Ketika Sakit Menimpa Seorang Hamba

Sakit yang menimpa seorang hamba dan dihadapi dengan sabar, pada hakikatnya merupakan rahmat Allah kepadanya. Dengan sebab itu, Allah menaikkan hamba tersebut kepada derajat yang lebih tinggi. Jadi, tidak sepantasnya seorang hamba berkeluh kesah dan tidak ridha ketika ditimpa sebuah penyakit. Sebab, Allah tidak akan memberi sebuah musibah kepada seorang hamba yang lebih besar dari kemampuan hamba menanggungnya.

Lanjutkan membaca Ketika Sakit Menimpa Seorang Hamba

Paman yang Suka Guyonan Cabul

“Kita telah mengetahui bahwa paman (al-’amm) termasuk mahram dari seorang wanita di mana ia boleh membuka hijabnya di hadapan paman tersebut. Akan tetapi bagaimana hukumnya bila paman tersebut suka menceritakan padanya guyonan yang kotor/cabul, apakah si wanita boleh untuk menghindar/tidak menemui pamannya tersebut?”

 

Jawab:

        Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjawab,

        “Apabila ada paman yang suka menceritakan gurauan cabul pada keponakan perempuannya, tidak halal bagi keponakan tersebut mendatanginya. Ia juga tidak boleh membuka hijabnya[1] di hadapannya.

        Sebab, ulama membolehkan seorang wanita membuka hijabnya di hadapan mahram dengan syarat tidak ada kejelekan. Sementara itu, paman yang bergurau dengan cabul terhadap keponakannya dikhawatirkan akan muncul keburukan darinya.

        Yang wajib untuk dilakukan adalah menjauh dari sebab-sebab kejelekan. Engkau tentu tidak merasa aneh jika ada seseorang yang memiliki keinginan terhadap mahramnya.

        Telah sampai kabar kepada kami,ada orang yang berzina dengan saudara perempuannya seayah karena dianggap perempuan itu bukan saudara sekandung. Wal ‘iyadzu billah.

        Bahkan, sampai pula kepada kami kabar yang lebih besar daripada itu, ada orang yang berzina dengan ibunya. Wal ‘iyadzu billah.

        Lihatlah tuntunan al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

        “Janganlah kalian menikahi wanita yang telah dinikahi oleh ayah kalian, kecuali apa yang telah lewat. Hal itu sungguh merupakan perbuatan yang keji, dimurkai, dan sejelek-jelek jalan.” (an-Nisa’: 22)

        Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang zina,

          وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

        “Janganlah kalian mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan sejelek-jelek jalan.” (al-Isra’: 32)

        Perbuatan menikahi istri ayah (ibu tiri) tidak hanya disebut sebagai fahisyah (perbuatan keji), tetapi dikatakan maqtan (dimurkai). (Adapun perbuatan zina dalam al-Isra’ ayat 32, Allah ‘azza wa jalla hanya menyebutnya sebagai fahisyah, tanpa maqtan -pen.).

        Ini menunjukkan bahwa pernikahan seorang lelaki dengan wanita yang memiliki hubungan mahram dengannya lebih besar kejelekannya daripada zina.

        Kesimpulan jawaban ini adalah keponakan perempuan tersebut wajib menjauh dari pamannya dan tidak membuka hijab di hadapannya, selama dia melihat pamannya masih suka melemparkan guyonan buruk yang dapat mengantarkan kepada perbuatan keji.”

        (Majmu’ah As’ilah Tuhimmul Usratil Muslimah, hlm. 1718, Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 525)  

 


                [1]  Karena menyusui bayinya misalnya (pen).

Batasan Aurat Wanita Muslimah

Apa batasan aurat seorang wanita di hadapan sesama wanita muslimah, wanita fajirah, dan kafirah?

 

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berfatwa,

“Aurat wanita di hadapan sesama wanita tidaklah berbeda karena perbedaan agama. Jadi, aurat muslimah sama dengan aurat wanita kafirah, dan aurat dengan wanita yang ‘afifah (menjaga kehormatan diri) sama dengan aurat wanita fajirah. Kecuali apabila ada sebab lain yang mengharuskan untuk lebih menjaga diri.

Akan tetapi, kita wajib mengetahui bahwa aurat tidak diukur dari pakaian, karena pakaian harus menutupi tubuh. Walaupun aurat sesama wanita adalah antara pusar dan lutut, tetapi pakaian dan aurat adalah hal berbeda.

Jika seorang wanita memakai pakaian yang menutup tubuhnya dengan baik, lantas tampak dada atau buah dadanya karena satu dan lain hal di hadapan wanita lain1, padahal dia telah mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya dengan baik, hal ini tidak apa-apa.

Apabila ia mengenakan pakaian pendek yang hanya menutupi pusar sampai ke lututnya, dengan alasan aurat sesama wanita adalah dari pusar ke lutut, hal ini tidak boleh. Aku tidak yakin ada orang yang berpandangan demikian.” (Majmu’ah As’ilah Tuhimmul Usratil Muslimah, hlm. 8384)

Ummu Sulaim bintu Milhan

Sejak iman merasuk dalam kalbunya, kemuliaan selalu menjadi miliknya. Bukan gemerlap permata mahar yang dipilihnya, melainkan semata keislaman suaminya. Kesabaran, keberanian, kecintaannya kepada Rasul-Nya, tidaklah menambah pada dirinya kecuali taburan keharuman kisah hidupnya. Siapa yang tak merasa bahagia dengan janji mulia untuk meraih surga? Lanjutkan membaca Ummu Sulaim bintu Milhan

Kemilau Permata Hatiku

Setiap orang hampir dipastikan suka dengan kebersihan. Lebih-lebih lagi seorang muslim, kesukaannya kepada kebersihan tentu akan berlipat karena syariat menganjurkannya. Kecintaan pada sifat bersih mestinya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga ditularkan kepada anak-anak. Di antaranya dengan menjaga tubuh mereka agar senantiasa bersih dan berbau harum. Jadi, memiliki anak yang banyak bukan alasan untuk menjadikan keadaan mereka lusuh dan berbau tidak sedap.

Lanjutkan membaca Kemilau Permata Hatiku

Menyenangkan Suami Ada Batasnya

Membuat suami senang merupakan salah satu tugas seorang istri. Akan tetapi, caranya tentu bukan dengan berprinsip Asal Suami Senang. Tidak semua hal yang membuat senang suami boleh dilakukan. Apa saja yang membuat suami senang tetapi dilarang oleh syariat?

Lanjutkan membaca Menyenangkan Suami Ada Batasnya

Ihsan dan Hidayah

Perintah untuk berbuat ihsan cukup banyak, baik dalam al-Qur’an maupun hadits. Contohnya dalam surat al-Baqarah ayat 195, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٩٥

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)

Lanjutkan membaca Ihsan dan Hidayah

Makan Ala Islam (2)

Makan atau minum dengan tangan kiri, bagi kebanyakan orang sudah menjadi hal yang biasa. Namun, dalam Islam, perbuatan jelek ini bukan masalah yang ringan. Setidaknya, makan dan minum dengan tangan kiri adalah perbuatan yang menyerupai setan. Jadi, penting untuk mengajari anak bagaimana makan dan minum sesuai dengan tuntunan Nabi. Sebab, apabila terlambat melakukannya, anak akan susah dibetulkan.

  Lanjutkan membaca Makan Ala Islam (2)

Pelajaran dari Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman

Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memberinya ganti dengan yang lebih baik.”

Inilah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah ini. Ketika Nabi Sulaiman ‘alaihissalam membunuh kuda-kudanya karena telah membuat lalai dari berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla menggantinya dengan ditundukkannya angin dan setan bagi beliau.

Lanjutkan membaca Pelajaran dari Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman