Al-Fathul A’zham / Pembebasan Kota Mekkah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Sebuah peperangan yang menentukan, Al-Fathul A’zham (kemenangan besar), menumpas tuntas keberadaan paganisme (keberhalaan). Sama sekali tidak memberi tempat bagi ajaran paganis sedikitpun bahkan tidak pula melegitimasi kesyirikan dalam bentuk apapun walau sesingkat apapun waktunya.

Maka dengan kekuatan sekitar 10.000 orang, Rasulullah n dan kaum muslimin bertolak menuju Makkah di bulan Ramadhan yang penuh berkah, tahun ke-8 hijriyah.

 

Surat Rahasia Hathib bin Abi Balta’ah z

Telah diceritakan sebelumnya, Rasulullah n menggelar persiapan yang sangat hati-hati dan rahasia. Keluarga dan orang yang paling dekat lagi dicintai oleh beliau sekalipun tidak tahu ke mana beliau hendak menuju.

Rasulullah n sendiri juga berdoa kepada Allah l: “Ya Allah, jauhkan mata-mata dan berita dari orang Quraisy hingga kami tiba di negeri mereka.”

Doa beliau dikabulkan oleh Allah l. Beliau juga melakukan langkah lain untuk mengalihkan perhatian mata-mata musuh, dengan mengirimkan pasukan kecil ke tempat lain. Misalnya pasukan Abu Qatadah ke Bathn Idham1 yang berjumlah delapan orang. Sehingga orang akan mengira beliau hendak menyerang mereka yang berada di wilayah tersebut.

Ketika pasukan ini tiba di daerah tersebut dan tidak menemukan apa-apa, mereka terus berjalan hingga tiba di Dzu Khusyub (35 mil ke arah Syam dari kota Madinah). Sampailah berita kepada mereka bahwa Rasulullah n sudah bertolak menuju Makkah. Pasukan ini pun berangkat menyusul dan bertemu dengan Rasulullah n di As-Suqya.

Di saat Rasulullah n menyelesaikan persiapan untuk bertolak menuju Makkah, ternyata Hathib telah menulis surat untuk kafir Quraisy bermaksud membocorkan rencana Rasulullah n. Akan tetapi Allah l menampakkan kepada Rasul-Nya keadaan surat itu. Lalu beliau pun mengirim ‘Ali, Zubair, dan Miqdad bin Al-Aswad g mengejar wanita yang membawa surat Hathib untuk kemudian mengambil surat tersebut.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib z dengan sanad shahih yang menceritakan:

بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ n أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ قَالَ: انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً وَمَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا. فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الرَّوْضَةِ، فَإِذَا نَحْنُ بِالظَّعِينَةِ فَقُلْنَا: أَخْرِجِي الْكِتَابَ. فَقَالَتْ: مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ. فَقُلْنَا: لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ. فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللهِ n فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُولِ اللهِ n فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: يَا حَاطِبُ، مَا هَذَا؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لاَ تَعْجَلْ عَلَيَّ، إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي، وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا وَلَا ارْتِدَادًا وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: لَقَدْ صَدَقَكُمْ. قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ، دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ. قَالَ: إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

Rasulullah n mengutus saya dan Zubair serta Miqdad bin Al-Aswad, kata beliau: “Berangkatlah hingga tiba di Raudhatu Khah, karena di sana ada seorang wanita yang sedang dalam perjalanan membawa sepucuk surat. Ambillah surat itu darinya.”

Kami pun berangkat, dalam keadaan kuda-kuda kami berlari cepat hingga kami tiba di Raudhah. Ternyata benar kami dapati seorang wanita sedang dalam perjalanan.

“Keluarkan surat itu!” kata kami.

Wanita itu berkata: “Tidak ada surat apapun pada saya.”

“Kamu keluarkan surat itu atau kami telanjangi kamu?” gertak kami.

Akhirnya wanita itu mengeluarkannya dari gelungan rambutnya.

Lalu kami bawa surat itu kepada Rasulullah n.

Ternyata isinya dari Hathib bin Abi Balta’ah kepada orang-orang musyrik Makkah. Dia mengabarkan kepada mereka sebagian urusan Rasulullah n.

“Wahai Hathib, apa ini?” kata Rasulullah n.

Hathib segera menyahut: “Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru terhadapku. Sesungguhnya aku hanyalah seseorang yang menumpang di tengah-tengah bangsa Quraisy dan bukan bagian dari mereka. Sedangkan kaum Muhajirin yang bersama engkau, mereka di Makkah mempunyai kerabat yang akan melindungi keluarga dan harta mereka. Maka karena saya tidak punya hubungan nasab dengan mereka, saya ingin berbuat jasa untuk mereka agar mereka pun menjaga kerabatku. Saya lakukan ini bukan karena kekafiran, bukan pula karena saya murtad, dan bukan pula karena ridha dengan kekafiran sesudah Islam.”

Rasulullah n berkata: “Sungguh, dia jujur kepada kalian.”

‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya tebas leher orang munafiq ini.”

Kata Rasulullah n: “Sesungguhnya dia pernah ikut perang Badr. Tahukah engkau, boleh jadi Allah telah memerhatikan ahli Badr, lalu berfirman: ‘Berbuatlah sekehendak kalian, sungguh telah Aku ampunkan untuk kalian’.”2

Walhamdulillah, surat itu tidak sampai ke tangan Quraisy. Ini merupakan nikmat dari Allah l bagi kaum muslimin dan Hathib secara khusus, karena tidak tercapai keinginannya.

Dalam dialog singkat antara Rasulullah n dan ‘Umar bin Al-Khaththab z ini, dapat kita ambil pelajaran yang sangat penting sekaligus membantah sebagian prinsip kaum Khawarij yang menyempal dari Islam. Pelajaran tersebut antara lain adalah:

1. Seorang mata-mata boleh dihukum mati, walaupun dia seorang muslim. Ini menurut pendapat Al-Imam Malik serta ulama yang menyetujuinya. Rasulullah n sendiri tidak menyalahkan ‘Umar, tetapi beliau mencegah jatuhnya hukuman itu karena Hathib termasuk salah seorang sahabat yang ikut perang Badr. Keistimewaan ini tidak akan terjadi lagi sampai hari kiamat.

2. Teguhnya ‘Umar berpegang dengan ajaran Islam, terlihat ketika beliau minta izin menebas leher Hathib z.

3. Dosa besar tidak mencabut keimanan (dari seseorang), karena apa yang dilakukan Hathib (membocorkan urusan Rasulullah n) adalah dosa besar, tetapi beliau tetap dikatakan mukmin (orang yang beriman). Bahkan dalam hadits itu disebutkan pula adanya ampunan dari Allah l untuk mereka (ahli Badar, red.).

Al-Hafizh Ibnu Hajar t ketika menjelaskan makna ampunan dari Allah l tersebut mengatakan: “Artinya, dosa-dosa kalian itu diampuni oleh Allah bagaimanapun terjadinya. Bukan berarti mereka tidak pernah berbuat dosa.”3

4. ‘Umar menyebutkan istilah munafiq kepada Hathib dengan pengertian bahasa, bukan pengertian menurut syariat, menyembunyikan kekafiran tapi menampakkan keislaman. Tapi beliau katakan demikian karena Hathib menyembunyikan sesuatu yang menyelisihi apa yang ditampakkannya, yaitu dengan mengirimkan suratnya yang bertolak belakang dengan keimanannya (berjihad di jalan Allah l).

5. ‘Umar terkesan dengan bantahan Rasulullah n sehingga dalam sekejap, dia yang tadinya begitu marah dan menuntut agar Hathib dihukum berat, berubah menangis karena takut dan terkesan dengan sabda Rasulullah n, seraya berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah n melanjutkan rencananya bersama kaum muslimin. Allah l pun menghalangi berita ini sampai kepada kaum Quraisy yang tentu saja sangat ketakutan melihat akibat dari ulah mereka sendiri. Akhirnya, Abu Sufyan, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa’ berusaha mencari-cari berita.

 

Abu Sufyan Masuk Islam

Pada waktu itu, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib sudah bertolak meninggalkan kota Makkah bersama keluarganya, sebagai muhajir (orang yang berhijrah). Di tengah perjalanan, di daerah Juhfah, dia bertemu dengan Rasulullah n. Mereka pun singgah di Marri Zhahran untuk beristirahat pada waktu malam.

Rasulullah n memerintahkan kepada pasukan agar masing-masing mereka menyalakan api. Akhirnya terlihat lebih dari sepuluh ribu api unggun menyala menerangi pasukan. Ini merupakan taktik Rasulullah n agar pasukan kaum muslimin terlihat (dari Makkah) dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang sebenarnya. Karena biasanya satu api unggun digunakan untuk sekelompok pasukan.

Malam itu, ‘Abbas dengan baghal  (peranakan kuda dan keledai, red.) Rasulullah n berkeliling mencari ranting atau seseorang untuk menyampaikan kepada Quraisy agar datang meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah n sebelum beliau memasuki kota Makkah dengan kekerasan.

‘Abbas menceritakan: Demi Allah, sungguh saya betul-betul berjalan malam itu, sampai tiba-tiba saya dengar suara Abu Sufyan berbincang-bincang dengan Budail bin Warqa’. Kata Abu Sufyan: “Aku tidak pernah melihat api dan pasukan seperti ini sebelumnya.”

Kata Budail: “Demi Allah, ini adalah Khuza’ah yang dibakar dendam untuk berperang.”

Kata Abu Sufyan: “Khuza’ah terlalu kecil dan lemah untuk bisa seperti ini apinya.”

Saya segera berseru: “Abu Hanzhalah?!”

Dia mengenal suaraku: “Abul Fadhl?!”

“Ya,” kataku.

Dia berkata: “Bapak ibuku jadi tebusanmu, ada apa ini?”

Saya katakan: “Ini Rasulullah n bersama pasukan muslimin. Celakalah Quraisy besok pagi, demi Allah.”

Dia bertanya: “Lalu apa akal (untuk selamat)?”

Saya katakan: “Demi Allah, kalau dia berhasil menangkapmu, dia pasti menebas lehermu. Ayo ikut aku naik baghal ini agar aku bawa engkau menemui beliau dan meminta perlindungan untukmu.”

Dia pun ikut membonceng di belakang, sementara dua temannya tadi segera kembali. Setiap kali melewati api kaum muslimin, mereka bertanya: “Siapa ini?” Tapi kalau mereka melihat kami, mereka berkata: “Paman Rasulullah n, di atas baghalnya.”

Akhirnya kami melewati api milik ‘Umar. Dia pun berkata: “Siapa ini?” Dia berdiri mendekatiku. Begitu melihat Abu Sufyan, dia segera berkata: “Musuh Allah? Alhamdulillah, Yang telah memberi kekuasaan terhadap kamu tanpa perjanjian dan kesepakatan.”

Dia pun bersegera menuju kemah Rasulullah n, dan saya pun memacu baghal itu agar mendahului ‘Umar. Saya berusaha mendahuluinya menemui Rasulullah n, tapi dia juga menyusul, dan segera berkata: “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Allah telah memberi anda kekuasaan terhadapnya tanpa perjanjian dan kesepakatan, maka biarkan saya menebas lehernya.”

Saya segera menukas: “Wahai Rasulullah, saya telah memberi jaminan keamanan buat Abu Sufyan.”

Ketika ‘Umar terus meminta izin kepada Rasulullah n, aku pun berkata: “Perlahan, hai ‘Umar. Kalau dia ini dari Bani ‘Adi bin Ka’b, tentu kau tak akan berkata begini.”

‘Umar membalas: “Tunggu, hai ‘Abbas. Demi Allah, sungguh keislamanmu lebih aku cintai daripada keislaman Al-Khaththab (bapak ‘Umar) kalaupun dia masuk Islam. Mengapa tidak, karena keislamanmu lebih dicintai oleh Rasulullah n daripada keislaman Al-Khaththab.”

Rasulullah n pun berkata: “Bawa dia pergi ke tempatmu, hai ‘Abbas. Besok pagi bawa dia kepadaku.”

Aku pun melaksanakan perintah beliau.

Esok harinya, aku membawa Abu Sufyan menemui Rasulullah n. Kemudian beliau pun berkata: “Celaka engkau, hai Abu Sufyan! Apa belum tiba waktunya kau tahu bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah?”

Abu Sufyan berkata: “Demi bapak dan ibuku tebusanmu, alangkah santunnya engkau. Alangkah pemurah dan hebatnya engkau menyambung tali silaturrahmi!! Demi Allah, sungguh aku sudah menyangka seandainya bersama Allah ada yang lain tentulah dia menyelamatkanku.”

Beliau berkata lagi: “Celaka engkau, Abu Sufyan. Apa belum tiba waktunya kau tahu bahwa aku adalah Rasul Allah?”

Kata Abu Sufyan: “Demi bapak dan ibuku tebusanmu, alangkah santunnya engkau. Alangkah pemurah dan hebatnya engkau menyambung tali silaturrahmi!! Adapun ini, dalam diriku sampai saat ini masih ada ganjalan.”

‘Abbas segera berkata kepadanya: “Celaka engkau, cepat masuk Islam sebelum lehermu ditebas.”

Lalu dia pun mengucapkan syahadat yang haq dan masuk Islam. ‘Abbas berkata: “Sebetulnya Abu Sufyan ini orang yang suka dihormati, maka berilah dia sesuatu.”

Kata Rasulullah n: “Baik. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, maka dia aman. Siapa yang mengunci rumahnya, dia aman. Dan siapa yang masuk ke dalam Masjid (Al-Haram) dia aman.”

Ketika dia hendak kembali, Rasulullah n berkata: “Wahai ‘Abbas, tahan dia di tempat sempit di lembah ini, dekat lereng bukit agar dia melihat bala tentara Allah melintas.”

Aku pun berangkat untuk menahannya di tempat tersebut.

Satu persatu barisan tentara Allah itu lewat di hadapan Abu Sufyan. Setiap satu kabilah melintasinya, dia bertanya: “Ini kabilah apa?”

“Ini kabilah Sulaim,” kata ‘Abbas.

“Apa urusanku dengan Sulaim?” kata Abu Sufyan.

Kemudian lewat pula satu kabilah, Abu Sufyan bertanya lagi: “Ini kabilah apa?”

Kata ‘Abbas: “Ini Muzayyinah.”

Abu Sufyan menukas: “Apa urusanku dengan Muzayyinah?”

Demikianlah, hingga dia melihat Rasulullah n bersama pasukan hijau yang di dalamnya terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Tidak satu pun dia lihat dari mereka melainkan sikap yang lebih keras daripada besi. Sementara Rasulullah n berada di atas untanya Al-Qushwa, di antara Abu Bakr dan Usaid bin Hudhair.

Sementara bendera pasukan Anshar dibawa Sa’d bin ‘Ubadah, sedangkan bendera Nabi n bersama Az-Zubair. Abu Sufyan berkata melihat pasukan tersebut: “Subhanallah, hai ‘Abbas siapa mereka ini?”

Kata ‘Abbas: “Ini Rasulullah n di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshar.”

Abu Sufyan pun berkomentar: “Hai Abul Fadhl, akhirnya kerajaan anak saudaramu ini telah menjadi kekuatan besar.”

‘Abbas segera membantah: “Wahai Abu Sufyan, inilah nubuwwah.”

“Betul, kalau begitu,” sahut Abu Sufyan.

Ketika Sa’d bin ‘Ubadah melintasi Abu Sufyan dan melihatnya, dia pun berkata: “Hari ini hari pertumpahan darah. Hari ini dihalalkan kehormatan. Hari ini Allah hinakan Quraisy.”

Mendengar ini, Abu Sufyan mengadu kepada Rasulullah n ketika beliau berpapasan dengannya: “Engkau memerintahkan agar memerangi kaummu sendiri? Sa’d dan yang bersamanya mengatakan bahwa dia memerangi kami. Hari ini hari pertumpahan darah. Hari ini dihalalkan kehormatan. Hari ini Allah hinakan Quraisy. Saya sumpahi engkau demi Allah, tentang urusan kaummu. Engkau adalah orang paling baik di antara mereka, paling penyayang dan menyambung kasih sayang.”

‘Utsman dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf menimpali: “Wahai Rasulullah, kami tidak merasa aman dengan sikap Sa’d, kalau-kalau dia menyerang Quraisy.”

Maka Rasulullah n segera menukas: “Wahai Abu Sufyan, hari ini adalah hari kasih sayang. Hari ini Allah memuliakan Quraisy.”

Kemudian beliau perintahkan mengambil bendera dari Sa’d dan menyerahkannya kepada putranya Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah, sehingga tidak keluar dari (keluarga)nya.

‘Abbas berkata kepada Abu Sufyan: “Pulanglah.” Setelah Abu Sufyan menemui kaumnya, ia berteriak dengan keras: “Wahai seluruh bangsa Quraisy. Ini Muhammad, dia datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak mungkin kalian hadapi. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan dia aman.”

Tiba-tiba istrinya, Hindun bintu ‘Utbah segera berdiri menarik kumisnya dan membentak: “Bunuh manusia gendut yang tak berguna ini.”

Abu Sufyan tetap berseru: “Celaka kalian, jangan hiraukan perempuan ini, selamatkan diri kalian. Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, dia selamat. Siapa yang masuk ke Masjid Al-Haram, dia selamat dan siapa yang mengunci pintu rumahnya, dia selamat.”

Sebagian mereka menyahut: “Apa untungnya kami masuk rumahmu?”

Akhirnya mereka berpencar menyelamatkan diri. Ada yang masuk ke dalam rumahnya, ada pula yang menuju Masjid Al-Haram.

Perlahan tapi pasti, Rasulullah n mulai mendekati pintu kota Makkah. Beliau pun membelitkan sorbannya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga hampir menyentuh punggung kendaraannya, bersyukur memuji Allah l, melihat kemuliaan yang Allah l berikan kepadanya. Dahulu beliau keluar dari Makkah dalam keadaan terusir, dihinakan. Kini beliau kembali ke kampung halaman, dalam keadaan mulia dan dimuliakan.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah l limpahkan untukmu, wahai junjungan.

(Bersambung InsyaAllah)

Kebenaran Tercampakkan Karena Kedengkian dan Kesombongan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

 

Nikmat-nikmat yang Allah l limpahkan kepada umat manusia tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antara nikmat paling agung yang Allah l limpahkan adalah diciptakan-Nya mereka di atas fitrah yang mulia. Sebagaimana firman Allah l:

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30)

Di antara fitrah yang Allah l ciptakan umat manusia di atasnya adalah mencintai kebenaran dan mencarinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Hati adalah makhluk yang mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya.” (Majmu’ Fatawa, 10/88)

Beliau pun berkata: “Maka sesungguhnya al-haq (kebenaran) itu dicintai fitrah yang baik, dan dia (al-haq) itu lebih dicintai, lebih dimuliakan, lebih lezat bagi fitrah dibandingkan kebatilan yang tidak ada hakikatnya. Sungguh fitrah tidak mencintai hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 16/338)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Agama Islam itu adalah agama yang hikmah. Maknanya, mengilmui kebenaran dan mengamalkannya dalam seluruh perkara.” (Taisirul Lathifil Mannan, hal. 58)

Sehingga apabila jiwa itu tetap di atas fitrahnya, maka tidak akan menuntut kecuali kebenaran. Sedangkan kebenaran itu telah jelas dan terang, tidak ada kesamaran atasnya.

Al-’Allamah Ibnul Qayyim t berkata: “Sesungguhnya kesempurnaan seseorang itu berkisar pada dua hal:

1. Kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan

2. Lebih memilih kebenaran tersebut daripada kebatilan.

Tidaklah kedudukan makhluk di sisi Allah l, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali ditentukan oleh kadar perbedaan mereka dalam dua perkara tersebut. Karena dua perkara inilah, para nabi dipuji oleh Allah l dalam firman-Nya:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang memiliki kekuatan dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)

الْأَيْدِي maknanya kuat dalam melaksanakan kebenaran, الْأَبْصَارُ maknanya kemampuan membedakan antara kebenaran dengan kebatilan dalam urusan agama.

Dalam ayat ini, Allah l menyifati mereka, para nabi, dengan kesempurnaan memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam mengamalkannya.” (Al-Jawabul Kafi, hal. 139)

Oleh karena itulah, setiap hamba wajib berpegang teguh dengan fitrahnya dan berhati-hati terhadap sebab-sebab yang akan menghalanginya dari kebenaran (al-haq), serta takut terhadap segala sesuatu yang akan menyimpangkannya. Apabila ada suatu hal yang telah menggelincirkannya dari kebenaran tersebut, dia segera kembali kepada al-haq itu dan berusaha memeganginya dengan kuat.

Adapun faktor-faktor yang akan menghalangi dan menyimpangkan seorang hamba dari al-haq banyak sekali jumlahnya. Bisa berasal dari diri sendiri, seperti kebodohan dan hawa nafsunya. Bisa juga dari luar dirinya, seperti setan dari golongan jin dan manusia.

Di antara sekian banyak faktor tadi, yang paling banyak menggelincirkan makhluk dari jalan Allah l adalah al-kibr (kesombongan) dan al-hasad (kedengkian) yang ada pada dirinya.

Kesombongan dan kedengkian inilah yang menyeret Iblis la’natullah alaih untuk durhaka kepada Allah l. Kedurhakaan Iblis ini adalah yang pertama kali dalam alam semesta. Hal itu terjadi karena Iblis iri dan dengki dengan keutamaan serta kedudukan Adam q. Di mana Allah l memilih beliau untuk menjadi khalifah di muka bumi, Allah l ajari beliau berbagai nama (benda) seluruhnya, serta Allah l perintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya. Hal inilah yang menyeret Iblis untuk durhaka kepada Allah l.

Demikian pula, kesombongan dan kedengkianlah yang menyeret Yahudi untuk tidak beriman kepada Allah l dan mengingkari kenabian Muhammad n. Mereka adalah ahlul kitab, yang mengetahui berita akan diutusnya beliau n melalui kitab Taurat dan Injil. Sebelum beliau n diutus, mereka juga sering menceritakan kepada orang-orang Arab bahwa waktu diutusnya Muhammad n telah dekat. Setelah diutusnya beliau n, mereka juga betul-betul yakin bahwa beliau n adalah utusan Allah l, sebagaimana yakinnya mereka terhadap anak-anak mereka sendiri.

Allah l berfirman:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)

Yang menyeret mereka untuk mendustakan dan enggan untuk beriman kepada beliau n adalah kesombongan dan kedengkian. Hal ini terjadi karena beliau bukan berasal dari bangsa mereka, di mana mereka merasa lebih mulia daripada bangsa Arab.

Apabila kesombongan dan kedengkian itu mampu menyeret manusia ke dalam kekafiran, padahal dosa ini adalah dosa yang paling besar, maka bagaimana tidak mungkin akan menyeret kepada dosa-dosa lain yang lebih kecil? Tentunya sangat mudah, kecuali orang-orang yang mendapatkan perlindungan dan hidayah taufik dari Allah l.

 

Al-Hasad (Kedengkian)

Allah l berfirman:

“Ataukah mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (An-Nisa’: 54)

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:

وَلاَ تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling iri dan dengki.” (HR. Muslim)

Dalil-dalil di atas menunjukkan haramnya hasad (iri dan dengki). Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk bersungguh-sungguh menjaga dirinya dari penyakit tersebut, serta khawatir dirinya akan terjatuh padanya. Juga senantiasa berupaya membersihkan diri darinya. Karena hasad itu sangat tersembunyi di dalam jiwa, sewaktu-waktu bisa muncul dan membinasakan dirinya. Wal ‘iyadzu billah.

Al-Allamah Abdurrahman Al-Mu’allimi t berkata: “Hasad itu hakikatnya adalah apabila orang lain yang menerangkan kebenaran, maka dia (orang yang dalam hatinya ada iri dan dengki) menganggap bahwa bila dia meyakini kebenaran tersebut berarti dia mengakui kelebihan ilmu dan keutamaan orang itu, serta mengakui kebenaran yang ada pada diri orang tersebut. Sehingga akan semakin membesarkan kewibawaannya di mata umat. Barangkali orang yang mengikuti dia akan semakin banyak. Sungguh engkau akan dapati sebagian orang yang berambisi menyalahkan orang lain adalah dari kalangan ulama, walaupun dengan cara yang batil sekalipun. Hal itu terjadi karena kedengkiannya dan upaya menjatuhkan kedudukannya di mata umat. Kebanyakan terjadinya saling iri dan dengki itu adalah di antara orang-orang yang seusia, sederajat, seprofesi, atau sekelas (aqran dari kalangan penuntut ilmu).” (At-Tankil, 2/190)

Oleh karena itulah, kebanyakan orang menolak (tidak mau menerima) kebenaran apabila orang yang membawa kebenaran itu adalah orang yang dianggap sederajat dengannya. Padahal dia akan menerima kebenaran tersebut kalau yang menyampaikan adalah gurunya atau orang yang lebih tinggi darinya.

Abu Hatim Ibnu Hibban t berkata: “Kebanyakan hasad (iri dan dengki) itu terjadi di antara aqran (orang-orang yang seumur, sekelas, seprofesi). Orang-orang yang sama profesinya, seperti para penulis, tidak akan hasad kepadanya kecuali para penulis juga. Sebagaimana para hafizh itu tidak akan hasad kepadanya kecuali para hafizh pula. Dan seseorang tidak akan mencapai suatu kedudukan dari berbagai kedudukan dunia kecuali dia pasti akan mendapati orang yang membenci dirinya karena kedudukan tersebut (karena iri dan dengki kepadanya). Maka, orang yang hasad adalah lawan yang senantiasa berusaha menentang.” (Raudhatul ‘Uqala, hal. 136)

Asy-Syaukani t berkata: “Di antara sebab yang menghalangi seseorang bersikap inshaf (adil dan ilmiah) adalah apa yang terjadi di antara orang-orang yang berlomba-lomba mendapatkan keutamaan di antara aqran (selevel). Hal itu terjadi pula dalam urusan kepemimpinan dunia maupun agama. Maka apabila setan telah mengembuskan (api hasad) pada dirinya, persaingan pun semakin sengit, sampai pada suatu tingkatan yang bisa menjerumuskan masing-masingnya untuk menolak segala sesuatu yang dibawa oleh lawannya (walaupun berupa kebenaran yang sangat jelas).

Dalam perseteruan ini, sungguh kita menyaksikan dan mendengarkan peristiwa-peristiwa yang mengherankan yang dilakukan oleh segolongan orang-orang yang berilmu layaknya perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka menolak kebenaran yang dibawa pihak lawannya serta membantah dengan cara yang batil1.” (Adabuth Thalib, hal. 91-92)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Kesimpulannya, hasad adalah akhlak yang tercela. Yang sungguh memprihatinkan adalah bahwa kebanyakan hasad tersebut terjadi di antara para ulama dan thalabatul ilmi (penuntut ilmu). Terjadi pula hasad di antara para pedagang. Orang-orang yang memiliki profesi yang sama akan hasad terhadap orang-orang yang seprofesi dengannya. Namun yang paling memprihatinkan adalah hasad di antara para ulama lebih dahsyat. Hasad di antara para penuntut ilmu juga lebih dahsyat. Padahal semestinya orang-orang yang berilmu adalah orang yang paling jauh dari penyakit ini. Mereka mestinya adalah orang yang paling baik akhlaknya. (Kitabul ‘Ilmi, hal. 74)

 

Al-Kibr (Kesombongan)

Allah l berfirman:

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Ghafir: 35)

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud z)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Karena faktor-faktor inilah, orang-orang Yahudi terus-menerus di atas kebatilannya. Yaitu karena apa yang ada dalam hati-hati mereka seperti kesombongan, kedengkian, keras kepala, dan tabiat-tabiat jelek lainnya.” (Naqdhul Manthiq, hal. 27)

Dengan hal inilah kita mendapatkan kejelasan bahwa kesombongan itu adalah salah satu penghalang untuk menerima kebenaran.

Demikian juga apabila kesombongan itu telah memenuhi hatinya, akan menjadikan pemiliknya menganggap dirinya tinggi dan sempurna, sehingga merasa tidak membutuhkan orang lain. Hal ini juga akan menghalanginya dari evaluasi dan introspeksi diri, barangkali yang keliru adalah dirinya. Inilah keadaan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu.

Ibnul Jauzi t berkata: “Orang yang sombong adalah orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain (dalam segala perkara).” (At-Tabashshurah, 2/222)

Al-Imam Asy-Syathibi t berkata: “Orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim bagi dirinya, maka mereka tidak akan memedulikan apapun. Mereka tidak akan memperhitungkan hal-hal yang menyelisihi pendapatnya sama sekali. Mereka juga tidak mau introspeksi diri atau mengevaluasi pandangan-pandangannya. Tidak sebagaimana sikap orang-orang yang berusaha mencurigai dirinya sendiri (barangkali kesalahan ada di pihaknya), dan akan berhenti tatkala menimbulkan suatu permasalahan (padahal inilah sikap orang-orang yang berakal).” (Al-I’tisham, 2/269)

Orang-orang yang mengikuti kebenaran adalah orang-orang yang tawadhu’. Orang-orang yang senantiasa mengintrospeksi dirinya adalah orang-orang yang gigih mencari dan menuntut kebenaran. Oleh karena itu, mereka tidaklah enggan untuk mengevaluasi pendapatnya. Tidak enggan pula untuk menuntut hakikat kebenaran dari suatu pemasalahan. Lebih-lebih pada hal-hal yang menimbulkan masalah.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Sungguh aku telah mendengar Asy-Syaikh Muqbil lebih dari sekali berkata: ‘Demi Allah, kami tidak mengkhawatirkan dakwah ini, kecuali dari diri-diri kami.’ Aku (Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam) katakan: Demi Allah, sungguh Asy-Syaikh Muqbil t memiliki firasat yang tepat, di mana Rasulullah n membuka khutbahnya dengan ucapan:

وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari kejelekan amalan kami.”

Maka, jiwa kita, apapun kebaikan yang ada padanya, mesti terdapat kekurangan atau kejelekan.” (At-Tanbihul Hasan, hal. 68-69)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Seseorang beralih dari suatu pendapat kepada pendapat yang lain karena kejelasan yang dia dapatkan, adalah sikap terpuji. Berbeda dengan sikap orang yang sombong, terus-menerus di atas suatu pendapat yang tidak mengandung hujjah atau dalil yang kuat (ini adalah sikap yang tercela). Sedangkan meninggalkan suatu pendapat yang telah jelas hujjah atau dalilnya, atau berpindah dari suatu pendapat kepada pendapat lain karena adat dan mengikuti hawa nafsu, itu adalah sikap yang tercela pula.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 5/125)

 

Terapi Hati dari Penyakit Sombong dan Hasad

Rasulullah n bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Makna tawadhu’ adalah menerima kebenaran dengan tunduk kepadanya, menghina diri, patuh, dan masuk di bawah perbudakannya. Di mana kebenaran itulah yang mengatur dirinya, sebagaimana seorang raja mengatur kekuasaannya. Dengan inilah seorang hamba akan mendapatkan akhlak tawadhu’. Agar bisa bersikap demikian, seorang muslim membutuhkan ilmu, ikhlas, sabar, dan latihan yang terus-menerus, diiringi doa, serta senantiasa menjaga keselamatan hati dari penyakit-penyakitnya (ujub, riya, sum’ah sombong, hasad, dll).

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10)

Hammad bin Ibrahim berkata: “Kebenaran itu telah jelas dan mudah. Di mana manusia diciptakan di atas fitrahnya untuk mengetahui, mencintai, dan menerima kebenaran tersebut, kecuali orang yang telah rusak fitrahnya. Rasulullah n memerintahkan Abu Dzar z untuk mengatakan kebenaran walaupun pahit. Hal ini (kebenaran yang pahit rasanya) adalah bagi orang yang belum terlatih jiwanya. Demikian juga bagi ahli bid’ah serta orang yang mengikuti hawa nafsunya.” (Ash-Shawarif ‘anil Haq, hal. 41)

Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “Ucapan mereka bahwa kebenaran itu pahit, itu adalah bagi orang yang belum terlatih jiwanya (untuk menerimanya) dan hatinya sakit. Seorang penyair berkata:

فَمَنْ يَكُنْ ذَا فَمٍ مُرّ مَرِيضٍ يَجِدْ مُرًّا بِهِ الْمَاءَ الزُّلَالَا

Orang yang mulutnya pahit, dia sakit

dia merasakan pahit dengannya air yang segar.

Maka, orang yang sehat fitrahnya akan senang dengan (kebenaran) itu walaupun berat.” (Adz-Dzani’ah ila Makarisy Syari’ah, hal. 126)

Al-Khaththabi t berkata: “Manusia itu tidak akan berubah dari tabiat-tabiatnya yang jelek, dan tidak akan meninggalkan kesenangannya terhadap berbagai macam kebiasaan kecuali dengan latihan-latihan yang keras dan pengobatan yang serius.” (A’lamul Hadits, 1/218)

Siapapun yang jiwanya belum terlatih menerima kebenaran, maka jiwa tersebut membutuhkan latihan dan pendidikan sampai jiwa itu menuruti kebenaran dan tunduk kepadanya, senantiasa mengoreksi amalan-amalan yang telah dia lakukan, dan senantiasa mensyukuri segala nikmat Allah l, sehingga mudah menerima al-haq.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu adalah kebenaran dan karuniakanlah kepada kami rezeki untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami yang batil itu adalah batil dan karuniakanlah kepada kami rezeki untuk menjauhinya. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaf: 15)

Ya Allah, limpahkanlah qalbun salim (hati yang selamat dan bersih) kepada kami kaum muslimin, mukminin, salafiyyin, hati yang selalu menerima al-haq, mencintainya dan selalu mendahulukannya, hati yang putih bersih yang memancarkan cahaya iman, yang kokoh di atas al-haq.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Bahaya Berloyalitas Dengan Orang Kafir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

 

Islam adalah agama yang haq. Hanya Islam yang akan diterima oleh Allah l. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali ‘Imran: 19)

Allah l berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, tidaklah akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Rasulullah n berkata:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah ada seorang dari umat ini mendengarku, baik Yahudi atau Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, maka dia adalah penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Ketahuilah, di antara perkara yang telah diajarkan dalam Islam adalah menjauhi dan tidak berwala’ (loyalitas) kepada orang kafir. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An-Nisa’: 144)

Allah l berfirman:

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (Ali ‘Imran: 28)

Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Ma’idah: 51)

Ketahuilah, ada beberapa hal yang harus dilakukan, diperhatikan, dan dipenuhi dalam rangka menyempurnakan sikap bara’ (berlepas diri) terhadap orang kafir, di antaranya:

1. Meninggalkan (tidak mengikuti) hawa nafsu mereka. Allah l telah melarang mengikuti hawa nafsu mereka dalam Al-Qur’an, di antaranya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

Allah l mengancam orang yang mengikuti hawa nafsu orang kafir dengan ancaman yang keras. Allah l berfirman:

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai hukum dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu dari Allah.” (Ar-Ra’d: 37)

 

2. Tidak menaati perintah-perintah mereka, karena Allah l melarang kita taat kepada orang kafir dan menegaskan jika kaum mukminin menaati mereka niscaya mereka akan dikembalikan kepada kekufuran.

Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 149)

Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Ali Imran: 100)

 

3. Tidak menyandarkan diri kepada orang kafir dan orang-orang zalim.

Allah l berfirman:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

Allah l berfirman:

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong kepada mereka. Jika terjadi demikian, benar-benarlah akan Kami timpakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapati seorang penolong pun terhadap Kami.” (Al-Isra: 74-75)

 

4. Tidak mencintai dan menyayangi musuh-musuh Allah l.

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (Al-Mujadilah: 22)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menerangkan, “Allah l mengabarkan bahwasanya tidak ada orang mukmin yang mencintai orang kafir. Barangsiapa mencintai orang kafir (yakni mencintai karena agama) maka dia bukanlah mukmin.”

 

5. Tidak bertasyabbuh (menyerupai) orang kafir dalam perbuatan mereka yang dhahir/lahir. Karena hal tersebut akan menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan loyalitas dalam hati. Sebagaimana rasa cinta dalam batin akan menyebabkan ingin meniru secara lahir. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah n:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka termasuk golongan mereka.”

(Lihat Sabilun Najah Wal Fikak min Muwalatil Murtaddin wa Ahli Asy-Syirk hal. 50-85)

 

Seruan Persatuan Agama bukan Ajaran Islam

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa Islam adalah satu-satunya agama di sisi Allah l dan Islam memerintahkan kaum muslimin untuk tidak berloyalitas apalagi mencintai serta berkasih sayang dengan orang kafir.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengingatkan para pembaca tentang satu bahaya yang harus kita waspadai dan kita peringatkan umat darinya. Yaitu munculnya orang-orang yang dianggap “tokoh” belakangan ini yang menyerukan seruan sesat: persatuan agama samawi (penyatuan agama Ibrahimiyah, persaudaraan lintas iman, atau istilah yang sejenis).

Ini adalah seruan yang kufur dan menyeret kepada kekufuran. Karena, seruan kufur ini sama dengan menyeru untuk tidak mengafirkan orang kafir. Lebih parah dari itu, sama dengan menolerir serta membenarkan keyakinan orang-orang kafir.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata, “Barangsiapa tidak mengkafirkan musyrikin atau ragu tentang kekafiran mereka atau membenarkan keyakinan mereka, maka dia telah terjatuh dalam kekafiran.” (Lihat risalah Nawaqidhul Islam)

Telah ada fatwa ulama dalam masalah ini, di antaranya fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah no. 19402, 25 Muharam 1418 H, tersebut dalam poin ke-8 dalam fatwa tersebut:

“Seruan kepada persatuan agama jika muncul dari seorang muslim jelas merupakan kemurtadan dari agama Islam karena berlawanan dengan pokok-pokok aqidah. Karena (dia) menyeru untuk meridhai kekufuran kepada Allah l, mengingkari kebenaran Al-Qur’an dan keadaannya yang menghapus kitab-kitab sebelumnya, mengingkari bahwa Islam menghapus seluruh agama, syariat, dan lainnya. Berdasarkan hal ini maka seruan tersebut adalah pemikiran yang tertolak secara syar’i dan dipastikan keharamannya, berdasarkan semua dalil syar’i dalam Islam dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’.” (Dinukil dari Risalah Tsalats Fatawa Muhimmah)

 

Seruan Persatuan Agama Adalah Pemikiran Yahudi-Nasrani

Seruan ini sebetulnya seruan yang berasal dari kaum Yahudi dan Nasrani untuk menyesatkan dan memurtadkan kaum muslimin. Berdasarkan perjalanannya dalam sejarah, seruan mereka ini mengalami empat marhalah (fase):

1. Di zaman Rasulullah n

Allah l telah memberitakan bagaimana usaha Yahudi dan Nasrani untuk memurtadkan kaum muslimin dari agamanya, mengembalikan mereka kepada kekufuran dan menyeru untuk mengikuti Yahudi atau Nasrani.

Allah l berfirman:

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 109)

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (Al-Baqarah: 135)

2. Marhalah kedua adalah menyeru kepada pemikiran ini setelah habisnya masa tiga generasi utama.

Muncul kembali di masa ini seruan kufur ini dengan slogan bahwa Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah seperti mazhab yang empat yang ada pada kaum muslimin. Pemikiran ini diterima oleh sebagian penyeru “wihdatul wujud”, ahlul hulul wal ittihad, orang-orang sesat dari kalangan Shufiyah (sufi) di Mesir, Syam, dan Persia serta sebagian negeri non-Arab. Demikian juga orang-orang sesat dari kalangan Rafidhah. Kesesatan mereka sampai taraf membolehkan seseorang masuk Yahudi atau Nasrani, bahkan menyatakan Yahudi dan Nasrani lebih afdhal (utama). Syaikhul Islam t telah membahas dan menyingkap kebobrokan mereka dalam kitab-kitabnya (lihat Majmu’ Fatawa). Di antara orang-orang ekstrem yang telah dibantah Ibnu Taimiyah adalah: Al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, At-Tilmisani, dan Ibnu Hud.

3. Marhalah ketiga adalah menyeru kepada pemikiran ini di pertengahan abad ke-14 H.

Seruan kepada kekufuran ini kemudian kembali didengungkan pada masa tersebut yang dipelopori kelompok Freemasonry yaitu gerakan Yahudi untuk menguasai dunia dan menyebarkan kesesatan dengan: Menyeru persatuan agama, menolak ta’ashub karena semua beriman kepada Allah l. Di antara yang terjerat jaring dakwah mereka adalah Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Di antara ulah Muhammad Abduh adalah bersama seorang Iran, Muhammad Baqir Al-Irani, yang telah masuk Nasrani kemudian kembali kepada Islam, dan beberapa orang lainnya membuat satu organisasi Jum’iyah Ta’lif wa Taqrib (Penyatuan dan Pendekatan). Inti kerja perkumpulan ini adalah mendekatkan (menyatukan) tiga agama.

4. Marhalah keempat adalah menyeru kepada pemikiran ini di masa sekarang

Di akhir abad ke-14 sampai zaman kita ini, Yahudi dan Nasrani kembali menyuarakan persatuan agama ini dengan berbagai macam slogan:

– Persatuan pengikut Musa q, Isa q, dan Muhammad n

– Seruan persatuan agama Ibrahimiyah, dan slogan-slogan lainnya.

(Lihat tentang perkembangan pemikiran ini dalam kitab Al-Ibthal li Nazhariyatil Khalth baina Dinil Islam wa Ghairiha minal Adyan hal. 16-24)

Kami paparkan perkembangan pemikiran kufur ini agar jelas bagi kita bahwa pemikiran ini berasal dari Yahudi dan Nasrani, yang dibungkus dengan slogan-slogan yang menipu kaum muslimin.

Oleh karenanya seorang muslim tidak boleh menerima seruan tersebut, apalagi mengikuti pertemuan-pertemuan/muktamar-muktamar mereka. Bahkan seorang muslim haruslah menolak dan memperingatkan umat dari pemikiran sesat ini serta mengusirnya dari negeri kaum muslimin. Pemerintahan muslim wajib menghukum para penyeru pemikiran ini dengan hukuman atas seorang murtad. Ini semua dalam rangka menjaga agama, dan sebagai sebuah bentuk ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n serta menjaga aqidah kaum muslimin.

Ketahuilah, barakallahu fikum (semoga Allah l memberkahi Anda sekalian), makar Yahudi dan Nasrani yang didukung para “tokoh” kesesatan untuk memurtadkan kaum muslimin akan terus bergulir. Allah l berfirman:

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)

Mudah-mudahan sedikit yang kami sampaikan ini bisa menjadi peringatan dan menjadi bekal bagi kita semua untuk senantiasa menjaga diri kita dan keluarga dari makar orang-orang kafir.

Wallahu a’lam.

Agama Hancur Karena Ambisi Harta dan Kedudukan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Dari putra Ka’b bin Malik dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الرَّجُلِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan dalam sekawanan kambing lebih merusak terhadapnya daripada merusaknya ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib Wat Tarhib no. 1710)

Ibnu Rajab Al-Hambali t berkata:

“Ini sebuah perumpamaan yang agung sekali. Nabi n sebutkan sebagai perumpamaan rusaknya agama seorang muslim karena ambisinya terhadap harta dan kedudukan di dunia. Juga bahwa rusaknya agama karena hal tersebut tidak lebih ringan dari hancurnya sekawanan kambing karena serangan dua ekor serigala pemangsa yang lapar di malam hari saat penggembala tidak menjaganya. Kedua serigala itu memangsa kambing tersebut dan memakannya. Seperti diketahui, tidak akan ada yang selamat dari sergapan serigala tersebut dalam kondisi seperti ini kecuali sedikit. Nabi n pun memberitakan bahwa ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan merusak agamanya di mana ini tidak lebih ringan dari perusakan serigala tersebut terhadap sekawanan kambing itu, bahkan mungkin sama atau lebih parah. Beliau n ingin mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat bila dia berambisi terhadap harta dan kedudukan di dunia ini kecuali sedikit (dari agamanya), sebagaimana kambing-kambing tersebut tidak selamat dari sergapan serigala melainkan sedikit. Dengan demikian, perumpamaan ini mengandung peringatan keras dari kejahatan ambisi terhadap harta dan kedudukan di dunia.

Ambisi terhadap harta ada dua macam:

Pertama, sangat cinta harta dan sangat berupaya mencarinya dari jalan-jalannya yang mubah serta berlebihan dalam mencarinya. Sangat serius dalam memperolehnya dari berbagai jalannya dengan getol dan bersusah payah.

Terdapat dalam sebagian riwayat bahwa sebab munculnya hadits ini adalah jatuhnya sebagian orang ke dalam jenis ini…

Bila dalam ambisi harta benda tidak ada efek kecuali sekadar menyia-nyiakan umur yang mulia yang (membuatnya) tidak berharga –padahal semestinya dapat ia gunakan untuk memperoleh derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Namun dia sia-siakan dengan ambisinya dalam mencari rezeki, yang (sebenarnya) telah Allah l jamin dan Allah l bagi-bagi. Padahal seseorang tidak mendapatkannya melainkan sesuai dengan apa yang telah Allah l tentukan untuknya, lantas ia sendiri tidak memanfaatkannya bahkan meninggalkannya untuk orang lain, berpisah dengannya, tinggal perhitungannya ia tanggung sedang manfaatnya untuk orang lain– cukuplah ini sebagai cela bagi seorang yang ambisius. Seorang yang berambisi menyia-nyiakan waktunya yang mulia dan berspekulasi dengan dirinya…

Ibnu Mas’ud z berkata: “Yakin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan mengakibatkan murka Allah l, dan engkau tidak iri kepada seorang pun karena rezeki yang Allah l karuniakan kepadanya, engkau tidak mencela seorang pun atas apa yang Allah l belum berikan kepadamu. Karena sesungguhnya rezeki Allah l itu tidak dapat digiring oleh ambisi seseorang. Tidak pula dapat ditolak oleh kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah l–dengan keadilan-Nya– menjadikan ketenangan dan kebahagiaannya pada keyakinan dan keridhaan. Allah l juga menjadikan kegundahan dan kesedihannya pada keraguan dan kemarahan…

Kedua, ambisi terhadap harta lebih dari apa yang disebutkan pada macam yang pertama. Sehingga dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan tidak menunaikan hak yang wajib. Ini termasuk syuh (ambisi) yang tercela. Allah l berfirman:

“Dan siapa yang dipelihara dari syuh (kekikiran) dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Dalam Sunan Abu Dawud dari Abdullah bin Umar c, dari Nabi n:

اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، أَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Berhati-hatilah kalian dari syuh (ambisi), karena hal itu menghancurkan orang yang sebelum kalian. Memerintahkan mereka untuk memutus hubungan silaturrahmi, maka mereka memutusnya. Memerintahkan mereka untuk tidak berinfak, mereka pun tidak berinfak. Memerintahkan mereka untuk berbuat jahat, mereka pun berbuat jahat.”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir z, dari Nabi n, beliau bersabda:

اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Berhati-hatilah kalian dari syuh, karena hal itu telah membuat binasa orang-orang sebelum kalian, membuat mereka menumpahkan darah, dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan atas mereka.”

Sekelompok ulama mengatakan: “Syuh berarti ambisi besar yang membuat penyandangnya mengambil sesuatu yang tidak halal dan tidak mau menunaikan hak yang wajib. Hakikatnya adalah jiwanya sangat merindukan apa yang diharamkan Allah l dan dia dilarang darinya, serta seseorang tidak merasa puas dengan apa yang Allah l halalkan berupa harta, kebutuhan nikahnya, ataupun selainnya.”

Sesungguhnya Allah l telah halalkan untuk kita hal-hal yang baik dari makanan, minuman, atau pakaian, serta kebutuhan nikah. Allah l haramkan memanfaatkan itu semua tanpa melalui jalurnya yang halal. Allah l halalkan untuk memerangi orang-orang kafir yang memerangi serta menghalalkan harta mereka. Allah l juga mengharamkan hal-hal yang jelek selain itu dari makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan nikah. Allah l juga haramkan atas kita untuk menumpahkan darah tanpa alasan yang benar. Barangsiapa membatasi diri pada apa yang dihalalkan maka dia adalah seorang mukmin. Sedangkan barangsiapa yang melampaui (batas) kepada yang dilarang maka ini yang disebut syuh yang tercela, dan ini bertentangan dengan iman. Oleh karenanya, Nabi n memberitakan bahwa syuh itu memerintahkan kepada pemutusan hubungan silaturrahmi, kejahatan, dan kebakhilan. Kebakhilan itu sendiri bermakna seseorang menahan apa yang ada di tangannya (tidak mau menginfakkannya). Adapun syuh bermakna mengambil sesuatu yang bukan miliknya dengan cara yang zalim dan permusuhan, baik itu harta atau yang lainnya. Sampai-sampai disebut bahwa syuh itu merupakan pokok segala maksiat.

Dengan makna inilah, Ibnu Mas’ud z dan ulama salaf yang lainnya menafsirkan kata syuh dan kebakhilan. Dari sinilah kita mengetahui makna hadits Abu Hurairah z, dari Nabi n:

“Tidak akan berkumpul antara syuh dan iman dalam qalbu seorang mukmin.”

Juga hadits yang lain dari Nabi n:

“Sebaik-baik iman adalah kesabaran dan samahah.”

Kesabaran tersebut ditafsirkan dengan sabar menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Sedangkan samahah di sini ditafsirkan dengan menunaikan kewajiban.

Terkadang kata syuh juga berarti kebakhilan atau sebaliknya. Akan tetapi pada asalnya adalah berbeda antara keduanya sesuai dengan yang kami sebutkan. Ketika ambisi kepada harta itu sampai kepada derajat semacam ini, maka dengan ini agama seseorang akan dengan nyata terkurangi. Karena ia tidak melaksanakan kewajiban dan melakukan yang haram, yang menyebabkan menurunnya agama seseorang tanpa diragukan sehingga tidak tersisa lagi kecuali sedikit. (Syarh Hadits Ma Dzi’bani Ja’i’ani)

At-Tanaththu’, Persimpangan Menuju Kebinasaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc)

Al-Imam Ahmad t berkata:

حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِيْ سُلَيْمَانُ بْنُ عَتِيقٍ عَنْ طَلْقِ بْنِ حَبِيبٍ عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ z عَنِ النَّبِيِّ n قَالَ: أَلاَ هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ -ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

Yahya berkata kepada kami: Ibnu Juraij berkata kepada kami: Sulaiman bin ‘Atiq berkata kepadaku, dari Thalq bin Habib, dari Al-Ahnaf bin Qais, dari Abdullah bin Mas’ud z, dari Nabi n, beliau bersabda: “Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!” tiga kali.
Al-Imam Ahmad meriwayatkan hadits Ibnu Mas’ud z dalam Al-Musnad (1/386).
Hadits ini shahih. Semua rawinya tsiqah (terpercaya), termasuk perawi-perawi Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain, kecuali Sulaiman bin ‘Atiq dan Thalq bin Habib, keduanya hanya dikeluarkan oleh Muslim.
Yahya, yang disebut dengan muhmal1 adalah Yahya bin Sa’id bin Farrukh Al-Qaththan Al-Bashri Abu Sa’id, meninggal 198 H. Ibnu Hajar dalam At-Taqrib mengatakan: “Tsiqatun mutqinun hafizhun.”
Ibnu Juraij, sebutan masyhur bagi Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij Al-Umawi, meninggal 150 H. Beliau tsiqah tetapi terkenal sebagai rawi mudallis.2 Ibnu Hajar Al-Asqalani menggolongkannya dalam Thabaqatul Mudallisin pada golongan ketiga, yaitu rawi-rawi mudallis yang tidak bisa diterima riwayatnya kecuali jika terang-terangan mendengar hadits dari gurunya. Dan pada hadits di atas, Ibnu Juraij mendengar langsung dari gurunya dengan ucapannya: “Haddatsani (berkata kepadaku)” sehingga keberadaannya sebagai mudallis tidak membahayakan keabsahan hadits.
Sulaiman bin ‘Atiq Al-Madani, seorang tabi’in, murid dari Jabir bin Abdillah z.3 Ada pembicaraan tentangnya, tetapi tidak membahayakan dan tidak menurunkannya dari derajat hasan, insya Allah. An-Nasa’i mengatakan: “Tsiqah (terpercaya).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil, 4/135)
Al-Imam Muslim mengeluarkan haditsnya dalam Ash-Shahih. Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam At-Taqrib: “Shaduq (jujur).” (haditsnya hasan)
Thalq bin Habib Al-‘Anazi Al-Bashri, seorang tabi’in, meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, dan Abdullah bin Zubair g. Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Shaduqun fil hadits (jujur dalam hadits).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil 4/490)
Ibnu Sa’d berkata: “Kana murjiyan tsiqatan (Dia seorang Murji’ah yang terpercaya).” (Ath-Thabaqat 7/227)
Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats-Tsiqat (4/396), dan Al-‘Ijli berkata: “Makkiyun tabi’iyyun tsiqatun (Seorang tabi’in dari Makkah yang terpercaya).” (Tarikh Ats-Tsiqat)
Al-Ahnaf bin Qais, Al-Ahnaf adalah laqab (julukan), adapun nama beliau adalah Adh-Dhahhak bin Qais bin Mu’awiyah bin Hushain, meninggal tahun 67 H. Termasuk pembesar tabi’in yang tsiqah, murid dari Abdullah bin Mas’ud z.4
Hadits Ibnu Mas’ud z dikeluarkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya Kitab Al-’Ilmi (no. 2670), Abu Dawud As-Sijistani dalam As-Sunan, Kitab As-Sunnah Bab Luzumis Sunnah (no. 4608), Abu Ya’la Al-Mushili dalam Al-Musnad (no. 5004 dan 5242), dan At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir, demikian pula Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Ash-Shamt (hal. 109).
Seluruhnya meriwayatkan hadits dari jalan Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij.5
Al-Haitsami mengatakan dalam Majma’ Az-Zawa’id (10/251): “Hadits ini dikeluarkan oleh Ath-Thabarani6 dan rawi-rawinya adalah perawi yang shahih.”
Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Allahu a’lam.
Makna Hadits
Al-Khaththabi t menerangkan bahwa Al-Mutanath-thi’ (الْمُتَنَطِّعُ), adalah sebutan bagi orang yang berdalam-dalam dan memaksakan diri dalam membahas sesuatu. Serupa dengan metode ahli kalam (filsafat), mereka selalu membicarakan dan menyelami perkara yang tidak bermanfaat, serta menekuni apa yang akal-akal mereka tidak mampu mencapainya.7
Al-Mutanath-thi’un  (لْمُتَنَطِّعُونَ) merupakan bentuk jamak dari kata (مُتَنَطِّعٌ). Secara bahasa mengandung makna berdalam-dalam ketika berbicara dan menampak-nampakkan kefasihan. Adapun maksud (tanaththu’ dalam hadits ini) adalah tindakan melampaui batas dalam berbicara, melampaui batas dalam ber-istidlal (mengambil dalil), dan melampaui batas dalam beribadah.8
Ibnul Atsir t dalam An-Nihayah mendefinisikan bahwa asal  (لْمُتَنَطِّعُونَ) diambil dari kata (النَّطْعُ) yaitu rongga atas dari mulut. Kata ini kemudian digunakan untuk segala bentuk berdalam-dalam, baik pada ucapan maupun perbuatan.9
Pembaca rahimakumullah, larangan dan celaan dari sikap berlebih-lebihan terpapar gamblang dalam firman Allah l dan hadits-hadits Nabi n dengan berbagai lafadz. Di antaranya ath-tanaththu’ sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud z. Disebut pula dengan lafadz al-ithra’, Rasulullah n bersabda:
لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطَرَتْ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih (melampaui batas) dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih dalam memuji ‘Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”10
Disebut pula dengan lafadz al-ghuluw, Rasulullah n bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ
“Jauhilah ghuluw, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tidaklah mereka binasa kecuali karena ghuluw (melampaui batas) dalam agama.”11
Ketiga kata ini, Al-Ghuluw, Al-Ithra’, dan At-Tanaththu’ memiliki makna yang berdekatan, berserikat dalam sebuah makna yaitu melampaui batasan yang disyariatkan.12 Hanya saja Al-Ghuluw lebih umum, adapun Ath-Tanaththu’ merupakan bagian atau salah satu dari bentuk Al-Ghuluw.13
Pembaca rahimakumullah, kembali kepada sabda Rasulullah n. Perkataan beliau: “Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!”, sabda ini berisi kabar sekaligus doa kebinasaan bagi kaum yang melampaui batas.
Dipahami pula dari hadits adanya kewajiban bagi kita untuk berjalan di atas jalan lurus yang jauh dari tanaththu’. Jalan yang dimaksud adalah jalan Allah l yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas’ud z:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ n يَومًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيطَانٌ يَدْعُو إِلَيهِ. ثُمَّ تَلاَ: ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ
Suatu hari Rasulullah n menggoreskan sebuah garis untuk kami, lalu bersabda: “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya kemudian bersabda: “Adapun garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada masing-masing jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah l:
ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)14
Jalan Allah l adalah satu-satunya jalan yang adil. Satu-satunya jalan pertengahan yang terbebas dari segala bentuk penyimpangan dan sikap melampaui batas.
Meskipun jalan Allah l telah tampak benderang sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasul-Nya n, namun banyaknya persimpangan kesesatan yang diserukan iblis dan pengikutnya benar-benar menakutkan, kecuali bagi mereka yang mendapat taufiq dari Allah l. Pergulatan hebat antara manusia dan iblis dalam menempuh jalan yang lurus itu pun harus terjadi sesuai dengan ketetapan Allah l, Rabbul ‘alamin.
At-Tanaththu’ adalah bagian dari persimpangan-persimpangan. Sejarah anak manusia mencatat bahwa melalui pintu ini iblis berhasil menyesatkan ribuan kaum dari jalan Allah l. Kaki-kaki pun bergeser dari Shirath Al-Mustaqim lalu tumbang binasa sebagaimana disabdakan Rasulullah n:
أَلاَ هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
“Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!”
Lihatlah apa yang menimpa kaum Nuh dahulu. Renungkan pula sebab kesesatan Qadariyyah, Jabriyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, falasifah (filosof, ahli kalam), Khawarij, Haddadiyyah, dan firqah-firqah lainnya. Sebuah kesimpulan terucap dari lisan sejarah bahwa: “Tidaklah mereka menyimpang dari syariat kecuali karena mereka menapakkan kakinya di atas jalan tanaththu’, persimpangan kebinasaan.”
At-Tanaththu’ Terjadi Pada Pembicaraan, Istidlal, dan Ibadah
Penyakit At-Tanaththu’ menjangkit pada pembicaraan sebagaimana penyimpangan ini masuk dalam pengambilan dalil (istidlal) dan ibadah.15 Dengan memohon pertolongan Allah l, marilah sejenak kita melihat beberapa contoh jenis-jenis tanaththu’ tersebut.
Pertama: tanaththu’ dalam pembicaraan. Gejala orang yang terjatuh pada tanaththu’ jenis ini tampak pada pembicaraannya yang sering menggunakan istilah-istilah asing atau bahasa-bahasa tinggi yang tidak bisa dipahami khalayak. Dia juga terbiasa membahas tema-tema yang masyarakat tidak mampu mencernanya. Tujuan mereka tidak lain sekadar menampakkan keterpelajarannya, membanggakan tingkat pemahaman, atau menampakkan dirinya sebagai sosok orator ulung dan ahli bahasa.
An-Nawawi t menarik satu faedah dari hadits Ibnu Mas’ud z tentang dibencinya bicara dengan dibuat-buat atau memaksakan diri (takalluf) memoles kefasihan lisannya, atau menggunakan kalimat-kalimat asing dan i’rab (tata bahasa) yang mendetail saat berbicara dengan orang awam. Semua itu termasuk jenis tanaththu’ dalam pembicaraan. Demikian keterangan beliau dalam Syarah Shahih Muslim.
Mereka tidak menyadari, sesungguhnya masyarakat sangat memerlukan keterangan yang jelas tentang aqidah, ibadah, dan syariat Allah l. Bukan malah dijejali tema yang jauh dari kebutuhan atau di luar jangkauan akal dan pemahaman.
Sangat mengherankan ketika seorang da’i sibuk membicarakan urusan politik di tengah masyarakat awam, mengoceh urusan negara, perkembangan dunia internasional, perkembangan media masa, atau perkara-perkara lainnya yang masyarakat tidak memahami atau tidak mengambil faedah darinya, bahkan mungkin tidak membutuhkannya sama sekali. Sementara masalah pokok agama terkait dengan aqidah, ibadah, dan mu’amalah tidak disentuh.
Subhanallah! Apa akibatnya? Tidak diragukan lagi, kaum muslimin tetap buta dalam agamanya, tidak mengerti tauhid, tidak bisa tata cara wudhu, tayammum, dan mandi wajib yang benar sesuai tuntunan Rasulullah n, dan seterusnya dari perkara agama yang wajib diketahui.
Keberadaan mereka –ahli tanaththu’– hanyalah pembakar api fitnah di tengah umat ini. Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib z dalam sebuah nasihatnya yang sangat indah berkata:
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُرِيدُونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُولُهُ؟
“Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka pahami. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan (karena kalian berbicara dengan apa yang tidak dipahami)?”16
Termasuk tanaththu’ dalam berbicara adalah berkata tanpa ilmu, memaksakan diri (takalluf) membahas, atau menjawab perkara yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya. Juga bertanya-tanya dengan pertanyaan yang melampaui batas syariat, dilarang oleh Allah l dan Rasul-Nya, dan tidak pernah salaf umat ini menanyakannya.17
Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni t (373-449 H), menerangkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang berdalam-dalam serta melampaui batas dari batas yang diizinkan tidaklah muncul kecuali dari mereka, orang-orang yang suka bertanaththu’. Mereka membuat kebid’ahan-kebid’ahan dan membahas perkara yang tidak boleh dibahas. Mereka juga mendiskusikan apa yang ulama Islam dan salaf (pendahulu) umat ini tidak pernah membicarakannya.18
Kedua: Tanaththu’ dalam mengambil dalil (istidlal). Gejala tanaththu’ jenis ini adalah mengabaikan atau meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai dalil.
Ahlu kalam (filsafat/manthiq) dan yang sejenisnya menempuh jalan ini. Akal dan perasaan lebih mereka kedepankan. Yang dijadikan dalil justru kaidah-kaidah filsafat yang berasal dari filsafat Yunani. Bukan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Sederet tokoh filsafat yang menjadi pijakan berpikir pun dipasang dalam kerangka otak-otak mereka yang berpenyakit, seperti Aristoteles, Plato, dan sejenisnya. Kata mereka: “Dalil-dalil sam’i (Al-Kitab dan As-Sunnah) tidak memberikan keyakinan, keyakinan itu hanya didapatkan pada dalil-dalil ‘aqli (akal/rasio).” Apa yang masuk akal itulah yang diyakini, adapun perkara yang menurut mereka tidak masuk akal meskipun dari Al-Kitab dan As-Sunnah secara otomatis tumbang di depan teori-teori filsafat yang mereka agungkan.
Tidakkah mereka paham bahwa agama ini bukan dibangun di atas akal manusia? Ketahuilah bahwa agama ini dari Allah l, dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, bukan akal dan perasaan! Ali bin Abi Thalib z berkata:
لَو كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيتُ رَسولَ اللهِ n يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيهِ
“Seandainya agama dibangun di atas akal tentulah bagian bawah dari khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah n mengusap bagian atas dua khufnya.”19
Melalui ilmu kalam mereka binasa, hati membatu, pendengaran tersumbat, ayat-ayat Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai referensi sekunder. Itupun dalam pengawasan teori-teori manusia.
Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh besar filsafat dan ilmu kalam? Semakin lama mereka menekuni filsafat justru makin jauh menuju kesesatan dan kebingungan. Bahkan mereka telah menyimpulkan bahwa ilmu kalam tidaklah menambah kecuali kebingungan dan jauhnya dari al-haq.
Ketiga: Tanaththu’ dalam ibadah, yaitu seseorang melampaui batasan yang disyariatkan dalam ibadahnya baik dalam jenis, tata cara, ukuran, waktu atau tempat, atau batasan lain yang ditetapkan Rasulullah n.
Peringatan Sahabat Rasulullah n dari At-Tanaththu’
Para sahabat bergegas mengamalkan sabda Rasulullah n, hingga menjadi generasi terbaik. Mereka bergegas menempuh jalan pertengahan (wasath) dan meninggalkan segala bentuk tanaththu’. Manhaj tersebut tampak dalam sikap dan pengamalan, baik di zaman Rasulullah n atau sesudahnya. Sejarah pun mengukir kekokohan generasi ini dalam berjalan di atas jalan Rasulullah n.
Abdullah bin ‘Umar c murka dan berlepas diri ketika mendengar munculnya kaum yang mengingkari takdir. Beliau berkata:
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيئٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبدُ اللهِ ابْنُ عُمَرَ لَو أَنَّ لَأَحَدِهِمْ مثِْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
“Jika engkau berjumpa dengan mereka kabarkanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan–Nya, seandainya mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, mereka infakkan, Allah tidak akan menerimanya hingga mereka beriman dengan takdir.”20
Adalah Abdullah bin Mas’ud z, beliau jumpai sekelompok manusia berkumpul di masjid dalam halaqah (lingkaran). Masing-masing mereka memegang kerikil-kerikil, sementara di tengah mereka duduk seorang mengatakan: “Bertasbihlah kalian seratus (kali)!”, “Bertahlillah seratus (kali)!”, “Bertakbirlah seratus (kali)!”. Dengan kerikil-kerikil itu mulailah mereka menghitung zikir (bersama-sama/berjamaah). Maka berdirilah Abdullah bin Mas’ud z mengingkari seraya berkata: “Apa yang kalian lakukan ini?” Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdurrahman (kunyah Ibnu Mas’ud, red.), kami menghitung takbir, tasbih, dan tahlil dengan kerikil-kerikil ini.”
Berkatalah Ibnu Mas’ud z: “Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan kalian tidak disia-siakan sedikitpun. Wahai umat Muhammad n betapa celakanya kalian. Betapa cepatnya kehancuran kalian. (Bukankah) sahabat Nabi kalian masih banyak dan pakaian Rasulullah n belum lagi hancur. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah sesungguhnya yang kalian lakukan ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad n, ataukah kalian (memang) telah membuka pintu-pintu kesesatan!?” Mereka menjawab: “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman. Tidaklah yang kami inginkan melainkan kebaikan!” Ibnu Mas’ud z berkata: “Betapa banyak orang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya.”21
Allahu Akbar! Lihatlah pembaca rahimakumullah, kecemburuan sahabat saat melihat syariat Allah l disimpangkan dan ajaran Rasulullah n dilampaui batasan-batasannya. Bahkan bila dipandang perlu atau memberikan maslahat, sahabat memberikan hukuman pada orang-orang yang bertanaththu’ dalam ucapan dan perbuatan, melampaui batas dari apa yang Allah l dan Rasul-Nya n tetapkan. Sebagaimana dilakukan Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaththab z, kepada Shabigh At-Tamimi, karena ulahnya yang selalu bertanya-tanya dan berdalam-dalam pada perkara-perkara yang tidak boleh dibicarakan dan salaf tidak pernah membahasnya.
Al-Imam Ad-Darimi dalam Sunan-nya meriwayatkan atsar dari gurunya Abu An-Nu’man –Muhammad bin Al-Fadhl–, dari Hammad bin Zaid, dari Yazid bin Hazim, dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: “Seorang bernama Shabigh datang ke Madinah. Dia (dikenal suka) banyak bertanya-tanya ayat-ayat mutasyabih (samar) dalam Al-Qur’an (menghendaki fitnah dengan pertanyaannya, -pen.). Dibawalah dia ke hadapan Umar bin Al-Khaththab z yang telah menyiapkan beberapa manggar dari pohon kurma. Umar z berkata: “Siapa kamu?” Dia menjawab: “Saya hamba Allah, Shabigh.” Lalu Umar z ambil manggar kemudian dipukullah Shabigh seraya berkata: “Aku hamba Allah, ‘Umar.” Beliau memukulnya hingga kepala Shabigh berdarah. Lalu dia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, cukup. Sungguh telah pergi apa yang dulu aku dapatkan di kepalaku.”22
Demikian beberapa riwayat yang menunjukkan sikap sahabat dan kekokohan jalan mereka dalam menempuh kehidupan sesuai dengan jalan Rasulullah n, dan memerangi segala bentuk tanaththu’ dan penyimpangan agama.
Para sahabat, dengan segala kesungguhan berusaha menutup semua celah sikap tanaththu’, baik dengan lisan atau perbuatan. Mereka pun berpesan kepada umat ini agar selalu kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, mengajak umat memberikan perhatian pada ilmu syariat sebagai benteng dari sikap tanaththu’ serta segala bentuk ghuluw dan perkara yang diada-adakan.
Dalam sebuah wasiatnya, Abdullah bin Mas’ud z berkata:
عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يَذْهَبَ بِأَصْحَابِهِ، عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَتَى نَفْتَقِرُ إِلَيْهِ أَوْ نَفْتَقِرُ مَا عِنْدَهُ، إِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ أَقْوَاماً يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ يَدْعُونَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيقِ
“Tuntutlah ilmu (Al-Kitab dan As-Sunnah), sebelum dicabut. Dan tercabutnya ilmu adalah dengan diwafatkannya ulama. Tuntutlah selalu ilmu, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu kapan kita membutuhkannya atau kita butuhkan apa yang ada padanya. Sungguh kalian akan jumpai kaum yang banyak, mereka mengaku menyeru kalian kepada Al-Kitab, padahal ternyata mereka telah melempar (Al-Kitab) di belakang punggung-punggung mereka. Maka wajib atas kalian menuntut ilmu dan berpegang kepadanya, dan tinggalkanlah perkara yang diada-adakan (bid’ah) tinggalkan pula At-Tanaththu’, At-Ta’ammuq, dan berpegang teguhlah dengan ajaran Rasulullah n.”23
Nasihat yang indah. Duhai seandainya seluruh kaum muslimin memegang nasihat ini dan mengamalkannya, niscaya kejayaaan umat –yang telah dijanjikan– dengan izin Allah l segera terwujud.
Peringatan Ahlu Hadits dari At-Tanaththu’
Jejak sahabat dalam menempuh jalan pertengahan dan tekad bulat meninggalkan tanaththu’ diikuti generasi terbaik berikutnya dari kalangan tabi’in, atba’ut tabi’in, dan ahlu hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Al-Imam Malik t, adalah contoh dari salaful ummah yang demikian teguh menanamkan ittiba’ kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat, sekaligus sosok ulama yang tegas dalam memerangi tanaththu’. Suatu saat beliau membacakan firman Allah l:
“Ar-Rahman di atas ‘Arsy beristiwa’.” (Thaha: 5)
Seseorang bertanya: “Wahai Malik, bagaimana cara Allah l beristiwa’?”
Mendengar pertanyaan seperti ini –yang tidak boleh untuk ditanyakan– menunduklah Al-Imam Malik. Merah padamlah mukanya, gemetarlah badannya, bercucuranlah keringatnya. Lalu beliau angkat kepala seraya mengucapkan kalimat yang sangat masyhur:
الْاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْلُومٍ، وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ
“Al-Istiwa tidaklah asing (maknanya)24, adapun bagaimana istiwa’-Nya tidak diketahui. Dan mengimani sifat ini wajib, adapun menanyakan tentang (bagaimananya) adalah bid’ah, dan aku tidak dapati engkau kecuali seorang yang sesat.”
Kemudian Al-Imam Malik t memerintahkan agar mengeluarkan orang ini dari majelisnya.25
Disebutkan dalam sebuah atsar, suatu saat Yazid bin Harun t –salah seorang ulama ahlul hadits–26 di majelisnya meriwayatkan hadits Isma’il bin Abi Khalid, dari Qais bin Abi Hazim, dari sahabat Jarir bin Abdillah z, tentang ru’yah (melihat Allah l) dan sabda Rasulullah n:
إِنَّكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَى رَبِّكُمْ كَمَا تَنْظُرُونَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
“Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian (bisa) melihat bulan di malam purnama.”27
Seorang lelaki di majelis bertanya: “Wahai Abu Khalid (kunyah Yazid bin Harun, red.), apa makna hadits ini?” (meminta rincian bagaimana melihat Allah l, pen.).
Marahlah Yazid, gemetarlah ia, lalu berkata: “Betapa miripnya kau dengan Shabigh (lihat penjelasan sebelumnya, red.). Betapa butuhnya kau diperlakukan seperti Shabigh! Celaka engkau! Siapa yang mengetahui bagaimana (kita melihat Allah l nanti)? Siapa yang dibolehkan untuk melampaui batas dari ucapan Rasulullah n? Siapa pula yang boleh berbicara sekehendaknya, melainkan seorang yang menghinakan diri dan agamanya?”28
Demikian pembaca rahimakumullah, beberapa riwayat tentang keteguhan salaf berjalan di atas jalan Rasulullah n yang jauh dari tanaththu’. Semoga kita diselamatkan dari segala jenis tanaththu’. Mudah-mudahan Allah l selamatkan umat ini, lebih khusus lagi shaf-shaf Ahlus Sunnah dari ahli tanaththu’ yang keberadaan mereka tidak lain hanya menyulut api fitnah dan mencabik persatuan umat. Berpeganglah dengan tali Allah l dan janganlah bercerai-berai. Bersatulah di atas Al-Kitab dan As-Sunnah untuk meraih keridhaan Allah l.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
Wallahu a’lam.
1 Muhmal dalam ilmu musthalah hadits adalah penyebutan rawi tanpa menyebutkan nasabnya.
2 Tadlis adalah menyembunyikan riwayat yang terputus seakan-akan bersambung. Di antara buku bagus yang menyebutkan rawi-rawi yang biasa melakukan tadlis adalah kitab Jami’u At-Ta’shil fi Ahkamil Marasil karya Al-‘Ala’i t dan Maratibul Mudallisin karya Ibnu Hajar t.
3 Di antara hadits Jabir z yang diriwayatkan Sulaiman bin ‘Atiq t adalah apa yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya no. 1554:
أَنَّ النَّبِيَّ n أَمَرَ بِوَضْعِ الْجَوَائِحِ
4 Faedah: Lathaiful Isnad (keunikan sanad): Pada hadits di atas ada riwayat tiga orang tabi’in, Sulaiman bin ‘Atiq dari Thalq bin Habib, dari Al-Ahnaf bin Qais rahimahumullah.
5 Hafsh bin Ghiyats mengikuti Yahya bin Sa’id dalam meriwayatkan hadits dari Ibnu Juraij, sebagaimana dikeluarkan oleh Muslim no. 2670, Abu Ya’la Al-Mushili dalam Al-Musnad no. 5007, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 3396.
6 Faedah: Jika dikatakan hadits ini diriwayatkan Ath-Thabarani tanpa ada keterangan di kitab apa, maka yang dimaksud adalah dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Kabir.
7 Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menukil ucapan Al-Khaththabi dalam Fathul Majid (270-271) dari Ma’alimus Sunan.
8 I’anatul Mustafid Bi Syarh Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Dr. Shalih Fauzan (1/278).
9 An-Nihayah fi Gharibil Hadits karya Ibnul Atsir (5/63).
10 HR. Al-Bukhari no. 3445, 6830 dan Muslim no. 1691 dalam Shahih keduanya.
11 Shahih, diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad (1/215, 347), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/466), Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra (5/127), dan Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 3029.
12 At-Tamhid Lisyarhi Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hal. 247
13 Al-Qaulul Mufid (1/321) karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
14 Diriwayatkan Ad-Darimi dalam As-Sunan no. 208 (cet. Darul Ma’rifah)
15 Lihat I’anatul Mustafid Bi Syarh Kitabit Tauhid (1/278-280) karya Asy-Syaikh Dr. Shalih Fauzan.
16 Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya Kitabul ‘Ilmi no. 127
17 Seperti bertanya tentang hakikat bagaimana (kaifiyah) sifat Allah l.
18 Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits hal 34, tahqiq Badr Al-Badr.
Faedah: Al-Imam Ad-Darimi membuat satu bab khusus dalam As-Sunan, Bab Man Haaba Al-Futya wa Kariha At-Tanaththu’ wa At-Tabaddu’ (Orang yang takut berfatwa serta membenci tanaththu’ dan kebid’ahan) hal. 67-72 (cet. Daarul Ma’rifah) meriwayatkan beberapa atsar yang menunjukkan bagaimana salaf berhenti mencukupkan diri pada batasan syariat dan tidak melewati apa yang mereka tidak ketahui. Mereka selalu berhati-hati dalam berbicara atau berfatwa dalam masalah agama. Yang ada di depan mata mereka adalah tanggung jawab di hadapan Allah l, bukan celaan atau sanjungan manusia.
19 Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan no. 162, dishahihkan Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain.
20 Diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya, hadits yang pertama dari kitab yang pertama, Kitabul Iman (1/36).
21 Shahih, diriwayatkan Ad-Darimi dalam As-Sunan dan disebutkan Al-Albani dalam Silsilah As-Sahihah no. 2005.
22 Diriwayatkan Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 146 (cet. Darul Ma’rifah), Al-Ajurri hal. 73, dan Al-Lalikai no. 1138. Sanad riwayat ini munqathi’ antara Sulaiman bin Yasar dan ‘Umar bin Al-Khaththab. Kisah Shabigh disebutkan pula Abu ‘Utsman Ash-Shabuni
23 Sunan Ad-Darimi (1/66 no. 143), Al-Ibanah (1/324 no. 169), dan Ushul I’tiqad Al-Lalikai (1/87 no. 108).
24 Makna Allah l beristiwa’ di atas ‘Arsy yaitu Allah l tinggi di atas ‘Arsy-Nya.
25 Lihat atsar Al-Imam Malik t dalam Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits hal. 38-40, tahqiq Badr Al-Badr.
Faedah: Perkataan semisal diucapkan pula oleh ulama-ulama seperti Rabi’ah Ar-Rai dan Abu Ja’far At-Tirmidzi rahimahumallah. Dinisbatkan pula kepada Ummu Salamah x, akan tetapi riwayatnya lemah. Ibnu Taimiyah t berkata dalam Majmu’ Fatawa (5/365): “Jawaban ini diriwayatkan pula dari Ummu Salamah secara marfu’ dan mauquf, akan tetapi sanadnya tidak bisa dijadikan sandaran (lemah, pen.).”
26 Yazid bin Harun bin Za-dzan Abu Khalid Al-Wasithi t. Ibnu Hajar t mengatakan dalam At-Taqrib: “Tsiqatun Mutqin.” Haditsnya diriwayatkan penulis Kutubus Sittah (Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
27 Hadits ru’yatullah tergolong hadits mutawatir. Ibnul Qayyim t menyebutkan riwayat-riwayat tentang ru’yatullah di akhir-akhir kitabnya Hadil Arwah ila Biladil Afrah.
28 Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid (1/408-411), Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah hal. 258, Al-Baghawi dalam Tafsir-nya (4/232), dan Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (16/133).

Jaring-jaring Setan itu Bernama Ghuluw

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Setan tak hanya menyerang orang-orang yang bergelimang maksiat, namun juga menjerat hamba-hamba-Nya yang gemar beribadah.
Sesungguhnya setan menggunakan dua cara untuk menyesatkan umat Islam. Cara pertama digunakan untuk mengelabui seorang muslim yang bergelimang maksiat. Yaitu dengan menjadikan maksiat yang ia lakukan seakan-akan sesuatu yang indah. Sehingga ia tetap akan jauh dari ketaatan. Rasulullah n bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Al-Jannah dikelilingi oleh segala hal yang tidak disukai, sementara An-Naar itu diliputi dengan syahwat.” (HR. Al-Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822)
Adapun cara kedua digunakan oleh setan untuk menyesatkan seorang muslim yang gemar beribadah. Yaitu dengan mengajaknya berlaku ghuluw (melampaui batas) di dalam beribadah. Sehingga justru agamanya akan rusak. Oleh karena itu, Allah l melarang untuk bersikap ghuluw. (Muqaddimah Asy-Syaikh Al-Abbad, kitab Bi Ayyi ‘Aqlin wa Dinin)
Al-Imam Makhlad bin Al-Husain t pernah berkata, “Tidaklah Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat kebaikan melainkan Iblis akan menghadangnya dengan dua cara. Iblis tidak ambil peduli dengan cara apa dia akan menguasainya. Antara bersikap ghuluw di dalam amalan tersebut ataukah sikap meremehkannya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 9/236)
Definisi Al-Ghuluw
Al-Ghuluw secara bahasa bermakna melebihi batasan. Berasal dari kata غَلَا فِي الْأَمْرِ –يَغْلُو-غُلُوًّا. Hal ini sebagaimana dijabarkan oleh Al-Jauhari dalam Ash-Shihah, Ibnu Faris di dalam Al-Mu’jam, Ibnu Manzhur di dalam Al-Lisan, dan Az-Zabidi di dalam Tajul ‘Arus.
Di dalam penggunaannya, seluruh lafadz “ghuluw” selalu bermakna melebihi ukuran dan batasan. Sebagai contoh adalah hadits Abu Dzar z dalam riwayat Al-Bukhari (no. 2518). Ketika Rasulullah n ditanya tentang budak yang terbaik untuk dibebaskan, beliau n menjawab:
أَغْلاَهَا ثَمَنًا، وَأَنْفعُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا
“Budak yang paling tinggi harganya dan terbanyak manfaatnya bagi sang majikan.”  Kalimat غلَاءُ الثَّمَنِ artinya harganya naik dan melebihi batas kebiasaan.
Demikian pula, sebagai contoh lain, hadits An-Nu’man bin Basyir z di mana Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ عَلَى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، كَمَا يَغْلِي الْمِرْجَلُ
“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah seseorang yang dipasangkan dua bara api pada telapak kakinya kemudian otaknya mendidih sebagaimana periuk itu mendidih.” (HR. Al-Bukhari no. 6561 dan Muslim no. 213)
Kalimat غلَاءُ الْمِرْجَلِ artinya periuk yang bertambah panasnya dan naik panasnya dari kebiasaan.
Syaikhul Islam t mendefinisikan ghuluw dengan menyatakan, “Melebihi dari batas, yaitu dengan menambahkan pujian atau celaan dari hak yang seharusnya, dan yang semisal itu.” (Iqtidha’ush Shirath, 1/328)
Adapun di dalam syariat, ghuluw bermakna melebihi batasan yang telah ditetapkan oleh syariat. (Al-Ghuluw, Ali Al-Haddadi, hal. 13)
Haramnya Ghuluw
Dienul Islam adalah ajaran yang diturunkan dari sisi Sang Khaliq, yang telah menciptakan langit dan bumi berikut segenap isinya. Sehingga, Allah k adalah Dzat Yang Maha Mengetahui sebatas mana kemampuan dan kekuatan manusia. Oleh karenanya, Allah l menetapkan syariat yang sesuai dengan kemampuan mereka. Dienul Islam datang membawa kemudahan bagi pengikutnya, ajaran yang tidak menghendaki adanya keberatan dan kesusahan. Allah l berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)
Maka dari itu, sikap ghuluw dan berlebih-lebihan adalah kesesatan serta jauh dari tujuan-tujuan suci. Berikut ini beberapa dalil tentang haram dan tercelanya sikap ghuluw. Allah l berfirman:
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An-Nisa’: 171)
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 77)
Di dalam dua ayat ini, Allah l melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw di dalam beragama. Sementara setiap pembicaraan yang ditujukan kepada ahlul kitab di dalam Al-Qur’an dalam bentuk perintah atau larangan juga ditujukan kepada umat Islam. Karena merekalah yang diajak berbicara di dalam Al-Qur’an. Apabila Allah l melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw, maka umat Islam lebih pantas untuk dilarang. (Al-Ghuluw, ‘Ali bin Yahya, hal. 15)
Di dalam Al-Qur’an juga dengan tegas melarang kita dari sikap melampaui batas. Sementara melampaui batas yang telah diterangkan oleh syar’i merupakan hakikat ghuluw. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87)
Allah l juga berfirman kepada Nabi-Nya berikut para pengikut beliau:
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (Hud: 112)
Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang haramnya ghuluw sangat banyak. Di antaranya adalah sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud z, Rasulullah n bersabda:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ -قَالَهَا ثَلاَثًا
“Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu’.” Beliau mengulangi pernyataan ini sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim no. 2670)
Al-Imam An-Nawawi t di dalam Syarah Muslim menjelaskan, “Yang dimaksud orang-orang yang bersikap tanaththu’ adalah mereka yang berlebih-lebihan, bersikap ghuluw, dan melampaui batas dari yang telah ditentukan. Baik di dalam ucapan ataupun perbuatan.”
Seseorang yang bersikap tanaththu’ akan mengalami kehancuran. Ia akan merugi. Karena sikap tersebut akan mendorongnya untuk terjatuh dalam dosa kesombongan dan ujub (bangga diri). Ia melihat dirinya telah banyak melakukan amalan shalih. Setan menipunya. Allah l berfirman tentang penipuan setan ini:
“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
“Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 12)
Seharusnya seorang muslim takut bila termasuk golongan yang tidak mendapatkan syafa’at dari Rasulullah n di hari kiamat karena perbuatan ghuluw. Rasulullah n bersabda di dalam hadits Abi Umamah z:
صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُوم ٌ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ
“Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan memperoleh syafa’at dariku. Yaitu seorang pemimpin yang selalu berbuat zalim dan setiap orang yang berlaku ghuluw, keluar dari jalan kebenaran.” (HR. Ath-Thabarani, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t di dalam Ash-Shahihah)
Rasulullah n telah mengingatkan kita tentang bahaya ghuluw dengan memberat-beratkan diri di dalam beribadah. Karena sesungguhnya dienul Islam ini adalah ajaran yang mudah untuk diamalkan. Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama Islam ini mudah. Tidak ada seorang pun yang memberat-beratkan dirinya dalam beragama melainkan dia tidak mampu menjalankannya.” (HR. Al-Bukhari no. 39 dari Abu Hurairah z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t menerangkan bahwa makna hadits ini ialah larangan bagi seseorang yang hendak memberatkan diri dalam amalan din, serta dia meninggalkan kelembutan karena dia tidak akan mampu untuk meneruskan amalan tersebut, berhenti dari ibadah dan pada akhirnya dia akan mengalami kekalahan. (Fathul Bari, ketika mensyarah hadits diatas)
Al-Imam Ibnu Al-Munayyir  t berkata, “Di dalam hadits ini juga terdapat salah satu tanda-tanda kenabian. Sungguh kami sendiri telah menyaksikan sebagaimana orang-orang sebelum kami juga telah menyaksikan. Bahwa setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam beragama pasti akan berhenti. Hal ini bukan bermakna larangan untuk mencari kesempurnaan di dalam ibadah, karena perkara seperti ini sangat terpuji. Hanya saja yang dilarang adalah sikap berlebih-lebihan yang akan mengantarkan pelakunya kepada kejenuhan. Demikian juga bila sikap tersebut mengakibatkan dia meninggalkan perkara yang lebih afdhal atau yang berakibat pelaksanaan sesuatu yang wajib bukan pada waktunya. Seperti seseorang yang semalam suntuk shalat malam. Dia akan merasakan kantuk yang sangat berat di pengujung malam. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah.” (Fathul Baari)
Sebagai bentuk cinta dan kasih sayang, dalam setiap kesempatan Rasulullah n senantiasa membimbing umat untuk menjauhi sikap ghuluw. Dari Ibnu ‘Abbas c, Rasulullah n mengingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ
“Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Adh-Dhiya’. Hadits ini ditakhrij dalam Ash-Shahihah no. 1238)
Larangan ghuluw ini sebenarnya dipicu sebuah kejadian di pagi hari Aqabah. Ibnu Abbas c mengisahkan bahwa beliau diminta oleh Rasulullah n, yang ketika itu sedang berada di atas kendaraannya, untuk memungut kerikil-kerikil. Setelah Ibnu Abbas c menyerahkan kerikil-kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah, Rasulullah n pun meletakkannya di tangan lalu bersabda:
“Hendaknya dengan kerikil-kerikil semacam inilah. Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.”
Walaupun larangan ini dinyatakan oleh Rasulullah n karena disebabkan sebuah peristiwa secara khusus, namun hukum ini berlaku secara umum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t ketika membicarakan hadits di atas berkata, “(Larangan ini) bersifat umum, mencakup seluruh jenis ghuluw. Di dalam perkara keyakinan maupun amalan.”
Saudaraku… sikap ghuluw adalah sikap tercela sebagai warisan dari ahlul kitab. Kita dilarang untuk meniru mereka. Dari Sahl bin Hunaif z, Rasulullah n bersabda:
لاَ تُشَدِّدُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ قَبْلَكُمْ بِتَشْدِيدِهِمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَسَتَجِدُونَ بَقَايَاهُمْ فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارَاتِ
“Janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian. Karena sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian hanyalah disebabkan mereka memberat-beratkan diri. Dan kalian akan menemukan sisa-sisa mereka di dalam pertapaan dan biara.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari di dalam At-Tarikh. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah, 3124)
Di dalam perkara yang dianggap biasa sekalipun, Rasulullah n memerintahkan agar kita menjauhi sikap berlebihan. Perkara memuji seseorang adalah satu hal yang biasa dilakukan. Namun apabila pujian tersebut disampaikan secara berlebihan justru akan menyeret pada dampak yang berbahaya. Orang yang dipuji secara berlebih tentu akan merasa ujub dan sombong.
Al-Imam An-Nawawi t meletakkan sebuah bab di dalam Shahih Muslim, Bab Larangan Memuji, apabila berlebihan dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah (ujian) bagi orang yang dipuji. Dari Abu Musa Al-’Asy’ari z, Rasulullah n pernah mendengar seseorang memuji orang lain dan berlebihan di dalam memuji. Maka Rasulullah n pun bersabda:
لَقَدْ أَهْلَكْتُمْ -أَوْ قَطَعْتُمْ- ظَهْرَ الرَّجُلِ
“Sungguh kalian telah mencelakakan orang tersebut.”
Bahkan Rasulullah n membimbing kita untuk menaburkan pasir ke wajah orang yang senang berlebihan di dalam memuji sebagaimana dikabarkan oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad z.
Secara khusus lagi, Rasulullah n melarang kita dari sikap berlebih-lebihan di dalam memuji beliau. Karena kekhawatiran beliau bahwa umat Islam akan jatuh pada kesalahan yang dilakukan orang-orang Nasrani. Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan sebuah hadits dari Umar bin Al-Khaththab z, Rasulullah n bersabda:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan di dalam memuji diriku sebagaimana orang-orang Nashara berlebih-lebihan di dalam memuji Ibnu Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.”
Betapa besar perhatian Rasulullah n kepada umat Islam. Beliau benar-benar sayang dan mencintai pengikutnya. Semua telah ditunjukkan sepanjang hidup beliau. Di antara sekian banyak buktinya adalah pengingkaran Rasulullah n terhadap seorang sahabat yang bernadzar untuk melakukan sesuatu yang berat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, di saat Nabi Muhammad n menyampaikan khutbah, beliau melihat seseorang sedang berdiri di bawah terik matahari. Kemudian Rasulullah n bertanya tentang orang tersebut. Para sahabat menjawab, “Dia adalah Abu Israil. Dia bernadzar untuk berdiri di bawah terik matahari dan tidak akan duduk, juga tidak ingin berteduh atau berbicara dalam keadaan dia berpuasa.” Maka Rasulullah n bersabda:
مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ
“Perintahkan dia untuk berbicara, juga berteduh dan duduk, lalu menyempurnakan puasanya.” (HR. Al-Bukhari)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata, “Nadzar yang diucapkan sahabat ini mengandung perkara yang dicintai Allah k. Dan ada pula yang tidak dicintai-Nya. Adapun yang dicintai Allah l adalah puasa. Karena puasa bagian dari ibadah. Sementara Nabi Muhammad n pernah bersabda: ‘Barangsiapa yang bernadzar di dalam ketaatan kepada Allah hendaknya ia tunaikan nadzarnya dengan menaatinya.’
Adapun perbuatan sahabat itu yang berdiri di bawah terik matahari tanpa berteduh. Demikian juga sikapnya yang tidak mau berbicara. Hal ini tidaklah dicintai Allah l. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad n memerintahkan sahabat tersebut untuk meninggalkan nadzarnya.” (Syarah Riyadhus Shalihin)
Kesimpulannya, kebaikan yang hendak kita kejar haruslah dengan pertimbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah disertai pemahaman salaful ummah. Tidak setiap amalan yang kita anggap baik benar-ben

Meniti Jalan Yang Lurus

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

 

“Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).” (An-Nahl: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat

“Jalan yang lurus.”

Qashd dalam ayat ini bermakna isim fa’il (qashid/ قَاصِدٌ), yang berarti lurus. Sedangkan sabil berarti jalan. Maka qashdus sabil bermakna lurusnya sebuah jalan atau jalan yang lurus.

Asy-Syinqithi t menerangkan dalam kitabnya Adhwa’ Al-Bayan: “Ketahuilah bahwa yang dimaksud qashdus sabil adalah jalan lurus yang tidak mengandung kebengkokan. Makna ini adalah hal yang telah diketahui dalam lingkup bahasa Arab.”

Syaikhul Islam t mengatakan: “Al-Qashd adalah keadilan, sebagaimana ia juga bermakna lurus dan kebenaran, yaitu yang sesuai dan sepadan, yang tidak bertambah dan tidak berkurang.” (Majmu’ Fatawa, 17/230)

Ungkapan para ahli tafsir dalam menjelaskan maknanya memang beragam, namun pada hakikatnya kembali kepada inti makna, yaitu jalan yang lurus, tidak menyimpang, yang senantiasa berada di atas bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n.

Ibnu Abbas c mengatakan: “Merupakan hak bagi Allah l menjelaskan petunjuk dan kesesatan.”

Jabir bin Abdillah z berkata: “Syariat dan perkara-perkara yang wajib.”

Mujahid t berkata: “Jalan kebenaran menuju Allah l.”

Qatadah t berkata: “Merupakan hak bagi Allah l menjelaskan halal, haram, ketaatan, dan kemaksiatan.”

As-Suddi t berkata: “(Menerangkan) Islam.”

Abdullah bin Mubarak t berkata: “(Menerangkan) As-Sunnah.”

Syaikhul Islam mengatakan: “Hidayah, qashdus sabil, dan jalan yang lurus, semuanya menunjukkan ibadah dan taat kepada-Nya, tidak menunjukkan kemaksiatan dan taat kepada setan.” (Majmu’ Fatawa, 15/214)

“Dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok.”

Dhamir ha kembali kepada lafadz sabil, disebutkan dalam bentuk mu’annats karena lafadz tersebut bisa dijadikan mudzakkar dan mu’annats. Sebagian menyebutkan bahwa lafadz sabil dalam ayat ini bermakna jamak meskipun bentuknya mufrad.

At-Thabari t meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Ibnu Mas’ud z membacanya وَمِنْكُمْ جَائِرٌ. Maknanya adalah bahwa di antara jalan-jalan tersebut terdapat jalan-jalan yang menyimpang.

Ibnu Abbas c berkata: “Jalan-jalan yang terpecah-pecah.” Dalam riwayat lain beliau mengatakan: “Berbagai macam hawa nafsu.” Yang semakna dengannya disebutkan pula oleh Ubaid bin Sulaiman, Ibnu Juraij, dan yang lainnya.

Sebagian mengatakan: “Qashdus sabil adalah agama Islam, sedangkan ja’ir adalah agama kekufuran dengan berbagai macamnya.”

Abdullah bin Mubarak t berkata: “Mereka adalah pengekor bid’ah dan hawa nafsu.”

 

Penjelasan Makna Ayat

Ayat Allah k yang mulia ini menjelaskan bahwa Allah k yang memiliki hak yang mutlak dalam membimbing siapa saja yang dikehendaki-Nya, sebagai karunia dan keutamaan yang Allah l berikan kepada hamba tersebut. Bimbingan itulah yang menyebabkan seorang hamba senantiasa istiqamah di atas Islam, di atas As-Sunnah, yang merupakan satu-satunya jalan kebenaran. Selain jalan ini, merupakan jalan-jalan yang menyimpang dari al-haq. Ada kalanya menuju kekufuran serta kesyirikan, dan ada kalanya menuju kepada bid’ah serta hawa nafsu. Seorang hamba yang dibimbing menuju jalan yang lurus adalah semata-mata karena rahmat dan karunia-Nya k. Sedangkan seseorang yang tersesat dan menyimpang, itu merupakan bentuk keadilan dan hikmah yang dikehendaki-Nya.

Syaikhul Islam berkata tatkala menjelaskan ayat ini: “Ini juga termasuk nikmat Allah k yang paling agung, yaitu Allah k telah menjamin untuk menjelaskan dan merinci jalan petunjuk, yaitu dengan cara menegakkan dalil-dalil serta mengutus para rasul. Ini yang disebutkan oleh para ahli tafsir. Ada pula kemungkinan maknanya bahwa siapa yang menempuh jalan yang lurus maka Allah l akan membimbing jalannya dan akan sampai kepada-Nya. Sebagaimana halnya firman Allah l:

“Allah berfirman: ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya)’.” (Al-Hijr: 41) [Majmu’ Fatawa: 15/207]

Sebab jika Allah k menghendaki, bukanlah hal yang sulit bagi-Nya untuk menjadikan semua orang dalam keadaan mukmin dan taat kepada-Nya. Namun sudah menjadi ketetapan dan hikmah-Nya, bahwa Allah k menjadikan sebagian manusia ada yang kafir dan menyimpang dari jalan-Nya, karena hikmah dan kemaslahatan yang lebih besar yang telah menjadi ketetapan dan kehendak-Nya. Allah k juga berfirman:

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; ‘Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama’.” (As-Sajdah: 13)

Juga firman-Nya:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 253)

Firman-Nya pula:

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Al-Ma’idah: 48)

Dan firman-Nya:

“Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.” (Al-An’am: 35)

Dan masih banyak lagi ayat yang menjelaskan hal ini.

Ibnu Katsir t menerangkan: “Seseorang tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan menempuh jalan lurus yang disyariatkan oleh-Nya, diridhai-Nya. Adapun selain itu, maka itu adalah jalan yang tertutup serta amalan-amalan yang tertolak.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Qurthubi t mengatakan: “(Ayat ini) menjelaskan bahwa kehendak takdir adalah milik Allah l semata, dan ini membenarkan penafsiran yang disebutkan Ibnu Abbas c. Juga membantah kelompok Al-Qadariyyah (pengingkar takdir) dan yang sependapat dengan mereka.” (Tafsir Al-Qurthubi)

Syaikhul Islam t mengatakan: “Takdir merupakan hal yang benar, namun memahami Al-Qur’an dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, serta menjelaskan hikmah dan keadilan Allah k bersama dengan keimanan kepada takdir, merupakan metode para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (Majmu’ Fatawa, 15/211)

 

Memahami Perbedaan Ungkapan Ahli Tafsir

Jika kita perhatikan pendapat para ulama dalam menafsirkan kata qashdus sabil dan waminha ja’ir, nampak terjadi perselisihan di antara mereka. Namun pada hakikatnya, ikhtilaf tersebut tidak bertentangan satu sama lain. Sebab apa yang mereka perselisihkan tersebut termasuk di antara jenis ikhtilaf tanawwu’, yaitu perselisihan yang tidak saling kontradiksi, namun saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam risalahnya Muqaddamah fi Ushul At-Tafsir, di mana beliau menjelaskan bahwa perselisihan di kalangan ahli tafsir yang termasuk dalam jenis ikhtilaf tanawwu’ ada dua macam:

1. Setiap mereka memberi ungkapan tertentu yang berbeda dengan ungkapan ahli tafsir yang lain, yang semua ungkapan itu menunjukkan makna tersendiri yang terdapat pada sesuatu yang ditafsirkan tersebut. Seperti halnya nama-nama Allah k, nama Rasul n, dan yang lainnya. Seperti halnya nama Allah Al-Aziz yang memiliki makna dan sifat kemuliaan, berbeda dengan nama Ar-Rahman, yang mengandung sifat kasih sayang-Nya. Masing-masing dari nama Al-Aziz dan Ar-Rahman kembali kepada Dzat yang sama, yaitu Allah k.

Demikian pula nama Rasul n, di antara nama beliau adalah Al-Mahi, yang artinya penghapus kekufuran. Di antara nama beliau adalah Al-’Aqib, yang artinya tidak ada nabi setelah beliau. Juga di antara nama beliau adalah Ahmad, artinya orang yang terpuji. Namun setiap dari nama tersebut walaupun memiliki makna yang berbeda, namun pada hakikatnya kembali kepada satu diri, yaitu Rasulullah n.

Demikian pula penafsiran para ulama dalam menjelaskan makna ash-shiratul mustaqim, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Islam. Sebagian berkata maksudnya mengikuti Al-Qur’an. Sebagian lagi mengatakan, maksudnya As-Sunnah dan Al-Jama’ah, sebagian lagi mengatakan maksudnya taat kepada Allah l dan Rasul-Nya n, serta yang lainnya. Seluruhnya mengisyaratkan kepada inti yang sama, dengan pengungkapan sifat yang berbeda.

2. Masing-masing menafsirkan sebuah nama yang umum dengan sebagian yang bersifat khusus untuk dijadikan sebagai contoh, bukan bermaksud untuk membatasi penafsiran hanya dalam sesuatu yang disebutkan tersebut. Seperti contoh, ketika ada seseorang yang bukan Arab bertanya tentang apa yang dimaksud dengan lafadz khubuz (roti), lalu dijawab dengan memperlihatkan salah satu jenis roti. Itu bukan berarti bahwa khubuz memiliki makna terbatas yang dicontohkan itu saja, namun khubuz meliputi jenis yang lain pula, yang merupakan jenis makanan yang terbuat dari gandum dengan berbagai bentuknya.

Seperti halnya dalam menafsirkan firman Allah k:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Telah dimaklumi bahwa makna az-zalim linafsihi (yang menganiaya diri sendiri) mencakup setiap orang yang melalaikan hal-hal yang wajib, yang melakukan perbuatan yang diharamkan. Sedangkan al-muqtashid (yang pertengahan) meliputi setiap orang yang melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan perkara haram. Adapun as-sabiq (yang lebih dahulu berbuat kebaikan) mencakup setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah k dengan amalan-amalan kebaikan disamping hal-hal yang wajib tersebut.

Namun bila kita melihat pendapat ahli tafsir, kita mendapati bahwa di antara mereka ada yang menafsirkan dengan menyebutkan salah satu dari amalan shalih yang dilakukan seorang hamba. Seperti ada yang menyebutkan bahwa as-sabiq adalah orang yang shalat pada awal waktu, al-muqtashid adalah orang yang shalat pada pertengahan waktu, sedangkan azh-zhalim linafsihi adalah orang yang melambatkan waktu shalat ashar hingga matahari menguning.

Sebagian ahli tafsir ada pula yang mengatakan bahwa as-sabiq adalah orang yang bersedekah, azh-zhalim linafsihi adalah orang yang bermu’amalah dengan cara riba, sedangkan al-muqtashid adalah orang yang berjual beli dengan cara yang adil.

Sebagian lagi menyebutkan penafsiran yang berbeda, yang jika kita perhatikan, sesungguhnya tidak ada perselisihan yang saling bertentangan dari berbagai penafsiran tersebut. Hanya saja masing-masing dari mereka menyebutkan salah satu jenis amalan tertentu, yang dijadikan sebagai contoh untuk memudahkan dalam memahami ayat tersebut, bukan sebagai pembatas makna ayat. (Lihat pembahasan rinci Syaikhul Islam t dalam Majmu’ Fatawa, 13/333-338)

Bila kita memahami hal ini maka kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya kebanyakan perselisihan di kalangan ahli tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat Allah k, kembalinya kepada dua macam penafsiran yang telah kita sebutkan. Bukan merupakan perselisihan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain.

Wallahu a’lam.

Ketika Ghuluw Melanda Kehidupan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

 

Apa Itu Ghuluw?

Ghuluw, dalam bahasa Arab bermakna: berlebih, naik, dan melampaui batas. (Al-Mu’jamul Wasith, 2/232. Lihat pula Ash-Shihah, 2/24, dan Lisanul Arab, 15/131)

Dalam terminologi syariat, ghuluw bermakna berlebih-lebihan dalam suatu perkara dan bersikap ekstrem padanya dengan melampaui batas yang telah disyariatkan. (Lihat Fathul Bari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t, 13/291 dan I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, 1/479)1

Ghuluw secara umum terbagi menjadi dua macam: ghuluw dalam hal aqidah (keyakinan) dan ghuluw dalam hal amalan. (Lihat Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, 1/253)

Rinciannya sangat banyak. Di antaranya ghuluw dalam hal aqidah, ibadah, muamalah, adat (kebiasaan), suluk (budi pekerti)2, ghuluw terhadap sosok tertentu, terhadap pepohonan, bebatuan, tempat-tempat (yang dikeramatkan), kubur-kubur, dan lain sebagainya. (Lihat Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t, 1/234, I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, 1/480, Al-Qaulus Sadid fi Maqashidit Tauhid karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t dan Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah, 1/734)

Adapun ijtihad yang bermakna bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebenaran, tidak termasuk dari ghuluw.3 Kecuali jika maksud dari ijtihad tersebut adalah berbanyak-banyakan dalam ketaatan di luar batas yang telah disyariatkan, maka bisa termasuk ke dalam ghuluw.” (Al-Qaulul Mufid Ala Kitabit Tauhid, 1/244)

 

Ghuluw Dalam Kehidupan Umat Manusia

Sejak dahulu kala, ghuluw telah menjadi bagian dari realita kehidupan umat manusia. Keberadaannya, menjadikan umat tersebut tercoreng sebagai umat yang melampaui batas. Lebih dari itu, ghuluw merupakan sumber petaka dan penyebab kebinasaan dari masa ke masa. Tidaklah ia bercokol pada suatu umat melainkan kehancuranlah bagi umat tersebut. Binasa agamanya karena terjatuh dalam kekafiran, kesyirikan, atau kebid’ahan4 dan juga binasa dunianya. Bahkan menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, munculnya kelompok-kelompok sesat dalam kehidupan umat beragama, tak luput dari peran besar ghuluw tersebut.

Tak heran, jika setan menjadikannya sebagai senjata ampuh untuk menyesatkan umat manusia. Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Tidaklah ada suatu perkara yang Allah l perintahkan (kepada umat manusia, pen.) melainkan setan menebarkan dua jaring jeratnya: meremehkan dalam menjalankan perintah tersebut (tafrith & idha’ah) dan berlebih-lebihan padanya (ifrath & ghuluw). Padahal agama yang Allah l turunkan (kepada umat manusia) adalah agama pertengahan. Ia berada di antara orang-orang yang bermudah-mudahan dalam menjalankannya dan orang-orang yang berlebih-lebihan padanya. Ibarat satu lembah di antara dua gunung, satu petunjuk di antara dua kesesatan, dan satu poros di antara dua kutub yang tercela. Sebagaimana orang-orang yang bermudah-mudahan (dalam menjalankannya) termasuk menyia-nyiakan agama, demikian pula orang-orang yang berlebih-lebihan. Jenis pertama karena sikap bermudah-mudahannya, sedangkan jenis kedua karena sikap berlebihannya (melampaui batas) dari apa yang telah disyariatkan.” (Madarijus Salikin, 2/496)

Dalam kalam ilahi, Allah l memperingatkan umat manusia dari perbuatan ghuluw dengan segala bentuknya. Allah l berfirman:

“Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An-Nisa’: 171)

“Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’.” (Al-Ma’idah: 77)

Dalam mutiara kenabian pun terdapat peringatan keras dari perbuatan ghuluw tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah n:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ

“Hati-hatilah kalian dari perbuatan ghuluw dalam menjalankan agama ini, sesungguhnya kebinasaan umat sebelum kalian disebabkan ghuluw dalam menjalankan agama.” (HR. An-Nasa’i 2/49, Ibnu Majah 2/242, Ibnu Khuzaimah 1/282/2, Ibnu Hibban no. 1011, Al-Hakim 1/466, Al-Baihaqi 5/127, dan Ahmad 1/215, 347, dari sahabat Abdullah bin Abbas c. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1283)

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata: “Ini merupakan larangan dari segala bentuk ghuluw. Sungguh ia penyebab kebinasaan umat sebelum kita, binasa dari sisi agama dan juga dari sisi dunia. Demikian pula, ia adalah sumber petaka. Adapun sikap pertengahan merupakan pangkal keberhasilan dan kebaikan. Ghuluw dengan segala bentuknya dilarang, baik dalam perkataan maupun perbuatan; yakni perkataan hati dan perbuatannya, juga perkataan lisan serta perbuatan anggota tubuh. Bahkan ia adalah sumber petaka seorang hamba, baik pada agama maupun dunianya.” (At-Tamhid Lisyarhi Kitabit Tauhid, 1/345)

 

Ibrah Di Balik Realita Ghuluw

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, bila menelisik sejarah niscaya akan dijumpai aneka ragam ghuluw dengan bobot dan kadarnya yang berbeda-beda. Mengingat suatu sejarah akan terus berulang walaupun dengan pelaku yang berbeda, maka penting bagi kita untuk mengetahui fakta tersebut serta mengambil ibrah (pelajaran berharga) darinya. Agar kita berhati-hati dalam menjalankan agama Islam yang lurus ini dan tidak terperangkap dalam jaring jerat ghuluw yang membinasakan. Di antara fenomena ghuluw yang layak dikaji dan penting untuk dijadikan bahan refleksi adalah:

 

1. Kasus Ghuluw Pada Kaum Nabi Nuh q

Kaum Nabi Nuh q terjerat perkara ghuluw terhadap orang-orang shalih yang bernama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Sahabat Abdullah bin Abbas c ketika menafsirkan firman Allah l:

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (Nuh: 23)

mengatakan: “Mereka (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, pen.) adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh q. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh q agar membuat patung-patung (berbentuk orang-orang shalih tersebut) di mana mereka biasa duduk beribadah. Kemudian setan pun memerintahkan mereka agar menamai patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Kaum Nabi Nuh q pun mengikuti perintah setan, namun (ketika itu) belum disembah. Tatkala generasi pembuat patung tersebut meninggal dunia, sementara ilmu agama telah sirna, maka dijadikanlah patung orang-orang shalih tersebut sesembahan selain Allah l.” (Lihat Shahih Al-Bukhari no. 4920)

Al-Imam Ibnul Qayyim t menyebutkan versi lain bahwa ketika mereka meninggal dunia, para pengikutnya pun beri’tikaf (berdiam diri untuk beribadah) di sisi kubur mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung monumen berbentuk patung orang-orang shalih tersebut. Setelah berlalu masa, disembahlah patung-patung tersebut.” (Ighatsatul Lahafan, 1/184)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, ghuluw terhadap orang shalih, benar-benar telah mengotori lembaran sejarah umat manusia dari masa ke masa. Diawali dengan beribadah kepada Allah l di sisi kubur mereka. Kemudian membuat patung-patung monumen berbentuk orang-orang shalih tersebut dan dinamai dengan nama-nama mereka. Hingga akhirnya diibadahi dan disembah, sebagai sekutu bagi Allah l. Sehingga tidaklah berlebihan jika Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menyebutkan dalam Kitabut Tauhid sebuah bab ‘Bahwasanya Sebab Kekafiran Bani Adam dan Ditinggalkannya Agama Mereka Adalah Ghuluw Terhadap Orang-orang Shalih.’

Ghuluw inilah yang menjadikan Yahudi berkeyakinan bahwa Uzair adalah putra Allah l, berhak disembah dan diibadahi. Demikian pula Nasrani berkeyakinan bahwa Nabi Isa q adalah putra Allah l, berhak disembah dan diibadahi. Allah l berfirman:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah: 30)

Sebagaimana pula menyeret mereka untuk memosisikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb (tuhan) selain Allah l. Allah l berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah.” (At-Taubah: 31)

Ghuluw terhadap orang shalih yang mengantarkan kaum Nabi Nuh q dan umat terdahulu kepada kesyirikan tersebut, ternyata juga menimpa umat Muhammad n. Padahal tiada henti-hentinya Rasulullah n memperingatkannya.

Dalam momentum hajjatul wada’ (haji terakhir), beliau n memperingatkan umat dari perbuatan ghuluw (secara umum) dan menyampaikan bahwa ia penyebab kebinasaan umat terdahulu. Sebagaimana dalam riwayat Abdullah bin Abbas c yang telah lalu.

Lima hari sebelum meninggal dunia, secara khusus Rasulullah n melarang umat dari perbuatan ghuluw terhadap orang-orang shalih. Sebagaimana dalam sabda beliau n: “Ingatlah, sesungguhnya umat terdahulu seringkali menjadikan kubur orang-orang shalih sebagai masjid (tempat ibadah). Ingatlah, jangan kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid (tempat ibadah). Sungguh aku melarang kalian dari yang demikian itu.” (HR. Muslim no. 532, dari sahabat Jundub bin Abdillah z)

Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang wafatnya, dengan tegas Rasulullah n bersabda:

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).”

Ummul Mukminin Aisyah x berkata: ”Beliau memperingatkan umat dari perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani tersebut. Kalau bukan karena khawatir kubur beliau n dijadikan tempat ibadah, niscaya kubur beliau ditampakkan (dikubur di pekuburan umum [Baqi’], pen.).” (HR. Al-Bukhari no. 435, 436 dan Muslim no. 531, dari Ummul Mukminin Aisyah x)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Nampaknya beliau telah merasakan dekatnya ajal, sehingga mengkhawatirkan bila kuburnya diagungkan sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu. Maka laknat beliau terhadap Yahudi dan Nasrani tersebut sebagai isyarat tercelanya orang-orang yang melakukan perbuatan ghuluw terhadap orang shalih (dari umat ini).” (Fathul Bari, 1/634)5

Tahukah anda, siapakah biang keladi atas terjadinya kesyirikan dan peribadatan terhadap kubur pada umat ini? Biang keladinya adalah kelompok sesat Syi’ah Rafidhah. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dalam Kitabut Tauhid6 berkata: “Dengan sebab kelompok sesat Syi’ah Rafidhah lah, kesyirikan dan peribadatan terhadap kubur terjadi. Merekalah orang-orang yang pertama kali membangun tempat ibadah di atas kubur.”

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim (1/41) menegaskan bahwa Syi’ah Rafidhah lah yang banyak merusak negeri-negeri muslimin dengan membangun/menfasilitasi tempat-tempat ibadah (masyahid) dan kubah-kubah di atas kubur, pengeramatan terhadap kubur dan penghuninya, serta penyebaran bid’ah (hal-hal baru dalam agama yang tidak ada tuntunannya).

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, ghuluw terhadap orang shalih baik ia seorang nabi, rasul, wali, ataupun selainnya dari orang-orang yang dikenal keshalihannya merupakan sebab terkuat binasanya suatu umat dari masa ke masa. Karena memang fitrah manusia secara umum condong untuk mencintai dan mengagungkan orang-orang shalih. Ditambah lagi adanya bisikan setan bahwa itulah hakikat kecintaan, pengagungan, dan pemberian hak kemuliaan kepada mereka.

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh berkata: “Sesungguhnya ghuluw terhadap orang shalih merupakan akar kesyirikan dari masa ke masa.7 Mengingat menyekutukan Allah l dengan orang shalih tersebut mudah diterima oleh jiwa, maka setan pun menampakkannya sebagai bentuk kecintaan dan pengagungan terhadap orang shalih (dan bukan bagian dari kesyirikan, pen.).” (Taisir Al-Azizil Hamid, hal. 305)

Maka dari itu, ketika ghuluw terhadap orang shalih tersebut membelenggu suatu umat atau pribadi tertentu, sangatlah sulit bagi mereka untuk bisa lepas darinya. Tengoklah kaum Nabi Nuh q di atas. Hidup mereka berkisar dari satu bentuk ghuluw kepada bentuk ghuluw berikutnya. Hingga pada puncaknya terjerumus ke dalam kesyirikan. Tatkala datang kepada mereka Nabi Nuh q menyampaikan peringatannya selama ratusan tahun, dan dilakukannya siang malam, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sama sekali mereka tak bergeming dari kesesatannya. Bahkan mereka memusuhi Nabi Nuh q karenanya, dan saling berwasiat sesama mereka dengan wasiat batil: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.”

Semakin mengherankan manakala peribadatan kepada Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr secara estafet dilanjutkan oleh bangsa Arab. Wadd diibadahi oleh kabilah Kalb di Daumatul Jandal, Suwa’ diibadahi oleh kabilah Hudzail, Yaghuts diibadahi oleh kabilah Murad kemudian bani Ghuthaif di Jauf Saba’, Ya’uq diibadahi oleh kabilah Hamdan, dan Nasr oleh Alu Dzul Kila’ dari kabilah Himyar. (Lihat Shahih Al-Bukhari no. 4920, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)

Tak beda jauh kiranya dengan keadaan para pemuja kubur dan pengultus sosok panutan dari umat ini.8 Tatkala datang kepada mereka penyampai kebenaran dan tauhid, mereka pun memusuhinya. Bahkan tak jarang laqab (julukan) buruk pun disematkan kepada penyampai kebenaran dan tauhid tersebut. Semoga Allah l menjauhkan kita dari segala jenis ghuluw, terkhusus ghuluw terhadap orang-orang shalih yang membinasakan umat manusia dari masa ke masa. Wallahul musta’an.

 

2. Kasus Ghuluw Kaum Khawarij

Kaum Khawarij adalah kelompok sesat dalam agama ini.9 Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, tidaklah kaum Khawarij itu tersesat melainkan karena perbuatan ghuluw dalam menjalankan agama ini.10 Apalagi tak hanya satu jenis ghuluw yang membelenggu mereka. Cukuplah sejarah menjadi saksi atas itu semua.

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh berkata: “Mereka berbuat ghuluw dalam hal aqidah, di mana telah tersesat (dari jalan kebenaran, pen.), mengafirkan (orang-orang yang tidak berhak dikafirkan, pen.), dan meninggalkan manhaj para sahabat Nabi n. Mereka juga ghuluw dalam hal berbanyak-banyakan ibadah, sampai-sampai seseorang dari sahabat Nabi n merasa bahwa shalat dan shiyam (puasa)nya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan shiyam mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi n.11 Sebagaimana pula ghuluw mereka dalam hal jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan klaim jihad, mereka memerangi orang-orang yang secara syar’i tidak berhak –bahkan haram– untuk diperangi. Hingga pada klimaksnya, mereka memerangi para sahabat Nabi n, manusia-manusia pilihan Allah l. Mereka bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l dengan membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib z, sahabat termulia di masa itu. Bahkan pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin bin Affan z juga bagian dari ulah orang-orang Khawarij tersebut.” (Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah, 1/734)

Kaum Khawarij amat berlebihan (ghuluw) dalam memegang prinsip keyakinannya (aqidah) yang dibangun di atas akal dan hawa nafsu. Mereka campakkan manhaj (metode pemahaman) para sahabat Nabi n yang mulia dalam memahami agama ini. Sehingga jauhlah mereka dari ilmu yang bersumber dari cahaya kenabian. Akibatnya, mereka kafirkan orang-orang yang tidak berhak –bahkan diharamkan– untuk dikafirkan. Mereka perangi para sahabat Nabi n, manusia-manusia pilihan Allah l, dengan klaim jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l dengan membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib z, sahabat termulia di masa itu. Termasuk pula pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin bin Affan z.

Dengan tegasnya Rasulullah n memperingatkan umat dari mereka:

لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Jika aku mendapati mereka (Khawarij), benar-benar aku akan perangi mereka seperti memerangi kaum ‘Aad (yakni; hingga tidak tersisa sedikitpun, pen.).” (HR. Muslim no. 1064, dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z)

Padahal mereka adalah ahli ibadah, ahli baca Al-Qur’an, ahli shalat dan puasa, serta wara’ terhadap dunia. Bukan para preman pasar ataupun para koruptor yang gila dunia.

Subhanallah…luar biasa fakta sejarah yang memaparkan perjalanan kaum Khawarij tersebut. Mereka mengafirkan kaum muslimin bahkan manusia-manusia pilihan Allah l, karena perasaan takutnya yang berlebihan terhadap dosa besar. Mereka memerangi para sahabat Nabi n, membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib dan juga Khalifah Utsman bin Affan c, dengan keyakinan jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Padahal mereka adalah ahli ibadah, ahli baca Al-Qur’an, ahli shalat dan puasa, serta wara’ terhadap dunia. Namun ternyata, kesudahannya adalah petaka dan binasa. Bahkan Rasulullah n ber-’azam (berkemauan kuat) untuk menghabisi mereka, jika Allah l pertemukan dengan mereka.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, dari sini dapatlah diambil ibrah (pelajaran berharga) bahwa ghuluw dalam agama ini benar-benar sumber petaka dan penyebab kebinasaan, walaupun disertai niat yang baik, amalan yang banyak, dan wara’ terhadap dunia sekalipun. Maka dari itu, Allah l peringatkan Rasul-Nya n dan orang-orang beriman yang bersamanya dari perbuatan ghuluw tersebut. Allah l berfirman:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia (Allah l) Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (Hud: 112)

Berikutnya, betapa besar peran ilmu agama yang diwariskan Rasulullah n dan para sahabatnya dalam kehidupan ini. Tengoklah kembali sejarah kaum Khawarij, manakala mereka campakkan manhaj (metode pemahaman) para sahabat Nabi n yang mulia dalam memahami agama ini, tersesatlah mereka dari kebenaran dan terjerumus dalam kesesatan demi kesesatan. Allah l berfirman:

“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Menurut Al-Imam Ibnu Abi Jamrah Al-Andalusi t –menukil perkataan para ulama– bahwa yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Nabi n dan generasi pertama dari umat ini. (Lihat Al-Mirqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 36)

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t berkata: “Dari sini banyak sekali kelompok-kelompok yang tersesat sejak dahulu hingga kini. Karena mereka tidak mengikuti jalan orang-orang mukmin (para sahabat Nabi n dan generasi pertama dari umat ini, pen.) dan semata-mata mengandalkan akal, bahkan mengikuti hawa nafsu dalam menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, hingga akhirnya menyimpang dari jalan As-Salafush Shalih.” (Fitnatut Takfir, hal. 13)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Hal itu disebabkan kebodohan mereka (kaum Khawarij) tentang agama Islam, meskipun mereka memiliki wara’, ibadah, dan kesungguhan. Namun tatkala semua itu (wara’, ibadah, dan kesungguhan) tidak berdasarkan ilmu yang benar, akhirnya menjadi petaka bagi mereka.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hal. 35)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, dengan demikian betapa bahayanya orang-orang yang mengikuti jejak kaum Khawarij. Orang-orang yang memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah semata-mata mengandalkan akal, bahkan mengikuti hawa nafsunya tanpa merujuk kepada pemahaman para sahabat Nabi n. Orang-orang yang bermudah-mudahan mengafirkan pemerintah kaum muslimin, bahkan semua orang yang di luar kelompoknya. Memerangi penguasa muslim, dengan memberontak terhadapnya atau menggoyangnya dengan demonstrasi, agitasi, dan penyebaran berbagai opini buruk, baik berkaitan dengan ekonomi, keamanan, maupun yang lainnya. Orang-orang yang berbanyak-banyakan ibadah dengan melampaui batas yang telah disyariatkan. Semua ini merupakan sumber petaka dan penyebab kebinasaan dari masa ke masa.

Akhir kata, demikianlah paparan tentang beberapa realita ghuluw yang melanda kehidupan umat manusia dari masa ke masa. Semoga bermanfaat bagi kita semua dan menjadi embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Terkhusus orang-orang yang sedang terperangkap dalam jaring jerat ghuluw yang membinasakan.

Amin, ya Rabbal ‘Alamin…

 


 

1 Sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas ini diistilahkan juga dengan ifrath atau tanaththu’. (Lihat Al-Ghuluw, karya Ali bin Abdul Aziz bin Ali Asy-Syibl hal. 22, dan Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid, 1/244)

2 Di antara contohnya adalah berwudhu ketika mengucapkan perkataan yang haram/kotor. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t, 2/334)

3 Demikian pula berpegang teguh dengan agama Islam sesuai apa yang disyariatkan Allah l dan Rasul-Nya n, serta istiqamah di atasnya dalam segenap sendi kehidupan, tidaklah termasuk dari ghuluw. (Lihat Al-Ghuluw hal. 23)

4 Lihat Syarah Shahih Muslim juz 16, Kitabul ‘Ilmi.

 

5 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menyebutkan bahwa Rasulullah n telah memberikan beberapa kaidah penting dalam menyikapi kubur dan penghuninya. Di antaranya:

a. Tidak boleh ghuluw terhadap para wali dan orang shalih.

b. Tidak boleh mendirikan bangunan, terlebih tempat ibadah (masyahid) di atas kubur.

c. Tidak boleh shalat/ibadah di sisi kubur atau menghadap kubur. (Diringkas dari Kitabut Tauhid, hal. 38-39)

6 Masalah ke-11 dari bab ‘Larangan Keras Bagi Seorang yang Beribadah kepada Allah l di Sisi Kubur Orang Shalih.’

7 Bahkan ia adalah akar kesyirikan yang pertama kali di muka bumi ini. (Lihat Ighatsatul Lahafan, juz 1 hal. 183)

8 Termasuk ghuluw terhadap Nabi Muhammad n. Seperti apa yang ditorehkan Al-Bushiri dalam qasidah Burdahnya:

Wahai makhluk termulia, tiada tempat berlindung bagiku, manakala datang problem pelik selain engkau

Jika di hari kiamat engkau tak mengambil tanganku (menyelamatkanku), niscaya aku akan tergelincir (ke dalam api neraka)

Sesungguhnya di antara kedermawananmu adalah (adanya) dunia dan akhirat, dan di antara ilmumu adalah ilmu yang di Lauhul Mahfuzh dan dicatat oleh pena taqdir.  (Lihat I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, juz 1 hal. 500)

Pada bait ke-1 terdapat penyejajaran Nabi Muhammad n dengan Allah l dalam hal uluhiyyah (yakni sebagai tempat berlindung dan meminta pertolongan), bahkan ia melupakan Allah l. Pada bait ke-2 dan awal dari bait ke-3 terdapat penyejajaran beliau n dengan Allah l dalam hal rububiyyah, di mana diyakini bahwa yang menyelamatkan dari azab api neraka adalah Nabi n, kemudian adanya dunia dan akhirat ini karena kedermawanan Nabi n. Pada bagian akhir dari bait ke-3 terdapat penyejajaran beliau n dengan Allah l dalam hal asma wa shifat, di mana ia sandangkan keluasan ilmu yang meliputi segala sesuatu kepada Nabi n. (Lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah Al-Hafizh Abdil Ghani Al-Maqdisi, hal. 371 dan I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, juz 1 hal. 500)

9 Untuk mengetahui lebih rinci siapa Khawarij, lihat Majalah Asy Syari’ah, no. 04/1/Syawwal 1424 H/Desember 2003.
10 Lihat I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitabit Tauhid, juz 2 hal.3.
11 Lihat Shahih Muslim juz 2 hal. 744 dan 748.

Ghuluw disekitar Kita

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

 

Sebagaimana dengan keburukan lainnya, ghuluw pun akan menyeret hamba pada penyimpangan-penyimpangan berikutnya. Maka sudah semestinya kita mendeteksi secara dini penyakit bernama ghuluw ini.

Sikap ghuluw di dalam ibadah adalah keburukan. Tidak ada sedikitpun kebaikan di dalamnya. Sebagaimana halnya kebaikan, satu bentuk kebaikan akan melahirkan segenap kebaikan. Nabi n bersabda:
الْخَيْرُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِالْخَيْرِ
“Kebaikan itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan juga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri z)
Demikian pula keburukan, satu keburukan akan mendorong seseorang terjatuh dalam rangkaian keburukan berikutnya. Satu bentuk ghuluw yang dilakukan seseorang tentu akan membawa dirinya untuk melakukan ghuluw yang lain. Sehingga, benarlah Rasulullah n yang telah memperingatkan umat dari bahaya ghuluw ini.
Sekadar Contoh Ghuluw
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menjelaskan bahwa ghuluw banyak sekali macamnya. Di antaranya ghuluw di dalam aqidah, ibadah, mu’amalah, dan ada juga ghuluw di dalam adat kebiasaan. Ghuluw di dalam aqidah, contohnya adalah orang yang terpengaruh oleh Ahlul Kalam di dalam menetapkan sifat-sifat Allah l. Sesungguhnya Ahlul Kalam bersikap terlalu berlebihan yang pada akhirnya berujung pada kehancuran. Perbuatan mereka menyebabkan terjatuhnya seorang hamba kepada salah satu dari dua kesesatan. Yaitu tamtsil (menyamakan Allah l dengan makhluk atau sebaliknya) dan ta’thil (mengingkari sifat-sifat Allah l). (Al-Qaulul Mufid, 1/394)
Ghuluw di dalam masalah sifat-sifat Allah pertama kali terjadi pada diri Al-Ja’d bin Dirham. Kepalanya dipenggal oleh penguasa ‘Iraq ketika itu, Khalid bin Abdul ‘Aziiz Al-Qasri, karena Al-Ja’d berkeyakinan kalamullah (Al-Qur’an) adalah makhluk. Pemikiran Al-Ja’d ini diteruskan oleh Al-Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi. Melalui Al-Jahm inilah, pemikiran ghuluw di dalam memahami sifat-sifat Allah k tersebar. Walaupun pada akhirnya, Al-Jahm pun dibunuh oleh penguasa Khurasan, Salm bin Ahwaz. (Haqiqat Al-Ghuluw, ’Ali bin ‘Abdil ‘Aziz, hal. 47)
Tentang ghuluw di dalam memahami sifat-sifat Allah l, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga memberikan contoh dengan seorang pelajar yang mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak semestinya ditanyakan. Pertanyaan itu terkait dengan ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah l. Padahal pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan oleh salaf. Sebagai contoh, hadits Rasulullah n yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dari sahabat Abdullah bin ‘Amr c:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبِعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يَصْرِفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati anak cucu Adam berada di antara dua jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati saja. Dia membolak-balikkannya sesuai yang Dia kehendaki.”
Sang pelajar yang bersikap ghuluw ini bertanya, “Berapakah jumlah jari-jemari Allah k? Apakah ada ruas-ruasnya? Berapakah jumlah ruasnya?” Hal-hal seperti ini tidak boleh ditanyakan karena termasuk sikap ghuluw. (Syarah Riyadhus Shalihin)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga menjelaskan bahwa ghuluw di dalam ibadah artinya terlalu bersikap keras. Dengan memandang adanya sedikit saja kekurangan di dalam ibadah telah divonis sebagai bentuk kekufuran serta keluar dari ajaran Islam. Sebagaimana ghuluw yang dilakukan oleh kelompok Khawarij dan Mu’tazilah. Mereka berpendapat, seseorang yang melakukan satu bentuk dosa besar telah keluar dari Islam. Harta dan darahnya menjadi halal. Mereka membolehkan untuk memberontak kepada pemerintah muslim. Adapun Mu’tazilah berpendapat, seseorang yang terjatuh dalam dosa besar dia berada di antara dua keadaan. Antara kekufuran dan keimanan. Keyakinan ini pun satu bentuk sikap ghuluw yang akan mengantarkan kepada gerbang kehancuran. (Al-Qaulul Mufid, 1/394). Lihat pembahasan secara lengkap tentang masalah ini pada Asy Syari’ah Vol I/No. 08/1425 H/Juli 2004.
Di antara contoh ghuluw di dalam beribadah adalah perbuatan sebagian orang yang berwudhu dalam bilangan yang berlebihan. Dia berwudhu hingga empat, lima, atau enam kali bahkan lebih dari itu, dengan alasan untuk lebih sempurna. Padahal Rasulullah n mengajarkan kepada kita untuk berwudhu tidak lebih dari tiga kali. Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c riwayat Abu Dawud (no. 135), Rasulullah n bersabda setelah menjelaskan tata cara berwudhu:
هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ
“Demikianlah cara berwudhu, barangsiapa menambah (lebih dari itu) maka dia telah berbuat jelek dan zalim.”
Contoh lain, seseorang yang mandi janabah. Dia memberatkan dirinya sendiri dengan berusaha memasukkan air ke dalam telinga dan lubang hidungnya. Perbuatan ini masuk di dalam larangan Rasulullah n:
هَلَكَ الْـمُتَنَطِّعُونَ
“Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu’.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud z) [Syarah Riyadhus Shalihin]
Contoh lain tentang ghuluw di dalam ibadah. Orang yang sedang jatuh sakit, pada bulan Ramadhan dia memaksakan diri untuk tetap berpuasa. Padahal Allah l membolehkan baginya untuk berbuka. Karena dia membutuhkan suplai makanan, minuman, dan obat. (Syarah Riyadhus Shalihin)
Adapun ghuluw di dalam muamalah, dijelaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t, yaitu dengan berlebihan di dalam mengharamkan sesuatu walaupun hal tersebut hanyalah sekadar wasilah. Seperti yang dilakukan oleh para pengikut ajaran Shufi (Sufi). Mereka berkeyakinan bahwa orang yang bekerja mencari kehidupan dunia adalah orang yang tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan akhirat. Mereka juga menyatakan, “Tidak boleh engkau membeli sesuatu yang bukan kebutuhan primer.” Keyakinan mereka ini sangat parah, karena mereka telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah l.
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa-apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’,  untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.  Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (An-Nahl: 116)
Untuk pembahasan lengkap tentang Sufi silakan merujuk Majalah Asy Syari’ah Vol. I/No. 07/1425 H/2004.
Contoh berikutnya di dalam muamalah, adalah kebiasaan sebagian penuntut ilmu. Dia memaksakan diri untuk membaca dalam keadaan mengantuk. Yang dia dapatkan hanya lelah. Karena seseorang yang membaca dalam keadaan mengantuk tidak akan bisa mengambil manfaat dari bacaaannya. Seharusnya jika dia mulai merasakan kantuk, dia menutup kitab dan tidur untuk beristirahat. Bahkan selepas shalat Ashar atau selepas shalat Shubuh, seandainya dia merasakan kantuk berat hendaknya ia beristirahat. (Syarah Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t)
Di antara bentuk ghuluw di dalam mu’amalah sehari-hari adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Abdurrahman bin Hasan t yaitu dengan menahan diri dari hal-hal yang mubah secara mutlak. Seperti orang yang tidak mau makan daging dan roti. Hanya mengenakan pakaian dari bahan-bahan yang kasar atau tidak ingin menikah. Dia meyakini hal-hal seperti ini merupakan bentuk zuhud yang terpuji. Padahal orang semacam ini adalah orang yang jahil dan sesat. (Fathul Majid, 1/396)
Nasihat Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri t
Alangkah indahnya wasiat salaf. Wasiat yang akan membimbing kita di dalam meniti jejak generasi terbaik umat ini. Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri t berkata, “Demi Dzat Yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia, menegakkan As-Sunnah itu berada di antara dua kelompok. (Kelompok) yang ghuluw dan (kelompok) yang bersikap meremehkan. Maka bersabarlah kalian di dalam mengamalkan As-Sunnah, semoga Allah l senantiasa merahmati kalian. Sesungguhnya pada waktu yang lalu Ahlus Sunnah adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Maka demikian pula pada waktu yang akan datang, mereka adalah golongan yang paling sedikit jumlahnya. Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tidak mengikuti kemewahan manusia. Tidak pula mengikuti kebid’ahan manusia. Mereka senantiasa bersabar di dalam mengamalkan As-Sunnah sampai bertemu dengan Rabb mereka. Maka hendaknya kalian pun demikian.” (Syarah Ath-Thahawiyyah, 2/326)

Surat Pembaca edisi 50

Kampanye Memuji Diri Sendiri

Menurut saya, tema yang diangkat Asy Syariah di edisi kemarin (edisi 49, red.) sangat tepat. Saya sendiri merasa risih dengan kampanye para caleg parpol Islam yang kebanyakannya mengklaim diri sebagai yang terbaik. Seperti Bersih-Peduli-Profesional, Ikhlas dan Amanah, dan sejenisnya.

 

Abu Syifa-Jateng

0852921xxxxx

 

Itulah salah satu dari sekian banyak penyimpangan politik praktis. Demi jabatan mereka halalkan sikap sombong, riya’, ujub, dan sebagainya. Merasa paling bersih dan nihil dari dosa. Padahal tak ada manusia yang sempurna, tak ada manusia yang lepas dari kesalahan.

Yang nampak, mereka justru enggan menumbuhkan sikap introspeksi diri. Bahkan menampakkan “kemustahilan berbuat kesalahan” ketika ada kader (tarbiyah) mereka terjerat skandal entah skandal suap, panti pijat, pemerkosaan, maupun korupsi. Para petinggi dan yang fanatik partai ini biasanya dengan entengnya berkelit, “Itu cuma fitnah”, “Dia kader baru.”, atau “Pelakunya hanya simpatisan.”, dan semacamnya.

Padahal ini belum termasuk sekian banyak syariat yang luntur tergerus arus kepentingan politik praktis. Sebagai contoh, dulu ada partai yang mengelu-elukan nasyid sebagai satu-satunya “musik Islami” (Lihat penjelasan Hukum Nasyid dan Musik di Asy Syariah edisi 40 Vo. IV/1429 H/2008). Lantas apa yang terjadi sekarang? Grup musik dengan beragam aliran telah meramaikan kampanye partai ini di berbagai daerah.

Ketika banyak elemen umat Islam menolak Ahmadiyah, partai “Islam” ini malah dengan “tanpa dosa” memberikan penghargaan kepada orang-orang yang mendukung keberadaan Ahmadiyah.

Tentunya masih banyak lagi penyimpangan yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya di sini. Jazakumullahu khairan.

Tata Cara Pengurusan Jenazah

Bismillah. Ana minta pembahasan lengkap tentang tata cara pengurusan jenazah sesuai syariat (mulai dari sakaratul maut sampai penguburan serta adab ta’ziyah) beserta penjelasan beberapa penyimpangan yang sering terjadi di masyarakat.

 

Abu Sufyan Ahmad-Muara Enim

0813672xxxxx

 

Tata cara pengurusan jenazah telah dimuat secara berseri di majalah kita. Mulai ketika menghadiri orang yang sedang sakaratul maut, memandikan jenazah, mengafaninya, menshalatkannya, hingga menguburkannya. Juga dibahas tentang hukum ta’ziyah dan ziarah kubur khususnya bagi wanita. Lihat kembali rubrik Wanita dalam Sorotan, Majalah Asy-Syariah edisi 17 hingga edisi 23.

 

Tentang Mengundi

Bismillah, mohon dijelaskan tentang hadits yang berbunyi bila Rasulullah n safar beliau mengundi istri-istrinya… dan seterusnya, pertanyaannya bukankah mengundi itu dilarang?

Ummu Syifa-Banyuwangi

0813368xxxxx

 

Mengundi yang dilarang adalah bilamana ada unsur perjudian atau taruhan. Adapun yang tidak mengandung hal tersebut dan semata-mata untuk menentukan giliran maka tidak apa-apa.

 

Salah Cetak

Pada Asy-Syariah Vol. IV/No. 49/1430 H/2009, halaman 22, ada yang salah cetak. Surat Ali Imran ayat 104, kurang huruf nun di akhirnya.

 

081578xxxxxx

 

Jazakumulllah khairan atas koreksinya.