Bacaan Tasyahud

التَّحِيَّاتُ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ

عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Segala penghormatan (pengagungan), shalat, kebaikan-kebaikan (berupa perkataan, amalan, dan sifat-sifat) adalah untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Keselamatan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah subhanahu wa ta’ala, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Lanjutkan membaca Bacaan Tasyahud

Doa Istiftah

 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ،

اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ،

اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran-kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan salju.”

(HR. al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam asy-Syaukani ‘rahimahullah berkata, “Riwayat yang paling sahih (dari doa-doa istiftah) adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang telah disebutkan (di atas –red.).” (Nailul Authar, 2/11)

Jalan Menuju Kebahagian

Banyak jalan diciptakan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, terpandang, dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak! Kalau begitu, bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar?

Lanjutkan membaca Jalan Menuju Kebahagian

Ketika Sakit Menimpa Seorang Hamba

Sakit yang menimpa seorang hamba dan dihadapi dengan sabar, pada hakikatnya merupakan rahmat Allah kepadanya. Dengan sebab itu, Allah menaikkan hamba tersebut kepada derajat yang lebih tinggi. Jadi, tidak sepantasnya seorang hamba berkeluh kesah dan tidak ridha ketika ditimpa sebuah penyakit. Sebab, Allah tidak akan memberi sebuah musibah kepada seorang hamba yang lebih besar dari kemampuan hamba menanggungnya.

Lanjutkan membaca Ketika Sakit Menimpa Seorang Hamba

Paman yang Suka Guyonan Cabul

“Kita telah mengetahui bahwa paman (al-’amm) termasuk mahram dari seorang wanita di mana ia boleh membuka hijabnya di hadapan paman tersebut. Akan tetapi bagaimana hukumnya bila paman tersebut suka menceritakan padanya guyonan yang kotor/cabul, apakah si wanita boleh untuk menghindar/tidak menemui pamannya tersebut?”

 

Jawab:

        Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjawab,

        “Apabila ada paman yang suka menceritakan gurauan cabul pada keponakan perempuannya, tidak halal bagi keponakan tersebut mendatanginya. Ia juga tidak boleh membuka hijabnya[1] di hadapannya.

        Sebab, ulama membolehkan seorang wanita membuka hijabnya di hadapan mahram dengan syarat tidak ada kejelekan. Sementara itu, paman yang bergurau dengan cabul terhadap keponakannya dikhawatirkan akan muncul keburukan darinya.

        Yang wajib untuk dilakukan adalah menjauh dari sebab-sebab kejelekan. Engkau tentu tidak merasa aneh jika ada seseorang yang memiliki keinginan terhadap mahramnya.

        Telah sampai kabar kepada kami,ada orang yang berzina dengan saudara perempuannya seayah karena dianggap perempuan itu bukan saudara sekandung. Wal ‘iyadzu billah.

        Bahkan, sampai pula kepada kami kabar yang lebih besar daripada itu, ada orang yang berzina dengan ibunya. Wal ‘iyadzu billah.

        Lihatlah tuntunan al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

        “Janganlah kalian menikahi wanita yang telah dinikahi oleh ayah kalian, kecuali apa yang telah lewat. Hal itu sungguh merupakan perbuatan yang keji, dimurkai, dan sejelek-jelek jalan.” (an-Nisa’: 22)

        Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang zina,

          وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

        “Janganlah kalian mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan sejelek-jelek jalan.” (al-Isra’: 32)

        Perbuatan menikahi istri ayah (ibu tiri) tidak hanya disebut sebagai fahisyah (perbuatan keji), tetapi dikatakan maqtan (dimurkai). (Adapun perbuatan zina dalam al-Isra’ ayat 32, Allah ‘azza wa jalla hanya menyebutnya sebagai fahisyah, tanpa maqtan -pen.).

        Ini menunjukkan bahwa pernikahan seorang lelaki dengan wanita yang memiliki hubungan mahram dengannya lebih besar kejelekannya daripada zina.

        Kesimpulan jawaban ini adalah keponakan perempuan tersebut wajib menjauh dari pamannya dan tidak membuka hijab di hadapannya, selama dia melihat pamannya masih suka melemparkan guyonan buruk yang dapat mengantarkan kepada perbuatan keji.”

        (Majmu’ah As’ilah Tuhimmul Usratil Muslimah, hlm. 1718, Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 525)  

 


                [1]  Karena menyusui bayinya misalnya (pen).

Batasan Aurat Wanita Muslimah

Apa batasan aurat seorang wanita di hadapan sesama wanita muslimah, wanita fajirah, dan kafirah?

 

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berfatwa,

“Aurat wanita di hadapan sesama wanita tidaklah berbeda karena perbedaan agama. Jadi, aurat muslimah sama dengan aurat wanita kafirah, dan aurat dengan wanita yang ‘afifah (menjaga kehormatan diri) sama dengan aurat wanita fajirah. Kecuali apabila ada sebab lain yang mengharuskan untuk lebih menjaga diri.

Akan tetapi, kita wajib mengetahui bahwa aurat tidak diukur dari pakaian, karena pakaian harus menutupi tubuh. Walaupun aurat sesama wanita adalah antara pusar dan lutut, tetapi pakaian dan aurat adalah hal berbeda.

Jika seorang wanita memakai pakaian yang menutup tubuhnya dengan baik, lantas tampak dada atau buah dadanya karena satu dan lain hal di hadapan wanita lain1, padahal dia telah mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya dengan baik, hal ini tidak apa-apa.

Apabila ia mengenakan pakaian pendek yang hanya menutupi pusar sampai ke lututnya, dengan alasan aurat sesama wanita adalah dari pusar ke lutut, hal ini tidak boleh. Aku tidak yakin ada orang yang berpandangan demikian.” (Majmu’ah As’ilah Tuhimmul Usratil Muslimah, hlm. 8384)

Ummu Sulaim bintu Milhan

Sejak iman merasuk dalam kalbunya, kemuliaan selalu menjadi miliknya. Bukan gemerlap permata mahar yang dipilihnya, melainkan semata keislaman suaminya. Kesabaran, keberanian, kecintaannya kepada Rasul-Nya, tidaklah menambah pada dirinya kecuali taburan keharuman kisah hidupnya. Siapa yang tak merasa bahagia dengan janji mulia untuk meraih surga? Lanjutkan membaca Ummu Sulaim bintu Milhan

Kemilau Permata Hatiku

Setiap orang hampir dipastikan suka dengan kebersihan. Lebih-lebih lagi seorang muslim, kesukaannya kepada kebersihan tentu akan berlipat karena syariat menganjurkannya. Kecintaan pada sifat bersih mestinya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga ditularkan kepada anak-anak. Di antaranya dengan menjaga tubuh mereka agar senantiasa bersih dan berbau harum. Jadi, memiliki anak yang banyak bukan alasan untuk menjadikan keadaan mereka lusuh dan berbau tidak sedap.

Lanjutkan membaca Kemilau Permata Hatiku

Manfaat Menahan Mata

Mata dan qalbu senantiasa berhubungan. Jika salah satunya baik, maka akan baik pula yang lainnya. Maka menjaga mata merupakan sesuatu yang mesti kita lakukan agar qalbu merasakan banyak manfaat darinya.

Saudariku muslimah… semoga Allah I memberkahimu.
Dalam edisi yang lalu, kita telah mengetahui aturan syariat dalam masalah menahan pandangan mata. Berikut ini untuk menambah semangat dalam mengamalkan aturan syariat tersebut, kita nukilkan -secara ringkas- uraian yang diberikan oleh Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Asy-Syaikh Taqiyuddin Abu Bakr, yang lebih dikenal dengan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t, tentang manfaat menahan pandangan mata dalam kitabnya yang sangat bernilai Ad-Da`u wad Dawa`atau Al-Jawabul Kafi liman Sa`ala ‘anid Dawa`isy Syafi.
Pertama: Dengan menahan pandangan mata berarti berpegang dengan perintah Allah I yang merupakan puncak kebahagiaan seorang hamba dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat.
Kedua: Menahan pandangan akan mencegah sampainya pengaruh panah beracun ke dalam qalbu1 seorang hamba.
Ketiga: Menahan pandangan akan mewariskan kedekatan seorang hamba dengan Allah I dan menyatukan qalbunya agar hanya tertuju kepada Allah I. Sebaliknya, mengumbar pandangan akan memecah belah qalbu dan mencerai-beraikannya.
Keempat: Menguatkan qalbu dan membahagiakannya. Sebaliknya, mengumbar pandangan akan melemahkan qalbu dan membuatnya sedih.
Kelima: Menahan pandangan akan menghasilkan cahaya bagi qalbu, sebagaimana mengumbar pandangan akan menggelapkan qalbu. Karena itulah setelah Allah I memerintahkan ghadhul bashar (menahan pandangan dari sesuatu yang diharamkan untuk melihatnya) dalam surah An-Nur (ayat 31 -red):

“Katakanlah (wahai Nabi) kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…”
Allah I ikutkan dengan firman-Nya:

“Allah (Pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar…” (An-Nur: 35), yakni perumpamaan cahaya-Nya pada qalbu seorang hamba yang beriman yang berpegang dengan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Apabila qalbu itu bercahaya, datanglah utusan-utusan kebaikan kepadanya dari segala arah. Sebagaimana bila qalbu itu gelap akan datang kepadanya awan-awan bala` dan kejelekan dari setiap tempat. Segala macam bid‘ah, kesesatan, mengikuti hawa nafsu, menjauhi petunjuk, berpaling dari sebab-sebab kebahagiaan dan menyibukkan diri dengan sebab-sebab kesengsaraan, semua itu akan tersingkap oleh cahaya yang ada di dalam qalbu. Namun bila cahaya itu hilang, jadilah pemilik qalbu tersebut seperti seorang yang buta yang berkeliaran di malam yang gelap gulita.
Keenam: Menahan pandangan akan mewariskan firasat yang benar yang dengannya ia akan membedakan antara yang haq dengan yang batil, antara orang yang jujur dengan yang dusta.
Ibnu Syujja‘ Al-Kirmani tpernah berkata: “Siapa yang memakmurkan dzahirnya dengan mengikuti sunnah dan batinnya dengan terus menerus muraqabah2, dan menahan pandangannya dari perkara-perkara yang diharamkan, menahan jiwanya dari syubhat dan makan dari yang halal, maka firasatnya tidak akan salah.”
Allah I memberikan kepada hamba-Nya balasan yang sejenis dengan amalan yang dilakukannya, dan “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah I, niscaya Allah I akan menggantikan dengan yang lebih baik dari sesuatu tersebut.”3 Bila si hamba menahan pandang-annya dari perkara yang Allah I haramkan maka Allah I gantikan dengan memberikan cahaya pada pandangan hatinya. Allah I bukakan baginya pintu ilmu dan iman, ma’rifah, firasat yang benar dan tepat, semua ini hanya diperoleh dengan bashirah qalb (penglihatan qalbu).
Ketujuh: Menahan pandangan akan mewariskan kekokohan, keberanian, dan kekuatan pada qalbu.
Kedelapan: Menahan pandangan akan menutup celah bagi masuknya setan ke dalam qalbu. Karena setan itu masuk bersama pan-dangan mata, dan akan menembus bersama pandangan tersebut ke dalam qalbu lebih cepat dari masuknya udara ke tempat yang kosong. Lalu setan pun menyusupkan bayangan (lebih jauh) dari apa yang dilihat dan memperin-dahnya, sehingga gambaran itu menjadi berhala di mana qalbu berdiam di atasnya. Kemudian setan menjanjikannya, membuatnya berangan-angan, dan dinyalakanlah api syahwat di dalam qalbu. Lalu dilemparkanlah kayu bakar maksiat di atasnya. Jadilah qalbu tersebut berada di dalam api yang menyala-nyala, seperti seekor kambing di atas tungku api.
Kesembilan: Menahan pandangan akan mengosongkan qalbu dari memikirkan hal yang haram, sehingga qalbu hanya tersibukkan dengan perkara yang memberikan maslahat.
Kesepuluh: Antara mata dan qalbu itu ada penghubung dan jalan sehingga saling berhubungan satu sama lain. Bila salah satunya baik, maka baik pula yang lain. Dan sebaliknya, bila salah satu rusak maka rusak pula yang lain. Rusaknya qalbu akan merusakkan pandangan, dan rusaknya pandangan akan merusakkan qalbu. Demikian pula sebaliknya, pandangan yang baik akan menjadikan qalbu baik dan qalbu yang baik akan membaikkan pandangan. Jika qalbu telah rusak jadilah ia seperti tempat sampah yang merupakan tempat pembuangan najis, kotoran dan yang berbau busuk. Bila sudah demikian keadaannya, ia tidak bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi pengenalan terhadap Allah I, cinta kepada-Nya dan kembali pada-Nya, senang dan gembira bila dekat dengan-Nya. Namun yang menempatinya ketika itu adalah perkara-perkara yang sebaliknya.
Wallahul musta’an.
(lihat kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal. 277-279)
(Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)


1 Qalbu bermakna jantung, namun sering di-bahasa Indonesia-kan dengan hati. Rasulullah r bersabda tentang jantung ini:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh dan bila rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah qalbu.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
2 Merasakan pengawasan Allah I
3 Diambil dari hadits: , diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad (5/363) dan selainnya.