Lagi, Kasus Pembunuhan Oleh Syiah

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

Terbunuhnya Ratusan Ahlus Sunnah Dalam Penjara

ancient-prison-ruins

Diceritakan oleh Ni’matullah al-Jazairi bahwa Ali bin Yaqthin, seorang menteri ar-Rasyid, telah memenjarakan sekelompok orang yang menyelisihinya. Dia lalu menyuruh anak-anaknya untuk merobohkan atap penjara hingga menimpa para tawanan tersebut. Mereka semua mati. Jumlahnya sekitar 500 orang.

Setelah itu, ia ingin terbebas dari hukuman akibat menumpahkan darah mereka. Dia mengirim berita kepada Imam Maulana al-Kazhim. Al-Kazhim membalas suratnya dengan mengatakan, “Jika engkau memberi tahu aku sebelum membunuh mereka, tidak ada hukuman apa pun dari tertumpahnya darah mereka. Namun, karena engkau tidak memberitahuku, tebuslah kesalahan itu dengan perhitungan satu orang yang terbunuh diganti dengan satu ekor kambing, sedangkan kambing lebih baik darinya.”

(al-Anwar an-Nu’maniyah, 3/308; lihat Lillahi Tsumma li at-Tarikh hlm. 90)

Pembunuhan Ahmad Al-Kasrawi

Pistol jadul

Ahmad Mir Qasim bin Mir Ahmad al-Kasrawi dilahirkan di Tibriz, ibukota Azerbaijan. Dia adalah seorang profesor di Universitas Teheran dan menduduki sejumlah jabatan di kejaksaan. Selain itu, ia juga beberapa kali menjabat sebagai kepala kantor kehakiman di beberapa kota di Iran, hingga di Teheran. Dia termasuk salah seorang pengawas di empat departemen kehakiman, kemudian menjabat jaksa penuntut umum di Teheran. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur Majalah Burjum Iran. Beliau menguasai bahasa Arab, Turki, Inggris, Armenia, Persia, dan bahasa Persia lama, Pahlevi.

Dia memiliki banyak tulisan dan makalah yang tersebar di Iran. Makalah-makalah tersebut memiliki kekuatan ilmiah yang menyerang prinsip ajaran mazhab Syiah. Makalahnya menarik perhatian banyak kalangan terdidik dan beberapa organisasi yang bekerja di negeri tersebut. Makalah-makalahnya juga diterima oleh berbagai kalangan masyarakat dengan beragam pemikiran dan keyakinan, khususnya kalangan pemuda lulusan madrasah. Ribuan orang pun mendukung dan membelanya. Mereka pula turut menyebarkan banyak pemikiran dan kitabnya.

Pemikirannya menyebar hingga sebagian negara Arab, seperti Kuwait. Sebagian orang Kuwait meminta al-Kasrawi menulis beberapa kitab dalam bahasa Arab agar mereka dapat mengambil faedah darinya. Beliau pun menulis buku untuk mereka dengan judul at-Tasyayyu’ wa asy-Syiah, yang menjelaskan batilnya mazhab Syiah dan bahwa penyelisihan kaum Syiah terhadap kaum muslimin hanya bersandar kepada sikap fanatik dan keras hati.

Namun, belum sempat menyelesaikan kitab ini, beliau ditembak dengan pistol oleh sekelompok Syiah di Iran. Beliau pun masuk rumah sakit dan menjalani operasi hingga sembuh. Kajian Utama

Kalangan Syiah menuduh beliau menyelisihi Islam. Mereka mengangkat masalahnya kepada departemen kehakiman. Akhirnya dia dipanggil untuk diinterogasi. Pada akhir pertemuan dalam interogasi yang terjadi pada 1324 H (sekitar 1906 M) tersebut, beliau ditembak sekali lagi, ditambah tusukan sebilah pisau. Beliau pun meninggal setelah kejadian itu dalam keadaan di tubuhnya terdapat 29 luka.

Yang membunuh al-Kasrawi dan melakukan tindakan kejahatan ini secara langsung adalah seorang Syiah fanatik, pemimpin kelompok tentara “Islam” yang bernama Nawab Shafawi. Seorang wartawan Mesir, Musa Shabri, menyingkap hal ini melalui wawancara yang ia adakan bersama si pembunuh tersebut dan disebarkan melalui koran al-Anba’ al-Kuwaitiyah, terbit tanggal 16/6/1990 M. Berikut ini teksnya.

Nawab Shafawi, pimpinan kelompok tentara Islam, mengatakan bahwa dia—al-Kasrawi—adalah orang yang merusak Islam dan kaum muslimin dengan tulisannya. Oleh karena itu, aku (Nawab Shafawi) ingin membunuhnya dengan tanganku karena membela syariat, agama, dan rasa cemburu terhadapnya.

Suatu hari aku menghadangnya di sebuah jalan umum bersama seorang saudaraku. Dia bersama 14 orang pendampingnya yang disebut Jama’ah Harbiyah. Aku memiliki pistol kecil ketika itu. Aku pun menembaknya dengan pistol. Namun, ternyata pistol tersebut tidak membuatnya terluka parah. Peperangan berlanjut antara kami di jalan tersebut selama 3 jam, namun dia tidak mati.

Sementara itu, aku ingin segera menyelesaikan pembunuhan terhadapnya hingga aku membunuhnya di hadapan pemerintah di jalan Allah. Aku pun membunuhnya dengan pistol yang ada di tanganku, sementara jama’ahnya melarikan diri. Al-Kasrawi sendiri di antara kami dan manusia yang berkumpul di sekitarnya. Setelah aku sangka dia telah mati atau akan mati dalam waktu dekat, aku berdiri di sisi jasadnya sambil kusampaikan beberapa kalimat di tengah manusia. Kami ditahan di penjara Teheran. Kejadian ini diekspos di berbagai koran. Aku berdoa kepada Allah di dalam penjara agar segera mematikannya dengan hasil tembakanku. Semoga kami diberi mati syahid di jalan-Nya dengan ganjaran pahala.

Al-Kasrawi ternyata mengalami sakit parah di rumah sakit dan belum mati. Aku tidak mengetahui, apa pengaturan Allah dalam hal ini.

Kemudian aku dikeluarkan dari penjara. Aku membuat kelompok yang telah bersiap untuk menumpahkan darah mereka di jalan Islam dan aku mengumumkan hal ini. Tersingkaplah beberapa koran yang seringkali membela slogan al-Kasrawi yang menyesatkan. Mereka takut kepada kami. Mereka tidak berani menulis apa pun karena kejelekan yang terdapat dalam diri mereka. Sementara itu, jamaah yang menjadi pengikutnya yang berjumlah sedikit berdiam diri.

Setelah tiga bulan, al-Kasrawi keluar dari rumah sakit. Suatu hari aku menghadangnya di pengadilan militer tempat kasus kami disidangkan. Ketika itu aku tidak membawa senjata untuk membunuhnya. Akan tetapi, ada seorang tentara yang sedang membawa senjata. Aku ingin mengambil senjata itu dari tangannya untuk membunuh al-Kasrawi di pengadilan tersebut.

Saat aku berhasil mengambilnya, semua yang ada di hadapanku ketakutan. Tentara, para hakim, demikian pula al-Kasrawi juga ketakutan. Setiap orang yang berada di pengadilan panik berlarian. Sidang pengadilan akhirnya kacau. Aku keluar dari pengadilan dan tidak lagi memenuhi panggilan hukum setelah itu. Aku tidak akan kembali ke pengadilan itu lagi.

Aku mengirim pesan kepada pengadilan dan berkata, “Saya tidak berpendapat harus berhukum kepada kalian sehingga harus memenuhi panggilan kalian. Sebab, kalian jauh dari agama Allah dan Islam. Pemerintah kalian justru marah. Menurut pendapatku, al-Kasrawi lah yang wajib dihukum, bukan kami. Sebab, dia melampaui batas terhadap agama. Oleh karena itu, aku telah mengumpulkan tanda tangan ribuan orang yang menyatakan bahwa pemerintah wajib menyeret al-Kasrawi ke kantor pengadilan syariat, lalu dia dihukum karena kafirnya dia terhadap agama Allah.”

Akhirnya, pemerintah mengabulkan permintaanku. Pemerintah menetapkan waktu perjanjiannya, sementara hari itu aku telah bertekad untuk membunuhnya. Sebab, inilah satu-satunya balasan untuk dirinya.

Bangkitlah sembilan orang saudaraku untuk membunuhnya di pengadilan. Akhirnya, mereka berhasil membunuhnya, pengikut, dan penjaganya. Para tentara berlarian, demikian pula para hakim, dan lainnya. Mereka ketika itu berjumlah tiga ribu orang yang datang untuk menyaksikan jalannya pengadilan, dan utusan kami kembali tanpa ada yang melakukan perlawanan terhadapnya.

(Haqiqatu asy-Syiah Hatta La Nankhadi’, Abdullah al-Mushili, hlm. 198—200)

Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

Abbasids_Dynasty_750_-_1258_(AD)

Pada 656 H, terjadi tragedi pembunuhan besar-besaran terhadap Ahlus Sunnah. Hal ini disebabkan oleh pengkhianatan Syiah Rafidhah yang menyusup dalam pemerintahan Ahlus Sunnah. Kitab-kitab sejarah menyebutkan bahwa tragedi tersebut terjadi ketika masuknya bangsa Tartar ke Baghdad kemudian membunuh mayoritas penduduk, termasuk Khalifah. Runtuhlah Daulah ‘Abbasiyah melalui tangan mereka.

Semua ini terjadi karena ulah seorang Syiah Rafidhah yang bernama Muhammad bin al-‘Alqami ar-Rafidhi. Ketika itu, pertikaian antara Ahlus Sunnah dengan Syiah sangat kuat. Ibnu al-‘Alqami dan Nashiruddin at-Thusi ar-Rafidhi yang berhasil masuk dalam pemerintahan Bani Abbasiyah dan menjadi menteri kepercayaan, menyimpan dendam terhadap Ahlus Sunnah.

Ketika itu, pemerintahan dipimpin oleh Khalifah al-Musta’shim Billah. Sebelum terjadinya tragedi tersebut, Ibnul ‘Alqami berusaha memperkecil jumlah pasukan pemerintahan kekhilafahan Abbasiyah. Sebelumnya pada masa al-Muntashir, tentara di Baghdad berjumlah seratus ribu orang prajurit perang, di antaranya ada para panglima perang. Ibnul ‘Alqami terus melakukan pengurangan hingga berjumlah kurang lebih sepuluh ribu orang prajurit.

Setelah itu, dia mengirim surat kepada Tartar dan memberi kemudahan kepada mereka untuk menguasai Baghdad sambil mebeberkan kondisi sebenarnya pemerintahan Abbasiyah. Semua ini ia lakukan dengan tujuan melenyapkan Sunnah secara menyeluruh, menghidupkan bid’ah Rafidhah, mengangkat khalifah dari kalangan Fathimiyah, dan membunuh para ulama serta ahli fatwa.

Masuklah bangsa Tartar dari Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan bersama pasukan yang berjumlah kurang lebih dua ratus ribu orang prajurit. Berdasarkan arahan Ibnul ‘Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi ar-Rafidhi, pada 10 Muharram, mereka mengepung kota Baghdad dari arah barat dan timur.

Pasukan Baghdad sendiri sangat sedikit jumlahnya dan sangat lemah kekuatan persenjataannya. Khalifah yang sudah semakin terjepit kekuasaannya berusaha melakukan genjatan senjata dengan Hulagu Khan dengan memberikan berbagai jenis harta yang melimpah, berupa emas, perhiasan, mutiara, dan barang-barang berharga lainnya.

Namun, Ibnul Alqami, Nashiruddin at-Thusi, dan yang bersamanya, menyarankan agar Hulagu Khan tidak menerima tawaran perdamaian tersebut. Bahkan, mereka menganjurkannya untuk membunuh Khalifah.

Tatkala Khalifah menghadap Hulagu, Hulagu pun memerintahkan untuk membunuhnya. Lalu pasukan Tartar memasuki Baghdad dan membunuh semua yang mereka temui: lelaki, wanita, anak-anak, orang tua, dan para pemuda. Banyak manusia yang dilemparkan ke sumur dan tempat sampah. Sebagian orang berkumpul di kedai sambil menutup pintu mereka. Bangsa Tartar mendatangi dan membuka paksa atau membakarnya dengan api. Mereka kemudian masuk ke dalamnya. Penduduk yang ada di dalam, naik ke atap sehingga mudah dibunuh. Akibatnya, darah bercucuran di lorong. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Demikian pula yang terjadi di masjid dan semua tempat berkumpul. Tidak ada seorang pun yang keluar selain ahli dzimmah dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Beberapa pedagang mencoba berlindung di rumah Ibnul ‘Alqami, ath-Thusi, dan pengikutnya dengan membayar upeti agar selamat.

Warna air sungai Dajlah berubah menjadi merah disebabkan banyaknya Ahlus Sunnah yang terbunuh. Sungai-sungai bercampur dengan darah hingga mengubah warnanya. Setelah itu, sungai berubah menjadi warna biru karena banyaknya kitab para ulama yang dilempar ke dalam sungai tersebut.

Para ahli sejarah berselisih tentang jumlah kaum muslimin yang terbunuh di Baghdad ketika itu. Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya 800.000 orang, ada yang berkata 1.800.000 orang, ada pula yang berkata 2.000.000 jiwa.

Bangsa Tartar memasuki Baghdad pada akhir bulan Muharram. Pedang-pedang mereka terus mencari mangsa selama empat puluh hari. Khalifah al-Musta’shim Billah terbunuh pada hari Rabu, tanggal 14 Shafar, pada usia empat puluh enam tahun, setelah khilafahnya bertahan selama lima belas tahun delapan bulan.

(Secara ringkas dinukil dari al- Bidayah wa an-Niyahah jilid 1, hlm. 356—364, Ibnu Katsir. Lihat pula Tarikh al-Khulafa, karya Jalaluddin as- Suyuthi, hlm. 366—373, dan Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 91)

MUNCULNYA BANGSA PERUSAK

Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah, kita pernah demikian akrab dengan sebutan bangsa Mongol/Tartar, sebuah bangsa yang juga dikenal akrab dengan perang. Bangsa itu digambarkan oleh buku sejarah sebagai bangsa perusak, yang menebar darah dan kekacauan di
hampir sepertiga wilayah bumi. Jelajahnya demikian luas termasuk pernah sampai ke negeri kita ini.

Namun terlepas dari kemurnian atas fakta sejarah itu –karena memang senyatanya banyak sejarah yang disimpangkan, termasuk sejarah Islam sendiri-, Al-Qur’an mengungkap, ternyata di kemudian hari masih ada ”bangsa Mongol jilid II” yang menebar kerusakan yang jauh lebih dahsyat. Bangsa itu dikenal dengan nama Ya`juj dan Ma`juj.

Diterangkan dalam banyak hadits, bangsa itu telah ada sekarang dan ”dipagari” sebuah dinding logam yang hanya akan terbuka menjelang hari kiamat. Bisa jadi muncul pertanyaan, bagaimana mungkin di zaman serba canggih seperti sekarang, ada “kehidupan” di muka bumi yang belum terendus oleh teknologi (satelit)? Itulah manusia. Kadang ia masih terlalu angkuh untuk menyadari kelemahannya. Seakan dengan teknologi, manusia bisa melakukan segalanya. Kita belum lupa, hampir seabad silam, menjelang peluncuran kapal Titanic untuk pertama kalinya (sekaligus yang terakhir kalinya), perancangnya sempat sesumbar bahwa tidak ada yang bakal mampu menenggelamkan kapal yang sangat canggih (kala itu), termasuk Tuhan sekalipun.

Titanic, hanyalah sekelumit potret kepongahan manusia.  Sekarang, kita juga masih bisa menyaksikan –di zaman yang sekali lagi sudah sangat canggih MUNCULNYA BANGSA PERUSAK ini- banyak daerah yang belum terjamah oleh peradaban. Ingat, benua Amerika juga baru ”ditemukan” oleh bangsa Eropa beberapa abad lalu. Demikian juga masih banyak dataran tinggi di muka bumi ini yang belum berhasil ditaklukkan manusia. Belum lagi alam jin yang sudah ada semenjak kehidupan ini diciptakan, sudahkah manusia menemukan alat canggih yang bisa menjelajahinya?

Sebagai muslim, semestinya kita mengedepankan keimanan. Bukan dengan logika manusia yang dangkal kita justru hendak mementahkan sebuah berita ghaib yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Berita penaklukan Romawi Timur (Kekaisaran Byzantium) dan Persia, dua kekuatan adidaya kala itu oleh Islam sudah diberitakan jauh-jauh hari sebelumnya oleh Rasulullah n. Meski sangat mungkin hal itu menjadi sesuatu yang mustahil (baca: tidak masuk akal) terjadi menurut cara pandang manusia di masa itu. Sehingga sekali lagi, tak sepatutnya syariat ini hanya dilihat dari satu dimensi, yakni logika semata.

Pembaca, setelah nasihat dan boikot, ada upaya pamungkas yang bisa dilakukan suami dalam rangka meluruskan ”kebengkokan” istri, yakni pemukulan. Ini bukanlah kedzaliman karena Islam telah mengatur rambu-rambunya. Karena pembiaran atau bahkan mempermisikan penyimpangan yang dilakukan istri bisa membiak menjadi kerusakan yang lebih besar yang justru mengancam keutuhan rumah tangga.

Pembaca, dua tema di atas bisa jadi membuat anda ”ragu” sejenak. Namun keraguan anda akan terjawab jika anda mengkaji lebih dalam lembar demi lembar majalah dalam edisi kali ini insyaAllah. Selamat menyimak!

Bahaya Menyelisihi Ulama

Menyelisihi ulama bisa berakibat sangat fatal. Banyak kisah orang-orang terdahulu yang menyelisihi ucapan ulama berakhir dengan kehancuran.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa ia menyatakan, Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di majelis dan bicara di hadapan orang-orang, datang seorang Arab Badui seraya menyatakan, kapan hari kiamat? Tapi Rasul tetap meneruskan pembicaraannya, sehingga sebagian yang hadir menyatakan, beliau mendengar apa yang dikatakan tapi beliau tidak suka dengan apa yang dikatakan. Sebagian yang lain menyatakan beliau tidak mendengarnya.

Sampai beliau menyudahi pembicaraannya lalu berkata, “Di mana orang yang bertanya tentang hari kiamat?”

Maka penanya berkata, “Ini saya, ya Rasulullah.”

Beliau berkata: “Jika amanah telah ditelantarkan maka tunggulah hari kiamat.” Ia menyatakan, “Bagaimana terlantarnya?” Jawabannya, “Jika sebuah perkara diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah hari kiamat.”

Dalam hadits lain terdapat ancaman kesesatan untuk yang tidak rujuk kepada ulama dalam fitnah. Sabdanya, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba akan tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama. Manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pimpinan, maka ditanyalah pimpinan-pimpinan itu sehingga berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr)

Mudah-mudahan dua hadits ini bisa mencegah kelalaian banyak kaum muslimin terhadap perkara tersebut.

Fitnah Ibnu Muthi’

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ

“Sungguh benar-benar pada kisah mereka itu ada ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (Yusuf: 111)

Dalam sejarah Islam, kejadian Al-Harrah adalah kejadian yang sangat masyhur sekaligus sangat menyedihkan. Orang yang mendengarnya niscaya akan berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala darinya.

Mulanya ketika Yazid bin Mu’awiyah menjabat sebagai khalifah setelah ayahnya, tersebar berita-berita buruk tentangnya, khususnya berita tentang kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukannya. Sampailah berita itu kepada sebagian kaum muslimin, di antaranya Abdullah bin Muthi’. Mendengar hal itu, bangkit ghirah keagamaannya.

Ringkas cerita, ia bertekad mencabut baiatnya terhadap Yazid dan melakukan kudeta. Maka ia mengirim utusan guna mengultimatum Yazid dan mengajaknya untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan diberi waktu sampai tiga hari. Sepulangnya mereka ke Madinah, Abdullah bin Muthi’ bersama rekan-rekannya mendatangi Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali bin Abi Thalib. Mereka menginginkan beliau untuk bersama-sama memberontak Yazid, tapi beliau menolaknya.

Berkatalah Ibnu Muthi’, “Sesungguhnya Yazid minum khamr, meninggalkan shalat dan melanggar hukum Al Qur’an.”

Muhammad bin Hanafiyah menjawab, “Aku tidak melihat apa yang kalian sebutkan pada dirinya. Dan aku pernah mendatanginya bahkan tinggal di sana, justru yang aku lihat dia selalu shalat, mencari kebaikan, bertanya masalah fiqh dan berpegang kuat dengan sunnah.”

Mereka menyatakan, “Itu dibuat-buat karena dia di hadapanmu.”

Jawabnya: “Apa yang dia takutkan atau yang dia harapkan dariku sehingga dia perlu menampakkan kekhusyukannya di hadapanku? Apakah dia menampakkan kepada kalian meminum khamr? Jika dia menampakkan kepada kalian yang demikian berarti kalian sama dengan dia. Tapi jika tidak, maka tidak halal bagi kalian bersaksi tentangnya sesuatu yang kalian tidak ketahui.”

Mereka katakan, “Sesungguhnya menurut kami benar adanya walaupun kami tidak melihatnya.”

Beliau menjawab, “Allah subhanahu wa ta’ala menolak yang demikian pada orang yang bersaksi. Firman-Nya: ‘Kecuali orang yang bersaksi dengan Al Haq sedang mereka mengetahui’. Aku tidak ikut-ikutan urusan kalian sedikitpun.”

Mereka katakan, “Mungkin engkau tidak suka kalau yang memimpin selainmu, jika demikian kami jadikan engkau pimpinan kami.”

Beliau menjawab, “Aku tidak menghalalkan pemberontakan ini sebagaimana yang kalian inginkan dariku baik aku jadi pemimpin atau yang dipimpin.”

Mereka katakan, “Dulu engkau ikut bersama ayahmu berperang (yakni melawan Muawiyah, semoga Allah subhanahu wa ta’ala ridha pada mereka).”

Jawabnya, “Datangkan kepadaku orang yang seperti ayahku. Aku akan memerangi seperti yang diperangi ayahku.”

Mereka katakan, “Kalau begitu perintahkan dua anakmu Abul Qosim dan Qosim untuk berperang bersama kami.”

Beliau menjawab, “Kalau aku perintahkan keduanya, aku juga akan berperang.”

Mereka katakan, “Kalau begitu bangkitlah bersama kami untuk sekedar menganjurkan orang berperang bersama kami.”

Beliau menjawab, “Subhanallah, apakah aku akan memerintahkan kepada orang-orang sesuatu yang aku tidak melakukan dan meridhainya? Kalau begitu aku tidak punya maksud baik pada hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mereka katakan, “Kalau begitu kami akan membencimu.”

Beliau menjawab, “Kalau begitu aku akan memerintahkan manusia untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak mencari ridhanya mahkluk dengan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala.” Lalu beliau pergi ke Makkah.

Datang Abdullah bin Umar kepada Abdullah bin Muthi’, maka Ibnu Muthi’ menyatakan, “Berikan bantal kepada Abi Abdirahman (yakni Ibnu Umar).”

Ibnu Umar menjawab, “Aku tidak datang kepadamu untuk duduk, akan tetapi aku datang untuk memberitahumu sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Barangsiapa mencabut tangannya dari bai’at, ia akan bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki hujjah, dan barangsiapa meninggal sedangkan tiada bai’at di lehernya dia akan meninggal seperti meninggalnya orang-orang jahiliyah.” (Shahih, HR. Muslim bersama kisahnya)

Ibnu Katsir menuturkan, “Ketika orang-orang Madinah keluar dari ketaatan Yazid dan menjadikan Ibnu Muthi’ dan Ibnu Handhalah sebagai pimpinan mereka, mereka tidak menyebutkan tentang Yazid -mereka adalah orang-orang yang sangat benci terhadapnya- kecuali bahwa Yazid minum khamr dan melakukan hal-hal yang kotor…

Sedang Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma  dan banyak dari keluarga Nabi tidak mencabut bai’at dari Yazid bin Muawiyah. Ibnu Umar bahkan mengumpulkan anak-anak dan keluarganya kemudian menyatakan, ‘Sungguh kita telah berbai’at kepada orang ini di atas bai’at kepada Allah dan Rasul-Nya dan sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh orang yang berkhianat, nanti pada hari kiamat akan ditancapkan untuknya sebuah bendera, lalu dikatakan ini adalah pengkkhianatan fulan.” (ShahihHR. Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi. Lihat Shahihul Jami’ 1682)

Dan sungguh, termasuk pengkhianatan yang paling besar -selain syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala– adalah seorang yang berbai’at kepada orang lain di atas bai’at kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya lalu ia membatalkannya. Maka janganlah seorangpun di antara kalian mencabut bai’atnya dari Yazid dan jangan seorangpun di antara kalian melampaui batas dalam masalah ini sehingga ini menjadi pemisah antara aku dan dia’.”

Pada tahun 63 H sampai berita kepada Yazid bahwasanya orang-orang Madinah ingin memberontak dan keluar dari kepemimpinannya. Maka ia mengirim tentara yang cukup besar dengan perintah memerangi mereka yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah. Mereka diperingatkan untuk kembali taat kepada Yazid bin Mu’awiyah dalam waktu tiga hari. Jika tidak, mereka akan memasuki kota Madinah dengan pedang. Akhirnya tentara-tentara itu membunuh, merampas, dan menyingkap kehormatan wanita.

As-Suyuthi menukilkan dari Al-Hasan Al-Bashri, ucapannya: “Demi Allah, hampir-hampir tidak ada seorang pun yang selamat darinya.”

Beberapa shahabat meninggal dalam kejadian itu, di antaranya Buraidah bin Khushaib dan Ummu Salamah. (Bidayah dan Nihayah, 8/232-233, Wasiyat Kubra Ibnu Taimiyah hal. 45, Tarikh-Khulafa` hal. 237-238, Mu’amalatul Hukkam hal. 19-22)

Sungguh menyedihkan kejadian itu. Kota Madinah yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan, para shahabat yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai, wanita-wanita yang Allah subhanahu wa ta’ala kasihi, semuanya seakan tak bernilai dalam kejadian itu. Apakah sebab sebenarnya? Nampak jelas dalam kisah itu bahwa hal ini disebabkan mereka tidak mengambil nasehat para ulama dalam fitnah ini. Mereka lebih mengikuti dorongan semangat dan ghirah keagamaan yang tidak dilandasi dengan ketakwaan yang hakiki dan ilmu yang mapan. Jadikanlah kisah ini sebagai pelajaran.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi,Lc.