Kebersihan Ruh Kecantikan

Senang berdandan merupakan tabiat wanita. Ingin selalu terlihat cantik dan menawan merupakan perkara yang lazim bagi mereka. Tak heran jika berbagai produk kosmetika dan pernak-pernik kecantikan yang menjamur di pasaran laku keras. Namun dalam urusan yang satu ini ada satu asas berhias yang kadang luput dari perhatian.
Asas yang dimaksud adalah kebersihan. Tidak terlalu berlebihan bila dikatakan: Kebersihan adalah ruh kecantikan. Tidak ada artinya berhias tanpa kebersihan. Sesuatu yang kotor dalam pandangan dan aroma yang tak sedap akan merusak kecantikan dan berhias itu sendiri. Karena itu kebersihan merupakan urusan pertama yang harus diperhatikan seorang wanita ketika ia akan berhias dan mempercantik dirinya.
Islam merupakan agama yang memperhatikan kebersihan, karena itu seorang muslimah yang menyandarkan dirinya kepada agama mulia ini selayaknya tidak meremehkan urusan tersebut. Paling tidak, ketika akan melaksanakan shalat lima waktu, seorang muslimah mencuci anggota-anggota wudhunya dengan baik yang berarti akan hilang darinya kotoran dan debu dalam waktu lima kali sehari semalam. Dan tidak ada hal paling besar yang dapat engkau lakukan, wahai muslimah, daripada engkau menjaga kebersihan tubuhmu dan engkau berhias sekaligus, yang dengan begitu engkau akan raih ridha Allah I dan ridha suamimu sekaligus.

Air, suatu alat berhias
Berbicara kebersihan, sedikit banyak terkait dengan air. Sebagai salah satu nikmat Allah I yang agung, air merupakan sumber kehidupan dan juga sumber kebersihan. Bisa dikata, tidak ada satu kehidupan pun yang dapat lepas dari kebutuhan akan air. Dan air juga merupakan alat berhias dan mempercantik diri.
Jika berhias tanpa kebersihan tidak ada faedahnya, lebih-lebih kebersihan dan kecantikan tanpa membasuh diri dengan air, merupakan hal sia-sia. Mengapa demikian? Dengan air akan hilang kotoran yang merusak pandangan atau aroma yang mengganggu penciuman.
Yang dikatakan mandi tidaklah sekedar menuangkan air dalam jumlah yang banyak ke tubuh, namun yang penting bagaimana tubuh dapat mengambil faedah dari air tersebut. Rasul kita yang mulia, Muhammad r, adalah orang yang paling hemat dalam menggunakan air, “Walaupun engkau berada di sungai yang airnya melimpah”, begitu kurang lebih nasehatnya kepada shahabatnya untuk menghemat pemakaian air, padahal beliau r adalah manusia yang paling menjaga kebersihan.
Menjadikan air sebagai sarana bebersih diri tidak berarti kita harus memperbanyak mandi dalam sehari, melebihi kebiasaan yang lazim. Bahkan ini merupakan sikap berlebih-lebihan alias pemborosan. Di samping itu, mandi melebihi kebutuhan justru menjadikan kulit  kering dan pecah.
Yang hendak ditekankan di sini, adalah mengingatkan agar tidak melupakan air, yang dengannya kulit akan kembali kepada keadaannya yang normal setelah sebelumnya merasakan panas, ditempeli kotoran, debu dan aroma keringat yang tidak sedap.

Menghilangkan Bau keringat
Tubuh yang selalu berkeringat biasanya meninggalkan aroma yang tidak sedap. Dan ini jelas mengganggu penampilan dan kecantikan serta mengurangi kepercayaan diri. Perlu diketahui, fungsi keringat yang utama adalah menahan bertambahnya panas tubuh dari keadaannya yang normal/wajar. Dan keringat ini pada asalnya saat dikeluarkan oleh tubuh tidaklah disertai dengan bau tak sedap. Tentu saja selama tubuh tersebut sehat dan bersih.
Adapun aroma tak sedap yang ‘dihasilkan’ keringat, itu disebabkan karena tidak bersihnya bagian tubuh yang menjadi tempat keluarnya keringat, khususnya daerah lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak. Tempat yang lembab dan kotor tadi mengundang kehadiran bakteri, yang pada akhirnya dia ‘berkarya’ sehingga keluarlah aroma tak sedap dari tubuh dan muncullah istilah BBM (bau badan menyengat).
Dari sini, sepantasnya mereka yang bau tubuhnya tak sedap untuk segera menghilangkan penyebabnya yang telah disebutkan di atas, dan tidak sekedar mengeringkan keringat yang keluar ataupun sekedar menaburkan bedak dan menyemprotkan wangi-wangian ke daerah badan yang bau.
Ketahuilah, cara paling efektif menghilangkan bau keringat adalah dengan menggunakan air. Karena air merupakan wangi-wangian yang paling baik. Gunakan air beberapa kali untuk membersihkan sumber bau dari tubuh. Ketika mandi, jangan lupa  menggosok daerah lipatan tubuh khususnya ketiak dan mencurahkan air secara langsung ke daerah tersebut. Akan bermanfaat pula, jika daerah bawah ketiak diolesi separuh jeruk nipis yang telah diperas. insya Allah, kita akan merasakan hasilnya.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan, jangan biarkan rambut ketiak tumbuh  memanjang. Bahkan harus segera dihilangkan, karena rambut inilah yang juga memicu timbulnya bau. Hindari mengkonsumsi bawang dalam keadaan mentah karena bawang termasuk jenis makanan yang merangsang bau badan.
Pembaca muslimah yang baik…Bila ingin diterima dengan baik oleh lingkunganmu, selain harus berhias dengan akhlak seorang muslimah, engkau juga jangan bersikap masa bodoh terhadap kebersihan tubuhmu dan jangan cuek dengan aroma tidak sedap yang engkau keluarkan. Perhatikan keberadaan dirimu, apalagi bila engkau telah memiliki suami. Jaga penciumannya darimu, jangan sampai dia mencium darimu kecuali aroma yang wangi dan memikat.
Demikian dariku untukmu….
Semoga memberi manfaat.
(Disusun oleh Ummu Ishaq Zulfa Husein dari bacaan Asrarul Jamal waz Zinah lil Mar`ah Al-Muslimah, karya Ummu Nurani)

Saudariku Sampai Kapan Kau Terlena

Saudariku muslimah…
Ketahuilah, kesulitan yang menimpa umat Islam saat ini merupakan adzab dari Allah I. Adzab tersebut tidaklah turun kecuali disebabkan dosa-dosa para hamba, yang dengan itu diharapkan mereka mau bertaubat kepada Rabb mereka dan mau kembali kepada-Nya.
Dalam tulisan ringkas ini kami ingin menjelaskan sebagian sebab yang menyampaikan kita pada apa yang kita alami sekarang ini, agar kita mengoreksi diri dan memperbaiki kesalahan.

Pertama, dosa-dosa dan kemaksiatan
Tidak diragukan lagi bahwa dosa dan kemaksiatan termasuk sebab terbesar yang menyampaikan umat terdahulu pada kebinasaan. Ali z berkata: “Tidaklah turun bala` (siksaan) kecuali karena dosa, dan bala` tersebut tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”
Ketika bala‘ menimpa suatu kaum, tak ada satupun upaya yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Meski ada orang-orang shalih di antara mereka, azab tetap menyeluruh. Sebagaimana ucapan Zainab x kepada Nabi r: “Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ada orang-orang shalih di antara kita?”
Nabi r bersabda: “Ya, apabila telah banyak kejelekan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7059 dan Muslim no. 2880)
Pada umat ini pun ada orang-orang shalih, akan tetapi banyak pula tersebar kejelekan. Oleh karena itu hendaknya orang-orang yang memiliki akal menjauhi dosa-dosa dan kemaksiatan agar Allah I tidak memasukkan dirinya ke dalam adzab-Nya yang pedih dan tidak menghadapkan dirinya kepada kemurkaan Allah I.
Betapa banyak penduduk negeri yang berada dalam keamanan dan ketenangan, mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan kemudian Allah I membinasakan dan mengubah keadaan mereka. Allah I ganti nikmat tersebut dengan kelaparan, rasa aman dengan ketakutan, disebabkan dosa dan kemaksiatan.
Allah I berfirman:

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rizki datang kepada mereka melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (An-Nahl: 112)
Maka perhatikanlah kelembutan sifat Allah I dan perhatikan bagaimana Allah I mengubah keadaan mereka. Semua itu disebabkan dosa dan kemaksiatan hamba.

Kedua, lemahnya ketakwaan
Ketahuilah wahai Saudariku, semoga Allah I merahmatimu.
Lemahnya takwa dalam hati juga merupakan sebab yang mengantarkan kepada kebinasaan dan hilangnya kenikmatan serta berubahnya keadaan yang paling baik menjadi yang paling buruk. Lemahnya takwa termasuk sebab datangnya murka Allah I.
Dia yang Maha Suci berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka itu.” (Al-A’raf: 96)

Ketiga, merajalelanya kerusakan
Merajalelanya berbagai macam perbuatan dosa, seperti wanita menampakkan perhiasan (aurat)-nya di depan laki-laki yang bukan mahram, bercampur baurnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa hijab yang syar’i, banyaknya perzinaan, ditinggalkannya shalat dan zakat, banyaknya riba, homoseks, dan sebagainya termasuk sebab turunnya bala‘ pada umat ini. Ketika perbuatan tersebut dilakukan terang-terangan dalam suatu kaum dan disiarkan sampai merata di kalangan mereka, maka dipastikan akan turun adzab. Allah I berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 41:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka mau kembali.”
Bila Allah I ingin membinasakan suatu kaum, Allah I jadikan orang-orang yang paling jahat di antara mereka bertambah kefasikan dan kerusakannya, kemudian mereka menyebarkan kerusakan itu dan menyeru manusia untuk melakukannya. Saat itulah turun adzab, sebagaimana firman Allah I:

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra`: 16)

Keempat, merasa aman dari makar Allah I
Orang-orang yang shalih selalu tunduk dalam ketaatan, bertaubat, dan khusyu’. Hati mereka bergetar karena takut kepada Allah I dan khawatir akan adzab-Nya yang pedih.
Namun sungguh mengherankan, ada orang yang menampakkan kemaksiatan di hadapan Allah I secara terang-terangan. Sungguh mengherankan, ia terus-menerus melakukan dosa besar dan kemaksiatan. Tidaklah ia meninggalkan satu dosa kecuali telah melakukan dosa yang lain.
Sungguh mengherankan, wanita yang keluar dalam keadaan tidak berpakaian kecuali hanya sekedar menutup separuh badannya, kemudian ia pergi ke pasar dan menimbulkan fitnah di hati hamba-hamba Allah I. Betapa mengherankan orang yang lalai padahal ia berada dalam pengawasan Allah I. Bagaimana mereka semua merasa aman dari makar Allah I? Apakah mereka belum pernah mendengar firman Allah I:

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami pada mereka di malam hari saat mereka tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak diduga-duga)? Tidaklah merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 97-99)
Orang-orang yang merasa aman dari makar Allah I adalah orang-orang yang merugi, karena mereka lengah dari adzab Allah I hingga adzab itu sampai kepada mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari. Yang demikian itu disebabkan mereka merasa aman dari makar Allah I. Mereka terus-menerus dalam kemaksiatan, tidak menyadari kemurkaan Allah  I hingga terjadilah apa yang terjadi.
Wahai saudariku muslimah…
Sepantasnya seorang muslim yang hakiki mengetahui beberapa perkara penting berikut ini:
Pertama, hendaknya kita berserah diri kepada Allah dan meyakini bahwa Allah I tidak akan mendzalimi siapapun sebagaimana firman-Nya:

“Dan sekali-kali Allah tidak mendzalimi hamba-hamba-Nya.” (Fushshilat: 46)
Sebab turunnya adzab kepada manusia adalah akibat ulah mereka sendiri, sebagai buah dari amalan mereka. Allah I berfirman:

“Dan Allah tidaklah mendzalimi mereka, akan tetapi diri-diri mereka sendirilah yang dzalim.” (Ali ‘Imran: 117)
Kedua, wajib atas setiap muslim mengetahui bahwa ujian itu datangnya dari Allah I. Firman Allah I:

“Dan Kami akan memberi kalian cobaan dengan kejelekan dan kebaikan sebagai ujian dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)
Hendaknya pula ia mengerti bahwa Allah I menguji hamba-hamba-Nya agar dapat dibedakan siapa yang betul-betul beriman kepada Allah I dan siapa orang-orang munafik, siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Hal ini adalah sunnatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu.
Allah I berfirman:

“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali ‘Imran: 141-142)
Ketiga, wajib bagi kita untuk bersabar, mengharap pahala, dan memuji Allah I atas segala yang ditakdirkan-Nya. Hendaknya kita tidak mengeluh atas takdir buruk yang menimpa kita. Kesabaran adalah jalan paling selamat dan paling mudah untuk mendapatkan kelapangan dari Allah I. Dia berfirman:

“Jika kalian bersabar dan bertakwa maka yang demikian itu sungguh merupakan hal yang patut diutamakan.” (Ali ‘Imran: 186)
Keempat, marilah kita bertaubat kepada Allah I dan memohon ampunan-Nya atas apa yang telah kita lakukan baik itu perbuatan maksiat dan dosa-dosa ataupun kelemahan dalam menjalankan kewajiban. Kita sadari bahwa taubat adalah satu-satunya cara mencapai jalan keselamatan. Akankah kita sambut seruan Allah I tatkala berfirman:

“Dan bertaubatlah kamu sekalian wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (An-Nur: 31)
Ataukah kita akan terus berada dalam kemaksiatan dan dosa dengan meninggalkan shalat, memakan riba, dan lainnya?
Akankah para wanita tetap bertabarruj (bersolek dan dipertontonkan di depan laki-laki bukan mahram) dan safar (bepergian) tanpa mahram? Apakah kita ingin menunda taubat dan melupakan firman Allah I:

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka merekalah orang-orang yang dzalim.” (Al-Hujurat: 11)

Wahai saudariku muslimah…
Marilah kita bertaubat kepada Allah I dengan taubatan nashuha (yang tulus):

“Wahai Rabb kami, hilangkanlah adzab dari kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman kepada-Mu.” (Ad-Dukhan: 12)
Mari kita kembali kepada Allah I. Semoga Allah U meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah atas Nabi kita Muhammad r.
(Diterjemahkan dari Ilaa Mataa Al Ghaflah karya Abu Umar Salim Al-Ajmi’ oleh Nafisah bintu Abi Salim)

Seputar Nifas

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Bagi umumnya wanita, mengalami nifas bisa dikatakan merupakan suatu keniscayaan. Karena itu sudah sepantasnya mereka mengetahui hukum-hukum seputar nifas ini. Pembahasan berikut mungkin terasa agak berat, tapi insya Allah membawa banyak manfaat.

Pada edisi sebelumnya telah disinggung, di antara darah yang dikeluarkan wanita dari kemaluannya adalah darah nifas. Darah ini erat kaitannya dengan kelahiran anak, baik lahirnya sempurna atau tidak sempurna, hidup ataupun mati. Sebab, darah nifas merupakan darah yang keluar dari rahim karena melahirkan, baik keluarnya bersamaan dengan proses kelahiran, setelahnya, maupun 2–3 hari sebelumnya yang disertai rasa sakit ketika akan melahirkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata yang maknanya: “Wanita yang akan melahirkan bila melihat darah keluar dari kemaluannya yang disertai rasa sakit, maka darah tersebut adalah darah nifas dan tidak dibatasi 2 atau 3 hari. Yang dimaksud rasa sakit di sini adalah rasa sakit yang diikuti dengan kelahiran. Jika tidak, maka tidak termasuk darah nifas.” (Lihat Risalah fid Dima`ith Thabi’iyyah lin Nisa` hal. 51, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin).
Sementara Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t menyatakan: “Tidaklah darah itu teranggap nifas kecuali bila janin yang dilahirkan jelas bentuknya sebagai anak manusia. Seandainya yang keluar dari rahim hanya berupa potongan daging kecil yang tidak jelas bentuknya sebagai bentuk manusia maka darah yang keluar tersebut bukanlah darah nifas, tetapi darah urat dan hukumnya sama dengan darah istihadhah. Waktu minimal telah jelasnya bentuk janin sebagai bentuk manusia adalah 80 hari, mulai dari awal kehamilan dan umumnya 90 hari.” (Risalah fid Dima`, hal. 52-53)

Antara Nifas dan Haid
Sebagian ulama mengatakan bahwa darah nifas adalah darah haid. Darah haid ini tertahan keluarnya semasa hamil karena difungsikan untuk pemberian makan bagi janin. Apabila janin yang dikandung telah lahir dan terputus urat yang menjadi tempat aliran darah tersebut, keluarlah darah haid dari kemaluan sebagai darah nifas.
Nabi r pernah menggunakan istilah nifas kepada Aisyah x yang sedang haid, beliau bertanya:

“Apakah engkau nifas (yakni haid)?” (Shahih, HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 294)
Terlepas dari kesamaan istilah ini, darah nifas memiliki sejumlah perbedaan dengan darah haid, di antaranya:
Pertama, masa nifas lebih panjang.
Kedua, nifas bukanlah ukuran ‘iddah seorang wanita yang bercerai dengan suaminya karena Allah I berfirman:

“Wanita-wanita yang sedang hamil (bila bercerai dengan suami) berakhir masa ‘iddahnya dengan melahirkan.” (Ath-Thalaq: 4)
Jadi ‘iddah wanita hamil dinyatakan selesai dengan kelahiran anaknya, bukan dengan keluarnya darah nifas. Apabila talak jatuh setelah wanita tersebut melahirkan, maka ia menanti hingga haidnya kembali untuk perhitungan masa ‘iddah.
Ketiga, perhitungan ila1 menggunakan haid, bukan dengan nifas.
Keempat, wanita dinyatakan telah baligh dengan keluarnya darah haid, bukan darah nifas.

Hukum-hukum Nifas
Hukum nifas sama dengan hukum haid. Sehingga, seorang wanita yang tengah mengalami nifas, ia harus meninggalkan shalat dan puasa. (Hukum-hukum lain bagi wanita haid dapat dilihat pada edisi sebelumnya, red)
Ibnu Qudamah t berkata dalam Al-Mughni (1/350): “Hukum-hukum wanita yang nifas sama dengan hukum-hukum wanita yang haid pada seluruh perkara yang diharamkan dan perkara yang digugurkan padanya, dan kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini. Demikian pula diharamkan untuk menggauli wanita nifas namun halal bercumbu dengannya (selain jima’). Tentang halalnya bercumbu ini, terdapat perselisihan tentang kaffarahnya apabila terjadi jima’.”
Al-Imam Asy-Syaukani juga menyebutkan ijma’ ulama tentang kesamaan nifas dengan haid pada seluruh perkara yang dihalalkan, diharamkan, dan disunnahkan. (Lihat Nailul Authar, 1 /394)
Bila seorang wanita selesai dari nifasnya, ia wajib untuk mandi sebagaimana wajibnya mandi bagi wanita yang selesai dari haid. Kewajiban mandi ini merupakan ijma’ (kesepakatan) kalangan ulama seperti dinukilkan Al-Imam An-Nawawi t. (Lihat Jami’ Ahkamin Nisa‘, 1/242)

Lama Nifas
Kaitannya dengan masa nifas, para ulama berselisih pendapat tentang batasannya. Al-Imam Malik t berpendapat tidak ada batasan minimalnya, demikian pula Al-Imam Asy-Syafi‘i t. Abu Hanifah t berpendapat ada batasan minimalnya yaitu 25 hari. Murid Abu Hanifah bernama Abu Yusuf berpandangan minimalnya 11 hari. Sedangkan Al-Hasan Al-Bashri t berkata minimalnya 20 hari.
Adapun batasan maksimalnya, Al-Imam Malik t suatu kali berpendapat 60 hari, kemudian meralatnya dan berkata: “Tentang hal itu ditanyakan kepada para wanita.”
Al-Imam Asy-Syafi‘i t juga berpendapat 60 hari. Mayoritas ulama dari kalangan shahabat g berpendapat 40 hari, demikian pula Abu Hanifah. Adapula yang membedakan anak laki-laki dengan anak perempuan. Bila yang lahir laki-laki, maka maksimalnya 30 hari, sedangkan anak perempuan 40 hari.
Perselisihan ini sendiri disebabkan sulitnya menentukan hal tersebut dengan pengalaman yang ada karena berbedanya keadaan para wanita dalam mengalami nifas dan juga tidak ada sunnah yang bisa diamalkan dalam hal ini. (Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd Al-Qurthubi, hal. 48)
Asy-Syaikh ‘Ali bin Abi Bakar bin Abdul Jalil Al-Farghani, penulis kitab Bidayatil Mubtadi` dengan syarahnya Al-Hidayah (sebuah kitab fiqih bermadzhab Hanafi) menyatakan: “Tidak ada batasan minimal masa nifas dan waktu maksimalnya adalah 40 hari, lebih dari itu dianggap istihadhah. Apabila darah yang keluar itu melampaui waktu 40 hari sementara wanita tersebut pernah melahirkan sebelumnya dan ia memiliki ‘adat (kebiasaan) dalam nifas, maka dikembalikan urusannya pada hari-hari ‘adatnya (yakni waktu nifasnya yang belakangan disamakan dengan nifasnya yang sebelumnya -pent.) Apabila ia tidak memiliki ‘adat maka permulaan nifasnya adalah 40 hari.” (Lihat Al-Hidayah Syarhu Bidayatil Mubtadi` ma’a Nashbir Raayah Takhrij Ahaaditsil Hidayah, juz pertama hal. 292-293).
Dalam kitab Nailul Authar karya Al-Imam Asy-Syaukani t disebutkan nama-nama para shahabat Rasulullah r dan kalangan ahli ilmu setelah mereka yang berpendapat maksimal lamanya nifas 40 hari; yaitu ‘Umar ibnul Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq, Ummul Mukminin Ummu Salamah g, ‘Atha`, Sufyan Ats-Tsauri, Asy-Sya’bi, Al-Mazani, Ahmad ibnu Hambal, Malik bin Anas, Al-Hadi, Al-Qasim, An-Nashir, Al-Muayyad Billah dan Abu Thalib. Mereka berdalil dengan hadits Ummu Salamah x berikut ini:

“Ummu Salamah x berkata: “Para wanita yang mengalami nifas di masa Nabi r, mereka berdiam selama 40 hari (meninggalkan shalat selama 40 hari, pent.)….” (HR. Imam yang lima [Al-Khamsah] kecuali An-Nasa`i, lihat Nailul Authar, 1/393)
Namun hadits di atas mendapat kritikan dari para ulama karena adanya perawi yang majhul (tidak dikenal).
Dan memang kata para ulama, semua hadits yang menetapkan batasan waktu nifas tidak lepas dari perbincangan. (Lihat Nashbur Raayah li Ahaaditsil Hidayah oleh Al-‘Allamah Jamaluddin Az-Zaila’i t, juz 1 hal. 292-296). Sehingga tidak ada penetapan waktu yang pasti bila disandarkan dengan dalil.
Mayoritas ulama menetapkan batasan 40 hari. At-Tirmidzi t berkata: “Telah sepakat ulama dari kalangan para shahabat Nabi r, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka bahwasanya wanita nifas meninggalkan shalat selama 40 hari. Kecuali bila ia melihat dirinya telah suci sebelum itu, maka ia mandi dan mengerjakan shalat bila telah masuk waktunya.”
Apabila ia melihat darah keluar dari kemaluannya setelah lewat 40 hari maka mayoritas ulama berkata: “Ia tidak boleh meninggalkan shalat setelah lewat 40 hari,” dan ini pendapat mayoritas ahli fiqih (fuqaha). Dan ini pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa wanita nifas meninggalkan shalat sampai 50 hari apabila ia belum melihat dirinya suci. Diriwayatkan dari ‘Atha` bin Abi Rabah dan Asy-Sya’bi batasan 60 hari.” (Lihat Al Jami’us Shahih/ Sunan At-Tirmidzi, juz 1, hal. 93)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t dalam tulisannya berjudul Al-Asma‘ul latii ‘Allaqa Asy-Syari’ Al-Ahkam Bihaa (hal. 37) berkata: “Tidak ada batasan waktu maksimal dan minimalnya nifas. Seandainya seorang wanita yang telah melahirkan ditakdirkan melihat darah keluar dari kemaluannya selama lebih dari 40 hari atau 60 atau 70 hari, setelah itu berhenti (tidak keluar lagi) maka darah itu adalah darah nifas. Akan tetapi bila keluar terus maka darah tersebut adalah darah fasad (darah penyakit). Dan ketika keadaannya demikian, batasan nifas adalah 40 hari karena ini batasan secara umum yang atsar datang menyebutkannya.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t berkata setelah menukilkan ucapan Ibnu Taimiyyah di atas: “Berdasarkan hal ini, apabila seorang wanita yang sedang nifas darahnya keluar lebih dari 40 hari, sementara dulunya dia punya kebiasaan darah akan berhenti setelah 40 hari (yakni tidak tampak lagi keluarnya darah dari kemaluan setelah lewat 40 hari, pent.), atau tampak tanda-tanda akan berhentinya darah, maka ia menanti hingga darah tersebut terhenti. Jika ternyata darahnya tidak berhenti, ia mandi ketika telah selesai waktu 40 hari, karena ini yang umum. Kecuali bila bertemu masa nifas dengan haidnya, maka ia menunggu hingga selesai masa haid (barulah setelahnya ia mandi). Apabila darah telah berhenti keluar setelah itu, maka semestinya dia jadikan hal tersebut sebagai ‘adat yang akan ia gunakan di waktu mendatang. Bila darah terus keluar, berarti wanita tersebut ditimpa istihadhah. Seandainya darah nifas telah berhenti keluar sebelum genap 40 hari, maka wanita tersebut dihukumi suci. Dia wajib mandi, shalat, puasa dan boleh berhubungan badan dengan suaminya, kecuali bila waktu berhentinya darah itu kurang dari sehari maka tidak ada hukum baginya. Hal ini disebutkan dalam Al-Mughni.” (Risalah fid Dima`, hal. 52)
Apabila seorang wanita berhenti nifasnya sebelum 40 hari namun setelah itu keluar lagi darah dari kemaluannya, apakah ia masih terhitung nifas?
Jawabnya, selama darah itu keluar di saat memungkinkan darah tersebut dianggap darah nifas, berarti ia masih nifas. Jika tidak, maka darah itu adalah darah haid kecuali bila terus menerus keluar, maka darah ini adalah istihadhah. Al-Imam Malik bin Anas t berkata: “Bila si wanita melihat darah keluar dari kemaluannya setelah darah terputus selama dua atau tiga hari, maka darah itu masih teranggap nifas. Kalau tidak, maka darah itu darah haid.” (Lihat Risalah fid Dima’ hal. 55)

Mandi untuk Ihram
Al-Imam Muslim t meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Aisyah x. Ia berkata:

“Asma` bintu ‘Umais x nifas karena melahirkan Muhammad bin Abi Bakar di Syajarah. Maka Rasulullah r memerintahkan Abu Bakar agar menyuruh Asma` mandi dan ber-talbiyah.” (HR. Muslim no. 1209)
Al-Imam An-Nawawi t dalam syarah (penjelasan) hadits di atas, berkata: “Hadits ini menunjukkan sahnya ihram wanita yang sedang nifas ataupun sedang haid, dan disunnahkannya bagi keduanya untuk mandi sebelum ihram dan disepakati perintah dalam hal ini. Namun madzhab kami, madzhab Malik, Abu Hanifah, dan jumhur berpendapat mustahab saja (tidak wajib). Adapun Al-Hasan Al-Bashri dan ahlu dzahir berpendapat wajib.” (Syarah Shahih Muslim, 3/ 301)
Wallahu a’lam.

Saudah Bintu Zam’ah, Pengisi Kesunyian Hati Nabi

(ditullis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Dalam kesendirian dan kehampaan hati terenggutnya istri tercinta, dia hadir membawa nuansa bagi manusia yang paling mulia, dengan keceriaan jiwa yang dimilikinya. Kebesaran jiwanya membuat dirinya senantiasa di sisi Rasulullah. Dialah Saudah bintu Zam’ah…

Tersebut satu nama mulia yang tak kan lepas dari kehidupan Rasulullah r, mengisi kesunyian jiwa beliau setelah wafatnya Khadijah bintu Khuwailid x. Dia Ummul Mukminin Saudah bintu Zam’ah bin Qais bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Wadd bin Nashr bin Malik bin Hasl bin ‘Amir bin Lu`ai bin Ghalib Al-Qurasyiyyah Al-‘Amiriyyah yang memiliki kunyah Ummul Aswad. Ibunya adalah Asy-Syamus bintu Qais bin Zaid bin ‘Amr bin Labid bin Khaddasy bin ‘Amir bin Ghanam bin ‘Adi bin An-Najjar.
Bersama suaminya, As-Sakran bin ‘Amr Al-‘Amiri, Saudah bintu Zam’ah menyongsong cahaya keimanan yang dibawa Rasulullah r. Walaupun dengan itu, ia harus menanggung derita dan siksaan dari orang-orang musyrikin yang hendak mengembalikan mereka ke dalam kesesatan dan kesyirikan.
Saat siksaan dan himpitan itu bertambah berat, berhijrahlah Saudah dan suaminya dalam barisan delapan orang shahabat Rasulullah r. Namun tak berapa lama muhajirin Habasyah ini pulang kembali ke negeri mereka.
Sekembalinya mereka dari Habasyah ke Makkah, As-Sakran bin ‘Amr meninggal dunia. Saudah bintu Zam’ah kehilangan suami tercinta. Kini dia menjanda.
Sementara itu, Rasulullah r tengah merasakan kesedihan dengan hilangnya wanita yang dicintainya, yang beriman kepada beliau saat manusia mengingkarinya, yang menopang dengan hartanya saat manusia enggan memberinya dan yang darinya beliau mendapatkan buah hati. Kesedihan yang teramat dalam, hingga tak seorang pun dari kalangan shahabat beliau yang berani menyinggung masalah pernikahan di hadapan beliau. Namun seorang shahabiyyah, Khaulah bintu Hakim As-Sulamiyyah, mengetuk pintu hati Rasulullah r dengan pertanyaannya, “Tidakkah engkau ingin menikah lagi, wahai Rasulullah?”
Dengan nada penuh kesedihan dan kegalauan, Rasulullah balik bertanya, “Adakah lagi seseorang setelah Khadijah?” Khaulah pun menjawab, “Kalau engkau menghendaki, ada seorang gadis. Atau kalau engkau menghendaki, ada pula yang janda.” Rasulullah  r bertanya lagi, “Siapa yang gadis?” Jawab Khaulah, “Putri orang yang paling engkau cintai, ‘Aisyah putri Abu Bakr.”
Rasulullah r terdiam sesaat, kemudian bertanya lagi, “Siapa yang janda?” Khaulah menjawab, “Saudah bintu Zam’ah, seorang wanita yang beriman kepadamu dan mengikuti ajaranmu.”
Tawaran Khaulah mengantarkan Saudah bintu Zam’ah memasuki gerbang rumah tangga Rasulullah r. Hati beliau tersentuh dengan penderitaan wanita muhajirah ini. Lebih-lebih di saat itu Saudah memasuki usia senja, tentu lebih layak mendapatkan perlindungan.
Maka pada tahun kesepuluh setelah beliau diangkat sebagai nabi, Rasulullah r pun menikah dengannya. Di masa itu pula beliau melaksanakan akad nikahnya dengan ‘Aisyah bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq. Saudah meminta kepada Hathib bin ‘Amr Al-‘Amiri, salah seorang shahabat dari kaumnya yang pernah turut dalam perang Badr dan juga ikut berhijrah ke Habasyah untuk menikahkannya.
Seorang diri Saudah mendampingi Rasulullah r selama tiga tahun lebih hingga tiba saat ‘Aisyah x menyusulnya hadir dalam rumah tangga Rasulullah  r di Madinah.
Ketika Rasulullah r hijrah ke Madinah, Saudah bintu Zam’ah x bersama keluarga Rasulullah yang lain masih tinggal di Mekkah. Setelah usai pembangunan masjid dan tempat tinggal beliau di Madinah, barulah Rasulullah  r mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ c untuk menjemput Saudah dan putri-putri beliau.
Berangkatlah mereka berdua berbekal lima ratus dirham dan dua ekor unta. Dengan lima ratus dirham itu mereka membeli tiga ekor unta. Kemudian  mereka berdua masuk ke kota Makkah untuk membawa Saudah bintu Zam’ah beserta putri-putri Rasulullah r, Fathimah dan Ummu Kultsum. Pada saat itu juga Zaid menjemput istrinya, Ummu Aiman, dan putranya, Usamah bin Zaid, ke bumi hijrah, Madinah.
Hari terus bergulir, usia pun bertambah. Saudah mengerti bahwa Rasulullah r menikahinya semata-mata karena rasa iba beliau dengan keadaannya setelah suaminya tiada. Semakin jelaslah semua itu ketika beliau bermaksud menceraikannya dengan cara yang sebaik-baiknya agar tidak melukai hatinya. Rasulullah r menyampaikan keinginannya ini kepadanya. Maka di hadapan beliau, dengan dada yang sesak, Saudah bintu Zam’ah berbisik lirih, “Tahanlah aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, aku tidak lagi memiliki keinginan terhadap pernikahan. Namun aku sangat berharap kelak di hari kiamat Allah akan membangkitkan diriku sebagai istrimu.”
Wanita mulia yang mengharapkan kemuliaan. Dia utamakan keridhaan suaminya yang  mulia, hingga dia berikan pula hari gilirannya untuk ‘Aisyah, istri yang sangat dicintai oleh Rasulullah r dan beliau pun menerimanya.
Peristiwa ini menyisakan sesuatu yang teramat berarti. Allah I menurunkan ayat 128 dari Surat An-Nisa`:

“Maka tidak mengapa atas kedua suami istri itu mengadakan perdamaian dengan sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.”
Tetaplah kemuliaan itu dia dapatkan, sampai tiba saatnya dia menghadap Rabbnya U pada akhir masa pemerintahan ‘Umar ibnul Khatthab z di Madinah An-Nabawiyyah.
Jejaknya masih terasa, sejarahnya masih terbaca. Saudah bintu Zam’ah, semoga Allah I meridhainya…

Sumber bacaan:

  • Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban
  • Al Isti‘ab karya Ibnu Abdil Bar
  • Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah karya  Ibnu Hajar Al-’Asqalani
  • Siyar A‘lamin Nubala karya Adz-Dzahabi
  • Tahdzibul Kamal karya Al-Mizzi
  • Syarah Shahih Muslim karya An-Nawawi.

Kusambut Hadirmu dengan segenap Kasihku

Kehadiran anak sangat dinantikan dalam sebuah keluarga. Anak adalah pemberian Allah I yang harus disyukuri, bagaimanapun keadaannya.

Sembilan bulan sudah si buah hati berada dalam kehangatan rahim sang ibu. Tiba saatnya kini dia lahir ke dunia, memasuki alam baru yang akan diarungi sepanjang hidupnya. Dia adalah sosok yang teramat mungil dan tanpa daya, yang senantiasa membutuhkan uluran tangan dan kasih sayang ibu, ayah, dan orang-orang di sekelilingnya.
Hadirnya si kecil biasanya disambut dengan kegembiraan ayah dan ibunya. Namun tidak jarang, orang tua merasa kecewa dengan kelahiran anaknya. Ada yang sangat mengharapkan lahirnya anak laki-laki, namun ternyata yang lahir anak perempuan. Ada yang mendambakan mendapat seorang putri, namun yang lahir ternyata anak laki-laki. Tidak sepantasnya saat-saat yang semestinya dilalui dengan rasa syukur ini digayuti dengan kekecewaan karena anak yang lahir tidak seperti yang didamba-dambakan, sehingga mengenyahkan rasa syukurnya kepada Allah I.
Siapa kiranya yang memiliki kekuasaan untuk memberikan anak laki-laki atau pun anak perempuan kepada kita? Ataukah kita bisa menentukan pilihan atas apa yang kita senangi?

“Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya dan Dia memberikan anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa pun yang Dia kehendaki, atau memberikan kepada mereka pasangan anak laki-laki dan perempuan, dan Dia menjadikan mandul siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Asy-Syura: 49-50)
Inilah kekuasaan Allah I dalam mengatur urusan segenap makhluk-Nya. Di antara manusia, ada yang hanya dikaruniai anak laki-laki dan tidak memiliki anak perempuan, ada yang dikaruniai anak perempuan dan tidak memiliki anak laki-laki, ada yang Allah I karuniai anak laki-laki dan perempuan, ada pula yang tidak dikaruniai seorang anak pun. Dia Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya yang luas dan sempurna, siapa yang pantas mendapatkan masing-masing bagian itu.
Mengapa harus kecewa dengan apa yang Allah I berikan, sementara di kalangan nabi-nabi pun ada yang tidak dikaruniai anak laki-laki, seperti Nabi Luth u, ada yang tidak memiliki anak perempuan, seperti Nabi Ibrahim u. Dan ada pula yang tidak memiliki seorang anak pun, seperti Nabi Yahya dan Nabi ‘Isa i.
Pun yang banyak terjadi, orang tua teramat mendambakan lahirnya anak laki-laki, namun kadang anak yang mereka idamkan tak kunjung datang. Tidak jarang mereka merasa kecewa saat melihat kenyataan bahwa mereka hanya memiliki anak-anak perempuan. Terasa ada yang kurang dalam kehidupan mereka, bahkan merasa malu dan tidak menyukai kehadiran anak-anak perempuan itu. Padahal sikap seperti ini termasuk akhlak orang-orang jahiliyah yang dicela Allah U:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah wajahnya dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan diri dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak itu dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah, betapa buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58-59)
Andai saja mereka mengetahui, di sana ada janji Allah I yang besar. Allah I yang menganugerahkan anak perempuan menjanjikan jannah (surga) bagi hamba-Nya yang berbuat kebaikan kepada anak perempuannya.
Andai saja mereka mengetahui tentang seorang wanita miskin yang mendapatkan jannah karena memberikan makanan kepada anak-anak perempuannya yang dikisahkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah:
“Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua anak perempuannya, maka aku memberinya tiga buah kurma. Kemudian dia memberi setiap anaknya masing-masing sebuah kurma dan satu buah lagi diangkat ke mulutnya untuk dimakan. Lalu kedua anak itu meminta kurma itu, maka dia bagi dua kurma yang semula hendak dimakannya untuk kedua anaknya. Hal itu sangat menakjubkanku sehingga aku ceritakan apa yang diperbuat wanita itu kepada Rasulullah r. Maka beliau pun berkata, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya jannah dan membebaskannya dari neraka.” (Shahih, HR. Muslim hadits no. 2630)
Rasulullah r, dalam riwayat dari Anas bin Malik z, juga menyebutkan kedekatan beliau dengan orang tua yang memelihara anak-anak perempuan mereka dengan baik kelak pada hari kiamat:

“Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini),” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya. (Shahih, HR. Muslim hadits no. 2631)
Al-Imam An-Nawawi t menjelaskan, hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan seseorang yang berbuat baik kepada anak-anak perempuannya, memberikan nafkah, dan bersabar terhadap mereka dan dalam segala urusannya.
Semestinya seorang hamba juga bersyukur kepada Allah I dan menjadikan kenyataan yang ada itu sebagai suatu kebaikan. Demikianlah sikap seorang hamba yang beriman, karena dia mengetahui bahwa kasih sayang Allah I terhadap hamba-Nya lebih besar daripada rasa sayangnya terhadap dirinya sendiri, dan Allah I lebih berkuasa serta lebih mengetahui tentang kebaikan hamba-Nya daripada dirinya sendiri.

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 216)
Siapa di antara kita yang mengetahui bahwa ternyata anak-anak yang dulu kita sesali keberadaannya, kelak memberikan bakti kepada kita? Di saat usia mereka mulai beranjak dewasa, di saat usia kita kian merambat senja, mereka menjadi anak-anak yang taat kepada Allah I dan Rasul-Nya, mencurahkan bakti kepada orang tuanya, dan terlebih lagi bisa diharapkan doanya sebagai amalan shalih yang terus mengucur bagi orang tuanya setelah tiada.

“Orang tua dan anak-anak kalian, kalian tidak mengetahui, siapa di antara mereka yang lebih bermanfaat bagi kalian.” (An-Nisa`: 11)
Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

Kisah Antara Dua Insan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Ujian yang paling besar bagi laki-laki adalah wanita. Demikian Rasulullah r telah mengingatkan dalam sebuah haditsnya. Karena itu Islam memberi rambu-rambu yang sangat ketat dalam mengatur hubungan dua lawan jenis ini. Tujuannya, tentu, untuk memuliakan kedua belah pihak, laki-laki dan wanita.

Allah I menciptakan dua jenis manusia, Adam (pria) dan Hawa (wanita), yang secara fitrah keduanya saling tertarik satu dengan lainnya. Si pria tertarik, cenderung dan senang dengan wanita. Sebaliknya, wanita juga punya ketertarikan, kecenderungan dan rasa senang terhadap pria. Bapak manusia, Nabi Adam u, merasa kesepian tatkala Allah I belum menciptakan Hawa sebagai pendamping hidupnya. Yang demikian ini juga menimpa anak cucu Adam. Ketika usia dan kebutuhan telah menuntut, mereka saling membutuhkan teman hidup dari lawan jenisnya, dan ini fitrah manusia.
Karena kuatnya daya tarik pria dan wanita, agama yang samhah –agama yang mudah dan tidak memberikan beban yang berat bagi pemeluknya– ini menetapkan aturan-aturan agar keduanya terjaga dan tidak melanggar batasan Ilahi. Bila aturan itu tidak diindahkan, maka yang terjadi adalah fitnah. Fitnah ini bisa menimpa pihak pria, bisa pula menimpa pihak wanita, atau bahkan kedua-duanya. Yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah sesuatu yang membawa kepada ujian, bala`, dan adzab.
Rasulullah r bersabda tentang fitnah wanita:

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berketurunan di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil dari wanitanya.” (Shahih, HR. Muslim)
Shahabat Rasulullah r bernama Abdullah bin Mas‘ud z berkata: “Ada seorang laki-laki mencium seorang wanita yang bukan mahramnya. Dengan penuh sesal laki-laki itu mendatangi Rasulullah r mengadukan maksiat yang telah diperbuatnya. Maka turunlah ayat Allah:

“Dirikanlah shalat pada dua ujung siang dan akhir dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan. Yang demikian itu adalah peringatan bagi orang-orang yang mau berdzikir (mengingat).” (Hud: 114)
Laki-laki tadi berkata kepada Rasulullah r: “Apakah ayat ini untukku?” Rasulullah r menjawab: “Ayat ini bagi orang yang berbuat demikian dari kalangan umatku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Karena terfitnah dengan wanita, seorang laki-laki ingin berzina; dan karena fitnah wanita, seorang laki-laki melakukan perbuatan yang mengantar kepada zina (mencium), padahal Allah I telah memperingatkan:

“Janganlah kalian mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)
Karena begitu besarnya fitnah antara lawan jenis ini, Rasulullah r telah memberikan bimbingan kepada umatnya agar mereka terjaga hingga tidak terjatuh kepada fitnah tersebut. Di antara bimbingan tersebut adalah:
Firman Allah I yang artinya: “Katakanlah (ya Muhammad) kepada orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka menundukkan pandangan-pandangan mata mereka dan hendaklah mereka menjaga kemaluan-kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah akan mengabarkan apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: “Hendaklah mereka menundukkan pandangan-pandangan mata mereka dan hendaklah mereka menjaga kemaluan-kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin ditutupi). Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung-kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan jangan mereka tampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (ayah mertua), atau di hadapan putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau di hadapan saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki), atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau di hadapan wanita-wanita mereka, atau budak yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita, atau anak laki-laki yang masih kecil yang belum mengerti aurat wanita. Dan jangan pula mereka menghentakkan kaki-kaki mereka ketika berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahram, agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan hendaklah kalian semua bertaubat kepada Allah, wahai kaum mukminin, semoga kalian beruntung.” (An-Nur: 30-31)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanitanya kaum mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

“Apabila kalian meminta sesuatu kepada para istri Nabi maka mintalah dari balik tabir. Yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati kalian dan hati-hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)
Rasulullah r mengajarkan kepada para shahabat beliau untuk memberikan hak pada jalan bila mereka terpaksa duduk-duduk di pinggirnya untuk berbincang. Beliau bersabda:

“(Hak jalan adalah) kalian menundukkan pandangan, menahan gangguan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Beliau r menuntunkan kepada para wanita:

“Apabila salah seorang wanita dari kalian hadir di masjid untuk shalat ‘Isya, maka ia tidak boleh menggunakan wangi-wangian pada malam itu.” (Shahih, HR. Muslim)

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian ia melewati sekelompok laki-laki agar mereka dapat mencium wanginya, maka wanita itu pezina.” (Shahih, HR. Ahmad. Lihat Ash Shahihul Musnad mimma Laisa fish Shahihain 2/9, karya Asy-Syaikh Muqbil t)
Beliau mengajarkan kepada para laki-laki:

“Hati-hati kalian dari masuk menemui para wanita yang bukan mahram!” Lalu ada seseorang dari kalangan Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu dengan ipar?” Beliau menjawab: “Ipar itu maut.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

“Jangan sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali wanita itu didampingi oleh mahramnya.” Maka seorang laki-laki berdiri untuk bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk melaksanakan ibadah haji sementara aku telah tercatat untuk ikut dalam peperangan ini dan itu.” Beliau berkata: “Kembalilah engkau temui istrimu dan berhajilah bersamanya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

“Kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Shahih, HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir. Lihat Ash-Shahihah no. 226)
Aisyah x mengabarkan tentang keberadaan Rasulullah r yang selalu menjauhi hal-hal yang dapat mengantarkan kepada fitnah:

“Demi Allah, tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita yang bukan mahramnya ketika beliau membaiat mereka. Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali dengan ucapan: “Sungguh aku telah membaiatmu dalam perkara itu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ummu Salamah x, salah seorang Ummahatul Mukminin berkata: “Apabila Rasulullah r telah salam dari shalatnya (secara berjamaah di masjid, pent.), berdirilah para wanita (untuk kembali ke rumah mereka, pent.) segera setelah selesainya salam beliau, sementara beliau tetap tinggal sebentar di tempatnya sebelum akhirnya beliau berdiri.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Rawi (periwayat) hadits ini berkata: “Kami memandang, wallahu a’lam, beliau melakukan hal tersebut agar para wanita yang ikut shalat berjamaah dapat kembali pulang ke rumah mereka tanpa sempat berpapasan dengan laki-laki.”
Pernah suatu ketika Rasulullah r secara tidak sengaja melihat seorang wanita maka beliau segera mendatangi  Zainab x istrinya untuk mengajaknya jima‘. Setelah selesai menunaikan hajatnya, Rasulullah r keluar menemui para shahabat beliau, lalu beliau berkata:

“Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam bentuk setan dan membelakangi dalam bentuk setan. Maka apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita hendaklah ia ‘mendatangi’ istrinya, karena dengan begitu dapat menolak apa yang ada di hatinya.” (Shahih, HR. Muslim)
Allah I dengan rahmat-Nya menetapkan adanya pernikahan juga dalam rangka menjaga timbulnya fitnah. Rasul-Nya yang mulia bersabda memberi tuntunan kepada para pemuda :

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki kemampuan hendaklah dia menikah karena dengan nikah itu dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Adapun yang belum mampu maka hendaklah dia puasa karena puasa itu merupakan tameng dari syahwat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam naungan rumah tangga, seorang suami dan seorang istri diharapkan dapat saling menjaga kehormatan masing-masing. Suami dapat menjaga istrinya dan sebaliknya istri dapat menjaga suaminya. Dan masing-masingnya mencukupkan diri dengan pasangan hidupnya yang sah, tidak berpaling kepada apa yang tidak halal baginya.
Ketahuilah, fitnah lawan jenis pada akhirnya dapat mengantarkan kepada zina, padahal Allah I telah mengharamkan perbuatan keji ini. Dan yang perlu diketahui zina itu tidak hanya sekedar apa yang diperbuat oleh kemaluan, karena Rasulullah r bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina. Dia pasti akan mendapati hal itu. Maka zinanya mata dengan melihat, zinanya lidah dengan berbicara, sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan. Dan nantinya kemaluanlah yang akan membenarkan itu seluruhnya dan  yang mendustakannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Kita katakan dalam perkara ini “menjaga diri lebih baik daripada mengobati.” Sebelum jatuh sakit karena penyakit yang ditimbulkan oleh fitnah kemudian nantinya sulit untuk diobati, lebih baik menghindarkan diri dari fitnah tersebut dan tidak dekat-dekat dengannya. Semoga Allah I menjaga diri kita… Amin!
Wallahu a‘lam bish shawab.

Kisah Nabi Adam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Perintah Allah I kepada malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam u merupakan awal permusuhan Iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum oleh Allah I. Namun Iblis berjanji akan menyesatkan Adam u dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam u untuk melanggar larangan Allah I sehingga Adam u dikeluarkan dari jannah (surga).

Allah I ingin menampakkan penghormatan malaikat kepada kepada Nabi Adam u secara lahir dan batin. Untuk itu, Allah I perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam u:

“Sujudlah kepada Adam!” (Al-Baqarah: 34)
Hal ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada Nabi Adam u dan dalam rangka ibadah, cinta dan taat kepada Allah I, serta tunduk kepada perintah-Nya. Segeralah para malaikat itu bersujud.
Namun Iblis yang berada di tengah-tengah mereka yang tentunya ikut serta mendapatkan perintah itu –Iblis itu sendiri bukan dari golongan malaikat melainkan dari golongan jin yang diciptakan dari api– justru menyimpan kekafiran kepada Allah I dan kedengkian kepada Nabi Adam u. Kufur dan rasa dengki itu membuat Iblis enggan sujud kepada Nabi Adam u. Tak cuma menunjukkan kesombongan, Iblis bahkan menyangkal perintah Allah I dan mencela kebijaksanaan-Nya. Katanya:

“Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (Al-A’raf: 12)
Maka Allah I katakan:

“Wahai Iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada apa yang telah Kuciptakan dengan dua tangan-Ku? Apakah engkau sombong ataukah engkau (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” (Shad: 75)
Kekufuran, kesombongan, dan pembang-kangan ini merupakan sebab terusirnya dan terlaknatinya Iblis. Allah I katakan kepadanya:

“Turunlah kamu dari jannah karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (Al-A’raf: 13)
Iblis enggan tunduk dan bertaubat kepada Rabbnya, bahkan menentang, meremehkan, dan bertekad bulat untuk memusuhi Adam u beserta anak cucunya. Ia pun menyiapkan diri saat mengetahui dirinya telah ditetapkan menjadi makhluk yang sengsara selama-lamanya. Ia, dengan ucapan dan perbuatan bersama bala tentaranya, berikrar untuk mengajak anak cucu Adam u agar menjadi golongan yang telah diputuskan untuk tinggal di rumah kehancuran (neraka). Iblis nyatakan hal itu dengan mengatakan kepada Allah I:

“Wahai Rabbku, berilah aku waktu sampai hari kebangkitan.” (Shad: 79)
Iblis benar-benar meluangkan waktu untuk menebar permusuhan di kalangan Adam u dan anak cucunya. Maka tatkala hikmah Allah I menuntut agar manusia mempunyai tabiat dan akhlak yang berbeda-beda, maka Allah I juga menentukan sesuatu yang menyebabkannya. Yaitu berupa cobaan dan ujian, dan yang terbesarnya adalah Iblis diberi kesempatan untuk mengajak anak Adam u kepada semua jenis kejahatan. Maka Allah I pun menjawab:

“Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya.” (Shad: 80-81)
Iblis menyambut jawaban itu dengan menegaskan permusuhan kepada Adam u beserta anak cucunya dan menegaskan maksiatnya kepada Allah I, katanya:

“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)
Iblis mengucapkan itu berdasarkan sangkaannya, karena ia tahu benar tabiat anak Adam u.

“Dan Iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (Saba`: 20)
Allah I berikan Iblis kesempatan untuk melakukan perkara yang telah menjadi niatannya pada Adam u dan anak cucunya. Allah I katakan dalam Surat Al-Isra‘ ayat 63-64:
“Pergilah, siapa yang mengikutimu dari mereka, maka jahannamlah balasan kalian semua sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” (Al-Isra`: 63-64)
Yakni jika kamu mampu, jadikanlah mereka orang-orang yang menyeleweng dalam mendidik anak-anak mereka dengan didikan yang rusak dan dalam membelanjakan harta mereka kepada hal-hal yang mudharat, juga dalam mencari harta dari yang tidak baik.
Begitu pula ikut sertalah dengan mereka jika mereka makan, minum, dan berjima’, yakni ketika mereka tidak menyebut nama Allah I. Juga perintahkanlah mereka untuk tidak beriman dengan hari kebangkitan dan pembalasan serta agar mereka tidak melakukan kebajikan. Takut-takuti mereka dengan pembantu-pembantumu, berikan kekhawatiran pada mereka dengan kefakiran ketika berinfak yang baik.
Kesempatan yang Allah I berikan ini sesungguhnya demi sebuah hikmah dan rahasia yang besar. Sungguh engkau, wahai musuh yang nyata, tidak akan menyisakan sedikitpun dari kemampuanmu dalam menyesatkan mereka. Manusia yang jahat akan nampak kejahatan dan kejelekannya.
Adapun keturunan Adam u yang terpilih, baik dari kalangan para nabi dan pengikutnya, maupun orang-orang yang sangat jujur dalam beriman, dan para wali-Nya, maka Allah I tidak akan menguasakan musuh ini (Iblis) atas mereka. Bahkan Allah I menjadikan di sekitar mereka pagar pelindung yang begitu kuat, sebagai perlindungan dari Allah I.
(Bersambung)

Mengenal Bid’ah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t memaparkan tentang bid‘ah: “Bid‘ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datang dari Nabi r sebagaimana termaktub dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah berarti perkara itu adalah bid‘ah. Ini merupakan definisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid‘ah. Sementara bid‘ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua:
Pertama: Bid‘ah I’tiqad (bid‘ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid‘ah ini juga diistilahkan bid‘ah qauliyah (bid‘ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah r yang diriwayatkan dalam kitab sunan:

“Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan.”
Para shahabat bertanya : “Siapa golongan yang satu itu, wahai Rasulullah ?”
Beliau menjawab: “Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku.”
Yang selamat dari perbuatan bid‘ah ini hanyalah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi r dan apa yang dipegangi para shahabat g dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid, masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman, dan selainnya.
Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/ keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu‘tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid‘ah dalam perkara i‘tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya Ahlus Sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.
Kedua: Bid‘ah Amaliyah (bid‘ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)
Bid‘ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan Allah I dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah I) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid‘ah amaliyah dan masuk dalam sabda Nabi r:

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak.”
Karena itulah, termasuk kaidah yang dipegangi para imam termasuk Al-Imam Ahmad t dan selain beliau menyatakan:

“Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)”
Yakni tidak boleh menetapkan/ mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan Allah I dan Rasul-Nya r.
Dan mereka menyatakan pula:

“Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang).”
Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan suatu muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah I dan Rasul-Nya r haramkan. Sehingga merupakan kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid‘ah yang tidak boleh dikerjakan. Padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan). Maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid‘ah (mubtadi’). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.
Dan adat itu sendiri terbagi tiga:
Pertama: yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan, maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah I).
Kedua: yang membantu/ mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan, maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.
Ketiga: adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan), maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan).
Wallahu a‘lam.

(Al-Fatawa As-Sa‘diyah, hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah)

Perkara Baru dalam Sorotan Syariah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Ibadah itu pada asalnya haram untuk dikerjakan bila tidak ada dalil yang memerintahkannya. Inilah kaidah yang harus dipegang oleh setiap muslim sehingga tidak bermudah-mudah membuat amalan yang tidak ada perintahnya baik dari Allah I maupun Rasulullah.

Hadits yang dibawakan oleh istri beliau yang mulia Ummul Mukminin ‘Aisyah x ini, diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya, pada Kitab Ash-Shulh, bab Idzashthalahuu ‘ala shulhi jaurin fash shulhu marduud no. 2697 dan juga diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya, pada Kitab Al-Aqdhiyyah yang diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi t selaku pensyarah (yang memberi penjelasan) terhadap hadits-hadits dalam Shahih Muslim, bab Naqdhul ahkam al-bathilah wa raddu muhdatsaatil umuur, no. 1718. Al-Imam Muslim t juga membawakan lafadz yang lain dari hadits di atas, yaitu :

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak.”
Hadits ini juga diriwayatkan sebagian imam ahli hadits dalam kitab-kitab mereka. Dan kami mencukupkan takhrijnya pada Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Muslim).
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Hadits ini merupakan kaidah yang agung dari kaidah-kaidah Islam.” Beliau menambahkan lagi: “Hadits ini termasuk hadits yang sepatutnya dihafalkan dan digunakan dalam membatilkan seluruh kemungkaran dan seharusnya hadits ini disebarluaskan untuk diambil sebagai dalil.” (Syarah Shahih Muslim)
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani t setelah membawakan hadits ini dalam syarahnya terhadap kitab Shahih Al-Bukhari, beliau berkomentar: “Hadits ini terhitung sebagai pokok dari pokok-pokok Islam dan satu kaidah dari kaidah-kaidah agama.” (Fathul Bari)
Al-Imam Ibnu Rajab Al Hambali t dalam kitabnya Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam juga memuji kedudukan hadits ini, beliau berkata : “Hadits ini merupakan pokok yang agung dari pokok-pokok Islam. Dia seperti timbangan bagi amalan-amalan dalam dzahirnya, sebagaimana hadits “Amal itu tergantung pada niatnya” merupakan timbangan bagi amalan-amalan dalam batinnya. Maka setiap amalan yang tidak diniatkan untuk mendapatkan wajah Allah I, pelakunya tidaklah mendapatkan pahala atas amalannya itu. Demikian pula setiap amalan yang tidak terdapat perintah dari Allah I dan Rasul-Nya maka amalan itu tidak diterima dari pelakunya.” (Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, 1/176)

Agama Ini telah Sempurna
Allah I berfirman :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)
Al-Hafidz Ibnu Katsir t berkata tentang ayat di atas: “Hal ini merupakan kenikmatan Allah I yang terbesar bagi umat ini, di mana Allah I telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, hingga mereka tidak membutuhkan agama lainnya, tidak pula butuh kepada nabi yang selain Nabi mereka r. Karena itulah Allah I menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan Dia mengutus beliau kepada manusia dan jin. Tidak ada sesuatu yang halal melainkan apa yang beliau halalkan dan tidak ada yang haram melainkan apa yang beliau haramkan. Tidak ada agama kecuali apa yang beliau syariatkan. Segala sesuatu yang beliau kabarkan maka kabar itu benar adanya dan jujur, tidak ada kedustaan dan penyelisihan di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/14)
Dengan keadaan agama yang telah sempurna ini dalam setiap sisinya maka seseorang tidak perlu lagi mengadakan perkara baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya, baik berupa penambahan ataupun pengurangan dari apa yang disampaikan dan diajarkan beliau Rasulullah r dan dicontohkan serta diamalkan oleh salaf (pendahulu) kita yang shalih dari kalangan shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para imam yang memberikan bimbingan. Rasulullah r sendiri juga telah memberi peringatan dari perkara-perkara baru yang disandarkan kepada agama, sebagaimana dalam hadits Abdullah ibnu Mas’ud z beliau Nabi r bersabda:

“Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru, karena sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 25 dan hadits ini shahih sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani t)
Hadits yang semakna dengan ini datang pula dari shahabat Al-’Irbadh Ibnu Sariyah z.
Bila kita menemui seseorang yang mengadakan perkara baru dalam agama ini dengan keterangan yang telah kita dapatkan di atas maka perkara itu batil, tertolak dan tidak teranggap sama sekali, berdasarkan sabda Nabi r:

“Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini apa yang bukan bagian darinya maka perkara itu tertolak.”
Kata Al-Imam An-Nawawi t: “Hadits ini jelas sekali dalam membantah setiap bid’ah dan perkara yang diada-adakan dalam agama.” (Syarah Muslim, 12/16)
Namun bila ada pelaku bid’ah dihadapkan padanya hadits ini, kemudian dia mengatakan bahwa bid’ah tersebut bukanlah dia yang mengada-adakan, akan tetapi dia hanya melakukan apa yang telah diperbuat oleh orang-orang sebelumnya sehingga ancaman hadits di atas tidak mengenai pada dirinya. Maka terhadap orang seperti ini disampaikan padanya hadits :

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak.”
Hadits ini akan membantah apa yang ada pada orang tersebut dan akan menolak setiap amalan yang diada-adakan tanpa dasar syar’i. Sama saja baik dia yang membuat bid’ah tersebut atau dia hanya sekedar melakukan bid’ah yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Demikian keterangan ini juga disebutkan Al-Imam An-Nawawi t dengan maknanya dalam kitab beliau Syarah Shahih Muslim (12/16) ketika menjelaskan hadits ini.
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali t berkata: “Dalam sabda Nabi r:  ada isyarat bahwasanya amalan-amalan yang dilakukan seharusnya di bawah hukum syariah, di mana hukum syariah menjadi pemutus baginya, apakah amalan itu diperintahkan atau dilarang. Sehingga siapa yang amalannya berjalan di bawah hukum syar’i, cocok dengan hukum syar’i maka amalan itu diterima. Sebaliknya bila amalan itu keluar dari hukum syar’i maka amalan itu tertolak.” (Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, 1/177)

Pembagian Amalan
Amalan bila ditinjau dari pembagiannya terbagi menjadi dua yaitu ibadah dan mu’amalah1.
a. Ibadah
Adapun amalan ibadah maka kaidah yang ada dalam pelaksanaannya: “Ibadah itu pada asalnya haram untuk dikerjakan bila tidak ada dalil yang mensyariatkanya (memerintahkannya).”
Namun dari sisi diterima atau ditolaknya amalan ibadah tersebut, maka perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
1.    Suatu amalan merupakan ibadah pada satu keadaan namun tidak teranggap pada keadaan yang lainnya sebagai ibadah. Misalnya:
q Berdiri ketika shalat. Hal ini merupakan ibadah yang disyariatkan, namun bila ada orang yang bernadzar untuk berdiri di luar shalat dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah I tidaklah dibolehkan karena tidak ada dalil yang menunjukkan pensyariatannya. Nabi r melihat seorang laki-laki berdiri di bawah terik matahari karena nadzar yang hendak ia tunaikan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah I, kemudian beliau r dengan serta-merta memerintahkan orang itu untuk duduk dan tidak berjemur di bawah terik matahari (sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari no. 6704)

  • Thawaf yang disyariatkan pelaksanaannya di Baitullah, namun ada di antara manusia yang melaksanakannya di selain Baitullah seperti di kuburan wali atau yang lainnya.
  • Pelaksanaan haji di luar bulan haji.
  • Puasa Ramadhan di luar bulan Ramadhan atau ketika hari raya, padahal ada nash yang menunjukkan tidak bolehnya berpuasa pada hari raya tersebut.
  • Dan yang semisal dengan perkara-perkara yang telah kami sebutkan di atas.

2. Suatu amalan yang sama sekali tidak ada tuntunannya dalam syariat. Misalnya:

  • Beribadah di sisi Ka’bah dengan siulan, tepuk tangan, dan telanjang.
  • Mendekatkan diri kepada Allah I dengan mendengarkan musik/ nyanyian dan minum khamr.

Amalan seperti ini batil, tidak diterima, bahkan ini merupakan kebid’ahan yang pelakunya dikatakan oleh Allah I:

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka dari agama ini apa yang Allah tidak mengizinkannya?” (Asy-Syuura: 21)
3. Menambah satu perkara atau lebih terhadap amalan yang disyariatkan. Amalan seperti ini jelas tertolak (akan tetapi dari sisi batal atau tidaknya ibadah tersebut maka perlu dilihat keadaannya). Misalnya:

  • Ibadah shalat yang telah disyariatkan oleh Allah I ditambah jumlah rakaatnya. Yang demikian ini membatalkan ibadah tersebut.
  • Berwudhu dengan membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali. Yang demikian ini tidak membatalkan wudhu tersebut, namun pelakunya terjatuh pada sesuatu yang dibenci2.

4. Mengurangi amalan yang disyariatkan. (Dari sisi batal atau tidaknya maka perlu dilihat dulu terhadap apa yang dikurangi dari ibadah tersebut).

  • Shalat tanpa berwudhu sementara ia berhadats, maka shalatnya itu batal karena wudhu merupakan syarat sahnya shalat.
  • Meninggalkan satu rukun dari rukun-rukun ibadah maka ibadah itu batal.
  • Laki-laki yang meninggalkan shalat lima waktu secara berjamaah dan mengerjakannya sendirian. Maka shalatnya itu tidaklah batal tapi shalatnya itu kurang nilainya dan ia berdosa karena meninggalkan kewajiban berjamaah.

b.  Muamalah
Pembicaraan tentang muamalah maka kaidah yang ada: “Hukum asal muamalah itu boleh/ halal untuk dikerjakan (selama tidak ada dalil yang melarang dan mengharamkannya).”
Adapun perkara-perkara yang dilarang dan diharamkan dalam muamalah ini bisa kita sebutkan sebagai berikut:
1. Bermuamalah untuk mengganti aturan syariat
Maka perkara ini tidak diragukan lagi kebatilannya dengan contoh mengganti hukum rajam bagi orang yang berzina dengan tebusan berupa benda. Hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah r, seorang pemuda yang belum menikah berzina dengan istri orang lain. Ayah si pemuda menyangka hukum yang harus ditimpakan pada putranya adalah rajam maka ia ingin mengganti hukum itu dengan memberi tebusan kepada suami si wanita tersebut berupa seratus ekor kambing berikut seorang budak perempuan. Lalu ia dan suami si wanita mendatangi Rasulullah r untuk mengadukan hal tersebut dan meminta diputuskan perkara mereka dengan apa yang ada dalam Kitabullah. Rasulullah r pun menjawab permintaan mereka:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku akan memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan Kitabullah. Kambing dan budak perempuan yang ingin kau jadikan tebusan itu ambil kembali, sedangkan hukum yang ditimpakan kepada putramu adalah dicambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun.”
Lalu beliau r memerintahkan kepada salah seorang shahabatnya untuk mendatangi wanita yang diajak berzina oleh pemuda tersebut untuk meminta pengakuannya. Dan ternyata wanita itu mengakui perbuatan zina yang dilakukannya hingga ditimpakan padanya hukum rajam. (Sebagaimana disebutkan riwayatnya dalam hadits yang dikeluarkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, pada Kitabul Hudud no. 2695, 2696, demikian pula Al-Imam Muslim dalam Shahih Muslim no. 1697, 1698)
2.    Bermuamalah dengan membuat akad/perjanjian yang dilarang oleh syariat.

  • Akad yang tidak layak untuk diputuskan. Seperti melakukan akad nikah dengan wanita yang haram untuk dinikahi karena sepersusuan atau mengumpulkan dua wanita yang bersaudara sebagai istri.
  • Akad yang hilang darinya satu syarat di mana syarat tersebut tidak bisa gugur dengan ridhanya kedua belah pihak. Seperti menikahi wanita yang sedang menjalani masa ‘iddah, nikah tanpa wali atau menikahi seorang perempuan yang masih dalam naungan suaminya.
  • Melakukan akad jual beli yang diharamkan Allah I, seperti jual beli dengan cara riba, jual beli minuman keras, bangkai, babi, dan sebagainya.
  • Akad yang berakibat terdzaliminya salah satu dari dua belah pihak. Seperti seorang ayah menikahkan putrinya yang dewasa tanpa minta izin kepadanya. Maka akad ini tertolak ketika anak itu tidak ridha dan menuntut haknya. Namun bila ia ridha akad tersebut sah.

Faidah Hadits
Faidah yang bisa kita ambil dari hadits ini, di antaranya:
1.  Batilnya perkara yang diada-adakan dalam agama.
2. Larangan terhadap satu perkara menunjukkan jeleknya perkara tersebut.
3.  Islam merupakan agama yang sempurna, tidak ada yang kurang dan tidak butuh koreksi atau protes terhadapnya.
4.  Perkara yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.
5.  Dengan hadits ini tertolaklah pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyiah (bid‘ah yang jelek).
6.  Seluruh akad yang dilarang oleh syariat adalah batil, demikian pula hasilnya karena apa yang dibangun di atas kebatilan maka ia batil pula.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Pembahasan ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab beliau Jami’ul ‘Ulum wal Hikam yang kami ringkaskan dengan memberikan beberapa tambahan
2 Dan yang bisa melihat keadaan-keadaan seperti ini adalah seseorang yang mengerti ilmu sehingga di sini kami menganjurkan untuk menuntut ilmu syar‘i dan berhati-hati dari menambah amalan ibadah. Sebagai tambahan faidah, guru kami Asy-Syaikh Muqbil t berkata dalam salah satu majelis beliau yang mubarak: “Ibadah tidaklah bisa dikatakan batal oleh seorang pun sampai ada dalil yang menyatakan batalnya ibadah tersebut sehingga kita jangan bermudah-mudah menyatakan batalnya satu ibadah tanpa dalil syar’i.” (demikian ucapan beliau yang kami nukilkan secara makna)

Hukum Asal Segala Sesuatu Itu Suci

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslm Al-Atsari)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t berkata:

  • Setiap yang halal itu suci
  • Setiap yang najis itu haram
  • Tidaklah setiap yang haram itu najis

(Asy-Syarhul Mumti’, 1/77)

Melanjutkan pembahasan edisi terdahulu tentang najis yang sepanjang pengetahuan kami kenajisannya disepakati oleh ulama, maka dalam edisi kali ini akan dipaparkan hal-hal yang sepanjang pengetahuan kami diperselisihkan masalah kenajisannya, disertai dengan penjelasan mana yang rajih (kuat) dari perselisihan itu, apakah itu najis atau bukan najis, wallahu al-muwaffiq.

Air Liur Anjing
Terdapat riwayat dalam Ash-Shahihain dan kitab-kitab hadits selain keduanya, menyebutkan hadits Abu Hurairah z bahwasanya Nabi r bersabda:

“Apabila anjing minum dari bejana salah seorang dari kalian hendaklah ia mencuci bejana tadi sebanyak tujuh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 172 dan Muslim no. 279)
Dalam riwayat Muslim ada tambahan:

“Cucian yang pertama dicampur dengan tanah.”
Pencucian yang disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan najisnya air liur anjing dan pendapat inilah yang rajih (kuat) sebagaimana dipegangi Abu Hanifah, Ats-Tsauri, satu riwayat dari Ahmad, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya. Pendapat ini dikuatkan pula oleh Asy-Syaukani di dalam kitab-kitabnya.
Sebagaimana yang kami sebutkan di atas bahwa di dalam permasalahan najis yang kami bahas di sini ada perselisihan, maka demikian juga masalah air liur anjing ini. Di sana ada pula pendapat yang lain. Sebagian ahlul ilmi berpendapat bahwa seluruh tubuh anjing itu najis. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dengan berdalil hadits yang telah disebutkan di atas. Mereka mengatakan: “Karena air liur itu keluar dari mulut anjing (yang dia itu najis) maka seluruh tubuhnya lebih utama lagi untuk dihukumi kenajisannya.”
Dan yang lainnya mengatakan air liur anjing bukan najis, adapun perintah mencucinya adalah sekedar perkara ta‘abbudiyah (ibadah) bukan karena kenajisannya. Ini merupakan pendapat yang dipegangi Al-Imam Malik t dan yang lainnya.

Mani
Ada dua pendapat dalam masalah mani ini. Pendapat pertama mengatakan najis sedang pendapat kedua mengatakan yang sebaliknya, mani itu suci. Yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang mengatakan sucinya mani dan ini dipegangi oleh Al-Imam Ahmad, Asy-Syafi‘i dan selain keduanya. Dan pendapat inilah yang rajih. Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Kebanyakan ulama berpendapat mani itu suci.” (Syarah Shahih Muslim juz 3, hal. 198)
Mereka berdalil dengan hadits ‘Aisyah x yang hanya mengerik bekas mani yang telah mengering pada pakaian Rasulullah r tanpa mencucinya (sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 288, 290), walaupun didapatkan pula riwayat ‘Aisyah x mencuci bekas mani yang menempel pada pakaian beliau r (sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 229, 230, 231, 232 dan Muslim no. 289).
Namun kedua riwayat ini tidak saling bertentangan (riwayat mengerik atau mencuci). Hal ini dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani t: “Hadits yang menunjukkan dicucinya bekas mani yang menempel pada pakaian dan hadits yang menunjukkan dikeriknya mani tersebut tidaklah saling bertentangan karena bisa dikumpulkan antara keduanya dengan jelas bagi yang berpendapat sucinya mani. Hadits tentang mencuci dibawa kepada hukum istihbab (disenanginya mencuci bekas mani yang menempel pada pakaian) dalam rangka kebersihan bukan karena kewajiban. Ini merupakan cara yang ditempuh Al-Imam Asy-Syafi’i, Ahmad dan ashabul hadits.” (Fathul Bari juz 1 hal. 415)
Al-Imam An-Nawawi t: “Seandainya mani itu najis niscaya tidak cukup menghilangkannya dengan sekedar mengerik.” (Syarah Shahih Muslim juz 3, hal. 198)

Darah
Yang kita maksudkan dalam pembahasan ini adalah selain darah haid dan nifas yang disepakati kenajisannya sebagaimana telah kami paparkan dalam pembahasaan terdahulu. Memang dalam perkara ini juga terdapat perselisihan namun yang rajih/ kuat bahwa darah itu suci.
Ada baiknya kita menengok pembahasan yang dipaparkan Asy-Syaikh Al-Albani t: “(Mereka yang berpendapat najisnya darah) juga menyelisihi hadits Al-Anshari (seorang shahabat dari kalangan Anshar) yang dipanah oleh seorang musyrik ketika ia sedang shalat malam. Maka ia mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya. Lalu ia dipanah lagi dengan tiga anak panah, namun ia tetap melanjutkan shalatnya dalam keadaan darah terus mengucur dari tubuhnya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari secara mu’allaq (terputus sanadnya dari Al-Imam Al-Bukhari sampai kepada perawi hadits) dan secara maushul (bersambung sanadnya) oleh Al-Imam Ahmad dan selainnya, dishahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 193). Hadits ini dihukumi marfu’ (sampai kepada Rasulullah r) karena mustahil beliau r tidak memperhatikan hal ini.
Seandainya darah yang banyak itu membatalkan wudhu niscaya beliau r akan menerangkannya. Karena tidak boleh menunda keterangan pada saat diperlukan sebagaimana hal ini diketahui dari kaidah ilmu ushul. Kalau dianggap Nabi r tidak mengetahui perbuatan shahabatnya tersebut maka tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi dari Allah I. Seandainya darah tersebut najis atau membatalkan wudhu niscaya Allah I akan mewahyukan kepada Nabi-Nya sebagaimana hal ini jelas dan tidak tersembunyi bagi seorang pun. Pendapat ini dipegangi Al-Imam Al-Bukhari sebagaimana paparan beliau terhadap sebagian atsar yang mu’allaq, yang diperjelas oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan ini merupakan pendapat Ibnu Hazm.”
Kemudian beliau berkata: “Adapun pembahasan masalah ini dari sisi fiqih, bisa ditinjau sebagai berikut:
Pertama: Menyamakan darah haid dengan darah yang lainnya seperti darah manusia dan darah hewan yang dimakan dagingnya adalah kesalahan yang jelas sekali dari dua sisi:
1.     Tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, sementara hukum asal darah terlepas dari anggapan najis kecuali ada dalil.
2.     Penyamaan seperti itu menyelisihi keterangan yang datang di dalam As-Sunnah. Adapun darah seorang muslim secara khusus ditunjukkan dalam hadits Al-Anshari yang berlumuran darah ketika shalat dan ia tetap melanjutkan shalatnya. Sedangkan darah hewan ditunjukkan dalam riwayat yang shahih dari Ibnu Mas‘ud z, dia pernah menyembelih seekor unta hingga ia terkena darah unta tersebut berikut kotorannya, lalu diserukan iqamah maka ia pun pergi menunaikan shalat dan tidak berwudhu lagi. (HR. Abdurrazzaq dalam Al- Mushannaf 1/125, Ibnu Abi Syaibah 1/392, Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jamul Kabir 9/284 dengan sanad yang shahih darinya. Dan diriwayatkan juga oleh Al-Baghawi dalam Al Ja‘diyaat 2/887/2503).
‘Uqbah meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy‘ari z: “Aku tidak peduli seandainya aku menyembelih seekor unta hingga aku berlumuran dengan kotoran dan darahnya, lalu aku shalat tanpa aku menyentuh air.” Dan sanad atsar dari Abu Musa ini dha’if (lemah).
Kemudian beliau melanjutkan:
Kedua: Membedakan antara darah yang sedikit dengan darah yang banyak (dalam hal najis atau tidaknya), walaupun pendapat ini telah didahului oleh para imam, maka tidak ada dalil yang menunjukkannya bahkan hadits Al-Anshari membatalkan pendapat ini. (Lihat Tamamul Minnah hal. 51-52)

Orang Kafir
Ibnu Hazm dan orang-orang dari kalangan ahlu dzahir berpegang dengan apa yang dipahami dari hadits Rasulullah r:

“Sesungguhnya orang Islam itu tidak najis.” (HR. Al-Bukhari no. 283 dan Muslim no.371)
untuk menyatakan bahwa orang kafir itu najis tubuhnya. Dan mereka perkuat pendapat ini dengan firman Allah I:

“Hanyalah orang-orang musyrik itu najis.” (At-Taubah: 28)
Namun jumhur ulama membantah pendapat ini dengan menyatakan bahwa yang dimaksud oleh hadits Nabi r adalah seorang muslim itu suci anggota tubuhnya karena ia terbiasa menjauhkan dirinya dari najis, adapun orang musyrik tidak menjaga diri dari najis. Sedang yang dimaksud dengan ayat di atas adalah orang musyrik itu najis dalam hal keyakinannya dan dalam kekotorannya.
Juga dengan dalil bahwasanya Allah I dalam Al-Qur’an membolehkan kaum muslimin menikahi wanita ahlul kitab sementara seorang suami yang menyetubuhi istrinya tentunya tidak bisa lepas dari bersentuhan dengan keringat istrinya. Bersamaan dengan itu tidak diwajibkan atas si suami untuk bersuci karena bersentuhan dengan istrinya, namun mandinya wajib karena jima’. Juga Rasulullah r pernah berwudhu dari tempat air minum wanita musyrikah dan diikatnya Tsumamah bin Atsal di masjid ketika masih musyrik, dan lain sebagainya. (Fathul Bari 1/487, Nailul Authar 1/45, Sailul Jarar 1/38,39, Asy-Syarhul Mumti‘ 1/383)
Dan pendapat jumhur inilah yang rajih.

Khamr
Khamr adalah segala sesuatu yang memabukkan baik terbuat dari anggur, kurma, gandum, atau yang selainnya. Khamr ini haram hukumnya sebagaimana ditunjukkan dalam Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma‘ (kesepakatan) kaum muslimin. Lalu apakah khamr ini najis?
Jumhur ulama berpandangan bahwa khamr ini najis, berdalilkan ayat Allah I:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah rijs termasuk perbuatan setan….” (Al-Maidah: 90)
Mereka memaknakan rijs di sini dengan najis. Namun yang benar dari pendapat yang ada, khamr bukanlah najis dan ini merupakan pendapat Rabi‘ah Ar-Ra’yi, Al-Laits, Al-Muzani, Asy-Syaukani, Asy-Syaikh Albani, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan selainnya.
Adapun yang dimakud dengan ayat Allah I dalam surat Al-Maidah di atas, kata Al-Imam Asy-Syaukani t: “Tatkala khamr di sini digandengkan penyebutannya dengan  dan , maka kata yang menyertai ini memalingkan makna rijs (dalam ayat) kepada selain najis yang syar’i.” (Ad-Darari, hal. 20)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga menerangkan tentang makna ayat dalam Surat Al-Maidah ini bahwa yang dimaksud najis di sini adalah najis ma’nawi (secara makna) bukan najis hissiyah (indrawi) dari dua sisi:
1. Khamr disertakan dengan  ,,  dan najis di sini secara maknawi.
2. Sesungguhnya rijs di sini dikaitkan dengan firman-Nya: , sehingga maknanya rijs amali (perbuatannya) bukan rijs ‘aini (bendanya yang najis) yang dengannya semua perkara ini dihukumi najis.

Muntah Manusia
Yang rajih muntah manusia itu tidak najis karena tidak ada dalil yang menyatakan kenajisannya. Adapun pendapat yang mengatakan muntah itu najis telah dibantah oleh Al-Imam Asy-Syaukani t dalam kitabnya Sailul Jaraar (1/43). Beliau menyatakan: “Aku telah menyebutkan padamu di awal Kitab Thaharah bahwa segala sesuatu itu hukum asalnya adalah suci dan tidak bisa berpindah dari hukum asalnya ini kecuali dalil yang memindahkannya benar (shahih) dan pantas untuk dijadikan argumen lebih kuat ataupun seimbang. Bila kita dapatkan dalil tersebut maka tentunya baik sekali, namun kalau kita tidak mendapatkannya wajib bagi kita untuk tawaqquf (berdiam diri) di tempat yang kita dilarang untuk berbicara tentangnya. Kemudian kita katakan kepada orang yang menganggap muntah itu najis bahwasanya dengan anggapannya ini berarti:
q Allah I telah mewajibkan kepada hamba-Nya suatu kewajiban.
q Muntah yang dikatakan najis itu harus dicuci
q Tercegah keabsahan shalat dengan adanya muntah itu. Sehingga kita meminta kepadanya untuk mendatangkan dalil akan hal ini.
Kalau orang ini membawakan dalil dengan hadits ‘Ammar z:

“Engkau hanyalah mencuci pakaianmu apabila terkena kencing, tahi, muntah, darah, dan mani.”
Maka kami jawab bahwa hadits ini tidak kokoh dari sisi shahihnya, ataupun dari sisi hasannya bahkan tidak pula sampai kepada derajat yang paling rendah untuk bisa dijadikan dalil dan diamalkan. Lalu bagaimana mungkin hukum ini bisa ditetapkan oleh hadits Ammar z ini, sementara hadits tersebut tidak pantas untuk dijadikan penetapan terhadap hukum yang paling rendah sekalipun atas satu individu pun dari hamba-hamba Allah I.
Kalau orang ini berkata  lagi: “Terdapat hadits bahwasanya muntah itu membatalkan wudhu.”1
Maka kami jawab: “Apakah di sana ada keterangan bahwasanya tidaklah membatalkan wudhu kecuali perkara yang najis?”
Kalau kamu katakan iya, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan untuk mengatakan demikian (bahwa muntah itu najis).
Kalau kamu mengatakan bahwa sebagian ahlul furu‘ (ahli fiqih) telah berkata bahwasanya muntah itu satu cabang dari kenajisan. Maka kami jawab: apakah ucapan sebagian orang itu merupakan dalil yang bisa menguatkan pendapatnya terhadap seseorang?
Kalau kamu katakan iya, berarti sungguh kamu telah mengucapkan perkataan yang tidak diucapkan oleh seorang pun dari kaum muslimin. Kalau kamu katakan tidak, maka kami nyatakan: kenapa kamu berdalil dengan perkara yang tidak digunakan oleh seseorang untuk berdalil terhadap orang lain?
Wallahu a’lam.

Catatam Kaki:

1 Hadits yang dimaksud di sini adalah hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1221). Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram berkata: Hadits ini didha’ifkan Al-Imam Ahmad dan selainnya.
Al-Imam Ash-Shan‘ani berkata: “Menyatakan hadits ini marfu‘ (terangkat) sampai kepada Nabi r adalah salah, yang benar  hadits ini mursal (terputus sanadnya), sebagaimana kata Al-Imam Ahmad dan Al-Baihaqi.”