbal”nya. Rezim “4 besar komunis” (Lenin, Stalin, Mao Tse-Tung, dan Pol-Pot) saja telah membantai rakyatnya lebih dari 100 juta jiwa. Haruskah kita lupakan begitu saja?

Modus perjuangan KGB di Indonesia tak jauh-jauh dari isu kemiskinan dan kebodohan, menghabisi korupsi, penegakan hukum, dan ketidakadilan di berbagai bidang. Seolah-olah mereka yang terdepan membela rakyat. Padahal saat berkuasa, siapa yang menggunakan cara kekerasan dan “menghalalkan segala cara”, terlihat jelas. Kekejian mereka terhadap pihak yang berseberangan secara politik, bukan rahasia lagi. Apalagi komunis punya wajah ganda: legal dan ilegal (gerakan bawah tanah), mirip akidah taqiyah ala Syiah.

Komunis yang peletak dasarnya adalah Karl Marx, seorang Yahudi berkebangsaan Jerman, memang menjadikan Islam sebagai musuh bebuyutan. Maka, jangan sampai kaum muslimin lemah. Lemahnya Islam akan menjadi lahan subur tumbuhnya beragam ideologi merusak. Tak hanya komunis, tetapi juga Islam Liberal, Ahmadiyah, Syiah, dan sebagainya.

Maka dari itu, sejarah hitam komunis tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekejaman komunis yang menyasar umat Islam perlu diantisipasi sejak dini. Pemerintah dan segenap komponen bangsa, TNI dan umat Islam, harus bersinergi menjadi benteng dari serangan kaum komunis. Tutup semua celah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi kemungkinan bangkitnya komunisme di Indonesia.

Ironi jika bahaya laten komunis ini masih saja ditanggapi dingin. Ancaman kebangkitan komunis ini bukan isapan jempol lagi. Mari kita hilangkan ilalang yang akan merusak negeri ini! Tak hanya dibabat, tetapi cabut hingga ke akar-akarnya!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Topeng Tebal Islam Nusantara

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sebuah topeng baru berwajah rahmatan lil ‘alamin, muncul di negeri ini. Wajah keriput yang tebal dengan “kosmetika” moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Konon, Islam mereka adalah yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajak tobat bukan menghujat, dan seterusnya.

Terbukti, kelompok bernama Islam Nusantara ini memang benar-benar merangkul mesra Syiah, Ahmadiyah, Nasrani, Hindu, Budha, dan kalangan non-Islam. Adapun terhadap saudara-saudara seislam yang mengamalkan ajaran Islam yang berbeda dengan versinya, mereka posisikan sebagai musuh sejadi-jadinya. Lebih-lebih terhadap muslimin yang mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka ajak “tobat” dengan hujatan dan fitnah juga. Tampak jelas, Islam Nusantara hanya menjual istilah. Maka dari itu, demi mengakomodasi istilah-istilah “gaib” yang ditelorkan oleh kelompok ini, tampaknya perlu dibuat kamus JIN alias Jaringan Islam Nusantara.

Sikap “membina tidak menghina” ditunjukkan oleh salah satu tokoh JIN. Dengan (katanya) “memakai hati dan tidak memaki-maki”, ia tampakkan sikap sewot terhadap jenggot. Memelihara jenggot yang merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam —bahkan, banyak ulama yang mewajibkan—dikerdilkan sebagai adat Arab. Orang-orang berjenggot dibodoh-bodohkan. Lupakah dia, pendiri ormas yang dia pimpin sekarang berikut para kiainya juga berjenggot?

Kalau mengaku toleran, mengapa terhadap jenggot begitu antipati?! Kalau mengaku toleran, mengapa ketika ada orang memakai busana yang menutup aurat meradang? Kalau mengaku toleran, mengapa antipati dengan orang yang tidak mau tahlilan? Dengan logika bodoh saja, orang Nasrani, Budha, Hindu, Kong Hu Cu juga tidak tahlilan. Bukankah tidak tahlilan juga bagian dari keberagaman yang selama ini digembar-gemborkan? Lantas mengapa harus membawa-bawa nama Pancasila untuk urusan tahlilan? Siapa yang bodoh dan siapa yang diragukan Pancasila-nya?

Begitu paradoksnya Islam Nusantara. Sibuk menghina atribut Islam yang sejatinya bukan adat Arab, tetapi bungkam dengan banyaknya busana yang mengumbar aurat. Mari buka mata, hijab sebagai busana muslimah muncul setelah datangnya Islam, kala busana orang Arab jahiliah waktu itu mengumbar aurat.

Anggaplah busana itu meniru sesuatu yang telah menjadi kebiasaan di Timur Tengah, haruskah kita sesewot itu? Mengapa dia tidak sewot dengan banyaknya orang yang membebek dengan Barat, tak hanya dalam hal busana, namun juga gaya hidupnya? Mengapa tidak jujur bahwa inti ajaran Islam Nusantara hanya anti-Arab? Kalau memang mengedepankan yang berbau Nusantara, mengapa Ahmadiyah dan Syiah yang notabene bukan Nusantara dirangkul demikian mesra?

JIN juga begitu semangat mengatakan bahwa yang di luar mereka sebagai Islam yang hanya menonjolkan simbol. Padahal mereka jauh lebih parah, lebih mengedepankan seremoni namun jauh dari substansi. Seremoni yang tidak ada bimbingannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibela mati-matian. Semakin kehilangan substansi manakala mengaku cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kala ada muslimin yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti memelihara jenggot, dicerca habis-habisan.

Sadar atau tidak, Islam Nusantara menahbiskan diri sebagai “karyawan” Salibis. JIN tak lebih dari aliran yang intoleran terhadap sesama Islam, tetapi begitu toleran terhadap non-Islam. Cuma mengelus dada saja dengan aliran yang paradoks ini. Aliran yang seharusnya masuk kelompok “aneh tapi nyata”.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Teknologi Dalam Jual Beli

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Berkembangnya teknologi informasi juga berimbas pada sistem atau model jual beli. Jika dengan cara konvensional, penjual dan pembeli harus bertatap muka, kini semua itu tak harus dilakukan. Pasar tidak lagi sekadar tempat untuk melakukan kontak langsung antara dua pihak, tapi maknanya sudah meluas.

Melalui website, blog, media sosial, atau forum jual beli, produk yang tengah ditawarkan, bisa menembus pasar yang tak lagi punya sekat wilayah. Siapa pun yang tengah mengakses internet, di belahan dunia mana pun, bisa melihat atau bahkan membelinya.

Itulah salah satu kemudahan yang ditawarkan teknologi. Alasan kepraktisan memang yang paling menonjol. Tanpa harus keluar rumah, kita tidak perlu repot untuk mendapatkan sesuatu yang kita butuhkan. Bahkan pembeli yang berada di daerah terpencil bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan mudah. Barang yang bisa jadi masuk dalam kategori “mustahil” untuk didapatkan di toko offline di mana pembeli berasal.

“Toko” online ini lantas berkembang. Tidak hanya sebatas barang dalam artian umum, kini juga memperdagangkan mata uang asing dan emas. Model online juga memicu jual beli dengan sistem dropship yang penjual hanya memasang gambar atau spesifikasi produk di media sosial atau display picture (DP) tanpa pernah memiliki produk tersebut, karena barang dikirim langsung dari supplier.

Trading forex, investasi emas online, dan dropship, hanyalah sekelumit contoh berkembangnya sistem sebagai efek berantai dari sistem-sistem baru yang tidak dijumpai di masa lalu. Maka perlu telaah atau kajian panjang untuk menyikapi ini semua.

Sebagai agama yang sempurna, Islam punya pijakan atau kaidah yang jelas. Segala sistem itu pada dasarnya tetap punya substansi yang bisa dicerminkan dengan syariat. Hanya nama dan bentuknya saja yang berbeda. Jadi jangan asal berdalil dengan kemudahan yang dihasilkan teknologi, kemudian kita bermudah-mudah untuk melakukan transaksi jual beli.

Pasa dasarnya, setiap jual beli hukumnya sah, selama memenuhi syarat-syarat jual beli. Selama syarat-syaratnya terpenuhi dan barang sesuai dengan spesifikasinya, maka transaksi boleh dilakukan dengan alat komunikasi masa kini, baik melalui telepon, SMS, WA, BBM, chatting, dan sejenisnya. Jika terjadi ketidaksesuaian antara spesifikasi barang dan kenyataannya, pembeli berhak mengembalikan barang tersebut kepada penjual.

Inilah wajah Islam, memberikan kemudahan tapi tetap memiliki rambu-rambu. Sebelum ada lembaga konsumen seperti YLKI, Islam telah bersikap preventif pada segala model jual beli agar tidak ada salah satu pihak, terutama konsumen, yang dirugikan.

Peluang usaha demikian luas, banyak celah rezeki yang bisa kita dapatkan. Tak perlu alergi dengan teknologi, asal kita memanfaatkannya dengan benar dengan berpijak pada kaidah yang sudah ada.

Namun di sisi lain, jangan sampai kita bermudah-mudah berinvestasi dengan berdalih teknologi.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Cara Salah Cari Berkah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Berkah adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata. Dialah satu-satunya Dzat yang segala kebaikan dan berkah ada di Tangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi tempat yang Dia kehendaki, seperti Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, masjid-masjid atau tempat mana pun. Ayat-ayat al-Qur’an juga menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi hamba yang Dia kehendaki, seperti para nabi dan rasul.

Segala sesuatu yang mengandung berkah, semua telah dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan riwayat-riwayat para sahabat. Maka dari itu, ketika sesuatu telah dijelaskan oleh nas atau syariat, semestinya kita tidak perlu repot mencari-cari apalagi sibuk mencari pembenaran sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syariat. Tak perlu membela diri demi “menghalalkan” air Ponari, tidak perlu galau dengan kotoran kerbau, tidak perlu kurang kerjaan dengan berendam di sebuah petilasan, juga tidak perlu menjadi bodoh karena berebut puntung rokok seorang tokoh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia dan kekasih Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak mampu mendatangkan sedikit pun kebaikan atau menolak mudarat atas diri beliau, lebih-lebih atas orang lain. Saat air keluar dari jari-jemari Rasulullah yang digunakan untuk berwudhu dan minum oleh ribuan sahabat radhiallahu ‘anhum, Rasulullah tegas mengatakan, “Berkah itu dari Allah.”

Artinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satusatu- Nya Dzat yang memiliki berkah, dan Dialah satu-satunya Dzat yang memberkahi. Hanya dari Dialah dimohon berkah. Ini juga akidah yang diyakini para sahabat, manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul.

Maka dari itu, manusia-manusia selain mereka yang tidak dijamin masuk surga, tapi justru berlumur dosa, lebih tidak bisa untuk memberikan berkah, apalagi memutuskan sesuatu mengandung berkah atau tidak. Dikemanakan ayat atau hadits yang berbicara bahwa yang memberikan berkah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala?

Keyakinan dari mana bahwa para tokoh atau kyai yang kita agungkan setinggi langit itu mempunyai berkah dari jasadnya? Apakah para tokoh yang kita sematkan hak-hak ilahiah memang dijamin masuk surga sehingga kita rela berebut bekas air minumnya? Apakah pantas orang yang melakukan kesyirikan dan kebid’ahan kita agung-agungkan sedemikian rupa?

Sadarkah kita, dosa syirik menganga lebar di depan kita jika kita salah cari berkah?! Kebenaran adalah apa yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Syariat kita yang sempurna tidak memberi celah sedikit pun bagi kita untuk membuat syariat atau “berkah-berkah” baru di luar yang telah digariskan syariat.

Syirik adalah dosa yang tidak terampuni kecuali dengan tobat. Maka dari itu, cari berkah jangan asal. Neraka siap mengancam jika kita salah cari berkah.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mengenal Pembaru dari Yaman

Kala itu, dari sebuah desa terpencil bernama Dammaj, yang berjarak sekitar 250 km dari ibukota Yaman, terpancar sebuah dakwah yang mampu menyinari sebagian besar wilayah Yaman. Dengan kondisi Yaman yang dipenuhi orang-orang (Syiah) Rafidhah, Syi’ah Zaidiyah, Sufi, dan komunis, tentu berdakwah di negara ini bukan perkara mudah. Apalagi Yaman terhitung sebagai negara miskin, tentu menambah beban dakwah tersendiri.

Namun, ketika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, apa pun bisa terjadi. Di tengah karut-marut keberagamaan Yaman, muncullah seorang asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i yang menebar dakwah tauhid, memerangi segala kesyirikan yang bercokol di negeri tersebut. Membendung laju Sufi dan Syiah dengan dakwah as-Sunnah.

Berawal dari mengajari al-Qur’an kepada anak-anak di kampungnya yang kecil yang dikelilingi gunung-gunung, pelan namun pasti, cahaya dakwah asy-Syaikh Muqbil bertebaran ke seantero Yaman. Setiap beliau mengisi muhadharah (taklim) di kota-kota di Yaman, selalu dihadiri ribuan orang, hingga masjid tidak mampu menampung jumlah yang hadir.

Asy-Syaikh Muqbil memang telah diberikan banyak kelebihan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, salah satunya adalah ilmu hadits. Tak heran jika masyarakat Yaman memberi tempat bagi dakwah beliau. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala kemudian dengan kesabaran beliau, masyarakat Yaman sedikit-sedikit mulai meninggalkan kesyirikan dan kemaksiatan yang telah mengakar menjadi kebiasaan.

Berdirilah kemudian ma’had (pondok pesantren) Ahlus Sunnah yang pertama dan terbesar di Yaman di desa Dammaj bernama Darul Hadits. Yang menakjubkan, tidak hanya dari masyarakat setempat, berdatanganlah para penuntut ilmu dari dari luar Yaman seperti Saudi Arabia, Indonesia, Mesir, Kuwait, Libia, Aljazair, Maroko, Turki, Inggris, Amerika Serikat, Somalia, Belgia, dan negara-negara lainnya.

Tentu sudah menjadi keniscayaan, para penentang selalu siap sedia menghadang. Apalagi beliau dikenal berani dalam mengingkari kemungkaran. Beliau banyak membantah kesesatan sekaligus menyingkap kedok kelompok-kelompok menyimpang seperti Syi’ah, Sufi, Ikhwanul Muslimin (baca: Ikhwanul Muflisin), Jum’iyatul Hikmah, Jum’iyatul Ihsan, atau ‘Ilmaniyun (sekuler) melalui muhadharah atau tulisan dilengkapi dengan pendalilan yang sangat kuat yang teramat sulit dibantah.

Upaya-upaya pembunuhan yang dilakukan musuh-musuh dakwah untuk menghabisi nyawa asy-Syaikh, bahkan murid-muridnya, tidak pernah menyurutkan langkah asy-Syaikh dan dakwah as-Sunnah.

Kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kezuhudan, kesederhanaan, kedermawanan, dan sikap wara’nya, setelah taufik Allah subhanahu wa ta’ala, menjadi kunci keberhasilan dakwah asy-Syaikh Muqbil di Yaman hingga mampu menembus belantara paham Syiah dan Sufi yang mengakar di Yaman. Dakwah beliau begitu menyentuh hingga banyak berpengaruh di hati-hati manusia. Beliau selalu mengajak untuk beragama dengan menyandarkan diri kepada dalil yang sahih. Beliau juga mewariskan banyak tulisan dan nasihat untuk umat. Tak heran jika banyak pujian ulama mengalir ke pribadi beliau.

“Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk umat ini di setiap ujung seratus tahun orang yang memperbarui untuk mereka agama mereka.” (HR. Abu Dawud [no. 4291] dan yang lainnya)

Ya, asy-Syaikh Muqbil menjadi pembaru agama di negara yang kemurnian Islamnya telah mulai memudar. Wallahu a’lam.

Membingkai Keteladanan Seorang Dai

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mengemban amanat dakwah adalah amalan yang demikian agung. Tidak semua manusia bisa melakukannya. Yang bisa pun tidak semua melakukannya dengan tuntunan dan cara yang benar. Sebab, di tengah-tengah kita, terlampau banyak yang disebut dai. Terlampau mudah pula orang menggelari seseorang dengan sebutan dai. Lanjutkan membaca Membingkai Keteladanan Seorang Dai