Ketika Dakwah Menjadi Komoditi

“Semua bisa jadi uang.” Pola pikir semacam ini bisa jadi tengah menjangkiti masyarakat kita. Setidaknya tengara demikian dapat dilihat ketika kultur sosial dan kesetiakawanan di antara anggota masyarakat telah tergantikan dengan nilai uang. Tak ada tolong menolong jika tidak didahului perjanjian “siapa dibayar berapa”. Agama yang sejatinya memiliki batasan tersendiri pun tak luput dari incaran para pemilik modal. Walhasil, agama pun menjadi komoditi baru yang menjanjikan mesin uang.
Dakwah, misalnya. Ia bukan lagi media untuk menyampaikan al haq dan mengingatkan umat akan bahaya kebatilan. Namun telah bergeser menjadi industri hiburan. Jadilah banyak kita lihat belakangan ini, ‘dakwah’ yang dikemas dengan konser musik, ‘dakwah’ dengan format lawak, hingga apa yang disebut sinetron ‘dakwah’.
Karena menjadi hiburan, materi jelas nomor dua. Standar yang digunakan adalah rating, marketable, atau parameter-parameter materialis lainnya. Tak heran jika acara-acara yang disebut dakwah itu justru dijejali dengan artis-artis yang tidak diketahui jelas bagaimana akhlak dan kesehariannya (apalagi soal keilmuan mereka). Yang penting bagaimana menarik sebanyak mungkin pemirsa sekaligus pemasang iklan.
Persoalannya sendiri bukan bagaimana “mereformasi” tayangan-tayangan tersebut. Tapi bagaimana kita menelaah kembali metode dakwah yang selama ini banyak dipraktekkan di tengah masyarakat kita. Bisa dibenarkan kah dakwah dengan format sinetron/ film, dakwah dalam bentuk cerita fiksi, dakwah dengan musik, dan sebagainya? Pertanyaan ini patut dikemukakan mengingat kita selama ini terlalu mudah menempelkan label Islami pada contoh-contoh di atas. Karena film/drama, atau sejenisnya adalah persoalan tersendiri. Demikian juga dengan musik, cerita fiksi, adalah substansi yang memang perlu dibahas tersendiri. Karena jika sikap latah ini tidak direm, tidak mustahil suatu saat akan muncul istilah pacaran Islami, minuman keras Islami, dan sejenisnya. Yang disebut pertama barangkali telah menjadi kosakata baru dalam khazanah bahasa kita.
Alasan klasik yang selalu dikemukakan para pemasar “dakwah plus” atau “dakwahtainment” itu biasanya adalah bagaimana agar umat ini lebih bisa menerima. Dalam bahasa yang lebih lugas, jika dakwah disampaikan secara lebih gaul atau lebih “menarik”, maka akan menjamin lebih banyak “yang ngaji”.
Taruhlah, semua itu didasari niat baik. Tapi tujuan yang baik tidak berarti menghalalkan segala cara. Apalagi jika kemudian melanggar rambu-rambu syariat. Karena Rasulullah n juga berdakwah. Dan yang menolak dakwah beliau pada awalnya justru lebih banyak dari yang menerima. Dan apakah karena itu kita dengan seenaknya menyebut bahwa dakwah Rasulullah n telah gagal? Rasulullah n dianggap kurang pintar mengemas dakwah, dan semacamnya? Na’udzubillah.
Jumlah juga bukan ukuran kesuksesan sebuah dakwah. Pengajian yang dijejali pengunjung tidak otomatis menjadikan dakwah da’inya pasti benar. Karena tidak sedikit di antara ‘da’i-da’i’ terkenal di tengah umat saat ini yang hanya pandai mengolah kata, menjual popularitas, hingga melucu. Soal perbendaharaan dalil atau latar belakang keilmuan, menjadi pertanyaan besar bagi kita semua.
Sebelum mengakhiri, ada hal penting yang perlu kami sampaikan kepada anda, pembaca. Berkenaan dengan kenaikan harga BBM yang berimbas pada kenaikan biaya cetak dan biaya lainnya, kami pun dengan terpaksa berencana menaikkan harga majalah mulai edisi depan. Berapa kenaikan tersebut belum bisa kami sampaikan karena fluktuatifnya perubahan di lapangan. Namun kami berusaha ‘mengimbangi’ kenaikan harga tersebut dengan penambahan suplemen mulai edisi ini.
Tema pertama yang kami angkat adalah soal penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal. Tema ini memang terkesan ‘klasik’ karena menjadi perbincangan yang selalu berulang setiap tahun. Namun dengan ini kami berharap, silang pendapat yang tidak disertai dalil yang kokoh, bisa ‘berakhir’ sampai di sini.
Suplemen yang tak kalah ‘seru’ adalah fatwa tentang aksi teror bom yang belakangan kian menjadi-jadi di tanah air. Semoga apa yang kami suguhkan kepada anda pembaca, bisa menjadi penyejuk dan mencerahkan hati kita untuk selalu berjalan di atas ash-shiratal mustaqim. Selamat membaca!

Menahan Pandangan Mata

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Menundukkan pandangan di tengah bertebarnya kerusakan di sekitar kita memang bukan soal mudah. Keimanan lah yang kemudian menjadi filter terhadap apa-apa yang dilihat oleh mata.

Saudariku muslimah…
Tercatat dalam lembaran mushaf yang mulia firman Rabbmu Yang Maha Suci:

Katakanlah (wahai Nabi) kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka….” (An-Nur: 30-31)
Ayat yang agung di atas mungkin sering terlewati begitu saja saat lisan ini bergerak membaca Kitabullah. Tidak hanya sekali atau dua kali. Bisa jadi kita telah puluhan kali membacanya namun karena diri kita kosong dari pengamalan atau barangkali karena tidak paham dengan apa yang kita baca, menjadikan kita belum mengamalkan ayat mulia di atas.
Alhasil, karena tidak ada pengamalan, pandangan mata ini tidak pernah kita jaga. Bahkan kita biarkan mata ini liar memandang apa saja yang dia inginkan tanpa ada rasa segan dan takut  kepada Sang Penguasa langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dua mata yang merupakan nikmat Allah I ini kita pakai untuk melihat yang haram, melihat laki-laki yang bukan mahram, melihat gambar-gambar yang mengumbar aurat, melihat ini dan itu. Wallahu al-musta’an (Allah I sajalah yang dimintai pertolongan).
Kita simak bagaimana penjelasan ulama dalam masalah menahan pandangan ini dan setelahnya semoga kita diberi taufik untuk mengamalkan apa yang telah kita ketahui. Amin…
Al-Imam Ath-Thabari t berkata dalam tafsirnya: “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya, berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad r:  (Katakanlah kepada laki-laki yang beriman) kepada Allah I dan kepadamu, ya Muhammad (Hendaklah mereka menahan pandangan mata mereka). Allah I memerintahkan agar mereka menahan pandangan mereka dari apa yang ingin mereka lihat sementara hal tersebut termasuk terlarang untuk dipandang. (dan memelihara kemaluan mereka) untuk terlihat oleh orang yang tidak halal memandangnya dengan cara menutup kemaluan tersebut dengan pakaian yang dapat menutupinya dari pandangan mata mereka. (yang demikian itu lebih suci bagi mereka) Allah I menyatakan bahwa menahan pandangan dari melihat apa yang tidak halal dipandang dan menjaga kemaluan dari terlihat oleh pandangan mata orang lain adalah lebih suci bagi mereka di sisi Allah I dan lebih utama….” Demikian pula yang Allah I perintahkan kepada kaum mukminat. (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, 9/302-303)
Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul ‘Arabi t menyatakan memandang apa yang tidak dihalalkan secara syar’i dinamakan zina, sehingga haram memandang perkara tersebut.  (Ahkamul Qur’an , 3/1366)
Rasulullah r telah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina1, dia akan mendapatkannya, tidak mustahil. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram) dan zinanya lisan dengan berbicara, sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan. Sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6243 kitab Al-Isti’dzan, bab Zinal Jawarih dunal Farj dan Muslim no. 2657 kitab Al-Qadar, bab Quddira ‘ala Ibni Adam Hazhzhuhu minaz Zina wa Ghairihi dari Abu Hurairah z)
Dalam lafadz lain disebutkan:

“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal itu, tidak mustahil. Kedua mata itu berzina dan zinanya  dengan memandang (yang haram). Kedua telinga itu berzina dan zinanya dengan mendengarkan (yang haram). Lisan itu berzina dan zinanya dengan berbicara (yang diharamkan). Tangan itu berzina dan zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina dan zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara hati itu berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)
Pernyataan Rasulullah r bahwa zina  mata dengan memandang kepada apa yang tidak halal merupakan dalil yang jelas tentang keharaman perkara tersebut, sekaligus peringatan dari hal tersebut. Telah dimaklumi bahwa pandangan mata merupakan penyebab jatuhnya seseorang kepada perbuatan zina. Karena lelaki yang banyak memandang kecantikan seorang wanita terkadang menjadi faktor yang menyebabkan ia jatuh cinta kepada si wanita sehingga ia binasa karenanya. Maka pandangan adalah pos pengantar kepada zina. Berkata Muslim ibnul Walid Al-Anshari:

Aku peroleh untuk hatiku satu pandangan yang menyenangkan mataku
Namun ternyata pandangan itu menjadi kesengsaraan dan bencana bagiku
Tidaklah berlalu padaku sesuatu yang lebih berbahaya daripada hawa nafsu
Maha Suci lagi Maha Tinggi Dzat yang telah menciptakan hawa nafsu
(Adhwa`ul Bayan, Al-Imam Asy-Syinqithi t, 6/191)
Sebagaimana tidak halal bagi lelaki memandang kepada seorang wanita (ajnabiyyah/ non mahram), demikian pula wanita tidak halal memandang seorang lelaki. Karena keterkaitan lelaki dengan wanita sama dengan keterkaitan wanita dengan lelaki, keinginan/ tujuan lelaki terhadap wanita sama dengan keinginan/ tujuan wanita terhadap lelaki. (Ahkamul Qur’an , 3/1367)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Makna dari hadits di atas (hadits Abu Hurairah) adalah anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina, maka di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram (bukan pasangan yang sah, pent.).
Dan di antara mereka ada yang zinanya majazi dengan memandang yang haram, mendengar perbuatan zina dan hal-hal yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahramnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau untuk melihat zina atau untuk menyentuh wanita non mahram atau untuk melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita non mahram dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya.
Maka semuanya ini termasuk zina yang majazi. Sementara kemaluannya membenarkan semua itu atau mendustakannya, maknanya terkadang ia merealisasikan zina tersebut dengan kemaluannya dan terkadang ia tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram sekalipun dekat dengannya.” (Syarhu Shahih Muslim, 16/206)
Ibnu Qayyim Al-Jau-ziyyah t ber-kata: “Pandangan mata adalah asal dari seluruh peta-ka yang menimpa seorang insan. Dari pandangan mata melahirkan lintasan di hati. Lintasan di hati melahirkan pikiran, kemudian timbul syahwat. Dari syahwat lahir keinginan kuat yang akan menjadi kemantapan yang kokoh, dari sini pasti akan terjadi perbuatan di mana tidak ada seorang pun yang dapat mencegah dan menahannya. Karena itulah dinyatakan: “Bersabar menahan pandangan itu lebih mudah daripada bersabar menanggung kepedihan setelahnya.”
Seorang penyair berkata:
Setiap kejadian berawal dari pandangan
dan api yang besar itu berasal dari
percikan api yang dianggap kecil
Berapa banyak pandangan mata itu mencapai ke hati pemiliknya
seperti menancapnya anak panah di antara busur dan tali busurnya
Selama seorang hamba membolak-balikkan pandangannya menatap manusia,
dia berdiri di atas bahaya
(Pandangan adalah) kesenangan yang membinasakannya, hunjaman yang memu-dharatkan.
Maka tidak ada ucapan selamat datang terhadap kesenangan yang justru mendatangkan bahaya. (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 234)
Dari penjelasan ringkas di atas, engkau wahai saudariku, telah tahu bahayanya mengumbar pandangan mata dan engkau pun tahu perintah Rabbmu dalam perkara ini. Maka apa lagi yang menahanmu untuk menahan pandangan matamu dari perkara yang haram? Jangan engkau berkata, aku cuma iseng, aku tidak me-masukkan ke hati dari apa yang aku lihat, aku tidak me-mikirkannya, dan sebagainya, dan sebagainya. Takutlah kepada Allah U yang telah berfirman:

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat2 dan apa yang disembunyikan di dalam dada.” (Ghafir: 19)
Dan ingatlah engkau adalah hamba yang dhaif (lemah), siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa engkau akan selamat dari tergelicir kepada perkara yang nista?
Wallahu al-musta’an. Semoga Allah I menjaga kita semua. Amin…
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Yakni zina itu tidak hanya diistilahkan dengan apa yang diperbuat oleh kemaluan, bahkan memandang apa yang haram untuk dipandang dan selainnya juga diistilahkan zina. (Fathul Bari, 11/28)

2 Khianatnya mata adalah mencuri pandang ke arah apa-apa yang tidak halal  dipandang. Mujahid t berkata menafsirkan ayat ini: “Pandangan mata kepada apa yang Allah I larang.” (Ma’alimut Tanzil/ Tafsir Al-Baghawi, 4/83)

Mengafani Jenazah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

 

Ketika mayat selesai dimandikan, ia pun wajib dikafani. Bagaimana cara mengafani menurut syariat? Jawabannya ada di bahasan berikut.

Kematian adalah suatu kepastian. Kita ataupun orang-orang di sekitar kita mesti akan menemuinya karena Allah I telah menetapkan:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (Ali Imran: 185)
Rasulullah r sendiri telah mengingatkan kita untuk memperbanyak mengingat mati dalam titahnya yang agung:

“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kelezatan.” (Kata perawi) yang dimaksud beliau r adalah kematian.1
Seorang muslim yang meninggal dunia punya hak yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin yang masih hidup sebagai kewajiban kifayah yang bila sudah ditunaikan oleh sekelompok orang akan menggugurkan kewajiban bagi yang lain. Kewajiban yang dimaksud di sini adalah si mayat dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan. Hal-hal yang berkaitan dengan memandikan mayat telah dibahas dalam edisi sebelum ini, selanjutnya masalah mengafani mayat.

Mengafani Mayat
Setelah mayat dimandikan, ia wajib dikafani karena adanya perintah Nabi r yang tersebut dalam kisah seseorang yang sedang wuquf di Arafah, tiba-tiba ia jatuh dari hewan tunggangannya yang seketika itu menginjaknya hingga ia meninggal dunia. Nabi r pun memerintahkan para shahabatnya:

“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara. Dan kafani dalam dua pakaian/ kain….”2
Al-Imam An-Nawawi t ketika mensyarah (menjelaskan) hadits Aisyah x:

“Rasulullah r dikafani dalam tiga kain yang putih Suhuliyyah.”3
Beliau berkata: “Dalam hadits ini dan hadits Mush’ab bin Umair4 yang terdahulu serta selain kedua hadits ini, menunjukkan wajibnya mengafani mayat. Ini merupakan kesepakatan kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 7/8)
Ibnul Qaththan t berkata: “Sunnah yang disepakati berkaitan dengan orang yang meninggal dari kalangan muslimin adalah mereka itu dimandikan dan dikafani. Ulama sepakat wajibnya mayat itu dimandikan dan dikafani apabila ia telah baligh, selama ia tidak gugur sebagai syahid, atau terbunuh secara dzalim atau meninggal dalam hukum qishash.” (Al-Iqna’ fi Masail Al-Ijma’ , 1/182)
Kafan tersebut atau biayanya diambil dari harta pokok si mayat5 dengan dalil hadits Khabbab ibnul Aratt z. Ia mengisahkan bahwa ketika Mush’ab bin Umair z gugur dalam perang Uhud, ia tidak meninggalkan kecuali namirah, sejenis kain wol bergaris-garis yang biasa diselimutkan ke tubuh. Bila mereka menutupi kepalanya dengan namirah tersebut, tampaklah kedua kakinya. Dan bila mereka menutupi kedua kakinya, tampak kepalanya. Melihat hal itu Rasulullah n memerintahkan mereka untuk menutupi bagian kepala sedangkan kedua kakinya yang terbuka ditutupi tumbuhan bernama idzkhir sejenis rumput-rumputan yang wangi (Syarh Shahih Muslim 7/7)6.
Nabi n memerintahkan agar Mush’ab z dikafani dengan namirahnya dan beliau tidak menyuruh shahabat lain untuk mengeluarkan harta mereka guna keperluan kafan Mush’ab z. Para fuqaha berkata: “Kafan mayat wajib diambil dari harta yang ditinggalkannya. Namun bila ia tidak memiliki harta, maka yang menanggung keperluan pengafanannya adalah orang yang wajib menafkahinya ketika ia hidup.” (Syarhu Shahih Muslim 7/8, Nailul Authar 4/46, Taudhihul Ahkam 3/173)
Sepantasnya kafan yang dipakai untuk menutupi mayat itu panjang dan lebar sehingga dapat menutupi seluruh tubuhnya (Al-Majmu’, 5/154) sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir bin Abdillah z:

“Suatu hari Nabi n berkhutbah, lalu beliau menyebut seseorang dari kalangan shahabat beliau yang telah meninggal, orang itu dibungkus dengan kafan yang tidak panjang/ lapang dan dikuburkan pada malam hari. Maka Nabi n pun mencerca bila jenazah seseorang dikuburkan pada malam hari sampai jenazah itu selesai dishalatkan. Kecuali bila seseorang terpaksa melakukan hal tersebut. Nabi n bersabda: “Bila salah seorang dari kalian mengafani saudaranya maka hendaklah ia membaguskan kafannya.”7
Yang dimaksud dengan membaguskan kafan di sini, kata ulama adalah kafan itu berwarna putih, bersih, tebal, dapat menutupi, serta pertengahan sifatnya -tidak berlebih-lebihan/ mewah dan tidak pula jelek. Sehingga membaguskan kafan bukan maksudnya berlebihan-lebihan dan megah-megahan. (Syarhus Sunnah 5/315, Al-Majmu’, 5/155, Subulus Salam 2/154, Ahkamul Janaiz, Asy-Syaikh Al-Albani , hal. 77)
Ada beberapa perkara yang disunnahkan berkaitan dengan kain kafan:
1. Berwarna putih, karena Nabi r bersabda:

“Pakailah kain yang berwarna putih dari pakaian kalian, karena pakaian putih adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah orang yang meninggal di kalangan kalian dalam kain putih.”8
2. Tiga lembar, dengan dalil hadits Aisyah x:

“Sesungguhnya Rasulullah r dikafani dalam tiga kain Yamaniyyah berwarna putih Suhuliyyah dari bahan katun. Tidak ada di antara lembar kafan itu gamis (baju) dan tidak ada imamah (surban), beliau dimasukkan (dibungkus) ke dalam semua kafan itu.”9
Tidak boleh menambah kafan lebih dari tiga lembar karena menyelisihi apa yang telah dilakukan Rasulullah r dan juga perbuatan demikian berarti menyia-nyiakan/ membuang harta sementara kita dilarang melakukan yang demikian itu. Orang yang masih hidup dari kalangan keluarga yang ditinggalkan si mayat tentunya lebih utama untuk mendapatkan kelebihan kain tersebut daripada digunakan secara berlebihan (sebagai kafan), apatah lagi bila kainnya bagus/ mewah/ mahal. Semoga Allah merahmati Abu Bakar Ash-Shiddiq z, ketika Aisyah x, putrinya, berkomentar tentang kain yang disediakannya untuk kafannya nanti: “Kain ini telah usang”. Abu Bakar menanggapi dengan pernyataannya: “Sungguh orang yang masih hidup lebih pantas untuk memakai kain yang baru.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah dengan Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 1/85).
Bila tidak ada kain kafan kecuali hanya selembar maka mencukupi dan telah tertunaikan kewajiban, karena Nabi r pernah mengafani paman beliau, Hamzah z, dengan satu kain/ pakaian. (Syarhus Sunnah 5/314, Tharhu At-Tatsrib fi Syarhi At-Taqrib 3/915)

Jumlah Kafan bagi Wanita
Mayat wanita dalam hal ini sama dengan laki-laki, sunnah untuk dikafani dengan tiga lembar kafan, karena tidak ada dalil yang membedakannya dengan lelaki. Adapun hadits Laila bintu Qais Ats-Tsaqafiyyah tentang pengafanan putri Nabi n dengan lima kain kafan, kata Asy-Syaikh Al-Albani t tidaklah shahih sanadnya, karena ada rawi bernama Nuh bin Hakim Ats-Tsaqafi. Dia adalah rawi yang majhul sebagaimana dinyatakan Al-Hafizh Ibnu Hajar t dan selainnya. Dan juga dalam hadits tersebut ada ‘illat (penyakit/ cacat) yang lain sebagaimana diterangkan oleh Az-Zaila’i dalam Nashbur Rayah. (Ahkamul Janaiz , hal. 85)
Demikian pula tambahan lafadz yang dimasukkan sebagian perawi dalam kisah dimandikannya jenazah Zainab bintu Rasulullah x:

“Maka kami mengafaninya dalam lima kain.”
merupakan tambahan yang syadz (ganjil) atau mungkar sebagaimana diterangkan secara panjang lebar oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Adh-Dha’ifah (12/752-754). Setelahnya, beliau t berkata: “Yang wajib dari sisi fiqhiyyah adalah berhenti pada hadits ‘Aisyah x yang terdahulu bahwasanya Nabi r dikafani dengan tiga kain, dan tidak menambah lebih dari tiga, dalam rangka mengikuti sunnah dan menjaga harta. Alangkah bagusnya atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/259) dengan sanad yang shahih dari Rasyid bin Sa’d, ia berkata: “Umar t berkata: “Seorang lelaki dikafani dalam tiga kain dan jangan kalian melebihkannya karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat melampaui batas.”
Abu Bakr Ash-Shiddiq z pun dikafani dengan tiga kain. Dan tidak diragukan dalam hal ini bahwa wanita sama dengan lelaki, karena asalnya demikian sebagaimana hal ini diketahui dari sabda Nabi r :

“Hanyalah wanita itu saudara kandungnya lelaki.”
Hadits ini shahih, di-takhrij dalam Al-Misykat (441), Shahih Abi Dawud (234), dan selain keduanya. (Adh-Dha’ifah, 12/754-755)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata tentang permasalahan jumlah kain kafan untuk wanita: “Hukum asal dalam perkara syar’iyyah laki-laki sama dengan wanita, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan perbedaan10. Maka bila ada dalil yang menyatakan pengkhususan dalam hukum (misalnya khusus untuk laki-laki, pent.) niscaya hukum tersebut berlaku khusus tidak berlaku bagi yang lain. Namun bila tidak ada dalil, maka laki-laki dan wanita itu sama.” (Asy-Syarhul Mumti’, 2/520-521)
Al-’Allamah Shiddiq Hasan Khan t berkata: “Memperbanyak kafan dan berlebih-lebihan dalam harganya bukanlah perkara yang terpuji, karena seandainya tidak ada keterangan dari syariat bahwa mayat itu harus dikafani, niscaya perbuatan tersebut termasuk membuang-buang harta, karena kafan itu tidak memberikan manfaat kepada si mayat dan tidak pula kembali kemanfaatannya kepada orang yang hidup.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah dengan Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 1/436)
Namun dalam hal ini, banyak ahlul ilmi yang menyenangi agar seorang wanita dikafani dengan lima lembar kafan, tidak lebih, bila memang dibutuhkan untuk lebih menutupi tubuhnya, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Mundzir t: “Mayoritas ahlul ilmi yang kami hafal dari mereka berpandangan wanita dikafani dengan lima kain kafan. Hal ini disenangi karena wanita semasa hidupnya harus ekstra dalam menutup tubuhnya daripada lelaki karena auratnya yang lebih dari lelaki.” Lima kain ini berupa kain yang disarungkan ke bagian aurat dan sekitarnya, dira’ (baju) dipakaikan ke tubuhnya, kerudung, dan dua kain yang diselimutkan ke seluruh tubuhnya sebagaimana mayat lelaki. (Al-Mughni, 2/173)

Jumlah Kafan Anak Kecil
Adapun anak kecil cukup dikafani dalam selembar kain, namun tidak apa-apa bila dikafani dalam tiga lembar kain. Demikian dikatakan oleh Ishaq bin Rahuyah, Sa’id ibnul Musayyab, Ats-Tsauri, Ashabur Ra`yi, dan selain mereka (Al-Mughni 2/171).
Bila yang meninggal itu adalah anak perempuan yang belum haid/ baligh maka kata Al-Hasan Al-Bashri t, ia dikafani dengan satu kain kafan ataupun tiga lembar kafan. Dikisahkan oleh Ayyub bahwa putri Anas bin Sirin meninggal dunia dalam usia mendekati haid. Maka Ibnu Sirin memerintahkan mereka untuk mengafaninya dengan satu kerudung dan dua kain yang diselimutkan ke seluruh tubuhnya. (Al-Mushannaf , Ibnu Abi Syaibah, 3/263-264)

3. Salah satu dari kafan itu berupa kain bergaris-garis bila memang mudah didapatkan, karena Nabi r bersabda:

“Bila salah seorang dari kalian meninggal sementara dia mendapati sesuatu (kelapangan) maka hendaklah ia dikafani dalam kain yang bergaris-garis.”11

4. Kafan tersebut diberi wewangian berupa bukhur (dupa yang wangi) sebanyak tiga kali, dengan dalil sabda Nabi r:

“Apabila kalian mewangi-wangikan mayat maka wangikanlah sebanyak tiga kali.”12
(Penjelasan tentang perkara yang disunnahkan dalam kafan ini bisa dilihat di Al-Majmu’, 5/155-156, Al-Mughni 2/169, Al-Muhalla 3/339-341, Nailul Authar 4/49-51 dll)

Cara Mengafani Mayat
Setelah kafan diberi wangi-wangian sehingga aroma semerbaknya menempel pada kain, kafan yang paling bagus dan paling lebar/ lapang dibentangkan kemudian diberi hanuth13. Menyusul kain kedua diletakkan di atas kain pertama lalu diberi hanuth dan kapur barus. Demikian pula kain ketiga yang akan bersentuhan langsung dengan tubuh mayat. Setelahnya mayat diangkat dalam keadaan tertutup kain dan diletakkan di atas kain kafan yang paling atas (dari tiga lapis kain yang telah disusun) dalam keadaan terlentang, di mana kain kafan yang tersisa pada bagian kepalanya lebih panjang daripada pada bagian kedua kakinya. Kemudian disiapkan kapas yang diberi hanuth dan kapur barus lalu dimasukkan di antara dua belahan pantat si mayat dengan cara yang lembut untuk menahan keluarnya sesuatu dari duburnya yang beraroma tidak sedap, lalu diikat di atasnya dengan kain perca yang dibelah ujungnya seperti celana pendek. Diambil lagi kapas yang diberi hanuth dan kapur barus lalu diletakkan di atas mulut si mayat, dua lubang hidung, dua mata, dua telinga, anggota-anggota sujudnya yaitu dahi dan hidung, telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kaki, dan seluruh lubang yang ada di anggota tubuhnya, termasuk lukanya yang berlubang bila ada untuk mencegah darah/ nanah yang mungkin keluar hingga mengotori kafan. Rambut dan jenggot si mayat diberi kapur barus pula. Kemudian bagian kain kafan yang tersisa di sisi kiri si mayat ditekuk/ dilipat ke sisi kanan tubuh mayat, lalu kain yang di sisi kanan ditekuk ke sisi kiri tubuh mayat sehingga mayat benar-benar terbungkus/ diselimuti dalam kafannya, atau sebaliknya sisi kanan kafan terlebih dulu ditekuk baru sisi kiri. Hal yang sama juga dilakukan pada lembar kafan yang kedua dan ketiga. Terakhir, kain yang tersisa di bagian kepala mayat dikumpulkan, lalu ditekuk ke bagian atas wajah mayat agar kain pada bagian wajah tidak tersingkap karena tiupan angin misalnya. Sedangkan kain yang tersisa pada bagian kaki ditekuk ke bagian atas kedua kaki mayat. Dan bisa diikat bila khawatir kafannya terbuka/ terbongkar namun bila hendak dimasukkan ke kuburannya, ikatan tersebut dibuka. (Al-Hawil Kabir 3/21-23, Al-Majmu’ 5/157- 161, Al-Mughni 2/169, Asy-Syarhul Mumti’ 2/517- 519)


1  HR. An-Nasa’i no. 1824 kitab Al-Janaiz, bab Katsratu Dzikril Maut, Tirmidzi no. 2307 kitab Az-Zuhud ‘an Rasulillah r, bab Ma Ja’a fi Dzikril Maut, dan selain keduanya. Asy-Syaikh Al-Albani t berkata tentang hadits ini dalam Shahih Sunan Nasa’i dan Shahih Sunan Tirmidzi: “Hasan shahih”.
2 HR. Al-Bukhari no. 1265 dalam Shahih-nya, kitab Al-Janaiz, bab Al-Kafan fi Tsaubaini dan Muslim no. 1206, kitab Al-Hajj, bab Ma Yuf’alu bil Muhrim idza Maata.
3 Nama kain yang dinisbahkan (disandarkan) kepada sebuah tempat/ kota di Yaman yang bernama Suhul atau kain putih bersih dari katun (Al-Hawil Kabir 3/21, Syarhus Sunnah 5/313, Al-Majmu 5/152, Tharhu At-Tatsrib fi Syarhi At-Taqrib 3/914, Fathul Bari 3/174)
4 Yang dikafani dengan namirahnya karena hanya harta itu yang ia tinggalkan.
5 Demikian pendapat ‘Atha`, Az-Zuhri, ‘Amr bin Dinar, dan Qatadah. Ibrahim An-Nakha’i t berkata: “Yang lebih dahulu disisihkan dari harta si mayat (sebelum dibagikan kepada ahli warisnya, pent.) adalah keperluan kafannya, kemudian keperluan untuk membayar hutangnya, kemudian penunaian wasiatnya.” Sufyan Ats-Tsauri t berkata: “Ongkos penggalian kubur dan biaya memandikan mayat sama dengan hukum kafan, diambil dari pokok harta si mayat.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya, kitab Al-Janaiz, bab Al-Kafanu min jami’il mal, Fathul Bari 3/174-175)
6 Lihat haditsnya dalam Shahih Al-Bukhari no. 1276 kitab Al-Janaiz, bab Idza lam Yajid kafanan illa ma yuwari ra’sahu au qadamaihi ghaththa ra`sahu dan Muslim no. 940, kitab Al-Janaiz, bab Fi kafanil mayyit.
7 HR. Muslim no. 943, bab Fi tahsini kafanil mayyit
8 HR. Abu Dawud no. 4061, At-Tirmidzi no. 2810 dan ia berkata: Hadits hasan shahih. Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’ush Shahih (2/249) berkata: “Hadits ini hasan di atas syarat Muslim.”
9 HR. Al-Bukhari no. 1264 bab Ats-Tsiyabul bidh lil kafani dan Muslim no. 941 bab Fi kafanil mayyit, sedangkan lafadz yang ada dalam kurung dari riwayat Al-Imam Ahmad.
10 Sementara dalil yang menunjukkan perbedaan jumlah kafan wanita dengan laki-laki lemah seperti diterangkan di atas.
11 HR. Abu Dawud no. 3150, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud. Beliau berkata dalam Ahkamul Janaiz ketika membahas hadits ini: “Ini sanad yang shahih menurutku, demikian pula menurut Al-Mizzi t. Adapun Al-Hafidz dalam At-Talkhis berkata: “Isnadnya hasan”. Hadits ini memiliki jalan lain yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad t dari Abu Az-Zubair dari Jabir dengan lafadz:
“Siapa yang mendapatkan kelapangan, maka hendaklah ia dikafani dengan kain yang bergaris-garis.”
12 HR. Ahmad 3/331, Al-Hakim berkata: Shahih di atas syarat Muslim. Adz-Dzahabi t menyepakati Al-Hakim. Kata Asy-Syaikh Al-Albani t: “Keberadaan hadits ini memang seperti yang dinyatakan keduanya. Al-Imam An-Nawawi t juga menshahihkannya dalam Al-Majmu’ 5/196.” (Ahkamul Janaiz hal. 84)
13 Sejenis wangi-wangian yang biasa diberikan kepada mayat secara khusus. (Al-Majmu’ 5/157)

Khaulah Bintu Tsa’labah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

 

Betapa kegalauan itu menguasai dirinya. Kepada Rasul-Nya dia tuturkan segalanya, mengharap jalan keluar atas kesempitan yang dihadapinya. Pengaduannya berujung kemuliaan, ketika Allah I yang di atas ‘Arsy mendengarnya.

Wanita itu bernama Khaulah bintu Tsa’labah bin Ashram bin Fihr bin Tsa’labah bin Ghanmin bin ‘Auf x. Dia disunting oleh anak pamannya, Aus bin Ash-Shamit bin Ashram bin Fihr bin Tsa’labah bin Ghanmin bin Salim bin ‘Auf bin Al-Khazraj Al-Anshari z saudara ‘Ubadah bin Ash-Shamit z.
Dalam perjalanan kehidupannya di sisi Aus bin Ash-Shamit, tercatat sebuah peristiwa berkenaan dengan dirinya yang terabadikan dalam Kitabullah. Dengan sebab peristiwa itu, Allah U menurunkan ayat-ayat tentang zhihar1.
Bermula ketika Aus bin Ash-Shamit z datang menemui Khaulah. Saat itu, Khaulah membalas perkataan Aus bin Ash-Shamit dengan sesuatu ucapan. Aus bin Ash-Shamit pun berang dan mengatakan pada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku!”
Inilah zhihar yang terucap dari lisan Aus bin Ash-Shamit z pada istrinya. Khaulah pun resah. Dia mengerti, pada masa jahiliyah, zhihar berarti haramnya seorang istri bagi suaminya.
Setelah itu, Aus pun keluar dan duduk sesaat bersama kaumnya. Lalu dia pulang dan hendak mendatangi Khaulah. Melihat suaminya menginginkan dirinya, Khaulah pun berujar, “Jangan! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, jangan kau dekati diriku sementara engkau telah mengucapkan perkataanmu tadi, sampai Allah U dan Rasul-Nya memutuskan perkara yang terjadi di antara kita.”
Aus bin Ash-Shamit tidak surut dengan perkataan Khaulah. Dia meloncat menerkam Khaulah. Khaulah pun menolaknya hingga dapat mengalahkannya sebagaimana seorang wanita mengalahkan seorang laki-laki yang telah lemah dan renta. Lalu Khaulah mendorongnya menjauh dari dirinya, kemudian segera keluar menemui Rasulullah r.
Di hadapan Rasulullah r, Khaulah duduk sembari mengisahkan apa yang dialami dan didapatkannya dari suaminya. Mendengar penuturan Khaulah, Rasulullah r pun mengatakan, “Wahai Khaulah, anak pamanmu itu seorang laki-laki yang telah lanjut. Maka bertakwalah kepada Allah U tentang permasalahan dirinya.”
Terus-menerus Khaulah mengadu. Pengaduan Khaulah didengar oleh Rabbnya dari atas ‘Arsy-Nya. Allah U  pun memberikan jalan keluar dari kesempitan yang dihadapinya.
Usai turun ayat dari sisi Allah U, Rasulullah r pun berkata, “Wahai Khaulah, Allah U telah menurunkan wahyu tentang dirimu dan suamimu.”
Kisah Khaulah, pengaduannya kepada Rabb-Nya, semua tercantum dalam kalam Rabbul ‘alamin, dalam awal surah Al-Mujadalah.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan padamu tentang suaminya, dan mengadukan keadaannya kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kalian, bukanlah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka adalah wanita yang melahirkan mereka, dan sesungguhnya mereka mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian hendak menarik kembali apa yang diucapkannya, maka wajib atasnya memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kalian, dan Allah mengetahui apa yang kalian perbuat. Barangsiapa yang tidak mendapatkan budak, maka wajib atasnya berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Barangsiapa yang tidak mampu, wajib atasnya memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah, agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” (Al-Mujadalah: 1-4)
Rasulullah r berkata pada Khaulah, “Suruhlah dia memerdekakan seorang budak.” Khaulah menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak memiliki seorang budak pun yang bisa dia merdekakan.” “Kalau begitu, hendaknya dia berpuasa selama dua bulan berturut-turut,” kata beliau. “Demi Allah,” jawab Khaulah, “Dia seorang yang telah renta, tidak memiliki kemampuan untuk itu.” Rasulullah r pun berkata, “Hendaknya dia beri makan enam puluh orang miskin dengan satu wasq kurma.” “Wahai Rasulullah, dia tidak punya,” jawab Khaulah. “Kami akan membantunya dengan setandan kurma,” kata beliau. Khaulah pun menyambut, “Wahai Rasulullah, aku akan membantunya dengan setandan lagi.” “Engkau benar dan telah berbuat kebaikan. Pergilah dan sedekahkanlah semua ini, kemudian berbuat baiklah terhadap anak pamanmu itu.” Khaulah pun segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah r.
Inilah kisah seorang wanita yang dimuliakan oleh Rabbnya. Dari atas tujuh langit Allah U mendengar pengaduannya, hingga ‘Aisyah x mengatakan, “Maha suci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Sungguh aku dengar ucapan Khaulah bintu Tsa’labah, sementara sebagian perkataannya tersamar bagiku, ketika dia mengadukan suaminya kepada Rasulullah r dengan menuturkan, “Wahai Rasulullah, dia telah menikmati masa mudaku, dan telah lahir banyak anak dari perutku. Hingga saat telah tua usiaku dan aku tak lagi dapat melahirkan, dia menzhiharku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu.” Terus-menerus Khaulah mengadu, hingga Jibril membawa turun ayat-ayat ini.”
Kemuliaan dari sisi Allah U tak kan dapat dipungkiri oleh siapa pun. Bahkan di kemudian hari, kemuliaan itu senantiasa tetap menjadi milik Khaulah bintu Tsa’labah x. Hingga suatu hari, ketika ‘Umar bin Al-Khaththab z yang kala itu telah menjabat sebagai Amirul Mukminin keluar bersama rombongannya, lewatlah seorang wanita tua. Wanita itu menghentikan ‘Umar. ‘Umar pun berhenti, lalu keduanya berbincang-bincang. Melihat hal itu, seseorang berkata keheranan, “Wahai Amirul Mukminin, engkau hentikan jalannya rombongan hanya karena wanita tua ini?!” “Celaka engkau,” jawab ‘Umar, “Tahukah kamu, siapa dia? Dia ini wanita yang Allah dengar pengaduannya dari atas tujuh langit. Dialah Khaulah bintu Tsa’labah yang Allah turunkan tentangnya:

“Demi Allah,” kata ‘Umar lagi, “Seandainya dia menghentikanku hingga malam, aku tidak akan beranjak meninggalkannya kecuali untuk shalat, dan setelah itu aku akan kembali lagi padanya.”
Khaulah bintu Tsa’labah, semoga Allah U meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
q    Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/618-620)
q    Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1830-1832)
q    Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/378-380)
q    Shahih Sunan Ibnu Majah


1 Zhihar adalah perkataan seorang suami terhadap istrinya: “Engkau seperti punggung ibuku” atau mahram lainnya selain ibu, atau ucapan “Engkau haram bagiku”.

Kejujuran

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Kejujuran harus ditanamkan sejak kecil. Untuk itu jelas dibutuhkan keteladanan orang tua dalam hal ini. Namun yang terjadi, tanpa disadari orang tua justru memposisikan diri sebagai guru dalam hal kebohongan atau ketidakjujuran.

Sebuah sisi yang kini banyak terlalaikan sepanjang perjalanan membimbing seorang anak adalah kejujuran. Kadang terjadi, orang tua tidak memberikan teguran ketika melihat si anak berbohong kepada temannya. Terkadang pula justru orang tua memberikan contoh buruk kepada si anak dengan berbuat dusta. Bahkan yang lebih parah lagi, orang tua menyuruh si anak untuk berbohong demi keuntungan atau kesenangan orang tuanya.
Mungkin tak asing lagi, orang tua yang tidak berkenan menerima seorang tamu yang datang untuk kepentingan tertentu, untuk berkelit dia berpesan kepada anaknya, “Katakan saja, ayah dan ibu sedang tidak ada di rumah.” Sementara dia bersembunyi di kamar tidurnya. Atau di waktu lain, sang ibu memanggil anaknya pulang bermain, “Ayo pulang, Nak! Ibu kasih kue nanti di rumah.” Ternyata sepulang bermain, tak sepotong kue pun diberikan. Juga terkadang orang tua menyuruh si anak melakukan sesuatu dengan iming-iming hadiah. Namun ketika si anak melaksanakan perintah orang tuanya, tak sesuatu pun yang didapat, atau bahkan kemarahan semata yang dihadapi bila si anak menagih janji. Alhasil, anak belajar berdusta dan ingkar janji justru dari orang tua mereka sendiri.
Kepada Allah U sajalah kita mohon pertolongan dari kerusakan semacam ini. Padahal semestinya orang tua membimbing, mengarahkan dan mengajarkan pada anak-anak untuk senantiasa jujur, dalam ucapan maupun perbuatan, serta menjauhi kedustaan dan ingkar janji.
Allah U memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar senantiasa berbuat jujur:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)
Jujurlah kalian dan berpeganglah selalu dengan kejujuran, niscaya kalian termasuk orang-orang yang jujur dan akan selamat dari kebinasaan, serta Allah U berikan kelapangan dan jalan keluar dalam berbagai urusan kalian. (Tafsir Ibnu Katsir 4/160)
Banyak sudah peringatan dari dusta yang disampaikan oleh Rasulullah n. Di antaranya beliau katakan bahwa dusta akan menggiring si pendusta untuk berbuat berbagai kejelekan. Demikian yang beliau kabarkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud z:

“Sesungguhnya kejujuran membimbing pada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Dan seseorang senantiasa jujur dan membiasakan untuk jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta membimbing pada kejahatan, dan kejahatan akan membimbing ke neraka. Dan seorang hamba senantiasa berdusta dan membiasakan untuk dusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)
Hadits mengandung anjuran agar seseorang berupaya membiasakan diri untuk jujur dan menjadikan kejujuran sebagai tujuan dan perhatiannya. Di samping itu, ada peringatan dari kedustaan dan sikap menggampangkan dusta, karena apabila seseorang biasa bermudah-mudah dalam dusta, maka dia akan sering berdusta hingga dikenal dengannya. Dan seseorang akan dicatat di sisi Allah U sebagai orang yang jujur bila dia membiasakannya, atau sebagai pendusta bila ia terbiasa dengannya. (Syarh Shahih Muslim 16/160)
Dinyatakan pula oleh Rasulullah n bahwa dusta termasuk ciri orang munafik, sebagaimana dikabarkan Abu Hurairah z:

“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara dia dusta, bila berjanji dia mengingkari, dan bila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Al-Bukhari no. 33 dan Muslim no. 107)
Berdusta demikian buruk akibatnya. Terlebih lagi berdusta pada anak-anak akan membuka pintu kejelekan yang luas, karena nantinya anak akan menirunya, hingga mereka biasa berbicara dusta dan mengingkari janjinya. (Nashihati lin Nisaa‘, hal. 40) Selain itu, anak akan kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya, sehingga nantinya mereka pun tidak lagi membenarkan orang tuanya dalam berbagai hal. (Fiqh Tarbiyatil Abna‘, hal 240)
Dengan gamblang Rasulullah n melarang seorang ibu berdusta kepada anaknya. Ini dikisahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah Al-’Adawi z:

Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah r sedang duduk di rumah kami. Ibuku berkata, “Mari sini, aku akan memberimu sesuatu.” Rasulullah r pun bertanya pada ibuku, “Apa yang akan kau berikan padanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.” Lalu beliau berkata pada ibuku, “Seandainya engkau tidak memberinya sesuatu, niscaya dicatat atasmu sebuah kedustaan.” (HR. Abu Dawud no. 4991, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Kisah ini menunjukkan bahwa setiap perkataan yang ditujukan kepada anak-anak ketika mereka menangis misalnya, baik untuk bergurau atau untuk membohongi si anak bahwa nanti akan diberi sesuatu atau ditakut-takuti dengan sesuatu, adalah haram dan termasuk kedustaan.
Walaupun maksudnya sekedar untuk bergurau dan bercanda, seseorang tetap tidak diperbolehkan mengatakan sesuatu yang dusta, karena Rasulullah n mengancam orang yang berdusta dalam candanya, sebagaimana disampaikan oleh Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya:

Saya mendengar Nabi n bersabda: “Binasalah orang yang berbicara untuk membuat orang-orang tertawa dengan ucapannya, lalu dia berdusta. Binasalah dia, binasalah dia!” (HR. At-Tirmidzi no. 2315, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Dapat dipahami dari ucapan Rasulullah n ini, tidak mengapa bila seseorang membuat orang-orang tertawa dengan ucapan yang jujur. (Tuhfatul Ahwadzi 6/497)
Rasulullah n sendiri bukanlah orang yang tidak pernah bercanda. Namun canda beliau tidak pernah lepas dari kebenaran. Abu Hurairah z mengisahkan bahwa para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah n:

“Wahai Rasulullah, engkau bercanda dengan kami?” Maka beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali kebenaran.” (HR. At-Tirmidzi no. 1990, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Oleh karena itu, orang tua tidak boleh bergurau dengan gurauan yang dusta, juga harus melarang dan menegur apabila mengetahui anak-anak mereka bergurau dengan kata-kata yang dusta.
Kisah-kisah tentang kejujuran dapat pula diceritakan pada anak untuk memberikan gambaran kepada mereka bahwa kejujuran senantiasa akan membawa kebaikan. Sebuah kisah indah tentang kejujuran dituturkan oleh Ka’ab bin Malik z, ketika dia tertinggal dari perang Tabuk tanpa satu uzur pun, sementara segala perlengkapan perang telah dia persiapkan. Kisah ini tertulis di dalam Ash-Shahihain (HR. Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769)
Ka’ab bin Malik menceritakan, ketika ada kabar Rasulullah n sudah kembali dari peperangan itu, dia pun merasa gelisah. Terlintas dalam hatinya untuk berdusta kepada Rasulullah n untuk menghindari kemurkaan beliau. Namun Ka’ab yakin, dia tidak akan bisa selamat dari kemurkaan beliau selama-lamanya, hingga dia pun bertekad untuk berkata jujur.
Setiba dari peperangan, seperti kebiasaan Rasulullah n setiap pulang dari safar, beliau masuk masjid dan shalat dua rakaat. Setelah itu, orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan mengajukan uzur masing-masing dan bersumpah di hadapan Rasulullah n. Beliau pun menerima pengakuan yang nampak dari mereka, membai’at dan memohonkan ampun bagi mereka dan menyerahkan isi hati mereka kepada Allah U.
Hingga datanglah Ka’ab. Ketika Rasulullah n bertanya tentang uzurnya, Ka’ab menyatakan, “Wahai Rasulullah, andaikan aku duduk di hadapan selainmu dari kalangan ahlu dunia, tentu aku berpikiran untuk dapat keluar dari kemarahannya dengan mengajukan suatu uzur, lagipula aku pandai berdebat. Akan tetapi, demi Allah, aku tahu, seandainya hari ini kukatakan padamu kebohongan yang membuatmu ridha padaku, sungguh Allah I akan membuatmu marah padaku. Dan bila kukatakan padamu perkataan jujur yang membuatmu marah padaku, sungguh dengan itu kuharapkan kesudahan yang baik dari Allah U. Demi Allah, aku tidak memiliki uzur apa pun. Demi Allah, tak pernah diriku sekuat dan semudah seperti saat aku tertinggal dari peperangan bersamamu.”    Rasulullah n pun bersabda, “Orang ini telah bicara jujur. Bangkitlah, sampai Allah berikan keputusan tentangmu.”
Waktu terus bergulir. Rasulullah n melarang setiap orang berbicara dengan Ka’ab dan dua orang shahabat lain yang diberi keputusan serupa. Dunia pun terasa sempit bagi Ka’ab. Tak ada seorang pun yang mau menyapanya. Siapa pun, di mana pun. Bahkan Rasulullah n pun enggan bertatap pandang dengannya.
Inilah yang harus dia jalani, hingga lima puluh malam lamanya. Keesokan harinya, usai shalat subuh di atas rumahnya, Ka’ab duduk sembari merasakan kesempitan hatinya. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru padanya dari kejauhan, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!” Ka’ab pun tersungkur sujud. Dia tahu, kelapangan itu telah datang. Ternyata ketika shalat Subuh, Rasulullah n telah mengumumkan di hadapan para shahabat bahwa Allah I menerima taubat Ka’ab dan dua orang temannya. Orang-orang pun berdatangan menyatakan kegembiraannya.
Setelah itu, Ka’ab datang menghadap Rasulullah n. Beliau menyambut dengan wajah yang begitu bersinar bagai rembulan karena rasa gembira, “Bergembiralah dengan kebaikan yang kau dapat hari ini, semenjak engkau dilahirkan ibumu.” Ka’ab bertanya, “Apakah ini darimu, wahai Rasulullah, ataukah dari Allah?” “Tidak, bahkan ini dari Allah U.”
AllahU turunkan ayat 117-119 dari surat At-Taubah.
Saat itu Ka’ab mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamat-kanku dengan kejujuranku. Dan termasuk taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur seumur hidupku.”
Ka’ab menceritakan, “Demi Allah, aku tak pernah bersengaja bicara dusta semenjak kukatakan hal itu pada Rasulullah n sampai hari ini, dan sungguh aku berharap agar Allah U tetap menjagaku sepanjang sisa umurku.”
Dia juga mengatakan, “Demi Allah, tidaklah Allah memberikan nikmat pada diriku setelah memberikan petunjuk padaku untuk berislam, yang lebih besar daripada kejujuranku pada Rasulullah n, sehingga aku tidak berdusta pada beliau dan binasa seperti binasanya orang-orang yang berdusta.”
Inilah sebuah teladan yang memberikan pelajaran besar bagi anak untuk menanamkan kejujuran dalam dirinya, walaupun untuk mengakui kesalahan.
Demikianlah, tak ada jalan lain bagi orang tua, kecuali berbenah diri dengan mulai membiasakan untuk berkata dan berbuat jujur. Jujur terhadap Allah I dan jujur pula terhadap manusia, sehingga terus membiasakan diri untuk jujur setahap demi setahap sampai kejujuran itu menjadi akhlak kita, sebagaimana dalam hadits yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud z di atas.
Begitu pulalah pada anak, orang tua harus membiasakan anak-anaknya untuk jujur dalam ucapan, perbuatan maupun dalam penunaian janji, diiringi dengan upaya untuk menjauhkan mereka dari segala kedustaan. Semoga dengan itu, mereka akan menuai kebahagiaan di dunia ini dan di negeri yang kekal abadi. Wallahu a’lam.

Satu Permisalam Bergaul yang Ma’ruf

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

 

Berkeluarga bukanlah sekedar hidup bersama dalam satu rumah. Ibarat menanam, banyak hal yang bisa dilakukan suami/ istri agar apa yang mereka tanam senantiasa tumbuh dan terus berbuah.

Di satu kampung dari perkampungan di Yaman, pernah ada sebelas orang wanita duduk berkumpul, mereka sepakat untuk menceritakan sifat dan keadaan suami-suami mereka. Mereka pun saling berjanji untuk tidak menyembunyikan sedikitpun keadaan suami mereka. Apa gerangan yang mereka kisahkan?
Wanita yang pertama berkata: “Suamiku ibarat daging unta yang kurus kering di atas puncak gunung yang tidak mudah didaki. Sementara daging itu sendiri tidaklah gemuk di mana dapat mengundang hasrat untuk memindahkannya.”1
Wanita kedua berkata: “Tidak akan kusebarkan berita suamiku karena bila kuceritakan tentangnya, aku khawatir aku akan terus berbicara tanpa meninggalkan satu pun dari cerita tentang dirinya. Bila aku mengingatnya, yang aku ingat adalah urat yang menggembung dan tampak pada wajah, tubuh, dan perutnya.”2
Wanita ketiga berkata: “Suamiku terlalu tinggi. Bila aku bicara (mendebatnya dalam satu perkara atau menceritakan celanya) ia akan mentalakku dan bila aku diam (bersabar dengan keadaanku) aku dibiarkannya tergantung (seperti wanita yang tidak memiliki suami namun tidak pula menjanda).”
Wanita keempat berkata: “Suamiku seperti malam di Tihamah3, tidak panas, tidak pula sangat dingin, tidak menakutkan dan tidak pula menjemukan.”4
Wanita kelima berkata: “Suamiku, bila masuk rumah seperti macan kumbang5, bila keluar rumah seperti singa, dan ia tidak pernah bertanya tentang apa yang diberikan dan diamanahkannya.”6
Wanita yang keenam berkata: “Suamiku bila makan banyak dan menyantap semua hidangan tanpa menyisakan. Bila minum sampai habis, bila berbaring, ia berselimut sendirian (menjauh dari istrinya), dan ia tidak pernah memasukkan telapak tangannya untuk mengetahui kesedihanku (guna berupaya menghilangkannya).”7
Wanita yang ketujuh berkata: “Suamiku dungu –atau tidak mampu menggauli wanita (impoten)– sangat keterlaluan dungunya. Semua penyakit (cacat/ cela) ada padanya. Bila engkau mengajaknya bicara ia akan melukai kepala atau badanmu, atau melukai kepala dan badanmu sekaligus.”8
Wanita yang kedelapan berkata: “Suamiku usapan dan sentuhannya seperti sentuhan kelinci dan wanginya seperti wangi zarnab (sejenis tumbuhan yang semerbak baunya).”9
Wanita yang kesembilan berkata: “Suamiku, rumahnya tinggi (seperti rumah para tokoh/ pembesar sehingga selalu dituju para tamu), dia menyandang pedang yang panjang (karena posturnya yang tinggi), banyak debunya10 dan rumahnya dekat dengan tempat pertemuan.”11
Wanita yang kesepuluh berkata: “Suamiku Malik. Siapakah Malik. Alangkah agung dan mulianya dia. Malik lebih baik daripada mereka semua (para suami yang telah diceritakan keadaannya/ sifatnya). Ia memiliki unta yang banyak yang menderum di pekarangannya dan ada sedikit yang digembalakan12. Bila unta-unta ini mendengar suara mizhar (alat yang dibunyikan untuk menyambut tamu) mereka pun yakin bahwa mereka akan mati (disembelih sebagai jamuan untuk tamu).”
Wanita yang kesebelas berkata: “Suamiku Abu Zar’in. Siapakah Abu Zar’in. Dia menggerakkan kedua telingaku dengan perhiasan13. Dia penuhi kedua lenganku (beserta seluruh tubuhku) dengan lemak (gemuk). Dia memuliakanku hingga aku merasa diriku begitu mulia hingga aku berbangga diri. Dia mendapati aku hidup dengan keluargaku (yang fakir) dengan hanya memiliki sedikit kambing yang kami gembalakan di tepi gunung. Lalu (setelah menikahiku) ia menjadikan aku hidup dalam kemewahan memiliki kuda dan unta, sawah ladang, dan selainnya. Di sisinya aku berbicara tanpa pernah dijelek-jelekkan dan dibantah. Aku tidur di pagi hari tanpa ada yang membangunkan (karena semua pekerjaan telah ditangani oleh para pembantu). Aku pun minum sampai puas.
Ibu Abu Zar’in, siapakah ibu Abu Zar’in. Tempat perabot dan perlengkapannya besar lagi penuh, rumahnya pun luas.
Putra Abu Zar’in, siapakah putra Abu Zar’in. Tempat berbaringnya seperti tikar anyaman dari pelepah kurma14 dan mengenyangkannya dzira’ (bagian hasta) kambing (betina berusia 4 bulan).”15
Putri Abu Zar’in, siapakah putri Abu Zar’in. Dia taat/ berbakti kepada ayah dan ibunya, sempurna tubuhnya (atau gemuk berisi) dan membuat marah madunya (karena iri melihat kelebihannya).”
Budak perempuan Abu Zar’in, siapakah budak perempuannya Abu Zar’in. Dia tidak menyebarkan pembicaraan kami, tidak berkhianat dalam mengurusi makanan kami, dan tidak memenuhi rumah kami dengan ranting/ sampah”.16
Ummu Zar’in melanjutkan kisahnya: “(Suatu hari) Abu Zar’in keluar dari rumah di saat susu-susu dalam periuk dan bejana diolah untuk diambil saripatinya. Lalu ia berjumpa dengan seorang wanita bersama dua anak laki-lakinya yang laksana dua ekor macan. Keduanya asyik bermain dengan dua delima (yang dilemparkan) dari bawah pinggang si wanita17. Abu Zar’in pun mentalakku dan menikahi wanita itu. Setelah bercerai dengannya, aku menikah dengan seorang lelaki yang bagus bentuk dan penampilannya. Ia menunggangi kuda yang bagus lagi pilihan yang berjalan tanpa merasa letih. Ia memegang tombak dari negeri Khath (untuk berperang). Ia mendatangkan ke kandang ternak harta yang banyak (berupa unta dan selainnya) untukku18. Dan ia memberiku sepasang dari setiap yang berlalu19. Ia berkata: “Makanlah wahai Ummu Zar’in dan berilah makanan itu kepada keluargamu.”20
Ummu Zar’in berkata: “Seandainya aku kumpulkan segala sesuatu yang diberikannya kepadaku niscaya tidak mencapai bejana Abu Zar’in yang paling kecil sekalipun.”21
Kisah yang cukup panjang di atas, dituturkan oleh Aisyah x kepada suaminya yang mulia, Rasulullah r22. Dengan sabar dan tanpa jemu, beliau r mendengarkannya dan selesai istrinya berkisah, beliau menyatakan:

“Aku bagimu seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in.”23
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah r ini menggambarkan bagusnya pergaulan beliau terhadap istrinya24. Sementara memang dalam hidup berkeluarga, masing-masing dituntut untuk bergaul dengan pasangannya dengan cara yang baik, yang dapat mengikat cinta dan melanggengkan kebersamaan. Allah I telah memerintahkan dalam firman-Nya:

“Bergaullah kalian (wahai para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa`: 19)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menafsirkan bahwa Allah I menuntunkan kepada seorang suami untuk berbicara yang baik dengan istrinya, berbuat yang baik dan berpenampilan yang baik sesuai kemampuannya, sebagaimana seorang suami menyenangi hal itu untuk dilakukan oleh sang istri. Allah I menyatakan:

“Mereka (para istri) punya hak yang sebanding dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228) (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, Asy-Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, hal. 281)
Dalam ayat di atas, Allah I menetapkan adanya hak seorang istri terhadap suaminya seperti halnya suami punya hak yang harus ditunaikan istrinya. Maka masing-masing melaksanakan apa yang semestinya mereka tunaikan untuk pasangannya dengan cara yang ma’ruf. (Mahasinut Ta’wil, Al-Imam Al-Qasimi t, 2/175)
Bandingkan satu contoh pergaulan Rasulullah r dengan istri beliau di atas dengan kekakuan sebagian suami ketika bermuamalah dengan istrinya. Tidak ada senda gurau, tidak ada cerita yang bisa mengikat cinta, dan tidak ada perhatian terhadap pembicaraan pasangannya. Apalagi mau melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah r, duduk sejenak mendengarkan cerita istri. Padahal perbuatan yang mungkin dianggap kecil ini dapat menjadi media untuk menunjukkan kecintaan kepada pasangan hidup sebagaimana Rasulullah r ingin menunjukkan rasa cinta beliau kepada Aisyah x. Hal seperti ini jelas akan mendekatkan hati dan melekatkan cinta di antara suami istri.
Bila seorang suami enggan duduk sejenak bercengkerama dengan istrinya dengan alasan terlalu sibuk, banyak hal yang lebih penting yang harus diurusi dan sebagainya, maka seharusnya ia melihat sosok Rasulullah r. Hari-hari beliau juga sarat dengan kesibukan, menyampaikan risalah dari Allah I, mengajari manusia, memimpin negeri dan umat, menegakkan kalimat Allah I di muka bumi dengan jihad fi sabilillah dan sebagainya, namun beliau menyempatkan duduk mendengar cerita istrinya yang panjang. Kesan apa lagi yang bisa ditangkap kecuali betapa baiknya pergaulan beliau terhadap istrinya. Sementara kita dituntut untuk menjadikan beliau sebagai suri teladan.

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah r uswah hasanah bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Mungkin terlintas pertanyaan di benak, bukankah para wanita itu menceritakan aib suami mereka, lalu mengapa kisah seperti itu disampaikan Aisyah x kepada Rasulullah r, bukankah ini ghibah? Maka dijawab, ini bukanlah ghibah karena Rasulullah r membiarkan istrinya terus berkisah, seandainya hal itu terlarang dan mungkar niscaya beliau r tidak akan diam dari kemungkaran, walaupun itu diperbuat oleh kerabatnya yang paling dekat dan orang yang paling dikasihinya. Apa yang diceritakan Aisyah x adalah pembicaraan yang mubah, yang tidak ada di dalamnya perkara yang terlarang.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t menjelaskan bahwa menghikayatkan orang yang tidak tertentu bukanlah termasuk ghibah yang dilarang. Cerita yang disampaikan Aisyah x sama dengan bila seseorang berkata: “Di kalangan manusia itu ada seorang yang jelek”. Aisyah x menceritakan kisah para wanita yang majhul (tidak diketahui siapa mereka) dan siapa suami mereka, dan juga tidak diketahui apakah mereka berislam atau tidak sehingga bisa diberlakukan kepada mereka hukum tentang ghibah. Dengan demikian tidak ada keberatan mendengar kisah mereka karena tidak ada yang merasa tersakiti dan terzhalimi. (Fathul Bari 9/332-333) Al-Imam An-Nawawi t juga menyatakan yang semakna dengan penjelasan ini (Syarhu Shahih Muslim 15/222). Namun, bila ada seorang wanita pada hari ini menceritakan tentang suaminya dalam perkara yang tidak disukai oleh suaminya maka ini jelas merupakan ghibah yang diharamkan, kecuali ia melakukannya dalam rangka meminta fatwa atau mengadukan kedzaliman kepada pihak yang berkepentingan.

Faidah yang Dipetik dari Hadits Ummu Zar’in
Hadits Ummu Zar’in di atas mendapat perhatian di kalangan ahlul ilmi karena di dalamnya banyak terdapat faidah syar’iyyah, sehingga mereka mencantumkannya dalam kitab-kitab mereka atau memuatnya dalam kitab khusus atau menulis syarah/ penjelasan dari lafadz-lafadznya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t mengumpulkan beberapa faidah tersebut, di antaranya:
q    Bolehnya menceritakan umat terdahulu untuk mengambil pelajaran
q    Dalam hadits di atas ada anjuran bagi para istri untuk bersikap setia kepada suami-suami mereka, membatasi pandangan mata mereka hanya kepada suami dan mensyukuri kebaikan yang diberikan suami.
q    Bolehnya berlebih-lebihan dalam mensifatkan sesuatu asalkan tidak dijadikan sebagai suatu kebiasaan karena hal itu justru akan menjadikan muru`ah seseorang cacat.
q    Cinta itu bisa menutupi keburukan seperti terlihat pada cinta Ummu Zar’in kepada Abu Zar’in yang telah berbuat jelek kepadanya dengan menceraikannya. Namun kejelekan itu tidaklah mencegah Ummu Zar’in untuk berlebih-lebihan menceritakan kebaikan Abu Zar’in dan menyanjungnya sampai melampaui batas.q    Bolehnya menggambarkan kecantikan seorang wanita dan keelokannya di hadapan seorang lelaki asalkan wanita tersebut majhul (tidak diketahui siapa dia). Yang terlarang hanyalah menceritakan keindahan wanita tertentu di hadapan lelaki atau menceritakan perkara yang lelaki tidak boleh melihatnya dari seorang wanita (yang bukan mahramnya).
q    Penyerupaan dengan sesuatu tidaklah mengharuskan kesamaan dari semua sisi karena Nabi r berkata kepada Aisyah x: “Aku bagimu seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in”, yakni sama dalam hal cinta, kedekatan dan semisalnya. Bukan sama dalam hal kemegahan, punya anak, punya pembantu, dan sebagainya.
q    Bolehnya mengambil contoh dengan orang yang memiliki keutamaan dari setiap umat karena Ummu Zar’in menggambarkan bagaimana indahnya pergaulan Abu Zar’in terhadap dirinya. Maka Nabi r pun mengambil contoh dengannya.
q    Didapatkan dari hadits ini tentang keberadaan para wanita bila mereka ngobrol maka yang mendominasi obrolan mereka adalah cerita tentang lelaki. Beda halnya dengan lelaki karena yang mendominasi obrolan mereka adalah hal yang berkaitan dengan penghidupan dan mata pencaharian. (Fathul Bari 9/332-333)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Orang-orang enggan membawa daging itu ke rumah mereka bahkan membiarkannya di tempatnya.
Wanita ini hendak menggambarkan sedikitnya kebaikan pada diri suaminya. Tubuhnya kurus dan lemah, juga memiliki akhlak yang buruk, sombong, takabbur, suka mengangkat dirinya lebih dari kadarnya.
2 Wanita ini mengisyaratkan banyaknya aib pada diri suaminya. Namun ia tidak ingin membahasnya karena jika dibicarakan akan panjang dan tidak akan ada selesainya.
3 Tihamah merupakan negeri yang panas, tidak ada angin dingin yang berhembus di sana. Pada malam harinya, deburan ombak lautnya begitu tenang, suhu udaranya sedang, sehingga malam di Tihamah menyenangkan bagi penduduknya karena dapat menghilangkan kelelahan yang mereka alami akibat teriknya panas di siang hari.
4 Wanita ini menggambarkan bagusnya pergaulan suaminya, pertengahan keadaannya dan selamat batinnya sehingga ia merasakan nikmatnya hidup di sisi suaminya tanpa ada kekhawatiran dan ketakutan.
5 Macan kumbang dikatakan sebagai hewan yang pemalu, sedikit kejahatannya dan banyak tidurnya. Sementara singa adalah hewan yang giat berburu.
6 Sifat yang disebutkan oleh si wanita tentang suaminya mengandung dua kemungkinan, bisa jadi pujian dan bisa jadi celaan.
Pujian dari sisi ia mensifati suaminya sebagai macan kumbang karena ketika masuk rumah mesti menerjangnya (menggaulinya), yang menunjukkan ia dicintai oleh si suami di mana suaminya mesti tidak sabar bila melihatnya, ataupun ia menutup mata dari kekurangan yang ada dalam rumahnya dan tidak pernah menghukumi istrinya karena kekurangan yang ada. Adapun di tengah manusia dia sigap dan pemberani seperti singa. Ia memberikan kepada keluarganya makanan, minuman dan pakaian, tanpa pernah bertanya tentang pemberiannya setelah itu. Ia selalu berlapang hati dan memaafkan kekurangan yang didapati dari istrinya.
Atau si wanita memaksudkan dengan ungkapannya tersebut untuk menggambarkan sifat jelek suaminya, di mana si suami tidak pernah melakukan ‘pendahuluan’ sebelum jima’ tapi langsung menerjang. Jelek akhlaknya, suka memukul istri dan tidak peduli dengan keadaan istri dan anak-anaknya.
7 Wanita ini mensifati suaminya dengan sifat yang tercela bagi seorang lelaki yaitu banyak makan dan minum, dan sedikit menggauli istri.
8 Maksudnya, bila aku membantahnya dalam satu perkara ia akan memukul kepalaku hingga luka atau tubuhku hingga berdarah atau ia lakukan kedua-duanya.
9 Wanita ini menggambarkan indahnya sifat suaminya, bagus akhlaknya, lembut budi pekertinya, selalu necis, bersih dan wangi.
10 Suaminya sangat dermawan, banyak tamu yang mendatanginya hingga ia sering menyembelih hewan dan memasaknya sebagai jamuan bagi tamu-tamunya. Karena seringnya memasak, banyak debu yang dihasilkan. Ia juga dermawan pada keluarganya.
11 Wanita ini menggambarkan suaminya sebagai seorang tokoh yang dermawan, berakhlak mulia dan baik pergaulannya dengan istri.
12 Karena kebanyakannya dipersiapkan untuk disembelih guna memuliakan tamu.
13 Yakni Abu Zar’in memenuhi kedua telinga Ummu Zar’in dengan berbagai jenis perhiasan dari emas, mutiara dan semisalnya.
14 Tidak butuh tempat yang besar.
15 Tidak banyak makan dan minumnya.
16 Dia seorang yang pembersih dan selalu membersihkan rumah majikannya tanpa membiarkan kotoran ada di dalamnya.
17 Sebagian ahlul ilmi mengatakan, makna dari lafadz ini adalah kedua pantat wanita itu besar sehingga bila ia berbaring terlentang di atas punggungnya, badan yang dekat dengan pantatnya terangkat, tidak menyentuh bumi hingga ada celah yang bisa dilewati buah delima.
18 Dia pergi berperang, pulang dengan membawa kemenangan dan ghanimah, hingga ia bisa mendatangkan hewan ternak yang banyak.
19 Dalam riwayat Muslim: “dari setiap yang disembelih”. Ummu Zar’in hendak menggambarkan banyaknya pemberian yang diberikan suaminya kepadanya hingga ketika memberi ia tidak hanya memberi satu.
20 Ummu Zar’in menggambarkan bagaimana ketokohan/ kepemimpinan suaminya, keberanian, keutamaan, kemurahan dan kedermawanannya. Namun di hati Ummu Zar’in, ia tetap tidak sebanding dengan Abu Zar’in. Karena Abu Zar’in adalah suaminya yang pertama hingga cintanya kepada Abu Zar’in tetap menetap di hatinya sebagaimana dikatakan:

“Tidaklah cinta itu kecuali untuk kekasih yang pertama.”
Catatan: Semua penjelasan makna hadits yang tercantum di atas dinukilkan secara ringkas dari Fathul Bari, 9/312-331 dan Syarhu Shahih Muslim 15/212-221
21 HR. Al-Bukhari no. 5189, kitab An-Nikah, bab Husnil Mu’asyarah ma’al Ahl dan Muslim no. 2448 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Dzikr Hadits Ummu Zar’in
22 Di selain Ash-Shahihain disebutkan Nabi r lah yang bercerita kepada Aisyah x, sehingga kisah ini marfu’ seluruhnya, lihat keterangan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t tentang hal ini dalam Fathul Bari, 9/310-311.
23 Dalam satu riwayat ada tambahan:

“….hanya saja Abu Zar’in akhirnya mentalak Ummu Zar’in sedangkan aku tidak akan mentalakmu.”
24 Dan ini yang dijadikan judul bab oleh Al-Imam Al-Bukhari t di mana beliau menempatkan hadits ini dalam Shahih-nya, pada kitab An-Nikah, bab “Baiknya pergaulan (suami) terhadap istrinya”

Asy Syaikh Albani Rahimahullah Membantah Para pelaku Jihad Palsu (Membantah Para Pelaku Penculikan dan Pengeboman Atas Nama Jihad)

Siapakah Asy-Syaikh Al-Albani t?
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t ditanya tentang hadits:

“Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini di penghujung tiap seratus tahun, orang yang memperbaharui agama mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4291, dan hadits ini shahih)
Beliau t ditanya: “Siapakah pembaharu di abad ini?”
Beliau t menjawab: “Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dialah pembaharu abad ini menurut dugaan saya. Dan Allah I-lah yang lebih tahu.”
Al-’Allamah Asy-Syaikh Muham-mad bin Shalih Al-’Utsaimin t ditanya tentang orang yang menuduh Asy-Syaikh Al-Albani dengan tuduhan berpaham Murji’ah (satu aliran sesat yang menganggap dosa besar tidak berpengaruh negatif terhadap iman, -pent), maka beliau menjawab:
“Orang yang menuduh Al-Albani dengan tuduhan paham Murji’ah maka dia telah keliru. Mungkin karena dia tidak tahu siapa Al-Albani, atau dia tidak tahu apa itu Murji’ah.
Al-Albani adalah salah seorang dari Ahlus Sunnah –semoga Allah I memberinya rahmat–. Ia membela Ahlus Sunnah. Dia seorang imam dalam ilmu hadits, saya tidak tahu ada seorangpun yang dapat menan-dinginya di masa ini. Namun sebagian manusia –saya mohon keselamatan dari Allah I– menyimpan kedengkian dalam qalbunya bila melihat seseorang diterima (umat) maka ia mulai menyindirnya. Bagaikan orang-orang munafiq yang menyindir orang-orang yang bersedekah dari kaum mukminin, dan menyindir orang-orang yang tidak mendapatkan kecuali sesuatu yang sedikit dengan jerih payah mereka. Mereka menyindir orang yang bersedekah dalam jumlah banyak dan orang fakir yang bersedekah.
Al-Albani –semoga Allah I merahma-tinya–, aku mengenalinya dari buku-bukunya. Dan aku mengenalinya dengan bermajlis dengan beliau beberapa kali. Dia berakidah salaf, manhajnya bersih. Tapi sebagian orang hendak mengkafirkan hamba-hamba Allah I (umat) dengan sesuatu yang Allah I tidak kafirkan mereka dengannya, lalu menganggap –secara dusta, palsu dan kebohongan yang nyata– siapa saja yang menyelisihinya dalam cara pengkafiran seperti ini sebagai golongan Murji’ah. Oleh karenanya jangan kalian dengar ucapan itu, dari siapapun keluarnya.” (Diambil dari Fatawal ‘Ulama Al-Akabir, buah karya Abdul Malik Ramdhani)

Asy-Syaikh Al-Albani t Membantah Pelaku Jihad Palsu: Para Pelaku Penculikan dan Pengeboman
Atas dasar kejadian akhir-akhir ini berupa peledakan (bom) di negeri-negeri Islam, kami mengemukakan pandangan dari Asy-Syaikh Al-Albani tentang masalah ini, dalam rangka menjelaskan hukum syar’i yang benar, yang berdasarkan ilmu yang kokoh, untuk menerangi jalan di depan orang yang mempunyai syubhat (kerancuan) dan kesamaran seputar masalah hukum-hukum jihad, dan sebagai bantahan kepada orang yang menisbatkan/ mengatasnamakan perbuatan yang salah itu kepada manhaj Salafush Shalih.
Yang mulia Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t –seorang Muhaddits (ahli hadits) negeri-negeri Islam dan seorang yang sangat alim pada masa ini– ditanya pada tanggal 29 Jumadal Ula 1416 H yang bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1995.
(Sumber: Kaset dengan judul ‘Di antara Manhaj Khawarij’)

Pertanyaan:
Pada akhir-akhir ini, wahai Syaikh!! Terutama berbagai bencana dan fitnah yang terjadi, yang kini dengan cara peledakan-peledakan yang merenggut nyawa puluhan manusia, kebanyakan mereka dari orang-orang yang tidak berdosa, dan di antara mereka adalah para wanita, anak-anak dan orang-orang seperti yang engkau ketahui. Dan ketika kami mendengar sebagian manusia yang terpandang, mereka mencela diamnya sebagian ulama dan pemberi fatwa dari para Syaikh yang besar, dan tidak adanya pengingkaran atas perbuatan semacam ini yang tentunya tidak Islami. Dan kami beritahukan kepada orang-orang tersebut tentang pendapat para ulama dan pendapat Anda dalam masalah ini, mereka menolaknya dengan kebodohan terhadap perkataan ulama atau perkataan Anda, dan dengan alasan tidak adanya kaset-kaset yang tersebar untuk menjelaskan kebenaran di dalam masalah ini. Oleh karena itu kami lontarkan sebuah pertanyaan dengan susunan yang tegas sehingga manusia mengetahui pandangan Anda dan pendapat orang yang Anda nukilkan darinya. Maka terangkanlah kebenaran di dalam perkara ini supaya kebenaran ini diketahui oleh setiap muslim, barangkali Asy-Syaikh telah mendengar apa yang terjadi sekarang, ataukah kami akan menjelaskan sebagian dari apa yang terjadi?

Jawaban Asy-Syaikh Al-Albani t:
(Yang pertama: Mukadimah; Penjelasan Asy-Syaikh bahwa perbuatan ini merupakan kejahatan yang tidak disyariatkan dan dilakukan di atas kebodohan, hawa nafsu dan prinsip-prinsip yang rusak)
“Sesungguhnya segala puji milik Allah kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang Allah beri hidayah kepadanya maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mem-berinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)
Amma ba’du,
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad n. Adapun sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (di dalam perkara agama, pent.), dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan kesesatan kem-balinya ke neraka.
Engkau, –semoga Allah I membalasmu dengan kebaikan– telah mengisyaratkan bahwa kami telah berbicara dalam masalah ini. Dan engkau telah menyebutkan bahwa mereka menolak dengan kebodohan tanpa ilmu. Apabila suatu penjelasan berasal dari orang yang diperkirakan mempunyai ilmu, kemudian dihadapi oleh orang yang tidak berilmu dengan membantahnya dan menolaknya, maka apa faedahnya membicarakan masalah ini?
Namun kami akan menjawab untuk orang yang mempunyai syubhat (yaitu dengan menganggap perbuatan yang mereka lakukan ini merupakan sesuatu yang boleh menurut syariat) dan bukanlah untuk memuaskan pengikut hawa nafsu dan orang yang bodoh. Akan tetapi untuk memuaskan orang yang ragu untuk menerima bahwa perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas tersebut merupakan perkara yang tidak disyariatkan.
Sebelum masuk pada perincian, sudah seharusnya bagiku untuk mengingatkan –dan peringatan itu bermanfaat bagi kaum muslimin– tentang perkataan ulama:

“Perkara yang dibangun di atas sesuatu yang rusak maka perkara itu juga rusak.”
Sebagai permisalan, shalat yang tidak dibangun di atas thaharah (kesucian), maka itu bukanlah shalat. Kenapa? Karena tidak tegak di atas azas syarat yang telah disebutkan oleh Peletak syariat yang bijaksana, pada semisal sabda Rasulullah n:

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu.”1
Bagaimanapun seseorang yang shalat tanpa berwudhu, maka shalat yang dibangun di atas sesuatu yang rusak itu juga rusak. Dan contoh-contoh semacam ini di dalam  syariat banyak dan banyak sekali.”
(Yang kedua: Penjelasan Asy-Syaikh tentang haramnya memberontak kepada penguasa yang muslim dengan anggapan kafirnya mereka)
“Maka kami selalu mengingatkan bahwa memberontak kepada para penguasa –walaupun mereka telah dipastikan kekafirannya– tidak secara mutlak disyariatkan. Karena jika memang pemberontakan mesti dilakukan, tetap harus sesuai syariat. Seperti shalat yang baru saja kami katakan seharusnya dilakukan di atas thaharah yaitu wudhu. Dan kami berhujjah pada masalah seperti ini dengan semisal firman Allah I:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)
(Yang ketiga: Asy-Syaikh mencoba ‘mengalah’ dengan anggapan para penentang, lalu beliau membantah mereka)
“Sesungguhnya kondisi yang dialami oleh kaum muslimin sekarang ini di bawah hukum sebagian penguasa –anggaplah mereka atau kekafiran mereka merupakan kekafiran yang jelas dan gamblang seperti kekafiran kaum musyrikin–, apabila kita anggap seperti ini. Maka kami katakan sesungguhnya keadaan di mana kaum muslimin hidup sebagai rakyat dalam naungan para penguasa tersebut –dan anggap kita katakan mereka kafir dalam rangka mengikuti alur Jamaatut Takfir secara lafadz bukan secara makna, karena kami dalam masalah tersebut mempunyai perincian yang sangat diketahui–, maka kami katakan bahwa sesungguhnya kehidupan yang dijalani kaum muslimin sekarang di bawah hukum para penguasa tersebut tidaklah terlepas dari kehidupan yang dijalani oleh Rasulullah n dan para shahabatnya yang mulia pada masa yang dikenal dalam istilah para ulama dengan periode Makkah.
Sungguh Rasulullah n hidup di bawah hukum thaghut yang kafir, musyrik, dan yang menolak dengan tegas untuk menyambut dakwah Rasulullah agar mereka mengatakan kalimatul haq –Laa ilaaha illallah– sampai-sampai paman beliau Abu Thalib di akhir kehidupannya berkata kepada Rasulullah n: “Seandainya aku tidak khawatir dicerca kaumku, benar-benar aku akan menyejukkan pandanganmu (yakni akan masuk Islam).”
Mereka, orang-orang kafir yang menampakkan kekafirannya yang menentang dakwah Nabi mereka, yang Rasulullah n hidup di bawah hukum dan aturan mereka, beliau tidak mengatakan kepada mereka kecuali “Sembahlah Allah saja yang tidak ada sekutu baginya.”
Kemudian datang periode Madinah, lalu hukum syariat turun secara berturut-turut dan dimulailah peperangan antara kaum muslimin dan musyrikin sebagaimana telah diketahui dari sirah/ sejarah nabi.
Adapun dalam periode pertama –periode Makkah– tidak ada pemberontakan sebagaimana yang sekarang dilakukan oleh banyak kaum muslimin pada sejumlah negeri Islam. Maka pemberontakan ini tidaklah di atas petunjuk Rasul yang kita diperintahkan untuk meneladaninya, lebih khusus pada ayat:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)
(Yang keempat: Asy-Syaikh menguatkan dengan kejadian-kejadian masa kini dan menetapkan hukum syar’i yang benar)
“Sekarang sebagaimana kita dengar di Aljazair, di sana ada dua kelompok, dan saya memanfaatkannya sebagai kesempatan, jika engkau atau salah satu hadirin mengetahui dengan jelas jawaban dari soal berikut:
Saya katakan: Saya mendengar dan membaca, di sana ada dua kelompok kaum muslimin yang memusuhi penguasa di sana. Satu kelompok misalnya “Jabhatul Inqaadz (FIS)”, dan saya kira di sana ada juga Jamaatut Takfir.”
Maka dikatakan kepada Asy-Syaikh: “Jaisyul Inqaadz inilah yang bersenjata bukannya Jabhatul (Inqaadz).”
Asy-Syaikh berkata: “Akan tetapi bukankah ada kaitan dengan Jabhatul (Inqaadz)?”
Dikatakan kepada Asy-Syaikh: “Ia terpisah darinya, yaitu sebuah kelompok garis keras.”
Asy-Syaikh berkata: “Kalau begitu ini musibah yang lebih besar! Saya ingin mengklarifikasi tentang keberadaan lebih dari satu jamaah Islam dan masing-masing mem-punyai jalan dan manhaj dalam memberontak kepada penguasa. Coba kamu bayangkan, seandainya penguasa ini telah dikalahkan, dan salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang mengumumkan keislamannya dan peperangannya terhadap penguasa yang kafir –menurut anggapan mereka– berhasil menang. Apakah dua kelompok yang ada ini akan bersepakat –lebih-lebih apabila ada kelompok lain– dan mereka akan menegakkan hukum Islam yang mereka berperang atas namanya? Namun yang akan terjadi justru perselisihan di antara mereka.
Sebagai penguat, sekarang apa yang ada di Afghanistan. Di mana perang tersebut diproklamirkan di atas jalan Islam dan untuk memerangi komunisme!! Maka hampir-hampir mereka tidak menghabisi komunisme –sementara kelompok-kelompok ini dahulu ada di tengah-tengah peperangan– tiba-tiba sebagian mereka berbalik menjadi musuh atas sebagian yang lain.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelisihi petunjuk Rasulullah n maka niscaya akan merugi. Dengan demikian, petunjuk Nabi n tentang penegakan hukum Islam dan pendirian negara Islam yang benar untuk menegakkan hukum Islam di negara tersebut, hanyalah bisa terwujud dengan dakwah.”
(Yang kelima: Asy-Syaikh menje-laskan tentang jalan yang benar untuk memperbaiki negara-negara Islam)
“Oleh karena itu, barangsiapa  menyelisihi petunjuk Rasulullah n niscaya  akan merugi pada akhirnya. Dengan demikian, petunjuk Nabi n tentang penegakan hukum Islam dan pendirian negara Islam yang benar untuk menegakkan hukum Islam di negara tersebut hanyalah bisa terwujud dengan dakwah. Yang pertama, dakwah tauhid dan membimbing kaum muslimin dengan didasari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dan ketika kami isyaratkan prinsip yang penting ini dengan dua kalimat ringkas, yaitu harus dengan tashfiyah (pembersihan) dan tarbiyah (pendidikan). Dan tentu, tidaklah kami maksudkan dengan keduanya bahwasanya supaya berjuta-juta kaum muslimin itu menjadi umat yang satu. Hanyalah yang kami maksudkan: Bahwa barangsiapa ingin mengamalkan Islam dengan sebenar-benarnya, dan ingin membuat sarana-sarana yang akan membuka jalan baginya dalam menegakkan hukum Allah I di muka bumi ini, maka dia harus mencontoh Rasulullah n, baik dalam hukum maupun cara penegakannya.
Dengan ini kami katakan: Bahwasanya apa yang terjadi di Aljazair atau di Mesir adalah menyelisihi Islam. Karena Islam memerintahkan untuk melakukan tashfiyah dan tarbiyah. Saya katakan: tashfiyah dan tarbiyah, berdasarkan alasan yang telah diketahui oleh ulama.
Dan sekarang kita berada di abad yang kelimabelas (hijriyah). Kita mewarisi agama Islam ini sesuai dengan apa yang datang kepada kita setelah berabad-abad lamanya. Kita tidak mewarisi Islam sebagaimana Allah I turunkan pada qalbu Nabi n. Dan oleh karena itu, Islam yang membuahkan hasil pada generasi awal adalah Islam yang akan menghasilkan buahnya di generasi akhir. Sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Umatku laksana hujan, tidak diketahui kebaikan berada pada awal atau akhirnya.”2
Apabila umat Islam menginginkan kehidupannya penuh dengan kebaikan seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah n pada hadits ini dan hadits lain yang lebih terkenal, yaitu sabda beliau:

“Senantiasa akan ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran, tidak memadharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah.”3
Saya katakan (lagi): Kami tidak maksudkan dengan dua kalimat ini (tashfiyah dan tarbiyah) bahwa jutaan dari kaum muslimin sudah harus menerapkan Islam secara murni dan mendidik diri-diri mereka di atas Islam yang murni ini. Namun kami maksudkan, bagi mereka yang menginginkan kebenaran hendaknya mereka mendahulukan pendidikan pada diri-diri mereka. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan bagi mereka yang di bawah kekuasaannya. Dan seterusnya…, dan seterusnya…, sehingga sampailah perkara ini (tashfiyah dan tarbiyah) kepada penguasa, yang tidak mungkin meluruskan, memperbaiki, atau menurunkannya kecuali dengan urutan/ tahapan yang syar’i dan rasional ini.
(Yang keenam: Penjelasan Asy-Syaikh tentang tercelanya perpecahan, pertentangan dan perbedaan serta penjelasan tentang rusaknya aksi memberontak dan peledakan, dan bahwa hal tersebut menyelisihi tujuan dan cara-cara syar’i)
“Dengan ini kami mengatakan bahwasanya tindakan-tindakan pemberon-takan dan kudeta yang dilakukan, sampai pun jihad di Afghanistan, kami tidak mendukung hal tersebut, atau pesimis terhadap hasil akhirnya ketika kami mendapatkan mereka terpecah menjadi lima kelompok, dan sekarang yang berkuasa dan yang menentangnya adalah orang-orang sufi sebagaimana diketahui.
Maksudnya, bahwasanya sebagian dalil-dalil Al-Qur’an menunjukkan perpecahan adalah kelemahan, yang Allah I menyebut-kan di antara sebab-sebab pembunuhan adalah pertentangan dan perselisihan.

“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)
Oleh karena itu apabila kaum muslimin terpecah menjadi kelompok-kelompok, tidak mungkin mereka menang. Karena perpecahan ini hanyalah tanda kelemahan bagi mereka.
Oleh karena itu wajib bagi Ath-Thaifah Al-Manshurah (golongan yang tertolong) yang ingin menegakkan negara Islam dengan benar, hendaknya mereka mewujudkan sebuah kalimat yang saya anggap sebagai kata hikmah di masa ini dari salah seorang da’i yang telah mengucapkannya, namun para pengikutnya tidak mengikuti dia. Yaitu perkataannya: “Dirikanlah negara Islam pada qalbu kalian, niscaya akan ditegakkan negara Islam di bumi kalian.”
Maka kami sekarang menyaksikan bahwasanya… –saya tidak mengatakan (anggota) kelompok-kelompok yang mela-kukan pemberontakan-pemberontakan ini–, bahkan saya bisa katakan bahwasanya kebanyakan pemimpin dari kelompok-kelompok ini, mereka tidaklah menerapkan ucapan hikmah ini; yang bermakna apa yang kita katakan dengan dua kata: tashfiyah dan tarbiyah. Sebagian mereka tidak melaksa-nakan tashfiyah (pembersihan) Islam dari hal-hal (di luar Islam) yang masuk dalam (ajaran) Islam yang tidak boleh dijadikan sandaran baik perkara aqidah, ibadah, atau akhlak. Mereka tidak menerapkan tashfiyah pada diri-diri mereka, terlebih lagi untuk merealisasikan tarbiyah pada kerabat mereka.
Maka darimana mereka akan mewujudkan tashfiyah dan tarbiyah pada kelompok yang mereka pimpin dan bersama mereka memberontak terhadap pemerintah?! Saya katakan, apabila kita mengetahui secara rinci kalimat itu (Apa-apa yang dibangun di atas sesuatu yang rusak maka hal tersebut adalah rusak), maka jawaban kita sangat jelas: bahwasanya apa yang terjadi di Aljazair dan Mesir serta yang lainnya adalah bukan saatnya, ini yang pertama; dan menyelisihi syariat Islam, baik tujuan maupun cara mereka, ini yang kedua. Namun harus ada perincian pada pertanyaan tersebut.”
(Yang ketujuh: Ucapan terakhir dari Asy-Syaikh dalam menjelaskan hukum jihad yang benar)
“Kami mengetahui bahwasanya Allah I –dengan keadilan dan hikmah-Nya– telah melarang pasukan muslimin terdahulu untuk menyerang kaum wanita. Maka Allah I melarang membunuh para wanita dan anak-anak, bahkan melarang membunuh para pendeta yang sedang berkonsentrasi untuk beribadah pada tuhan-tuhan mereka –seperti yang mereka sangka– padahal mereka di atas kesyirikan dan kesesatan. Allah Yang Maha Bijaksana melarang para pemimpin kaum muslimin untuk mengarahkan serangan kepada mereka. Hal tersebut dalam rangka merealisasikan prinsip dari prinsip-prinsip Islam yang ada, yaitu firman Allah I dalam Al-Qur’an:

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada pada lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji ? (Yaitu) bahwasanya orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya.” (An-Najm: 36-39)
Sehingga membunuh anak-anak tersebut, para wanita dan laki-laki yang tidak berperang di antara kedua belah pihak, dilarang oleh Islam. Dan sesungguhnya telah ada di sebagian hadits-hadits: “Bahwasanya Nabi n melihat manusia sedang mengerumuni sesuatu. Kemudian beliau bertanya, maka mereka menjawab: ‘Dia adalah seorang wanita yang terbunuh.’ Maka Nabi n bersabda:

“Tidaklah sepantasnya wanita itu ikut berperang.”
Dan dari sini kita bisa mengambil dua hukum yang saling berhadapan: Yang pertama; telah lewat penjelasannya, yaitu tidak boleh membunuh wanita dalam peperangan karena wanita tidak boleh berperang. Namun hukum yang kedua; yaitu apabila kita mendapatkan sebagian wanita ikut berperang di pasukan musuh, maka pada saat itu boleh bagi kaum muslimin untuk memerangi atau membunuh wanita tersebut yang telah ikut serta bersama para laki-laki dalam berperang.
Apabila pertanyaannya sekarang adalah ketika mereka menjebak –sebagaimana kata mereka– beberapa kendaraan, kemudian meledakkannya maka pecahan-pecahan ini akan menimpa kepada orang yang sama sekali tidak bersalah secara hukum syar’i. Maka yang demikian ini bukanlah merupakan ajaran Islam sama sekali. Akan tetapi kita katakan: Ini baru merupakan bagian kecil dari sesuatu yang besar. Yang paling berbahaya adalah pemberontakan ini, yang telah berlangsung beberapa tahun, dan tidaklah bertambah perkaranya kecuali kejelekan. Oleh karena itu kami katakan: Hanyalah amalan-amalan itu tergantung pada penutupnya, dan penutup dari suatu amalan tidak akan baik kecuali apabila ditegakkan di atas Islam, dan segala sesuatu yang di bangun di atas sesuatu yang menyelisihi Islam maka tentu tidak akan membuahkan kecuali kehancuran dan kebinasaan.” [Sumber: www.alalbany.net]

Hukum Membunuh Turis Kafir
Dalam ceramah yang lain, Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Apabila seorang kafir –sebagaimana dalam pertanyaan– dari kalangan turis/pelancong mereka tidaklah masuk ke negeri kita yang Islam kecuali dengan seijin pemerintah yang muslim. Oleh karena itu tidak boleh untuk berbuat jahat terhadap mereka karena mereka statusnya adalah mu’ahad4. Kemudian seandainya terjadi –dan sudah terjadi bukan hanya sekali– seorang muslim berbuat jahat kepada mereka maka akibatnya dia (si muslim ini) akan dibunuh atau bahkan juga yang lain atau akan dipenjara atau… atau… Maka tidak dihasilkan faidah Islami dari kejahatan terhadap darah turis ini di negeri muslim. Bahkan menyelisihi hadits yang tadi disebutkan:

“Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad di selain waktunya (yakni dalam jaminan keamanannya), maka dia tidak akan mencium bau surga… (sampai akhir hadits).”
Demikianlah fatwa Asy-Syaikh Al-Albani t yang bisa kami nukilkan, semoga dapat mengobati kerinduan kita kepada kebenaran.
Wallahu a’lam.


1 Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah z. (Shahihul Jami’ no. 7514, lihat pula Al-Irwa’ no. 81 dan Al-Misykat no. 404)

2 Shahih, HR. At-Tirmidzi dan Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan Shahih. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 2869)

3 Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim

4  Mu’ahad adalah orang yang dijamin keamanannya oleh pemerintah muslim.

5 Asy-Syaikh membaca  , tapi dalam Sunan Abu Dawud (no. 2760) dan Sunan An-Nasa‘i (no. 4761) dengan lafadz . Barangkali Asy-Syaikh keliru melafadzkan hadits tersebut. Hadits ini sendiri dishahihkan oleh beliau dalam Shahih Sunan Abu Dawud.

Penentuan Awal Ramadhan dan ‘Ied

Penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal  selalu menjadi topik hangat yang dibicarakan kalangan masyarakat kita. Karena dari sini acap muncul perdebatan sengit di antara sebagian kaum muslimin. Penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani t tentang hal tersebut berikut ini, insya Allah I akan menambah ilmu dan wawasan kita.
“Puasa adalah hari ketika manusia berpuasa, dan berbuka (yakni Iedul Fithri) adalah hari ketika manusia berbuka, dan Iedul Adh-ha adalah hari ketika manusia menyembelih (hewan kurban).”
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata setelah menyebutkan takhrij hadits ini dalam Ash-Shahihah (no. hadits 224):
At-Tirmidzi t berkata mengomentari hadits ini: “Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini dengan mengatakan: Tidak lain makna hadits ini adalah bahwa puasa dan berbuka (yakni Iedul Fithri) bersama jamaah dan kebanyakan manusia.”
Ash-Shan’ani t berkata dalam Subulus Salam (2/72): “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa yang teranggap sebagai waktu Ied adalah kesepakatan manusia. Dan orang yang sendirian mengetahui masuknya Ied dengan ru`yah maka wajib baginya menyesuaikan dengan yang lain dan harus mengikuti ketentuan mereka dalam masalah shalat, berbuka (yakni Iedul Fithri), dan melaksanakan penyembelihan (hewan kurban).”
Ibnul Qayyim t juga menyebutkan makna hadits ini dalam Tahdzib As-Sunan (3/214), beliau berkata: “Dan (di antara makna hadits ini) disebutkan: Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa barangsiapa yang mengetahui munculnya bulan (yakni hilal) melalui hisab tempat-tempat bulan maka boleh baginya untuk berpuasa dan berbuka (yakni masuk Iedul Fithri), tidak bersama-sama dengan orang yang tidak menge-tahuinya. Dikatakan juga (di antara makna hadits ini): Bahwa orang yang sendirian menyaksikan munculnya hilal namun hakim tidak menganggap persaksiannya, maka penglihatannya terhadap hilal itu tidaklah menjadikan dia berpuasa, sebagaimana juga tidak menyebabkan manusia (yang lain) untuk berpuasa.”
Abul Hasan As-Sindi, dalam Hasyiyah beliau terhadap Sunan Ibnu Majah, berkata setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan At-Tirmidzi ini: “Yang nampak, maknanya adalah bahwa tidak boleh bagi pribadi-pribadi untuk masuk dan menyendiri dalam perkara-perkara ini (yakni mulai berpuasa, masuk Iedul Fithri, dan Iedul Adh-ha). Bahkan perkara ini dikembalikan kepada pemerintah (penguasa) dan jamaah. Dan setiap pribadi wajib mengikuti pemerintah dan jamaah. Atas dasar ini, bila ada seseorang yang melihat hilal namun persaksiannya ditolak penguasa, orang tersebut tidak sepantasnya menetapkan (sendiri) perkara-perkara ini (yakni mulai berpuasa, masuk Iedul Fithri, dan Iedul Adh-ha) sedikitpun. Dan orang tersebut wajib mengikuti jamaah dalam hal ini.”
Saya (Asy-Syaikh Al-Albani t) katakan: “Dan ini adalah makna yang secara langsung dipahami dari hadits tersebut. Hal ini diperkuat dengan perbuatan Aisyah x yang berhujjah dengan hadits ini terhadap perbuatan Masruq yang meninggalkan berpuasa hari Arafah karena khawatir bahwa hari itu adalah hari Iedul Adh-ha. Maka ‘Aisyah x menjelaskan kepada Masruq bahwa ru`yahnya (persaksiannya terhadap hilal) tidaklah teranggap dan dia wajib mengikuti jamaah. ‘Aisyah x berkata:

“An-Nahr (yakni Iedul Adh-ha) adalah hari ketika manusia menyembelih (hewan kurban), dan berbuka (yakni Iedul Fithri) adalah hari ketika manusia berbuka.”
Saya (Asy-Syaikh Al-Albani t)) katakan: “Dan inilah hal yang sesuai dengan syariat (Islam) yang mudah ini, yang di antara tujuannya adalah mengumpulkan manusia dan menyatukan barisan mereka serta menjauhkannya dari setiap pendapat pribadi yang menyebabkan terpecahnya persatuan mereka. Syariat ini tidak menganggap sah pendapat pribadi –meskipun itu benar menurut sisi pandangnya– dalam ibadah jama’i (yang dilakukan bersama-sama) seperti puasa, hari-hari raya, dan shalat jamaah.
Tidakkah engkau lihat para shahabat g, sebagian mereka tetap shalat di belakang sebagian yang lain? Padahal di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah merupakan pembatal wudhu, sedang-kan sebagian yang lain tidak berpendapat seperti itu. Juga di antara mereka ada yang tetap shalat secara sempurna (tidak qashar) ketika safar, namun ada pula yang shalat secara qashar. Perbedaan pendapat di kalangan mereka ini tidaklah menghalangi mereka untuk bersatu dalam shalat di belakang satu imam, dan mereka mengang-gap shalat tersebut sah. Hal itu karena didasari pengetahuan mereka bahwa berpecah-belah dalam agama lebih buruk daripada perbedaan dalam sebagian pendapat.
Sampai-sampai sebagian shahabat -dalam masalah tidak menganggap sah pendapat yang menyelisihi pendapat penguasa dalam perkumpulan terbesar seperti di Mina– secara mutlak tidak mengamalkan pendapat pribadi mereka dalam perkumpulan itu, untuk menghindari terjadinya suatu kejelekan karena mengamalkan pendapat pribadi mereka.
Al-Imam Abu Dawud t meriwayatkan (1/307) bahwa ‘Utsman z shalat di Mina empat rakaat. Lalu Abdullah bin Mas’ud z berkata: “Aku shalat bersama Nabi n dua rakaat, dan bersama Abu Bakr juga dua rakaat, demikian pula bersama ‘Umar dua rakaat, juga bersama ‘Utsman di awal kepemimpinannya. Namun setelah itu ‘Utsman menyempurnakan shalatnya (yakni shalat empat rakaat). Kemudian jalan menjadi terpecah belah bagi kalian. Aku sangat berharap bahwa aku mempunyai dua rakaat yang diterima (oleh Allah I) daripada empat rakaat.” Namun setelah itu Ibnu Mas’ud shalat empat rakaat! Maka dikatakan kepadanya: “Engkau menyalahkan ‘Utsman, tapi engkau tetap shalat empat rakaat?” Ibnu Mas’ud menjawab: “Perselisihan itu jelek.” Dan sanad kisah ini shahih.
Al-Imam Ahmad t juga meriwayatkan (5/155) yang seperti itu dari Abu Dzar, semoga Allah I meridhai mereka semua.
Hendaknya hadits ini dan juga atsar di atas, diperhatikan oleh orang-orang yang senantiasa berpecah dalam shalat mereka dan tidak mau mengikuti sebagian imam masjid. Lebih khusus lagi dalam shalat witir ketika Ramadhan, dengan alasan bahwa imam-imam itu menyelisihi madzhab mereka!
Juga hendaknya diperhatikan oleh orang-orang yang mengaku mengetahui ilmu falak yang kemudian berpuasa sendirian dan berbuka (yakni masuk Iedul Fithri) sendirian pula, baik mendahului atau terlambat dari jamaah kaum muslimin, dengan menganggap sah pendapatnya dan ilmunya, tanpa memperhatikan bahwa dia telah keluar (memisahkan diri) dari jamaah kaum muslimin.
Hendaknya mereka memperhatikan ilmu yang telah kita sebutkan ini, agar mereka mendapatkan obat dari kejahilan dan ketertipuan yang ada pada diri mereka. Sehingga mereka menjadi satu barisan bersama kaum muslimin, saudara-saudara mereka. Karena sesungguhnya tangan Allah I di atas jamaah.
(Diambil dari Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 1 juz 1 no. 224, hal. 443-445)

Alkohol dalam Obat dan Parfum

Banyak pertanyaan seputar alkohol yang masuk ke meja redaksi, kaitannya dengan obat, kosmetika, atau pun lainnya. Berikut ini penjelasan Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari.

Alhamdulillah, para ulama besar abad ini telah berbicara tentang permasalahan alkohol1, maka di sini kita nukilkan fatwa-fatwa mereka sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Terdapat perbedaan ijtihad di antara mereka dalam memandang permasalahan ini. Asy-Syaikh Ibnu Baz t berpendapat bahwa sesuatu yang telah bercampur dengan alkohol tidak boleh dimanfaatkan, meskipun kadar alkoholnya rendah, dalam arti tidak mengubahnya menjadi sesuatu yang memabukkan. Karena hal ini tetap masuk dalam hadits

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”2
Ketika beliau ditanya tentang obat-obatan yang sebagiannya mengandung bahan pembius dan sebagian lainnya mengandung alkohol, dengan perbandingan kadar campuran yang beraneka ragam, maka beliau menjawab: “Obat-obatan yang memberi rasa lega dan mengurangi rasa sakit penderita, tidak mengapa digunakan sebelum dan sesudah operasi. Kecuali jika diketahui bahwa obat-obatan tersebut dari “Sesuatu yang banyaknya memabukkan” maka tidak boleh digunakan berdasarkan sabda Nabi r :

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”
Adapun jika obat-obatan itu tidak memabukkan dan banyaknya pun tidak memabukkan, hanya saja berefek membius (menghilangkan rasa) untuk mengurangi beban rasa sakit penderita maka yang seperti ini tidak mengapa.”(Majmu’ Fatawa, 6/18)
Juga ketika beliau ditanya tentang parfum yang disebut  (cologne), beliau berkata: “Parfum  (cologne) yang mengandung alkohol tidak boleh (haram) untuk digunakan. Karena telah tetap (jelas) di sisi kami berdasarkan keterangan para dokter yang ahli di bidang ini bahwa parfum jenis tersebut memabukkan karena mengandung “spiritus” yang dikenal. Oleh sebab itu, haram bagi kaum lelaki dan wanita untuk menggunakan parfum jenis tersebut…
Kalau ada parfum jenis cologne yang tidak memabukkan maka tidak haram menggunakannya. Karena hukum itu berputar sesuai dengan ‘illah-nya3, ada atau tidaknya ‘illah tersebut (kalau ‘illah itu ada pada suatu perkara maka perkara itu memiliki hukum tersebut, kalau tidak ada maka hukum itu tidak berlaku padanya).” (Majmu’ Fatawa , 6/396 dan 10/38-39)
Dan yang lebih jelas lagi adalah jawaban beliau pada Majmu’ Fatawa (5/382, dan 10/41) beliau berkata: ”Pada asalnya segala jenis parfum dan minyak wangi yang beredar di khalayak manusia hukumnya halal. Kecuali yang diketahui mengandung sesuatu yang merupakan penghalang untuk mengguna-kannya, karena ‘sesuatu’ itu memabukkan atau banyaknya memabukkan atau karena ‘sesuatu’ itu adalah najis, dan yang sema-camnya…
Jadi, jika seseorang mengetahui ada parfum yang mengandung ‘sesuatu’ berupa bahan memabukkan atau benda najis yang menjadi peng-halang untuk menggunakannya, maka diapun meninggalkannya (tidak menggu-nakanya) seperti cologne. Karena telah tetap (jelas) di sisi  kami berdasarkan persaksian para dokter (yang ahli di bidang ini) bahwa parfum ini tidak terbebas dari bahan memabukkan karena mengandung ‘spiritus’ berkadar tinggi, yang merupakan bahan memabukkan, sehingga wajib untuk ditinggalkan (tidak digunakan). Kecuali jika ditemukan ada parfum jenis ini yang terbebas dari bahan memabukkan (maka tentunya tidak mengapa untuk digunakan). Dan jenis-jenis parfum yang lain sebagai gantinya, sekian banyak yang dihalalkan oleh Allah I, walhamdulillah.
Demikian pula halnya, segala macam minuman dan makanan yang mengandung bahan memabukkan, wajib untuk diting-galkan. Kaidahnya adalah: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram”, sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”
Dan hanya Allah I lah yang memberi taufik.”
Demikian pula yang terpahami dari fatwa  guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t (dalam Ijabatus Sa`il hal. 697) bahwa pendapat beliau sama dengan pendapat gurunya yaitu Asy-Syaikh Ibnu Baz t ketika ditanya tentang cologne. Beliau menjawab (tanpa rincian) bahwa tidak boleh meng-gunakannya dan tidak boleh mem-perjualbelikannya, berdasarkan hadits Anas bin Malik z:

“Rasulullah n melaknat 10 jenis orang karena khamr: yang memprosesnya (membuatnya), yang minta dibuatkan, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan untuknya, yang menghidang-kannya, yang menjualnya, yang makan (menikmati) harga penjualannya, yang membelinya dan yang dibelikan untuknya.”4
Sementara itu, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dan Asy-Syaikh Al-Albani t berpendapat bahwa pada permasa-lahan ini ada rincian, sebagaimana yang akan kita simak dengan jelas dari fatwa keduanya.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/178) cetakan Darul Atsar, berkata: “Bagaimana menurut kalian tentang sebagian obat-obatan yang ada pada masa ini yang mengandung alkohol, terkadang digunakan pada kondisi darurat?
Kami nyatakan: Menurut kami, obat-obatan ini tidak memabukkan seperti mabuk yang diakibatkan oleh khamr, melainkan hanya berefek mengurangi kesadaran penderita dan mengurangi rasa sakitnya. Jadi ini mirip dengan obat bius yang berefek menghilangkan rasa sakit (sehingga penderita tidak merasakan sakit sama sekali) tanpa disertai rasa nikmat dan terbuai.
Telah diketahui bahwa hukum yang bergantung pada suatu ‘illah5, jika ‘illah tersebut tidak ada maka hukumnya pun tidak ada. Nah, selama ‘illah suatu perkara dihukumi khamr adalah “memabukkan”, sedangkan obat-obatan ini tidak mema-bukkan, berarti tidak termasuk kategori khamr yang haram. Wallahu a’lam. Wajib bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara pernyataan: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram” dengan pernyataan: “Sesuatu yang mema-bukkan dan dicampur dengan bahan yang lain maka haram.” Karena pernyataan yang pertama artinya minuman itu sendiri (adalah merupakan khamr), apabila anda minum banyak tentu anda mabuk, dan apabila anda minum sedikit maka anda tidak mabuk, namun Rasulullah n mengatakan “Sedikitnyapun haram.” (Kenapa demikian padahal yang sedikit tersebut tidak memabukkan?) Karena itu merupakan dzari’ah (artinya bahwa yang sedikit itu merupakan wasilah/ perantara yang akan menyeret pelakunya sampai akhirnya dia minum banyak, sehingga diharamkan). Adapun mencampur dengan bahan lain dengan perbandingan kadar alkoholnya sedikit sehingga tidak menjadikan bahan tersebut memabukkan maka yang seperti ini tidak mengubah bahan tersebut menjadi khamr (yang haram). Jadi ibaratnya seperti benda najis yang jatuh ke dalam air (tapi kadar najisnya sedikit) dan tidak menajisi (merusak kesucian) air tersebut (karena warna, bau, ataupun rasanya tidak berubah) maka air tersebut tidak menjadi najis karenanya (tetap suci dan mensucikan).”
Asy-Syaikh Al-Albani t ketika ditanya tentang berbagai parfum atau minyak wangi yang mengandung alkohol, maka beliau menjawab: “Apabila kadar alkohol yang terkandung di dalamnya menjadikan parfum-parfum yang harum itu sebagai cairan yang memabukkan, dalam arti kalau diminum oleh seorang pecandu khamr dan ternyata memberi pengaruh seperti pengaruh khamr (yaitu mengakibatkan dia mabuk, maka parfum-parfum tersebut hukumnya tidak boleh (haram untuk digunakan). Adapun jika kadar alkoholnya sedikit (dalam arti tidak mengubah parfum-parfum tersebut menjadi memabukkan) maka hukumnya boleh. (Kaset Silsilatul Huda wan Nur)
Kemudian kita akhiri pembahasan ini dengan fatwa Asy-Syaikh Al-Albani t yang sangat rinci. Beliau t berkata: “Untuk memahami makna hadits:

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.”
Mari kita mendatangkan contoh: Kalau ada 1 liter air yang mengandung 50 gram bahan memabukkan yang kita namakan alkohol, maka cairan ini –yang tersusun dari air dan alkohol– berubah menjadi mema-bukkan. Namun jika seseorang minum sedikit maka dia tidak akan mabuk. Lain halnya jika dia minum dengan kadar yang lazim diminum oleh seseorang maka dia akan mabuk, dengan demikian menjadilah yang sedikit tadi haram. Sebaliknya, kalau ada 1 liter air mengandung 5 gram alkohol (misalnya). Jika seseorang minum 1 liter air tersebut sampai habis dia tidak mabuk, maka yang seperti ini halal untuk diminum.
Selanjutnya, apakah boleh bagi seorang muslim mengambil 1 liter air kemudian menumpahkan 5 gram alkohol ke dalamnya dengan alasan bahwa 5 gram alkohol tersebut tidak mengubah 1 liter air yang ada menjadi memabukkan?
Jawabannya: Tidak boleh. Kenapa tidak boleh? Karena tidak boleh bagimu untuk memiliki bahan yang memabukkan yang merupakan inti dari khamr, yaitu alkohol. Jadi kegiatan mencampur alkohol dengan bahan lain tidak boleh dalam syariat Islam…
Telah kami nyatakan bahwa obat-obatan yang ada di apotek-apotek pada masa ini –bahkan boleh jadi kebanyakannya– mengandung alkohol, atau tertera padanya tulisan perbandingan kadar alkoholnya: 5 gram, 10 gram… Apakah kita mengatakan bahwa obat-obatan ini jika diminum seorang sehat ataupun sakit dengan kadar yang banyak dan ternyata dia mabuk, berarti tidak boleh digunakan karena memabukkan, meskipun dia hanya menelan 1 sendok saja? Inilah yang dimaksudkan dengan hadits “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.” Adapun jika perbandingan alkoholnya sedikit –dalam arti berapapun yang dia minum tidak menjadikannya mabuk– maka boleh menggunakannya, meskipun dia minum banyak.
Namun perkara lain (yang penting untuk diingat) sama dengan apa yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa obat-obatan yang mengandung alkohol dengan perbandingan yang tidak melanggar syariat sesuai dengan rincian yang disebutkan, tidak boleh bagi seorang apoteker muslim untuk meracik obat yang seperti itu. Karena tidak boleh ada alkohol di rumah seorang muslim ataupun di tempat kerjanya. Haram baginya untuk membelinya atau membuatnya sendiri. Dan ini perkara yang jelas karena Rasulullah n bersabda:

“Allah melaknat 10 jenis orang karena khamr…”7
Seorang apoteker yang hendak meracik obat dan mencampurnya dengan alkohol yang memabukkan itu, baik dengan cara membuat alkohol sendiri (dengan proses pembuatan tertentu) atau membeli alkohol yang sudah jadi, termasuk dalam salah satu dari 10 jenis orang yang dilaknat dalam hadits tersebut.
Lain halnya apabila seseorang membeli obat yang sudah jadi, dengan kadar alkohol yang rendah yang tidak menjadikan banyaknya obat tersebut memabukkan, maka ini boleh.” (Kaset Silsilatul Huda wan Nur)
Dan kami memandang bahwa pendapat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsamin t dan Asy-Syaikh Al-Albani t, lebih dekat kepada kebenaran.
Wallahu a’lam.


1 Perlu diketahui bahwa alkohol (alkanol) ada beberapa golongan. Di antaranya etanol (inilah yang dijadikan sebagai zat pelarut, bahan bakar, atau zat asal untuk preparat-preparat farmasi, dan sebagian besar digunakan untuk minuman keras), spiritus, dsb., sebagaimana diterangkan dalam buku-buku kimia dan farmasi.
2 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Jabir bin Abdillah c. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (1/160-161). Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani, dan beliau menshahihkannya dengan syawahidnya dari beberapa shahabat yang lain (Al-Irwa‘, 8/42-43).
3 ‘Illah suatu hukum adalah sebab penentu suatu perkara memiliki hukum tersebut.
4 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1318) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil t dalam kitabnya Ash-Shahihul Musnad (1/57) dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Hadits yang semakna dengan hadits ini juga diriwayatkan dengan lafadz  (Allah melaknat…) dari Ibnu ‘Umar c, oleh Ath-Thahawi, Al-Hakim, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dengan keseluruhan jalan-jalannya dalam Al-Irwa` (5/365-367).
5 Lihat catatan kaki no. 3
6 Lihat haditsnya secara lengkap pada fatwa Asy-Syaikh Muqbil di halaman sebelumnya.

Al-Imam Ash Shan’ani

(ditulis oleh: Al-Ustadz Zainul Arifin)

 

Beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Shalah bin Muhammad Al-Husani, Al-Kahlani kemudian Ash-Shan’ani, Abu Ibrahim ‘Izzuddin (yang membuat jaya agama ini) yang terkenal dengan Al-Amir, sebagaimana seluruh pendahulu-pendahulu beliau. Beliau adalah mujtahid negeri Yaman.
Beliau dilahirkan di kota Kahlan pada tahun 1099 H (1688 M), kemudian bersama ayahnya beliau pindah ke Shan’a. Di sanalah beliau tumbuh dan mengambil ilmu dari para ulamanya. Kemudian beliau menuju ke Makkah dan di sanalah beliau sibuk dengan menuntut ilmu hadits kepada ulama besar yang ada di sana. Dan beliau menampakkan kesungguhannya serta cenderung untuk mencukupkan diri dengan dalil yang ada. Beliau lari menjauh dari taqlid dan menyeru umat tentang batilnya pendapat fiqhiyyah yang tidak berdasarkan dalil. Adalah hijrah beliau kepada al-haq dan berdakwah kepadanya menjadi sebab beliau ditimpa banyak cobaan dari orang-orang yang jahil.
Beliau mengambil ilmu dari banyak guru, di antaranya: Zaid bin Muhammad bin Al-Hasan, Shalah bin Al-Husain Al-Akhfasi, Abdullah bin ‘Ali Al-Wazir, ‘Ali bin Muhammad Al-’Ansi.

Pujian Ulama terhadap Beliau
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “(Beliau adalah) imam besar, mujtahid mutlak, mempunyai banyak karangan… beliau unggul dalam segala bidang ilmu dan mengungguli rekan-rekannya, dan tidak ada bandingannya dalam kepemimpinan ilmu di Shan’a.” (Al-Badru Ath-Thali’, 2/133)

Akidah Beliau t
Beliau t berada di atas akidah salafus shalih. Ini merupakan perkara yang diketahui lagi masyhur tentang beliau t, dalam hal peranannya yang baik dan kesung-guhannya yang besar untuk menolong As-Sunnah, membela para penjaganya, serta membantah kebid’ahan dan hawa nafsu.
Bukti terbaik tentang hal ini adalah banyaknya kitab-kitab beliau yang beliau khususkan dalam bab yang besar ini (yakni akidah), terutama kitab beliau Tath-hirul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad. Dalam kitab ini, beliau mematahkan syubhat-syubhat para penyembah kubur dan membantah kebatilan mereka, lalu menolong al-haq dan menjelaskannya dengan sebaik-baik penjelasan.
Beliau menemui gangguan yang berat dari kaum serta kerabat beliau dalam menempuh jalan ini.
Beliau telah menulis sekitar 100 karangan, antara lain:
q    Taudhihul Afkar, Syarh Tanqihul Anzhar, 2 jilid tentang musthalah hadits.
q    Minhatul Ghaffar, hasyiah (catatan kaki) atas (kitab) Dhau`un Nahar Lil Jalal.
q    Tathhirul I’tiqad ‘An Adranil  Ilhad.
q    Syarh Al-Jamiu’s Shaghir li As-Suyuthi, 4 jilid.
q    Ar-Raddu ‘Ala Man Qala Bi Wihdatil Wujud.
q    Daiwanu Syi’r.
q    Subulus Salam, dan lain-lain.

Beliau meninggal pada tahun 1182 H (1768 M) di Shan’a.

(Diambil dari Subulus Salam, hal. 8 cet. Maktabah Al-Hayah, dan Al-Inshaf fi Haqiqatil Auliya)