Adzan di Liang Lahat

Apa hukum adzan dan iqamah di liang kubur ketika meletakkan mayat di dalamnya?

Jawab:

Tanpa diragukan bahwa itu adalah bid’ah. Allah subhanahu wa ta’ala tidak menurunkan dalil dalam hal ini, karena perbuatan itu tidak pernah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dan segala kebaikan itu adalah ketika kita mengikuti mereka dan menelusuri jalan mereka. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (at-Taubah: 100)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan agama ini dengan sesuatu yang bukan darinya maka itu tertolak.”

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Dan sejelek-jelek urusan (agama) adalah yang diada-adakan, dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berikan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 1, judul: Al-Ijabah ‘an As`ilah Mutafarriqah)

 

Hukum Jimat Bertuliskan Ayat Al-Qur`an

Apakah termasuk syirik, penulisan penangkal/jimat dari ayat Al-Qur`an dan lainnya, serta menggantungkannya di leher[1]?

Jawab:

Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan tiwalah[2] itu termasuk perbuatan syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dan beliau menshahihkannya)

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan, demikian juga Abu Ya’la dan Al-Hakim serta ia menshahihkanya dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَلَا أَتَمَّ اللهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللهُ لَهُ

“Barangsiapa menggantungkan tamimah, maka Allah tidak akan menyempurnakan baginya (urusan)nya dan barangsiapa menggantungkan wad’ah[3] maka Allah tidak akan menentramkannya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkannya melalui jalan lain dari ‘Uqbah bin ‘Amir dengan lafadz:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa menggantungkan tamimah/jimat maka ia telah berbuat syirik.”

Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak. Sedang tamimah itu maknanya adalah sesuatu yang digantungkan pada anak-anak atau orang lain dengan tujuan menolak bahaya mata hasad, gangguan jin, penyakit, atau semacamnya. Sebagian orang menyebutnya hirzan/penangkal, sebagian lain menamainya jami’ah[4]. Benda ini ada dua jenis:

Salah satunya yang terbuat dari nama-nama setan, dari tulang, dari rangkaian mutiara atau rumah kerang, paku-paku, simbol-simbol yaitu huruf-huruf yang terputus-putus atau semacam itu. Jenis ini hukumnya haram tanpa ada keraguan karena banyaknya dalil yang menunjukkan keharamannya. Dan itu merupakan salah satu bentuk syirik kecil berdasarkan hadits-hadits tadi serta berdasarkan hadits yang semakna dengannya. Bahkan bisa menjadi syirik besar bila orang yang menggantungkan/memakainya meyakini bahwa benda-benda itulah yang menjaganya atau menghilangkan penyakitnya tanpa izin Allah subhanahu wa ta’ala serta kehendak-Nya.

Kedua: sesuatu yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur`an atau doa-doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semacam itu dari doa-doa yang baik. Untuk jenis ini para ulama berbeda pendapat, sebagian mereka membolehkannya dan mengatakan bahwa hal itu sejenis dengan ruqyah/jampi-jampi yang diperbolehkan.

Sedang sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa itu juga haram. Mereka berhujjah dengan dua hujjah:

Pertama: keumuman hadits-hadits yang melarang jimat-jimat dan yang memperingatkan darinya serta menghukuminya bahwa itu adalah perbuatan syirik. Sehingga tidak boleh mengkhususkan sebagian jimat untuk diperbolehkan, kecuali berdasarkan dalil syar’i yang menunjukkan kekhususan tersebut. Sementara, dalam hal ini tidak ada dalil yang menunjukkan kekhususan itu.

Adapun tentang ruqyah, maka hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa jika dari ayat-ayat Al-Qur`an dan doa-doa yang diperbolehkan, maka itu tidak apa-apa, bila dengan bahasa yang diketahui maknanya serta yang melakukan ruqyah tidak bersandar pada ruqyah itu, ia hanya meyakini itu sebagai salah satu sebab. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَـمْ تَكُنْ شِرْكاً

“Tidak mengapa dengan ruqyah selama itu tidak termasuk dari syirik.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melakukannya serta sebagian sahabatnya juga pernah melakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنِ أَوْ حُمَةٍ

“Tidak ada ruqyah melainkan dari (gangguan) mata hasad atau sengatan serangga berbisa.”

Dan hadits-hadits tentang hal ini banyak.

Adapun tentang tamimah/jimat, maka tidak ada sedikit pun dari hadits-hadits yang mengecualikan dari keharamannya. Sehingga, wajib mengharamkan semua jenis jimat/tamimah, dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang bersifat umum.

Kedua: menutup pintu-pintu menuju perbuatan syirik. Ini termasuk salah satu perkara penting dalam syariat. Dan sebagaimana diketahui, bila kita perbolehkan jimat-jimat dari ayat-ayat Al-Qur`an dan doa-doa yang mubah, maka akan terbuka pintu syirik serta akan menjadi rancu antara tamimah yang boleh dan yang dilarang. Serta akan terhambat pemilahan antara keduanya, kecuali dengan rumit. Maka wajib menutup pintu ini dan menutup jalan menuju kesyirikan.

Pendapat inilah yang benar karena kuatnya dalilnya. Allah subhanahu wa ta’ala-lah yang memberi taufiq.

(Diterbitkan di Majalah Jami’ah Islamiyyah edisi 4 tahun 6 bulan Rabi’ul Akhir tahun 1394 H hal. 175-182. Dinukil dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah jilid II, Judul: Ijabah ‘an As`ilah Mutafarriqah, haula Kitabati At-Ta’awidz bil Ayat…)

 

[1] Atau di rumah, di toko, di mobil, di kantor, dan lain-lain.

[2] Jimat atau semacamnya yang dipakai untuk menumbuhkan rasa cinta seorang wanita kepada lelaki atau sebaliknya, semacam pelet.

[3] Sesuatu yang dikeluarkan dari laut, semacam rumah kerang yang berwarna putih, dipakai untuk tolak bala.

[4] Di masyarakat kita lebih dikenal dengan jimat.

 

Kekayaan dan Kemiskinan yang Hakiki

Harta benda merupakan bagian dari rizki yang telah ditetapkan oleh Allah k bagi setiap hamba. Sebagian dilebihkan atas sebagian yang lain. Sehingga muncullah sebutan kaya dan miskin. Akan tetapi, siapakah sebenarnya orang yang disebut kaya atau miskin?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini:

“Alhasil, orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa) adalah orang yang qana’ah terhadap apa yang Allah k rizkikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah k kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup.

Sedangkan orang yang disifati dengan faqru an-nafs (kefakiran jiwa) adalah kebalikannya. Karena dia tidak qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya. Dia selalu rakus untuk menumpuk-numpuk harta, dari arah mana saja. Kemudian, bila dia tidak mendapatkan apa yang ia cari, ia akan merasa sedih dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang tidak memiliki harta. Karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, sehingga seakan-akan dia bukan orang yang kaya.” (Fathul Bari, 2/277)

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan orang yang pada hakikatnya miskin, seperti dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَكِنَّ الْمِسْكِينَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ وَلَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

“Bukanlah orang yang miskin itu orang yang meminta-minta kepada manusia untuk diberi satu atau dua suap makanan, dan satu atau dua butir kurma. Akan tetapi orang yang miskin itu adalah orang yang tidak memiliki (rasa cukup dalam hatinya yang membuat dirinya tidak meminta-minta kepada orang lain) dan orang yang tidak menyembunyikan keadaannya, sehingga orang bersedekah kepadanya tanpa dia meminta-minta.” (HR. Al-Bukhari no. 1479 dan Muslim no. 1472 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

“Kecukupan dalam hati akan tumbuh dengan keridhaan terhadap qadha Allah subhanahu wa ta’ala dan berserah diri terhadap ketetapan-Nya, meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah lebih baik dan kekal, sehingga membawa dirinya berpaling dari tamak dan rakus serta meminta-minta kepada manusia.” (Fathul Bari, 2/277)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

 

 

Al-Barr

Salah satu Asma`ul Husna adalah Al-Barr الْبَرُّ berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

“Dialah Al-Barr, Maha Penyayang.” (ath-Thur: 28)

Adapun maknanya adalah:

Al-Lathif bi ‘Ibadihi: Yang menyampaikan kepada hamba-Nya maslahat mereka dengan lembut dan baik, dari jalan di mana mereka tidak merasakannya (Shifatullah, hal. 223). Demikian ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma (Tafsir Al-Qurthubi, 17/70) dan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.

Al-’Uthuf ‘ala ‘Ibadihi: Yang belas kasih terhadap hamba-Nya dengan kebaikan dan kelembutan-Nya. Demikian ditafsirkan oleh Ibnul Atsir rahimahullah dalam Jami’ul Ushul. (Shifatullah, hal. 223)

Yang banyak kebaikan dan karunia-Nya. Demikian ditafsirkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Nuniyyah.

Al-Muhsin: Yang berbuat kebaikan. Demikian tafsiran Al-Alusi rahimahullah.(Ruhul Ma’ani, 19/449)

Yang jujur dalam janji-janji-Nya kepada para hamba-Nya. Demikian ditafsirkan Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij. (Tafsir Al-Qurthubi, 17/70)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Di antara nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah Al-Barr, Al-Wahhab, Al-Karim, yang meliputi seluruh alam semesta dengan kebaikan-Nya, pemberian-Nya, dan kemurahan-Nya. Dialah yang memiliki keindahan dan selalu memberi kebaikan, Maha Luas pemberian-Nya. (Di antara) sifat-Nya adalah kebaikan, dan buah dari sifat ini adalah seluruh nikmat yang lahir maupun yang batin, sehingga tidak satu makhluk pun lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Dan nama-nama ini menunjukkan keluasan rahmat-Nya dan pemberian-Nya yang menyeluruh pada segala yang ada, sesuai dengan hikmah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala terbagi menjadi dua, yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.

Yang umum tertera dalam firman-Nya:

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْماً

“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.” (Ghafir: 7)

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf: 156)

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)

Semua kebaikan ini, sama-sama didapatkan oleh orang yang baik maupun yang jahat, penduduk langit maupun penduduk bumi, makhluk yang terbebani hukum ataupun tidak.

Adapun yang khusus, adalah rahmat dan nikmat-Nya untuk orang-orang yang bertakwa, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآياتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (al-A’raf: 156)

إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْـمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-A’raf: 56)

Juga dalam doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:

وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (an-Naml: 19)

Dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala yang bersifat khusus inilah yang diminta oleh para nabi serta para pengikut mereka, yang membuahkan taufiq-Nya untuk beriman dan beramal shalih serta kebaikan dalam seluruh keadaan, kebahagiaan yang abadi serta keberuntungan dan kesuksesan. Dan itulah tujuan terbesar bagi para makhluk yang khusus.” (Tafsir Asma`illahi Al-Husna)

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Barr

Di antara buahnya adalah bahwa ketika kita mengimaninya dengan segala maknanya, semestinya hal itu menumbuhkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kepada kita berbagai macam karunia. Bahkan sebagiannya tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui dari mana datangnya. Itu semua Allah subhanahu wa ta’ala berikan walau hamba dalam keadaan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Semestinya hal ini menggugah si hamba untuk kemudian segera kembali kepada agamanya dan ketaatan kepada-Nya. Apalagi karunia-Nya kepada para hamba-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya tentu begitu besar. Bahkan kenikmatan-Nya tidak lagi dapat dihitung oleh hamba-hamba-Nya.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar, ZA

 

Sumber Bacaan:

-Syarh An-Nuniyyah karya Muhammad Al-Harras

-Syarh Asma`ullah Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 64, 223

-Tafsir Al-Qurthubi, 17/70

-Tafsir Ruhul Ma’ani karya Al-Alusi, 19/449

-Tafsir Asma`illahi Al-Husna, karya As-Sa’di

 

Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslimin dan musyrikin Quraisy akhirnya disepakati. Mulanya, butir-butir dalam perjanjian itu menuai penentangan dari sebagian sahabat karena lahiriahnya sangat merugikan kaum muslimin. Namun keyakinan yang kokoh akan janji Allah l menjadikan para sahabat menundukkan logika dan pendapat pribadinya. Terbukti, di kemudian hari dengan perjanjian itu, kaum musyrikin justru menangguk kerugian yang besar.

 

Kecemasan Quraisy

Pada edisi sebelumnya dikisahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Budail bin Warqa’ Al-Khuza’i dari bani Khuza’ah untuk menegaskan kembali tujuan kaum muslimin datang ke Makkah bahwa mereka datang bukan untuk berperang namun untuk umrah……

Setelah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Budail pun berangkat menemui Quraisy. Ketika tiba di hadapan mereka, dia berkata: “Kami datang dari laki-laki ini (yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan kami sudah dengar apa yang dia ucapkan. Jika kalian mau, kami paparkan kepada kalian.” Orang yang paling dangkal pikirannya di antara mereka berkata: “Kami tidak butuh beritamu sedikitpun.” Sedangkan yang cerdik dari mereka mengatakan: “Ceritakan apa yang kau dengar.” Budail pun berkata: “Aku dengar dia mengatakan demikian, demikian.” Lalu dia menceritakan kepada Quraisy apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Urwah bin Mas’ud pun menimpali: “Wahai masyarakat Quraisy, bukankah kalian seperti anak (bagiku)?” Kata mereka: “Benar.” Katanya lagi: “Bukankah aku (seperti) ayah?” Kata mereka: “Benar.” Katanya pula: “Apakah kalian mencurigaiku?” Kata mereka: “Tidak.” Katanya: “Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya aku pernah mendorong penduduk ‘Ukkazh (membantu kalian) dan ketika mereka menolak, aku pun datang bersama istri dan anakku serta orang-orang yang mengikutiku.”

Kata mereka: “Benar.” Katanya lagi: “Sesungguhnya orang ini sudah menawarkan hal yang positif, maka terimalah dan biarkan aku menemuinya.”

Kata mereka: “Datangilah dia.”

‘Urwah pun berangkat menemui beliau dan mulai berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab seperti yang beliau katakan kepada Budail. Lalu kata ‘Urwah: “Hai Muhammad, apa pandanganmu kalau engkau menghabisi bangsamu, apakah engkau pernah mendengar ada orang yang memusnahkan keluarganya sendiri sebelum engkau? Kalau tidak, maka demi Allah, aku benar-benar melihat wajah-wajah dan orang-orang rendahan yang pantas akan lari dan meninggalkanmu.”

Berkatalah Abu Bakr radhiallahu ‘anhu: “Hisaplah kemaluan Latta. Apakah kami akan lari dan meninggalkannya?”

Kata ‘Urwah: “Siapa ini?” Kata mereka: “Abu Bakr.”

‘Urwah berkata: “Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, kalau bukan karena engkau pernah membantuku, tidak aku biarkan engkau mengatakan ini, melainkan pasti aku balas.”

Dia pun mulai bicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali dia bicara dia coba menyentuh janggut beliau. Dalam situasi itu, sahabat Al-Mughirah berdiri di dekat kepala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pedang di tangan serta mengenakan topi besi. Setiap kali ‘Urwah menjulurkan tangan ke arah janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Mughirah pun memukul tangan itu dengan hulu pedangnya dan berkata: “Jauhkan tanganmu dari janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

‘Urwah menengadahkan kepalanya dan berkata: “Siapa ini?”

Para sahabat berkata: “Al-Mughirah bin Syu’bah.” Serta-merta ‘Urwah berkata: “Hai si curang. Bukankah aku yang membereskan urusan kecuranganmu?” Dahulu Al-Mughirah adalah teman mereka di masa jahiliah, lalu dia membunuh mereka, mengambil harta mereka, dan masuk Islam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Adapun Islam, aku terima. Sedangkan harta, tidak ada urusanku padanya sedikit pun.”

Kemudian mulailah ‘Urwah memerhatikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan matanya, dan menggumam: “Sungguh, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau beliau memerintahkan sesuatu, dengan segera mereka laksanakan perintahnya. Jika beliau berwudhu mereka hampir saling membunuh mengambil sisa wudhunya. Dan jika beliau bicara, mereka rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan pandangannya ke arah beliau karena menghormati beliau.”

‘Urwah pun kembali kepada teman-temannya dan berkata: “Hai kaumku, sungguh demi Allah, aku pernah mengunjungi para raja, Kaisar, Kisra, serta Najasyi (Negus). Demi Allah, tidak pernah kulihat sama sekali seorang raja yang diagungkan oleh para sahabatnya seperti para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memuliakan Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tidaklah dia meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau dia memberi perintah, mereka segera melaksanakan perintahnya. Jika dia berwudhu mereka hampir bunuh-bunuhan mengambil sisa wudhunya. Dan jika dia bicara, mereka rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan pandangannya ke arahnya karena menghormatinya. Sesungguhnya dia sudah menawarkan hal yang positif, maka terimalah.”

Berkatalah seorang laki-laki Bani Kinanah: “Biarkan aku mendatanginya.” Kata mereka: “Temuilah.” Setelah dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, beliau berkata: “Ini si Fulan dari golongan yang menghormati budna (hewan korban), maka lepaskanlah.”

Lalu hewan-hewan korban itu dilepaskan dan utusan itu disambut oleh kaum muslimin yang sedang bertalbiyah (mengucapkan: Labbaika Allahumma labbaika). Setelah melihat hewan-hewan korban itu, dia berkata: “Maha Suci Allah, tidak sepantasnya mereka dihalangi dari Baitullah (Ka’bah).”

Dia pun kembali kepada teman-temannya dan berkata: “Aku melihat hewan-hewan korban sudah diberi tanda. Dan aku tidak sependapat kalau mereka dihalangi dari Baitullah.”

Lalu bangkitlah dari kalangan mereka seorang bernama Mikraz bin Hafsh, katanya: “Biarkan aku mendatanginya.” Kata mereka: “Datangilah.” Setelah dia melihat mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ini Mikraz, dia laki-laki yang jahat.” Dia pun mulai bicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dia sedang berbicara, datanglah Suhail bin ‘Amr.

Suhail bin ‘Amr, delegasi Quraisy

Ketika Suhail bin ‘Amr tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Semakin mudah urusan kalian,” Kemudian dia berkata: “Marilah tulis suatu ketetapan antara kami dan kalian.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil seorang penulis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tulislah Bismillahirrahmanirrahim.” Kata Suhail: “Adapun Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu apa ini, tapi tulislah ‘Bismikallahumma’ sebagaimana biasa kami menulis.” Kaum muslimin bersikeras: “Jangan tulis kecuali Bismillahirrahmanirrahim”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tulislah ‘Bismikallahumma’,” kemudian beliau menambahkan: “Inilah yang disepakati oleh Muhammad Rasul Allah.”

Suhail menukas: “Demi Allah, kalau kami tahu engkau adalah Rasul Allah, tentu tidaklah kami menghalangi engkau dari Baitullah dan tidak pula memerangimu. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Demi Allah, sungguh aku adalah Rasul Allah meskipun kalian mendustakanku. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Az-Zuhri menjelaskan: Itu karena beliau pernah mengatakan: “Tidaklah mereka memintaku satu perkara yang mereka agungkan padanya kehormatan Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan aku berikan kepada mereka.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Yaitu agar kalian biarkan kami thawaf di Ka’bah.” Suhail segera menukas: “Demi Allah, (kalau demikian) tentulah orang-orang Arab akan mengatakan kami ditekan (kalah). (Tidak), tapi tahun depan.” Lalu keputusan ini dituliskan.

Kata Suhail: “Tidak ada yang datang kepadamu seorang laki-laki dari kami meskipun dia seiman denganmu melainkan harus kamu kembalikan kepada kami.”

Kaum muslimin pun gaduh: “Maha Suci Allah, bagaimana mungkin dia dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal dia datang sebagai muslim.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengatakan: “Siapa yang mendatangi mereka dari pihak kita, semoga Allah menjauhkannya. Dan siapa yang datang kepada kita dari pihak mereka kita kembalikan kepada mereka, semoga Allah berikan kepadanya jalan keluar dan kelapangan.”

Secara ringkas, isi perjanjian itu antara lain ialah:

  1. Tidak saling menyerang antara kaum muslimin dan penduduk Makkah selama sepuluh tahun,
  2. Kaum muslimin masuk ke kota Makkah (‘umrah) pada tahun depan dan tidak membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya, serta senjata pengembara,
  3. Siapa saja yang datang ke Madinah dari penduduk Makkah harus dikembalikan ke Makkah,
  4. Dan siapa yang datang ke Makkah dari penduduk Madinah (muslim) tidak boleh dikembalikan ke Madinah,
  5. Kesepakatan ini disetujui kedua belah pihak dan tidak boleh ada pengkhianatan serta pelanggaran.

Termasuk dalam syarat perjanjian itu, siapa saja dari kabilah Arab lain, boleh masuk dalam perjanjian Quraisy atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Khuza’ah masuk dalam perjanjian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan Banu Bakr bergabung dalam perjanjian itu di pihak Quraisy.

Dan perjanjian ini hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tidak termasuk wanita.

Di saat mereka dalam keadaan demikian, datanglah Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr menyeret rantainya. Dia keluar dari bawah kota Makkah hingga kemudian melemparkan dirinya di tengah-tengah orang-orang muslim.

Melihat hal ini, Suhail berkata: “Hai Muhammad, inilah kesepakatan pertama. Kamu harus kembalikan dia kepadaku.”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kita belum menyelesaikan kesepakatan ini.”

Kata Suhail: “Demi Allah, kalau begitu aku tidak akan berdamai denganmu lagi dalam urusan apa pun selamanya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata: “Kalau begitu, bolehkan dia saja untukku.”

“Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu,” jawab Suhail.

Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bahkan lakukanlah (berikanlah).”

Katanya: “Aku tidak akan serahkan.”

Kata Mikraz: “Bahkan kami serahkan dia kepadamu.”1

Kata Abu Jandal: “Hai kaum muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal aku datang sebagai muslim? Tidakkah kalian lihat apa yang kualami ini?”

Keadaannya memang mengenaskan, dia telah menerima siksaan yang sangat berat di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

‘Umar bin Al-Khaththab bercerita: “Aku pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: ‘Bukankah anda Nabi Allah sebenar-benarnya?’.”

Kata beliau: “Benar.”

Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq? Dan musuh kita dalam kebatilan?”

“Benar,” kata beliau.

Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada agama kita?”

Kata beliau: “Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan tidak mendurhakai-Nya. Allah pasti menolongku.”

Aku katakan: “Bukankah anda katakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”

Kata beliau: “Benar. Tapi apakah aku katakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”

“Tidak,” jawabku.

Kata beliau: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”

Kata ‘Umar pula: “Akupun menemui Abu Bakr. Dan aku katakan: ‘Hai Abu Bakr, bukankah beliau ini benar-benar Nabi Allah?’.”

Kata Abu Bakr: “Benar.”

Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq dan musuh kita dalam kebatilan?”

“Benar,” jawabnya.

Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada agama kita?”

Kata Abu Bakr: “Hai kamu. Sesungguhnya beliau benar-benar Rasul Allah dan tidak akan mendurhakai-Nya. Allah pasti menolong beliau. Berpeganglah dengan ucapannya, demi Allah, beliau di atas al-haq.”

Aku menukas: “Bukankah beliau katakan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”

Kata beliau: “Benar. Tapi apakah beliau mengatakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”

“Tidak,” jawabku.

Kata Abu Bakr: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”

Kata ‘Umar: “Lalu aku pun melakukan amalan untuk (menebus) ucapan itu.”

Begitu selesai penulisan kesepakatan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: “Berdirilah, sembelihlah korban kemudian bercukurlah.”

Kata (perawi): “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang berdiri sampai beliau ucapkan tiga kali.”

Ketika tidak ada dari mereka yang berdiri seorang pun, beliau masuk menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang beliau terima dari sikap kaum muslimin.

Kemudian Ummu Salamah berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah anda suka hal itu (mereka melaksanakannya)? Keluarlah, jangan bicara dengan siapa pun lalu sembelihlah korban, panggil tukang cukurmu dan bercukurlah.”

Beliau pun keluar dan tidak bicara dengan siapa pun sampai melakukan saran Ummu Salamah tersebut. Beliau mulai menyembelih korbannya dan memanggil tukang cukurnya lalu bercukur.

Tatkala para sahabat melihat hal itu, mereka segera bangkit dan menyembelih korban mereka dan sebagian mencukur yang lain sampai hampir-hampir mereka bunuh-bunuhan karena menyesal (tidak segera melaksanakan perintah beliau).

Tak lama kemudian, datanglah para wanita yang sudah beriman kepada beliau. Di antaranya Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. Lalu datang pula keluarganya menyusul dan meminta kepada beliau agar Ummu Kultsum diserahkan kepada mereka. Namun beliau tidak menyerahkannya kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” (al-Mumtahanah: 10)

Pada waktu itu pula ‘Umar menceraikan kedua istrinya yang masih musyrik. Kemudian salah seorang dinikahi oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan yang lainnya dinikahi oleh Shafwan bin ‘Umayyah.

Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai bertolak kembali ke Madinah.

Saat kepulangan itulah turun surat (al-Fath 1-3):

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).”

Para sahabat pun bertanya: “Benarkah ini kemenangan, ya Rasulullah?”

“Ya,” sahut beliau. Kemudian kata mereka: “Selamat untuk engkau, ya Rasulullah. Tapi mana untuk kami?” Lalu Allah  ‘azza wa jalla turunkan (ayat 4):

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

(bersambung, insya Allah)

Ditulis oelh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

 

 

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Hendak Shalat

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah  ‘azza wa jalla, pembahasan syarat-syarat shalat telah dibawakan dalam edisi terdahulu, berikut ini ada beberapa tambahan yang semoga bisa memberi faedah ilmu bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ila ash-shawab.

Shalat dengan pakaian yang diharamkan

Sebuah pakaian bisa diharamkan bagi seseorang, mungkin dari sisi diperolehnya pakaian tersebut dengan cara yang haram, atau zat pakaian itu sendiri yang haram atau sifatnya yang haram.

– Diperoleh dengan cara yang haram, mungkin dengan mencuri ataupun merampasnya dari orang lain atau yang semisalnya.

– Zat pakaian itu haram, seperti pakaian sutera dan emas1 yang diharamkan bagi laki-laki2 untuk memakainya atau pakaian yang bergambar makhluk hidup (manusia dan hewan).

– Sifat pakaian itu haram, seperti seorang laki-laki memakai pakaian wanita atau sebaliknya3.

Shalat mengenakan pakaian yang diharamkan tersebut hukumnya haram. Lantas, apakah shalat yang dikerjakan sah ataukah batal? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi. Namun pendapat yang menenangkan hati kami dan ini merupakan pendapat mayoritas ahlul ilmi adalah shalatnya tetap sah, tidak batal. Pelakunya dianggap telah berbuat maksiat karena melakukan perkara yang diharamkan, yakni memakai pakaian yang diharamkan. Ketika syariat melarang mengenakan sebuah pakaian secara mutlak pada saat menunaikan shalat ataupun di luar shalat, maka ini tidaklah mengandung konsekuensi batalnya shalat yang dikerjakan dengan memakai pakaian tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/448)

 

Shalat dengan memakai pakaian bercorak/bergambar4

Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

أًنَّ النَّبِيَّ صَلَّى فِي خَمِيْصَةٍ لَـهَا أَعْلاَمٌ، فَنَظَرَ إِلَى أَعْلاَمِهَا نَظْرَةً، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اذْهَبُوْا بِخَمِيْصَتِيْ هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَائْتُوْنِي أَنْبِجَانِيَّةَ أَبِي جَهْمٍ، فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي. وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ: قَالَ النَّيِيُّ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلاَةِ، فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan khamishah5yang memiliki corak/gambar-gambar. Beliau memandang sekali ke arah gambar-gambarnya. Maka selesai dari shalatnya, beliau bersabda, “Bawalah khamishahku ini kepada Abu Jahm6 dan datangkan untukku anbijaniyyah7nya Abu Jahm8, karena khamishah ini hampir menyibukkanku dari shalatku tadi9.” Hisyam bin Urwah berkata dari bapaknya dari Aisyah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketika sedang shalat tadi aku sempat melihat ke gambarnya, maka aku khawatir gambar ini akan melalaikan/ menggodaku10.” (HR. Al-Bukhari no. 373 dan Muslim no. 1239)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim memberi judul bagi hadits di atas dengan “Karahiyatush Shalah fi Tsaubin Lahu A’lam” artinya makruhnya shalat dengan mengenakan pakaian bergambar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa gambar-gambar yang ada pada khamishah tersebut sempat menyibukkan beliau. Maksudnya, hati beliau tersibukkan sesaat dari perhatian secara sempurna terhadap shalat yang sedang dikerjakan, dari mentadabburi dzikir-dzikir dan bacaannya karena memandang gambar yang ada pada khamishah yang sedang dikenakannya. Karena khawatir hati beliau akan tersibukkan dengannya, beliau pun enggan mengenakan khamishah itu dan memerintahkan agar mengembalikannya kepada Abu Jahm radhiallahu ‘anhu. Dari sini kita pahami, tidak disenanginya mengenakan pakaian yang bercorak/bergambar ketika shalat karena dikhawatirkan akan mengganggu ibadah shalat tersebut, walaupun shalat yang dikerjakan tetap sah. Diambil istimbath hukum dari hadits ini bahwa dimakruhkan segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat seperti hiasan, warna-warni, dan ukiran pada dinding masjid, atau hal-hal lain yang dapat menyibukkan serta memalingkan hati orang yang sedang shalat. (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz Dzikr ‘Aqibash Shalah, Al-Minhaj 5/46, Fathul Bari 1/627, Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/290)

Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bersegeranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbaiki shalat (melakukan hal-hal yang memberi kemashalatan bagi ibadah shalat) serta menyingkirkan apa yang mungkin menodai pelaksanaannya. Di mana beliau melepas khamishah yang dikenakannya, menyuruh sahabatnya untuk mengembalikannya dan meminta penggantinya berupa pakaian lain yang tidak menyibukkan.” (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz-Dzikr ‘Aqibash Shalah)

Zainuddin Abul Fadhl Al-’Iraqi rahimahullah menyatakan, “Hadits ini menunjukkan keharusan menyingkirkan apa saja yang dapat menyibukkan orang yang shalat dari ibadah shalatnya dan melalaikannya. Hadits ini juga mengandung hasungan untuk menghadap sepenuhnya pada amalan shalat dan khusyuk di dalamnya. Sebagaimana pula hadits ini menunjukkan bahwa pikiran sedikit/sejenak tersibukkan dengan perkara selain shalat tidaklah mencacati keabsahan shalat.” (Tharhu At-Tatsrib, 2/585)

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa tidak disenangi untuk shalat di tempat yang padanya ada hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat. Sehingga, sekiranya hal yang mengganggu itu dapat disingkirkan maka hendaknya disingkirkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut ini.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aisyah memiliki qiram11 yang dipakainya untuk menutupi sisi rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلاَتِي

“Singkirkan dari kami qirammu ini, karena gambar-gambarnya terus menerus terbayang-bayang dalam shalatku.” (HR. Al-Bukhari no. 374)

 

Shalat membawa gambar

Bila seseorang shalat sementara di sakunya ada dompet yang di dalamnya terdapat uang kertas bergambar makhluk hidup, KTP, SIM yang tentunya ada pas fotonya, apakah shalatnya sah?

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab, “Shalatnya sah. Adapun gambar-gambar yang dibawanya dalam shalat tidaklah mencacati shalatnya karena ia dalam keadaan terpaksa atau ada kebutuhan untuk selalu membawanya. Adapun gambar/foto kenang-kenangan, untuk mengingat seseorang dan semisalnya, tidak boleh dibawa. Bahkan tidak boleh dibiarkan tetap ada di dalam rumah, namun wajib dimusnahkan. Dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu:

لاَ تَدَعْ صُوْرَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا وَلاَ قَبْرًا مُشْرَفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Jangan engkau membiarkan satu gambar (makhluk hidup) kecuali engkau hapus dan jangan pula membiarkan ada satu kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.” (HR. Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya)

Kemudian Asy-Syaikh rahimahullah menyebutkan beberapa hadits yang lainnya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/417)

 

Shalat di tempat yang ada gambar

Shalat di tempat yang di situ ada gambar-gambar bernyawa seperti gambar-gambar pada surat kabar, majalah dan buku-buku, atau gambar yang digantung di dinding hukumnya sah apabila si muslim yang shalat tersebut menunaikan shalatnya dengan tata cara yang diajarkan dalam syariat. Akan tetapi bila ia mencari tempat lain yang tidak ada gambarnya maka itu lebih utama dan lebih afdhal. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/418)

 

Shalat beralaskan tikar

Dibolehkan shalat dengan memakai alas, baik berupa tikar, sajadah, kain atau yang lainnya selama alas tersebut tidak akan mengganggu orang yang shalat. Misalnya sajadahnya bergambar dan berwarna-warni, yang tentunya dapat menarik perhatian orang yang shalat. Di saat shalat, mungkin ia akan menoleh ke gambar-gambarnya, lalu mengamatinya, terus memerhatikannya hingga ia lupa dari shalatnya, apa yang sedang dibacanya dan berapa rakaat yang telah dikerjakannya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya memakai sajadah yang padanya ada gambar masjid, karena bisa jadi akan mengganggu orang yang shalat dan membuatnya menoleh ke gambar tersebut sehingga bisa mencacati shalatnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/362)

Dalil tentang bolehnya shalat dengan memakai alas adalah sebagai berikut:

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa neneknya yang bernama Mulaikah mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyantap hidangan yang dibuatnya. Beliau pun datang memenuhinya serta memakan hidangan yang disajikan. Seselesainya, beliau bersabda, “Bangkitlah, aku akan shalat mengimami kalian.” Anas berkata, “Aku pun bangkit untuk mengambil tikar kami yang telah menghitam karena lamanya dipakai. Aku percikkan air untuk membersihkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdiri. Aku dan seorang anak yatim membuat shaf di belakang beliau, sementara nenekku berdiri di belakang kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat mengimami kami, kemudian beliau pergi.” (HR. Al-Bukhari no. 380 dan Muslim no. 1497)

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu menyatakan:

أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam، فَوَجَدَهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيْرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ

“Ia pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ia dapatkan beliau sedang shalat di atas tikar, beliau sujud di atas tikar tersebut.” (HR. Muslim no. 1503)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

كَانَ يُصَلِّي عَلَى الْـخُمْرَةِ

“Adalah Rasulullah shalat beralaskan khumrah12.” (HR. Al-Bukhari no. 379 dan diriwayatkan pula oleh Muslim no. 1502 dari hadits Maimunah radhiallahu ‘anha)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha di berbagai negeri tentang bolehnya shalat di atas/beralas khumrah. Kecuali perbuatan yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah bahwa ia pernah meminta tanah lalu diletakkannya di atas khumrahnya untuk kemudian sujud di atas tanah tersebut. Mungkin apa yang dilakukan oleh ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah ini karena berlebih-lebihannya beliau dalam sikap tawadhu’ dan khusyuk. Dengan begitu, dalam perbuatan beliau ini tidak ada penyelisihan dengan pendapat jamaah (yang menyatakan bolehnya sujud di atas khumrah, pent.) Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari ‘Urwah ibnuz Zubair bahwa ia membenci (memakruhkan) shalat di atas sesuatu selain bumi/tanah (membenci shalat dengan memakai alas, pent.) Demikian pula riwayat dari selain ‘Urwah. Namun dimungkinkan makruhnya di sini adalah karahah tanzih (bukan haram).” (Fathul Bari, 1/633)

Namun perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini cukuplah menunjukkan kebolehan shalat di atas alas. Wallahu a’lam.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan, “Orang-orang dalam mazhab kami berkata, ‘Tidak dibenci shalat di atas wol, bulu, hamparan, permadani, dan benda-benda seluruhnya. Inilah pendapat dalam mazhab kami’.” (Al-Majmu’, 3/169)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Tidak apa-apa shalat di atas hamparan/tikar dan permadani dari wol, kulit, dan bulu. Sebagaimana dibolehkan shalat di atas kain dari katun, linen, dan seluruh bahan yang suci.” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, fashl Tashihhu Ash-Shalah ‘alal Hashir wal Bisath minash Shuf)

 

Shalat dengan pakaian yang dikenakan saat buang hajat/di WC

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hal ini, karena memungkinkan ketika keluar dari WC pakaian mereka terkena najis dan tidak diragukan WC tidak lepas dari najis. Bila demikian, apakah sah shalat mereka dengan mengenakan pakaian tersebut? Beliau rahimahullah menjawab, “Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku hendak mengatakan bahwa syariat Islam ini, alhamdulillah, telah sempurna dari seluruh sisi. Cocok dengan fitrah manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan makhluk di atas fitrah tersebut. Di mana pula, agama ini datang dengan kemudahan dan keringanan, bahkan datang untuk menjauhkan manusia dari kebingungan dalam was-was dan bayangan-bayangan yang tidak ada asalnya. Berdasarkan hal ini, seseorang dengan pakaian yang dikenakannya berada di atas kesucian, karena hukum asalnya demikian, selama ia tidak yakin tubuh dan pakaiannya terkena najis. Inilah hukum asal yang dipersaksikan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ada seseorang mengadu kepada beliau bahwa ia merasa berhadats ketika sedang mengerjakan shalatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

“Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar suara (angin) atau ia mendapati baunya.”13

Maka hukum asalnya adalah tetapnya sesuatu di atas keadaannya semula (dalam hal ini: suci). Dengan begitu, basahnya pakaian yang dikenakan mereka saat masuk WC, bisakah dipastikan bahwa cairan tersebut adalah cairan yang najis dari air kencing, tahi, atau semisalnya? Bila kita tidak bisa memastikan (tidak yakin) dengan perkara ini, maka dikembalikan kepada hukum asal, yaitu suci. Memang benar, menurut persangkaan yang kuat pakaian itu bisa jadi terkena sedikit najis. Akan tetapi selama kita tidak yakin (sekedar menduga-duga) maka tetap hukum asal sesuatu itu suci, sehingga tidak wajib bagi mereka membasuh pakaian mereka. Dan mereka boleh shalat mengenakan pakaian tersebut.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/369)

 

Shalat memakai sandal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat tanpa alas kaki dan terkadang pula dengan memakai sandal. Beliau membolehkan hal itu kepada umat beliau dengan sabdanya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ وَلاَ يُؤْذِي بِهِمَا غَيْرَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan di antara kedua kakinya, dan jangan ia mengganggu orang lain dengan kedua sandalnya.” (HR. Al-Hakim 1/259, ia berkata, “Shahih di atas syarat Muslim.” Disepakati oleh Adz-Dzahabi. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1/108, “Hadits ini memang sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya.”)

Didapatkan pula adanya penekanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengenakan sandal ketika shalat sebagaimana dalam hadits:

خَالِفُوا الْيَهُوْدَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّوْنَ فِي نِعَالـِهِمْ وَلاَ خِفَافِهِمْ

“Selisihilah Yahudi, karena mereka tidak shalat dengan mengenakan sandal dan tidak pula khuf mereka.” (HR. Abu Dawud no. 652, dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa Fish Shahihain, hadits no. 471, 1/399)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini memberi faedah disenanginya shalat dengan memakai sandal14 karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya dengan alasan untuk menyelisihi Yahudi. Minimal hukumnya adalah mustahab, walaupun secara dzahir hukumnya wajib15, namun di sini tidaklah wajib hukumnya, dengan dalil sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا…

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan keduanya…”

Dari ucapan beliau ini menunjukkan seseorang yang shalat diberi pilihan (antara memakai sandal atau melepaskannya) akan tetapi hal ini tidaklah meniadakan hukum mustahabnya….” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/109,110)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari berkata, “Mustahabnya dari sisi tujuan menyelisihi Yahudi.”

Sunnah ini tentunya akan dianggap asing oleh masyarakat kita karena ketidaktahuan mereka terhadap hukum-hukum yang rinci dalam agama ini. Juga karena pandangan mereka, apabila seseorang masuk masjid dalam keadaan memakai sandal berarti dia menghinakan masjid dan mengotorinya. Sehingga siapa saja yang hendak mengamalkan sunnah harus pandai-pandai melihat keadaan dan super hati-hati. Jangan sampai karena ingin menghidupkan sunnah namun hasilnya malahan mendatangkan mudarat dan membuat fitnah di tengah masyarakatnya yang awam tersebut, yang menyebabkan sunnah ini justru dibenci dan agama ini semakin dijauhi. Wallahul musta’an.

Oleh karena itu, ajarilah dulu manusia agama yang mudah ini dengan penuh hikmah, sehingga mereka mengerti dan paham, dan pada akhirnya mereka cinta terhadap agama ini dan mengamalkan semua yang datang dari agama yang mulia ini, tanpa ada paksaan dari siapa pun. Wallahul muwaffiq ila ash-shawab.

(bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

—————————————————————————————————————————————

1 Baik emas itu berupa perhiasan seperti cincin, kalung, dan sebagainya, ataupun berupa benang emas yang dengannya ditenun sebuah kain.

2 Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan memakai sutera dan emas bagi kalangan laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi kalangan wanitanya.”

Hadits di atas menurut lafadz At-Tirmidzi (no. 1720), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku pakaian dari sutera bergaris maka akupun keluar mengenakannya. Ketika beliau melihat apa yang aku lakukan, tampaklah kemarahan di wajah beliau, maka aku pun membagi-bagikan pakaian sutera tersebut di antara wanita-wanitaku.” (HR. Al-Bukhari no. 5840 dan Muslim no. 5390)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu paham bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak senang ia mengenakan pakaian dari sutera. Maka ia pun memotong sutera tersebut hingga dapat digunakan sebagai kerudung lalu membagi-bagikannya kepada Fathimah bintu Rasulullah istrinya, Fathimah bintu Asad bin Hasyim ibunya, dan Fathimah bintu Hamzah bin Abdil Muththalib, sepupunya.” (Fathul Bari, 10/310)

Sutera dan emas merupakan pakaian/perhiasan yang diperuntukkan bagi wanita di dunia sehingga bila seorang lelaki memakainya berarti ia telah menyerupai wanita.

Keharaman sutera bagi laki-laki ini dikecualikan bila ada uzur seperti yang diberitakan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

رَخَّصَ النَّبِيُّ shallallahu ‘alaihi wa sallam لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيْرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada Zubair ibnul Awwam dan Abdurrahman bin Auf –semoga Allah meridhai keduanya– untuk memakai sutera karena penyakit gatal-gatal yang diderita oleh keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5839 dan Muslim no. 5398)

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah menyatakan sebagaimana dinukilkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (10/308), “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan memakai sutera (bagi laki-laki) dikecualikan bagi orang yang menderita penyakit yang penyakitnya itu dapat diringankan dengan memakai sutera.”

3 Dalam hal ini terdapat hadits dari Ibnu ‘Abbas c, beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam الْـمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْـمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah memaknakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dengan, “Tidak boleh laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang khusus bagi wanita dan tidak boleh pula sebaliknya (wanita menyerupai laki-laki).” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan: “Demikian pula meniru cara bicara dan berjalan. Adapun dalam penampilan/bentuk pakaian, maka ini berbeda-beda dengan adanya perbedaan adat kebiasaan pada setiap negeri. Karena terkadang suatu kaum tidak membedakan model pakaian laki-laki dengan model pakaian wanita (sama saja), akan tetapi untuk wanita ditambah dengan hijab.” (Fathul Bari, 10/345)

Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ الله shallallahu ‘alaihi wa sallam الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْـمَرْأَةِ وَالْـمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud no. 3575. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Hadits ini hasan menurut syarat Muslim.”)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitabnya Al-Jami’ush Shahih (3/92) menempatkan hadits ini dalam kitab An-Nikah wath Thalaq, bab Tahrimu Tasyabbuhin Nisa` bir Rijal (Haramnya wanita menyerupai laki-laki), dan beliau membawakannya kembali dalam kitab Al-Libas, bab Tahrimu Tasyabbuhir Rijal bin Nisa` wa Tasyabbuhin Nisa` bir Rijal (Haramnya laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki) (4/314).

4 Tentunya bukan gambar manusia dan hewan (makhluk hidup). Karena gambar manusia dan hewan telah jelas keharamannya dan tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakannya.

5 Khamishah adalah pakaian tipis bersegi empat terbuat dari wol. (Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/289)

Dalam At-Tamhid (3/306) disebutkan, khamishah adalah pakaian tipis terkadang bergambar dan terkadang tanpa gambar, bisa jadi warnanya putih bergambar, atau kuning, merah, dan hitam. Khamishah ini termasuk pakaian para pembesar/bangsawan Arab.

6 Namanya Ubaidullah. Adapula yang mengatakan namanya ‘Amir bin Hudzaifah Al-Qurasyi Al-‘Adawi, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur. (Fathul Bari 1/626, Al Minhaj 5/69)

7 Anbajaniyyah adalah pakaian yang tebal tidak bergambar.

8 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh sahabatnya untuk mengirim khamishahnya kepada Abu Jahm radhiallahu ‘anhu, karena Abu Jahm yang menghadiahkannya kepada beliau, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Malik rahimahullah dalam kitabnya Al-Muwaththa` (bab 58, hadits no. 216) dari jalan lain dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

أَهْدَى أَبُو جَهْمٍ بْنُ حُذَيْفَةَ لِرَسُوْلِ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam خَمِيْصَةً شَامِيَّةً لَهَا عَلَمٌ فَشَهِدَ فِيْهَا الصَّلاَةَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قاَلَ: رُدِّي هَذِهِ الْخَمِيْصَةَ إِلَى أَبِي جَهْمٍ، فَإِنِّي نَظَرْتُ إِلَى عَلَمِهَا فِي الصَّلاَةِ فَكَادَ يَفْتِنُنِي

“Abu Jahm bin Hudzaifah menghadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah khamishah Syamiyyah yang bergambar. Rasulullah pun mengenakannya dan mengerjakan shalat dalam keadaan memakai pakaian tersebut. Tatkala selesai dari shalatnya, beliau bersabda, “Kembalikanlah khamishah ini kepada Abu Jahm, karena ketika shalat aku sempat melihat gambarnya dan hampir-hampir gambarnya memfitnahku (menggodaku).”

9 Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pakaian yang lain kepada Abu Jahm agar Abu Jahm tahu bahwa beliau tidak menolak hadiahnya karena meremehkannya.” (Fathul Bari, 1/626)

10 Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sampai terlalaikan dari shalat beliau karena godaan yang beliau khawatirkan tidak terjadi namun hampir saja terjadi. (Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/289)

11 Qiram adalah satir (kain penutup) yang tipis terbuat dari wol yang berwarna-warni. (Fathul Bari, 1/628)

12 Khumrah adalah alas yang kecil sekedar untuk meletakkan wajah ketika sujud.

13 Karena angin yang keluar dari dubur ada yang mengeluarkan bunyi dan ada yang tidak. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.

14 Tentunya setelah melihatnya terlebih dahulu, apakah ada kotoran atau tidak. Bila ada, maka wajib dibersihkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

إِذَا جاَءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا

“Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, sebelum masuk masjid hendaklah ia melihat kedua sandalnya. Bila ia lihat ada kotoran atau najis maka hendaklah ia membersihkannya dan setelah bersih ia boleh shalat dengan mengenakan kedua sandalnya.” (HR. Abu Dawud no. 650 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud, Irwa`ul Ghalil no. 284, dan Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1/110)

15 Karena hukum asal dari perintah adalah wajib, kecuali ada nash yang memalingkannya dari hukum wajib tersebut.

 

Umur, Anugrah yang Banyak Diabaikan

Ada sebagian kaum muslimin yang masih berprinsip, baru akan memperbanyak ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah l setelah senja, setelah pensiun atau purna tugas. Padahal pada usia berapa kita mati, kita tak pernah mengetahuinya.

Orang yang akan melakukan perjalanan jauh pasti akan menyiapkan perbekalan yang cukup. Lihatlah misalnya orang yang hendak menunaikan ibadah haji. Terkadang ia mengumpulkan harta dan perbekalan sekian tahun lamanya, padahal itu berlangsung sebentar, hanya beberapa hari saja. Maka mengapa untuk suatu perjalanan yang tidak pernah ada akhirnya –yakni perjalanan akhirat– kita tidak berbekal diri dengan ketaatan?! Padahal kita yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah bagaikan tempat penyeberangan untuk sampai kepada kehidupan yang kekal nan abadi yaitu kehidupan akhirat, di mana manusia terbagi menjadi: ashhabul jannah (penghuni surga) dan ashhabul jahim (penghuni neraka). Itulah hakikat perjalanan manusia di dunia ini. Maka sudah semestinya kita mengisi waktu dan sisa umur yang ada dengan berbekal amal kebaikan untuk menghadapi kehidupan yang panjang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr: 18)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah apa yang sudah kalian simpan dari amal shalih untuk hari kebangkitan serta (yang akan) dipaparkan kepada Rabb kalian.” (Taisir Al-‘Aliyil Qadir, 4/339)

 

Umur Bukan Pemberian Cuma-Cuma

Waktu adalah sesuatu yang terpenting untuk diperhatikan. Jika ia berlalu tak akan mungkin kembali. Setiap hari dari waktu kita berlalu, berarti ajal semakin dekat. Umur merupakan nikmat yang seseorang akan ditanya tentangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Lihat Ash-Shahihah, no. 946)

 

Jangan Menunda-nunda Beramal

Mungkin kita sering mendengar orang mengatakan: “Mumpung masih muda kita puas-puaskan berbuat maksiat, gampang kalau sudah tua kita sadar.” Sungguh betapa kejinya ucapan ini. Apakah dia tahu kalau umurnya akan panjang? Kalau seandainya dia ditakdirkan panjang, apa ada jaminan dia akan sadar? Atau justru akan bertambah kesesatannya?! Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sesung-guhnya angan-angan adalah modal utama orang-orang yang bangkrut.” (Ma’alim Fi Thariqi Thalabil ‘Ilmi hal. 32)

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْـمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لـِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لـِمَوْتِكَ

“Apabila engkau berada di waktu sore janganlah menunggu (menunda beramal) di waktu pagi. Dan jika berada di waktu pagi, janganlah menunda (beramal) di waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu untuk masa sakitmu dan kesempatan hidupmu untuk saat kematianmu.” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

 

Selagi kesempatan masih diberikan, jangan menunda-nunda lagi. Akankah seseorang menunda hingga apabila ajal menjemput, betis bertaut dengan betis, sementara lisanpun telah kaku dan tubuh tidak bisa lagi digerakkan? Dan ia pun menyesali umur yang telah dilalui tanpa bekal untuk suatu kehidupan yang panjang?! Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan penyesalan orang-orang kafir ketika datang kematian:

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan. ’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (al-Mu`minun: 99-100)

 

Menyia-nyiakan Kesempatan

Banyak orang yang melewati hari-harinya dengan hura-hura, berfoya-foya, dan perbuatan sia-sia. Bahkan tidak jarang dari mereka yang tenggelam dalam dosa. Tidaklah mereka melakukan ketaatan sebagai bekal di hari kemudian dan tidak pula mengisi dengan kegiatan positif yang bermanfaat bagi kehidupannya di dunia. Seolah keadaannya mengatakan bahwa hidup hanyalah di dunia ini saja. Tiada yang terbayang di benaknya kecuali terpenuhi syahwat dan nafsunya. Orang yang seperti ini tidak jauh dari binatang bahkan lebih jelek keadaannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“(Ada) dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu padanya, (yaitu nikmat) sehat dan senggang.” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2304)

 

Sesungguhnya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan untuk serius dalam memanfaatkan kesempatan sebelum datangnya penghalang. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada seseorang dengan menasihatinya:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa hidupmu sebelum matimu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa senggangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu sebelum tuamu, dan masa kaya/kecukupanmu sebelum fakirmu.” (HR. Al-Hakim dan selainnya. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 1077)

Al-Munawi rahimahullah berkata: “Lakukanlah lima perkara sebelum mendapatkan lima perkara. “Hidupmu sebelum matimu” yakni pergunakan (hidupmu pada) apa yang akan memberi manfaat setelah matimu, karena orang yang mati telah terputus amalannya, pupus harapannya, datang penyesalannya serta beruntun kesedihannya. Maka gadaikanlah dirimu untuk kebaikanmu. “Dan masa sehatmu sebelum sakitmu” yakni gunakan masa sehat untuk beramal, karena terkadang datang penghalang seperti sakit sehingga kamu mendatangi akhirat tanpa bekal. “Dan masa senggangmu sebelum masa sibukmu” yakni manfaatkan (kesempatan) senggangmu di dunia ini sebelum tersibukkan dengan kedahsyatan hari kiamat yang awal persinggahannya adalah kubur. Manfaatkanlah kesempatan yang diberikan, semoga kamu selamat dari adzab dan kehinaan. “Dan masa mudamu sebelum tuamu”, yakni lakukan ketaatan di saat kamu mampu sebelum kelemahan usia lanjut menghinggapimu, sehingga kamu akan menyesali apa yang telah kamu sia-siakan dari kewajiban terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. “Dan masa kayamu sebelum fakirmu” yakni manfaatkan untuk bersedekah dengan kelebihan hartamu sebelum dipaparkan kepada musibah yang menjadikanmu fakir, (jika demikian) kamu akan fakir di dunia dan akhirat. Kelima hal ini tidak diketahui kadar besarnya kecuali setelah tidak ada.” (Faidhul Qadir, 2/21)

 

Telah Datang Peringatan

Terkadang telah datang kepada seseorang peringatan dari tubuhnya sendiri. Suatu hal yang menjadi cambuk supaya menyadari akan keadaannya. Sungguh uban yang meliputi kepala, kulit yang mulai keriput dan kekuatan yang mulai melemah merupakan peringatan bahwa ajal telah dekat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Fathir: 37)

 

Sebagian ahli tafsir menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas: “Dan telah datang kepada kamu peringatan” yakni: uban.

Demikian pula jika Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi umur kepada seseorang hingga 60 tahun, berarti Allah subhanahu wa ta’ala tidak meninggalkan lagi sebab untuk seorang memiliki alasan. Kesempatan telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan dan umur telah dipanjangkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أُخِّرَ أَجَلُهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّيْنَ سَنَةً

“Allah telah menyampaikan puncak dalam pemberian udzur/alasan kepada seorang yang diakhirkan ajalnya hingga mencapai umur 60 tahun.” (HR. Al-Bukhari no. 6419)

Maksud dari hadits ini adalah bahwa tidak lagi tersisa alasan baginya, seperti dengan mengatakan: “Kalau dipanjangkan ajalku, niscaya aku akan melakukan apa yang aku diperintah dengannya.” Dijadikannya umur 60 tahun sebagai batas udzur seseorang, karena itu adalah umur yang mendekati ajal dan umur (yang seharusnya) seorang itu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala, khusyu’ dan mewaspadai datangnya kematian. Seorang yang berumur lebih dari 60 tahun hendaklah menekuni amalan-amalan akhirat secara total, karena sudah tidak mungkin lagi akan kembali kepada keadaannya yang pertama ketika masih kuat dan semangat. (Lihat Fathul Bari, 11/240)

 

Umur Umat Ini

Allah subhanahu wa ta’ala telah menakdirkan bahwa umur umat ini tidak sepanjang umur umat terdahulu. Yang demikian mengandung hikmah yang terkadang tidak diketahui oleh hamba. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (Dihasankan sanadnya oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari, 11/240)

Maksud dari hadits ini adalah bahwa keumuman ajal umat ini antara umur 60 hingga 70 tahun, dengan bukti keadaan yang bisa disaksikan. Di mana di antara umat ini ada yang (mati) sebelum mencapai umur 60 tahun. Ini termasuk dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan kasih sayang-Nya supaya umat ini tidak terlibat dengan kehidupan dunia kecuali sebentar. Karena umur, badan dan rizki umat-umat terdahulu lebih besar sekian kali lipat dibandingkan umat ini. Dahulu ada yang diberi umur hingga seribu tahun, panjang tubuhnya mencapai lebih dari 80 hasta atau kurang. Satu biji gandum besarnya seperti pinggang sapi. Satu delima diangkat oleh sepuluh orang. Mereka mengambil dari kehidupan dunia sesuai dengan jasad dan umur mereka, sehingga mereka sombong dan berpaling dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan manusia pun terus mengalami penurunan bentuk fisik, rizki, dan ajal. Sehingga menjadilah umat ini sebagai yang terakhir, yang mengambil rizki sedikit, dengan badan yang lemah dan pada masa yang pendek, supaya mereka tidak menyombongkan diri. Ini termasuk dari kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala terhadap mereka. Demikian makna ucapan Al-Imam Ath-Thibi rahimahullah seperti dalam Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir (2/15).

 

Orang yang Paling Baik

Manusia terbaik adalah yang mengisi waktu-waktunya dengan amalan yang mengantarkan kepada kebaikan dunia dan akhiratnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, lihat Shahih Al-Jami’ no. 3297)

Orang yang banyak kebaikannya, setiap kali dipanjangkan umurnya maka akan banyak pahalanya dan dilipatgandakan derajatnya. Maka bertambahnya umur akan bertambah pula pahala dan amalannya.

Dahulu ada dua orang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sama-sama masuk Islam. Salah satunya lebih semangat beramal dibandingkan temannya. Orang yang lebih semangat itu ikut dalam pertempuran dan terbunuh. Temannya yang satu masih hidup setahun setelahnya, lalu meninggal di atas ranjangnya. Maka ada seorang sahabat bernama Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiallahu ‘anhu bermimpi tentang dua orang tersebut. Dalam mimpinya, keduanya ada di pintu surga. Lalu orang yang matinya di atas ranjangnya dipersilakan untuk masuk surga terlebih dahulu. Setelah itu temannya yang terbunuh dipersilakan masuk. Paginya, Thalhah bercerita kepada orang-orang dan mereka takjub (heran) dengannya. Berita mimpi Thalhah dan takjubnya manusia pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Bukankah (orang yang mati di ranjangnya) ia masih hidup setahun setelah (kematian temannya yang terbunuh di jalan Allah) itu?” Sahabat menjawab: “Benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Dan ia mendapati bulan Ramadhan lalu ia puasa dan shalat sekian dan sekian dalam setahun?” Sahabat menjawab: “Benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jarak (derajat) antara keduanya lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.” (Lihat Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3185)

 

Karena mahalnya umur seorang mukmin, maka dahulu ada seorang salaf mengatakan: “Sungguh, satu jam kamu hidup padanya yang kamu beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala lebih baik daripada kamu mati selama setahun.”

Dan dahulu ada seorang salaf yang sudah tua ditanya: “Apakah kamu ingin mati?” Jawabnya: “Tidak. Karena masa muda dan kejahatannya telah berlalu, dan kini datang masa tua bersama kebaikannya. Jika aku berdiri aku mengucapkan bismillah, jika aku duduk aku mengucapkan alhamdulillah. Aku ingin untuk terus dalam keadaan seperti ini.”

 

Dan ada (pula) seorang salaf lain yang sudah tua ditanya: “Apa yang masih tersisa dari keinginanmu dalam kehidupan ini?” Ia menjawab: “Menangisi dosa-dosa yang telah aku lakukan.”

 

Oleh karena itu, banyak dari salaf kita yang menangis ketika mau meninggal. Bukan karena berpisah dengan kenikmatan dunia, namun karena terputus dari amalan-amalan yang biasa dia lakukan berupa shalat malam, puasa, tilawatul Qur`an dan lainnya. Hal ini seperti yang dialami oleh Yazid bin Aban Ar-Raqqasyi rahimahullah. (Lihat syarah hadits Allahumma bi’ilmika al-ghaib –karya Ibnu Rajab rahimahullah hal. 25-26)

 

Larangan Meminta Kematian

Tidak seyogianya seseorang meminta kematian tanpa ada sebab yang dibenarkan. Di antara sebab yang dibenarkan adalah ketika seorang yakin jika agamanya akan terfitnah dan adanya indikasi yang kuat bahwa cobaan yang dihadapinya akan menjadikannya menyimpang dari agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam kondisi seperti ini, perut bumi lebih baik daripada atasnya. Namun orang yang tidak memiliki alasan yang dibenarkan, seperti seseorang yang ditimpa penyakit dan sudah berobat tapi tidak kunjung sembuh atau dililit hutang dan semisalnya, meminta mati dalam keadaan yang seperti ini dilarang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْـمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْـحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian karena penderitaan yang menimpanya. Jika mau tidak mau harus berbuat hendaklah ia mengucapkan: ‘Wahai Allah, hidupkanlah aku jika memang hidup lebih baik bagiku. Dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari no. 5671)

 

Seorang mukmin selalu meminta yang terbaik kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena seseorang tidak tahu apakah setelah kematian kondisinya lebih baik atau bahkan sebaliknya. Dengan kematian, seseorang sudah terputus dari beramal dan tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan menyesali kesalahan.

 

Adalah Habib bin ‘Isa Al-Farisi rahimahullah gusar ketika kematian hendak menjemputnya. Ia mengatakan: “Sungguh aku akan pergi dengan perjalanan yang belum pernah sejauh itu. Aku akan menelusuri jalan yang belum pernah sama sekali aku menelusurinya. Aku akan berkunjung menuju kekasihku (Allah subhanahu wa ta’ala) yang belum pernah sama sekali aku melihat-Nya. Dan aku akan melihat kedahsyatan yang belum pernah aku saksikan yang seperti itu.” (Syarah hadits Allahumma bi’ilmika al-ghaib- Ibnu Rajab rahimahullah hal. 32 dan lihat kisahnya pada Hilyatul Aulia`, 6/149-155)

 

Memohon Dipanjangkan Umur

Panjangnya umur bukan jaminan seorang selamat dari adzab. Lihatlah bagaimana orang Yahudi sangat berambisi untuk diberi umur panjang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.” (al-Baqarah: 96)

 

Adapun seorang mukmin tidaklah bertambah umur kecuali bertambah kebaikan. Oleh karena itu, boleh bagi seseorang untuk mendoakan panjangnya umur. Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendoakan sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَأَطِلْ حَيَاتَهُ وَاغْفِرْ لَهُ

“Wahai Allah perbanyaklah hartanya, anaknya dan panjanglah hidupnya (umurnya) serta ampuni baginya.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 508)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini, (ada faedah) bolehnya mendoakan panjangnya umur bagi seseorang.” (Syarah Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 2/311)

Namun seyogianya doa meminta panjang umur dibarengi dengan permohonan kebaikan dengan panjangnya umur itu. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Tidak sepantasnya seseorang mengucapkan (selamat) panjang umur, karena panjangnya umur terkadang baik dan terkadang jelek. Orang yang jelek adalah yang panjang umurnya namun jelek amalannya. Berdasarkan hal tadi maka tidak mengapa kalau mendoakan: ‘Semoga Allah subhanahu wa ta’ala panjangkan hidupmu di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala’ dan yang semisalnya.” (Al-Manahi Al-Lafzhiyyah hal. 89)

Para Salaf dalam Melaksanakan Ketaatan dan Menjaga Waktu

Orang yang membuka lembaran kehidupan generasi awal umat ini dalam memanfaatkan umur yang ada akan menganggapnya aneh. Seolah itu adalah dongeng yang tidak ada kenyataannya. Perasaan aneh ini bisa muncul karena sangat jauhnya kita dengan generasi awal umat ini dalam menyikapi hidup dan kehidupan. Mereka adalah generasi yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Mereka rela berkorban dengan harta, raga dan bahkan nyawa untuk meninggikan agama Allah subhanahu wa ta’ala. Suatu generasi yang keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala adalah tujuan dan harapannya, meski harus dimurkai manusia.

Maka, mencermati kehidupan ulama dalam menjaga waktu adalah suatu hal yang mestinya diketahui. Karena dengan mengetahui kisah mereka, semangat akan tumbuh dan kemalasan akan terkikis. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan kondisi hamba-hamba-Nya yang mendapatkan kemuliaan dengan firman-Nya:

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka beristighfar (memohon ampun kepada Allah).” (adz-Dzariyat: 17-18)

Lihatlah bagaimana mereka melewati malam-malam yang indah dengan bergadang untuk melakukan berbagai ketaatan di saat umumnya manusia terlelap dalam tidurnya. Namun sudah seperti itu keadaannya, mereka selalu meminta ampun karena masih banyaknya kekurangan dan kesalahan. Demikianlah orang yang baik, menggabungkan antara semangat beramal dengan perasaan takut akan adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula Ibrahim dan Isma’il e tatkala selesai membangun Ka’bah, rumah Allah subhanahu wa ta’ala yang termulia, di tempat yang paling mulia yaitu Makkah. Keduanya berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا

“Wahai Allah, terimalah dari kami.” (al-Baqarah: 127)

Berbeda dengan orang yang jelek, mereka menggabungkan antara jeleknya perbuatan dan sikap merasa aman dari adzab Allah subhanahu wa ta’ala.

Inilah sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu memberitahukannya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang menshalati jenazah akan mendapatkan satu qirath (pahala yang besar) dan barangsiapa yang mengantarnya hingga dikubur akan mendapatkan dua qirath. Abdullah belum pernah mendengar hadits itu, lalu ia mengutus seseorang untuk bertanya kepada ‘Aisyah. Utusan tadi bertanya kepada ‘Aisyah, dan ia menjawab: “Benar apa yang dikatakan Abu Hurairah.” Ketika utusan tadi telah pulang dan mengabarkannya, Abdullah mengatakan dengan ucapan penyesalan: “Sungguh kita telah menyia-nyiakan qirath yang banyak.” (Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1040, cet. Al-Ma’arif)

Demikianlah, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma sangat menyesal karena telah terlewatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala besar. Namun, pernahkah kita menyesali kesempatan emas yang terlewat tanpa kita manfaatkan? Paling yang kita sesali adalah gemerlapnya dunia yang luput kita dapatkan. Sungguh waktu seseorang adalah modal hidupnya.

Dahulu bila seorang ahli hadits mendiktekan hadits kepada murid-muridnya dan ia berhenti sejenak untuk memberi kesempatan muridnya untuk menulis, ia manfaatkan waktu yang sejenak itu untuk beristighfar dan bertasbih.

Dahulu ada yang menyebutkan tentang Al-Imam Abdullah bin Al-Imam Ahmad rahimahullah: “Tidaklah aku melihatnya kecuali tersenyum atau sedang membaca atau menelaah.”

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan biografi Abdul Wahhab bin Al-Wahhab bin Al-Amin rahimahullah bahwa waktunya sangat terjaga. Tidaklah berlalu suatu saat kecuali ia sedang membaca, berdzikir, tahajjud, atau setor hafalan. (Lihat Ma’alim Fi Thariq Thalabil ‘Ilmi karya Abdul Aziz As-Sadhan, hal. 33-37)

 

Berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari Ketuaan/ Kepikunan

Semakin lanjut usia seseorang, semakin berkurang kekuatannya dan melemah fisiknya hingga kembali kepada keadaan yang serupa dengan anak kecil dalam hal lemahnya tubuh, sedikit akalnya, dan tidak adanya pengetahuan. Demikian pula munculnya pemandangan yang tidak bagus serta tidak mampu melakukan banyak ketaatan. Cukuplah seseorang berlindung dari kepikunan karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menamakannya dengan umur yang paling rendah/hina dan menjadi tidak tahu apa-apa yang sebelumnya ia tahu. Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ

“Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut, dan kepikunan.” (HR. Al-Bukhari no. 6367)

 

Orangtua Berjiwa Muda

Ketahuilah bahwa selagi manusia masih ada harapan hidup maka tidak akan terputus harapannya untuk mendapatkan dunia. Bahkan terkadang dirinya tidak mau mencabut diri dari kelezatan dan syahwat yang maksiat. Setan pun selalu membisikkan untuk mengakhirkan taubat hingga akhir umurnya. Sehingga bila ia telah yakin akan mati dan tidak ada harapan lagi untuk hidup, barulah ia sadar dari mabuknya akan syahwat dunia. Ia pun menyesali penyia-nyiaan umurnya dengan penyesalan yang hampir membunuh dirinya. Ia meminta dikembalikan ke dunia untuk bertaubat dan beramal shalih. Namun permintaannya tidak digubris, sehingga berkumpullah padanya sakaratul maut dan penyesalan atas sesuatu yang telah lewat.

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan hamba-Nya akan hal ini, supaya mereka bersiap-siap menghadapi kematian dengan bertaubat dan beramal shalih sebelum datangnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ. وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ. أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِنْ كُنْتُ لَـمِنَ السَّاخِرِينَ

“Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah’.” (az-Zumar: 54-56) [Lihat Latha`iful Ma’arif, Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah hal. 449-450]

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menyambut, dan bagi masing-masingnya ada anak-anak (pecinta)nya. Maka jadilah kalian termasuk ahli akhirat dan jangan menjadi ahli dunia. Hari ini (kehidupan dunia) adalah tempat beramal bukan hisab, dan besok (kiamat) hanya ada hisab, tidak ada amal.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq Bab Fil Amal Wa Thulihi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيْرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

“Orang yang sudah tua senantiasa berhati muda pada dua perkara: dalam cinta dunia dan panjangnya angan-angan (yakni panjangnya umur).” (HR. Al-Bukhari no. 6420)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.

 

Takutkah Anda Berkurban? Maukah Anda Berjuang?

Takutkah Anda Berkurban? Maukah Anda Berjuang?

 

Dua buah pertanyaan ini tertuju pertama kali kepada penulis secara khusus dan kepada segenap saudaraku yang beriman secara umum. Dua pertanyaan tersebut: “Takutkah anda berkorban?” dan “Maukah anda berjuang?” Hal ini menggugah:

  1. Agar setiap orang mengintrospeksi diri atas setiap gerak yang dilakukan.
  2. Mengingat segala apa yang telah dipersiapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala

berupa ganjaran yang besar di sisi-Nya, dengan sebuah pengorbanan dan perjuangan yang tidak seberapa dan tidak sebanding dengannya.

  1. Agar tetap tegar dan bersemangat dalam beramal, berkorban, dan berjuang.
  2. Mengikhlaskan semua amalnya untuk Allah subhanahu wa ta’ala dan selalu menjaganya.
  3. Mengoreksi bentuk pengorbanan dan perjuangan agar tidak keluar dari rel yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada segenap nabi dan rasul-Nya.

Dan tentunya juga menggugah kita untuk menelaah kembali teguran, peringatan, serta anjuran-anjuran Allah subhanahu wa ta’ala di dalam banyak firman-Nya seperti:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr: 18)

“Lihatlah apa yang dilakukan oleh setiap jiwa untuk hari esoknya” artinya: “Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab dan lihatlah apa yang kalian tabung untuk diri-diri kalian dari amal-amal shalih untuk hari yang akan datang dan hari ketika engkau berada di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/411)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

لِيَجْزِيَ اللهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ إِنَّ اللهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya, tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.” (Ibrahim: 51)

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْـحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (al-Mu`min: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Beberapa pelajaran penting dari ayat-ayat di atas:

  1. Mendidik diri di atas perintah Allah subhanahu wa ta’ala serta membentengi diri dari kemaksiatan. (lihat Zadul Masir hal. 1453)
  2. Tidak boleh terus menerus dalam kelalaian sampai datang hari penyesalan di mana penyesalan pada hari itu tidak berarti sedikitpun. (Taisir Karimirrahman hal. 673)
  3. Allah subhanahu wa ta’ala akan membalas setiap jiwa baik dengan kebaikan atau kejelekan serta tidak ada kedzaliman pada hari itu dengan dikurangi pahalanya. (Fathul Qadir hal. 1518)
  4. Amat sangat mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala untuk menghisab hamba-hamba-Nya sebagaimana menghisab satu orang. (Tafsir Ibnu Katsir 4/78)
  5. Seluruh nabi diperangi di dunia dan mereka tetap menang padanya. (Tafsir Ibnu Katsir 4/86)

 

Ridha dan Ampunan Allah subhanahu wa ta’ala

Meraih ridha dan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala merupakan tujuan setiap ibadah yang dilakukan oleh setiap muslim. Karena tidak ada seorang pun dari mereka, melainkan berharap ridha Pemilik dirinya dan ampunan-Nya. Dan mereka menganggap bahwa itu merupakan nilai tertinggi dan tujuan yang paling akhir dalam kehidupan di dunia ini.

Namun berapakah dari kaum mukminin yang sadar bahwa dia sedang berjuang melepaskan diri dari belenggu kemaksiatan yang melilitnya? Dan berapakah dari kaum mukminin yang sadar bahwa dia sedang berkorban mengejar ridha Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Pemiliknya dan Pemilik apa yang dimilikinya? Sungguh amatlah sedikit yang mengetahui hal ini.

Kemaksiatanlah yang membelenggu mereka untuk menjadi sadar. Nafsulah yang telah menawan mereka untuk menjadi orang yang selalu ingat. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: “Sesungguhnya pelaku maksiat selalu dalam tawanan setan, penjara syahwat dan belenggu nafsunya. Dia sebagai tawanan dalam penjara dan terbelenggu. Dan tidak ada tawanan yang paling jelek dari tawanan musuh bebuyutannya dan tidak ada penjara yang paling sempit dari penjara hawa nafsu, serta tidak ada belenggu yang paling rumit (untuk melepaskan diri darinya) daripada belenggu syahwat.

Lalu bagaimana akan bisa berjalan menuju Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat, sebuah hati yang tertawan, terpenjara, dan terbelenggu, serta bagaimana mungkin dia bisa melangkah walaupun satu langkah?” (lihat Ad-Da`u Wad Dawa` hal. 93)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (al-Baqarah: 207)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (az-Zumar: 53)

وَاللهُ يَدْعُو إِلَى الْـجَنَّةِ وَالْـمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ

“Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 221)

 

Paham yang Harus Diluruskan

Demikian luas pengampunan Allah subhanahu wa ta’ala bagi setiap hamba-Nya dan demikian besar anugerah Allah subhanahu wa ta’ala terhadap setiap mereka. Orang yang beriman akan menjadikan hal itu sebagai momentum terbaik untuk meraih kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu bagaimana halnya dengan orang yang selalu bermaksiat?

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: “Di antara mereka ada yang tertipu dengan ungkapan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak butuh untuk mengadzabnya dan adzab-Nya tidak akan menambah kemuliaan Allah subhanahu wa ta’ala sedikitpun serta rahmat Allah subhanahu wa ta’ala sedikitpun tidak akan mengurangi kerajaan-Nya. Dan dia berkata: ‘Saya orang yang sangat butuh kepada rahmat-Nya dan Dia Allah Maha Kaya. Jika seseorang yang faqir miskin sangat butuh akan seteguk air di sisi seseorang yang ada bentangan bak air laut yang mengalir di rumahnya, tentu dia tidak akan mencegahnya.

Dan Allah Maha Dermawan dan luas, sedangkan pengampunan-Nya tidak akan mengurangi kemuliaan-Nya sedikitpun dan adzab-Nya tidak akan menambah kemuliaan-Nya sedikitpun’.” (lihat Ad-Da`u Wad Dawa` hal. 24)

 

Berkorban Untuk Mengejar Ridha dan Ampunan Allah subhanahu wa ta’ala

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (al-Baqarah: 207)

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 111)

Pengorbanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala tidak tersembunyi bagi orang yang merasakan manisnya ilmu As-Sunnah, karena segala yang telah beliau perbuat termaktub di dalam kitab-kitab As-Sunnah.

Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Adalah Rasulullah apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikatan sarungnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mengencangkan ikatan sarungnya maksudnya adalah menyingkir dari istri-istri beliau.

Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita:

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لـِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟

Bahwa Nabi bangun di malam hari sampai pecah kedua kaki beliau. Lalu aku berkata: “Kenapa engkau lakukan hal ini, ya Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau bersabda: “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah beberapa ayat dan hadits yang menggambarkan sebuah usaha dalam berkorban yang akan membuahkan lebih dari apa yang dikorbankan. Lalu kenapa mesti takut untuk berkorban dan kenapa tidak mau berjuang?

Di sisi lain, ada sebuah pengorbanan yang akan berujung pada kerugian yang dalam, kebinasaan yang nyata, dan kehancuran yang hebat.

Itulah pengorbanan di atas kesesatan dan keingkaran.

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 16)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Dia melelang agamanya dengan sedikit harta benda dunia.” (HR. Muslim no. 118 dari sahabat Abu Hurairah z)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bercerita tentang akhir usaha Khawarij di atas kesesatan mereka dalam banyak hadits, bercerita secara umum tentang akhir perjuangan ahli bid’ah serta para penelusur kejahatan. Dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari bahaya mereka.

 

Berjuang untuk Selamat dari Murka Allah subhanahu wa ta’ala

Ada sebuah wasiat dan bimbingan serta arahan dari Allah Yang Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman menuju sebuah perniagaan yang sangat besar. Sebuah tujuan yang mulia dan cita-cita yang tinggi, yang dengannya akan terwujud keselamatan dari adzab yang pedih dan akan selamat dengan kemenangan yang abadi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (ash-Shaff: 10-13)

 

Figur Perjuangan dan Pengorbanan seorang Nabi dan Rasul, Ibrahim ‘alaihissalam

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan beliau sebagai contoh dan suri teladan yang baik dalam berpegang terhadap prinsip kebenaran, membelanya, memperjuangkan dan dalam berkorban di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Pengorbanan beliau ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkannya untuk menyembelih putra yang dicintai dan diharapkannya. Lihat kisahnya di dalam surat Ash-Shaffat ayat 102-107.
  2. Perjuangan beliau untuk mendakwahi ayah dan kaumnya dalam mengembalikan mereka menuju peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Karena seruan tersebut, dia diusir dari sisi ayahnya dan diancam dengan (hukuman) rajam, sebagaimana dalam surat Maryam ayat 41-48.
  3. Pengorbanan beliau dijilat api yang berkobar dalam berjuang untuk menggugat perbuatan kaumnya yang jelas-jelas menyelisihi akal yang sehat serta fitrah yang lurus. Di saat mereka menuhankan berhala-berhala yang merupakan hasil karya dan pahatan mereka sendiri. Dengan burhan dan hujjah dari Allah subhanahu wa ta’ala, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melumatkan hujjah mereka satu demi satu serta mengajak mereka agar mau mempergunakan akal. Lihat kisahnya dalam surat al-Anbiya` ayat 52-69.
  4. Perjuangan beliau untuk mematahkan hujjah sang raja kafir dengan dialog ilmiah, yang berujung pada membongkar kedok sang raja yang mengaku tuhan dan membungkam mulut-mulut mereka di hadapan kebenaran. Lihat kisahnya di dalam surat al-Baqarah ayat 258.
  5. Keberanian beliau dalam memberikan teladan pada generasi setelahnya dengan sebuah proklamasi pemutusan muamalah terhadap kaumnya yang kafir dan ingkar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang dibatasi sampai mereka beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lihat kisahnya pada surat al-Mumtahanah ayat 4.

 

Perjuangan dan Pengorbanan di atas Aqidah yang Benar

Tidak diragukan lagi bahwa berjuang dan berkorban di atas aqidah yang benar memiliki dampak dan akibat yang positif baik di dunia ataupun di akhirat. Bagaimana tidak, karena itu adalah sebuah perjuangan yang telah dibangun di atas landasan yang kokoh dan asas yang benar. Mari kita menyimak hasil perjuangan para nabi di atas aqidah yang benar yang telah meraih kemenangan di dunia ataupun di akhirat untuk kemudian kita mencontoh mereka. Kenapa kita takut untuk berkorban dan tidak mau untuk berjuang?

  1. Nabi Hud ‘alaihissalam

وَلَـمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَنَجَّيْنَاهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

“Dan tatkala datang adzab kami, kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari adzab yang berat.” (Hud: 58)

  1. Nabi Shalih ‘alaihissalam

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِـحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Maka tatkala datang adzab kami, kami selamatkan Shalih beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Hud: 66)

  1. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam

وَلَـمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Dan tatkala datang adzab kami, kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari kami, dan orang-orang yang dzalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (Hud: 94)

  1. Nabi Nuh ‘alaihissalam

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْـمُنْذَرِينَ

“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Yunus: 73)

  1. Nabi Luth dan Ibrahim ‘alaihissalam

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَـمِينَ

“Dan kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (al-Anbiya`: 71)

  1. Para rasul, kaum mukminin, dan orang-orang yang bertakwa.

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْـمُؤْمِنِينَ

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, Demikianlah menjadi kewajiban atas kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Yunus: 103)

وَيُنَجِّي اللهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh adzab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (az-Zumar: 61)

 

Koreksi Aqidah dan Tauhidmu

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan: “Adalah kewajiban atas orang yang berilmu di setiap tempat untuk menjelaskan kepada umat tentang agama mereka dan menerangkan kepada mereka hakikat tauhid dan hakikat kesyirikan, sebagaimana wajib bagi mereka menjelaskan kepada manusia jalan-jalan menuju kesyirikan dan segala macam kebid’ahan yang terjadi agar mereka menjauhinya.” (Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah hal. 9)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Tidak mungkin bagi seseorang untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sempurna, sampai dia mengetahui dan mengilmui nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala sehingga dia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas ilmu.” (Muqaddimah Qawa’id Al-Mutsla hal. 20)

Asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata: “Bila seorang muslim tidak bersenjatakan aqidah yang benar yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah serta apa yang telah dijalani oleh salaf umat ini, niscaya dia pantas untuk terombang-ambing dalam embusan arus angin penyesatan. Hal ini menuntut agar kita memberikan perhatian yang besar terhadap pengajaran aqidah yang benar kepada anak-anak kaum muslimin, yang disadur dari sumbernya yang asli.” (Muqaddimah beliau dalam Kitabut Tauhid)

Al-Imam As-Sa’di rahimahullah menyatakan: “Segala kebaikan di dunia dan di akhirat merupakan buah dari tauhid. Dan segala kejahatan di dunia dan akhirat merupakan buah dari kesyirikan.” (Qawa’id Fiqhiyyah hal. 18)

Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah menegaskan: “Perkara pertama yang wajib diketahui oleh seorang hamba adalah apa tujuan mereka diciptakan, untuk apa Allah subhanahu wa ta’ala ambil perjanjian dari mereka, karenanya para rasul diutus, dengannya semua kitab diturunkan, karenanya dunia dan akhirat diciptakan, surga dan neraka diadakan, ditegakkan hari kiamat, dipancangkannya timbangan, ditebarkannya catatan-catatan amal, serta di atasnyalah kecelakaan dan kebahagiaan.” (A‘lamus Sunnah Al-Mansyurah hal. 33)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

 

 

Sunnah yang Terabaikan Bagi Orang yang Mau Berkurban

Sunnah yang Terabaikan Bagi Orang yang Mau Berkurban

 

Dari Ummu Salamah, Rasulullah bersabada: ”Apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 25269, Al-Imam Muslim no. 1977, Al-Imam An-Nasa`i, 7 hal. 212, Al-Imam Abu Dawud 3/2793, Al-Imam At-Tirmidzi 3/1523, Al-Imam Ibnu Majah 2/3149, Al-Imam Ad-Darimi no. 1866. (CD Program, Syarh An-Nawawi cet. Darul Hadits)

 

Jalur Periwayatan Hadits

Hadits tersebut diriwayatkan dari jalan Sa’id bin Musayyib dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Dalam riwayat hadits ini terdapat seorang rawi yang diperselisihkan penyebutan namanya, yaitu ‘Umar bin Muslim Al-Junda’i. Ada yang menyebutnya ‘Umar bin Muslim dan ada pula yang menyebutnya ‘Amr bin Muslim.

 

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan, riwayat ‘Umar bin Muslim dari Sa’id bin Musayyab, pada nama عمر kebanyakan riwayat menyebutnya dengan mendhammah ‘ain (عُمر) ‘Umar, kecuali riwayat dari jalan Hasan bin ‘Ali Al-Hulwani, menyebutkan dengan memfathah ‘ain (عَمرو) ‘Amr. Dan ulama menyatakan bahwa keduanya ada penukilannya. (lihat Syarh Al-Imam An-Nawawi, 7/155)

 

Sebaliknya, Al-Imam Abu Dawud  rahimahullah menyatakan, telah terjadi perselisihan dalam penyebutan ‘Amr bin Muslim. Sebagian menyatakan ‘Umar dan kebanyakan menyatakan ‘Amr. Beliau sendiri menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa dia adalah ‘Amr bin Muslim bin Ukaimah Al-Laitsi Al-Junda’i. (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/224, cet. Darul Hadits)

 

Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Qayyim  rahimahullah mengatakan: “Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan manusia terhadap hadits ini, baik dari sisi riwayat maupun dirayah (kandungan maknanya). Sebagian berkata: Tidak benar kalau hadits ini kedudukannya marfu’ (sampai kepada nabi), yang benar ialah mauquf (hanya sampai kepada sahabat).

 

Ad-Daruquthni rahimahullah berkata dalam kitab Al-‘Ilal: Telah meriwayatkan secara mauquf Abdullah bin ‘Amir Al-Aslami, Yahya Al-Qathan, Abu Dhamrah, semuanya dari Abdurrahman bin Humaid, dari Sa’id. ‘Uqail meriwayatkan secara mauquf sebagai ucapan Sa’id. Yazid bin Abdillah dari Sa’id dari Ummu Salamah, sebagai ucapan Ummu Salamah. Demikian pula Ibnu Abi Dzi`b meriwayatkan dari jalan Al-Harts bin Abdurrahman, dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah, sebagai ucapannya. Abdurrahman bin Harmalah, Qatadah, Shalih bin Hassan, semuanya meriwayatkan dari Sa’id, sebagai ucapannya. Riwayat yang kuat dari Al-Imam Malik, menyatakan mauquf. Dan Al-Imam Ad-Daruquthni berkata: “Yang benar menurut saya adalah pendapat yang menyatakan mauquf.”

 

Pendapat kedua menyatakan yang benar adalah marfu’. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Al-Imam Muslim ibn Hajjaj rahimahullah, seperti yang beliau sebutkan dalam kitab Shahih-nya. Demikian pula Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Ibnu Hibban rahimahullah juga meriwayatkan dalam Shahih-nya.

 

Abu Bakr Al-Baihaqi rahimahullah berkata: “Hadits ini telah tetap/kuat sebagai hadits yang marfu’ ditinjau dari beberapa sisi. Di antaranya: Tidak mungkin orang yang seperti mereka (para ulama yang menshahihkan) salah. Al-Imam Muslim rahimahullah telah menyebutkan dalam kitabnya. Selain mereka juga masih ada yang menshahihkannya. Telah meriwatkan secara marfu’ Sufyan bin Uyainah dari Abdurahman bin Humaid dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi, dan Syu’bah dari Malik dari ‘Amr bin Muslim dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidaklah kedudukan Sufyan dan Syu’bah di bawah mereka yang meriwayatkan secara mauquf. Tidaklah lafadz/ucapan hadits seperti ini merupakan ucapan dari para sahabat, bahkan terhitung sebagai bagian dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti sabda beliau (لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ) Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian dan yang semisalnya.” (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/225 cet. Darul Hadits, Mesir)

 

Penjelasan Hadits

(إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ) artinya, apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

 

Makna ini dipahami dari riwayat lain yang menyebutkan:

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْـحِجَّةِ

”Apabila kalian telah melihat hilal di bulan Dzulhijah.”

atau:

فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْـحِجَّةِ

”Apabila telah terlihat hilal bulan Dzulhijjah.”

(وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ) artinya, salah seorang di antara kalian ingin berqurban.

 

Pada sebagian riwayat terdapat tambahan lafadz (وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ), di sisinya (punya) hewan sembelihan. Pada lafadz yang lain (مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ), barangsiapa punya hewan sembelihan yang akan dia sembelih.

(فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا) artinya, janganlah sedikitpun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu) nya dan mengupas kulitnya.

Pada riwayat yang lain terdapat lafadz (فَلاَ يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلاَ يَقْلِمَنَّ ظُفْرًا), Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kuku.

 

Pada lafadz yang lain:

(فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ) Hendaknya ia menahan dari memotong rambut dan kukunya.

 

Dalam lafadz yang lain:

فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kukunya sedikitpun, hingga ia menyembelih.

 

Sunnah yang Terabaikan

Termasuk sunnah yang terabaikan bagi seorang yang telah memiliki hewan qurban yang akan ia sembelih adalah tidak ada pengetahuan tentang apa yang harus ia perbuat apabila telah masuk tanggal 1 hingga 10 Dzulhijjah (hari raya qurban tiba)! Tidak/belum sampainya suatu ilmu seringkali menjadi penyebab terabaikannya sekian banyak sunnah (kebaikan) baik berupa perintah atau larangan. Oleh sebab itu, sepantasnya bahkan wajib bagi setiap muslim, laki-laki maupun wanita untuk membekali kehidupan ini dengan ilmu agama yang benar, hingga tidak berujung penyesalan hidup di kemudian hari.

 

Hadits yang tersebut di atas membimbing kita, terutama bagi seorang muslim yang telah mempersiapkan hewan qurban untuk disembelih pada hari raya qurban atau setelahnya pada hari-hari Tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzulhijjah). Apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, hendaknya ia menahan diri untuk tidak mencukur atau mencabut rambut/bulu apapun yang ada pada dirinya (baik rambut kepala, ketiak, tangan, kaki, dan yang lainnya). Demikian pula tidak boleh memotong kuku (tangan maupun kaki) serta tidak boleh mengupas kulit badannya (baik pada telapak tangan maupun kaki, ujung jari, tumit, atau yang lainnya). Larangan ini berlaku bagi yang memiliki hewan qurban dan akan berqurban, bukan bagi seluruh anggota keluarga seseorang yang akan berqurban. Larangan ini berakhir hingga seseorang telah menyembelih hewan qurbannya. Jika ia menyembelih pada hari yang kesepuluh Dzulhijjah (hari raya qurban), di hari itu boleh baginya mencukur rambut/memotong kuku. Jika ia menyembelih pada hari yang kesebelas, keduabelas, atau yang ketigabelas, maka di hari yang ia telah menyembelih hewan qurban itulah diperbolehkan baginya untuk mencukur rambut atau memotong kuku.

 

Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, ‘Amr bin Muslim pernah mendapati seseorang di kamar mandi sedang mencabuti bulu ketiaknya menggunakan kapur sebelum hari raya qurban. Sebagian mereka ada yang berkata: “Sesungguhnya Sa’id bin Musayyib tidak menyukai perkara ini.”

Ketika ‘Amr bin Muslim bertemu dengan Sa’id bin Musayyib, ia pun menceritakannya. Sa’id pun berkata: “Wahai anak saudaraku, hadits ini telah dilupakan dan ditinggalkan. Ummu Salamah d, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Nabi telah bersabda, seperti hadits di atas.”

Kalau manusia di zaman beliau demikian keadaannya, bagaimana dengan di zaman kita sekarang?!

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang menghidupkan Sunnah Nabi-Nya dan bukan menjadikan sebagai orang yang memadamkan/mematikannya.

 

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi larangan dalam perkara ini. Ada yang memahami sesuai dengan apa yang nampak dari lafadz hadits tersebut, sehingga mereka berpendapat haram bagi seseorang untuk melakukannya (wajib untuk meninggalkannya). Di antara mereka adalah Sa’id bin Musayyib, Rabi’ah bin Abi Abdirrahman, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan sebagian dari pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya berpendapat makruh (tidak dikerjakan lebih utama), bukan diharamkam. Dan yang berpendapat semisal ini adalah Al-Imam Malik dan sebagian pengikut Al-Imam Ahmad seperti Abu Ya’la dan yang lainnya.

 

Pendapat lain dalam hal ini adalah mubah (tidak mengapa melakukannya). Pendapat ini dianut oleh Abu Hanifah dan pengikutnya.

 

Peringatan

Sebagian orang ada yang memahami bahwa larangan mencukur rambut/bulu, memotong kuku, dan mengupas/mengambil kulit, kata ganti dalam hadits di atas (-nya – bulunya, kukunya, kulitnya) kembali kepada hewan yang akan disembelih.

Jika demikian, hadits di atas akan bermakna: “Apabila telah masuk 10 hari awal Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalian akan berqurban, maka janganlah ia mencukur bulu (hewan yang akan dia sembelih), memotong kuku (hewan qurban), dan jangan mengupas kulit (hewan qurban).”

 

Tentunya bukanlah demikian maknanya. Makna ini juga tidak selaras dengan hikmah yang terkandung di dalam hadits itu sendiri.

 

Hikmah yang Terkandung

Di samping sebagai salah satu bentuk ketaatan dan mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hikmah dari larangan tersebut adalah agar seseorang tetap utuh anggota badannya kala ia akan dibebaskan dari panasnya api neraka.

Sebagian ada yang berpendapat, hikmahnya adalah agar seorang merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji atau diserupakan dengan seorang yang telah berihram, sehingga mereka juga dilarang dari mencukur rambut, memotong kuku, mengupas kulit, dan sebagainya.

 

Namun pendapat terakhir ini ada yang tidak menyetujuinya, dengan alasan, bagaimana diserupakan dengan seorang yang menunaikan haji, sementara ia (orang yang akan berqurban) tidak dilarang dari menggauli istrinya, memakai wewangian, mengenakan pakaian dan yang lainnya. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/224-226, cet. Darul Hadits, Syarh An-Nawawi 7/152-155, cet. Darul Hadits)

 

Hadits-hadits Lemah dalam Berqurban

  1. Kesempurnaan sembelihan

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ shallallahu ‘alaihi wa sallam قَالَ: أُمِرْتُ بِيَوْمِ اْلأَضْحَى عِيْدًا جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ. قَالَ الرَّجُلُ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ أَجِدْ إِلاَّ أُضْحِيَّةً أُنْثَى أَفَأُضَحِّي بِهَا؟ قَالَ: لاَ، وَلَكِنْ تَأْخُذُ مِنْ شَعْرِكَ وَأَظْفَارِكَ وَتَقُصُّ شَارِبَكَ وَتَحْلِقُ عَانَتَكَ فَتِلْكَ تَمَامُ أُضْحِيَّتِكَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan pada hari Adha sebagai hari raya. Allah ‘azza wa jalla menghadiahkannya untuk umat ini.” Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana pendapatmu (kabarkan kepada saya) jika aku tidak mendapatkan kecuali sembelihan hewan betina, apakah aku menyembelihnya?” Beliau menjawab: “Jangan. Akan tetapi ambillah dari rambut dan kukumu, cukur kumis serta bulu kemaluanmu. Itu semua sebagai kesempurnaan sembelihanmu di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. Abu Dawud no. 2786)

Al-Mundziri rahimahullah menjelaskan: “Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa`i. Sanad hadits ini lemah di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama ‘Isa bin Hilal Ash-Shadafi. Tidak ada yang menguatkan kecuali Ibnu Hibban.”

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mendhaifkannya dalam Dha’if Abi Dawud. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)

 

  1. Sembelihan dikhususkan untuk orang yang sudah meninggal

عَنْ حَنَشٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ فَقُلْتُ لَهُ: مَا هَذَا؟ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam أَوْصَانِي أَنْ أُضَحِّيَ عَنْهُ فَأَنَا أُضَحِّي عَنْهُ

Dari Hanasy ia berkata: “Aku melihat ‘Ali bin Abi Thalib sedang menyembelih dua ekor domba. Kemudian aku bertanya: ‘Apa ini?’ Ali pun menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku agar aku menyembelih hewan qurban untuknya, dan akupun menyembelihkan untuknya.” (HR. Abu Dawud no. 2786, At-Tirmidzi no. 1495)

 

Sanad hadits ini lemah, terdapat di dalamnya seorang rawi yang bernama Abul Hasna`, yang dia tidak dikenal. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)

 

  1. Pahala bagi orang yang berqurban

فِي اْلأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada setiap hewan qurban, terdapat kebaikan di setiap rambut bagi pemiliknya.” (HR. At-Tirmidzi. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini maudhu’ (palsu).”)

 

  1. Hewan qurban adalah tunggangan di atas shirath

اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلىَ الصِّرَاطِ

“Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”

 

Hadits ini lemah sekali (dha’if jiddan). Dalam sanadnya ada Yahya bin Ubaidullah bin Abdullah bin Mauhab Al-Madani, dia bukanlah rawi yang tsiqah, bahkan matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan oleh para ulama). Juga ayahnya, Ubaidullah bin Abdullah, adalah seorang yang majhul. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani rahimahullah (2/14, no. hadits 527, dan 3/114, no. hadits 1255), Dha’iful Jami’ (no. 824). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 60 dan 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)

 

عَظِّمُوا ضَحَايَاكُمْ فِإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ

“Gemukkanlah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”

 

Hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya. Ibnu Shalah rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak dikenal, tidak pula tsabit (benar datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 64, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)

 

  1. Darah sembelihan jatuh di tempat penyimpanan Allah ‘azza wa jalla

أَيُّهَا النَّاسُ، ضَحُّوا وَاحْتَسِبُوا بِدِمَائِهَا، فَإِنَّ الدَّمَ وَإِنْ وَقَعَ فِي الْأَرْضِ فَإِنَّهُ يَقَعُ فِي حِرْزِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

 

“Wahai sekalian manusia, berqurbanlah dan harapkanlah pahala dari darahnya. Karena meskipun darahnya jatuh ke bumi namun sesungguhnya dia jatuh ke tempat penyimpanan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath)

Hadits ini maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya ada ‘Amr bin Al-Hushain Al-’Uqaili, dia matrukul hadits, sebagaimana dinyatakan Al-Haitsami rahimahullah. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani rahimahullah (2/16, no. hadits 530). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)

 

Wallahu ta’ala a’lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

 

 

Berkurban Sebagai Cara untuk Berkurban

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang halim (cerdik dan bijaksana). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (ash-Shaffat: 100-109)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

Seorang anak yang cerdik dan bijaksana. Yang dimaksud adalah di saat dia dewasa, dia memiliki sifat ini.

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa dari anak Ibrahim  ‘alaihissalam yang dimaksud dalam ayat tersebut. Sebagian mengatakan yang dimaksud adalah Ishaq. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian salaf seperti Ikrimah dan Qatadah. Ada juga yang menukil dari beberapa sahabat, di antaranya ‘Abbas bin Abdil Muththalib, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud, Umar bin Al-Khaththab, Jabir, dan yang lainnya.

Sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah Isma’il  ‘alaihissalam, dan ini pendapat yang dinukilkan dari Abu Hurairah dan Abu Thufail Amir bin Watsilah. Juga diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhum. Dan ini pendapat Sa’id bin Musayyab, Asy-Sya’bi, Yusuf bin Mihran, dan yang lainnya. Dan pendapat ini dikuatkan oleh para ahli tahqiq seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syinqithi, dan yang lainnya rahimahumullah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Taisir Al-Karim Arrahman, Adhwa`ul Bayan, dan Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 4/331-336)

Pendapat yang terkuat adalah yang kedua. Kuatnya pendapat ini ditinjau dari beberapa sisi:

Pertama: bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan berita gembira kepada Ibrahim  ‘alaihissalam tentang anak yang akan disembelih. Kemudian setelah menyebut kisahnya secara sempurna, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan setelahnya berita gembira tentang lahirnya Ishaq  ‘alaihissalam:

“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq.” (ash-Shaffat: 112-113)

Maka ini menunjukkan bahwa ada dua berita gembira, berita tentang anak yang akan disembelih serta anak yang bernama Ishaq.

Kedua: bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak menyebut tentang kisah penyembelihan kecuali pada surat Ash-Shaffat saja, sedangkan pada ayat-ayat yang lain hanya disebutkan berita gembira tentang lahirnya Ishaq secara khusus.

Ketiga: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (Hud: 71)

Kalau sekiranya yang disembelih itu Ishaq, tentu Ibrahim  ‘alaihissalam akan menganggap terjadinya penyalahan janji tentang munculnya Ya’qub dari keturunan Ishaq  ‘alaihissalam.

Keempat: bahwa yang disifati dengan sifat sabar adalah Isma’il  ‘alaihissalam, seperti dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah kisah) Isma’il, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.” (al-Anbiya`: 85)

Dan masih ada lagi sisi penguat yang menunjukkan bahwa yang akan disembelih adalah Isma’il  ‘alaihissalam, bukan Ishaq  ‘alaihissalam.

Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan: “Yang wajib diyakini bahwa yang dimaksud (ayat ini) adalah Isma’il. Dan inilah yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-sunnah, serta penguat-penguat yang masyhur. Ini pula yang disebutkan dalam Kitab Taurat yang ada di tangan ahli kitab, di mana disebutkan padanya bahwa (Allah ‘azza wa jalla) berfirman kepada Ibrahim:

“Sembelihlah anakmu yang satu-satunya.”

Dalam naskah yang lain: بَكْرَكَ (anak semata wayang dari ibu yang satu).

Dan Isma’il adalah anak satu-satunya yang dari satu ibu (pada masa itu) berdasarkan kesepakatan kaum muslimin dan ahli kitab. Namun ahli kitab mengubah lalu menambah kata ‘Ishaq’, lantas dkutip oleh sebagian orang dan menyebar di sebagian kaum muslimin bahwa yang dimaksud adalah Ishaq, padahal asalnya adalah dari perubahan ahli kitab.” (Majmu’ Fatawa, 4/331-332)

 

Penjelasan Ayat

As-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan ayat-ayat ini mengatakan: “(Ibrahim berkata): ‘Wahai Rabb-ku, berikanlah aku seorang anak yang termasuk dari kalangan orang-orang yang shalih’. Beliau mengucapkan itu tatkala ia telah putus asa dari kaumnya di mana beliau tidak melihat kebaikan pada mereka. Beliau pun berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar memberikan karunia kepadanya seorang anak yang shalih, yang Allah subhanahu wa ta’ala memberi manfaat baginya dalam kehidupan dan setelah kematiannya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala pun mengabulkannya dan berfirman: ‘Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan lahirnya seorang anak yang cerdik dan bijaksana’, dan tidak ada keraguan bahwa dialah Isma’il  ‘alaihissalam. Karena Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan berita gembira setelahnya dengan lahirnya Ishaq  ‘alaihissalam dan karena Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang berita gembira lahirnya Ishaq  ‘alaihissalam dengan firman-Nya:

“Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (Hud: 71)

Sehingga ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah yang akan disembelih. Dan Allah subhanahu wa ta’ala memberi sifat Isma’il dengan kebijaksanaan, yang mengandung kesabaran, akhlak yang baik, lapang dada, serta memaafkan orang yang bersalah. Tatkala anak tersebut telah mencapai waktu untuk bisa bekerja bersama ayahnya dan biasanya hal itu di saat mencapai usia baligh, dia pun senang untuk melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, telah hilang kesulitannya dan telah terasa manfaatnya.

Maka Ibrahim  ‘alaihissalam berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu,’ yaitu Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkanku untuk menyembelihmu. Karena mimpi para nabi adalah wahyu, maka perhatikanlah apa pendapatmu, sesungguhnya perintah Allah subhanahu wa ta’ala harus dijalankan.

Maka Isma’il  ‘alaihissalam yang senantiasa bersabar dan mengharap keridhaan Rabb-nya serta berbakti kepada ayahnya berkata: ‘Wahai ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatiku –insya Allah- termasuk di antara orang-orang yang bersabar.’

Dia mengabarkan kepada ayahnya bahwa dia telah menetapkan dirinya di atas kesabaran dan menggandengkan hal tersebut dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. Sebab tidaklah terjadi sesuatu tanpa kehendak-Nya. Tatkala keduanya telah berserah diri, yaitu Ibrahim dan Isma’il anaknya, dalam keadaan dia telah menetapkan untuk membunuh anak sekaligus buah hatinya, sebagai wujud menaati perintah Rabbnya dan takut dari siksaan-Nya, sedangkan sang anak telah menetapkan dirinya di atas kesabaran, dan Ibrahim telah meletakkan Isma’il dengan membelakangi wajahnya dan tengkuknya berada di atas, ia menidurkannya dan akan menyembelihnya, wajahnya dibalik agar dia tidak melihat ke wajahnya di saat penyembelihan. Kamipun memanggilnya dalam kondisi yang menegangkan dan keadaan yang sangat mencekam itu: ‘Wahai Ibrahim,’ engkau telah membenarkan dan melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Sesungguhnya engkau telah menetapkan dirimu di atas hal tersebut, dan engkau telah melakukan semua sebab, serta tidak ada yang tersisa kecuali melewatkan pisau di atas tenggorokannya. Sesungguhnya Kami dengan itu membalas orang-orang yang berbuat kebaikan dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami daripada hawa nafsunya.

Sesungguhnya ujian yang kami berikan kepada Ibrahim ini benar-benar merupakan ujian yang nyata, yang menjelaskan ketulusan Ibrahim, dan kesempurnaan cintanya kepada Rabb-nya serta menjadi khalil-Nya. Karena tatkala Allah subhanahu wa ta’ala memberikan karunia Isma’il  ‘alaihissalam kepada Ibrahim  ‘alaihissalam, dia pun sangat mencintainya. Padahal beliau adalah Khalilullah di mana khalil merupakan tingkatan kecintaan yang tertinggi, dan itu harus murni dan tidak menerima adanya penyetaraan, serta menghendaki agar seluruh unsur kecintaan tersebut benar-benar terpaut kepada yang dicintai.

Tatkala ada satu unsur dari hati Ibrahim yang melekat pada diri Isma’il, Allah subhanahu wa ta’ala hendak memurnikan kecintaan Ibrahim kepada-Nya dan menguji khalil-Nya. Maka Dia memerintahkan untuk menyembelih orang yang kecintaannya telah mengusik kecintaan kepada Rabb-nya. Tatkala Ibrahim lebih mengutamakan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala dan lebih mendahulukannya di atas hawa nafsunya, serta bertekad untuk menyembelihnya, hilanglah sesuatu yang mengusik dalam hatinya tersebut, sehingga penyembelihan pun tidak berfaedah lagi.

Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya benar-benar ini merupakan ujian yang nyata, dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang agung,’ yaitu diganti dengan sembelihan berupa kambing yang agung yang disembelih Ibrahim. Keagungan kambing tersebut dari sisi bahwa itu adalah tebusan dari Isma’il  ‘alaihissalam di mana itu termasuk di antara ibadah yang agung. Dan dari sisi bahwa hal itu menjadi ibadah qurban dan sunnah hingga hari kiamat. Dan kami meninggalkan untuknya pujian yang benar pada orang-orang belakangan sebagaimana orang-orang terdahulu. Sehingga setiap yang datang setelah Ibrahim  ‘alaihissalam, senantiasa mencintai, mengagungkan, dan memuji, ‘keselamatan atas Ibrahim’ yaitu penghormatan atasnya. Seperti firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?’.” (an-Naml: 59) [lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman]

Telah diriwayatkan oleh Abu Thufail dari Ibnu Abbas c, dia berkata: “Tatkala Ibrahim  ‘alaihissalam diperintah untuk menyembelih anaknya, setan pun berusaha menggodanya ketika berada di tempat sa’i, lalu berusaha mendahului Ibrahim. Namun Ibrahim berhasil mendahuluinya. Jibril lantas membawa Ibrahim menuju jamratul ‘aqabah. Setan pun kembali menggodanya. Beliau pun melemparnya dengan tujuh kerikil, hingga setan itu pergi lalu menggodanya kembali di jamratul wustha. Ibrahim pun melemparnya dengan tujuh kerikil. Dan di sanalah Isma’il dibaringkan, dalam keadaan Isma’il memakai gamis berwarna putih. Lalu ia (Ismail) berkata: ‘Wahai ayahku, aku tidak memiliki baju yang mengafaniku selain ini, maka lepaslah agar ia menjadi kain kafanku.’ Ketika beliau hendak melepasnya, terdengarlah panggilan dari belakangnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah menjalankan mimpimu.’ Ibrahim pun berbalik, ternyata ada seekor domba putih, bertanduk, dan bermata lebar. Ibnu Abbas c berkata: ‘Sungguh kami pernah menjual jenis domba seperti ini’.” (HR. Ahmad, 1/297, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/638, Al-Baihaqi, 5/153, At-Thabari dalam Tafsir-nya, 23/80. Al-Hakim menyatakan: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim; dan keduanya tidak mengeluarkannya.” Dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib: 2, no. 1156)

 

Berqurban, Sebagai Bukti Pengorbanan

Ayat yang mulia ini menjelaskan betapa beratnya cobaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Ibrahim  ‘alaihissalam serta betapa besarnya pengorbanannya sebagai bentuk pembuktian dirinya sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang berserah diri sepenuhnya, dan sebagai khalilullah yang memurnikan kecintaannya hanya untuk-Nya. Dan ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai jenis cobaan, untuk membuktikan keimanan hamba tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang dzalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: ‘Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?’.” (al-Anbiya`: 2-3)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya`: 35)

Ibrahim  ‘alaihissalam akhirnya memang tidak melaksanakan penyembelihan terhadap anaknya, sebab Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ujian tersebut bukan dalam rangka mewujudkan penyembelihan terhadap anaknya tersebut, namun semata-mata untuk membuktikan kecintaan Ibrahim  ‘alaihissalam yang murni hanya untuk Allah ‘azza wa jalla. Hal ini mirip dengan kisah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga orang dari kalangan Bani Israil: orang yang berpenyakit sopak, si botak, dan si buta.

Allah subhanahu wa ta’ala hendak menguji mereka dengan mengutus seorang malaikat, lalu mendatangi orang yang berpenyakit sopak, lalu bertanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Warna kulit yang indah, kulit yang bagus, dan hilang penyakit yang karenanya manusia merasa jijik dariku.” Maka malaikat itu pun mengusapnya, hingga hilanglah penyakit tersebut dan ia diberi warna kulit yang indah. Lalu dikatakan kepadanya: “Harta apa yang paling engkau sukai?” ia menjawab: “Unta.” Maka ia pun diberi unta betina yang sedang bunting, dan dikatakan kepadanya: “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi berkah untukmu.”

Lalu malaikat itu mendatangi si botak dan bertanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Rambut yang indah dan hilangnya apa yang membuat manusia merasa jijik dariku.” Malaikat itu pun mengusapnya sehingga hilanglah botaknya dan dia diberi rambut yang indah. Lalu dia ditanya: “Harta apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Sapi.” Maka ia pun diberi sapi betina yang hamil. Lalu dikatakan kepadanya: “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi berkah untukmu.”

Lalu malaikat itu mendatangi si buta, dan berkata seperti yang diucapkan kepada yang sebelumnya, maka Allah subhanahu wa ta’ala mengembalikan penglihatannya dan diberi seekor kambing yang hamil.

Tidak lama kemudian harta mereka berkembang biak. Sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Lalu datanglah malaikat tersebut kepada orang yang pernah berpenyakit sopak, dalam bentuk dan keadaannya yang dulu lalu berkata: “Aku orang miskin. Aku sudah tidak punya bekal dalam perjalananku. Tidak ada yang dapat melanjutkan perjalananku kecuali karena Allah subhanahu wa ta’ala kemudian karena engkau. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah memberikan kepadamu warna kulit yang indah, kulit yang bagus, dan harta, agar engkau berikan aku seekor unta sehingga aku dapat melanjutkan perjalananku.” Ia menjawab: “Banyak hak-hak manusia yang harus ditunaikan.” Si miskin berkata: “Sepertinya aku mengenalmu, bukankah dahulu engkau berpenyakit sopak dan manusia merasa jijik darimu, miskin, lalu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ini semua kepadamu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari nenek moyangku yang mulia secara turun-temurun.” Maka si miskin berkata: “Jika engkau berdusta, semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengembalikanmu seperti dulu. ”

Lalu ia (malaikat) mendatangi si botak dan berkata kepadanya seperti yang dikatakan kepada sebelumnya, dan si botak pun menjawab seperti jawaban orang sebelumnya (yang berpenyakit sopak).Maka ia (malaikat) berkata: “Jika engkau berdusta, semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengembalikan engkau seperti dulu.”

Lalu ia (malaikat) mendatangi si buta dalam bentuk dan keadaannya (yang dahulu), kemudian berkata: “Aku orang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalananku. Tidak ada yang menyampaikanku hari ini kecuali dengan bantuan Allah subhanahu wa ta’ala kemudian bantuanmu. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu agar engkau berikan aku seekor kambing yang dapat menyampaikanku dalam perjalananku.” Maka ia menjawab: “Dahulu aku buta, lalu Allah subhanahu wa ta’ala mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah harta mana yang engkau inginkan dan tinggalkan yang mana yang engkau mau. Demi Allah, aku tidak merasa berat padamu pada hari ini dengan sesuatu yang engkau mengambilnya karena Allah ‘azza wa jalla.” Maka malaikat itu menjawab: “Jagalah hartamu, sesungguhnya kalian hanyalah diuji. Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah meridhaimu, dan murka terhadap dua temanmu.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah z)

Hadits ini menunjukkan bahwa malaikat tersebut tidak berkeinginan untuk mengambil harta si buta, namun hanya sekedar memberi ujian terhadap kebenaran imannya. Dan hal tersebut telah terbukti. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah pengorbanan Ibrahim  ‘alaihissalam ini.

Wabillahit taufiq.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi