Mut’ah, Pelaris Syiah

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh itu terdapat segumpal daging. Apabila dia (segumpal daging itu) baik, maka akan menjadi baiklah seluruh tubuhnya. Apabila rusak, maka akan menjadi rusaklah seluruh tubuhnya. Ketauhilah bahwa dia (segumpal daging tadi) adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Abdillah an-Numan bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan perkara ini secara khusus (dalam hadits ini), karena jantung adalah pemimpin bagi seluruh anggota badan. Dengan sebab baiknya pemimpin pula, masyarakat akan menjadi baik. Sebaliknya, dengan rusaknya pemimpin, masyarakat juga akan menjadi rusak.” (Fathul Bari, 1/3)

Jika kita perhatikan agama Syiah dengan menggunakan “kaca mata” hadits yang mulia ini, berbagai kerusakan, kezaliman, dan kekacauan yang dilakukan oleh Syiah itu terjadi dengan sebab keyakinan (akidah) rusak yang telah tertanam di dalam hati mereka.

Sebagai contoh dan sekaligus pelaris agama Syiah adalah nikah mut’ah (baca: kawin kontrak). Salah satu doktrin Syiah yang keji dalam hal ini terdapat di dalam kitab tafsir mereka, Minhajus Shadiqin, yang dikarang oleh Fathullah al-Kasyani. Disebutkan di dalamnya, “Barang siapa melakukan nikah mut’ah sekali, akan dibebaskan sepertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah dua kali, akan dibebaskan dua pertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah tiga kali, akan dibebaskan seluruh tubuhnya dari api neraka.”

Menurut klaim Syiah, Ja’far ash-Shadiq berkata, “Diperbolehkan bagi laki-laki melakukan nikah mut’ah sebanyak mungkin tanpa wali dan saksi.” (al-Wasil, juz 21/64)

 debu

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah adalah pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam jangka waktu yang telah disepakati oleh mereka (satu hari, dua hari, bisa kurang atau lebih) dengan si laki-laki memberikan sesuatu kepada si perempuan; bisa berupa harta, makanan, pakaian, atau yang lain. Apabila masa yang telah disepakati telah habis, maka secara otomatis terjadi perpisahan di antara mereka berdua tanpa talak (perceraian) dan tidak saling mewarisi. (Jami’ Ahkam an-Nisa, 3/182)

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman al-Bassam rahimahullah berkata, “Mut’ah adalah pecahan dari kata tamattu’ (menikmati) sesuatu. Dinamakan nikah mut’ah karena tujuan pernikahan itu ialah seorang laki-laki bisa bersenang-senang dengan perempuan yang diikat dengan sebuah perjanjian sampai batas waktu tertentu.” (Taudhih al-Ahkam, 5/294)

 

Mut’ah Telah Merebak di Indonesia

Praktik nikah mut’ah (baca: kawin kontrak) tenyata sangat laris di dunia kampus yang teletak di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, dan lainnya. Sebagai contoh adalah apa yang diungkapkan oleh seorang penulis skripsi yang berjudul “Perempuan dalam Nikah Mut’ah”. Hasil survei yang dilakukannya menunjukkan bahwa nikah mut’ah banyak dilakukan oleh kalangan civitas akademika, di antaranya adalah para mahasiswa yang tersebar hampir di seluruh kampus di Makassar. Salah satu alasan para perempuan ingin melakukan nikah mut’ah adalah karena merantau dan jauh dari orang tua/keluarga sehingga membutuhkan perlindungan dari mahramnya agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Jenis perjanjiannya pun bermacam-macam. Sebagian data yang didapatkan menunjukkan bahwa mereka yang melakukan nikah mut’ah ada yang memilih periode/jangka waktu selama si perempuan dalam masa studi. Jika si perempuan sudah lulus kuliah, nikah mut’ahnya pun turut selesai.

 

“Ketahuilah bahwa nikah mut’ah itu haram sejak sekarang ini sampai hari kiamat. Barang siapa (telah nikah mut’ah) dan memberi sesuatu (kepada seorang perempuan), dia tidak boleh mengambilnya.”

 

Dalil-Dalil yang Mengharamkan Nikah Mut’ah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5-7)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ وَعَنْ أَكْلِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ يَوْمَ خَيْبَر

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah terhadap para wanita dan memakan daging keledai piaraan pada perang Khaibar.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah di dalam hadits Rubayyi bin Sabrah, dari ayahnya,

أَلَا إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كَانَتْ أَعْطَى شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ

“Ketahuilah bahwa nikah mut’ah itu haram sejak sekarang ini sampai hari kiamat. Barang siapa (telah nikah mut’ah) dan memberi sesuatu (kepada seorang perempuan), dia tidak boleh mengambilnya.”

Abdullah bin Zubair berkata di dalam khutbahnya di Mekah, “Sungguh ada beberapa orang yang Allah butakan hati mereka sebagaimana Dia telah membutakan mata mereka. Mereka berfatwa bolehnya nikah mut’ah.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Riwayat-riwayat yang mutawatir menunjukkan makna yang sama, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan nikah mut’ah yang sebelumnya dihalalkan. Pendapat yang benar, nikah mut’ah ini tidak akan menjadi halal setelah diharamkan; yaitu setelah diharamkan pada masa Fathu Makkah. Mut’ah tidak akan menjadi halal setelah itu.” (Nukilan Abdullah al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam, 5/295)

 

Pengkhianatan Syiah terhadap Imam Mereka

Salah satu ciri khas Syiah Rafidhah adalah berlebihan dalam mengultuskan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Dalam kitab mereka al-Kafi, diriwayatkan dari Muhammad bin al-Fadhl, dari Abul Hasan, dia berkata, “Perwalian Ali radhiallahu ‘anhu sudah tertulis pada seluruh kitab para nabi, terlebih lagi al-Qur’an. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang rasul kecuali dengan nubuwwah Muhammad dan dengan washiyat Ali.” (Kitab al-Hujjah dari al-Kafi, 1/437)

Meski demikian, dalam hal nikah mut’ah ini, mereka justru mengkhianati fatwa imam mereka, yaitu Ali radhiallahu ‘anhu, yang telah mengharamkannya. Alangkah besarnya kedustaan mereka!

 

Praktik Para Tokoh Syiah

  1. Ayatullah Khomeini

Sayyid Husain al-Musawi al-Husaini, salah seorang mantan murid Khomeini menceritakan bahwa dia pernah safar bersama Khomeini ke daerah al-‘Atifiah. Di daerah itu, tinggal seorang lelaki yang berasal dari Iran, Sayyid Shahib. Ia mempunyai hubungan yang dekat dengan Khomeini.

Sayyid Shahib sangat bergembira dengan kedatangan kami. Kami tiba di tempatnya waktu Zuhur. Beliau menyediakan makan siang yang istimewa untuk kami dan memaklumkan kepada kerabat dekatnya tentang kedatangan kami. Mereka hadir dan memenuhi rumah beliau untuk menyambut kedatangan kami dengan penuh penghormatan.

Sayyid Shahib meminta kepada kami supaya bermalam di rumahnya pada malam tersebut, Imam pun setuju. Ketika tiba waktu Isya’, dihidangkan disediakan makan malam untuk kami. Para hadirin mencium tangan Imam dan berbincang-bincang dengannya.

Ketika hampir tiba waktu tidur, para hadirin bubar kecuali penghuni rumah tersebut. Khomeini melihat anak-anak perempuan berumur empat atau lima tahun yang sangat cantik. Imam meminta dari ayahnya, Sayyid Shahib untuk melakukan nikah mut’ah dengan anaknya. Ayahnya pun setuju dengan perasaan gembira. (Lillahi Tsumma lit Tarikh)

 

  1. Sayyid Husain Shadr

Sayyid Husain Musawi bercerita pula, “Seorang perempuan datang kepadaku dan bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh Syiah, Sayid Husain Shadr, pernah melakukan nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun lalu. Dia pun hamil dari hubungan itu. Setelah puas, dia menceraikannya.

Setelah berlalu beberapa waktu, perempuan itu dikaruniai seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil hasil hubungannya dengan Sayyid Husain Shadr, karena saat itu tidak ada yang melakukan nikah mut’ah dengannya selain Sayyid Shadr.

Setelah anak perempuannya dewasa, dia menjadi seorang gadis cantik dan siap menikah. Namun, sang ibu mendapati bahwa anaknya itu telah hamil. Ketika ditanyakan tentang kehamilannya, dia mengabarkan bahwa Sayyid Shadr telah melakukan nikah mut’ah dengannya dan menghamilinya.”

 

Peran Jalaludin Rakhmat Melariskan Mut’ah

Harian Fajar Makassar pernah memuat wawancara khusus dengan Jalaludin Rakhmat pada 25 Januari 2009 tentang nikah mut’ah.

Ketua Dewan Syura IJABI ini berkata, “Nikah mut’ah itu memang boleh saja dalam pandangan agama, karena masih dihalalkan oleh Nabi. Apa yang dihalalkan oleh Nabi berlaku sampai hari kiamat.”

 

Akibat Nikah Mut’ah

Tidak ada yang mengetahui jumlah dan macam kerusakan akibat perbuatan keji dan menjijikkan ini secara terperinci selain Allah.

Sebagian akibat yang bisa kita ketahui di antaranya:

 

  1. Dusta atas nama Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tidaklah ada dosa dan kejahatan yang lebih berbahaya tehadap umat dibandingkan keyakinan bahwa nikah mut’ah dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (ash-Shaff: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلَيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mengambil tempat duduknya dari neraka.” (HR. Muslim)

Berapa banyak orang yang tertipu dengan sebab kedustaan mereka ini?

 

  1. Rusaknya nasab

Dengan sebab gonta-ganti pasangan ketika nikah mut’ah, maka tatkala seorang wanita hamil, dia tidak akan tahu, hasil dari hubungan dengan siapakah kehamilannya itu? Na’udzubillah min dzalik. Terlebih lagi dengan sangat sering dan cepatnya periode nikah mut’ah.

Menurut klaim Syiah, Ja’far ash-Shadiq, yang mereka anggap sebagai imam mereka, pernah ditanya, “Apa boleh seorang laki-laki melakukan nikah mut’ah untuk jangka waktu satu atau dua saat saja?”

Dia menjawab, “Bukan hanya satu atau dua saat saja, bahkan sehari atau dua hari juga boleh.” (al-Kafi, 5/459)

 

  1. Pelecehan terhadap kaum wanita

Disebutkan dalam kitab mereka, al-Kafi (5/452), “Nikah mut’ah-lah dengan mereka, walau sampai 1000 orang wanita. Sebab, wanita itu bagaikan barang sewaan.”

Pelecehan ini menjadi lebih parah ketika kita tengok realita bahwa dalam nikah mut’ah, seorang wanita tidak memiliki hak mendapatkan sandang, pangan, maupun papan.

 

  1. Tersebarnya berbagai penyakit kelamin

Berdasarkan sebuah penelitian, Irak merupakan negara dengan jumlah penderita aids terbesar kedua se-Eropa dan Arab, setelah Iran. Melalui sejumlah penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa virus HIV di Irak menyebar melalui hubungan dengan lawan jenis secara intensif melebihi yang biasa dilakukan oleh seorang pelacur.

Inilah sekilas tentang nikah mutah kaum Syiah berikut tinjauan syariat dan bahaya yang menyertainya.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi petunjuk kepada kita sehingga selamat dari berbagai kesesatan. Kita berharap agar Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita keistiqamahan di atas jalan-Nya sampai kita bertemu dengan-Nya, dalam keadaan mendapat keridhaan dan ampunan-Nya yang merupakan sebab kita dimasukkan ke dalam jannah-Nya. Amin.

Kedustaan di Balik Kedok Cinta

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ عَنِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَلَقَّاهَا آدَمُ مِنْ رَبِّهِ فَتَابَ عَلَيْهِ، قَالَ:

سَأَلَهُ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ فَتَابَ عَلَيْهِ وَغُفِرَ لَهُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kalimat-kalimat yang diterima Adam dari Rabbnya sehingga Allah mengampuninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Kalimat-kalimat itu adalah), ‘Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, lalu Allah mengampuni Adam’.”

 hadits-palsu

Derajat Hadits

Hadits ini maudhu’ (palsu), hasil kedustaan Syiah Rafidhah atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyebutkan hadits di atas dalam al-Maudhu’at (1/316) melalui jalan ad-Daruquthni, beliau berkata,

تَفَرَّدَ بِهِ حُسِيْنٌ الْاَشْقَرُ رَوَى الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ الْأَثْبَاتِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ وَلَيْسَ بِثِقَةٍ وَلَا مَأْمُون

“Husain al-Asyqar bersendiri dari ‘Amr bin Tsabit. Husain biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang tsiqah, sementara ‘Amr tidak tsiqah dan tidak tepercaya.”

Yahya bin Ma’in berkata, “Amr bin Tsabit bukan orang yang bisa dipercaya.”

Ibnu Hibban al-Busti berkata, “Dia memalsukan hadits-hadits dari perawi-perawi yang tsiqah.”

Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan surat asy-Syura ayat 23 mengatakan tentang ‘Amr bin Tsabit, “Dia seorang Syi’ah pendusta.”

Hadits Ibnu Abbas disebutkan pula oleh Ibnu ‘Araq al-Kinani dalam kitabnya, Tanzih asy-Syari’ah (1/413), dan beliau sandarkan riwayatnya kepada ad-Daruquthni.

As-Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya ad-Dur al-Mantsur  (1/147), hanya saja beliau mendiamkan hadits dan tidak memberikan komentar. Beliau menyebutkan pula hadits ini dalam kitabnya, al-La’ali’ al-Mashnu’ah (1/44) dan menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).

Al-Kinani menyebutkan jalan lain untuk hadits ini dalam Tanzih asy-Syariah (1/395) melalui jalan Muhammad bin ‘Ali bin Khalaf al-‘Aththar, dari Husain al-Asyqar. Beliau nisbatkan jalan ini kepada Ibnu an-Najjar. Sayang, jalan ini tidak berfaedah. Sebab, Ibnu Adi menyatakan tentang Muhammad bin Ali bin Khalaf al-Aththar, “Dia muttaham bil kadzib (Tertuduh berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Walhasil, hadits di atas maudhu’, dipalsukan oleh orang-orang Syiah.

 

Makna Hadits

Di balik hadits-hadits palsu berisi pujian kepada Ahlul Bait inilah, Rafidhah menyembunyikan kesesatan dan kekufuran mereka. Hadits ini juga mengandung kemungkaran dan penyelisihan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.

Lahiriah hadits ini berisi pujian kepada Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Rafidhah memalsukannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini menunjukkan bahwa Adam telah mengenal Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, bahkan beliau bertawasul dengan hak mereka untuk mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, tidak ada satu hadits sahih pun mengajarkan kita bertawasul dengan orang-orang saleh ketika berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits di atas, di samping palsu juga mengantarkan kepada kesyirikan. Sebab, doa ini berisi tawasul dengan orang-orang yang gaib (tidak ada); Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Hadits ini dan yang semisalnya adalah hadits palsu yang dipakai oleh tukang khurafat untuk dijadikan landasan dalam membolehkan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.” (ath-Thali’ah, hlm. 230)

Di antara perkara yang menunjukkan kedustaan hadits ini, al-Qur’an telah menafsirkan kalimat-kalimat yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepada Adam, yang dengannya beliau berdoa dan Allah subhanahu wa ta’ala ampuni dosa beliau.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan Adam dalam al-Qur’an bagaimana beliau berdosa kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengajarinya kalimat yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Baqarah,

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah: 36—37)

Menurut hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, kalimat yang Adam terima adalah tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahli bait Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan! Hal ini menyelisihi al-Qur’an.

Syaikhul Islam berkata, “Adapun kalimat-kalimat (yang diucapkan Adam) telah disebutkan penafsirannya dalam al-Qur’an, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Keduanya berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

Dimaklumi bahwa orang yang lebih rendah dari Adam (kedudukannya), baik dari kalangan orang kafir maupun fasik, jika bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tobat nashuha, Allah subhanahu wa ta’ala akan menerima tobatnya tanpa harus bertawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan siapa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tidak pernah memerintah seorang pun bertobat dengan semisal doa ini.” (al-Muntaqa, hlm. 459)

Menjadi teranglah, di samping hadits di atas terdapat rawi pendusta dari orang Rafidhah, juga menyelisihi al-Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa.

 

Ahlus Sunnah berlepas diri dari jalan Rafidhah yang membangun agama mereka di atas kedustaan. Mereka mengangkat sebagian ahlul bai setinggi-tingginya melebihi derajat para nabi dan rasul, sementara sebagian ahli bait Rasulullah n, mereka hinakan dan kafirkan.

 

Syiah dan Pemalsuan Hadits

Sekte sesat dan aliran sempalan dalam Islam tidak sekadar menawarkan dagangannya begitu saja.

Untuk menjual kesesatan dan melariskannya, mereka hiasi semua kebatilan dengan ayat al-Qur’an atau hadits sahih yang mereka simpangkan pemahamannya. Bahkan, dengan lancang mereka berani berdusta atas nama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ketinggalan Syiah Rafidhah. Mereka termasuk kelompok yang terdepan dalam hal memalsukan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemalsuan hadits yang dilakukan oleh Rafidhah merupakan perkara yang disepakati ahlul hadits, sebagaimana tampak dalam beberapa ucapan ulama berikut.

Abdullah ibnul Mubarak al-Marwazi berkata bahwa Abu ‘Ishmah pernah bertanya kepada Abu Hanifah, “Dari siapakah engkau izinkan aku mendengar (mengambil) hadits?”

Beliau berkata, “Dari semua orang yang adil dalam hawa nafsunya, kecuali Syi’ah, karena prinsip mereka adalah menganggap sesat semua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Kifayah, hlm. 203)

Dari Yunus bin Abdul A’la berkata, dari Asyhab, al-Imam Malik ditanya tentang Rafidhah, maka beliau berkata, “Jangan kamu ajak bicara, jangan pula kamu riwayatkan dari mereka karena mereka selalu melakukan kedustaan.” (al-Muntaqa, hlm. 21)

Dari Harmalah bin Yahya, al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam persaksian selain Rafidhah.” (al-Kifayah, hlm. 202)

Yazid bin Harun berkata, “Semua mubtadi’, selama tidak menyerukan kebid’ahannya, masih boleh ditulis haditsnya, kecuali Rafidhah, karena mereka sungguh selalu berdusta.” (al-Muntaqa, hlm. 22)

Demikianlah di antara upaya Syiah Rafidhah menghancurkan Islam. Mereka menebarkan pemikiran kufur dan sesat serta memalsukan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil atas kesesatan mereka.

Akan tetapi, alhamdulillah, rahmat Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa meliputi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkan para ulama Ahlus Sunnah yang sangat mendalam ilmunya. Mereka pun berjihad dengan menerangkan kepada umat tentang hadits yang didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Benarkah Rafidhah Mencintai Ahlul Bait?

Dusta! Pengakuan Rafidhah mencintai ahlul bait hanyalah kedustaan. Menurut versi mereka, yang termasuk ahlul bait adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keturunannya. Sebatas itu saja ahlul bait.

Adapun istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pada hakikatnya termasuk ahlu bait Rasul, istri-istri Rasul di dunia dan di surga, mereka keluarkan dari barisan ahlul bait. Mereka mencela para istri Rasul, bahkan mereka kafirkan. Terlebih lagi Aisyah dan Hafshah, putri dua sahabat yang paling mereka benci: Abu Bakr dan Umar.

Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau nikahkan dengan Utsman pun dikeluarkan dari ahlul bait lantaran menjadi istri Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu—yang sangat mereka benci dan kafirkan. Di antara merekaada yang berkata bahwa Ruqayyah dan Ummu Kultsum bukan anak Khadijah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dari suami sebelumnya.

Inilah kedustaan pertama mereka dalam hal pengakuan kecintaan kepada ahlul bait. Mereka membenci bahkan mengafirkan sebagian ahlul bait, namun mencintai sebagian yang lain. Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kaum yang mencintai seluruh ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedustaan kedua, Rafidhah telah melampaui batas dalam hal menyanjung ahlul bait. Mereka agungkan ahlul bait setinggi-tingginya, bahkan hingga mengangkat derajat ahlul bait melebihi derajat para nabi dan rasul. Mereka sekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahlul bait versi mereka. Hal ini sebagaimana mereka melampaui batas terhadap imam mereka.

Semua kebatilan mereka didasari kedustaan. Mereka berdalil hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Demikianlah Syi’ah Rafidhah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, mengaku-aku cinta kepada ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, semua itu hanyalah topeng untuk menutupi kebusukan mereka.

Mereka berani berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang syiar agama Rafidhah adalah kedustaan yang dilapisi dengan kemunafikan.[1]

 

Hadits-Hadits Palsu Tentang Ahlul Bait

Banyak sendi Islam mereka robohkan dalam kehidupan.

Hampir seluruh sahabat Rasul mereka kafirkan. Abu Bakr dan Umar mereka sebut dua berhala Quraisy. Demikian pula sahabat-sahabat lain, mereka hina dan caci maki[2]. Padahal hanya melalui jalan para sahabat, Islam disampaikan kepada umat.

Apa artinya? Artinya, semua riwayat sahabat tertolak karena mereka orang kafir.

Al-Qur’an mereka nyatakan telah dikhianati oleh para sahabat. Al-Qur’an yang ada saat ini, yang berada di tangan-tangan kaum muslimin, mereka anggap bukan lagi firman Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada manusia.

Untuk menutup kebusukan makar mereka terhadap Islam, Rafidhah bersembunyi di balik topeng kecintaan kepada ahlul bait. Mereka menyanjung dan memuji ahlul bait. Mereka bangun opini bahwa merekalah pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, merekalah pemegang estafet agama Rasul. Padahal yang ada adalah kekafiran dan jauhnya mereka dari Islam.

Hadits Ibnu Abbas di atas adalah contoh pertama dari hadits-hadits yang dibuat Rafidhah demi kepentingan mereka. Berikut ini kami tampilkan beberapa hadits palsu buatan agama Syiah Rafidhah yang sering mereka munculkan. Semoga apa yang kami paparkan dapat menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk lebih berhati-hati dari makar Rafidhah.

 

Hadits Kedua

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْم،ِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

“Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. Barang siapa menginginkan ilmu, hendaknya dia mendatangi dari pintunya.”

Ini adalah hadits yang batil, karena tidak bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik sanad maupun matannya. Para imam ahli hadits menolak hadits tersebut. Di antara mereka ialah al-Imam al-Bukhari, Abu Zur’ah, at-Tirmidzi, al-Uqaili, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni, Ibnul Adi, Ibnul Jauzi, al-Baghawi, an-Nawawi, Ibnu Daqiqil Ied, dan Ibnu Taimiyah.

Hadits ini palsu. Adz-Dzahabi menyatakan maudhu’ (palsu). Al-Albani menjelaskan kepalsuan hadits ini dalam adh-Dha’ifah (6/518, no. 2955) dan dalam Dha’iful Jami’ (no. 13220).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ‘Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya….’ Tergolong maudhu’ (palsu). (Hadits ini) disebutkan oleh Ibnul Jauzi (dalam kitabnya al-Maudhu’at –pen.). Beliau kemudian menerangkan bahwa seluruh sanadnya palsu. Selain itu, kedustaan juga tampak dari matan hadits itu sendiri. Sebab, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kota ilmu dan tidak ada pintunya kecuali satu, dan tidak ada yang menyampaikan ilmu dari beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –pen.) kecuali satu orang (yakni Ali –pen), tentu urusan Islam akan rusak….” (Minhajus Sunnah, 4/138—139, dinukil dari adh-Dha’ifah)

Di samping itu, hadits ini juga bermakna bahwa semua riwayat sahabat diingkari, kecuali melalui jalan Ali bin Abi Thalib. Hal ini tentu merupakan makar lain di balik pemalsuan hadits ini, Allahul Musta’an.

 

Hadits Ketiga

السُّبَّقُ ثَلَاثَةٌ : فَالسَّابِقُ إِلَى مُوسَى يُوشَعُ بْنُ نُونٍ، وَالسَّابِقُ إِلَى عِيسَى صَاحِبُ يَاسِينَ، وَالسَّابِقُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيٌّ

“Pendahulu ada tiga. Pendahulu yang memenuhi panggilan (seruan) Musa adalah Yusya’ bin Nun. Pendahulu yang memenuhi seruan Isa adalah orang yang disebutkan dalam surat Yasin. Pendahulu yang memenuhi seruan Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib.”

Al-‘Uqaili meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya, adh-Dhu’afa al-Kabir, demikian pula ath-Thabarani (2/111), melalui jalan al-Husain bin Abi as-Sirri al-Asqallani, dari Husain al-Asyqar, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sanad riwayat ini sangat dha’if, bahkan al-Uqaili menempatkan hadits di atas dalam deretan hadits maudhu’ (palsu).

Dalam sanadnya terdapat Husain al-Asyqar. Dia adalah Ibnu Hasan al-Kufi, pengikut Syiah yang sesat. Telah lalu beberapa ucapan ulama tentang Husain al-Asyqar.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab Tarikh ash-Shaghir (hlm. 2300, “Ia telah meriwayatkan hadits-hadits mungkar.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/570) berkata, “Ini adalah hadits mungkar yang tidak diketahui sanadnya kecuali dari jalan Husain al-Aysqar, yang telah dikenal oleh kalangan muhadditsin sebagai pengikut Syiah. Karena itu, ditinggalkan riwayatnya.”

 

Hadits Keempat

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعاًخُلِقْتُ أَنَا وَعَلِيٌّ مِنْ نُورٍ، وَكُنَّا عَنْ يَمِينِ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اللهُ آدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، ثُمَّ خَلَقَ اللهُ آدَمَ فَانْقَلَبْنَا فِي أَصْلَابِ الرِّجَالِ، ثُمَّ جَعَلْنَا فِي صُلْبِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، ثُمَّ شَقَّ اسْمَيْنَا مِنَ اسْمِهِ؛ فَاللهُ الْمَحْمُودُ وَأَنَا مُحَمَّدٌ، وَاللهُ الْأَعْلَى وَعَلِيٌّ عَلِيًّا

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dan Ali diciptakan dari cahaya. Dahulu kami berdua berada di sebelah kanan al-‘Arsy dua ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam kami pun berpindah pada sulbi manusia, diletakkanlah kami pada sulbi Abdul Muththalib. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama kami dari nama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Mahmud dan aku bernama Muhammad, Allah bernama al-A’la maka ‘Ali bernama Ali.

Hadits ini di antara hadits palsu yang dibuat kaum Rafidhah. Dalam sanad hadits ini terdapat seorang Rafidhah, Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan al-Ghafiqi.

Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at, “Hadits ini dipalsukan oleh Ja’far bin Ammad, dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.”

Hadits ini disebutkan juga oleh asy-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (343 no. 40). Beliau berkata, “Hadits ini maudhu’, dipalsukan oleh Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan, seorang Rafidhah, pemalsu hadits.”

Ibnu ‘Adi berkata, “Huwa kadzdzab yadha’ul hadits (Dia tukang dusta dan pemalsu hadits).” (Su’alat Hamzah as-Sahmi, 190)

Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Yunus menyebutkan rawi ini dan berkata, ‘Dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.” (Lisanul Mizan, 2/108)

 

Hadits Kelima

          وَعَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ حُبُّ عَلِيٍّ يَأْكُلُ الذُّنُوبَ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencintai Ali akan memakan (menghapuskan) dosa-dosa sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. (Tarikh Dimasyq, 52/13 no.131)

Hadits ini juga disebutkan dalam Kanzul ‘Ummal.

Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari Ibnu Abbas dengan marfu’, hadits ini batil. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 367 no. 58)

Asy-Syaikh al-Albani juga mengatakan dalam Silsilah adh-Dhaifah no. 1206, “Hadits ini batil.”

 

Hadits Keenam

وَعَنْ أَبِي بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِحُبِّ أَرْبَعَةً :  وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: عَلِيٌّ مِنْهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثاً وَأَبُو ذَرٍّ، وَسَلْمَانُ، وَالْمِقْدَادُ

Dari Abu Buraidah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan aku mencintai empat orang, dan mengabarkan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah mereka, wahai

Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka; juga Abu Dzar, Salman, dan al-Miqdad.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 149, at-Tirmidzi no. 3718, dan al-Hakim 4649).

Di dalam sanadnya ada Sulaiman bin Isa bin Najih as-Sijzi.

Ibnul Jauzi rahimahullah menukil dari Abu Hatim ar-Razi yang berkata, “Dia kadzdzab (pendusta hadits Rasul).”

Ibnu ‘Adi berkata, “Yadha’ul Hadits (Dia biasa memalsukan hadits).”

 

Hadits Ketujuh

وَعَنْ حُجْرِ بْنِ عَنْبَسٍ قَالَوَقَدْ كَانَ أَكَلَ الدَّمَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَشَهِدَ مَعَ عَلِيٍّ الْجَمَلَ وَصِفِّينَ، قَالَ: خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَاطِمَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ : فَقَالَ النَّبِيُّ هِيَ لَكَ يَا عَلِيُّ، لَسْتَ بِدَجَّالٍ

“Dari Hujr bin ‘Anbas—dahulu dia pemakan darah di masa jahiliah, dan ia menyertai Ali dalam Perang Jamal dan Shiffin, berkata, Abu Bakr dan Umarmeminang Fatimah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Rasulullah bersabda, Fathimah untukmu wahai Ali, karena engkau bukan dajjal (pendusta).”

Hadits ini maudhu’ (palsu), diriwayatkan oleh Muhammad bin Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/19). Di dalam sanadnya ada Musa bin Qais Abu Muhammad al-Farra’ al-Kufi.

Ibnu Hajar berkata, “Dia memiliki laqab (julukan) ‘ushfur al-jannah, dia jujur namun tertuduh berpemahaman Syiah’.” (at-Taqrib)

Al-Uqaili berkata tentangnya, “Minal ghulat fi ar-rafdh (Dia termasuk yang sangat ekstrem dalam agama Rafidhah).” (adh-Dhu’afa, 4/164)

Ibnul Jauzi menyebutkan hadits ini dalam kitabnya al-Maudhu’at. Beliau berkata, “Hadits ini palsu, dipalsukan oleh Musa bin Qais, seorang Rafidhah ekstrem. Ia berjuluk ushfur al-jannah (burung pipit surga). Namun, ia—insya Allah—(lebih tepat dijuluki) himar annar (keledai neraka). Sungguh, dalam pujiannya kepada Ali dalam hadits ini, dia menyembunyikan celaan terhadap Abu Bakr dan Umar.”

Benar ucapan Ibnul Jauzi. Rafidhah terus mencela Abu Bakr, Umar, dan para sahabat, bahkan mengafirkan mereka. Karena itu, mereka bersembunyi di balik pengakuan dusta mencintai ahlul bait.

Dalam hadits ini mereka memuji Ali. Namun, terselip di dalamnya celaan kepada Abu Bakr dan Umar, dengan menuduh keduanya sebagai dajjal. Allahul Musta’an.


[1] Mizanul I’tidal (1/ 6)

[2] Di antara sahabat yang mereka hujat adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma. Pembelaan terhadap beliau dari hujatan Rafidhah dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah edisi 78.

Ayat-ayat Buatan Syiah Rafidhah

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

إٍنَّ نَحْنُ

Penyebutan “Kami” di sini tidak menunjukkan jamak, namun Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam bentuk pengagungan terhadap diri-Nya sendiri.

الذِّكْرَ

Yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Qurthubi rahimahullah.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dhamir pada لَهُ kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Allah menjagamu dari manusia.” (al-Maidah: 67)

Makna yang pertama (kata ganti tersebut kembali kepada al-Qur’an) lebih sesuai, dan itu yang tampak dalam konteks ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 246)

 

Tafsir Ayat

Al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini,

“Sesungguhnya Kami menurunkan adz-dzikr,” yaitu al-Qur’an yang mengandung peringatan bagi segala masalah dan dengan dalil yang jelas; dan menjadi peringatan bagi orang yang menjadikannya sebagai peringatan.

“Dan sesungguhnya Kami yang akan menjaganya”, yaitu menjaganya saat diturunkan dan setelah diturunkan.

Pada saat diturunkan, Kami menjaganya dari pencurian berita yang dilakukan oleh setiap setan yang terkutuk. Setelah diturunkan, Allah ‘azza wa jalla menyimpannya dalam hati Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkannya ke dalam hati umatnya. Allah ‘azza wa jalla memelihara lafadznya dari perubahan, baik berupa penambahan, pengurangan, maupun pengubahan makna.

Tidaklah seseorang yang melakukan perubahan makna lafadz al-Qur’an kecuali Allah ‘azza wa jalla akan bangkitkan seseorang yang akan menjelaskan antara yang haq dari yang batil. Ini adalah tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang paling agung dan nikmat-Nya yang terbesar kepada para hamba-Nya yang mukmin. (Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di rahimahullah)

Qatadah rahimahullah dan Tsabit al-Bunani rahimahullah mengatakan, “Allah ‘azza wa jalla menjaganya dari para setan yang hendak menambah kebatilan di dalamnya dan menghilangkan sebuah kebenaran darinya. Allah ‘azza wa jalla yang akan menjaganya sehingga al-Qur’an al-Karim senantiasa terpelihara.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 12 hlm. 180)

Oleh karena itu, sudah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah kalamullah yang terjaga dan terpelihara. Tidak ada satu pun yang ditambah atau dikurangi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa barang siapa mengingkari satu surat, satu ayat, satu kata, atau satu huruf dalam al-Qur’an yang telah disepakati, sesungguhnya dia kafir.” (Fathu Rabbil Ibad Syarah Lum’atul I’tiqad, karya Fahd al-’Adani, hlm. 231)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barang siapa mengingkari satu huruf dari al-Qur’an, sungguh dia telah mengkufuri seluruhnya.” (Diriwayatkan Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya, no. 15946)

 palsu

Syi’ah Meyakini Adanya Perubahan Al-Qur’an

Berbeda halnya dengan keyakinan agama Syi’ah tentang al-Qur’an al-Karim. Mereka justru meyakini bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah al-Qur’an yang telah berubah. Bahkan, mereka berkeyakinan bahwa terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim tersebut berdasarkan riwayat yang mutawatir menurut versi mereka. Mereka dengan lancangnya berani membuat ayat dengan menambah lafadz yang terdapat dalam firman-Nya, lalu menisbatkannya sebagai firman Allah ‘azza wa jalla.

Berikut beberapa riwayat mereka yang menunjukkan keyakinan adanya perubahan dalam al-Qur’an al-Karim.

  • Al-Kulaini meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an al-Karim yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi, Kitab Fadhlul Qur’an, Bab “an-Nawadir”, 2/134)
  • Diriwayatkan pula oleh al-Kulaini dalam al-Kafi dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, ia berkata, “Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah. Tahukah mereka, apa itu mushaf Fatimah?”

Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fatimah?”

Ia menjawab, “Mushaf Fatimah lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun seperti yang terdapat dalam al-Qur’an kalian.” (al-Kafi, 1/457)

  • Bahkan, mereka menganggap bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim adalah riwayat mutawatir yang tidak dapat ditolak.

Abul Hasan al-Amili mengatakan, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir yang akan disebutkan dan berita lainnya, yaitu telah terjadi perubahan pada al-Qur’an yang ada di tangan-tangan kita sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya setelah beliau wafat menghilangkan banyak kata dan ayatnya.” (Muqaddimah kedua dalam Tafsir Mir’atul Anwar Wa Misykatul Atsar, hlm. 36)

  • Ni’matullah al-Jazairi juga berkata, “Sesungguhnya menerima pernyataan mutawatir-nya wahyu ilahi dan menetapkan bahwa seluruhnya telah turun dibawa oleh Ruh al-Amin (Jibril -pen.) akan menyebabkan ditolaknya berbagai riwayat yang masyhur, bahkan mutawatir; yang menunjukkan dengan jelas terjadinya perubahan dalam al-Qur’an baik ucapan, kata, maupun i’rab-nya. Sementara itu, para sahabat kami telah sepakat akan keabsahan dan kebenaran riwayat tersebut.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357)
  • Bahkan, Hasyim al-Husaini al-Bahrani menegaskan adanya perubahan dalam al-Qur’an dalam mukadimah tafsirnya. Ia berkata, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir berikut ini dan yang lainnya bahwa al-Qur’an yang ada di tangan kita telah berubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya telah menghilangkan banyak kata dan ayatnya. Al-Qur’an yang terpelihara dari perubahan yang sesuai dengan apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla adalah yang dikumpulkan oleh Ali ‘alaihissalam. Ia ‘alaihissalam menjaganya hingga sampai kepada anaknya, Hasan ‘alaihissalam, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tangan al-Qaim (Imam Mahdi mereka, pent.); dan hari ini ada di tangannya—semoga Allah memberi shalawat kepadanya.” (Mukadimah al-Burhan, hlm. 36)
  • Lebih dari itu, dia mengatakan, “Menurut saya, kejelasan pendapat ini (yaitu pendapat adanya perubahan al-Qur’an al-Karim, pent.), setelah meneliti riwayat dan memeriksa atsar, memungkinkan untuk dihukumi bahwa keyakinan ini ialah bagian yang pasti dalam mazhab Syi’ah dan kerusakan terbesar yang ditimbulkan akibat dirampasnya kekhilafahan. Maka dari itu, perhatikanlah.” (al-Burhan, Muqaddimah Pasal ke-4, hlm. 49)
  • Bahkan, seorang yang dikenal sebagai muhaddits kaum Syi’ah, yang bernama Husain bin Muhammad an-Nuri ath-Thabarsi, menulis sebuah kitab khusus yang berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab”, artinya pencetus pernyataan yang menetapkan adanya perubahan dalam kitab Rabb seluruh rabb. Maksudnya adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim. Di dalamnya ia menetapkan adanya perubahan di dalam al-Qur’an al-Karim.

 

Contoh Perubahan Ayat Al-Qur’an Yang Dilakukan Oleh Syiah Rafidhah

Berikut ini beberapa contoh ayat yang diubah oleh kaum Syiah Rafidhah.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ وَوِلَايَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيما

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya, sungguh dia telah menang dengan kemenangan yang besar.”

“Demikianlah diturunkan.” (al-Kafi, Jilid 2, hlm. 372)

Ayat yang benar, tidak ada tambahan “terhadap kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya”, sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Ahzab: 71.

  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Sinan dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ فَنَسِيِ

“Sungguh Kami telah menjanjikan kepada Adam dari sebelumnya beberapa kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan para imam setelahnya dari keturunan mereka lalu dia melupakannya.”

“Demikianlah ayat ini diturunkan kepada Muhammad.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 379)

Yang diberi tanda adalah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat Thaha ayat 115.

  • Diriwayatkan dari Jabir, Jibril ‘alaihissalam turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa ayat berikut,

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِي عَلِيٍّ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مّن مِّثْلِهِ

“Jika kalian masih ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, datangkanlah satu surah yang semisalnya.” ( al-Kafi, jilid 2, hlm. 381)

Yang diberi tanda ialah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat al-Baqarah ayat 23.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah q, tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِتَرْكِهِمْ وِلاَيَةَ أمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ عَذَاباً شَدِيداً فِيْ الدُنْيا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِى كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Kami akan menjadikan orang-orang kafir karena meninggalkan kepemimpinan Amirul mukminin merasakan siksaan yang pedih di dunia dan Kami akan membalas mereka dengan yang paling buruk disebabkan apa yang telah mereka amalkan.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 390)

Yang diberi tanda adalah tambahan pemalsuan ayat kaum Syiah. Lihat al- Qur’an al-Karim surat Fushshilat ayat 27.

  • Diriwayatkan oleh as-Sari, dari Muhammad bin Sinan, dari Abu Khalid al-Qimath, dari Humran bin A’yan; Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihissalam membaca,

إِنَّ للهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَءالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ وآلَ مُحَّمَدٍ عَلَى الْعَلَمِينَ.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad dari seluruh alam.”

Lalu ia berkata, “Demikian, demi Allah, diturunkan.” (Fashlul Khithab, hlm. 212)

  • Diriwayatkan pula dari Abu Hamzah dari Abu Ja’far, Jibril turun membawa ayat demikian,

فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ بِوِلاَيَةِ عَلِيٍّ إِلاَّ كُفُورًا.

“Mayoritas manusia enggan terhadap kepemimpinan Ali melainkan mengingkari.”

Ia berkata pula, Jibril turun membawa ayat ini demikian,

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ فَمَن شَآء فَلْيُؤْمِنْ وَمَن شَآء فَلْيَكْفُرْ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ آلَ مُحَمَّدٍ نَارًا

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu tentang kepemimpinan Ali, barang siapa ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang menganiaya keluarga Muhammad itu neraka.”

Abu Abdillah berkata, “Demikianlah ayat ini turun.” (al-Kafi, 2/396)

Masih banyak lagi tuduhan yang disebutkan dalam kitab mereka bahwa telah terjadi banyak perubahan ayat al-Qur’an al-Karim.

Bahkan, mereka mengklaim adanya sebuah surat yang disebut surat al-Wilayah, yang menerangkan tentang kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu. Bunyinya sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِالنَّبِيِّ وَالوَلِيِّ اللَّذَيْنِ بَعَثْنَاهُمَا يَهْدِيَانِكُمْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم.ِ نَبِيٌّ وَوَلِيٌّ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَأَنَا الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ. إِنَّ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيم.ِ وَالَّذِينَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا كَانُو بِآيَاتِنَا مُكَذِّبُونَ. إِنَّ لَهُمْ فِي جَهَنَّمَ مَقَاماً عَظِيماً إِذَا نُودِيَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الظَّالِمُونَ الْمُكَذِّبُونَ لِلْمُرْسَلِينَ. مَا خَلَفْتُهُمُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُظْهِرَهُمْ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَعَلِيٌّ مِنَ الشَّاهِدِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Nabi dan wali yang Kami mengutus keduanya. Keduanya membimbing kalian menuju jalan yang lurus. Nabi dan Wali sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan Aku adalah yang Maha berilmu dan Maha Mengabarkan.

Sesungguhnya orang-orang yang menunaikan janji Allah, bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, maka mereka terhadap ayat-ayat Kami mendustakannya. Sesungguhnya bagi mereka di dalam jahannam mendapatkan tempat yang besar.

 Jika diseru kepada mereka pada hari kiamat, ‘Di manakah orang-orang zalim yang mendustakan para rasul,’ tidaklah Aku menggantikan mereka para rasul melainkan dengan kebenaran dan tidaklah Allah menampakkan mereka hingga waktu yang dekat, dan bertasbihlah memuji Rabb-mu dan Ali termasuk yang menjadi saksi.” (Fashlul Khithab, hlm.180)

 

Begitulah, mereka mengarang dan membuat ayat dan surat yang datang dari kantong mereka sendiri, tanpa ada kejelasan sanadnya yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mirip ayat dan surat palsu buatan Syiah dengan ayat dan surat yang dibuat oleh Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai utusan Allah.

Disebutkan oleh para ahli sejarah bahwa Amr bin Ash pernah mendatangi Musailamah pada masa jahiliah. Musailamah adalah sahabat Amr pada masa jahiliah, dan ketika itu Amr belum masuk Islam.

Musailamah berkata kepada Amr, “Celaka engkau, wahai Amr! Apa yang telah diturunkan kepada sahabat kalian -maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pada masa ini?”

Amr menjawab, “Sungguh, aku mendengar para sahabatnya membaca surat yang agung dan pendek.”

Ia bertanya, “Apa itu?”

Amr kemudian membaca,

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Musailamah berpikir sesaat lalu berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisalnya.

Amr radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa itu?

Musailamah membaca,

يَا وَبْرُ، يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَقْرٌ وَنَقْرٌ

“Hai marmut, hai marmut, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, selainnya hanyalah kehinaan dan paruh.”

“Bagaimana menurutmu, hai Amr?”

Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku benar-benar tahu bahwa sesungguhnya engkau berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/345)

Sungguh benar firman Allah ‘azza wa jalla,

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (al-An’am: 93)

Firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (al-An’am: 21)

Sesungguhnya Syiah termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla ini.

Wallahul Muwaffiq

Kesudahan Orang-Orang Yang Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan demikian tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, sungguh mengherankan, ada orang-orang yang berani melecehkan mereka dan senantiasa berusaha mencari kelemahan mereka. Orang-orang yang berani merendahkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar tidak tahu diri, tidak tahu kapasitas dirinya.

Lanjutkan membaca Kesudahan Orang-Orang Yang Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Membongkar Kesesatan Syi’ah

Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri—terutama dari sisi akidah—perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan.

  Lanjutkan membaca Membongkar Kesesatan Syi’ah