Pilar-pilar Kekafiran

(dituis oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

Pilar kekafiran ada empat: sombong, dengki, amarah, dan syahwat (keinginan jiwa). Kesombongan menghalangi seseorang untuk tunduk. Dengki menghalanginya untuk menerima nasihat dan memberikannya. Amarah menghalanginya untuk bersikap adil, dan syahwat (keinginan jiwa) menghalanginya untuk konsentrasi dalam ibadah.
Apabila pilar kesombongan tumbang maka akan mudah baginya untuk tunduk. Apabila pilar kedengkian tumbang maka akan mudah baginya menerima nasihat atau menyampaikannya. Apabila pilar amarah tumbang akan mudah baginya bersikap adil dan tawadhu’. Dan apabila pilar syahwat (keinginan jiwa) tumbang maka akan mudah baginya untuk sabar, menjaga kehormatan, dan beribadah.
Dan sungguh, bergesernya gunung dari tempatnya lebih mudah dari bergesernya empat perkara tersebut dari orang yang terjangkitinya. Terlebih bilamana keempatnya telah menjadi bangunan yang kokoh, karakter serta sifat yang mapan. Jika demikian maka amalnya tidak akan tegak sama sekali selama sifat itu menyertainya, tidak pula jiwanya akan suci selama ia menyandangnya.
Setiap kali ia sungguh-sungguh dalam beramal maka keempatnya akan merusaknya, dan seluruh problem itu lahir dari keempatnya. Jika yang demikian telah mapan dalam kalbu, itu akan memperlihatkan kepadanya kebatilan dalam penampilan yang benar dan sebaliknya kebenaran dalam penampilan kebatilan, yang baik dalam penampilan yang mungkar dan yang mungkar dalam penampilan yang baik. Dunia pun mendekatinya dan akhirat menjauhinya.
Apabila engkau perhatikan kekafiran umat-umat terdahulu, engkau akan dapati bahwa itu bermula darinya dan atas dasar itu pula azab menimpa. Ringan dan kerasnya azab pun tergantung kepada ringan ataupun kuatnya keempat perkara tersebut. Maka barangsiapa membuka peluang untuknya berarti ia telah membuka segala pintu kejelekan, cepat maupun lambat. Dan barangsiapa tidak memberinya peluang untuk dirinya berarti ia telah menutup pintu-pintu kejelekan atas dirinya. Karena keempatnya menghambat dari keikhlasan, ketundukan, taubat, menerima kebenaran, memberi nasihat untuk muslimin serta tawadhu’ kepada Allah l meskipun makhluk.
Sumber keempatnya adalah kebodohan seseorang terhadap hakikat dirinya. Karena sesungguhnya bila dia tahu Rabbnya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya serta tahu tentang dirinya dengan berbagai kekurangan dan cacatnya, tentu dia tidak akan marah demi jiwanya dan tidak akan iri kepada seorangpun atas apa yang Allah l karuniakan kepadanya. Karena sejatinya dengki adalah salah satu bentuk permusuhan terhadap Allah l, sebab dia tidak menyukai nikmat Allah l kepada seorang hamba padahal Allah menyukainya. Ia suka bila nikmat tersebut hilang dari hamba itu sementara Allah l membencinya. Berarti, ia menentang Allah l pada qadha dan qadar-Nya serta pada kecintaan serta kebencian-Nya. Oleh karenanya iblis adalah musuh-Nya yang sebenar-benarnya, karena dosanya disebabkan sombong dan dengki.
Maka mencabut dua sifat ini adalah dengan cara mengenal Allah l dan mentauhidkan-Nya, ridha kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. Sedang mencabut sifat amarah adalah dengan cara mengenal hakikat dirinya dan bahwasanya dirinya tidak punya hak dibela dengan kemarahan, tidak pantas membalas dendam demi dirinya. Karena yang demikian berarti mengutamakan jiwanya dengan rasa ridha kepadanya, marah demi jiwanya yang mengalahkan hak pencipta-Nya.
Dan cara yang termanjur untuk menepis cacat ini adalah dengan cara membiasakan jiwanya marah karena Allah l dan ridha karena-Nya. Sehingga sedikit saja dari kemarahan atau ridha karena Allah l masuk kepadanya maka ia bertindak dengannya sebagai ganti kemarahan dan keridhaan demi jiwanya.
Adapun syahwat (keinginan jiwa) maka obatnya adalah ilmu yang benar serta menyadari bahwa memenuhi syahwatnya merupakan salah satu sebab terhambatnya dia dari kesenangan jiwanya. Dan pembelaannya terhadap syahwatnya termasuk sebab terbesar tersambungnya sebab itu dengan segala keinginan jiwanya. Sehingga setiap kali engkau membuka pintu syahwat pada jiwamu berarti engkau sedang berusaha menghambat jiwamu dari kesenangan jiwamu yang (hakiki). Dan setiap kali engkau tutup pintu tersebut artinya engkau sedang mengantarkannya kepada kesenangan jiwa dengan sesempurna-sempurnanya.
Adapun amarah itu sesungguhnya bagaikan binatang buas. Jika sang pemilik melepaskannya maka ia akan memakannya. Sementara syahwat itu bagaikan api, bila pemiliknya menyalakannya maka akan membakarnya. Sombongmu itu bagaikan merebut kerajaan dari seorang raja, bila si raja tidak membunuhmu maka dia akan mengusirmu dari kerajaannya. Dan hasad bagaikan memusuhi orang yang lebih kuat darimu. Orang yang bisa mengalahkan syahwat dan amarahnya maka setan akan takut walaupun dari bayangannya. Namun barangsiapa dikalahkan oleh syahwat dan amarahnya, dia akan takut dengan khayalannya.
(diterjemahkan oleh Qomar ZA dari kitab Al-Fawa`id hal. 177-178)

Menepis Bisikan Setan

Tanya:
Apakah termasuk musibah dan ujian dari Allah l bagi seorang hamba bila ia diganggu oleh bisikan-bisikan untuk berpikir menanyakan keberadaan Allah l dan penciptaan-Nya. Juga bisikan yang menakut-nakuti dia akan hal-hal yang tidak disukai atau takut kehilangan yang dicintai, dijenuhkan dengan banyaknya aturan syariat yang dibebankan kepadanya sehingga hal tersebut membuatnya sedih, lemas, dan mengganggu ibadahnya. Namun ia tetap berusaha untuk taat kepada Allah l dan ajaran Nabi-Nya.
Natsir-Jayapura
Jawab:
Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah.
Apa yang anda alami adalah bisikan-bisikan setan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah n dalam hadits Abu Hurairah z:
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ. -وَفِي لَفْظٍ: فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ-
“Setan akan mendatangi salah seorang dari kalian lalu membisikkannya: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Sampai kemudian ia akan membisikkan: ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika dia sampai pada tingkatan itu maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah1 dan berhenti.” (Muttafaq ‘alaih)2
Dalam riwayat Muslim yang lain dengan lafadz: “Maka hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.’”
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Hadits ini menjelaskan bahwa setan pasti akan melontarkan pertanyaan yang batil tersebut. Baik sekedar bisikan belaka (yang disusupkan ke dalam qalbu) atau melalui lisan para setan dari kalangan manusia dan ahlul ilhad (orang-orang mulhid yang menentang dan mencela agama). Dan faktanya adalah seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah n karena dua hal ini benar-benar terjadi.
Setan selalu memasukkan bisikan-bisikannya ke dalam qalbu seseorang yang tidak memiliki bashirah (ilmu) dengan pertanyaan yang batil ini. Demikian pula ahlul ilhad, senantiasa melontarkan syubhat ini, yang merupakan sebatil-batil syubhat.
Mereka juga senantiasa berbicara dan membahas tentang penyebab terciptanya alam serta materi penciptaannya dengan pembahasan-pembahasan yang lemah dan tidak masuk akal.
Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah n membimbing bagaimana cara menangkal pertanyaan ini, yaitu dengan tiga cara:
1. Berhenti darinya karena Allah l memberi batasan pada akal dan pikiran yang tidak akan mampu dilampaui. Tidak mungkin akal dan pikiran bisa melampaui batasan tersebut karena itu adalah sesuatu yang mustahil. Upaya untuk mencapai sesuatu yang mustahil adalah perbuatan batil dan merupakan kedunguan. Sementara berantainya pencipta3 tanpa batas akhir merupakan perkara yang paling mustahil. Karena setiap makhluk memiliki permulaan dan batas akhir, dan mungkin saja banyak dari perkara-perkara makhluk yang berantai penciptaannya hingga berakhir pada Allah l yang menciptakan seluruh makhluk, sifat, materi, dan unsur-unsurnya. Sebagaimana firman Allah l:
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
“Dan sesungguhnya kepada Rabb-mulah segala sesuatu berakhir.” (An-Najm: 42)
Jika jangkauan akal sudah sampai pada batas terakhir (yaitu bahwa Allah l yang menciptakan seluruh makhluk), maka dia akan berhenti dan menyerah (tidak mampu memikirkan lebih lanjut). Karena Allah l adalah Dzat yang Awwal (Yang Pertama dan tidak berpermulaan), yang tidak ada sesuatupun sebelumnya dan Dia-lah yang akhir dan tidak ada akhirnya, yang tidak ada sesuatupun setelahnya.4
Jadi keberadaan Allah l adalah sebagai Dzat yang awal yang mendahului segala sesuatu dan tidak memiliki batas permulaan, sejauh manapun kita menarik waktu dan keadaan ke belakang yang bisa ditakdirkan. Karena Dia-lah Dzat yang menciptakan keberadaan seluruh waktu dan keadaan serta akal yang merupakan bagian dari kekuatan (kemampuan) manusia. Jika demikian, bagaimana mungkin akal akan berupaya memaksakan diri dalam memikirkan pertanyaan yang batil tersebut (siapa yang menciptakan Allah l). Yang wajib bagi akal dalam masalah ini adalah berhenti dan mengakhiri apa yang dipikirkannya.
2. Memohon perlindungan kepada Allah l dari godaan setan.5 Karena ini merupakan was-was dan bisikan setan yang dimasukkan ke dalam qalbu manusia guna menimbulkan syak (keraguan) dalam mengimani Rabb-nya. Wajib bagi setiap hamba jika merasakan hal demikian untuk memohon perlindungan kepada Allah l dari godaan setan dengan kuat dan sungguh-sungguh. Niscaya Allah l akan mengusir setan itu hingga menjauh darinya dan lenyaplah was-was dan bisikannya yang batil.
3. Menangkalnya dengan iman kepada Allah l dan para rasul. Karena sesungguhnya Allah l dan para rasul-Nya telah mengabarkan bahwa Dia-lah yang awal yang tiada sesuatupun sebelumnya. Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki keesaan, satu-satunya pencipta yang menciptakan segala sesuatu yang ada di masa lalu dan masa yang akan datang.
Keimanan yang benar disertai keyakinan yang kokoh kepada Allah l dan rasul-Nya akan menangkal seluruh syubhat (pemikiran rancu) yang bertentangan dengan iman. Karena kebenaran akan menangkal kebatilan dan syak (keraguan) yang dicampakkan oleh setan tidak akan bisa menggoyahkan keyakinan yang kokoh.
Inilah tiga perkara yang diajarkan oleh Rasulullah n yang membatalkan syubhat-syubhat yang senantiasa diserukan oleh ahlul ilhad dengan ungkapan-ungkapan yang beraneka macam. Alhamdulillah, perkara yang pertama akan mengakhiri kejelekan tersebut saat itu juga. Perkara yang kedua akan mengakhiri sebab yang akan menyeret kepada kejelekan tersebut dan perkara yang ketiga akan membentengi serta melindungi dari segala perkara yang bertentangan dengan iman.
Ketiga perkara ini merupakan kumpulan sebab-sebab yang akan menangkal setiap syubhat yang bertentangan dengan iman6. Maka (yang demikian ini) sangatlah patut dilakukan dalam rangka menangkal setiap syubhat dan kesamaran yang merongrong iman. Hendaklah seorang hamba menangkalnya saat itu juga dengan hujjah-hujjah yang menunjukkan batilnya serta menetapkan al-haq yang tidak ada selainnya kecuali kesesatan.
Kemudian berlindung kepada Allah l dari setan yang senantiasa mencampakkan ke fitnah syubhat dan syahwat ke dalam qalbu manusia untuk menggoyahkan keimanan dan menjerumuskan manusia ke dalam berbagai kemaksiatan. Dengan kesabaran7 dan keyakinan yang dimiliki, seorang hamba akan selamat dari fitnah-fitnah syubhat dan syahwat. Semoga Allah l memberi taufik dan perlindungan kepada kita.
(Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, hal. 18-20)

Catatan Kaki:

1 Yaitu dengan membaca:
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terlaknat.” (pen)
2 Shahih Al-Bukhari (no. 3276) dan Shahih Muslim (no. 134).
3 Artinya bahwa sang pencipta diciptakan oleh pencipta sebelumnya tanpa batas akhir.
4 Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah dalam Shahih Muslim (no. 2713). (pen)
5 Lihat catatan kaki no. 1.
6 Penjelasan berikut ini juga mengandung jawaban terhadap perkara ke-2 dan ke-3 yang dialami oleh sang penanya.
7 Yaitu bersabar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah, bersabar dalam meninggalkan larangan-larangan-Nya dan bersabar dalam menerima takdir Allah yang digariskan untuknya.

Hukum Bayi Tabung

Tanya:
Bagaimana menurut pandangan syariah tentang bayi tabung?
Arif Joko Wuryanto
Jawab:
Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah n.
Bayi tabung merupakan produk kemajuan teknologi kedokteran yang demikian canggih yang ditemukan oleh pakar kedokteran Barat yang notabene mereka adalah kaum kuffar (orang kafir). Bayi tabung adalah proses pembuahan sperma dengan ovum, dipertemukan di luar kandungan pada satu tabung yang dirancang secara khusus. Setelah terjadi pembuahan lalu menjadi zygot, kemudian dimasukkan ke dalam rahim sampai dilahirkan. Jadi prosesnya tanpa melalui jima’ (hubungan suami istri).
Pertanyaan ini telah ditanyakan kepada salah seorang imam abad ini, yaitu Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani t. Maka beliau menjawab:
“Tidak boleh, karena proses pengambilan mani (sel telur wanita) tersebut berkonsekuensi minimalnya sang dokter (laki-laki) akan melihat aurat wanita lain. Dan melihat aurat wanita lain (bukan istri sendiri) hukumnya adalah haram menurut pandangan syariat, sehingga tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.
Sementara tidak terbayangkan sama sekali keadaan darurat yang mengharuskan seorang lelaki memindahkan maninya ke istrinya dengan cara yang haram ini. Bahkan terkadang berkonsekuensi sang dokter melihat aurat suami wanita tersebut, dan ini pun tidak boleh.
Lebih dari itu, menempuh cara ini merupakan sikap taklid terhadap peradaban orang-orang Barat (kaum kuffar) dalam perkara yang mereka minati atau (sebaliknya) mereka hindari.
Seseorang yang menempuh cara ini untuk mendapatkan keturunan dikarenakan tidak diberi rizki oleh Allah berupa anak dengan cara alami (yang dianjurkan syariat), berarti dia tidak ridha dengan takdir dan ketetapan Allah l atasnya.
Jikalau saja Rasulullah n menganjurkan dan membimbing kaum muslimin untuk mencari rizki berupa usaha dan harta dengan cara yang halal, maka lebih-lebih lagi tentunya Rasulullah n menganjurkan dan membimbing mereka untuk menempuh cara yang sesuai dengan syariat (halal) dalam mendapatkan anak.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah hal. 288)

Sunnah-sunnah Fithrah yang Lain

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Pada edisi sebelumnya (edisi 29) telah dijelaskan berbagai hal tentang khitan. Berikut adalah bahasan tentang sunnah-sunnah fithrah yang lain.

2. ISTIHDAD
Istihdad adalah mencukur rambut kemaluan. Perbuatan ini diistilahkan istihdad karena mencukurnya dengan menggunakan hadid yaitu pisau cukur. (Ihkamul Ahkam fi Syarhi ‘Umdatil Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab fil Madzi wa Ghairihi)
Dalam hadits Ibnu ‘Umar c yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari, hadits ‘Aisyah dan hadits Anas yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim, istihdad ini disebutkan dengan lafadz: حَلْقُ الْعَانَةِ (mencukur ‘anah). Pengertian ‘anah adalah rambut yang tumbuh di atas kemaluan dan sekitarnya.
Istihdad hukumnya sunnah. Tujuannya adalah untuk kebersihan. Dan istihdad ini juga disyariatkan bagi wanita, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:
أَمْهِلُوْا حَتَّى تَدْخُلُوا لَيْلاً –أَيْ عِشَاءً– لِكَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيْبَةُ
“Pelan-pelanlah, jangan tergesa-gesa (untuk masuk ke rumah kalian) hingga kalian masuk di waktu malam –yakni waktu Isya’– agar para istri yang ditinggalkan sempat menyisir rambutnya yang acak-acakan/kusut dan sempat beristihdad (mencukur rambut kemaluan).” (HR. Al-Bukhari no. 5245 dan Muslim)
Rasulullah n berkata kepada Jabir bin Abdillah z:
إِذَا دَخَلْتَ لَيْلاً فَلاَ تَدْخُلْ عَلَى أَهْلِكَ حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيْبَةُ وتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ
“Apabila engkau telah masuk ke negerimu (sepulang dari bepergian/safar) maka janganlah engkau masuk menemui istrimu hingga ia sempat beristihdad dan menyisir rambutnya yang acak-acakan/kusut.” (HR. Al-Bukhari no. 5246)
Yang utama rambut kemaluan tersebut dicukur sampai habis tanpa menyisakannya. Dan dibolehkan mengguntingnya dengan alat gunting, dicabut, atau bisa juga dihilangkan dengan obat perontok rambut, karena yang menjadi tujuan adalah diperolehnya kebersihan. (Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/239, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 1/342, Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fashl Hukmul Istihdad)
Al-Imam Ahmad t ketika ditanya tentang boleh tidaknya menggunakan gunting untuk menghilangkan rambut kemaluan, beliau menjawab, “Aku berharap hal itu dibolehkan.” Namun ketika ditanya apakah boleh mencabutnya, beliau balik bertanya, “Apakah ada orang yang kuat menanggung sakitnya?”
Abu Bakar ibnul ‘Arabi t berkata, “Rambut kemaluan ini merupakan rambut yang lebih utama untuk dihilangkan karena tebal, banyak dan kotoran bisa melekat padanya. Beda halnya dengan rambut ketiak.”
Waktu yang disenangi untuk melakukan istihdad adalah sesuai kebutuhan dengan melihat panjang pendeknya rambut yang ada di kemaluan tersebut. Kalau sudah panjang tentunya harus segera dipotong/dicukur. (Al-Minhaj 3/140, Fathul Bari 10/422, Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fashl Hukmul Istihdad)
Pendapat yang masyhur dari jumhur ulama menyatakan yang dicukur adalah rambut yang tumbuh di sekitar zakar laki-laki dan kemaluan wanita. (Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/239)
Adapun rambut yang tumbuh di sekitar dubur, terjadi perselisihan pendapat tentang boleh tidaknya mencukurnya. Ibnul ‘Arabi t mengatakan bahwa tidak disyariatkan mencukurnya, demikian pula yang dikatakan Al-Fakihi dalam Syarhul ‘Umdah. Namun tidak ada dalil yang menjadi sandaran bagi mereka yang melarang mencukur rambut yang tumbuh di dubur ini. Adapun Abu Syamah berpendapat, “Disunnahkan menghilangkan rambut dari qubul dan dubur. Bahkan menghilangkan rambut dari dubur lebih utama karena dikhawatirkan di rambut tersebut ada sesuatu dari kotoran yang menempel, sehingga tidak dapat dihilangkan oleh orang yang beristinja (cebok) kecuali dengan air dan tidak dapat dihilangkan dengan istijmar (bersuci dari najis dengan menggunakan batu).” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menguatkan pendapat Abu Syamah ini. (Fathul Bari, 10/422)
Mencukur rambut kemaluan ini tidak boleh bahkan haram dilakukan oleh orang lain, terkecuali orang yang dibolehkan menyentuh dan memandang kemaluannya seperti suami dan istri. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 1/342, Fathul Bari 10/423)

3. MENCABUT RAMBUT KETIAK
Mencabut rambut ketiak disepakati hukumnya sunnah dan disenangi memulainya dari ketiak yang kanan, dan bisa dilakukan sendiri atau meminta kepada orang lain untuk melakukannya. Afdhal-nya rambut ini dicabut, tentunya bagi yang kuat menanggung rasa sakit. Namun bila terpaksa mencukurnya atau menghilangkannya dengan obat perontok maka tujuannya sudah terpenuhi. Ibnu Abi Hatim dalam bukunya Manaqib Asy-Syafi’i meriwayatkan dari Yunus bin ‘Abdil A’la, ia berkata, “Aku masuk menemui Al-Imam Asy-Syafi’i t dan ketika itu ada seseorang yang sedang mencukur rambut ketiaknya. Beliau berkata, ‘Aku tahu bahwa yang sunnah adalah mencabutnya, akan tetapi aku tidak kuat menanggung rasa sakitnya’.” (Al-Minhaj 3/140, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 1/341, Fathul Bari 10/423, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/244)
Harb berkata, “Aku katakan kepada Ishaq: ‘Mencabut rambut ketiak lebih engkau sukai ataukah menghilangkannya dengan obat perontok?’ Ishaq menjawab, ‘Mencabutnya, bila memang seseorang mampu’.” (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fashl Hukmu Natful Ibthi)

4. MEMOTONG KUKU
Hukumnya sunnah, tidak wajib. Dan yang dihilangkan adalah kuku yang tumbuh melebihi ujung jari, karena kotoran dapat tersimpan/tersembunyi di bawahnya dan juga dapat menghalangi sampainya air wudhu. Disenangi untuk melakukannya dari kuku jari jemari kedua tangan, baru kemudian kuku pada jari-jemari kedua kaki. Tidak ada dalil yang shahih yang dapat menjadi sandaran dalam penetapan kuku jari mana yang terlebih dahulu dipotong. Ibnu Daqiqil Ied t berkata, “Orang yang mengatakan sunnahnya mendahulukan jari tangan daripada jari kaki ketika memotong kuku perlu mendatangkan dalil, karena kemutlakan dalil anjuran memotong (tanpa ada perincian mana yang didahulukan) menolak hal tersebut.” Namun mendahulukan bagian yang kanan dari jemari tangan dan kaki ada asalnya, yaitu hadits ‘Aisyah x yang menyatakan bahwa Rasulullah n menyenangi memulai dari bagian kanan. (Lihat Fathul Bari 10/425, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/241, Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fashl Hukmu Taqlimul Azhfar)
Tidak ada dalil yang shahih tentang penentuan hari tertentu untuk memotong kuku, seperti hadits:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ أَظْفَارِهِ وَشَارِبِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
“Rasulullah n menyenangi memotong kuku dan kumisnya pada hari Jum’at.”
Hadits ini merupakan salah satu riwayat mursal dari Abu Ja’far Al-Baqir, sementara hadits mursal termasuk hadits dhaif. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Dengan demikian memotong kuku dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan. Al-Hafizh t menyatakan melakukannya pada setiap hari Jum’at tidaklah terlarang, karena bersungguh-sungguh membersihkan diri pada hari tersebut merupakan perkara yang disyariatkan. (Fathul Bari, 10/425)
Akan tetapi kuku-kuku tersebut jangan dibiarkan tumbuh lebih dari 40 hari karena hal itu dilarang, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik z, dia berkata:
وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقـْلِيْـمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً
“Ditetapkan waktu bagi kami dalam memotong kumis, menggunting kuku, mencabut rambut ketiak dan mencukur rambut kemaluan, agar kami tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 598)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Pendapat yang terpilih adalah ditetapkan waktu 40 hari sebagaimana waktu yang ditetapkan oleh Rasulullah n, sehingga tidak boleh dilampaui. Dan tidaklah teranggap menyelisihi sunnah bagi orang yang membiarkan kuku/rambut ketiak dan kemaluannya panjang (tidak dipotong/dicukur) sampai akhir dari waktu yang ditetapkan.” (Nailul Authar, 1/163)
Adapun Al-Imam An-Nawawi t mengatakan, “Makna hadits di atas adalah tidak boleh meninggalkan perbuatan yang disebutkan melebihi 40 hari. Bukan maksudnya Rasulullah n menetapkan waktu untuk mereka agar membiarkan kuku, rambut ketiak dan rambut kemaluan tumbuh selama 40 hari.” (Al-Minhaj 3/140, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 1/340)
Dalam memotong kuku boleh meminta orang lain untuk melakukannya, karena hal ini tidaklah melanggar kehormatan diri. Terlebih lagi bila seseorang tidak bisa memotong kuku kanannya dengan baik karena kebanyakan orang tidak dapat menggunakan tangan kirinya dengan baik untuk memotong kuku, sehingga lebih utama baginya meminta orang lain melakukannya agar tidak melukai dan menyakiti tangannya. (Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib, 1/243)

Faidah
Apakah bekas potongan kuku itu dibuang begitu saja atau dipendam?
Al-Hafizh t menyatakan bahwa Al-Imam Ahmad t pernah ditanya tentang hal ini, “Seseorang memotong rambut dan kuku-kukunya, apakah rambut dan kuku-kuku tersebut dipendam atau dibuang begitu saja?” Beliau menjawab, “Dipendam.” Ditanyakan lagi, “Apakah sampai kepadamu dalil tentang hal ini?” Al-Imam Ahmad t menjawab, “Ibnu ‘Umar memendamnya.”
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Wa`il bin Hujr disebutkan bahwa Nabi n memerintahkan untuk memendam rambut dan kuku-kuku. Alasannya, kata Al-Imam Ahmad t, “Agar tidak menjadi permainan tukang sihir dari kalangan anak Adam (dijadikan sarana untuk menyihir, pent.).” Al-Hafizh t juga berkata, “Orang-orang yang berada dalam madzhab kami (madzhab Asy-Syafi’i, pent.) menyenangi memendam rambut dan kuku (karena rontok atau sengaja dipotong, pent.) karena rambut dan kuku tersebut merupakan bagian dari manusia. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 10/425)

5. MEMOTONG KUMIS
Kumis adalah rambut yang tumbuh di atas bibir bagian atas. Telah datang perintah dari Rasulullah n untuk memotong kumis dan tidak membiarkannya terus tumbuh hingga menutupi kedua bibir. Ibnu ‘Umar c menyampaikan dari Rasulullah n:
أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot (sebagaimana adanya tanpa dikurangi dan dipotong).” (HR. Muslim no. 599)
Memotong kumis dan memanjangkan jenggot –atau membiarkannya tumbuh apa adanya– merupakan amalan yang dilakukan untuk menyelisihi orang-orang musyrikin dan Majusi (para penyembah api). Karena kebiasaan mereka adalah membiarkan kumis tumbuh hingga menutupi bibir, sementara jenggot mereka cukur. Perintah menyelisihi mereka ini dinyatakan oleh Rasulullah n:
خَالِفُوا الْمُشْرِكِيْنَ، أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى
“Selisihilah orang-orang musyrikin, potonglah kumis dan biarkanlah jenggot (sebagaimana adanya tanpa dikurangi dan dipotong).” (HR. Muslim no. 600)
Abu Hurairah z berkata, “Rasulullah n bersabda:
جُزُّو الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوْسَ
“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot (sebagaimana adanya tanpa dikurangi dan dipotong), selisihilah orang-orang Majusi.” (HR. Muslim no. 602)
Dengan demikian dalam masalah memotong kumis dan memanjangkan jenggot ini, ada dua tujuan:
1.    Menyelisihi kebiasaan orang ‘ajam (non Arab), dalam hal ini orang-orang Majusi/Persia ataupun musyrikin.
2.    Menjaga kebersihan daerah bibir dan sekitarnya yang merupakan tempat masuknya makanan dan minuman. Al-Imam Ath-Thahawi t menyatakan “Memotong kumis dilakukan dengan mengambil/memotong kumis yang panjangnya melebihi bibir, sehingga tidak mengganggu ketika makan dan tidak terkumpul kotoran di dalamnya.”
Batasan kumis yang dipotong adalah dipotong sampai tampak ujung bibir, bukan menipiskan dari akarnya. Sementara hadits yang menyebutkan: أَحْفُوا الشَّوَارِبَ (“Potonglah kumis…”) yang dimaukan adalah memotong bagian kumis yang panjang hingga tidak menutupi kedua bibir.
Memang dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Mayoritas ulama Salaf berpendapat kumis itu dicukur sampai habis sama sekali, berdalil dengan dzahir hadits Rasulullah n:
أَحْفُوا وَانْهَكُوا
“Potonglah kumis dan habiskanlah.”  (HR. Al-Bukhari no. 5893)
Ini merupakan pendapat orang-orang Kufah.
Namun kebanyakan mereka berpendapat dilarang mencukur kumis dan menghabiskannya sama sekali, demikian pendapat yang kedua. Pendapat yang kedua ini dipegangi Al-Imam Malik v. Bahkan beliau memandang mencukur kumis sampai habis adalah perbuatan mencincang dan beliau memerintahkan agar pelakunya diberi ganjaran sebagai pelajaran. Dengan demikian, menurut pendapat yang kedua ini kumis tidak dihabiskan sama sekali tapi diambil/dipotong sesuai dengan kadarnya yang dengannya akan tampak ujung bibir (tidak tertutup kumis).
Sebagian ulama, seperti Ath-Thabari, punya pendapat lain. Beliau menganggap kedua-duanya boleh, sehingga seseorang boleh memilih apakah ia ingin mencukur habis kumisnya atau membiarkannya namun tidak sampai menutupi bibir (dipotong bagian yang berlebihan). Beliau berkata, “As-Sunnah menunjukkan bahwa kedua perkara tersebut dibolehkan dan tidak saling bertentangan. Karena lafadz القَصُّ1 menunjukkan mengambil sebagian, sedangkan lafadz اْلإِحْفَاء2 menunjukkan mengambil seluruhnya. Berarti keduanya tsabit (ada perintah/tuntunannya) sehingga seseorang diberi pilihan untuk melakukan apa yang diinginkannya.”
Ibnu ‘Abdil Bar t berkata, “اْلإِخْفَاءُ bisa dimungkinkan maknanya mengambil keseluruhan. Namun القَصُّ mufassar yakni menerangkan/menjelaskan apa yang dimaukan. Dan apa yang menerangkan/menjelaskan lebih dikedepankan dari yang global.”3

Hukum Memanjangkan Jenggot
Hukum memanjangkan jenggot adalah wajib dan haram mencukurnya sebagaimana dipahami dari dalil yang banyak. Al-Imam Al-Albani t menerangkan sisi pendalilan wajibnya memanjangkan jenggot ini, antara lain:
1.    Adanya perintah dari Rasulullah n untuk memanjangkannya dan membiarkannya apa adanya. Sementara hukum asal dari perintah beliau adalah wajib, berdasarkan ayat:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ
“Hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyelisihi perintah beliau dari tertimpa fitnah atau mereka ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
2.    Haramnya laki-laki menyerupai (tasyabbuh) dengan wanita, sebagaimana tersebut dalam hadits:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمتُشَبِّهِيْنِ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)
Sementara, bila seorang lelaki mencukur jenggotnya berarti ia menyerupai wanita dalam penampilan dzahirnya. Dengan begitu, berarti haram mencukur jenggot dan wajib memeliharanya.
3.    Allah l melaknat an-namishat yaitu wanita yang mencabut/mencukur rambut alisnya dengan tujuan untuk berhias, seperti dalam hadits dari Ibnu Mas’ud z secara marfu’:
لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ
“Allah melaknat wanita yang mentato dan minta ditato, wanita yang mencabut rambut alisnya dan wanita yang minta dicabut, wanita yang mengikir giginya untuk keindahan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 5939 dan Muslim no. 2125)
Sementara orang yang mencukur jenggotnya bertujuan ingin tampil bagus menurut anggapannya. Padahal dengan berbuat demikian, ia telah mengubah ciptaan Allah l, sehingga ia termasuk dalam hukum an-namishat, tidak ada bedanya, kecuali hanya dalam lafadz/sebutan.
4. Nabi n menjadikan memanjangkan jenggot ini termasuk perkara fithrah sebagaimana menggunting kuku, mencukur rambut kemaluan, dan selainnya. (Tamamul Minnah hal. 82)
Perintah memanjangkan jenggot ini tentunya dikhususkan bagi lelaki, karena bila ada seorang wanita tumbuh rambut pada dagunya maka disenangi baginya untuk mencukurnya, kata Al-Imam An-Nawawi t. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 1/343, Fathul Bari, 10/431)
Sebagaimana dinyatakan dalam edisi terdahulu bahwa sunnah-sunnah fithrah tidak sebatas lima perkara yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z. Karena dalam hadits lain seperti dalam hadits ‘Aisyah x disebutkan sunnah-sunnah fithrah yang lain selain lima perkara yang telah dijelaskan di atas. Ummul Mukminin ‘Aisyah x berkata, “Rasulullah n bersabda:
عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ. قَالَ زَكَرِيَّاءُ: قَالَ مُصْعَبٌ: وَنَسِيْتُ الْعَاشِرَةَ، إِلاَّ أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةُ.
“Sepuluh perkara berikut ini termasuk perkara fithrah yaitu memotong kumis, memanjang jenggot, siwak, istinsyaq, memotong kuku, mencuci ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan dan istinja.” Zakariyya berkata: “Mush’ab berkata, ‘Aku lupa yang kesepuluh, kecuali kalau dimasukkan madhmadhah (berkumur-kumur)’.” (HR. Muslim no. 603)
Demikian tuntunan yang indah dari agama ini. Namun kebanyakan orang tidak mengetahui serta tidak mengamalkannya. Bahkan mereka melakukan yang sebaliknya karena taqlid buta kepada orang-orang kafir.
Dengan begitu apa yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini dengan memanjangkan kuku dan apa yang dilakukan oleh kaum lelaki dengan memanjangkan kumis merupakan perkara yang dilarang secara syariat dan dianggap buruk/jelek oleh akal dan perasaan. Sungguh agama Islam ini tidaklah memerintahkan kecuali kepada segala yang sifatnya indah, dan Islam tidaklah melarang kecuali dari perbuatan yang jelek/buruk. Namun taqlid buta kepada Barat telah membalikkan hakikat, sehingga yang jelek dianggap bagus sementara yang bagus menurut perasaan, akal, dan syariat justru dijauhi. (Taisirul ‘Allam, 1/79)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
الْفِطْرَةُ خَمْسٌ –أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ– الْخِتَانُ وَاْلاِسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ اْلإِبْطِ وَتَقْلِيْمُ اْلأََظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ
2 Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحىَ

Nikmat Allah Sukurilah dan Ujiannya Sabarilah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi)

Demikian banyak nikmat Allah l. Tidak ada satupun manusia yang bisa menghitungnya, meski menggunakan alat secanggih apapun. Pernahkah kita berpikir, untuk apa Allah l memberikan demikian banyak nikmat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan nikmat-nikmat tersebut atau ada tujuan lain?

Luasnya Pemberian Allah l
Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah l kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah l kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah l. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah l di dalam firman-Nya:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedzaliman yang paling besar.” (Luqman: 13)
Kendati demikian, Allah l tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu untuk bertaubat. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi hamba ini untuk:
–    Ingkar dan kufur kepada Allah l serta menyamakan Allah l dengan makhluk-Nya yang sangat butuh kepada-Nya.
–    Menyombongkan diri serta angkuh dengan tidak mau melaksanakan perintah Allah l dan meninggalkan larangan-larangan-Nya atau tidak mau menerima kebenaran dan mengentengkan orang lain.
–    Tidak mensyukuri pemberian Allah l. Allah l berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
“Dan nikmat apapun yang kalian dapatkan adalah datang dari Allah.” (An-Nahl: 53)
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup.” (An-Nahl: 18)

Pemberian Allah l untuk Satu Tujuan yang Mulia
Dari sekian nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah l kepada kita, mari kita mencoba menghitungnya. Sudah berapakah dalam kalkulasi kita nikmat yang telah kita syukuri dan dari sekian nikmat yang telah kita pergunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Jika kita menemukan kalkulasi yang baik, maka pujilah Allah l karena Dia telah memberimu kesempatan yang baik. Jika kita menemukan sebaliknya maka janganlah engkau mencela melainkan dirimu sendiri.1
Setiap orang bisa mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan pemberian Allah l. Tahukah anda apa rahasia di balik pemberian Allah k tersebut?
Ketahuilah bahwa kenikmatan yang berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakannya manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah l kepada manusia tersebut. Allah l menciptakan manusia untuk sebuah kemuliaan baginya dan menjadikan segala nikmat itu sebagai perantara untuk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah l saja, sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Bagi orang yang berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah l yang berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawabannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja, maka dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.
Sebagai bukti yaitu adanya kematian setelah hidup ini dan adanya kehidupan setelah kematian diiringi dengan persidangan dan pengadilan serta pembalasan dari Allah l. Itulah kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Kesimpulan seperti ini akan mengantarkan kepada:
1.    Dunia bukan tujuan hidup.
2.    Kenikmatan yang ada padanya bukan tujuan diciptakan manusia, akan tetapi sebagai perantara untuk suatu tujuan yang mulia.
3.    Semangat beramal untuk tujuan hidup yang hakiki dan kekal.
Ibnu Qudamah v menjelaskan: “Ketahuilah bahwa nikmat itu ada dua bentuk, nikmat yang menjadi tujuan dan nikmat yang menjadi perantara menuju tujuan. Nikmat yang merupakan tujuan adalah kebahagiaan akhirat dan nilainya akan kembali kepada empat perkara.
Pertama: Kekekalan dan tidak ada kebinasaan setelahnya,
Kedua: Kebahagian yang tidak ada duka setelahnya,
Ketiga: Ilmu yang tidak ada kejahilan setelahnya;
Keempat: Kaya yang tidak ada kefakiran setelahnya.
Semua ini merupakan kebahagiaan yang hakiki. Adapun bagian yang kedua (dari dua jenis nikmat) adalah sebagai perantara menuju kebahagiaan yang disebutkan dan ini ada empat perkara:
Pertama: Keutamaan diri sendiri seperti keimanan dan akhlak yang baik.
Kedua: Keutamaan pada badan seperti kekuatan dan kesehatan dan sebagainya.
Ketiga: Keutamaan yang terkait dengan badan seperti harta, kedudukan, dan keluarga.
Keempat: Sebab-sebab yang menghimpun nikmat-nikmat tersebut dengan segala keutamaan seperti hidayah, bimbingan, kebaikan, pertolongan, dan semua nikmat ini adalah besar.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 282)

Untaian Indah dari Ibnu Qudamah
“Ketahuilah bahwa segala yang dicari oleh setiap orang adalah nikmat. Akan tetapi kenikmatan yang hakiki adalah kebahagiaan di akhirat kelak dan segala nikmat selainnya akan lenyap. Semua perkara yang disandarkan kepada kita ada empat macam:
Pertama: Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat seperti ilmu dan akhlak yang baik. Inilah kenikmatan yang hakiki.
Kedua: Sesuatu yang memudaratkan di dunia dan di akhirat. Ini merupakan bala’ (kerugian) yang hakiki.
Ketiga: Bermanfaat di dunia akan tetapi memudaratkan di akhirat seperti berlezat-lezat dan mengikuti hawa nafsu. Ini sesungguhnya bala bagi orang yang berakal, sekalipun orang jahil menganggapnya nikmat. Seperti seseorang yang sedang lapar lalu menemukan madu yang bercampur racun. Bila tidak mengetahuinya, dia menganggap sebuah nikmat dan jika mengetahuinya dia menganggapnya sebagai malapetaka.
Keempat: Memudaratkan di dunia namun akan bermanfaat di akhirat sebagai nikmat bagi orang yang berakal. Contohnya obat, bila dirasakan sangat pahit dan pada akhirnya akan menyembuhkan (dengan seizin Allah l).
Seorang anak bila dipaksa untuk meminumnya dia menyangka sebagai malapetaka dan orang yang berakal akan menganggapnya sebagai nikmat. Demikian juga bila seorang anak butuh untuk dibekam, sang bapak berusaha menyuruh dan memerintahkan anaknya untuk melakukannya. Namun sang anak tidak bisa melihat akibat di belakang yang akan muncul berupa kesembuhan.
(Begitupun) sang ibu akan berusaha mencegah karena cintanya yang tinggi kepada anak tersebut karena sang ibu tidak tahu tentang maslahat yang akan muncul dari pengobatan tersebut.
Sang anak menuruti apa kata ibunya. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuannya sehingga ia lebih menuruti ibunya daripada bapaknya. Bersamaan dengan itu sang anak menganggap bapaknya sebagai musuh. Jika sang anak berakal, niscaya dia akan menyimpulkan bahwa sang ibu merupakan musuh sesungguhnya dalam wujud teman dekat. Karena larangan sang ibu untuk berbekam akan menggiringnya kepada penyakit yang lebih besar dibandingkan sakit karena berbekam.
Karena itu, teman yang jahil lebih berbahaya dari seorang musuh yang berakal. Dan setiap orang menjadi teman dirinya sendiri, akan tetapi nafsu merupakan teman yang jahil. Nafsu akan berbuat pada dirinya apa yang tidak diperbuat oleh musuh.” (Minhajul Qashidin hal. 281-282)

Syukur dalam Tinjauan Bahasa dan Agama
Syukur secara bahasa adalah nampaknya bekas makan pada badan binatang dengan jelas. Binatang yang syakur artinya: Apabila nampak padanya kegemukan karena makan melebihi takarannya.
Adapun dalam tinjauan agama, syukur adalah: Nampaknya pengaruh nikmat Allah l atas seorang hamba melalui lisannya dengan cara memuji dan mengakuinya; melalui hati dengan cara meyakininya dan cinta; serta melalui anggota badan dengan penuh ketundukan dan ketaatan. (Madarijus Salikin, 2/244)
Ada juga yang mendefinisikan syukur dengan makna lain seperti:
1.    Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
2.    Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
3.    Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
4.    Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.
5.    Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
6.    Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.
7.    Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
8.    Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.
Masih banyak lagi definisi para ulama tentang syukur, akan tetapi semuanya kembali kepada penjelasan Ibnul Qayyim sebagaimana disebutkan di atas.
Yang jelas, syukur adalah sebuah istilah yang digunakan pada pengakuan/ pengetahuan akan sebuah nikmat. Karena mengetahui nikmat merupakan jalan untuk mengetahui Dzat yang memberi nikmat. Oleh karena itu Allah l menamakan Islam dan iman di dalam Al-Qur`an dengan syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah nikmat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur. (Madarijus Salikin, 2/247)
Apabila seorang hamba mengetahui sebuah nikmat maka dia akan mengetahui yang memberi nikmat. Ketika seseorang mengetahui yang memberi nikmat tentu dia akan mencintai-Nya dan terdorong untuk bersungguh-sungguh mensyukuri nikmat-Nya. (Madarijus Salikin, 2/247, secara ringkas)
Syukur Tidak Sempurna Melainkan dengan Mengetahui Apa yang Dicintai Allah l
Ibnu Qudamah v menjelaskan: “Ketahuilah bahwa syukur dan tidak kufur tidak akan sempurna melainkan dengan mengetahui segala apa yang dicintai oleh Allah l. Sebab makna syukur adalah mempergunakan segala karunia Allah l kepada apa yang dicintai-Nya, dan kufur nikmat adalah sebaliknya. Bisa juga dengan tidak memanfaatkan nikmat tersebut atau mempergunakannya pada apa yang dimurkai-Nya.”

Makna Syukur
Syukur memiliki tiga makna.
Pertama: Mengetahui (pemberian tersebut) adalah sebuah nikmat. Artinya dia menghadirkan dalam benaknya, mempersaksikan, dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dalam benak sebagaimana terwujud dalam kenyataan. Sebab banyak orang yang jika engkau berbuat baik kepadanya namun dia tidak mengetahui (bahwa itu adalah perbuatan baik). Gambaran ini bukan termasuk dari syukur.
Kedua: Menerima nikmat tersebut dengan menampakkan butuhnya kepadanya. Dan bahwa sampainya nikmat tersebut kepadanya bukan sebagai satu keharusan hak baginya dari Allah l, dan tanpa membelinya dengan harga. Bahkan dia melihat dirinya di hadapan Allah l seperti seorang tamu yang tidak diundang.
Ketiga: Memuji yang memberi nikmat. Dalam hal ini ada dua bentuk, yaitu umum dan khusus. Pujian yang bersifat umum adalah menyifati pemberi nikmat dengan sifat dermawan, kebaikan, luas pemberiannya, dan sebagainya. Pujian yang bersifat khusus adalah menceritakan nikmat tersebut dan memberitahukan bahwa nikmat tersebut sampai kepada dia karena sebab Sang Pemberi tersebut. Sebagaimana firman Allah l:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan adapun tentang nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.” (Adh-Dhuha: 11) [Madarijus Salikin, 2/247-248]
Menceritakan Sebuah Nikmat Termasuk Syukur
Menceritakan sebuah nikmat yang dia dapatkan kepada orang lain termasuk dalam kategori syukur. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah n:
مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ
“Barangsiapa yang diberikan kebaikan kepadanya hendaklah dia membalasnya dan jika dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya hendaklah dia memujinya. Karena jika dia memujinya sungguh dia telah berterima kasih dan jika dia menyembunyikannya sungguh dia telah kufur. Dan barangsiapa yang berhias dengan sesuatu yang dia tidak diberi sama halnya dengan orang yang memakai dua ­baju kedustaan.” (HR. Abu Dawud no. 4179, At-Tirmidzi no. 1957 dari Jabir bin Abdullah)
Allah l berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبَِكَ فَحَدِّثْ
“Dan adapun tentang nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.” (Adh-Dhuha: 11)
Menceritakan nikmat yang diperintahkan di dalam ayat ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.
Pertama: Menceritakan nikmat tersebut dan memberitahukannya kepada orang lain seperti dengan ucapan: “Allah l telah memberiku nikmat demikian dan demikian.”
Kedua: Menceritakan nikmat yang dimaksud di dalam ayat ini adalah berdakwah di jalan Allah l menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan umat.
Dari kedua pendapat tersebut, Ibnul Qayyim t dalam Madarijus Salikin (2/249) mentarjih dengan perkataan beliau: “Yang benar, ayat ini mencakup kedua makna tersebut. Karena masing-masingnya adalah nikmat yang kita diperintahkan untuk mensyukurinya, menceritakannya, dan menampakkannya sebagai wujud kesyukuran.”
Beliau berkata: “Dalam sebuah atsar yang lain dan marfu’ disebutkan:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
“Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit maka dia tidak akan mensyukuri atas yang banyak dan barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Menceritakan sebuah nikmat (yang didapati) kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkannya adalah kufur, bersatu adalah rahmat dan bercerai berai adalah azab.” (HR. Ahmad dari An-Nu’man bin Basyir) [Madarijus Salikin, 2/248]

Dengan Apa Seorang Hamba Bersyukur?
Ibnu Qudamah v menjelaskan: “Syukur bisa dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun dengan hati adalah berniat untuk melakukan kebaikan dan menyembunyikannya pada khayalak ramai. Adapun dengan lisan adalah menampakkan kesyukuran itu dengan memuji Allah l. Artinya, menampakkan keridhaan kepada Allah k. Dan hal ini sangat dituntut, sebagaimana sabda Rasulullah n:
التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ
‘Menceritakan nikmat itu adalah wujud kesyukuran dan meninggalkannya adalah wujud kekufuran.’
Adapun dengan anggota badan adalah mempergunakan nikmat-nikmat Allah l tersebut dalam ketaatan kepada-Nya dan menjaga diri dari bermaksiat dengannya. Termasuk kesyukuran terhadap nikmat kedua mata adalah dengan cara menutup setiap aib yang dilihat pada seorang muslim. Dan termasuk kesyukuran atas nikmat kedua telinga adalah menutup setiap aib yang didengar. Penampilan seperti ini termasuk wujud kesyukuran terhadap anggota badan.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 277)
Ibnul Qayyim v menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dengan tunduk dan kepasrahan, oleh lisan dengan mengakui nikmat tersebut, dan oleh anggota badan dengan ketaatan dan penerimaan.” (Madarijus Salikin, 2/246)

Derajat Syukur
Syukur memiliki tiga tingkatan:
Pertama: Bersyukur karena mendapatkan apa yang disukai.
Tingkat syukur ini bisa juga dilakukan orang Islam dan non Islam, seperti Yahudi dan Nasrani, bahkan Majusi. Namun Ibnul Qayyim t menjelaskan: “Jika engkau mengetahui hakikat syukur, dan di antara hakikat syukur adalah menjadikan nikmat tersebut membantu dalam ketaatan kepada Allah l dan mencari ridha-Nya, niscaya engkau akan mengetahui bahwa kaum musliminlah yang pantas menyandang derajat syukur ini.
‘Aisyah x telah menulis surat kepada Mu’awiyah z: ‘Sesungguhnya tingkatan kewajiban yang paling kecil atas orang yang diberi nikmat adalah tidak menjadikan nikmat tersebut sebagai jembatan untuk bermaksiat kepadanya’.” (Madarijus Salikin, 2/253)
Kedua: Mensyukuri sesuatu yang tidak disukai. Orang yang melakukan jenis syukur ini adalah orang yang sikapnya sama dalam semua keadaan, sebagai bukti keridhaannya.
Ibnul Qayyim v menjelaskan: “Bersyukur atas sesuatu yang tidak disukai lebih berat dan lebih sulit dibandingkan mensyukuri yang disenangi. Oleh sebab itulah, syukur yang kedua ini di atas jenis syukur yang pertama. Syukur jenis kedua ini tidak dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua jenis orang:
q Seseorang yang semua keadaannya sama. Artinya, sikapnya sama terhadap yang disukai dan tidak disukai, dan dia bersyukur atas semuanya sebagai bukti keridhaan dirinya terhadap apa yang terjadi. Ini merupakan (gambaran) kedudukan ridha.
q Seseorang yang bisa membedakan keadaannya. Dia tidak menyukai sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak ridha bila menimpanya. Namun bila sesuatu yang tidak menyenangkan menimpanya, dia tetap mensyukurinya. Kesyukurannya (dia jadikan) sebagai pemadam kemarahannya, sebagai penutup dari berkeluh kesah, dan demi menjaga adab serta menempuh jalan ilmu. Karena sesungguhnya adab dan ilmu akan membimbing seseorang untuk bersyukur di waktu senang maupun susah.
Tentunya yang pertama lebih tinggi dari yang kedua. (Madarijus Salikin, 2/254)
Ketiga: Seseorang seolah-olah tidak menyaksikan kecuali Yang memberinya kenikmatan. Artinya, bila dia melihat yang memberinya kenikmatan dalam rangka ibadah, dia akan menganggap besar nikmat tersebut. Dan bila dia menyaksikan yang memberi kenikmatan karena rasa cinta, niscaya semua yang berat akan terasa manis baginya.

Manusia dan Syukur
Kita telah mengetahui bahwa syukur merupakan salah satu sifat yang terpuji dan sifat yang dicintai oleh Allah l. Akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya. Artinya, ada yang diberi oleh Allah l dan ada pula yang tidak.
Manusia dan syukur terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama: Orang yang mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah l.
Kedua: Orang yang menentang nikmat yang diberikan alias kufur nikmat.
Ketiga: Orang yang berpura-pura syukur padahal dia bukan orang yang bersyukur. Orang yang seperti ini dimisalkan dengan orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak dia tidak miliki. (Madarijus Salikin, 2/48)

Dalil-dalil tentang Syukur
وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.” (Al-Baqarah: 172)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.” (Al-Baqarah: 152)
وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (Al-‘Ankabut: 17)
وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِينَ
“Dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (Ali ‘Imran: 144)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah (nikmat Kami) dan jika kalian mengkufurinya sungguh azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Dari ‘Aisyah x ia berkata:
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟
“Nabi n bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah, kenapa engkau melakukan yang demikian, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?’.” (HR. Al-Bukhari no. 4660 dari Aisyah x)
Masih banyak dalil lain yang menjelaskan tentang keutamaan syukur dan anjuran dari Allah l dan Rasul-Nya. Semoga apa yang dibawakan di sini mewakili yang tidak disebutkan.
Ancaman bagi Orang-Orang yang Tidak Bersyukur
Yang tidak bersyukur lebih banyak dari yang bersyukur. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal bersih. Sebagaimana orang yang ingkar kepada Allah l lebih banyak dari yang beriman. Demikianlah keterangan Allah l di dalam firman-Nya:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (Saba`: 13)
Sebuah peringatan tentu akan bermanfaat bagi orang yang beriman. Di mana Allah l telah memperingatkan dari kufur nikmat setelah memerintahkan untuk bersyukur dan menjelaskan keutamaan yang akan di dapatinya sebagaimana penjelasan Al-Imam As-Sa’di v dalam tafsir beliau: “Jika seseorang bersyukur niscaya Allah  l akan mengabadikan nikmat yang dia berada padanya dan menambahnya dengan nikmat yang lain.”
Allah l berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan Rabb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah (nikmat Kami) dan jika kalian mengkufurinya sungguh azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Al-Hafizh Ibnu Katsir v menjelaskan: “Jika kalian mengkufuri nikmat, menutup-nutupinya dan menentangnya maka (azab-Ku sangat pedih) yaitu dengan dicabutnya nikmat tersebut dan siksa Allah l menimpanya dengan sebab kekufurannya. Dan disebutkan dalam sebuah hadits: ‘Sesungguhnya seseorang diharamkan untuk mendapatkan rizki karena dosa yang diperbuatnya’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/637)

Syukur dan Sabar
Kita akan bertanya: “Jika engkau ditimpa sebuah musibah lalu engkau mensyukurinya, maka tentu pada sikap kesyukuranmu terdapat sifat sabar dan sifat ridha terhadap musibah yang menimpa dirimu. Dan kita mengetahui bahwa ridha merupakan bagian dari kesabaran. Sementara syukur merupakan buah dari sifat ridha.”
Ibnul Qayyim v menjelaskan: “Syukur termasuk kedudukan yang paling tinggi dan lebih tinggi -bahkan jauh libih tinggi- daripada kedudukan ridha. Di mana sifat ridha masuk dalam syukur, karena mustahil syukur ada tanpa ridha.” (Madarijus Salikin, 2/242)

Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bersyukur?
Ibnu Qudamah v menjelaskan: “Makhluk ini tidak mau mensyukuri nikmat karena padanya ada dua (sifat) yaitu kejahilan dan kelalaian. Kedua sifat ini menghalangi mereka untuk mengetahui nikmat. Karena tidak tergambar bahwa seseorang akan bisa bersyukur tanpa mengetahui nikmat (sebuah pemberian). Jika pun mereka mengetahui nikmat, mereka menyangka bahwa bersyukur itu hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah atau syukrullah dengan lisan. Mereka tidak mengetahui bahwa makna syukur adalah mempergunakan nikmat pada jalan ketaatan kepada Allah l.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 288)
Kesimpulan ucapan Ibnu Qudamah t adalah bahwa manusia banyak tidak bersyukur karena ada dua perkara yang melandasinya yaitu kejahilan dan kelalaian.

Mengobati Kelalaian dari Bersyukur
Ibnu Qudamah t menjelaskan: “Hati yang hidup akan menggali segala macam nikmat diberikan. Adapun hati yang jahil (lalai) tidak akan menganggap sebuah nikmat sebagai nikmat kecuali setelah bala’ menimpanya. Caranya, hendaklah dia terus memandang kepada yang lebih rendah darinya dan berusaha berbuat apa yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Mendatangi tempat orang yang sedang sakit dan melihat berbagai macam ujian yang sedang menimpa mereka, kemudian berpikir tentang nikmat sehat dan keselamatan. Menyaksikan jenazah orang yang terbunuh, dipotong tangan mereka, kaki-kaki mereka dan diazab, lalu dia bersyukur atas keselamatan dirinya dari berbagai azab.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 290)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Demikianlah makna yang telah disabdakan oleh Rasulullah n dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 4674) dari shahabat Abu Dzar z.

Penyamaan Agama adalah Perbuatan Kufur

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Ide penyatuan agama terus digemakan hingga sekarang. Dagangan orientalis yang dijajakan oleh para pengekor Barat berbaju muslim (bahkan ada yang disebut pakar Islam) ini kian meramaikan bursa kesesatan yang telah ada sebelumnya. Dan agar lebih mudah diserap “pasar”, kemasan pun dibuat sedemikian manis, menonjolkan sisi-sisi humanis yang sejatinya adalah racun bagi kaum muslimin.

Bingkisan dan oleh-oleh dari Barat untuk kaum muslimin kembali menghunjam. I’tiqad (keyakinan) dan seruan-seruan kufur mereka datang silih berganti menggugat kebenaran Islam. Ideologi-ideologi sesat meramaikan media-media massa. Di mimbar-mimbar, satu tumbang, seribu kesesatan bangkit kembali.
Alhamdulillah, sebagian kaum muslimin masih tersadar jika menghadapi ideologi dari luar. Namun ketika manuver sesat datang dari dalam diri umat Islam sendiri berupa konsep menyamakan Islam dengan selainnya, dengan istilah sinkretisme agama, di sinilah terlihat bahwa kaum muslimin sangat jauh dari ajaran agamanya dan terlelap dalam buaian taqlid serta fanatik.
Musuh-musuh Allah l mengetahui bahwa mereka tidak bisa merusak kaum muslimin dengan cara yang telah lumrah dan masyhur dalam ilmu mereka. Kerusakan i’tiqad adalah kerusakan dan perusakan yang paling besar dan luas akibatnya. Oleh karena itu, Iblis dengan keuletannya untuk mendapatkan hasil yang gemilang dan besar, tercatatlah pada generasi manusia yang kesepuluh, pada kaum Nabi Nuh, menjadi pemula buah keberhasilan Iblis dalam merusak i’tiqad manusia. Dengan kerusakan inilah, mereka dengan serta merta siap untuk bersujud kepada selain Allah l, berkorban untuk selain-Nya, bernadzar untuk selain-Nya, berdoa kepada selain Allah k, meminta perlindungan, pertolongan dan meminta terbebaskan dari malapetaka kepada selain Allah l, serta berbagai wujud peribadatan kepada selain Allah k yang lain.
Tidak ada kerusakan yang paling besar daripada kerusakan i’tiqad yang muaranya ada di dalam hati. Rasulullah n menyebutkan:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, pada jasad ini ada segumpal daging, jika dia baik maka seluruh anggota badan akan menjadi baik, dan bila rusak maka seluruh anggota badan menjadi rusak. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Al-Bukhari no. 50 dan Muslim no. 2996 dari shahabat An-Nu’man bin Basyir c)
Ibnul Qayyim t menjelaskan: “Karena kedudukan hati terhadap anggota badan bagaikan raja yang berkuasa atas bala tentaranya, di mana semua (perbuatan mereka) muncul dari perintahnya. Bala tentara tersebut digunakan sesuai keinginan sang raja dan kesemuanya berada di bawah perintah dan kekuasannya, maka anggota badan akan istiqamah atau menyeleweng (adalah karena hati). Dan hatilah yang akan mengikatnya dengan segala kekuasaan atau melepaskannya. Rasulullah n bersabda: ‘Ketahuilah bahwa di dalam jasad ini ada segumpal daging yang bila baik niscaya seluruh jasad akan baik pula.’
Hati merupakan raja bagi seluruh anggota badan. Dan anggota badan akan melakukan segala yang diperintahkannya dan akan menerima segala arahannya. Tidak akan mungkin lurus sedikitpun amalan anggota badan tersebut melainkan harus datang dari keinginan dan niat hati. Dan hati akan bertanggung jawab atas seluruhnya, karena setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab tentang kepemimpinannya. Oleh karena itu, usaha memperbaiki dan meluruskannya adalah sebuah usaha yang diprioritaskan untuk dilakukan oleh setiap orang (yang berusaha mencari kebenaran). Sedangkan  mengoreksi segala penyakit yang mungkin akan timbul dan mengobatinya adalah perkara yang sangat penting yang harus dilakukan oleh ahli ibadah.” (Mawaridul Aman, hal. 30)

Islam Adalah Agama Yang Hak
Tidak ada yang mengingkari keyakinan bahwa Islam adalah agama yang hak kecuali orang-orang yang telah tertutup mata hatinya dari Islam. Islam adalah agama yang diridhai Allah l, dan satu-satunya agama yang akan diterima di sisi-Nya. Allah l menjelaskan keyakinan ini dalam banyak tempat, seperti firman-Nya:
إِنَّ الدِِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Sebagai bukti pula tentang kebenaran dan diridhainya Islam adalah permusuhan non muslim terhadap agama Islam dan penganutnya sampai hari kiamat. Mereka memperingatkan para pengikutnya agar tidak sekali-kali masuk ke dalam Islam. Mereka juga mencela dan menghina agama Islam.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ
“Dan mereka menginginkan agar cahaya Allah (Islam) padam dengan lisan-lisan mereka.” (Ash-Shaff: 8)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang selain kalian menjadi teman. Mereka tidak henti-hentinya mencelakakan kalian dan mereka menyukai apa yang memberatkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi.” (Ali ‘Imran: 118)
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Dan orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu selama-lamanya sampai kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (sebenar-benar) petunjuk.’ Dan jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu, niscaya kamu tidak akan mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari Allah.” (Al-Baqarah: 120)
Allah l dan Rasul-Nya n memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang kafir dan melarang menyerupai mereka baik dalam i’tiqad, ibadah, akhlak, perangai, ciri khas maupun selainnya. Dan ini merupakan salah satu bukti tentang kebenaran Islam. (Iqtidha` Shirathil Mustaqim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v)
Allah l dan Rasul-Nya n memerintahkan kepada kita untuk memerangi agama kufur dan orang-orang kafir baik dengan harta, jiwa, dan lisan-lisan kita, juga menunjukkan kebenaran Islam.
Bukti lain yang menunjukkan kebenaran Islam adalah masuknya umat-umat non Islam ke dalam agama ini. Tidak lepas dalam hal ini para tokoh agama mereka seperti para pendeta. Mereka kemudian tampil membongkar kedok agama sesat tersebut dan memproklamirkan kebenaran agama Islam.
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللهِ أَفْوَاجًا
“Apabila datang pertolongan dan kemenangan dari Allah. Engkau akan menyaksikan manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah.” (An-Nashr: 1-2)

Islam Adalah Agama Para Nabi dan Rasul
Hal ini dijelaskan oleh Allah l, di dalam firman-Nya:
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Bukanlah Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi ia adalah orang yang lurus dan muslim. Dan ia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (Ali ‘Imran: 67)
أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“(Yusuf) berkata: ‘Engkau adalah waliku di dunia dan di akhirat dan matikanlah aku dalam keadaan Islam. Ikut sertakanlah aku bersama orang-orang yang shalih.” (Yusuf: 101)
Ibnu Katsir v dalam Tafsir-nya mengatakan: “Ini merupakan sebuah doa dari Yusuf Ash-Shiddiq. Dia berdoa dengannya kepada Rabbnya di saat Allah l menyempurnakan nikmat atasnya, dengan berkumpulnya dia bersama kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Juga nikmat kenabian dan kekuasaan yang diberikan kepadanya. Dia meminta kepada Rabbnya agar nikmat tersebut diabadikan sampai hari akhir, sebagaimana Dia telah menyempurnakan (nikmat untuknya) di dunia. Juga agar Allah l mematikannya dalam keadaan muslim. Ini adalah penafsiran Adh-Dhahhak.
‘Dan agar Allah mengikutsertakan dia dengan orang-orang shalih’ yaitu dari kalangan nabi dan rasul. Mungkin juga Nabi Yusuf mengucapkan doa ini ketika kematian datang menjemputnya, sebagaimana disebutkan dalam dua kitab Shahih dari ‘Aisyah x bahwa Rasulullah n mengangkat tangannya ketika ajal beliau datang menjemput: ‘Ya Allah, bersama pendamping-pendamping di tempat yang tinggi.’ (Beliau ucapkan tiga kali). Dan mungkin Nabi Yusuf meminta agar mati di atas Islam dan diikutsertakan dengan orang-orang shalih apabila ajalnya telah dekat dan umurnya telah habis.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/598)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (setiap mereka menyeru): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thagut’.” (An-Nahl: 63)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dalam Kitabut Tauhid menjelaskan: “Agama para nabi adalah satu.” Kalimat ini tidak menafikan firman Allah l yang mengatakan:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Setiap nabi Kami jadikan untuk mereka syariat dan jalan (sendiri).” (Al-Ma`idah: 48)
Karena syariat amaliah berbeda pada setiap umat. Adapun landasan agama adalah satu. Allah l berfirman:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
“Dia telah mensyariatkan kepada kalian agama yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh dan apa yang Kami telah wahyukan kepadamu (Muhammad) serta apa yang kami telah wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa: ‘Tegakkanlah agama dan jangan berpecah belah di dalamnya’.” (Asy-Syura: 13) [Al-Qaulul Mufid, 1/59]
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu (Muhammad) seorang rasulpun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Aku, maka beribadahlah kalian kepada-Ku.” (Al-Anbiya`: 25)
Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir dari Qatadah (ketika menjelaskan firman Allah l): “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam.” Bahwa dia berkata: “Islam adalah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah l, mengakui apa yang dibawa oleh Rasulullah dari sisi Allah l sebagai agama Allah l yang telah disyariatkan untuk dirinya, Allah  l mengutus para rasul dan membimbing para wali-Nya dengan agama itu, dan Allah l tidak menerima agama selainnya, serta tidak pula akan memberi ganjaran kecuali dengannya.”
Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Adh-Dhahhak ketika menjelaskan firman Allah l di atas: “Tidak diutus seorang nabi pun melainkan dengan Islam.” (Ad-Durrul Mantsur, karya Al-Imam As-Suyuthi)

Kekufuran Hakikatnya Satu
Bagi orang yang memiliki bashirah ilmu pengetahuan, dia akan mengetahui bahwa sejak zaman keingkaran iblis hingga ada kaderisasi dari kalangan jin dan manusia, kekufuran hakikatnya satu. Inilah contoh keingkaran dan kekufuran iblis kepada Allah l, sebagaimana telah diceritakan oleh Allah l dalam firman-Nya:
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ. قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Allah berfirman: ‘Wahai iblis! Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada seseorang yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah engkau telah menyombongkan diri atau orang yang meninggikan diri?’ Dia berkata: ‘Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah’.” (Shad: 75-76)
Karena keingkaran dan kekufuran iblis kepada Allah l, maka Allah l mengusirnya dari rahmat-Nya sehingga dia menjadi orang yang terkutuk. Allah l juga mengusirnya dari dalam surga:
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ. وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
“Allah berfirman: ‘Keluarlah kamu darinya (surga), maka sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, dan sesungguhnya atasmu laknat-Ku sampai hari pembalasan’.” (Shad: 77-78)
Karena kutukan inilah, iblis mencari peluang dan meminta kepada Allah l agar bisa bermain dengan manuver kekufuran dan kesesatannya untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah dan menjadikannya ingkar kepada-Nya. Allah l berfirman:
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ. قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ. إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
“Iblis berkata: ‘Wahai Rabbku, berikanlah aku penangguhan sampai hari kebangkitan.’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu memiliki kesempatan sampai waktu yang telah ditentukan’.” (Shad: 79-80)
Setelah mendapatkan kesempatan untuk mengajak Bani Adam untuk kufur kepada Allah l, diapun berjanji akan benar-benar berusaha dengan penuh kesungguhan untuk menyesatkan Bani Adam dengan cara dan jalan apapun. Allah l berfirman:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Iblis berkata: ‘Maka demi kemuliaan-Mu, aku akan benar-benar menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” (Shad: 82-83)
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Iblis berkata: ‘Karena Engkau menyesatkanku, maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan benar-benar mendatangi mereka dari depan mereka, belakang mereka, samping kanan dan samping kiri mereka, sehingga Engkau tidak mendapatkan kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)
Allah l telah menjelaskan tujuan akhir perbuatan iblis dan bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia. Allah l menjelaskan pula tentang siapa yang akan bisa dikuasai oleh iblis dan yang tidak.
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ. وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka kecuali orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang yang sesat. Dan Jahannamlah tempat kembali mereka semuanya.” (Al-Hijr: 42-43)
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ
“Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bertawakal kepada Allah. Namun yang mereka kuasai adalah orang-orang yang menyeleweng dan orang-orang yang menyekutukan Allah.” (An-Nahl: 99-100)

Islam vs Kufur
Dari uraian di atas, jelas bahwa pertarungan antara iman dan kufur adalah perjalanan hidup yang mesti terjadi. Karena hal ini merupakan sunnatullah atas hamba-Nya. Janji penyesatan iblis terhadap Bani Adam diabadikan oleh Allah l dalam Al-Qur`an yang akan dibaca sampai hari kiamat. Hal ini menuntut agar kita berusaha menjadi orang yang selamat dari keganasan iblis.
Iblis telah berhasil dengan tipu muslihatnya mengeluarkan Nabi Adam q dan istri beliau dari surga, kemudian diturunkan oleh Allah l ke bumi yang penuh dengan ujian ini. Dialah yang telah menggoda putra Nabi Adam q sehingga membunuh saudaranya sendiri. Dialah yang tampil menjadi ‘pembimbing’ ulung dalam menyesatkan kaum Nabi Nuh q sehingga terjatuh dalam kesyirikan yang besar sebagaimana dalam hadits:
صَارَتِ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُـوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ، أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ، وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ، وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجُرْفِ عِنْدَ سَبَإٍ، وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ، وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ، أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمِ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
“Berhala-berhala yang ada di bangsa Arab merupakan berhala di kaum Nabi Nuh. Wadd menjadi milik Bani Kalb di Daumatul Jandal, Suwa’ menjadi berhala milik Bani Hudzail, Yaghuts menjadi milik Bani Murad kemudian menjadi milik Bani Guthaif di Saba`. Adapun Ya’uq milik Bani Hamdan, sedangkan Nasr milik Bani Himyar keluarga Dzil Kala’. Semuanya adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka binasa, setan membisikkan kepada kaum mereka: ‘Dirikanlah berhala-berhala di majelis-majelis mereka, dan namailah dengan nama-nama mereka.’ Lalu mereka melakukannya, dan ketika itu belum disembah. Hingga ketika mereka mati dan ilmu lenyap, semua berhala itu diibadahi.” (HR. Al-Bukhari no. 4539, dari sahabat Ibnu ‘Abbas c)
Iblis juga telah menanamkan taring permusuhannya kepada para nabi yang diutus oleh Allah l, dengan menjadikan kaki tangannya dari kalangan manusia sebagai bala tentara yang langsung berhadapan dengan para nabi tersebut. Seperti kaum Nabi Nuh q, kaum ‘Ad terhadap Nabi Hud q, kaum Tsamud terhadap Nabi Shalih q, kaum Madyan terhadap Nabi Syu’aib q, Fir’aun dan bala tentaranya terhadap Nabi Musa q, bapak Ibrahim q dan kaumnya terhadap beliau, kaum Nabi Luth q, serta kaum jahiliah kepada Rasulullah n. Mereka juga memusuhi orang-orang yang beriman yang bersama para nabi itu. Di antaranya:
q Allah l mengisahkan tentang Nabi Nuh q dan kaumnya yang menentang dakwah beliau:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ. قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dan dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Kalian tidak memiliki sesembahan selain-Nya. Dan aku takut atas azab yang pedih akan menimpa kalian.’ Maka para pembesar dari kaumnya mengatakan: ‘Sesungguhnya kami melihatmu berada di atas kesesatan yang nyata’.” (Al-A’raf: 59-60)
q Allah l bercerita tentang Nabi Hud dan kaumnya yang menentang dakwahnya:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ. قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Dan kepada kaum ‘Ad kami mengutus saudara mereka, Hud. Dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Kalian tidak memiliki sesembahan selain-Nya, dan tidakkah kalian takut?’ Maka para pembesar yang kafir dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami melihatmu orang yang bodoh, dan kami menyangka bahwa dirimu termasuk orang-orang yang berdusta’.” (Al-A’raf: 65-66)

Islam dan Kufur, Dua Nama Yang Tidak Bakal Bersenyawa
Islam adalah agama yang benar dan diridhai Allah l, tidak akan mungkin bertemu dengan kekufuran selama-lamanya. Antara Islam dan agama lainnya ada furqan (jurang pemisah) yang jauh, yang tidak mungkin akan sejalan dan searah. Menyamakan antara ridha dengan murka adalah menyelisihi fitrah dan akal sehat. Menyatukan antara yang haq dan yang batil adalah sebuah kebatilan dan penyimpangan dari hakikat fitrah yang telah diberikan oleh Allah l. Menyamakan antara gelap dan terang adalah menyelisihi akal setiap manusia. Sehingga, usaha menyatukan dua hal yang bertentangan dan bertolak belakang ini adalah usaha iblis dalam menyesatkan Bani Adam.
Islam adalah agama yang diridhai Allah l, sementara kekufuran adalah agama yang dimurkai dan dibenci-Nya. Sebagaimana dalam firman-firman-Nya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang benar adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah menyempurnakan nikmat-Ku untuk kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Ma`idah: 5)
فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kepadanya hidayah, Allah lapangkan dadanya dengan Islam.” (Al-An’am: 125)
أَفَمَنْ شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ
“Barangsiapa yang telah dilapangkan dadanya oleh Allah dengan Islam, maka dia berada di atas cahaya dari Allah.” (Az-Zumar: 22)
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ
“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian dan Allah tidak meridhai kekufuran dari hamba-hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)

Menyamakan Antara Islam dan Selainnya adalah Pembatal Keislaman
Pembatal Islam adalah perkara yang sesungguhnya telah jelas dalam agama, namun tidak sedikit dari kaum muslimin yang terjatuh padanya. Hal ini disebabkan karena jauhnya mereka dari pengajaran agama yang benar, berkuasanya hawa nafsu pada diri mereka, belenggu taqlid buta dan fanatik, serta munculnya para da’i di pintu neraka sebagaimana sabda Rasulullah n dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 3338) dan Muslim (no. 3434) dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman z.
Sementara ini, pembatal keislaman dalam pandangan kaum muslimin terbatas pada sembah sujud kepada selain Allah l seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah atau pindah agama. Hal ini menyebabkan mereka tidak percaya jika seorang muslim yang melaksanakan rukun-rukun Islam seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berpuasa, berzakat, dan berhaji bisa menjadi kafir atau murtad dari agama. Padahal itu merupakan sesuatu yang sudah jelas perkaranya. Terlebih lagi Allah l telah menjelaskan dalam firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ
“Sesungguhya orang-orang yang kafir setelah iman mereka kemudian bertambah kekufurannya, niscaya tidak akan diterima taubatnya dan mereka termasuk orang-orang yang sesat.” (Ali ‘Imran: 90)
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian menjadi kafir lalu kemudian beriman lagi kemudian menjadi kafir dan bertambah kekufurannya, niscaya Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjuki mereka jalan (yang lurus).” (An-Nisa`: 137)
قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Katakan: ‘Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak ada alasan bagi kalian, sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian’.” (At-Taubah: 65-66)
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa sangat mungkin seorang yang beriman menjadi kafir kepada Allah l, bila dia melakukan sesuatu yang menyebabkan batal Islamnya sekalipun dia masih shalat, berpuasa, berhaji, dan sebagainya. Ada sepuluh pembatal Islam yang sebagian ulama menyebutkannya di dalam kitab-kitab mereka. Ini bukan merupakan suatu batasan, namun mereka menyebutkan hal-hal yang paling besar bahayanya dan paling banyak terjadi di tengah kaum muslimin di masa mereka. Di antara sepuluh hal yang mereka sebutkan adalah:
1.    Menyekutukan Allah l dalam peribadahan kepada-Nya.
2.    Menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah l sehingga dia berdoa kepada perantara itu.
3.    Orang yang tidak mengkafirkan kaum musyrikin, ragu-ragu terhadap kekufuran mereka, atau membenarkan madzhab mereka.
4.    Meyakini bahwa petunjuk selain petunjuk Rasulullah n lebih sempurna daripada petunjuk beliau dan hukum selain hukum beliau lebih baik daripada hukum beliau, seperti orang yang mengutamakan hukum buatan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.
5.    Membenci apa-apa yang datang dari Rasulullah n, walaupun kecil dan sekalipun dia mengamalkannya.
6.    Melecehkan apa-apa yang datang dari Rasulullah n walaupun sedikit.
7.    Sihir.
8.    Membela kaum musyrikin dan menolong mereka dalam menghadapi kaum muslimin.
9.    Meyakini bolehnya keluar dari agama Rasulullah n sebagaimana keluarnya Khidhir dari ajaran Nabi Musa q.
10. Berpaling dari agama Allah l pada perkara-perkaranya yang paling inti, artinya dia tidak mau mempelajarinya atau beramal dengannya.

Sungguh, menyamakan Islam dengan agama selainnya termasuk salah satu pembatal keislaman dan menyebabkan penyerunya kafir murtad dari agama.

Bahaya Konsep Menyamakan Islam dengan Selainnya
Sekali lagi, sebuah konsep peneluran iblis ini sangat membahayakan keyakinan kaum muslimin jika mereka menerimanya. Oleh karena itu, setiap muslim wajib mengingkari hal tersebut baik dengan lisan atau tulisan, dan meyakini bahwa ini adalah seruan menuju keingkaran kepada Allah l yang lebih berbahaya dari nuansa karikatur. Bahaya konsep ini terlihat dari beberapa hal di bawah ini:
Pertama: Penentangan terang-terangan terhadap nash-nash Al-Qur`an atau hadits shahih yang telah menjelaskan perbedaan antara Islam dan kufur, haq dan batil, syirik dan tauhid, sunnah dan bid’ah, serta petunjuk dengan kesesatan, berikut nash-nash yang melarang kita untuk menyerupai mereka.
فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Demikianlah Allah adalah Rabb kalian yang haq, dan tidaklah setelah kebenaran melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan?” (Yunus: 32)
Kedua: Penghinaan terhadap Islam sebagai agama yang benar, dan sebaliknya memuji agama kekafiran. Tentu ini adalah sebuah kekafiran.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang benar adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
Ketiga: Meruntuhkan kaidah ingkarul mungkar (mengingkari kemungkaran) dalam agama.
Keempat: Menumbangkan panji jihad, di mana Allah l telah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk memerangi orang-orang kafir.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Wahai nabi, perangilah orang-orang kafir, munafik dan bersikap tegaslah kalian terhadap mereka. Dan tempat kembali mereka adalah Jahannam dan (Jahannam) adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (At-Tahrim: 9)
Dan tentunya masih banyak lagi bahaya-bahaya konsep iblis ini. Dan ini merupakan ru`usul aqlam (poin-poin yang penting).
Wallahu ta’ala a’lam.

Amal Termasuk Bagian dari Iman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِي قَالَ: …. وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا ليِ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ، لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظََّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَـلاَ أَعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِي بِهَا. فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَناَ؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. قَالَ :أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami z dia berkata: “… Aku memiliki seorang budak perempuan yang menggembalakan kambingku di arah Uhud dan Al-Jawwaniyyah. Pada suatu hari, aku dapati seekor serigala telah membawa lari salah satu dari kambing-kambing yang digembalakannya. Dan aku salah seorang dari Bani Adam (manusia biasa), yang dapat marah sebagaimana mereka marah. Aku lantas menamparnya, kemudian aku menghadap Rasulullah, karena perkara itu telah membebaniku.
Aku bertanya: “Ya Rasulullah, saya membebaskannya?” Beliau bersabda: “Bawa dia kepadaku.” Akupun membawanya. Lalu beliau bertanya kepadanya: “Di manakah Allah?” Dia menjawab: “Di atas langit.” Beliau bertanya: “Siapakah aku?” dia menjawab: “Engkau adalah Rasulullah.” Lalu beliau bersabda: “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 537, Kitabul Masajid, Bab Tahrimul Kalam fis Shalah wa Naskhi ma kana min Ibahatin), Al-Imam Abu Dawud (no. 930, Kitabus Shalah, Bab Tasymiyatul ‘athis fis shalah), dan Al-Imam An-Nasa`i (no. 1217, Kitab As-Sahw Bab Al-Kalam fis shalah).
Hadits di atas merupakan potongan dari sebuah hadits yang panjang, dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami z. Ia berkata: “Tatkala aku sedang shalat bersama Rasulullah n tiba-tiba ada salah seorang yang bersin (dalam keadaan shalat). Akupun berkata: ‘Yarhamukallah!’ Orang-orang pun memandangiku. Aku berkata: ‘Wa tsukla ummiyah!1’ Kenapa kalian memandangiku (seperti itu)?’
Kemudian mereka menepuk-nepukkan kedua tangannya di atas pahanya. Ketika aku melihat bahwa mereka (berbuat demikian) supaya aku diam, maka akupun diam. Setelah Rasulullah n selesai dari menjalankan shalat, aku berkata: ‘Bi abi huwa wa ummi! Aku belum pernah melihat sebelum dan sesudahnya seorang pengajar yang terbaik dalam memberikan pengajaran daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukul dan tidak pula memaki. Beliau hanya berkata: ‘Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada di dalamnya suatu ucapan apapun dari ucapan manusia. Yang diperbolehkan hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur`an.’ Atau sebagaimana sabda Rasululllah n.
Kemudian aku berkata: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya saya baru saja meninggalkan masa kejahiliahan dan Allah menggantikannya dengan mendatangkan agama Islam. Sebagian kami (sebelum Islam datang) mendatangi dukun!’
Beliau bersabda: ‘Janganlah kalian mendatangi mereka.’
Aku kembali mengutarakan: ‘Sebagian kami ada yang ber-tathayyur (meyakini kesialan karena burung tertentu)!’
Beliau bersabda: ‘Itu adalah perkara yang mereka dapati dalam dada mereka, janganlah perkara itu memalingkan kalian (menghalangi kalian dari beraktivitas).”
Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami berkata: “Aku memiliki seorang budak perempuan yang menggembalakan kambing-kambingku di arah Uhud dan Al-Jawwaniyyah. Pada suatu hari aku dapati seekor serigala telah membawa lari salah satu dari kambing-kambing yang digembalakannya. Dan aku seorang dari Bani Adam, yang dapat marah sebagaimana mereka marah. Aku lantas menamparnya, kemudian aku menghadap Rasulullah, karena perkara itu telah membebaniku.
Aku bertanya: ‘Ya Rasulullah, tidakkah saya membebaskannya?’
Beliau bersabda: ‘Bawalah dia kepadaku.’ Akupun membawanya, lalu beliau bertanya kepadanya: ‘Di manakah Allah?’ Dia menjawab: ‘Di atas langit.’ Beliau bertanya: ‘Siapakah aku?’ Dia menjawab: ‘Engkau adalah Rasulullah.’ Lalu beliau bersabda: ‘Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman’.” (lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj, 5/23-27)
Hadits ini dipahami secara salah oleh kaum Murji`ah untuk membenarkan pemikiran mereka dalam perkara iman. Menurut mereka, iman adalah pembenaran dengan hati dan ucapan dengan lisan, tidak perlu amalan. Sisi pendalilannya adalah pernyataan Rasulullah n: “Sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman,” yaitu sekedar ucapan tanpa amalan sudah dinyatakan sebagai seorang yang beriman.
Untuk menjawab perkara ini ada beberapa jawaban:
Pertama: Al-Imam Ahmad, Al-Khaththabi, dan Ibnu Taimiyyah berkata: “Pengikraran jariyah (budak) ini bahwa Allah  l ada di atas, Muhammad adalah Rasulullah, merupakan jawaban atas pertanyaan Rasulullah n, yang mana pertanyaan beliau ini berkaitan dengan tanda-tanda keimanan dan alamat bagi ahlinya. Dan bukan pertanyaan tentang perkara prinsip keimanan, sifat, dan hakikatnya.
Kedua: Terdapat pada sebagian riwayat bahwa Nabi tidak mencukupkan (meridhai) dari jariyah ini hingga beliau bertanya: “Apakah kamu beriman dengan perkara yang demikian dan demikian? Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah?” Ia menjawab: “Ya.”
“Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” Ia menjawab: “Ya.”
“Apakah kamu beriman dengan hari kebangkitan?” Ia menjawab: “Ya.”
Kemudian Rasulullah n bersabda: “Bebaskan dia dari perbudakan.”
Ketiga: Kemungkinan kejadian ini terjadi sebelum turunnya perkara-perkara yang sifatnya fardhu.
Telah menjadi kesepakatan ulama Ahlus Sunnah dahulu maupun sekarang bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Maksud iman adalah ucapan dan perbuatan, adalah bahwa ucapan hati dan ucapan lisan, perbuatan hati dan perbuatan lisan akan bertambah dengan menjalankan ketaatan dan akan berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Berbeda dengan kaum Murji`ah yang menyatakan bahwa iman hanyalah i’tiqad (keyakinan) dan ucapan dengan lisan saja.
Ishaq bin Ibrahim bin Hani berkata: “Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: ‘Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang’.”
Pendapat Al-Imam Ahmad v bahwa iman itu bertambah dan berkurang maknanya adalah seperti yang ditanyakan oleh putra beliau yaitu Shalih. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku, apa itu makna bertambah dan berkurangnya iman?” Beliau menjawab: “Bertambahnya iman adalah dengan adanya amalan, berkurangnya adalah dengan meninggalkan amalan, seperti meninggalkan shalat, zakat, dan haji.”
Pendapat Al-Imam Ahmad v dalam mendefinisikan iman merupakan pendapat keumuman atau mayoritas ulama Salaf, bahwa iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan perbuatan dengan anggota badan. Para ulama Salaf memandang bahwa iman adalah ungkapan dari tiga perkara ini. Mereka menganggap pembenaran dengan hati dan ucapan dengan lisan merupakan pokok perkara iman, adapun perbuatan merupakan cabang dari iman.
Oleh karenanya, mereka tidak mengkafirkan para pelaku dosa besar dan tidak menghukumi mereka sebagai penghuni neraka selama-lamanya, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Khawarij dan Mu’tazilah. Dan yang telah menukil kesepakatan para ulama (ijma’) dalam mendefinisikan iman (seperti tersebut di atas) adalah Abu ‘Ubaid Al-Qasim ibnu Salam, Asy-Syafi’i, Al-Bukhari, Al-Lalika`i, dan Al-Baghawi, Ibnu Abdil Barr dan selain mereka. (lihat Al-Masa`il war Rasa`il Al-Marwiyah ‘an Al-Imam Ahmad bin Hanbal, 1/63-67)
Tatkala beliau menyatakan dalil yang menunjukkan bahwa amalan masuk dalam penamaan iman, beliau berkata dengan menyebutkan firman Allah l:
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ
“Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (Al-Baqarah: 143)
Dalam ayat ini Allah k menjadikan shalat mereka sebagai perkara iman, maka shalat termasuk dari perkara iman.”
Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Al-Imam Al-Bukhari t, beliau berkata: “Aku menjumpai lebih daripada 1.000 orang dari kalangan ulama di berbagai daerah (negeri). Tidaklah aku melihat seorang pun yang berselisih bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”
Ar-Rabi’ berkata: Aku mendengar Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang.” Pada riwayat yang lain terdapat tambahan: “Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”
Kemudian beliau membaca ayat:
وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
“Dan agar bertambah keimanan orang-orang yang beriman.” (Al-Muddatstsir: 31) [Lihat Fathul Bari, 1/62-63]
Sebagian ahlul ilmi menyatakan, manusia terbagi menjadi tiga bagian:
Pertama: Sabiqun bil khairat, yaitu orang yang mengerahkan segenap kemam-puannya untuk melaksanakan perintah Allah l baik yang wajib maupun yang mustahab, serta menjauhi larangan-Nya.
Kedua: Muqtashid, yaitu orang yang hanya mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram saja.
Ketiga: Zhalim linafsih, yaitu orang yang mencampurkan amalan baik dengan amalan buruk.
Kelompok yang pertama lebih sempurna imannya ketimbang yang kedua, dan yang kedua lebih sempurna ketimbang yang ketiga.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Dari pembahasan ini terdapat beberapa pendapat ulama Salaf dan imam-imam As-Sunnah dalam menafsirkan iman. Kadang mereka berkata, ‘iman adalah ucapan dan perbuatan’, terkadang menyatakan, ‘iman adalah ucapan perbuatan dan niat’, terkadang menyatakan ‘iman adalah ucapan, perbuatan, niat, dan ittiba’ (mengikuti) As-Sunnah’, terkadang pula mengucapkan, ‘iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan’. Semua ungkapan itu benar adanya.
Adapun mereka yang menyatakan iman itu adalah ucapan dan amalan, maka termasuk di dalamnya adalah ucapan hati dan ucapan lisan. Inilah yang dipahami dari makna ‘ucapan’, jika disebut secara mutlak. Sehingga apabila ada seorang ulama salaf yang berkata iman adalah ucapan dan perbuatan, maka maknanya adalah ucapan dengan hati dan lisan, serta amalan hati dan anggota badan. Barangsiapa yang menambah lafadz i‘tiqad dalam mendefinisikan iman, memandang bahwa lafadz ‘ucapan’ tidaklah dipahami kecuali ucapan lahir saja. Atau ia mengkhawatirkan tidak dipahaminya adanya keyakinan hati sehingga ditambahlah dengan kata ‘keyakinan dalam hati’.
Sedangkan pendapat yang menyatakan iman adalah ucapan, perbuatan dan niat, maknanya adalah ucapan yang mengandung i‘tiqad dan ucapan lisan. Adapun lafadz ‘amal’ yang tidak dipahami niat darinya, ditambahlah dalam mendefinisikan iman dengan adanya niat. Bagi yang menambah ittiba’ (mengikuti) As-Sunnah, karena semua itu tidaklah dicintai oleh Allah l kecuali dengan mengikuti As-Sunnah.
Kemudian, mereka tidaklah menghendaki makna ungkapan ‘iman berupa ucapan dan perbuatan’, bahwa maksudnya adalah seluruh ucapan dan perbuatan. Akan tetapi sebagai sanggahan terhadap kaum Murji`ah yang menyatakan bahwa iman itu ucapan semata. Oleh karenanya mereka (para ulama) berkata bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan. Adapun yang menjadikan iman itu empat macam, penafsirannya adalah sebagaimana yang ditanyakan kepada Sahl bin Abdillah At-Tusturi, tentang apakah iman itu. Beliau berkata: ‘Ucapan, perbuatan, niat dan As-Sunnah.’ Karena iman tanpa amal adalah kufur, iman berupa ucapan dan amalan tanpa adanya niat adalah nifaq (kemunafikan), iman berupa ucapan, amalan dan niat namun tanpa As-Sunnah berarti bid’ah.” (lihat Majmu’ Fatawa, 7/505-506)
Berikut fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Ifta` (Komite Tetap Urusan Fatwa) no. 21436, tanggal 8/4/1421 H:
Segala puji hanya milik Allah l saja, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad n yang tidak ada nabi setelahnya. Komite Tetap Urusan Pembahasan Ilmiah dan Fatwa sungguh telah mempelajari apa yang telah sampai kepada yang mulia Al-Mufti ‘Aam (pemberi fatwa umum) Hai`ah Kibarul Ulama dari sejumlah peminta fatwa terkait permintaan fatwa mereka dengan amanah secara umum dengan no. 5411 tgl. 7/11/1420 H, no. 1026 tgl. 17/2/1421 H, no. 1016 tgl.7/2/1421H, no. 1395 tgl 25/3/1431 H, No.1650 tgl. 17/3/1421 H, No. 1893 tgl. 25/3/1421 H, No. 2106 tgl. 7/4/1421 H.
Para peminta fatwa telah menanyakan beberapa pertanyaan yang isinya:
“Pada akhir-akhir ini muncul pemikiran Murji`ah dalam bentuk yang menakutkan dan telah tersusun banyak kitab guna menyebarluaskan pemikirannya. Mereka bersandar kepada penukilan-penukilan yang sepenggal-sepenggal dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v yang menyebabkan banyak manusia terperangkap ke dalam istilah penamaan iman, di mana mereka yang menyebarkan pemikiran ini berusaha untuk mengeluarkan amal dari penamaan iman. Mereka berpendapat seseorang akan selamat meskipun ia meninggalkan semua amalan. Termasuk perihal yang memudahkan manusia jatuh ke dalam kemungkaran, perkara kesyirikan, perkara-perkara yang membuat seseorang menjadi murtad, jika mereka mengetahui bahwa iman mereka tetap benar walaupun tidak menunaikan kewajiban dan tidak menjauhi keharaman, walaupun mereka tidak mengerjakan syariat agama.
Berdasarkan madzhab ini, tidaklah diragukan lagi bahwa madzhab ini sangat berbahaya bagi masyarakat Islam dan bagi perkara-perkara aqidah serta ibadah.
Kami berharap kepada yang mulia untuk menjelaskan hakikat madzhab ini, pengaruhnya yang jelek, menjelaskan al-haq, yang dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, serta meluruskan penukilan dari Syaikhul Islam sehingga seorang muslim berada di atas hujjah yang nyata dari agamanya. Semoga Allah l memberikan taufiq serta meluruskan langkah-langkah anda. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Setelah mempelajari permintaan fatwa tersebut, Al-Lajnah memberikan jawaban sebagai berikut:
“Ucapan yang disebutkan ini adalah ucapan Murjiah, yaitu orang-orang yang mengeluarkan (tidak menganggap) amalan-amalan dari definisi iman. Mereka berkata: ‘Iman itu pembenaran dengan hati atau pembenaran dengan hati dan pengucapan dengan lisan saja’. Adapun amal menurut mereka hanya sebagai syarat kesempurnaan iman dan bukan termasuk keimanan. Barangsiapa telah membenarkan dengan hati dan mengucapkan dengan lisannya, maka dia seorang mukmin yang sempurna imannya menurut mereka, walaupun berbuat sekehendaknya berupa meninggalkan kewajiban dan mengerjakan perkara yang haram. Seseorang berhak masuk ke dalam jannah (surga) walaupun belum pernah berbuat kebaikan sama sekali.
Kesesatan tersebut membawa konsekuensi yang batil. Di antaranya, membatasi kekufuran hanya kepada kufur takdzib (mendustakan agama) dan istihlal qalbi (menghalalkan apa yang diharamkan).
Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah ucapan yang batil dan kesesatan yang nyata, menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dahulu maupun sekarang. Perkara ini sesungguhnya akan membuka peluang bagi pelaku keburukan dan kejahatan untuk melepaskan diri dari agama dan tidak merasa terkait dengan perintah, larangan, rasa takut dan khasyah kepada Allah k. Ia akan menolak jihad fi sabilillah, amar ma’ruf nahi munkar. Dia akan menyamakan antara orang yang shalih dengan orang yang jahat, yang taat dengan yang bermaksiat, yang istiqamah di atas agama Allah l dengan orang fasiq yang lepas dari perintah dan larangan agama. Hal ini bila amalan-amalan dianggap tidak mengurangi iman sebagaimana yang mereka ucapkan (Murji`ah).
Oleh sebab itu para imam Islam dahulu dan sekarang telah menjelaskan tentang kebatilan madzhab ini dan memberikan bantahan terhadap pengikutnya. Bahkan mereka membahas perkara ini secara khusus, terutama dalam kitab-kitab aqidah. Mereka  juga telah menulis beberapa karangan tersendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t  dan selain beliau.
Syaikhul Islam di dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah berkata, di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa agama dan iman ini adalah ucapan dan amalan, ucapan hati dan lisan, serta amalan hati dan lisan dan anggota badan. Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.
Di dalam Kitabul Iman, beliau berkata: “Dari bab inilah pendapat-pendapat ulama Salaf dan imam-imam Sunnah membahas tentang tafsir (pengertian) iman. Terkadang mereka berkata iman adalah ‘ucapan dan amalan’, terkadang mereka berkata iman adalah ‘ucapan amalan dan niat’; terkadang mereka berkata ‘ucapan, amalan, niat, dan mengikuti As-Sunnah’; terkadang mereka mengatakan ‘ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan.’ Semua itu benar adanya.”
Beliau v berkata: “Kaum Salaf sangat keras dalam mengingkari Murji`ah tatkala mereka mengeluarkan amalan dari iman. Tidak diragukan bahwa ucapan mereka dalam menyamakan iman manusia termasuk kesalahan yang paling keji. Bahkan manusia tidak akan sama derajatnya dalam at-tashdiq (pembenaran), tidak pula dalam hal cinta, khasyah, maupun ilmu. Bahkan yang ada ialah terjadinya perbedaan dalam keutamaan ditinjau dari berbagai sisi.”
Beliau t berkata : “Sungguh Murji`ah telah menyimpang dalam prinsip ini dari penjelasan Al-Kitab, As-Sunnah, ucapan para sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka hanya bersandar kepada ra`yu (akal pemikiran) mereka dan apa-apa yang mereka takwilkan berdasarkan pemahaman apa yang mereka tafsirkan dari sisi bahasa. Ini merupakan jalan ahlul bid’ah.” Selesai (ucapan beliau).
Di antara dalil yang menyebutkan bahwa amalan termasuk hakikat iman, dan bahwa iman itu bertambah dan berkurang adalah firman Allah l dalam Surat Al-Anfal ayat 2-4:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya. Mereka itulah orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki-rizki yang Kami berikan. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenarnya.”
Dan firman Allah l dalam Surat Al-Mukminun ayat 1-9:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
“Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Orang-orang yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna. Orang-orang yang menunaikan zakat. Orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat yang dipikulnya dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara shalatnya.”
Rasulullah n bersabda:
اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلَاهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ
“Iman itu ada 70 lebih cabang, yang paling tinggi adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu merupakan salah satu cabang iman.”
Syaikhul Islam t juga berkata di dalam Kitabul Iman: “Dasar keimanan itu ada di dalam hati yaitu ucapan hati dan amalannya, yaitu pernyataan pembenaran, cinta, dan ketundukan. Apa yang ada dalam hati pasti akan nampak konsekuensinya pada anggota badan. Jika ia tidak mengamalkan konsekuensinya berarti menunjukkan tidak adanya iman tersebut atau kelemahannya. Oleh karena itu, amalan-amalan lahiriah merupakan konsekuensi keimanan hati. Dia merupakan pembenaran terhadap apa yang ada dalam hati dan sebagai bukti serta saksi atas keimanan tersebut. Dia merupakan cabang dan bagian dari keimanan yang mutlak.”
Beliau juga berkata: “Bahkan setiap orang yang memerhatikan ucapan Khawarij dan Murji`ah tentang makna iman, pasti ia akan mengetahui bahwa ucapan tersebut menyelisihi Rasul n. Dia juga akan mengetahui dengan pasti pula bahwa menaati Allah l dan Rasul-Nya merupakan kesempurnaan iman, dan tidaklah setiap pelaku dosa dihukumi kafir. Dia juga akan tahu seandainya ditaqdirkan ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi n: “Kami beriman kepada semua yang engkau bawa dengan hati kami tanpa ada keraguan. Kami mengikrarkan dua kalimat syahadat dengan lisan kami. Hanya saja kami tidak akan menaatimu dalam perkara apapun, baik yang engkau perintahkan atau yang engkau larang. Kami tidak akan shalat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan. Kami tidak akan melakukan sesuatupun dari kebaikan yang engkau perintahkan. Kami akan minum khamr, menikahi mahram-mahram kami dengan zina yang nyata, membunuh sahabat dan umatmu semampu kami. Dan kami akan merampas harta mereka, bahkan kami juga akan membunuh dan memerangimu bersama musuh-musuhmu.”
Apakah akan terbayang oleh seorang yang berakal bahwa Nabi n berkata kepada mereka: “Kalian adalah orang-orang yang beriman dengan keimanan sempurna. Kalian berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat dan diharapkan tidak ada seorang pun dari kalian yang masuk an-naar (neraka)”?!
Bahkan setiap muslim pasti akan mengetahui bahwa beliau akan berkata kepada mereka: “Kalian adalah manusia yang paling mengingkari ajaran yang aku bawa.” Beliau akan memenggal leher mereka (membunuh) jika mereka tidak bertaubat dari hal tersebut.” Selesai ucapan beliau.
Beliau t juga berkata: “Lafadz iman jika disebutkan secara mutlak di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah maksudnya adalah sama dengan maksud lafadz al-bir, at-taqwa, ad-dien sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Karena Nabi n menjelaskan bahwa iman itu ada 70 lebih cabang. Yang paling utama adalah Laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Maka setiap perkara yang dicintai Allah l masuk di dalam nama iman. Begitu pula lafadz al-bir, masuk di dalamnya semua perkara itu tadi, jika disebutkan secara mutlak. Demikian pula lafadz at-taqwa, ad-dien, atau dienul Islam. Demikian pula telah diriwayatkan bahwa mereka (para sahabat) bertanya tentang iman, maka Allah l menurunkan ayat:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ
“Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan….”
Hingga Syaikhul Islam v berkata: “Yang dimaksud di sini, pujian itu tidak akan ditetapkan kecuali terhadap iman yang disertai amal, bukan iman yang terlepas dari amal.”
Inilah ucapan Syaikhul Islam tentang iman dan barangsiapa yang menukil dari beliau selain itu maka ia telah berdusta atas namanya. Adapun yang terdapat dalam sebuah hadits, bahwa suatu kaum masuk ke dalam Jannah padahal mereka belum pernah melakukan kebaikan sama sekali, hadits itu tidaklah berlaku secara umum kepada setiap orang yang meninggalkan amalan, padahal ia mampu mengerjakannya.
Hadits ini khusus bagi mereka disebabkan adanya sebuah udzur, yaitu terhalangnya mereka dari beramal atau makna-makna lain yang sesuai dengan nash-nash yang muhkamat (yang jelas maksudnya) dan yang disepakati oleh salafus shalih dalam permasalahan ini. Inilah (jawaban kami).
Bila masalah itu sudah sangat jelas, maka Al-Lajnah Ad-Da`imah melarang dan memperingatkan dari perdebatan dalam ushul aqidah. Karena hal itu dapat mengakibatkan bencana yang besar. Al-Lajnah mewasiatkan agar merujuk kepada kitab-kitab salafus shalih dan para pemimpin agama, yang mana berlandaskan kepada Al-Qur`an, As-Sunnah dan ucapan-ucapan salaf.
Al-Lajnah juga memperingatkan dari merujuk kepada kitab-kitab yang menyelisihi hal di atas dan kitab-kitab baru yang muncul dari orang-orang muta’alimin (mengaku sebagai ulama) yang tidak mengambil ilmu dari ahlinya dan sumber-sumber ahlinya. Mereka telah berani berbicara dalam hal prinsip yang agung dari sekian prinsip-prinsip aqidah ini. Mereka membangun madzhab Murji`ah dan menisbahkannya dengan penisbahan yang penuh kezaliman kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mengkaburkan perkara tersebut kepada manusia. Mereka memperkuat pendapatnya dengan menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan imam-imam Salaf yang lain dengan nukilan yang terputus (sepenggal-sepenggal) dan dengan ucapan-ucapan yang mutasyabih (yang tidak jelas), tanpa mengembalikannya kepada ucapan-ucapan mereka yang muhkam (yang jelas).
Al-Lajnah menasihati mereka untuk bertakwa kepada Allah l atas diri mereka, sadar kembali dan tidak mencabik-cabik persatuan dengan menyebarkan madzhab yang sesat ini. Juga mengingatkan agar kaum muslimin jangan sampai tertipu dan terjerumus, dengan ikut serta masuk ke dalam kelompok yang menyelisihi pijakan jamaah kaum muslimin Ahlus Sunnah wa Jamaah. Semoga Allah k memberi taufiq kepada semuanya menuju ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan pemahaman di dalam agama. Semoga Allah l mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad n, keluarga serta sahabat beliau seluruhnya.
Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil Ilmiah wal Ifta`.
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh.
Anggota: Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudyan, Shalih bin Fauzan Al-Fauzan,  Bakr bin Abdillah Abu Zaid. (lihat Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, hal. 64-68)
Wallahu a‘lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Sebuah kalimat yang diucapkan oleh orang Arab secara dzahir makna, namun tidak dikehendaki terjadinya. Kalimat ini merupakan bentuk pengajaran dan pengingat dari sebuah kelalaian dan kekaguman, serta pengagungan terhadap suatu perkara. (pent.)

Keimanan yang Tidak Membuahkan Hasil

(ditulis oleh: Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً أُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa`: 150-151)

Penjelasan Mufradat Ayat
يَكْفُرُونَ
“Yang kafir.” Yang dimaksud orang-orang kafir di sini adalah Yahudi dan Nashara sebagaimana yang disebutkan oleh Qatadah, As-Suddi, dan yang lainnya.
سَبِيْلاً
“Jalan.” Yang dimaksud di sini adalah agama yang mereka jadikan sebagai keyakinan. Ini disebutkan oleh Ibnu Juraij. Adapula yang mengatakan: jalan menuju kesesatan yang mereka ada-adakan, bid’ah yang mereka buat, mereka mengajak orang-orang bodoh dari kalangan manusia kepadanya. (Tafsir At-Thabari)

Penjelasan Makna Ayat
Ayat Allah k ini menjelaskan tentang keadaan sebuah kelompok yang berada di antara dua kelompok yang telah jelas kedudukan dan sikap mereka. Dua kelompok yang jelas tersebut adalah:
Pertama: kelompok yang mengimani segala hal yang datang dari Allah l dan Rasul-Nya. Mereka adalah kaum mukminin.
Kedua: kelompok yang mengingkari seluruh apa yang datang dari Allah k dan Rasul-Nya. Mereka adalah kaum kafir yang jelas kekufurannya.
Adapun kelompok yang ketiga adalah kelompok yang disebutkan oleh Allah l pada ayat ini yaitu orang-orang yang mengimani sebagian rasul dan tidak mengimani sebagian lainnya serta menyangka bahwa ini merupakan jalan yang dapat menyelamatkan mereka dari siksaan Allah k. Namun itu hanyalah angan-angan belaka, sebab mereka bermaksud memisahkan antara keimanan kepada Allah l dan para rasul-Nya. Sebab barangsiapa yang bersikap loyal kepada Allah k secara hakiki niscaya dia akan bersikap loyal kepada seluruh rasul-Nya sebagai wujud loyalitasnya yang sempurna kepada Allah l. Dan barangsiapa yang memusuhi salah seorang dari kalangan rasul-Nya maka sungguh dia telah memusuhi Allah k dan memusuhi seluruh rasul-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ
“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 98)
Demikian pula orang yang kufur terhadap seorang rasul, maka sungguh ia telah mengkufuri seluruh rasul termasuk terhadap rasul yang disangka telah diimaninya. Oleh karena itu, Allah l menegaskan bahwa mereka ini adalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya agar tidak menimbulkan persangkaan bahwa mereka berada di sebuah tingkatan antara keimanan dan kekafiran.
Dan sisi penyebab kafirnya mereka –meskipun terhadap sesuatu yang mereka menyangka beriman kepadanya- bahwa setiap dalil yang mengantarkan mereka menuju keimanan terhadap apa yang mereka imani juga terdapat yang semisalnya atau bahkan lebih daripada itu, terhadap nabi yang mereka ingkari. Demikian pula setiap syubhat yang mereka gunakan untuk meragukan kenabian seorang nabi yang mereka ingkari juga terdapat yang semisalnya atau bahkan lebih dari itu terhadap nabi yang mereka imani.
Sehingga tidak ada yang tinggal dari mereka melainkan syahwat dan mengikuti hawa nafsu serta sekedar pengakuan yang memungkinkan bagi yang lain untuk mendatangkan lawan yang semisalnya. Sehingga tatkala Allah l telah menyifatkan bahwa mereka itu adalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya maka Allah l menyebutkan hukuman yang meliputi mereka (orang-orang kafir) secara menyeluruh dengan firman-Nya “Dan Kami telah persiapkan bagi orang-orang kafir siksaan yang menghinakan”, sebagaimana mereka yang bersikap sombong untuk beriman kepada Allah k maka Allah l pun menghinakan mereka dengan siksaan yang sangat pedih dan menghinakan. (Tafsir As-Sa’di)
Qatadah t berkata dalam menjelaskan ayat ini: “Mereka adalah musuh-musuh Allah k dari kalangan Yahudi dan Nashara, Yahudi beriman kepada Taurat dan Musa, serta mengingkari Injil dan Nabi Isa. Kaum Nashara beriman kepada injil dan Isa, serta mengingkari Al-Qur`an dan Muhammad n. Maka mereka lebih memilih jalan agama Yahudi dan Nashrani padahal keduanya merupakan agama bid’ah yang tidak berasal dari Allah l lalu meninggalkan Islam yang merupakan agama Allah l yang dengannya Dia mengutus para rasul-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari)

Tidak Ada Kedudukan yang Ketiga antara Haq dan Batil
Ayat Allah l yang mulia ini juga menerangkan bahwa tidak ada kedudukan di antara kekufuran dan keimanan. Allah k hanya membagi dua keadaan, adakalanya keimanan dan adakalanya kekufuran. Adapun yang disangka oleh mereka yang beriman terhadap sebagian apa yang datang dari Allah l dan menyangka bahwa hal tersebut bermanfaat bagi mereka, maka ayat ini membatalkan persangkaan mereka itu dan mendustakan apa yang selama ini mereka imani disebabkan karena seseorang tidak diperkenankan untuk memilih apa yang datang dari Allah k sesuai dengan kehendak hawa nafsu namun yang diinginkan adalah sikap istislam (berserah diri) dan inqiyad (tunduk) terhadap segala apa yang datang Allah Jalla wa ‘Ala tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Di dalam ayat lain Allah l berfirman tentang orang-orang Yahudi:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“…Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 85)
Dalam ayat ini, Allah lmenerangkan pula bahwa sikap beriman kepada sebagian isi kitab yang diturunkan Allah l lalu mengkufuri sebagian lainnya merupakan sikap yang mendatangkan kehinaan atas mereka dalam kehidupan dunia serta siksaan yang pedih dari Allah l di akhirat. Dan tidaklah diringankan siksaan itu atas mereka, dan mereka dilaknat Allah l disebabkan kekufuran mereka.
Ini semua menunjukkan bahwa mengingkari sebagian apa yang datang dari Allah k berarti mengingkarinya secara menyeluruh. Allah l berfirman:
فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi t berkata:
“Tidak ada perselisihan di kalangan para ulama seluruhnya bahwa jika seseorang membenarkan Rasulullah n dalam satu perkara dan mendustakannya dalam perkara lain, maka dia kafir dan tidak tergolong ke dalam Islam. Demikian pula jika ia mengimani sebagian Al-Qur`an dan mengingkari sebagian yang lain seperti orang yang mengikrarkan kalimat tauhid dan mengingkari kewajiban shalat atau mengikrarkan tauhid dan shalat, dan mengingkari wajibnya zakat, atau meyakini semua itu, dan mengingkari wajibnya puasa, atau meyakini semua itu dan mengingkari wajibnya haji. Tatkala sebagian manusia di zaman Nabi n tidak  tunduk terhadap perintah haji maka Allah l menurunkan firman-Nya tentang mereka:
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali ‘Imran: 97) (lihat Kasyfus Syubhat, hal. 64, bersama Syarh Ibnu Utsaimin)

Hukum Mengingkari Sebagian Apa yang Diturunkan Allah l
Di antara faedah yang dapat kita petik dari ayat ini bahwa seorang muslim diharuskan untuk menerima seluruh apa yang diturunkan Allah k, tanpa membedakan antara satu hukum dengan hukum yang lain. Sebab, barangsiapa mengingkari satu hukum di antara apa yang diturunkan Allah k dalam keadaan dia mengetahui bahwa itu datangnya dari Allah l maka sungguh dia telah kafir. Termasuk di antara mereka adalah orang yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah k atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah l dalam keadaan dia mengetahuinya. Seperti contoh perkataan seseorang: “Saya tahu bahwa Allah l mengharamkan zina tapi menurut saya bahwa zina itu boleh-boleh saja.” Atau mengatakan: “Saya mengerti bahwa Islam mengharamkan korupsi tapi menurut saya korupsi itu hukumnya halal,” atau yang semisalnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah l dan Rasul-Nya, sedangkan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah k dan Rasul-Nya. Adapun agama adalah apa yang disyariatkan Allah l dan Rasul-Nya. Tidak diperbolehkan bagi seseorang keluar dari sesuatu yang telah disyariatkan oleh Rasul n, yaitu syariat yang wajib bagi setiap pemimpin untuk mengharuskan manusia mengamalkannya, yang wajib bagi para mujahidin untuk berjihad di atasnya, dan yang wajib atas setiap individu untuk mengikuti dan menolongnya.” (Majmu’ Al-Fatawa, 35/372)
Ishaq bin Rahuyah t berkata: “Barangsiapa yang sampai kepadanya berita dari Rasulullah n yang dia yakini keshahihannya lalu dia menolaknya tanpa taqiyyah, maka dia kafir.” (Al-Ihkam, Ibnu Hazm, 1/89)
Ibnu Baththah t berkata pula: “Kalau sekiranya ada seseorang yang mengimani semua yang datang dari para rasul kecuali satu perkara, maka penolakannya terhadap satu perkara tersebut menjadikannya kafir, menurut seluruh para ulama.” (Al-Ibanah, hal. 211)
Ibnu Hazm t berkata: “(Allah l) tidak memperkenankan seorang muslim yang telah meyakini tauhid, untuk merujuk kepada selain Al-Qur`an dan berita dari Rasulullah n, dan tidak pula memperkenankannya untuk meninggalkan apa yang dia temukan pada keduanya (Al-Qur`an dan As-Sunnah, pen.). Jika dia melakukan itu setelah ditegakkan hujjah atasnya maka dia fasiq. Adapun yang melakukannya dengan keyakinan menganggap halal/boleh keluar dari keduanya dan mengharuskan taat kepada salah seorang dari selain keduanya maka dia kafir dan ragu (terhadap keduanya) menurut kami.” Dan beliau berhujjah dengan firman Allah l:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa`: 65) [Al-Ihkam, 1/89]
Beliau juga mengatakan: “Mereka (para ulama sepakat) bahwa barangsiapa beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya, dan setiap apa yang beliau n bawa dari apa yang dinukilkan dari beliau dengan penukilan secara mutawatir dan dia ragu tentang tauhid, perkara kenabian, atau terhadap Muhammad n, atau satu huruf dari apa yang beliau n bawa, atau satu syariat yang beliau bawa dari apa yang dinukilkan dari beliau secara mutawatir, maka barangsiapa yang mengingkari sesuatu dari apa yang kami sebutkan atau ragu padanya dan mati dalam keadaan demikian maka dia kafir musyrik kekal dalam neraka selama-lamanya.” (Maratib Al-Ijma’, hal. 177)
Ibnu Abdil Barr t juga mengatakan: “Mereka (para ulama, pen.) sepakat bahwa orang menganggap halal khamr perasan anggur yang memabukkan, adalah kafir karena menolak hukum Allah k dalam kitab-Nya, dia murtad dan diminta bertaubat jika dia bertaubat dan mencabut perkataannya. Dan jika tidak, maka dihalalkan darahnya seperti orang-orang kafir lainnya.” (At-Tamhid, 1/142-143)
Dan masih banyak lagi penukilan dari ulama salaf g baik dari kalangan sahabat maupun setelah mereka yang menunjukkan bahwa hal ini sudah menjadi kesepakatan di antara mereka. Namun dalam permasalahan ini, hendaklah kita perhatikan dua hal berikut:
Pertama: tidak termasuk dalam kaidah tersebut di atas seseorang yang mengingkari sesuatu yang jelas terdapat di dalam agama ini namun pengingkarannya dikarenakan tidak mengetahui bahwa hal tersebut termasuk dalam agama1 dan bukan disebabkan karena sikap menentang apa yang telah shahih dalam Islam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Para ulama tidak mengkafirkan orang yang menghalalkan sesuatu dari perkara-perkara yang diharamkan disebabkan karena dia baru masuk Islam atau dikarenakan dia tinggal jauh dari permukiman. Maka sesungguhnya menghukumi kafir tidak dilakukan kecuali setelah sampainya risalah (hujjah, pen.). Sedangkan kebanyakan dari mereka ini ada kemungkinan tidak sampai kepada mereka nash-nash yang menyelisihi pendapat mereka, dan dia tidak mengetahui bahwa Rasul n diutus untuk itu.” (Majmu’ Fatawa, 28/501, lihat pula 11/407)
Kedua: ayat ini bukan pula dalil untuk membenarkan pemahaman kelompok Khawarij yang mengkafirkan setiap pelaku dosa besar dan mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah k, dengan alasan bahwa orang yang berhukum dengan selain hukum Allah  l sudah tentu dia menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah l, yang dengan itu berarti dia beriman kepada sebagian syariat dan mengkufuri sebagian lainnya, dan ini adalah kekafiran yang sebenar-benarnya.
Jawaban atas syubhat tersebut adalah sebagai berikut:
Perlu diketahui bahwa para pelaku maksiat, termasuk di dalamnya orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah l, memiliki kondisi yang berbeda satu sama lain. Di antara mereka ada yang melakukan kemaksiatan disebabkan karena kejahilannya bahwa perkara tersebut terlarang dalam Islam. Ada juga yang melakukannya disebabkan karena kelemahan iman dan mengikuti hawa nafsu dalam keadaan dia tetap meyakini bahwa hal tersebut dilarang oleh Islam. Di antara mereka ada yang melakukan kemaksiatan disebabkan karena terpaksa melakukannya, dan berbagai macam kemungkinan lain yang menyebabkan seseorang terjatuh dalam kemaksiatan dan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah l. Yang tentunya kemungkinan tersebut di atas menghalangi kita untuk serta merta menghukumi/memvonis seseorang telah kafir dan keluar dari Islam dengan hanya sekedar melakukan perkara haram tersebut, tanpa mengetahui apa yang melatarbelakangi perbuatannya. Adapun bila telah jelas dan meyakinkan bahwa ia melakukan kemaksiatan tersebut dengan keyakinan menghalalkannya, dalam keadaan dia mengetahui bahwa itu datang dari Allah l dan Rasul-Nya, maka dalam hal ini orang tersebut divonis sebagai kafir dan keluar dari Islam.
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam berkata: “Adapun atsar-atsar yang diriwayatkan di  mana menyebutkan kekufuran dan kesyirikan serta kemaksiatan yang mengantarkan kepada keduanya maka maknanya menurut kami adalah tidak menetapkan kepada pelakunya kekufuran dan kesyirikan yang menghilangkan keimanan dari pelakunya itu. Namun sesungguhnya yang dimaksud bahwasanya ia termasuk di antara akhlak dan jalan yang ditempuh oleh orang-orang kafir dan musyrikin.” (Kitab Al-Iman, Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, hal. 86)
Wallahul muwaffiq.

Catatan Kaki:

1 Namun demikian, tidak semua orang yang tidak tahu mendapatkan udzur. (ed)

Pembatal-pembatal Keimanan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari)

Di negeri kita, banyak sekali terdapat acara ritual persembahan baik berupa makanan atau hewan sembelihan untuk sesuatu yang dianggap keramat. Seperti di daerah pesisir selatan pulau Jawa, banyak masyarakat memiliki tradisi memberikan persembahan kepada “penguasa” laut selatan. Begitupun di tempat lain, yang intinya adalah agar yang “mbau rekso” berkenan memberikan kebaikan bagi masyarakat setempat. Dilihat dari kacamata agama, acara ini sebenarnya sangat berbahaya, karena bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Iman menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki cabang yang banyak. Di antara cabang-cabang iman tersebut ada yang merupakan rukun, ada yang wajib dan ada pula yang mustahab. Nabi n bersabda:
اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً -أَوْ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً- أَفْضَلُهَا قَوْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Iman mempunyai 63 atau 73 cabang, paling utamanya adalah kalimat tauhid La ilaha illallah dan paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Muslim, An-Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Abu Hurairah z)
Dalam hadits yang mulia ini Nabi n mengumpulkan tiga perkara yang terkait dengan keimanan. Pertama adalah ucapan, yakni kalimat tauhid La ilaha illallah dan inilah hal yang rukun. Kedua adalah amalan, yakni menyingkirkan gangguan dari jalan dan inilah hal yang mustahab. Sedangkan yang ketiga adalah amalan hati, yakni malu dan ini termasuk hal yang wajib.
Lawan dari iman adalah kufur. Sebagaimana keimanan mempunyai banyak cabang, maka kekufuran pun memiliki cabang yang banyak. Namun tidak setiap yang mengerjakan salah satu dari cabang-cabang keimanan menyebabkan pelakunya dikatakan mukmin, seperti halnya tidak setiap yang melakukan salah satu dari cabang kekufuran lantas pelakunya dikatakan kafir.
Untuk lebih memperjelas hal di atas, salah satu contohnya adalah orang yang menyambung tali silaturrahmi (perbuatan ini merupakan cabang keimanan). Ia belumlah dapat dikatakan mukmin karena amalan tersebut, sampai ia mengerjakan rukun-rukun iman. Demikian halnya dengan yang meratapi mayit di mana perbuatan ini adalah salah satu dari cabang kekafiran. Tidaklah setiap orang yang melakukan hal tersebut menjadi kafir keluar dari Islam.
Pembaca, iman itu bukanlah sesuatu yang sempit penggunaannya. Artinya, tidaklah seseorang itu dikatakan mukmin manakala terkumpul padanya sifat atau ciri-ciri keimanan, lalu tidak dikatakan mukmin manakala tidak terdapat padanya sifat keimanan secara lengkap. Pola pikir semacam ini adalah pemikiran dua kelompok sempalan Islam yaitu Khawarij dan Mu’tazilah.
Adapun Ahlus Sunnah, mereka menyatakan seseorang bisa saja dalam dirinya ada sifat-sifat keimanan, kemudian kemunafikan atau kekufuran. Dan ini bukanlah hal yang mustahil. (Uraian di atas diambil dari kaset ceramah Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh berjudul Nawaqidhul Iman)
Oleh karena itu, seseorang dinyatakan beriman atau menyandang nama iman adalah dengan kalimat yang agung yaitu kalimat tauhid La ilaha illallah. Kalimat ini sebagai akad keimanan.
Akad keimanan ini tidak akan lepas dari diri seseorang kecuali dengan perkara yang betul-betul kuat dan jelas-jelas dapat menggugurkannya, bukan lantaran perkara-perkara yang masih meragukan atau bahkan mengandung kemungkinan-kemungkinan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mengatakan: “Sesungguhnya vonis kafir atau kekafiran itu tidak terjadi dengan sebab persoalan yang masih mengandung kemungkinan.” (As-Sharimul Maslul hal. 963, melalui nukilan dari Wajadilhum billati hiya Ahsan hal. 91)
Keimanan adalah ikatan, sedangkan pembatal adalah hal yang melepaskan atau memutuskan ikatan tersebut. Jadi yang dimaksud pembatal-pembatal keimanan adalah perkara atau perbuatan-perbuatan yang menjadikan pelakunya kafir keluar dari Islam.
Iman seperti yang telah lewat penyebutannya adalah ucapan, amalan, dan keyakinan. Dengan demikian, pembatal keimanan pun tidak lepas dari tiga perkara ini, yakni qauliyyah (ucapan), ‘amaliyyah (perbuatan), dan i’tiqadiyyah (keyakinan).

Pembatal Iman Karena Qauliyyah
Pembatal keimanan karena qauliyyah letaknya adalah lisan, yakni seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang menyebabkan batal keimanannya dan menjadi kafir karenanya.
Banyak orang yang memiliki persepsi bahwa ucapan-ucapan yang mengandung kekafiran, seperti mencela Allah l atau Rasul n, atau mencela dien dan semisalnya, tidaklah menjadi sebab pelakunya kafir keluar dari Islam, selama di dalam hatinya masih ada keimanan. Anggapan ini tentu saja keliru karena bertentangan dengan nash dan apa yang telah ditetapkan ahlul ilmi.
Allah l berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam’.”  (Al-Ma`idah: 17)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga’.” (Al-Ma`idah: 73)
Ibnu Taimiyyah t berkata: “Barangsiapa mengucapkan perkataan kufur dengan lisannya, dalam keadaan sengaja dan tahu bahwa itu adalah ucapan kufur, maka ia telah kafir lahir dan batin. Tidak boleh bagi kita terlalu berlebihan sehingga harus dikatakan: ‘Mungkin saja dalam hatinya ia mukmin’. Siapa yang mengucapkan (kekufuran) itu, maka sungguh dia telah keluar dari Islam. Allah l berfirman:
مَنْ كَفَرَ بِاللهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (An-Nahl: 106) [Ash-Sharimul Maslul hal. 524]
Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar t menerangkan bahwa para ulama telah bersepakat tentang orang yang mencela Allah dan Rasul-Nya, menolak sesuatu yang telah Allah k turunkan, atau membunuh seorang nabi Allah l meski dia mengimani apa yang Allah k turunkan, maka dia kafir. (At-Tamhid, 4/226, melalui nukilan dari At-Tawassuth wal Iqtishad hal. 38)
Dengan demikian, barangsiapa yang mencela Allah l maka dia kafir, baik bercanda atau serius. Demikian pula orang yang menghina Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya, dan kitab-kitab-Nya. Allah l berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66)
Al-Imam Ibnu Rajab t berkata: “Jika (seseorang) mencela Allah l dan Rasul-Nya, padahal dia meyakini dua kalimat syahadat, maka dihalalkan darahnya, sebab dengan itu dia telah meninggalkan agamanya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 171, syarh hadits ke-14)
Ibnu Taimiyyah t pun menjelaskan hal yang sama ketika membantah pendapat yang menyatakan bahwa ucapan lisan semata tidaklah menyebabkan kekafiran. Beliau berkata: “Sesungguhnya kita mengetahui bahwa orang yang mencela Allah k dan Rasul-Nya dalam keadaan sukarela bukan karena terpaksa, bahkan orang yang berbicara dengan kalimat-kalimat kufur dengan sukarela dan tidak dipaksa, serta orang yang mengejek Allah l, Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya, maka dia telah kafir lahir batin.” (Majmu’ul Fatawa, 7/368)
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz t berkata: “Mencela dien adalah kufur akbar dan murtad dari Islam, wal ‘iyadzu billah (Kita memohon perlindungan kepada Allah). Apabila seorang muslim mencela agamanya atau Islam atau melecehkan dan menganggap remeh serta merendahkan Islam, maka ini adalah riddah (murtad) dari Islam. Allah k berfirman:
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66)
Para ulama secara pasti telah bersepakat bahwa ketika seorang muslim mencela dan merendahkan agamanya atau mencela Rasul dan merendahkannya, maka dia murtad, kafir, halal darah dan hartanya. Jika bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak, maka dibunuh.” (Diambil dari Fatawa Nur ‘alad Darbi (melalui) CD)

Pembatal Iman Karena ‘Amaliyyah
Pembatal iman yang disebabkan oleh ‘amaliyyah adalah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadikannya kafir, yakni tindakan yang dilakukan dengan unsur kesengajaan dan penghinaan yang jelas terhadap dien. Seperti sujud kepada patung atau matahari, melemparkan mushaf Al-Qur`an ke tempat-tempat kotor, sihir, dan lain sebagainya.
Tak ada seorangpun dari ahli qiblat (kaum muslimin), yang keluar dari Islam sampai dia menolak satu ayat dari Kitab Allah k atau menolak sesuatu dari hadits Rasulullah n, atau shalat kepada selain Allah l, atau menyembelih bagi selain Allah l. Jika ada yang melakukan salah satu dari hal tersebut, maka wajib bagimu untuk mengeluarkannya dari Islam. Demikian ditegaskan Al-Imam Al-Hasan bin ‘Ali Al-Barbahari t dalam Syarhus Sunnah (hal. 31).
Al-Qadhi ‘Iyadh bin Musa t setelah menerangkan kekafiran karena ucapan, beliau berkata: “Demikian pula kami menyatakan kafir terhadap perbuatan yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai perbuatan yang tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang kafir, meski pelakunya menyatakan Islam saat melakukannya. Seperti (perbuatan) sujud kepada patung atau matahari, bulan, salib dan api, serta berusaha mendatangi gereja dan berjanji setia bersama penghuninya. Semua perbuatan ini tidaklah dilakukan kecuali oleh orang-orang kafir.” (At-Tawassuth wal Iqtishad hal. 41)
Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Idris Al-Qarafi berkata: “Kafir karena perbuatan contohnya adalah melempar mushaf ke tempat-tempat kotor dan menentang hari kebangkitan, menentang kenabian atau sifat Allah l dengan mengatakan (Allah) tidak mengetahui, atau tidak menghendaki atau tidak hidup dan selainnya.” (At-Tawassuth wal Iqtishad hal. 47)
Pernah diajukan satu pertanyaan ke hadapan Fadhilatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz t mengenai kufur amali yang mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Beliau menjawab: “Sembelihan untuk selain Allah k dan sujud kepada selain Allah l adalah kufur amali yang mengeluarkan dari millah (agama). Demikian pula bila seseorang shalat kepada selain Allah k atau sujud kepada selain-Nya, maka dia telah kufur dengan kekufuran amali yang akbar –wal ‘iyadzu billah–. Begitu juga kalau dia mencela dien atau Rasul, atau melecehkan Allah l dan Rasul-Nya. Itu semua adalah kufur amali yang paling besar menurut seluruh Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (Majalah Al-Furqan Al-Kuwaitiyyah edisi 94/Syawwal 1418 H)

Pembatal Iman karena I’tiqadiyyah
Pembatal i’tiqadiyyah adalah keyakinan-keyakinan dalam hati atau amalan-amalan hati yang karenanya membatalkan keimanan. Seperti al-i’radh (berpaling) yakni meninggalkan Al-Haq, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Allah l berfirman:
بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُمْ مُعْرِضُونَ
“Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.” (Al-Anbiya`: 24)
Barangsiapa yang berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasulullah n dari Rabbnya, dengan cara memalingkan hatinya dari beriman terhadapnya atau memalingkan anggota badan dari mengamalkannya, berarti dia kafir karena pembangkangannya itu. (Al-Madkhal hal. 156)1
Kekafiran karena i’tiqad yang lainnya adalah menolak dan menyombongkan diri di hadapan Al-Haq, melecehkannya dan melecehkan para pengikutnya, dalam keadaan meyakini bahwa apa yang dibawa Rasulullah n adalah benar-benar dari Rabbnya. Allah l berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)
Menganggap halal (istihlal) terhadap sesuatu yang diharamkan Allah k dan diketahui secara pasti keharamannya dalam agama adalah penyebab kekafiran, terutama jika menyangkut i’tiqad (keyakinan). Adapun kalau menyangkut fi’l (perbuatan), maka harus dilihat dulu bentuk perbuatannya, apakah perbuatan yang menyebabkan pelakunya kafir ataukah tidak.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t pernah ditanya tentang ketentuan istihlal yang menyebabkan seseorang kafir. Beliau menjawab: “Istihlal adalah seseorang meyakini halalnya sesuatu yang diharamkan Allah l (dan ini adalah istihlal i’tiqadi, menyebabkan kafir pelakunya, pent.). Sedangkan istihlal fi’li, harus dilihat. Apabila memang menyangkut perbuatan yang dapat menjadikan pelakunya kafir, maka dia kafir murtad, misalnya seseorang sujud kepada patung, maka dia kafir. Mengapa? Karena perbuatan itu menjadikannya kafir. Contoh lain adalah seseorang yang bermuamalah dengan riba. Ia tidak meyakini riba itu halal tapi tetap melakukannya. Maka dia tidaklah kafir, karena tidak menganggap halal (riba tersebut). Dan diketahui secara umum bahwa memakan harta riba tidaklah menjadikan kafir seseorang, tetapi perbuatan tersebut adalah dosa besar. Namun bila ada seseorang berkata: ‘Sesungguhnya riba itu halal,’ maka ia kafir karena telah mendustakan Allah k dan Rasul-Nya.
Inilah ketentuan istihlal. Dan nampaknya perlu ditambahkan syarat lain yaitu hendaknya orang yang melakukan tindakan istihlal ini bukan orang yang mendapat keringanan karena kebodohannya. Jika ternyata demikian keadaan pelakunya, maka ia tidaklah kafir. (Liqa` Babil Maftuh, soal no. 1200, melalui nukilan dari catatan At-Tawassuth Wal Iqtishad hal. 31)
Barangkali di antara pembaca ada yang bertanya, mengapa sujud kepada patung dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam? Padahal tidak nampak dari perbuatan itu kecuali kufur amali saja.
Jawabannya adalah karena perbuatan tersebut tidak terjadi melainkan bersamaan dengan lenyapnya amalan hati, seperti niat, ikhlas, dan patuh. Semua itu tidak terdapat lagi saat seseorang sujud kepada patung. Oleh karena itu, meskipun yang nampak adalah kufur amali, namun berkonsekuensi adanya kufur i’tiqadi, dan itu pasti. (A’lamus Sunnah Al-Mansyurah hal. 181-182 oleh Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami)
Jadi tidak setiap kufur amali tidak mengeluarkan pelakunya dari millah Islam. Justru sebagiannya dapat mengeluarkan dari millah Islam.
Bentuk kekafiran karena i’tiqad juga bisa terjadi jika seseorang meyakini adanya serikat bersama dengan Allah k dalam hal wujud-Nya, Rububiyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, dan meyakini bahwa nama dan sifat serta perbuatan Allah l adalah sama dengan makhluk-Nya. Padahal Allah l berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Membahas tuntas tentang pembatal-pembatal keimanan dan iman itu sendiri membutuhkan tempat dan kesempatan yang luas. Namun mudah-mudahan apa yang telah dijelaskan di atas memberikan sedikit banyak pengetahuan kita seputar hal tersebut.
Wallahul musta’an.

Catatan Kaki:

1 Yang dimaksud dengan berpaling yang dapat membatalkan keislaman adalah berpaling dari pokok agama yang dengan pokok-pokok itu seseorang menjadi muslim walaupun tidak tahu agama secara detail. (Al-Qaulul Mufid, karya Al-Wushabi, hal. 53)

Dampak Keimanan dalam Kehidupan Seorang Muslim

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari)

Mengenal lebih dalam iman dan rukun-rukunnya menjadi keharusan. Karena buah dari memahami keimanan secara benar akan berdampak langsung bagi kehidupan seseorang.

Dalam kitab-Nya, Allah l telah menyebutkan banyak sekali hal tentang keimanan, antara lain definisinya yang Allah l firmankan:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Demikian pula orang-orang yang beriman semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (Al-Baqarah: 285)
Allah l berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa`: 136)
Kemudian Allah l juga menjelaskan bahwa keimanan adalah karunia yang Allah l berikan untuk Rasul-Nya. Allah l berfirman:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيْمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apa iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu dengan cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)
Selanjutnya Allah l menerangkan balasan yang diperoleh orang-orang beriman di dunia maupun di akhirat. Adapun balasan di dunia, Allah l berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan ke dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96)
Sedangkan balasan di akhirat, Allah l berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-‘Ankabut: 7)
Iman adalah agama. Nabi n telah membagi agama menjadi tiga tingkatan. Dalam sebuah hadits, ‘Umar ibnul Khaththab z berkata: “Ketika kami duduk-duduk di samping Rasulullah n, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam. Pada dirinya tidak nampak bekas melakukan perjalanan jauh dan tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Ia pun duduk di hadapan Rasulullah n dengan menempelkan kedua lututnya ke kedua lutut beliau sambil meletakkan dua telapak tangannya pada kedua paha beliau n, lantas bertanya: ‘Hai Muhammad, beritahu aku tentang Islam.’ Rasulullah n menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan shaum Ramadhan serta haji ke Baitullah jika engkau punya kemampuan untuk itu.’ Laki-laki itu berkata: ‘Engkau benar’.” (‘Umar berkata): “Kami merasa heran kepadanya, ia yang bertanya namun ia juga yang membenarkannya. Selanjutnya dia bertanya: ‘Beritahu aku tentang iman.’ Rasulullah n menjawab: ‘Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan beriman kepada hari akhir serta kepada takdir yang baik dan yang buruknya.’ Laki-laki itupun kembali membenarkannya. Kemudian dia bertanya: ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’  Rasulullah n menjawab: “(Ihsan) adalah engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu’.” (HR. Muslim no. 93)
Hadits ini menerangkan tentang hakikat keimanan, yaitu beriman terhadap rukun-rukunnya yang enam.
Agar kita dapat mengetahui apa dampak keimanan dalam kehidupan seorang muslim atau masyarakatnya, maka kita harus mengetahui makna-makna keimanan terhadap enam rukunnya ini.

Makna Beriman kepada Allah l
Beriman kepada Allah l adalah hubungan yang kuat antara manusia dengan Sang Penciptanya. Hubungan itu tertanam di dalam hati, sementara hati adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh manusia, sedangkan yang paling berharga dalam hati manusia adalah keimanan.
Oleh sebab itulah, hidayah iman merupakan nikmat yang paling besar. Allah l berfirman:
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لاَ تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلاَمَكُمْ بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيْمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar’.” (Al-Hujurat: 17)
Allah l berfirman:
قَالَتِ اْلأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ لاَ يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka):  ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah tunduk.’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hujurat: 14)
Beriman kepada Allah l meliputi iman terhadap wujud-Nya. Secara pasti, fitrah maupun akal manusia mengakui eksistensi Allah l sebagai pencipta dan tidak mungkin segala sesuatu yang ada terjadi dengan sendirinya. Terlebih segala sesuatu yang ada ini, yang sudah tertata sedemikian rupa, pada asalnya dalam keadaan tidak ada. Maka tidak akan mungkin tercipta begitu saja dalam keadaan sudah sempurna. Ini semua memberikan ketentuan yang jelas akan wujud Allah l Rabb semesta alam.
Di dalam Al-Qur`an Allah l berfirman:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ. أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضَ بَل لاَ يُوقِنُونَ. أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (Ath-Thur: 35-37)
Kemudian iman kepada Allah l juga mencakup iman terhadap Rububiyah-Nya. Kata Rububiyyah adalah penisbatan kepada nama Allah ‘Ar-Rabb’ yang bermakna Pendidik, Penolong, Pemelihara, Yang Merajai, dan lain sebagainya.
Iman kepada Rububiyyah Allah maknanya beriman bahwa Allah Maha Pencipta, Yang Menguasai dan Mengatur segala urusan, Menghidupkan dan Mematikan serta perbuatan-perbuatan Allah l lainnya. Maka keimanan dalam Rububiyyah ini mengandung beberapa hal, antara lain iman terhadap perbuatan-perbuatan Allah  l secara umum, iman terhadap qadha dan qadar Allah l serta iman terhadap keesaan Dzat-Nya. (Al-Madkhal li Ad-Dirasatil ‘Aqidah Al-Islamiyyah hal. 87)
Allah l berfirman:
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” (Az-Zukhruf: 9)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka’, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah l)?” (Az-Zukhruf: 87)
Selanjutnya, yang termasuk bagian dari keimanan kepada Allah l adalah iman terhadap Uluhiyyah dan Asma` wa Shifat-Nya. Iman terhadap uluhiyyah Allah l maknanya ialah meyakini bahwa Allah l sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan kata lain, mengesakan Allah l dalam ibadah dan ketaatan.
Allah l berfirman:
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
“Dan Ilah kalian adalah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 163)
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (sesembahan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)
Adapun iman terhadap Asma` wa Shifat-Nya adalah meyakini dan menetapkan apa yang terdapat dalam kitab Allah l dan Sunnah Rasulullah berupa nama-nama-Nya yang paling baik dan sifat-sifat-Nya yang paling tinggi. Allah l berfirman:
وَلِلهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah Asma`ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma`ul Husna itu.” (Al-A’raf: 180)
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Buah Keimanan kepada Allah l
Keimanan yang benar kepada Allah l akan menumbuhkan rasa cinta yang kuat kepada-Nya dan mengagungkan-Nya. Juga akan nampak sekali dalam diri setiap manusia rasa khasy-yah dan takut dari-Nya serta selalu berharap kepada-Nya, yang kemudian mendorongnya untuk beribadah.
Sebagian salaf berkata: “Siapa yang menyembah Allah l karena rasa cinta semata, maka dia seorang zindiq. Dan siapa yang menyembah-Nya karena penuh harap (raja`) semata, maka dia seorang Murji`. Sedangkan yang menyembah-Nya karena rasa takut saja, maka dia Khariji. Adapun yang menyembah-Nya karena cinta, takut, dan penuh harap, maka dia seorang mukmin ahli tauhid.” (Al-Madkhal li Ad-Dirasatil Aqidah Al-Islamiyyah hal. 120)

Makna Beriman kepada Para Malaikat
Kata malaikat adalah bentuk jamak dari malak. Asal katanya adalah ma`lak, dari kata Al-Alukah yang bermakna delegasi. (Shahih Al-Bukhari bi syarhil Imam Al-Kirmani, 1/194)
Iman kepada malaikat meliputi keimanan terhadap seluruh malaikat, baik yang diketahui nama dan tugasnya ataupun tidak. Juga mengimani bahwasanya mereka adalah makhluk yang Allah l ciptakan dari cahaya dengan tujuan agar beribadah kepada-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
Allah l berfirman:
وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ يَسْتَحْسِرُون. يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُونَ
“Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya`: 19-20)

Buah Beriman kepada Malaikat
Ketika seorang muslim meyakini adanya makhluk yang disebut malaikat dengan keyakinan yang benar, maka akan tertanam dalam jiwanya pengetahuan terhadap keagungan Allah l, kekuatan dan kekuasaan-Nya. Sebab kebesaran yang ada pada makhluk adalah gambaran akan kebesaran sang Khaliq. Selanjutnya akan muncul pula darinya rasa syukur karena perhatian Allah l atas segenap Bani Adam, di mana Allah l menugasi mereka untuk menjaganya dan mencatat amalannya serta kemaslahatan lainnya. Di samping itu, tumbuh pula kecintaan kepada para malaikat atas apa yang mereka lakukan berupa beribadah kepada Allah l. (Tsalatsatul Ushul bi Syarh Asy-Syaikh Ibni ‘Utsaimin hal. 92)

Makna Iman kepada Kitab Allah l
Iman kepada kitab-kitab Allah l meliputi keimanan akan beberapa hal. Di antaranya, beriman bahwa semuanya turun dari sisi Allah l, beriman kepada kitab-kitab-Nya yang telah diketahui namanya, seperti Al-Qur`an, Taurat, Injil, dan Zabur, maupun yang tidak diketahui namanya. Serta membenarkan berita-beritanya, seperti pemberitaan dalam Al-Qur`an dan kitab-kitab sebelumnya yang tidak diubah atau dipalingkan maknanya. Selanjutnya mengamalkan hukum-hukumnya yang tidak dihapus (mansukh), ridha, dan menerima sepenuhnya. (Tsalatsatul Ushul bi Syarh Ibni Utsaimin, hal. 94)
Kitab-kitab sebelum Al-Qur`an semuanya telah di-mansukh (dihapus) oleh Al-Qur`an. Karena itu tidak boleh beramal dengan hukum yang ada pada kitab-kitab tersebut kecuali yang shahih darinya dan diakui oleh Al-Qur`an.

Buah Iman kepada Kitab-Kitab Allah l
Seorang hamba akan semakin menyadari betapa besar perhatian Allah l, sehingga Dia menurunkan kitab yang menjadi petunjuk bagi setiap kaum. Inilah dampak terbesar dari keimanan kepada seluruh kitab-Nya, di samping hikmah yang nyata berupa syariat yang Allah l tetapkan untuk setiap kaum yang mencocoki keadaan mereka. Allah l berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Ma`idah: 48)

Makna Beriman kepada Rasul-Rasul Allah l
Para rasul Allah l adalah orang-orang pilihan yang diutus kepada kita untuk menyampaikan syariat-Nya. Karena itu beriman kepada para rasul berarti mengimani bahwa risalah yang mereka bawa adalah haq dari Allah l, beriman kepada tiap-tiap dari mereka secara menyeluruh baik yang diketahui namanya maupun yang tidak, tanpa membeda-bedakannya, kemudian membenarkan seluruh berita yang shahih yang telah mereka sampaikan, serta mengamalkan syariat Rasul (Muhammad n) yang telah diutus ke tengah-tengah kita.

Buah Beriman kepada Rasul Allah l
Tanpa kehadiran seorang rasul, tak seorangpun di antara manusia yang mengetahui bagaimana cara menyembah Allah l dan menuju jalan Allah l yang lurus. Padahal itu semua merupakan tugas yang harus dijalankan oleh segenap manusia. Keimanan kepada para rasul juga membuat seorang muslim menguatkan rasa syukurnya akan nikmat yang besar ini, karena ia mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah l kepadanya. Rasa cinta, pujian, dan sanjungan yang pantaspun akan mengalir pada para rasul karena mereka adalah utusan Allah l, beribadah kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya, dan penasihat bagi umatnya.

Makna Beriman kepada Hari Akhir
Beriman kepada hari akhir maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa hari akhir itu haq adanya, tiada keraguan tentangnya. Allah l berfirman:
اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثًا
“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa`: 87)
Keimanan ini mencakup iman terhadap hari kebangkitan setelah kematian serta iman kepada semua yang akan terjadi pada hari itu.
Buah Beriman kepada Hari Akhir
Adanya hari akhir dan beriman kepadanya tentu saja menjadi motivasi tersendiri bagi seorang muslim untuk semakin senang dan bersemangat melakukan berbagai macam ketaatan, sebagai puncak harapan terhadap pahala yang disiapkan di hari itu. Adanya siksa dan ancaman pada hari itu juga membuat seorang muslim takut dan lari dari kemaksiatan di dunia. Kemudian akan muncul kebahagiaan dalam dirinya ketika mengingat hari akhir sebagai kenikmatan dan perhiasan pengganti perhiasan dunia. (Taisirul Wushul hal. 81)

Makna Beriman kepada Takdir Baik dan Buruk
Seseorang yang beriman kepada takdir, maknanya dia harus mengimani bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang global maupun yang terperinci, baik yang terkait dengan perbuatan-perbuatan-Nya atau perbuatan-perbuatan hamba-Nya, beriman bahwa Allah k telah menuliskan itu semua di Lauhul Mahfudz, beriman bahwa seluruh yang terjadi di alam ini dengan kehendak Allah l serta beriman bahwa semua yang ada di alam ini adalah makhluk bagi Allah k, baik dzatnya, sifatnya, dan juga gerakan-gerakannya. Dalil-dalil tentang hal ini banyak Allah k sebutkan dalam kitab-Nya.

Buah Beriman kepada Takdir
Ketetapan Allah l atas makhluk-Nya pasti terjadi. Sehingga iman kepada takdir menuntut seorang muslim untuk bersandar diri sepenuhnya kepada Allah l ketika melakukan suatu sebab dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Seorang muslim tidak akan memiliki perasaan ujub tatkala mampu meraih apa yang diinginkan, karena pencapaiannya tersebut hanyalah semata-mata nikmat dari Allah l. Bahkan hatinya akan menjadi tenang dan lega manakala takdir Allah l menimpanya. Tidak menjadi goyah keimanannya dikarenakan lenyapnya apa-apa yang dicintai dan datangnya yang dibenci. Semuanya karena dia yakin bahwa itu terjadi dengan takdir Allah k.
Wallahu a’lam.