Tempatkan Manusia Sesuai Kedudukannya

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

susun puzzle

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْزِلُوْا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ

“Tempatkan manusia pada posisi mereka.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud rahimahullah dalam Sunannya no. 4842, dari hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha. Namun sayang sekali hadits ini dhaif, kata Abu Dawud sendiri, “Maimun Ibnu Abi Syubaib yang membawakan hadits ini dari Aisyah radhiallahu ‘anha, tidak bertemu dengan Aisyah.”

“Jadi, riwayat Maimun dari Aisyah radhiallahu ‘anha tidak muttashil (tidak bersambung sanadnya),” kata Ibnu Abi Hatim rahimahullah dalam al-Marasil (hlm. 214).

Karena hadits di atas lemah, kita tidak dapat berhujah dengannya. Namun, dalam nash-nash syariat yang lain, kita memang disyariatkan untuk bersikap hikmah, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memosisikan sesuatu pada posisinya. Bukankah Allah ‘azza wa jalla, Rabb kita, adalah Dzat yang Mahahakim (memiliki hikmah) dalam penciptaan dan takdir-Nya, Mahahakim dalam syariat-Nya, Hakim dalam perintah dan larangan-Nya?

Dia ‘azza wa jalla memerintah hamba-Nya untuk bersikap hikmah dan memerhatikan sikap ini dalam segala sesuatu. Demikian pula perintah dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruhnya beredar di atas hikmah.

Kita juga diperintah untuk bersikap hikmah dalam menghadapi manusia, dalam seluruh muamalah.

Perlu kita ketahui, manusia itu terbagi dua:

  1. Yang memiliki hak khusus, seperti kedua orang tua, anak-anak, karib kerabat, tetangga, teman-teman, ulama, dan lain-lain.

Mereka ditempatkan pada kedudukannya, dengan menunaikan hak-hak mereka yang diakui oleh syariat dan kebiasaan manusia, yaitu berbuat baik, menyambung hubungan rahim, memuliakan, memberi kelapangan, dan hak lainnya. Mereka yang masuk bagian pertama ini memiliki keisitimewaan dari manusia yang lain dalam sisi hak mereka yang khusus.

  1. Kelompok yang tidak memiliki kelebihan yang berupa hak khusus.

Yang ada hanyalah hak Islam dan hak insaniyah (hak sebagai manusia). Mereka yang masuk ke dalam kelompok ini haknya sama atau berserikat. Mereka tidak diganggu dan tidak dimadarati; baik dengan ucapan maupun perbuatan, kita sukai untuk mereka apa yang kita sukai untuk diri kita, dan sebaliknya membenci untuk mereka apa yang kita benci untuk diri kita.

Termasuk sikap hikmah adalah bergaul dengan manusia sesuai dengan kedudukan dan posisi mereka. Orang yang lebih tua dihormati, yang lebih muda dikasihi.

Berbicara kepada para pemimpin, apakah raja atau orang yang memegang tampuk kekuasaan, haruslah dengan ucapan yang lembut sesuai dengan martabat mereka. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintah untuk mendakwahi Fir’aun, raja yang durjana,

“Pergilah kalian berdua (Musa bersama Harun) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (Thaha: 43—44)

Adapun kepada ulama, orang-orang yang berilmu tentang syariat ini, muamalah dengan mereka dalam bentuk memuliakan mereka, bersikap tawadhu kepada mereka, menampakkan kebutuhan kita terhadap ilmu mereka yang bermanfaat, dan mendoakan kebaikan untuk mereka; terlebih lagi saat mereka sedang memberikan taklim dan fatwa.

Termasuk sikap hikmah adalah memerintah anak kecil kepada kebaikan dan melarangnya dari keburukan dengan cara yang lembut. Di samping itu, kita melakukan cara-cara yang diperkenankan guna mendorong mereka kepada kebaikan. Kita menjauhi cara kasar dan keras, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (apabila tidak mengerjakan shalat) saat usia mereka sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud dan Ahmad 2/187, dari riwayat ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya dan sanad ini hasan. Hadits ini memiliki syawahid/pendukung. Lihat Irwa’ul Ghalil no. 247)

Ketika bergaul dengan mualaf, orang yang dibujuk hatinya kepada Islam agar senang dengan Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan sifat hikmah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan kepada mereka harta yang banyak. Dengan itu, diharapkan mereka bertambah senang dalam berislam sehingga akan diperoleh kemaslahatan. Sementara itu, untuk para sahabat beliau yang sudah dikenal kejujuran imannya justru tidak beliau berikan.

Hal ini dikisahkan dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan harta untuk beberapa orang, sementara saat itu Sa’d sedang duduk di majelis tersebut. Ada seseorang yang lebih baik dari mereka yang mendapat bagian, ternyata tidak diberi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bertanyalah Sa’d karena heran, “Mengapa Anda tidak memberi si Fulan? Padahal demi Allah, saya memandangnya adalah seorang mukmin.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidakkah seharusnya engkau mengatakan bahwa dia seorang muslim[1]?”

Sa’d pun terdiam sejenak. Akan tetapi, apa yang diketahuinya tentang orang yang tidak diberi tersebut mendorongnya untuk mengulangi ucapannya, “Mengapa Anda tidak memberi si Fulan? Padahal demi Allah, saya memandangnya adalah seorang mukmin.”

Tiga kali Sa’d mengulanginya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memberikan jawaban yang sama, “Tidakkah seharusnya engkau mengatakan bahwa dia seorang muslim?”

Setelah itu, baru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

يَا سَعْدُ، إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ فِي النَّارِ

“Wahai Sa’’d! Aku memberi seseorang padahal orang yang selainnya lebih aku cintai, karena khawatir (apabila orang tersebut tidak aku beri) Allah akan menelungkupkannya dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 27 dan Muslim no. 150)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melapangkan pemberiannya kepada orang yang menampakkan keislaman dalam rangka membujuk hatinya. Suatu ketika, saat memberikan harta kepada mualaf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan bagian kepada seorang lelaki dari kalangan Muhajirin. Sa’d mengajak bicara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang urusan orang tersebut karena Sa’d memandang justru orang itu lebih berhak mendapat bagian daripada yang lain. Karena yakin akan apa yang dipandangnya, Sa’d sampai mengulang-ulangi pernyataannya.

Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing Sa’d kepada dua hal:

  1. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu Sa’d tentang hikmah pemberian beliau kepada mereka yang diberi dan alasan orang yang lebih beliau cintai tidak diberi; yaitu apabila seorang mualaf tidak diberi bagian, dikhawatirkan dia akan murtad dari Islam sehingga temasuk penghuni neraka.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing Sa’d untuk tidak menyanjung seseorang dalam urusan batin. Adapun untuk perkara zahir, tidak terlarang. (Fathul Bari, 1/109—110)

Kembali kepada masalah hikmah. Ketika mengajak bicara istri dan anak-anak yang masih kecil, gunakanlah hikmah, yaitu ucapan yang layak untuk mereka dan bisa menyisipkan kebahagiaan pada diri mereka.

Di antara sikap hikmah dalam hal sedekah dan hadiah ialah tidak menyamakan pemberian kepada pengemis yang berkeliling meminta-minta kepada manusia dan cukup diberi satu-dua butir kurma atau satu-dua suapan, dengan pemberian kepada seorang fakir yang menjaga diri dari meminta-minta.

Termasuk sikap hikmah pula, membedakan pemberian kepada seseorang yang berjasa bagi kaum muslimin dan sering memberi kemanfaatan kepada orang banyak, dengan orang yang keadaannya tidak seperti itu.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Faedah dari Bahjah Qulub al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun al-Akhyar fi Syarhi Jawami’ al-Akhbar, karya al-Allamah as-Sa’di, hlm. 40—43)


[1] Bukan memastikan dia seorang mukmin, karena kalimat demikian merupakan tazkiyah yang memastikan bahwa iman telah benar-benar menghujam dalam kalbu orang tersebut, yang dengan itu dia pasti masuk surga. Padahal, urusan kalbu siapa yang tahu selain Allah ‘azza wa jalla ?

Fatwa Seputar Talak

SOLUSI SEBELUM JATUH TALAK

Daun Gugur 

Islam tidaklah menetapkan talak atau perceraian selain sebagai solusi akhir untuk menyelesaikan pertikaian antara suami istri. Sebelumnya Islam pasti memberikan jalan agar pasangan yang bertikai bisa berbaikan kembali. Mohon dijelaskan kepada kami solusi tersebut.

 

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah menjawab sebagai berikut.

Allah ‘azza wa jalla mensyariatkan ishlah atau menyelesaikan problem yang ada di antara suami istri dengan menempuh cara-cara yang dapat merukunkan kembali hubungan di antara keduanya sehingga perceraian bisa dihindarkan. Cara-cara yang dimaksud (apabila yang bermasalah pihak istri, misalnya si istri berbuat durhaka) adalah nasihat, pemboikotan, dan pukulan yang ringan, ketika dua cara yang pertama tidak bermanfaat.

Hal ini berdasar firman Allah ‘azza wa jalla,

“Istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.” (an-Nisa’: 34)

Apabila masalahnya datang dari kedua belah pihak, suami dan istri, caranya adalah mengirim dua hakam (yang bertindak sebagai pemutus perkara di antara kedua suami istri). Satu dari keluarga suami dan satu dari keluarga istri. Dua hakam ini akan membicarakan bagaimana cara menyelesaikan pertikaian yang ada di antara suami istri tersebut.

Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan jika kalian khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki (suami) dan hakam dari keluarga istri. Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri tersebut.” (an-Nisa: 35)

Apabila usaha-usaha yang dilakukan tidak bermanfaat dan tidak membawa perbaikan, justru pertikaian terus berlanjut, disyariatkan kepada suami untuk menjatuhkan talak dan diizinkan kepada istri untuk meminta khulu’ atau menebus dirinya dengan harta, jika suaminya tidak mau melepaskannya selain dengan cara si istri menebus dirinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)

Berpisah dengan cara baik-baik tentu lebih disenangi daripada pertikaian dan perselisihan yang berkelanjutan dan tiada berujung, yang berarti maksud dan tujuan disyariatkannya pernikahan tidak tercapai. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya.” (an-Nisa: 130)

Ada hadits sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Tsabit bin Qais al-Anshari radhiallahu ‘anhu melepas istrinya yang tidak sanggup hidup bersamanya. Si istri tidak bisa mencintainya dan bersedia mengembalikan kebun yang dahulu menjadi mahar pernikahannya dengan Tsabit. (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)

(Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah fil ‘Aqaid wal ‘Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, hlm. 951—952)



KAPAN TALAK ITU SAH & HIKMAHNYA

 Kapan seorang istri sah ditalak oleh suaminya? Apakah hikmah dari pembolehan talak?

 Separate

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah menjawab sebagai berikut.

Seorang istri dianggap telah ditalak ketika suaminya menjatuhkan talak kepadanya, dalam keadaan si suami adalah seorang yang berakal. Dia sadar melakukannya tanpa ada paksaan. Tidak ada pada dirinya penghalang yang menghalangi jatuhnya talak, seperti penyakit gila, mabuk, dan semisalnya. Sementara itu, ketika talak dijatuhkan, si istri dalam keadaan suci, tidak sedang haid, yang dalam masa suci tersebut suaminya belum pernah menggaulinya, ataupun dalam keadaan si istri hamil atau telah berhenti haid. Apabila istri yang ditalak dalam keadaan haid, nifas, atau sedang suci namun suaminya pernah menggaulinya dalam masa suci tersebut, tidaklah jatuh talak menurut pendapat yang paling sahih dari dua pendapat ulama. Berbeda halnya apabila qadhi/ hakim syar’i menghukumi talak tersebut sah atau teranggap. Sebab, keputusan hakim akan menghilangkan perselisihan yang terjadi dalam masalah-masalah ijtihadiah.

Demikian pula apabila suami berpenyakit gila, dipaksa, atau sedang mabuk, talak yang dijatuhkannya tidak teranggap, menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat yang ada.

Demikian pula ketika suami sedang marah besar yang membuatnya kehilangan akal, tidak memikirkan madarat yang akan muncul dari perceraian tersebut, talak tidak teranggap. Sebab kemarahannya jelas, disertai dengan pembenaran dari si istri yang ditalak bahwa suaminya memang mengucapkan talak karena sangat marah, atau adanya saksi yang jelas yang diterima persaksiannya tentang hal tersebut.

Dalam keadaan-keadaan seperti ini. talak yang diucapkan tidaklah jatuh. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: الصَّغِيْرُ حَتَّى بَيْلُغَ، وَالنَّائِمُ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنُ حَتَّى يَفِيْقَ

“Pena diangkat dari tiga orang: anak kecil hingga dia baligh, orang yang tidur sampai dia terbangun, dan orang gila sampai dia sadar dari gilanya/waras kembali.”[1]

Firman Allah ‘azza wa jalla,

Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia akan beroleh kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal kalbunya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidaklah berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya kepada kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan untuknya azab yang besar.” (an-Nahl: 106)

Apabila orang yang dipaksa berbuat kekafiran saja tidak kafir apabila kalbunya tetap tenang dalam keimanan, orang yang dipaksa untuk menalak istrinya tentu lebih utama dinyatakan talaknya tidak teranggap, apabila tidak ada faktor lain yang mendorongnya untuk mentalak istrinya selain paksaan tersebut.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ طَلاَقَ وَلاَ عِتَاقَ فِي إِغْلاَقٍ

“Tidak ada talak, tidak pula pemerdekaan budak dalam keadaan pikiran tertutup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Hakim)[2]

Sekumpulan ulama, di antaranya al-Imam Ahmad rahimahullah, menafsirkan kata al-ighlaq (dalam hadits di atas) dengan al-ikrah (pemaksaan) dan kemarahan yang sangat.

Utsman ibnu Affan radhiallahu ‘anhu dan sekumpulan ulama lainnya memfatwakan tidak jatuhnya talak orang yang mabuk (yang pikirannya berubah karena mabuk), walaupun di sisi lain dia berdosa (karena telah menghilangkan akalnya dengan mabukmabukan).

Adapun hikmah dibolehkannya talak, jelas sekali. Sebab, seorang suami terkadang tidak ada kecocokan dengan istrinya atau si istri sering membuatnya marah karena sebab tertentu. Bisa jadi, si istri lemah akalnya, kurang agamanya, jelek adabnya, atau semisalnya. Allah ‘azza wa jalla memberikan jalan keluar bagi si suami dengan menalak istri tesebut dan mengeluarkannya dari tanggung jawabnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya.” (an-Nisa: 130)

(Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah fil ‘Aqaid wal ‘Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, hlm. 952—953)


[1] HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih dalam Irwau’’azza wa jalla Ghalil no. 297.

[2] Dinyatakan hasan dalam Shahih Ibni Majah.

Belajar Tanpa Campur Baur

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

kitab-fikih

Serombongan wanita sahabiyah pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kabar Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Mereka datang untuk mengadu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohon jalan keluarnya.

غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ. فَكاَنَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ: مَا مِنْكُمُ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: وَاثْنَيْنِ

“Kaum lelaki mengalahkan kami untuk mendapatkan ilmu darimu (karena banyaknya lelaki di majelismu). Oleh karena itu, mohon tentukanlah untuk kami satu hari yang engkau khususkan untuk kami belajar darimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut baik keinginan dan harapan mereka dengan menjanjikan satu hari yang khusus. Beliau akan menemui mereka di hari tersebut guna menasihati dan memberi perintah kepada mereka (dari urusan agama ini). Di antara yang beliau sampaikan kepada mereka di majelis khusus tersebut adalah, “Tidak ada satu wanita pun yang meninggal tiga anaknya[1] (lalu dia bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah tersebut), melainkan anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

Mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, berkatalah seorang wanita di antara mereka, “Bagaimana kalau yang meninggal itu dua anak?” Beliau menjawab, “Ya, dua anak juga.”

Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan tempat taklim mereka,

مَوْعِدُكُنَّ بَيْتُ فُلاَنَةَ. فَأَتَاهُنَّ فَحَدَّثَهُنَّ

“Tempat pertemuan dengan kalian adalah rumah Fulanah.” Beliau lalu mendatangi mereka di rumah tersebut dan menyampaikan ilmu kepada mereka.

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Ilmi, bab “Hal Yuj’al Lin-Nisa’ Yaumun ‘ala Hiddah fil ‘Ilm” (no. 101 dan 102).

Pembaca yang mulia, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Anda…

Dalam hal kewajiban mencari ilmu syar’i dan mengamalkannya, wanita memang sama dengan pria. Jadi, seorang wanita dituntut sebagaimana yang dituntut dari seorang pria terkait dengan ilmu yang wajib dia amalkan dalam kesehariannya[2].

Majelis ilmu di kota Madinah, di mana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wahyu dari langit, disesaki oleh kaum pria. Mereka ini—para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum—sangat bersemangat mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka berlomba-lomba mendatangi majelis beliau dan duduk dekat dengan beliau.

Mereka menyadari bahwa yang mereka cari adalah ilmu yang merupakan kebahagiaan, keselamatan, dan kesuksesan mereka di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak. Karena banyaknya lelaki yang hadir, kaum wanita dari kalangan sahabiyah tidak mungkin menembus kerumunan tersebut karena rasa malu bercampur baur dengan lelaki. Apalagi telah datang larangan ikhtilath (campur baur) dengan lawan jenis. Para wanita terpaksa harus puas mendengarkan sedikit ilmu karena mayoritas majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam didominasi oleh kaum lelaki.

Namun, sebagian mereka tidak menginginkan hal itu terus berlarut. Sebab, mereka juga haus akan ilmu dan ingin meminumnya dari sumbernya yang asli. Permintaan majelis khusus mereka utarakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disambut baik oleh beliau. Terjadilah kesepakatan waktu dan tempat antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka. Berlangsunglah majelis khusus tersebut….

Pesan yang tersampaikan lewat hadits di atas demikian jelas, yaitu tidak boleh wanita bercampur baur dengan lelaki, walaupun untuk belajar ilmu agama yang menjadi kewajiban setiap muslim—sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan beberapa sahabat yang lain,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim.”[3]

Apabila belajar agama saja tidak boleh ikhtilath, lantas bagaimana gerangan jika yang dipelajari itu bukan ilmu agama? Tentu lebih tidak boleh! Seandainya bercampur baur dalam taklim dibolehkan, niscaya para wanita sahabiyah akan memaksakan diri hadir di majelis umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun harus menembus kumpulan lelaki yang banyak. Bukankah ilmu agama wajib dipelajari?! Akan tetapi, karena ikhtilath tidak diperbolehkan, mereka pun tidak melakukannya.

Namun, bukan berarti ketidakbolehan ikhtilath dijadikan dalil untuk meninggalkan belajar agama di majelis taklim. Sebab, ada solusi yang diberikan oleh hadits di atas, yaitu disiapkan waktu dan tempat yang khusus bagi para wanita yang ingin belajar. Dengan demikian, diharapkan akan diperoleh maslahat yang murni, tidak bercampur dengan mafsadat.

Apabila sulit atau tidak memungkinkan pengkhususan waktu bagi wanita, maka bisa dengan cara memisahkan tempat belajar antara kedua jenis. Lelaki di tempat tersendiri, terpisah dari wanita, demikian pula sebaliknya.

Hal ini dicontohkan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat pelaksanaan shalat Id. Setelah menyampaikan khutbah umum di hadapan jamaah laki-laki, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu menuju tempat kaum wanita dan menyampaikan nasihat khusus untuk mereka karena khawatir nasihat umum yang telah beliau sampaikan sebelumnya tidak terdengar disebabkan tempat mereka yang terpisah. Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam nasihatkan adalah agar mereka banyak bersedekah karena mayoritas penghuni neraka adalah kalangan wanita. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari hadits tentang shalat Id ini. Di antaranya ialah disenangi memberikan nasihat kepada kaum wanita, mengajari mereka hukum-hukum Islam, dan mengingatkan kewajiban mereka. Disenangi pula mendorong mereka untuk bersedekah dan mengkhususkan pemberian taklim bagi mereka di majelis yang terpisah. Hal itu dilakukan apabila aman dari godaan dan mafsadat[4]. (Fathul Bari, 2/603)

Kembali kepada hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menjadi pokok pembicaraan kita. Hadits ini adalah dalil larangan belajar dalam keadaan ikhtilath, yaitu pelajar putri berada dalam satu ruangan dengan pelajar putra tanpa pemisah di antara keduanya. Apalagi bila pelajar putri tidak memakai hijab yang syar’i, dan justru ber-tabarruj (bersolek menampakkan kecantikannya), hal ini adalah kerusakan tersendiri. Jadilah kerusakan di atas kerusakan. Kita bisa mengambil beberapa poin yang dipahami dari hadits ini[5]:

  1. Larangan bercampur baur antara pria dan wanita walaupun dalam belajar ilmu agama.
  2. Seorang lelaki atau seorang ustadz yang bersifat amanah[6] boleh memberikan taklim kepada sekelompok wanita, tetapi tidak boleh berdua-duaan dengan salah seorang dari mereka.
  3. Apabila lelaki/ustadz yang memberikan pengajaran tersebut bersamanya ada satu atau dua orang lelaki yang lain (yang bukan sebagai pengajar), hendaknya yang hadir itu memang dibutuhkan. Apabila tidak diperlukan, tidak sepantasnya dia hadir di majelis khusus wanita.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang menjadi pembicaraan kita. Abu Said radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bisa menyebutkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita di tempat taklim mereka yang khusus dan bisa menyebutkan pertanyaan si wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Secara zahir, ini menunjukkan bahwa keduanya hadir di situ hingga bisa menceritakan apa yang berlangsung di majelis tersebut.

Contoh lainnya adalah saat mendatangi tempat para wanita dalam shalat Id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu yang bertugas mengumpulkan sedekah dari para wanita dengan membentangkan bajunya hingga mereka melemparkan perhiasan yang mereka kenakan ke baju tersebut.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Di dalamnya ada adab mengajak bicara para wanita untuk memberikan nasihat atau hukum, yaitu hendaknya tidak ada lelaki yang hadir selain orang yang memang dibutuhkan kehadirannya, baik sebagai saksi maupun yang semisalnya.” (Fathul Bari, 2/600)

  1. Keberadaan seorang lelaki di tempat yang di situ ada sekumpulan wanita tidaklah dianggap khalwat (besepi-sepi/berduaan), karena khalwat adalah berdua-duaannya seorang pria dengan seorang wanita.
  2. Ketakwaan para wanita sahabiyah dan jauhnya mereka dari bercampur baur dengan para lelaki dalam keadaan mereka sangat ingin beroleh ilmu.
  3. Anak-anak kaum muslimin yang meninggal saat masih kecil adalah penghuni surga.
  4. Orang tua yang kehilangan tiga atau dua anaknya yang masih kecil, dalam keadaan dia bersabar dan mengharapkan pahala, akan dijauhkan dari api neraka serta dimasukkan ke dalam surga, setelah dia beriman dan bertauhid tentunya. Terlebih lagi apabila anaknya yang meninggal lebih dari tiga.
  5. Musibah yang menimpa seorang mukmin akan menghapuskan dosanya dan mengangkat derajatnya.
  6. Wanita boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu agama dan memenuhi kebutuhannya yang lain dengan memerhatikan adab ketika keluar rumah.

fsadat.

  1. Wanita boleh berbicara dengan pria untuk menyampaikan kebutuhannya—tentu saja bicara seperlunya tanpa berpanjang kata—atau bertanya tentang masalah agamanya, dengan memerhatikan adab berbicara dengan lawan jenis, di antaranya berbicara dengan baik, tidak mendayu-dayu atau bersuara manja dan tidak melembutkan suara sebagaimana ucapan seorang istri kepada suaminya.
  2. Dengan adanya perintah hijab, maka pengajaran yang disampaikan seorang lelaki kepada sekelompok wanita dianjurkan dari balik tabir dalam rangka menjaga kesucian hati masing-masing. Dan tidak boleh bermudah-mudah dalam hal ini dengan memasang tabir yang pendek sehingga kepala sang ustadz bisa terlihat ketika dia berdiri, atau tipis transparan sehingga gerak-gerik jamaah wanita yang hadir bisa terlihat oleh sang ustadz.

Jangan pula hijab hanya saat taklim. Adapun setelah bubar taklim, saat jamuan makan yang disediakan tuan rumah, misalnya, sang ustadz tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah para wanita.

Dari negeri Yaman, putri al-’Allamah asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i rahimahullah, Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafizhahallah pernah mengirim surat kepada kami sebagai balasan surat yang dikirimkan kepada beliau. Beliau adalah seorang mustafidah (seorang yang memberikan faedah ilmu kepada sesamanya) yang dipuji oleh sang ayah[7].

Di antara isi suratnya, beliau memberikan arahan kepada wanita yang menuntut ilmu agama untuk belajar dari seorang guru (tidak belajar sendiri/otodidak). Beliau juga menyebutkan, tidak mengapa belajar ilmu agama melalui tangan seorang syaikh (guru laki-laki atau ustadz), dengan syarat aman dari godaan dan dilakukan dari belakang hijab/tabir pemisah, karena selamatnya kalbu tidak bisa diimbangi oleh apa pun.[8]

Beliau juga mengatakan bahwa apabila ada guru/pengajar wanita yang berpegang dengan sunnah (sunni) yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, belajar kepada mereka lebih baik….

Demikian penggalan surat yang bertanggal Sabtu, 20 Ramadhan 1418 H, 16 tahun yang lalu….

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pembatasan,

ثَلاَثَةً لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ

“Tiga anak yang belum mencapai usia baligh.

[2] Al-Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang ilmu agama yang seperti apa yang wajib dipelajari. Beliau menjawab,

“Ilmu yang seseorang tidak boleh tidak tahu tentangnya, terkait dengan urusan shalatnya, puasanya, dan semisalnya. “ (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Muhammad bin Qasim al-Hambali an-Najdi rahimahullah—seorang alim yang hidup dalam rentang 1312—1392 H, dalam penjelasannya terhadap kitab al-Ushul ats-Tsalatsah karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah—mengatakan, “Apa yang wajib diamalkan oleh seseorang, seperti pokok-pokok keimanan, syariat-syariat Islam, perkara-perkara haram yang wajib dihindari, perkara yang dibutuhkan dalam muamalah dan semisalnya yang sebuah kewajiban tidak akan sempurna terkecuali dengannya, maka semua itu wajib dipelajari.” (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

[3] Hadits hasan dengan syawahidnya. Lihat tahqiq Abu al-Asybal az-Zuhairi terhadap kitab Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/69 dst.

[4] Sebab, yang mengajari mereka adalah lelaki, sehingga dikaitkan dengan aman dari godaan.

[5] Ditambahkan dari kitab Lin Nisa’ Ahkam wa Adab, Syarhu al-Arba’in an-Nisa’iyah, Muhammad ibnu Syakir asy-Syarif, hlm. 118—119.

[6] Seorang lelaki yang amanah dan menjaga agamanya tentu tidak akan bermudah-mudah berhubungan dengan wanita, walaupun dia adalah orang yang didakwahi atau muridnya, baik dalam bentuk menggampangkan berbicara via telepon, SMS, maupun sarana lainnya. Wallahul musta’an.

[7] Di antara ucapan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah tentang putrinya, “Allah ‘azza wa jalla lah yang memberi taufik kepada Ummu Abdillah untuk menuntut ilmu, kemudian menjadikannya cinta untuk meneliti permasalahan ilmu dan menulis.

Dia—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaganya—memberikan pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dalam bidang hadits, tajwid, mushthalah, dan nahwu. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya berfaedah bagi sesama, dalam bentuk pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dan penelitiannya yang berkesinambungan terhadap kitab-kitab ulama.

Aku pernah berkata kepadanya (karena melihatnya terus menyibukkan diri dengan penelitian ilmiahnya), ‘Kasihanilah dirimu wahai putriku!’

Dia menjawab, ‘Sungguh, jika kami melihat perjalanan hidup para ulama kita, kami dapati diri kami bukanlah apa-apa (belum berbuat apa-apa terhadap agama Allah ‘azza wa jalla yang agung).’

Ucapannya ini membuatku terdiam. Ummu Abdillah tidak pernah belajar di bangku sekolah, apakah ibtidaiyah (SD), terlebih lagi mutawassithah (SMP) dan tsanawiyah (SMU). Dia tidak pernah duduk di bangku kuliah, tidak bergelar magister ataupun doktor. Namun, saya memandang penelitiannya lebih bagus daripada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Ini adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Mukaddimah kitab ash-Shahih al-Musnad min asy-Syamail al-Muhammadiyyah, 1/9, karya Ummu Abdillah)

[8] Selamatnya kalbu itu penting, wahai saudariku! Maka dari itu, janganlah Anda semua bermudah-mudah berhubungan dengan ajnabi, walaupun itu ustadz Anda!

Sebuah Asa dari Rasul Pertama

Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran

Harapan akan anak yang saleh—yang baik dan selamat dunia akhirat—bukan semata-mata milik kita. Harapan ini bahkan dimiliki oleh para nabi dan rasul yang menjadi teladan kita. Ini menunjukkan bahwa harapan seperti ini adalah harapan yang mulia. Inilah yang kita lihat dalam diri Rasul yang pertama, Nuh ‘alaihissalam.

 Hope

Rentang waktu perjalanan dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam bukanlah waktu yang pendek. Sembilan ratus lima puluh tahun beliau menyeru umat dengan berbagai cara, disertai kesabaran dan ketelatenan, untuk meninggalkan kehinaan paganisme, kembali mulia dengan berpegang teguh kepada tauhidullah. Termasuk pula keluarga beliau yang menjadi sasaran dakwah mulia ini. Akan tetapi, tidak ada yang menerima dakwah beliau selain sedikit.

Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada beliau bahwa kaumnya yang mendustakan beliau itu akan dibinasakan. Diperintahkanlah Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk membuat sebuah bahtera guna menyelamatkan orangorang yang berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Beliau pun melaksanakan perintah itu dengan penuh ketundukan dan ketaatan, di tengah-tengah gencarnya olokan, hinaan, cercaan, dan seluruh bentuk pendustaan kaumnya yang durhaka.

Allah ‘azza wa jalla mengabadikan kisah kebinasaan kaum Nuh—termasuk anak beliau sendiri—dalam Kitab-Nya yang mulia,

“Hingga apabila perintah Kami datang dan permukaan bumi telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang, dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan muatkanlah pula orang-orang yang beriman’. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Hud: 40—41)

Berlayarlah bahtera itu mengarungi air bah yang bakal membinasakan orang-orang yang kafir dengan izin Allah. Di tengah terpaan gelombang air bah yang laksana gunung itu, Nabi Nuh ‘alaihissalam melihat anaknya, darah dagingnya, berada di tempat yang jauh dan terpencil, berusaha menyelamatkan diri dari kebinasaan. Nabi Nuh ‘alaihissalam mengetahui, pada hari itu tidak akan ada orang kafir yang selamat dari azab dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Begitu pula anak beliau ini. Masih tebersit asa dalam hati Nabi Nuh ‘alaihissalam agar anaknya selamat dari kemurkaan Rabbul ‘alamin yang menimpa orangorang kafir. Beliau memanggil dan menyeru anaknya agar mau mendekat dan turut ke dalam bahtera.

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku! Naiklah bersama kami, dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir!’.” (Hud: 42)

Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, ternyata anak yang diseru dengan penuh kesabaran ini memilih sebagaimana pilihan kaum yang ingkar. Masih dengan kesombongannya, dia tetap mendustakan seruan sang ayah. Allah ‘azza wa jalla menetapkan anak Nabi yang mulia ini termasuk orang yang celaka.

Dengan pongah dia katakan, dia akan mendaki gunung yang bisa melindunginya dari amukan gelombang pasang yang dahsyat melanda.

Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” (Hud: 43)

Nabi Nuh ‘alaihissalam masih belum berhenti menyadarkan anaknya yang durhaka ini. Beliau ingatkan, tak ada satu pun—baik gunung maupun selainnya—yang dapat menyelamatkan apabila Allah ‘azza wa jalla telah murka, walaupun segala upaya yang mungkin telah dia lakukan. Dirinya tidak akan selamat jika Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkannya.

Nuh berkata, “Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah, kecuali orang yang dirahmati-Nya.” (Hud: 43)

Namun, ketetapan Allah ‘azza wa jalla tetaplah berlaku.

“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang- orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 43)

Menyaksikan anaknya ditelan gelombang air bah, Nabi Nuh ‘alaihissalam merasa sedih. Didorong oleh rasa sayang kepada sang anak, Nabi Nuh ‘alaihissalam memohon kepada Allah ‘azza wa jalla apa yang telah Dia janjikan ketika memerintahkan agar Nabi Nuh ‘alaihissalam mengangkut dalam bahteranya setiap binatang sepasang, serta keluarga beliau. Allah ‘azza wa jalla menjanjikan akan menyelamatkan keluarga beliau.

Dan Nuh menyeru Rabbnya sembari berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadiladilnya.” (Hud: 45)

Nabi Nuh ‘alaihissalam menyangka, janji itu berlaku untuk seluruh keluarga beliau. Karena itulah, beliau berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan permohonan seperti itu. Namun, di sisi lain, Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap mengembalikan urusan ini sepenuhnya kepada hikmah Allah ‘azza wa jalla yang Mahasempurna. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menerangkan bahwa anak Nabi Nuh termasuk orang-orang yang ingkar, enggan beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sehingga tidak layak untuk diselamatkan. Allah ‘azza wa jalla menegur Nabi Nuh ‘alaihissalam pula agar tidak memohon kepada-Nya sesuatu yang tidak beliau ketahui kesudahannya, apakah kebaikan atau keburukan.

Allah berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Karena itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (kesudahan)nya. Sesungguhnya Aku memberikan peringatan kepadamu agar kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.” (Hud: 46)

Nabi Nuh ‘alaihissalam amat menyesali perbuatannya itu. Beliau pun memohon ampun kepada Rabbnya.

Nuh berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (kesudahan)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan kepadaku, serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Hud: 47)

Kisah kesabaran beliau yang diabadikan di dalam al-Qur’an ini membuahkan sebuah keteladanan betapa beliau sangat bersemangat memberikan bimbingan dan arahan kepada anaknya. Semoga Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita untuk mengambil pelajaran dari ini semua.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab.

 

Sumber Bacaan:

Al-Huda an-Nabawi fi Tarbiyatil Aulad, asy-Syaikh Dr. Sa ’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 6—7

Makelar dalam Jual Beli

Bismilah. Saya mau bertanya tentang permasalahan seputar jual beli.

  1. Jual beli yang dikenal dengan istilah “belantik”, caranya menjualkan barang dari pemilik barang kepada pembeli.

Contohnya, A berniat menjual sepeda seharga Rp50.000, lalu saya menjualkan sepeda A kepada B sebagai pembeli dengan penawaran harga Rp100.000. Si B membayar sepeda tersebut Rp100.000 kepada saya. Lalu saya bayarkan Rp50.000 kepada A dan saya mendapat keuntungan Rp50.000 dari hasil menjualkan sepeda A tersebut. Pertanyaannya, apakah jual beli yang saya lakukan tersebut sesuai dengan syariat?

  1. Saya menitipkan dagangan kepada pemilik toko untuk dijualkan.

Caranya, saya titip barang ke toko dengan harga Rp.1.000, lalu terserah toko, barang tersebut akan dijual dengan harga berapa. Yang penting, jika barang terjual, toko membayar Rp.1.000 kepada saya, sesuai dengan harga yang saya tetapkan.

Bolehkah jual beli seperti ini? Saya mohon penjelasannya, karena saya berdagang dengan cara seperti ini. Saya khawatir terjatuh ke dalam jual beli yang diharamkan.

Abu Abdul Aziz—Lampung

 

handshake

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Sistem jual beli yang ditanyakan hukumnya boleh. Hal ini dikenal dalam syariat dengan istilah samsarah atau makelaran. Akan tetapi, pada contoh yang pertama, makelar harus mendapat izin dari pemilik barang untuk mengambil keuntungan sekehendaknya (tentunya dalam batas kewajaran).

Makelaran disebut dalam bahasa Arab samsarah atau dallalah. Pelakunya atau makelar disebut simsar atau dallal. Upahnya dinamai ujratu samsarah atau as-sa’yu, atau al-ju’’azza wa jalla atau ad-dallalah.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), yang dimaksud makelar adalah perantara antara penjual dan pembeli. Disebut pula broker, makelar, cengkau, dan pialang.

 

Kriteria Seorang Makelar

Seorang makelar harus memiliki kriteria sebagai berikut.

  1. Berpengalaman menjual barang dagangan tersebut dan tentang barangnya.

Hal ini supaya dia tidak membuat kecewa atau merugikan penjual atau pembeli.

  1. Jujur dan amanah.
  2. Tidak berbasa-basi dengan salah satu pihak, sehingga dia menerangkan kelebihan dan kekurangan barang tersebut apa adanya.
  3. Tidak menipu pihak manapun.

 

Upah Makelar

Para ulama membolehkan upah makelar. Al-Imam Malik pernah ditanya tentang upah makelar, beliau menjawab tidak mengapa.

Al-Imam al-Bukhari menyebutkan sebuah bab dalam kitab Shahih al-Bukhari, “Bab Upah Makelar”.

Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim (an-Nakha’i), dan al-Hasan (al-Bashri) memandang bolehnya upah bagi makelar.

Ibnu Abbas mengatakan, “Seseorang boleh mengatakan, ‘Juallah pakaian ini. Apa yang lebih dari (harga) sekian dan sekian, itu untukmu’.”

Ibnu Sirin mengatakan, “Jika seseorang mengatakan, ‘Juallah barang ini dengan harga sekian, dan keuntungan selebihnya untukmu—atau kita bagi dua,’ hal ini boleh saja. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ

”Kaum muslimin itu sesuai dengan syarat-syarat mereka.”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى رَسُولُ اللهِ ، أَنْ يُتَلَقَّى الرُّكْبَانُ، وَلاَ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ. قُلْتُ: يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، مَا قَوْلُهُ لاَ يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ. قَالَ: لاَ يَكُونُ لَهُ سِمْسَارًا

Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menghadang rombongan pedagang (yakni sebelum sampai pasar) dan melarang orang yang di kota menjualkan barang milik orang yang datang dari pedesaan.”

Aku (perawi) mengatakan, “Wahai Ibnu Abbas, apa maksudnya ‘orang yang di kota tidak boleh menjualkan barang orang yang datang dari pedesaan’?”

Beliau menjawab, “Tidak menjadi makelar bagi mereka.”

Sisi pendalilan dari hadits di atas adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang kota menjualkan (barang) orang desa yang datang ke kota, berarti selain itu adalah boleh. Orang kota menjualkan (barang) orang kota, orang desa menjualkan (barang) orang desa, atau orang desa menjualkan (barang) orang kota. Lihat keterangan yang semakna dengan ini pada Fathul Bari karya Ibnu Hajar.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Seseorang boleh menyewa makelar untuk membeli pakaian. Ibnu Sirin, Atha’, dan an-Nakha’i membolehkan hal itu…

(Makelar) boleh diberi waktu tertentu, seperti sepuluh hari, selama itu dia membelikan barang, karena waktu dan pekerjaannya diketahui…

Apabila pekerjaannya saja yang ditentukan, tetapi waktunya tidak, dan ditetapkan bahwa dari setiap 1.000 dirham dia mendapat nominal tertentu, ini juga sah saja. Apabila seseorang menyewa (makelar) untuk menjualkan pakaian, itu juga sah.

Pendapat ini yang dipegang oleh al-Imam asy-Syafi’i, karena itu adalah pekerjaan mubah yang boleh diwakilkan dan sesuatu yang telah diketahui. Maka dari itu, diperbolehkan pula akad sewamenyewa padanya, seperti pembelian baju.”

  • Al-Lajnah ad-Daimah ditanya tentang masalah berikut. Seorang pemilik kantor perdagangan bertindak sebagai perantara bagi perusahaan tertentu untuk memasarkan produknya. Perusahaan tersebut mengirimkan sampel kepadanya untuk dia tawarkan kepada para pedagang di pasar. Dia kemudian menjual produk tersebut kepada konsumen dengan harga yang ditetapkan perusahaan tersebut. Dia mendapatkan upah yang telah dia sepakati dengan perusahaan tersebut. Apakah dia berdosa dengan pekerjaan ini?

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab bahwa apabila kenyataannya seperti yang disebutkan, ia boleh mengambil upah tersebut dan tidak ada dosa padanya.

  • Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum seseorang mencarikan toko atau apartemen (untuk orang lain) dan mendapatkan imbalan untuk itu.

Beliau menjawab bahwa hal itu tidak mengapa. Ini adalah imbalan yang disebut as-sa’yu. Hendaknya orang itu bersungguh-sungguh mencarikan tempat yang sesuai dengan permintaan orang yang hendak menyewanya. Apabila dia membantunya dan mencarikan tempat yang sesuai dengan permintaannya, lalu dia membantu mewujudkan kesepakatan antara penyewa dan pemiliknya, dan disepakati pula upahnya, semua ini tidak mengapa, insya Allah.

Akan tetapi, hal ini dengan syarat tidak ada pengkhianatan dan penipuan, tetapi yang ada adalah amanah dan kejujuran. Apabila dia jujur dan amanah ketika mencarikan apa yang diminta (calon penyewa), tanpa menipu dan menzalimi (calon penyewa) atau pemilik toko/apartemen, dia berada dalam kebaikan, insya Allah.

  • Ibnu Qudamah mengatakan, “Perwakilan diperbolehkan, baik dengan upah maupun tidak. Sebab, Nabi mewakilkan kepada sahabat Unais untuk melaksanakan hukuman had, dan mewakilkan kepada sahabat Urwah dalam hal pembelian kambing, tanpa upah. Beliau juga pernah mengutus para pegawai untuk mengambil zakat lalu memberi upah kepada mereka. Oleh karena itu, kedua anak paman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya saja Anda mengutus kami untuk mengambil zakat sehingga kami tunaikan kepada Anda sebagaimana manusia menunaikannya kepada Anda, dan kami mendapatkan sesuatu sebagaimana orang juga mendapatkannya—yakni mendapat upah’.” (HR . Muslim)

Maka dari itu, jika seseorang dijadikan wakil dalam penjualan dan pembelian, dia berhak mendapatkan upah jika melakukannya.

  • Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “Tidak mengapa menjadi makelar untuk penjual atau pedagang. Persyaratan upah tersebut boleh.” (Fatawa Ibni Baz)
  • Al-Lajnah ad-Daimah pernah ditanya, “Banyak perdebatan tentang rasio upah yang diperoleh oleh makelar. Ada yang mengatakan 2,5%, ada yang mengatakan 5%. Berapakah sebenarnya upah yang syar’i bagi makelar? Ataukah hal itu tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli?”

Berikut ini jawaban al-Lajnah ad- Daimah.

Apabila terjadi kesepakatan antara makelar, penjual, dan pembeli, apakah makelar mengambil upah dari pembeli, atau dari penjual, atau dari keduanya, upah yang diketahui ukurannya maka hal itu boleh saja. Tidak ada batasan atau prosentase upah tertentu.

Kesepakatan yang terjadi dan saling ridha tentang siapakah yang akan memberikan upah, hal itu boleh. Akan tetapi, semestinya itu semua sesuai dengan batasan kebiasaan yang berjalan di tengah masyarakat tentang upah yang didapatkan oleh makelar dapat imbalan pekerjaannya yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli. Selain itu, tidak boleh ada mudarat atas penjual maupun pembeli dengan upah yang melebihi kebiasaan. (Fatawa al-Lajnah)

Apabila prosentase upah itu dari laba, bukan dari harga penjualan, para fuqaha mazhab Hanbali membolehkannya, dan itu menyerupai mudharabah. (Kasysyaful Qana’ [3/615], Mathalib Ulin Nuha [3/542], sebagian kutipan diambil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab)

Al-Mukmin

Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Mukmin ( الْمُؤْمِنُ ) adalah salah satu dari asmaul husna. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan nama ini dalam satu ayat dalam al- Qur’an, yaitu firman-Nya,

“Dia-lah Allah Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

Az-Zajjaji mengatakan bahwa al-Mukmin dalam sifat Allah ada dua macam:

  1. Diambil dari kata al-aman (keamanan)

Dengan demikian, maknanya ialah mengamankan hamba-hamba-Nya yang beriman dari siksa-Nya sehingga mereka merasa aman darinya. Hal ini seperti dikatakan (dalam bahasa Arab),

آمَنَ فُلَانٌ فُلَاناً

Artinya, Fulan mengamankan Fulan, yakni memberikan kepadanya pengamanan sehingga dia merasa tenteram dan merasa aman.

Demikian juga dikatakan bahwa Allah adalah al-Mukmin (Allah yang Maha Mengamankan), yakni memberikan pengamanan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Maka dari itu, tidak ada yang aman selain yang diberi pengamanan oleh-Nya.

  1. Diambil dari kata al-iman yang berarti pembenaran.

Berdasarkan kata ini, al-Mukmin mempunyai dua pengertian:

  1. Allah adalah al-Mukmin, yakni Maha Membenarkan hamba-hamba-Nya yang beriman. Maksudnya, Allah ‘azza wa jalla membenarkan/ memercayai keimanan mereka. Jadi, pembenaran Allah terhadap mereka adalah penerimaan kejujuran mereka dan keimanan mereka serta pemberianpahala atas hal itu.
  2. Allah adalah al-Mukmin, yakni membenarkan atau membuktikan kebenaran apa yang telah Dia janjikan kepada para hamba-Nya.

Hal ini seperti ungkapan bahasa Arab,

صَدَقَ فُلانٌ فِي قَوْلِهِ وَصَدَّقَ

“Fulan jujur dalam ucapannya dan membuktikan kejujurannya.”

Kalimat di atas diungkapkan apabila dia mengulang-ulang ucapannya dan menekankannya…. Jadi, berdasarkan pengertian kedua ini, Allah ‘azza wa jalla membenarkan apa yang Dia janjikan kepada hamba-hamba-Nya dan membuktikannya.

Tiga makna al-Mukmin di atas boleh disandarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Di antara sifat Allah adalah al-Mukmin, (dari kata al-iman, -red.). Asal makna iman adalah pembenaran. Jadi, seorang hamba yang mukmin ialah yang membenarkan dan membuktikan (keimanannya). Adapun Allah al-Mukmin artinya membenarkan apa yang Dia janjikan dan membuktikannya atau Allah menerima keimanannya. Bisa jadi pula, al-Mukmin diambil dari kata alaman, yakni tidak ada yang aman selain yang diamankan oleh Allah.”

Ibnu Manzhur mengatakan bahwa al-Mukmin adalah salah satu nama Allah ‘azza wa jalla, Dzat yang mengesakan diri-Nya dengan firman-Nya,

“Dan Ilah kalian adalah Ilah Yang Esa.” (al-Baqarah: 163)

dan firman-Nya,

“Allah bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar selain Dia.” (Ali Imran: 18)

Dikatakan pula bahwa maknanya ialah yang memberi keamanan kepada para wali-Nya dari siksa-Nya.

Ada pula yang mengatakan, bahwa al-Mukmin dalam sifat Allah artinya yang makhluk merasa aman dari kezaliman-Nya.

Dikatakan pula bahwa maknanya ialah yang membuktikan janji-Nya kepada para hamba-Nya.

Semua hal di atas termasuk sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla. Sebab, Allah ‘azza wa jalla telah membenarkan dengan firman-Nya dakwah tauhid yang diserukan oleh hamba-hamba-Nya, seolah-olah Dia mengamankan makhluk dari kezaliman-Nya. Demikian pula apa yang Allah ‘azza wa jalla janjikan, berupa kebangkitan, surga bagi yang beriman kepada-Nya, serta ancaman neraka bagi yang kafir terhadap-Nya, maka Allah ‘azza wa jalla pasti akan membuktikannya. Tiada serikat bagi Allah ‘azza wa jalla. (dikutip dari kitab Shifatullah al-Waridah fil Kitab was Sunnah)

Adapun Ibnul Qayyim menjelaskan nama Allah al-Mukmin sebagai berikut. Di antara nama-Nya adalah al-Mukmin. Nama itu, menurut salah satu dari dua penafsirannya, bermakna Yang Membenarkan. Dia mendukung kebenaran orang-orang yang jujur dengan bukti-bukti yang Dia tegakkan guna mendukung kejujuran mereka. Allah ‘azza wa jalla pula yang mendukung kebenaran para rasul dan nabi-Nya dalam hal apa yang mereka sampaikan dari-Nya. Allah ‘azza wa jalla pun bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur.(Allah ‘azza wa jalla membuktikannya) dengan berbagai mukjizat yang menunjukkan kejujuran mereka, baik dengan takdir- Nya maupun dengan ciptaan-Nya.

Sebab, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengabarkan—dan kabar-Nya adalah benar, ucapan-Nya pun benar—bahwa manusia mesti melihat tanda-tanda al-ufuqiyah (kauniyah) dan an-nafsiyah (yang ada pada jiwa manusia), yang menerangkan kepada mereka bahwa wahyu yang disampaikan oleh para rasul mereka adalah benar. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar.” (Fushshilat: 53)

Maksudnya, kebenaran al-Qur’an, karena al-Qur’anlah yang disebutkan terlebih dahulu dalam firmannya,

Katakanlah, “Bagaimana pendapatmu jika (al-Qur’an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya?” (Fushshilat: 51)

Lantas Dia mengatakan,

“Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Rabbmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Maka dari itu, Allah ‘azza wa jalla bersaksi untuk rasul-Nya dengan firman-Nya bahwa yang dibawa oleh rasul adalah benar. Allah ‘azza wa jalla menjanjikan pula bahwa Dia akan memperlihatkan kepada manusia sebagian ayat-ayat-Nya, baik yang fi’liyah maupun khalqiyah, yang mendukung hal tersebut…. (Madarijus Salikin, 3/466)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Mukmin

Berdasarkan makna yang pertama bahwa Allah yang memberikan keamanan, mengimani nama ini membuat seseorang tidak putus asa dari rahmat Allah. Ia sadar, begitu pemurahnya Allah dan begitu sayang-Nya terhadap hamba-Nya. Jiwa pun menjadi tenteram saat dekat dengan-Nya. Ia yakin bahwa Allah akan melindunginya dari kedahysatan azab-Nya, mengamankan dirinya darinya, dan menenteramkannya. Semua itu dengan mudah didapatkan oleh seorang hamba dari-Nya, hanya dengan beriman secara benar dia akan memperoleh pengamanan itu.

Berdasarkan makna kedua bahwa Allah membenarkan hamba-Nya, baik hamba-Nya yang berkedudukan tinggi—yaitu para rasul dan nabi—dengan memberikan mukjizat atau bukti yang lain sebagai bukti kebenaran, maupun hamba-Nya yang kedudukannya lebih rendah dengan Allah menerima pernyataan iman mereka lantas membalasi mereka atas pernyataan iman mereka tersebut.

Jadi, mengimani nama tersebut membuahkan suatu keyakinan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya atau menelantarkan mereka. Allah ‘azza wa jalla pasti membantu dan mendukung mereka serta memberikan bukti kebenaran mereka yang beriman.

Adapun menurut makna yang ketiga bahwa Allah akan membuktikan kebenaran janji-janji-Nya, mengimani hal ini akan memberi kita harapan yang besar kepada janji-janji Allah. Kita juga yakin bahwa Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Mahabenar Allah ‘azza wa jalla atas apa yang Dia janjikan dan Mahapemurah Allah dengan karunia yang Dia berikan.

Hanya saja, harapan berbeda dengan angan-angan. Harapan harus disertai oleh usaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan. Kalau sekadar mengharap tanpa berbuat, itu hanyalah angan-angan.

Wallahu a’lam.

Lawan Hawa Nafsumu, Kenali Sumber Keyakinanmu!

Al-Ustadz Qomar Suaidi

10 Bahan Renungan

Renungan Kedelapan: Lawan Hawa Nafsumu

Seseorang semestinya melakukan hal yang bertentangan dengan hawa nafsunya dalam hal yang hawa nafsunya jelas salah. Ia tidak boleh memberinya toleransi dalam hal meninggalkan yang wajib, atau yang mendekatkannya untuk meninggalkan yang wajib, demikian pula dalam hal melakukan maksiat, atau mendekatkan kepada maksiat, demikian pula dalam menerjang perkara yang syubhat.

Setelah itu, hendaknya ia melatih jiwanya untuk selalu kokoh di atas kebenaran dan tunduk kepadanya. Hendaknya ia juga menekankan hal tersebut. Dengan demikian, sikap selalu tunduk kepada kebenaran dan menyelisihi hawa nafsu akan menjadi kebiasaannya.

 

Renungan Kesembilan: Kenali Sumber Keyakinanmu

Berusahalah membedakan antara sumber hujah (keterangan yang pasti benar) dan sumber syubhat (yakni segala sesuatu yang tidak jelas kebenarannya. Sumber hujah yang dimaksud adalah fitrah yang masih suci dan syariat, sedangkan sumber syubhat adalah selain itu).

Apabila seseorang sudah menyadari dengan sempurna perbedaan dua sumber tersebut, jalan akan mudah baginya. Sebab, tidaklah datang kepadanya sesuatu pun yang berasal dari sumber yang benar selain kebenaran juga. Jadi, kalau memang menginginkan kebenaran dan puas dengannya, ia tidak perlu mengelak sedikit pun dari segala yang datang dari sumber kebenaran tersebut. Ia pun tidak perlu sama sekali mendekat kepada segala sesuatu yang datang dari sumber syubhat.

Akan tetapi, ahli bid’ah berusaha menyamarkan dan mengaburkan kebenaran. Maka dari itu, yang wajib dilakukan oleh seseorang yang menginginkan kebenaran ialah tidak melihat sesuatu yang datang kepadanya dari sumber kebenaran dengan kacamata ahli bid’ah yang berwarna warni. Ia seharusnya melihatnya sebagaimana halnya pemeluk kebenaran memandangnya (secara langsung).

Wallahu a’lam.

Nabi Musa dan Nabi Harun Wafat

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 Arabian-Desert-1

Di Padang Tih, bertahun-tahun hidup di sana, usia Nabi Musa dan Harun bertambah lanjut. Bani Israil benar-benar dibersihkan dari orang-orang yang fasik, yang disebutkan dalam doa Nabi Musa. Kemudian lahirlah generasi baru yang insya Allah lebih baik dari orang-orang yang fasik tersebut.

Tak berapa lama sampailah ajal Nabi Harun ‘alaihissalam. Bersama Nabi Musa, beliau dipanggil ke Bukit Thursina. Di sanalah Nabi Harun berpulang ke rahmat Allah ‘azza wa jalla.

Sepeninggal saudaranya Harun ‘alaihissalam, Nabi Musa masih melanjutkan tugas membimbing Bani Israil. Beliau dengan penuh semangat tetap mengajari mereka agar taat dan tunduk kepada aturan Allah ‘azza wa jalla Yang telah menyelamatkan dan memuliakan mereka.

Menjelang dekatnya ajal beliau, Allah ‘azza wa jalla mengutus salah seorang hamba-Nya yang mulia di kalangan para malaikat. Seorang malaikat yang menghancurkan semua kelezatan dan memutuskan semua kesenangan hidup, Malaikat Maut. Makhluk suci yang diciptakan Allah ‘azza wa jalla dari cahaya.

Peristiwa ini diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat (bahkan umatnya),

أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ. فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ فَقُلْ لَهُ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِكُلِّ مَا غَطَّتْ بِهِ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ. قَالَ: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ الْمَوْتُ. قَالَ: فَالْآنَ. فَسَأَلَ اللهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

Malaikat Maut diutus kepada Musa ‘alaihissalam. Ketika dia mendatanginya, beliau menamparnya. Malaikat itu kembali kepada Rabbnya, lalu berkata, Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menyukai maut.”

Kemudian, Allah mengembalikan matanya dan berkata, Kembalilah dan katakan kepadanya, supaya meletakkan tangannya di lambung seekor sapi jantan, lalu dia berhak pada setiap bulu yang ditutupi tangannya adalah satu tahun.”

Musa berkata, Wahai Rabbku, kemudian apa lagi?”

Kemudian adalah maut.”

Kata Musa, Maka sekaranglah,” beliau pun memohon kepada Allah agar mendekatkannya ke Tanah Suci sejauh lemparan batu.

Kata rawi, Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya aku di sana, sungguh, pasti akan aku perlihatkan kepada kamu kuburannya di samping jalan dekat bukit merah.’.” (H.R. al-Bukhari no. 1339 dan Muslim no. 2372 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Begitulah kisahnya. Sebuah berita gaib yang diceritakan oleh ash-Shadiqul Mashduq shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudah tentu menjadi berita dan kisah yang tidak disangsikan lagi kebenarannya. Orang-orang yang beriman pasti menerima berita ini sebagaimana adanya. Sebab, mereka yakin terhadap apa yang diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla, bahwa Rasul-Nya tidak berbicara dengan hawa nafsu. Apa yang beliau sampaikan tidak lain adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dalam riwayat ini disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan kedatangan Malakul Maut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan secara jelas bahwa malaikat tersebut menemui Nabi Musa dalam wujud aslinya.

Di dalam al-Qur’an, disebutkan pula peristiwa yang tidak jauh berbeda dengan kisah ini. Beberapa malaikat pernah menemui Nabi Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalam. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang sangat memuliakan tamu, segera menyuguhkan hidangan lezat, daging anak sapi yang sudah matang. Akan tetapi, kemudian, muncul rasa takut beliau tatkala para tamu itu tidak menyentuh daging itu sama sekali.

Begitu pula Nabi Luth ‘alaihissalam. Beliau sangat cemas akan keselamatan tamu-tamunya yang berwujud pemuda gagah dan tampan ini. Beliau khawatir, kaumnya yang terbelenggu oleh nafsu akan menyerbu rumahnya dan menangkap para pemuda ini.

Akan tetapi, setelah para tamu itu menerangkan bahwa mereka adalah utusan Allah ‘azza wa jalla, barulah kedua nabi yang mulia ini tenang. Kemudian, mengalirlah dialog di antara mereka, sebagaimana diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya, yang tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun belakang.

Nabi Musa ‘alaihissalam juga demikian. Saat sedang menyendiri, beliau didatangi seseorang yang meminta nyawanya. Tentu saja beliau marah dan menampar orang tersebut. Dengan kekuatan beliau yang luar biasa, pukulan itu menyebabkan mata malaikat yang sedang berwujud manusia itu lepas dari rongganya.

Malaikat itu segera kembali menemui Rabb (Allah ‘azza wa jalla) yang mengutusnya. Allah ‘azza wa jalla mengembalikan mata itu ke tempatnya semula.

Kemudian, malaikat itu kembali lagi menemui Nabi Musa ‘alaihissalam. Kali ini, Nabi Musa ‘alaihissalam mengenalinya. Setelah dialog singkat, malaikat itu menyampaikan perintah Allah ‘azza wa jalla agar Nabi Musa ‘alaihissalam meletakkan tangannya di atas tubuh seekor sapi jantan. Untuk beliau adalah semua yang tertutup tangan beliau dihitung satu tahun.

Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya, “Sesudah itu apa lagi, duhai Rabbku?”

“Al-Maut,” kata Allah ‘azza wa jalla.

Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menyambut dan memilih bertemu dengan Rabbnya, “Kalau begitu, sekaranglah.”

Beliau pun memohon agar Allah ‘azza wa jalla mendekatkan jasad beliau ke Baitil Maqdis sejauh lemparan batu.

Wallahu a’lam.

 

Beberapa Faedah

Hadits ini termasuk hadits-hadits yang diingkari oleh Jahmiyah dan orang-orang yang sesat lainnya. Menurut mereka, bisa jadi Nabi Musa sudah mengenal Malaikat Maut, bisa jadi pula tidak mengenalnya. Kalau beliau mengenalnya, dengan memukulnya berarti beliau telah menzalimi Malaikat Maut tersebut. Seandainya belum, riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Maut itu menemui Nabi Musa dalam keadaan terang-terangan tidak ada artinya.

Sanggahan ini tidak lain berasal dari orang-orang yang telah dibutakan oleh Allah ‘azza wa jalla mata hatinya. Pengertian hadits ini sahih, tidak seperti dugaan kaum Jahmiyah. Sebab, Allah ‘azza wa jalla tidak mengutus kepada beliau sosok Malaikat Maut yang ketika itu ingin mencabut ruhnya, tetapi untuk menguji beliau, seperti Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih Ismail bin Ibrahim ‘alaihissalam. Andaikata Allah ‘azza wa jalla ingin mencabut ruh beliau ketika mengilhamkan Malaikat Maut untuk itu, pastilah terjadi apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla.

Mustahil Nabi Musa mengenali Malaikat Maut lalu menamparnya hingga lepas matanya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga pernah didatangi para malaikat dalam keadaan beliau tidak mengenali mereka pada awalnya. Seandainya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengenali mereka, tentu tidak akan menyuguhkan hidangan lezat agar mereka memakannya dan tidak merasa takut ketika mereka tidak menyentuh makanan itu. Lantas, mengapa harus heran kalau Nabi Musa tidak mengenali Malaikat Maut?

Pendapat mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mengkisas Nabi Musa, menunjukkan kebodohan mereka. Siapa yang menerangkan kepada mereka bahwa antara malaikat dan Bani Adam ada hukum kisas? Siapa pula yang mengabarkan kepada mereka bahwa Malaikat Maut menuntut kisas lalu Allah ‘azza wa jalla tidak mengabulkannya? Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam pernah memukul seorang Qibti hingga Qibti itu mati tetapi tidak mengkisas beliau.

Alhasil, kisah ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat, karena beritanya sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang sudah mengikrarkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah ‘azza wa jalla dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah ‘azza wa jalla serta utusan (Rasul)-Nya, tidak ada alasan lain kecuali tunduk menerima berita ini. Sebab, ketundukan dan kelapangan hatinya membenarkan dan menerima berita ini adalah salah satu bukti kejujurannya bersyahadat.

Selain itu, berita ini adalah perkara gaib yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga bukan hak kita untuk menanyakan bagaimana dan mengapa-nya? Lebih-lebih lagi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang jujur lagi dibenarkan. Beliau tidak berbicara kecuali dengan wahyu yang diturunkan kepada beliau. Adakah seorang yang beriman akan mengingkari berita yang sahih dari beliau? Tentu tidak ada.

Faedah lainnya, bahwa syariat para Nabi sebelum kita adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya. Nabi Musa meminta didekatkan ke Tanah Suci agar dikuburkan di sana, bahkan membawa serta jasad Nabi Yusuf ketika mereka meninggalkan Mesir. Akan tetapi, semua ini dihapus berdasarkan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keinginan beberapa sahabat yang hendak menguburkan syuhada Uhud di Madinah, wallahu a’lam.

Mengapa makam Nabi Musa berada di luar Baitul Maqdis?

Ibnu Hajar rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i, hakim negeri Mesir, menukilkan pendapat Ibnu Baththal dari ulama sebelumnya, bahwa hikmah makam Nabi Musa ‘alaihissalam tidak berada di dalam Baitul Maqdis adalah agar menyamarkan letaknya, sehingga tidak dijadikan berhala (sesuatu yang disembah dan dipuja-puja selain Allah ‘azza wa jalla) oleh orang-orang yang jahil di kalangan pengikut beliau.

Hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya memindahkan jenazah dari satu daerah ke daerah yang lain. Mengapa?

Ada beberapa alasan. Di antaranya ialah bahwa syariat umat terdahulu adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya di dalam syariat kita. Ternyata, hal ini ada penjelasannya dalam syariat kita, yaitu larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan syuhada perang Uhud dan memerintahkan para sahabat menguburkan mereka di tempat mereka terbunuh. Jadi, yang sesuai dengan sunnah ialah menguburkan seorang muslim di mana dia meninggal dunia, selama tidak ada penghalang yang syar’i.

Hadits ini dicantumkan dalam masalah akidah karena adanya segolongan ahli bid’ah yang mengingkari berita yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Mereka menganggap mustahil. Alasannya, karena tidak mungkin Nabi Musa ‘alaihissalam yang mulia akan menampar seorang malaikat. Bantahan atas keraguan dan pengingkaran mereka, telah disebutkan di atas.

Wallahul Muwaffiq.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (8)

 minbar 1

Memilih Para Pejabat

Kita masih ingat dengan khutbah pertama beliau dibai’at menjadi khalifah. Selama ini, di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar merasa dirinya adalah sebilah pedang tajam yang setiap saat dapat dihunus atau disimpan dalam sarungnya. Di masa itu, juga pada masa khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar hanya menjalankan perintah, memberi saran yang dipandangnya bermanfaat.

Kini, setelah menjadi khalifah, dia merasakan betapa berat sebenarnya beban yang dipikulnya. Betapa besar tanggung jawabnya di hadapan umat dan di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak. Tanggung jawab yang tidak terbayangkan oleh para pemegang kekuasaan sesudah beliau, kecuali yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla.

Karena itulah, beliau mulai memikirkan untuk menunjuk para pejabat yang mewakilinya mengurus kepentingan kaum muslimin di wilayah muslimin, yang jauh dari Madinah. Beliau tidak rela bila ada sebagian petugasnya yang menyimpang dari keadilan yang telah diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sering mengingatkan bahwa beliau menugaskan para pejabat itu, bukan untuk menzalimi rakyatnya, melainkan mengajari mereka agama dan mengurus kepentingan mereka.

Bahkan, beberapa tokoh yang dianggap sebagai anutan umat, yaitu sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka, menerima perhatian yang sangat ketat dari beliau.

Pernah dikisahkan, dalam sebuah perjalanan haji, Umar melihat pakaian Thalhah bin ‘Ubaidillah ada bekas za’faran, padahal sedang ihram. Amirul mukminin segera mendekati dan bertanya,mengapa ada bekas za’faran di pakaian beliau. Thalhah menerangkan bahwa itu tidak sengaja terkena, belum bisa hilang. Namun, Amirul Mukminin Umar mengingatkan Thalhah.

“Wahai Thalhah, Anda adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senior. Anda adalah salah seorang tokoh anutan kaum muslimin. Yang hadir di sini tidak semuanya berpikiran panjang, bisa jadi ada orang yang kurang paham, melihat bahwa salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian yang terkena za’faran, lalu mengira, berarti boleh memakainya ketika ihram. Oleh karena itu, hendaklah Anda melepasnya dan mengganti dengan yang lain.”

Karena itu pula, beliau tidak segan-segan memberikan teguran keras atau mencopot mereka yang tidak bertugas sebagaimana yang diinginkan beliau.

Sebagian penulis sejarah, khususnya tentang pribadi sahabat jenius ini, menerangkan bahwa dalam memilih pejabat di wilayah yang jauh tersebut, Umar mempunyai kriteria tersendiri, di antaranya;

  • Yang menjadi pucuk pimpinan di sana harus sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik lebih dahulu masuk Islam, maupun tidak setelah Hudaibiyah, atau Fath Makkah.

Beliau menyebutkan, “Sungguh demi Allah, aku tahu kapan bangsa Arab itu binasa. (Yaitu) apabila mereka dipimpin oleh orang-orang yang bukan sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah menangani atau merasakan jahiliah.”[1]

  • Yang menjadi pucuk pimpinan tidak boleh dari kerabat beliau (dari Bani ‘Adi, kabilah Umar bin al-Khaththab). Bahkan, meskipun beberapa sahabat mencalonkan putranya, ‘Abdullah yang dikenal hampir menyerupai bapaknya. Akan tetapi, Umar menolaknya.

Menjelang wafatnya, Amirul Mukminin juga berwasiat agar tidak menempatkan kerabatnya dalam pemerintahan, sebagai apa pun. Itu juga yang dipesankan oleh beliau kepada ahli syura yang beliau tunjuk untuk memilih khalifah sepeninggal beliau.

  • Beliau menetapkan bahwa pejabatnya haruslah orang yang istiqamah di atas kebenaran dan kesalehan.

Beliau berpandangan baiknya penguasa akan mendorong baiknya rakyat yang dipimpinnya, “Manusia akan selalu dalam kebaikan selama para pemimpin dan pembimbing mereka lurus di atas al-haq.”

Kata beliau pula, “Orang fajir itu tidak mengangkat pekerja kecuali orang yang fajir (jahat) juga. Kalau ada orang yang memanfaatkan orang fajir dalam keadaan dia tahu pegawainya fajir, dia adalah fajir seperti pegawainya.”

  • Pejabat yang ditunjuk adalah orang yang ahli dalam memimpin dan mengatur urusan orang banyak.

Oleh sebab itulah, tidak semua sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau tunjuk sebagai pejabat di beberapa wilayah.

Bahkan, beliau juga mencopot sebagian mereka bila ada pengaduan dari rakyat di mana mereka tinggal sebagai pejabat, atau karena alasan tertentu. Beliau mencopot jabatan Khalid sebagai panglima demi menghindari mafsadah yang lebih besar, sebagaimana telah diceritakan.

Seperti itu juga yang pernah diperbuat oleh junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak mengangkat orang yang meminta jabatan, tetapi menunjuk orang-orang yang beliau pandang ahli dalam bidang tersebut.

Abu Dzar pernah memintanya, tetapi dinasihati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun menerima.

Umar juga pernah mencopot ‘Ammar bin Yasir dan menggantinya dengan al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhum.

  • Pejabat yang ditunjuk adalah orang yang cerdik dan pintar.

Suatu ketika, beliau pernah bertemu satu rombongan yang sedang menuju Baitul Haram. Beliau pun bertanya, “Siapa kalian?”

Orang termuda di kalangan mereka berkata, “Kami hamba-hamba Allah, muslimin.”

“Dari mana kalian?”

“Dari pelosok yang jauh.”

“Hendak ke mana kalian?” tanya beliau.

“Baitil ‘Atiq (Ka’bah),” jawab pemuda itu.

“Takwilkanlah, demi Allah,” kata beliau, lalu melanjutkan, “Siapa amir (pemimpin) kalian?”

Dia memberi isyarat kepada seorang syaikh (yang sudah tua) di antara mereka, maka Umar berkata, “Yang benar, kamulah amir mereka,” sambil menunjuk pemuda yang menjawab dengan baik itu.

  • Pejabat itu memiliki perasaan penyayang dan belas kasih, sebab akan membuat hubungannya dengan rakyat menjadi baik, sehingga mereka mudah menyampaikan keluhan mereka kepada penguasa mereka.
  • Zuhud dan tidak berambisi terhadap kekuasaan.

Penguasa atau pemimpin yang memiliki sifat ini akan lebih ikhlas dalam bekerja, dan lebih jauh dari ambisi terhadap dunia.

Malik ad-Dar rahimahullah bercerita, “Suatu hari Umar mengambil 400 dinar dan membungkusnya lalu berkata kepada seorang pelayan, ‘Pergilah, antarkan kepada Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah. Kemudian, tunggulah di rumah itu dan lihat apa yang dilakukannya.’

Pelayan itu segera berangkat dan setelah bertemu, dia berkata, ‘Amirul Mukminin menitip salam untukmu dan memerintahkan agar ini digunakan untuk sebagian keperluanmu.’

‘Semoga Allah menyambung dan merahmati beliau,’ kata Abu ‘Ubaidah, lalu, ‘Hai jariyah, kemarilah. Bawa 7 dinar ini untuk si Fulan, 5 dinar untuk si Fulan lainnya,’ sampai habis.

Pelayan itu pulang menemui Umar dan menceritakan kejadian yang dilihatnya. Ternyata Umar telah menyiapkan yang serupa untuk dibawa kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu. ‘Bawakan ini untuk Mu’adz dan tunggulah apa yang dilakukannya.’

Pelayan itu segera berangkat dan berkata, ‘Amirul Mukminin menyuruh agar menggunakan harta ini untuk keperluanmu.’

‘Semoga Allah menyambung dan merahmati beliau,’ kata Mu’adz, lalu, ‘Hai jariyah, pergilah. Bawakan untuk si Fulan sekian, rumah si Fulan lain sekian, dan rumah lainnya sekian.”

Tiba-tiba istri Mu’adz melihat dan berkata, ‘Demi Allah, kita juga miskin. berilah kami.’ Tidak ada yang tersisa kecuali dua dinar, lalu beliau memberikannya kepada sang istri.

Pelayan itu segera pulang dan bercerita. Betapa senangnya Umar, maka beliau berkata, ‘Sungguh, mereka benar-benar bersaudara. Yang satu adalah bagian dari yang lainnya’.”[2]

Semua itu tidak berarti beliau menghalangi mereka dari hal-hal yang mubah, tetapi tidak senang jika mereka terjerumus dalam sikap berlebihan atau boros.

Oleh sebab itulah, para pejabat yang ditunjuk oleh Umar selama kekhalifahannya adalah teladan mulia dalam takwa, kesalehan, dan kezuhudan serta pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Wallahu a’lam.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Atsar sahih, dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d (Thabaqat 6/129).

[2] Az-Zuhd karya Ibnul Mubarak (178).

Tanya Jawab Ringkas Edisi 98

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

amplop-warna 

Kotoran Ayam Najis?

Apakah kotoran ayam najis?

085287XXXXXX

  • Jawaban:

Kotoran ayam tidak najis, karena ayam halal dikonsumsi dan hukum asalnya suci hingga datang dalil yang menajiskannya. Justru terdapat hadits yang menunjukkan bahwa hewan yang halal dikonsumsi kotorannya suci.

 

Wanita Ditalak Raj’i

Apa yang harus dilakukan oleh wanita yang sedang dalam masa iddah yang diceraikan/talak raj’i oleh suaminya? Apakah masih boleh hidup serumah dengan suaminya? Apakah istri harus menutup aurat keseluruhan termasuk wajahnya? Ketika istri ada keperluan keluar rumah baik berbelanja maupun silaturahmi kepada orang tuanya, apakah mesti izin terlebih dahulu?

085222XXXXXX

  • Jawaban:

Ya, tetap tinggal serumah. Keduanya boleh berkhalwat, saling melihat aurat, si istri berdandan untuknya, dan semisalnya, karena keduanya masih suami istri. Namun, tidak boleh jima’ (senggama) tanpa disertai niat rujuk. Jika hendak keluar rumah, harus minta izin kepadanya, karena masih suami istri.

 

Darah Nifas Lebih dari 40 Hari?

Apakah darah yang keluar lebih dari 40 hari setelah melahirkan masih termasuk darah nifas?

082135XXXXXX

  • Jawaban:

Yang rajih, nifas hanya 40 hari berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Selebihnya ada rincian: jika bertepatan dengan adat haid, berarti darah setelahnya adalah haid sesuai adatnya; jika tidak bertepatan dengan haid, berarti darah fasad yang tidak menghalangi dari shalat. Hukumnya seperti darah istihadhah.

 

Bulan Sya’ban Bulan Utama?

Benarkah bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang utama sehingga harus memperbanyak berpuasa?

085295XXXXXX

  • Jawaban:

Benar, dianjurkan memperbanyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban, tetapi tidak wajib.

 

Mengumumkan Acara Bid’ah

Bolehkah mengumumkan perayaan Isra’ Mi’raj lewat speaker masjid, sedangkan saya adalah imam masjid dan tahu bahwa acara tersebut adalah bid’ah?

085396XXXXXX

  • Jawaban:

Tidak boleh mengumumkan acara isra’ mi’raj dan maulid, karena hal itu termasuk kerjasama untuk acara bid’ah yang tercela.

 

Nama Anak, Akikah, Tahnik dengan Sari Kurma, dan Makna Nama

  1. Bolehkah mempersiapkan nama sebelum anak lahir?
  2. Bolehkah akikah setelah lewat 7 hari?
  3. Bolehkah mentahnik anak yang baru lahir dengar sari kurma, tanpa dikunyah?
  4. Azka Mawaddah, maksudnya ‘cinta yang lebih suci’, benarkah susunan kalimat bahasa Arab ini?

085746XXXXXX

  • Jawaban:
  1. Boleh menyiapkan nama anak sebelum lahir.
  2. Boleh akikah setelah lewat tujuh hari, tetapi afdal pada hari ketujuh.
  3. Yang dituntunkan Nabi n adalah kurma dikunyah sampai benar-benar halus dan cair sehingga dapat dihisap oleh bayi. Jika tidak ada kurma, boleh mentahnik dengan sari kurma.
  4. Benar, Azka Mawaddah artinya ‘cinta yang lebih suci’. Akan tetapi, ketahuilah bahwa nama yang majemuk (gabungan dua kata) seperti itu tidak dikenal pada masa Nabi dan para sahabat. Yang terbaik adalah memilih salah satu nama dari nama wanita istri/sahabat Nabi atau wanita salihah seperti Maryam dan Asiyah. Tidak mengapa nama selainnya yang bermakna baik, seperti Mawaddah (cinta), Zahrah (bunga), atau lainnya tanpa bentuk majemuk.

 

Pakaian Terkena Madzi

Jika madzi mengenai pakaian, apakah harus diganti ketika hendak shalat?

085696XXXXXX

  • Jawaban:

Madzi adalah najis yang harus dibersihkan dari pakaian jika terkena sebelum shalat dengan cara dicuci atau disirami air yang cukup. Jika tidak, pakaian itu harus diganti. Lihat buku kami, Panduan Syar’i Cara Bersuci.

 

Wudhu dengan Air Hangat

Bolehkah berwudhu atau mandi junub bagi manula dengan air hangat jika udara dingin?

085327XXXXXX

  • Jawaban:

Boleh, hal itu tidak ada larangannya dalam syariat.

 

Suami Mengucapkan Cerai Ketika Marah

Apabila suami dalam keadaan marah dan mengucapkan cerai kepada istri, apakah sudah termasuk talak tiga?

085643XXXXXX

  • Jawaban:

Jika marahnya masih terkontrol dan sengaja mengucapkan cerai, padahal dia mampu menahan dirinya jika memang tidak berniat mencerai, talak jatuh. Jika belum pernah dicerai sebelumnya, berarti itu adalah talak satu walaupun diucapkan sebagai talak tiga atau diulangi sampai tiga kali.

 

Nisfu Sya’ban

Apakah ada acara nisfu Sya’ban seperti orang-orang ramai dengan membaca surat Yasin?

085236XXXXXX

  • Jawaban:

Hal demikian adalah bid’ah, karena amalan tersebut secara khusus pada malam nisfu Sya’ban tidak ada dalilnya.

 

Mandi Junub Saat Sakit

Ketika seseorang sedang sakit dan berhadats besar, sementara dia belum mampu untuk mandi, bagaimana dengan shalatnya?

081914XXXXXX

  • Jawaban:

Jika belum mampu mandi dengan air dingin, wajib mandi dengan air hangat. Jika dengan air hangat juga khawatir termudaratkan, tayammum. Jika sudah sembuh, wajib mandi. Lihat buku kami Panduan Syar’i Cara Bersuci.

 

Takjil Buka Puasa Sekaligus Fidyah

Bagaimana bila saat memberikan takjil buka bersama di masjid diniatkan pula untuk membayar fidyah?

087738XXXXXX

  • Jawaban:

Fidyah hanya diberikan kepada fakir miskin. Dengan demikian, tidak mengapa memberikan fidyah itu kepada fakir miskin untuk makanan buka puasanya. Satu fidyah untuk satu fakir miskin. Adapun diberikan untuk takjil buka puasa di masjid, artinya akan dimakan secara umum oleh yang hadir yang boleh jadi porsi satu fakir miskin dimakan oleh dua orang atau lebih, apalagi yang hadir takjil di masjid ada yang tidak tergolong fakir miskin, maka tidak terhitung fidyah.

 

Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang

Apakah zakat fitrah dengan uang itu diperbolehkan? Mana yang lebih baik, dengan beras atau uang?

085758XXXXXX

  • Jawaban:

Zakat fitrah wajib dengan beras, tidak boleh diganti dengan uang.

 

Mengembalikan Barang Hilang Orang Kafir

Apakah kita berkewajiban untuk mengembalikan barang milik orang kafir (misal: dompet) padahal di dompet tersebut hanya ada alamatnya dan berada di luar kota sehingga kita kesulitan untuk mengembalikannya?

085758XXXXXX

  • Jawaban:

Jika Anda bisa memastikan pemilik dan alamatnya, kirim dompet itu lewat pos atau semacamnya dengan biaya pengiriman diambil dari uang yang ada di dompet itu. Jika pemiliknya tidak dapat Anda pastikan, umumkan di tempat umum atau lewat media yang diduga kuat akan sampai beritanya kepada yang bersangkutan selama setahun, tetapi tidak membeberkan secara lengkap barang temuan itu agar yang datang mengaku bisa Anda uji kebenarannya. Setelah setahun pemiliknya tidak datang juga, ada tiga pilihan:

  1. Anda manfaatkan secara pribadi. Namun, jika suatu saat pemiliknya datang, Anda ganti.
  2. Disedekahkan kepada fakir miskin. Namun, jika suatu saat pemiliknya datang, Anda ganti dan pahalanya untuk Anda.
  3. Tetap Anda simpan sampai pemiliknya datang.

 

Mandi Ketika Masuk Islam

Adakah mandi khusus bagi seorang nonmuslim jika hendak masuk Islam?

08992XXXXXX

  • Jawaban:

Langkah-langkah jika seseorang hendak memeluk agama Islam:

  1. Mengucapkan dua kalimat syahadat dengan terpenuhi syaratnya yang diterangkan padanya. Lalu disuruh mandi.
  2. Disaksikan oleh seorang muslim yang istiqamah agamanya, bisa di rumah atau tempat lainnya. Sebaiknya dipersaksikan hal itu kepada pihak KUA atau lembaga pemerintah yang mengurusi masalah ini agar diakui keislamannya untuk dapat mengurus KTP dengan status agama Islam.

 

Numpang Mahram

Bagaimana hukum “numpang mahram”? Contohnya, seorang wanita pergi ke sebuah pondok pesantren dalam keadaan jauh dari mahramnya, dia ikut temannya yang bersama mahramnya.

087858XXXXXX

  • Jawaban:

Hal itu haram. Wanita yang safar harus didampingi mahram yang telah baligh dan mampu melindunginya.

 

Pakaian Ihram Wanita

Pada Majalah Asy Syariah edisi 79 rubrik “Problema Anda” dijelaskan bahwa wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar dan kaos tangan. Apakah hukum itu mutlak tanpa melihat ada tidaknya fitnah membuka wajah mengingat di sana berkumpul pria dan wanita dari seluruh penjuru dunia?

085869XXXXXX

  • Jawaban:

Hal itu mutlak. Akan tetapi, jika seorang wanita yang berihram berpapasan lelaki ajnabi (bukan mahram), wajib menutup wajahnya dengan selain cadar dan yang semakna dengan cadar (mengikat sapu tangan di wajahnya), tetapi dengan cara menutupnya dengan ujung jilbab. Adapun kedua telapak tangan, wajib terhijab di balik jilbab tanpa kaos tangan.

 

Shalat dengan Celana yang Menutup Mata Kaki

Sebagian orang mengatakan bahwa kalau shalat tidak kelihatan mata kaki, maka tidak sah. Apa benar demikian?

082192XXXXXX

  • Jawaban:

Shalat dengan pakaian isbal (menutup mata kaki) sah, tetapi pelakunya berdosa. Sebab, ada hadits sahih yang mengharamkan isbal secara umum di luar dan di dalam shalat. Adapun hadits bahwa shalat dengan isbal tidak diterima oleh Allah ‘azza wa jalla, hadits yang lemah.

 

Hewan Buruan Mati Tertembak

Apakah halal hewan buruan yang mati ditembak yang sebelumnya diucapkan basmalah tanpa disembelih?

081996XXXXXX

  • Jawaban:

Jika kena bagian vital yang mematikan seperti jantung, halal tanpa disembelih. Jika hanya melukai bagian yang tidak vital (tidak mematikan) lantas mendapatinya masih hidup, tidak halal tanpa disembelih (wajib disembelih).

Kecuali jika kehilangan jejak lantas ditemukan dalam keadaan telah mati karena luka itu, maka halal.