Nasehat Seorang Alim Akan Bahaya Surat Kabar dan Majalah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Dalam salah satu ceramahnya yang penuh berkah, Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin, semoga Allah l merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas, menyampaikan satu nasihat dan peringatan berkaitan dengan tersebar luasnya surat kabar dan majalah yang sarat dengan kejelekan. Penuh dengan kerendahan moral dan akhlak, serta bertentangan dengan fitrah yang lurus. Karena faedah yang tak patut diluputkan, kami sengaja membawakannya dengan sedikit meringkas, untuk pembaca yang mulia dalam rubrik ini.

Asy-Syaikh yang mulia mengatakan, “Wahai sekalian manusia. Bertakwalah kalian kepada Allah l, dan berhati-hatilah dari fitnah baik yang zhahir maupun yang batin. Waspadailah segala perkara yang dapat memfitnah kalian dari agama, kehormatan, dan akhlak kalian. Karena fitnah itu amat mudah diserap oleh hati, lalu ia akan memalingkan hati dari berzikir kepada Allah l dan dari mengerjakan shalat. Fitnah itu berjalan masuk ke dalam hati yang semula putih bersih, lalu hati itu beroleh syubhat dan kegelapan. Fitnah itu berjalan menuju hati yang semula lembut dan mudah berzikir kepada Allah l dan khusyu’/tunduk di hadapan kebesaran-Nya, lalu jadilah hati tersebut keras dan sombong. Fitnah itu berjalan ke dalam hati lalu menghancurkannya sebagaimana racun berjalan masuk ke dalam tubuh lalu merusaknya.

Berhati-hatilah dari fitnah seluruhnya, wahai sekalian mukmin. Jangan kalian mengatakan kami orang-orang beriman, kami orang-orang yang istiqamah hingga sebab-sebab fitnah tidak akan berpengaruh kepada kami. Jangan kalian mengatakan demikian, karena panah-panah iblis itu dapat menembus. Sungguh Rasulullah n memerintahkan untuk lari dari Dajjal karena khawatir fitnahnya. Beliau n bersabda:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللهِ أَنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسَبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ بِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ

“Siapa yang mendengar Dajjal telah keluar, hendaklah ia menjauh darinya (jangan mendatangi Dajjal). Demi Allah, sungguh ada seseorang yang mendatangi Dajjal dalam keadaan ia menyangka ia seorang mukmin (tidak mungkin terfitnah dengan Dajjal), namun ternyata ia menjadi pengikut Dajjal karena terfitnah dengan syubhat-syubhat yang ditunjukkan/ditampakkan Dajjal.” (HR. Abu Dawud)1

Hadits ini merupakan tanda yang membimbing kita ketika menghadapi setiap fitnah agar kita menjauhinya.

Di zaman ini sungguh banyak sebab fitnah dan beragam caranya, serta terbuka pintunya dari segala arah. Dunia dibuka sehingga banyak orang berlomba-lomba ingin meraihnya. Akibatnya, dunia membinasakan mereka.

Di zaman ini bermunculan beragam media baik yang didengar ataupun yang dilihat di saat banyaknya waktu luang sehingga orang-orang pun menetapi/menekuninya. Akibatnya, hilang maslahat agama dan dunia mereka.

Sarana media massa berupa surat kabar, majalah, dan selainnya memiliki dampak/pengaruh bagi akidah, cara hidup, dan akhlak dalam masyarakat. Bila media tersebut dipakai dalam kebaikan, mengajarkan manusia akan agama mereka dan kemaslahatan dunia mereka, niscaya ia akan menjadi sarana paling utama dan paling bermanfaat. Namun bila dipergunakan untuk yang sebaliknya, niscaya termasuk sarana yang paling merusak. Sangat disesalkan, di antara surat kabar, majalah, dan selainnya memang ada yang mengajak kepada kejelekan, kerusakan, menyimpangkan ayat-ayat Allah l serta membelokkan makna Kitabullah dari yang semestinya. Media massa seperti ini mengajak kepada kerendahan akhlak dan melepaskan diri dari sifat-sifat keutamaan.

Majalah-majalah itu berisi kata-kata cinta dan asmara yang tersusun dan bersajak. Ada gambar wanita-wanita cantik yang membangkitkan syahwat dan memfitnah hati. Sampai-sampai ada majalah yang mengadakan lomba gadis sampul. Siapa di antara pesertanya yang paling cantik, dialah pemenangnya. Lalu wajahnya dipajang di sampul depan majalah tersebut. Didapatkan pula gambar laki-laki dan perempuan yang berangkulan dan berpelukan. Ada pula pajangan pakaian dengan berbagai model yang sungguh tidak bisa diterima oleh agama samawi, dan tidak pula oleh hati kecil yang bersih. Ditemui pula ajakan untuk merokok dengan gambar lelaki dan perempuan yang di jari mereka terselip rokok. Masih banyak kejelekan dan kemungkaran lain yang tak bisa disebutkan satu per satu di sini.

Wahai sekalian orang-orang yang beriman. Saya mengajak kalian dengan nama iman kepada Allah l dan dengan nama Islam serta seluruh sebutan yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan, jangan sampai majalah seperti itu masuk ke rumah kalian dan beredar di tangan kalian. Karena majalah itu akan memalingkan kalian dari jalan yang lurus dan membengkokkan kalian dari akhlak yang mulia. Sungguh, seluruh yang dipampang di majalah tersebut mesti memberi pengaruh kepada pembacanya.

Bertakwalah kalian kepada Allah l. Jangan sampai kalian membuang-buang harta untuk membelinya dan menyumbang saham untuknya. Karena, hal itu menimbulkan kerusakan yang besar. Di antaranya, menyia-nyiakan harta karena dipakai untuk perkara yang tidak bermanfaat bahkan mendatangkan mudarat. Padahal Allah l menjadikan harta itu sebagai penopang hidup manusia untuk meraih kemaslahatan agama dan dunia mereka. Allah l berfirman:

“Janganlah kalian menyerahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam pengurusan kalian) yang Allah jadikan sebagai penopag kehidupan.” (An-Nisa’: 5)

Karenanya, siapa yang membelanjakan hartanya pada selain perkara kebaikan berarti ia telah mengubah tujuan diciptakannya harta tersebut. Berarti pula bahwa ia telah membelanjakannya tidak pada tempat yang semestinya, sehingga tepat bila dikatakan ia telah membuang-buang harta.

Kerusakan lain dari membeli/membaca majalah rusak tersebut adalah membuang-buang waktu yang bagi orang-orang berakal. Waktu itu lebih mahal daripada harta, karena waktu merupakan kesempatan untuk beramal. Bahagia atau celakanya tergantung penggunaan waktunya. Ia juga akan dimintai pertanggungjawaban akan waktunya sebagaimana ia akan ditanya tentang hartanya. Ibnu Mas’ud z menyampaikan hadits dari Nabi n:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ، وَعَنْ ماَلِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak bergeser dua telapak kaki anak Adam dari sisi Rabbnya pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang lima perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya kemana ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari ilmu yang telah diketahuinya.”

Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia berkata hadits ini gharib. Al-Albani berkata, “Akan tetapi hadits ini shahih dengan syawahidnya.”2

Seandainya seseorang menghabiskan waktunya untuk membaca bacaan yang bermanfaat baginya seperti Al-Qur’an, tafsirnya, hadits dan syarahnya, sejarah kehidupan Nabi n dan para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun g, niscaya ia akan beroleh kebaikan yang banyak dan umurnya mendapat hasil/keuntungan di dunia ini.

Termasuk kerusakan majalah tersebut adalah jatuhnya hati dalam cinta khayalan yang tidak ada hakikatnya, seperti fatamorgana yang disangka air oleh orang yang haus, namun ketika didatangi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Hatinya mengembara dalam khayalan kosong yang ia tidak beroleh apa-apa kecuali jiwa yang gelisah, pikiran yang terbagi, dan lupa akan kebaikan agama serta dunianya.

Termasuk kerusakan majalah tersebut adalah memberikan pengaruh pada pikiran, akhlak, dan kebiasaan. Di mana si pembaca merasa senang dengan apa yang dibacanya berupa pemikiran yang menyimpang dan suka dengan apa yang dilihatnya berupa pemandangan yang membuat fitnah pada gambar-gambar yang ditampilkan, mode-mode pakaian dan selainnya. Semua itu akan memberi pengaruh pada individu dan masyarakat, sehingga tabiat mereka pun terbentuk menjadi tabiat yang rusak.

Yang tak patut kita lupakan dari kejelekan majalah itu bila berada di rumah adalah menghalangi masuknya para malaikat ke dalam rumah tersebut, karena malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar. Karenanya, membeli majalah seperti itu haram, menjualnya haram, berpenghasilan darinya haram, menghadiahkan dan menerimanya sebagai hadiah juga haram. Setiap orang yang membantu penyebarannya di kalangan kaum muslimin telah melakukan perbuatan haram karena termasuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.

Karenanya wahai kaum muslimin, jauhilah majalah-majalah tersebut dan berhati-hati, janganlah kalian mengambilnya. Allah l berfirman:

“Dan jagalah diri-diri kalian dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim di antara kalian.” (Al-Anfal: 25)

Bakarlah majalah tersebut dan hancurkanlah. Jangan biarkan tetap ada di tangan dan di rumah kalian, atau di tangan salah seorang keluarga kalian, anak laki-laki kalian ataupun anak perempuan kalian.

Semoga Allah l melindungi saya dan anda semua dari fitnah yang menyesatkan, serta melindungi kita dari ketergelinciran. Semoga Dia menjadikan kita semua sebagai penyeru kepada kebaikan dan kelurusan, serta melarang dari kejelekan dan kerusakan. Sesungguhnya Allah Maha Karim.

Shalawat dan salam semoga tertuju untuk Nabi kita Muhammad, berikut keluarga dan para sahabat beliau. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Diringkas dari Adh-Dhiya’ul Lami’ min Al-Khuthabil Jawami’ oleh Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin, dengan sub judul Fit Tahdzir Mimma Yakunu fi Ba’dhi Ash-Shuhuf wal Majallat, 6/70, 73-78)


1 No. 4319, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan Al-Misykat no. 5488.

2 HR. At-Tirmidzi no. 2416. Dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 946.

Mengusap Kerudung

Dalam agama yang mulia ini ada pensyariatan mengusap di atas ‘imamah/sorban bagi laki-laki ketika berwudhu sebagai pengganti mengusap kepala. Yang menjadi pertanyaan, apakah wanita juga diperkenankan mengusap di atas kerudungnya bila ia mengenakan kerudung saat berwudhu?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t memberikan jawaban terhadap permasalahan di atas. Beliau berkata, “Yang masyhur dalam madzhab Al-Imam Ahmad t adalah boleh bagi wanita mengusap di atas kerudungnya apabila kerudung itu dikaitkan di bawah tenggorokan1, karena adanya riwayat dari sebagian sahabiyyah (para wanita dari kalangan sahabat Rasulullah n)2, semoga Allah l meridhai mereka.
Bagaimana pun keadaannya, bila memang terdapat kesulitan/kepayahan, mungkin udara yang dingin atau sulit dilepas, maka pengizinan dalam kondisi semisal ini tidak apa-apa. Namun yang lebih utama adalah si wanita tidak mengusap di atas kerudungnya (tapi ia mengusap kepalanya saat berwudhu, pen.).
Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh, 11/171)
HUKUM WUDHU BAGI WANITA YANG BERKUTEKS
Sahkah wudhu wanita yang di kukunya terdapat kuteks?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Kuteks yang dipakai oleh wanita di kukunya memiliki lapisan/sisa cat yang menempel, sehingga tidak boleh dipakai bila ia hendak shalat karena menghalangi sampainya air ke bagian jarinya dalam wudhu. Segala sesuatu yang mencegah sampainya air ke anggota wudhu tidak boleh dipakai oleh orang yang berwudhu atau orang yang mandi wajib. Karena Allah l berfirman:
“…Maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian.” (Al-Ma’idah: 6)
Kuteks yang dipakai oleh seorang wanita pada kukunya akan menghalangi air mengenai kuku/jarinya sehingga tidak bisa dikatakan ia telah mencuci tangannya. Dengan begitu ia telah meninggalkan satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban wudhu atau mandi.
Adapun wanita yang sedang tidak shalat karena haid tidak mengapa memakai kuteks ini. Hanya saja memakai kuteks termasuk kekhususan wanita-wanita kafir. Karena alasan ini maka tidak boleh memakainya, agar tidak jatuh dalam perbuatan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir.
Aku pernah mendengar sebagian orang berfatwa bahwa memakai kuteks bisa dikiaskan dengan memakai khuf (sementara ada pensyariatan mengusap di atas khuf dan ada ketentuan waktunya), dengan begitu seorang wanita boleh memakainya sehari semalam bila ia sedang tidak safar/bepergian dan tiga hari tiga malam bila ia musafir. Namun ini fatwa yang salah. Karena tidak setiap yang menutupi tubuh seseorang disamakan dengan memakai khuf. Kalau khuf dibolehkan oleh syariat untuk mengusapnya karena umumnya ada kebutuhan. Kedua telapak kaki ini butuh dihangatkan dan butuh ditutup karena keduanya langsung bersentuhan dengan tanah, kerikil, rasa dingin, dan selainnya, maka syariat pun mengkhususkan pengusapan di atas keduanya.
Terkadang mereka juga mengkiaskannya dengan sorban dan ini pun tidak benar. Karena sorban itu tempatnya di kepala, sementara kepala dari asalnya memang diringankan. Kepala hanya wajib diusap dalam amalan wudhu, beda halnya dengan tangan, kedua tangan harus dicuci. Karena itulah, Nabi n tidak memperkenankan wanita mengusap kaos tangannya ketika wudhu, padahal kaos tangan tersebut menutupi tangannya. Ini menunjukkan tidak bolehnya seseorang mengkiaskan segala penghalang/penutup yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu dengan sorban dan khuf.
Yang wajib dilakukan oleh seorang muslim adalah mencurahkan segala kesungguhan dan upayanya untuk mengetahui al-haq serta janganlah berfatwa melainkan dalam keadaan ia menyadari bahwa Allah l kelak akan menanyakan kepadanya tentang fatwa tersebut (meminta pertanggungjawabannya), karena ia memberikan penggambaran tentang syariat Allah k. Allah l lah yang memberi taufik, yang membimbing kepada ash-shirath al-mustaqim. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh, 11/148-149)
HUKUM MENGHILANGKAN RAMBUT
DI TANGAN DAN KAKI
Bolehkah seseorang menghilangkan rambut yang tumbuh di kedua lengan dan kakinya?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Bila rambut yang tumbuh itu banyak/di luar kewajaran, tidak apa-apa menghilangkannya, karena keberadaannya menjelekkan penampilan seseorang. Kalau rambut itu biasa/masih wajar maka sebagian ahlul ilmi ada yang berpendapat tidak boleh menghilangkannya, karena termasuk perbuatan mengubah ciptaan Allah k. Di antara ahlul ilmi ada yang mengatakan boleh dihilangkan karena termasuk perkara yang didiamkan Allah l, sementara Rasulullah n bersabda:
ماَ سَكَتَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ
“Apa yang Allah diamkan berarti pemaafan.”
Maksudnya tidak diharuskan bagi kalian dan tidak pula haram. Mereka ini mengatakan, “Rambut-rambut yang tumbuh di badan terbagi tiga macam:
Pertama: Rambut yang diharamkan oleh syariat untuk dihilangkan.
Kedua: Rambut yang dituntut oleh syariat untuk dihilangkan.
Ketiga: Rambut yang didiamkan.
Rambut yang diharamkan oleh syariat untuk dihilangkan, tidaklah boleh dihilangkan, seperti jenggot bagi laki-laki, mencabut rambut alis bagi wanita dan lelaki.
Rambut yang dituntut oleh syariat untuk dihilangkan maka harus dihilangkan, tidak boleh dibiarkan, seperti rambut ketiak, rambut kemaluan, dan kumis bagi laki-laki.
Apa yang didiamkan, tidak dilarang dan tidak pula ada perintah untuk menghilangkannya, berarti perkaranya dimaafkan. Karena bila Allah l tidak menghendaki keberadaannya, niscaya Dia perintahkan untuk dihilangkan. Bila Allah menginginkan rambut itu tetap ada, niscaya Dia akan memerintahkan untuk membiarkannya. Tatkala Allah l diam, tidak menyebut salah satunya, berarti pekaranya kembali pada keinginan/pilihan manusia, bila mau ia hilangkan dan bila mau ia biarkan. Allah l lah yang memberi taufik. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh, 11/134)

1 Tidak diletakkan begitu saja di kepala, karena yang seperti ini tidak sulit melepaskannya. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/240)
2 Ibnu Abi Syaibah t dalam Mushannaf-nya, kitab Ath-Thaharah, fil Mar’ah Tamsahu ‘ala Khimariha, no. 249 dari Al-Hasan Al-Bashri t, dari Ummu Salamah x disebutkan ia mengusap di atas kerudungnya.
Ali ibnul Madini t berkata, “Al-Hasan melihat Ummu Salamah, namun tidak mendengar hadits darinya.” (Jami’ut Tahshil, hal. 163) [Lihat ta’liq Asy-Syarhul Mumti, 1/239, Dar Ibnil Jauzi, cet. pertama, Dzulqa’dah 1422 H]

Fitnah Majalah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyah)

 

Di negeri kita ini demikian mudah dijumpai beragam majalah. Mulai majalah olahraga, majalah mistik, majalah kriminal, majalah khusus cerpen, majalah bisnis, majalah remaja, majalah wanita, majalah ponsel, majalah film, dan lain sebagainya. Apa pun namanya dan bagaimana pun sajiannya, semua majalah itu ingin memanjakan pembacanya, ingin memberikan hiburan dan kesenangan kepada mereka.

Satu hal yang tak bisa dipungkiri, pihak pengelola majalah tersebut ingin untung besar. Dengan tujuan komersial, ingin meraup untung yang banyak, pengelola majalah-majalah tersebut tak lagi melihat batasan-batasan syariat, mana yang boleh, mana yang tidak boleh dalam sudut pandang agama. Mana yang halal, mana yang haram, semuanya mereka terjang tanpa rasa takut kepada Allah k. Gambar wanita cantik dengan perhiasan lengkapnya sudah lazim menghiasi majalah-majalah tersebut. Bahkan wanita berpose setengah tak berbusana atau tanpa busana sama sekali merupakan sesuatu yang lumrah ditampilkan. Belum lagi beritanya, penuh dengan gosip, cerita fahisyah (keji), dan semodelnya. Padahal kita tahu apa hukum dari semua itu. Namun pengelola majalah tersebut mana mau tahu? Bahkan mereka tutup mata dan tutup telinga dari kerusakan yang ditimbulkan akibat penyebaran majalah-majalah mereka yang bobrok tersebut.

Fatwa ahlul ilmi tentu saja telah keluar menyinggung permasalahan di atas. Namun mereka yang hatinya telah membatu tetap tak mau berhenti. Majalah-majalah yang rusak terus saja bebas beredar di pasaran. Kita mohon kepada Allah k keselamatan dari kejelekan ini.

Komite tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa yang ada di Saudi Arabia, yang dikenal dengan nama Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’, telah memberikan fatwa akan bahaya majalah seperti itu. Majelis para ulama ini yang diketuai oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah Alusy Syaikh, semoga Allah k menjaga beliau, menyatakan:

Alhamdulillah wahdahu, wa shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi, wa ba’du:

Kaum muslimin di zaman ini telah ditimpa ujian yang besar. Fitnah mengepung mereka dari segala arah serta banyak kaum muslimin jatuh ke dalamnya. Kemungkaran tampak nyata dan manusia pun terang-terangan berbuat maksiat tanpa rasa takut serta tanpa malu. Sebab dari semua ini adalah menganggap remeh agama Allah l dan tidak mengagungkan batasan-batasan dan syariat-syariat-Nya. Sementara kebanyakan orang yang melakukan perbaikan lalai menunaikan syariat Allah l dan lalai dari melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Tidak ada jalan keluar bagi kaum muslimin dan tidak ada jalan keselamatan dari musibah dan fitnah ini terkecuali dengan taubat yang benar kepada Allah l, mengagungkan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, mengambil tangan orang-orang bodoh dan membimbingnya dengan sungguh-sungguh kepada kebenaran.

Termasuk fitnah paling besar yang tampak di masa kita ini adalah apa yang dilakukan oleh para pedagang kerusakan, makelar kerendahan, pencinta tersebarnya kekejian di tengah kaum mukminin berupa penerbitan majalah-majalah yang buruk, yang memerangi/menentang Allah l dan Rasul-Nya dalam perintah dan larangan-Nya. Maka termuatlah di antara lembaran-lembarannya berbagai macam gambar telanjang dan wajah-wajah yang memfitnah lelaki, membangkitkan syahwat serta menyeret pada kerusakan.

Dari penelitian yang ada, dipastikan majalah-majalah ini memuat beragam cara dalam mempropagandakan kefasikan dan kefajiran, menggelorakan syahwat dan memuaskannya dalam perkara yang Allah l dan Rasul-Nya n haramkan. Di antaranya yang dimuatnya adalah:

1. Gambar-gambar yang menimbulkan fitnah di bagian sampul depannya dan bagian dalamnya.

2. Wanita-wanita dengan perhiasan lengkap yang menjatuhkan lelaki ke dalam fitnah dan menipu mereka.

3. Ucapan-ucapan yang rendah, gila, kata-kata bersajak dan membangkitkan syahwat. Amat jauh dari rasa malu dan keutamaan, justru menghancurkan akhlak dan merusak umat.

4. Kisah-kisah asmara yang hina, berita-berita para artis/selebritis, para penari dari kalangan lelaki dan wanita yang fasik.

5. Dalam majalah ini ada seruan/ajakan yang nyata untuk tabarruj dan membuka wajah di hadapan non-mahram, serta ajakan ikhtilath antara lawan jenis dan mengoyak hijab.

6. Menawarkan pakaian-pakaian yang mengumbar aurat kepada para wanitanya kaum mukminin untuk menghasung mereka agar telanjang dan menanggalkan pakaian serta bertasyabbuh (menyerupai) dengan para pelacur dan wanita-wanita fajir.

7. Dalam majalah-majalah tersebut ditampilkan para lelaki dan wanita yang berpelukan, berangkulan, dan berciuman.

8. Dalam majalah tersebut ada kalimat-kalimat menggelora yang dapat menggejolakkan nafsu seksual dalam jiwa para pemuda dan pemudi, sehingga mendorong mereka dengan kuat agar menempuh jalan yang bengkok dan menyimpang serta jatuh ke dalam perbuatan keji, dosa, mabuk asmara dan cinta.

Berapa banyak remaja putra dan putri menggemari dan menjadi pecinta majalah-majalah yang beracun ini. Mereka pun binasa karenanya dan mereka keluar dari batasan-batasan fitrah dan agama.

Majalah-majalah ini telah mengubah banyak hukum-hukum syariat dalam benak mayoritas manusia, demikian pula azas-azas fitrah yang lurus, disebabkan ucapan-ucapan dan pendapat-pendapat yang ditetapkannya.

Mayoritas manusia terus-menerus berkubang dalam perbuatan maksiat dan fahisyah (keji) serta melampaui batasan-batasan yang Allah l tetapkan disebabkan kecondongan mereka pada majalah-majalah ini. Juga dikuasainya akal dan pikiran mereka oleh majalah-majalah tersebut.

Kesimpulannya, majalah-majalah ini ditopang oleh sindikat perdagangan tubuh wanita, yang disokong oleh setan dengan seluruh hasungan dan sarana-sarana fitnah agar sampai pada penyebaran aliran ibahiyyah (semuanya boleh, tidak mau tunduk pada aturan agama), mengoyak-koyak kehormatan, merusak wanita-wanita kaum mukminin, mengubah masyarakat Islam menjadi kawanan binatang yang tidak mengenal hal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar, tidak menegakkan syariat Allah l yang suci ini, tidak mengangkat kepala sama sekali untuk menengoknya, sebagaimana keadaan di kebanyakan masyarakat. Bahkan perkaranya sampai ada sebagian mereka yang menikmati hubungan lawan jenis dengan cara telanjang bulat dalam apa yang mereka istilahkan mudunul ‘urah. Kita berlindung kepada Allah l dari terbaliknya fitrah serta terjatuhnya kita dalam perkara yang Allah l dan Rasul-Nya haramkan.

Berdasarkan apa yang telah disebutkan dari kenyataan yang diperoleh dari majalah-majalah ini, juga karena mengetahui dampak serta tujuan buruknya serta banyaknya keluhan yang disampaikan kepada Al-Lajnah dari orang-orang yang punya ghirah (kecemburuan terhadap agama) baik dari kalangan ulama, penuntut ilmu maupun mayoritas kaum muslimin tentang penyebaran majalah-majalah ini di perpustakaan-perpustakaan, warung-warung, pusat-pusat perdagangan, dan lain sebagainya, maka Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ memandang berikut ini:

Pertama: Haram menerbitkan majalah yang rendah semacam ini. Sama saja baik majalah umum atau majalah khusus mode pakaian wanita. Siapa yang melakukannya maka ia akan mendapat bagian dari firman Allah l:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (An-Nur: 19)

Kedua: Haram bekerja di majalah-majalah seperti ini di bagian apapun. Baik bekerja di kantornya (administrasi), di penerbitannya, di percetakannya, atau di bagian distribusinya. Karena semuanya termasuk tolong-menolong dalam perbuatan dosa, kebatilan, dan kerusakan. Sementara Allah k berfirman:

“Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kalian kepada Allah, sesunggguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Ma’idah: 2)

Ketiga: Haram mempropagandakan majalah-majalah tersebut dan melariskannya dengan cara apapun, karena hal itu termasuk menunjukkan dan mengajak kepada kejelekan. Nabi n pernah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa semisal dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Keempat: Haram menjual majalah-majalah tersebut dan penghasilan yang diperoleh darinya merupakan pendapatan yang haram. Siapa yang jatuh dalam sesuatu dari perbuatan tersebut, wajib baginya bertaubat kepada Allah k dan melepaskan diri dari penghasilan/usaha yang jelek tersebut.

Kelima: Haram bagi kaum muslimin membeli dan menyimpan majalah-majalah tersebut, karena di dalamnya ada fitnah dan kemungkaran. Disamping itu, dengan membelinya akan menguatkan pengaruh pemilik majalah-majalah tersebut, memperkaya mereka serta mendorong mereka untuk berproduksi dan melariskan ‘dagangan’nya. Wajib pula bagi seorang muslim untuk berhati-hati, jangan sampai keluarganya, baik laki-laki maupun perempuan, ada yang membaca/memiliki majalah-majalah tersebut, dalam rangka menjaga mereka dari fitnah dan terfitnah. Hendaknya seorang muslim menyadari bahwa ia merupakan pemimpin/penanggung jawab dan ia akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya kelak di hari kiamat.

Keenam: Wajib bagi seorang muslim untuk menundukkan pandangannya dari melihat majalah-majalah yang rusak tersebut, dalam rangka menaati Allah l dan Rasul-Nya n. Juga dalam rangka menjauh dari fitnah berikut tempat-tempatnya. Tidak sepantasnya bagi seseorang mengaku-ngaku dirinya akan terjaga (atau merasa ia tidak mungkin jatuh dalam kejelekan), karena sungguh Nabi n mengabarkan bahwa setan itu berjalan pada anak Adam seperti peredaran darah.

Al-Imam Ahmad t menyatakan, “Berapa banyak pandangan yang melemparkan bala/musibah di hati pemiliknya.”

Siapa yang terpaut dengan gambar-gambar dan selainnya yang ada di dalam majalah-majalah tersebut maka akan merusak hati dan kehidupannya serta memalingkannya kepada perkara yang tidak bermanfaat baginya dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Karena baiknya hati dan kehidupan hati itu hanya dengan bergantung/terpaut kepada Allah k, beribadah kepada-Nya, merasakan manisnya bermunajat dengan-Nya, ikhlas untuk-Nya dan memenuhi hati dengan cinta kepada-Nya.

Ketujuh: Wajib bagi mereka yang Allah l berikan kekuasaan pada satu bidang apa pun di negeri Islam untuk memberikan nasihat kepada kaum muslimin, berupaya menjauhkan mereka dari kerusakan dan pelakunya, serta menjauhkan mereka dari seluruh perkara yang dapat membawa kemudaratan bagi mereka dalam agama dan dunia mereka. Di antara yang semestinya dilakukannya adalah melarang peredaran majalah-majalah yang merusak, dan mencegah agar kejelekan tidak menimpa mereka. Upaya seperti ini termasuk menolong Allah l dan agama-Nya, juga termasuk sebab keberuntungan, kebahagiaan, keselamatan dan dapat kokoh berkuasa di muka bumi, sebagaimana Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka akan mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan melarang dari perbuatan yang mungkar, dan hanya kepada Allah lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 40-41) [Kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, hal. 117-123]

Demikian, semoga apa yang tertulis di sini menjadi pelajaran bagi kita agar tidak bermudah-mudah membeli, membaca, atau sekadar membuka-buka lembar demi lembar dari majalah yang merusak ini.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ummu Misthah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Berita keji terdengar, menggunjingkan rumah tangga Rasulullah n. Seorang wanita yang mulia, Ash-Shiddiqah bintu Ash-Shiddiq x, dibicarakan dan diragukan kemuliaannya. Seorang wanita dari kalangan Quraisy, anak bibi sahabat yang mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiq z memberikan pembelaan pada ‘Aisyah Ummul Mukminin dari berita bohong yang tersebar.

Wanita ini adalah Ummu Misthah bintu Abi Ruhm bin Al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyiyah At-Taimiyah x. Ibunya bernama Raithah bintu Shakhr bin ‘Amir bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah.
Ummu Misthah menikah dengan Utsatsah bin ‘Abbad bin Al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf. Dari pernikahan itu, Allah l anugerahkan dua orang anak, Misthah dan Hindun. Kelak, Misthah menjadi seorang sahabat yang mempunyai kemuliaan, ikut terjun dalam pertempuran Badr.
Namun dalam perjalanan waktu, sebagai seorang manusia, Misthah pernah tergelincir dalam kesalahan. Berawal dari tersebarnya berita bohong tentang Ummul Mukminin ‘Aisyah x yang diembuskan oleh gembong munafikin, Abdullah bin Ubay bin Salul. Berita itu begitu dahsyat mengguncang kaum muslimin, hingga ada di antara para sahabat yang tergelincir, turut membicarakan ‘Aisyah x. Salah satunya adalah Misthah bin Utsatsah z, putra Ummu Misthah x.
Ummu Misthah sendiri mengingkari perbuatan anaknya. Suatu malam, Ummu Misthah mengantar ‘Aisyah x yang sedang sakit ke khala’, tempat menunaikan hajat. Kebiasaan kaum Arab pada waktu itu, sebelum mereka membuat tempat menunaikan hajat di dekat rumah, mereka pergi ke tempat yang sunyi dan jauh dari pemukiman untuk menunaikan hajat. Biasanya para wanita pergi ke tempat tersebut pada malam hari. Saat kembali dari khala’, di tengah perjalanan Ummu Misthah tersandung. Kakinya tersangkut pakaiannya sendiri.
“Celaka Misthah!” ucapan itu spontan meluncur dari lisannya.
‘Aisyah keheranan. “Jelek sekali ucapanmu! Apakah engkau memaki seseorang yang ikut dalam Perang Badr?” kata ‘Aisyah.
“Apakah engkau tak pernah mendengar ucapannya?” tanya Ummu Mishthah. “Apa itu?” ‘Aisyah balik bertanya. Ummu Mishthah pun menceritakan berita bohong yang tersebar.
Ternyata Misthah bin Utsatsah turut membicarakan berita keji itu. Ummu Misthah mengingkari dengan sangat perbuatan Misthah, hingga terucap perkataan itu. Mendengar dirinya dibicarakan sedemikian rupa, bertambah parahlah sakit ‘Aisyah x. Tak henti-hentinya dia menangis.
Ketika mengetahui bahwa Misthah terlibat dalam pembicaraan dusta itu, Abu Bakr bersumpah untuk tidak lagi memberikan bantuan nafkah pada Misthah. Padahal sebelumnya Abu Bakr selalu memberi bantuan karena mereka memiliki hubungan kerabat. Namun Allah l menegur perbuatan Abu Bakr z dengan firman-Nya:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)
Setelah turun ayat itu, Abu Bakr z pun kembali memberikan bantuan pada Misthah.
Tatkala telah turun ayat pembelaan terhadap ‘Aisyah dari atas langit, Rasulullah n menetapkan hukuman cambuk terhadap tiga orang sahabat yang terjatuh dalam kesalahan ini, termasuk Misthah bin Utsatsah z.
Demikian pembelaan Ummu Misthah terhadap seorang wanita semulia ‘Aisyah x. Demikian pengingkaran Ummu Misthah, sekalipun kemungkaran itu dilakukan oleh anak kandungnya. Ummu Misthah bintu Abi Ruhm, semoga Allah l meridhainya.
Wallahu a’lamu bish-shawab.
Sumber Bacaan:
Al-Ishabah (6/74, 8/473)
Ath-Thabaqatul Kubra (10/218)

Ketika Anakku Sakit

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Anak bagaikan permata yang begitu berharga bagi orangtua. Tak ternilai harganya dan senantiasa melekat dalam sanubari ayah ibunya. Hal ini dirasakan oleh setiap orangtua, bahkan oleh seseorang yang paling mulia, Rasulullah n. Demikian pula orang yang paling mulia setelah beliau, Abu Bakr Ash-Shiddiq z. ‘Aisyah x menceritakan:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ z يَوْمًا: وَاللهِ، مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ عُمَرَ، فَلَمَّا خَرَجَ رَجَعَ فَقَالَ: كَيْفَ حَلَفْتُ أَيْ بُنَيَّةُ؟ فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: أَعَزُّ عَلَيَّ، وَالْوَلَدُ أَلْوَطُ

“Suatu hari, Abu Bakr Ash-Shiddiq z mengatakan, ‘Demi Allah, tak ada seorang pun di atas bumi ini yang lebih kucintai daripada ‘Umar (Umar bin Khaththab z, red.)!’ Ketika Abu Bakr kembali, dia pun bertanya, ‘Bagaimana sumpahku tadi, wahai putriku?’ Aku pun mengatakan kembali apa yang diucapkannya. Kemudian Abu Bakr berkata, ‘Dia memang sangat berarti bagiku, namun anak lebih melekat di dalam hati’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 61: hasanul isnad)

Memang, begitu dalam rasa cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Tak heran, ketika anak sakit, derita yang berat pun turut dirasa oleh orangtua. “Sakit anak derita ibu,” begitu kata sebuah ungkapan.

Tak sampai hati rasanya melihat permata hati terbaring pucat, kehilangan gairah dan keceriaannya, ditambah lagi demam yang tak kunjung reda, diiringi tangisan menahan rasa sakit. Terbang sudah rasanya hati orangtua. Ada sesuatu yang terasa kosong di dalam dada. Ingin rasanya menggantikan sakit dan derita si anak. Ingin rasanya berbuat sesuatu untuk mengenyahkan segala penderitaannya. Namun ternyata kita tak mampu berbuat apa-apa.

Saat-saat seperti ini, kita benar-benar merasakan kelemahan diri kita. Terasa, bukan kita yang kuasa memberikan kesembuhan. Terasa, kita sendiri membutuhkan topangan.

Tentu tak pantas kita berkeluh kesah atas musibah ini. Bahkan yang satu ini harus kita jauhi, karena dapat menjerumuskan kita dalam azab, menjadi bahan bakar jahannam, wal ‘iyadzu billah! Seperti dalam sabda Rasulullah n ketika memberikan wejangan kepada para wanita di hari raya. Dikisahkan oleh Jabir bin ‘Abdillah z:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ، وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟

قَالَ: لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ. قَالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

Aku menghadiri shalat pada hari raya bersama Rasulullah n, maka beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa adzan maupun iqamat. Kemudian beliau berdiri sambil bertelekan pada Bilal, memerintahkan manusia agar bertakwa kepada Allah, menghasung mereka untuk menaati-Nya, memberi wejangan serta mengingatkan mereka. Kemudian beliau pun berlalu, hingga mendatangi para wanita, lalu memberi wejangan kepada mereka serta mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian adalah bahan bakar Jahannam!” Maka berdirilah salah seorang wanita dari kalangan orang yang terbaik mereka yang di pipinya ada kehitaman, lalu bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak berkeluh kesah dan kufur kepada suami.” Maka mulailah mereka bersedekah dengan perhiasan mereka, mereka melemparkan anting-anting dan cincin-cincin mereka ke baju Bilal.” (HR. Muslim no. 885)

Oleh karena itu, di saat himpitan melanda seperti ini, kiranya kita harus mengingat kembali apa kata syariat yang sempurna. Di saat itu pula kita akan mendapatkan bimbingan, arahan, dan nasihat yang begitu sempurna, hingga kita tak putus harapan.

Dalam Al-Qur’an, Allah l telah mengingatkan hamba-hamba-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mengatakan, ‘Kami ini milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali’. Mereka itulah yang mendapatkan kebaikan yang sempurna dan rahmah dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kekurangan jiwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kematian orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, karib kerabat maupun sahabat. Juga berbagai penyakit yang menimpa diri seorang hamba ataupun menimpa orang yang dicintainya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Berbagai cobaan yang disebutkan dalam firman Allah l ini pasti akan menimpa seorang hamba, karena Dzat Yang Maha Mengetahui telah mengabarkannya, sehingga pasti hal itu akan terjadi sebagaimana Allah l kabarkan. Maka ketika musibah itu terjadi, manusia pun terbagi menjadi dua golongan: orang yang sabar dan yang tidak sabar.

Orang yang tidak sabar akan mendapatkan dua musibah; kehilangan orang yang dicintai yang ini merupakan wujud musibah yang menimpanya, dan kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu hilangnya pahala menempuh kesabaran yang diperintahkan oleh Allah l. Dia pun mendapat kerugian dan berkurang pula keimanannya. Hilang pula dari dirinya kesabaran, rasa ridha dan syukur, sehingga yang ada pada dirinya hanyalah kemarahan yang menunjukkan betapa kurang keimanannya.

Sementara orang yang Allah l berikan taufik untuk bersabar saat terjadinya musibah, dia menahan diri agar terhindar dari kemarahan akibat ketidakpuasan, baik yang terungkap dalam ucapan maupun perbuatan. Dia pun mengharap balasan pahala musibah itu dari sisi Allah l. Dia tahu, pahala yang akan didapatkannya dengan kesabaran jauh lebih agung daripada musibah yang menimpanya. Bahkan sebenarnya musibah itu merupakan suatu nikmat, karena bisa menjadi jalan untuk meraih sesuatu yang terbaik baginya dan lebih bermanfaat daripada musibah itu. Dia pun melaksanakan perintah Allah l untuk bersabar dan meraih pahalanya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Inilah janji Allah l, yang termaktub pula dalam ayat yang lain.

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupi pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Sabar. Demikian memang yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang beriman kala ditimpa musibah. Bagaimana tidak, sementara setiap keadaan, baik kelapangan ataupun kesusahan sebenarnya merupakan kebaikan baginya. Demikian yang dikatakan oleh Rasulullah n, seperti yang dinukilkan oleh Suhaib bin Sinan z:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya setiap perkaranya merupakan kebaikan baginya, dan ini tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mukmin: apabila memperoleh kelapangan, dia bersyukur, maka ini kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka ini pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Kebaikanlah yang akan didapat seorang mukmin yang bersabar saat diterpa cobaan. Dengan meyakini hal ini, kita akan berbesar hati. Memang, jika Allah l menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menimpakan musibah kepadanya untuk mengujinya sehingga mengangkat derajatnya. Abu Hurairah z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5645)

Tak lagi ciut nyali kita mendengar keutamaan seperti ini. Terlebih lagi kalau kita menyadari, beratnya cobaan yang menimpa akan membuahkan pahala yang besar pula. Abu Hurairah z pernah menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama dengan besarnya cobaan. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka dia akan mendapat ridha dari Allah, dan barangsiapa yang marah, maka dia akan mendapat kemurkaan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Tak hanya itu keutamaan bersabar atas cobaan. Rasulullah n mengingatkan pula bahwa cobaan yang tengah kita hadapi akan menggugurkan dosa dan kesalahan kita. Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah c meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu kepayahan, penyakit, kegalauan, kesedihan, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan musibah itu.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, 5642 dan Muslim no. 2573)

Abu Hurairah z juga mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa cobaan itu menimpa seorang mukmin atau mukminah pada dirinya, anak ataupun hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah ta’ala dalam keadaan tidak memiliki kesalahan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: hasan shahih)

Di tengah-tengah kegalauan menghadapi sakit yang diderita sang buah hati, kita berharap, semoga Allah l berikan taufik kepada kita untuk bersabar. Allah l yang membimbing kita untuk menempuh kesabaran, Allah l pula yang memberikan pahala kesabaran itu. Kita pun berharap agar segala kesusahan yang kita alami dapat menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan surga. Abu Hurairah z menukilkan sabda Rasulullah n:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka diliputi oleh berbagai kesenangan dunia, sementara surga diliputi oleh berbagai hal yang tidak menyenangkan di dunia.” (HR. Al-Bukhari no. 6487)

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan pada saat-saat seperti ini adalah memohon kesembuhan bagi anak kita hanya kepada Allah l. Hanya Allah l semata yang dapat memberikan kesembuhan atas penyakit buah hati kita, sebagaimana kata Khalilur Rahman, Ibrahim q yang termaktub dalam Al-Qur’an:

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu’ara: 80)

Dengan penuh harap kita memohon kepada Allah l bagi anak kita, disertai keyakinan bahwa Allah l akan mengabulkan doa kita. Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Rasulullah n pernah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga doa yang pasti akan terkabul, tidak diragukan lagi: doa orangtua, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan)

Akan lebih ringan terasa beban berat yang kita alami dengan menyimak kembali bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n ini. Semoga kegundahan ini akan berakhir kelak dengan sesuatu yang lebih berarti.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Kunci-Kunci Rejeki (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Percayakah anda yang sedang bergiat mencari penghidupan untuk anak dan istri bahwa rezeki yang halal, thayyib, dan berbarakah itu mudah diperoleh oleh hamba yang dekat dengan-Nya dan tidak melupakan-Nya? Tawakkal, memusatkan pikiran dan perhatian ketika beribadah kepada Allah l, berhijrah di jalan Allah l, dan silaturahim merupakan kunci-kunci dari sekian kunci yang mendatangkan serta memudahkan rezeki dari Allah l. Untuk kejelasannya kita baca keterangan berikut ini:

 

Tawakkal

Kita sering mendengar kata tawakkal atau bahkan mengucapkannya, tapi sebenarnya apakah yang dimaksud dengan tawakkal?

Dalam Faidhul Qadir (5/311), Al-Imam Al-Munawi1 t menjelaskan, “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan diri dan bersandar kepada Allah k.”

Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t berkata menerangkan makna tawakkal, “Bersandarnya seorang insan kepada Rabbnya l baik secara lahir maupun batin dalam mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudaratan.” (Syarhu Riyadhis Shalihin, 1/369)

Di tengah sulitnya mencari penghidupan, kami sampaikan kepada pembaca yang mulia bahwa tawakkal akan memudahkan seorang hamba bertemu dengan rezekinya karena Rabbul Izzah telah menjanjikan:

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3)

Rasul yang mulia n telah pula mengabarkan:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْا خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian itu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung diberi rezeki. Mereka terbang dalam keadaan lapar dan pulang kembali ke sarang mereka dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad 1/243, At-Tirmidzi no. 2344, dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah no. 310)

Asy-Syaikh Al-Mubarakfuri2 t menerangkan, “Bila kalian bersandar kepada Allah l dengan kalian meyakini tidak ada yang kuasa berbuat/memberi rezeki kecuali hanya Allah k saja, tidak ada yang dapat memberi dan tidak ada yang dapat menahan kecuali Dia, kemudian kalian berupaya mencari rezeki dengan cara yang baik disertai tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung yang pergi di awal siang dalam keadaan lapar dan pulang di akhir siang dalam keadaan kenyang. Al-Munawi t menyatakan burung-burung itu terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang kembali di sore hari dalam keadaan perutnya penuh. Maka bukanlah penghasilan/usaha itu yang memberi rezeki tapi yang memberikan rezeki adalah Ar-Razzaq, yaitu Allah l. Rasulullah n memberikan isyarat dalam haditsnya tersebut bahwa yang namanya tawakkal bukanlah bermalas-malasan tanpa mau berusaha. Bahkan yang namanya tawakkal harus disertai dengan upaya menempuh sebab, karena burung-burung itu diberi rezeki setelah menempuh usaha dan pencarian. Karena itulah Al-Imam Ahmad3 t berkata, “Tidak ada di dalam hadits ini yang menunjukkan ditinggalkannya usaha mencari rezeki. Bahkan justru menunjukkan upaya mencari rezeki. Hanyalah yang diinginkan Rasulullah n adalah andai mereka bertawakkal kepada Allah l dalam pergi, datang, dan segala aktivitas mereka, serta yakin kebaikan itu berada di tangan Allah l, niscaya tidaklah mereka kembali dari usaha mereka melainkan dalam keadaan beroleh rezeki, dalam keadaan selamat seperti halnya burung-burung.”

Abul Qasim Al-Qusyairi t berkata, “Ketahuilah, tawakkal itu tempatnya di hati. Adapun gerakan lahir tidaklah meniadakan tawakkal yang ada di hati, tentunya setelah seorang hamba meyakini bahwa rezeki itu datangnya dari Allah l. Jika seorang hamba kesulitan beroleh sesuatu maka itu dengan takdir-Nya, dan jika mudah beroleh sesuatu maka dikarenakan kemudahan dari-Nya.” (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Az-Zuhd, bab Fit Tawakkul ‘alallahi)

Al-Imam Ahmad t pernah ditanya tentang seseorang yang duduk di rumahnya atau di masjid dan mengatakan, “Aku tidak mau bekerja, nanti toh rezekiku akan datang juga.” Al-Imam Ahmad t menjawab, “Orang itu bodoh tidak tahu ilmu. Sungguh Nabi n telah bersabda:

إِنَّ اللهَ جَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ

‘Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku.’

لَوْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

‘Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung-burung yang terbang meninggalkan sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang kembali ke sarangnya di sore hari dalam keadaan kenyang.’

Rasulullah n menyebutkan bahwa burung-burung itu pergi di pagi hari dan pulang di sore hari dalam mencari rezeki.”

Al-Imam Ahmad t juga mengatakan, “Adalah para sahabat mereka berdagang dan bekerja di kebun kurma mereka. Mereka inilah yang menjadi teladan.” (dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306)

Dengan demikian tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha. Bahkan semestinya seorang muslim berusaha dengan sungguh-sungguh mencari penghidupannya. Hanya saja ia tidak boleh bersandar dengan kemampuan dan usahanya, namun harus meyakini bahwa perkara seluruhnya milik Allah l dan rezeki itu dari Allah l semata.

 

Memusatkan Pikiran dan Perhatian Ketika Beribadah

Di saat seorang hamba sedang beribadah kepada Allah l, hendaknya ia menghadirkan hati dan fisiknya dalam keadaan khusyuk, tunduk merendah diri kepada Allah l semata, ia hadirkan keagungan Allah l dan merasa sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha kuasa. Sehingga keberadaannya seperti tersebut dalam hadits yang mulia:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila engkau tidak dapat menghadirkan hati dan jasmani seakan melihatnya maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 93)

Barangsiapa dapat melakukan ibadah dengan gambaran seperti ini niscaya akan dimudahkan rezekinya. Abu Hurairah z mengabarkan dari Nabi n dalam sebuah hadits qudsi:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

Sesungguhnya Allah l berfirman, “Wahai anak Adam, pusatkan pikiran dan perhatianmu saat beribadah kepada-Ku niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kecukupan (kaya hati) dan Aku akan tutupi kefakiranmu (sehingga engkau merasa tidak butuh kepada makhluk namun hanya butuh kepada Allah saja). Bila engkau tidak melakukannya niscaya Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan (tidak pernah merasa cukup) dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu (sehingga engkau mengemis-ngemis/tergantung pada makhluk).” (HR. At-Tirmidzi no. 2466 dll, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan selainnya)

Ma’qil ibnu Yasar z berkata, Rasulullah n bersabda:

يَقُوْلُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلَأْ يَدَيْكَ رِزْقًا، يَا ابْنَ آدَمَ، لاَ تُبَاعِدْنِي فَأَمْلَأْ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلَأْ يَدَيْكَ شُغْلاً

Rabb kalian tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, pusatkan pikiran dan perhatianmu saat beribadah kepada-Ku niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kecukupan (kaya hati) dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauhiku niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan (tidak pernah merasa cukup).” (HR. Al-Hakim dalam Mustadraknya, 4/326, At-Tirmidzi no. 2466 dll, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah, 3/347)

 

Berhijrah Di Jalan Allah l

Allah l menjadikan amalan seseorang yang berhijrah di jalan-Nya sebagai salah satu kunci dari kunci-kunci rezeki. Namun sebelumnya kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan hijrah? Al-Jurjani t menyebutkan, bahwa hijrah adalah meninggalkan negeri yang dihuni di tengah orang kafir dan pindah ke negeri Islam (At-Ta’rifat, hal. 247), sebagaimana dulunya para sahabat g berhijrah meninggalkan Makkah, sebelum Makkah menjadi negeri Islam, menuju ke Madinah.

Hijrah ini wajib dilakukan. Sehingga manakala seorang muslim bermukim di negeri kafir, janganlah ia senang untuk tetap berdiam di situ. Bahkan ia harus berhijrah ke negeri kaum muslimin. Jangan ia khawatir dengan penghidupannya di tempat yang baru tersebut karena Allah l menjanjikan untuk membukakan rezekinya.

Allah l berfirman:

“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (An-Nisa’: 100)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah l menjanjikan dua perkara kepada orang yang berhijrah di jalan-Nya:

Pertama: ia akan mendapatkan tempat pelindungan yang dapat membentenginya.

Kedua: ia akan beroleh rezeki (Tafsir Ibni Katsir, 2/286)

Ini telah dibuktikan oleh para sahabat g. Manakala mereka dulunya meninggalkan kampung halaman dan harta mereka demi memenuhi perintah Allah l dan Rasul-Nya n untuk berhijrah fi sabilillah, Allah l pun memberi ganti yang lebih berlimpah untuk mereka. Allah l kuasakan untuk mereka perbendaharaan Persia dan Romawi.

 

Silaturahim

Rahim adalah karib kerabat. Silah ar-rahim atau silaturahim berarti menyambung rahim, kata Al-Mulla Ali Al-Qari, ungkapan ini sebagai kiasan dari berbuat baik kepada karib kerabat yang ada hubungan nasab atau karena hubungan pernikahan. Berlaku lembut kepada mereka dan memerhatikan keadaan mereka. (Mirqatul Mafatih, 8/645)

Didapatkan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa silaturahim ini merupakan satu sebab lapangnya rezeki seseorang. Di antaranya Abu Hurairah z berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang senang dibentangkan rezekinya dan diakhirkan/ditangguhkan ajalnya4, hendaklah ia menyambung rahimnya (silaturahim).” (HR. Al-Bukhari no. 5985)

Hadits di atas dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya dengan bab yang berjudul Man Busitha Lahu fir Rizqi bi Shilatirrahim, artinya orang yang dibentangkan rezeki untuknya karena silaturahim.

Masih dari Abu Hurairah z, ia memberitakan sabda Rasulullah n:

تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فيِ الْأَهْلِ، مَثْرَاةٌ فِي الْماَلِ، مَنْسَأَةٌ فِي الْأثَرِ

“Pelajarilah nasab-nasab kalian5 yang dengannya kalian menyambung hubungan rahim kalian karena silaturahim itu menumbuhkan kecintaan kepada keluarga, memperbanyak harta, dan menangguhkan ajal.” (HR. Ahmad 17/42, At-Tirmidzi no. 1979, dan selainnya, dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 276)

Ibnu Umar c, menyatakan:

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ وَوَصَلَ رَحِمَهُ أُنْسِئَ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَثُرِّيَ مَالُهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Siapa yang bertakwa kepada Rabbnya dan ia menyambung hubungan rahimnya niscaya akan dipanjangkan umurnya, dibanyakkan hartanya, dan keluarganya mencintainya.” (Diriwayatkan Al-Imam Bukhari t dalam Al-Adabul Mufrad no. 58, dishahihkan dalam Shahih Al-Adabil Mufrad)

Sebagian orang memahami silaturahim itu sebatas memberikan materi kepada kerabat. Padahal tidak demikian, karena silaturahim itu lebih luas cakupannya. Silaturahim berarti menyampaikan kebaikan kepada karib kerabat dengan materi atau lainnya, bisa berupa bantuan tenaga bila diperlukan, mencegah bahaya/mudarat yang akan menimpa mereka, menampakkan wajah yang manis/berseri-seri, serta mendoakan kebaikan untuk mereka. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan bila karib kerabat ini seorang muslim. Namun bila mereka kafir atau fajir maka hubungan dengan mereka diputuskan karena Allah l, dengan syarat terus mencurahkan segala upaya dan kesungguhan untuk memberikan nasihat kepada mereka serta mendoakan agar mereka beroleh hidayah. (lihat Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Birr wash Shilah, bab Ma Ja’a fi Shilatir Rahim)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad, yang biasa disebut dengan Abdurrauf, Al-Munawi (952-1031 H).
2 Al-Faqih Al-Muhaddits Abul Ali Muhammad Abdurrahman ibn Abdirrahim Al-Mubarakfuri.
3 Imam mulia yang masyhur, Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hambal Al-Adnani Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Baghdadi t, seorang alim yang tiada bandingannya di masanya, panutan dalam sikap wara’, zuhud, kokoh di atas al-haq, dan sabar dalam ujian, serta pembela Sunnah Nabawiyah yang tangguh (164-241 H).
4 Ibnu At-Tin t menyatakan zhahir (teks) hadits ini seakan bertentangan dengan firman Allah l:
“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak bisa meminta tangguh/diakhirkan sesaat pun dan tidak bisa pula minta dimajukan.” (Al-A’raf: 34)
Namun ayat ini dengan hadits di atas tidaklah saling bertentangan. Bahkan keduanya bisa dikumpulkan dalam salah satu dari dua sisi berikut ini:
Pertama, tambahan umur yang disebutkan merupakan kiasan dari keberkahan dalam umur (umur yang diberkahi, bukan bertambah dengan sebenarnya) dengan sebab seseorang diberi taufik untuk melakukan ketaatan dan memakmurkan/memenuhi waktunya dengan perkara yang bermanfaat bagi akhiratnya serta menjaga waktunya dari tersia-siakan. Kesimpulannya, silaturahim merupakan sebab seseorang mendapatkan taufik untuk melakukan ketaatan dan dijaga dari maksiat, sehingga sepeninggalnya ia tetap disebut-sebut dengan kebaikan, dengan seperti ini seakan-akan ia belum meninggal.
Kedua, tambahan umur yang disebutkan adalah hakiki. Benar-benar umurnya bertambah. Penambahan ini bila dinisbatkan kepada ilmu malaikat yang diserahi pengurusan umur. Adapun dalam ayat yang menyebutkan umur tidak bisa ditangguhkan dan tidak pula disegerakan dari waktunya, maka ini bila dinisbatkan kepada ilmu Allah k. Seperti misalnya dikatakan kepada malaikat, umur si Fulan seratus tahun bila ia menyambung hubungan rahimnya dan enampuluh tahun bila ia memutus silaturahimnya. Telah lewat dalam ilmu Allah l apakah di Fulan kelak menyambung hubungan rahimnya ataukah memutusnya. Apa yang ada dalam ilmu Allah l tidak akan maju/disegerakan dan tidak pula mundur/ditangguhkan. Namun yang ada pada ilmu malaikat bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Ayat berikut ini memberi isyarat demikian:
“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)
Penghapusan dan penetapan ini bila dinisbatkan pada ilmu malaikat. Sedangkan yang ada dalam Ummul Kitab, yang ada dalam ilmu Allah l, ini tidak dapat berubah sama sekali. Ath-Thibi menguatkan sisi yang pertama. (Fathul Bari, 10/510-511)
Ketika mengomentari hadits Anas bin Malik z yang menyebutkan sabda Rasulullah n:
مَنْ أَحَبَّ ُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dibentangkan rezekinya dan diakhirkan/ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia menyambung rahimnya (silaturahim).” (HR. Al-Bukhari no. 5985)
Al-Imam Al-Albani t berkata, “Hadits ini sesuai dengan zhahirnya, yaitu dengan hikmah-Nya, Allah l menjadikan silaturahim sebagai sebab syar’i dapat memanjangkan umur. Demikian pula akhlak yang baik dan menjadi teman/tetangga yang baik sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits yang shahih. Hal ini tidaklah bertentangan dengan apa yang diketahui dari agama ini secara pasti bahwa umur itu telah ditetapkan. Karena ini kalau melihat kepada khatimah/penutup hidup seseorang secara sempurna, seperti bahagia atau celaka, keduanya ini telah ditetapkan atas setiap individu, apakah ia orang yang beruntung/bahagia ataukah ia orang yang sengsara/celaka. Kebahagiaan dan kesengsaraan ini digantungkan dengan sebab-sebab secara syar’i sebagaimana sabda Rasulullah n:
“Beramallah kalian, masing-masingnya akan dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya. Siapa yang termasuk ahlus sa’adah/ orang-orang yang berbahagia maka ia akan dimudahkan untuk beramal dengan amalannya ahlus sa’adah. Dan siapa yang termasuk ahlus syaqawah/orang-orang yang celaka maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan ahlus syaqawah.”
Kemudian Rasulullah n membacakan ayat:
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan memudahkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan surga, maka kelak Kami akan memudahkan baginya jalan yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)
Maka sebagaimana iman itu dapat bertambah dan berkurang, bertambahnya dengan ketaatan dan berkurangnya dengan kemaksiatan, dan hal ini tidaklah meniadakan apa yang tertulis di Lauh Mahfuzh, demikian pula umur, dapat bertambah dan berkurang dengan melihat sebab-sebab yang ada. Maka hal ini tidak bertentangan atau meniadakan apa yang telah tercatat pula di Lauh Mahfuzh.” (Sebagaimana dinukil dalam Syarhu Shahih Al-Adabil Mufrad, 1/73)
5 Maknanya, kenalilah karib kerabat kalian dari kalangan mereka yang memiliki hubungan rahim dengan kalian sehingga memungkinkan bagi kalian untuk silaturahim yaitu mendekati mereka, menyayangi mereka, dan memberikan kebaikan kepada mereka. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Birr wash Shilah, bab Ma Ja’a fi Ta’limin Nasab)

Seputar Masalah Ilmu Kimia

Bismillah. Pada Asy Syariah Vol. IV/48/2009, ada jawaban pertanyaan atas ilmu kimia yang dimaksud adalah yang tidak bersandar kepada sunnah kauniyah Allah l. Mohon dijelaskan secara detail. Jazakumullah.

 

Ummu Faza – Solo

081802xxxxxx

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi:
Dalam Majalah Asy Syari’ah No. 46/1429 H/2008 dengan tema Adab Utang Piutang dan Jual Beli, disebutkan pada hal. 1, rubrik Permata Salaf yang berjudul Jauhilah Ilmu Yang Tidak Bermanfaat, Al-Hafizh Adz-Dzahabi t menerangkan tentang ilmu yang dibenci untuk dipelajari. Lalu disebutkan sebagai berikut:
“…Juga ilmu ketuhanan menurut filosof berikut sebagian bahkan mayoritas aktivitas mereka: ilmu sihir, ilmu sulap, ilmu kimia (yang tidak bermanfaat, ed.)….” dst.
Dari ucapan ini, secara zhahir nampak bahwa yang dimaksud adalah ilmu kimia yang biasa dipelajari para pelajar di tempat pendidikan mereka. Lalu pemahaman ini berlanjut ke edisi berikutnya, di mana salah seorang pembaca mempertanyakan tentang ilmu kimia yang bermanfaat. Pengirim surat juga tersebut menyebutkan beberapa manfaatnya.
Agar kesalahpahaman tentang “ilmu kimia” tidak berkelanjutan, maka saya melihat pentingnya untuk menjelaskan hal ini sebagai berikut:
Perlu diketahui bahwa ilmu kimia yang sering disebutkan oleh para ulama pada zaman dahulu tidaklah sama dengan “ilmu kimia” yang kita kenal di zaman kita sekarang ini yang dipelajari di sekolah-sekolah. Ilmu kimia yang dimaksud para ulama terdahulu adalah salah satu jenis ilmu sihir, yang tujuannya adalah berusaha mengubah satu benda yang terbuat dari tembaga atau yang lainnya menjadi emas, atau memiripkannya seperti emas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata:
وَحَقِيقِيَّةُ الْكِيمِيَاءِ: تَشْبِيهُ الْمَصْنُوعِ بِالْمَخْلُوقِ
“Hakikat dari ilmu kimia adalah membuat penyerupaan yang dibuat (dari tembaga atau semisalnya, pen.) seperti yang diciptakan (emas asli, pen.).” (Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah, Ibnu Taimiyah hal. 327)
Beliau juga berkata:
وَالسِّحْرُ مِنَ الْكَبَائِرِ وَالْكِيمِيَاءُ مِنَ السِّحْرِ
“Sihir termasuk dosa besar dan kimia temasuk bagian dari sihir.” (Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah hal. 329)
Inilah yang dikatakan oleh Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim, salah seorang murid Abu Hanifah t:
مَنْ طَلَبَ الْمَالِ بِالْكِيمِيَاءِ أَفْلَسَ
“Barangsiapa mencari harta dengan cara ‘kimia’ maka dia bangkrut.” (Tadzkiratul Huffazh, Adz-Dzahabi, 1/293, Al-Kamil, Ibnu ‘Adi, 7/145, Al-Kifayah fi Ilmir Riwayah, Al-Khathib Al-Baghdadi, 1/142)
Sebagai tambahan referensi, silakan lihat penjelasan panjang lebar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t tentang ilmu kimia dalam Majmu’ Al-Fatawa (29/368-388).
Al-Lajnah Ad-Da’imah ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut: “Saya membaca di sebagian kitab bahwa ilmu kimia merupakan salah satu jenis ilmu sihir. Apakah ini benar? Sekadar diketahui bahwa saya mendengar tentang sebuah kitab karya Ibnul Qayyim yang berjudul Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina Wajhan (Batilnya Ilmu Kimia dari 40 Sisi). Apakah praktik kimia yang dilakukan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas untuk mempelajari zat-zat tertentu dan unsur-unsurnya adalah haram atau tidak, ditinjau dari kedudukannya sebagai ilmu sihir? Padahal saya telah mengikuti sebagian praktik tersebut di sekolah. Saya tidak melihat pengaruh apapun tentang adanya sihir, seperti masuknya jin, mantera-mantera, dan yang semisalnya. Berikanlah faedah untuk kami. Semoga Allah l memberi anda faedah.”
Maka Al-Lajnah menjawab:
“Ilmu kimia yang dipelajari oleh para pelajar di sekolah bukanlah termasuk jenis kimia yang dilarang oleh para ulama. Mereka berkata bahwa itu adalah sihir. Mereka memperingatkan manusia darinya dan menyebutkan dalil-dalil tentang kebatilannya. Mereka juga menjelaskan bahwa itu adalah penipuan dan pengaburan. Para pembuatnya menyangka bahwa mereka mengubah besi –misalnya– menjadi emas dan tembaga menjadi perak. Mereka menipu manusia dengannya serta memakan harta manusia dengan cara yang batil.
Adapun yang dipelajari di sekolah-sekolah pada zaman ini adalah mengurai satu zat ke dalam beberapa unsur yang tergabung di dalamnya, atau mengubah beberapa unsur menjadi senyawa (gabungan beberapa unsur tersebut) yang sifatnya berbeda dengan unsur-unsur penyusunnya, dengan membuat dan melakukan cara-cara yang telah ditentukan. Maka, ini adalah hakikat yang benar-benar terjadi. Berbeda dengan kimia yang dimaksud (sebelumnya) yang merupakan pengaburan dan penipuan. (Ilmu kimia yang sekarang ini) bukan termasuk jenis sihir yang telah disebutkan dan diperingatkan tentang haramnya dalam nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Semoga Allah l memberi taufiq. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad n, keluarga dan para sahabatnya.
Ketua:  Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, fatwa no. 11137)
Demikian pula penjelasan Al-Allamah Ibnu Utsaimin t tentang bolehnya mempelajari ilmu kimia yang dikenal sekarang ini dalam Kitab Al-Ilmi (hal. 141).
Semoga tulisan ini memperjelas apa yang menjadi isykal (kejanggalan) bagi sebagian pembaca. Wallahul muwaffiq.

1 Ini adalah pendapat yang rajih. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dipersyaratkan harus terpotong adalah kerongkongan dan tenggorokan. -pen.
2 Lihat Fatawa Al-Lajnah (22/260-265,400-402). -pen.
3 HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Al-Hasan bin Ali c dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Al-Irwa’ (1/44) dan Al-Wadi’i t dalam Ash-Shahihul Musnad (1/222) -pen.

Hukum Makanan Impor dari Negeri Ahli Kitab

Bagaimana hukum memakan makanan ahli kitab yang diimpor berupa makanan siap saji ataupun makanan yang berupa sembelihan mereka, dan apakah Yahudi/Nasrani sekarang bisa disebut ahlul kitab yang halal sembelihannya?
(Pertanyaan via sms)
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad As-Sarbini:
Alhamdulillah, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam.
Secara global makanan terbagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama adalah nabati (non-hewani), berupa biji-bijian, buah-buahan, dan selainnya.
Jenis yang kedua adalah hewani. Jenis yang pertama seluruhnya halal kecuali yang memudaratkan dan tidak memberi manfaat seperti racun, rokok, dan yang semacamnya.
Jenis yang kedua meliputi hewan air (yang adatnya/biasanya hanya hidup di air) dan binatang darat (yang biasanya hanya hidup di darat). Hewan air seluruhnya halal. Hewan darat hukum asalnya halal kecuali yang dinyatakan haram berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Hewan-hewan yang halal dimakan harus melalui penyembelihan atau perburuan dengan persyaratan-persyaratan yang telah diatur dalam syariat, kecuali binatang tertentu yang halal dimakan tanpa penyembelihan, seperti belalang dan ikan serta binatang air lainnya. Di antara syarat sahnya sembelihan adalah penyembelihnya seorang muslim atau ahli kitab. Allah l menghalalkan bagi kaum muslimin sembelihan ahli kitab dalam firman-Nya:
“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian segala yang baik-baik. Sembelihan Ahli Kitab halal bagi kalian dan sembelihan kalian halal bagi mereka. Begitu pula (dihalalkan bagi kalian) wanita merdeka yang menjaga kehormatannya dari kalangan kaum mukminat dan dari kalangan Ahli Kitab sebelum kalian jika kalian memberikan maharnya dengan maksud menikahinya, bukan dengan maksud untuk berzina dan bukan (pula) menjadikannya gundik-gundik (kekasih-kekasih gelap yang tidak resmi).” (Al-Ma’idah: 5)
Kami telah menerangkan secara lengkap khilaf ulama tentang siapa Ahli Kitab yang dimaksud dalam ayat ini pada jawaban Rubrik Problema Anda dengan judul “Bolehkah Menikahi Wanita Ahli Kitab?” pada Vol. I/ No. 01/Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003. Kesimpulannya bahwa yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang mengatakan bahwa ayat ini umum mencakup siapa saja yang memeluk agama Yahudi atau Nasrani, baik dari kalangan Bani Israil ataupun yang lainnya, apakah dia mengikuti agama Yahudi atau Nasrani yang murni dan mentauhidkan Allah l, ataupun mengikuti yang sudah mengalami perubahan dan mempersekutukan Allah l, maka semuanya masuk dalam kategori Ahli Kitab tanpa pengecualian. Termasuk mereka yang ada pada masa ini.
Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh Asy-Syaukani t dalam Fathul Qadir (2/15), Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t dalam Taisirul Karimir Rahman (hal. 221-222), dan Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/218)/Terbitan Darul Atsar, Al-Qahirah. Di sini kami tambahkan bahwa ini pula yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah dalam Fatawa Al-Lajnah (22/393-395, 401, 404-405). Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:
a. Ayat ini bersifat umum dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya untuk Bani Israil.
b. Dalam ayat ini Allah l menghalalkan sembelihan Ahli Kitab dan wanita merdeka yang menjaga kehormatannya dari kalangan mereka. Sementara itu Allah l juga menerangkan tentang kesyirikan dan kekufuran mereka sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 72-73 dan surat At-Taubah ayat 30 ketika Nasrani mengatakan bahwa Nabi ‘Isa q adalah anak Allah l dan tuhan mereka, sedangkan Yahudi mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah l.
c. Dalam hadits Abu Sufyan z yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah n mengirim surat kepada Hiraql (Heraklius) penguasa Rum (Romawi) untuk mengajak dia dan kaumnya agar memeluk Islam dengan ayat ke-64 dari surat Ali ‘Imran. Jadi, Rasulullah n menggolongkan Hiraql dan kaumnya sebagai Ahli Kitab. Padahal dia dan kaumnya bukanlah dari Bani Israil, dan mereka memeluk agama Nasrani setelah mengalami perubahan. (Fathul Bari, 1/38-39)
Dipersyaratkan pada sembelihan Ahli Kitab syarat-syarat penyembelihan yang dipersyaratkan pada sembelihan muslim menurut pendapat jumhur ulama yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Al-Lajnah Ad-Daimah, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menyebutkan syarat-syarat sahnya penyembelihan yang meliputi sembelihan kaum muslimin dan Ahli Kitab. (Al-Mughni, 8/400, Asy-Syarhul Mumti’, 7/48-49, Fatawa Al-Lajnah, 22/387-389, 391-392, 416)
Syarat-syarat penyembelihan itu adalah:
1. Membaca basmalah.
2. Mengalirkan darah dengan cara memotong dua pembuluh darah besar yang ada di leher. Sempurnanya adalah jika kerongkongan (saluran makanan) dan tenggorokan (saluran nafas) ikut terpotong1.
3. Menggunakan alat pemotong yang tajam selain gigi dan kuku.
4. Penyembelihnya berakal, bukan anak kecil yang belum mumayyiz atau orang gila.
5. Penyembelihnya muslim atau Ahli Kitab.
Berdasarkan keterangan di atas, jika makanan impor tersebut dari sembelihan ahli kitab, maka hukum asalnya adalah halal. Kecuali jika diketahui dengan pasti (bukan sekadar praduga) bahwa binatang itu disembelih tanpa terpenuhi salah satu syarat dari syarat-syarat penyembelihan, seperti disembelih tanpa menyebut nama Allah l atau dengan menyebut nama selain Allah l, maka haram untuk dikonsumsi. Demikian pula halnya makanan yang berasal dari bahan-bahan yang halal dari apa-apa yang kami sebutkan globalnya di atas, maka hukum asalnya adalah halal hingga diketahui dengan pasti dan meyakinkan bahwa mengandung sesuatu yang haram.
Ada beberapa fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah seputar permasalahan ini2 yang kesimpulannya menyatakan bahwa hukum asal sembelihan kaum muslimin dan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah halal, kecuali jika ada alasan yang tsabit (tetap) yang menggesernya keluar dari hukum asalnya menjadi sesuatu yang haram. Demikian pula halnya dengan bahan-bahan bermanfaat yang diimpor baik berupa makanan dan produk jadi seperti keju, mentega, manisan/permen, sabun, dan yang lainnya, atau berupa bahan yang belum terolah. Sedangkan informasi yang tersiar mengenai status daging-daging sembelihan ahli kitab dan makanan/produk jadi yang diimpor yang sifatnya simpang siur, tanpa ada kejelasan yang meyakinkan, tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum untuk menggeser kehalalannya yang meyakinkan menjadi sesuatu yang haram. Sampai ada kejelasan yang meyakinkan yang bisa dijadikan landasan hukum untuk menyatakan keharamannya. Namun jika seseorang meragukan kehalalannya hendaklah dia meninggalkannya (tidak mengonsumsinya) dalam rangka berhati-hati dan mengamalkan hadits:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”3
Demikian pula jika seseorang meragukan kehalalannya karena mendapati tanda-tanda atau acuan-acuan yang menimbulkan keraguan, maka hendaklah dia meninggalkannya dalam rangka berhati-hati berdasarkan hadits di atas. Akan tetapi tidak dibenarkan baginya untuk mengharuskan dan memaksa orang lain mengikutinya. Wallahu a’lam.

Al-Haq

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Haq (Yang Maha Benar). Nama yang mulia ini telah Allah l sebut dalam Al-Qur’an. Allah l berfirman:

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Hajj: 6)

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 116)

Dari Ibnu Abbas c, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ n إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ n حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ –أَوْ: لَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Adalah Nabi n bila melakukan shalat malam bertahajjud beliau berdoa: Ya Allah, milik-Mulah segala pujian. Engkaulah Penegak langit dan bumi serta siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, milik-Mulah kerajaan langit-langit dan bumi dan siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Cahaya langit-langit dan bumi dan siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Raja langit-langit dan bumi. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Yang Maha Benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar ucapan-Mu benar, surga benar, neraka benar, para nabi benar, Muhammad n benar, hari kiamat benar. Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, dan kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakkal, kepada-Mulah aku kembali, dengan pertolongan-Mulah ketika aku berdialog, kepada-Mulah aku berhukum. Maka ampunilah apa yang telah aku perbuat, dan apa yang aku lakukan di belakang hari, apa yang aku sembunyikan atau yang terang-terangan. Engkaulah yang memajukan atau yang mengundurkan. Tiada Ilah yang benar melainkan engkau.” (HR. Al-Bukhari, Abwabut Tahajjud Bab At-Tahajjud billaili)

Nama Allah l yang agung ini memiliki makna yang luas. Di antaranya bahwa keberadaan Allah l sungguh-sungguh benar.

Qiwamussunnah Al-Ashfahani t mengatakan: “Di antara nama Allah l adalah Al-Haq (Yang Maha Benar), yakni Dialah yang keberadaan-Nya sungguh benar…” (Al-Hujjah, 1/135)

Ibnul Qayyim t berkata: “Karena sesungguhnya Allah l, Dialah Yang Maha Benar, ucapan-Nya benar, dan agama-Nya benar. Kebenaran merupakan sifat-Nya. Kebenaran adalah sifat-Nya dan milik-Nya.” (Madarijus Salikin, 2/333)

Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Al-Haq, Yang Maha Benar, pada Dzat dan sifat-Nya. Maka ada-Nya adalah suatu kepastian. Maha sempurna seluruh sifat-Nya. Dzat-Nya mengharuskan keberadaan-Nya, dan tiada keberadaan sesuatu dari suatu apapun kecuali dengan kehendak-Nya. Dialah yang masih tetap dan terus memiliki sifat keagungan, keindahan, dan kesempurnaan. Ucapan-Nya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya juga benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya adalah benar, dan segala sesuatu yang disandarkan kepada-Nya adalah benar.

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Ilah) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Al-Kahfi: 29)

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)

“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Isra’: 81) [Taisir Al-Karimirrahman, dinukil dari Shifatullah k]

 

Adzan dan Iqomat (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

Lafadz-lafadz Adzan dan Iqamat

Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli t berkata: “Riwayat yang paling shahih (tentang lafadz-lafadz adzan yang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid z, pen.) adalah riwayat Muhammad bin Ishaq, yang mendengarkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Harits At-Taimi, dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi, yang mendengarkan dari ayahnya, Abdullah bin Zaid, karena Muhammad telah mendengarkan langsung dari bapaknya yakni Abdullah.”

Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad t (3/43), Ashabus Sunan kecuali An-Nasa’i t, dan selainnya. At-Tirmidzi t menukilkan penshahihan Al-Imam Al-Bukhari t terhadap riwayat ini di dalam Al-Ilal. Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah t, beliau menyatakan hadits ini shahih dan pasti dari sisi penukilan, para perawinya bukan orang-orang yang melakukan tadlis (penyebutan secara samar) dalam periwayatannya. (Ats-Tsamar, 1/115)

Dalam hadits tersebut, Abdullah bin Zaid z berkata: Ketika Rasulullah n memerintahkan untuk menggunakan lonceng sebagai tanda bagi orang-orang untuk berkumpul guna mengerjakan shalat berjamaah, ada seseorang mengelilingiku dengan membawa lonceng di tangannya dalam keadaan aku tidur saat itu. Aku berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng?”

“Apa yang hendak kau perbuat dengan lonceng?” tanyanya.

“Kami ingin memanggil orang-orang berkumpul untuk shalat dengan membunyikan lonceng,” jawabku.

“Maukah aku tunjukkan kepadamu apa yang lebih baik daripada itu?” tanyanya.

Aku katakan, “Tentu aku mau.”

Orang itu berkata, ”Engkau mengatakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Marilah mengerjakan shalat. Marilah mengerjakan shalat.

Marilah (menuju) kepada kemenangan. Marilah (menuju) kepada kemenangan.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.1

Kemudian ia mundur dariku ke tempat yang tidak seberapa jauh, setelahnya ia berkata, ”Jika engkau iqamat untuk shalat, engkau katakan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Di pagi harinya, aku menemui Rasulullah n untuk mengabarkan mimpiku. Beliau bersabda:

إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللهُ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ

“Mimpimu itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan adzan tersebut, karena dia lebih lantang suaranya darimu.”

Aku bangkit bersama Bilal. Mulailah kusampaikan padanya adzan yang kudengar, lalu ia mengumandangkannya. Umar ibnul Khaththab z mendengar adzan tersebut dari rumahnya. Ia pun keluar dengan menyeret rida’ (selendang)nya, seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, wahai Rasulullah! Sungguh aku telah bermimpi persis seperti apa yang dimimpikan Abdullah bin Zaid.”

“Hanya milik Allah-lah segala pujian,” jawab beliau3.

Dari hadits di atas, kita ketahui bahwa lafadz adzan itu digandakan4 sedangkan iqamat diganjilkan, kecuali lafadz:

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ.

Yang lebih menguatkan hal ini adalah hadits Anas bin Malik z, ia berkata:

أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوْتِرَ الْإِقَامَةَ إِلاَّ الْإِقاَمَةَ

“Bilal diperintah untuk menggandakan lafadz adzan dan mengganjilkan iqamat kecuali lafadz iqamat5.” (HR. Al-Bukhari no. 605 dan Muslim no. 836)

 

Disyariatkannya Tarji’ dalam Adzan Abu Mahdzurah

Rasulullah n juga pernah mengajarkan lafadz yang sedikit berbeda yang dikenal di kalangan ahli fiqih dengan sebutan adzan Abu Mahdzurah z. Lafadznya sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim t dalam kitab Shahihnya no. 840.
Di awal lafadz adzan ini, kita lihat ucapan takbir hanya dua kali, tidak empat kali sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid z yang telah lewat. Namun yang rajih (kuat) dalam hal ini adalah lafadz takbir diucapkan empat kali:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
dengan beberapa alasan yang menguatkan:
1. Hadits ini diriwayatkan pula oleh selain Al-Imam Muslim t dengan empat kali takbir di awalnya. Yang paling jelas adalah riwayat An-Nasa’i t dalam Sunannya (no. 631) dari jalur syaikhnya, Ishaq bin Ibrahim, semisal riwayat Muslim. Dan Ishaq bin Ibrahim ini merupakan salah satu syaikh Al-Imam Muslim dalam hadits ini juga6.
2. Abu Dawud t7 dan selainnya meriwayatkan hadits ini dari jalur Hammam dari Amir Al-Ahwal, dari Makhul, dari Abu Mahdzurah z yang menyebutkan lafadz adzan yang diajarkan Rasulullah n kepadanya ada 19 kalimat8, sedangkan iqamat ada 17 kalimat. Lafadz adzan sebagaimana berikut ini:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Adapun lafadz iqamat:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ.
3. Al-Qadhi Iyadh t berkata ketika mensyarah hadits di atas, “Dalam sebagian jalur-jalur riwayat Al-Farisi, disebutkan adzan itu dengan empat kali takbir (di awal).” (Al-Ikmal, 2/244)
Dengan tiga perkara di atas menjadi jelaslah bahwa riwayat yang menyebutkan dua kali takbir di awal adzan teranggap marjuh (lemah), sehingga yang rajih dari hadits Abu Mahdzurah z adalah empat kali takbir di awal. Ibnul Qaththan t berkata, “Yang shahih dalam hal ini adalah takbir diucapkan sebanyak empat kali. Dengan demikian sesuai bila dikatakan adzan itu sembilan belas kalimat, di mana hal ini telah diikat dengan hadits itu sendiri.” Beliau juga menyatakan, telah datang dalam sebagian riwayat Al-Imam Muslim t dengan penyebutan takbir empat kali. Sehingga inilah yang sepantasnya dalam Ash-Shahih.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata menguatkan perkara ini, “Sungguh Abu Nu’aim telah meriwayatkan dalam Al-Mustakhraj, demikian pula Al-Baihaqi, dari jalan Ishaq bin Ibrahim, dari Mu’adz bin Hisyam dengan sanadnya. Disebutkan dalam hadits tersebut pernyataan empat kali takbir. Al-Baihaqi menyatakan setelah membawakan hadits tersebut, “Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dari jalan Ishaq. Demikian juga oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhrajnya dari jalan Ali ibnul Madini, dari Mu’adz.” (At-Talkhis, 1/323).
Akan tetapi, adzan dengan dua kali takbir tersebut telah didukung beberapa syawahid (pendukung) yang menunjukkan ada asalnya dalam As-Sunnah9. Wallahu a’lam.
Dari hadits Abu Mahdzurah di atas kita dapat mengambil tiga faedah:
1. Tarji’ disyariatkan dalam adzan, yaitu muadzin mengucapkan syahadatain untuk pertama kali dengan suara rendah yang hanya didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah itu ia mengulangi lagi syahadatain tersebut dengan suara yang keras/lantang. Tarji’ ini hanya dalam adzan, tidak ada dalam iqamat. Pensyariatan tarji’ ini merupakan mazhab Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama. (Al-Minhaj, 4/303. Subulus Salam 2/48,49)
2. Selain mengganjilkan lafadz iqamat, dibolehkan pula mentatsniyahnya, yaitu mengucapkan lafadz-lafadznya sebanyak dua kali. Ini merupakan keragaman iqamat shalat, sehingga kedua-duanya bisa diamalkan karena keduanya merupakan Sunnah Nabi n, di mana beliau yang mentaqrir (menetapkan kebenaran) mimpi Abdullah bin Zaid z yang di dalamnya terdapat lafadz iqamat secara ganjil kecuali قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ, قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ . Beliau n pula yang mengajarkan lafadz adzan berikut iqamat kepada Abu Mahdzurah z serta memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di Makkah.
3. Beragamnya lafadz adzan. Ada yang 19 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan empat takbir yang awal yang diriwayatkan oleh Al-Jama’ah. Ada yang 17 kalimat sebagaimana hadits Abu Mahdzurah dengan tarji’ dan dua takbir di awalnya dalam riwayat Al-Imam Muslim. Ada yang 15 kalimat sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid ibnu ‘Abdi Rabbihi. Ini menunjukkan adanya tanawwu’at (berbagai macam lafadz) dalam adzan, sehingga boleh diamalkan salah satu di antaranya. Al-Imam Ahmad dan Ishaq memandang bolehnya tarji’ dan tidak. Kedua hal itu merupakan sunnah. (Al-Majmu’, 3/102)
Wajib Urutan dalam Melafadzkan Adzan
Ibnu Qudamah t berkata, “Tidak sah adzan kecuali dengan berurutan. Karena bila tidak berurutan lafadznya niscaya tujuan yang hendak dicapai dengan adzan tidak akan diperoleh, yaitu sebagai pemberitahuan. Juga, bila tidak berurutan niscaya tidak akan diketahui bahwa itu adalah adzan. Di samping pula adzan memang disyariatkan dengan berurutan, dan Nabi n mengajari Abu Mahdzurah secara berurutan.” (Al-Mughni, kitabush Shalah, fashl La Yashihhul Adzan illa Murattaban)
Ibnu Hazm t berkata, “Tidak boleh terbalik dalam melafadzkan adzan ataupun iqamat. Tidak boleh mengedepankan kalimat yang semestinya diakhirkan. Siapa yang melakukan hal ini berarti ia tidak melakukan adzan dan iqamat, berarti pula ia shalat tanpa adzan dan tanpa iqamat.”
Ibnu Hazm t juga menyebutkan bahwa Rasulullah n mengajarkan adzan dan iqamat secara berurutan, kalimat yang pertama kemudian yang berikutnya. Beliau n memerintahkan kepada orang yang beliau ajarkan untuk mengucapkan seperti apa yang beliau sampaikan. Setelah mengucapkan lafadz yang awal, baru yang berikutnya, demikian sampai keduanya selesai. Bila demikian keadaannya, maka tidak halal bagi seorang pun menyelisihi perkara Nabi n dalam mengedepankan apa yang beliau akhirkan dan mengakhirkan apa yang beliau kedepankan.” (Al-Muhalla, 2/194,195) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah, bersambung)

1 Ini merupakan adzan orang-orang Kufah, dan merupakan pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ahmad dalam satu riwayat sebagaimana hikayat Al-Khiraqi. (Al-Majmu’ 3/102)
2 Artinya: Telah tegak shalat, telah tegak shalat.
3 Hadits ini hasan sebagaimana dalam Al-Irwa’ no. 246.
4 Kecuali takbir yang awal sejumlah empat kali dan tahlil di akhir adzan hanya sekali.
5 Yaitu lafadz: قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ
6 Syaikhnya yang lain adalah Abu Ghassan Al-Misma’i Malik bin Abdil Wahid.
7 Dalam Sunannya no. 502
8 Adzan ini merupakan adzan penduduk Makkah. Al-Imam Asy-Syafi’i t berpendapat demikian sebagaimana kata At-Tirmidzi t dalam Sunannya (1/124). Pendapat ini yang dipilih Ibnu Hazm t (Al-Muhalla 2/185).
9 Penduduk Madinah menggunakan adzan dengan dua kali takbir di awal, yang merupakan pendapat Al-Imam Malik t dalam Al-Mudawwanah (1/57), berdalilkan hadits Abu Mahdzurah z yang menyebutkan dua kali takbir di awal.