Safar dalam Rangka Ziarah Kubur, Apakah Disyariatkan?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

 

Wisata ziarah atau perjalanan khusus untuk melakukan ziarah ke makam tertentu seperti makam orang-orang yang dianggap wali atau “setengah” wali, masih banyak ditemukan dalam masyarakat kita. Benarkah perilaku demikian disyariatkan?

Seiring dengan bergulirnya waktu, dari hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun berganti abad, seluruhnya menjadi saksi atas segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia ini. Musibah demi musibah, fitnah demi fitnah, datang silih berganti. Yang besar menggantikan yang kecil dan yang kecil tidak memiliki nilai karena besarnya fitnah yang datang setelahnya.
وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا
“Dan datanglah fitnah yang sebagiannya lebih besar dari yang lain.” (HR. Muslim no. 4882 dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash c)
Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan: “Sebagiannya menjadi kecil dikarenakan fitnah berikutnya lebih besar. Fitnah kedua menjadikan fitnah pertama tidak berarti.” (Syarah Shahih Muslim, 6/318)
Fitnah besar telah melanda kaum muslimin dan menelan korban beratus juta manusia. Tidaklah berlebihan jika dikatakan mayoritas isi dunia berada dalam ancaman fitnah besar tersebut. Bergelimpangan tubuh dan jasad manusia yang tidak lagi memiliki daya dan upaya untuk menyelamatkan diri. Seandainya pun hidup, itu adalah jasadnya, sedangkan qalbunya telah mati. Itulah fitnah kejahilan tentang agama. Seiring dengan badai fitnah besar ini, muncul badai yang mengempaskan ke jurang kebinasaan dan kecelakaan yang abadi, mencabut akar-akar keimanan yang telah menancap dalam sanubari. Memorakporandakan ketulusan niat dan kelurusan jalan menuju Allah l. Itulah para penyeru kesesatan, da’i di pintu neraka jahannam, seperti yang telah disinyalir Rasulullah n akan kemunculannya.
Pembunuhan Akal dan Keyakinan
Usaha pendangkalan akal dan keyakinan ini kian hari kian meruyak, sehingga tidak ada jenjang tingkat pemahaman yang luput dari upaya ini. Banyak cara yang ditempuh dan banyak jalan yang dilalui untuk sampai pada tujuan itu. Tersebarnya khurafat dan tahayul adalah salah satu cara pendangkalan serta pembunuhan akal dan keyakinan ini. Demikian juga dengan pengultusan individu, merupakan wasilah paling mulus untuk mewujudkan pendangkalan ini.
Dari manakah datangnya keyakinan bahwa orang yang telah meninggal, berada dalam alam lain yaitu alam kubur, bisa berbuat untuk orang yang hidup di dunia? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa kuburan tertentu mengandung berbagai macam karamah, barakah, dan keajaiban? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa roh-roh orang yang telah mati bergentayangan dan akan mendatangi siapa saja yang dikehendakinya? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa orang yang mati bisa menjadi perantara orang hidup kepada Allah l dalam banyak hal? Dari manakah asalnya keyakinan bahwa orang yang telah mati bisa menyapa orang yang hidup di dunia?
Sungguh semuanya ini merupakan perangkap setan dan tipu muslihatnya untuk menyesatkan kaum muslimin dari kebenaran agamanya. Merusak akal dan mendangkalkannya agar tidak bisa memikirkan kemaslahatan dirinya, padahal Allah l berfirman:
“Dan tidaklah sama antara orang yang hidup dan orang yang telah mati. Sesungguhnya Allah akan memperdengarkan siapa saja yang dikehendakinya dan kamu tidak akan bisa memperdengarkan siapa yang ada di dalam kubur.” (Fathir: 22)
Rasulullah n bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Bila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya.” (HR. Muslim no. 4310 dari sahabat Abu Hurairah z)
Ziarah Kubur adalah Kebaikan yang Disyariatkan
Ziarah kubur telah disyariatkan Allah l dan Rasul-Nya n. Bahkan telah disebutkan pula tujuan disyariatkannya ziarah tersebut. Hal ini menunjukkan tidak ada yang tersisa dari amalan yang sekiranya mendatangkan maslahat melainkan telah dijelaskan di dalam syariat. Ziarah kubur termasuk amalan besar yang memiliki nilai yang tinggi di dalam syariat.
Dari Sulaiman bin Burdah dari bapaknya berkata, Rasulullah n bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَلاَ تَقُولُوا هُجْرًا
“Dulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah dan janganlah kalian mengatakan hujr (kata-kata yang keji).” (HR. Ahmad no. 2032, 5/361)
Kata هُجْرًا diterangkan oleh As-Sindi t, artinya sesuatu yang tidak pantas diucapkan yang akan menghilangkan tujuan ziarah yaitu sebagai peringatan.
An-Nawawi t mengatakan:
“ هُجْرًا adalah ucapan yang batil (menyelisihi ajaran agama).” (Ahkamul Jana’iz, hal. 227)
As-Suyuthi t berkata: “هُجْرًا artinya ucapan yang keji kotor, sebagaimana disebutkan dalam An-Nihayah.” (lihat Syarah Sunan An-Nasa’i, 3/275)
Rasulullah n juga bersabda:
أَلاَ إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلاَثٍ، نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ثُمَّ بَدَا لِي أَنَّهَا تُرِقُّ الْقُلُوبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ فَزُورُوهَا وَلاَ تَقُولُوا هجْرًا
“Ketahuilah bahwa aku telah melarang kalian dari tiga perkara: Aku melarang kalian dari ziarah kubur kemudian nampak padaku bahwa ziarah kubur akan melembutkan hati dan meneteskan air mata maka ziarahlah kalian dan jangan kalian mengatakan hujr (kata-kata yang keji).” (HR. Ahmad no. 13640 dari sahabat Anas z)
زَارَ النَّبِيُّ n قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذِنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ
Rasulullah n pernah berziarah ke kubur ibunya dan beliau menangis serta menangis pula orang-orang yang berada di sekelilingnya. Lantas beliau n bersabda: “Aku meminta kepada Rabbku untuk aku memintakan ampunan baginya dan Allah tidak memberikan izin serta aku meminta izin untuk menziarahi ibuku dan Allah mengizinkan. Maka ziarah kuburlah kalian karena sesungguhnya akan mengingatkan kepada kematian.” (HR. Muslim no. 976 dari sahabat Abu Hurairah z)
Muhyiddin Al-Barkawi t (wafat tahun 981 H) mengatakan: “Yang disyariatkan oleh Nabi kita dalam berziarah adalah untuk mengingat akhirat, sebagai peringatan serta untuk mengambil pelajaran dari orang yang diziarahi. Juga berbuat baik kepadanya dengan cara mendoakannya serta memintakan baginya kasih sayang dari Allah l. Sehingga orang yang berziarah di samping berbuat baik untuk si mayit, juga berbuat baik bagi dirinya.” (lihat Ziyarah Qubur Asy-Syar’iyyah wa Asy-Syirkiyyah hal. 28)
Bentuk-bentuk Ziarah kubur
Sebagaimana perkara yang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa ziarah kubur adalah sebuah ibadah dan bentuk taqarrub kepada Allah l dengan berbagai macam hikmahnya. Akan tetapi ziarah ini memiliki macam/bentuk. Telah disebutkan oleh para ulama di dalam kitab mereka bahwa ziarah itu ada tiga macam/bentuk:
Pertama: Ziarah yang disyariatkan.
Artinya, ziarah yang dianjurkan oleh Rasulullah n yang bertujuan untuk mengingatkan akan akhirat dan kematian dengan adab-adab yang telah diajarkannya. Ziarah yang seperti ini dilakukan dengan tiga syarat:
1. Tidak dengan syaddur rihal (safar).
2. Tidak mengucapkan kalimat hujr (keji) seperti berdzikir dengan cara bid’ah dan berdoa kepada penghuni kuburan.
3. Tidak mengkhususkan waktu tertentu.
Kedua: Ziarah yang bid’ah
Artinya bentuk ziarah yang tidak dicontohkan Rasulullah n dan sahabatnya. Atau dengan kata lain ziarah yang terdapat salah satu dari tiga hal yang disebutkan di atas.
Ketiga: Ziarah yang syirik
Artinya ziarah yang mengandung kesyirikan, seperti meminta kepada penghuni kuburan atau menjadikan penghuninya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah l. Atau menyembelih kurban di sisinya atau menunaikan nadzar, meminta terlepaskan dari belenggu yang melilit hidup, meminta perlindungan, dan lain sebagainya. (lihat Al-Qaulul Mufid Min Adillati At-Tauhid hal. 192-194)
Syaddur Rihal, Landasan dan Maknanya
Kata syaddur rihal adalah istilah agama yang memiliki makna mempersiapkan dengan matang untuk melakukan sebuah safar/ perjalanan. Rasulullah n bersabda:
وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ، مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَمَسْجِدِي
“Dan tidak boleh syaddur rihal kecuali tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan masjidku.” (HR. Al-Bukhari no. 1132 dari Abu Sa’id Al-Khudri z dan Muslim No. 1397 dari Abu Hurairah z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Yang dimaksud dengan (وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ) adalah larangan melakukan safar menuju selainnya (tiga masjid itu). Ath-Thibi t berkata: ‘Larangan dengan kata ini lebih tinggi nilainya dari hanya kata larangan semata’.” (Fathul Bari 4/190)
Al-Qasthalani berkata: “Telah terjadi perselisihan tentang syaddur rihal kepada selain tiga masjid, seperti ziarah kepada orang shalih yang masih hidup atau yang telah meninggal, serta tempat-tempat yang memiliki keutamaan untuk bertabaruk padanya. Abu Muhammad Al-Juwaini mengatakan, diharamkan berdasarkan makna lahiriah  (tekstual) hadits. Pendapat ini dipilih oleh Al-Qadhi Husain. Demikian juga pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh dan selain mereka. Yang shahih menurut Imam Al-Haramain dan selain beliau dari kalangan ulama Syafi’iyyah adalah membolehkan hal itu, sedangkan larangannya hanya dikhususkan dalam masalah i’tikaf pada selain tiga masjid. Namun saya berpendapat bahwa (pengkhususan pada i’tikaf ini) tidak memiliki dalil.” (Lihat ‘Aunul Ma’bud 4/417)
Bolehkah Syaddur Rihal dalam rangka Ziarah Kubur?
Nash yang menjelaskan adanya syaddur rihal dan arah tujuan yang dibolehkan telah jelas sebagaimana dalam sabda Rasulullah n di atas. Yang menjadi persoalan adalah syaddur rihal juga dilakukan pada selain ketiga masjid tersebut, seperti ziarah kubur tertentu atau mendatangi tempat-tempat yang dikeramatkan. Tentunya hal ini akan menimbulkan pertanyaan: apakah syariat membolehkannya atau tidak?
Ibnu Jarir Ath-Thabari t berkata: “Demikian juga, tidak boleh syaddur rihal kepada kuburan nabi, wali, atau semacamnya, karena hal itu merupakan sarana (wasilah) menuju kesyirikan, sementara wasilah itu hukumnya sama seperti hukum tujuannya. Oleh karena itu, kita menemukan Rasulullah n telah mengharamkan hal itu. Beliau bersabda: ‘Dan jangan ada syaddur rihal melainkan kepada tiga masjid yaitu Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha.’ Ini maknanya bahwa safar tidak boleh dilakukan demi kuburan orang shalih, kuburan wali, atau selainnya. Benar bahwa kita mencintai Nabi n melebihi kecintaan kita pada diri, bapak, anak, keluarga dan harta. Kita juga mencintai sahabat, mencintai wali-wali Allah  l yang shalih, dan kita mencintai orang yang mencintai mereka serta memusuhi orang yang memusuhi mereka. Kita juga mengetahui bahwa siapa saja yang memusuhi wali Allah l maka Allah  l mengumumkan perang terhadapnya. Namun apakah cinta kepada mereka menyebabkan kita menjadikan mereka sebagai tandingan (bagi Allah l), lalu kita bertawassul dengan mereka, kita thawaf di kuburan mereka, dan kita bernadzar serta berkorban untuk mereka?” (Lihat Tawassul Al-Masyru’ wal Mamnu’, 1/14)
Ibnul Qayyim t berkata: “Contoh yang ketiga belas bahwa Nabi n melarang membangun masjid di atas kuburan dan melaknat orang yang melakukannya. Beliau juga melarang untuk mengapur kuburan, meninggikannya, dan menjadikannya sebagai masjid, shalat menghadapnya atau di sisinya. Beliau n melarang menyalakan lampu padanya dan memerintahkan untuk meratakannya, melarang menjadikannya sebagai ied (dikunjungi secara rutin), melarang untuk syaddur rihal kepadanya agar tertutup jalan untuk menjadikannya sebagai berhala dan kesyirikan, serta mengharamkan syaddur rihal bagi orang yang bermaksud demikian, ataupun bagi orang yang tidak bermaksud demikian dalam rangka menutup pintu kesyirikan.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/139)
Al-Lajnah Ad-Da’imah (1/493 pertanyaan no. 4230) berfatwa: “Tidak boleh syaddur rihal kepada kuburan para nabi, orang-orang shalih, dan selain mereka. Bahkan ini merupakan kebid’ahan, dasarnya adalah sabda Rasulullah n: ‘Tidak boleh syaddur rihal kecuali kepada tiga masjid yaitu Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha’. Rasulullah n bersabda: ‘Barangsiapa melakukan satu amalan yang bukan dari perintahku maka amalan tersebut tertolak.’ Adapun ziarah kubur tanpa syaddur rihal adalah sunnah berdasarkan hadits Nabi: ‘Ziarahlah kubur karena akan mengingatkan kepada kematian.’ (HR. Muslim)
Seseorang tidak boleh untuk syaddur rihal menuju kuburan Rasulullah n, karena hukumnya yang paling ringan adalah menyia-nyiakan harta. Sedangkan menyia-nyiakan harta adalah haram.” (lihat Durus wa Fatawa Al-Haramil Madani, 1/131)
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata: “Adapun syaddur rihal untuk ziarah kubur maka tidak boleh. Yang disyariatkan syaddur rihal adalah ke tiga masjid secara khusus.” (Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat, Ibnu Baz, 5/317)
Mengapa Dilarang Syaddur Rihal?
Telah jelas dari ucapan para ulama di atas akan larangan syaddur rihal menuju kuburan. Hikmahnya adalah tertutupnya pintu-pintu kesyirikan dan berbagai kerusakan lainnya, seperti menjadikannya sebagai ied (dikunjungi secara rutin), atau akan menjatuhkan kepada sikap ghuluw (berlebihan) serta melampaui batas dalam memuji, sebagaimana kebanyakan orang telah terjatuh di dalamnya disebabkan keyakinan mereka tentang bolehnya syaddur rihal untuk menziarahi makam Rasulullah n. (Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat, Ibnu Baz, 1/71 dan Lihat Tawassul Al-Masyru’ wal Mamnu’, 1/14, karya Ibnu Jarir Ath-Thabari)
Landasan yang Membolehkan
Asy-Syaikh Ibnu Baz t mengatakan: “Adapun berbagai hadits yang telah diriwayatkan dalam bab ini, yang dijadikan sebagai hujjah disyariatkannya syaddur rihal ke kuburan Nabi adalah hadits-hadits yang lemah sanad-sanadnya, bahkan maudhu’ (palsu), sebagaimana kelemahannya telah diingatkan oleh ulama huffazh (besar) dari ahli hadits seperti Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan selain mereka rahimahumullah. Maka tidaklah boleh dipertentangkan dengan hadits-hadits shahih yang menjelaskan tidak bolehnya syaddur rihal kecuali ke tiga masjid tersebut.” (Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 1/71)
Di antara contohnya:
مَنْ زَارَنِي وَزَارَ أَبِي إِبْرَاهِيمَ فِي عَامٍ وَاحِدٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa berziarah kepadaku dan kepada bapakku Ibrahim dalam tahun yang sama maka dia akan masuk surga.”
Asy-Syaikh Al-Albani t mengatakan: “Hadits ini maudhu’ (palsu). Az-Zarkasyi t berkata dalam kitab Al-La’ali Al-Mantsurah no. 156: Sebagian huffazh berkata: ‘Hadits ini maudhu’ dan tidak ada seorang pun dari ahli ilmu hadits meriwayatkannya.’ Demikian juga yang dikatakan Al-Imam An-Nawawi t: ‘Maudhu’, tidak memiliki asal.’ Dibawakan juga oleh As-Suyuthi t di dalam kitab Dzail Al-Ahadits Al-Maudhu’ah no. 119, Ibnu Taimiyah dan An-Nawawi rahimahumallah berkata: ‘Sesungguhnya haditsnya maudhu’ dan disepakati oleh Al-Imam Asy-Syaukani t’.” (Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah, 1/120)
Contoh lain adalah:
مَنْ زَارَنِي بَعْدَ مَوْتِي، فَكَأَنَّمَا زَارَنِي فِي حَيَاتِي
“Barangsiapa yang berziarah kepadaku setelah matiku maka dia seolah-olah menziarahiku semasa hidupku.”
Asy-Syaikh Albani t berkata hadits ini adalah batil. (lihat Silsilah Adh-Dha’ifah 3/89)
Masih banyak lagi hadits-hadits dhaif dan maudhu’ yang dijadikan hujjah atas bolehnya syaddur rihal dalam ziarah kubur, karena terbatasnya tempat sehingga tidak memungkinkan untuk membawakan seluruhnya. Wallahu a’lam.

Membingkai Safar dengan Do’a

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya Allah l adalah Dzat Yang Maha Baik dan Allah l tidaklah menerima amalan kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah l telah memerintahkan kaum mukminin sebagaimana perintah-Nya kepada segenap Rasul:

‘Wahai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (Al-Mu’minun: 51)

Allah l juga berfirman:

‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu’.” (Al-Baqarah: 172)

Setelah itu Rasulullah n menceritakan keadaan seseorang yang telah lama safar, rambutnya kusut penuh dengan debu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit sembari berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal makanannya haram, minumannya pun haram, pakaiannya juga haram, serta ia dibesarkan dari yang haram. Lantas bagaimana mungkin doa yang ia panjatkan akan dikabulkan?”

Beberapa Hal tentang Jalur Periwayatan Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t di dalam Shahih-nya (no. 1015), Al-Imam At-Tirmidzi t di dalam As-Sunan (no. 2989), dan Al-Imam Ahmad t di dalam Al-Musnad (2/328).
Madaar (jalur utama) hadits ini adalah Fudhail bin Marzuq. Dia meriwayatkan dari ‘Adi bin Tsabit, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah z. Adapun Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Fadhl melalui Abu Usamah, dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-’Ala’. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Fadhl melalui Abu Nu’aim, dari ‘Abd bin Humaid. Sementara Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Fadhl dengan perantara Abu An-Nadhr.
Abu Hazim adalah Salman Al-’Asyja’i Al-Kufi t. Dia ditsiqahkan oleh para ulama, di antaranya Yahya bin Ma’in dan Abu Dawud. Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr t berkata, “Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa dia seorang yang tsiqah.” Abu Hazim termasuk kalangan tabi’in dan meninggal dunia pada masa pemerintahan ‘Umar bin Abdul Aziz t.
‘Adi bin Tsabit Al-Anshari Al-Kufi adalah Ibnu Binti ‘Abdillah bin Yazid Al-Khatmi. Ayahnya adalah seorang sahabat Nabi n. Dia ditsiqahkan para ulama semisal Al-Imam Ahmad t dan An-Nasa’i t.
Fudhail bin Marzuq t kunyahnya Abu Abdirrahman Al-Kufi Ar-Raqqasyi. Tergolong generasi awal dari tabi’ut tabi’in. Adz-Dzahabi t menyatakan ketsiqahannya.
Diagram periwayatan bisa dilihat di samping.
Makna Mufradat Hadits
وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ
“Padahal makanannya haram.”
Artinya menunjukkan bahwa dia dibesarkan semenjak kecil dengan makanan yang haram. Adapula ulama yang membedakan maknanya. Apabila huruf dzal tanpa tasydid maka maksudnya dia sendiri yang mencari makanan tersebut. Jika menggunakan tasydid maksudnya ia diberi makan oleh orang lain. (Tuhfadzul Ahwadzi, dalam syarah hadits ini)
فَأَنَّى
“Lantas bagaimana mungkin…”
Ini adalah kalimat yang digunakan untuk sesuatu yang sangat jauh kemungkinan terjadinya. Maksudnya, dari mana dia akan dikabulkan doanya ,dan bagaimana mungkin dikabulkan doanya sementara keadaan dia seperti ini? (Tuhfadzul Ahwadzi, dalam syarah hadits ini)
يُطِيلُ السَّفَرَ
“Yang telah lama safar.”
Dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi t bahwa orang tersebut melakukan safar untuk melaksanakan ketaatan. Seperti haji, ziarah yang mustahab, silaturahmi, dan yang semisalnya. (Syarah Shahih Muslim tentang hadits ini)
Mustajabnya Doa Musafir
Kehidupan seorang muslim tidak akan terlepas dari doa. Semenjak pertama kali ia membuka mata dari tidur malamnya sampai ia kembali ke peraduannya selalu dihiasi dengan doa. Karena doa adalah senjata sekaligus benteng pertahanan yang ampuh dan kokoh. Doa akan benar-benar bermanfaat bila disertai keyakinan penuh bahwa Allah l akan mengabulkannya. Karena Allah Maha Mendengar. Allah k berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah:186)
Di antara faktor yang harus diperhatikan ketika berdoa adalah mencari waktu-waktu yang dinashkan (disebutkan oleh dalil) sebagai saat yang mustajab. Di antara waktu yang dinashkan adalah di saat safar. Ketika menjelaskan tentang hadits di atas, Al-Imam Ibnu Rajab t di dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menyatakan bahwa sabda Rasulullah n ini merupakan keterangan tentang adab-adab di dalam berdoa. Selain itu juga diterangkan tentang sebab-sebab terkabulnya doa sekaligus hal-hal yang dapat menghalangi terkabulkannya doa.
Pembahasan kita saat ini adalah safar  di mana menjadi salah satu sebab doa yang dipanjatkan seorang hamba akan dikabulkan. Safar adalah salah satu sebab makbulnya doa. Berdasarkan hadits Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga macam doa yang mustajab, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Doa orangtua, doa seorang musafir, dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad [no. 32], Abu Dawud [no. 1536], At-Tirmidzi [2/256], Ibnu Majah [no. 3862], Ibnu Hibban [no. 2406], dan Ahmad [2/258]. Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t. Silakan merujuk As-Silsilah Ash-Shahihah no. 598)
Al-Imam An Nawawi t di dalam Riyadh Ash-Shalihin membuat bab dengan judul Disunnahkannya Berdoa Ketika Safar. Kemudian beliau membawakan hadits di atas.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t menjelaskan bahwa seorang musafir adalah orang yang meninggalkan kampung halamannya. Ia tetap dikatakan sebagai musafir hingga kembali ke negerinya. Beliau menambahkan, pada umumnya doa seorang musafir adalah doa orang yang benar-benar dalam kesulitan. Seorang hamba jika dalam kesulitan dan berdoa kepada Rabbnya tentu akan dikabulkan karena Allah l menjawab doa orang yang mengkhawatirkan mudarat dan kesulitan.
Lalu beliau menegaskan, seorang musafir yang berdoa agar Allah l memudahkan safarnya atau memberikan pertolongan kepadanya atau doa yang lain, maka sungguh Allah l akan mengabulkannya. Oleh karena itu, sepatutnya seorang musafir mempergunakan kesempatan di dalam safar untuk berdoa. Apabila safar yang dia lakukan dalam rangka ketaatan seperti umrah dan haji, tentu akan menambah kekuatan dikabulkannya doa. (Syarah Riyadh Ash-Shalihin)
Doa seorang musafir termasuk doa orang yang sedang mengalami kesulitan. Allah l menjanjikan, doa orang yang mengalami kesulitan akan dikabulkan. Allah l berfirman:
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat(Nya).” (An-Naml: 62)
Ibnu Katsir t berkata, “Dalam ayat ini Allah l mengingatkan bahwa hanya Dia yang berhak untuk diminta ketika terjadi kesulitan. Hanya Dia yang diharap di saat muncul persoalan. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Isra’: 67)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
Maka, semakin berat dan jauh safar seseorang semakin besar pula kemungkinan untuk dikabulkannya doa. Karena safar akan menjadi sebab bertambahnya kepasrahan hati disebabkan jauhnya ia dari kampung halaman.
Doa seorang musafir akan bertambah besar kemungkinan dikabulkan apabila dia menengadahkan kedua tangannya. Hal ini diperkuat dengan hadits Salman z, Rasulullah n bersabda:
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala Dzat Yang Maha Malu dan Maha Memberi, Allah malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian mengembalikannya dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865, dan Ahmad, 5/438)
Ketika Asy Syaikh Al-‘Utsaimin t ditanya tentang hikmah dikabulkannya doa seorang musafir, beliau menjawab, “Hikmah di balik itu bahwa seorang musafir akan terpusat hatinya. (Pikiran) ia tidak sesibuk sebagaimana ketika menetap di kota maupun desa. Kemudian lagi, pada umumnya seorang musafir akan berdoa seperti doa orang yang mengalami kesulitan dan benar-benar membutuhkan Allah l karena ia sedang berada di dalam perjalanan. Lebih-lebih jika safarnya adalah safar yang dilingkupi ketakutan dan rasa cemas. Tentu orang yang berdoa akan bertambah besar harapan dan kepasrahan hatinya kepada Allah l dibandingkan dengan keadaan sebaliknya. Hal inilah yang menjadi sebab dikabulkannya doa.” (Nur ‘Ala Ad-Darb)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t juga menerangkan tentang mustajabnya doa seorang musafir. Beliau berkata, “Doa itu mustajab ketika turunnya hujan, berkecamuk peperangan, ketika adzan dan iqamat, di akhir shalat, ketika sujud, doa orang yang berpuasa, doa seorang musafir, doa orang yang dizalimi, dan yang semisalnya. Semua ini  berdasarkan hadits-hadits yang dikenal di dalam kitab-kitab shahih dan sunan.” (Majmu’ Fatawa 27/129)
Beberapa Contoh Doa yang Dikabulkan Ketika Safar
Al-Imam Ibnu Al-Qayyim t di dalam Zadul Ma’ad (1/462) menjelaskan bahwa berjihad, haji, umrah, dan hijrah termasuk bagian dari safar. Berikut ini beberapa peristiwa yang menjadi ibrah bagi kita, betapa doa sungguh luar biasa. Subhanallah.
1. Hadits Anas bin Malik z yang diriwayatkan Al-Bukhari (7/294), Muslim (2009), yang mengisahkan perjalanan Rasulullah n menuju kota Madinah ditemani oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq z dalam rangka berhijrah. Di dalam perjalanan panjang itu, Rasulullah n dikejar oleh seorang penunggang kuda yang bermaksud jahat yaitu Suraqah bin Malik. Ketika Suraqah mulai nampak mendekat, Rasulullah n berdoa:
اللَّهُمَّ اصْرَعْهُ
“Ya Allah, jatuhkanlah dia di atas tanah.” Kuda itu pun menjatuhkan Suraqah lalu berdiri kembali sambil meringkik. Suraqah berseru, “Wahai Nabi Allah, silakan perintahkan kepada saya apa yang anda inginkan!” Rasulullah menjawab, “Tetaplah engkau di tempatmu, jangan biarkan seorang pun menyusul kami.”
Allah l mengabulkan  doa Nabi-Nya hingga Suraqah yang semula hendak mencelakai Rasulullah n justru berubah menjadi pelindung dan menyelamatkan Rasulullah n dari pengejaran mata-mata.
Kisah ini merupakan contoh Allah l mengabulkan doa seorang musafir dalam rangka hijrah.
2. Hadits Ibnu Abbas c yang diriwayatkan Al-Bukhari (no. 3953) tentang perang Badar. Rasulullah n tiada henti memanjatkan doa. Meminta dengan sepenuh hati agar Allah k menurunkan pertolongan dan memenangkan kaum muslimin. Rasulullah n berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ
“Ya Allah, sesungguhnya aku benar-benar meminta jaminan dan janji-Mu. Ya Allah, jikalau Engkau kehendaki, Engkau tidak lagi akan diibadahi.”
Di dalam riwayat Ahmad (1/30) disebutkan bahwa Rasulullah n ketika berdoa, selendang beliau terjatuh. Lalu datanglah Abu Bakr memungut selendang itu dan memakaikannya kembali di pundak Rasulullah n. Abu Bakr berkata, “Cukup wahai Nabi Allah, doa yang anda pinta. Karena sesungguhnya Rabbmu pasti akan mewujudkan janji-Nya.”
Kisah ini adalah contoh Allah l mengabulkan doa seorang musafir dalam rangka berjihad.
3. Sebuah atsar yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad t lengkap dengan sanadnya, dalam Az-Zuhud (hal. 257), Ibnu Sa’d di dalam Ath-Thabaqat (7/135), serta Ibnu Abi Ad-Dunya di dalam Mujab Ad-Da’wah, tentang kisah perjalanan Shilah bin Asy-yam. Ketika itu Shilah sedang melintasi daerah Ihwaz1 di atas hewan tunggangannya dalam keadaan benar-benar lapar. Tidak ada seorang manusia pun yang ia temui. Hingga pada akhirnya, Shilah berdoa kepada Allah l dan memohon agar diberi makanan. Shilah bertutur, “Tiba-tiba aku mendengar suara keras di belakangku seperti ada sesuatu yang jatuh. Ketika aku menoleh, aku melihat kain berwarna putih. Lalu aku pun turun dari kendaraan untuk mengambil kain tersebut. Ternyata di dalam bungkusan itu terdapat sekantong kurma matang. Aku pun membawa kurma tersebut dan kembali menaiki kendaraanku.”
Kisah ini merupakan contoh makbulnya doa seorang musafir dalam rangka menuntut ilmu syar’i.
4. Al-Imam Ibnu Sa’d t di dalam Ath-Thabaqat ketika membawakan biografi Sufyan bin ‘Uyainah t, meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Hasan bin ‘Imran, keponakan Sufyan bin ‘Uyainah. Ia berkata: Aku menemani pamanku, Sufyan, pada haji terakhir yang ia tunaikan pada tahun 197 H. Ketika kami tiba di Muzdalifah, beliau mendirikan shalat. Setelah itu dia beristirahat di atas pembaringannya lalu berkata, “Sungguh, aku telah mendatangi tempat ini selama 70 tahun (untuk menunaikan ibadah haji). Setiap tahun aku selalu berdoa, ‘Ya Allah, hamba memohon agar haji kali ini bukanlah haji untuk yang terakhir kalinya.’ Sungguh, aku benar-benar merasa malu kepada Allah karena seringnya aku mengucapkan doa ini.” Lalu, Sufyan bin ‘Uyainah kembali ke kediamannya di pinggiran kota Makkah. Tahun berikutnya, Sufyan bin ‘Uyainah meninggal dunia di hari Sabtu bulan Rajab tahun 198 H.
Beberapa Doa yang Diajarkan untuk Seorang Musafir
Safar adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan ujian. Tidak sedikit halangan yang menghadang. Dalam keadaan seperti inilah, setan selalu menggoda hendak menjerumuskan anak keturunan Adam ke dalam dosa. Oleh karenanya, Rasulullah n mengajarkan untuk kita sebuah doa yang mulia:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan dan disesatkan, dari ketergelinciran dan digelincirkan, kezaliman dan dizalimi, serta dari kebodohan atau dibodohi.” (HR. Ahmad, 6/306, Ibnu Majah no. 3884, An-Nasa’i, 8/268, At-Tirmidzi no. 3427, Abu Dawud no. 5094 dari Ummu Salamah x)
Safar bukan saja sebuah perjalanan yang melelahkan. Safar pun merupakan bagian amaliah yang sarat dengan nilai-nilai ibadah. Sebelum memulai safar, kita diingatkan untuk tetap menjaga tauhid dalam bentuk menyerahkan diri sebagai tawakkal kita kepada Allah l. Kita pun mesti meyakini bahwa safar yang dilakukan tidak akan tercapai melainkan dengan kehendak-Nya. Rasulullah n mengajarkan doa untuk kita:
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Dengan menyebut asma Allah, aku benar-benar bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya melainkan milik Allah.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3426 dari Anas bin Malik z)
Doa semacam ini sangat bermanfaat sekali bagi seorang muslim sehingga ia dianjurkan untuk mengucapkannya setiap kali keluar meninggalkan rumah untuk menyelesaikan urusan dunia maupun ibadahnya. Ia akan selalu mendapatkan perlindungan di dalam perjalanan, memperoleh pertolongan untuk menunaikan kepentingan dan memperoleh taufiq.
Seorang musafir pun semestinya bertekad untuk berbuat kebajikan dan ketakwaan. Ia  harus selalu berkeinginan untuk melaksanakan amalan yang diridhai Allah l. Rasulullah n membimbing kita untuk memohon pertolongan dari Allah l agar mampu beramal dan bertakwa di dalam safar. Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى
“Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kebaikan dan takwa dari-Mu di dalam safar kami, demikian pula kami meminta amalan yang Engkau ridhai.” (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar c no. 1342)
Safar memang perjalanan yang melelahkan. Terkadang banyak kesulitan yang dihadapi. Sehingga seorang musafir membutuhkan perlindungan agar selamat hingga tiba di tempat tujuan. Rasulullah n mengajarkan untuk kita sebuah doa:
اللَّهُمَّ بَلاَغًا يَبْلُغُ خَيْرًا مَغْفِرَةً مِنْكَ وَرِضْوَانًا بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا السَّفَرَ وَاطْوِ لَنَا الْأَرْضَ، اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْقَلِبِ
“Ya Allah, aku memohon agar aku sampai dan mendapatkan kebaikan, maghfirah dari-Mu dan keridhaan. Hanya di tangan-Mu segala kebaikan, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, Engkau adalah teman di dalam safar dan pengganti dalam keluarga. Ya Allah, permudahlah safar ini untuk kami dan gulunglah bumi untuk kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar dan kejelekan dari tempat kembali.” (HR. Abu Ya’la di dalam Musnad-nya, 3/226, dari Al-Barra’)
Sebagai bentuk syukur seorang musafir ketika dia kembali ke kampung halaman, hendaknya ia berdoa:
آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ
“Kami kembali, sebagai orang yang bertaubat, senantiasa beribadah, dan memuji Rabb kami.” (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar c)
Alangkah indahnya perjalanan seorang muslim. Dimulai dengan doa, sepanjang safar dihiasi doa, dan diakhiri dengan doa pula. Benar-benar membingkai safar dengan doa.
Beberapa Faedah Lain dari Hadits
Hadits ini termasuk dasar kaidah-kaidah penting di dalam Islam. Banyak sekali faedah yang dapat diambil dari hadits ini, di antaranya:
1. Di dalam hadits ini dijelaskan tentang dianjurkannya berinfaq dengan barang yang halal.
2. Dijelaskan juga tentang disyariatkannya serius di dalam berdoa, dalam bentuk memerhatikan makanan, minuman, dan pakaian. Al-Imam Wahb bin Munabbih t menyatakan, “Barangsiapa ingin doanya dikabulkan Allah l hendaknya dia memilih makanan yang baik.” (Jami’ Al-’Ulum wal Hikam)
3. Hendaknya seorang musafir dirinya sendiri, orangtua, keluarga, dan orang-orang yang dicintai. Hendaknya pula ia memilih doa yang bersifat umum dan menyeluruh. Disertai dengan khudhu’ (ketundukan) dan harapan besar. Karena doa musafir mustajab, maka tidak layak bila disia-siakan.
4. Pada dasarnya, terdapat kesamaan hukum syar’i antara para nabi dan rasul. Kecuali ada dalil yang menjelaskan perbedaannya.
5. Syariat Islam memerintahkan umat untuk mengonsumsi makanan yang halal. Hal ini merupakan sifat para nabi dan pengikut mereka. Makanan yang halal akan memengaruhi ibadah seorang hamba, doa, dan diterimanya amalan yang ia lakukan.
6. Tanggung jawab orangtua untuk memberi nafkah yang halal kepada anak dan istri sebagai perwujudan firman Allah l:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)
Wallahu a’lam.

Safar duniawi Menuju Safar Ukhrawi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.” (Az-Zukhruf: 13-14)

Penjelasan Mufradat Ayat
Maha Suci Allah. Kata ini merupakan kata dasar (mashdar/maf’ul muthlaq) dalam kedudukan manshub (dengan alamat harakat fathah) disebabkan oleh sebuah fi’il (kata kerja) yang tersembunyi, yaitu:
أُسَبِّحُ اللهَ سُبْحَانًا أَيْ تَسْبِيحًا
(Saya benar-benar menyucikan Allah). Secara bahasa at-tasbih bermakna menjauhkan dari segala keburukan. Adapun secara syar’i bermakna menyucikan dari segala apa yang tidak layak bagi kebesaran Allah l dan kesempurnaan-Nya. (lihat Adhwa’ul Bayan tafsir Surat Al-Isra’ ayat 1)
“Yang telah menundukkan semua ini bagi kami.”
Bermakna ذَلَّلَ yaitu menundukkan. Adapun ﭺ merupakan isim isyarat/kata tunjuk yang kembali kepada lafadz مَا pada ayat sebelumnya (Az-Zukhruf: 12) yaitu     ﭨ  ﭩ   artinya apa-apa yang kamu tunggangi (kapal/perahu dan binatang ternak).
Bermakna مُطِيقِينَ, yaitu mampu menguasai, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas  c yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim. Pendapat serupa juga diucapkan oleh Qatadah, Mujahid, dan As-Suddi. Mujahid -dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Al-Firyabi, ‘Abd bin Humaid, dan Ibnu Jarir- juga berkata: “Makna ﭾ   adalah unta, kuda, bighal (peranakan kuda dan keledai), dan keledai.”
Kata ﭾ   diambil dari أَقْرَنَ لِلْأَمْرِ إِذَا أَطَاقَهُ وَقَوِيَ عَلَيْهِ artinya menguasai perkara apabila ia mampu dan kuat. Maknanya adalah kalau bukan karena Allah l yang menundukkan perahu dan binatang ternak sebagai tunggangan bagi kita, kita tidak mampu melakukannya. Akan tetapi karena kelembutan dan kemuliaan-Nya, Allah l tundukkan dan mudahkan sebab-sebabnya.
Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Maknanya:
أَيْ لَصَائِرُونَ إِلَيْهِ بَعْدَ مَمَاتِنَا وَإِلَيْهِ سَيْرُنَا الْأَكْبَرُ
yaitu kita kembali kepada-Nya setelah kematian kita dan hanya kepada-Nya perjalanan kita yang terbesar (perjalanan menuju akhirat, pen.). Hal ini sebagai bentuk peringatan terhadap perjalanan dunia atas perjalanan akhirat. Sebagaimana yang Allah l peringatkan tentang bekal yang sifatnya duniawi atas bekal yang sifatnya ukhrawi, dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Demikian pula terhadap pakaian yang sifatnya duniawi atas pakaian yang sifatnya ukhrawi, seperti pada surat Al-A’raf ayat 26:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.”
Bermakna رَاجِعُونَ artinya kembali, sebagaimana disebutkan oleh jumhur (kebanyakan) ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, Al-Alusi, Al-Baidhawi, Ath-Thabari, Ibnul Jauzi, Abu Hayyan, Asy-Syaukani, dan Asy-Syinqithi dalam kitab tafsir mereka.
Asy-Syinqithi t dalam tafsir surat Al-Mulk ayat 15 berkata: “Ayat Allah l:
‘Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.’ Allah l sebutkan ayat ini setelah adanya perintah (kepada manusia) untuk melakukan perjalanan di segala penjuru bumi, mencari rezeki, melihat dan mencermati akibat dari suatu sebab serta ditundukkannya bumi. Ayat ini seperti ayat:
“Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.” (Az-Zukhruf: 14)
setelah ayat:
“(Yaitu) Yang Menciptakan seluruh yang berpasang-pasangan serta menundukkan kapal dan binatang ternak sebagai kendaraan.” (Az-Zukhruf: 12)
Pada ayat ini terdapat kandungan makna yang menetapkan adanya kekuasaan Allah l atas hari kebangkitan (menghidupkan orang mati), sehingga seseorang dapat melakukan perjalanan di segala penjuru bumi, menggunakan dan memanfaatkan kebaikan darinya. Semua itu bukan semata-mata untuk mencari rezeki, namun dalam rangka menjalani sebab dan melihat kepada akibat, serta mengambil pelajaran terhadap seluruh ciptaan(Nya). Yang terpenting (dari semua itu) adalah mencari bekal untuk kehidupan akhirat.”
Abu Hayyan t berkata dalam kitabnya Al-Bahrul Muhith ketika menafsirkan surat Az-Zukhruf ayat 14: “Makna ayat ‘Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami,’ adalah ikrar (pengakuan) untuk kembali kepada Allah l dan adanya hari kebangkitan. Karena tatkala seorang penumpang menaiki kapal (dalam pelayarannya) berisiko binasa karena tenggelam. Menunggangi hewan juga berisiko tergelincir, membahayakan dan tidak menjamin keselamatannya. Oleh karenanya, ayat ini mengingatkan kepada seseorang untuk senantiasa merasa (ingat/sadar) bahwa kembalinya hanya kepada Allah l, siap untuk berjumpa dengan-Nya, dalam keadaan ia tidak melupakan perkara itu baik dalam hati maupun lisan (dengan cara berdoa).”
Penjelasan Ayat dan Faedahnya
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Ayat ini menjelaskan bahwa Rabb yang disifati dengan sifat-sifat ini (sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya seperti Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang menurunkan air hujan dari langit menurut kadar yang diperlukan, Dzat Yang menciptakan segala yang berpasangan, Yang menjadikan kapal dan binatang ternak yang dapat ditunggangi, dst, lihat Az-Zukhruf: 9-11, pen.), semua itu termasuk bagian dari limpahan nikmat Allah l kepada hamba-Nya. Sehingga, hanya Dia-lah yang paling berhak untuk diibadahi, dan hanya kepada-Nya lah dilakukan doa dan sujud.” (Taisir Al-Karimir Rahman)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata dalam Majmu Al-Fatawa (4/462): “Termasuk perkara Sunnah Rasulullah n (yang beliau ajarkan) adalah memakan makanan yang dijumpai (yang ada) di negeri tempat ia tinggal, memakai pakaian serta mengendarai kendaraan yang dijumpai (yang ada) yang Allah l bolehkan. Barangsiapa menggunakan apa yang ia jumpai di negerinya (tempat ia tinggal), maka ia telah mengikuti sunnah. Sebagaimana beliau n menunaikan ibadah haji dari kota Madinah. Barangsiapa menunaikan haji dari kota asalnya, ia telah mengikuti sunnah, walaupun kota-kota lain itu tidak sama dengan kota Madinah Rasulullah n.
Demikian pula ayat (pada surat Az-Zukhruf ayat 12-13), (mengajarkan) etika apabila seseorang menaiki kendaraan di atas lautan (kapal), daratan (binatang ternak/kendaraan), dan udara (pesawat terbang, pen.). Meskipun Rasulullah n, demikian pula Abu Bakr dan Umar c, belum pernah berlayar di atas lautan (menaiki kapal laut). Akan tetapi beliau n pernah mengabarkan kepada Ummu Haram bintu Milhan x1 tentang sekelompok orang dari umatnya yang berperang di jalan Allah l, mereka menaiki kapal laut layaknya raja-raja di atas singgasana. Lalu Ummu Haram berkata: “Berdoalah kepada Allah l agar menjadikanku termasuk mereka.” Beliau bersabda: “Engkau termasuk mereka.”
Ayat ini termasuk bagian dari rangkaian doa ketika seseorang menaiki kendaraan baik di darat, di udara maupun di lautan dalam rangka safar (bepergian). Ada beberapa hadits yang dibawakan oleh para ulama dalam bab adab ketika seseorang menaiki kendaraan untuk safar. Di antaranya hadits Ibnu ‘Umar c, apabila Rasulullah n telah berada di atas unta/kendaraannya bermaksud untuk safar, beliau bertakbir tiga kali kemudian membaca:
ﭶ   ﭷ  ﭸ   ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ    ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ       ﮂ   ﮃ  ﮄ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ. وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيهِنَّ: آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ
“Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam safar kami ini kebaikan, ketakwaan, dan amal perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah dalam safar kami ini dan dekatkanlah jauhnya jarak bepergian. Ya Allah, Engkaulah Dzat yang menyertai dalam safar dan pengganti keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kepayahan/kesukaran dalam safar, jeleknya pandangan dan jeleknya kembali, baik pada harta maupun keluarga.”
Apabila beliau kembali (hendak pulang), beliau juga membaca doa dengan diberi tambahan: “Kami orang-orang yang akan kembali, orang yang taat, bertaubat, beribadah dan hanya untuk Rabb kami, kami memuji.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)
Hadits lain adalah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari jalan Ali bin Rabi’ah, ia berkata: Aku menyaksikan Ali z, didatangkan kepada beliau tunggangan agar (beliau) menungganginya. Ketika akan menaiki tunggangan itu, beliau membaca: بِسْمِ اللهِ. Ketika sudah berada di atas punggungnya (duduk di atas kendaraan) beliau membaca: الْحَمْدُ لِلهِ. Lalu beliau membaca:
Lalu membaca الْحَمْدُ لِلهِ tiga kali, اللهُ أَكْبَرُ tiga kali, lalu membaca:
سُبْحَانَكَ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri. Ampunilah aku, karena tidak ada yang akan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”
Lalu beliau tertawa. Aku (Ali bin Rabi’ah) bertanya: “Mengapa engkau tertawa, wahai Amirul Mu’minin?” Beliau berkata: “Aku melihat Rasulullah n berbuat sebagaimana aku berbuat, kemudian beliau n tertawa. Akupun bertanya: ‘Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Rabbmu sungguh merasa takjub dengan hamba-Nya apabila dia berdoa:
رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ غَيْرُكَ
‘Wahai Rabbku, ampunilah aku atas dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang akan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau’.”
Adapun doa menaiki kendaraan yang tersebut pada surat Hud ayat 41:
“Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”
Juga dalam surat Al-Mu’minun ayat 29:
“Dan berdoalah: ‘Wahai Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat’.”
Al-Imam As-Suyuthi t dalam tafsirnya Ad-Durrul Mantsur ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan riwayat dari Mujahid t, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim: “Ayat:
Dan berdoalah: ‘Wahai Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.’
adalah doa yang Allah l perintahkan kepada Nabi Nuh q ketika turun dari perahunya.”
Kemudian beliau menyebutkan juga riwayat ‘Abd bin Humaid, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim dari Qatadah, beliau berkata: “Allah l mengajari kalian cara kalian berdoa ketika menaiki kendaraan dan ketika turun dari kendaraan. Ketika menaiki kendaraan, doa yang dibaca adalah ayat:
dan ayat:
Adapun ketika turun:
Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi t dalam tafsirnya Adhwa’ul Bayan, pada tafsir surat Hud ayat 41 berkata: “Allah l menyebutkan dalam ayat yang mulia ini bahwa Nabi-Nya Nuh -semoga shalawat dan salam atas beliau serta atas Nabi kita Muhammad n- memerintahkan para sahabatnya, yaitu orang-orang yang telah dikatakan kepada mereka: ‘Bawalah mereka dalam bahtera’ supaya mereka naik ke dalamnya sambil berdoa. Pada surat Al-Falah (Al-Mu’minun, pen.) menerangkan bahwa Allah l memerintahkan apabila Nabi Nuh q dan orang-orang yang bersamanya telah berada di atas perahu agar memuji Allah l, yang telah menyelamatkan mereka dari orang-orang kafir yang zalim.
Mereka juga diperintahkan untuk memohon kepada-Nya agar menempatkan mereka pada tempat yang diberkahi. Hal itu sebagaimana yang tersebut pada ayat:
“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera  (kapal) itu maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim’, dan berdoalah: ‘Wahai Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.” (Al-Mu’minun: 28-29)
Adapun dalam surat Az-Zukhruf ayat 12-14, Allah l menerangkan apa yang seharusnya diucapkan ketika menaiki perahu dan kendaraan lainnya, dengan membaca:
Al-Imam An-Nawawi t berkata dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibnul Hajjaj: “Bab: Disunnahkan berdoa apabila menaiki tunggangan (kendaraan) dalam rangka safar untuk ibadah haji atau yang lainnya, dan penjelasan yang paling utama dari doa tersebut.”
Kemudian beliau menyebutkan hadits Ibnu ‘Umar c di atas, yang menyebutkan doa bagi seorang yang menaiki kendaraan.
Asy-Syaikh As-Sa’di t berkata dalam kitabnya Bahjah Qulubil Abrar pada hadits yang ke-85: “Hadits ini (hadits Abdullah bin Umar c riwayat Muslim, pen.) mengandung faedah-faedah yang agung berkaitan dengan safar. Doa yang tersebut dalam hadits ini mencakup permohonan dalam hal kemaslahatan agama (yang merupakan perkara paling penting) dan kemaslahatan dunia, tercapainya perkara yang disenangi serta terhindarnya dari perkara yang buruk serta tidak disukai, mensyukuri nikmat-nikmat Allah l, mengingat kebesaran dan kemuliaan-Nya. Doa ini mencakup pula safar yang berada di atas ketaatan Allah  l dan dalam perkara yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Di akhir doa ini terdapat bentuk pengakuan terhadap nikmat Allah l, sebagaimana yang terdapat di awal doa. Maka sebagaimana wajib bagi seorang hamba untuk memuji Allah l atas dimudahkannya melakukan ibadah dan dalam memulai hajatnya, wajib pula bagi hamba tadi untuk memuji Allah  l atas disempurnakan dan dicukupkannya hajatnya, serta setelah selesai darinya. Karena sesungguhnya keutamaan, kebaikan, dan sebab itu semua adalah milik-Nya semata, dan Allah l adalah pemilik keutamaan yang mulia. Beliau pun memulai dan mengakhiri safarnya dengan doa, yang dimulai dengan membesarkan Allah l dan memuji-Nya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan: “Sebagaimana yang diketahui dalam doa-doa Nabi n bahwa kalimat tahmid (Alhamdulillah) seiring dengan kalimat tasbih (Subhanallah), sedangkan kalimat tahlil seiring dengan kalimat takbir. Namun pada sebagian keadaan, beliau n mengumpulkan takbir dengan tahlil, dan takbir dengan tahmid, sebagaimana yang beliau lakukan dalam doa beliau ketika menaiki kendaraan, seperti dalam hadits Ibnu Umar  c riwayat Al-Imam Muslim dan hadits ‘Ali bin Abi Thalib z riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Perpaduan ini mengingatkan kepada kenikmatan Allah l, yang mengharuskan kita untuk mensyukuri-Nya disertai memuji-Nya. Karena menunggangi kendaraan termasuk keutamaan dari sekian keutamaan dan merupakan bagian nikmat, maka Nabi n menggabungkan dalam doa tersebut antara dua perkara, sebagaimana firman Allah l: “Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Rabbmu apabila telah duduk di atasnya dan supaya kamu mengucapkan: ‘Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya’.” (Az-Zukhruf: 14)
Pada ayat ini Allah l memerintahkan untuk mengingat nikmat Allah l dan mengingat-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya (mengucapkan Alhamdulillah). Allah l perintahkan untuk bertasbih, dan tasbih adalah kalimat yang seiring dengan pujian. Ketika didatangkan tunggangan (kendaraan) kepada Nabi n, saat akan menaiki beliau membaca Bismillah. Ketika sudah duduk berada di atas punggungnya, beliau membaca Alhamdulillah. Kemudian beliau n membaca:
Kemudian beliau membaca الْحَمْدُ لِلهِ tiga kali dan اللهُ أَكْبَرُ tiga kali, lalu membaca:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْلِي
“Tiada ilah yang berhak disembah selain-Mu, Maha Suci Engkau, aku telah berbuat zalim terhadap diriku, maka ampunilah aku.”
Setelah beliau n menyebutkan kemuliaan-kemuliaan Allah l berupa takbir dan tahlil, beliau menutup dengan istighfar, karena seiring dengan tauhid. Sehingga doa yang dibaca di atas kendaraan mencakup empat kalimat (tahmid, tasbih, tahlil, dan takbir) dan disertai dengan istighfar.” (Diringkas dari Majmu’ Al-Fatawa, 24/240-241)
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Kisah ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari t dalam hadits no. 6272 dari Anas bin Malik z, beliau berkata: “Jika Rasulullah n pergi ke Quba, beliau singgah di tempat Ummu Haram bintu Milhan x. Dia pun menjamu beliau, dan Ummu Haram ketika itu adalah istri Ubadah bin Ash-Shamit z. Pada suatu hari beliau n masuk ke rumahnya dan ia pun menjamunya. Kemudian Rasulullah n tidur, lalu terbangun sambil tertawa. Ummu Haram bertanya: “Apa yang membuatmu tertawa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ada sekelompok orang dari umatku, mereka ditampakkan kepadaku sedang berperang di jalan Allah l. Mereka menaiki kapal laut layaknya raja-raja di atas singgasana.” Ummu Haram berkata: “Berdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk bagian dari mereka….” Kemudian beliau tidur kembali. Di akhir hadits beliau n bersabda: “Engkau termasuk golongan yang pertama (dari mereka).” Maka Ummu Haram ikut mengarungi lautan pada masa (pemerintahan) Mu’awiyah, namun beliau terjatuh dari kendaraannya ketika berlabuh dan meninggal dunia.

Penyimpangan-Penyimpangan dalam Safar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

1. Wanita safar tanpa mahram

Adalah anggapan yang keliru bahwa Islam mengesampingkan kaum wanita atau merendahkan mereka. Namun justru sebaliknya. Islam sangat memerhatikan dan memuliakan mereka. Sebagai bentuk penjagaan terhadap mereka, Islam melarang seorang wanita safar sendirian (tanpa mahram) karena wanita bisa mengundang syahwat/fitnah yang bisa menjerumuskan pada perbuatan keji. Di sisi lain, mereka hampir-hampir tidak bisa melindungi diri karena kelemahan dan kekurangan yang ada pada mereka. Dan tidaklah ada yang memiliki kecemburuan untuk melindungi kaum wanita seperti yang dimiliki oleh mahram-mahramnya.

Oleh karena itu, Rasulullah n melarang seorang wanita safar tanpa mahram sebagaimana dalam sabdanya:

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahram1nya.” (Muttafaqun alaihi dari Abu Hurairah z)

Atas dasar ini kita nasihatkan kepada para ayah atau para wali agar tidak membiarkan istri, anak perempuan, atau saudarinya safar tanpa mahram. Terlebih lagi hanya dalam rangka bekerja sebagai TKW, baik di dalam maupun di luar negeri. Karena kita mendengar dan menyaksikan kemungkaran-kemungkaran yang terjadi akibat mereka safar sendirian (tanpa mahram) ke daerah/negeri lain. Semoga Allah l menyelamatkan kita semua.

Demikian pula apa yang banyak terjadi di negeri kita, sebagian muslimah menunaikan ibadah haji tanpa disertai mahram. Mereka hanya mengikuti rombongan muslimah lain yang memiliki mahram (mahram titip).

Ulama telah menjelaskan tentang permasalahan ini. Asy-Syaikh Ibnu Baz t dalam fatwanya menjelaskan:

Pertanyaan: Seorang wanita tidak memiliki mahram di mana dia dikenal sebagai wanita yang baik. Dia hendak menunaikan haji fardhu. Bolehkah ia pergi berhaji (ikut) bersama wanita-wanita lain yang memiliki mahram?

Jawaban Asy-Syaikh Ibnu Baz t:

Wanita yang tidak memiliki mahram, tidak berkewajiban menunaikan ibadah haji. Karena mahram bagi wanita termasuk syarat “menempuh perjalanan”, dan kemampuan untuk “menempuh perjalanan” merupakan syarat diwajibkannya haji (bagi seseorang). Allah l berfirman:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran: 97)

Tidak boleh bagi wanita untuk safar menunaikan haji atau untuk yang selainnya kecuali bersama suami atau mahramnya. Dengan dalil hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari, bahwa beliau n bersabda:

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Tidak halal bagi wanita safar sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahram.”

Juga hadits Ibnu ‘Abbas c bahwa beliau mendengar Nabi n bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلَا تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Tidak (diperbolehkan) seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan wanita kecuali bersama mahram (wanita tersebut), dan tidaklah (diperbolehkan) seorang wanita safar kecuali bersama mahram.”

Maka berdirilah seorang lelaki kemudian berkata: “Wahai Rasullah, sesungguhnya istriku pergi berhaji dan aku telah diwajibkan untuk berangkat perang ini dan itu.” Rasulullah n berkata: “Pulanglah kemudian berhajilah bersama istrimu!”

Yang berpendapat seperti ini adalah Al-Hasan, An-Nakha’i, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir, dan Ashabur Ra’yi. Ini adalah pendapat yang shahih, karena pendapat ini sesuai dengan keumuman hadits-hadits tentang larangan bagi wanita untuk safar tanpa suami ataupun mahram.

Yang menyelisihi pendapat ini adalah Malik, Asy-Syafi’i, dan Al-Auza’i. Mereka semua mensyaratkan suatu syarat yang tidak ada hujjah bagi syarat itu. Ibnul Mundzir berkata: “Mereka meninggalkan berpendapat dengan dzahir (teks) hadits, dan mereka semua menyaratkan suatu syarat yang tidak ada hujjah bagi syarat itu.”

Allah l-lah yang memberikan taufiq. (Fatawa An-Nisa’ hal. 132-133, lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah no. 1183, 4909)

 

2. Tayammum dalam Safar

Seorang musafir hendaknya tidak bermudah-mudah untuk mengganti wudhu dengan tayammum. Telah diajukan pertanyaan kepada Al-Lajnah Ad-Da’imah tentang masalah ini (fatwa no. 4373).

Pertanyaan: Apakah bertayammum dalam safar itu mutlak (diperbolehkan) walaupun mendapatkan air?

Jawab:

Seorang musafir tidak boleh bertayammum kecuali dalam keadaan sakit yang apabila menggunakan air akan membahayakannya, atau karena tidak bisa menggunakan air atau mendapatkannya. Ini berdasarkan firman Allah l:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan. (Jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kalian mandi. Dan jika kalian sakit atau sedang dalam safar atau kembali dari tempat buang air atau kalian telah menggauli istri, kemudian kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik (suci), usaplah muka dan tangan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (An-Nisa’: 43)

Allah l juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai ke siku, dan usaplah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kalian junub maka mandilah dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menggauli istri lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci). Usaplah muka dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak berkehendak menyulitkan kalian tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian supaya kalian bersyukur.” (Al-Maidah: 6)

Allah l mensyaratkan pergantian bersuci dengan air kepada bersuci dengan tanah (tayammum) tatkala mereka tidak mendapatkan air, berdasarkan apa yang shahih dari Nabi n bahwasanya beliau n bersabda:

جُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَتُرْبَتُهَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ

“Telah dijadikan bumi ini untuk kita dan tanahnya sebagai tempat sujud dan (dijadikan) tanah itu sebagai alat bersuci (tayammum) apabila kita tidak mendapatkan air.” (HR. Muslim)

Akan tetapi orang sakit yang tidak mampu menggunakan air (sendirian atau dibantu orang lain) atau termudaratkan dengan pemakaian air karena sakit yang ia derita, boleh baginya bertayammum walaupun ada air. Ini berdasarkan firman Allah l:

“Bertakwalah kalian kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.” (Ath-Taghabun: 16)

Ketua: Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua: Asy-Syaikh ‘Abdur Razaq ‘Afifi

Anggota: Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Qu’u.

 

3. Bermudah-mudah dalam memaknai rukhshah dalam shalat

a. Shalat fardhu di atas kendaraan

Al-Lajnah Ad-Da’imah telah menjelaskan permasalahan ini sebagaimana dalam fatwa mereka (8/123, no. 1375).

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan bagi musafir untuk melakukan shalat fardhu di atas mobil, kereta api, pesawat terbang, atau hewan tunggangan, dalam keadaan ia khawatir terhadap jiwa dan hartanya? Apakah ia shalat (menghadap) kemana pun kendaraan itu mengarah, ataukah ia harus senantiasa menghadap kiblat, ataukah ia menghadap kiblat pada permulaan shalat saja?

Apabila jawaban pertanyaan di atas adalah ya, dan tidak ada kekhawatiran, juga bahwa kendaraannya berhenti pada beberapa tempat dengan waktu sebentar sekali, terkadang jika musafir (penumpang) pergi hendak menunaikan shalat fardhu, kendaraan telah pergi. Sehingga ia akan kehilangan barang (bawaan) atau yang lainnya.

Jawab:

Apabila penumpang mobil, kereta api, pesawat terbang, atau hewan tunggangan khawatir atas dirinya seandainya dia turun melaksanakan shalat fardhu; sementara seandainya dia mengakhirkan shalat tersebut sampai tiba di tempat yang tenang (aman) untuk melakukan shalat di sana, hilanglah waktu shalat tersebut; maka (hendaklah) dia melakukan shalat sesuai kemampuannya, berdasarkan keumuman firman Allah l:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Juga firman Allah l:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)

Juga firman Allah l:

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj: 78)

Adapun keadaan dia shalat menghadap kemana pun kendaraan tersebut mengarah, atau harus selalu menghadap kiblat, atau hanya pada waktu pertama (takbiratul ihram) saja, ini kembali kepada kemampuannya. Apabila dia bisa menghadap kiblat dalam seluruh (gerakan) shalat, dia wajib melakukannya, karena hal itu termasuk salah satu syarat sah shalat fardhu tatkala safar maupun mukim.

Apabila tidak memungkinkan dalam seluruh (gerakan) shalat, maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah l sesuai kemampuannya, berdasarkan dalil-dalil yang telah lalu.

Ini semuanya dalam shalat fardhu. Adapun dalam shalat nafilah (sunnah) maka perkaranya lapang. Boleh bagi seorang muslim untuk melakukan shalat di atas kendaraannya kemana pun mengarah, walaupun ia mampu turun pada waktu-waktu shalat. Karena Nabi n melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya kemana pun mengarah. Namun, yang lebih utama adalah menghadap kiblat tatkala takbiratul ihram bila memungkinkan (untuk melakukan) shalat sunnah ketika ia berjalan dalam safar.

Allah l lah yang memberikan taufik. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad n, keluarga, dan para sahabatnya.

Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz,

Wakil Ketua: Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi

Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’.

 

b. Shalat fardhu dengan duduk di atas kendaraan dalam keadaan mampu berdiri

Al-Lajnah Ad-Da’imah telah menjelaskan permasalahan ini (8/126, fatwa no. 12087).

Pertanyaan: Apakah boleh shalat fardhu di atas pesawat terbang dalam keadaan duduk padahal mampu untuk berdiri, karena malu?

Jawab:

Tidak boleh melakukan shalat dalam keadaan duduk di atas pesawat terbang ataupun yang lainnya, apabila mampu berdiri. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah l:

“Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

Juga hadits Imran bin Hushain z yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwasanya Nabi n berkata kepadanya:

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu maka dengan duduk. Jika engkau tidak mampu dengan tidur miring.”

An-Nasa’i t menambahkan dengan sanad yang shahih:

فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَمُسْتَلْقِيًَا

“Jika engkau tidak mampu maka dengan telentang.”

Allah l lah yang memberikan taufik. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad n, keluarga dan para sahabatnya.

 

Hukum Safar ke Negeri Kafir

Safar ke negeri-negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali terpenuhi tiga syarat:

1. Memiliki ilmu untuk membantah syubhat-syubhat (kerancuan berpikir).

2. Memiliki agama yang mencegahnya dari hawa nafsu.

3. Ada kebuutuhan untuk melakukan safar.

Apabila ketiga syarat ini tidak sempurna/ terpenuhi, maka tidak boleh melakukan safar ke negeri-negeri kafir, karena di dalamnya terdapat fitnah (ujian, cobaan) atau kekhawatiran terjatuh ke dalam fitnah. Di dalamnya juga terkandung penyia-nyiaan harta.

Apabila ada kebutuhan, misalnya untuk berobat atau mencari ilmu yang tidak didapatkan di negerinya, maka hal ini tidaklah mengapa (boleh). Dengan syarat memiliki ilmu dan agama seperti yang telah disebutkan di atas.

Sedangkan safar dalam rangka rekreasi/berlibur ke negeri-negeri kafir, ini bukanlah kebutuhan. Karena dia bisa pergi tamasya ke negeri-negeri Islam yang menjaga penduduknya di atas syariat Islam.

 

Tinggal di Negeri Kafir

Ada dua syarat pokok untuk tinggal di negeri kafir:

1. Orang yang tinggal merasa aman (tenang) di atas agamanya.

Dia memiliki ilmu dan iman serta kekuatan yang menenangkan dirinya untuk tetap kokoh di atas agamanya. Juga untuk berhati-hati dari berbagai penyimpangan. Dia juga bisa menanamkan permusuhan dan kebenciannya dalam qalbunya terhadap orang-orang kafir, serta menjauhkan diri dari loyalitas dan kecintaan terhadap mereka.

2. Merasa tenang dalam menampakkan syiar-syiar Islam tanpa ada penghalang. Dia tidak dihalangi dari melakukan shalat lima waktu, shalat Jumat, zakat, puasa, haji, dan yang lainnya.

 

Macam-macam bentuk tinggal di negeri kafir

1. Tinggal di negeri kafir dalam rangka mendakwahkan Islam dan memberikan dorongan untuk (melaksanakan) syariat Islam. Ini termasuk bagian dari jihad, hukumnya fardhu kifayah bagi orang yang mampu melakukannya, dengan syarat perwujudan dakwah tersebut nyata dan tidak ada yang menghalangi dari dakwah atau menghalangi penerimaan dakwah tersebut. Karena sesungguhnya mendakwahkan Islam termasuk salah satu kewajiban agama. Itu adalah jalan para rasul. Nabi n memerintahkan untuk menyampaikan Islam ini pada setiap waktu dan tempat. Beliau n bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Al-Bukhari)

 

2. Tinggal untuk mempelajari keadaan orang-orang kafir dan mengetahui kehidupan mereka seperti rusaknya akidah, batilnya peribadatan, hilangnya akhlak, dan jeleknya perangai mereka, dalam rangka mengingatkan manusia agar tidak tertipu dengan mereka. Juga untuk menjelaskan keadaan mereka yang sebenarnya kepada orang-orang yang mengagumi mereka.

Ini juga termasuk jihad, karena di dalamnya terkandung peringatan dari kekufuran dan para pemeluknya, yang juga meliputi dorongan untuk (melaksanakan syariat) Islam. Namun dengan syarat, tujuan yang hendak dicapai tersebut bisa terwujud tanpa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar. Apabila tujuan tersebut tidak bisa terwujud karena ada yang menghalanginya, maka tidak ada faedahnya dia tinggal di negeri kafir itu. Bahkan dia wajib menahan diri (untuk tidak tinggal di negeri itu) bila tujuan tercapai namun mengakibatkan kerusakan yang lebih besar. Seperti, mereka membalas perbuatan tersebut dengan mencela Islam, utusan (duta) Islam, dan pemimpin Islam.

Hal ini berdasarkan firman Allah l:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-An’am: 108)

Yang semisal dengan ini yaitu tinggal di negeri kafir untuk melihat keadaan kaum muslimin di negeri itu, supaya diketahui tipu daya mereka terhadap kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin berhati-hati dari mereka.

 

3. Tinggal di negeri kafir dalam rangka memenuhi kebutuhan pemerintah (negeri) muslim, serta pengaturan hubungan antara pemerintah muslim dengan pemerintah kafir, seperti kedutaan. Hukumnya disesuaikan dengan alasan tinggal di negeri itu.

4. Tinggal di negeri kafir dalam rangka kebutuhan khusus yang mubah, seperti berbisnis dan berobat. Yang seperti ini diperbolehkan tinggal di negeri itu sesuai dengan kebutuhan.

 

5. Tinggal di negeri kafir dalam rangka belajar.

Ini termasuk jenis tinggal (di negeri kafir) karena adanya kebutuhan. Namun ini lebih membahayakan agama dan akhlak pelajar tersebut.

Oleh karena itu, wajib untuk lebih berhati-hati dalam bentuk tinggal yang seperti ini daripada bentuk tinggal yang sebelumnya. Disyaratkan juga (selain dua syarat pokok di atas) beberapa hal berikut:

a. Pelajar tersebut memiliki kematangan akal yang dengannya dia bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang memudaratkan, serta berwawasan jauh ke depan.

b. Memiliki ilmu syariat, yang dengannya dia bisa membedakan antara yang haq (benar) dengan yang batil (salah), serta mampu mengalahkan kebatilan dengan kebenaran.

c. Memiliki agama yang menjaga (melindungi)nya dari kekufuran dan kefasikan.

d. Butuhnya terhadap ilmu itu, yaitu memberikan maslahat kepada kaum muslimin, dan tidak didapatkan ilmu yang semisalnya di institusi pendidikan di negerinya.

 

6. Tinggal dalam rangka menetap (menjadi penduduk)

Ini lebih berbahaya dari jenis sebelumnya karena kerusakan-kerusakan yang akan timbul dengan bercampur-baur bersama orang-orang kafir. Juga perasaan dia sebagai warga negara yang diwajibkan dengan tuntutan-tuntutan negara berupa kecintaan, loyalitas, dan memperbanyak jumlah orang kafir. Dia juga mendidik keluarganya di tengah-tengah penduduk yang kafir. Sehingga keluarganya akan menyerap (meniru) akhlak dan kebiasaan orang kafir. Terkadang juga mengikuti mereka dalam permasalahan akidah dan peribadatan.

Oleh karena itu, datang (sebuah berita) dalam hadits Nabi n:

مَنْ جَامَعَ الْمُشْرِكَ وَسَكَنَ مَعَهُ فَهُوَ مِثْلُهُ

“Barangsiapa bergaul dengan orang musyrik dan tinggal bersamanya, maka dia semisal dengannya.”

Hadits ini walaupun sanadnya dhaif, tetapi memiliki sisi untuk diperhitungkan. Karena tinggal bersama (seseorang) itu menuntut untuk menyerupainya.

Diriwayatkan dari Qais bin Hazim, dari Jarir bin Abdullah z, bahwasanya Nabi n bersabda:

أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلِمَ؟ قَالَ: لَا تُرَاءَى نَارَهُمَا

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrikin.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah (yang dimaksud tinggal di tengah-tengah mereka itu)?” Rasulullah n menjawab: “Janganlah saling terlihat api (yang ada di rumah) keduanya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan kebanyakan perawinya meriwayatkan secara mursal dari Qais bin Hazim, dari Nabi n)

At-Tirmidzi berkata: “Saya mendengar Muhammad –yakni Al-Bukhari– berkata: ‘Yang benar, hadits Qais dari Nabi n adalah mursal’.”

Bagaimana jiwa seorang mukmin akan merasa senang (bahagia) tinggal di negeri-negeri kafir yang ditampakkan kepadanya syiar-syiar kekufuran. Hukum yang berlaku di dalamnya adalah hukum selain Allah l dan Rasul-Nya n, dalam keadaan ia menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya, mendengar dengan kedua telinganya serta ridha dengannya. Bahkan ia menisbatkan diri kepada negeri tersebut. Dia tinggal di negeri tersebut bersama keluarga dan anak-anaknya. Dia merasa tenang dengan negeri tersebut sebagaimana ia merasa tenang dengan negeri-negeri muslimin. Padahal di tempat itu terdapat bahaya besar yang mengintai dirinya, keluarga dan anak-anaknya, dalam hal agama serta akhlak mereka. (Diambil dari Syarh Tsalatsatil Ushul hal. 131-138, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t, dengan beberapa perubahan). Wallahu a’lam.


1 Lihat pengertian mahram, catatan kaki hal. 8

Salat dalam Safar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

Dari Abu Hurairah z, bahwasanya Rasulullah n bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنْ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar itu bagian dari azab, menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum dan tidurnya. Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai dari hajatnya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah l berfirman:

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj: 78)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa’: 28)

Di antara rahmat Allah l yang diberikan kepada hamba-Nya, Allah l memberikan hukum-hukum khusus bagi musafir sesuai dengan kondisinya. Di antara hukum-hukum yang terkait dengan musafir adalah:

 

Menjama’ Dua Shalat

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum menjama’ dua shalat.

1. Jumhur ulama berpendapat bahwa diperbolehkan menjama’ dua shalat dalam safar, baik jama’ taqdim (mengerjakan dua shalat tersebut pada waktu shalat yang pertama) ataupun ta’khir (mengerjakan dua shalat tersebut pada waktu shalat yang kedua). Mereka berhujjah dengan:

a. Hadits Ibnu Umar c:

كَانَ النَّبِيُّ n يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ إِذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ

“Adalah Nabi n menggabungkan antara Maghrib dan Isya apabila beliau terus berjalan cepat (dalam safar).” (Muttafaqun ‘alaih)

b. Hadits Anas bin Malik z:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

“Adalah Nabi n apabila berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan Zhuhur sampai waktu Ashr, kemudian berhenti dan menjama’ antara keduanya. Dan apabila beliau berangkat setelah matahari tergelincir, beliau shalat Zhuhur lalu naik kendaraan (untuk berangkat).” (Muttafaqun ‘alaih)

 

2. Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakha’i, Abu Hanifah, dan Ibnu Sirin berpendapat tidak diperbolehkan menjama’ shalat dalam safar, kecuali di Arafah antara Zhuhur dengan Ashar, dan di Muzdalifah antara Maghrib dengan Isya.

Mereka berdalil dengan:

a. Hadits-hadits tentang tauqit (waktu-waktu shalat). Barangsiapa menggabungkan dua shalat berarti tidak mengerjakan shalat pada waktu-waktunya.

b. Hadits Ibnu Mas’ud z, beliau menuturkan:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ n صَلَّى صَلَاةً بِغَيْرِ مِيقَاتِهَا إِلَّا صَلَاتَيْنِ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَّى الْفَجْرَ قَبْلَ مِيقَاتِهَا

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah n melakukan shalat di luar waktu-waktunya, kecuali dua shalat, beliau menjama’ antara Maghrib dengan Isya, dan shalat shubuh sebelum waktunya.”1 (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Pendapat yang kuat, wallahu a’lam, adalah pendapat jumhur ulama. Adapun hadits-hadits tauqit bersifat umum bagi orang yang safar maupun yang mukim. Sedangkan hadits tentang jama’ adalah khusus bagi musafir, sehingga lebih didahulukan. Adapun hadits Ibnu Mas’ud z lebih berisi penafian. Sedangkan hadits-hadits yang disebutkan jumhur berisi penetapan sehingga didahulukan, karena di dalamnya ada tambahan ilmu. Lihat Al-Majmu’ (4/176), Al-Mughni (2/570), Fathul Bari (2/675), dan Asy-Syarhul Mumti’ (4/548).

 

Diperbolehkan Jama’ Taqdim

Mayoritas ulama membolehkan jama’ taqdim, berdasarkan:

1. Hadits-hadits jama’ di Arafah, di antaranya:

a. Dari Ibnu Syihab, beliau berkata: Salim telah mengabarkan kepadaku bahwasanya Al-Hajjaj bin Yusuf bertanya kepada Abdullah bin Umar c, pada tahun Al-Hajjaj memerangi Ibnuz Zubair:

كَيْفَ تَصْنَعُ فِي الْمَوْقِفِ يَوْمَ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ سَالِمٌ: إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ فَهَجِّرْ بِالصَّلَاةِ يَوْمَ عَرَفَةَ. فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ: صَدَقَ، إِنَّهُمْ كَانُوا يَجْمَعُونَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي السُّنَّةِ. فَقُلْتُ لِسَالِمٍ: أَفَعَلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ n؟ فَقَالَ سَالِمٌ: وَهَلْ تَتَّبِعُونَ فِي ذَلِكَ إِلَّا سُنَّتَهُ؟

“Bagaimana engkau melakukan shalat di tempat wukuf pada hari Arafah?” Salim berkata: “Jika engkau menginginkan As-Sunnah maka segerakanlah shalat di awal waktu pada hari Arafah.” Abdullah bin Umar c berkata: “Benar. Mereka (para sahabat) menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar dalam As-Sunnah.” Maka aku (Ibnu Syihab) berkata kepada Salim: “Apakah Rasulullah n melakukan demikian?” Lalu Salim berkata: “Bukankah kalian tidak mengikuti dalam permasalahan itu kecuali sunnah beliau n?” (Shahih Al-Bukhari, 4/260)

b. Dari Jabir bin Abdillah c, di dalamnya disebutkan: “Sehingga tatkala matahari telah tergelincir, Rasulullah n menuju tengah lembah kemudian berkhutbah. Setelah itu:

فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

“Maka Bilal adzan, lalu mengumandangkan iqamat dan shalat Zhuhur, lalu mengumandangkan iqamat dan shalat Ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara keduanya sedikitpun.” (Shahih Muslim, 8/170)

c. Dari Ibnu Umar c, di dalamnya disebutkan:

حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ صَلَاةِ الظُّهْرِ رَاحَ رَسُولُ اللهِ n مُهَجِّرًا فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ ثُمَّ خَطَبَ النَّاسَ

“Sehingga tatkala memasuki Zhuhur, Rasulullah n pergi untuk mengerjakan shalat di awal waktu. Kemudian beliau menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar lalu berkhutbah kepada manusia.” (Sunan Abi Dawud, 1/445)

 

2. Hadits Ali z:

أَنَّهُ كَانَ يَسِيْرُ حَتَّى إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَأَظْلَمَ نَزَلَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ الْعِشَاءَ ثُمَّ يَقُولُ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ n يَصْنَعُ

Bahwasanya dulu beliau (Ali z) berjalan (safar), hingga ketika matahari telah terbenam dan hari menjadi gelap, beliau singgah lantas mengerjakan shalat Maghrib kemudian Isya. Beliau lalu berkata: “Demikianlah saya melihat Rasulullah n melakukannya.” (HR. Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Al-Musnad)

Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Hadits ini minimal keadaannya hasan lighairihi. Sehingga dengan ini hadits-hadits tentang jama’ taqdim telah jelas tsabit (shahih) dari Rasulullah n.” (Al-Jam’u baina Ash-Shalatain, hal. 90)

Lihat pula Nailul Authar (2/486) dan Fathul Bari (2/679).

 

Diperbolehkan menjama’ shalat walaupun sedang singgah

Ini adalah pendapat mayoritas ulama berdasarkan hadits-hadits jama’ yang mutlak, tidak terkait dengan safar yang terus berjalan atau sedang singgah. Di antaranya adalah Mu’adz ibnu Jabal z, yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik t dalam Al-Muwaththa’:

أَنَّ النَّبِيَّ n أَخَّرَ الصَّلاَةَ يَوْمًا فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ

“Bahwasanya Nabi n mengakhirkan shalat di suatu hari pada perang Tabuk. Kemudian beliau keluar, mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan cara jama’. Lalu beliau masuk (ke dalam tempat istirahatnya), kemudian beliau keluar lalu menjama’ shalat Maghrib dan Isya.”

Ibnu Abdil Barr t berkata: “Hadits ini sanadnya tsabit.”

Asy-Syafi’i t dalam kitabnya Al-Umm, Ibnu Abdil Barr dan Al-Baji menyatakan bahwa masuk dan keluarnya Nabi n (ke dan dari kemahnya), tidaklah terjadi melainkan ketika beliau singgah. Tidak berjalan terus-menerus dalam safar. Dalam hadits ini juga terdapat bantahan yang jelas bagi orang yang berpendapat bahwa shalat tidak dijama’ melainkan bila safarnya terus berjalan.

Adapun Al-Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim, berpendapat tidak dibolehkan menjama’ dua shalat, kecuali bila safarnya berjalan terus. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar c, dahulu apabila beliau terus berjalan dalam safar, beliau menjama’ antara maghrib dan isya. Ibnu Umar z berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

“Bahwasanya Nabi n jika terus berjalan cepat (dalam safar), beliau menjama’ antara keduanya.”

Pendapat yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat mayoritas ulama, karena mereka memiliki tambahan pendalilan dalam hadits-haditsnya yang dapat diterima. Juga karena safar itu adalah tempat kelelahan, keberatan, dan kesusahan. Juga karena rukhshah menjama’ tidaklah diberikan melainkan untuk memberi kemudahan dalam safar. Ini merupakan tarjih guru kami Asy-Syaikh Muqbil t sebagaimana dalam Al-Jam’u baina Ash-Shalatain (hal. 73) dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (4/553). Lihat juga Taisirul ‘Allam (1/220).

 

Dua shalat dijama’ cukup dengan satu adzan dan masing-masing shalat dengan satu iqamat

Dalam permasalahan ini, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama.

a. Dua shalat yang dijama’ cukup dengan satu adzan dan masing-masing satu iqamat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Dasar yang mereka gunakan adalah hadits Jabir z dalam Shahih Muslim yang menyebutkan tatacara Nabi n mengerjakan haji wada’ tatkala di Arafah.

ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا –وَفِيهِ: حَتَّى إِذَا أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

“Kemudian adzan, dan Rasulullah n berdiri lalu shalat Zhuhur. Kemudian berdiri lalu shalat Ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat sunnah di antara keduanya sedikitpun.”

Di dalamnya disebutkan: “Sampai Rasulullah n tiba di Muzdalifah, lalu beliau shalat Maghrib dan Isya di sana dengan satu adzan dan dua iqamat. Beliau tidak mengerjakan shalat sunnah di antara keduanya sedikitpun.”

 

b. Sufyan Ats-Tsauri dan sekelompok ulama rahimahumullah yang lain berpendapat cukup dengan satu iqamat untuk dua shalat. Dalil mereka adalah riwayat dari Ibnu Umar c:

أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَهُمَا بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ لَهُمَا

“Bahwasanya beliau menjama’ keduanya dengan satu iqamat untuk dua shalat tersebut.”

 

c. Mazhab Malik

Beliau berpendapat menggabungkan dua shalat dengan dua adzan dan dua iqamat. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud z dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Nabi n mengerjakan dua shalat, masing-masing dengan satu adzan dan satu iqamat.

أَنَّهُ صَلَّى الصَّلَاتَيْنِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ

“Bahwasanya beliau n shalat (menggabungkan) dua shalat. Masing-masing shalat dengan satu adzan dan satu iqamat.”

 

Pendapat yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat pertama, sebagaimana dirajihkan Ibnul Qayyim t dalam Tahdzibus Sunnah (3/282) dan diikuti oleh guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t dalam Al-Jam’u baina Ash-Shalatain fir Safar (hal. 98). Lihat juga Taisirul ‘Allam (1/433).

 

Shalat yang Dijama’

Shalat yang diperbolehkan dijama’ adalah Zhuhur dengan Ashar, serta Maghrib dengan Isya, berdasarkan hadits Ibnu Abbas c:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n يَجْمَعُ بَيْنَ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ إِذَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

“Adalah Rasulullah n menjama’ antara shalat Zhuhur dengan Ashar apabila beliau n berjalan (dalam safar), juga menjama’ antara Maghrib dengan Isya.” (HR. Al-Bukhari)

 

Hukum Mengqashar Shalat dalam Safar

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum mengqashar shalat dalam safar. Berikut ini perinciannya:

1. Wajib mengqashar

Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib, Umar ibnul Khaththab, Ibnu Umar, Jabir, dan Ibnu Abbas g. Yang berpendapat seperti ini juga adalah Umar bin Abdil Aziz, Qatadah, Al-Hasan Al-Bashri, Hammad bin Abi Sulaiman, ulama Hanafiyah dan Zhahiriyah. Dalil mereka adalah sebagai berikut:

a. Rasulullah n terus-menerus mengqashar shalat dalam seluruh safarnya. Tidak shahih bahwa beliau n menyempurnakan shalat (dalam safar), sebagaimana dinyatakan Ibnu Umar c:

صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ n فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

“Aku menyertai Nabi n, maka beliau tidak pernah menambah lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian pula Abu Bakr, Umar, dan Utsman -semoga Allah meridhai mereka-.” (HR. Al-Bukhari no. 1102 dan Muslim no. 689)

b. Hadits Aisyah x:

فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ

“Shalat itu (pertama kali) diwajibkan dua rakaat. Maka shalat dalam safar tetap (dua rakaat) sedangkan shalat hadhar (mukim) ditambah/disempurnakan (empat rakaat).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

c. Hadits Ibnu Abbas c:

إِنَّ اللهَ فَرَضَ الصَّلَاةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ عَلَى الْمُسَافِرِ رَكْعَتَيْنِ وَعَلَى الْمُقِيمِ أَرْبَعًا وَفِي الْخَوْفِ رَكْعَةً

“Sesungguhnya Allah k telah mewajibkan melalui lisan Nabi kalian bagi musafir shalat dua rakaat, dan bagi orang yang mukim empat rakaat, dan shalat khauf satu rakaat.” (HR. Muslim)

d. Hadits Umar z:

صَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْمُسَافِرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قََصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ n

“Shalat Al-Adha dua rakaat, shalat fajar (subuh) dua rakaat, shalat Al-Fithr dua rakaat, shalat musafir dua rakaat yang sempurna, bukan diqashar sesuai sabda Nabi Muhammad n.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah no. 1063)

e. Hadits Ibnu Umar c, di dalamnya disebutkan:

أَمَرَنَا أَنْ نُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ فِي السَّفَرِ

“Rasulullah n memerintahkan kami agar shalat dua rakaat dalam safar.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban no. 2735, Ibnu Khuzaimah no. 946)

2. Tidak wajib qashar

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama walaupun mereka berbeda pendapat mana yang lebih afdhal (qashar atau sempurna). Hujjah mereka adalah:

a. Firman Allah l:

“Maka tiada mengapa (tiada dosa) bagi kalian (musafir) untuk mengqashar shalat bila kalian takut diserang orang-orang kafir.” (An-Nisa’: 101)

Peniadaan dosa (نَفْيُ الْجُنَاحِ) dalam ayat ini menunjukkan bahwa mengqashar shalat adalah rukhshah (keringanan), bukan wajib.

b. Sabda Nabi n ketika ditanya oleh Umar z tentang surat An-Nisa’ ayat 101 di atas, sedangkan keadaan sudah aman. Beliau n berkata:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

“Qashar itu sedekah yang Allah bersedekah dengannya untuk kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Kata sedekah menunjukkan bahwa qashar merupakan rukhshah.

c. Hadits Aisyah x:

خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ n فِي عُمْرَةِ رَمَضَانَ فَأَفْطَرَ وَصُمْتُ وَقَصَرَ وَأَتْمَمْتُ فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَفْطَرْتَ وَصُمْتُ وَقَصَرْتَ وَأَتْمَمْتُ. فَقَالَ: أَحْسَنْتِ يَا عَائِشَةُ

“Aku safar bersama Nabi n untuk umrah pada bulan Ramadhan. Beliau berbuka sedangkan aku berpuasa. Beliau mengqashar shalat sedangkan aku melaksanakan dengan sempurna. Aku katakan: ‘Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu. Engkau berpuasa sedangkan aku berbuka. Engkau mengqashar sedangkan aku menyempurnakan (shalat).’ Maka beliau n bersabda: ‘Wahai Aisyah, engkau benar/baik’.” (HR. Ad-Daraquthni dan An-Nasa’i)

d. Hadits Aisyah x:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يَقْصُرُ فِي السَّفَرِ وَيُتِمُّ وَيُفْطِرُ وَيَصُومُ

“Bahwasanya Nabi n dahulu mengqashar shalat dalam safar dan terkadang menyempurnakan. Beliau berbuka dan terkadang berpuasa.” (HR. Ad-Daraquthni)

 

Pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat di atas –wallahu a’lam– adalah pendapat pertama, sebagaimana dirajihkan oleh Asy-Syaukani dan Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahumallah.

Sedangkan dalil-dalil yang dipakai oleh mayoritas ulama, dijawab dengan jawaban sebagai berikut:

1. Tentang ayat 101 dari surat An-Nisa’

Asy-Syaukani t berkata bahwa ayat tersebut datang dalam rangka menerangkan perintah mengurangi sifat shalat, bukan mengurangi jumlah rakaat. Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Al-Hadyu berkata: Sesungguhnya ayat tersebut menunjukkan disyariatkan mengqashar shalat yang mencakup mengurangi rukun-rukunnya dan mengurangi jumlah rakaatnya. Pengurangan tersebut bergantung kepada dua hal:

a. Safar

b. Kondisi khauf (bahaya)

Apabila dua hal itu ada, diperbolehkan mengurangi keduanya (mengurangi rukun shalat dan jumlah rakaatnya). Sehingga shalat khauf dikerjakan dengan mengurangi jumlah rakaatnya dan mengurangi rukun-rukunnya.

Apabila kedua hal tadi tidak ada (yakni dalam keadaan aman dan mukim/tidak safar) maka shalat dikerjakan secara sempurna.

Apabila dalam keadaan khauf (bahaya) dan tidak safar, maka rukun-rukunnya dikurangi namun jumlah rakaatnya disempurnakan. Ini adalah suatu jenis qashar, dan di dalam ayat 101 surat An-Nisa’ bukanlah qashar secara mutlak.

Apabila dalam keadaan safar namun aman, maka jumlah rakaatnya dikurangi (diqashar) namun rukun-rukunnya tetap dikerjakan secara sempurna. Ini juga termasuk jenis qashar, tetapi bukan qashar mutlak. Shalat ini telah diqashar jika dilihat dari jumlah rakaatnya, namun sempurna dilihat dari kesempurnaan rukun-rukunnya, walaupun tidak masuk dalam makna ayat 101 dari surat An-Nisa’. –selesai ucapan beliau– (Nailul Authar, 2/472)

Dari sisi yang lain, Allah l juga menafikan junah (dosa) pada perkara yang wajib. Seperti dalam firman Allah l:

“Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.” (Al-Baqarah: 158)

Padahal thawaf di sini adalah thawaf ifadhah menurut kesepakatan ulama, yang merupakan rukun haji.

 

2. Tentang hadits Umar z

Dalam akhir hadits Rasulullah n memerintahkan untuk menerima sedekah tersebut yang menunjukkan bahwa musafir tidak bisa menghindar dari menerimanya. (Nailul Authar, 2/472)

Demikian pula, lafadz sedekah bisa menunjukkan sesuatu yang wajib. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya sedekah (zakat-zakat) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, ….” (At-Taubah: 60)

 

3. Tentang dua hadits dari Aisyah x, semuanya dhaif. Lihat Irwa’ul Ghalil (3/7), At-Talkhis Al-Habir (2/549), Zadul Ma’ad (1/447).

 

Adapun perbuatan Utsman z menyempurnakan shalat di Mina telah diingkari oleh Ibnu Mas’ud z, sebagaimana disebutkan riwayatnya dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan menyatakan:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku shalat bersama Nabi n di Mina dua rakaat, bersama Abu Bakr di Mina dua rakaat, bersama Umar ibnul Khaththab dua rakaat.

فَلَيْتَ حَظِّي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ

Andaikata bagianku dari empat rakat, dua rakaat yang diterima (oleh Allah l).”

Tidaklah Ibnu Mas’ud z mengingkari perbuatan Utsman z karena melakukan dua perkara yang sama-sama boleh. Tentunya, beliau mengingkari karena telah melihat langsung bahwa Nabi n dan khalifah-khalifah setelahnya selalu shalat dua rakaat dalam safar. Lihat Zadul Ma’ad (1/451).Wallahu a’lam bish-shawab.

Lihat pula Nailul Authar (2/473), Al-Jam’u baina Ash-Shalatain (hal. 101), Ijabatus Sa’il (hal. 473).

 

Shalat yang Diqashar

Ibnu Qudamah t dalam kitabnya Al-Mughni (2/559) berkata: Ibnul Mundzir t berkata: “Ahli ilmu telah sepakat bahwa tidak ada qashar untuk shalat Maghrib dan Subuh. Namun qashar itu pada shalat ruba’iyyah (yang empat rakaat).”

 

Shalat Musafir di Belakang Orang Yang Mukim

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t menjelaskan masalah ini dalam risalahnya Al-Jam’u baina Ash-Shalataini fis Safar (hal. 101): “Dia hendaknya mengikuti imam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya dengan sanad yang hasan dari Musa bin Salamah t.

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ n

“Dahulu kami bersama Ibnu Abbas c di Makkah. Kemudian aku berkata: ‘Dulu, ketika kami bersamamu, kita shalat empat rakaat. Dan apabila kami kembali ke tempat tinggal kami, kami shalat dua rakaat.’ Ibnu Abbas c berkata: ‘Itu adalah sunnah Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad n)’.”

Asal hadits ini ada dalam Shahih Muslim.

 

Sopir yang Terus-Menerus Melakukan Safar

Asy-Syaikh Muqbil t menyatakan dalam Al-Jam’u baina Ash-Shalataini fis Safar (hal. 108): “Hukum yang berlaku baginya sama dengan hukum musafir yang tidak terus-menerus, berdasarkan keumuman dalil-dalil safar. Dia wajib mengqashar shalat dan boleh berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah l:

“Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

 

Sampai Kapan Seorang Musafir Mengqashar Shalat?

Pertanyaan: Terjadi perdebatan antara saya dengan salah seorang teman saya dari Arab tentang mengqashar shalat dalam keadaan kami berada di Amerika. Terkadang kami tinggal di sana (hingga) dua tahun. Maka saya menyempurnakan shalat seperti ketika saya berada di negara saya. Sedangkan teman saya mengqashar shalat karena ia menganggap dirinya adalah musafir meskipun waktunya sampai dua tahun. Maka kami mengharap penjelasan tentang hukum mengqashar shalat sesuai dengan kondisi kami beserta dalilnya!

 

Jawab:

Pada dasarnya, yang berhak mendapat rukhshah (keringanan) dalam mengqashar shalat ruba’iyyah (empat rakaat) adalah seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan. Berdasarkan firman Allah l:

“Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian mengqashar shalat.” (An-Nisa’: 101)

Juga perkataan Ya’la bin Umayyah: “Saya berkata kepada Umar ibnul Khaththab z:

‘Maka tidak mengapa kalian mengqashar shalat jika kalian takut diserang orang-orang kafir.’

Kemudian beliau z berkata:

عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ، فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ n فَقَالَ: هِيَ صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَةتَهُ

“Aku juga heran tentang hal yang engkau herankan. Maka aku (Umar) menanyakannya kepada Rasulullah n, lalu beliau bersabda: ‘Itu adalah sedekah yang Allah bersedekah dengannya kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya’.” (HR. Muslim)

Termasuk dalam kelompok musafir yang sedang melakukan perjalanan adalah seseorang yang mukim (di suatu tempat) selama 4 hari 4 malam atau kurang. Berdasarkan apa yang shahih dari hadits Jabir dan Ibnu Abbas g, bahwasanya saat haji Wada’, Nabi n tiba di Makkah pada waktu Subuh tanggal 4 Dzulhijjah. Kemudian beliau n mukim pada tanggal 4, 5, 6, dan 7. Beliau shalat subuh di Al-Abthah pada tanggal 8. Beliau mengqashar shalat pada hari-hari ini (tanggal 4, 5, 6, dan 7). Sungguh beliau telah berniat untuk bermukim di Makkah sebagaimana hal itu telah diketahui. Maka, setiap musafir yang berniat untuk mukim semisal dengan mukim Nabi n atau kurang dari itu, ia mengqashar shalat.

Sedangkan barangsiapa yang berniat untuk mukim lebih dari itu maka ia menyempurnakan shalat, karena ia tidak dihukumi sebagai musafir.

Adapun orang yang bermukim dalam safarnya lebih dari empat hari dan belum berniat untuk mukim, bahkan ia bertekad jika urusannya telah selesai maka ia akan kembali; seperti orang yang tinggal di area jihad melawan musuh, atau ia ditahan oleh penguasa, atau sakit misalnya; dan ia berniat (1) apabila telah selesai dari jihadnya dengan adanya pertolongan Allah l atau perjanjian (damai); atau (2) ia terlepas dari sesuatu yang menahannya, berupa sakit, kekuatan musuh penguasa, atau musuh melarikan diri, atau (3) dalam rangka menjual barang dagangan; atau yang semisalnya, maka ia dianggap sebagai musafir dan diperbolehkan mengqashar shalat ruba’iyyah walaupun dalam waktu yang lama. Berdasarkan apa yang telah shahih dari Nabi n bahwasanya beliau n bermukim di Makkah selama 19 hari dan beliau mengqashar shalat. Beliau n juga bermukim di Tabuk selama 20 hari dalam rangka berjihad melawan orang-orang Nasrani. Namun beliau shalat bersama para sahabatnya secara qashar, karena beliau tidak berniat untuk mukim. Beliau n berniat untuk safar, di mana apabila telah selesai urusannya, (beliau n akan kembali, pen.).

Wabillahit taufiq, washallallahu ala nabiyyina Muhammad, wa alihi washahbihi wasallam.

Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil Ketua: Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa Al-Lajnah, no. 1813)


1 Sebelum waktu yang biasanya beliau n melakukan shalat itu padanya, namun tetap setelah masuk waktu shalat. Lihat Fathul Bari. -ed

Adab-adab Safar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

1. Istikharah Sebelum Safar

Apabila seseorang bertekad untuk melakukan safar, disunnahkan untuk istikharah (meminta pilihan) kepada Allah l. Dia melakukan shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian berdoa dengan doa istikharah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

“Ya Allah, sungguh aku meminta pilihan dengan ilmu-Mu, meminta ketentuan dengan takdir-Mu, aku meminta karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha berkuasa, sedangkan aku tidak berkuasa. Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui. Engkau Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa urusanku ini (sebutkan urusan anda) lebih baik bagiku, agamaku, hidupku, dan akhir urusanku, maka berilah aku kemampuan untuk melakukannya. Mudahkanlah urusanku dan berilah aku barakah padanya. Namun jika Engkau tahu bahwa urusanku ini (sebutkan urusan anda) jelek bagiku dalam hal agama, kehidupan, dan akhir urusanku, maka palingkanlah urusan itu dariku. Palingkanlah aku dari urusan itu. Tentukanlah kebaikan itu untukku di manapun dia, dan jadikanlah aku ridha dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6382, Abu Dawud no. 1538, dan lainnya)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t membawakan ucapan Ibnu Abi Jamrah ketika menjelaskan sabda Nabi n: فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا (pada seluruh perkara): “Lafadz ini umum namun yang dimaksud adalah khusus. Sesungguhnya pada perkara yang wajib, mustahab, haram, dan makruh, tidak disyariatkan untuk melakukan istikharah. Perkaranya terbatas pada hal yang mubah dan hal yang mustahab apabila dihadapkan pada dua perkara, mana yang harus dia pilih.” (Fathul Bari, 11/188)

Oleh karena itu, safar yang wajib dan mustahab yang jelas, tidak disyariatkan untuk melakukan shalat istikharah. Terlebih lagi pada safar yang makruh dan haram.

 

2. Musyawarah Sebelum Safar

Dianjurkan bagi orang yang hendak melakukan safar untuk bermusyawarah dengan orang yang dipercaya agamanya, berpengalaman, serta mengetahui tentang safar yang akan dia lakukan. Allah l berfirman:

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka pada urusan itu.” (Ali ‘Imran: 159)

Perintah ini ditujukan kepada Nabi n, padahal beliau n adalah manusia yang paling baik dan paling benar pandangannya. Beliau n bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam berbagai urusan. Demikian pula khalifah-khalifah setelahnya, mengajak orang-orang yang shalih dan memiliki pandangan yang baik untuk bermusyawarah dengan mereka. (Syarh Riyadhis Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t, 2/520)

Maka, bermusyawarah sebelum safar merupakan petunjuk Nabi n yang seharusnya diikuti.

 

3. Menyiapkan Bekal Safar

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi t berkata: “Seorang musafir tidaklah pantas berkata: ‘Aku akan safar tanpa bekal. Cukup dengan bertawakkal.’ Ini adalah ucapan bodoh, karena membawa bekal dalam safar tidaklah mengurangi maupun bertentangan dengan tawakkal.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin, hal. 121)

Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas c, beliau berkata: “Penduduk Yaman pernah naik haji tanpa  membawa bekal. Mereka berkata: ‘Kami bertawakkal kepada Allah l.’ Setelah tiba di Makkah, ternyata mereka meminta-minta kepada orang-orang di sana. Lalu Allah l menurunkan ayat teguran:

“Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.” (Al-Baqarah: 197) [Shahih Al-Bukhari no. 1523]

Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari (3/449) berkata: “Al-Muhallab berkata: ‘Dalam hadits ini terdapat faedah bahwa meninggalkan meminta-minta kepada orang lain termasuk ketakwaan’.”

 

4. Membawa Teman dalam Safar

Dianjurkan bagi musafir untuk membawa teman yang bisa membantu tatkala dibutuhkan. Rasulullah n bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ

“Seandainya manusia mengetahui apa-apa yang ada pada safar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka seorang musafir tidak akan melakukan safar pada malam hari sendirian.” (HR. Al-Bukhari no. 2998 dari Ibnu Umar c)

Adapun hadits Jabir bin Abdullah c:

نَدَبَ رَسُوْلُ اللهِ n النَّاسَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ فَانْتَدَبَ الزُّبَيْرُ ثُمَّ –ثَلَاثَ مَرَّاتٍ- فَقَالَ النَّبِيُّ n: لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيٌّ وَحَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ

“Pada perang Khandaq, Nabi n menawarkan (untuk menjadi mata-mata) kepada para sahabatnya. Maka Az-Zubair segera menyambutnya. (Rasulullah n mengulangi tawarannya sampai tiga kali, dan Az-Zubair selalu menyambutnya). Kemudian Rasulullah n bersabda: ‘Setiap nabi punya penolong, dan penolongku adalah Az-Zubair’.” (HR. Al-Bukhari no. 2997)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya seseorang safar sendirian dalam keadaan darurat, atau untuk kemaslahatan yang tidak didapatkan melainkan dengan safar sendirian, seperti mengutus mata-mata (dalam perang). Sedangkan safar sendirian selain keadaan tersebut adalah makruh. Bisa jadi, pembolehan (safar sendirian) itu adalah saat dibutuhkan pada kondisi aman. Sedangkan pelarangan safar sendirian itu adalah ketika kondisi bahaya, sementara tidak ada kepentingan mendesak untuk melakukan safar.” (Fathul Bari, 6/161)

 

5. Memilih Ketua Rombongan

Disunnahkan memilih ketua rombongan yang paling berilmu dan berpengalaman sebagai penanggung jawab urusan-urusan mereka yang berkaitan dengan safar. Seluruh rombongan wajib menaatinya dalam perkara yang membawa kepada kemaslahatan safar. Rasulullah n bersabda:

إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Apabila tiga orang akan berangkat safar hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai amir (ketua rombongan).” (HR. Abu Dawud no. 2608 dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah c)

 

6. Menitipkan Keluarga, Harta, dan Apa Saja yang Diinginkan kepada Allah l

Al-Imam Ahmad t meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ibnu Umar c, dari Nabi n, beliau bersabda:

إِنَّ لُقْمَانَ الْحَكِيمَ كَانَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا اسْتُوْدِعَ شَيْئًا حَفِظَهُ

“Sesungguhnya Luqman Al-Hakim pernah berkata: ‘Sesungguhnya Allah k apabila dititipi sesuatu pasti menjaganya’.”

Sebaliknya, keluarga yang ditinggal juga disyariatkan untuk menitipkan orang yang akan melakukan safar kepada Allah l dengan membaca:

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ

“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan penutup amalmu.” (HR. Abu Dawud no. 2601, dengan sanad yang shahih, dari Abdullah Al-Khatmi z. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud. Asy-Syaikh Muqbil t berkata dalam Al-Jami’ Ash-Shahih [2/503]: “Hadits shahih menurut syarat Muslim.”)

 

7. Disunnahkan Berangkat pada Hari Kamis

Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 2950) dari Ka’b bin Malik z:

أَنَّ النَّبِيَّ n خَرَجَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ

“Bahwasanya Nabi n berangkat ketika perang Tabuk pada hari Kamis, dan adalah beliau n menyukai safar pada hari Kamis.”

Disunnahkan pula berangkat di waktu pagi, karena Rasulullah n telah berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah, berilah barakah untuk umatku di waktu pagi mereka.”

Apabila mengutus pasukan, beliau n juga memberangkatkan mereka di waktu pagi. (HR. Abu Dawud, no. 2602, At-Tirmidzi no. 1212 dari Shakhr ibnu Wada’ah Al-Ghamidi z. Lihat Shahihul Jami’ no. 2180, Al-Misykat no. 3908, Shahih Abi Dawud no. 2270)

 

8. Bertakbir Tiga Kali Ketika Sudah Naik Di Atas Kendaraan

Kemudian membaca doa berikut ini:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنْ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

”Maha Suci Dzat yang telah menundukkan semua ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai dalam safar ini. Ya Allah, ringankanlah atas kami safar ini, pendekkan perjalanan jauh kami. Ya Allah, Engkaulah teman safar kami dan pengganti kami dalam mengurus keluarga yang kami tinggal. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar, perubahan hati ketika melihat sesuatu dan dari kejelekan di saat kami kembali mengurus harta, keluarga, dan anak kami.” (HR.Muslim no. 1342 dari Ibnu Umar c)

 

9. Bertakbir Tatkala Mendaki (Naik) dan Bertasbih Ketika Menurun

Disunnahkan bagi musafir untuk bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) sekali, dua atau tiga kali, tatkala perjalanan menaik dan bertasbih (mengucapkan Subhanallah) tatkala perjalanan menurun. Berdasarkan hadits Jabir z, dia berkata:

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

”Dulu apabila kami (berjalan) menaik, kami bertakbir, dan apabila turun kami bertasbih.” (HR. Al-Bukhari no. 2993)

Begitu pula hadits Ibnu Umar c, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ n وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوْا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا

“Kebiasaan Nabi n dan pasukannya, apabila mereka mendaki bukit-bukit (berjalan naik), mereka bertakbir. Apabila turun, mereka bertasbih.” (HR. Abu Dawud no. 2599, lihat Shahih Abi Dawud no. 263)

Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar c, beliau bersabda:

كَانَ النَّبِيُّ n إِذَا قَفَلَ مِنْ الْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ كُلَّمَا أَوْفَى عَلَى ثَنِيَّةٍ أَوْ فَدْفَدٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا

“Kebiasaan Nabi n apabila kembali bepergian dari haji atau umrah, tatkala melewati bukit atau tempat yang tinggi, beliau bertakbir tiga kali.” (HR. Al-Bukhari no. 6385 dan Muslim no. 1344)

Hal ini sepantasnya dilakukan oleh seorang musafir, baik tatkala berada di udara (seperti di atas pesawat terbang) ataupun tatkala berada di atas bumi (darat).

 

10. Berjalan pada Malam Hari

Disunnahkan bagi musafir untuk berjalan pada malam hari, berdasarkan hadits Anas z, beliau berkata: Rasulullah n bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الْأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ

“Hendaklah kalian berjalan pada malam hari (tatkala safar) karena sesungguhnya bumi itu dilipat (dipendekkan) pada malam hari.” (HR. Abu Dawud no. 2571, dishahihkan oleh Asy-Syaih Al-Albani t di dalam Ash-Shahihah no. 681. Lihat juga Shahihul Jami, no. 4064)

 

11. Memperbanyak Doa Ketika Safar

Disunnahkan pula bagi musafir untuk berdoa pada sebagian besar waktunya tatkala safar karena doanya mustajab, selama tidak ada hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa, seperti memakan dan meminum makanan/ minuman yang haram. Anas z berkata: Rasulullah n bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa yang tidak akan ditolak: doa orangtua untuk anaknya, doa orang yang sedang berpuasa, dan doa orang yang sedang safar.” (HR. Al-Baihaqi, 3/345. Lihat Ash-Shahihah no. 596)

 

12. Berdoa Ketika Singgah

Berdasarkan hadits Khaulah bintu Hakim x, beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah n bersabda:

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang telah Dia ciptakan),

maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai dia beranjak dari tempat itu.” (HR. Muslim no. 2708)

 

13. Segera Pulang Menemui Keluarga Jika Telah Selesai Urusannya

Rasulullah n bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar itu bagian dari azab (melelahkan), menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum, dan tidurnya. Maka apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan urusannya, bersegeralah pulang menemui keluarganya.” (HR. Al-Bukhari no. 1804, Muslim no. 1927, dari Abu Hurairah z)

 

14. Mendatangi Keluarganya pada Awal Siang atau Pada Akhir Siang Bila Tidak Mampu

Anas z berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n لَا يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلًا وَكَانَ يَأْتِيهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً

“Rasulullah n tidak mendatangi keluarganya pada malam hari (tatkala pulang dari safar). Beliau mendatangi mereka pada waktu siang atau sore hari.” (HR. Al-Bukhari no. 1800 dan Muslim no. 1938)

 

15. Jika safar cukup lama, dilarang mendatangi keluarganya di malam hari, kecuali ada pemberitahuan sebelumnya

Jabir bin Abdillah c berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ n إِذَا أَطَالَ الرَّجُلُ الْغَيْبَةَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ طُرُوقًا

“Rasulullah n melarang seseorang yang telah lama melakukan safar untuk mendatangi keluarga/istrinya pada malam hari.” (HR. Muslim no. 1928)

Faedah: Al-Imam An-Nawawi t dan Al-Hafizh Ibnu Hajar t telah menjelaskan dalam kitab mereka bahwa larangan ini berlaku bagi yang datang mendadak tanpa pemberitahuan. Adapun musafir yang sudah memberitahu sebelumnya, maka tidak termasuk dalam larangan ini. Wallahu a’lam. (Fathul Bari, 9/252, Syarh Shahih Muslim, 13/73)

 

16. Membaca Doa Ketika Melihat Kampungnya

Anas z berkata:

أَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ n حَتَّى إِذَا كُنَّا بِظَهْرِ الْمَدِينَةِ قَالَ: آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ؛ فَلَمْ يَزَلْ يَقُولُهَا حَتَّى قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ

“Kami datang bersama Nabi n, hingga ketika kami melihat kota Madinah, beliau n mengucapkan:

آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

‘Orang-orang yang kembali, bertaubat, beribadah, dan hanya kepada Rabb kami semua memuji.’

Beliau n terus membacanya sampai kami tiba di Madinah.” (HR. Muslim no. 1345)

 

17. Melakukan shalat dua rakaat di masjid terdekat ketika telah tiba

Apabila seseorang telah kembali dari safarnya, hendaklah ia mendatangi masjid dan melakukan shalat dua rakaat dengan niat shalat qudum (shalat datang dari safar), sebelum menemui keluarganya. Hal ini berdasarkan hadits Ka’b bin Malik z:

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَرَكَعَ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ

“Adalah Rasulullah n apabila kembali dari suatu safar, beliau n memulai dengan mendatangi masjid lalu melakukan shalat dua rakaat di dalamnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3088 dan Muslim no. 2769)

Jabir bin Abdillah c berkata: “Dulu kami bersama Nabi n dalam suatu safar. Tatkala kami tiba di Madinah, Rasulullah  n berkata kepadaku:

ادْخُلِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

“Masuklah masjid kemudian shalatlah dua rakaat.” (HR. Al-Bukhari no. 3087)

Kebanyakan manusia lalai dari sunnah ini, mungkin karena tidak tahu atau karena menyepelekan. Namun sepantasnya setiap muslim menghidupkan sunnah ini. Wallahul muwaffiq.

Ini adalah sebagian dari adab-adab safar. Bagi yang menginginkan pembahasan lebih luas, silakan membaca dan merujuk kitab Al-Majmu’ karya An-Nawawi t dan Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim t, serta Syarh Riyadhish Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t.

Wallahu a’lam.

Macam-macam Safar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

Safar dibagi menjadi lima macam:

1. Safar haram

Seperti safar dalam rangka mengerjakan keharaman (seperti judi, zina, atau tindak kriminal). Safar seperti ini hukumnya haram. Termasuk safar yang haram adalah safarnya seorang wanita sendirian tanpa mahram.

2. Safar makruh

Seperti safar seseorang sendirian.

3. Safar mubah

Seperti safar untuk bertamasya/piknik.

4. Safar mustahab

Seperti safar untuk mengerjakan haji yang kedua kalinya.

5. Safar wajib

Seperti safar untuk mengerjakan haji yang pertama kalinya. (Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 4/492)

 

Apakah dalam Safar Maksiat Diperbolehkan Mengqashar Shalat dan Berbuka Puasa?

Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad rahimahumullah berpendapat diperbolehkannya mengqashar shalat dalam seluruh safar, kecuali safar maksiat. An-Nawawi t menyandarkan pendapat ini kepada jumhur (mayoritas) ulama. Mereka berdalil dengan firman Allah l:

“Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.” (Al-Baqarah: 173)

Sisi pendalilannya, Allah l tidak membolehkan memakan bangkai dalam keadaan darurat (terpaksa) bagi al-baghi, yaitu orang yang keluar dari ketaatan kepada penguasa, dan bagi al-’adi yaitu orang yang muharrib (memerangi) dan merampok. Karena al-baghi dan al-’adi adalah orang-orang yang bermaksiat kepada Allah l dalam safar mereka. (Catatan kaki Asy-Syarhul Mumti’, 4/442, lihat Ahkam Al-Qur’an lil Qurthubi 2/225, Adhwa’ul Bayan, 4/167)

Sedangkan Al-Auza’i, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, dan Al-Muzani rahimahumullah berpendapat diperbolehkan mengqashar shalat dalam seluruh safar, walaupun safar maksiat. Mereka berdalil dengan keumuman dalil1 yang mengharuskan mengqashar shalat dalam safar.

Pendapat yang lebih kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang kedua, sebagaimana dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Adapun tentang ayat 173 dari surat Al-Baqarah di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan:

“Ayat tersebut, kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan al-baghi adalah orang yang mencari makanan haram padahal ia mampu mendapatkan makanan yang halal. Sedangkan al-’adi adalah orang yang melampaui batas kebutuhannya.” (Majmu’ Al-Fatawa, 24/25)

Asy-Syaikh Shiddiq Hasan Khan t berkata: “Yang nampak dari dalil-dalil mengqashar shalat dan berbuka (tidak puasa, ketika safar) adalah tidak ada perbedaan antara orang yang safar dalam ketaatan maupun orang yang safar dalam kemaksiatan. Terlebih lagi dalam hal mengqashar shalat, karena shalat seorang yang safar telah disyariatkan oleh Allah l untuk diqashar. Maka, sebagaimana Allah l telah mensyariatkan bagi orang yang mukim untuk menyempurnakan shalat tanpa dibedakan antara orang yang sedang dalam ketaatan maupun dalam kemaksiatan, tanpa ada khilaf (perselisihan antara ahli ilmu), demikian pula Allah l telah mensyariatkan bagi orang yang safar untuk shalat dua rakaat tanpa perbedaan (antara orang yang safar taat atau maksiat).” (Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Radhah An-Nadiyyah, 1/398)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata: “Mengqashar shalat tergantung dengan safar. Maksudnya, mengerjakan shalat dua rakaat dalam safar merupakan kewajiban. Dan bukanlah shalat dua rakaat ini diubah dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Sebagaimana hal ini telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan yang lainnya, dari Aisyah x, bahwa dia berkata:

أَوَّلُ مَا فُرِضَتِ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَافَرَ رَسُولُ اللهِ n فَزِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ

“Shalat itu pertama kali diwajibkan dua rakaat, kemudian Rasulullah n safar. Maka shalat hadhar (tidak dalam safar) jumlah rakaatnya ditambah dan shalat dalam safar ditetapkan dua rakaat.”

Sekarang menjadi jelas bahwa dua rakaat dalam safar adalah kewajiban, bukan rukhshah. Atas dasar itu, maka tidak ada perbedaan antara safar haram dan safar mubah.” (Asy-Syarhul Mumti’, 4/494)

Lihat juga Al-Mughni (2/540), Al-Majmu’ (4/158), dan Majmu’ Al-Fatawa (24/52).


1 Di antaranya, dari Abdullah bin Umar c, dia berkata:
صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ n فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ
“Aku telah menemani Rasulullah n, maka beliau tidak pernah menambah lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian pula aku menemani Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman seperti itu.” (Muttafaqun alaih, lafadz ini adalah lafadz Al-Bukhari)

Safar dan Batasannya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

Safar merupakan bagian hidup setiap muslim dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Rabbnya atau untuk meraih kemaslahatan duniawinya. Dari kesempurnaan agama ini serta kemudahan-kemudahan yang ada di dalamnya, Allah l menetapkan hukum-hukum safar serta mengajarkan adab-adabnya di dalam Al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya n.

 

Pengertian Safar

Dalam bahasa Arab, safar berarti menempuh perjalanan. Adapun secara syariat safar adalah meninggalkan tempat bermukim dengan niat menempuh perjalanan menuju suatu tempat. (Lisanul Arab, 6/277, Asy-Syarhul Mumti’, 4/490, Shahih Fiqhus Sunnah, 1/472)

 

Batasan Safar

Para ulama berbeda pendapat tentang jarak perjalanan yang telah dianggap sebagai safar. Al-Imam Ash-Shan’ani t menyebutkan ada sekitar 20 pendapat dalam permasalahan ini sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir. (Subulus Salam, 3/109)

Di sini akan kita sebutkan beberapa pendapat.

1. Jarak minimal suatu perjalanan dianggap/disebut safar adalah 4 barid = 16 farsakh = 48 mil = 85 km. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan Al-Bashri, Az-Zuhri, Malik, Ahmad, dan Asy-Syafi’i. Dalilnya adalah riwayat dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas c:

كَانَا يُصَلِّيَانِ رَكْعَتَيْنِ وَيُفْطِرَانِ فِي أَرْبَعَةٍ بُرُدٍ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ

“Adalah beliau berdua (Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas) shalat dua rakaat (qashar) dan tidak berpuasa dalam perjalanan 4 barid atau lebih dari itu.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi t dengan sanad yang shahih, dan Al-Bukhari t dalam Shahih-nya secara mu’allaq)

Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi n:

يَا أَهْلَ مَكَّةَ، لاَ تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ مِنْ مَكَّةَ إِلَى عَسْفَانَ

“Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian mengqashar shalat (dalam perjalanan) kurang dari 4 barid dari Makkah ke ‘Asfan.” (HR. Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi. Hadits ini dhaif sekali karena ada dua perawi yang dhaif: Abdulwahhab bin Mujadid bin Jabr dan Isma’il bin ‘Iyyasy. Lihat Al-Irwa’ no. 565)

2. Jarak minimal sebuah perjalanan dianggap/disebut safar adalah sejauh perjalanan 3 hari 3 malam (berjalan kaki atau naik unta). Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Suwaid bin Ghafalah, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar c:

لاَ تُسَافِرُ الْـمَرْأَةُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang wanita safar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.”1 (HR. Al-Bukhari, Kitabul Jum’ah, Bab Fi Kam Yaqshuru Ash-Shalah no. 1034)

3. Jarak minimal sebuah perjalanan dianggap safar adalah sejauh perjalanan sehari penuh. Pendapat ini dipilih oleh Al-Auza’i dan Ibnul Mundzir.

Dan masih ada beberapa pendapat yang lain.

Sedangkan riwayat yang paling kuat dalam permasalahan ini adalah hadits Anas z:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا خَرَجَ مَسِيْرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

“Adalah Rasulullah n apabila beliau keluar sejauh 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat 2 rakaat (yakni mengqashar shalat).” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin wa Qashruha, Bab Shalatul Musafirin wa Qashruha, no. 1116)

Dalam riwayat di atas tidak dipastikan apakah Rasulullah n mengqashar shalat pada jarak 3 mil atau 3 farsakh. Sehingga riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah dalam membatasi jarak safar.

Adapun larangan Rasulullah n terhadap seorang wanita yang safar sejauh perjalanan 3 hari tanpa mahram, maka tidak ada hujjah dalam hadits tersebut2. Karena hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa safar tidak terwujud atau terjadi kecuali dalam jarak perjalanan tiga hari. Hadits itu hanya menunjukkan larangan bagi seorang wanita untuk safar tanpa disertai mahram.

Hal ini ditunjukkan pula dalam riwayat yang lain dari sahabat Abu Sa’id z dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim. Di dalamnya terdapat lafadz يَوْمَيْنِ (dua hari):

لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ يَوْمَيْنِ إِلاَّ وَمَعَهَا زَوْجُهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang wanita safar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafadz يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ (satu hari satu malam):

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا مَحْرَمٍ

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar sejauh perjalanan sehari semalam tanpa disertai mahram.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah z)

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa safar tidak dibatasi dengan perjalanan tiga hari.

Ibnu Qudamah berkata: “Tidak ada dasar yang jelas untuk menentukan batasan jarak safar. Karena menetapkan batasan jarak safar membutuhkan nash (dalil) yang datang dari Allah l atau Rasul-Nya n.”

Sedangkan dalam Al-Qur’an3 dan As-Sunnah4, safar disebutkan secara mutlak tanpa dikaitkan dengan batasan tertentu.

Dalam kaidah fiqhiyah disebutkan: “Sesuatu yang mutlak tetap berada di atas kemutlakannya sampai datang sesuatu yang memberi batasan atasnya.”

Ketika tidak ada pembatasan jarak safar dalam syariat (nash), demikian pula tidak ada pembatasannya dalam bahasa Arab, maka pembatasan safar kembali kepada ‘urf (kebiasaan masyarakat setempat). Selama masyarakat setempat menganggap/ menyatakan perjalanan tersebut adalah safar, maka perjalanan itu adalah safar yang disyariatkan untuk mengqashar shalat dan berbuka puasa di dalamnya.

Pendapat yang paling kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat Ibnu Qudamah dan yang lainnya, bahwa batasan safar kembali kepada ‘urf (kebiasaan masyarakat setempat). Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Al-’Allamah Ibnul Qayyim. Demikian pula dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahumullah. (lihat Al-Mughni 2/542-543, Al-Majmu’ 4/150, Majmu’Al-Fatawa 24/21, Asy-Syarhul Mumti’ 4/497, Al-Jam’u baina Ash-Shalataini fis Safar hal. 122)

Wallahu a’lam.

 


1 Mahram adalah lelaki yang diharamkan menikahinya selama-lamanya, disebabkan adanya hubungan nasab (keturunan), hubungan pernikahan, dan persusuan. Lihat Syarh Riyadhish Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, no. 990)

2 Yakni hadits Ibnu ’Umar c:

لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang wanita safar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.”

3 Firman Allah l:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (An-Nisa’: 101)

Juga firman Allah l:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam safar (kemudian berbuka) maka hendaknya ia berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.” (Al-Baqarah: 185)

4 Di antaranya, dari Abdullah bin Umar c, dia berkata:

صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ n فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ

“Aku telah menemani Rasulullah n, maka beliau tidak pernah menambah lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian pula aku menemani Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman seperti itu.” (Muttafaqun alaih, lafadz ini adalah lafadz Al-Bukhari)

Safar adalah Azab?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin)

 

Pengertian as-safar السَّفَرُ yaitu memisahkan diri dari negeri. Seseorang keluar dari negerinya menuju ke negeri yang lain. Disebut safran سَفْرًا lantaran terambil dari makna al-isfar الْإِسْفَارُ yang mengandung pengertian keluar dan terang, nyata. Seperti disebutkan dalam ungkapan أَسْفَرَ الصُّبْحُ yang bermakna bersinar atau bercahaya. Ada yang menyebutkan pula bahwa secara makna disebut as-safaru–safran karena “membuka perihal akhlak seseorang.” Maksudnya, menjadikan jelas dan nyata keadaannya. Berapa banyak orang yang belum terkuak jati dirinya, bisa terungkap setelah melakukan safar (bepergian) bersamanya. Ketika dalam safar itulah jati diri senyatanya, yaitu perangai dan wataknya bisa diketahui.

Tak mengherankan bila kemudian Umar bin Al-Khaththab z apabila ada seseorang yang merekomendasikan temannya, lantas Umar z bertanya: “Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya? Apakah engkau telah bergaul dengannya?” jika jawabannya “Ya.” maka Umar z pun menerimanya. Jika jawabannya “Belum pernah”, maka Umar z akan mengatakan, “Engkau belum mengetahui jati diri senyatanya tentang orang itu.” (Syarh Riyadhish Shalihin, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t, 2/1214)

Bagi sebagian orang, bepergian adalah satu aktivitas biasa. Bepergian dianggap sebagai bagian dari rutinitas dalam hidupnya. Ini bisa terjadi manakala skala aktivitasnya sudah tidak lagi pada tataran lokal, tapi mengglobal: lintas wilayah bahkan lintas mancanegara.

Namun demikian, perlu dipahami bahwa syariat telah memberi rambu terkait masalah bepergian ini. Rasulullah n menuntunkan bahwa seseorang yang telah menyelesaikan urusan safarnya, hendaklah bersegera kembali pulang menemui keluarganya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, sungguh Rasulullah n telah bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Bepergian itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya. Maka, bila seseorang telah menunaikan maksud safarnya, hendaklah ia menyegerakan diri kembali kepada keluarganya.” (Shahih Al-Bukhari no. 1804 dan Shahih Muslim no. 179)

Terkait hadits di atas, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t mengungkapkan bahwa tatkala seseorang melakukan bepergian, sesungguhnya dia telah meninggalkan keluarganya. Kala itu, kadang keluarga membutuhkan kehadirannya. Keluarga yang di rumah membutuhkan bimbingan, pengarahan, pendidikannya, atau selainnya. Karenanya, Rasulullah n memerintahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Adapun maksud azab dalam hadits tersebut, meliputi azab berupa hal-hal yang bersifat fisik dan non fisik. Terutama keadaan orang-orang yang safar pada zaman dahulu. Di mana mereka menggunakan kendaraan unta, hingga mengalami kesukaran yang amat sangat. Mereka merasakan panas kala musim panas, juga merasakan dingin kala muslim dingin membalut alam. Mereka tak lagi bisa menikmati makan dan minum sebagaimana biasa di hari-hari saat tak bersafar. Begitu pun dengan istirahatnya, tak lagi bisa tidur senyaman kala di tempat mukimnya. Karenanya, diperintahkan bagi orang-orang yang safar untuk bersegera kembali pulang ke negerinya, menjumpai keluarganya serta beristirahat bersamanya. Menjaga dan mendidik mereka.

Hadits dari Abu Hurairah z di atas menjadi dalil keutamaan untuk tinggal bersama keluarga dibanding melakukan safar, kecuali jika ada keperluan yang harus dipenuhi dengan safar. Dari sisi kebutuhan keluarga ini pula, maka ketika seorang sahabat bernama Malik bin Al-Huwairits z tiba di Madinah bersama rombongan kaumnya yang berjumlah 20 orang guna menemui Nabi n, di mana mereka tinggal (di Madinah) selama 20 hari. Saat terlihat di antara mereka rasa rindu kepada keluarganya, maka Rasulullah n bersabda:

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ

“Kembalilah kepada keluarga kalian. Tinggallah bersama mereka. Ajarilah dan didiklah mereka.” (Shahih Al-Bukhari no. 631)

Ini menunjukkan betapa seseorang itu tidak semestinya meninggalkan keluarganya kecuali lantaran ada kebutuhan. Inilah yang lebih utama. (Syarh Riyadhi Ash-Shalihin, 2/1230)

Sungguh mulia ajaran Islam. Nuansa cinta dan kasih sayang begitu kukuh menyelimuti. Kelembutan begitu halus menyentuh kalbu. Melalui aktivitas safar, Islam mengajari pemeluknya untuk senantiasa bisa menabur cinta, kasih sayang, dan kelembutan.

وَكَانَ رَسُولُ اللهِ n رَحِيمًا رَفِيقًا

“Adalah Rasulullah n begitu kasih dan lembut.” (Shahih Al-Bukhari no. 631)

Begitulah yang dinyatakan Malik bin Al-Huwairits z kala rombongannya telah merasakan kerinduan kepada keluarga lantas Rasulullah n memerintahkan mereka pulang. Begitulah Islam, agama nan penuh rahmah, kasih sayang, dan kelembutan.

Dalam masalah safar, Islam memberi ketentuan yang tegas dan jelas terkait safar ke negeri-negeri kafir. Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, safar ke negeri-negeri kafir adalah haram, kecuali dalam keadaan darurat, seperti dalam rangka pengobatan, bisnis, studi bidang-bidang khusus yang bermanfaat yang tidak mungkin bisa diperoleh kecuali dengan melakukan safar ke negeri-negeri kafir. Maka safar semacam itu boleh, sekadar memenuhi kebutuhan semata. Bila telah selesai kebutuhannya, wajib kembali ke negeri kaum muslimin.

Boleh berkunjung ke negeri-negeri kafir ini disyaratkan dengan tetap menampilkan agamanya secara zhahir, tampil mulia dengan Islamnya, serta menjauhi tempat-tempat yang buruk. Tetap waspada dari infiltrasi (disusupi) dan tipu daya kaum kafir. Termasuk yang dibolehkan safar ke negeri-negeri kafir yaitu bila memiliki tujuan atau misi dakwah mengajak ke jalan Allah l serta menyebarkan Islam. (Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, hal. 8-9)

Ketentuan yang telah ditata dalam Islam sebagaimana di atas merupakan salah satu bentuk kasih sayang terhadap umatnya agar tidak terjatuh pada bentuk-bentuk penyerahan loyalitas kepada kaum kafir. Baik dalam bentuk senang menyerupai (tasyabbuh) kaum kafir, tumbuhnya rasa cinta kepada kaum kafir, dan lainnya. Bentuk peniruan secara zhahir merupakan wujud salah satu kasih sayang, cinta, dan loyalitas yang tersimpan dalam batin. Sebagaimana perasaan cinta yang ada dalam batin bisa dilihat dari bentuk penerimaan secara zhahir.

“Demikian pula orang-orang itu telah mengatakan seperti ucapan mereka itu, hati mereka serupa…” (Al-Baqarah: 118)

Sungguh, perbuatan orang-orang kafir dibangun di atas kesesatan dan kerusakan. Ini merupakan prinsip dasar dalam menilai perbuatan orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu bagai debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)

Demikianlah penjagaan Islam terhadap umatnya. Mereka dibimbing agar keyakinan yang dianutnya tetap terjaga dan selamat. Tidak teracuni oleh keyakinan-keyakinan kufur akibat dari safar yang dilakukannya.

Selain itu, penting untuk diketahui oleh mereka yang hendak melancong ke satu tempat yang di situ terdapat daerah bekas diazab Allah l. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin Umar c, Rasulullah n bersabda:

لاَ تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلاَءِ الْقَوْمِ الْمُعَذَّبِينَ إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ أَنْ يُصِيْبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ

“Janganlah kalian masuk ke tempat satu kaum yang mendapat azab kecuali kalian dalam keadaan menangis (di tempat tersebut). Jika tidak bisa menangis, maka janganlah kamu masuk ke mereka. (Khawatir) musibah menimpa kalian seperti telah menimpa mereka (kaum Tsamud).” (Shahih Muslim, no. 2980)

Rasulullah n beserta para sahabat ketika hendak menuju Tabuk guna berperang, melintasi Al-Hijr (sebuah lembah yang pernah didiami kaum Tsamud). Maka, beliau n memerintahkan kepada para sahabat untuk tidak minum dari air sumur yang berada di tempat itu. Beliau n memerintahkan menumpahkan air yang telah terlanjur diambil. Juga membuang adonan (makanan) yang telah dicampur dengan air tersebut. (Shahih Al-Bukhari no. 3378 dan Shahih Muslim no. 2981)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menerangkan, Rasulullah n telah melarang memasuki tempat-tempat yang penduduknya diazab. Kecuali, jika masuk ke tempat tersebut dengan disertai tangisan. Demikian itu lantaran takut azab akan menimpanya sebagaimana telah menimpa kaum Tsamud. Rasulullah n pun melarang mengambil manfaat air yang ada di tempat tersebut. Padahal beliau n beserta para sahabatnya g sangat membutuhkannya dalam rangka menghadapi peperangan yag sangat keras dan sulit, yaitu perang Tabuk. (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, hal. 95)

Demikianlah tuntunan Islam. Tak semata memerhatikan keselamatan secara fisik, lebih dari itu syariat menuntunkan kepada kaum muslimin untuk memperoleh keselamatan bagi keyakinan agamanya. Sehingga safar yang dilakukannya memberi manfaat dan keselamatan bagi dirinya.

Wallahu a’lam.

Surat Pembaca edisi 48

Tidak Jual Gambar dan Iklan

Alhamdullillah, saya bisa mengenal majalah Asy Syari’ah, majalah Islam yang sarat dengan ilmu. Tidak seperti majalah Islam kebanyakan yang cuma jual gambar/foto dan iklan tapi kosong ilmu. Beli Asy Syari’ah beli ilmu, insya Allah tidak akan rugi. Jazakumullahu khairan.

Nafilla-Banjarnegara

0857265xxxxx

 

Hal yang memang patut disayangkan, banyak media yang mengaku sebagai media Islam namun telah kehilangan hakikatnya sebagai media dakwah. Sebagian besar ruang malah dijejali iklan komersial. Di saat media tersebut mengajak untuk menundukkan pandangan, namun pembacanya justru disuguhi iklan dengan model wanita, meskipun itu berkerudung. Tatkala meneriakkan ukhuwah, media tersebut justru partisan, menjadi corong parpol tertentu. Menyasar segmen remaja -maksud hati ingin mencitrakan Islam yang gaul- namun malah kebablasan sehingga tak berbeda dengan media pop lainnya. Jazakillahu khairan atas masukannya. Semoga Allah l memberikan karunia-Nya agar Asy Syariah bisa istiqamah di atas syariat.

 

Soal Rokok

Ana minta pembahasan khusus masalah rokok komplet dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah karena ada sebagian kaum muslimin berpemahaman hanya makruh.

0857521xxxxx

Apa yang anda usulkan bisa dilihat di rubrik Problema Anda edisi ini. Jazakumullahu khairan.

 

Tentang Ilmu Kimia

Pada Asy Syariah Vol. IV/edisi 46 (rubrik Permata Salaf) tentang Jauhilah Ilmu yang Tidak Bermanfaat, di situ ilmu kimia disebut di dalamnya. Padahal tanpa ilmu tersebut kita tidak dapat meneliti jika suatu makanan terdapat kandungan berbahaya seperti formalin dan semacamnya, produk makanan yang terdapat natrium benzoat berlebih, produk susu yang mengandung bakteri sakazaki. Kalau tidak ada ilmu tersebut, bagaimana kita dapat mengetahuinya, karena itu semua butuh riset untuk kemaslahatan umat dari barang syubhat. Tolong beri penjelasan.

0813955xxxxx

Ilmu kimia yang dimaksud adalah yang tidak bersandar kepada sunnah kauniyah Allah l, juga yang mengandung perkara-perkara yang haram.

Ulama Arab Saudi Mendukung Zionis?

Saya sebagai muslim tak habis mengerti kenapa Arab Saudi pusatnya ulama pewaris nabi justru mendukung kaum zionis Yahudi?

 

0813294xxxxx

Pertanyaan anda bisa jadi merupakan dampak dari fitnah yang banyak diembuskan oleh kalangan harakah (pergerakan) Islam yang nampak bersemangat tapi minim ilmu. Bagaimana sikap syar’i yang seharusnya dilakukan umat Islam berikut solusi dalam mengentaskan permasalahan tersebut sebenarnya telah dijelaskan para ulama sejak dahulu, baik oleh ulama Arab Saudi maupun lainnya. Namun demikian, kala fatwa para ulama tidak selaras dengan pola pikir dan aksi-aksi mereka (orang-orang harakah) di lapangan, beragam tuduhan dan fitnah pun dihujankan kepada para ulama.

Jihad yang dimaukan ulama adalah jihad  yang syar’i, di mana muslim Palestina memang telah memiliki kesiapan ruhiyah dan fisik untuk itu. Jadi ketika ulama tidak memfatwakan jihad untuk saat ini tidak berarti mendukung zionis Yahudi.

Oleh karena itu, tuduhan-tuduhan yang banyak disebarkan para musuh as-sunnah  itu merupakan tuduhan yang keji dan berbahaya serta bisa berdampak menjauhkan umat dengan para ulama. Padahal para ulama sendiri sangat menentang zionisme.

Pada edisi ini pembaca dapat mengetahui sebagian dari fatwa ulama dalam menyikapi konflik Palestina.