Islam, Jalan dan Akidahnya

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

  Horizontal Road

Islam adalah solusi hidup sekaligus solusi mutlak untuk membebaskan diri dari kungkungan kerendahan dan kehinaan. Bahkan, Islam adalah asas yang sangat kokoh untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini. Meniti jalan Islam adalah sebuah jaminan yang akan menyampaikan seorang hamba kepada Allah ‘azza wa jalla dan surga-Nya, sekaligus langkah yang menjamin dari berbagai kesesatan dan penyimpangan hidup dalam beragama, serta memelihara dari kecelakaan dan kebinasaan kelak di akhirat.

Manhaj dan akidahnya merupakan solusi dari berbagai bentuk krisis yang menimpa umat ini. Krisis dalam segala lini kehidupan, bahkan sampai menyentuh persoalan yang paling fundamental di dalam beragama yaitu krisis bermanhaj dan berakidah.

Para pakar, para cendekiawan dunia dan agama—menurut pandangan kaum muslimin—telah melakukan usaha yang maksimal untuk memberikan jawaban dan solusi dari beragam krisis tersebut. Mereka pun menemukan jalan buntu yang penuh dengan kerikil dan duri-duri, seakan-akan membuka benteng yang kokoh dan alot. Bagaimana bisa kaum muslimin menjawab krisis hidup, sementara mereka sendiri ditimpa oleh krisis yang lebih fatal?

Krisis akidah; Ia adalah sebuah krisis yang sangat besar dan berbahaya baik dalam eksistensi hidup di dunia maupun akhirat. Sebuah krisis yang telah menggoyahkan segala bangunan syariat yang dibangun di atasnya. Banyak syiar kemuliaan agama tumbang karena krisis ini. Sebaliknya, panji-panji iblis dan bala tentaranya semakin berkibar. Terdengar seruan-seruan kekafiran dan kesyirikan dengan lantang dan penuh keberanian.

Dengan krisis ini, seruan tauhid yang merupakan intisari dakwah para nabi dan rasul terkubur dalam reruntuhan zaman.

Krisis ini pula yang telah menyulap dan membalik barometer penilaian sehingga yang haq menjadi batil, tauhid menjadi syirik, sunnah menjadi bid’ah, halal menjadi haram, dan petunjuk menjadi kesesatan.

Betapa mengerikan akibat krisis besar ini yang telah menjerat banyak lapisan; menjerat banyak pemimpin kaum muslimin di dunia ini. Yang lebih mengherankan lagi, krisis ini bahkan menjerat orang yang dianggap tokoh agama.

Bukti nyata hal itu adalah banyaknya kuburan yang diagungkan dan dipertuhankan di negeri kaum muslimin. Tempat-tempat bertuah dan dikeramatkan, manusia yang dikultuskan dan disetarakan dengan Allah ‘azza wa jalla, para dukun, tukang ramal dan ahli nujum dipuja serta diangkat ilmunya setinggi ilmu Rabb. Tersebarlah ilmu perdukunan, ilmu sihir, ilmu nujum, dan ilmu ramal. Berbagai jimat diperdagangkan. Seruan mengembalikan ajaran-ajaran nenek moyang sebagai landasan berkeyakinan, pengambilan hukum, muamalah, pun naik ke permukaan. Dan masih banyak lagi bentuk kerusakan akidah lainnya.

Krisis manhaj; Sebuah krisis yang menumbuhkembangkan manhaj-manhaj batil di tengah kaum muslimin sehingga mereka jauh dari manhaj yang haq. Berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan adanya perpecahan umat ini menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu merupakan bukti wahyu akan adanya krisis besar ini. Setiap golongan yang tersesat itu mengibarkan bendera masingmasing dengan lambang dan manhaj yang beragam.

Karena seruan 72 golongan inilah, mayoritas kaum muslimin meninggalkan jalan pendahulu yang saleh, yaitu jalan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan jalan mereka sebagai barometer keselamatan di dunia dari berbagai kesesatan dan keselamatan di akhirat dari ancaman neraka.

Krisis amal; dengan menghidupkan syiar-syiar yang bukan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dimasukkan ke dalam Islam, sampai pada klimaksnya, membela dan membangun jihad di atasnya. Tidak mengherankan jika tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru dimusuhi dan diperangi. Krisis ini sangat menyenangkan iblis dan bala tentaranya. Krisis ini juga memunculkan sikap mengadopsi sistem-sistem muamalah yang bukan dari Islam atau yang telah diharamkan oleh Islam, seperti praktik ribawi dengan segala bentuk dan cabangnya, menipu dengan segala jenisnya, berbuat curang dalam menakar dan menimbang, berdusta dengan segala bagiannya, dan sebagainya.

Krisis akhlak dan adab; yaitu meniru serta menjiplak akhlak dan adab orang-orang kafir dalam banyak hal. Mulai dari yang ringan sampai kepada yang berat, dan dari yang mudah hingga yang sulit.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyinyalir, penjiplakan tersebut menyebabkan tampilan mereka sama dan serupa. Hal itu tidak hanya terjadi dalam masalah akhlak dan adab, namun dalam semua urusan agama.

Saudaraku, segala bentuk krisis dalam beragama ini butuh solusi yang tepat dan jalan keluar yang akan menyelesaikannya. Mungkinkah tergambar dalam benak Anda, ada jalan keluar lagi selain Islam, akidah, dan manhajnya?

Apabila tergambar ada selain Islam sebagai solusi, selain akidah dan manhajnya, berarti Anda telah terjerat perangkap dan jaring setan.

“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (al-Baqarah: 168—169)

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (al-Maidah: 48)

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (al-A’raf: 142)

 

Meraba dan Berkhayal

Saudaraku, kita seringkali menganggap bahwa apa yang kita lakukan dan ide yang kita munculkan bisa menjawab krisis yang menimpa. Di sisi lain, kita tidak melihat dan mengkaji langkah-langkah pasti yang telah dilakukan oleh pendahulu kita yang saleh.

Seringkali kita mengukur sebuah keberhasilan itu dengan titel yang tinggi atau popularitas kita. Kita membangun berbagai bentuk pendidikan, formal atau informal, dengan berbagai jenjangnya mulai tingkat TK sampai perguruan tinggi. Sementara itu, kita tidak memerhatikan langkah pendahulu kita yang saleh. Seringkali kita mengentengkan dan meremehkan serta berbasa-basi di hadapan kesalahan yang besar menurut pandangan agama dan manhaj kita. Kita beralasan Allah Maha Pengampun, atau ini kesalahan ringan yang akan dihapuskan dengan istighfar dan kebaikan yang besar, atau yang penting akidahnya benar, dan semuanya akan terhapuskan dengan akidah yang benar, serta berbagai alasan yang menyenangkan dan menggembirakan setan. Bahkan, dengan kesalahan dan dosa tersebut, terkadang kita berbesar hati bisa mengenalkan dakwah yang benar kepada umat dan menghentikan permusuhan serta kebencian mereka terhadapnya.

Sungguh, ini adalah alasan yang tidak pernah kita dengar dari lisan pendahulu kita yang saleh. Yang mereka bimbingkan kepada kita adalah mengejar ridha, cinta, dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla semata. Mereka membimbing kita untuk mengejar keberkahan hidup dari Allah ‘azza wa jalla. Adapun dosa dan kesalahan tidak akan mendatangkan sesuatu selain kebencian dari Allah ‘azza wa jalla.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya menulis bab “Ketakutan Seorang Mukmin untuk Terhapus Amalnya dan Dia Tidak Menyangka,” lalu membawakan ucapan-ucapan pendahulu kita yang saleh.

Ibrahim at-Taimi rahimahullah menerangkan, “Saya tidaklah melakukan koreksi terhadap ucapanku dengan amalku melainkan karena ketakutan saya menjadi munafik.”

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Sungguh, saya telah bertemu dengan tiga puluh sahabat nabi. Semuanya takut kemunafikan akan menimpa diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata bahwa imannya di atas iman Jibril dan Mikail.”

Disebutkan juga sebuah riwayat dari al-Hasan, “Tiadalah yang takut darinya (kemunafikan) selain orang yang beriman. Tidaklah ada yang merasa aman darinya selain seorang munafik. Tidaklah diperingatkan dari kemunafikan dan kemaksiatan melainkan terus-menerus tanpa taubat darinya, berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan mereka tidak terus-menerus atas apa yang mereka kerjakan dan mereka mengetahui.”

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya (no. 6011) mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Abu al-Walid, dan telah menyampaikan kepadaku al-Mahdi, dari Ghailan, dari Anas, beliau berkata, ‘Sesungguhnya kalian melakukan satu perbuatan (dosa), dalam pandangan kalian lebih kecil dari rambut, sementara kami menganggapnya di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dari perkara yang membinasakan’.

Di mana kita dengan para pendahulu kita yang saleh, yang kita menggabungkan diri di atas jalan mereka? Apa yang kita akan katakan di hadapan Rabb, jika kita digolongkan dalam barisan kaum munafik?

Pengakuan yang tidak sesuai dengan perbuatan, dan ucapan yang tidak sama dengan praktik. Apa yang kita akan perbuat, jika amal yang kita lakukan terhapuskan dalam keadan kita tidak menduga? Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita semuanya.

 

Wahyu, Solusi Mutlak dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Jalan keluar yang aman, lurus, dan pasti dari semua krisis adalah wahyu Allah ‘azza wa jalla. Mari kita dengarkan bimbingan Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 208)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir ayat ini menerangkan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman memerintah kaum mukminin yang membenarkan pengutusan Rasul-Nya, agar mereka mengambil ikatan Islam dan semua syariatnya, serta mengamalkan semua perintah-Nya sesuai dengan kemampuannya, serta meninggalkan semua yang dilarang-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini adalah perintah Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, tidak meninggalkannya sedikit pun, sekaligus larangan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Apabila aturan syariat sesuai dengan hawa nafsunya, dia mengambilnya. Apabila tidak sesuai, dia menolaknya. Padahal, hawa nafsu wajib tunduk kepada agama.

Dan melakukan segala amal kebajikan yang sanggup dia lakukan. Adapun amalan yang belum sanggup dia laksanakan, dia berniat untuknya sehingga mendapatkan apa yang dia niatkan. Masuk ke dalam Islam secara menyeluruh tidak mungkin dan tidak tergambar kecuali dengan menyelisihi jalan setan.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Dan janganlah kalian mengikuti langkahlangkah setan’.”

“Jika datang kepadamu petunjukdari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Solusi dari Rabb kita untuk tidak terjatuh di dalam kesesatan di dunia dan kecelakaan di akhirat ialah mengikuti petunjuk Allah ‘azza wa jalla.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah ‘azza wa jalla telah menjamin, siapa yang membaca al-Qur’an lalu mengamalkan kandungannya, tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hendaklah diketahui bahwa kebanyakan orang tersesat pada masalah ini atau lemah untuk mengetahui kebenaran, karena tidak mau mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mendalami dan mengkaji jalan yang akan menyampaikan kepadanya. Tatkala berpaling dari kitabullah, mereka pun tersesat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللهِ

“Sungguh, aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu dan kalian tidak akan tesesat setelahnya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitabullah.” (HR. Muslim no. 2137 dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma)

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ

“Saya telah tinggalkan pada kalian dua hal yang kalian tidak akan tersesat jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Asy-Syaikh al-Albani di dalam kitab at-Tawassul mengatakan, “Diriwayatkan oleh al-Imam Malik rahimahullah secara mursal dan al-Hakim secara bersambung dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sanadnya hasan. Ia memiliki syahid dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dan saya bawakan di dalam kitab ash-Shahihah no. 1761.)

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

“Sungguh, saya telah meninggalkan kalian di atas (hujah) yang putih, malamnya bagaikan siangnya, dan tidak seorang pun menyimpang darinya melainkan akan binasa.” ( HR. Ibnu Majah dari Abud Darda’ radhiallahu ‘anhu dan dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu, lihat ash- Shahihah no. 937)

 

Mencari Solusi Keselamatan Butuh Pengorbanan

Allah ‘azza wa jalla telah memberitakan bahwa Dia pasti akan menurunkan ujian dan cobaan kepada setiap hamba-Nya tanpa pandang bulu. Itu adalah kepastian hidup yang mengiringi hamba di dunia ini. Surga dan neraka yang menjadi akhir dan pengujung kehidupan manusia ini diliputi oleh berbagai ujian dan cobaan. Dua tempat yang tidak ada ketiganya di akhirat kelak, akan menjadi lambang keberhasilan hidup di dunia atau lambang kegagalan dan kecelakaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga diliputi oleh segala yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh segala yang menggiurkan.” (HR. al-Bukhari no. 6006 dan Muslim no. 5049, dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, sementara belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, ‘Sesungguhnya pertolongan Allah ‘azza wa jalla itu amat dekat’.” (al-Baqarah: 214)

Adakah keselamatan dan jaminan hidup yang paling berharga selain masuk surga? Adakah kesengsaraan yang lebih besar daripada ancaman dengan neraka?

Diperlukan pengorbanan dan perjuangan untuk meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat, serta menghilangkan kenistaan dan kerendahan yang abadi. Belilah kemuliaan yang abadi itu dengan pengorbanan jiwa dan harta.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 111)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (ash-Shaf: 10—11)

 

Salaf ash-Shalih, Meniti Jalan Keselamatan & Menjawab Krisis Hidup

Kaum salaf yang saleh umat ini telah membuktikan bahwa agama, akidah, dan manhajnya adalah solusi mutlak dari semua krisis hidup. Tidak ada seorang pun meragukan krisis hidup yang menyelimuti kaum jahiliah. Akan tetapi, krisis besar tersebut sirna dengan agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Idris al-Khaulani rahimahullah telah mendengar Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun saya bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena khawatir hal itu akan menimpaku.

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita berada di dalam masa jahiliah dan kejelekan, lalu Allah ‘azza wa jalla menurunkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?’

Beliau bersabda, ‘Ya.’

‘Apakah setelah kejelekan ini akan ada kebaikan lagi?’

Beliau berkata, ‘Ya, namun ada asapnya.’

Saya bertanya, ‘Apakah asapnya itu?’

Beliau bersabda, ‘Kaum yang berjalan di atas selain jalan dan petunjukku. Kamu mengenali mereka dan kamu mengingkarinya.’

Saya berkata, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan lagi?

Beliau bersabda, ‘Ya, para dai yang berada di pintu neraka Jahannam dan barang siapa memenuhi ajakan mereka niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam neraka.’

Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebutkan sifatnya kepada kami, siapa mereka?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka adalah satu kulit dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.’

‘Apa perintahmu jika aku menjumpai hal itu?’

Beliau bersabda, ‘Konsekuenlah engkau bersama jamah kaum muslimin dan imam mereka.’

Saya berkata, ‘Jika mereka tidak memiliki jamaah dan imam?’

Beliau bersabda, ‘Menyingkirlah dari kelompok-kelompok itu semuanya, meski engkau harus menggigit (makan) akar kayu sampai kematian menjemput, sementara engkau tetap di atas kondisi itu’.” (HR. al-Bukhari no. 6557 dan Muslim no. 3434)

Ini adalah contoh yang sangat singkat, menggambarkan semangat mereka untuk mendapatkan jalan keluar dari krisis besar yang akan menimpa diri mereka dan orang lain. Dan masih banyak contoh lain yang tidak mungkin dibawakan dalam pembahasan yang singkat ini.

Wallahu a’lam.