Kiamat Sudah Dekat

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ -وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى

‘Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana (dekatnya) dua jari ini.’ Beliau rapatkan jari telunjuk dan jari tengah.

Takhrij Hadits

Hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu dengan lafaz tersebut di atas diriwayatkan Imam Muslim dalam ash-Shahih (4/2268 no. 2951) dari jalan Abu Ghassan al-Misma’i, dari Mu’tamir bin Sulaiman bin Tharkhandari bapaknya, dari Mabad bin Hilal al-Anazidari Anas bin Malik radhiallahu anhu.

Semua perawinya tsiqah (terpercaya), termasuk para perawi Shahihain, kecuali Abu Ghassan. Al-Bukhari tidak meriwayatkan haditsnya dalam ash-Shahih.

Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (4/2268 no. 2951) dan at-Tirmidzi dalam as-Sunan (4/496 no. 2214) melalui jalan Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas radhiallahu anhu.

Dalam riwayat Muslim, Syu’bah berkata,

وَسَمِعْتُ قَتَادَةَ فِي قَصَصِهِ يَقُولُ: كَفَضْلِ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى. فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَهُ عَنْ أَنَسٍ أَوْ قَالَهُ قَتَادَةُ

Aku mendengar Qatadah dalam kisahnya berkata, “(Dekatnya kiamat itu) seperti perbedaan panjang keduanya.” Namun, aku tidak tahu apakah Qatadah meriwayatkan dari Anas, atau ini ucapan Qatadah.

Hadits Anas radhiallahu anhu diriwayatkan pula dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu anhu dalam ash-Shahihain dan Musnad al-Imam Ahmad, demikian pula dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dalam Sunan Ibnu Majah dengan keragaman lafaz.

Makna Hadits

Al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam at-Tadzkirah,

“Sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam,

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنَ

‘Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana (dekatnya) dua jari ini’, mengandung makna bahwasanya aku adalah nabi terakhir. Tidak ada nabi lain sesudahku. Yang datang mengiringiku adalah hari kiamat, sebagaimana jari telunjuk langsung diiringi jari tengah.

(Hadits ini juga bermakna bahwa) kiamat itu demikian dekat. Tanda-tandanya telah berdatangan silih berganti. Allah menyebutkan dalam firman-Nya,

فَهَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا ٱلسَّاعَةَ أَن تَأۡتِيَهُم بَغۡتَةًۖ فَقَدۡ جَآءَ أَشۡرَاطُهَاۚ

‘Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya….’ (Muhammad: 18)

Maksudnya, kiamat itu telah dekat. Tanda pertamanya adalah (diutusnya) Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena beliau adalah nabi akhir zaman. Allah utus beliau dan tidak ada nabi lain sesudahnya hingga tegaknya hari kiamat.…” (at-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah, 3/1219)

Ibnu at-Tin rahimahullah berkata,

“Terjadi perselisihan mengenai makna sabda Rasul ‘seperti dua jari ini’.

Sebagian berpendapat, ‘Seperti perbedaan panjang antara jari telunjuk dan tengah.’

Sebagian lagi berpendapat, ‘(Maknanya), tidak ada nabi antara beliau shallallahu alaihi wa sallam dan hari kiamat.’

Demikian dinukilkan al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (6/73).

Baca juga: Pokok-Pokok Keimanan kepada Nabi dan Rasul

Pembaca, rahimakumullah….

Kehidupan Rasul shallallahu alaihi wa sallam adalah kehidupan yang penuh kasih sayang dan bimbingan. Tak ada satu kebaikan pun melainkan telah beliau sampaikan. Demikian pula, tidak ada satu kejelekan pun bagi umat ini melainkan telah beliau peringatkan umat darinya. Dengan penuh kasih dan cinta beliau tarbiyah (mendidik) umat untuk berjalan menuju ridha Allah hingga wafatnya pada tahun sebelas Hijriah.

Dalam hadits Anas radhiallahu anhu, ada bimbingan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bagi umat ini untuk segera bangkit dari kelalaian dan bergegas menyiapkan bekal menghadapi hari kiamat yang telah dekat.

Dekatnya hari itu dengan diutusnya beliau shallallahu alaihi wa sallam, ibarat dekatnya jari telunjuk dan jari tengah yang dihimpitkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَمۡرُ ٱلسَّاعَةِ إِلَّا كَلَمۡحِ ٱلۡبَصَرِ أَوۡ هُوَ أَقۡرَبُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٌۚ

“Tidaklah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (an-Nahl: 77)

Jika Dekat, Mengapa Kiamat Tak Kunjung Tiba?

Kabar dekatnya kiamat telah berlalu empat belas abad silam. Mungkin ada yang bertanya, “Jika kiamat telah dekat, mengapa hingga saat ini belum terjadi?”

Kata-kata ini boleh jadi muncul sebagai bentuk pengingkaran orang kafir atas berita Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Mungkin juga, pertanyaan ini adalah waswas setan yang dibisikkan pada sebagian kalbu muslimin.

Adapun orang kafir, perkaranya telah jelas. Ungkapan ini sangat wajar muncul dari mulut orang-orang yang hatinya telah buta dan telinganya telah tuli. Dengan mudahnya mereka mengingkari kiamat dan hari kebangkitan. Allah menyebutkan tentang mereka dalam firman-Nya,

زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Rabb-ku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (at-Taghabun: 7)

Baca juga: Beriman Adanya Kebangkitan Setelah Kematian

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ ١ عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلۡعَظِيمِ ٢ ٱلَّذِي هُمۡ فِيهِ مُخۡتَلِفُونَ ٣ كَلَّا سَيَعۡلَمُونَ ٤ ثُمَّ كَلَّا سَيَعۡلَمُونَ ٥

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.” (an-Naba: 1—5)

Bagi mereka, cukup kita bacakan firman Allah Yang Mahaagung,

بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا

“Bahkan, mereka mendustakan hari kiamat. Kami sediakan bagi orang yang mendustakan kiamat api yang menyala-nyala.” (al-Furqan: 11)

Kiamat Dekat Jika Dibandingkan Umur Umat Terdahulu

Kedatangan kiamat adalah urusan yang sudah pasti. Sungguh, segala sesuatu yang pasti kedatangannya, berarti ia adalah perkara yang dekat.

Jarak diutusnya Rasul shallallahu alaihi wa sallam dengan kiamat adalah waktu yang sangat dekat jika dibandingkan umur dunia yang sudah sangat lama. Sejak sebelum Adam alaihis salam menempatinya bersama Hawa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ أُجَرَاءَ فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ غَدْوَةٍ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ؟ فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ. ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَى قِيْرَاطٍ؟ فَعَمِلَتِ النَّصَارَى. ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنَ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ عَلَى قِيرَاطَيْنِ؟ فَأَنْتُمْ هُمْ. فَغَضِبَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالُوا: مَا لَنَا أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً؟ قَالَ: هَلْ نَقَصْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ؟ قَالُوا: لاَ. قَالَ: فَذَلِكَ فَضْلِي أُتِيهِ مِنْ أَشَاءُ

“Perumpamaan kalian dan dua ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah seperti seorang yang menyewa pekerja-pekerja. Ia berkata, ‘Siapakah yang mau bekerja untukku dari pagi hingga tengah siang dengan upah satu qirath?’ Maka bekerjalah Yahudi.

Lalu ia berkata, ‘Siapakah yang mau bekerja untukku dari tengah siang hingga shalat Asar dengan upah satu qirath?’ Maka bekerjalah Nasrani.

Kemudian ia berkata, ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari Asar hingga tenggelam matahari dengan upah dua qirath?’ Maka (bekerjalah suatu kaum, dan kalianlah mereka.

Marahlah Yahudi dan Nasrani. Mereka berkata, ‘Mengapa kami yang lebih banyak pekerjaannya, tetapi pemberiannya lebih sedikit?’

Allah berfirman, ‘Apakah Aku mengurangi sesuatu dari hak kalian?’ Mereka berkata, ‘Tidak.’

Allah berfirman, ‘Itulah keutamaan-Ku, Aku berikan kepada siapa pun yang Aku kehendaki’.”[1]

Baca juga: Masuk Islamlah, Untukmu Dua Pahala

Demikian perumpamaan umat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan umat-umat sebelumnya. Hidup di akhir-akhir kehidupan dunia dengan umur yang sangat pendek, tetapi Allah berkahi dan Allah melipatgandakan pahala mereka.

Ibnu Umar radhiallahu anhu mengisahkan, suatu saat sesudah shalat Asar, ketika matahari bersinar dari arah Bukit Qu’aiqi’an[2]Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam duduk bersama para sahabat. Beliau bersabda,

مَا أَعْمَارُكُم فِي أَعْمَارِ مَنْ مَضَى إِلَّا كَمَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ وَفِيْمَا مَضَى مِنْهُ

“Tidaklah umur kalian jika dibandingkan umur umat sebelum kalian kecuali seperti apa yang tersisa dari hari ini (yaitu waktu Asar) dan yang telah lalu darinya.”[3]

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا أَجَلُكُم فِي أَجَلِ مَنْ خَلَا مِنَ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ وَمَغْرِبِ الشَّمْسِ

“Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu hanyalah seperti masa antara shalat Asar dan tenggelamnya matahari.”[4]

Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwa umur dunia yang tersisa sangatlah pendek dibandingkan dengan umurnya yang telah lalu. Umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah kaum terakhir yang hidup di muka bumi, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah rasul terakhir yang Allah utus kepada manusia.

Baca juga: Beberapa Kekhususan Rasulullah

Pembaca, rahimakumullah….

Sesungguhnya apa yang dikatakan dekat oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita katakan itu dekat walaupun manusia menganggapnya jauh. Allah berfirman,

إِنَّهُمۡ يَرَوۡنَهُۥ بَعِيدًا ٦ وَنَرَىٰهُ قَرِيبًا ٧

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (al-Ma’arij: 6—7)

Kiamat adalah Rahasia Allah

Meskipun dekat, tetapi hari itu dirahasiakan oleh Allah. Tidak ada seorang pun mengetahuinya. Allah berfirman,

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, “Bilakah terjadinya?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” (al-A’raf: 187)

Pengetahuan tentang hari kiamat adalah ilmu yang Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٌ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدًاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٍ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ ٣٤

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Lima perkara inilah kunci-kunci perkara gaib. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentangnya,

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَا اللهُ… -مِنْهَا: وَلَا يَعْلَمُ مَتَى السَّاعَةُ إِلاَّ اللهُ

“Kunci-kunci gaib ada lima, tidak ada yang megetahuinya kecuali Allah … (Di antaranya adalah) dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.”

Baca juga: Menyoal Urusan Gaib

Alhasil, tidak satu makhluk pun mengerti kapan hari kiamat terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hanya mendapatkan wahyu dari Allah bahwa kiamat terjadi pada hari Jumat. Allah juga mewahyukan kepada beliau tentang tanda-tandanya. Selebihnya, beliau tidak tahu kepastian hari tersebut.

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata,

“Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang hari kiamat, beliau menjawabnya dengan menyebut sebagian tandanya. Jadi, tidak ada yang tahu selain Allah, di tahun berapa kiamat itu, di bulan apa kiamat itu, dan di tanggal manakah di bulan itu.

(Adapun hari), hadits Rasul shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan bahwa hari itu adalah hari Jumat. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةُ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا يَوْمُ الْجُمُعَةِ

“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Di hari itu Adam diciptakan, di hari itu ia dimasukkan janah, dan di hari itu pulalah ia dikeluarkan dari janah. Tidaklah kiamat itu ditegakkan kecuali pada hari Jumat.”[5] (Qathfu al-Janad Dani Syarh Muqaddimah Risalah Ibni Abi Zaid al-Qairawani, hlm. 115)

Baca juga: Hikmah Penciptaan Adam

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah rasul paling mulia dari kalangan manusia. Demikian pula Jibril alaihis salam adalah rasul (utusan) paling mulia dari kalangan malaikat. Keduanya tidak mengerti kapan hari kiamat itu terjadi. Ketika Jibril datang dalam bentuk manusia yang tidak dikenal, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kapan terjadinya hari kiamat.

Jawaban Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika itu tidak melebihi ucapan beliau,

مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya (yakni keduanya sama-sama tidak mengetahui).” (HR. Muslim)

Jika keduanya tidak mengerti kapan terjadinya hari kiamat, masuk akalkah jika kemudian ada seseorang yang mengaku tahu kapan terjadinya? Subhanallah, ini adalah kedustaan yang nyata!!

Bahkan, Israfil alaihis salam—malaikat peniup sangkakala yang dengan tiupannya kiamat akan ditegakkan—pun tidak mengetahui kapan Allah akan memerintahnya untuk meniupkan sangkakala. Yang ia lakukan hanyalah terus menatapkan pandangannya ke arah Arsy, tidak berkedip sedikit pun, menanti perintah Allah untuk meniupkannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ طَرْفَ صَاحِبِ الصُّورِ مُنْذُ وُكِّلَ بِهَ مُسْتَعِدٌ نَحْوَ الْعَرْشِ مَخَافَةَ أَنْ يُؤْمَرَ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْهِ طَرْفُهُ كَأَنَّ عَيْنَيْهِ كَوْكَبَان دُرِّيَّانِ

“Sesungguhnya pandangan malaikat peniup sangkakala selalu tertuju ke arah Arsy semenjak Allah tugaskan. Khawatir andai ia diperintah meniupkannya sebelum mengedipkan keduanya, seolah-olah matanya dua bintang yang memancar.”[6]

Dua Jawaban Rasulullah terhadap Pertanyaan Kapan Terjadinya Kiamat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mengetahui kapan terjadinya kiamat. Oleh karena itu, ketika ada pertanyaan diajukan kepada beliau tentang kiamat, beliau menjawabnya dengan dua jenis jawaban.

Pertama, beliau jawab pertanyaan itu dengan menyebutkan tanda-tandanya.

Kedua, beliau arahkan penanya untuk melakukan hal yang lebih penting, yaitu mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.

Baca juga: Kematian adalah Kepastian, Apa Yang Sudah Engkau Siapkan?

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ: لَا شَيْءٌ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ. فَقَالَ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Seorang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Ia berkata, ‘Kapankah terjadinya hari kiamat?’

Beliau bersabda, ‘Apa yang telah kau siapkan untuk menghadapi hari itu?’

Dia menjawab, ‘Tidak banyak bekalku, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.’

Bersabdalah Rasulullah kepadanya, ‘Engkau bersama orang yang kau cintai.’

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mulia ini benar-benar membahagiakan para sahabat. Kebahagiaan itu terungkap dari ucapan Anas berikutnya,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ  وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Tidaklah kita berbahagia (setelah Islam) sebagaimana bahagianya kita dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ‘Engkau bersama orang yang kau cintai.’

Kemudian Anas berkata, ‘Aku mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka (di janah) dengan kecintaanku pada mereka meski aku tidak mampu beramal sebagaimana amal mereka’.”[7]

Baca juga: Apakah Kita Boleh Iri Terhadap Para Sahabat Nabi?

Alangkah indahnya sabda beliau. Betapa jujurnya sahabat Anas radhiallahu anhu. Sungguh, kita pun berkata, “Ya Allah, aku mencintai Nabi-Mu shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, al-Husain, Ummahatul Mukminin, dan seluruh sahabat Nabi-Mu. Aku berharap kepada-Mu, ya Allah, Engkau kumpulkan diriku bersama mereka di Firdaus-Mu… Walau aku tak mampu beramal sebagaimana amalan mereka. Walau aku tak mampu bertobat sebagaimana tobat mereka.”

Hadits-Hadits yang Menetapkan Kepastian Waktu Terjadinya Kiamat adalah Maudhu’ (Palsu)

Semua hadits tentang penentuan hari kiamat tidak benar penyandarannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Katsir rahimahullah memberikan faedah penting ini dalam kitabnya an-Nihayah.[8]

Ada baiknya pada kesempatan ini kita simak sebuah hadits yang dinukil Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Manarul Munif, sebagai contoh hadits maudhu’ (palsu) tentang hari kiamat. Penyelisihan hadits ini terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah sangat jelas.

Baca juga: Menyelisihi As-Sunnah, Menuai Ancaman

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ وَنَحْنُ فِي الْأَلْفِ السَّابِعَةِ

“Dunia itu berusia tujuh ribu tahun. Kini kita berada pada seribu yang ketujuh.”

Mengomentari hadits ini, berkata Ibnul Qayyim, “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata. Andaikata hadits ini sahih, niscaya semua orang tahu bahwa kiamat akan terjadi 251 tahun mendatang.”[9] (al-Manarul Munif fish-Shahih wadh-Dha’ifhlm. 80)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

“Kami tidak sedikit pun memastikan hitungan tertentu. Orang yang menyangka bahwa dunia itu berumur tujuh ribu tahun atau lebih atau kurang, sungguh dia telah berdusta. Dia telah berbicara dengan sesuatu yang tidak pernah sedikit pun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyabdakannya dalam lafaz yang sahih. Bahkan, telah sahih dari beliau apa yang menyelisihi persangkaannya.

Kita memastikan bahwa dunia itu memiliki urusan yang tidak ada yang mengerti kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Dia subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّآ أَشۡهَدتُّهُمۡ خَلۡقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَا خَلۡقَ أَنفُسِهِمۡ

“Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri…” (al-Kahfi: 51) (al-Fishal 2/84)

Ghuluw Kaum Sufi

Di antara bentuk ghuluw adalah perkataan sebagian pengikut hawa nafsu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengetahui ilmu gaib, termasuk di antaranya hari kiamat. Anehnya, di antara mereka berdalil dengan hadits sahih. Tentu saja, hadits itu mereka pelintir maknanya menurut pemahaman dan hawa nafsu mereka. Na’udzubillah minal fitan (Kita berlindung dari godaan dan fitnah).

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Jibril alaihis salam,

مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.”

mereka tafsirkan dengan penafsiran yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, serta menyelisihi kesepakatan umat. Kata mereka, “Makna hadits ini, aku (Rasulullah) dan engkau (Jibril alaihis salam), sama-sama mengetahui kapan terjadinya hari kiamat.”

Lihatlah, wahai kaum muslimin. Bagaimana setan menipu mereka dan menghiasi kebatilan dengan angan-angan dusta yang mengantarkan pada kebinasaan. Mereka tafsirkan hadits dengan penafsiran yang menyelisihi kesepakatan salaf umat ini dari kalangan sahabat, tabiin, atba’ut tabi’in, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bahkan, menyelisihi nas (dalil yang jelas) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Baca juga: Mengapa Harus Manhaj Salaf?

Melengkapi pembahasan dalam al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim membantah pemahaman keliru dan batil terhadap hadits Jibril di atas. Beliau membawakan bantahan tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Beliau sertakan juga hadits-hadits sahih yang menunjukkan ketidaktahuan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap perkara gaib.

Kesimpulan bantahan itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamketika Jibril datang dalam bentuk seorang Arab badui dengan baju yang sangat putih dan rambut yang sangat hitamsama sekali tidak mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Jibril. Dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَتَانِي فِي صُورَةٍ إِلَّا عَرَفْتُهُ غَيْرِ هَذِهِ الصُّورَةِ

“Tidaklah Jibril datang padaku dalam suatu bentuk kecuali aku mengenalinya, kecuali bentuk ini (yakni dalam kejadian hadits Jibril).”[10]

Akankah beliau mengatakan kepada orang yang beliau sangka manusia badui biasa, dan beliau tidak tahu bahwa dia adalah Jibril, dengan ucapan, “Aku dan engkau (wahai lelaki badui yang tidak aku kenal-pen) mengetahui kiamat?”

Mahasuci Allah. Ini tentu sebuah kedustaan.

Terlebih lagi, ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi dengan tegas menyelisihinya. Jawaban Ibnul Qayyim dan pembahasan yang sangat bermanfaat bisa dilihat selengkapnya dalam kitab tersebut halaman 81—84.

Baca juga: Bahaya Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Pembaca rahimakumullah.

Ghuluw kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukan hanya perkataan mereka bahwa beliau mengetahui hari kiamat. Lebih dari itu, mereka meyakini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengetahui segala yang gaib dan mengerti semua yang ada di al-Lauhul Mahfuzh.

Dalam Mimiyah al-Bushiri, yang dikenal dengan kasidah burdah, penulisnya, al-Bushiri[11] berkata,

وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

“Dan di antara ilmumu (wahai Nabi) adalah ilmu al-Lauhul Mahfuzh dan pena (pencatat takdir).”

Sungguh, sebuah ucapan yang telah mencapai puncak kebatilan. Kandungannya menetapkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengetahui perkara-perkara gaib. Perlu diketahui bahwa ucapan-ucapan serupa yang penuh dengan kesyirikan dan kebidahan banyak tertera dalam kasidah tersebut. Wal ‘iyadzubillah.

Dengan lancang ia menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ ٦٥

“Katakanlah (wahai Nabi), ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (an-Naml: 65)

Baca juga: Ghuluw Jembatan Menuju Kesesatan

Allah juga berfirman,

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (al-Lauh al-Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Wahai para penyanjung kasidah burdah dan yang selalu mendendangkannya!

Jawablah dengan jujur. Ucapan Bushiri-kah yang benar atau firman-firman Allah dan sabda Rasul-Nya?

Renungkan ayat-ayat di atas. Lalu bandingkan dengan bait-bait kufur kasidah burdah yang kalian dendangkan. Segeralah kembali ke jalan yang benar sebelum Allah menutup pintu tobat.

Ramalan Kiamat, Upaya Mendangkalkan Akidah Umat

Desember 2012 diramalkan sebagai hari berakhirnya dunia. Ramalan ini bukan kedustaan pertama dalam peradaban manusia. Ramalan-ramalan kiamat sebenarnya telah tercatat dalam catatan panjang sejarah. Akan tetapi, ramalan serupa tetap saja diembuskan di tengah-tengah manusia.

Muslim yang kokoh akidahnya akan segera melihat ramalan ini sebagai kedustaan. Akan tetapi, saat berita ini diterima oleh orang yang lemah imannya, yang tidak mengerti akidah yang benar, goncanglah jiwanya dan sempitlah dadanya.

Ada satu sisi yang ingin kita ingatkan di sini. Sesungguhnya musuh-musuh Islam terus berusaha mengembuskan berita-berita dan keyakinan yang merusak akidah umat dengan segala media yang mereka miliki. Berita kiamat 2012 adalah sebagian kecil dari upaya musuh Islam mendangkalkan akidah dan akhlak kaum muslimin.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan, apa benteng untuk menghadapi perang pemikiran itu?

Al-Kitab dan As-Sunnah, Benteng dari Kesesatan

Al-Kitab dan As-Sunnah adalah pelita di tengah kegelapan dan benteng dari kesesatan. Apa pun ujian/godaan yang menimpa, ketika seorang kembali kepada keduanya, niscaya dia dapatkan jawaban yang membantah semua kerancuan.

Seorang mukmin yang mengenal Allah, Rasul-Nya, dan agama Islam, ketika ramalan kiamat mengetuk gendang telinganya, ia akan segera tersentak dan menjawab bahwa dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah secara tegas menunjukkan bahwa tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kiamat kecuali Allah.

Baca juga: Jalan Salaf Jaminan Kebenaran

Di akhir tulisan ini, sejenak kita baca sebuah hadits di antara sekian banyak hadits yang membantah ramalan kiamat 2012. Ia adalah hadits tentang turunnya Isa bin Maryam alaihis salam ke muka bumi. Beliau akan turun dan menetap di dunia selama tujuh tahun. Dalam hadits tersebut dikatakan,

فَيَبْعَثُ اللهُ عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ … ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ رِيْحًا مِنْ قِبَلِ الشَّامِ فَلَا يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيْمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ

“Allah lalu mengutus Isa bin Maryam[12]… kemudian manusia hidup selama tujuh tahun tanpa ada permusuhan antara dua orang[13]. Hingga Allah mengirimkan angin dari arah Syam. Tidak ada seorang pun di muka bumi yang ada kebaikan atau iman dalam hatinya melainkan angin ini akan mewafatkannya.”[14]

Kita katakan, seandainya Nabi Isa turun di tahun tulisan ini dibuat, yaitu 2010, niscaya beliau akan tinggal di dunia tujuh tahun ke depan. Artinya, kita bisa pastikan bahwa 2012 bukanlah hari kiamat yang mereka sangka.

Kaum muslimin, rahimakumullah.

Setelah hadits ini dan hadits-hadits yang demikian banyak menunjukkan kedustaan semua ramalan kiamat, akankah seorang yang beriman terusik dengan berita-berita dusta itu?

Wallahu a’lam bish-shawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa shallalahu ‘ala muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.


Catatan Kaki

[1] HR. al-Bukhari no. 2268.

[2] Sebuah bukit berjarak 12 mil selatan Makkah. Lihat an-Nihayah fi Gharibil Hadits (4/88).

[3] Musnad al-Imam Ahmad (8/176 no. 5966) dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya sahih.”

[4] HR. al-Bukhari (6/495 no. 3459).

[5] HR. Muslim dalam ash-Shahih (2/585 no.854) dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi radhiallahu anhu.

[6] HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/603). Ibnu Hajar menilainya hasan dalam al-Fath (11/447). Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (3/65 no. 1078).

[7] HR. al-Bukhari meriwayatkan hadits Anas radhiallahu anhu dalam Shahih-nya no. 3688.

[8] Lihat an-Nihayah fil Fitan wal Malahim (1/195).

[9] Ucapan Ibnul Qayyim menunjukkan bahwa kitab al-Manarul Munif ditulis sekitar tahun 749 H, yaitu 251 tahun sebelum tahun 1000 H. Kini kita memasuki tahun 1431 H, kedustaan itu semakin terang. Jika berita ini benar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam niscaya kiamat sudah terjadi 431 tahun silam.

[10] Musnad al-Imam Ahmad (1/53) dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu.

[11] Muhammad bin Sa’id al-Bushiri (608—695 H), berkubang dalam lumpur tasawuf, dibenci manusia lantaran kata-katanya yang kotor. Meminta-minta, bahkan menjilat penguasa demi harta, adalah kebiasaannya. Menetapi tarekat Syadziliyah dan menulis qashidah burdah yang dipenuhi ghuluw, bid’ah, dan kesyirikan.

[12] Maksudnya, Allah turunkan beliau dari langit.

[13] Pada masa Isa bin Maryam alaihis salam turun kelak, bumi penuh dengan keadilan dan keamanan. Bahkan, disebutkan dalam riwayat bahwa anak-anak kecil bermain dengan ular-ular tanpa ada sedikit pun bahaya. Lihat Musnad al-Imam Ahmad (2/406) dan dinilai sahih sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6/493).

[14] HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 2940.

Ditulis oleh Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.