Ashabul Hadits Pelita dalam Kegelapan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim)

Untuk mengawali penulisan biografi ulama-ulama Ahlus Sunnah pada rubrik yang baru ini, kami akan menguraikan kepada pembaca tentang Ashabul Hadits. Karena para ulama yang akan kita kenali lewat biografi pada edisi-edisi mendatang adalah termasuk Ashabul Hadits. Sehingga mengenal Ashabul Hadits secara umum sangatlah penting.
Dalam kitab Al-Makhraj Minal Fitnah, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menyebutkan, Ashabul Hadits (ulama ahli hadits) adalah kelompok yang telah Allah I jadikan sebagai penjaga agama-Nya. Mereka adalah orang yang paling berbahagia terhadap hadits yang berbunyi: “Barangsiapa memberi shalawat kepadaku maka Allah akan membalas kepadanya 10 shalawat.” (Shahih, HR. Muslim)
Karena merekalah orang yang paling banyak membaca kitab-kitab hadits dibanding kelompok lainnya dan setiap kali melewati kata ‘Rasulullah’ pasti mereka bershalawat kepada beliau.
Rasulullah r mendoakan mereka dengan sabdanya, “Allah memperindah orang yang mendengar ucapanku, dia menghapalnya lalu dia mengamalkan apa yang dia dengar.” (Shahih, lihat Ash-Shahihah no. 404)
Dalam kitab Al-Mustadrak, Al-Hakim berkata, bahwa Nabi r berkata, “Senantiasa ada sekelompok manusia dari umatku yang ditolong, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai hari kiamat.” Artinya mereka ditolong untuk tetap istiqamah, terhindar dari kebid’ahan dan kesyirikan, di dunia dan di akhirat serta selamat dari siksa an-naar (neraka).
Al-Imam Ahmad ketika menerangkan siapa yang dimaksud golongan yang ditolong Allah itu berkata,”Bila kelompok yang ditolong ini bukan Ashabul Hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka!?” Selanjutnya Al-Hakim berkata, “Ahmad bin Hanbal telah benar dalam menerangkan siapa kelompok yang ditolong sampai hari kiamat, bahwa kelompok yang ditolong dan dimuliakan sampai hari kiamat adalah Ashabul Hadits. Siapakah yang lebih berhak mendapat julukan sebagai ‘golongan yang ditolong’ selain golongan yang menempuh jalan hidup para salaf dan memberantas bid’ah-bid’ah dengan Sunnah Nabi r? Mereka adalah orang-orang yang menjelajah padang yang tandus, memutus kenikmatan hidup, menikmati kelelahan safar bersama rumah-rumah ilmu dan hadits, serta merasa puas dapat mengumpulkan hadits walau menelan kepahitan lapar dan dahaga. Mereka telah menepis bid’ah-bid’ah, nafsu, dan qiyas-qiyas serta penyimpangan agama. Mereka menjadikan masjid-masjid sebagai rumah mereka, tiang-tiangnya sebagai tempat sandaran dan daratan luas sebagai tempat tidur mereka.”
Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitab Syarafu Ashabil Hadits berkata, “Allah telah menjadikan ahli hadits sebagai tiang-tiang syariat. Melalui mereka, ahli bid’ah hancur binasa. Mereka adalah utusan Allah kepada hamba-hamba-Nya dan perantara Nabi dengan umatnya. Cahaya ilmu mereka bersinar, keutamaan mereka terus mengalir, tanda-tanda mereka jelas, madzhab mereka terlihat, hujjah mereka kuat dan setiap kelompok yang kebingungan di atas nafsu kembali kepada mereka. Al Qur`an adalah bekal mereka, As Sunnah adalah dalil mereka, Rasulullah r adalah kelompok mereka, nasab (penyandaran) mereka kepada Rasulullah, mereka tidak menunggangi hawa nafsu dan tidak menoleh kepada akal. Mereka menerima kabar Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang dipercaya dan adil, penjaga agama, pemikul dan penyimpan ilmu…”
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i berkata bahwa ahli hadits adalah orang-orang yang paling banyak memberikan nasehat setelah Nabi dan shahabatnya. Namun seringkali nasihat mereka dibalas dengan gangguan, penjara, pengasingan, pemukulan, dan pembunuhan. Di antara ahli hadits yang mengalami ujian berat tersebut adalah Sa’id bin Al-Musayyib (seorang tabi’in), Al-Imam Malik bin Anas, Al-Imam Ahmad, Al-Imam Al-Bukhari, Ibnu Jarir, Abu Muhammad bin Hazm, Al-Khathib Al-Baghdadi, Al-Hafidz Abdul Ghani, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim muridnya, Muhammad bin Ibrahim Al-Wazir, Shalih bin Mahdi Al-Muqbili, Muhammad bin Isma’il Al-Amir dan Muhammad bin Ali Asy-Syaukani.
Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari ahli hadits, karuniakanlah kami rizki untuk mengamalkannya dan mencintai ahli hadits.
Wallahu a’lam.

Sumber bacaan:
1.    Al-Makhraj Minal Fitnah, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
2.    Al-Kaukab Ad-Durriy, Abdurrahim bin Hasan Al-Asnawi Abu Muhammad
3.    Al-Mustadrak, Al-Hakim
4.    Minhaj Al-Firqatin Najiyah, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Sabar Membawa Keberhasilan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Sabar adalah akhlak yang sangat mulia. Ia menjadi hiasan para nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.

“Bersabarlah!”
Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad r di dalam Al Qur`an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah. Tentu jika Anda menyambut seruan tersebut niscaya Anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah r, keberhasilan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Al-Ahqaf: 35)

Sabarnya Ulul ‘Azmi
Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?
1.    Nabi Nuh u sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah Anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba Anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:

“Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh berupa setan baik dari kalangan manusia maupun jin.” (Al-An’am: 112)
Yang pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat: anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat. Allah mengatakan tentang beliau:

“Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” (Al-Isra`: 3)
2.    Nabi Ibrahim u sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga merupakan salah satu ulul ‘azmi. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim. Bagaimanakah perasaan Anda jika Anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak Anda? Bapaknya yang Allah jadikan sebagai penghadang dakwah beliau, berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim u ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apa yang bisa mereka perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.
Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya. Bisakah Anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.
3 & 4.   Nabi Musa u dan ‘Isa u adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Isra`il dan sekaligus sebagai ulul ‘azmi. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya? Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.
5.    Nabi Muhammad r sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah menjadikan keluarganya yang dekat sebagai penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.
Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang Anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri teladan Anda dalam kesabaran sehingga Anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t mengatakan di dalam tafsir beliau: “Adapun orang yang Allah telah berikan taufiq untuk bersabar ketika ditimpa ujian, sehingga dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah, dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”

Macam-macam Sabar dan Keutamaannya
Ibnul Qayyim t dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/156) berkata: “Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dan sabar dalam menghadapi ujian.”
Al-Imam Al-Qurthubi t dalam tafsir beliau menukilkan ucapan Sahl bin Abdillah At-Tasturi: “Sabar ada dua macam yaitu sabar dari bermaksiat kepada Allah maka ini adalah seorang mujahid; dan sabar dalam ketaatan kepada Allah ini yang dinamakan ahli ibadah.”
Ibnul Qayyim t di dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/155) mengatakan: “Sabar dalam keimanan bagaikan kepala pada jasad; dan tidak ada keimanan tanpa sabar sebagaimana jasad tidak akan berfungsi tanpa kepala.”
‘Umar bin Al-Khaththab z berkata: “Kami menjumpai kebaikan hidup ada bersama kesabaran.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Kepemimpinan dalam agama akan didapati dengan yakin dan sabar.” Allah I berfirman:
“Dan Kami jadikan dari mereka sebagai pemimpin yang berjalan di atas perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)
Rasulullah r bersabda: “Tidak ada satupun pemberian kepada seseorang yang lebih baik daripada sabar.” (Shahih, HR. Muslim).
Beliau r bersabda pula:  “Sabar adalah cahaya.” (Shahih, HR. Muslim)
Allah I berfirman:
“Dan Kami benar-benar akan membalas mereka yang bersabar dengan balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka telah lakukan.” (An-Nahl: 96)
Wallahu a’lam.

Najiskah Air Mani

Apakah air mani itu najis? Bila najis, apakah cara mencuci pakaian yang terkena air mani itu sama dengan cara mencuci pakaian yang terkena darah haidh?
Agus Dukhron Qori
Komplek MI Muhammadiyah Jatijajar, Ayah, Kebumen

Jawab:
Oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh
Dalam permasalahan najis atau sucinya air mani, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa air mani itu najis, sebagaimana pendapat Al-Imam Abu Hanifah dan Al-Imam Malik. Sebagian ulama yang lain berpendapat air mani itu suci, sebagaimana pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan Al-Imam Ahmad.
Dari dua pendapat tersebut, yang rajih –insya Allah– adalah pendapat kedua, yang menyatakan bahwa air mani itu suci. Hal ini didasarkan pada hadits ‘Aisyah x yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan lafadz, di antaranya:

“Bahwasanya aku dahulu mengerik (air mani) dari pakaian Rasulullah r, kemudian beliau shalat denganmenggunakan pakaian tersebut.” (HR. Muslim)
Dalam lafadz lain:

“Dahulu aku mengerik air mani yang telah kering dengan kukuku dari pakaian Rasulullah.“ (HR. Muslim)
Dari hadits di atas, jelaslah bahwa air mani merupakan sesuatu yang suci karena:
1.    Perbuatan ‘Aisyah x membersihkan air mani yang telah kering tersebut hanya mengerik dengan kukunya. Kalau seandainya air mani adalah sesuatu yang najis, maka tidak cukup mensucikannya hanya dengan mengeriknya.
2.    Sikap Rasulullah r menunda pembersihan air mani yang menimpa pakaiannya hingga kering, juga menunjukkan bahwa air mani itu suci. Kalau seandainya najis, maka Rasulullah r akan segera membersihkannya, sebagaimana kebiasaan beliau di dalam menyikapi benda-benda najis, seperti peristiwa tertimpanya pakaian Rasulullah r oleh air kencing anak kecil. Dalam hadits Ummu Qais binti Mihshan yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang artinya: Dia (Ummu Qais binti Mihshan -red) datang menemui Rasulullah r dengan membawa seorang bayi yang belum memakan makanan, kemudian Rasulullah r mendudukkannya di kamarnya, kemudian bayi tersebut kencing di pakaian Rasulullah r, maka segera Rasulullah r meminta air dan menyiramkannya pada pakaiannya.
Begitu pula peristiwa seorang Badui yang kencing di masjid, sebagaimana dikisahkan dalam hadits Anas bin Malik z yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.
Pendapat yang kedua ini adalah pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan merupakan pendapat kebanyakan para ulama.
Sementara itu, cara membersihkan air mani adalah dengan dua cara:
1.    Boleh dicuci dengan air, sebagaimana hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dengan lafadz:

“Bahwasanya Rasulullah r mencuci air mani, kemudian keluar shalat dengan mengenakan pakaian tersebut, sementara aku melihat adanya bekas cucian tersebut.”
2.    Dengan mengeriknya (dengan kuku), sebagaimana dalam hadits yang telah lalu jika air mani telah kering. Dan juga boleh dicuci walaupun telah kering.
Sedangkan darah haidh adalah sesuatu yang najis hukumnya dan cara mencucinya pun berbeda (dengan cara mencuci air mani) serta cenderung lebih ekstra. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Asma‘ binti Abi Bakr:

“Telah datang seorang wanita kepada Rasulullah r dan berkata: ‘Salah satu dari kami telah tertimpa pakaiannya oleh darah haidh, apa yang bisa dia lakukan?’ Rasulullah r berkata: ‘Dikerik (dengan kukunya), kemudian dikucek dengan air kemudian dibasuh/disiram dengan air, kemudian boleh baginya shalat dengan mamakai pakaian tersebut’.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dari hadits tersebut diketahui bahwa darah haidh adalah darah yang najis, karena Rasulullah r memerintahkan untuk mencucinya dengan cara yang ekstra ketat sebelum digunakan pakaian tersebut untuk shalat. Bahkan dalam riwayat hadits Ummu Qais yang diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud, Rasulullah r memerintahkan untuk mencucinya dengan air yang telah dicampur dengan daun bidara. Sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih (1/481) dengan judul ‘Bab Tata Cara Mencuci Darah Haidh’.
Dengan ini telah jelaslah perbedaan hukum air mani dengan darah haidh serta cara mencuci keduanya.
Wallahu a’lamu bish-shawab.

Batas Akhir Shalat ‘Isya

Kapankah batas akhir shalat ‘Isya itu, karena sering saya lihat teman saya shalat ‘Isya sampai jam 03.00 pagi bahkan sudah mendekati fajar? Jazakumullah khairan katsira.
isty_01@…com

Jawab:
Oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh
Para ulama berbeda pendapat tentang batasan akhir shalat ‘Isya:
q       Pendapat pertama, batas akhir waktu shalat ‘Isya adalah sampai dengan seperempat malam yang pertama;
q       Pendapat kedua, batas akhir waktu shalat ‘Isya adalah sampai dengan sepertiga malam yang pertama;
q       Pendapat ketiga, batas akhir waktu shalat ‘Isya adalah sampai dengan pertengahan malam;
q       Pendapat keempat, batas akhir waktu shalat ‘Isya adalah sampai terbit fajar yang kedua.
Dari sekian pendapat ini, yang paling rajih (kuat) insya Allah adalah pendapat ketiga, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa batas akhir waktu shalat ‘Isya adalah hingga pertengahan malam. Hal ini didasarkan pada hadits Abdillah bin ‘Amr bin Al-‘Ash c, yang diriwayatkan Al-Imam Muslim, bahwa Rasulullah r bersabda:

“…dan akhir dari waktu shalat ‘Isya adalah sampai dengan pertengahan malam.” (Shahih, HR. Muslim no. 172)
Apa yang terkandung dalam hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu ‘Abbas c, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dan Abu Dawud, bahwa Rasulullah r bersabda:

“Dan akhir dari waktu shalat ‘Isya adalah setelah mencapai sepertiga malam (yang pertama).” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)
Hal ini dikarenakan sepertiga malam yang pertama, masih merupakan bagian dari setengah malam yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash c, sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani t dalam Ad-Darari Al-Mudhiyyah (1/175-176).
Adapun tentang pendapat yang menyatakan bahwa batasan akhir waktu shalat ‘Isya sampai terbitnya fajar kedua, maka Al-Imam Al Hafidz Ibnu Hajar t telah berkata dalam Fathul Bari (2/244): “Aku tidak mendapati adanya satu hadits pun yang jelas dan shahih, yang menjelaskan bahwa waktu akhir shalat ‘Isya adalah sampai terbitnya fajar kedua.”
Begitu pula Al-Imam Al-Bukhari t
telah menyebutkan dalam Shahih-nya; () yaitu bab yang menjelaskan tentang waktu akhir shalat ‘Isya, bahwasanya waktu akhir shalat ‘Isya adalah sampai pertengahan malam.
Untuk lebih lengkapnya mengenai bantahan atas pendapat yang menyatakan bahwa waktu ‘Isya berlanjut hingga terbit fajar kedua, maka dapat dilihat dalam Tamamul Minnah (hal. 141-142) yang ditulis Asy-Syaikh Al-Albani.
Wallahu a’lamu bish-shawab.

Larangan Memberontak kepada Pemerintah Muslim

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan berkata:  “Termasuk pokok akidah Ahlus Sunnah adalah diharamkannya memberontak kepada pemimpin kaum muslimin1 meskipun mereka melakukan perbuatan dosa –yang tidak sampai kepada kekufuran–, karena Nabi r memerintahkan untuk mentaati mereka selain dalam perkara maksiat dan selama belum tampak pada mereka kekufuran yang nyata. Berbeda halnya dengan kelompok sempalan Mu’tazilah yang mewajibkan untuk memberontak kepada para pemimpin apabila mereka melakukan suatu dosa besar walaupun belum sampai pada tingkat kekufuran, bahkan mereka menganggap hal tersebut termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Padahal sebenarnya perbuatan mereka inilah yang merupakan kemungkaran terbesar, karena berdampak kerugian dan bahaya yang besar berupa kekacauan (di dalam negeri), rusaknya perkara (urusan kaum muslimin), terpecah belahnya persatuan dan berkuasanya musuh (terhadap kaum muslimin).” (Min Ushul ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 21-22)

Catatan Kaki:

1 Al-Imam Ath-Thahawi t berkata: “Kita (Ahlus Sunnah) berpandangan tidak boleh memberontak kepada para imam dan pemimpin kita (pemimpin di sini adalah orang Islam), walaupun mereka berbuat jahat. Kita tidak boleh mendoakan kejelekan atas mereka dan tidak boleh menarik tangan dari sumpah setia untuk menaati mereka. Bahkan kita memandang taat kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah secara wajib, selama mereka tidak memerintahkan kepada maksiat. Dan kita mendoakan mereka dengan kebaikan dan memintakan perlindungan untuk mereka dari segala yang tidak baik.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah)

Nasehat nan Penuh Kenangan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Al-Imam Abu Dawud meriwayatkan dari shahabat yang mulia Al-‘Irbadh bin Sariyah z, bahwa ia berkata: Rasulullah r menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru (bid’ah) itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 3991, At-Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42)

Penjelasan Hadits
Al-Hafidz Abu Nu‘aim berkata: “Hadits ini jayyid (bagus), termasuk hadits yang shahih dari periwayatan orang-orang Syam.” Beliau juga mengatakan: “Al-Bukhari dan Muslim meninggalkan hadits ini (yakni tidak memuat dalam kitab shahih mereka) bukan karena mengingkarinya.”
Al-Hakim menyatakan, Al-Bukhari dan Muslim meninggalkan penyebutan hadits ini disebabkan anggapan yang keliru dari keduanya bahwa tidak ada seorang rawi pun yang meriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan kecuali Ats-Tsaur bin Yazid, padahal sebenarnya ada perawi lain yang meriwayatkan dari Khalid seperti Buhair bin Sa’d, Muhammad bin Ibrahim At-Taimi dan selain keduanya.
Namun pernyataan Al-Hakim ini dijawab oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab: “Sebenarnya hal ini tidaklah seperti persangkaan Al-Hakim. Adapun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengambil hadits ini karena hadits ini tidak memenuhi syarat mereka berdua di dalam kitab shahihnya, di mana Al-Bukhari dan Muslim sama sekali tidak mengeluarkan dalam shahihnya riwayat dari Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami dan dari Hujr Al-Kala’i. Dan juga dua orang rawi yang disebut ini tidaklah terkenal (masyhur) dalam keilmuan dan periwayatan hadits.”
Adapun Abdurrahman As-Sulami, salah seorang perawi dalam hadits ini, maka ia masturul hal (keadaannya tidak diketahui), walaupun telah meriwayatkan darinya jama’ah (sekelompok orang) namun tidak ada seorang alim yang mu’tabar (teranggap dan diakui keilmuannya) yang men-tsiqah-kannya (menganggapnya terpercaya). Ibnul Qaththan Al-Fasi men-dha’if-kan (melemahkan) hadits ini karena hal tersebut.
Demikian pula dengan Hujr bin Hujr Al-Kala’i, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Khalid bin Ma‘dan dan tidak ada seorang alim yang mu’tabar yang men-tsiqah-kannya, sehingga ia dinyatakan majhulul ‘ain (rawi yang tidak dikenal). Ibnul Qaththan berkata: “Orang ini tidak dikenal.” Namun sebagaimana kata Al-Imam Al-Hakim di atas, hadits ini diriwayatkan juga dari selain mereka berdua dan disebutkan jalan-jalannya yang saling menguatkan satu dengan lainnya oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum, maka hadits ini hasan. Penghasanan hadits ini dinyatakan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t, walaupun ada sebagian ulama yang menshahihkannya, sehingga mereka bersepakat bahwa hadits ini bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil atau argumen), kecuali Ibnul Qaththan Al-Fasi yang men-dha’if-kan hadits ini. (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim, no. 27, Ash-Shahihul Musnad, 2/71, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/110, Mizanul I’tidal, 2/207, Tahdzibut Tahdzib, 2/188, 6/215)

Kandungan Hadits
Allah I memerintahkan kepada Nabi-Nya:

“Berilah nasehat kepada mereka dan katakanlah kepada mereka ucapan yang bisa dipahami, mengena dan menancap di jiwa-jiwa mereka.” (An-Nisa`: 63)
Nabi r memiliki sifat selalu memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus terhadap siapa saja dari kalangan umatnya, sehingga ketika para shahabatnya meminta agar beliau memberikan nasehat maka beliau pun memenuhinya diiringi dengan hikmah.
Rasulullah r ketika menyampaikan nasehat senantiasa memilih kata-kata yang tepat, lafadz yang indah, mengena di hati dan menancap dengan dalam. Beliau tidak menyampaikan nasehat dengan kalimat yang panjang lagi bertele-tele, namun cukup dengan kalimat yang ringkas namun mencakup dan dimengerti. Karena itulah beliau dikenal oleh para shahabatnya sebagai orang yang memiliki jawami’ul kalim (perkataan yang ringkas namun padat). Sebagaimana sabda beliau r:

“Aku diutus dengan jawami’ul kalim.” (HR. Al-Bukhari no. 2977 dan Muslim no. 523)
‘Ammar bin Yasir c pernah menyampaikan khutbah dengan ringkas dan dipenuhi dengan kata-kata yang tepat, ibarat yang indah dan menancap di hati. Seusai khutbah, ada seseorang yang menegurnya. Maka ‘Ammar pun menanggapi dengan jawaban yang tepat: “Aku mendengar Rasulullah r bersabda:

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan ringkasnya khutbahnya merupakan tanda kefaqihannya. Karena itu panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah. Sesungguhnya di antara penyampaian dan ucapan, ada yang membuat orang tersihir.” (HR. Muslim no. 869)
Nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah r ketika itu sangatlah menancap di hati para shahabatnya hingga hati mereka bergetar dan air mata mereka pun berlinang karenanya. Inilah sifat kaum mukminin tatkala mendengar nasehat dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Hanyalah yang dikatakan orang-orang beriman itu adalah mereka yang ketika disebut nama Allah bergetar hati-hati mereka.” (Al-Anfal: 2)

“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau akan melihat mereka berlinangan air mata karena apa yang mereka ketahui dari kebenaran.” (Al-Ma`idah: 83)
Demikianlah nasehat Rasulullah r, yang seolah-olah beliau akan pergi meninggalkan mereka dengan memberikan nasehat perpisahan. Sebagaimana yang telah diketahui, orang yang akan pergi jauh tidak akan meninggalkan sesuatu yang penting kecuali disampaikan dan dipesankannya. (Tuhfatul Ahwadzi, 7/366, ‘Aunul Ma’bud, 12/234)
Setelah mendengar nasehat Rasulullah r, para shahabat pun khawatir mereka tidak akan bertemu lagi dengan Rasulullah setelahnya, sehingga untuk menyempurnakan nasehat yang ada, mereka meminta wasiat beliau seraya berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasehat orang yang akan berpisah, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun memberikan wasiat, di antaranya:

Wasiat untuk Takwa kepada Allah
Ahlul ilmi mengatakan bahwa takwa merupakan pokok kebaikan dan inti dari segala perkara. Seluruh seruan kepada pintu kebaikan maupun larangan kepada kejelekan terkumpul dalam kalimat takwa ini.
Takwa ini pula merupakan wasiat Allah I kepada orang-orang terdahulu maupun yang belakangan, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberikan Al Kitab sebelummu dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” (An-Nisa`: 131)
Kita diperintah oleh Allah I untuk berbekal dengannya sebagaimana firman-Nya:

“Berbekallah kalian, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197)
Oleh karena itu terkumpul dalam takwa ini kebaikan dunia dan akhirat.

Wasiat untuk Mendengar dan Taat
Yang dimaksud dengan mendengar dan taat oleh beliau r di sini adalah kepada para pemimpin kaum muslimin, karena taat kepada mereka akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Di mana dengan menaati mereka akan baiklah kehidupan orang-orang yang dipimpin (rakyat) dan menjadi amanlah negeri, di samping juga dapat membantu menegakkan agama mereka.
Hal ini merupakan kewajiban agama karena Allah telah berfirman:

“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasulullah dan kepada pemimpin di antara kalian.” (An-Nisa`: 59)
Kewajiban mendengar dan taat ini tetap berlaku bahkan ketika yang menjadi pemimpin itu seorang budak sekalipun. Rasulullah r pernah berpesan: “Tetaplah kalian mendengar dan taat, sekalipun yang memimpin kalian itu seorang budak Habasyah (Ethiopia) yang rambutnya seperti kismis.” (HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik z no. 7142 dan Muslim dari Abu Dzar z no. 648)
Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied t menyatakan bahwa sebagian ulama berkata: “Seorang budak tidak bisa menjadi pemimpin, akan tetapi penyebutan pemimpin dari kalangan budak dalam hadits ini hanyalah sekedar permisalan walaupun tidak mungkin terjadi, sama halnya dengan sabda Nabi r: “Siapa yang membangun masjid untuk Allah walaupun besarnya hanya seperti sarang burung maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di jannah (surga).” Dan telah diketahui bahwa ukuran sarang burung tidak mungkin dapat digunakan oleh manusia sebagai masjid, akan tetapi di sini hanya didatangkan sebagai permisalan.”
Dimungkinkan pula di sini Nabi r ingin mengabarkan rusaknya perkara apabila diserahkan urusan kepada selain ahlinya, sampai akhirnya kepemimpinan diserahkan kepada seorang budak (yang dia bukan ahlinya). Sehingga andaikan permisalan yang disebutkan itu terjadi, tetaplah kalian mendengar dan taat (dalam rangka menolak kemudharatan yang lebih besar walaupun) terpaksa menempuh kemudharatan yang lebih ringan di antara dua kemudharatan yang ada, dengan bersabar atas kepemimpinan seseorang yang sebenarnya tidak boleh menjadi pemimpin. Yang mana apabila membangkang kepadanya akan mengantarkan kepada fitnah yang besar.” (Syarhul Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 75)
Tentunya ketaatan kepada pemimpin itu jika dia muslim dan sebatas dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan), tanpa melanggar hak Allah I, karena Rasulullah r bersabda: “Ketaatan itu hanyalah dalam perkara kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 4340 dan Muslim no. 1840)

Wasiat untuk Berpegang Teguh dengan As Sunnah
Nabi r, mengatakan: “Siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigit/pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian.”
Ini merupakan salah satu tanda di antara tanda-tanda kenabian beliau r, di mana beliau mengabarkan kepada para shahabatnya tentang perkara yang akan datang sepeninggalnya, yakni akan terjadi perselisihan yang banyak di kalangan umat beliau. Hal ini sesuai dengan pengabaran beliau bahwasanya umat ini akan berpecah belah menjadi lebih dari 70 golongan, semuanya masuk an-naar (neraka) kecuali satu yang selamat yaitu mereka yang berpegang dengan apa yang dipegangi oleh Rasulullah r dan para shahabatnya. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 2129)
Karena itulah, sebagai bahtera penyelamat dari gelombang perselisihan dan perpecahan ini adalah berpegang teguh dengan Sunnah beliau dan para Al-Khulafa` Ar-Rasyidin. Saking kuatnya keharusan berpegang tersebut hingga diibaratkan seperti menggigit dengan geraham (Jami’ul ‘Ulum, 2/126). Ditambahkan oleh Syaikhul Islam bahwa dikhususkannya penyebutan geraham dalam hadits ini karena gigitan gigi geraham ini sangat kokoh. (Majmu’ Fatawa, 22/225)
Kata Al-Imam As-Sindi t: “Hal ini menunjukkan keharusan untuk bersabar terhadap kepayahan yang menimpanya di jalan Allah, sebagaimana yang harus dihadapi orang yang sakit terhadap derita yang menimpanya dari sakitnya.” (Syarah Ibnu Majah, Al-Imam As-Sindi)
Adapun sunnah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi r ini adalah jalan hidup beliau yang lurus dan jelas. (Syarhul Arba’in, hal. 75)
Selain mengikuti Sunnah beliau, diperintahkan pula setelahnya untuk memegangi sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin dan mereka yang dimaksud di sini adalah Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali g, kata Ibnu Daqiqil ‘Ied. Para khalifah ini disifatkan dengan Ar-Rasyidin karena mereka mengetahui, mengenali kebenaran dan memutuskan dengannya. Mereka adalah Al-Mahdiyyin karena Allah telah memberi petunjuk mereka kepada kebenaran dan tidak menyesatkan mereka dari kebenaran tersebut. (Syarhul Arba’in, hal. 75, Jami’ul ‘Ulum, 1/127)
Nabi r menggandengkan Sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin dengan Sunnah beliau karena para khalifah ini tatkala menetapkan sunnah bisa jadi mengikuti Sunnah Nabi itu sendiri, dan bisa pula mereka mengikuti apa yang mereka pahami dari Sunnah Nabi secara global dan rinci, yang mana perkara tersebut tersembunyi bagi yang lainnya. (Al-I’tisham, 1/118)
Al-Imam Asy-Syaukani t dalam Al-Fathur Rabbani mengatakan: “Sunnah adalah jalan yang ditempuh, sehingga seakan-akan Nabi r bersabda: ‘Tempuhlah jalanku dan jalan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin’. Jalan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin di sini sama dengan jalan Rasulullah karena mereka merupakan orang yang paling bersemangat dalam berpegang dengan Sunnah beliau dan mengamalkannya dalam segala perkara. Bagaimanapun keadaannya, mereka sangatlah berhati-hati dan menjaga diri agar tidak sampai jatuh ke dalam perkara yang menyelisihi Rasulullah r, sekalipun dalam perkara yang terbilang kecil, terlebih lagi dalam perkara yang besar.”
Beliau kemudian melanjutkan: “Faidah minimal dari hadits ini adalah ra`yu (pendapat) yang bersumber dari mereka adalah lebih utama dari pendapat orang selain mereka, sekalipun ternyata setelah ditinjau kembali hal itu merupakan Sunnah Rasulullah, dan juga lebih baik daripada tidak ada dalil.” (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/367)

Wasiat untuk Berhati-hati dari Bid’ah
Ucapan Nabi r: “Hati-hati kalian dari perkara-perkara baru”, merupakan peringatan kepada umat beliau dari perkara baru yang diada-adakan lalu disandarkan kepada agama sementara perkara tersebut tidak ada asalnya sama sekali di dalam syariat ini. Dan beliau tekankan lagi peringatan beliau ini dengan sabdanya: “karena setiap bid’ah itu sesat”.
Adapun ucapan para ulama yang menganggap baik sebagian bid’ah maka kembalinya hal tersebut kepada pengertian bid’ah secara bahasa bukan bid’ah menurut syariat. Seperti perkataan ‘Umar z ketika melihat kaum muslimin shalat tarawih berjamaah dipimpin seorang imam, ia berucap: “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini.”
Shalat tarawih berjamaah ini bukanlah bid’ah dalam pengertian syar’i karena perbuatan ini telah ada asalnya dalam syariat, di mana Nabi r pernah melakukannya bersama para shahabat selama beberapa malam dari malam-malam Ramadhan. Adapun ‘Umar hanya menghidupkannya kembali setelah Nabi r tidak melanjutkan pelaksanaannya karena khawatir perkara tersebut akan diwajibkan kepada umat beliau, sementara mungkin ada di antara mereka yang tidak mampu melaksanakannya.

Faidah Hadits
q               Keharusan bagi hati untuk tunduk ketika mendengarkan nasehat agama
q     Anjuran untuk menyampaikan wasiat yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat ketika hendak berpisah
q     Ketika dimintai nasehat, hendaknya tidak luput dari memberikan nasehat untuk bertakwa kepada Allah I
q     Keharusan untuk mendengar dan taat kepada pemimpin muslim, selama tidak bermaksiat kepada Allah
q     Tidak boleh keluar/memberontak dari pemimpin kaum muslimin sekalipun pemimpin itu sebenarnya tidak pantas menduduki jabatannya
q     Berita dari Rasulullah r tentang kepastian terjadinya perselisihan dan perpecahan di tengah umat beliau
q     Keharusan berpegang teguh dengan Sunnah salaf kita yang shalih, dan ini merupakan kunci keselamatan ataupun bahtera penyelamat
q     Tingginya kedudukan Al-Khulafa` Ar-Rasyidun
q     Apa yang terjadi pada umat beliau sepeninggal beliau merupakan bukti dan saksi tentang kebenaran berita yang beliau sampaikan
q      Peringatan dari perkara yang diada-adakan (bid’ah) dalam agama
Hadits ini merupakan pokok yang agung untuk menetapkan kebenaran manhaj salaf.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Berlindung dari Kebinasaan Ahlul Kitab bagian pertama

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan: ‘Ini dari Allah,’ (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

Penjelasan Mufradat (Kosakata) Khusus

Para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkan kata wail. Ada yang menafsirkannya dengan adzab (siksaan) atas mereka, sebagaimana terdapat dalam riwayat Ibnu ‘Abbas. Ada pula yang mengatakan “lembah yang terdapat di dasar an-naar (neraka), yang di dalamnya mengalir nanah”, dan ada pula yang menafsirkan lain. Sementara Asy-Syaikh As-Sa’di mengatakan, wail adalah kerasnya siksaan dan penyesalan, yang di dalamnya mengandung ancaman yang sangat keras. (Lihat Taisir Al-Karimir Rahman hal. 56, dan lihat perselisihan ulama dalam menafsirkan kata ini dalam Tafsir Ath-Thabari, 1/274, Ma’alim At-Tanzil, 1/110)

“dengan tangan-tangan mereka”
Ada dua kemungkinan yang dimaksud dengan lafadz ini: Pertama, sebagai ta`kid (penguat) dari kata “menulis”, sebab tidak mungkin seseorang dikatakan menulis kecuali dengan menggunakan tangan. Ini serupa dengan firman Allah yang lainnya:

“dan tidaklah burung terbang dengan sayapnya” (Al-An’am: 38)
Dan juga firman-Nya:

“mereka berkata dengan mulut-mulut mereka” (Ali ‘Imran: 167)
Kedua, untuk menjelaskan dosa mereka dan menetapkan kelancangan mereka, karena orang yang melakukan (secara langsung) perbuatan tersebut lebih keji daripada orang yang bukan pelakunya (secara langsung) meski (perbuatan itu) merupakan buah pikirannya. (Al-Qurthubi, 2/9)

Asal makna Al-Kasbu adalah beramal. Maka setiap orang yang mengamalkan secara langsung dikatakan al-kasib. (Ath-Thabari, 1/380)

Penjelasan Ayat
Al-‘Allamah (orang yang dalam ilmunya) Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Allah I mengancam orang-orang yang melakukan perubahan terhadap Al Kitab, yaitu orang-orang yang mengatakan “Ini berasal dari sisi Allah” terhadap apa yang telah mereka ubah dan mereka tulis. Dan ini merupakan idzhar (penampakan) kebatilan dan menyembunyikan al-haq (kebenaran). Mereka melakukan hal itu dalam keadaan berilmu, namun hendak menjualnya dengan harga yang sedikit, padahal dunia seluruhnya dari awal hingga akhir merupakan harga yang sedikit. Lalu mereka jadikan kebatilan itu sebagai umpan untuk mengambil apa-apa yang ada di tangan manusia.
Mereka telah mendzalimi manusia dari dua sisi, yaitu mengkaburkan agama dan di sisi lain mengambil harta manusia tanpa haq. Bahkan dengan cara paling batil, yang lebih batil dari orang-orang yang mengambil harta dengan cara pemaksaan, pencurian, dan semisalnya. Oleh karena itu Allah mengancam mereka dengan dua hal dengan firman-Nya: ‘Kecelakaan bagi mereka dengan apa yang mereka tulis oleh tangan-tangan mereka yang telah melakukan perubahan dans kebatilan’, dan ‘Kecelakaan bagi mereka dengan apa yang mereka peroleh dari harta’.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 56)
Al-’Allamah Ath-Thabari t dalam tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud (ayat tersebut) adalah orang-orang yang mengubah-ubah Kitab Allah dari kalangan Yahudi Bani Israil. Dan mereka menulis kitab berdasarkan apa yang telah mereka ubah dengan perubahan-perubahan yang menyelisihi apa yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya Musa u. Lalu mereka menjualnya kepada kaum yang tidak mengetahui perubahan tersebut dan tidak pula mengetahui isi kandungan Taurat (yang asli), disebabkan kejahilan mereka terhadap kandungan kitab-kitab Allah karena ingin mendapatkan dunia yang hina. (Ath-Thabari, 1/278)
Al-Qurthubi t ketika menafsirkan ayat ini mengatakan: “Tatkala perkara (al haq) telah hilang di tengah-tengah mereka hingga menyebabkan rusaknya mereka, dan rusak pula tanggung jawab ulama mereka sehingga menenggelamkan diri-diri mereka kepada dunia karena sifat tamak dan rakusnya, mereka pun mencari hal-hal yang bisa menyebabkan perhatian manusia tertuju kepada mereka. Maka mereka membuat perkara baru dalam syariat-Nya dan mengubahnya, lalu mereka sertakan ke dalam kitab Taurat sambil berkata kepada orang-orang bodoh dari mereka, “Ini berasal dari Allah”, agar mereka mau menerimanya, agar kokoh jabatan kepemimpinan mereka dan mampu mengendalikan dunia serta memperoleh kotoran-kotorannya.” (Al-Qurthubi, 2/7)
Penjelasan para ulama tentang ayat yang mulia ini menunjukkan, Allah U telah menyebutkan beberapa penyimpangan ahlul kitab khususnya kalangan Yahudi, yang menyebabkan datangnya kemurkaan Allah atas mereka, di antaranya:
1.    Melakukan perubahan terhadap kitab yang Allah turunkan kepada mereka;
2.    Menyembunyikan al haq dan menolaknya;
3.    Ulama yang jahat;
4.    Menjual agama dan akhirat dengan memperoleh dunia yang hina;
5.    Mendapatkan harta milik orang lain dengan cara-cara yang haram.
Semua pelanggaran yang dilakukan dan diamalkan oleh ahlul kitab tersebut tidak mustahil akan dialami pula oleh umat Rasulullah r. Bahkan dengan melihat realita umat Islam saat ini, akan ditemukan berbagai pelanggaran itu. Tidaklah ini terjadi melainkan sebagai penegasan terhadap apa yang telah disabdakan Rasulullah r:

“Kalian pasti akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jika (mereka) menempuh (masuk ke) lubang biawak kalian pun akan menempuhnya.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah (mereka) Yahudi dan Nashara?” Jawab (Rasulullah): “Siapa lagi?” (HR. Al-Bukhari 3/3270, Muslim 4/2669, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri z)
Jika dirinci lagi, pelanggaran-pelanggaran yang menjadi sebab kemurkaan Allah terhadap ahlul kitab adalah sebagai berikut:
a.     Mengubah agama Allah dan menafsirkannya dengan penafsiran batil.
(Hal ini mengakibatkan) timbulnya berbagai macam kesesatan berupa syirik, bid’ah, serta berbagai bentuk penolakan terhadap Al Qur‘an dan As Sunnah, lalu menghiasinya dengan label “Islam”, “Inilah yang benar”, dan berbagai bentuk propaganda lainnya. Ini merupakan tindakan perubahan terhadap syariat Allah U dan Rasul-Nya.
Ibnul Qayyim t berkata: “(Allah) I mencela orang-orang yang mengubah kitab-Nya dan orang awam (ahlul kitab) yang mereka tidak memiliki ilmu kecuali sekedar membaca saja, dan orang-orang yang menulis kebatilan lalu berkata: ‘Inilah kebenaran dan ini berasal dari Allah.’ Dan (Allah) mencela pula orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah berupa Al Kitab yang berisi penjelas dan petunjuk, dalam beberapa tempat di dalam Al Qur`an.
Keempat jenis perbuatan tercela ini ada pada orang-orang yang berpaling dari nash-nash wahyu dan menentangnya dengan menggunakan pendapat mereka sendiri, akal, dan hawa nafsu. Terkadang mereka menyembunyikan hadits dan ayat yang bertentangan dengan pendapat mereka. Di antara mereka pula, ada beberapa golongan yang memalsukan hadits-hadits untuk menyesuaikan madzhab dan hawa nafsu mereka, baik dalam perkara ushul maupun furu’ (cabang), lalu berkata: ‘Ini berasal dari Allah.’ Dan terkadang mereka mengarang buku-buku dengan dasar akal pikiran, perasaan, dan khayalan-khayalan mereka, lalu mengklaim bahwa (kitab-kitab) itulah yang wajib mereka ikuti dan mendahulukannya di atas nash-nash wahyu.” (Ash-Shawa’iq Al-Mursalah, Ibnul Qayyim, 3/1049-1050)
Lalu beliau (Ibnul Qayyim) t berkata lagi: “Sesungguhnya orang-orang yang menentang wahyu dengan akal mereka ada lima kelompok:
Golongan yang menentang wahyu dengan akal pikiran dan lebih mengutamakannya di atas wahyu. Mereka berkata kepada orang yang berpegang teguh dengan wahyu: “Milik kami adalah akal dan milik kalian adalah naql (wahyu).”
Golongan yang menolak wahyu dengan pendapat-pendapat dan qiyas-qiyas (analogi) yang batil. Mereka berkata kepada ahlul hadits (yang berpegang teguh dengan hadits Nabi): “Milik kalian adalah hadits dan milik kami adalah pendapat dan qiyas.”
Golongan yang menolak wahyu dengan ilmu hakikat dan perasaan. Mereka berkata: “Milik kalian adalah syariat dan milik kami adalah taubat.”
Golongan yang menolak wahyu dengan berbagai manuver politik. Mereka berkata: “Kalian pengamal syariat sedangkan kami adalah politikus.”
Golongan yang menolak wahyu dengan pentakwilan yang batil. Mereka berkata: “Kalian ahli dzahir (mengamalkan yang lahir) dan kami ahli batin (mengamalkan syariat secara batin).”
Setiap pendapat dari kelompok-kelompok tersebut tidak mempunyai dasar sama sekali. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu, sebagaimana yang Allah firmankan:

“Bila mereka tidak menerima (ajakan)mu maka ketahuilah sesungguhnya mereka mengikuti hawa-hawa nafsu mereka.” (Al-Qashash: 50)

“Dan berhukumlah di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Ma`idah: 49) [Ash-Shawa’iq Al-Mursalah, 3/1051-1052]
Bandingkanlah apa yang disebutkan Ibnul Qayyim t dengan kondisi kelompok-kelompok Islam yang tersebar dewasa ini. Di antara mereka ada yang berkata: “Islam tidaklah tegak kecuali dengan berdirinya khilafah Islamiyah.” Kemudian mereka menjadikan slogan tersebut sebagai inti dakwah dan melupakan pokok-pokok ajaran Islam yaitu menyebarkan tauhid dan Sunnah Rasulullah r.
Ada lagi yang berkata: “Barangsiapa yang tidak mengenal imam zamannya, maka dia mati jahiliah”, lalu mewajibkan bai’at kepada para pengikutnya dan menganggap kafir orang yang tidak bergabung dengan kelompoknya.
Ada lagi yang berkata: “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara khuruj (keluar) di jalan Allah.” Mereka pun menghasilkan para da’i jahil yang sangat minim ilmu agama kemudian berpindah dari masjid ke masjid.
Mereka semua mengatakan, amalan dan metode mereka berasal dari sisi Allah. Cukuplah kita mengatakan kepada mereka: “Datangkanlah dalil jika kalian orang-orang yang jujur.” ?

Kufur

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Kekafiran atau kufur dalam bahasa Arab asalnya berarti penutup. Adapun dalam istilah syariat berarti lawan dari iman.
Kufur bisa terjadi karena beberapa sebab, antara lain:
1.    Mendustakan atau tidak mempercayai sesuatu yang harus diyakini dalam syariat.
2.    Ragu terhadap sesuatu yang jelas dalam syariat.
3.    Berpaling dari agama Allah.
4.    Kemunafikan yakni menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman.
5.    Sombong terhadap perintah Allah I seperti yang dilakukan Iblis.
6.    Tidak mau mengikrarkan kebenaran agama Allah bahkan terkadang dibarengi dengan memeranginya, padahal hatinya yakin kalau itu benar, seperti yang terjadi pada Fir’aun.
Keenam hal ini termasuk dalam kufur akbar (kufur besar) yang menjadikan pelakunya keluar dari Islam atau murtad. Terkadang kufur besar terjadi dengan ucapan atau perbuatan yang sangat bertolak belakang dengan iman seperti mencela Allah dan Rasul-Nya atau menginjak Al Qur`an dalam keadaan tahu kalau itu adalah Al Qur`an dan tidak terpaksa.
Di samping yang tersebut di atas, ada pula kufur ashghar (kufur kecil), yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama atau tidak menjadikan murtad. Kufur ashghar yaitu perbuatan-perbuatan dosa yang disebut dengan istilah kekafiran dalam Al Qur‘an maupun As Sunnah tapi belum mencapai derajat kufur besar. Misalnya kufur nikmat sebagaimana tersebut dalam Surat An-Nahl ayat 112, atau membunuh seorang muslim.

Kesalahan Memahami Makna Kufur
Terdapat beberapa kesalahan dalam memahami makna kufur dalam penggunaan syariat, antara lain:
1.    Segolongan orang memahami bahwa kekafiran hanya terbatas pada takdzib (pendustaan atau tidak percaya). Hal ini seperti diyakini oleh kelompok Murji‘ah. Menurut mereka, orang yang melakukan kekafiran dengan lisan atau amal seperti mencela Allah misalnya, dalam keadaan tahu dan tidak terpaksa, jika hatinya masih beriman maka ia tetap mukmin. Ini jelas salah.
2.    Segolongan orang memahami bahwa kufur hanya terbatas pada kufur besar yang mengeluarkan dari agama saja. Dari sini mereka memahami (menafsirkan) semua lafadz kufur dalam Al Qur‘an maupun hadits dengan makna ini (kufur besar). Akhirnya orang yang membunuh, mereka anggap kafir; orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dianggap pula kafir secara mutlak. Ini juga salah karena walaupun perbuatan-perbuatan itu disebut kufur dalam syariat namun ada dalil lain yang menunjukkan bahwa semua itu belum mencapai tingkatan kufur besar. Perbuatan tersebut digolongkan sebagai kufur kecil atau diistilahkan oleh ulama dengan kufrun duna kufrin, yakni kekafiran di bawah kekafiran yang besar.

Sumber Bacaan:
1.    Al-Haqiqatus Syar’iyyah, Muhammad ‘Umar Bazmuul, hal. 148
2.    Mujmal Masa‘il Al-Iman, ‘Ali Hasan, Salim Hilali dll., hal. 7
3.    Kitabut Tauhid, Shalih Al-Fauzan, hal. 14-15
4.    Al-Hukmu Bighairi ma Anzalallah, Khalid Al-’Anbari, hal. 28-29

Adab Buang Hajat Perkara yang Dilalaikan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Buang hajat merupakan rutinitas alamiah yang dilakukan oleh semua manusia. Alangkah baiknya kita mengetahui bagaimana agama memberikan bimbingan dalam masalah ini sehingga perbuatan yang bisa jadi dipandang ringan oleh banyak orang ini, dalam beberapa sisinya bisa memiliki nilai ibadah di sisi Allah.

Membuang hajat adalah perkara yang biasa kita lakukan setiap harinya, namun sangat disayangkan banyak di antara kita yang tidak mengetahui adab-adab yang dituntunkan di dalamnya. Padahal syariat agama kita yang sempurna telah mengajarkan permasalahan ini. Pernah kaum musyrikin berkata kepada Salman Al-Farisi z: “Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun perkara adab buang hajat.” Salman menjawab: “Ya, beliau mengajarkan kami adab buang hajat.” (HR. Muslim no. 262)

Doa Sebelum Buang Hajat
Perkara awal yang perlu diperhatikan dari Sunnah Rasulullah r dalam masalah ini adalah ketika seseorang akan masuk ke tempat buang hajat (WC dan semisalnya) hendaknya ia mengucapkan doa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR. Al-Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375)
Karena WC dan semisalnya merupakan tempat kotor yang dihuni oleh setan maka sepantasnya seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah I agar ia tidak ditimpa oleh kejelekan makhluk tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/83)
Membaca doa ini merupakan adab yang disepakati istihbab-nya (sunnahnya) dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara buang hajat di tempat yang berupa bangunan ataupun di padang pasir. (Syarah Shahih Muslim, 4/71)
Sementara apabila di padang pasir (tempat yang terbuka), maka doa ini dibaca tatkala hendak ditunaikannya hajat, seperti ketika seseorang menyingkap pakaiannya. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama dan mereka mengatakan bahwa kalau seseorang lupa membaca doa ini maka ia membacanya dalam hati. (Fathul Bari, 1/307)

Langkah Kaki ketika Masuk dan Keluar WC
Telah diketahui bahwasanya Rasulullah r menyenangi mendahulukan bagian yang kanan dalam seluruh keadaan beliau. (HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
Hadits di atas menunjukkan keumuman, namun khusus pada keadaan-keadaan tertentu dimulai dengan yang kiri, seperti apabila beliau masuk WC, keluar dari masjid dan yang semisalnya. Demikian dinyatakan Ibnu Daqiqil ‘Ied. (Syarah ‘Umdatil Ahkam, 1/44)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Merupakan kaidah yang berkesinambungan dalam syariat di mana tangan/kaki kanan didahulukan dalam melakukan perkara yang mulia seperti memakai pakaian, celana, sandal, masuk masjid, bersiwak, bercelak, menggunting kuku, mencukur kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut, salam ketika selesai shalat, mencuci anggota wudhu, keluar dari WC, makan, minum, berjabat tangan, menyentuh Al-Hajar Al-Aswad dan perkara lainnya yang semisal. Semua itu disenangi untuk memulai dengan bagian kanan. Adapun lawan dari perkara di atas seperti masuk WC, keluar dari masjid, istinja, melepas pakaian, celana, sandal dan yang semisalnya disenangi untuk memulai dengan tangan/kaki kiri.” (Syarah Shahih Muslim, 3/160, Al-Majmu’, 2/95)

Menutup Diri
Abdullah bin Ja‘far z berkata: “Suatu hari Rasulullah r pernah memboncengkan aku di belakangnya. Lalu beliau membisikkan kepadaku satu pembicaraan yang aku tidak akan memberitahukannya kepada seorangpun selama-lamanya. Adalah beliau r menyenangi menjadikan tempat yang tinggi (berupa bangunana atau selainnya) dan kebun kurma sebagai tempat berlindung (menutup diri) ketika buang hajat.” (HR. Muslim no. 342)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Hadits ini menunjukkan disenanginya menutup diri ketika seseorang sedang buang hajat dengan apa saja yang dapat mencegah/menghalangi pandangan orang terhadapnya ketika itu. Dan dimungkinkan buang hajat beliau di kebun kurma bukan pada saat kurma itu berbuah.” (Nailul Authar, 1/117)
Beliau r apabila hendak buang hajat, tidaklah mengangkat pakaiannya sampai beliau turun untuk jongkok di atas tanah. Hal ini beliau lakukan dalam rangka menjaga aurat. (Zadul Ma’ad, 1/44, Ad-Dararil Mudhiyyah, hal. 23)
Menjauh dari Pandangan Manusia
Ibnul Mundzir t berkata: “Kabar yang pasti dari Rasulullah r bahwasanya bila ingin buang hajat beliau pergi ke tempat yang jauh dari penglihatan manusia, namun bila sekedar buang air kecil beliau tidak menjauh dari mereka.” (Al-Ausath, 1/321)
Hal ini sebagaimana Rasulullah r pergi untuk membuang hajat hingga tersembunyi dari para shahabatnya. (HR. Al-Bukhari no. 203 dan Muslim no. 274 dari Al-Mughirah ibnu Syu’bah z)
Abdurrahman bin Abi Qurad z berkata: “Aku pernah keluar bersama Rasulullah r ke tempat buang hajat. Kebiasaan beliau ketika buang hajat adalah pergi menjauh dari manusia.” (HR. An-Nasa`i no. 16 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/495)
Saking menjauhnya beliau dari manusia sampai-sampai beliau pergi ke Mughammas (sebuah tempat yang jauhnya sekitar dua mil dari kota Makkah) untuk keperluan buang hajat ini. (HR. Abu Ya’la, 9/476 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/495)
Ibnul Qayyim t mengatakan: “Beliau r, apabila ingin buang hajat dalam safarnya, pergi hingga tersembunyi dari pandangan para shahabatnya dan terkadang beliau menjauh sampai 2 mil. Beliau menutup dirinya ketika buang hajat, terkadang dengan berlindung di balik tempat tinggi, terkadang di balik kebun kurma dan terkadang dengan pepohonan yang tumbuh di lembah.” (Zadul Ma’ad, 1/43)
Berbeda halnya ketika buang air kecil, sebagaimana dikatakan Ibnul Mundzir di atas, beliau tidak menjauh dari manusia. Bahkan Hudzaifah z mengatakan: “Aku pernah berjalan-jalan bersama Nabi r. Beliau lalu mendatangi tempat pembuangan sampah yang terletak di belakang tembok. Beliau berdiri di situ sebagaimana salah seorang dari kalian berdiri lalu beliau buang air kecil. Aku pun menyingkir dari beliau namun beliau memberi isyarat kepadaku maka aku pun mendatanginya. Aku berdiri di belakang beliau hingga beliau selesai dari hajatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 225 dan Muslim no. 273)
Al-Hafidz Ibnu Hajar t berkata: “Ini menunjukkan beliau tidak menjauh dari Hudzaifah ketika buang air kecil.” Adapun sebab tidak menjauhnya Nabi r ketika buang air kecil dijelaskan oleh Al-Hafidz: “Kencing lebih ringan daripada buang air besar karena buang air besar butuh untuk lebih membuka aurat dan bau yang ditimbulkan lebih menusuk. Sementara tujuan menjauh dari manusia adalah untuk menutup diri dari penglihatan mereka dan ini terpenuhi dengan membentangkan pakaian serta mendekat dengan sesuatu yang dapat menutupi.” (Fathul Bari, 1/411)
Rasulullah r meminta Hudzaifah untuk mendekat kepada beliau agar Hudzaifah menutupi beliau dari pandangan manusia karena buang air kecil merupakan keadaan yang memalukan bila terlihat oleh orang lain. (Syarah Shahih Muslim, 3/167)
Dengan demikian, dituntunkan kepada kita untuk menjauh dari manusia ketika buang air besar. Sementara ketika buang air kecil boleh dilakukan di dekat orang lain, namun harus tetap memperhatikan tertutupnya aurat agar tidak terlihat orang lain. (Al-Jami’ush Shahih, 1/496)

Tidak Memasukkan ke WC Sesuatu yang padanya Ada Dzikrullah
Seseorang yang buang hajat lebih utama baginya untuk tidak membawa sesuatu yang padanya tertera dzikir kepada Allah seperti Al Qur`an dan lainnya yang ada padanya penyebutan nama Allah. Dalam permasalahan ini, dalil yang sering dibawakan adalah hadits peletakan cincin Rasulullah r ketika akan masuk WC. Namun hadits ini lemah, ma’lul (berpenyakit) sebagaimana diterangkan oleh Ibnul Qayyim dalam Tahdzibus Sunan dan ulama ahli hadits yang lainnya.
Ketika membawakan hadits ini, Al-Imam Ash-Shan’ani mengatakan dalam Subulus Salam (1/113): “Sesuatu yang di dalamnya tertera nama Allah U harus dijaga dari tempat-tempat yang jelek/kotor. Dan ini tidak khusus berupa cincin saja namun mencakup semua benda yang dipakai yang padanya ada dzikrullah.”
Walaupun demikian sebagian ulama yang lain menganggap makruh (dibencinya) perkara ini, bahkan haram apabila yang dimasukkan itu berupa Al Qur`an, karena termasuk penghinaan. Penulis kitab Al-Furu’ mengatakan: “Dibenci untuk membawa sesuatu yang padanya ada dzikrullah tanpa ada keperluan.” (Al-Furu’, 1/83)

Larangan Menghadap dan Membelakangi Kiblat
Abu Ayyub Al-Anshari z berkata: Rasulullah r bersabda:

“Apabila kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar ataupun kencing dan jangan pula membelakangi kiblat, akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat1.” (HR. Al-Bukhari no. 394 dan Muslim no. 264)
Dari hadits di atas dipahami adanya larangan menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang hajat. Namun dalam permasalahan ini ada perselisihan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat perbuatan ini haram secara mutlak baik di WC (tempat yang tertutup/berbentuk bangunan) ataupun di tempat terbuka. Ada yang membolehkan secara mutlak dan ada pula yang merinci. Perselisihan ini terjadi karena selain hadits larangan sebagaimana tercantum di atas didapatkan pula hadits lain yang menunjukkan kebolehannya seperti hadits Abdullah Ibnu ‘Umar c, ia berkata: “Aku pernah menaiki rumah Hafshah2 karena suatu keperluan, maka ketika itu aku melihat Rasulullah r buang hajat menghadap ke arah Syam dan membelakangi Ka’bah.” (HR. Al-Bukhari no. 148 dan Muslim no. 266)
Demikian pula hadits Jabir bin Abdillah Al-Anshari c: “Sungguh beliau melarang kami untuk membelakangi dan menghadap kiblat dengan kemaluan-kemaluan kami apabila kami buang air. Kemudian aku melihat beliau kencing menghadap kiblat setahun sebelum meninggalnya.” (HR. Ahmad, 3/365 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/493)
Dari perselisihan yang ada, yang rajih (kuat) adalah pendapat yang merinci, bila di luar bangunan seperti di padang pasir haram untuk menghadap atau membelakangi kiblat, sementara di dalam bangunan tidaklah diharamkan. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Asy-Sya’bi dan ini merupakan pendapat jumhur ahli ilmu. (Syarah Shahih Muslim, 3/154, Syarah Sunan An-Nasa`i lis Suyuthi, 1/26)
Namun sepantasnya bagi seseorang untuk menghindari arah kiblat ketika buang hajat di dalam bangunan (WC dan semisalnya), dalam rangka berhati-hati dari hadits-hadits yang menunjukkan larangan tentang hal ini dan karena adanya perselisihan yang kuat dalam permasalahan ini yang didukung oleh para ulama ahli tahqiq. (Taisirul ‘Allam, 1/55)

Boleh Kencing Berdiri
Al-Imam Al-Bukhari t ketika membawakan hadits Hudzaifah yang menerangkan Rasulullah r kencing berdiri sebagaimana telah lewat di atas, beliau mengatakan dengan judul bab (Bolehnya) Kencing Berdiri dan Jongkok. Sehingga dipahami di sini bolehnya kencing dalam keadaan berdiri dan duduk, walaupun di sana terdapat perselisihan pendapat di kalangan ahli ilmu mengenai hal ini.
Didapatkan pula dari perbuatan sahabat seperti ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Umar ibnul Khaththab, Zaid bin Tsabit dan selainnya, mereka kencing dengan berdiri. Ini menunjukkan perbuatan ini dibolehkan dan tidak makruh apabila memang aman dari percikan air kencing. (‘Aunul Ma’bud, 1/29)
Ibnul Mundzir t berkata: “Sebagian ahlul ilmi menyenangi bagi orang yang kencing dalam keadaan duduk untuk menjauh dari manusia, dan mereka memandang tidak apa-apa kencing di dekat orang lain bila dilakukan dengan berdiri. Karena kencing dalam keadaan berdiri lebih menjaga dubur dan lebih selamat dari percikan najis. Pendapat seperti ini diriwayatkan dari ‘Umar.” (Al-Ausath, 1/322)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Akan tetapi kita yang berada di Indonesia, seharusnya tidak menghadap ke arah barat yang merupakan arah kiblat dan  juga merupakan arah Baitul Maqdis, menyelisihi penduduk Madinah yang telah disebutkan di atas. (Pembahasan ini bisa dilihat dalam Asy-Syarhul Mumti’, 1/99, Syarah ‘Umdatil Ahkam, Ibnu Daqiqil ‘Ied, 1/54, Sunan An-Nasa`i Hasyiyah  As-Sindi, 1/23 )
2 Salah seorang istri Rasulullah r, putri ‘Umar Ibnul Khaththab z.

Untuk Apa Kita Diciptakan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Kehidupan di dunia pada dasarnya hanyalah senda gurau atau main-main saja. Orang akan semakin merugi bila tidak tahu untuk apa ia diciptakan Allah dan menjalani kehidupan di dunia ini.

Kalau kita melihat besarnya kekuasaan Allah I, niscaya kita akan segera mengucapkan “Allahu Akbar”, “Subhanallah”. Allah I menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yang menghiasinya dan Allah I turunkan darinya air hujan dan tumbuh dengannya segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas, segala jenis makhluk bertempat tinggal di atasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan setiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan.
Binatang ada dengan berbagai jenis, bentuk, dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenisnya dan buah-buahan dengan segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yang ada di dalamnya semuanya mengingatkan kita kepada kebesaran Allah I dan ke-Mahaagungan-Nya.
Kita meyakini bahwa Allah I menciptakan semuanya itu memiliki tujuan dan tidak sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada diri kita dan di hadapan Allah I yaitu tentu bahwa kita juga diciptakan oleh Allah I tidak sia-sia, dalam arti kita diciptakan memiliki tujuan tertentu yang mungkin berbeda dengan yang lain. Allah I berfirman:

“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu`minun: 115)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah: 36)

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah.” (Shad: 27)

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Ad-Dukhan: 38)
Dari ayat-ayat di atas sungguh sangat jelas bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini dan yang ada di langit serta apa yang ada di antara keduanya tidak ada yang sia-sia. Lalu untuk siapakah semuanya itu?
Mari kita melihat keterangan Allah di dalam Al Qur`an:

“Dialah yang telah menjadikan bumi terhampar buat kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian, karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 22)

“Dia Allah yang telah menjadikan segala apa yang di bumi untuk kalian.” (Al-Baqarah: 29)

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tempat menetap dan langit sebagai atap, lalu membentuk kalian, membaguskan rupa kalian serta memberi kalian rizki dari sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Rabbmu, Maha Agung Allah, Rabb semesta alam.” (Al-Mu`min: 64)
Ibnu Katsir t dalam Tafsir-nya (1/60) mengatakan: “Allah I mengeluarkan bagi mereka (dengan air hujan tersebut) segala macam tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang bisa kita saksikan sebagai rizki buat mereka dan binatang-binatang ternak mereka sebagaimana yang telah disebutkan di banyak tempat di dalam Al Qur`an.”
Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan di dalam tafsirnya (hal. 30): “Allah menciptakan segala apa yang ada di atas bumi buat kalian sebagai wujud kebaikan Allah I bagi kalian dan rahmat-Nya agar kalian juga bisa mengambil manfaat darinya, bersenang-senang dan bisa menggali apa yang ada padanya.” Kemudian beliau mengatakan: “Dan Allah menciptakan semuanya agar manfaatnya kembali kepada kita.”
Sungguh sangat jelas bahwa semua apa yang ada di langit dan di bumi dipersiapkan untuk manusia seluruhnya. Maha Dermawan Allah I terhadap hamba-Nya dan Maha Luas rahmat-Nya.
Dari keterangan di atas, berarti manusia diciptakan oleh Allah I dengan dipersiapkan baginya segala kenikmatan, tentu ini memiliki tujuan yang agung dan mulia. Lalu untuk apakah tujuan mereka diciptakan?

Tujuan Diciptakan Manusia
Manusia dengan segala nikmat yang diberikan Allah I memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan makhluk yang lain. Tentu hal ini menunjukkan bahwa mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mulia, agung, dan besar. Tujuan inilah yang telah disebutkan oleh Allah I di dalam Al Qur`an:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t dalam tafsirnya mengatakan: “Inilah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia, dan Allah mengutus seluruh para rasul untuk menyeru menuju tujuan ini yaitu ibadah yang mencakup di dalamnya pengetahuan tentang Allah dan mencintai-Nya, bertaubat kepada-Nya, menghadap dengan segala yang dimilikinya kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya.”
Semua nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia tidak lain hanya untuk membantu mereka dalam mewujudkan tugas dan tujuan yang mulia ini.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam kitab Al-Qaulul Mufid (1/27) mengatakan: “Dengan hikmah inilah manusia diberikan akal dan para rasul diutus kepada mereka dan diturunkan kitab-kitab kepada mereka. Dan jika tujuan diciptakannya manusia adalah seperti tujuan diciptakannya binatang, niscaya akan hilang hikmah diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab karena yang demikian itu akan berakhir bagaikan pohon yang tumbuh lalu berkembang dan setelah itu mati.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t dalam kitab Majmu’ Fatawa (1/4) mengatakan: “Maka sesungguhnya Allah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya sebagaimana firman Allah: ‘Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.’ Ibadah kepada Allah hanya dilakukan dengan cara menaati Allah dan Rasul-Nya, dan tidak dikatakan ibadah kecuali apa yang menurut syariat Allah adalah sesuatu yang wajib atau sunnah.”

Makna Ibadah
Ibadah secara bahasa artinya menghinakan diri. Sedangkan secara syariat menurut Ibnu Taimiyyah t: “Nama dari segala yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya (yang terdiri) dari segala bentuk perbuatan dan ucapan baik yang nampak ataupun yang tidak nampak.” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 38)

Macam Ibadah
Dari definisi Ibnu Taimiyyah t di atas, kita mendapatkan faidah bahwa ibadah itu ada dua bentuk yaitu ibadah yang nampak dan tidak nampak. Atau dengan istilah lain ibadah dzahiriyyah dan ibadah bathiniyyah; atau dengan istilah lain lagi ibadah badaniyyah dan ibadah qalbiyyah.
Ibadah badaniyyah atau dzahiriyyah adalah segala praktek ibadah yang dapat dilihat melalui gerakan anggota badan yang diridhai Allah I dan yang dicintai-Nya seperti shalat, zakat, puasa, berhaji, berdzikir, berinfak, menyembelih, bernadzar, menolong orang yang membutuhkan dan sebagainya. Adapun ibadah bathiniyyah atau ibadah qalbiyyah adalah ibadah yang terkait dengan hati dan tidak nampak seperti takut, tawakkal, berharap, khusyu’, cinta, dan sebagainya.
Dari kedua jenis ibadah ini, yang paling banyak kaum muslimin keliru padanya adalah yang berkaitan dengan ibadah bathiniyyah atau ibadah hati dikarenakan sedikit dari kaum muslimin yang mengetahuinya.

‘Ubudiyyah dan Tingkatannya
Para ulama telah berbicara tentang tingkatan ‘ubudiyyah ini berdasarkan apa yang telah disebutkan oleh Allah I di dalam Al Qur`an.
Pertama, ‘ubudiyyah yang bersifat umum.
Ini dilakukan oleh setiap makhluk Allah I yang muslim atau yang kafir. Inilah yang diistilahkan dengan ketundukan terhadap taqdir dan sunnatullah. Allah I berfirman:

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Ar-Rahman selaku seorang hamba.” (Maryam: 93)
Tentu orang-orang kafir termasuk juga di dalam ayat ini.
Kedua, ‘ubudiyyah ketaatan yang bersifat umum.
Ini mencakup ketundukan setiap orang terhadap syariat Allah I, sebagaimana firman Allah I:

“Dan hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi ini dengan rendah hati (tawadhu’).” (Al-Furqan: 63)
Ketiga, ‘ubudiyyah yang khusus.
‘Ubudiyyah yang khusus ini adalah tingkatan para nabi dan rasul Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nabi Nuh u:

“Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” (Al-Isra`: 3)
Kemudian Allah I berfirman tentang Rasulullah r:

“Dan jika kalian ragu-ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami…” (Al-Baqarah: 23)
Dan Allah berfirman tentang seluruh rasul:

“Dan ingatlah akan hamba-hamba Kami (yaitu) Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang memiliki perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)
Ini merupakan ‘ubudiyyah para rasul yang tidak ada seorangpun akan bisa mencapainya. (Al-Qaulul Mufid, 1/36)

Syarat Diterimanya Ibadah
Tentu sebagai orang yang dikenai beban syariat tidak menginginkan jikalau ibadah, pengabdian, dan pengorbanan kita tidak bernilai di hadapan Allah.

Ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa sebuah ibadah akan diterima oleh Allah dengan dua syarat, yaitu “mengikhlaskan niat semata-mata untuk Allah” dan “mengikuti Sunnah Rasulullah.”
Kedua syarat ini merupakan makna dari dua kalimat syahadat “Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah.” Kesepakatan Ahlus Sunnah dengan kedua syarat ini dilandasi Al Qur`an dan hadits, di antaranya adalah firman Allah I:

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)
Rasulullah r bersabda:

“Sesungguhnya amal itu sah dengan niat dan seseorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah r bersabda:

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan dan bukan dari perintahku maka amalannya tertolak.” (HR. Muslim)
Wallahu a’lam.