Memenuhi Seruan allah dan Rasul Nya

Dalam al-Qur’an yang mulia, Allah l berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling dari ketaatan dalam keadaan kalian mendengar. Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mengatakan, ‘Kami mendengar’, padahal mereka tidaklah mendengar. Sesungguhnya makhluk melata yang paling buruk di sisi Allah adalah orang yang tuli dan bisu lagi tidak berakal. Seandainya Allah mengetahui pada mereka ada kebaikan niscaya Allah menjadikan mereka mau mendengar. Seandainya pun Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedangkan mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul mengajak kalian kepada perkara yang bisa memberikan kehidupan kepada kalian. Ketahuilah Allah menghalangi/membatasi antara manusia dan hatinya1, dan sungguh hanya kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.” (al-Anfal: 20—24)
Ayat yang mulia di atas berisi beberapa perkara berikut ini.
1. Perintah Allah l untuk taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.
2. Perintah istijabah/memenuhi atau tunduk kepada Allah l dan Rasul-Nya saat mendengar perintah dan larangan keduanya.
3. Larangan tasyabbuh/menyerupai orang-orang kafir dan munafik dalam hal keengganan untuk taat dan memenuhi ajakan Allah l dan Rasul-Nya.
Orang kafir dan munafik memang enggan mendengar Kalamullah, sebagaimana firman Allah l,
Dan berkatalah orang-orang kafir, “Janganlah kalian mendengar al-Qur’an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkan (mereka).” (Fushshilat: 26)
Orang Yahudi berkata,
Mereka mengatakan, “Kami mendengar tapi kami mendurhakai.” (al-Baqarah: 93)
Orang-orang munafik berkata,
Mereka mengatakan, “Kami mendengar,” padahal mereka tidaklah mendengar. (al-Anfal: 21)
Mereka hanyalah mendengar dengan telinga mereka namun tidak dengan hati mereka.

4. Anak Adam yang sifatnya demikian adalah makhluk Allah l yang paling jelek.
Allah l menyatakan,
“Sesungguhnya makhluk melata yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak berakal.” (al-Anfal: 22)
Artinya, mereka tuli dari mendengar al-haq, bisu dari memahami dan mengucapkannya. Mereka tidak memiliki akal sehat yang bisa digunakan untuk memikirkan akibat yang akan diperoleh. Akal mereka hanya terbatas memikirkan urusan dunia dan kenikmatan sesaat. Mereka laksana binatang ternak yang tidak ada keinginannya selain mengisi perut, tidak pernah berpikir tentang masa depan yang hakiki, dan tidak membuat persiapan untuk kehidupan yang lain setelah kehidupan di dunia. Bahkan mereka lebih parah dari binatang karena binatang justru makhluk yang taat kepada Allah l dalam perkara yang Allah l ciptakan mereka untuknya.
Adapun orang-orang kafir itu mereka sebenarnya diciptakan untuk beribadah, namun mereka mengufurinya. Oleh karena itu, pantaslah Allah l mengatakan tentang mereka,
“Sungguh mereka tidak lain kecuali seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya.” (al-Furqan: 44)
Seorang muslim dituntut untuk mendengarkan Kalamullah saat dibacakan dan menyimak hadits-hadits Rasulullah n saat diperdengarkan disertai upaya untuk memahami dan mencari tahu apa yang dimaksud. Setelah ia mendengar dan memahaminya, ia berusaha mengamalkannya.
Mengapa demikian? Karena sekadar mendengar dan memahami saja tanpa mengamalkan, akan menjadi hujatan baginya pada hari kiamat. Allah l berfirman,
“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepada kalian, tetapi kalian selalu mendustakannya.” (al-Mu’minun: 105)
Allah l juga berfirman,
“(Bukan demikian) sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (az-Zumar: 59)
Setiap kita hendaknya memikirkan, berapa banyak kita membaca dan mendengarkan ayat dan hadits, namun kita tidak mengamalkannya. Hal itu akan menjadi hujatan bagi kita pada hari kiamat. Nabi n bersabda,
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al-Qur’an itu hujah yang membela/menolongmu atau mencelakakanmu.” (HR. Muslim)
Berapa jauhkah pemenuhan kita terhadap seruan Allah l yang berulang-ulang lagi beragam dalam Kitab-Nya,
“Wahai manusia!”
“Wahai anak Adam!”
“Wahai orang-orang yang beriman!”
“Wahai hamba-hamba-Ku!”
Sebagian salaf berkata, “Apabila Allah l berfirman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ‘Wahai orang-orang yang beriman,’ curahkanlah pendengaranmu kepada apa yang disampaikan setelahnya karena hal itu adalah kebaikan yang engkau diperintah melakukannya atau kejelekan yang engkau diperingatkan darinya.”
Allah l telah mengabarkan bahwa urusan yang diperintahkan-Nya dan diajak-Nya mengandung kehidupan bagi hati, yang akan membuahkan kehidupan yang sempurna lagi bahagia bagi jasmani di dunia dan di akhirat. Allah l berfirman,
ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤﯥ
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul mengajak kalian kepada sesuatu yang bisa memberikan kehidupan kepada kalian.” (al-Anfal: 24)
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ﯣ ﯤ (sesuatu yang bisa memberikan kehidupan kepada kalian) maksudnya adalah al-Qur’an.” Yang lain mengatakan, “Al-Islam.” Hal ini karena al-Qur’an menghidupkan mereka dari kekufuran, sebagaimana Allah l berfirman,
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan….” (al-An’am: 122)
Ada pula yang mengatakan, perkara yang memberikan kehidupan itu adalah jihad karena dengannya diperoleh kemuliaan Islam setelah kehinaan, kekuatan setelah kelemahan.
Kemudian Allah l mengancam orang yang tidak memenuhi ajakan-Nya,
“Ketahuilah Allah menghalangi/membatasi antara manusia dan hatinya. Sungguh, hanya kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.” (al-Anfal: 24)
Siapa yang tidak memenuhi ajakan Allah l dan Rasul-Nya niscaya Allah l akan menghukumnya dengan dipalingkan hatinya hingga dia tidak akan menerima al-haq setelah itu, seperti yang dinyatakan oleh Allah l,
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (al-An’am: 110)
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah pun memalingkan hati mereka.” (ash-Shaff: 5)
Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati dan tidak menolak perintah Allah l sejak awal pertama datang kepada kita. Apabila kita menolak, setelahnya kita akan dihalangi dari menerima perintah tersebut karena Allah l memisahkan antara seseorang dan hatinya. Ia membolak-balikkannya sekehendak-Nya. Oleh sebab itulah, Nabi n banyak berdoa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبَّتْ قَلْبِـي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. at-Tirmidzi no. 2141)
Dalam hadits yang sama, Rasulullah n menyatakan,
إِنَّ الْقُلُوْبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمنِ، يُصَرِّفُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahman, dibolak-balikkan-Nya sebagaimana yang Dia inginkan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2141)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (Insya Allah bersambung)

(Disusun kembali dari khutbah Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah yang dimuat dalam kitab al-Khuthab al-Minbariyah fil Munasabat al-Ashriyah, 4/69—72)

Ayat yang Bertentangan?

Allah l berfirman,
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita yang baik-baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula….” (an-Nur: 26)
Dia Yang Mahatinggi juga berfirman,
Nabi Nuh berseru kepada Rabbnya sembari berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sungguh janji-Mu itulah yang benar….” (Hud: 45)
Namun Allah l menyatakan kepada Nuh q,
“Wahai Nuh, sungguh dia bukanlah termasuk keluargamu1, sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik….” (Hud: 46)
Di surat lain Allah l berfirman,
Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang kafir. Keduanya berada di bawah status pernikahan dengan dua hamba yang saleh dari kalangan hamba-hamba Kami. Namun kedua istri tersebut berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari siksa Allah. Dan (di hari kiamat nanti) dikatakan kepada keduanya, “Masuklah kalian berdua ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.” Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (at-Tahrim: 10—11)
Bagaimana mendudukkan ayat-ayat di atas yang seakan bertentangan? Di satu ayat dinyatakan, “Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik….” Sementara itu, di ayat yang lain diberitakan bahwa istri Nabi Nuh q dan Luth q adalah perempuan yang buruk. Adapun Fir’aun yang jelek, istrinya adalah wanita yang baik?
Jawab:
Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta2 memberikan jawaban sebagai berikut.
1. Allah l berfirman,
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita yang baik-baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula….” (an-Nur: 26)
Ayat ini disebutkan setelah ayat-ayat yang turun tentang haditsul ifk (kabar dusta dan keji yang dituduhkan kepada Ummul Mukminin Aisyah ash-Shiddiqah bintu ash-Shiddiq, semoga Allah l meridhainya dan ayahnya) sebagai penekanan akan terlepasnya Aisyah x dari tuduhan palsu, dusta, dan mengada-ada yang dilemparkan oleh Abdullah bin Ubai bin Salul, tokoh munafikin. Ayat di atas sekaligus menjadi keterangan akan kesucian dan penjagaan diri Aisyah x serta hubungannya dengan Rasulullah n.
Ayat ini memiliki dua makna:
a. Kata khabitsat (yang keji/buruk) dan amalan sayyi’at (jelek) paling pantas digandengkan dengan orang-orang yang keji. Orang-orang yang keji lebih pantas dan cocok dengan kata khabitsat dan amalan fahisyah. Kata thayyibat (yang baik) dan amalan thahirah (suci) paling pantas dan paling berhak disandangkan kepada orang-orang thayyibun, para pemilik jiwa yang mulia dan akhlak karimah yang tinggi. Thayyibun lebih pantas dengan kata thayyibat dan amalan shalihat.
b. Wanita-wanita khabitsat untuk laki-laki khabitsun (keji), dan para lelaki khabitsun lebih pantas pula beroleh wanita-wanita khabitsat. Sebaliknya, wanita-wanita thayyibat, yang suci lagi menjaga diri, lebih pantas untuk para lelaki yang suci lagi menjaga diri. Para lelaki thayyibun dan menjaga diri paling utama beroleh para wanita yang suci lagi menjaga diri pula.
Ayat ini dengan kedua maknanya menunjukkan kesucian Ummul Mukminin Aisyah x dari tuduhan keji yang dilemparkan Abdullah bin Ubai bin Salul dan orang yang mengikutinya yang tertipu dengan k-edustaannya dan teperdaya oleh ucapannya yang diindah-indahkan.

2. Allah l berfirman,
Nabi Nuh berseru kepada Rabbnya sembari berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sungguh janji-Mu itulah yang benar. Engkau adalah sebaik-baik pemutus perkara.” Namun Allah l menyatakan kepada Nuh q, “Wahai Nuh, sungguh dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik….” (Hud: 45—46)
Makna dua ayat di atas adalah Allah l mengabarkan tentang Rasul-Nya Nuh q yang memohon kepada Allah l agar menunaikan janji-Nya kepadanya untuk menyelamatkan putranya dari bencana tenggelam dan binasa. Hal ini berdasarkan apa yang dipahami Nuh q dari firman Allah l kepadanya,
“Angkutlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing hewan sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan atasnya dan angkutlah pula orang-orang yang beriman.” (Hud: 40)
Nuh q berkata,
“Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku….” (Hud: 45)
Sungguh, Engkau telah menjanjikan kepadaku untuk menyelamatkan keluargaku dan janji-Mu itu benar, tidak akan diingkari.
“Sungguh janji-Mu itulah yang benar. Engkau adalah sebaik-baik pemutus perkara.”
Allah l menyatakan,
“Wahai Nuh, sungguh dia bukanlah termasuk keluargamu….” (Hud: 46)
Maksudnya, anakmu itu tidak termasuk orang-orang yang Aku janjikan keselamatan karena yang Aku janjikan untuk diselamatkan hanyalah orang yang beriman dari kalangan keluargamu. Pengecualian ini dibuktikan dengan firman-Nya,
“… kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan atasnya.”3
Oleh karena itulah, Allah l mencela Nuh q atas permintaan tersebut dan pemahamannya yang keliru, dengan menyatakan,
“Wahai Nuh, sungguh dia bukanlah termasuk keluargamu.”
Mengapa? Allah l menerangkan alasannya dengan firman-Nya,
“… sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik….”
karena kekafirannya terhadap ayahnya, Nuh q, dan penyelisihannya terhadap sang ayah, si anak tidak termasuk keluarga sang ayah dalam hal agama, walaupun secara nasab si anak adalah putranya4.
Ibnu Abbas c dan ulama salaf lainnya berkata, “Tidak ada satu pun istri nabi yang berzina.” Inilah yang benar. Hal ini karena Allah l sangat cemburu apabila sampai ada istri nabi yang diutus-Nya berbuat fahisyah (zina). Oleh sebab itulah, Allah l marah terhadap orang-orang yang menuduh Aisyah x, istri Rasulullah n, berbuat fahisyah. Allah l mengingkari perbuatan mereka tersebut dan menyucikan Aisyah x dari ucapan mereka serta menurunkan ayat al-Qur’an tentang hal tersebut yang terus dibaca sampai hari kiamat.

3. Allah l berfirman,
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang kafir….” (at-Tahrim: 10)
dan dua ayat seterusnya dari surah at-Tahrim.
Setelah Allah l menyalahkan istri-istri Rasulullah n, secara khusus Aisyah dan Hafshah c, atas perbuatan mereka yang tidak pantas dalam bergaul yang baik dengan Rasulullah n hingga beliau marah dan bersumpah untuk mengasingkan diri dari mereka selama sebulan. Allah l mengingkari kesalahan yang dilakukan oleh sebagian mereka terhadap diri Rasulullah n, serta mengancam mereka dengan talak dan Allah l akan menggantikan untuk beliau istri-istri yang lebih baik dari mereka, Allah l menutup surah at-Tahrim dengan dua permisalan.
Satu permisalan diberikan-Nya untuk orang-orang kafir, yaitu dua istri yang kafir: istri Nabi Nuh q dan istri Nabi Luth q. Permisalan berikutnya untuk orang-orang yang beriman, yaitu dua wanita yang salehah: Asiyah, istri Fir’aun, dan Maryam bintu Imran.
Permisalan ini adalah bentuk pengumuman bahwa Allah l adalah Hakim yang adil, tidak ada yang Dia segani ketika menghukumi. Bahkan, di sisi-Nya, setiap jiwa akan beroleh apa yang diusahakannya. Allah l mendorong para hamba-Nya untuk bertakwa dan takut akan sebuah hari saat mereka semua akan dikembalikan kepada Allah l. Sebuah hari yang seorang ayah tidak bisa menebus anaknya dan anak tidak bermanfaat bagi ayahnya sedikit pun. Sebuah hari saat seseorang lari meninggalkan saudara, ibu, ayah, istri, dan anaknya. Setiap orang pada hari itu punya urusan yang menyibukkannya. Sebuah hari yang seseorang tidak bisa memikul dosa orang lain. Sebuah hari yang tidak bermanfaat di dalamnya syafaat, selain bagi orang yang diizinkan oleh ar-Rahman dan diridhai ucapannya.
Allah l menerangkan bahwa istri Nuh q dan istri Luth q adalah dua wanita yang kafir meskipun keduanya adalah istri dari dua rasul yang mulia. Istri Nuh mengkhianati beliau dengan menunjukkan kepada orang kafir siapa-siapa yang beriman kepada suaminya. Sementara itu, istri Nabi Luth mengabarkan kepada orang kafir tentang tamu-tamu suaminya. Apa yang dilakukan kedua wanita ini adalah bentuk gangguan dan pengkhianatan terhadap suami keduanya. Keduanya juga menghalangi manusia sehingga tidak mengikuti kedua rasul yang mulia. Maka dari itu, kesalehan suami keduanya, Nuh dan Luth, tidak bermanfaat bagi keduanya. Tidak pula hal itu dapat mencegah dan menghalangi keduanya dari beroleh azab Allah l sedikit pun.
Pada hari kiamat dikatakan kepada kedua wanita ini, “Masuklah kalian berdua ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya,” sebagai balasan yang setimpal atas kekufuran dan pengkhianatan keduanya. Bentuk pengkhianatannya adalah istri Nuh melaporkan kepada orang-orang kafir tentang orang-orang yang beriman kepada suaminya, sedangkan istri Luth memberi tahu kepada orang-orang kafir tentang tamu-tamu suaminya. Pengkhianatan keduanya bukan dalam bentuk berzina karena Allah l tidak akan ridha apabila ada di antara nabi-Nya yang memiliki seorang istri yang pezina.
Dalam tafsirnya terhadap firman Allah l, “Maka keduanya mengkhianati suami keduanya…,” Ibnu Abbas c menyatakan bahwa kedua istri tersebut tidaklah berzina.
Beliau menegaskan, “Tidak ada seorang pun dari istri nabi yang melakukan perbuatan zina. Adapun pengkhianatan keduanya (istri Nuh dan istri Luth) adalah dalam hal agama.”
Demikian pula yang dikatakan oleh Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, adh-Dhahhak, dan selain mereka, semoga Allah l merahmati mereka.
Pada ayat berikutnya, Allah l menerangkan permisalan yang dibuat-Nya untuk orang-orang yang beriman dengan Asiyah, istri Fir’aun, orang yang paling zalim di zamannya. Allah l hendak menunjukkan bahwa bercampurnya orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir tidak akan bermudarat bagi si mukmin apabila memang terpaksa harus bercampur, selama orang-orang beriman tersebut berpegang dengan tali Allah l, teguh dengan agamanya. Sebaliknya, kesalehan dua rasul: Nuh dan Luth, tidak bermanfaat bagi dua istri mereka yang kafir. Allah l berfirman,
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali (kekasih, teman dekat, pemimpin, penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28)
Oleh karena itu, istri Fir’aun tidak termudaratkan dengan kekafiran dan kezaliman suaminya. Allah l adalah Hakim yang adil. Ia tidak akan menyiksa seseorang karena dosa yang diperbuat oleh orang lain. Allah l justru melindungi Asiyah, meliputinya dengan penjagaan dari-Nya, menjaganya dengan baik, dan mengabulkan doanya, serta membangun untuknya sebuah rumah di jannah (surga). Allah l pun menyelamatkannya dari Fir’aun dan makarnya serta dari seluruh orang yang zalim.
Dari penafsiran ayat-ayat yang telah lewat, disimpulkan bahwa putra Nuh q bukanlah anak zina; dan Aisyah x dibersihkan oleh Allah l dari tuduhan yang dilemparkan oleh tokoh munafik dan orang yang tertipu oleh ucapan si munafik dari kalangan mukminin dan mukminah; istri Nuh q dan istri Luth q tidaklah berzina, hanya saja mereka berdua kafir dan memberi tahu orang-orang kafir tentang urusan yang menyusahkan suami masing-masing, serta memalingkan manusia dari mengikuti kedua nabi ini. Ayat di atas menunjukkan pernikahan seorang mukmin dengan wanita kafir dibolehkan dalam syariat umat terdahulu, demikian pula pernikahan seorang lelaki kafir dengan mukminah5.
Dengan demikian, jelaslah bahwa ayat-ayat yang disebutkan tidaklah saling bertentangan, tetapi justru bercocokan. Sebagiannya menguatkan yang lain.
(Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta, fatwa no. 11324, 3/271—276)

 

Catatan Kaki:

1 Seakan-akan penanya beranggapan, Allah l menolak ucapan Nabi Nuh q bahwa anak itu adalah anak kandungnya, yang berarti bahwa anak itu hasil hubungan zina istri Nuh dengan lelaki lain, sedangkan Nuh q merasa anak itu adalah darah dagingnya. Padahal maksud firman Allah l, “Sungguh dia bukanlah termasuk keluargamu” adalah sebagaimana yang akan diterangkan dalam jawaban pertanyaan ini. Adapun pengkhianatan istri Nuh q kepada beliau bukan dalam bentuk berselingkuh dengan lelaki lain hingga lahir “anak haram”, sebagaimana akan dijelaskan. –penerj.

2 Saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh al-Imam Ibnu Baz, semoga Allah l merahmati beliau dan meluaskan kuburnya.

3 Bahwa dia akan terkena azab karena kekafirannya. –penj.
4 Jadi, yang ditolak oleh Allah l bukanlah keberadaan anak tersebut sebagai anak kandung Nabi Nuh q, tetapi keberadaannya sebagai keluarga Nuh yang dijanjikan untuk diselamatkan dari azab karena anak tersebut kafir terhadap ayahnya, seorang rasul yang menyeru kepada keimanan. –penj.

5 Dalam hal ini, Asiyah yang mukminah bersuamikan Fir’aun yang kafir, bahkan salah seorang tokoh kekafiran.

Menjaga Kemuliaan Diri

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Pamer aurat, tabarruj1, khalwat2, dan ikhtilath3 menjadi sesuatu yang dianggap biasa oleh para wanita zaman sekarang. Seakan-akan semua itu bukanlah suatu dosa. Ditambah embusan-embusan beracun dari para hidung belang dan perusak tentang gambaran wanita yang “maju”, yang menjadi dambaan dan idola, jadilah para wanita semakin bersemangat dan saling berlomba mencapai kemajuan semu yang hendak digapainya. Tentu, dengan tidak lupa memoles wajah dan menata busananya saat tampil di hadapan orang banyak.
Berbincang, bergurau, dan tertawa dengan lawan jenis yang bukan apa-apanya sudah dianggap kelaziman dalam bersosialisasi. Yang menyedihkan, wanita-wanita berkerudung tidak mau ketinggalan. Mereka turut berlomba dengan wanita kebanyakan dalam hal meraih “kemajuan”, peduli busana indah, dan penampilan memikat. Muncullah model-model busana muslimah tabarruj plus kerudung yang amat jauh dari tuntunan syariat. Alih-alih menutup aurat dari pandangan lelaki ajnabi, ia malah memamerkan keindahan kerudung dan pakaian yang dikenakannya. Jatuhlah diri ke dalam dosa, dalam keadaan merasa telah menunaikan kewajiban agama sebagai perempuan.
Para muslimah yang berjilbab (baca: berkerudung) ini pun tidak mau ketinggalan dalam hal berinteraksi “bebas” atau “bebas terbatas” dengan lawan jenis, baik dengan dalih teman sekolah, rekan sekerja, kawan semajelis taklim, saudara, maupun alasan lainnya.
Sungguh, ini adalah sebuah musibah. Petaka pasti menjadi buahnya. Sungguh, Islam telah memberikan aturan yang agung, bagaimana seharusnya seorang wanita bertingkah laku agar tidak menjadi sebab kerusakan di masyarakat, yang akhirnya mengundang kemurkaan Rabbul Alamin.
Islam menuntunkan agar kaum wanita, terkhusus para muslimah, menjaga kemuliaan diri serta tidak merendahkan harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, seseorang yang melepaskan diri dari aturan Islam tidak akan beroleh kemuliaan hakiki. Justru kehinaan dan kerendahan yang akan menyertainya, walaupun manusia memandang sebaliknya. Seorang wanita yang pamer aurat di depan kamera atau di atas catwalk—karena profesinya sebagai artis/fotomodel atau peragawati—sesungguhnya dia adalah wanita yang hina dan rendah walau manusia yang jahil mengelu-elukannya sebagai bintang atau selebritas yang menjadi idola.
Dengan demikian, apabila seorang wanita ingin mulia, hendaknya ia tidak mengikuti selera orang-orang rendahan. Ikutilah aturan Islam yang diturunkan oleh Rabbul Alamin, Dzat yang paling tahu urusan yang memberi kemaslahatan kepada para hamba.
Asy-Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam bukunya Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, pada bagian yang kesepuluh, menyebutkan beberapa hal yang berperan dalam hal menjaga kemuliaan diri dan kehormatan seorang wanita. Di antaranya bisa kita ringkas sebagai berikut.

1. Sebagaimana halnya lelaki, wanita juga diperintahkan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.
Allah l berfirman,
Katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mukminin, “Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Memberitakan apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada kaum mukminat, “Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka….” (an-Nur: 30—31)
Asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi t, guru asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah, dalam tafsirnya Adhwa’ul Bayan mengatakan, “Allah l memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaganya dari berbuat zina, liwath (homoseksual), dan lesbian. Di samping itu juga menjaga kemaluan agar tidak sampai terlihat oleh manusia (yang tidak halal melihatnya, -penerj.) dan tidak membukanya….”
Hingga ucapan beliau, “Allah l menjanjikan bagi orang yang melaksanakan perintah-Nya dalam ayat ini, dari kalangan lelaki dan perempuan, akan beroleh ampunan dan pahala yang besar, apabila bersamaan dengan itu ia juga melakukan hal-hal yang disebutkan dalam surat al-Ahzab, yaitu pada firman-Nya,
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya (menjaga kemaluan mereka), laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir), Allah telah siapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35) (Adhwa’ul Bayan, 6/186—187)
Al-Allamah Ibnul Qayyim t berkata dalam al-Jawabul Kafi (hlm. 232—233) tentang menundukkan pandangan, “Pandangan yang tiba-tiba (tanpa disengaja) merupakan penunjuk syahwat dan utusannya. Menjaganya merupakan pokok/landasan penjagaan kemaluan. Maka dari itu, siapa yang mengumbar pandangannya berarti ia telah menggiring jiwanya ke tempat kebinasaan. Nabi n bersabda kepada Ali bin Abi Thalib z,
لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّمَا لَكَ الْأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْأُخْرَى
“Janganlah engkau mengikuti satu pandangan (yang tiba-tiba tanpa disengaja -penerj.) dengan pandangan berikutnya. Yang menjadi milikmu hanyalah yang awal, sedangkan yang berikutnya bukan untukmu.” (HR Abu Dawud no. 1865, at-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad 5/353, 357. Dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud, Shahih at-Tirmidzi, dan Hijabul Mar’ah hlm. 34)
Beliau t juga mengatakan, “Pandangan mata adalah asal seluruh kejadian yang menimpa manusia. Hal ini karena pandangan itu menghasilkan lintasan/betikan hati, yang kemudian membuahkan pikiran, lalu memunculkan syahwat. Syahwat kemudian mendorong adanya keinginan. Keinginan itu bertambah kuat hingga membulatkan tekad kokoh yang akhirnya mengantarkannya kepada perbuatan. Ini adalah satu hal yang pasti terjadi apabila tidak ada sesuatu yang menghalangi. Oleh karena itu, dinyatakan, “Bersabar untuk menundukkan pandangan itu lebih ringan daripada bersabar menanggung penderitaan yang datang setelahnya.” (hlm. 234)
Maka dari itu, sepantasnya Anda, wahai muslimah, menundukkan pandangan dengan tidak memandang lelaki ajnabi. Jangan pula Anda melihat gambar-gambar yang mengundang godaan yang ditampilkan oleh majalah tertentu, atau yang ditayangkan layar televisi dan film. Selamatkan diri Anda dari akibat yang buruk. Betapa banyak pandangan mata mengakibatkan penyesalan pada pelakunya. Ketahuilah, api yang besar itu berawal dari percikan api yang kecil.

2. Termasuk upaya menjaga kemaluan adalah menghindari mendengarkan musik dan nyanyian.
Al-Imam al-Allamah Ibnul Qayyim t menyatakan, “Termasuk tipu daya setan yang menimpa orang yang sedikit ilmu, akal, dan agamanya, serta menjerat hati orang yang bodoh dan batil, adalah mendengarkan siulan, tepuk tangan, dan nyanyian dengan alat-alat musik yang diharamkan. Hal-hal ini semua memalingkan hati dari al-Qur’an. Ia menjadikan hati itu berdiam tekun dalam kefasikan dan maksiat. Nyanyian ini adalah qur’an setan, hijab (tirai penghalang) tebal yang menghalangi dari ar-Rahman. Nyanyian adalah ruqyah/jampi-jampi liwath (homoseksual) dan zina.” (Ighatsatul Lahafan, 1/242—248, 264—265)
Ibnul Qayyim t juga mengatakan, “Mendengarkan nyanyian dari seorang wanita atau anak lelaki yang belum tumbuh kumis/jenggotnya termasuk perkara yang sangat haram dan paling dahsyat kerusakannya terhadap agama….”
Hingga ucapan beliau, “Tidaklah diragukan, setiap orang yang punya kecemburuan akan menjauhkan istrinya dari mendengar nyanyian, sebagaimana halnya ia menjauhkan mereka dari sebab-sebab yang membuat keraguan terhadap kehormatan mereka.”
Maka dari itu, wahai muslimah, berhati-hatilah Anda dari penyakit berbahaya ini, yang sangat disayangkan justru laris di kalangan kaum muslimin dengan berbagai sarana dan beragam cara. Seolah-olah tidak bisa terbayang hidup tanpa musik dan lagu.

3. Termasuk upaya penjagaan terhadap kemaluan adalah mencegah wanita melakukan safar melainkan jika disertai mahramnya yang akan menjaga dan melindunginya dari keinginan jelek orang-orang fasik.
Abu Hurairah z berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيْرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ عَلَيْهَا
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar sehari semalam kecuali bersama mahramnya.” (HR. al-Bukhari no. 1088 dan Muslim no. 3255)
Apabila ada yang menyatakan, mahram si wanita mengantarkannya sampai naik ke dalam pesawat setelah itu meninggalkannya, dan nanti ketika sampai ke negeri atau kota yang dituju maka mahramnya yang lain akan menjemputnya di bandara. Toh, pesawat terbang aman, menurut anggapan mereka. Di dalamnya banyak penumpang, baik pria maupun wanita.
Kita jawab, hal itu tidak benar. Justru pesawat lebih besar bahayanya daripada kendaraan lain karena para penumpang bercampur baur di dalamnya. Bisa jadi, si wanita harus duduk bersebelahan dengan lelaki ajnabi (asing, bukan mahram). Bisa jadi pula, ada sesuatu yang menghalangi penerbangan pesawat tersebut ke tempat yang hendak dituju sehingga pesawat harus mendarat di bandara lain. Tentu si wanita tidak akan menemui orang yang menjemputnya sehingga ia pun berhadapan dengan bahaya. Apa kiranya yang akan diperbuat oleh seorang wanita di sebuah negeri/kota yang tidak dikenalnya dan tidak ada mahramnya di tempat tersebut?

4. Termasuk yang bisa menjaga kemaluan adalah melarang khalwat antara wanita dan lelaki yang bukan mahramnya.
Rasulullah n bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali ia berduaan dengan wanita yang tidak ada mahram bersamanya, karena yang ketiganya adalah setan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Al-Imam asy-Syaukani t berkata, “Khalwat dengan wanita yang bukan mahram adalah masalah yang disepakati keharamannya. Hal ini dihikayatkan oleh al-Hafizh t dalam Fathul Bari. Alasan pengharamannya adalah apa yang disebutkan dalam hadits di atas, yaitu pihak yang ketiga dari keduanya adalah setan. Tentu kehadiran setan akan menjerumuskan keduanya ke dalam maksiat. Adapun apabila bersama keduanya ada mahram si wanita, dibolehkan karena terhalanginya maksiat dengan kehadirannya. (Nailul Authar hlm. 64—68)
Inilah beberapa hal yang bisa ditempuh untuk menjaga kemuliaan, kehormatan, dan harga diri seorang wanita, yang disebutkan oleh asy-Syaikh Shalih Fauzan. Semoga Allah l membalas beliau dengan kebaikan yang banyak. Semoga pula Allah l memberi hidayah kepada semuanya menuju jalan-Nya yang lurus.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Menampakkan perhiasan, keindahan, dan kecantikan diri di hadapan lelaki ajnabi/bukan mahram.
2 Bersepi-sepi atau berdua-duaan dengan lelaki ajnabi tanpa ada mahram atau orang ketiga.
3 Bercampur baur tanpa hijab/penghalang antara lelaki dan wanita.

Asma’ Bintu An Nu’man al-Kindiyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Kita tengok sejenak perjalanan kehidupan mulia Rasulullah n. Pernah ada seorang wanita yang hampir-hampir menemani hidup beliau. Namun, Allah l berkehendak, wanita itu urung menjadi sisian beliau.
Tahun sembilan hijriah, datang an-Nu’man bin Abil Jaun dari suku Kindah ke Madinah. Dia menghadap Rasulullah n untuk berislam.
Pada kesempatan itu, an-Nu’man menawarkan kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, maukah engkau kunikahkan dengan seorang janda tercantik di kalangan Arab? Dahulu dia ini istri anak pamannya, namun suaminya meninggal. Sekarang dia menjanda dan sangat ingin menjadi istrimu.”
Rasulullah n menyetujui. Bulan Rabiul Awwal tahun sembilan hijriah, menikahlah beliau dengan Asma’ bintu an-Nu’man bin Abil Jaun ibnul Aswad ibnul Harits bin Syarahil ibnul Jaun bin Akil al-Murar al-Kindiyah. Waktu itu, Asma’ masih ada di kampungnya.
Beliau serahkan mahar sebesar 12¼ uqiyah.
“Wahai Rasulullah, jangan kau berikan mahar yang terlampau sedikit kepadanya,” pinta an-Nu’man.
“Aku tak pernah memberikan mahar kepada satu pun dari istriku lebih dari itu, dan aku juga takkan meminta mahar untuk putri-putriku lebih dari itu,” jawab Rasulullah n.
An-Nu’man menyetujui. Setelah itu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, utuslah orang untuk menemui istrimu dan membawanya kemari. Nanti aku akan menyertai utusanmu itu.”
Rasulullah n mengutus Abu Usaid as-Sa’idi disertai an-Nu’man bin Abil Jaun. Asma’ sedang berada di rumahnya ketika mereka berdua tiba. Asma’ mempersilakan masuk. Saat itu telah turun ayat hijab.
Abu Usaid pun segera menjelaskan, “Sesungguhnya, istri-istri Rasulullah tak pernah dilihat oleh seorang lelaki pun.”
“Harus ada hijab antara engkau dan laki-laki yang berbicara denganmu, kecuali orang yang memiliki hubungan mahram denganmu,” lanjut Abu Usaid.
Wanita beriman yang tunduk pada perintah Rabbnya. Asma’ pun berhijab dari lelaki yang bukan mahramnya.
Abu Usaid tinggal di kampung Asma’ selama tiga hari. Setelah itu, dia mulai bersiap membawa Asma’ kepada Rasulullah n. Dipasangnya sekedup di atas untanya. Di atas punggung unta itu, Asma’ bertolak menuju Madinah.
Tiba di Madinah, Abu Usaid menempatkan Asma’ di perkampungan Bani Sa’idah. Para wanita Bani Sa’idah berdatangan menemui Asma’, mengucapkan selamat datang kepadanya. Sekembali dari sana, mereka ramai memperbincangkan kecantikan Asma’ yang amat memesona. Dalam sekejap, tersebarlah berita kedatangan Asma’ sekaligus kemolekannya ke seluruh penjuru kota Madinah.
Berita itu didengar pula oleh ummahatul mukminin. Mereka pun mendatangi Asma’. Kemudian salah seorang dari mereka mengatakan kepada Asma’, “Kalau nanti Rasulullah mendekatimu, ucapkanlah, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu’.”
Sementara itu, Abu Usaid memberitahukan kedatangannya bersama Asma’ kepada Rasulullah n. Beliau saat itu sedang berada di perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf.
“Wahai Rasulullah, aku telah datang membawa keluargamu,” Abu Usaid mengabarkan.
Rasulullah n keluar diiringi Abu Usaid. Rasulullah n masuk menemui Asma’. Beliau pun menutup pintu dan menurunkan satir. Lalu beliau berlutut sembari mengulurkan tangannya kepada Asma’.
“Aku berlindung kepada Allah darimu,” ucap Asma’ tiba-tiba.
Rasulullah n segera menahan dirinya dari Asma’. “Sesungguhnya, engkau telah memohon perlindungan kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu,” kata beliau.
Beliau keluar kembali menemui Abu Usaid, “Wahai Abu Usaid, bawalah dia kembali kepada keluarganya! Berikan kepadanya dua helai pakaian katun.”
Kembalilah Asma’ bintu an-Nu’man ke tengah keluarganya. Karena penyesalannya, ia selalu menyebut dirinya asy-Syaqiyah, wanita yang celaka.
Manakala Rasulullah n mengetahui apa yang membuat Asma’ mengatakan ucapan itu, beliau mengatakan, “Mereka itu seperti wanita-wanita yang ada di masa Yusuf. Tipu daya mereka amatlah besar.”
Ketetapan takdir memang telah mendahului bahwa Asma’ tidaklah termasuk dalam deretan ummahatul mukminin.
Asma’ bintu an-Nu’man meninggal pada masa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z.
Semoga Allah l meridhai Asma’….

 

Sumber bacaan:
• al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/19—21)
• al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/485—486)
• ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/138—142)
• Siyar A’lamin Nubala’, al-Imam adz-Dzahabi (2/257—260)

 

Mewujudkan Rumah Tangga Bahagia (bagian ke 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Siapa gerangan yang tak hendak memiliki rumah tangga bahagia, yang dipenuhi mawaddah wa rahmah? Setiap insan yang berakal lurus tentu mendambakannya.
Islam telah memberikan aturan yang sempurna dan kiat-kiat jitu untuk mewujudkannya, sebelum membinanya, di saat menjatuhkan pilihan, dan dalam perjalanan membinanya.

Seorang lelaki dan seorang wanita yang telah memutuskan untuk melangkah ke kehidupan orang dewasa, hendaknya menyadari bahwa mereka menikah dengan anak manusia yang sebagaimana dimaklumi tidak ada yang sempurna. Bahkan, manusia adalah tempat salah dan dosa, seperti kata Rasulullah n,
كُلُّ بَنِي آدَم خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 4515 dan al-Misykat no. 2341)
Seorang lelaki tidaklah menikah dengan bidadari yang sempurna. Seorang wanita tidak pula dinikahi oleh pria yang sesuci malaikat. Oleh karena itu, hendaknya setiap pihak menyadari bahwa dalam perjalanan rumah tangga, masing-masing akan mendapatkan kekurangan dan kesalahan dari pasangannya. Karena itulah, kehidupan dua anak manusia yang semula tidak saling mengenal, kemudian bersatu dalam sebuah atap, sebuah kamar, bahkan satu selimut, tidak menutup kemungkinan akan muncul kesalahpahaman. Ini adalah suatu kewajaran orang yang hidup bersama.
Pikirkanlah wahai para suami….
Andai salah seorang dari kalian memiliki teman seperjalanan selama berbulan-bulan, apakah bisa digambarkan di antara keduanya tidak pernah terjadi kesalahpahaman? Orang yang menuntut agar selamanya tidak terjadi kesalahpahaman berarti dia telah menuntut sesuatu yang mustahil.
Lantas, bagaimana kiranya dengan seorang wanita yang hidup bersama Anda sepanjang umur Anda yang tersisa, atau seorang lelaki yang hidup bersama Anda, wahai wanita, sampai akhir hayat Anda? Apakah Anda ingin suci dari kesalahan atau maksum dari ketergelinciran? Siapa yang tidak bisa bergaul dengan teman hidupnya dengan menerima segala kekurangan yang ada—selama urusannya bukan cacat dalam hal agama atau akhlak—niscaya hidupnya lebih dekat kepada kekeruhan daripada kejernihan. Barangkali, perjalanan waktu akan membawanya kepada rasa benci dan permusuhan, keputusasaan dari meraih cinta dan kasih sayang. Dengan demikian, tidaklah berlebihan apabila ada yang mengatakan, “Sempitnya dada untuk menerima uzur dan tidak mau menutup mata dari kesalahan adalah sebab hancurnya rumah tangga.”
Termasuk perkara yang perlu diperhatikan bagi sepasang suami istri bahwa hari-hari awal pernikahan adalah masa-masa untuk saling mengenal pribadi dan sifat masing-masing. Orang yang berakal lagi cerdas, walau dalam waktu yang singkat, tentu akan dapat memahami pribadi teman hidupnya. Apa yang dia sukai, apa yang dibencinya, apa kekurangannya, dan apa kelebihannya. Setelah itu, dia bergaul dengan pasangannya sesuai dengan apa yang dipahami dan dikenalinya. Tentu saja, membangun keluarga yang bisa saling memahami bukanlah hal yang mudah. Siapa yang berhasil melakukannya, dia akan beroleh kebahagiaan yang tiada terkira.
Karena itulah, hamba-hamba yang beriman memohon kepada Allah l, Rabb mereka, agar memberi rezeki kepada mereka berupa istri-istri yang dapat menyejukkan mata-mata mereka. Allah l berfirman menyebutkan doa tersebut,
Dan orang-orang yang berkata dalam doa mereka, “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami rezeki berupa istri-istri dan anak-anak (keturunan) yang menjadi penyejuk mata bagi kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)
Apa yang kami uraikan di atas merupakan pembuka terhadap masalah yang hendak kita bicarakan, yaitu pembicaraan seputar al-hayat az-zaujiyah, kehidupan sepasang insan dalam sebuah rumah tangga.

Tahapan Pertama
Tahapan pertama yang ditempuh bagi seseorang yang ingin membangun sebuah keluarga adalah memilih teman hidup. Seorang lelaki sebagai pihak yang mencari, mungkin harus bolak-balik bertanya dan mencari tahu, siapa wanita yang bisa diajaknya bekerja sama dalam hidup ini. Yang mau menjadi syarikah hayah (teman hidup)nya. Yang mau setia menemaninya dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis.
Di sisi lain, seorang wanita berada pada pihak yang menanti. Adakah seseorang akan mengetuk pintu rumah walinya, yang akan membawanya dari kesendirian menuju kebersamaan yang penuh dengan ketenangan?
Apabila perkara memilih ini lebih mudah bagi lelaki, tidak demikian halnya bagi wanita. Di sinilah peran wali, ia hendaknya menolongnya mewujudkan masa depannya.
Hal ini adalah amanat besar yang harus disadari oleh setiap wali yang takut kepada Allah l dan berharap kepada-Nya. Hendaknya si wali mengamalkan wasiat Nabi n,
لاَ يَكُوْنُ لِأَحَدٍ ثَلاَثُ بَنَاتٍ، أَوْ ثَلاَثُ أَخَوَاتٍ فَيُحْسِنُ إِلَيْهِنَّ إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seseorang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, lalu dia berbuat baik kepada mereka, melainkan dia pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam ash-Shahihah no. 294 dan Shahih al-Adabil Mufrad)
Dalam lafadz lain disebutkan,
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ فَاتَّقَى اللهَ وَأَقَامَ عَلَيْهِنَّ كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ. –وَأَوْمَأَ باِلسَبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
“Siapa yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan lalu dia bertakwa kepada Allah dan menegakkan urusan mereka (mengurusi mereka), orang tersebut dengan aku di surga seperti ini—beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah.” (ash-Shahihah no. 294(
Al-Hasan al-Bashri t pernah ditanya seseorang, “Aku memiliki seorang putri. Menurutmu, kepada siapa aku nikahkan putriku tersebut?”
Al-Hasan menjawab, “Nikahkan putrimu dengan seorang yang bertakwa kepada Allah l. Jika orang yang bersifat demikian mencintai putrimu (sebagai istrinya), niscaya dia akan memuliakannya. Namun, apabila dia membencinya, dia tidak akan menzalimi istrinya.” (Sebagaimana dinukil dalam catatan kaki Tuhfatul ‘Arus, hlm. 166)
Seorang lelaki hendaklah mencari istri yang bersedia menjalankan dengan baik kewajibannya sebagai istri sesuai dengan kesanggupannya dan mau menerima suami apa adanya. Bisa jadi, perjalanan yang ditempuh bersamanya akan lama dan panjang. Hendaklah seorang lelaki menyadari bahwa istri adalah teman sepanjang umurnya yang tersisa sehingga teman tersebut harus bersifat amanah dan bersedia memenuhi apa yang menjadi tanggung jawabnya. Apabila Allah l menetapkan kebersamaan itu langgeng, tentu istri yang demikian akan menjadi penolong terbaik bagi suaminya. Namun, apabila pernikahan harus kandas di tengah jalan dan kebersamaan hanya akan jadi derita jika dipertahankan, istri yang demikian akan menutup cacat dan cela yang pernah didapatkannya selama bersama sang suami.
Dengan demikian, memilih pasangan hidup harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan tidak asal-asalan. Hal ini karena dia akan menyertai Anda dalam bagian yang paling rahasia sekalipun bagi hidup Anda. Dia akan menemani Anda dalam manis dan pahitnya hidup, panjang atau pendeknya hidup, bahagia atau kesedihannya.
Seorang suami hendaklah berpikir panjang. Apakah wanita yang dipilihnya itu akan menjadi penolong baginya saat dia menghadapi rintangan dalam kehidupan yang memang penuh dengan perkara yang mengejutkan? Ataukah si wanita akan membiarkannya sendiri menghadapi dukanya?

Sebelum Menjatuhkan Pilihan
Ada beberapa hal yang kiranya tak patut diabaikan oleh seorang lelaki saat mencari wanita yang akan dipersuntingnya.

1. Menimbang perangai ibu calon istri, apabila memungkinkan.
Di saat seorang lelaki memutuskan untuk menikah dan sedang mencari seorang wanita yang mau menjadi serikat dalam hidupnya, hendaklah yang turut menjadi pertimbangannya adalah perangai ibu si wanita yang hendak dilamarnya—jika hal itu mudah baginya. Menurut pengamatan yang panjang, tampak bahwa banyak anak perempuan meniru perangai ibunya, atau sedikit banyak ada pengaruh sang ibu pada diri si putri.
Maka dari itu, cari tahulah tentang ibunya. Walaupun hal ini tidak mesti, namun tidak ada salahnya menjadi bahan pertimbangan, lebih-lebih jika terdapat banyak pilihan dan semuanya baik secara lahir.
Betapa banyak rumah tangga yang bermasalah disebabkan ibu mertua turut campur tangan. Betapa banyak istri yang berani kepada suaminya karena dirusak oleh ibunya. Betapa banyak istri yang suka menuntut macam-macam kepada suaminya karena diajari dan dikompori oleh ibunya. Betapa banyak pula istri yang mengingkari kebaikan suaminya dan tidak bergaul secara ma’ruf dengan suaminya karena melihat perbuatan sang ibu kepada sang ayah dahulu, yang kemudian berpengaruh dan tertanam dalam jiwanya.
Namun, ada pula ibu mertua yang baik, yang mengarahkan putrinya agar menjadi istri yang baik. Ia bisa menjaga rahasia dan turut membantu rumah tangga putrinya agar tetap utuh. Ia menganggap pemberian yang sedikit dari suami putrinya layaknya sebuah gunung yang besar. Tentu ibu mertua seperti ini akan menggembirakan menantunya (suami putrinya). Di sisi lain, ibu mertua tipe ini akan memberinya ketenangan apabila suatu ketika ia terpaksa harus meninggalkan si istri bersama ibunya. Ia tahu bahwa saat ia kembali ke sisi istrinya nanti, niscaya ia akan mendapati istrinya lebih baik dari yang sebelumnya dengan didikan dan arahan yang diberikan oleh sang ibu selama ditinggalnya.
Kata orang Arab,
إِذَا تَزَوَّجْتَ فَكُنْ حَاذِقًا
اسْأَلْ عَنِ الْغُصْنِ وَمَنْبَتِهِ
Apabila Anda hendak menikah, jadilah orang yang cerdas
Tanyakan tentang ranting dan tanyakan pula tentang dahannya.
Ada hikayat indah yang sering dibawakan oleh para penulis dalam buku-buku mereka yang berbicara tentang pernikahan. Tidak ada salahnya kita nukilkan di sini sebagai ibrah.
Syuraih al-Qadhi t berkata, “Aku meminang seorang wanita dari Bani Tamim. Saat hari pernikahanku dengannya, datanglah teman-teman wanitanya memberi hadiah kepadanya hingga ia masuk menemuiku.” Aku berkata, “Termasuk ajaran sunnah, apabila seorang istri dipertemukan dengan suaminya hendaknya si suami bangkit mengerjakan shalat dua rakaat, lalu memohon kebaikan istrinya kepada Allah l dan berlindung dari kejelekannya.” Aku lantas berwudhu. Ternyata, istriku pun berwudhu seperti wudhuku. Aku lalu melakukan shalat, ternyata ia pun shalat mengikuti shalatku.
Tatkala rumah telah sepi, tinggal kami berdua, aku mendekatinya lalu mulailah tanganku menjulur kepadanya. Istriku berkata saat itu, “Jangan terburu-buru, wahai Abu Umayyah.”
Lantas istriku melanjutkan ucapannya, “Alhamdulillah, aku memohon pertolongan-Nya dan aku bershalawat atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du… Aku adalah wanita yang asing. Tidak ada pengetahuanku tentang akhlakmu. Terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya, dan apa yang engkau benci niscaya aku akan menjauhinya. Sekarang, engkau telah memiliki diri ini dengan ketetapan dari Allah l yang mesti terjadi, maka lakukanlah apa yang Allah l perintahkan,
“Apakah menahan dengan cara yang ma’ruf atau melepas (mencerai) dengan cara yang baik.” (al-Baqarah: 229)
Aku berkata, “Alhamdulillah, aku memuji Allah l dan memohon pertolongan kepada-Nya, shalawat dan salam semoga tertuju kepada Nabi Muhammad, keluarga dan segenap sahabat beliau. Amma ba’du… Sungguh engkau telah mengucapkan kalimat yang jika engkau benar-benar berada di atasnya, hal itu menjadi keberuntungan bagiku. Namun, jika engkau meninggalkannya, niscaya hal itu akan menjadi hujah yang memberatkanmu. Aku suka ini dan aku benci itu. Hal-hal baik yang engkau lihat dariku, maka sebarkanlah. Namun, kejelekan yang engkau lihat, maka tutupilah.”
Sang istri berucap lagi, “Apa engkau suka apabila aku mengunjungi keluargaku?”
“Aku tidak suka keluarga istriku menjadi bosan kepadaku,” jawabku.
Istriku kembali mengajukan pertanyaannya, “Di antara tetanggamu, siapa yang engkau senangi masuk ke rumahmu sehingga aku akan izinkan (ia masuk rumahmu), dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga aku pun tidak suka?”
“Bani Fulan adalah kaum yang saleh, sedangkan Bani Fulan (yang lain) adalah kaum yang buruk,” jawabku.
Syuraih al-Qadhi akhirnya menyatakan, “Aku pun melewati malam yang terindah bersamanya. Waktu setahun pun berlalu dalam kebersamaanku dengannya. Tidak pernah aku melihat darinya selain perkara yang aku senangi. Ketika akhir tahun saat aku datang dari majelis hakim, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang wanita tua.”
Aku bertanya, “Siapa perempuan tua itu?”
Dijawab, “Fulanah, ibu dari istrimu.”
“Marhaban, ahlan wa sahlan,” sambutku.
Saat aku telah duduk, datanglah ibu mertuaku tersebut seraya berkata, “Assalamu ‘alaik, wahai Abu Umayyah.”
“Wa ‘alaikis salam, marhaban bik wa ahlan,” sambutku.
Mertuaku bertanya, “Bagaimana yang engkau lihat dari istrimu?”
Aku jawab, “Istriku adalah sebaik-baik istri dan teman yang paling sesuai. Sungguh ibu telah mendidiknya dengan adab yang terbaik. Ibu telah melatihnya dengan latihan yang paling bagus. Semoga Allah l membalas ibu dengan kebaikan.”
“Wahai Abu Umayyah! Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkanmu dari perilaku istrimu, peganglah cambuk1,” nasihat ibu mertuaku.
Ibu mertua ini meminta izin untuk datang setiap akhir tahun ke tempat kami. Pada kesempatan itulah beliau memberi nasihat kepada kami. Aku telah menjalani masa dua puluh tahun bersama istriku. Selama itu pula tidak pernah aku melihat darinya sesuatu yang patut dicela.”

2. Memilih istri dari keluarga yang baik
Keluarga baik-baik yang memiliki sebutan yang baik di lingkungannya, bukan keluarga yang tercoreng kehormatannya, hendaknya menjadi pertimbangan saat memilih wanitanya. Merekalah yang akan menjadi akhwal2 bagi anak-anak yang akan terlahir dari pernikahan tersebut. Selain itu, sedikit banyak mereka akan punya pengaruh terhadap istri dan anak-anak, apalagi di saat suami terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya di tengah-tengah mereka, bisa jadi karena urusan niaga, rihlah menuntut ilmu, atau berangkat untuk berjihad fi sabilillah.

3. Mencari tahu sifat wanita yang ingin dinikahi
Mencari tahu dan bertanya secara detail tentang wanita yang hendak diajak bekerja sama membangun mahligai rumah tangga adalah keniscayaan karena seorang lelaki akan menjalin ikatan yang kuat dengannya dan akan terus menemaninya, insya Allah, sampai salah satunya harus berpisah dengan dunia.
Wanita yang bagus agamanya dan menjaga kehormatan dirinya, harusnya menjadi pilihan utama. Rasul yang mulia n telah bertitah,
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا. فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya (nasabnya), kecantikannya, dan agamanya. Utamakanlah wanita yang memiliki agama. Jika tidak demikian, engkau akan celaka.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620 dari Abu Hurairah z)
Rasulullah n telah bersabda pula,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتاَعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu perhiasan,3 dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 3638 dari Abdullah ibnu Amr ibnul Ash c)
Adapun wanita yang buruk dan lahiriahnya menyimpang, bagaimanapun cantik dan memesonanya, hendaknya disingkirkan dari pilihan. Yang diinginkan oleh seorang lelaki yang baik adalah mencari istri, bukan wanita penghibur.
Apabila seorang lelaki berpaling dari wanita yang salehah, dan justru memilih wanita yang ‘rendahan’ karena pertimbangan kelebihan fisik, harta, atau kedudukannya, berarti ia telah menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan.
Renungkanlah: Rumahmu adalah pokok hartamu (modalmu), maka perhatikanlah di tangan siapa engkau akan meletakkannya?
Carilah wanita yang berada di atas jalanmu, pada seluruh keadaanmu, dalam hal ketaatan kepada Allah l. Apabila engkau berhasil mendapatkannya, peganglah erat-erat karena wanita yang demikian adalah harta dan perbendaharaan berharga yang patut disimpan.
Rasulullah n pernah bersabda kepada Umar ibnul Khaththab z,
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ؟ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beri tahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? (Yaitu) istri salehah yang ketika dipandang akan menyenangkannya4, ketika diperintah5

akan menaatinya,6 dan ketika ia pergi, si istri akan menjaga dirinya untuk suaminya.” (HR. Abu Dawud no. 1417, dinyatakan sahih menurut syarat Muslim dalam al-Jami’ush Shahih 3/57)
Umar ibnul Khaththab z bertanya kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah! Harta apakah yang sebaiknya kita miliki?”
Beliau menjawab,
لِيَتَّخِذَ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْأَخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri mukminah yang membantunya dalam urusan akhiratnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibni Majah)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(bersambung, insya Allah)
(Disusun kembali dengan beberapa perubahan dari tulisan asy-Syaikh Salim al-’Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al-Ukht as-Salafiyyah dengan judul Walyasa’uka Baituk min Ajli Hayah Zaujiyah Hani’ah dan rujukan yang lain)

Catatan Kaki:

1 Pukullah setelah melewati tahapan sebelumnya; nasihat dan hajr.
2 Kerabat dari pihak ibu.

3 Tempat untuk bersenang-senang. (Syarh Sunan an-Nasa’i, al-Imam as-Sindi, 6/69)
4 Karena keindahan dan kecantikannya secara lahir, karena akhlaknya yang bagus secara batin, atau karena si istri senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah l. (Ta’liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun Nikah, bab “Afdhalun Nisa'”, 1/596, ‘Aunul Ma’bud 5/56)
5 Untuk melakukan urusan syar’i atau urusan biasa. (‘Aunul Ma’bud 5/56)

6 Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya. (‘Aunul Ma’bud 5/56)

APABILA PERSAKSIAN HILAL DITOLAK

Bagaimana jika penguasa menolak persaksian sekelompok orang dalam hal melihat hilal tanpa alasan yang syar’i, karena alasan politis atau yang lain? Apakah kita mengikutinya atau mengikuti ru’yah hilal walaupun tidak diakui oleh pemerintah?
Jawab:
Ibnu Taimiyyah t dalam Majmu’ Fatawa (25/202—208) ditanya tentang penduduk suatu kota yang melihat hilal Dzulhijjah, tetapi tidak dianggap oleh penguasa negeri itu (pemerintah setempat). Apakah boleh mereka melakukan puasa yang tampaknya tanggal 9 padahal hakikatnya adalah tanggal 10?
Beliau menjawab, “Ya, mereka berpuasa pada tanggal 9 (yakni hari Arafah) yang tampak dan yang diketahui jamaah manusia walaupun pada hakikatnya tanggal 10 (yakni ‘Idul Adha) meskipun ru’yah itu benar-benar ada.
Hal ini berlandaskan hadits yang terdapat dalam kitab-kitab Sunan dari sahabat Abu Hurairah z dari Nabi n bahwasanya beliau berkata,
صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
“Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, berbukanya kalian adalah ketika kalian berbuka, dan hari ‘Iedul Adha kalian adalah hari tatkala kalian menyembelih.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi, dan beliau menyatakannya sahih)
Dari ‘Aisyah x ia berkata, Rasulullah n bersabda,
الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ
“Berbuka adalah ketika manusia berbuka dan Iedul Adha adalah ketika manusia menyembelih.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau mengatakan bahwa inilah yang diamalkan oleh para imam kaum muslimin seluruhnya)
Seandainya manusia melakukan wukuf di Arafah pada tanggal 10 karena salah (menentukan waktu), maka wukuf itu cukup (sah) menurut kesepakatan para ulama. Hari itu tetap dianggap sebagai hari Arafah bagi mereka. Apabila mereka wukuf pada hari kedelapan karena salah menentukan bulan, tentang sah atau tidaknya wukuf ini ada perbedaan pendapat. Yang tampak, wukufnya juga sah. Ini adalah salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Malik, Ahmad, dan yang lainnya.
‘Aisyah x berkata,
إِنَّمَا عَرَفَةُ الْيَوْمُ الَّذِي يَعْرِفُهُ النَّاسُ
“Sesungguhnya, hari Arafah adalah hari yang diketahui oleh manusia.”
Asal permasalahan ini adalah Allah k menggantungkan hukum dengan hilal dan syahr (bulan, sebutan waktu). Allah k berfirman,
Mereka bertanya tentang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (al-Baqarah: 189)
Hilal adalah sebutan untuk sesuatu yang diumumkan dan dikeraskan suara untuknya. Dengan demikian, apabila hilal muncul di langit dan manusia tidak mengetahui atau tidak mengumumkannya, hal ini tidak disebut sebagai hilal. Demikian pula sebutan syahr, ia diambil dari kata syuhrah (kemasyhuran/tersohor). Apabila tidak masyhur (tersohor) di antara manusia, berarti bulan belum masuk.
Banyak orang keliru dalam hal ini karena menganggap bahwa jika telah muncul hilal di langit berarti malam itu adalah awal bulan, sama saja baik hilal ini tampak, masyhur (tersohor) di kalangan manusia, diumumkan maupun tidak. Padahal hakikatnya tidak seperti itu. Terlihatnya hilal oleh manusia dan diumumkannya adalah perkara yang harus terwujud (disyaratkan). Oleh karena itu, Nabi n bersabda, “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, berbukanya kalian adalah ketika kalian berbuka, dan hari ‘Iedul Adha kalian adalah hari tatkala kalian menyembelih.”
Maksudnya, yaitu hari yang kalian tahu bahwa itu waktu puasa, berbuka, dan ‘Idul Adha. Artinya, jika (umumnya) kalian tidak mengetahui, tidak berakibat adanya hukum. Berpuasa pada hari yang diragukan apakah itu tanggal 9 atau 10 Dzulhijjah itu diperbolehkan, tanpa ada perbedaan pendapat di antara ulama. Hal ini karena pada asalnya tanggal 10 itu belum ada, sebagaimana jika mereka ragu pada tanggal 30 Ramadhan, apakah telah terbit hilal ataukah belum.
Dalam keadaan semacam ini, mereka tetap berpuasa pada hari yang mereka ragukan tersebut, menurut kesepakatan para imam. Adapun hari syak (yang diragukan) yang diriwayatkan bahwa dibenci berpuasa pada hari tersebut adalah permulaan Ramadhan karena pada asalnya adalah Sya’ban1.
Yang membuat rancu dalam masalah ini adalah dua hal.
1. Seandainya seseorang melihat hilal Syawwal sendirian atau dikabari oleh sekelompok manusia yang ia ketahui kejujuran mereka, apakah dia berbuka atau tidak?
2. Apabila dia melihat hilal Dzulhijjah atau dikabari oleh sekelompok orang yang ia ketahui kejujurannya, apakah ini berarti hari Arafah dan hari nahr baginya adalah tanggal 9 serta10 sesuai dengan ru’yah ini—yang tidak diketahui oleh keumuman orang—ataukah hari Arafah dan nahr adalah tanggal 9 dan 10 yang diketahui oleh manusia (secara umum)?

Masalah pertama, orang yang sendirian melihat hilal maka ia tidak boleh berbuka dengan terang-terangan, menurut kesepakatan ulama. Lain halnya jika ia mempunyai uzur yang membolehkan berbuka, seperti karena sakit atau safar.
Berikutnya, apakah ia (yang melihat hilal) boleh berbuka dengan sembunyi-sembunyi? Ada dua pendapat di antara ulama dalam hal ini. Yang paling benar adalah tidak berbuka walaupun sembunyi-sembunyi. Ini adalah yang masyhur dari mazhab al-Imam Malik dan Ahmad.
Ada riwayat lain pada mazhab mereka berdua yang membolehkan berbuka secara sembunyi-sembunyi, seperti yang masyhur dari mazhab Abu Hanifah dan asy-Syafi’i.
Telah diriwayatkan bahwa dua orang pada zaman ‘Umar z melihat hilal Syawwal. Salah satunya berbuka dan yang lain tidak. Tatkala berita ini sampai kepada ‘Umar, ia berkata kepada yang berbuka, “Kalau bukan karena temanmu, aku akan menyakitimu dengan pukulan.”2
Hal itu karena berbuka adalah hari saat manusia umumnya berbuka, yaitu hari ‘Ied (hari raya). Adapun hari yang orang tersebut—yang melihat hilal sendiri—berbuka bukanlah hari raya yang Nabi n melarang manusia untuk berpuasa pada hari itu. Hal ini karena sesungguhnya beliau n melarang puasa pada hari ‘Iedul Fithri dan hari nahr (kurban) (dengan sabdanya), “Adapun salah satunya adalah hari berbukanya kalian dari puasa. Yang lain adalah hari makannya kalian dari hasil sembelihan kalian.”
Jadi, yang beliau larang untuk berpuasa pada hari itu adalah hari ketika kaum muslimin tidak berpuasa dan hari ketika mereka melakukan penyembelihan. Hal ini akan jelas dengan masalah yang kedua. (Ini juga merupakan pendapat asy-Syaikh Ibnu Baz t, lihat Fatawa Ramadhan, 1/65, dan pendapat al-Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 398)
Masalah kedua, seandainya seseorang melihat hilal Dzulhijjah maka dia tidak boleh melakukan wukuf sebelum hari yang tampak bagi manusia yang lain sebagai tanggal 8 Dzulhijjah walaupun berdasarkan ru’yah adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini karena kesendirian seseorang dalam hal wukuf dan menyembelih mengandung penyelisihan terhadap manusia secara umum. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi saat seseorang menampakkan buka puasanya (sendirian).
Bisa jadi, seseorang akan mengatakan bahwa imam (penguasa) yang menetapkan masalah hilal menyepelekan masalah ini karena dia menolak persaksian orang-orang yang adil karena meremehkannya dalam hal menyelidiki ‘adalah (kesalehan agama) para saksi, atau ia menolak lantaran ada permusuhan antara dia dan para saksi, atau sebab-sebab lain yang tidak syar’i, atau karena imam berpijak pada pendapat ahli perbintangan yang mengaku bahwa hilal tidak terlihat.
Jawabannya, sesuatu yang telah tetap hukumnya maka keadaannya tidak berbeda antara (pihak) yang diikuti dalam hal ru’yatul hilal, baik dia itu mujtahid yang benar ijtihadnya, salah ijtihadnya, maupun menyepelekan.

Yang penting, jika hilal tidak tampak dan tidak terkenal sehingga manusia mencari-carinya (berarti awal bulan belum tetap). Apalagi telah terdapat dalam kitab ash-Shahih bahwa Nabi n bersabda tentang para imam (penguasa),
يُصَلُّوْنَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَأُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
“Mereka itu shalat untuk (mengimami) kalian. Jika mereka benar, (pahala shalat) itu untuk kalian dan untuk mereka. Namun, jika mereka salah, pahalanya untuk kalian dan kesalahannya ditanggung oleh mereka.” (Sahih, HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)
Dengan demikian, kesalahan dan peremehannya ditanggung oleh imam (pemerintah), tidak ditanggung oleh kaum muslimin yang tidak melakukan peremehan dan tidak salah.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Ibnul Mundzir menukilkan ijma’ bahwa puasa pada tanggal 30 Sya’ban jika hilal belum terlihat padahal udara cerah hukumnya tidak wajib, menurut kesepakatan (ijma’) umat. Telah sahih pula dari mayoritas para sahabat dan tabi’in bahwa mereka membenci puasa pada hari itu. Ibnu Hajar t mengatakan, “Demikianlah beliau (Ibnul Mundzir) memutlakkan dan tidak membedakan antara ahli hisab dan yang lainnya (mereka semua sepakat). Maka dari itu, barang siapa membedakan antara mereka, dia telah dihujat oleh ijma’.” (Fathul Bari, 4/123)

2 Riwayat Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (4/165, no. 7338) melalui jalan Abu Qilabah al-Jarmi, dari ‘Umar bin al-Khaththab z. Hanya saja, Abu Qilabah tidak pernah bertemu ‘Umar z. Artinya, sanad ini terputus. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah t tidak bertumpu pada riwayat ini. Riwayat ini hanya sebagai pendukung.

 

Asy Syahid

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Asy-Syahid, nama Allah l yang agung, menunjukkan keluasan pengetahuan-Nya terhadap segala aktivitas hamba-Nya. Dia menyaksikan segala gerak-gerik mereka dari atas sana.
Allah l menyebut nama ini dalam beberapa ayat al-Qur’an, seperti dalam firman-Nya saat memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang kafir,
Katakanlah, “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah, “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu.” (al-An’am: 19)
Nama ini tersebut pula dalam hadits, saat Nabi n mengisahkan seseorang dari Bani Israil yang begitu kuat keimanannya terhadap Allah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu.
Dari Abu Hurairah z dari Rasulullah n,
أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلاً مِنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ سَأَلَ بَعْضَ بَنِى إِسْرَائِيلَ أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائْتِنِى بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ. فَقَالَ: كَفَى بِاللهِ شَهِيدًا.قَالَ: فَأْتِنِى بِالْكَفِيلِ. قَالَ: كَفَى بِاللهِ كَفِيلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
Beliau menyebutkan seorang lelaki dari Bani Israil. Dia meminta kepada salah seorang dari mereka untuk meminjaminya uang sebesar seribu dinar, maka dia pun mengatakan, “Datangkan kepadaku para saksi agar aku persaksikan kepada mereka.” Ia menjawab, “Cukuplah Allah menjadi saksi.” Lalu ia mengatakan lagi, “Datangkan kepadaku seseorang yang bisa menjamin.” Ia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” Ia mengatakan, “Kamu benar.” Lalu ia berikan uang tersebut kepadanya sampai batas waktu yang ditentukan. (Sahih, HR. al-Bukhari)
Ibnul Atsir t menjelaskan dalam kitabnya Jami’ul Ushul, “Asy-Syahid adalah Dzat yang tidak tersembunyi baginya sesuatu pun. Disebut Syaahid (شَاهِدٌ) dan disebut Syahiid (شَهِيْدٌ), seperti bentuk kata Aalim (عَالِمٌ) dan Aliim (عَلِيمٌ), yakni (seolah-olah) hadir menyaksikan segala sesuatu dan melihatnya.”
As-Sa’di t dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Asy-Syahid berarti yang mengetahui segala sesuatu, mendengar setiap suara, baik yang tersembunyi maupun yang jelas, melihat segala yang ada, baik yang kecil maupun yang besar. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang menjadi saksi bagi hamba-Nya dan terhadap hamba-Nya atas segala yang mereka lakukan.”
Beliau juga menjelaskan dalam kesempatan yang lain, ar-Raqiib dan asy-Syahid termasuk dari al-‘Asma’ul Husna. Keduanya adalah dua nama yang sama, menunjukkan liputan pendengaran Allah l terhadap segala sesuatu yang dapat didengar, penglihatannya terhadap segala sesuatu yang dapat dilihat, serta pengetahuan-Nya terhadap segala yang dapat diketahui, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dia yang mengawasi dan mengetahui segala yang tersimpan dalam dada, yang mengawasi semua yang dilakukan oleh setiap jiwa, yang menjaga setiap makhluk dan melangsungkan kehidupannya dengan aturan yang paling bagus dan sempurna.
Allah l berfirman,
“Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” (al-Hajj: 17)
“Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (an-Nisa: 79)
Oleh karena itu, al-muraqabah (sikap selalu merasa diawasi Allah l) yang merupakan amalan kalbu tertinggi adalah salah satu wujud peribadatan kepada Allah l yang berlandaskan pada dua nama-Nya, yaitu ar-Raqib dan asy-Syahid.
Maka dari itu, ketika seorang hamba mengetahui bahwa tingkah lakunya yang nyata dan yang batin diawasi oleh Allah l, serta senantiasa ingat hal ini pada setiap keadaan, pasti akan membuahkan pengawasan batin atas segala pikiran dan bisikan yang dimurkai-Nya, serta penjagaan lahiriah atas segala ucapan dan perbuatan yang dimurkai-Nya. Lantas, ia pun akan beribadah kepada Allah l sampai pada tingkat ihsan sehingga ia beribadah kepada Allah l seolah-olah ia melihat-Nya. Apabila ia tidak melihat-Nya, Allah l lah yang melihatnya.

Buah Mengimani Nama Allah asy-Syahid
Mengimani nama Allah asy-Syahid maka akan menumbuhkan sikap muraqabah dalam jiwa seseorang, selalu merasa diawasi Allah l. Seperti yang dinyatakan oleh asy-Syaikh as-Sa’di, apabila sikap ini senantiasa ada setiap saat, seseorang akan bisa menjaga dirinya secara lahir dan batin dari segala sesuatu yang dimurkai oleh Allah l.
Hal ini karena Allah l menyaksikan segala aktivitas hamba-Nya di mana pun; baik di tempat yang gelap maupun yang terang, di tempat ramai maupun sepi, saat sendirian, berduaan, maupun bersama yang lain di keramaian. Mengimani nama Allah asy-Syahid sangat membantu seseorang untuk menjauhi kemaksiatan pacaran dan perzinaan.

Buah Keimanan (bagian ke 4)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

Termasuk buah keimanan dan konsekuensinya (amal-amal saleh) adalah apa yang disebutkan oleh Allah l dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96)
Artinya, dengan sebab keimanan dan amal-amal keimanan, Allah l mencintai mereka serta membuat hati orang-orang yang beriman mencintai mereka pula.
Barang siapa yang dicintai oleh Allah l dan para hamba-Nya yang beriman, dia akan mendapatkan kebahagiaan, keberuntungan, dan faedah yang banyak. Mendapatkan kecintaan dari orang-orang yang beriman misalnya mendapat pujian, doa semasa hidupnya dan sesudah meninggalnya, serta menjadi panutan dan imam dalam agama.
Mendapatkan kepemimpinan dalam agama termasuk buah keimanan yang paling berharga. Allah l memberikannya kepada orang-orang yang keimanannya terdiri dari ilmu dan amal. Allah l mengangkat mereka menjadi pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah l. Hal ini sebagaimana firman Allah l,
“Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)
Kesabaran dan keyakinan, yang keduanya adalah inti (pokok) keimanan dan kesempurnaannya, mengantarkan mereka meraih kepemimpinan dalam agama.
Di dalam surat al-Mujadilah, Allah l juga menyebutkan keutamaan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang beriman. Allah l berfirman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)
Jadi, orang-orang yang beriman adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya di antara para hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Mereka mendapatkan kedudukan yang tertinggi ini disebabkan oleh keimanan yang benar, ilmu dan keyakinan; yang keduanya—ilmu dan keyakinan—adalah pokok keimanan pula.
(at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 51—52, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t)

Letak Tangan Saat I’tidal

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim)

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi. Perselisihan ini terjadi karena tidak didapatkan nash yang secara tegas menyebutkan letak posisi kedua tangan dalam keadaan tersebut. Ada dua pendapat yang dipegangi oleh para ulama.
1. Pendapat qabdh (sedekap, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri) sehingga sama dengan posisi tangan saat berdiri sebelum rukuk.
Ulama yag berpegang dengan pendapat ini berdalil antara lain dengan hadits seorang sahabat yang bernama Wa’il ibnu Hujr z yang menerangkan tata cara shalat Nabi n. Wa’il z menyebutkan,
كَانَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ قَبَضَ عَلَى شِمَالِهِ بِيَمِيْنِهِ
“Sesungguhnya, ketika berdiri dalam shalat, Nabi n memegang lengan kirinya dengan lengan kanannya (bersedekap).” (HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 28/2, ath-Thabarani dalam al-Kabir 1/9/22, dan dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 2247)
Menurut pendapat pertama ini, bersedekap di saat berdiri bersifat umum, baik sebelum rukuk maupun setelahnya.
Al-Imam Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t menerangkan, pendapat yang menyatakan sedekap berdalil dengan hadits dalam Shahih Bukhari, Kitabul Adzan, bab “Wadh’ul Yumna ‘alal Yusra” (Peletakan tangan kanan di atas tangan kiri) dari hadits Sahl ibnu Sa’d z, ia berkata,
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُوْنَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلاَةِ
“Adalah manusia diperintah agar orang yang sedang shalat meletakkan tangan kanannya di atas lengan kiri bagian bawah.” (HR. al-Bukhari no. 740)
Sisi pendalilan hadits di atas adalah disyariatkan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri saat seseorang berdiri dalam shalatnya, baik sebelum maupun setelah rukuk.
Mengapa demikian? Karena dimaklumi, saat rukuk kedua tangan diletakkan di atas kedua lutut. Ketika sujud, kedua tangan diletakkan di atas tanah, sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga. Saat duduk di antara dua sujud dan duduk tasyahhud, kedua tangan diletakkan di atas kedua paha dan dua lutut, sesuai dengan perincian yang diterangkan dalam as-Sunnah.
Masalah yang tersisa sekarang hanyalah saat berdiri, di manakah tangan diletakkan? Berdasar hadits di atas, maka tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri (bersedekap), sama saja baik saat berdiri sebelum rukuk maupun setelah bangkit dari rukuk karena tidak ada dalil yang tsabit (sahih) dari Nabi n yang membedakan dua berdiri ini.
Dalam hadits Wa’il z yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan sanad yang sahih disebutkan, saat berdiri shalat, Nabi n memegang dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya.
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi n meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan lengan bawah.
Tidak ada penyebutan yang membedakan letak posisi tangan ketika berdiri sebelum dan setelah rukuk. Dengan demikian, hadits ini mencakup kedua berdiri yang ada di dalam shalat. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat al-Mutanawwi’ah, 11/131—133)

2. Irsal (kedua tangan dilepas di samping badan, tidak disedekapkan).
Alasannya, tidak ada dalil dari as-Sunnah yang jelas menunjukkan qabdh ketika berdiri i’tidal.
Adapun hadits Wail z yang dijadikan sebagai dalil qabdh, sama sekali tidak menunjukkan qabdh yang dikehendaki (yaitu qabdh setelah rukuk), karena qabdh yang ada dalam hadits Wail adalah sebelum rukuk. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh dua jalur hadits berikut ini.
a. Dari Abdul Jabbar ibnu Wail, dari Wail, dari Alqamah ibnu Wail dan maula mereka, keduanya menyampaikan dari Wail ibnu Hujr z,
أَنّهُ رَأَى النَّبِيَّ n رَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ، كَبَّرَ –وَصَفَ هَمَّامٌ– حِيَالَ أُذُنَيْهِ. ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ، أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ ثُمَّ رَفَعَهَا، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ. فَلَمَّا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ رَفَعَ يَدَيْهِ، فَلَمَّا سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ.
“Ia pernah melihat Nabi n mengangkat kedua tangannya setinggi kedua telinganya— sebagaimana disifatkan oleh perawi bernama Hammam—ketika masuk dalam shalat seraya bertakbir. Kemudian beliau berselimut dengan pakaiannya (memasukkan kedua lengannya ke dalam baju), lalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Tatkala hendak rukuk, beliau mengeluarkan kedua tangannya dari pakaiannya kemudian mengangkat keduanya lalu bertakbir dan rukuk. Ketika mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya)’, beliau mengangkat kedua tangannya. Di saat sujud, beliau sujud di antara dua telapak tangannya.” (HR. Muslim no. 894)
b. Dari Ashim ibnu Kulaib, dari ayahnya, dari Wail ibnu Hujr z, ia berkata,
لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ n كَيْفَ يُصَلِّي؟ قَالَ: فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ n فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ، ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِيْنِهِ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهَا مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيهِ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذلِكَ. فَلَمَّا سَجَدَ وَضَعَ رَأْسَهُ بِذَلِكَ الْمَنْزِلِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ، فَفَتَرشَ رِجْلَهُ الْيُسْرى… وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ… الْحَدِيثَ
Aku sungguh-sungguh akan memerhatikan shalat Rasulullah n, bagaimana tata cara beliau shalat. Wail berkata, “Bangkitlah Rasulullah, menghadap kiblat lalu bertakbir, kemudian mengangkat kedua tangannya hingga bersisian dengan kedua telinganya. Setelah itu beliau memegang tangan kiri beliau dengan tangan kanan. Di saat hendak rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya seperti tadi lalu meletakkan keduanya di atas kedua lututnya. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau juga mengangkat kedua tangan seperti yang sebelumnya. Ketika sujud, beliau meletakkan kepalanya di antara kedua tangannya. Kemudian duduk dengan membentangkan kaki kirinya… dan memberi isyarat dengan jari telunjuk….” (HR. Abu Dawud no. 726, an-Nasa’i no. 889, dan selain keduanya dengan sanad yang sahih, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Abi Dawud no. 716—717).
Dalam riwayat Ibnu Majah (no. 810) disebutkan ada ucapan Wail z:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ n يُصَلِّي فَأَخَذَ شِمَالَهِ بِيَمِيْنِهِ
“Aku pernah melihat Nabi n shalat, beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya.”
Dari hadits di atas dipahami bahwa bersedekap itu dilakukan pada berdiri yang awal, sebelum berdiri saat bangkit dari rukuk. Seandainya ada bersedekap saat bangkit dari rukuk, niscaya Wail tidak akan luput dalam menyebutkannya. Yang memperkuat hal ini adalah riwayat Ibnu Idris dari Ashim secara ringkas dengan lafadz:
رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ n حِيْنَ كَبَّرَ أَخَذَ شِمَالَهِ بِيَمِيْنِهِ
“Aku pernah melihat Rasulullah n setelah bertakbir memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya.” (ash-Shahihah, 5/306—308)
Tidak seorang pun sahabat yang meriwayatkan hadits tentang tata cara shalat Nabi n yang secara terang-terangan menyebutkan adanya sedekap setelah rukuk1.
Tidak ada satu nash pun yang menunjukkan Rasulullah n melakukan sedekap setelah bangkit dari rukuk tersebut. Seandainya beliau melakukannya, niscaya akan dinukilkan kepada kita. Sementara itu, seperti kata Ibnu Taimiyah t, “Sungguh semangat dan keinginan kuat terkumpul pada sahabat untuk menukilkan semisal masalah ini. Apabila ternyata tidak ada penukilannya, berarti hal itu merupakan dalil bahwa perbuatan tersebut tidak pernah terjadi. Seandainya terjadi, niscaya akan diriwayatkan.” (Risalah Masyru’iyatul Qabdh fil Qiyam al-Ladzi Qabla ar-Ruku’ Dunal Ladzi Ba’dahu, al-Imam Allamatul Muhaddits al-Albani t2).
Al-Imam al-Allamah al-Muhaddits al-Albani t berkata, “Hadits yang dikenal dengan hadits al-Musi’u shalatahu:
ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، (فَيَأْخُذَ كُلُّ عِظَامٍ مَأْخَذَهُ)
وَفِي رِوَايَةٍ: وَإِذَا رَفَعْتَ فَأَقِمْ صَلْبَكَ، وَارْفَعْ رَأْسَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ إِلَى مَفَاصِلِهَا
“Kemudian angkatlah kepalamu (dari rukuk) sampai engkau berdiri lurus [hingga setiap tulang mengambil posisinya].”
Dalam satu riwayat, “Apabila engkau bangkit, tegakkanlah tulang sulbimu, angkatlah kepalamu hingga tulang-tulang kembali ke persendiannya.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dari Abu Hurairah z dalam Shahihnya no. 793. Adapun tambahan dalam tanda kurung dan riwayat setelahnya adalah dari hadits Rifa’ah ibnu Rafi’ z yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad t dalam Musnadnya.
Yang dimaksud dengan ‘izham (tulang) di sini adalah tulang yang berangkai di punggung (tulang belakang)….”
Beliau t menyatakan, “Sebagian saudara kami dari kalangan ulama Hijaz dan lainnya berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan disyariatkannya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) saat berdiri dari rukuk. Namun, pendalilan mereka tersebut amat jauh karena sedekap yang dimaksudkan tidak disebutkan dalam hadits yang dijadikan sebagai dalil. Apabila yang jadi sandaran adalah kalimat ‘hingga tulang kembali kepada persendiannya’, yang dimaksud ‘izham di situ adalah tulang belakang. Yang menguatkan hal ini adalah riwayat tentang perbuatan Rasulullah n,
وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى، حَتَّى يَعُوْدَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ.
“Saat mengangkat kepalanya (dari rukuk), beliau berdiri lurus hingga setiap faqar kembali ke tempatnya.” (HR. al-Bukhari no. 828) (al-Ashl, 2/700)
Faqar adalah rangkaian tulang punggung, mulai bagian paling atas di dekat leher sampai tulang ekor, sebagaimana disebutkan dalam al-Qamus.
Adapun yang dinukilkan dari al-Imam Ahmad t sebagaimana dinukil putranya, Shalih ibnul Ahmad, dalam Masail-nya hlm. 90, “Jika ia mau, ia melepas kedua tangannya ketika bangkit dari rukuk. Jika mau pula, ia bisa meletakkan keduanya,” adalah ijtihad beliau, bukan dari hadits yang marfu’ dari Nabi n.
Pendapat irsal ini lebih menenangkan hati kami (penulis). Wallahu ta’ala a’lam wal ‘ilmu ‘indallah.

Tidak Pantas Menjadi Sebab Pertikaian
Al-Imam Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t menyatakan, masalah sedekap sebelum atau setelah rukuk adalah perkara sunnah dalam shalat, bukan wajib. Dengan demikian, apabila ada orang yang shalat tidak bersedekap sebelum atau setelah rukuk, shalatnya tetap sah. Hanya saja dia telah meninggalkan perkara yang afdal dalam shalat3. Oleh karena itu, seorang muslim tidak pantas menjadikan perbedaan dalam masalah yang seperti ini sebagai sebab pertikaian, boikot, dan perpecahan. Bahkan, meskipun amalan tersebut dianggap wajib, sebagaimana pendapat yang dipilih oleh asy-Syaukani t dalam kitabnya, Nailul Authar.
Yang wajib dilakukan oleh seluruh kaum muslimin adalah mencurahkan seluruh upaya untuk tolong-menolong di atas kebaikan dan ketakwaan, menerangkan al-haq dengan dalil, disertai semangat untuk membersihkan hati serta menyelamatkannya dari rasa dengki dan hasad terhadap sesama. Di samping itu, kaum muslimin juga wajib menjauhi sebab perpecahan dan saling boikot karena Allah l mewajibkan semuanya untuk berpegang dengan tali-Nya dan tidak berpecah belah.
“Berpeganglah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah.” (Ali Imran: 103)
Nabi n bersabda,
إِنَّ اللهَ يَرْضى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا: فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلاَ تُشْركِوُاْ بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا…
“Sesungguhnya Allah ridha untuk kalian tiga hal dan membenci dari kalian tiga hal pula. Dia ridha untuk kalian agar kalian beribadah dan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun, kalian berpegang dengan tali Allah semuanya, dan tidak berpecah belah….” (HR. Muslim no. 4456)
Ada beberapa kejadian di kalangan sebagian kaum muslimin—misalnya di Afrika—yang sampai bermusuhan serta saling mendiamkan karena masalah sedekap dan irsal ini. Peristiwa seperti ini jelas merupakan kemungkaran yang tidak boleh sampai terjadi. Yang semestinya, mereka saling menasihati dan berusaha saling memahami dalam mengetahui al-haq beserta dalilnya, dalam keadaan tetap menjaga rasa cinta, kasih sayang, dan ukhuwah imaniah di antara mereka.
Dahulu, para sahabat Rasulullah n dan ulama setelah mereka juga pernah berselisih dalam masalah-masalah furu’ (bukan masalah prinsip, seperti masalah akidah). Namun, perbedaan tersebut tidak menyebabkan mereka berpecah belah dan saling boikot karena tujuan mereka adalah ingin sampai kepada al-haq dengan dalilnya. Ketika al-haq itu tampak dan jelas bagi mereka, mereka pun bersepakat di atasnya. Ketika al-haq itu tersembunyi bagi sebagian mereka, pihak yang satu tidak sampai menganggap saudaranya sesat sehingga tidak menyebabkannya memboikot saudaranya, memutus hubungan dengannya, dan tidak mau shalat di belakangnya.
Oleh karena itu, kaum muslimin wajib bertakwa kepada Allah l dan berjalan di atas jalan salaf yang saleh dalam berpegang dengan al-haq, menjaga ukhuwah imaniah, dan tidak saling memutus hubungan serta saling boikot karena masalah furu’ yang terkadang tersembunyi dalilnya bagi sebagian orang sehingga ijtihad yang dilakukannya membawanya menyelisihi saudaranya dalam masalah hukum. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat al-Mutanawwi’ah, 11/141—143)
Guru kami yang mulia, al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i t, pernah ditanya tentang pendapat yang kuat terkait dengan peletakan kedua tangan pada saat berdiri i’tidal.
Beliau t menjawab, “Dalam masalah ini urusannya mudah karena tidak ada dalil yang sahih lagi sharih (jelas) yang menunjukkan irsal dan yang menunjukkan sedekap. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan yang ini bid’ah dan tidak bisa pula mengatakan yang itu sunnah. Akan tetapi, ini adalah masalah ijtihad. Siapa yang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu meletakkannya di atas dadanya setelah bangkit dari rukuk berarti ia telah mengambil keumuman dalil yang ada. Adapun yang melepas kedua tangannya (irsal) berarti ia juga telah mengambil dalil hadits yang disebutkan dalam Shahih Muslim yang kesimpulan maknanya menunjukkan Nabi n meletakkan tangan beliau yang kanan di atas tangan kiri beliau, tanpa ada penyebutan di atas dada. Kemudian dinyatakan, tatkala ingin rukuk, beliau melepas kedua tangan beliau dan tidak ada penyebutan beliau mengembalikan kedua tangan (ke posisi sedekap) setelah rukuk. Hadits yang lain dalam Musnad Ahmad menyebutkan bahwa Nabi n berkata tentang rukuk, ‘hingga setiap anggota kembali kepada persendiannya’, atau ucapan yang semakna dengan ini.
Adapun saya sendiri memilih posisi irsal, melepas kedua tangan setelah rukuk tanpa menganggap posisi sedekap sebagai bid’ah dan tidak mengingkari orang yang mengamalkannya. Dalam masalah ijtihad yang di dalamnya tidak ada dalil, urusannya mudah. Wallahul musta’an.” (Ijabatus Sa’il ala Ahammil Masa’il, hlm. 500)

Sujud
Berikutnya, Rasulullah n merunduk untuk turun sujud sebagai salah satu amalan rukun yang shalat menjadi tidak sah apabila ia tidak dikerjakan. Beliau melakukannya seraya bertakbir, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah z,
كَانَ n يُكَبِّرُ وَيَهْوِيْ سَاجِدًا
“Nabi n bertakbir dan merundukkan tubuhnya untuk turun sujud4.” (HR. al-Bukhari no. 789 dan Muslim no. 866)
Amalan ini pula yang beliau n ajarkan dan perintahkan kepada orang yang salah dalam shalatnya sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud,
لاَ تَتِمُّ صَلاَةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى… يَقُوْلُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا ثُمَّ يَقُوْلُ: اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ
“Tidak sempurna shalat salah seorang dari manusia hingga…. Dia ucapkan (saat bangkit dari rukuk), ‘Sami’allahu liman hamidah.’ (Dia bangkit dari rukuk) hingga berdiri lurus. Kemudian dia berkata, ‘Allahu Akbar.’ Lalu sujud hingga tenang persendiannya.” (HR. Abu Dawud no. 857, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Terkadang, Rasulullah n mengangkat kedua tangannya ketika takbir untuk sujud ini. Kabar ini disampaikan oleh sepuluh orang sahabat dalam hadits-hadits mereka. Hadits-hadits tersebut ada yang sahih dan ada yang tidak, namun (yang tidak sahih) bisa dijadikan sebagai syahid (penguat). Di antara hadits yang menyebutkan mengangkat tangan ini adalah hadits Malik ibnul Huwairits z,
أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ n رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلاَتِهِ إِذَا رَكعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسهُ مِنَ الرُّكُوْعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوْعَ أُذُنَيْهِ.
“Ia pernah melihat Nabi n mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya ketika beliau rukuk dan ketika mengangkat kepalanya dari rukuk. Demikian pula ketika beliau sujud dan saat mengangkat kepalanya dari sujud, sampai beliau menyejajarkan kedua tangan beliau dengan ujung kedua telinga beliau.” (HR. an-Nasa’i no. 1085, Ahmad 3/436 & 437. Al-Imam Albani t mengatakan, “Sanadnya sahih menurut syarat Muslim.” [al-Ashl, 2/707])
Al-Imam an-Nasa’i t dalam Sunannya memberikan judul untuk hadits ini dalam dua bab: bab “Raf’ul Yadain lis Sujud” (Mengangkat dua tangan untuk sujud) dan bab “Raf’ul Yadain ‘indar Raf’i minas Sajdatil Ula” (Mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari sujud yang pertama).
Amalan mengangkat tangan ketika takbir hendak sujud ini dilakukan kadang-kadang. Apabila Rasulullah n terus-menerus melakukannya, niscaya semua sahabat yang membawakan riwayat tentang mengangkat tangan ketika hendak sujud dan saat bangkit dari sujud akan menyebutkannya. Akan tetapi, kita dapatkan ada yang tidak menyebutkannya, bahkan meniadakannya.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Karena yang menjadi dalil bagi yang berpendapat sedekap setelah rukuk adalah nash yang umum, ditambah lagi bukan ucapan Nabi n sendiri.
2 Adapun sumber risalah tersebut berasal dari:
a. Kitab as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, jilid 5, hlm. 306—308.
b. Kaset Silsilatul Huda wan Nur.
c. Kitab Shifat Shalatin Nabi n, hlm. 105.
3 Karena beliau mengikuti pendapat yang menyatakan bersedekap ketika berdiri i’tidal.
4 Hadits ini memberikan faedah bahwa takbir diucapkan sejak tubuh digerakkan untuk turun sujud dari posisi semula berdiri lurus dan berakhir hingga posisi sujud. (Fathul Bari, 2/377)

Membangun Ka’bah bagian ke 2

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Nabi Ibrahim dan Isma’il e bahu-membahu menyempurnakan bangunan rumah suci itu. Hingga ketika sampai pada letak Hajar Aswad sekarang ini, beliau berkata kepada putranya, “Carikan batu, sebagaimana engkau diperintahkan oleh Allah.”
Isma’il segera mencari batu yang diinginkan ayahnya. Tak lama mencari, beliau kembali dan melihat ternyata ayahnya telah memasang sebuah batu. Isma’il melihat batu itu aneh, lalu dia bertanya, “Siapa yang memberikan batu ini kepada Ayah?”
“Yang tidak bergantung kepada pekerjaanmu dan pekerjaanku. Jibril yang membawanya dari langit.”
Dalam riwayat lain disebutkan batu itu adalah salah satu bebatuan surga, dibawa oleh Nabi Adam q ketika turun ke bumi. Batu tersebut menghitam karena dosa manusia.
Ada pula yang meriwayatkan bahwa Hajar Aswad adalah batu licin berwarna hitam kemerah-merahan. Sebetulnya, batu ini berasal dari bebatuan surga. Warnanya lebih putih dari susu, kemudian menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.1
Dalam riwayat yang lain disebutkan pula bahwa Hajar Aswad adalah salah satu batu permata yang ada di surga, yang telah dihapus oleh Allah l cahayanya. Seandainya Allah l tidak menghapus cahayanya—demikian pula batu tempat berdiri Nabi Ibrahim q—cahaya tersebut akan terus berpendar menerangi timur dan barat bumi ini.2
Dahulu, batu mulia ini dibawa oleh Jibril ke bumi. Ketika terjadi banjir besar di masa Nabi Nuh q, batu itu diletakkan Jibril di puncak gunung Abi Qubais. Batu itu pun lepas dari tempatnya sampai masa Ibrahim.3
Batu itu saat ini berada di bagian luar sebelah selatan Ka’bah yang mulia, diselubungi perak. Letaknya sekitar satu setengah meter dari permukaan tanah dan dari situlah thawaf dimulai.
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan (4/221) dari Ibnu ‘Abbas c dari Nabi n, beliau bersabda,
إِنَّ لِهَذَا الْحَجَرِ لِسَاناً وَشَفَتَيْنِ يَشْهَدُ لِمَنْ اِسْتَلَمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَقٍّ
“Sungguh, Hajar Aswad ini mempunyai lisan dan dua bibir yang akan menjadi saksi bagi mereka yang menyentuhnya dengan benar pada hari kiamat.”
Sejak masa Nabi Ibrahim q hingga kini, Makkah senantiasa ramai. Beberapa kabilah Arab silih berganti menjadi penduduknya. Silih berganti pula peristiwa penting dialami oleh Ka’bah. Di antara kejadian penting yang diabadikan di dalam al-Qur’anul Karim adalah hancurnya tentara bergajah yang dipimpin oleh Abrahah. Pada tahun itu pula Rasulullah n lahir.
Kemudian, kala Rasulullah n dewasa, penduduk Makkah bermaksud merenovasi Ka’bah, karena sudah ada beberapa bagian yang rusak. Mereka mengeluarkan al-Hijr4 dari Baitullah karena kekurangan dana.
Pada masa Rasulullah n, belum ada dinding di sekitar Baitullah (Ka’bah), sehingga mereka shalat di sekitar Ka’bah. Kemudian ‘Umar mulai membuat dinding sebagai pagar, lalu dibangun kembali oleh ‘Abdullah bin az-Zubair.
Semakin lama jumlah kaum muslimin yang shalat semakin banyak, dan membutuhkan area yang lebih luas. Mulai masa pemerintahan ‘Umar sampai saat ini, perluasan itu terus berlanjut.
Pada masa pemerintahan ‘Abdullah bin az-Zubair, al-Hijr dimasukkannya ke dalam Baitullah. Ibnu az-Zubair kembali mendirikan Ka’bah sebagaimana yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il e. Akan tetapi, setelah dia gugur di tangan al-Hajjaj bin Yusuf, bangunan Ka’bah diruntuhkan dan dikembalikan sebagaimana dibangun oleh Quraisy atas perintah ‘Abdul Malik bin Marwan. Hal itu mungkin karena ‘Abdul Malik tidak mengetahui apa yang dimaukan oleh Nabi Muhammad n terkait dengan Ka’bah ini. Demikianlah keadaan Ka’bah sampai saat ini, tetap sebagaimana yang dibangun oleh Quraisy.
Ada lagi sebuah kejadian memilukan dan menyulut kemarahan kaum muslimin. Disebutkan, bahwa saat itu, Hajar Aswad hanya tinggal potongan-potongan kecil berjumlah delapan buah, paling besar seukuran satu buah kurma. Batu mulia ini pernah dilepas dari tempatnya oleh sekte Qaramithah dari kalangan Syi’ah. Kemudian mereka menyembunyikannya selama 22 tahun, baru dikembalikan pada 339 H.
Asy-Syaikh Muqbil menukil dari riwayat yang dibawakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir t tentang kejadian tahun 317 H dalam kitab beliau Ilhad Khumaini fi Biladil Haramain (Kejahatan Khomeini di Dua Tanah Suci) sebagian kejahatan kaum Qaramithah ini.
Pada tahun itu, dari Irak bertolak rombongan haji bersama amir mereka Manshur ad-Dailami. Mereka tiba di Makkah dalam keadaan aman, bersamaan dengan rombongan lain dari berbagai penjuru. Tanpa mereka sadari, Qirmithi dengan para pengikutnya juga sudah mendekati Makkah.
Tanggal 8 Dzulhijjah, pada hari tarwiyah, kaum Qaramithah mulai menimbulkan kekacauan, merampok, dan membunuh. Akhirnya, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap jamaah haji di pelataran Ka’bah, sementara pemimpin mereka, Abu Thahir—semoga Allah l melaknatnya—berdiri di pintu Ka’bah. Tak peduli dengan mayat-mayat jamaah haji berserakan di depan matanya. Setelah itu, mayat-mayat tersebut dibenamkan ke dalam sumur Zamzam.
Di antara jamaah haji itu ada yang berusaha mencari perlindungan dengan bergelantungan di kelambu Ka’bah, namun tidak ada gunanya. Kaum Qaramithah membantai siapa saja yang mereka lihat, yang sedang thawaf, yang ada di Multazam, semua tak lepas dari kekejaman mereka.
Abu Thahir dengan pongah berkata, “Akulah—demi Allah—, akulah yang menciptakan makhluk dan akulah yang membinasakan mereka.”
Kemudian dia memerintahkan salah seorang pengikutnya menghinakan Ka’bah. Di antara mereka ada yang memanjat Ka’bah tetapi terjatuh lalu mati.
Salah seorang dari mereka menghantam Hajar Aswad, untuk melepasnya. Dengan sombong dia berkata, “Mana burung yang berbondong-bondong itu? Mana batu dari neraka Sijjil?”
Setelah itu, mereka membawa Hajar Aswad itu ke negeri mereka dan menyembunyikannya selama 22 tahun.
Asy-Syaikh Muqbil melanjutkan bahwa tidak ada yang mendorong mereka berbuat demikian selain kezindikan yang ada pada mereka. Lihatlah Abrahah dengan tentara bergajahnya. Mereka beragama Kristen, tetapi tidak sampai melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Qaramithah. Sungguh, orang-orang Qaramithah ini lebih jahat daripada Yahudi dan Kristen, bahkan dari kaum Majusi dan para penyembah berhala.
Jika ada yang menanyakan mengapa kaum Qaramithah tidak menerima hukuman seperti yang dialami Abrahah dan pasukannya? Padahal sekte sesat ini jelas-jelas menodai kesucian Makkah dan Ka’bah?
Jawabnya, bahwa pasukan bergajah saat itu menerima hukuman setimpal karena mencampakkan kemuliaan Ka’bah. Selain itu, peristiwa tersebut adalah salah satu upaya memuliakan dan mengagungkan Makkah dengan mengutus seorang nabi yang mulia di negeri tempat Baitul Haram.
Oleh karena itu, ketika Abrahah dan pasukannya hendak menghinakan daerah ini, padahal seharusnya dimuliakan karena akan diutusnya seorang rasul dari negeri itu juga, Allah l menghancurkan mereka dengan segera. Seandainya mereka sempat memasuki Makkah, tentu manusia akan ragu tentang kemuliaan Ka’bah. Bahkan syariat pun tidak dapat menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Ka’bah ini.
Adapun sekte sesat Qaramithah ini, masuk ke Masjidil Haram dan melakukan pembantaian di pelatarannya, sesudah datangnya syariat Islam yang menegaskan kemuliaan Ka’bah dan Makkah. Bahkan, setiap mukmin pun tahu bahwa sekte ini telah melakukan kejahatan luar biasa di Tanah Suci. Orang-orang yang beriman mengetahui pula bahwa sekte ini adalah sekte yang paling nyata kekafirannya sebagaimana telah jelas berdasarkan keterangan Kitab Allah l dan sunnah Rasul-Nya.
Oleh sebab itulah, wallahu a’lam, belum diperlukan menimpakan hukuman setimpal saat itu juga terhadap mereka. Allah l telah menyiapkan buat mereka hukuman-Nya. Dia memberi waktu kepada orang-orang yang zalim, bukan membiarkan mereka begitu saja.
Dari kenyataan sejarah ini, apakah masih ada gunanya mengadakan dialog antara Sunnah dan Syi’ah? Apakah ada yang ingin menyatukan antara air dan api? Ulama kita sudah menerangkan tentang Syi’ah (Rafidhah), bahwa andaikata mereka dari bangsa ternak, mereka adalah sejenis keledai. Kalau dari jenis unggas, mereka adalah burung bangkai. Demikianlah yang pernah dikatakan oleh asy-Sya’bi t.
Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal!

Manasik Haji Pertama
Setelah bangunan itu sempurna dan lengkap sebagai peninggalan yang besar dari Khalil Allah (Nabi Ibrahim q), Allah l memerintahkan beliau untuk mengajak manusia agar mengerjakan ibadah haji di Baitullah ini. Maka mulailah mereka menyeru manusia yang kemudian berdatangan menuju tempat tersebut dari segala penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat di dunia dan akhirat sehingga berbahagia dan hilang segala kesengsaraan mereka.
Kemudian Allah l berfirman,
“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau, tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 128)
Sesudah memohon kepada Allah l agar memperlihatkan cara-cara dan tempat ibadah haji, Jibril q datang menemui Nabi Ibrahim q lalu membawa beliau ke bukit Shafa dan berkata, “Ini adalah sebagian syiar-syiar Allah.” Setelah itu Jibril membawa beliau ke bukit Marwah, dan mengucapkan hal yang sama, “Ini adalah sebagian syiar-syiar Allah.”
Kemudian, Jibril membawa Nabi Ibrahim q ke arah Mina. Begitu sampai di ‘Aqabah (tempat melempar jumrah), ternyata Iblis telah berdiri di dekat sebatang pohon. Jibril pun berkata kepada Nabi Ibrahim q, “Bertakbirlah dan lemparlah dia!” Nabi Ibrahim pun q bertakbir dan melempar Iblis tersebut.
Iblis melarikan diri dan berdiri di (tempat) jumratul wustha. Setelah Jibril sampai di tempat itu bersama Nabi Ibrahim q, Jibril berkata, “Bertakbirlah dan lemparlah Iblis itu!” Nabi Ibrahim q pun bertakbir dan melemparnya. Akhirnya, Iblis melarikan diri. Makhluk yang jahat ini ingin memasukkan sesuatu ke dalam amalan haji ini, tetapi dia tidak mampu.
Setelah itu, Jibril membimbing tangan Nabi Ibrahim q menuju Masy’aril Haram, dan berkata, “Inilah Masy’aril Haram,” kemudian membawa beliau menuju ‘Arafah. Jibril pun berkata tiga kali, “Apakah Anda sudah mengenal apa yang saya perlihatkan kepada Anda?”
“Ya,” jawab Nabi Ibrahim q. Dalam riwayat lain, diterangkan bahwa Nabi Ibrahim q melempar Iblis dengan kerikil (seukuran ujung jari kelingking), di Jumratul ‘Aqabah, Jumratul Wustha, dan Jumratul Qushwa. Kemudian, Jibril berkata kepada Nabi Ibrahim q, “Inilah Masy’ar.” Lalu membawa beliau ke ‘Arafah dan berkata, “Inilah ‘Arafah. Apakah Anda sudah tahu?”5
Allah l berfirman,
“Berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 27—29)
Dalam ayat ini, Allah l memerintah Khalil-Nya mengumumkan kepada seluruh manusia dan mengajak mereka agar berhaji, serta menyampaikan kepada yang dekat dan yang jauh, kewajiban dan keutamaan haji tersebut.
Ketika hendak melaksanakan perintah ini, Nabi Ibrahim q berkata, “Wahai Rabbku, bagaimana aku menyampaikannya kepada manusia, sedangkan suaraku tidak mungkin sampai kepada mereka?” lalu dikatakan, “Serukanlah, dan Kamilah yang akan membuatnya sampai.”
Beliau q pun berdiri di atas sebuah batu—ada yang mengatakannya di bukit Shafa, atau di gunung Abu Qubais—dan berkata, “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Rabb (Pencipta, Pemelihara, Pengatur, dan Penguasa) kalian sudah membuat sebuah rumah, maka berhajilah kepadanya.”
Disebutkan, bahwa gunung-gunung yang tinggi merunduk, sehingga suara Nabi Ibrahim q mencapai seluruh penjuru bumi, bahkan terdengar oleh semua yang ada di dalam rahim dan tulang-tulang sulbi. Seruan itu disambut oleh semua yang mendengarnya, baik batu, bata, maupun pepohonan, serta setiap orang yang ditetapkan oleh Allah l akan berhaji, sampai hari kiamat, seluruhnya mengatakan, “Labbaika Allahumma, labbaik (Aku sambut panggilanmu, ya Allah, aku sambut panggilanmu).”
Inilah kandungan dari berita yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, dan tidak hanya satu ulama salaf. Wallahu a’lam.6

Beberapa Hikmah
Dari kisah hijrahnya Nabi Ibrahim q membawa Isma’il dan Hajar, dapat dipetik beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.
1. Orang yang beriman itu akan selalu siap menjalankan perintah Allah l, lebih mengutamakan ketaatan dan kecintaan kepada Allah l dari apa pun juga, walaupun itu adalah istri yang salehah dan anak satu-satunya. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim q meninggalkan Hajar dan Isma’il di lembah yang tidak ada seorang manusia pun, tidak pula ada tanaman.
2. Wanita yang salehah itu siap pula menyambut perintah Allah l, menaati suaminya dengan kesabaran dan keimanan kepada Allah l. Itulah yang dikatakan oleh Ummu Isma’il, ketika mendengar jawaban suaminya, Nabi Ibrahim q, bahwa Allah l yang memerintahkan meninggalkannya bersama Isma’il di tempat yang sepi dan tandus tersebut. Hajar mengatakan, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
3. Nabi Ibrahim q mengajari kita bahwa tawakal kepada Allah l bukan berarti tidak menjalankan sebab. Tidak ada yang meragukan ketawakalan beliau sedikit pun. Akan tetapi, dengan ketawakalan yang sesempurna itu, beliau tetap meninggalkan keluarganya dengan bekal secukupnya.
4. Allah l memilih keluarga Nabi Ibrahim q dan menjadikan anak cucu beliau sebagai nabi dan rasul. Oleh karena itu, sudah tentu Allah l tidak ridha bila Isma’il anak kekasih-Nya memiliki istri yang hidupnya hanya memikirkan kebutuhan makan dan minum. Sikap ini akhirnya, menumbuhkan perilaku yang tidak baik, meremehkan tamunya, yang ternyata adalah mertuanya, mengufuri nikmat yang dilimpahkan Allah l kepadanya, mengeluhkan kesusahan hidup kepada orang asing, walaupun ternyata mertuanya sendiri. Oleh karena itu, adalah wajar bila Nabi Ibrahim q memerintahkan putranya menceraikan wanita tersebut.
5. Istri kedua Nabi Isma’il adalah wanita yang salehah, pandai memuliakan tamu dan mensyukuri nikmat Allah l. Oleh sebab itulah, Nabi Ibrahim q menyuruh Isma’il mempertahankannya sebagai istri.
6. Janji Allah l benar dan pasti. Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang senantiasa bertakwa kepada-Nya. Akhirnya, Makkah menjadi tujuan setiap bangsa Arab bahkan seluruh bangsa yang ada di dunia, yang mengakui Allah l adalah Rabb mereka. Siapa pun, baik yang sudah pernah melihat Ka’bah maupun yang belum, selalu diselimuti kerinduan untuk bertemu dengan Ka’bah.
7. Karunia Allah l yang demikian besar bagi kaum muslimin, dengan memancarkan air Zamzam yang penuh berkah dan dimanfaatkan seluruh manusia.
8. Kesulitan yang dialami oleh seorang mukmin, pada umumnya tidak lepas dari kenikmatan, ketenangan, dan keberkahan. Demikianlah Allah l, Dia menjadikan anugerah itu dalam bingkai ujian, sebagai rahmat Allah l, taufik dan kemudahan-Nya. Oleh sebab itu, benarlah pula sabda Nabi n:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَه
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik dan tidaklah yang demikian itu kecuali bagi seorang yang mukmin. Apabila dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur, itu adalah kebaikan baginya. Apabila dia ditimpa kesulitan, dia bersabar, itu juga adalah kebaikan baginya.”7
Allah l juga berfirman,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (ath-Thalaq: 2—3)
Keistimewaan Baitullah al-Haram (Ka’bah) dan Masjidil Haram
Sebetulnya, keutamaan yang disebutkan oleh Allah l dalam Kitab Suci-Nya, al-Qur’anul Karim sudah cukup. Akan tetapi, tidak ada salahnya kami tambahkan beberapa keterangan lain tentang keistimewaan Ka’bah dan Masjidil Haram ini.
Yang pertama, syariat membolehkan bagi kita sengaja melakukan perjalanan jauh (safar) dan berniat menziarahi Baitullah dan Masjidil Haram. Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda,
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Tidak boleh dikencangkan (tali) kendaraan (untuk safar) kecuali menuju tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasul, dan Masjidil Aqsha.”8
Yang kedua, satu kali shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu kali shalat. Oleh sebab itu, pujilah Allah l atas kenikmatan yang diberikan-Nya ini. Janganlah Anda menghalangi diri sendiri dari pahala yang sangat mulia dan besar ini.
Rasulullah n bersabda,
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا اَلْمَسْجِدَ اَلْحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي بِمِائَةِ صَلَاةٍ
“Shalat di masjidku ini seribu kali lebih utama daripada shalat di masjid lain, selain Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram, seratus kali lebih utama daripada shalat di masjidku.”9
Yang ketiga, siapa memasukinya, amanlah dia. Allah l berfirman,
“Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali ‘Imran: 97)
Kaum musyrikin di masa jahiliah pun mengakui keamanan ini. Bahkan, ketika salah seorang dari mereka melihat pembunuh ayahnya berjalan seorang diri di Makkah, mereka tidak menyentuh atau menyakitinya sama sekali. Bandingkanlah dengan perbuatan kaum Qaramithah dari kalangan Syi’ah sebagaimana disebutkan di atas.
Wallahul musta’an.

Catatan Kaki:

1 HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani (no. 877).
2 HR. Muslim, Ahmad (no. 21596), Ibnu Majah (no. 753), dan an-Nasa’i (no. 698).
3 Lihat I’anat Thalibin (hlm. 5).
4 Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin mengungkapkan bahwa istilah Hijir Isma’il yang biasa diucapkan sekarang adalah penyebutan yang keliru. Hijir di sini bukanlah hijir Ismail. Ismail tidak pernah mengetahui bentuk yang seperti itu, tidak pula dimakamkan di situ. Asalnya, ketika Quraisy ingin merenovasi Ka’bah, mereka kekurangan dana sehingga mereka berkehendak untuk mengeluarkan sebagian wilayah Ka’bah dari renovasi tersebut. Hijr sendiri artinya yang dibatasi. (al-Liqa’ asy-Syahri, -ed.)
5 Lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut. Wallahu a’lam.
6 Tafsir Ibnu Katsir.
7 HR. Muslim (7692).
8 HR. al-Bukhari (1197) dan Muslim (2/975).
9 HR. Ahmad (4/5) dan Ibnu Hibban (1620).