Rembulan di Langit Zaman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

 

Generasi terbaik umat ini adalah para sahabat Nabi n. Mereka adalah sebaik-baik manusia. Lantas disusul generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya. Tiga kurun ini merupakan kurun terbaik dari umat ini. Dari Imran bin Hushain c, bahwa dia mendengar Rasulullah n bersabda:

خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as-salafu ash-shalih).

Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih). Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah k dan mereka pun ridha kepada Allah k. Firman Allah l:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Allah l telah memerintahkan untuk mengikuti para sahabat. Berjalan di atas jalan yang mereka tempuh. Berperilaku selaras apa yang telah mereka perbuat. Menapaki manhaj (cara pandang hidup) sesuai manhaj mereka. Firman Allah l:

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15)

Menukil ucapan Ibnul Qayyim t dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas disebutkan bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah k. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkataan-perkataannya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka. Dalil bahwa mereka adalah orang-orang yang kembali kepada Allah k, (dikuatkan lagi) dengan firman-Nya yang menunjukkan mereka adalah orang-orang yang telah diberi Allah l petunjuk. Firman-Nya:

“Dan (Allah) memberi petunjuk kepada (agama)-Nya, orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy-Syura: 13) (Lihat Kun Salafiyan ‘alal Jaddah, Abdussalam bin Salim bin Raja’ As-Suhaimi, hal. 14)

Maka, istilah as-salafu ash-shalih secara mutlak dilekatkan kepada tiga kurun yang utama. Yaitu para sahabat, at-tabi’un, dan atba’u tabi’in (para pengikut tabi’in). Siapapun yang mengikuti mereka dari aspek pemahaman, i’tiqad, perkataan maupun amal, maka dia berada di atas manhaj as-salaf. Adanya ancaman yang diberikan Allah l terhadap orang-orang yang memilih jalan-jalan selain jalan yang ditempuh as-salafu ash-shalih, menunjukkan wajibnya setiap muslim berpegang dengan manhaj as-salaf. Allah l berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Disebutkan oleh Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Jabiri hafizhahullah, bahwa tidaklah orang yang berpemahaman khalaf (lawan dari salaf), termasuk orang-orang yang tergabung dalam jamaah-jamaah dakwah sekarang ini, kecuali dia akan membenci (dakwah) as-salafiyah. Karena, as-salafiyah tidak semata pada hal yang terkait penisbahan (pengakuan). Tetapi as-salafiyah memurnikan keikhlasan karena Allah l dan memurnikan mutaba’ah (ikutan) terhadap Nabi n. Manusia itu terbagi dalam dua kelompok (salah satunya) yaitu hizbu Ar-Rahman, mereka adalah orang-orang Islam yang keimanan mereka terpelihara, tidak menjadikan mereka keluar secara sempurna dari agama. Jadi, hizbu Ar-Rahman adalah orang-orang yang tidak sesat dan menyesatkan serta tidak mengabaikan al-huda (petunjuk) dan al-haq (kebenaran) di setiap tempat dan zaman. (Ushul wa Qawa’id fi al-Manhaj As-Salafi, hal. 12-13)

Rasulullah n berdasar hadits dari Al-Mughirah bin Syu’bah z, berkata:

لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِـي ظَاهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang unggul/menang hingga tiba pada mereka keputusan Allah, sedang mereka adalah orang-orang yang unggul/menang.” (Shahih Al-Bukhari, no. 7311)

Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah adanya sekelompok orang yang berpegang teguh dengan apa yang Nabi n dan para sahabat berada di atasnya. Mereka adalah orang-orang yang unggul/menang, tak akan termudaratkan oleh orang-orang yang menelantarkannya dan orang-orang yang menyelisihinya. (Syarhu Ash-Shahih Al-Bukhari, 10/104)

Bila menatap langit zaman, di setiap kurun, waktu, senantiasa didapati para pembela al-haq. Mereka adalah bintang gemilang yang memberi petunjuk arah dalam kehidupan umat. Mereka memancarkan berkas cahaya yang memandu umat di tengah gelap gulita. Kala muncul bid’ah Khawarij dan Syi’ah, Allah l merobohkan makar mereka dengan memunculkan Ali bin Abi Thalib z dan Abdullah bin Abbas c. Begitupun saat Al-Qadariyah hadir, maka Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin ‘Abdillah g dari kalangan sahabat yang utama melawan pemahaman sesat tersebut. Washil bin ‘Atha’ dengan paham Mu’tazilahnya dipatahkan Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan lain-lainnya dari kalangan utama tabi’in. Merebak Syi’ah Rafidhah, maka Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam Syafi’i, dan para imam Ahlus Sunnah lainnya menghadapi dan menangkal kesesatan Syi’ah Rafidhah. Jahm bin Shafwan yang mengusung Jahmiyah juga diruntuhkan Al-Imam Malik, Abdullah bin Mubarak, dan lainnya. Demikian pula tatkala menyebar pemahaman dan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk bukan Kalamullah. Maka, Al-Imam Ahmad bin Hanbal tampil memerangi pemahaman dan keyakinan sesat tersebut.

Allah l senantiasa memunculkan para pembela risalah-Nya. Mereka terus berupaya menjaga as-sunnah, agar tidak redup diempas para ahli bid’ah. Bermunculan para imam, seperti Al-Imam Al-Barbahari, Al-Imam Ibnu Khuzaimah, Al-Imam Ibnu Baththah, Al-Imam Al-Lalika’i, Al-Imam Ibnu Mandah, dan lainnya dari kalangan imam Ahlus Sunnah. Lantas pada kurun berikutnya, ketika muncul bid’ah sufiyah, ahlu kalam dan filsafat, hadir di tengah umat para imam, seperti Al-Imam Asy-Syathibi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta murid-muridnya, yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Abdilhadi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan lainnya rahimahumullah.

Sosok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sendiri bagi sebagian umat Islam bukan lagi sosok yang asing. Kiprah dakwahnya begitu agung. Pengaruhnya sangat luas. Kokoh dalam memegang sunnah. Sebab, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sesungguhnya tidak ada kebahagiaan bagi para hamba, tidak ada pula keselamatan di hari kembali nanti (hari kiamat) kecuali dengan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah n.

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa’: 13-14)

Maka, ketaatan terhadap Allah l merupakan poros kebahagiaan yang seseorang berupaya mengitarinya, juga merupakan tempat kembali yang selamat yang seseorang tak akan merasa bingung darinya.

Sungguh Allah l telah menciptakan makhluk dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Sesungguhnya peribadahan mereka dengan menaati-Nya dan taat terhadap Rasul-Nya. Tidak ada ibadah kecuali atas sesuatu yang telah Dia (Allah l) wajibkan dan sunnahkan dalam agama Allah l. Selain dari itu, maka yang ada hanyalah kesesatan dari jalan-Nya. Untuk hal ini Rasulullah n bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan satu amal yang tidak ada dasar perintah kami, maka tertolak.” (Shahih Al-Bukhari no. 2697 dan Shahih Muslim, 1718)

Rasulullah n bersabda pula dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah z yang diriwayatkan Ahlu Sunan dan dishahihkan At-Tirmidzi t:

إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِـي وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْـمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya kalian akan hidup setelahku, kalian akan mendapati banyak perselisihan. Maka, pegang teguh sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Pegang teguh sunnah dan gigit dengan gerahammu. Dan hati-hatilah dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2676) [Lihat Majmu’ah Al-Fatawa,1/4]

Itulah manhaj (cara pandang) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam menetapi Islam. Cara pandang inilah yang telah hilang dari sebagian kaum muslimin sehingga terjatuh pada perkara-perkara yang diada-adakan, yang perkara tersebut tidak dicontohkan Rasulullah n. Perkara tersebut mereka ada-adakan dengan mengatasnamakan Islam. Padahal Islam sendiri tak mengajarkan semacam itu. Mereka terbelenggu bid’ah nan menyesatkan.

Kekokohan memegang teguh prinsip beragama oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t digambarkan oleh Al-Hafizh Al-Mizzi t. Kata Al-Hafizh Al-Mizzi t, “Aku tak pernah melihat orang yang seperti beliau. Tidak pula dia melihat orang yang seperti dirinya. Aku melihat, tidak ada seorangpun yang lebih mengetahui dan sangat kuat mengikuti Al-Kitab dan sunnah Rasul-Nya dibanding beliau. Pantaslah bila sosok Syaikhul Islam senantiasa membuat susah para ahlu bid’ah. Disebutkan Al-Hafizh Ibnu Abdilhadi t, bahwa beliau t adalah pedang terhunus bagi orang-orang yang menyelisihi (Al-Kitab dan As-Sunnah). Menyusahkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, yang suka mengada-adakan ajaran (baru) dalam agama. (Al-Ushul Al-Fikriyah Lil-Manahij  As-Salafiyah ‘inda Syaikhil Islam, Asy-Syaikh Khalid bin Abdirrahman Al-‘Ik)

Kecemburuan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t terhadap harkat martabat Rasulullah n begitu besar. Itu bisa tergambar melalui tulisan beliau t yang berjudul Ash-Sharimu Al-Maslul ‘ala Syatimi Ar-Rasul (Pedang Terhunus terhadap Orang yang Mencaci Rasul n). Tulisan ini merupakan sikap ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam menyikapi orang yang mencaci-maki Rasulullah n. Mencaci Rasulullah n sendiri bukan perkara ringan. Ini menyangkut nyawa manusia. Sikap tegas, ilmiah, dan selaras akal sehat ini merupakan bentuk penjagaan beliau t terhadap Rasulullah n dan risalah yang dibawanya.

Bahkan tatkala beliau dipenjara pun, senantiasa menyebarkan kebaikan kepada sesama penghuni penjara. Beliau t memberi bimbingan, melakukan amar ma’ruf, dan mencegah kemungkaran. Dikisahkan Al-Hafizh Ibnu Abdilhadi t, tatkala beliau masuk tahanan, didapati para penghuni tahanan sibuk dengan beragam permainan yang sia-sia. Di antara mereka sibuk dengan main catur, dadu, dan lainnya. Mereka sibuk dengan permainan tersebut hingga melalaikan shalat. Lantas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mencegah hal itu secara tegas. Beliau memerintahkan mereka untuk menetapi shalat. Mengarahkan kepada Allah l dalam setiap amal shalih. Bertasbih, beristighfar, dan berdoa. Mengajari mereka tentang sunnah Rasulullah n, sesuai yang mereka butuhkan. Beliau t mendorong mereka untuk suka melakukan amal-amal kebaikan. Sehingga jadilah tempat tahanan tersebut senantiasa dipenuhi kesibukan dengan ilmu dan agama. Bilamana tiba waktu pembebasan, para narapidana tersebut lebih memilih hidup bersama beliau. Banyak dari mereka yang lantas kembali ke tahanan. Akibatnya, ruang tahanan itu pun penuh. (Al-Ushul Al-Fikriyah hal. 51)

Demikianlah kehidupan seorang alim. Keberadaannya senantiasa memberi manfaat kepada umat. Dia menebar ilmu, menebar cahaya di tengah keterpurukan manusia. Dia laksana rembulan purnama di tengah bertaburnya bintang gemilang. Rasulullah n memberi perumpamaan keutamaan antara seorang alim dengan seorang abid (ahli ibadah). Dari Abud Darda’ z, Rasulullah n bersabda:

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءَ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَـمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Dan keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah, bagai rembulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2682, Sunan Abi Dawud no. 3641, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t menshahihkan hadits ini)

Begitulah seorang alim. Dia laksana rembulan di langit zaman. Wallahu a’lam.

Surat Pembaca edisi 45

Kurang Teks Ayat

Bismillah. Ana temukan kesalahan pada majalah Asy-Syariah vol. IV/42/1429H/2008 pada halaman 62 tentang surat Hud: 56. Di halaman

ini tertulis Inna rabbi ala shirathim mustaqim, seharusnya inni

tawakkaltu alallahi rabbi warabbikum … dst. Semoga lebih teliti

lagi. Barakallahu fik.

 

yakub_______@gmail.com

 

Jazakumullah khairan. Anda benar, ada kekurangan pada lafadz ayatnya.

 

Usulan untuk Rubrik Doa

Bismillah. Ana ada usul untuk Asy-Syariah. Bagaimana kalau rubrik Doa dipenuhi, sehingga 1 halaman bisa memuat penuh 4-5 doa bahkan lebih. Karena ini sangat-sangat bermanfaat bagi orang-orang khususnya Ahlus Sunnah yang ingin mengamalkan doa-doa yang shahih. Karena kami mengambil hadits shahih dan hasan yang di Asy-Syariah sebagai rujukan. Bukankah ini hal yang bagus karena akan mempermudah orang lain untuk banyak menghafalkan doa-doa yang shahih? Mohon segera direalisasikan. Dan ini sangat-sangat membantu kami.

 

085285xxxxxx

 

Jazakumullah khairan atas masukannya. Insya Allah menjadi pertimbangan redaksi.

 

Bahan Berbahaya dalam Makanan

Saat ini banyak beredar di tengah-tengah masyarakat, berbagai macam produk makanan (juga minuman, serta obat-obatan kimiawi) yang mengandung bahan-bahan berbahaya (walaupun dalam takaran kecil); seperti pengawet, pewarna makanan (terutama untuk konsumsi anak-anak), penguat rasa/MSG, dll, yang secara kesehatan zat-zat tersebut sangat berbahaya bagi tubuh. Lalu bagaimana secara syar’i? Bagaimana seharusnya sikap Ahlus Sunnah dalam hal ini? Mohon dibahas dengan tuntas dalam Majalah Asy-Syariah. Jazakumullahu khairan.

 

Abu Zaid – Jogja

081226xxxxx

 

Sambungan Artikel

Afwan Asy-Syariah no. 44 tahun 2008, halaman 59 bersambung ke halaman berapa? Kok tidak ada keterangannya? Barakallahu fikum.

Rohmadi – Banjarnegara

085227xxxxxx

 

Jazakumullah khairan atas koreksinya. Artikel dari halaman 59 seharusnya bersambung ke halaman 70.

 

Usulan untuk Rubrik Permata Salaf

Bismillah, bagaimana kalau rubrik Permata Salaf disertakan bahasa Arabnya, minimal satu ucapan.

Abu Sulaiman – Muaraenim

081367xxxxxx

 

Usul Anda cukup bagus. Insya Allah kita usahakan untuk menyertakan teks bahasa Arabnya, selama tidak terlalu panjang. Jazakumullah khairan.

 

Syaikh Abdul Qadir Jailani

Bagaimana jika membahas tema Syaikh Abdul Qadir Jailani, karena sebagian kaum muslimin masih ta’ashub (fanatik) dan taqlid dengan beliau. Lebih-lebih dalam acara-acara kebid’ahan. Dalam doa-doanya, beliau selalu menjadi tawasul. Ana minta agar Asy Syari’ah mengupas secara jelas tentang kehidupan (biografi) beliau.

 

Laila – Bumiayu

0852826xxxxx

 

Tema ini memang termasuk hal yang sering ditanyakan pembaca, namun demikian kami minta maaf karena belum bisa kami angkat dalam waktu dekat, jadi harap bersabar. Jazakumullahu khairan.

Mengenal Lebih Dekat Ulama Kita

Bisa jadi hanya sedikit dari kita yang mengenal sosok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain karena awamnya umat Islam dari ulama-ulama mereka (bahkan para sahabat Rasulullah n), juga dikarenakan ketokohannya terkubur oleh pemujaan yang ditujukan terhadap tokoh-tokoh masa kini semacam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, Khomeini, Usamah bin Laden, dan lain-lain. Entah dengan beragam alasan, tokoh-tokoh yang disebut di atas dianggap lebih membumi, dianggap punya “ide-ide besar” dibanding generasi salaf serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka.

Orang-orang yang jauh dari sebutan ulama, yang bukan pakarnya dalam hadits, fiqih, maupun tafsir, demikian dielu-elukan pemikirannya. Jika disebut kesalahan-kesalahan sang tokoh, beragam pembelaan kontan dilontarkan. “Ia adalah orang yang bersegera kembali kepada kebenaran”, ia belum memasuki “fase keislaman”, menyebut penyimpangan mendasar yang dilakukan sang tokoh dengan istilah kekeliruan, yang mengoreksi kesalahannya disebut zalim, dsb. Alhasil, sikap pemujaan yang membinasakan ini (diakui atau tidak) mengubur sekian banyak ketokohan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta ulama-ulama yang merupakan murid langsung mereka.

Ibnu Taimiyah hanyalah salah satu ”korban” dari kultus yang membius para aktivis pergerakan yang umumnya demikian mendewakan tokohnya. Keberadaan Ibnu Taimiyah serta orang-orang yang memang layak digelari ulama banyak diabaikan. Keilmuan mereka dalam hal hadits, fiqih, dan tafsir, hanya dianggap angin lalu. Para aktivis harakah cenderung mengambil pendapat tokoh-tokohnya ketimbang arahan para ulama, meski pendapat yang ”sang idola” anut menyelisihi dalil-dalil syariat. Atau kalau toh mengambil pendapat para ulama, yang diambil hanyalah pendapat-pendapat yang selaras dengan pola pikir pergerakan mereka.

Ditampilkannya tokoh seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam majalah ini hanyalah sekelumit pembelajaran bagaimana kita mendudukkan tokoh sesuai porsinya. Ketika kita menokohkan seseorang kita mesti tahu bagaimana aqidahnya, pemahamannya, keutamaannya, dan lain sebagainya yang semuanya mesti ditimbang dengan timbangan syariat. Semua itu bisa kita rekam ketika kita mengilas balik sejarah hidup para ulama melalui riwayat-riwayat shahih yang mengisahkan kehidupan mereka, bukan sekadar “katanya dan katanya”. Namun demikian meskipun kita memandang mereka sebagai manusia biasa yang tak luput dari kekeliruan, kita tetap menjunjung tinggi adab kita sebagai seorang muslim terhadap ahlul ilmi.

Maka menjadi sesuatu yang miris jika ada umat Islam yang menjadikan seseorang sebagai panutan hanya karena ia adalah tokoh sepemahaman, seormas, separtai ataupun sealiran, tanpa menakarnya dengan timbangan syariat. Lebih ironis lagi jika hal itu dibumbui keyakinan batil yang menyimpang dari Islam, seperti anggapan ”setengah wali”, ”darah biru” kyai, ”keturunan” Nabi, dan yang lainnya. Mulai sekarang tanggalkan sikap kultus, kita rajut sikap bijak untuk mengenal lebih dekat para ulama kita, salah satunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t.