al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (19) : Perang Jalula

Peristiwa ini terjadi setelah perang Qadisiyah dan jatuhnya Madain. Kisra Yazdajird melarikan diri dari Madain menuju Hulwan. Selama dalam pelarian menuju Hulwan, dia melakukan konsolidasi dengan tentara dan pengikutnya yang ada di setiap wilayah yang dilewatinya. Akhirnya, terbentuklah satu pasukan besar, maka dia pun menunjuk Mihran sebagai panglima pasukan besar ini. Kisra terus melanjutkan perjalanannya menuju Hulwan setelah meninggalkan banyak harta untuk membiayai pasukan itu.

Pasukan besar itu bermarkas di Jalula. Mereka mulai menggali parit besar di sekeliling mereka sebagai pertahanan dan berdiam di tempat itu dengan bekal dan peralatan yang sangat memadai.

Sa’d segera memberi kabar kepada Amirul Mukminin, maka ‘Umar memberikan jawaban agar Sa’d tetap di Madain dan menunjuk Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash sebagai pimpinan pasukan menuju Jalula.

Sa’d segera menjalankan perintah tersebut dan mengutus keponakannya (Hasyim) membawa pasukan dalam jumlah yang besar (sekitar 12.000 personil) yang terdiri dari para sahabat senior, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta para pemuka bangsa Arab lainnya.

Bagian depan pasukan muslimin itu dipimpin oleh Qa’qa’ bin ‘Amr, sayap kanan dipimpin oleh Sa’d bin Malik, sayap kiri oleh ‘Umar bin Malik dan bagian belakang di pimpin oleh ‘Amr bin Murrah al-Juhani.[1]

Pasukan muslimin segera bergerak dan tiba di Jalula. Di sana mereka mendapati pasukan Majusi telah membuat pertahanan dengan parit yang mereka buat. Pasukan Hasyim mulai mengepung mereka.

Pasukan musuh sering keluar dari negeri mereka untuk berperang setiap saat. Mereka menyerang kaum muslimin dengan sehebat-hebatnya, dan belum pernah terjadi serbuan sehebat itu.

Kisra terus-menerus mengirimkan bala bantuan kepada pasukannya. Demikian pula Sa’d yang berada di Madain, selalu mengirimkan bantuan kepada pasukan muslimin yang dipimpin anak saudaranya.

Suasana perang mulai memanas, api peperangan mulai berkobar. Hasyim berkali-kali berorasi di hadapan pasukan muslimin untuk memotivasi mereka agar senantiasa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.[2]

Bangsa Persia mengikat perjanjian dan kesepakatan dengan sekutu-sekutunya. Mereka bersumpah demi api—tuhan mereka—tidak akan lari dari pertempuran hingga seluruh bangsa Arab dapat dibasmi.

Pecahlah pertempuran dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga anak panah kedua belah pihak mulai habis dan berganti dengan tombak-tombak yang juga habis beterbangan dari kedua pasukan. Akhirnya mereka mulai saling menyerang dengan pedang.

Waktu Zuhur telah tiba dan kaum muslimin hanya mampu melaksanakan shalat dengan isyarat. Di pihak lawan, sekelompok tentara Majusi meninggalkan gelanggang, lalu posisi mereka digantikan oleh kelompok lainnya.

Qa’qa’ berdiri di hadapan kaum muslimin dan berkata, “Apakah kalian takut dengan apa yang kalian lihat, wahai kaum muslimin?”

“Ya. Sebab, kita dalam posisi bertahan dan mereka menyerang.”

Kata Qa’qa’, “Mari kita gempur mereka secara serentak, hingga Allah subhanahu wa ta’ala memutuskan perkara antara kita dan mereka.”

Kaum muslimin mulai bersiap menyerang secara serempak. Qa’qa’ sendiri membawa beberapa pasukan berkuda yang dikendarai oleh para pahlawan perang hingga mereka sampai di pintu parit.

Perlahan, malam mulai merayap. Ketika hari mulai gelap, beberapa pasukan berkuda kaum muslimin mendekati kubu pertahanan musuh dengan diam-diam. Di antara para kesatria penunggang kuda tersebut adalah para jagoan, seperti Thulaihah al-Asadi, ‘Amru bin Ma’di Karib, Qais bin Maksyuh, dan Hijr bin Adi.

Pasukan Majusi sendiri dalam keadaan tidak mengetahui sama sekali apa yang dilakukan pasukan Qa’qa’ dalam kegelapan. Mereka tidak menyadari semua itu hingga terdengar teriakan, “Di mana kamu, wahai kaum muslimin? Ini, pemimpin kalian sudah di depan pintu parit musuh.”[3]

Ketika orang-orang Majusi mendengar teriakan itu, mereka segera melarikan diri. Kaum muslimin langsung menyerbu bergabung dengan Qa’qa’ bin ‘Amru yang ternyata sudah menguasai pintu parit.

Tentara Persia berlari kocar-kacir dikejar kaum muslimin dari segala penjuru dan dihadang ke mana pun mereka lari. Tidak kurang dari 100.000 prajurit Persia tewas bersimbah darah di tangan kaum muslimin. Permukaan bumi dipenuhi mayatmayat yang bergelimpangan. Itulah sebabnya peperangan ini dinamakan dengan Perang Jalula (yang bergelimpangan).

Hasyim bin ‘Utbah mengirim Qa’qa’ mengejar mereka yang lari menyusul Kisra sampai bertemu dengan panglima Mihran. Qa’qa’ berhasil membunuh Mihran, tetapi Fairuzan berhasil menyelamatkan diri.

Kaum muslimin berhasil mendapatkan ghanimah berupa harta, senjata, emas dan perak yang jumlahnya hampir sama dengan harta yang mereka dapati di Madain.

Ghanimah yang diperoleh segera dibagi dan dikirim oleh Hasyim kepada pamannya, Sa’d. Kemudian Sa’d mengeluarkan seperlimanya untuk dikirimkan ke Amirul Mukminin di Madinah. Yang menjadi pengawal ghanimah itu adalah Ziyad bin Abi Sufyan, Qudha’i bin ‘Amr, dan Abu Muqarrin al-Aswad.

Sesampainya di Madinah, ‘Umar bertanya kepada Ziyad tentang kemenangan yang mereka peroleh. Ziyad menceritakannya dengan ungkapan yang menakjubkan, karena dia seorang yang fasih dalam menjelaskan. Mendengar cara Ziyad menceritakan, ‘Umar ingin agar cerita heroik ini diketahui oleh seluruh kaum muslimin.

Kata ‘Umar kepada Ziyad, “Apakah kamu mampu berpidato kepada kaum muslimin menceritakan kemenangan ini?”

“Siap, wahai Amirul Mukminin. Tidak ada yang lebih saya segani di dunia ini selain Anda, maka bagaimana mungkin saya tidak mampu untuk berbicara kepada orang lain?”

Lalu dia pun menceritakannya kepada kaum muslimin dengan bahasa yang indah dan memukau. Dia menceritakan bagaimana mereka berperang, berapa yang terbunuh, dan berapa rampasan perang yang mereka peroleh.

Kata ‘Umar, “Sungguh, dia ini betul-betul orator ulung.”

Kata Ziyad, “Pasukan kami membuktikan ucapan kami dengan tindakan.”

Setelah itu, ‘Umar bersumpah tidak akan membiarkan harta itu tersimpan hingga dibagi-bagikan kepada yang berhak. Harta itu diletakkan di masjid, dijaga oleh ‘Abdullah bin Arqam radhiallahu ‘anhu dan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu.

Usai shalat Subuh, setelah matahari terbit, ‘Umar memerintahkan agar penutup harta itu dibuka. Begitu melihat tumpukan emas, perak, dan permata yang berkilau itu, berlinanglah air mata ‘Umar, beliau menangis.

“Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin?” tanya Abdur Rahman bin ‘Auf, “Demi Allah, ini adalah waktunya bersyukur.”

“Demi Allah, bukan itu yang membuatku menangis. Demi Allah, tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ini kepada suatu kaum kecuali mereka pasti akan saling iri, benci; dan tidaklah mereka saling mendengki kecuali tentu akan ditimpakan kejelekan di antara mereka.”

 

Jatuhnya Hulwan

Fairuzan yang berhasil melarikan diri tiba di tempat Kisra dan segera memberitahu Kisra tentang kekalahan mereka di Jalula dengan terbunuhnya 100.000 tentara Persia itu serta tewasnya Mihran.

Mendengar berita buruk ini Kisra segera melarikan diri dari Hulwan menuju Rai (Teheran sekarang) dan dia menunjuk seorang amir yang bernama Khasrusynum agar bertahan di Hulwan.

Qa’qa’ maju menyerbu mereka. Khasrusynum menantang Qa’qa’ untuk bertempur di suatu tempat yang berada di luar Hulwan. Qa’qa’ menyambut tantangan itu dan pecahlah pertempuran sengit dan berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

Khasrusynum dan pasukannya kalah, dia sendiri melarikan diri.

Qa’qa’ terus menuju Hulwan dan berhasil merebutnya. Di dalam benteng, mereka mendapatkan harta rampasan perang dan para tawanan. Mereka menguasai tempat itu sambil memungut jizyah dari penduduk yang tinggal di sekitarnya setelah diajak masuk Islam tetapi menolak.

Qa’qa’ menetap di Hulwan sampai Sa’d pindah dari Madain ke Kufah.[4]

 

Kisah Hurmuzan

Menurut sebagian ahli sejarah, Hurmuzan termasuk di antara tentara Persia yang melarikan diri dalam peperangan Qadisiyah.

Abu Musa yang berada di Bashrah mulai berangkat, demikian pula ‘Utbah bin Ghazawan yang ketika itu di Kufah. Keduanya bersiap hendak memerangi Hurmuzan.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kemenangan kepada keduanya. Mereka mengambil kembali daerah yang dikuasainya, antara Eufrat dan Tigris. Kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang dan tawanan.

Hurmuzan berpura-pura berdamai dengan mereka untuk menyelamatkan daerah-daerah lainnya. Akan tetapi, Hurmuzan melanggar perjanjian dan meminta bantuan kepada sebagian orang Kurdi.

Kaum muslimin berhasil mengalahkannya, hingga dia melarikan diri ke Tustar. Ketika negeri itu berhasil ditaklukkan, segera Hurmuzan melarikan diri ke benteng.

Para jagoan Islam, di antaranya adalah Ka’b bin Tsaur, al-Bara’, saudara Anas bin Malik, dan Majza-ah bin Tsaur, terus memburunya dan mengepungnya di satu tempat di benteng itu.

Hurmuzan tidak mempunyai pilihan lain, jika bukan dia yang mati, merekalah yang mati.

Setelah berhasil membunuh al-Bara’ dan Majza-ah, Hurmuzan berkata kepada mereka, “Sungguh, di dalam tempat busurku ada seratus anak panah. Tidak satu pun dari kalian yang mendekat kepadaku pasti akan kubinasakan dengan anak panahku. Setiap panahku akan menghabisi nyawa tiap orang dari kalian. Apa gunanya kalian menawanku setelah kubinasakan seratus orang dari kalian?”

“Lalu, apa maumu?”

“Kalian harus menjamin keamananku setelah aku menyerahkan kedua tanganku untuk kalian ikat lalu kamu menyerahkanku kepada ‘Umar bin al-Khaththab agar menjatuhkan hukuman untukku sesuai dengan yang dia inginkan.”

Mereka menerimanya, maka Hurmuzan segera melempar busur dan anak panahnya. Tangannya segera diikat sekuatnya untuk dikirim kepada ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Akhirnya kaum muslimin berhasil menguasai semua yang ada di negeri tersebut berupa harta dan hasil buminya. Setelah disisihkan 4/5 bagiannya, maka setiap penunggang kuda menerima 3.000 dirham dan pasukan pejalan kaki 1.000 dirham.

Setelah itu, Abu Saburah segera mengirim seperlima dari harta rampasan berikut Hurmuzan yang sudah terikat. Abu Saburah mengutus pula sekelompok utusan yang di dalamnya ada Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais.

Menjelang tiba di kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin. Rombongan itu bertanya di mana Amirul Mukminin berada.

Orang-orang yang ditanya memberitahukan bahwa beliau tadi pergi ke masjid, menerima utusan dari Kufah. Akan tetapi, mereka tidak menjumpai ‘Umar. Mereka kembali keluar dan bertanya kepada beberapa remaja yang sedang bermain di halaman masjid.

“Beliau sedang tidur dengan beralas jubahnya yang bertopi (burnus) di masjid,” kata mereka.

Mereka segera kembali ke masjid dan melihatnya dalam keadaan tertidur dengan alas jubahnya itu. Tidak ada orang lain di masjid selain beliau, sementara tongkatnya tergantung di tangannya.

Hurmuzan bertanya, “Mana ‘Umar?”

Kata mereka, “Inilah dia.”

Mereka berbicara dengan suara lirih agar tidak membangunkannya.

Tetapi Hurmuzan bertanya lagi, “Mana pengawal pribadinya?”

“Dia tidak mempunyai pengawal pribadi ataupun penjaga.”

Hurmuzan berkata, “Seharusnya dia seorang nabi.”

“Bukan, tetapi dia menjalankan tugas para nabi.”

Orang-orang bertambah banyak yang datang, ‘Umar pun bangun mendengar keramaian itu dan langsung duduk.

‘Umar mengamati Hurmuzan dan bertanya, “Inikah Hurmuzan?”

“Ya,” kata mereka.

‘Umar memerhatikan Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”

Kemudian ‘Umar melanjutkan, “Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin, berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena sesungguhnya dunia ini pasti lenyap.”

Salah satu utusan tersebut berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”

“Tidak, sampai semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya.”

Mereka pun segera mereka menggantinya dengan pakaian biasa.

Setelah itu ‘Umar berkata, “Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”

Kata Hurmuzan, “Hai ‘Umar, kami dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu, kamu pun berhasil mengalahkan kami.”

“Kamu dapat mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu, sementara kami berpecah belah.”

Beliau melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”

Kata Hurmuzan, “Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkannya.”

“Tidak usah takut.”

Hurmuzan meminta air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum dengan cangkir seperti ini.”

Kemudian, dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh ketika sedang minum.”

“Tidak apa-apa, minumlah.”

Hurmuzan mulai minum.

‘Umar berkata, “Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia masih haus.”

“Sebetulnya, aku tidak memerlukan air, tetapi aku ingin menenangkan jiwa dengannya.”

“Aku akan membunuhmu.”

“Engkau telah memberiku jaminan keamanan.”

“Kau dusta.”

Anas yang ikut menyaksikan berkata, “Dia benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Celaka kamu, hai Anas? Apakah aku menjamin keamanan orang yang telah membunuh Majza-ah dan Bara’? Kamu harus mendatangkan bukti. Kalau tidak, aku akan menghukummu!”

Anas segera berkata, “Tadi Anda mengatakan, ‘Tidak apa-apa, minumlah sampai kamu menerangkannya kepadaku,’ dan Anda juga mengatakan, ‘Tidak apa-apa, hingga engkau minum’ dan semua yang ada di sana mengatakan hal yang sama.”

‘Umar segera mendekati Hurmuzan dan berkata, “Kamu berhasil menipuku. Demi Allah, aku tidak mau tertipu kecuali jika engkau masuk Islam.”

Akhirnya, Hurmuzan masuk Islam lalu dia diberi 2.000 dirham dan disuruh tetap tinggal di Madinah.

Kata Ibnu Katsir, “Hurmuzan masuk Islam dan baik Islamnya. Dia tidak pernah berpisah dari ‘Umar hingga ‘Umar terbunuh.”

Ada yang meriwayatkan bahwa ketika ‘Umar berhaji, Hurmuzan ada di dekatnya.

Tetapi, sebagian orang ada yang menuduhnya ikut andil dalam pembunuhan ‘Umar, yaitu persekongkolan antara dia dan Jufainah dengan menugaskan Abu Lu’lu’ah untuk membunuh ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Karena itulah, ‘Ubaidullah bin Umar membunuh Hurmuzan dan Jufainah.

Diriwayatkan bahwa ketika ‘Ubaidullah menikamkan pedangnya kepada Hurmuzan, Hurmuzan mengucapkan La ilaha illallah. Adapun Jufainah mati disalib.

Terakhir, Kisra Yazdajird berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya untuk menyelamatkan diri. Berita terakhir menyebutkan bahwa dia bermukim di Isfahan. Namun, dia terbunuh juga di Thahhan.

Setelah itu, pasukan dan para pembesar serta keluarganya tercerai berai di seluruh pelosok, dan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, kekuatan Persia lenyap. Allah subhanahu wa ta’ala sudah meruntuhkan kesombongan mereka dan mencerai-beraikan mereka.

Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai kaum muslimin,

berpegangteguhlah kamu dengan agama ini,

ikutilah petunjuk Nabi kalian.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ibrah

[1] al-Bidayah wan Nihayah 7/79.

[2] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[3] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[4] al-Bidayah wan Nihayah 7/82.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (12) : Perang Jalula

Jatuhnya al-Madain bulan Shafar tahun 16 H, telah meruntuhkan mental bangsa Persia. Lebih-lebih lagi ketika mengetahui bahwa kaum muslimin berhasil memasuki wilayah al-Madain setelah menyeberangi sungai Dajlah (Tigris) dengan selamat, tanpa alat penyeberangan seperti rakit, perahu, atau jembatan. Sebab, semua sarana untuk menyeberang sudah dimusnahkan oleh tentara-tentara Persia itu agar kaum muslimin tidak sampai menyerbu ke dalam ibu kota negara.

Akan tetapi, Allah Mahakuasa. Kehendak-Nya jua yang berlaku. Apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

Kemenangan yang sudah dijanjikan-Nya untuk kaum mukminin melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehendak yang sudah pasti. Oleh karena itu, pasti ada saja jalan untuk mewujudkannya. Dia subhanahu wa ta’ala pula yang memberi taufik kepada pasukan muslimin yang dipimpin oleh Sa’d untuk menyeberangi sungai yang saat itu meluap dan mengalir deras.

Bukankah sungai itu juga salah satu tentara Allah subhanahu wa ta’ala? Ini pula salah satu dari sekian rahasia—sesudah Allah subhanahu wa ta’ala—mengapa kaum muslimin selamat dan tenang berjalan di atas air yang sedang banjir itu.

Itulah sebuah hubungan yang serasi. Ketika manusia-manusianya beriman dan tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semua yang di alam ini menjadi sahabat dan saudaranya. Semua terpanggil untuk membantu saudaranya.

Keadaan ini akan semakin terbukti nanti suatu saat, ketika kaum mukminin menumpas musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala dari kalangan Yahudi. Semua batu dan pepohonan akan memanggil setiap muslimin dan mengadukan bahwa di belakangnya ada Yahudi yang bersembunyi.

Bukan pula suatu hal yang aneh, pasukan muslimin berjalan dengan santainya di atas air sungai yang sedang meluap dan banjir itu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menahan kaki-kaki kuda mereka agar tidak tenggelam. Dia subhanahu wa ta’ala juga yang memerintahkan sungai itu untuk tidak menenggelamkan tentara-tentara-Nya yang sedang berjihad di jalan-Nya. Itu hanyalah sebagian kecil dari kekuasaan-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala, Dia-lah yang menahan langit agar tidak jatuh menimpa bumi dan membinasakan penghuninya. Dia subhanahu wa ta’ala pula yang menahan burung-burung agar terbang melayang di angkasa. Karena itu, tidak sulit bagi Allah subhanahu wa ta’ala menahan para hamba-Nya yang sedang berjuang menegakkan kalimat-Nya agar tinggi mulia sehingga tidak tenggelam atau terbawa aliran sungai yang sedang meluap itu.

Selain itu, berita gembira yang pernah terucap dari lisan ash-Shadiqul Mashduq shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasul (Utusan) Allah yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Apa yang disampaikannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjanjikan bahwa kaum muslimin akan menguras simpanan kekayaan Kisra Persia dan membelanjakannya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Semua itu menambah semangat dan keyakinan semua prajurit muslim yang dipimpin Sa’d, lalu mendorong mereka menyambut tawaran Panglima itu untuk menyeberangi sungai dengan kuda-kuda perang mereka.

Demikianlah, sebagaimana telah diceritakan pada edisi lalu, kaum muslimin berhasil menembus jantung ibu kota dan menguras semua kekayaan istana lalu mengirimnya kepada Amirul Mukminin ‘Umar di Kota Madinah.

Melihat kiriman ghanimah yang luar biasa banyaknya, Khalifah ‘Umar bergumam, “Sungguh, orang-orang yang menunaikan ini semua adalah orang-orang yang tepercaya menjaga amanah.”

‘Ali yang mendengar ucapan itu menimpali, “Anda adalah orang yang menjaga kehormatan, maka rakyat Anda juga menjaga kehormatan mereka.”

 Perang Jalula’

Malu, takut, dan putus asa, serta dendam. Itulah yang dibawa lari oleh tentara Persia yang tersisa meninggalkan al-Madain. Mereka terus melarikan diri hingga ke Jalula’. Sebuah daerah kecil di perbatasan Irak dan Iran, sekitar 185 km sebelah tenggara Baghdad sekarang. Daerah ini adalah basis pertahanan terakhir Kerajaan Sasan dalam menghadapi kaum muslimin.

Di saat-saat bangsa Persia tercerai-berai di wilayah itu, tampillah dua perwira tinggi militer Persia yang sudah merasakan pahitnya kekalahan di Qadisiyah. Keduanya adalah Hurmuzan dan Mahran ar-Razi.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, berbekal dendam yang bergelora, keduanya menyatukan seluruh prajurit Persia yang masih tersisa dan membuat markas di Jalula’. Sebuah lokasi yang sebetulnya sangat strategis, dengan tembok yang tinggi dan kuat di sekelilingnya.

Kedua perwira itu berusaha menyalakan semangat tempur prajurit Persia yang nyaris padam. “Kalau kalian bercerai berai, niscaya tidak akan pernah lagi bersatu padu selamanya. Inilah lokasi yang menentukan di antara kita. Karena itu, mari bersatu, kita serang orang-orang Arab itu. Kalau kita menang, itulah harapan kita; dan kalau kalah, kita sudah berjuang.”

Kemudian, Mahran meminta kepada Yazdajird tambahan pasukan dan bahan makanan pokok. Dia memerintahkan agar para prajurit membuat parit perlindungan yang besar dan dalam, mengitari tembok kota. Dia juga memerintahkan agar dipasang ranjau besi untuk menghalangi kuda-kuda kaum muslimin memasuki kota.

Sementara itu, Panglima Sa’d radhiallahu ‘anhu masih menunggu perintah dari Khalifah  ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dia sudah memberi laporan tentang keadaan al-Madain dan menyampaikan pula bahwa pasukan Persia sudah berkumpul di Jalula’.

Khalifah memerintahkan agar Sa’d tetap di Qadisiyah dan mengirim pasukan tersendiri ke Jalula’, diperkuat oleh Qa’qa’ bin ‘Amr, ‘Amr bin Ma’dikarib, dan Thulaihah.

Setelah menerima perintah, Sa’d menyuruh putra saudaranya, Hasyim bin ‘Utbah, agar bertolak dengan 12.000 personil menuju Jalula’. Di dalam pasukan itu masih banyak sahabat Muhajirin dan Anshar yang ikut.

Pasukan ini adalah ujung tombak yang diarahkan kepada pasukan Persia di Jalula yang kekuatannya 15 kali lipat pasukan muslimin. Bahkan, Mahran membuat taktik perang baru, yaitu dengan cara maraton. Dia membagi dua pasukan Persia, separuhnya dengan kekuatan penuh akan menyerang kaum muslimin, yang lain istirahat.

Penyerangan akan dilakukan bergantian, kalau pasukan pertama menyerang, yang kedua istirahat. Pada gilirannya, pasukan yang tadi istirahat akan menyerang kaum muslimin, begitu seterusnya sampai kaum muslimin—menurut mereka—kehabisan tenaga dan mudah dilumpuhkan.

Sudah tentu, menurut hitungan manusia, lawan kaum muslimin ini tidak seimbang dengan kaum muslimin. Ditambah lagi, pasukan lawan sudah terlatih. Akan tetapi, itu tidak ada gunanya, dan sudah terbukti.

Begitu tiba di Jalula’, mereka kaget melihat pertahanan yang dibuat pasukan Persia. Mereka hanya mempunyai dua pilihan, menang atau kalah. Mahran betul-betul menjadi harapan terakhir bangsa Persia untuk memukul mundur kaum muslimin.

Persiapan tentara Persia luar biasa. Mereka menyiapkan ransum yang cukup untuk hidup berbulan-bulan di dalam kota itu. Semua persediaan lengkap. Kaum muslimin mengepung kota itu hampir tujuh bulan. Setiap ada kesempatan, tentara Persia dengan kekuatan besar menyerang kaum muslimin kemudian kembali ke balik parit perlindungan. Tentu saja, kaum muslimin semakin lama merasakan tekanan dan kepayahan. Mereka dipaksa untuk selalu siaga penuh menyambut serbuan pasukan Persia yang datang dengan kekuatan besar.

Melihat situasi semakin sulit, Hasyim mengirim utusan kepada Panglima Sa’d meminta bantuan. Segera saja dikirim pasukan baru dengan diperkuat oleh Qa’qa, ‘Amr bin Ma’dikarib, dan Thulaihah al-Asadi serta yang lainnya. Masing-masing sama kekuatannya, yakni dengan seribu orang.

 Pukulan Terakhir

Lambat laun, pasukan Persia juga merasa bosan. Melihat ketabahan kaum muslimin yang luar biasa, Mahran mengajak para perwira lainnya bermusyawarah, langkah apa yang harus dilakukan mengakhiri keadaan ini.

Allah Mahakuasa, Dia takdirkan mereka menyetujui untuk menyerang kaum muslimin dengan kekuatan lengkap. Ahad pagi, 15 Dzulqa’dah tahun 16 H, pasukan Persia keluar dari markas mereka dengan kekuatan penuh. Seakan-akan ini adalah pasukan penentu yang akan memusnahkan pasukan muslimin—menurut mereka.

Hasyim mengingatkan, “Kedudukan hari ini ditentukan oleh yang setelahnya. Berbuatlah karena Allah subhanahu wa ta’ala.”

Ucapan ringkas ini cukup menyulut semangat tempur kaum muslimin.

Keduanya saling mendekat dan mulai menyerang. Saking dahsyatnya pertempuran hari itu, seperti hari terakhir Qadisiyah. Tidak ada yang terdengar kecuali teriakan kesakitan atau jerit kematian, dan denting senjata serta desingan panah dan tombak yang dilemparkan. Begitu hebatnya pertempuran, sampai-sampai kaum muslimin menunaikan shalat zhuhur dengan isyarat.

Tidak ada kesempatan buat menata barisan untuk shalat, musuh betul-betul bertekad melenyapkan kaum muslimin. Namun, itulah keimanan. Dalam situasi genting seperti itu, shalat yang merupakan kewajiban indvidu tidak mereka tinggalkan. Padahal, banyak orang di masa kini yang mengaku dirinya muslim, shalat tidak lagi mereka anggap kewajiban, bahkan sering tidak diperhatikan.

Bagaimana mereka akan sukses, dunia akhirat, apabila shalat disia-siakan? Bagaimana mungkin mereka meraih kebahagiaan, kemenangan dan kejayaan, apabila shalat ditinggalkan? Tidakkah kaum muslimin meniru keadaan generasi awal umat ini? Para pendahulu mereka yang saleh?

Nyawa mereka terancam oleh musuh yang mengepung dan menyerang dari semua penjuru. Jika lengah, kepala mereka bisa lepas dan nyawa mereka melayang. Akan tetapi, shalat untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, menunjukkan ketaatan kepada-Nya dan mensyukuri-Nya, tidak mereka lupakan sekejap matapun.

Akan tetapi, memang hanya orang-orang yang masih mempunyai hati yang hidup, sehat, dan bersih serta terisi dengan rasa takut dan harap serta cinta kepada Allah yang akan mampu mengambil pelajaran.

Pertempuran masih berlangsung. Silih berganti pasukan Persia menyerang kaum muslimin. Jika satu kelompok menyerang, yang lain istirahat, dan begitu seterusnya.

Qa’qa’ melihat situasi tersebut dan cepat mengambil keputusan. Kaum muslimin harus bisa memutus jalur balik pasukan Persia menuju benteng perlindungan. Kaum muslimin harus bisa menerobos dan mengambil posisi di belakang pasukan Persia, di antara parit dan tembok benteng.

Dengan lantang, dia berseru, “Seranglah mereka dengan serempak, sampai bisa berbaur dengan mereka.”

Mendengar perintah komandan mereka, kaum muslimin mengerahkan seluruh kemampuan mereka menyerang pasukan Persia. Mereka terus mendesak dan berusaha menerobos agar tiba di pintu parit perlindungan itu.

Dengan mengerahkan segenap kekuatan mereka, Qa’qa’ dan pasukannya mendesak tentara Persia sampai di pintu parit perlindungan di luar tembok kota.

Malam mulai menjulurkan tirainya menyelimuti persada. Bumi mulai gelap dan pasukan saling berjaga karena kegelapan. Qa’qa’ justru ingin perang terus berlanjut agar segera bisa menguasai parit itu dan memutus jalur balik pasukan Persia ke kota.

Dengan lantang Qa’qa’ berseru, “Wahai kaum muslimin, ini Amir (pemimpin) kalian, di pintu parit, segera ke sini. Jangan ada yang menghalangi kalian untuk memasukinya!”

Demi mendengar teriakan itu, kaum muslimin segera membuka jalan dengan menerobos barisan musuh untuk mendekat ke arah Panglima mereka, Hasyim.

Akhirnya, pasukan muslimin berhasil mendekati pintu parit perlindungan itu, dan ternyata mereka melihat Qa’qa’ di sana sudah membuat kocar kacir pasukan Persia. Ranjau-ranjau yang dipasang pasukan Persia justru melumpuhkan kuda-kuda mereka sendiri. Angin kencang bertiup menambah kekacauan di barisan musuh.

Tentara Persia mulai di ambang kekalahan. Mereka melarikan diri tanpa kuda dan dikejar oleh kaum muslimin. Tidak ada yang lolos dari kaum muslimin kecuali yang tidak melarikan diri. Mayat-mayat tentara Persia berserakan di bumi Jalula’, seakan-akan menutupi permukaannya. Karena itulah, ia dinamakan Jalula’.

Kemenangan itu lebih hebat dari Qadisiyah. Rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin juga lebih banyak. Semua dikumpulkan kepada Hasyim dan dikirimkan kepada Panglima Sa’d untuk diteruskan ke Madinah.

Mengetahui kekalahan Persia di Jalula’, Yazdajird lari ke Hulwan bersama pengawalnya.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits