Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah

Banyak yang beranggapan, dzikir berjamaah merupakan persoalan kecil nan klasik yang tak perlu diungkit-ungkit. Begitu ringan lidah itu berucap demikian seolah-olah mereka menganggap sepi keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebagai sebaik-baik teladan.

Lanjutkan membaca Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah

Shalawat-shalawat Bid’ah

Tidak semua shalawat yang dikenal oleh masyarakat merupakan shalawat yang dikenal oleh syariat. Maka sudah semestinya kita mengetahui jenis-jenis shalawat yang tidak ada tuntunannya sama sekali dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini penting mengingat sebagian kaum muslimin banyak mengamalkannya, bahkan melantunkannya melalui nasyid-nasyid.

Lanjutkan membaca Shalawat-shalawat Bid’ah

Mewaspadai Sufi

Sufi, selama ini banyak dipahami sebagai gambaran kesederhanaan, kezuhudan ataupun kehidupan yang nyaris tak tersentuh ‘peradaban’. Menilik sejarahnya, nama sufi sebenarnya nisbat dari sekelompok manusia yang beribadah secara berlebihan, dengan berbagai tata cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lanjutkan membaca Mewaspadai Sufi

Surat Pembaca edisi 7

Biografi Ahli Hadits

Saya mau usul nih, bagaimana kalau dimuat biografi para ahli hadits dari salaful ummah. Sebab saya pernah baca bahwa Ahlus Sunnah juga merujuk tulisan ahli hadits yang dianggap berpaham Asy’ariyyah, Jahmiyyah, dan lainnya seperti Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Menurut saya ini sangat naif sekali, dilihat banyak sekali kitab-kitab beliau yang menjadil rujukan bagi para penuntut ilmu agama. Tolong diluruskan berdasarkan pemahaman salaful ummah dengan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai barometer umat. Barakallahufikum.

Darwin Fitriadi

bat…@bolehmail.com

  • Jawaban Redaksi:

Biografi para ulama insya Allah akan kami tampilkan secara khusus dalam rubrik Biografi, yang dimulai dari para tabi’in, kemudian tabi’ut tabi’in dan para ulama sesudah mereka.

Adanya kalangan Ahlus Sunnah yang merujuk kepada ahli hadits yang berpemahaman Asy’ariyyah atau lainnya, menurut kami -wallahu a’lam- ulama tersebut sesungguhnya tidak berpemahaman demikian. Namun kadang terjatuh dalam beberapa permasalahan pada pemahaman mereka. Hal ini biasa disebut dengan zallatul ‘ulama (ketergelinciran ulama) pada sebagian pendapat. Ulama yang seperti ini tidaklah disebut Asy’ari (berpemahaman Asy’ariyyah). Ataupun bila memang dia seorang Asy’ari, maka penukilan ucapan itu bukan dalam rangka sebagai dalil namun dalam konteks pemaparan pendapat-pendapat manusia dalam masalah tertentu.

Hal yang demikian tentu tidaklah menjadi problem. Dan jika hal itu dilakukan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, maka sama sekali tidak menjadikan cacat bagi Ibnul Qayyim rahimahullah. Apalagi beliau adalah orang yang sangat mengerti ilmu agama, mengetahui mana yang haq dan mana yang batil. Berbeda halnya dengan orang yang tidak mempunyai kemampuan ilmu agama. Sehingga beliau mampu memilih dan memilah antara yang benar dan yang salah. Terlebih setelah membawakan pendapat-pendapat itu, beliau biasanya merajihkan salah satu pendapat yang beliau nilai paling kuat berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Wallahu a’lam.

Bahasa Sarkasme

Setelah membaca beberapa edisi Majalah Asy Syariah yang telah lalu yaitu pada edisi 5 dan 6, ada beberapa sedikit ganjalan yang ada di hati saya yang ingin saya sampaikan kiranya sebagai masukan dan saran sebagai berikut:

  1. Majalah Asy Syariah dalam tema atau tampilan judul awal terkesan memaksakan diri untuk mengadopsi perkembangan jaman atau informasi yang tengah berlangsung di masyarakat, bahkan terkesan kebablasan dalam memberikan judul atau tema yang diangkat, dengan alasan adanya bahasa sarkasme (bombastis?-red) seperti menggugat pemilu (demokrasi?, red), kejahatan penguasa yang hal ini identik kepada peribahasa (?, red) Khawarij dalam bersikap terhadap Ulil Amri menggunakan lisannya yang tentunya itu adalah merupakan kesalahan yang fatal dalam prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. Padahal untuk dakwah salaf untuk saat ini semestinya kita semua tahu kata kunci yang dikedepankan adalah kehati-hatian dalam mendekati sumber fitnah tersebut.
  2. Adapun alasan untuk menjelaskan kesalahan sistemik yang sedang berlangsung semestinya mendapat pertimbangan yang matang dari para asatidz yang bertanggung jawab terhadap majalah ini, tentang apakah hal tersebut memenuhi kepantasan bahasa (syar’i) atau memang merupakan hal yang prioritas untuk dikedepankan. Sehingga dengan demikian jangan sampai ada terlontar ucapan terlanjur salah dalam ralat edisi yang akan datang.
  3. Ada baiknya fokus majalah Asy Syariah ke depan nantinya, lebih baik untuk mengutamakan hal yang paling prioritas untuk disampaikan kepada masyarakat yakni persoalan tentang tauhid dan manhaji yang hal ini adalah merupakan alat vital bagi kelangsungan dakwah salaf.
  4. Adapun untuk merespon keluhan kekinian semestinya adalah bukan dijadikan sebagai bahasan utama atau tema utama melainkan semata menjadi sub bahasan saja, sehingga persoalan ketauhidan dikesampingkan dengan hal yang sifatnya insidentil atau temporer. Semoga saran ini bermanfaat.

Abdurrahman Ats-Tsaqafy

Magelang

  • Jawaban Redaksi:

Perlu diketahui, seluruh tema untuk bahasan utama, sub bahasan, maupun artikel lainnya ditentukan melalui rapat redaksi yang melibatkan seluruh asatidz. Bahkan melalui rapat tersebut, telah disusun semacam silabus untuk 12 edisi (satu tahun). Jadi semua yang diputuskan, insya Allah melalui proses dan pertimbangan yang cukup matang. Tidak ada maksud sama sekali dari redaksi untuk mengesampingkan masalah tauhid yang menjadi inti dakwah para rasul ‘alaihimussalam.

Perlu juga kami tegaskan, segmen yang dituju dari majalah ini adalah masyarakat umum di mana terkadang perlu dimunculkan tema tertentu yang memang sangat mendesak ditampilkan sebagai bekal untuk beramal. Juga dalam rangka meluruskan aqidah yang salah yang terlanjur tertanam. Terlebih jika persoalan tersebut telah mendarah daging atau selama ini salah kaprah dipahami umat.

Jadi persoalannya bukan nilai aktualitasnya, momentum yang pas, atau mengikuti perkembangan isu-isu nasional. Sekali lagi, semua tema yang ditampilkan insya Allah telah ‘digodog’ dengan banyak pertimbangan.
Soal bahasa sarkasme, hal tersebut sangat relatif. Namun tak ada maksud sama sekali dari kami untuk menggunakan idiom-idiom Khawarij (kalau memang bisa disebut demikian) yang mereka memang menghalalkan pemberontakan kepada pemerintah muslim, wallahu a’lam.
Apalagi di kalangan ulama juga biasa menggunakan bahasa semacam ini. Seperti Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim memberikan judul bab di antaranya: ‘Pimpinan-pimpinan yang baik dan pimpinan-pimpinan yang jahat’, ‘Perintah untuk bersabar dalam menghadapi kedzaliman penguasa dan sikap penguasa yang mementingkan harta untuk pribadi’, ‘Keutamaan pimpinan yang adil dan hukuman bagi pimpinan yang dzalim’. Itu semua bersifat umum, tidak tertuju kepada pemerintahan tertentu.

Adapun bahasan tentang tauhid dan manhaj, bisa Anda baca pada setiap edisi Majalah Asy-Syariah pada rubrik Manhaji dan Aqidah. Rubrik-rubrik yang lain pun, bila Anda cermati,  hampir-hampir tidak terlepas dari pembahasan tentang tauhid dan manhaj.

Khutbah Jum’at

Alhamdulillah majalah Asy Syariah sudah banyak memberi manfaat bagi saya khususnya dan kaum muslimin pada umumnya. Penuangan artikel yang sesuai dengan kondisi kehidupan membuat majalah ini memiliki suatu kelebihan tersendiri. Hal ini berimplikasi positif bagi para penuntut ilmu yang sekiranya tidak terdampingi penuh oleh ustadz atau ulama.

Namun saya punya usul bagaimana jika dalam majalah ini diberikan lembar khusus untuk Khutbah Jum’at sekaligus agar mengetahui rukun-rukunnya tentunya sesuai dengan Al-Qur’an was Sunnah. Demikian usul dari saya, sekian.

Muhammad Yani Ibnu Ahmad

yan…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Semoga di waktu mendatang, kami dapat merealisasikan usulan antum. Insya Allah.

Pengantar Redaksi Edisi 7

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Pembaca, ibarat dua sisi mata uang, dakwah dan penentangnya merupakan keniscayaan. Demikian juga dengan dakwah As Sunnah melalui majalah ini. Manakala kemurnian ajaran Nabi ini diangkat, selalu ada pribadi atau kelompok yang terusik. Dan akan selalu ada musuh-musuh dakwah yang menyebarkan kerancuan atas nama Islam untuk menghambat laju dakwah ini.

Namun jika kita merunut kembali sejarah dakwah para Nabi, maka beratnya perjuangan menegakkan kemurnian agama tauhid yang mereka emban saat itu, sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita rasakan saat ini. Inilah di antaranya yang turut membesarkan hati kami.

Oleh karena itu pembaca, barangkali edisi ini merupakan momentum yang tepat untuk kian mengokohkan dakwah As Sunnah di negeri ini. Salah satu caranya, mulai edisi ini dan seterusnya insya Allah, kami akan banyak mengupas pemahaman atau isme tertentu yang sering dikonotasikan sebagai ajaran Islam.
Dan untuk edisi ini, dalam rubrik Manhaji kami mencoba membedah kelompok Tabligh atau yang lebih dikenal di masyarakat sebagai Jamaah Tabligh. Kelompok yang banyak dipengaruhi ajaran sufisme ini, secara lahiriah seolah ‘tak bermasalah’. Namun, sejatinya kelompok ini memiliki banyak penyimpangan yang membahayakan aqidah. Mengapa bisa ‘dituding’ demikian?

Kaitannya dengan tema di atas, di rubrik Kajian Utama akan dibahas seputar dunia tasawuf (sufi), dimana aliran ini banyak mewarnai Jamaah Tabligh. Juga pembahasan tentang shalawat yang banyak berkembang di masyarakat namun sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali dari Rasulullah. Amalan dzikir berjamaah yang kian mendarah daging diamalkan oleh umat bahkan menjadi komoditas dakwah sejumlah dai di Indonesia bisa anda jumpai di rubrik Tafsir.

Di Sakinah juga banyak artikel yang tak kalah ‘seru’. Kajian tentang macam-macam perhiasan yang diperbolehkan dan terlarang masih mengisi kelanjutan dari Rubrik Wanita dalam Sorotan. Juga kajian tentang sikap lemah lembut yang perlu dimiliki oleh suami ketika memimpin bahtera rumah tangga di rubrik Mengayuh Biduk. Dan masih banyak yang lainnya yang dapat anda kaji. Nah pembaca, selamat menyimak!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Al-Ilmu

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah berkata: “Para ulama di muka bumi seperti bintang-bintang di langit. Bila bintang-bintang itu tampak, maka orang-orang mengambil petunjuk dengan bintang-bintang itu. Dan bila bintang-bintang itu tidak terlihat oleh mereka, mereka menjadi bingung.”

Abul Aswad Ad-Duali rahimahullah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari ilmu. Para raja adalah hakim atas manusia sedangkan para ulama adalah hakim atas raja-raja.”

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata:  “Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu’.”

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang yang kedudukannya berada di antara Allah dan hamba-hamba-Nya. Mereka adalah para Nabi dan para ulama.”

(Diambil dari Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, Ibnu Jamaah Al-Kinani)