Hakikat Zuhud

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Pokok zuhud adalah keridhaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala.”

Beliau rahimahullah mengatakan juga, “Qana’ah adalah zuhud, yaitu rasa cukup. Barang siapa merealisasikan keyakinan, percaya penuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala urusannya, ridha terhadap pengaturan-Nya, memutus ketergantungan kepada makhluk sembari berharap dan takut (kepada Allah), lalu hal menghalanginya untuk mencari dunia dengan cara-cara yang makruh; dia telah merealisasikan hakikat zuhud terhadap dunia. Ia pun menjadi orang yang paling berkecukupan. Jika ia tidak memiliki harta dunia sedikit pun, sebagaimana ucapan Ammar

‘Cukuplah kematian menjadi penasihat. Cukuplah keyakinan sebagai kecukupan. Cukuplah ibadah sebagai kesibukan’.”

(Jami’ul Ulum wal Hikam hlm. 392)

LAKUKANLAH HAL YANG BERMANFAAT

‘Umar bin Abdul ‘Aziz Radhiallahu ‘anhu berkata:
“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya)
menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”
‘Umar bin Qais Al-Mula’i Radhiallahu ‘anhu berkata:
Seseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang
tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman
menjawab: “Benar.”
Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan
itu?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana
yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam
dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”
Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri Radhiallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah
menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”
Sahl At-Tusturi Rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya
diharamkan baginya kejujuran.”
Ma’ruf Rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak
ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah (untuknya).”
(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/290-294)

Iman

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata kepada sahabatnya, “Marilah kita menambah iman!” Lalu mereka berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hubaib bin Hamasah radhiallahu ‘anhu berucap, “Sesungguhnya iman bertambah dan berkurang.”

Ia ditanya, “Apakah tanda bertambah dan berkurangnya?”

Ia menjawab, “Jika kita mengingat dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka itu tanda bertambahnya keimanan; dan jika kita lalai, lupa, dan menyia-nyiakan waktu, itu pertanda berkurangnya iman.”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Seluruh keyakinan yang benar adalah keimanan.” (Maksudnya keyakinan yang mendorong amal saleh).

Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata, “Marilah duduk bersamaku untuk beriman (berzikir) sesaat.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah bertutur, “Aku mencari jannah (surga) dengan keyakinan, lari dari neraka dengan keyakinan, menunaikan kewajiban dan sabar di atas kebenaran dengan keyakinan.” (maksudnya dengan iman)

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah menulis surat kepada ‘Adi bin ‘Adi, “Sesungguhnya iman mempunyai kewajiban-kewajiban, syariat-syariat, hukum-hukum, dan sunnah-sunnahnya. Barang siapa menyempurnakan perkara-perkara tersebut maka ia telah menyempurnakan keimanannya. Dan barang siapa tidak menyempurnakannya berarti ia belum menyempurnakan keimanannya. Jika aku masih diberi umur panjang, aku akan menjelaskan masalah ini kepadamu hingga kamu melaksanakannya. Jika aku mati, maka aku memang tidak bersemangat untuk bersama kalian.”

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Bila keimanan bersemi dalam hati sesuai dengan tuntunan syariat niscaya hati rindu terbang ke jannah dan takut dari siksa neraka.”

Luqman berkata, “Amal tidak mampu tegak kecuali dengan iman. Barang siapa lemah keimanannya, maka lemah amalnya.”

Abdullah bin Ukaim rahimahullah bercerita, “Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berdoa, ‘Ya Allah, tambahkan keimanan, keyakinan, dan pemahamanku’.”

(Dari Fathul Bari karya Ibnu Rajab al-Hanbali, Maktabah Sahab)