Keutamaan Sahabat dalam Al-Qur’an

 

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah (surga-surga) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

  Lanjutkan membaca Keutamaan Sahabat dalam Al-Qur’an

Sahabat

Pengertian sahabat adalah siapa saja yang bertemu Nabi Muhammad n dalam keadaan beriman dengannya dan meninggal di atas Islam.

 

Penjelasan

(yang bertemu)

Termasuk dalam hal ini adalah siapa saja yang pernah bertemu Nabi n baik lama maupun sebentar, yang meriwayatkan hadits dari beliau maupun tidak, yang berperang bersama beliau maupun tidak, dan orang yang sekilas melihat beliau walaupun tidak bermajelis dengannya, serta orang yang tidak melihat beliau karena cacat, seperti buta.

 

(dalam keadaan beriman)

Dengan definisi ini, terkecualikan siapa saja yang bertemu dengan beliau dalam keadaan kafir, walaupun setelah itu masuk Islam, apabila tidak berjumpa dengan beliau pada waktu yang lain.

 

(dengannya)

Siapa saja yang berjumpa dengan beliau tetapi beriman dengan selain beliau, berarti tidak termasuk sahabat. Contohnya, mereka yang berjumpa dengan beliau dari kalangan ahli kitab yang mukmin sebelum beliau diangkat menjadi nabi.

 

(meninggal di atas Islam)

Orang yang berjumpa beliau dalam keadaan iman kemudian murtad dan meninggal dalam keadaan murtadsemoga Alah ‘azza wa jalla melindungi kita darinyatidak termasuk sahabat.

Contohnya, Ubaidillah bin Jahsy, suami Ummu Habibah, yang masuk Islam lalu masuk Kristen saat berada di Ethiopia dan meninggal dalam keadaan Kristen. Demikian pula Abdullah bin Khathal dan Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf yang murtad setelah masuk Islam.

 

Adapun orang yang murtad lalu kembali masuk Islam sebelum meninggal, baik bertemu Nabi lagi maupun tidak, dia termasuk sahabat. Inilah pendapat yang benar dan menjadi patokan.

Tentang yang bertemu lagi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada perbedaan. Adapun yang tidak bertemu lagi, yang benar tetap disebut sahabat. Sebab, ahli hadits bersepakat menganggap Asy’ats bin Qais termasuk sahabat dan meriwayatkan hadits-haditsnya dalam kitab Shahih maupun Musnad, padahal dia termasuk orang yang murtad lalu kembali ke Islam pada masa kekhalifahan Abu Bakr.

(diringkas dari Muqaddimah al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah, karya Ibnu Hajar oleh al-Ustadz Qomar Sua’idi, Lc)