Hikmah Beriman dengan Hari Akhir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Tidak tersembunyi lagi bagi seorang muslim tentang pentingnya iman dan kedudukannya yang tinggi, serta nilainya yang demikian berharga di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh kebaikan di dunia dan di akhirat tergantung pengaplikasian iman yang benar. Iman merupakan perkara yang selalu dicari. Meraihnya adalah keinginan yang besar dan tujuan terbaik. Dengannya seorang hamba mendapatkan kehidupan yang baik dan membebaskan diri dari segala macam marabahaya dan kejelekan. Dengannya pula dia akan mendapatkan pahala di akhirat dan kenikmatan yang abadi lagi berkesinambungan, yang tidak akan berpindah maupun hilang. Allah l berfirman:

“Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedankang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra’: 19)

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia).” (Thaha: 75)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya.” (Al-Kahfi: 107-108) [Lihat Ushulul Iman fi Dhau’i Al-Kitab was Sunnah, 1/11]

Dunia Akan Berakhir

Apakah ada orang yang tidak percaya bahwa dunia ini akan berakhir?

Memang manis dan hijaunya dunia telah membutakan mata hati lalu mengaburkan penglihatan lahiriah manusia. Orang mungkin akan sulit percaya jika kelak Allah l akan melipat langit dan bumi ini dengan tangan kanan-Nya, lantas mengatakan “Aku adalah penguasa. Mana para penguasa di dunia?” Sesungguhnya imanlah yang menjadi intinya.

“Hari Kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apa hari kiamat itu?Hari di mana manusia bagaikan kupu yang bertebaran, gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang dihamburkan.” (Al-Qari’ah: 1-5)

“Apabila Allah goncangkan dunia ini dengan goncangan yang dahsyat dan bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya. Manusia bertanya-tanya: Ada apa ini? Dunia bercerita pada hari itu bahwa Allah telah mewahyukan kepadanya.” (Al-Zalzalah: 1-5)

“Apabila bumi digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan dan kamu menjadi tiga golongan.” (Al-Waqi’ah: 4-7)

“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan, dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan.” (At-Takwir: 1-7)

“Apabila langit dibelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan.” (Al-Infithar: 1-5)

“Dan apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya, dan menjadi kosong dan patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. Pada waktu itu manusia mengetahui akibat perbuatannya.” (Al-Insyiqaq: 1-5)

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. Ingatlah ketika kamu melihat kegoncangan itu lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk akan tetapi azab Allah l itu sangat keras.” (Al-Hajj: 1-2)

Itulah beberapa pemberitahuan Allah l tentang hari penutup kehidupan dunia ini dan kengerian yang tidak akan bisa dicerna. Tsunami yang telah meluluhlantakkan Aceh merindingkan bulu kuduk karena ngeri dan dahsyatnya. Gempa bumi yang menggoncang Yogyakarta, dianggap telah menelan korban dan kerugian materi demikian besar. Pun musibah besar lainnya di seluruh dunia. Coba renungi berita Allah l tentang hari kiamat! Lalu bandingkan dengan seluruh peristiwa besar di dunia ini, sebandingkah?

Hari akhir dan keimanan kepadanya

Dinamakan hari akhir karena tidak ada hari setelahnya, yaitu tatkala Allah l membangkitkan manusia untuk sebuah kehidupan yang abadi, kemudian mereka mendapatkan ganjaran atas usaha dalam hidup mereka, apakah kenikmatan atau kecelakaan. Mengimani hari akhir sesungguhnya terkait dengan banyak hal yang harus diilmui yaitu beriman tentang tanda-tanda hari kiamat –permasalahan ini telah dibahas pada edisi-edisi sebelumnya–, mengimani adanya nikmat dan siksa kubur, mengimani hari kebangkitan, mengimani adanya al-haudh (telaga yang dimiliki oleh Rasulullah n), mengimani timbangan amal, mengimani adanya syafaat, shirath (jembatan), pemberian lembaran catatan amal, dan mengimani keberadaan surga serta neraka. Semuanya ini merupakan rangkaian dalam beriman kepada hari akhir.

Manusia pada hari akhir

Sebagaimana terjadinya perbedaan yang tajam dalam kehidupan manusia di dunia ini, begitu juga di akhirat. Di dunia ada yang taat dan ada yang jahat, ada yang bertakwa dan tidak, ada yang mukmin dan kafir, ada yang shalih dan thalih, ada yang kaya disertai syukur dan ada yang tidak, ada yang miskin disertai sabar dan ada yang tidak. Semuanya ini sebagai gambaran akan terjadinya perbedaan yang besar kelak di akhirat. Di dunia Allah l telah mengangkat kedudukan orang yang beriman dan orang yang taat kepada-Nya. Demikian pula kelak di akhirat, Allah l akan membalasnya lebih dari apa yang telah diperbuatnya di dunia. Sebaliknya Allah l telah menghinakan orang-orang yang bermaksiat, ingkar dan kufur di dunia. Begitu juga Allah l akan membalasnya dengan yang setimpal kelak.

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya, dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) suatu hari (ketika itu), kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Allah): “Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu.” Lalu kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami.” (Yunus: 26-28)

“Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (Maryam: 86)

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajadah: 22)

Allah l tidak menyamakan mereka di dunia terlebih kelak di akhirat:

“Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (Al-Qalam: 35)

“Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shad: 28)

Buah beriman kepada hari akhir

1. Cinta dan semangat dalam melaksanakan ketaatan, mengharapkan ganjaran pada hari itu.

Mencintai sebuah ketaatan merupakan sebuah anugerah dari Allah l bagi siapa yang dikehendaki-Nya, begitu juga bersemangat tinggi terhadapnya. Orang yang cinta, dia tidak memiliki beban dalam melaksanakan ketaatan tersebut.

Kita telah mengetahui bahwa bentuk ketaatan yang paling besar di dalam agama adalah mewujudkan ketauhidan kepada Allah l. Allah l berfirman:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkann agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Jika seorang hamba mencintai bentuk ketaatan yang paling besar dan dia bersemangat untuk merealisasikannya di dalam hidup, niscaya dia akan menjadi orang yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah l dan otomatis paling tinggi derajatnya di dunia. Semua risiko dalam mewujudkan ketaatan akan dia hadapi dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Dia mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang ingin melaksanakan ketaatan melainkan telah mendapatkan ujian dan cobaan dari sisi Allah l. Sejarah perjalanan hidup para nabi dan rasul menjadi contoh pertama sekaligus sebagai suri teladan yang baik dalam hidup. Duri-duri dan kerikil-kerikil tajam siap menusuk, gelombang dahsyat siap mengempaskan ke jurang yang tajam dan menganga. Apakah Anda termasuk orang yang berhasil dan selamat, atau tidak? Pertolongan Allah l sajalah yang harus Anda minta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Nabi n memerintahkan setiap orang yang beriman untuk bersemangat melaksanakan segala yang bermanfaat dan meminta bantuan kepada Allah l, dan ini sangat sesuai dengan firman Allah l: ‘Kepada-Mulah kami menyembah dan kepada-Mulah kami meminta‘. Juga seruan Nabi Hud q: ‘Sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya.’ Maka semangat untuk meraih yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah semangat dalam ketaatan kepada Allah l dan menyembah-Nya, karena yang paling bermanfaat baginya adalah ketaatan kepada Allah l. Tidak ada yang paling bermanfaat bagi seorang hamba kecuali itu. Segala sesuatu yang membantu dalam ketaatan kepada Allah l, merupakan suatu ketaatan pula, kendatipun perkara itu adalah mubah.” (Lihat Amradhul Qulub hal. 50)

Beliau t juga berkata: “Sesungguhnya semua kebaikan itu ada dalam ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya. Sedangkan semua kejahatan itu terletak dalam bermaksiat kepada Allah l dan Rasul-Nya.” (Iqamatu Ad-Dalil ‘ala Ibthalu At-Tahlil 3/54)

Beliau juga berkata: “Tidaklah ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya sebagai sebab musibah dan tidaklah taat kepada Allah l melainkan pelakunya akan mendapatkan dua kebaikan dunia dan akhirat.” (Al-Hasanah was Sayyiah hal. 36 )

Ibnu Qayyim t berkata: “Al-Hasan t berkata: ‘Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan dirinya dan memperbaikinya serta memandunya menuju ketaatan kepada Allah l. Dan merugilah orang yang telah membinasakan dirinya dan memandunya menuju kemaksiatan kepada Allah l.” (Ighatsatu Al-Lahafan 1/51)

2. Lari dari perbuatan maksiat dan tidak meridhainya karena takut akan azab pada hari itu.

Menyelamatkan diri dari perbuatan maksiat dan melindungi diri darinya merupakan sebuah anugerah yang besar dari Allah l, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena tidak ada satu pun bentuk kemasiatan melainkan sangat digandrungi oleh jiwa, bersamaan dengan itu amat sangat sejalan dengan keinginan Iblis dan bala tentaranya. Siapa yang tidak menyukai kemaksiatan akan menjadi ejekan dan olokan Iblis sekaligus menjadi sasaran bisikan jahatnya. Orang yang beriman kepada hari akhir akan berusaha untuk menyabarkan diri dari segala perbuatan maksiat yang disenangi oleh nafsu dan setan. Semuanya ini dia lakukan semata-mata mengharapkan balasan dan ganjaran pada hari kekekalan.

Allah l berfirman

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

3. Hiburan bagi orang yang beriman.

Adanya hari akhir bagi orang yang beriman sesungguhnya merupkan penghibur. Mengapa? Karena Allah l telah mempersiapkan segala kesenangan yang tidak pernah didapatkan di dunia sebagai balasan dan ganjaran dari sisi-Nya. Surga sebagai tempat kenikmatan yang akan diberikan kepada orang-orang yang menutup kehidupan di atas ketaatan, dan melihat Allah l sebagai kenikmatan yang paling besar buat mereka.

Kalau kita mau melihat dengan kacamata yang bersih, niscaya kita akan mengetahui bahwa tidaklah berarti kekurangan dan kesengsaraan hidup di dunia bila diganti dan dibandingkan dengan kesenangan yang dipersiapkan oleh Allah l di sisinya kelak. Ironisnya, hal ini seringnya luput dari benak. Di mana orang merasa hina jika dia menjadi pekerja rendahan, pencari kayu bakar, tukang becak, pemulung, dan sebagainya. Padahal jika dia bersabar, itu hanyalah sesaat untuk kemudian mendapatkan kenikmatan yang abadi dan tidak berakhir. Mungkin orang akan selalu bersedih terhadap segala ujian yang menimpanya. Bahkan karena besarnya ujian yang disertai tertutupnya jalan keluar, seringkali seseorang putus asa dengan mengakhiri hidupnya dengan cara yang sadis dan tidak masuk akal. Hal ini terjadi karena tidak adanya iman, atau lemahnya iman pada dirinya akan adanya hari akhir sebagai hari pembalasan.

Mari kita merenungi untaian firman-firman Allah l dan sabda-sabda Rasulullah n.

Allah l berfirman:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”(Ali ‘Imran: 142)

Jihad dapat berarti:

1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam;

2. memerangi hawa nafsu;

3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam;

4. memberantas yang batil dan menegakkan yang haq.

Dari Abu Hurairah z: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Allah berfirman: ‘Tidak ada balasan bagi orang yang beriman di sisiku bila Aku mengambil kekasihnya di dunia lalu dia bersabar melainkan surga’.” (HR. Al-Bukhari no. 5944)

Mana yang lebih berharga di dalam hidupmu, orang yang sangat kamu cintai atau surga? Orang yang beriman tentu akan mengatakan surga.

Dari Anas bin Malik berkata: Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ قَالَ :إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ (يُرِيدُ عَيْنَيْهِ)

“Sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Apabila aku menguji hamba-Ku dengan Aku mengambil kedua penglihatannya dan dia bersabar, niscaya aku akan menggantikan keduanya dengan surga’.” (HR. Al-Bukhari no. 5221)

Saudaraku, mana yang lebih berharga dalam hidupmu, surga atau kedua penglihatanmu? Tentunya orang beriman akan menjawab surga. Oleh karena itu, bersabarlah sesaat dalam menghadapi segala ujian hidup untuk mendapatkan gantinya kelak di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Menyayangi Binatang

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

Islam merupakan agama yang sempurna, dimana seluruh aspek kehidupan manusia telah diatur sedemikian rapi. Hal ini karena Islam datang membawa kasih sayang dan rahmat bagi alam semesta. Di antara bentuk rahmat agama ini bahwa ia telah sejak dahulu menggariskan kepada pemeluknya agar berbuat baik dan menaruh belas kasihan terhadap binatang. Prinsip ini telah ditancapkan jauh sebelum munculnya organisasi/kelompok pecinta atau penyayang binatang.

Karena menyayangi binatang adalah bagian dari ajaran agama ini, maka sepanjang sejarah umat Islam, mereka menjaga dan menjalankan prinsip ini dengan baik. Namun ada perbedaan yang mendasar sekali antara keumuman kelompok pecinta binatang dengan kaum muslimin dalam menyayangi binatang. Kaum muslimin melakukannya karena sikap patuh terhadap perintah agama dan adanya harapan mendapatkan pahala dari menyayangi binatang serta takut terhadap azab neraka bila sampai menzalimi binatang. Nabi n bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah l).” (HR. Al-Bukhari no. 6013)

Sahabat Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Nabi n bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطْشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطْشِ فَقَالَ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِـي. فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقى فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لَنَـا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا؟ قَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطبَةٍ أَجْرٌ

Ketika tengah berjalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Dia turun ke suatu sumur dan meminum darinya. Tatkala ia keluar tiba-tiba ia melihat seeokor anjing yang sedang kehausan sehingga menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah yang basah. Orang itu berkata: “Sungguh anjing ini telah tertimpa (dahaga) seperti yang telah menimpaku.” Ia (turun lagi ke sumur) untuk memenuhi sepatu kulitnya (dengan air) kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya lalu naik dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah l berterima kasih terhadap perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda: “Pada setiap yang memiliki hati yang basah maka ada pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah! Betapa mendalamnya sikap belas kasihan lelaki tersebut, dimana ia harus bersusah payah turun ke dalam sumur, lalu mengisi sepatunya dengan air dan dibawanya dengan mulutnya, sedangkan kedua tangannya digunakan untuk naik sampai memberi minum anjing yang malang tersebut. Coba anda perhatikan hadits ini. Apa yang mendorongnya rela bersusah payah demi memberi minum seekor anjing?! Sesungguhnya pengalaman pahit dan kondisi sulit yang pernah dia alami mendorongnya untuk memberikan pertolongan kepada yang mengalami nasib yang serupa. Oleh karena itu, di antara faedah puasa adalah menumbuhkan sikap suka berderma dan menyantuni orang yang kesulitan. Orang yang berpuasa merasakan beratnya lapar dan dahaga di siang hari, padahal di malam harinya dia makan dan minum. Lalu bagaimana kiranya orang fakir yang setiap harinya kelaparan dan kehausan?! Saudaraku, dari hadits tadi kita jadi tahu bahwa suatu kebaikan sekecil apapun tidak boleh kita remehkan. Karena siapa tahu, satu suapan makanan yang kita berikan kepada orang yang lapar dengan ikhlas atau satu teguk air yang dengannya menjadi basah kerongkongan orang yang kehausan, ternyata diterima di sisi Allah l. Dengan sebab yang ringan ini, kita diberi pahala dan diselamatkan dari siksa dan kemarahan Allah l. Allah l berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Al-Zalzalah: 7)

Bila orang yang berbuat baik kepada binatang mendapatkan ampunan dari Allah l, maka sebaliknya orang yang menzalimi binatang akan diancam dengan azab. Nabi n bersabda:

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ، لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

Seorang wanita disiksa karena kucing yang dikurungnya sampai mati. Dengan sebab itu dia masuk ke neraka, (dimana) dia tidak memberinya makanan dan minuman ketika mengurungnya, dan dia tidak pula melepaskannya sehingga dia bisa memakan serangga yang ada di bumi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abdullah bin Umar c)

Bimbingan Nabi n untuk memerhatikan hak-hak binatang

Tiada satu kebaikan pun kecuali Rasulullah n telah menjelaskan kepada umatnya, sebagaimana tiada kejelekan apapun kecuali umat telah diperingatkan darinya. Kita tahu bahwa Rasulullah n tidaklah diutus kecuali membawa rahmat, sebagaimana firman Allah l:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya: 107)

Di antara nama Rasulullah n adalah Nabiyurrahmah, yaitu nabi yang membawa kasih sayang. Rahmat beliau tentu tidak khusus untuk manusia bahkan untuk alam semesta, termasuk binatang.

Hak-hak binatang yang harus diperhatikan

1. Memerhatikan pemberian makanan

Nabi n bersabda:

إِذَا سِرْتُمْ فِي أَرْضٍ خصْبَةٍ فَأَعْطُوا الدَّوَابَّ حَظَّهَا وَإِذَا سِرْتُمْ فَي أَرْضٍ مَجْدَبَةٍ فَانْجُوا عَلَيْهَا

“Bila kamu melakukan perjalanan di tanah subur, maka berilah binatang (tunggangan) itu haknya. Bila kamu melakukan perjalanan di bumi yang tandus maka percepatlah perjalanan.” (HR. Al-Bazzar, lihat Ash-Shahihah no. 1357)

Hadits ini memberi petunjuk bila seseorang melakukan perjalanan dengan mengendarai binatang serta melewati tanah yang subur dan banyak rumputnya agar memberi hak hewan dari rumput dan tetumbuhan yang ada di tempat itu. Namun bila melewati tempat yang tandus sementara dia tidak membawa pakan binatang tunggangannya serta tidak menemukan pakan di jalan, hendaknya dia mempercepat perjalanan agar dia sampai tujuan sebelum binatang itu kelelahan.

2. Tidak memeras tenaga binatang secara berlebihan

Dari sahabat Abdullah bin Ja’far z, dia berkata: Nabi n pernah masuk pada suatu kebun dari kebun-kebun milik orang Anshar untuk suatu keperluan. Tiba-tiba di sana ada seekor unta. Ketika unta itu melihat Nabi n maka ia datang dan duduk di sisi Nabi n dalam keadaan berlinang air matanya. Nabi n bertanya, “Siapa pemilik unta ini?” Maka datang (pemiliknya) seorang pemuda dari Anshar. Nabi n bersabda, “Tidakkah kamu takut kepada Allah l dalam (memperlakukan) binatang ini yang Allah l menjadikanmu memilikinya?! Sesungguhnya unta ini mengeluh kepadaku bahwa kamu meletihkannya dengan banyak bekerja.” (HR. Abu Dawud dll, Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Ash-Shahihah no. 20)

3. Menajamkan pisau yang akan digunakan untuk menyembelih

Pisau yang tumpul dan tidak tajam akan sulit digunakan untuk menyembelih sehingga binatang yang disembelih tersiksa karenanya. Nabi n bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah l telah menentukan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Bila kamu membunuh maka baguskanlah dalam membunuh dan bila menyembelih maka baguslah dalam cara menyembelih. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan belatinya dan menjadikan binatang sembelihan cepat mati.” (HR. Muslim)

Namun janganlah seorang mengasah belatinya di hadapan binatang yang akan disembelihnya. Dahulu Nabi n pernah menegur orang yang melakukan demikian dengan sabdanya: “Mengapa kamu tidak mengasah sebelum ini?! Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali?!” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Ash-Shahihah no. 24)

4. Tidak memberi cap dengan besi yang dipanaskan pada wajah binatang

Sahabat Ibnu Abbas c meriwayatkan bahwa Nabi n melewati seekor keledai yang dicap pada wajahnya, maka beliau mengatakan:

لَعَنَ اللهُ الَّذِي وَسَمَهُ

“Allah l melaknat orang yang memberinya cap.” (HR. Muslim)

Namun boleh memberi cap pada binatang pada selain wajah.

5. Tidak menjadikan binatang yang hidup sebagai sasaran dalam latihan memanah dan yang semisalnya.

Sahabat Ibnu Umar c berkata: “Sesungguhnya Rasulullah n mengutuk orang yang menjadikan sesuatu yang padanya ada ruh sebagai sasaran untuk dilempar.” (Muttafaqun ‘alaih)

Inilah sekelumit dari sekian banyak petunjuk Nabi kita n. Lalu setelah ini, apakah masih ada orang-orang non-muslim yang mengatakan bahwa Islam menzalimi binatang?! Sungguh keji dan amat besar kedustaan yang keluar dari mulut-mulut mereka!

Praktik salaf umat ini

Tidak bisa dipungkiri bahwa salaf (generasi awal) umat ini adalah orang-orang yang terdepan dalam segala kebaikan dan paling jauh dari setiap kenistaan dan kezaliman. Ilmu yang mereka serap tidak sekadar kliping pengetahuan, tetapi dipraktikkan di alam nyata. Adalah sahabat Umar bin Al-Khaththab z ketika beliau mengetahui ada seorang mengangkut barang menggunakan unta yang melebihi kemampuan binatang tersebut, maka Umar sebagai penguasa memukul orang tersebut sebagai bentuk hukuman. Beliau z menegurnya dengan mengatakan, “Mengapa kamu mengangkut barang di atas untamu sesuatu yang dia tidak mampu?” (Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d).

Adalah sahabat Abud Darda z dahulu punya unta yang dipanggil Dimun. Apabila orang-orang hendak meminjamnya, maka ia berpesan untuk tidak membebaninya kecuali sekian dan sekian (yakni batas kemampuan unta) karena unta itu tidak mampu membawa yang lebih dari itu. Maka ketika kematian telah datang menjemput Abud Darda z, beliau berkata: “Wahai Dimun, janganlah kamu mengadukanku besok (di hari kiamat) di sisi Rabbku, karena aku tidaklah membebanimu kecuali apa yang kamu mampu.” (Lihat Ash-Shahihah, 1/67-69)

Penjelasan Ulama Fiqih

Bimbingan Nabi n dan contoh mulia dari salaf umat ini senantiasa membekas pada benak para ulama. Oleh karenanya, ulama fiqih telah memberikan penjelasan hukum seputar menyayangi binatang, sehingga perkara ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena, seseorang tidak bisa berbuat kebajikan yang besar bila yang kecil saja diabaikan.

Al-Imam Ibnu Muflih t dalam kitabnya ‘Al-Adab Asy-Syar’iyah (jilid 3) menyebutkan pembahasan tentang makruhnya berlama-lama memberdirikan binatang tunggangan dan binatang pengangkut barang melampaui kebutuhannya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi n (yang artinya): “Naikilah binatang itu dalam keadaan baik dan biarkanlah ia dalam keadaan bagus, serta janganlah kamu jadikan binatang itu sebagai kursi.” (HR. Ahmad dll, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’)

Maksudnya, janganlah salah seorang dari kalian duduk di atas punggung binatang tunggangan untuk berbincang-bincang bersama temannya, dalam keadaan kendaraan itu berdiri seperti kalian berbincang-bincang di atas kursi. Namun larangan dari berlama-lama di atas punggung binatang ini bila tidak ada keperluan. Sedangkan bila diperlukan seperti di saat perang atau wukuf di padang Arafah ketika haji maka tidak mengapa. (Faidhul Qadir1/611)

Mar’i Al-Hanbali berkata: “Wajib atas pemilik binatang untuk memberi makanan dan minumannya. Jika dia tidak mau memberinya maka dipaksa (oleh penguasa) untuk memberinya. Bila dia tetap menolak atau sudah tidak mampu lagi memberikan hak binatangnya maka ia dipaksa untuk menjualnya, menyewakannya, atau menyembelihnya bila binatang tersebut termasuk yang halal dagingnya. Diharamkan untuk mengutuk binatang, membebaninya dengan sesuatu yang memberatkan, memerah susunya sampai pada tingkatan memudharati anaknya, memukul dan memberi cap pada wajah, serta diharamkan menyembelihnya bila tidak untuk dimakan.”

Sebagian ahli fiqih menyebutkan bahwa apabila ada kucing buta berlindung di rumah seseorang, maka wajib atas pemilik rumah itu untuk menafkahi kucing itu karena ia tidak mampu pergi.

Ibnu As-Subki t berkata ketika menyebutkan tukang bangunan yang biasa menembok dengan tanah dan semisalnya: “Termasuk kewajiban tukang bangunan untuk tidak menembok suatu tempat kecuali setelah memeriksanya apakah padanya ada binatang atau tidak. Karena kamu sering melihat kebanyakan pekerja bangunan itu terburu-buru menembok, padahal terkadang mengenai sesuatu yang tidak boleh dibunuh kecuali untuk dimakan, seperti burung kecil dan semisalnya. Dia membunuh binatang tadi dan memasukannya ke dalam lumpur tembok. Dengan ini ia telah berkhianat kepada Allah l dari sisi membunuh binatang ini.”

Asy-Syaikh Abu Ali bin Ar-Rabbal(????) berkata: “Apa yang disebutkan tentang (bolehnya mengurung burung dan semisalnya) hanyalah bila padanya tidak ada bentuk menyiksa, membikin lapar dan haus meski tanpa sengaja. Atau mengurungnya dengan burung lain yang akan mematuk kepala burung yang sekandang, seperti yang dilakukan oleh ayam-ayam jantan (bila) berada di kurungan, sebagiannya mematuk sebagian yang lain sampai terkadang yang dipatuk mati. Ini semua, menurut kesepakatan ulama, adalah haram.” (Lihat Arba’un Haditsan fit Tarbiyati wal Manhaj hal. 32-33 karya Dr. Abdul Aziz As-Sadhan)

Coba cermati ucapan Abu Ali bin Ar-Rahhal(????) tadi, lalu bagaimana dengan orang yang sengaja mengadu ayam jantan, benggala (domba), dan semisalnya?! Apakah tidak lebih haram?!

Binatang-binatang yang boleh dibunuh

Keharusan menyayangi binatang bukan berarti kita tidak boleh menyembelih binatang yang halal untuk dimakan. Karena agama Islam berada di tengah-tengah, antara mereka yang mengharamkan seluruh daging binatang dan di antara orang-orang yang memakan binatang apapun, meskipun babi. Demikian pula dibolehkan membunuh binatang yang jahat dan banyak mengganggu orang, merusak tanaman dan memakan ternak, seperti burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus, anjing hitam, dan semisalnya. Nabi n bersabda:

خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُهُنَّ فَاسِقٌ يُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ: الْغُرَابُ وَالْحدأة وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Lima binatang yang semuanya jahat, (boleh) dibunuh di tanah haram (suci) yaitu: burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus, dan anjing yang suka melukai.” (HR. Al-Bukhari no. 1829)

Masih banyak lagi jenis binatang yang boleh dibunuh karena mudharat yang muncul darinya. Namun membunuhnya juga dengan cara yang bagus. Tidak boleh dengan dibakar dengan api, dicincang, atau diikat hingga mati.

Wallahu a’lam.

Kiamat Telah Dekat

Kapan terjadinya hari kiamat sudah seringkali diramalkan. Entah sudah berapa kali hari kehancuran dunia itu diprediksi. Namun sekian banyak itu pula ramalan yang diracik sejumlah pemuka sekte Kristen, para ”peramal kondang” seperti Nostradamus, dan sejumlah fisikawan (pakar sains), tak pernah terbukti. Di belakang kita saat ini, juga masih ada sederet ramalan tentang kiamat seperti kalender bangsa Maya (2012), tumbukan Planet X/Nibiru (2053), versi Isaac Newton (2060), dan masih banyak lagi. Dari ramalan yang tak berdasar hingga yang dibumbui dengan perhitungan-perhitungan sains.

Sebagai muslim, kita tentu meyakini, hari kiamat tidaklah pernah dapat diprediksi kapan terjadinya karena merupakan rahasia Allah l yang tidak diketahui siapa pun, bahkan termasuk Rasulullah n sendiri. Namun demikian, kita masih bisa mengetahui dekat atau tidaknya kedatangan hari kiamat dengan melihat tanda-tandanya (baik tanda-tanda kecil maupun besar) yang diberitakan Allah l dalam Al-Qur’an maupun yang disampaikan Rasulullah n melalui As-Sunnah. Meski tentunya, dekat atau jauhnya waktu tersebut tetap tak bisa ditentukan secara pasti.

Yang miris, masih saja ada kaum muslimin yang larut dalam perbincangan mengenai ramalan-ramalan gombal kiamat, namun justru abai terhadap berbagai runutan kiamat berikut tanda-tandanya yang sudah gamblang dipaparkan dalam syariat. Tak sedikit bahkan yang secara psikis ikut-ikutan tertekan hingga keimanannya mulai hanyut terbawa arus propaganda ramalan kiamat. Terlebih, banyak sekte menyimpang yang ketika menerbitkan ramalan tentang kiamat kemudian mengikutinya dengan tindakan bunuh diri massal para pengikutnya.

Kiamat sendiri adalah suatu perkara yang telah pasti bahkan seluruh manusia sendiri meyakini, suatu saat kehidupan di dunia atau di muka bumi ini memang akan berakhir. Namun bagi seorang muslim, kiamat bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada kehidupan akhirat yang menanti kita. Masih ada balasan perhitungan amal yang kita lakukan di dunia. Pantaskah kita diganjar dengan surga atau malah kita, na’udzubillah, menjadi penghuni neraka?

Sehingga keimanan terhadap hari kiamat ini semestinya mendorong kita untuk senantiasa beramal kebajikan dan menjauhi perbuatan dosa, mengusir sikap sombong atau takabur, serta menanamkan sifat tidak mudah putus asa. Kiamat tidak harus disikapi dengan ketakutan yang berlebihan. Namun sebaliknya tidak dihadapi dengan santai terlebih meremehkannya. Beragam musibah dahsyat di berbagai belahan dunia yang pernah atau saat ini kita saksikan sesungguhnya telah nyata mengingatkan bahwa itu semua tetaplah belum seberapa dibandingkan dahsyatnya kiamat kelak.

Hal yang juga patut kita renungkan, sebelum berbicara kiamat, kita sendiri terlebih dahulu dihadapkan pada kiamat “kecil” yang juga tak pernah kita duga sebelumnya, yakni kematian. Sehingga hal paling utama bagi kita adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi datangnya kematian itu serta mempersiapkan perbekalan untuk menghadapi kehidupan setelah hari kebangkitan di akhirat kelak.

Semua yang bermula pasti akan berakhir, oleh karena itu sudah saatnya kita berbekal akhirat menyambut kiamat yang sudah semakin dekat. Wallahu a’lam.