Sejarah telah menukilkan kepada kita gambaran nyata buah keimanan yang kokoh di hati sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai mereka. Mereka yang dahulunya, seperti digambarkan oleh Ja’far bin Abi Thalib, Dzul Janahain (Si Pemilik Dua Sayap) radhiallahu ‘anhu, dalam dialognya bersama Negus (Najasyi) Raja Habasyah masa itu,

“Wahai Baginda Raja, kami dahulu hidup di masa jahiliah, menyembah berhala, memakan bangkai (karena tidak disembelih dengan nama Allah –ed), melakukan perbuatan keji, memutuskan silaturrahmi (hubungan kasih sayang, kekerabatan), menyakiti tetangga, yang kuat di antara kami menindas yang lemah, memperturutkan syahwat, dan kami tetap dalam keadaan demikian sampai Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami….”[1]

Setelah mereka menerima petunjuk, lalu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, iman itu tertanam kuat dalam hati dan menggerakkan seluruh tubuh pemiliknya kepada yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla. Akhirnya, mereka menjadi pelopor dalam kemajuan peradaban manusia.

Siang hari mereka seperti serigala padang pasir yang buas menerkam musuh-musuhnya. Akan tetapi, di malam hari, mereka menangis terisak-isak karena takut, harap dan rindu kepada Pencipta mereka, jauh lebih khusyuk dan tunduk daripada pendeta di biara-biara mereka.

Kepada merekalah ditujukan pujian dari langit, dari Pencipta dan Penguasa alam semesta dengan semua isinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran: 110)

Jika dikatakan ayat ini bersifat umum, para sahabat adalah orang-orang yang pertama dituju dengan ayat-ayat tersebut dan yang semisalnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan pujian untuk mereka dalam banyak hadits, di antaranya,

        خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka.” (HR. al-Bukhari (5949) dan Muslim (4601))

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah berkata,

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ. ثُمَّ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ. فَما رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Sungguh, Allah melihat kepada hati hamba-hamba-Nya, maka Dia mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati hamba-Nya yang paling baik. Lalu Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya membawa risalah-Nya.

Kemudian Allah melihat kepada hati hamba-hamba-Nya setelah hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Dia mendapati hati para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati hamba-Nya yang paling baik. Dia pun menjadikan mereka para pembantu Nabi-Nya, mereka berperang karena (membela) agamanya.

Oleh karena itu, apa yang dipandang kaum muslimin baik, maka di sisi Allah, hal itu adalah baik. Dan apa yang mereka pandang buruk, maka di sisi Allah, hal itu adalah buruk.” (HR. Ahmad (3667) dari ucapan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.)

Generasi mereka memang telah pergi. Jasad mereka kini terbujur kaku dalam perut bumi. Akan tetapi, warisan mereka tak akan pernah sirna dari dada orang-orang yang beriman sampai hari kiamat.

Mereka adalah generasi yang menyatu pada mereka perumpamaan dan kenyataan. Merekalah yang telah mewujudkan inti ajaran Islam dalam kehidupan nyata, mengangkat derajat manusia ke tingkat tertinggi, meskipun mereka bukan nabi. Mereka adalah murid-murid dua wahyu, al-Qur’anul Karim dan Sunnah yang sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh sebab itu, alangkah perlunya kita mengenal generasi ini untuk kita jadikan teladan dalam kehidupan di zaman seperti ini. Kemudian kita coba membandingkan seberapa jarak antara kita dan ajaran Islam yang dahulu mereka terima secara langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah titik pangkal pembahasan kita, meskipun kita tidak akan menceritakan sejarah setiap sahabat tersebut. Sekadar mengingatkan kita bahwa di bumi ini pernah ada orang-orang yang menorehkan gambaran iman yang agung di atas prasasti kehidupan manusia. Adapun tentang bukti keutamaan mereka, telah dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya.

 

Mari Beriman Sejenak

Kita tentu masih ingat Abdullah bin Rawahah, pahlawan Islam terkemuka dari kalangan Anshar. Beliau gugur sebagai kembang syuhada di Mu’tah, bersama dua saudaranya, Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Dia adalah salah satu panglima perang yang ditunjuk oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin pasukan muslimin menghadapi seratus ribu lebih kekuatan salibis.

Ada sebagian ungkapan beliau yang telah diabadikan dalam sejarah, sebagai bukti dan tanda kejujuran iman yang ada di hati-hati mereka.

Semasa hidupnya, Abdullah bin Rawahah, jika bertemu dengan sebagian sahabatnya, dia menjabat tangan sahabatnya lalu berkata, “Mari duduk sejenak, kita beriman sesaat.”

Ternyata, ungkapan ini juga dinukil dari sahabat lainnya, seperti Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, meskipun lafadznya berbeda.

Diceritakan oleh Anas radhiallahu ‘anhu, jika Abdullah bertemu dengan sebagian sahabatnya, dia berkata,

تَعَالَ نُؤْمِنُ سَاعَةً

        “Kemarilah, kita beriman sesaat.”

Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata,

هَيَّا بِنَا نُؤْمِنُ سَاعَةً

“Marilah kita beriman sesaat.”

Adapun yang dinukil dari Mu’adz adalah,

اِجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنُ سَاعَةً

“Duduklah dengan kami, kita beriman sesaat.” (HR. al-Bukhari “Kitabul Iman”, secara mu’allaq (tanpa sanad), disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah (30363), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Kitabul Iman Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (20).)

Ini menunjukkan besarnya perhatian mereka kepada hal-hal yang berkaitan dengan iman yang tempatnya adalah hati.

Dalam ungkapan ini, banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik.

Perlu kita ketahui, sudah tentu, maksud mereka mengungkapkan kalimat-kalimat ini bukan mengajak kepada sesuatu yang tadinya belum ada lalu diupayakan menjadi ada.

Artinya, mereka mengucapkan ini bukan mengajak agar seseorang yang tidak beriman menjadi orang yang beriman. Bukan begitu.

Mengapa?

Sebab, mereka adalah orang-orang yang terbina oleh dua wahyu, al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keimanan mereka sudah teruji dan terbukti hingga sampai kepada kita berbagai riwayat yang menceritakan tentang ketakwaan dan keyakinan mereka yang hampir seperti dongeng. Artinya, seakan-akan mustahil ada manusia biasa yang mampu meraih kedudukan yang telah mereka capai. Akan tetapi, itu semua kenyataan yang telah diabadikan oleh sejarah, bukan sekadar legenda, apalagi dongeng pengantar tidur.

Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih banyak memuji mereka, yang tentu saja mengisyaratkan kepada orang-orang yang berakal sehat dan hati yang masih bersih untuk meniru dan mengikuti langkah mereka.

Karena itu, tidak mungkin ajakan ini dipahami bahwa mereka mengajak kepada asal (pokok pangkal) keimanan karena mereka memang sudah mukmin bahkan benar-benar mukmin. Akan tetapi, maknanya adalah ajakan untuk berzikir kepada Allah, karena zikir kepada Allah akan menambah keimanan.6

Mari beriman sejenak, kita berzikir mengingat Allah sesaat, mengingat-ingat berbagai kebaikan, urusan akhirat, dan hukum agama yang membuat iman dan keyakinan kita bertambah. Biarlah mereka di luar sana sibuk dengan dunia mereka. Doakan saja semoga mereka diberi taufik oleh Allah ‘azza wa jalla.

Alangkah penting kiranya kita mengulang-ulang kalimat ini. Di saat-saat tersebarnya majelis-majelis ghaflah, berbagai bentuk laghwu dan lahwu yang merata di seluruh lapisan dan dalam setiap lini kehidupan. Tidak hanya menimpa orang-orang yang kafir, tetapi juga sebagian besar kaum muslimin. Kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Rabb (Yang Mencipta, Memiliki, Menguasai, Memberi rezeki dan Mengatur)-nya.

Di zaman yang hawa nafsu semakin liar tak terkendali seperti ini, mungkin berbagai sikap materialis semakin kokoh, bahkan menjadi standar dan acuan di seluruh lini kehidupan. Segala sesuatu diukur dengan materi, kebendaan. Seseorang dinilai (dianggap berhasil, terhormat) karena kekayaan, pangkat, jabatan dalam masyarakat, atau gelar kesarjanaannya.

Ahli ilmu agama, dikatakan sebagai ulama cendikia ialah kalau dia berharta, memiliki pesantren yang megah dengan murid ribuan orang dan donatur yang bonafide, sering diundang ke sana ke mari memberikan ceramah, atau menjadi imam shalat di masjid-masjid besar.

Bahkan, ternyata sifat materialis ini merambah pula segi-segi keimanan, di mana banyak orang—kecuali yang dirahmati Allah—yang menyatakan beriman tetapi hanya sebatas atau didasari oleh apa yang dapat ditangkap oleh indra dan akalnya. Di luar itu, tidak perlu diimani, karena tidak masuk akal dan tidak tertangkap oleh indra.

Alangkah butuhnya kita kepada orang-orang yang mengatakan kalimat-kalimat ini kepada kita,

“Mari kita beriman sejenak”

Namun, dari mana kita memulainya?

Yang jelas, karena bermula dari ucapan sebagian sahabat, tentu kita akan menelusuri pula arti iman ini berangkat dari pemahaman mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣

Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,” mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (al-Baqarah: 13)

Demikian pula,

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٖۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ١٣٧

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menjadikan jalan hidup mereka sebagai anutan atau teladan yang harus diikuti setiap mukmin yang datang sesudah mereka. Firman-Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Wallahu a’lam.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Sirah Ibnu Hisyam (1/335), Ahmad (1/201—203) dan Abu Nu’aim (Dalailun Nubuwah no. 189), dinyatakan sahih sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Fiqhus Sirah (135)