Di Balik Kelembutan Suaramu

(dituliis oleh: Al-Ustadzah  Ummu Ishaq Al-Atsariyyah & Al-Ustadzah Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim)

Banyak wanita di jaman ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah.

Ukhti Muslimah…
Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu.
Begitu mudahnya wanita tersebut memperdengarkan suaranya yang bak buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah U. Padahal Dia telah memperingatkan:

“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)
Rasulullah r juga telah bersabda :

“Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah).” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)
Suara merupakan bagian dari wanita sehingga suara termasuk aurat, demikian fatwa yang disampaikan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan dan Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al-Jibrin sebagaimana dinukil dalam kitab Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah (1/431, 434).
Para wanita diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila ia memperdengarkan suaranya, kemudian dengan itu terfitnahlah kaum lelaki, maka seharusnya ia menghentikan ucapannya. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika ber-talbiyah1. Ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tasbih sebagaimana laki-laki, tapi cukup menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi r:

“Ucapan tasbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita.” (Shahih, HR. Al- Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)
Demikian pula dalam masalah adzan, tidak disyariatkan bagi wanita untuk mengumandangkannya lewat menara-menara masjid karena hal itu melazimkan suara yang keras.
Ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah I dalam Surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491)
Maksud penyakit dalam ayat ini adalah syahwat (nafsu/keinginan) berzina yang kadang-kadang bertambah kuat dalam hati ketika mendengar suara lembut seorang wanita atau ketika mendengar ucapan sepasang suami istri, atau yang semisalnya.

Suara Wanita di Radio dan Telepon
Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin t pernah ditanya: “Bolehkah seorang wanita berprofesi sebagai penyiar radio, di mana ia memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Apakah seorang laki-laki boleh berbicara dengan wanita melalui pesawat telepon atau secara langsung?”
Asy-Syaikh menjawab: “Apabila seorang wanita bekerja di stasiun radio maka dapat dipastikan ia akan ikhtilath (bercampur baur) dengan kaum lelaki. Bahkan seringkali ia berdua saja dengan seorang laki-laki di ruang siaran. Yang seperti ini tidak diragukan lagi kemungkaran dan keharamannya. Telah jelas sabda Nabi r:

“Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita.”
Ikhtilath yang seperti ini selamanya tidak akan dihalalkan. Terlebih lagi seorang wanita yang bekerja sebagai penyiar radio tentunya berusaha untuk menghiasi suaranya agar dapat memikat dan menarik. Yang demikian inipun merupakan bencana yang wajib dihindari disebabkan akan timbulnya fitnah.
Adapun mendengar suara wanita melalui telepon maka hal tersebut tidaklah mengapa dan tidak dilarang untuk berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah menikmati suara tersebut atau terus-menerus berbincang-bincang dengan wanita karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya.
Sedangkan mengajak bicara wanita secara langsung maka tidak menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berhijab dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al-Mar‘ah Al-Muslimah, 1/433-434)
Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al-Jibrin menambahkan dalam fatwanya tentang permasalahan ini: “Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja baik dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan, dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan, serta terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al-Mar`ah, 1/435)

Laki-laki Berbicara Lewat Telepon dengan Wanita yang Telah Dipinangnya
Kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya menilai hubungan mereka telah teranggap setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang dibolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjawab: “Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khithbah-nya), apabila memang pinangannya (khithbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta’aruf) –kata mereka– sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah I telah berfirman:

“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al-Mar`ah, 2/605)

(Disusun dan dikumpulkan dari fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan dan Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dan Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim)

Catatan Kaki:

1  Talbiyah adalah melafadzkan Labbaika Allahumma labbaika dan seterusnya di dalam ibadah haji.

Wanita Haidh Masuk ke Masjid

Bagaimana hukumnya wanita yang sedang haidh masuk masjid untuk suatu keperluan, misalnya mengikuti ta’lim? Sementara ada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid kepada wanita yang haidh dan orang yang junub.”
‘Athiyyah, Purwokerto

Jawab:
Dalam permasalahan ini ada perselisihan pendapat di kalangan ulama, ada yang mengatakan boleh dan ada pula yang berpendapat tidak boleh. Kata Al-Imam Asy-Syaukani t: “Zaid bin Tsabit berpendapat boleh bagi wanita haidh masuk ke dalam masjid kecuali bila dikhawatirkan darahnya menajisi masjid. Al-Imam Al-Khaththabi menghikayatkan kebolehan ini dari Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad dan ahlu dzahir. Sedangkan yang berpendapat tidak boleh adalah Sufyan dan Ashabur Ra`yi, dan pendapat ini yang masyhur dari madzhab Al-Imam Malik.” (Nailul Authar, 1/320)
Namun yang kuat dari pendapat yang ada, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, wanita haidh dibolehkan masuk masjid. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam kitab beliau Al-Muhalla (2/184-187), karena tidak ada dalil yang menunjukkan larangan tentang hal ini, sementara Rasulullah r telah bersabda:

“Sesungguhnya orang mukmin itu tidaklah najis.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 283 dan Muslim no. 371)
Di masa hidup Rasulullah r, ada seorang wanita hitam bekas budak yang biasa membersihkan masjid Nabi dan ia memiliki tenda di dalam masjid. Sebagai seorang wanita tentunya ia mengalami haidh namun tidak didapatkan adanya perintah Rasulullah r agar dia keluar dari masjid ketika masa haidhnya. (Haditsnya disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 439)
Sementara hadits yang anda tanyakan adalah hadits yang dha’if (lemah), dijelaskan pula oleh Ibnu Hazm sisi kelemahan hadits ini, sebagaimana dalam Al-Muhalla. Demikian pula Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah (118-119).

Batasan Kufu dalam Pernikahan

pakah batasan kufu/ kesetaraan dalam pernikahan? Apakah adanya kecocokan hati, perasaan, cara berpikir, cara pandang dan kefaqihan dalam agama termasuk dalam kekufuan?
Dianwati
ummuyusuf@…com

Jawab:
Para ahli fiqih (fuqaha) berbeda pendapat tentang kafa`ah (kufu) dalam pernikahan, namun yang benar sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (4/22), yang teranggap dalam kafa`ah adalah perkara dien (agama). Beliau t berkata tentang permasalahan ini diawali dengan menyebutkan beberapa ayat Al Qur‘an, di antaranya:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah-kabilah agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)

“Orang-orang beriman itu adalah bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)

“Kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71)

“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…” (An-Nur: 26)
Kemudian beliau lanjutkan dengan beberapa hadits dan beliau menyebutkan bahwasanya    Nabi r sendiri pernah menikahkan Zainab bintu Jahsyin Al-Qurasyiyyah, seorang wanita bangsawan, dengan Zaid bin Haritsah bekas budak beliau. Dan menikahkan Fathimah bintu Qais Al-Fihriyyah dengan Usamah bin Zaid, juga menikahkan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin ‘Auf.
Dari dalil yang ada dipahami bahwasanya penetapan Nabi r dalam masalah kufu adalah dilihat dari sisi agama. Sebagaimana tidak boleh menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki kafir, tidak boleh pula menikahkan wanita yang menjaga kehormatan dirinya dengan laki-laki yang fajir (jahat/jelek).
Al Qur‘an dan As Sunnah tidak menganggap dalam kafa`ah kecuali perkara agama, adapun perkara nasab (keturunan), profesi dan kekayaan tidaklah teranggap. Karena itu boleh seorang budak menikahi wanita merdeka dari turunan bangsawan yang kaya raya apabila memang budak itu seorang yang ‘afif (menjaga kehormatan dirinya) dan muslim. Dan boleh pula wanita Quraisy menikah dengan laki-laki selain suku Quraisy, wanita dari Bani Hasyim boleh menikah dengan laki-laki selain dari Bani Hasyim. (Zadul Ma’ad, 4/22)

Hukum-hukum Istihadhah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Wanita yang ditimpa istihadhah hukumnya sama dengan wanita yang suci, tidak ada bedanya kecuali dalam hal berikut:
Pertama: Bila ingin berwudhu wanita yang mengalami istihadhah mencuci kemaluannya dari bekas darah dan menahan keluarnya darah dengan kain.
Kedua: Dalam hal berjima’ dengan istri yang sedang istihadhah, diperselisihkan boleh tidaknya di kalangan ulama. (Risalah fid Dima‘ Ath-Thabi’iyyah Lin Nisa‘, hal. 50)
Jumhur ulama berpandangan, boleh berjima’ dengan istri yang sedang istihadhah. Sementara ada yang berpendapat tidak boleh kecuali bila masa istihadhahnya panjang dan ada yang tidak membolehkan sama sekali karena menyamakan istihadhah dengan haidh. Namun pendapat yang kuat dalam permasalahan ini adalah pendapat jumhur ulama. Karena tidak didapati riwayat dari Rasulullah r yang berisi larangan itu, sementara banyak wanita yang mengalami istihadhah pada masa beliau. Seandainya hal itu merupakan syariat Allah U, niscaya Nabinya r akan menerangkannya kepada para suami yang istri-istrinya ditimpa istihadhah dan akan dinukilkan hal itu kepada kita sebagai penjagaan terhadap syariat ini.
Selain itu ada ayat Allah I yang umum:

“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian maka datangilah ladang itu sekehendak kalian.” (Al-Baqarah: 223)
Al-Imam Al-Bukhari t membawakan ucapan Abdullah Ibnu ‘Abbas c dalam kitab Shahih-nya yang maknanya bahwa wanita istihadhah boleh digauli oleh suaminya sebagaimana dibolehkan baginya untuk shalat, sementara shalat itu perkara yang lebih agung. (Shahih Al-Bukhari, Kitabul Haidh, bab “Apabila wanita istihadhah melihat dirinya telah suci dari haidh”)
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani t ketika menjelaskan ucapan Ibnu ‘Abbas c ini, berkata: “Yakni bila si wanita yang istihadhah dibolehkan shalat, maka lebih utama lagi dibolehkan berjima’ dengannya karena perkara shalat lebih agung dari perkara jima’.” (Fathul Bari, 1/535)
Bila ada yang memasukkan darah istihadhah dalam firman Allah I:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah darah haidh itu adalah kotoran.” (Al-Baqarah: 222)
Maka kita katakan bahwa kata ganti (dhamir): () dalam ayat di atas menunjukkan pengkhususan, yakni darah haidh itu kotoran bukan yang lainnya. Dan di sini tidak diterima qiyas (analogi) karena adanya perbedaan antara darah haidh dengan darah istihadhah () pada kebanyakan hukumnya. Demikian diterangkan Asy-Syaikh Muhammad Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (1/440).
Karena wanita istihadhah dihukumi sama dengan wanita yang suci, maka tidak ada kewajiban mandi baginya setiap akan menunaikan shalat. Demikian pendapat jumhur ulama yang disebutkan Al-Imam An-Nawawi t dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim (4/19) dan Al-Hafidz Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari (1/533). Adapun perbuatan Ummu Habibah x yang mandi setiap kali akan shalat sebagaimana riwayatnya dibawakan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 334), hal itu merupakan ijtihad Ummu Habibah semata, bukan perintah yang datangnya dari Nabi r.
Demikian pula berwudhu setiap akan shalat, tidak ada perintahnya dari Nabi r. Adapun hadits:

“Engkau tidak boleh meninggalkan shalat. (Apa yang kau alami) itu, hanyalah darah dari urat bukan haidh. Apabila datang haidhmu maka tinggalkanlah shalat dan bila telah berlalu hari-hari haidhmu, cucilah darah darimu (mandilah) dan shalatlah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 228, 306, 320, 325, 331 dan Muslim no. 333)
dengan tambahan perintah berwudhu () setelah perintah mencuci darah (sebagaimana disebutkan dalam riwayat An-Nasa`i dari jalan Hammad bin Zaid) maka tambahan ini dilemahkan oleh ahli ilmu. (Lihat Syarah Muslim, 4/22).
Yang wajib dilakukan wanita istihadhah hanyalah mandi ketika selesai masa haidhnya, meski darah terus mengalir. Hal ini merupakan perkara yang disepakati, kata Al-Imam An-Nawawi t. (Syarah Muslim, 1/25)
Beliau t menyatakan, dalam hal ibadah shalat, puasa, i’tikaf, membaca Al Qur`an, menyentuh mushaf dan membawanya, sujud tilawah dan sujud syukur, maka wanita istihadhah sama dengan wanita suci dalam kebolehannya dan hal ini merupakan perkara yang disepakati pula. (Syarah Muslim, 4/17)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Istihadhah Tidak Sama Dengan Haidh

Rasulullah r bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy x ketika meminta fatwa kepada beliau berkenaan dengan istihadhah yang dialaminya:

“(Apa yang kau alami) itu hanyalah darah dari urat bukan haidh…” (HR. Al-Bukhari no. 228, 306, 320, 325, 331 dan Muslim no. 333)
Hadits ini menunjukkan, darah istihadhah tidak sama dengan darah haidh yang sifatnya alami (yakni mesti dialami oleh setiap wanita yang normal sebagai salah satu tanda baligh). Sedangkan keluarnya darah istihadhah merupakan penyakit karena gangguan setan yang ingin memberikan keraguan terhadap anak Adam dalam pelaksanaan ibadahnya dengan segala cara, sebagaimana dikatakan Al-Imam Ash-Shan’ani t dalam kitabnya Subulus Salam (1/159). Dan darah ini keluar karena terputusnya salah satu urat yang berada di dekat rahim.
Keberadaan darah istihadhah bersama darah haidh, menurut Ibnu Taimiyyah t, merupakan suatu masalah yang rumit sehingga harus dibedakan antara keduanya. Caranya bisa dengan ‘adat (kebiasaan haidh) atau dengan tamyiz (membedakan sifat darah). Perbedaan sifat darah antara keduanya bisa disimpulkan sebagai berikut:
1.    Darah haidh umumnya berwarna hitam sementara darah istihadhah umumnya berwarna merah.
2.    Darah haidh sifatnya tebal dan keras, sedangkan darah istihadhah tipis dan lunak.
3.    Aroma darah haidh tidak sedap/ berbau busuk sedangkan darah istihadhah tidak berbau busuk.
4.     Darah haidh tidak membeku karena telah membeku di dalam rahim kemudian terpancar dan mengalir. Sedangkan darah istihadhah membeku karena merupakan darah urat. (Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Az-Zadil Mustaqni’, 1/423)

Darah Istihadhah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Istihadhah berbeda dengan haidh. Perbedaan ini menuntut banyak hal, terutama terkait dengan praktek ibadah. Pembahasan ringkas berikut insya Allah memberikan kemudahan untuk memahami apa sesungguhnya istihadhah itu.

Sebagian wanita ada yang mengeluarkan darah dari farji (kemaluan) di luar kebiasaan bulanannya (haidh) dan bukan karena melahirkan. Darah ini diistilahkan dengan darah istihadhah. Al-Imam An-Nawawi t mengatakan, istihadhah adalah darah yang mengalir dari farji wanita di luar waktunya dan berasal dari urat yang dinamakan ‘adzil (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 4/17).
Al-Imam Al-Qurthubi t menyifatinya dengan darah yang keluar dari farji wanita di luar kebiasaan bulanannya, disebabkan urat yang terputus. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur‘an, 3/57)
Keluarnya darah istihadhah ini merupakan hal yang lazim dijumpai para wanita. Bukan hanya di masa sekarang, namun sejak dulu dan dialami pula oleh para wanita dari kalangan shahabat Rasulullah r. Menurut Al-Imam Ash-Shan’ani t, jumlah shahabiyyah yang mengalami istihadhah di masa Nabi r mencapai sepuluh orang, demikian menurut perhitungan ahlul ilmi, (Subulus Salam, 1/161). Bahkan ada yang menghitungnya lebih dari sepuluh.
Di antara mereka adalah Fathimah bintu Abi Hubaisy x. Ia pernah datang meminta fatwa kepada Rasulullah r:

“Wahai Rasulullah! Aku adalah seorang wanita yang ditimpa istihadhah maka aku tidak suci. Apakah aku harus meninggalkan shalat?” (Shahih, HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 228, 306, 320, 325, 331 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 333)
Bahkan di antara Ummul Mukminin (istri Rasulullah r), ada pula yang ditimpa istihadhah seperti yang diberitakan Aisyah x:

“Nabi r pernah i’tikaf bersama sebagian istrinya, (ada di antara mereka) yang sedang istihadhah dalam keadaan ia melihat keluarnya darah…” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 309, 310)
Ibnu ‘Abdil Barr t mengisahkan, tiga orang putri Jahsyin semuanya mengalami istihadhah. Mereka adalah Zainab Ummul Mukminin, Hamnah istri Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan Ummu Habibah istri Abdurrahman bin ‘Auf, semoga Allah meridhai mereka semuanya. (Syarah Muslim 1/23, Fathul Bari, 1/513)
Bahkan ada di antara shahabiyyah yang mengalami istihadhah selama bertahun-tahun, seperti dialami Ummu Habibah bintu Jahsyin x. Ia istihadhah selama 7 tahun, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari no. 327 dan Muslim no. 334.
Ada pula di antara mereka yang keluar darah istihadhah dengan deras dan sangat banyak seperti Hamnah bintu Jahsyin x. Ia pernah datang menemui Nabi r mengadukan keadaan dirinya:

“Aku ditimpa istihadhah yang sangat banyak dan deras…” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya. Dinukilkan penshahihan Al-Imam Ahmad terhadap hadits ini, sedangkan Al-Imam Al-Bukhari menghasankannya. Lihat Subulus Salam, 1/159-160)

Keadaan Wanita yang Istihadhah
Keadaan pertama: Dia memiliki adat/ kebiasaan haidh yang tertentu setiap bulannya sebelum ditimpa istihadhah. Ketika keluar darah dari farjinya, untuk membedakan apakah darah tersebut darah haidh atau darah istihadhah, kembali kepada kebiasaan haidhnya. Dia meninggalkan shalat dan puasa di hari-hari kebiasaan haidhnya dan berlaku padanya hukum wanita haidh. Adapun di luar waktu itu bila masih keluar darah, berarti ia mengalami istihadhah dan berlaku pada dirinya hukum wanita suci (yakni suci dari haidh/ nifas).
Misalnya: seorang wanita adatnya 6 hari di tiap awal bulan. Kemudian ia ditimpa istihadhah yang menyebabkan darah keluar terus menerus dari farjinya. Maka 6 hari di awal bulan itu dianggap haidh, selebihnya istihadhah. Ini berdasarkan sabda Rasulullah r kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy x. Fathimah menyangka, ia harus meninggalkan shalat karena istihadhah yang dialaminya. Maka beliau r memberikan tuntunan:

“Engkau tidak boleh meninggalkan shalat. (Apa yang kau alami) itu hanyalah darah dari urat bukan haidh. Apabila datang haidhmu maka tinggalkanlah shalat dan bila telah berlalu hari-hari haidhmu, cucilah darah darimu (mandilah) dan shalatlah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 228, 306, 320, 325, 331 dan Muslim no. 333)
Beliau r juga mengatakan kepada Ummu Habibah bintu Jahsyin:

“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidhmu kemudian mandilah.” (Shahih, HR. Muslim no. 334)
Keadaan kedua: Ia tidak memiliki adat tertentu sebelum ditimpa istihadhah ataupun ia lupa adatnya, namun ia bisa membedakan darah. Maka untuk membedakan darah haidh dengan istihadhah ia memakai cara tamyiz (mengenali sifat darah). Bila ia dapatkan bau tidak sedap dari darah yang keluar dan sifat-sifat lain yang ia kenali, berarti ia sedang haidh, selain dari itu berarti ia istihadhah.
Misalnya: seorang wanita keluar darah dari kemaluannya secara terus menerus, namun 10 hari yang awal darah yang keluar berwarna hitam selebihnya berwarna merah. Maka 10 hari yang awal itu dihitung haidh, selebihnya istihadhah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi r kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy x:

“Apabila darah itu darah haidh, maka dia berwarna hitam yang dikenal. Bila demikian darah yang keluar darimu, berhentilah shalat. Namun bila tidak demikian keadaannya, berwudhulah dan shalatlah.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan lainnya. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abu Dawud no. 283, 284)
Muncul permasalahan, bagaimana bila wanita yang istihadhah punya adat haidh dan bisa membedakan sifat darah (tamyiz)? Mana yang harus dia dahulukan, adat atau tamyiz?
Dalam hal ini ulama berselisih pendapat. Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad berpendapat tamyiz didahulukan. Mereka berdalil dengan sabda Nabi r:

“Apabila darah itu darah haidh maka dia berwarna hitam yang dikenal. Bila demikian darah yang keluar darimu berhentilah shalat. Namun bila tidak demikian keadaannya berwudhulah dan shalatlah”. (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan lainnya. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud no. 283, 284)
Mereka juga beralasan tamyiz merupakan tanda yang jelas sekali, maka sepantasnya kembali kepadanya.
Adapun Abu Hanifah berpendapat ‘adat didahulukan. Pendapat ini dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan berdalil sabda Nabi r:

“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidhmu kemudian mandilah.” (HR. Muslim no. 334)
Dalam hadits ini Nabi r menyuruh Ummu Habibah untuk melihat kebiasaan haidhnya, meski Ummu Habibah bisa saja membedakan darah tersebut. Namun ternyata beliau r tidak meminta perincian, misalnya dengan bertanya: “Apakah darah yang keluar itu warnanya berubah?” Jadi jelaslah, bahwa ‘adat-lah yang dipegangi bukan tamyiz.
Pendapat terakhir ini yang lebih benar, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t, dengan alasan:
1.    Hadits yang di dalamnya ada penyebutan tamyiz diperselisihkan keshahihannya.
2.    Penetapan dengan ‘adat lebih meyakinkan bagi seorang wanita karena sifat darah itu terkadang berubah atau keluarnya bergeser ke akhir bulan atau awal bulan atau terputus-putus sehari berwarna hitam, hari berikutnya berwarna merah. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/427)
Dengan demikian, bila seorang wanita ‘adatnya 5 hari, pada hari ke-4 dari masa haidhnya keluar darah berwarna merah seperti darah istihadhah, namun pada hari ke 5 kembali darahnya berwarna hitam, maka ia berpegang dengan ‘adatnya yang 5 hari sehingga hari ke-4 yang keluar darinya darah berwarna merah, tetap terhitung dalam masa haidhnya. Wallahu a‘lam.
Keadaan ketiga: Wanita itu tidak memiliki kebiasaaan haidh dan tidak pula dapat membedakan darah. Sementara, darah keluar terus menerus dari farjinya dan sifat darah itu sama (tidak berubah) atau tidak jelas. Maka cara membedakannya dengan melihat kebiasaan umumnya wanita, yaitu menganggap dirinya haidh selama enam atau tujuh hari pada setiap bulannya, dimulai sejak awal dia melihat keluarnya darah. Adapun selebihnya berarti istihadhah.
Misalnya: seorang wanita melihat pertama kali keluar darah dari kemaluannya pada hari Kamis bulan Ramadhan dan darah itu terus keluar tanpa dapat dibedakan apakah darah haidh atau bukan. Maka dia menganggap dirinya haidh selama 6 atau 7 hari dimulai hari Kamis. Hal ini berdasarkan sabda Rasululah r kepada Hamnah:
“Yang demikian itu hanyalah satu gangguan dari setan, maka anggaplah dirimu haidh selama enam atau tujuh hari. Setelah lewat dari itu mandilah, maka apabila engkau telah suci shalatlah selama 24 atau 23 hari, puasalah dan shalatlah. Hal ini mencukupimu, demikianlah engkau lakukan setiap bulannya sebagaimana para wanita biasa berhaidh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya. Dinukilkan pula penshahihan Al-Imam Ahmad terhadap hadits ini, sedangkan Al-Imam Al-Bukhari menghasankannya. Lihat Subulus Salam, 1/159-160)
Al-Imam Ash-Shan‘ani t berkata bahwa hadits ini menunjukkan, untuk menentukan haidh dengan yang selainnya, dikembalikan kepada kebiasaan umumnya wanita. (Subulus Salam, 1/159)
Beliau t juga menyatakan: “Ucapan Nabi r dalam hadits di atas: “Anggaplah dirimu haidh selama 6 atau 7 hari” bukanlah keraguan dari rawi (yakni rawi ragu apakah Nabi r mengatakan 6 atau 7 hari –pent.) dan bukan pula disuruh memilih antara 6 atau 7 hari. Nabi r mengatakan demikian untuk mengajarkan bahwasanya kaum wanita memiliki dua adat, di antara mereka ada yang haidh selama 6 hari dan ada yang 7 hari. Maka seorang wanita mengembalikan kebiasaannya kepada wanita yang sebaya, dan memiliki keserupaan dengannya.” (Subulus Salam, 1/160)
Dan tentunya lebih pantas bagi wanita ini untuk melihat kerabatnya yang paling dekat seperti ibunya, saudara perempuannya, dan semisal mereka. Bukan kembalinya kepada kebiasaan umumnya wanita yang haidh, karena persamaan seorang wanita dengan kerabatnya lebih dekat daripada persamaannya dengan keumuman wanita. Demikian dikatakan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (1/434).

Pendamping Rasullullah di Negeri Kekal Abadi

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Wanita mulia, putri seorang yang mulia. Kemuliaan dicurahkan oleh Rabb-nya dengan puasa dan shalat malamnya. Kemuliaan yang membuat dirinya tetap berdampingan dengan orang yang paling mulia, Rasulullah.

Putri seorang yang paling mulia setelah Abu Bakr Ash-Shiddiq, Hafshah bintu ‘Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razzah bin ‘Ady bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Al-Qurasyiyyah Al-‘Adawiyyah x. Ibunya bernama Zainab bintu Mazh’un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah Al-Jumahiyah. Dia dilahirkan lima tahun sebelum masa Rasulullah r diangkat sebagai nabi.
Hafshah merangkai kisah hidupnya dalam ikatan pernikahannya dengan Khumais bin Hudzafah As-Sahmi z, seorang shahabat mulia yang turut terjun dalam pertempuran Badr. Namun ikatan itu harus terurai. Khumais terluka dalam peperangan Uhud hingga akhirnya meninggal dunia di Madinah.
Dilaluinya kesunyian hari-hari tanpa seseorang di sisinya. Kesedihan tak tersembunyi dari wajahnya. Betapa pilu hati ‘Umar bin Al-Khaththab z melihat semua itu. Betapa ingin dia mengusir kesedihan hati putrinya. Terlintas di benaknya sosok seorang yang mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiq z. Usai masa ‘iddah Hafshah, bergegas ‘Umar berangkat menemui Abu Bakr. Dikisahkannya peristiwa yang menimpa putrinya, kemudian ditawarkannya Abu Bakr untuk menikah dengan putri tercintanya. Akan tetapi, ‘Umar tidak mendapati jawaban sepatah kata pun dari Abu Bakr.
Remuk redamlah hati ‘Umar. Dia bangkit meninggalkan Abu Bakr dengan menyisakan kemarahan. Kemudian ‘Umar menemui ‘Utsman bin ‘Affan z yang baru saja kehilangan istrinya, Ummu Kultsum, putri Rasulullah r. Diceritakannya pula tentang putrinya dan ditawarkannya ‘Utsman untuk menikahi putrinya. ‘Utsman pun terdiam, kemudian memberikan jawaban yang membuat hati ‘Umar semakin hancur, “Kurasa, aku tidak ingin menikah dahulu hari-hari ini.” ‘Umar kembali dengan membawa bertumpuk kekecewaan.
Dengan penuh gundah, ‘Umar menemui Rasulullah r. Diungkapkannya segala yang dialaminya. Merekahlah senyuman Rasulullah r, lalu beliau berkata, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada ‘Utsman, dan ‘Utsman akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.”
Siapa yang menyangka, ternyata Rasulullah r meminang Hafshah, putri shahabatnya, ‘Umar bin Al-Khaththab z. Tak terkira kegembiraan yang memenuhi hati ‘Umar. Seusai menikahkan Rasulullah r dengan putrinya, ‘Umar segera mendatangi Abu Bakr untuk mengabarkan peristiwa besar yang dia alami sebagai suatu kemuliaan dari Allah I diiringi dengan permintaaan maaf. Abu Bakr tersenyum mendengar penuturan ‘Umar, “Barangkali waktu itu engkau sangat marah padaku. Sesungguhnya aku tidak memberikan jawaban karena aku telah mendengar Rasulullah r menyebut-nyebut Hafshah. Akan tetapi, aku tidak ingin menyebarkan rahasia beliau. Seandainya Rasulullah r tidak menikahinya, pasti aku akan menikah dengannya.”
Rasulullah r menikah dengan Hafshah pada tahun ketiga hijriyah, dalam usia Hafshah yang kedua puluh tahun. Semenjak saat itu, Hafshah hadir dalam rumah tangga Rasulullah r, setelah ‘Aisyah x. Pada tahun itu pula beliau menikahkan ‘Utsman bin ‘Affan z dengan putri beliau, Ruqayyah x.
Dalam rentang perjalanannya menapaki rumah tangga Rasulullah r, tercatat kisah yang mengguratkan sejarah besar. Dari peristiwa itulah turun ayat-ayat dalam Surat At-Tahrim sebagai teguran Allah I dari atas langit. Berawal kisah ini dari singgahnya Rasulullah r di rumah Zainab bintu Jahsy x. Beliau tertahan beberapa lama karena menikmati madu yang dihidangkan Zainab. Tatkala mendengar hal itu, meluaplah riak-riak kecemburuan ‘Aisyah. Dia kabarkan hal ini kepada Hafshah. Kemudian ‘Aisyah dan Hafshah pun bersepakat, apabila beliau menemui salah seorang dari mereka berdua, hendaknya dikatakan bahwa beliau telah makan buah Maghafir.
Inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah dan Hafshah, hingga Rasulullah r mengatakan, “Aku tidak makan buah Maghafir. Aku hanya minum madu di tempat Zainab, dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Pun tak hanya itu yang terjadi. Peristiwa lain turut mengiringi, ketika Rasulullah r mendatangi budak beliau, Mariyah Al-Qibthiyyah, di rumah Hafshah. Kecemburuan Hafshah pun membuncah, “Ya Rasulullah, engkau lakukan hal itu di rumahku, di atas tempat tidurku dan pada hari giliranku.” Rasulullah r pun segera meredakan kemarahan Hafshah. Beliau menyatakan bahwa sejak saat itu Mariyah haram bagi beliau. Tak lupa beliau berpesan agar Hafshah tidak menceritakan apa yang terjadi pada siapa pun. Namun, Hafshah tidak memegangi pesan Rasulullah r. Dia mengungkap peristiwa itu di hadapan ‘Aisyah x.
Siapakah yang dapat bersembunyi dari Allah? Tentang dua peristiwa ini, Allah turunkan wahyu kepada Nabi-Nya r agar tidak mengharamkan segala yang Allah halalkan, semata-mata untuk mencari keridhaan istri-istri beliau. Allah kabarkan kepada beliau tentang apa yang diperbuat ‘Aisyah dan Hafshah c, disertai pula teguran kepada mereka berdua untuk bertaubat kepada Allah I. Kisah kedua wanita yang mulia ini terus dibaca, terus membuahkan banyak faidah.
Perjalanan rumah tangga dengan segenap pasang surutnya. Suatu ketika, pernah Rasulullah r hendak menceraikannya. Namun Jibril u menahan beliau, “Kembalilah kepada Hafshah! Sesungguhnya dia wanita yang banyak puasa dan shalat malam, dan dia adalah istrimu kelak di dalam jannah (surga).” Hafshah bintu ‘Umar x, wanita mulia yang meraih kemuliaan dengan puasa dan shalat malamnya.
Hafshah menikmati bimbingan dalam liputan cahaya kenabian. Dia meriwayatkan banyak ilmu dari sisi suaminya yang tercinta, Rasulullah r, juga dari ayahnya, ‘Umar ibnul Khaththab z. Sepeninggal Rasulullah r, dia sebarkan ilmu, hingga tercatatlah deretan nama para shahabat yang meriwayatkan dari Hafshah bintu ‘Umar x, di antaranya Abdullah bin ‘Umar c, saudara laki-lakinya.
Masa terus berjalan, khilafah berganti. Pada tahun keempatpuluh lima setelah hijrah, pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, Hafshah bintu ‘Umar x kembali kepada Rabb-nya. Kala itu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Hurairah c terlihat turut mengusung jenazah Hafshah x dari kediamannya hingga ke kuburnya. Wanita mulia itu telah tiada, kehidupannya meninggalkan keharuman ilmu dan guratan berharga bagi umat ini.  Hafshah bintu ‘Umar, semoga Allah meridhainya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber bacaan:
1.     Al-Ishabah karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, 7/581-582
2.     Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, 8/807-808
3.     Nashihati lin Nisa` karya Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah, hal. 130
4.    Siyar A’lamin Nubala` karya Al-Imam Adz-Dzahabi, 2/227-231
5.    Tahdzibul Kamal karya Al-Imam Al-Mizzi, 35/153-154

Segenap Asa dalam Sebuah Nama

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Memberikan nama yang baik adalah salah satu tugas orang tua bagi anaknya yang baru lahir. Ada aturan-aturan yang harus diikuti orang tua agar nama anak bisa memberikan kebaikan dan berkah bagi pemiliknya.

Sosok mungil itu telah ada dalam dekapan hangat sang ibu. Tibalah saat dia mendengar sapaan sang ayah yang penuh kasih sayang, memanggilnya dengan nama yang diberikan baginya. Nama yang indah, disertai dengan harapan yang membuncah, semoga perjalanan hidup si buah hati kelak akan sebaik nama yang disandangnya.
Barangkali jauh hari sebelum si kecil lahir ke dunia, tak kurang banyaknya nama yang dirancang oleh ayah dan ibu, dilatari oleh sekian banyak pertimbangan. Ada yang ingin menamai anaknya dengan nama tokoh yang dikagumi disertai harapan, anaknya akan sehebat tokoh peristiwa itu. Ada pula yang sekedar mempertimbangkan faktor “keren dan enak didengar”.
Si kecil tumpuan harapan, sudah semestinya ayah bunda memberikan nama yang terbaik bagi dirinya, nama yang dicintai oleh Rabb semesta alam. Tidak ada jalan lain untuk mendapatkannya, kecuali menelaah kembali, bagaimana Allah dan Rasul-Nya r menerangkan seputar seluk-beluk nama kepada kita.
Pada hari pertama hadirnya buah hati di dunia, sang ayah boleh memberikan nama padanya. Kita bisa menyimak kisah pemberian nama Rasulullah r pada putranya, Ibrahim.

“Semalam telah lahir anak laki-lakiku, maka aku beri nama dia dengan nama ayahku, Ibrahim.” (Shahih, HR. Muslim no. 2315)
Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bolehnya memberikan nama anak pada hari kelahirannya. (Syarh Shahih Muslim, 15/75)
Juga kisah-kisah lainnya ketika para shahabat  membawa anaknya yang baru lahir ke hadapan Rasulullah r, beliau memberikan nama pada hari itu juga. Kita lihat dalam kisah kelahiran Abdullah bin Az-Zubair c ketika Rasulullah r men-tahnik-nya:

“Kemudian beliau mengusapnya dan mendoakan kebaikan baginya, serta memberinya nama Abdullah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2146)
Demikian pula dalam kisah lahirnya Abdullah bin Abi Thalhah c, ketika Anas bin Malik z membawanya ke hadapan beliau:

“Kemudian beliau mentahniknya dan memberinya nama Abdullah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2144)
Juga ketika Abu Usaid z membawa putranya kepada Rasulullah r pada hari kelahirannya:

“Maka pada hari itu beliau memberinya nama Al-Mundzir.” (Shahih, HR. Al Bukhari no. 6191 dan Muslim no. 2149)
Begitu pula penuturan Abu Musa Al-Asy’ari z:

“Telah lahir anak laki-lakiku, lalu aku membawanya kepada Nabi r, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma.” (HR. Muslim no. 2145)
Namun di sisi lain, kita dengar penjelasan bahwa seorang anak diberi nama pada hari ketujuh, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah r melalui lisannya yang mulia:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud no. 2838)
Untuk memahami dua sisi ini, kita buka penjelasan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t. Beliau mengatakan bahwa anak yang tak hendak diaqiqahi, maka pemberian namanya tidak ditangguhkan hingga hari ketujuh, sebagaimana yang terjadi dalam kisah Ibrahim bin Abi Musa, Abdullah bin Abi Thalhah, demikian pula Ibrahim putra Nabi r dan Abdullah bin Az-Zubair, karena tidak ada penukilan yang menyatakan bahwa salah seorang di antara mereka diaqiqahi. Sedangkan anak yang hendak diaqiqahi, maka pemberian namanya ditangguhkan hingga hari ketujuh sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits lain. (Fathul Bari, 9/501)
Pun ayah bunda tak lupa memilihkan nama terbaik bagi anaknya. Namun toh semua itu tetap tak lepas dari tinjauan syariat, ketika Rasulullah r telah memberikan tuntunan:

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)
Ucapan Rasulullah r ini menunjukkan keutamaan kedua nama itu atas seluruh nama, demikian dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 14/113).
Ayah dan ibu pun bisa memilihkan nama dari deretan nama-nama para nabi. Bahkan demikian yang dilakukan oleh Rasulullah r bagi putranya, dan demikian pula yang beliau berikan kepada anak-anak shahabatnya. Beliau berikan nama Ibrahim kepada anak Abu Musa Al-Asy’ari, dan Yusuf kepada anak Abdullah bin Salam, sebagaimana dikisahkan sendiri oleh Yusuf bin Abdillah bin Salam:

“Rasulullah memberiku nama Yusuf dan mendudukkan aku di pangkuan beliau serta mengusap kepalaku.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 282 bahwa isnadnya shahih)
Tak layak dilalaikan, ada nama-nama yang haram disandang. Kita bisa melihat penjelasan Rasulullah r mengenai hal ini.

“Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang bernama Malikul Amlak (raja dari seluruh raja).” Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam riwayatnya: “Tidak ada raja kecuali Allah U.” Al-Asy’atsi berkata bahwa Sufyan mengatakan:”Seperti Syahan Syah.” (HR. Al-Bukhari no.6206 dan Muslim no. 2143)
Kita simak ucapan Al-Imam An-Nawawi t ketika menjelaskan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa pemakaian nama ini haram, demikian pula memakai nama-nama Allah I yang khusus bagi diri-Nya, seperti Al-Quddus (Yang Maha Suci), Al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara), Khaliqul Khalq (Pencipta seluruh makhluk), dan sebagainya. (Syarh Shahih Muslim, 14/122)
Penamaan yang terlarang ini tidak hanya mencakup dalam lafadz bahasa Arab, namun lafadz dalam bahasa lain apabila maknanya demikian pun terlarang. Kita lihat dalam hadits di atas, Sufyan bin ‘Uyainah t memasukkan nama Syahan Syah –yang bukan berasal dari lafadz bahasa Arab namun bermakna serupa dengan Malikul Amlak– dalam larangan ini.
Hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Al-Mubarakfuri. Beliau menyatakan bahwa Sufyan bin ‘Uyainah memberikan peringatan bahwa nama yang tercela ini tidak terbatas pada Malikul Amlak saja. Akan tetapi, seluruh nama yang menunjukkan makna tersebut dengan bahasa apa pun termasuk dalam larangan ini. (Tuhfatul Ahwadzi, 8/102)
Begitu pula nama-nama yang mengandung tazkiyah1 ataupun nama-nama yang buruk, sehingga didapati kisah-kisah Rasulullah r mengganti nama-nama itu dengan nama yang lebih baik. Inilah penuturan Abdullah bin ‘Umar c, mengungkapkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah r:

“Anak perempuan ‘Umar bin Al-Khaththab bernama ‘Ashiyah (wanita yang suka bermaksiat), maka Rasulullah r memberinya nama Jamilah (wanita yang cantik).” (Shahih, HR. Muslim no. 2139)
Ibnul Atsir t mengatakan –dalam penjelasan beliau yang dinukil di dalam ‘Aunul Ma’bud– bahwa Rasulullah r mengganti nama ‘Ashiyah tersebut karena syi’ar seseorang yang beriman adalah taat kepada Allah, sementara kemaksiatan adalah lawan dari ketaatan. (‘Aunul Ma’bud, 13/201)
Selain itu, ada pula putri Abu Salamah yang semula bernama Barrah (wanita yang suci) kemudian diganti oleh Rasulullah r dengan nama Zainab. Dia mengisahkan sendiri peristiwa ini:

“Dulu aku bernama Barrah, kemudian Rasulullah r memberiku nama Zainab.” (Shahih, HR. Muslim no. 2142)
Bahkan kedua istri beliau, Zainab bintu Jahsy dan Juwairiyah bintu Al-Harits c, semula bernama Barrah, kemudian beliau mengganti nama mereka berdua. (Shahih, HR. Muslim no. 2140 dan 2141)
Al-Imam An-Nawawi t memberikan penjelasan bahwa hadits-hadits di atas mengandung makna penggantian nama yang jelek atau nama yang dibenci menjadi nama yang baik. Telah pasti pula adanya hadits-hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah r mengganti nama banyak shahabat. Beliau r menjelaskan pula bahwa alasan penggantian nama ini ada dua, yaitu karena mengandung tazkiyah (pensucian diri) atau dikhawatirkan terjatuh dalam tathayyur2. (Syarh Shahih Muslim, 14/120-121)
Kita lihat dalam kisah Ibnu ‘Umar c di atas, Rasulullah r tidak mengganti nama putri ‘Umar bin Al-Khaththab z menjadi Muthi’ah (wanita yang taat) –padahal lawan dari kata ‘Ashiyah adalah Muthi’ah– karena ditakutkan nama tersebut mengandung tazkiyah. (‘Aunul Ma’bud, 13/201)
Ada satu hal yang perlu diketahui, dalam Islam disyariatkan memanggil seseorang dengan nama kunyah3 walaupun orang itu belum memiliki anak. Demikian pula yang dilakukan oleh Rasulullah r kepada seorang anak kecil, seperti yang kita dengar dalam penuturan oleh Anas bin Malik z:
Rasulullah r adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan aku mempunyai saudara laki-laki yang telah disapih yang dipanggil Abu ‘Umair. Apabila Rasulullah r datang kemudian melihatnya, beliau biasanya mengatakan: ‘Wahai Abu ‘Umair! Apa yang dilakukan burung kecilmu?’ Dia biasa bermain-main dengan burung kecil itu.” (Shahih, HR. Muslim no. 2150)
Perbuatan Rasulullah r ini menunjukkan bolehnya memberikan nama kunyah kepada seseorang yang belum memiliki anak atau kepada anak-anak, dan ini bukan termasuk dusta. Demikian dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi t ketika membicarakan hadits ini. (Syarh Shahih Muslim, 14/129)
Manakala telah gamblang tuntunan Rasulullah r, apakah selayaknya seorang ayah atau seorang ibu –yang ingin memberikan seluruh kebaikan bagi putra-putrinya yang mengemban segenap harapan mereka– akan melalaikan hal ini? Karena bagaimanapun, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi r.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Catatan Kaki:

1  Tazkiyah adalah nama yang mengandung pensucian
2  Tathayyur adalah anggapan untung/ sial karena adanya suatu tanda, misalnya burung, hari, bulan, dll.
3  Kunyah adalah nama yang menggunakan Abu atau Ummu, biasanya diambil dari nama anak pertama atau anak laki-laki pertama. Atau yang diawali dengan Ibnu atau Bintu.

Haruskah Kebersamaan Kita Berakhir Di Sini? bagian pertama

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Kehidupan rumah tangga adalah perjalanan yang penuh dengan pasang surut. Kadang hubungan antara suami istri begitu mesra dan menyenangkan, namun di saat lain bisa panas dan mencemaskan. Baik suami maupun istri bisa menjadi penyebab timbulnya persoalan. Memahami bagaimana Islam memberikan tuntunan dalam menyelesaikan ketidakharmonisan hubungan suami istri sangat penting untuk diketahui kedua pihak.

Pernikahan dalam Islam merupakan sebuah ikatan yang suci dan agung. Al Qur`an mensifatkan hubungan pernikahan dengan istilah yang tidak diberikan kepada ikatan/hubungan yang lainnya, seperti yang tersurat dari firman Allah I:

“Bagaimana kalian akan mengambil kembali harta yang telah kalian berikan kepada istri-istri kalian, padahal sebagian kalian telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri-istri kalian) telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalidza).” (An-Nisa`: 21)
Dengan mitsaqan ghalidza ini, seorang laki-laki dan seorang wanita menjadi sepasang suami istri setelah sebelumnya mereka hidup terpisah sebagai seorang individu. Memang dalam hitungan mereka itu berbilang, namun pada hakikatnya mereka itu satu. Al Qur`an pun telah menggambarkan kuatnya ikatan antara sepasang insan ini:

“Para istri itu adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)
Ayat yang mulia di atas merupakan ungkapan kedekatan antara keduanya. Masing-masing saling merasakan ketenangan dan saling menutupi dari apa yang tidak halal. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 1/211-212, Tafsir Ibnu Katsir, 1/226).
Allah I menjadikan seorang suami merasa tenang dengan istrinya dan Dia tumbuhkan antara keduanya rasa cinta dan kasih sayang.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup dari jenis kalian agar kalian merasakan ketenangan padanya dan Dia jadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (Ar-Rum: 21)
Suami istri ini akan merasakan kebahagiaan hidup dengan pasangannya apabila keduanya bertakwa kepada Allah I dan menjalin ikatan hidup bersama di atas keikhlasan. Mereka maksudkan dengan kehidupan bersama itu untuk tolong-menolong menjalankan tugas yang mulia, bukan ingin mengambil keuntungan untuk diri sendiri tanpa memperdulikan kerugian pada yang lain. Seorang suami punya hak terhadap istrinya untuk ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah, dia harus dihargai, dihormati dan dimuliakan. Seorang istri harus menjauhi segala yang dibenci dan tidak disukai oleh suaminya dan sebaliknya dia harus menjadi sebab dan sumber kebahagiaan bagi suami.
Di sisi lain, suami berkewajiban untuk memberikan nafkah, menunaikan perkara yang dapat memberikan kebaikan bagi istrinya dan menjaganya jangan sampai jatuh ke dalam kejelekan, memperbagus pergaulan dengannya, bersikap lunak dan sabar atas kekurangannya, tidak mencari-cari kesalahannya dan memaafkan sedikit ketergelinciran yang dilakukannya.
Islam sangat menjaga ikatan suci ini agar tidak sampai terlepas atau sekedar goncang. Namun sebagai dua insan yang masing-masing memiliki watak, tabiat dan kepribadian yang berbeda, ditambah lagi pengaruh dari luar, kadang terjadi kesenjangan hubungan antara keduanya. Ketika itu mungkin didapatkan istri tidak taat kepada suaminya, meninggalkan kewajiban atau suami mendzalimi istrinya, tidak memenuhi haknya ataupun masing-masing melanggar hak pasangannya dan enggan menunaikan kewajiban. Inilah yang dinamakan nusyuz oleh para fuqaha (ahli fiqih).

Pengertian Nusyuz
Nusyuz bisa terjadi dari pihak istri dan bisa pula dari pihak suami ataupun dari kedua belah pihak. Dan nusyuz ini bisa berupa ucapan ataupun perbuatan dan bisa kedua-duanya, ucapan sekaligus perbuatan.
1.    Nusyuz dari istri
Ibnu Taimiyyah t mengatakan: “Nusyuz istri adalah ia tidak menaati suaminya apabila suaminya mengajaknya ke tempat tidur, atau ia keluar rumah tanpa minta izin kepada suami dan perkara semisalnya yang seharusnya ia tunaikan sebagai wujud ketaatan kepada suaminya.” (Majmu’ Fatawa, 32/277)
Termasuk nusyuz istri adalah enggan berhias sementara suaminya menginginkannya. Dan juga ia meninggalkan kewajiban-kewajiban agama seperti meninggalkan shalat, puasa, haji dan sebagainya.
Penyebutan nusyuz dari istri ini terdapat dalam firman-Nya:

“Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui dan yakini1) nusyuznya maka hendaklah kalian menasehati mereka, dan meninggalkan mereka di tempat tidur dan memukul mereka.” (An-Nisa`: 34)
Maksud “memukul” dari ayat ini adalah dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas.
2.    Nusyuz dari suami
Nusyuz suami dengan sikapnya yang melampaui batas kepada istrinya, menyakitinya dengan mendiamkannya atau memukulnya tanpa alasan syar’i, tidak menafkahinya dan mempergaulinya dengan akhlak yang buruk.
Al Qur`an menyebutkan nusyuz suami ini dalam firman-Nya:

“Dan apabila seorang istri khawatir akan nusyuz suaminya atau khawatir suaminya akan berpaling darinya maka tidak ada keberatan atas keduanya untuk mengadakan perbaikan/perdamaian dengan sebenar-benarnya.” (An-Nisa`: 128)
Apabila seorang istri melihat suaminya menjauh darinya, mungkin karena kebencian suami terhadapnya atau ketidaksukaannya terhadap beberapa perkara yang ada pada dirinya seperti parasnya yang jelek, usianya atau karena ketuaannya ataupun perkaranya yang lain, maka tidak masalah bagi keduanya untuk mengadakan ishlah (perdamaian). (Tafsir Ath-Thabari, 5/305-306)
3.    Nusyuz dari kedua belah pihak
Allah I menyebutkan perselisihan antara kedua pihak dengan firman-Nya:

“Dan bila kalian khawatir perselisihan antara keduanya maka hendaklah kalian mengutus seorang hakim (pendamai) dari keluarga si suami dan seorang hakim (pendamai) dari keluarga si istri…” (An-Nisa`: 35)

Sebab Terjadinya Nusyuz
Seorang suami yang bahagia dalam kehidupan rumah tangganya adalah suami yang menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya dan dia memperoleh hak-haknya dari istri yang telah Allah tetapkan untuknya. Sedangkan istri yang berbahagia adalah istri yang menunaikan kewajiban-kewajibannya dan memenuhi hak-hak suaminya.
Namun terkadang salah seorang dari pasangan suami istri ini ataupun kedua-duanya berbuat nusyuz, tidak menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan hingga kebahagiaan yang didamba hanya sebatas fatamorgana.
Nusyuz ini ditimbulkan oleh beberapa sebab, bisa jadi sebabnya datang dari pihak istri atau dari pihak suami, pihak kerabat atau orang luar, atau karena faktor lain.
Pertama, sebab yang datang dari pihak istri, di antaranya:
q     Seorang istri sibuk berkarier di luar rumah hingga menelantarkan urusan rumah tangganya, bahkan suami pun tersia-siakan.
q Istri tidak mengetahui bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga, tidak mengerti hak dan kewajibannya terhadap suami.
q Khayalan seorang wanita sebelum menjalani kehidupan rumah tangga. Dalam bayangannya pernikahan itu ibarat taman bunga yang selalu indah, harum semerbak, didampingi seorang kekasih yang selalu sejalan, penuh cinta dan pengertian. Namun ketika ia memasuki kehidupan rumah tangga, ia tidak mendapatkan apa yang dia khayalkan sebelumnya hingga kekecewaan merebak di hatinya.
Kedua, sebab yang timbul dari pihak suami. Terkadang suami menjadi sebab kedurhakaan istrinya, misalnya karena ia terlalu bakhil kepada keluarganya, sangat emosional, keras dan kaku dalam tindakan, melangkah dan bertindak tanpa peduli dengan istri dan tidak berupaya memberi pemahaman padanya atau mengajaknya bertukar pendapat.
Ketiga, sebab nusyuz dari pihak keluarga istri. Seperti wanita yang menikah dengan seorang laki-laki karena dipaksa oleh walinya, padahal ia tidak menyukai laki-laki tersebut, sehingga ketika memasuki kehidupan rumah tangga dengannya, ia tidak bisa menaatinya atau malah membencinya.
Keempat, sebab nusyuz karena faktor lain. Seperti adanya perbedaan kejiwaan dan akhlak antara suami istri, meningkatnya taraf kehidupan/ekonomi keluarga, menyimpangnya pemikiran salah seorang dari keduanya, atau sakitnya salah seorang dari mereka atau cacat sehingga menghalanginya untuk menunaikan kewajibannya. (An-Nusyuz, hal. 28-33, Shalih bin Ghanim As-Sadlan)
(bersambung)

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana makna ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas c. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/112. Demikian pula dijelaskan hal ini dalam Tafsir Al-Baghawi, 1/423 )

Lahir Itu Alamat Batin

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Terungkap dari sebagian ulama sebuah kalimat yang sangat bermakna: lahir itu alamat batin. Artinya, apa yang nampak dari perbuatan lahir seseorang menunjukkan apa isi hatinya. Ungkapan ini jika kita cermati akan didapati kebenarannya di mana hubungan keduanya mirip dengan dua wajah uang logam, tidak bisa dipisahkan. Bisa jadi dalam hubungan lahir dan batin terkadang tidak cocok, tapi itu jarang sekali. Yang sering adalah amalan lahir merupakan cermin dari amalan batin (isi hati). Hal itu telah disinyalir oleh Rasulullah r dalam haditsnya:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah, jika ia baik maka seluruh jasad akan baik dan jika rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 4070)
Dari hadits ini dipahami bahwa kerusakan pada amal jasmani timbul dari kerusakan batin dan baiknya amal jasmani timbul dari baiknya amal batin. Sebaliknya, adanya kerusakan pada amal lahiriah akan menyebabkan kerusakan pada batin.
Hakekat ini ditegaskan oleh Nabi r dalam hadits yang lain di mana beliau sedang meluruskan shaf (barisan) jamaah shalat, katanya:

“Wahai hamba-hamba Allah! Luruskan benar-benar shaf kalian atau Allah akan memalingkan antara wajah-wajah kalian.” Dalam riwayat lain: “Antara qalbu kalian.” (Shahih, HR. Muslim no. 978)
Nabi r mengisyaratkan bahwa perbedaan dalam amal lahiriah walaupun sekedar meluruskan shaf termasuk sesuatu yang mengakibatkan perselisihan dalam batin. Oleh karenanya beliau melarang berpencar-pencar walaupun dalam duduk berjamaah.

Rasulullah keluar kepada kami lalu melihat kami berkelompok-kelompok, beliau berkata: “Mengapa aku melihat kalian berkelompok-kelompok terpencar?” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqi, Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan sanadnya shahih dan bersambung. Lihat Jilbabul Mar`ah Al-Muslimah, hal. 211)
Ibnu Taimiyyah mendekatkan permasalahan ini kepada kita dengan memberikan contoh, katanya: “Sesungguhnya dua orang yang sama-sama berada di satu negeri lalu bertemu di sebuah daerah perantauan yang asing maka akan tumbuh pada keduanya kecocokan dan kecintaan yang besar, walaupun mereka di negeri asal mereka tidak saling kenal. Demikian pula dua orang yang sama-sama dalam perjalanan, atau di negeri yang asing lalu antara keduanya ada kesamaan pada sorbannya, atau pakaiannya, atau rambutnya, atau tunggangannya, dan semacamnya maka tentu kedekatan antara keduanya lebih daripada dengan yang lainnya. Maka jika keserupaan pada urusan duniawi saja menumbuhkan kecintaan dan loyalitas, lalu bagaimana dengan keserupaan dalam urusan agama? Oleh karenanya, Allah menafikan adanya seorang mukmin yang mencintai orang kafir. Maka barangsiapa mencintai orang kafir dia bukan mukmin. Jadi perkara-perkara lahir dan batin, antara keduanya ada ikatan dan kesesuaian karena sesungguhnya apa yang terdapat dalam qalbu berupa perasaan dan keadaan akan mewujudkan perkara-perkara lahiriah. Dan apa yang terdapat pada penampilan lahiriah berupa seluruh amalan akan mewujudkan perasaan-perasaan dan keadaan tertentu pada qalbu.” (Dinukil oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Jilbabul Mar`ah Al-Muslimah, hal. 207-208)
Atas dasar itu –wallahu a’lam–, ketika menanggapi kelompok Khawarij –orang-orang yang memberontak kepada Ali bin Abi Thalib z– yang mengatakan: “Hukum hanyalah milik Allah,” Ali z berkata, “Kalimat yang benar tapi di balik itu ada keinginan yang batil.”
Mengapa Ali z memvonis keinginan mereka padahal keinginan itu berada dalam batin? Ini dikarenakan gelagat amal lahiriah kelompok Khawarij nampak jelas, yaitu tindakan memberontak kepemimpinan Ali z. Sehingga bisa diketahui bahwa kalimat tersebut hanya sebatas tameng. Karenanya bisa dinilai bahwa batin mereka memiliki niat yang jelek.
Jika hal ini telah kita ketahui bersama maka dengan itu kita mesti menjaga dan memperbaiki dua sisi amal kita, yang lahir maupun yang batin. Dan dengan ini pula kita ketahui bahwa seseorang yang berbuat jelek dan mengatakan “yang penting batinnya bertakwa”, adalah ucapan bohong dan jauh dari kebenaran.
Wallahu a’lam.