Berlomba-lomba dalam Kebajikan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini hanyalah sebagai tempat persinggahan sementara untuk menuju kehidupan yang hakiki, hidup yang kekal abadi, yaitu kehidupan di akhirat kelak. Tentu setiap kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupan di negeri kekekalan tersebut. Keselamatan yang dimaksud adalah selamat dari siksa api neraka dan dapat menghuni negeri karamah, surga Allah l yang seluas langit-langit dan bumi. Agar selamat tentu tidak bisa dengan sekedar angan-angan dan khayalan tanpa amalan karena surga tidak bisa dibeli dengan apa pun. Dengan harta yang paling mahal sekalipun. Akan tetapi surga hanya bisa diraih dengan rahmat Allah l. Dan rahmat Allah l itu dekat dengan orang-orang beriman yang berbuat kebajikan. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” (al A’raf: 56)
Benar, agar selamat kita harus menjadi orang yang beriman, yaitu orang yang beramal kebaikan, amal saleh yang ikhlas untuk Allah l dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah n1.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Kita juga tidak tahu kapan utusan Allah l datang menjemput kita. Oleh karena itu, bersegera melakukan amalan kebaikan menjadi sebuah kemestian. Apalagi Allah l telah memerintahkan dalam kitab-Nya yang mulia:
“Maka berlomba-lombalah kalian kepada amalan-amalan kebaikan.” (al-Baqarah: 148)
“Bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit-langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)
Ajakan berlomba kepada kebaikan mengandung ajakan agar seseorang berusaha dan bersemangat menjadi orang pertama yang berbuat kebaikan. Barang siapa yang ketika di dunia bersegera kepada kebaikan berarti ia adalah orang yang terdepan di akhirat menuju surga-surga. Dengan demikian, orang-orang yang berlomba/terdepan dalam kebaikan adalah hamba-hamba yang paling tinggi derajatnya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 73)
Dalam firman Allah l yang berikutnya ada perintah untuk bersegera kepada ampunan Allah l dan kepada surga-Nya, yang berarti ajakan untuk melakukan sebab-sebab yang bisa mengantarkan kepada keduanya yaitu beramal saleh. (Ruhul Ma’ani, 3/76)
Bersegera kepada ampunan Allah l bisa dilakukan dengan istighfar dan dengan melakukan amalan yang akan menghapus dosa-dosa, seperti berwudhu, shalat lima waktu, mengerjakan puasa Ramadhan, dan semisalnya2. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, surah Ali Imran, 2/166, karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)
Selain itu, Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bersegera kepada surga-Nya dengan mengerjakan amal saleh yang bisa menyampaikan kepada surga. (Syarhu Riyadhis Shalihin, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 1/411)
Rasul yang mulia n telah menganjurkan kita agar bersegera dalam beramal. Anjuran ini didapatkan pada sabda beliau yang tersampaikan lewat sahabat yang mulia, Abu Hurairah z:
بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحْ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah kalian beramal saleh sebelum kedatangan fitnah (ujian) yang seperti potongan malam. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman (mukmin) namun di sore harinya menjadi kafir; dan ada orang yang di sore hari dalam keadaan beriman namun di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no. 309)
Ujian syubhat dan syahwat akan datang seperti malam yang gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali. Karena fitnah yang terjadi, dalam hari yang sama seseorang keluar dari Islam, pagi hari ia masih beriman namun sore hari telah kafir atau sebaliknya. Mengapa demikian? Ia menjual agamanya dengan dunia, baik berupa harta, kedudukan, jabatan, wanita, maupun selainnya. (Syarhu Riyadhis Shalihin, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 1/418)
Al-Imam an-Nawawi t menyatakan, hadits di atas berisi anjuran untuk bersegera mengerjakan amal saleh sebelum datang waktu yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengerjakannya. Waktu yang seseorang tidak bisa mengerjakannya karena fitnah yang besar dan bertumpuk-tumpuk, seperti tumpukan gelapnya malam yang gulita tanpa cahaya sedikitpun. (al-Minhaj, 2/314)
Amalan Rasulullah n menunjukkan kepada kita bagaimana beliau selalu bersegera berbuat kebaikan, tidak menundanya.
Abu Sirwa’ah Uqbah ibnul Harits z berkata, “Suatu hari aku pernah shalat ashar di belakang Nabi n ketika di Madinah. Beliau mengucapkan salam kemudian bangkit dengan segera dari tempatnya dan berlalu dengan melangkahi leher orang-orang hingga sampai ke rumah salah satu istri beliau. Orang-orang pun terkejut dengan bersegeranya beliau meninggalkan tempat shalatnya (menuju rumah istrinya). Tidak lama kemudian, beliau keluar kembali menemui mereka. Beliau melihat keheranan mereka terhadap apa yang beliau lakukan tadi. Beliau pun menjelaskan:
ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا، فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ
“Tadi aku mengingat ada sepotong emas (atau perak) di tempat kami. Aku tidak suka harta tersebut menahanku3. Aku pun memerintahkan agar dibagi-bagikan.” (HR. al-Bukhari no. 851)
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:
كُنْتُ خَلَّفْتُ فِي الْبَيْتِ تِبْرًا مِنَ الصَّدَقَةِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُبَيِّتَهُ
“Di rumah aku meninggalkan sepotong emas/perak dari harta sedekah. Aku tidak suka bermalam dalam keadaan harta itu masih bersamaku.” (no. 1430)
Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bersegeranya Rasulullah n kepada kebaikan. Ini adalah pengajaran kepada umat beliau agar tidak menunda-nunda kebaikan karena mereka tidak tahu kapan kematian menjemput sehingga terluputlah kebaikan. Seseorang sepantasnya menjadi seorang yang cendekia. Hendaknya ia beramal untuk kehidupan setelah matinya dan tidak meremehkan persiapan untuk mati. Jika dalam urusan dunia seseorang bersegera mengambil kesempatan maka tentu dia wajib berbuat demikian dalam urusan akhirat, bahkan lebih utama. Allah l berfirman:
“Bahkan mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia, dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’la: 16—17)
Ibnu Baththal t mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa kebaikan sepantasnya segera dikerjakan, karena penyakit dapat menghadang, penghalang dapat mencegah, dan tidak aman dari kedatangan kematian secara tiba-tiba. Apalagi perbuatan menunda-nunda (mengatakan nanti… nanti) adalah tidak terpuji.” (Fathul Bari, 3/377)
Para sahabat Rasul n juga memberikan teladan kepada kita dalam semangat bersegera kepada kebaikan, bersegera kepada surga Allah l yang amat luas. Ketika perang Uhud, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah n:
أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا؟ قَالَ: فِي الْجَنَّةِ. فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ كُنَّ فِي يَدِهِ ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ
“Apa pendapat Anda jika aku terbunuh, di manakah tempatku?” “Di surga,” jawab Rasulullah. Orang itu pun membuang beberapa butir kurma yang ada di tangannya. Ia kemudian maju berperang hingga terbunuh. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kita juga melihat bersegeranya kaum wanita dari kalangan sahabat Rasulullah n kepada kebaikan dan cepatnya mereka menunaikan titah Rasul mereka. Di saat Rasulullah n menyampaikan khutbah Id, beliau turun dari tempatnya berkhutbah kemudian menuju tempat para wanita. Beliau memberikan wejangan khusus untuk mereka dan memerintahkan mereka bersedekah. Mulailah para wanita yang hadir ketika itu melepas perhiasan mereka. Di antaranya ada yang melepas anting dan cincinnya lalu melemparkannya ke baju Bilal yang dibentangkan guna menadahi harta sedekah. (HR. al-Bukhari no. 1431 dan Muslim no. 2054)
Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1 Ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasulullah n) ini adalah dua syarat diterimanya amalan. Dengan keduanyalah sebuah amalan dikatakan amalan yang baik, sebagaimana firman Allah l:
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan guna menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya.” (al-Mulk: 2)
Al-Fudhail ibnu Iyadh t mengatakan, “(Yang paling baik amalannya) yaitu yang paling ikhlas dan paling benar.”
Orang-orang yang mendengar ucapan al-Fudhail ini bertanya, “Wahai Abu Ali (kuniah al-Fudhail), apa maksud paling ikhlas dan paling benar itu?”
Beliau menjawab, “Paling ikhlas adalah amal tersebut ikhlas karena mengharapkan wajah Allah l. Paling benar adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah n. Apabila sebuah amalan hanya ikhlas namun tidak sesuai dengan sunnah Rasul, niscaya tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan tersebut sesuai dengan sunnah Rasul namun tidak ikhlas, tidak pula diterima. Yang diterima hanyalah amal yang ikhlas lagi benar.” (I’anatul Mustafid, 2/127)

2 Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa amalan-amalan yang kami sebutkan akan menghapuskan dosa pelakunya. Di antaranya hadits Abu Hurairah z bahwasanya Rasulullah n bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَاِئرُ
“Shalat lima waktu, Jum’at yang satu ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa yang dilakukan di antara waktu tersebut, apabila dijauhi dosa-dosa besar (yakni, selama dosa besar tidak dilakukan, pen.).” (HR. Muslim no. 551)

3 Maksudnya, beliau khawatir harta itu menyibukkan pikiran beliau dari menghadap kepada Allah l. (Fathul Bari, 2/435)

FATWA SEPUTAR AL-QUR’AN

Berikut ini kami bawakan beberapa pertanyaan terkait dengan Al-Qur’anul Karim yang dijawab oleh al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’1 yang saat itu diketuai oleh Samahatul Walid asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz t dengan wakil asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi2.

Sebagian buletin ataupun tabloid yang padanya tertulis bismillahir rahmanir rahim, didapatkan terbuang di jalanan, bahkan digunakan sebagian orang untuk mengelap kaca. Apakah hal ini dibolehkan?
Jawab:
Menuliskan bismillahir rahmanir rahim disyariatkan di awal kitab-kitab ilmu dan di awal surat. Demikian yang dilakukan oleh Rasulullah n dalam surat-surat yang beliau kirimkan. Kebiasaan ini berlanjut dilakukan oleh para khalifah Rasulullah n serta para sahabat g sepeninggal beliau n. Demikian pula kaum muslimin sampai pada hari kita ini berjalan di atas kebiasaan ini.
Menjaga dan memelihara lembaran yang di dalamnya terdapat tulisan basmalah hukumnya wajib dan menghinakannya adalah haram. Orang yang menghinakannya mendapatkan dosa, karena basmalah termasuk ayat yang berdiri sendiri dalam Kitabullah dan termasuk sebagian ayat dari surah an-Naml. Maka dari itu, seseorang tidak boleh menggunakannya sebagai sarana pembersih kotoran, alas makanan, atau pembungkus barang, sebagaimana tidak boleh membuangnya di tempat sampah. Wabillahi at-taufiq. (Fatwa no. 1283)
Apakah kami boleh membakar lembaran/tabloid yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur’an setelah kami selesai membacanya? Apa pula hukumnya membakar lembaran Al-Qur’an yang berceceran?
Jawab:
Boleh membakar lembaran/tabloid tersebut untuk menjaga ayat Al-Qur’an yang ada di dalamnya, hadits Nabi n, atau hal lain yang wajib dihormati. Sebagaimana boleh pula membakar lembaran mushaf dalam rangka menjaganya dari penghinaan dan menjaga kehormatannya. Bisa juga dengan cara memendamnya dalam tanah yang bersih. Wabillahi at-taufiq. (Fatwa no. 3916)

Manakah yang lebih utama, membaca Al-Qur’an dengan mushaf atau tanpa mushaf?
Jawab:
Yang paling afdhal adalah yang paling memberi manfaat kepada Anda dan paling khusyuk bagi hati Anda. (Fatwa no. 9770)
Manakah yang lebih afdhal di sisi Allah l, membaca Al-Qur’an, shalat nafilah, ataukah berdoa?
Jawab:
Membaca Al-Qur’an adalah amalan yang utama. Demikian pula ibadah-ibadah sunnah dan doa yang merupakan inti ibadah. Keutamaan amalan-amalan ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan, waktu, dan sebabnya. Maka dari itu, kami nasihatkan kepada Anda agar memperbanyak tilawah Al-Qur’an, mengerjakan shalat nafilah/sunnah dan berdoa sesuai dengan kemampuan, disertai oleh keikhlasan hanya untuk Allah l dalam beramal, dan bergembiralah dengan kebaikan serta pahala yang besar. Wabillahit taufiq. (Fatwa no. 5828)
Apa hukum mengucapkan shadaqallahul azhim setelah selesai membaca Al-Qur’an?
Jawab:
Ucapan shadaqallahul azhim setelah membaca Al-Qur’an adalah bid’ah karena Nabi n tidak pernah melakukan dan mencontohkannya. Demikian pula al-Khulafa’ ar-Rasyidun3 dan seluruh sahabat g. Hal ini juga tidak pernah pula dilakukan oleh para imam (ulama) dari kalangan salaf, padahal mereka adalah orang-orang yang banyak membaca Al-Qur’an, penuh perhatian terhadap Al-Qur’an, dan mengetahui kadarnya. Karena itu, mengucapkan kalimat itu dan terus-menerus mengucapkannya setiap selesai membaca Al-Qur’an adalah bid’ah yang diada-adakan. Di sisi lain, telah pasti kabar dari Nabi n bahwa beliau n bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini apa yang bukan bagian darinya maka perkara yang diada-adakan itu tertolak.” (HR. al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Rasulullah n juga bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. al-Imam Muslim dalam Shahih-nya)
Wabillahit taufiq. (Fatwa no. 3303)
Apa hukumnya membaca Al-Qur’an secara bersama-sama?
Jawab:
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah dan termasuk amalan yang paling utama yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah l. Hukum asal cara membaca Al-Qur’an adalah seperti cara yang dulunya dilakukan oleh Nabi n dan para sahabat beliau g. Dalam hal ini tidak ada keterangan yang pasti dari beliau dan juga para sahabat beliau bahwa mereka membaca Al-Qur’an secara bersama-sama dengan satu suara4. Justru yang ada adalah semua mereka membaca sendiri-sendiri (tidak bersama-sama), atau salah seorang dari mereka membaca dan orang yang hadir mendengarkan bacaannya. Telah pasti berita dari
Nabi n bahwa beliau n bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ
“Wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidun setelahku.”
Beliau n bersabda pula, “Siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini apa yang bukan bagian darinya maka perkara yang diada-adakan itu bertolak.”
Sabdanya pula, “Siapa yang mengamalkan amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalan tersebut tertolak.”
Telah datang berita kepada kita dari Nabi n bahwa beliau n pernah menyuruh Abdullah ibnu Mas’ud z untuk memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepada beliau. Ibnu Mas’ud z berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَأَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِيْ
“Apakah aku membacakan Al-Qur’an untukmu padahal Al-Qur’an ini turun kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” (Fatwa no. 4394)

Apakah dibolehkan bagi seorang wanita menjahrkan bacaan Al-Qur’an dalam shalat subuh, maghrib, dan isya sebagaimana pria, atau hal ini tidak diperkenankan baginya?
Jawab:
Apabila si wanita berada sendirian dalam rumahnya atau ia bersama mahramnya atau bersama kaum wanita saja, dia boleh menjahrkan bacaannya.
Demikian pula jika ia mengimami para wanita di rumahnya, tanpa ada lelaki ajnabi, ia boleh menjahrkan bacaannya (dalam shalat jahriyah). Namun, jika ia shalat dan di sekitarnya ada lelaki ajnabi yang dapat mendengar suaranya, yang utama adalah ia tidak menjahrkan suaranya5.
Wabillahi at-taufiq. (Fatwa no. 2634)

 

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana terangkum dalam kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah.
2 Beliau adalah Abdurrazzaq ibnu Afifi ibni Athiyah. Beliau lahir tahun 1323 H. Beliau belajar ilmu di al-Azhar Mesir. Allah l telah memberikan rezeki kepada beliau berupa kuatnya hafalan dan pemahaman yang mendalam sehingga jika beliau membicarakan sebuah bidang ilmu, para pendengarnya akan mengira bahwa beliau menghabiskan seluruh waktunya khusus untuk mempelajari ilmu tersebut. Setelah beberapa lama tinggal di Mesir, beliau pindah ke Saudi Arabia, berdakwah dan mengajar di negeri yang mubarak tersebut.

3 Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib g.

4 Dalam fatwa no. 3302 disebutkan bahwa membaca Al-Qur’an secara bersama-sama jika tujuannya adalah untuk pengajaran/taklim, diharapkan hal itu tidak mengapa, dengan maksud mereka membaca secara bersama-sama guna menghafal atau mempelajarinya. Selain itu, yang disyariatkan adalah satu orang yang membacanya, sementara yang lain mendengarkan. Atau masing-masing membaca secara sendiri-sendiri tanpa menyengaja menjadikannya satu suara/berbarengan dengan yang lain sementara yang lain mendengarkan. Atau masing-masing membaca secara sendiri-sendiri tanpa menyengaja menjadikannya satu suara/berbarengan dengan yang lain.

5 Apalagi jika si wanita bersuara indah, ia tidak boleh mengeraskan bacaannya. Dikhawatirkan lelaki ajnabi yang mendengarnya akan tergoda karenanya, padahal syariat ini datang menutup jalan-jalan yang bisa menyampaikan kepada keharaman, sebagaimana dinyatakan dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah no. 4909 dan no. 5413.

Faktor Pendukung Pendidikan Anak (bagian ke 2)

Kita masih membicarakan faktor-faktor yang dapat membantu dan mendukung kita dalam mendidik anak. Hal yang memang layak untuk kita cermati dan kita ketahui, kemudian kita terapkan, diiringi dengan doa yang tak putus-putusnya.

15. Bersemangat memberikan teladan dalam rangka mendidik anak-anak.
Ini adalah sebuah hal yang amat penting. Orang tua harus bisa menjadi teladan bagi anak-anak dalam hal kejujuran, keistiqamahan, dan yang lainnya. Di samping itu, orang tua juga harus selalu mewujudkan apa yang mereka katakan.
Termasuk yang dipandang baik terkait dengan hal ini, orang tua menegakkan shalat di depan anak-anak, sehingga mereka bisa belajar pengamalan shalat dari orang tuanya. Ini adalah salah satu hikmah disyariatkannya melakukan shalat sunnah di rumah.
Termasuk dalam hal ini pula adalah menahan marah, menyambut tamu dengan baik, berbakti kepada orang tua, silaturahim, dan sebagainya.

16. Memperingatkan dari sikap tanaqudh (kontradiktif)
Tidak sepantasnya orang tua menyuruh anak berbuat sesuatu, sementara dia sendiri melakukan hal yang menyelisihinya. Sikap seperti ini menyebabkan nasihat kehilangan pengaruhnya.

17. Memenuhi janji
Sebenarnya ini masuk dalam poin di atas, namun dibahas tersendiri karena urgensinya. Juga karena banyaknya orang yang terjatuh dalam pelanggaran janji. Kebanyakan orang tua memberikan banyak janji jika ingin terlepas dari desakan anak, seperti janji membelikan kue, pergi ke taman bermain, membelikan sepeda, dan yang lainnya. Akan tetapi, janji itu tidak pernah terpenuhi selamanya. Hal yang semacam ini akan membuat si anak mengadopsi akhlak tercela ini.
Seyogianya—bahkan seharusnya—orang tua memenuhi janji yang dibuatnya. Jika belum bisa memenuhinya, hendaknya dia meminta maaf kepada si anak serta menjelaskan alasannya.

18. Menjauhkan hal-hal mungkar dan sarana kerusakan dari anak
Di antara kewajiban orang tua adalah melindungi anak dan membersihkan rumahnya dari berbagai kemungkaran, sehingga keselamatan fitrah, akidah, dan akhlak anak akan senantiasa terjaga.

19. Menyediakan berbagai sarana pengganti yang cocok bagi anak
Seiring dengan kewajiban menjauhkan kemungkaran, seyogianya orang tua menyediakan berbagai sarana pengganti yang mubah, baik berupa permainan maupun sarana lain yang mengandung hiburan sekaligus faedah. Dengan demikian, anak akan mengisi waktu luangnya dengan berbagai aktivitas.

20. Menjauhkan anak dari berbagai penyebab penyimpangan seksual
Ini dilakukan dengan menjauhkan mereka dari berbagai sarana kerusakan, melarang mereka membaca kisah-kisah percintaan atau majalah asusila yang akan merangsang naluri seksual mereka. Juga melarang mereka mendengarkan nyanyian atau melihat buku-buku seks yang membahas permasalahan reproduksi secara vulgar, hingga menyalakan segala hasrat yang semula dingin dan tersembunyi dalam diri mereka.

21. Menjauhkan mereka dari perhiasan yang mewah dan wewangian yang berlebihan
Sudah semestinya orang tua melarang anak-anak berlebihan dalam berhias, berdandan, dan memakai wewangian. Anak-anak hendaknya juga dilarang menampakkan aurat dan tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah l dari kalangan orang kafir. Semua ini akan mengakibatkan hilangnya muru’ah (sikap wibawa) dan merusak tabiat mereka. Selain itu, hal ini akan menimbulkan godaan dan fitnah bagi orang lain, yang akibatnya bisa menimpakan perbuatan keji dan hina pada si anak, terutama jika si anak masih kecil atau berwajah rupawan.

22. Membiasakan mereka hidup prihatin, bersikap ksatria, rajin, bersungguh-sungguh, dan menjauhkan mereka dari sikap malas, lamban, serta bersantai-santai
Tidak sepantasnya orang tua membiasakan anak bermalas-malasan, lamban, dan bersantai-santai. Orang tua seharusnya justru mendorong mereka melakukan yang sebaliknya. Hendaknya orang tua tidak membiarkan anak bersantai-santai, melainkan untuk beristirahat setelah lelah beraktivitas. Ini karena sikap malas dan lamban memiliki dampak negatif dan akan berakhir dengan penyesalan. Adapun sikap rajin dan kerja keras akan berdampak positif, baik di dunia maupun di akhirat, ataupun keduanya.
Oleh karena itu, orang yang paling tenang adalah orang yang paling payah dan orang yang paling payah adalah orang yang paling tenang. Kedudukan di dunia dan kebahagiaan di akhirat tidak akan tercapai melainkan melalui jembatan kepayahan.
Kelapangan hanya berujung penyesalan, sementara kepayahan akan berujung kelapangan. Benarlah orang yang mengatakan:
Kulihat pada kelapangan yang terbesar (di akhirat, pen.)
Takkan tercapai kecuali melalui jembatan kepayahan

23. Membiasakan mereka memerhatikan waktu akhir malam
Ini adalah waktu yang amat berharga. Waktu diperkenankannya segala permohonan. Barang siapa terbiasa menghidupkan waktu ini pada masa kecilnya, akan mudah baginya kelak di masa dewasa.

24. Menghindarkan anak dari berlebihan dalam makan, bicara, tidur, dan bergaul
Kerugian akibat berlebihan dalam hal-hal ini adalah terluputnya kebaikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu dikatakan, “Barang siapa banyak makan, dia akan banyak minum, lalu banyak pula tidurnya, hingga banyak kerugiannya.”

25. Menanamkan keinginan mereka untuk pergi ke masjid jika mereka masih kecil dan mengajak mereka shalat di masjid jika mereka sudah besar
Orang tua haruslah menanamkan keinginan anak untuk pergi ke masjid sebelum mereka mencapai usia tujuh tahun. Dikatakan kepada si anak sepekan sebelumnya, bahwa sang ayah akan mengajaknya ke masjid. Ketika saatnya tiba, dia diajak ke masjid. Ayah harus pula menertibkan si anak ketika di masjid, tidak memperkenankannya banyak bergerak dan mengganggu orang yang shalat.
Jika si anak sudah besar, orang tua wajib memerintahkannya shalat di masjid bersama jamaah kaum muslimin. Orang tua harus terus bersabar untuk menegakkan perintah ini.
Allah l berfirman:
ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕﯖ ﯗ ﯘ ﯙﯚ ﯛ ﯜﯝ ﯞ ﯟ ﯠ
“Dan perintahkanlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan teruslah bersabar untuk memerintahkannya. Kami tidaklah meminta rezeki kepadamu, bahkan Kamilah yang memberikanmu rezeki. Dan kesudahan yang baik akan didapatkan oleh orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

26. Memantau minat anak, menumbuhkan bakat, dan mengarahkan mereka kepada hal-hal yang sesuai dengan minat mereka
Di rumah, anak selayaknya mendapatkan hal-hal yang dapat menumbuhkan dan mengasah bakat mereka. Selain itu, selayaknya mereka juga mendapatkan orang yang bisa mengarahkan mereka untuk memperoleh hal-hal yang sesuai dengan bakat dan minat mereka.
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Sudah selayaknya orang tua bertindak sesuai dengan keadaan, minat, dan bakat anak. Begitu pula, orang tua semestinya menyadari bahwa si anak diciptakan dengan minat dan bakat tersebut, sehingga orang tua tidak mengarahkan anaknya kepada selain hal-hal yang diminati, selama hal itu diizinkan oleh syariat. Kalau orang tua mengarahkan si anak untuk menggeluti hal-hal di luar minatnya, anak itu pun takkan berhasil. Akan sia-sia pula bakatnya. Jika orang tua melihat anaknya bagus pemahamannya, baik hafalannya—yang merupakan tanda bahwa dia mudah dan siap menerima ilmu—hendaknya orang tua mengukir ilmu itu di lembaran kalbu anak yang masih kosong ini. Jika orang tua melihat anaknya menyukai perniagaan dan jual-beli, atau pekerjaan mubah apa pun, hendaknya orang tua mendukungnya. Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang ditetapkan baginya.”

27. Menumbuhkan keberanian yang dibarengi oleh adab
Hal ini dilakukan dengan menyadarkan anak akan harga dirinya dan menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga anak merasa mulia dan berani menyatakan pendapatnya—tentunya tetap dalam batasan adab dan kelayakan—jauh dari sikap nekat dan tak punya malu.
Sikap berani yang benar seperti ini akan memberikan rasa tenang, ketabahan, dan bertindak dengan penuh pertimbangan, tidak akan merasa bimbang, takut, lemah, rendah diri, dan ciut nyali.

28. Meminta pendapat anak
Misalnya, meminta pendapat mereka tentang hal-hal yang terkait dengan rumah, atau meminta ide dan menerima usulan mereka tentang perabotan rumah, warna kendaraan yang akan dibeli ayah, tempat dan waktu bepergian, dan sebagainya. Orang tua kemudian mempertimbangkan berbagai pendapat yang mereka ajukan sekaligus meminta alasan dan sebab mereka mengajukan pendapat tersebut.
Selain itu, anak juga perlu diberi kebebasan memilih sendiri tas sekolah, buku, dan yang semacamnya. Jika pada pilihan mereka ada hal-hal yang dilarang dalam syariat maka dijelaskan kepada mereka.
Betapa besar andil tindakan seperti ini untuk menanamkan rasa percaya diri, menumbuhkan harga diri, melatih kemampuan berpikir, dan mempertajam bakat mereka. Betapa banyak hasil yang didapat, berupa terbiasanya si anak menyatakan pendapatnya.

29. Membiasakan anak melaksanakan tanggung jawab
Misalnya, memuliakan tamu pada saat tidak ada orang tua, membiasakan mereka membeli sesuatu, mengatur keuangannya sendiri dengan memberikan uang saku pekanan atau bulanan, untuk kepentingan dirinya.

30. Membiasakan anak bersosialisasi
Hal ini dilakukan dengan menganjurkan mereka untuk ikut berkhidmat kepada agamanya dan saudara-saudaranya kaum muslimin, dengan berjihad dan berdakwah di jalan Allah l, menolong orang-orang yang terzalimi, membantu orang-orang fakir yang membutuhkan, saling membantu dengan orang-orang yang berbuat kebaikan, dan sebagainya.

31. Melatih mereka mengambil keputusan
Misalnya, orang tua sengaja menempatkan anak laki-lakinya pada posisi yang mengharuskannya mengambil keputusan atau pada situasi mendesak yang membutuhkan pengambilan keputusan dengan cepat, kemudian memerhatikan aspirasi si anak. Apabila benar, hendaknya orang tua menyemangati dan menjabat tangannya. Jika salah, orang tua meluruskannya dengan lemah lembut. Ini adalah salah satu bentuk pembiasaan anak untuk menghadapi kehidupan dan menyikapi situasi mendesak.

32. Memahami tabiat dan kejiwaan anak
Ini adalah sebuah poin yang membutuhkan ketajaman perasaan, kedalaman memahami keadaan, dan pandangan yang teliti. Apabila seorang pendidik dapat melakukan hal ini dan bergaul dengan anak-anaknya berlandaskan pemahaman ini, layaklah jika dia dapat mendidik dengan baik dan membimbing mereka dengan metode yang terbaik.
33. Memperlakukan mereka sesuai dengan tingkatan usia
Seorang anak akan terus bertambah umurnya dan berkembang taraf pikirannya. Karena itu, pergaulan dengannya pun harus sesuai dengan tingkatan usia, taraf pikiran, dan kecenderungannya. Hendaknya orang tua tidak terus-menerus memperlakukannya sebagai anak kecil. Sebaliknya, jika dia masih kecil, tidak selayaknya diperlakukan seperti orang dewasa, dituntut seperti tuntutan orang dewasa, dicela layaknya celaan terhadap orang dewasa, dan dihukum dengan hukuman orang dewasa.

34. Memperbaiki kesalahan di hadapan anak secara langsung
Ini dilakukan sejauh kemampuan orang tua, terutama ketika anak telah mendekati usia baligh. Namun, seyogianya orang tua tetap menempuh metode diskusi bebas dan dialog yang santai tetapi membangun. Dialog yang menggabungkan akal dengan perasaan kasih sayang.

35. Duduk-duduk bersama anak
Selayaknya orang tua—bagaimanapun sibuknya—meluangkan waktu khusus untuk duduk-duduk bersama anaknya, bercengkrama dan menghibur mereka, mengajari mereka hal-hal yang perlu mereka ketahui, dan menceritakan kisah-kisah yang berfaedah. Hal-hal seperti ini perlu dilakukan mengingat kedekatan antara orang tua dan anak adalah sebuah hal yang amat penting dan amat jelas pengaruhnya.
Seorang ayah yang dekat dengan anak-anaknya akan meluangkan waktunya untuk duduk-duduk bercengkrama dengan mereka. Ini akan membuahkan hasil yang baik dalam diri anak-anaknya. Dia bisa memapankan keadaan anak-anaknya, menenangkan jiwa, dan meluruskan tabiat mereka.
Sebaliknya, seorang ayah yang sibuk dengan dunianya dan melalaikan perhatian terhadap anak-anaknya akan mendapati akibat buruk perbuatannya. Anak-anaknya tumbuh dalam keadaan tidak bisa menghadapi dunia yang terbentang di hadapan mereka. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi kehidupan ini, hingga mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan jauh dari kebenaran.
Terkadang hal ini mengakibatkan si anak benci kepada orang tuanya, bahkan lari dari rumah dan terjatuh dalam jurang kerusakan.

36. Bersikap adil di antara anak-anak
Tidaklah langit dan bumi ini akan tegak melainkan dengan keadilan. Begitu pula, tidak akan lurus keadaan manusia melainkan dengan keadilan. Karena itu, di antara kewajiban orang tua terhadap anak adalah bersikap adil di antara mereka, tidak mengutamakan yang satu atas yang lainnya, baik dalam hal-hal yang bersifat materi seperti pemberian dan hadiah, maupun yang bersifat rohani, seperti kasih sayang, kecintaan, dan sebagainya.

37. Memberikan kasih sayang yang cukup
Orang tua seyogianya memberikan kasih sayang yang cukup kepada anak, membuat mereka bisa merasakan curahan kasih sayang dan cinta, sehingga mereka tidak hidup dalam kondisi kurang kasih sayang. Jika merasa kurang kasih sayang, mereka akan berusaha mencari kasih sayang di luar rumah.
Karena itu, tutur kata yang baik, sentuhan kasih, kejujuran orang tua, dan yang semisalnya, benar-benar berpengaruh terhadap jiwa anak.

38. Menafkahi anak dengan ma’ruf
Ini dilakukan dengan cara mencukupi mereka dan memenuhi semua kebutuhan mereka, sehingga mereka tidak terpaksa mencari kecukupan dari luar rumahnya.

39. Mengajarkan sikap mengutamakan orang lain
Hal ini dilakukan dengan memperkuat jiwa kerja sama (ta’awun), mengokohkan ikatan cinta, membiasakan mereka bersikap dermawan, serta merasakan keadaan saudaranya yang lain, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang tumbuh dalam sifat egoisme (mementingkan diri sendiri).
Setelahnya ditindaklanjuti dengan mendidik mereka untuk menerapkan sikap seperti ini dalam segala problema yang muncul di dalam rumah tangga.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)
(Diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dari Arba’atu Akhtha’ fi Tarbiyatil Abna’ karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, dengan sedikit perubahan)

Merasa Cukup

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Tak ada satu makhluk melata pun melainkan Allah l telah menanggung dan memberi rezekinya. Dia nyatakan hal ini dalam Tanzil-Nya:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Hud: 6)
Dia Yang Maha Pemberi Rezeki dengan nama-Nya yang husna, Ar-Razzaq, telah membagi-bagikan rezeki tersebut kepada hamba-hamba-Nya. Dia juga telah mencatatnya sejak mereka masih dalam kandungan sang ibu. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu Mas’ud z berikut ini.
حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ n وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ، قَالَ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ مَلَكًا يُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ ورِزْقَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ…
Rasulullah n telah menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur/benar lagi dibenarkan1. Beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya dalam tempo 40 hari. Kemudian 40 hari berikutnya menjadi segumpal darah. Lalu 40 hari berikutnya menjadi segumpal daging. Setelah itu Allah l mengutus malaikat kepada bakal anak manusia tersebut dan diperintahkan kepadanya empat kata. Dikatakan kepada malaikat tersebut, ‘Catatlah amalnya, rezekinya, dan apakah ia orang yang sengsara ataukah orang yang berbahagia.’ Kemudian ditiupkanlah ruh pada janin tersebut….” (HR. al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 6665)
Ada hamba yang diberi sedikit sesuai dengan keadilan Allah l dan ilmu-Nya. Ada pula yang diberi banyak. Karenanya, ada yang kaya dan ada pula yang miskin dengan berbagai tingkatannya.
Sebagai hamba yang beriman, kita dituntut untuk ridha terhadap ketetapan Dzat Yang Mahaadil dan menerima pembagian-Nya dengan penuh kerelaan. Inilah sifat qana’ah, salah satu akhlak mulia yang harus dimiliki seorang mukmin. Akhlak ini termasuk sifat yang patut dimiliki oleh seorang istri yang shalihah. Apabila seorang istri bisa bersifat qana’ah, ia akan selalu bersyukur kepada Allah l kemudian berterimakasih terhadap pemberian suaminya walaupun sedikit.
Sifat qana’ah ini akan melahirkan sifat iffah, yaitu tidak berambisi mendapatkan apa yang ada di tangan orang lain serta tidak mengeluhkan keadaan yang dialami selain kepada Allah l. (Bahjatun Nazhirin, 1/583)
Alangkah berbahagia sebuah keluarga yang anggotanya memiliki sifat qana’ah ini. Seorang suami merasa cukup dengan apa yang Allah l rezekikan kepadanya dan keluarganya sehingga ia senantiasa bersyukur kepada-Nya. Seorang istri merasa cukup dengan pemberian suaminya sehingga ia selalu bersyukur kepada Allah l kemudian kepada suaminya. Istri yang qana’ah ini akan terbentengi dari kufrul ‘asyir, mengingkari kebaikan suami, yang merupakan salah satu sebab banyaknya wanita menjadi penghuni neraka. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang disampaikan oleh Rasulullah n kepada para sahabatnya seusai menunaikan shalat gerhana (kusuf).
أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur2. Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” “Tidak,” jawab beliau, “Mereka kufur kepada suami dan kufur terhadap kebaikan suami. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang tahun, lalu ia melihat padamu sesuatu (yang tidak disukainya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku belum pernah sama sekali melihat kebaikan darimu’.” (HR. al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Anak-anak yang tumbuh dalam asuhan dan didikan orang tua yang bersifat qana’ah tentu akan terbiasa pula dengan sifat ini. Hal ini karena anak itu tumbuh sesuai dengan kebiasaan yang ditanamkan kepadanya sebagaimana kata orang Arab:
وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ مِنَّا عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْهُ
“Tumbuhnya pemuda di kalangan kami adalah di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya.”
Sungguh, banyak suami yang terjatuh dalam kejahatan, berbuat curang, dan menipu karena tuntutan istrinya. Ketika melihat tetangganya memiliki perabot yang bagus dan baru, si istri pun merengek minta yang sama kepada suaminya. “Si Fulanah punya ini dan itu…, masak kita ndak punya?!” Atau mencak-mencak kepada suaminya, “Si Allanah suaminya baik banget. Semua keinginannya dipenuhi. Minta mebel baru, dibelikan. Minta kulkas, dibelikan. Minta ricecooker, dibawain…. sementara kamu pelit banget sama aku! Aku minta ganti perabot baru, nggak pernah dipenuhi!”
Akhirnya, karena uang di tangan tidak mencukupi sementara hati tak enak apabila tidak memenuhi keinginan istri tercinta atau karena takut dengan omelan si istri, sang suami pun menggelapkan uang di kantornya, korupsi, dan sebagainya.
Orang yang tidak pernah merasa cukup dan selalu menuruti tuntutan hawa nafsunya, tidak akan merasakan ketenangan dan ketenteraman. Selalu saja ia merasa kurang dan kurang….
Sebaliknya, dengan memiliki sifat qana’ah, ia akan merasa tenteram dengan pemberian Allah l kepadanya. Sungguh, siapa yang meyakini sabda Rasulullah n dalam hadits Ibnu Mas’ud z di atas, ia akan merasa tenang dan cukup/qana’ah dalam masalah rezeki, disertai dengan menempuh sebab yang bisa menyampaikannya kepada rezekinya. Di samping itu, ia tidak rakus terhadap harta, apatah lagi sampai menjual agama karenanya.
Bila seorang istri ingin memiliki jiwa yang lapang, hendaklah ia berupaya bersifat qana’ah, niscaya ia tidak akan merasa sempit karena dunia. Inilah orang kaya yang sesungguhnya. Rasulullah n bersabda dalam hadits Abu Hurairah z:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 2417)
Rasulullah n juga bersabda dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri z:
وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ
“Siapa yang menampakkan kecukupan niscaya Allah l akan membuatnya kaya.” (HR. al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1745)
Ibnu Baththal t menerangkan makna hadits Abu Hurairah z, “Hakikat kekayaan bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, karena kebanyakan orang yang diberi kelapangan harta oleh Allah l justru tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya. Ia malah berupaya sekuat tenaga menambah hartanya tanpa peduli dari mana harta tersebut diperoleh. Orang yang demikian berarti seperti seorang yang fakir karena ambisinya sangat kuat. Hakikat kekayaan adalah kaya hati, yaitu merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, qana’ah dengannya, merasa ridha, dan tidak rakus menambah harta, serta tidak memaksa dalam meminta. Orang seperti ini seakan-akan orang kaya.” (Fathul Bari, 11/328—329)
Apabila jiwa merasa tidak membutuhkan apa yang ada di tangan manusia dan merasa cukup dengan pembagian Allah l yang diberikan kepadanya, niscaya dia akan terjaga dari ketamakan. Pemiliknya akan terangkat ke kedudukan yang tinggi dan akhlak yang mulia. Beda halnya dengan kekayaan berupa harta dunia yang disertai miskin jiwa, seringnya membuahkan ambisi duniawi, kekikiran, dan ketamakan. Akibatnya, pelakunya tersungkur ke tempat yang rendah dan akhlak rendahan karena rendahnya selera pemiliknya. (Fathul Bari, 11/329)
Rasulullah n menetapkan keberuntungan bagi orang yang diberikan rezeki secukupnya dan dianugerahkan sifat qana’ah ini. Beliau n bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung seorang yang berislam, diberi rezeki cukup (tidak berlebih namun sesuai kadar hajatnya dan tidak kurang), dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah dengan apa yang Dia berikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 2423)
Mengapa demikian? Karena rezeki yang pas sekadar hajat akan menjaga dan membentengi seseorang dari kehinaan. Ia tidak perlu meminta-minta kepada manusia sebagaimana orang yang kekurangan. Di samping itu, karena miliknya cuma sebatas kebutuhannya dan keluarganya, ia akan terhalang dari sikap melampaui batas berupa sombong dan takabur, atau berbuat zalim kepada orang yang lemah. Sikap ini biasa dilakukan oleh orang yang kaya-raya, yang beroleh rezeki melimpah ruah melebihi kebutuhannya, namun tidak memiliki takwa.
Sifat qana’ah yang dimiliki oleh pemilik rezeki sekadar hajatnya ini, menyebabkan dia tidak merasa kurang. Ia justru merasa berkecukupan karena qana’ah adalah hakikat kekayaan, seperti ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah z dari Rasulullah n yang telah lalu.
Tentu keberuntungan hanya akan diraih apabila orang tersebut adalah seorang muslim yang beriman kepada Allah l dan hari akhir. Tidak pernah keberuntungan itu menyertai orang kafir, siapa pun dia.
Rasulullah n dan istri-istri beliau—semoga Allah l meridhai mereka semua—telah memberikan teladan kepada kita dalam masalah qana’ah ini. Hal ini tampak dalam gambaran kehidupan beliau n dan keluarganya yang disebutkan oleh hadits Anas bin Malik z berikut ini. Anas berkata:
رَهَنَ النَّبِيُّ n دِرْعَهُ بِشَعِيْرٍ وَمَشَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ n بِخُبْزِ شَعِيْرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ، وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: مَا أَصْبَحَ لِآلِ مُحَمَّدٍ صَاعٌ وَلاَ أَمْسَى. وَإِنَّهُمْ لَتِسْعَةُ أَبْيَاتٍ
Nabi n pernah menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan gandum (bahan makanan untuk keluarganya). Aku pernah berjalan menuju Nabi n membawa roti gandum dan lemak cair3. Sungguh aku mendengar beliau n bersabda, “Tidaklah keluarga Muhammad berpagi hari dan tidak pula bersore hari selain dengan satu sha’ makanan.”
Kata Anas, “(Padahal ketika itu) keluarga Rasulullah ada sembilan rumah.”4 (HR. al-Bukhari no. 2508)
Anas z menyebutkan hal ini sebagai isyarat bahwa Rasulullah n menyatakan demikan bukan karena berkeluh kesah. Sungguh jauh beliau n dari yang demikian. Beliau n mengucapkan demikian tidak lain untuk meminta udzur tidak memenuhi undangan si Yahudi dan sebagai alasan beliau menggadaikan baju besinya. (Fathul Bari, 5/175)
Hadits di atas menunjukkan kepada kita sifat tawadhu’ dan zuhud beliau n terhadap dunia padahal beliau sangat mampu untuk beroleh dunia. Tentu Allah l memilihkan yang terbaik untuk kekasih-Nya, hamba pilihan-Nya.
Di samping itu, hadits ini memberi pelajaran kepada kita tentang kesabaran Rasulullah n dengan kehidupan yang sekadarnya dan bersifat qana’ah dengan yang sedikit.
Hadits ini juga menunjukkan keutamaan istri-istri beliau dengan kesabaran mereka di atas kesempitan dan kesulitan hidup bersama suami mereka yang mulia, Rasulullah n.
Karena kekurangan yang ada, Rasulullah n tidak sempat menebus baju besi tersebut sampai beliau meninggal dunia, seperti yang diberitakan oleh istri beliau yang thahirah (suci), Aisyah x.
تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ n وَدِرْعُهُ مَرْهُوْنَةً عِنْدَ يَهُوْدِيٍّ فِي ثَلاَثِيْنَ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ
“Rasulullah n wafat dalam keadaan baju besi beliau masih tergadai pada seorang Yahudi karena beliau mengambil 30 sha’ gandum.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Istri shalihah yang qana’ah ini pernah pula memberitakan kepada keponakannya, ‘Urwah ibnuz Zubair t:
وَاللهِ يَا ابْنَ أُخْتِيْ، إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلاَلِ ثُمَّ الْهِلاَلِ ثُمَّ الْهِلاَلِ؛ ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوْقِدَ فِي أَبْيَاتِ رَسُوْلِ اللهِ n نَارٌ. قُلْتُ: يَا خَالَةُ، فَمَا كَانَ يُعِيْشُكُمْ؟ قَالَتِ: الْأَسْوَدَانِ؛ التَّمْرُ وَالْمَاءُ، إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ لِرَسُوْلِ اللهِ n جِيْرَانٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، وَكاَنَتْ لَهُمْ مَنَايِحُ وَكَانُوْا يُرْسِلُوْنَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n مِنْ أَلْبَانِهَا فَيُسْقِيْنَا.
“Demi Allah, wahai putra saudara perempuanku! Sungguh kami (istri-istri Rasulullah n) melihat hilal (bulan tanggal satu), kemudian melihat hilal bulan berikutnya, lalu hilal berikutnya lagi (masuk bulan ketiga), tiga hilal dalam dua bulan, dalam keadaan tidak pernah dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah n (untuk memasak makanan).” Urwah bertanya, “Wahai bibi, lalu apa yang menghidupi kalian?” Aisyah menjawab, “Al-Aswadan, yaitu kurma dan air. Hanya saja, Rasulullah n memiliki tetangga-tetangga dari kalangan Anshar. Mereka memiliki kambing atau unta yang biasa dipinjamkan kepada orang lain untuk diambil susunya dan setelahnya dikembalikan lagi kepada mereka. Mereka biasa mengirimkan susu hewan tersebut kepada Rasulullah dan beliau n memberi minum kami dengan susu tersebut.” (HR. al-Bukhari no. 2567 dan Muslim no. 7378)
Tidak ada maksud Aisyah z memberitakan keadaan rumah tangganya bersama Rasulullah n selain memberi nasihat dan pelajaran kepada keponakannya, juga kepada kita.
Dalam sebuah hadits, Aisyah x juga mengabarkan:
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ n مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ
“Sejak datang ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah memakan roti gandum sampai kenyang selama tiga malam berturut-turut hingga Rasulullah n wafat.” (HR. al-Bukhari no. 5416 dan Muslim no. 7369)
Sabar dengan kekurangan dan kesempitan hidup serta qana’ah dengan yang sedikit. Itulah teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah n dan istri-istri beliau.
Sebagai penutup, ingin kami bawakan satu peristiwa yang pernah terjadi dalam rumah tangga Rasulullah n. Ketika itu, istri-istri Rasulullah n menuntut nafkah kepada beliau hingga menyempitkan beliau karena di luar kesanggupan beliau. Karena marah kepada istri-istrinya, beliau pun mengasingkan diri dari mereka hingga tersiar kabar bahwa beliau menceraikan istri-istrinya. Datanglah Abu Bakr dan Umar c menemui Rasulullah n guna menanyakan kebenaran berita yang ada. Keduanya masuk dalam keadaan Rasulullah n duduk membisu dan di sekitar beliau ada istri-istri beliau. Umar z berusaha memancing tawa Rasulullah n agar beliau mau berbicara. Umar pun berhasil.
“Istri-istriku yang ada di sekitarku ini menuntut nafkah kepadaku,” ujar Rasulullah n.
Bangkitlah Abu Bakr z menuju putrinya, Aisyah, lalu memukulnya. Demikian pula Umar z menuju putrinya, Hafshah. Keduanya berkata, “Apakah kamu meminta kepada Nabi n apa yang tidak ada pada beliau?”
Akhirnya, istri-istri Rasulullah n menyadari perbuatan mereka. Mereka berjanji, “Demi Allah, setelah majelis ini kami tidak akan meminta kepada Rasulullah apa yang tidak ada pada beliau.”
Kemudian Allah l turunkan ayat khiyar (tawaran untuk memilih).
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Apabila kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka kemarilah, kuberikan kepada kalian mut’ah5 dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun, jika kalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian.” (al-Ahzab: 28—29)
Rasulullah n mengajukan pilihan tersebut kepada istri-istri beliau. Dimulai dari istri yang paling beliau cintai, Aisyah x. Kata beliau, “Aku akan menyebutkan kepadamu satu hal yang aku tidak suka kamu terburu-buru memutuskannya sampai kamu mengajak musyawarah kedua orang tuamu.”
“Apa itu?” tanya Aisyah. Rasulullah n lalu membacakan ayat di atas.
Aisyah x berkata setelah itu, “Apakah dalam urusan yang berhubungan denganmu aku harus bermusyawarah dengan kedua orang tuaku? Aku memilih Allah dan Rasul-Nya.”
Sebagaimana pilihan Aisyah x, demikian pula yang dipilih oleh istri-istri Rasulullah n yang lain, semoga Allah l meridhai mereka semuanya. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Lihat ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, hlm. 184—187)
Istri-istri yang mulia ini memilih hidup dalam kesempitan dan qana’ah dengan yang sedikit, demi beroleh kebaikan di dunia dan kebahagiaan di negeri yang kekal abadi berdampingan dengan suami yang mulia, khalilullah n. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kehidupan mereka….
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1Jujur dan benar ucapan beliau n serta dibenarkan oleh wahyu yang mulia yang diturunkan kepada beliau. (Syarhul Arba’in Haditsan an-Nawawiyah, oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied, hlm. 22)

2 Yang dimaksud dengan kufur di sini adalah kufur ashghar atau kufur kecil, yaitu kekafiran yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari keimanan. Pelakunya tetap seorang muslim, namun karena dosa yang diperbuatnya, apabila ia tidak bertaubat sebelum meninggal dan Allah l tidak mengampuninya, ia pantas beroleh siksa di dalam neraka walau tidak kekal di dalamnya seperti pelaku kufur akbar/kufur besar. Kufur kecil ini diistilahkan kufrun duna kufrin.
Al-Imam an-Nawawi t menyatakan bolehnya memberikan sebutan kufur kepada orang yang mengingkari hak-hak orang lain terhadapnya sebagai bentuk celaan bagi si pelaku, walaupun ia tidak kafir kepada Allah l. (al-Minhaj, 6/213)

3 Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa suatu hari Nabi n diundang untuk menyantap roti gandum dengan lauk berupa lemak yang dicairkan. Sepertinya, Yahudi itu yang mengundang beliau melalui Anas z. (Fathul Bari, 5/174)
4 Karena istri beliau n ketika itu ada sembilan orang, lima dari Quraisy: Aisyah, Hafshah, Ummu Habibah, Saudah, dan Ummu Salamah; empat yang lain adalah Shafiyah bintu Huyai an-Nadhiriyah, Maimunah bintul Harits al-Hilaliyah, Zainab bintu Jahsyin al-Asadiyah, dan Juwairiyah bintul Harits al-Musthaliqiyah. Semoga Allah l meridhai mereka semuanya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/244)

5 Pemberian kepada istri yang dicerai sesuai dengan kesanggupan suami.

 

 

Bahan untuk Rambut Kepala

Apakah hinna’ (daun pacar) yang dilumurkan di kepala atau bahan lainnya yang biasa dilumurkan di kepala untuk mengempalkan rambut boleh diusap dalam wudhu atau harus dibersihkan?
Jawab:
Al-Imam Ibnu Utsaimin berfatwa dalam asy-Syarhul Mumti’ (1/196—197, cet. Muassasah Asam) bahwa tidak mengapa mengusapnya dalam wudhu tanpa harus membersihkannya. Sebab, hal itu secara hukum mengikuti kepala yang diusap. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar c dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah n pernah berihram dalam keadaan rambut kepalanya telah dilumuri sesuatu yang mengempalkannya.1 Hal ini menunjukkan adanya keringanan dalam menyucikan kepala dalam wudhu. Hukum ini berlaku pada laki-laki dan wanita tanpa ada perbedaan.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab Shahih al-Bukhari (pada Kitab al-Hajj, “Bab Man Ahalla Mulabbidan” dan Shahih Muslim (pada Kitab al-Hajj, “Bab at-Talbiyah  wa Shifatuha”)

Berwudhu di Toilet

Apa hukum berwudhu di dalam toilet? Apakah tetap membaca basmalah saat berwudhu di dalam toilet?

Jawab:
Berwudhu di dalam toilet/WC tidak mengapa, tetapi lebih baik berwudhu di luar toilet jika memungkinkan. Hal itu karena disyariatkannya membaca basmalah sebelum berwudhu, sementara berzikir dalam toilet hukumnya dimakruhkan dalam rangka mengagungkan dan memuliakan Allah l.
Dalam hal seseorang berwudhu dalam toilet, ada perbedaan pendapat di antara ulama apakah disyariatkan baginya membaca basmalah atau tidak.
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (10/32), “Berzikir dengan kalbu disyariatkan setiap saat dan di mana saja berada, baik di dalam toilet maupun di tempat lainnya. Yang makruh hanyalah berzikir dengan lisan dalam toilet dan semacamnya dalam rangka mengagungkan Allah l, kecuali membaca basmalah sebelum berwudhu. Maka dari itu, basmalah tetap dibaca (dengan lisan) jika terpaksa berwudhu dalam toilet, karena hukumnya wajib menurut sebagian ulama dan sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan) menurut jumhur (mayoritas) ulama.”
Adapun asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata dalam asy-Syarhul Mumti’ (1/130, cet. Muassasah Asam), “Jika seseorang dalam toilet, al-Imam Ahmad mengatakan, ‘Jika dia bersin, hendaklah memuji Allah l dengan kalbunya’, sehingga lahir kesimpulan dari riwayat ini bahwa yang berwudhu dalam toilet membaca basmalah dengan kalbunya.” Beliau juga berfatwa sama dalam Majmu’ ar-Rasail (11/110) bahwa yang berwudhu dalam toilet membaca basmalah dengan kalbunya.
Yang benar dalam masalah hukum membaca basmalah sebelum wudhu adalah pendapat jumhur, bahwa hukumnya hanya sunnah muakkadah. Berdasarkan hal ini, sepertinya yang rajih (kuat) bagi yang berwudhu di dalam toilet adalah membaca basmalah dengan kalbunya.
Wallahu a’lam.

Minyak Rambut Menghalangi Sahnya Mandi Junub?

Jika masih ada minyak rambut di kepala, apakah sah mandi janabahnya?
Fulan
Jawab:
Jika substansi (zat) minyak rambut yang padat itu masih ada di kepala, hal itu menghalangi sahnya mandi, karena menghalangi air untuk membasuh kepala. Dengan demikian, substansi (zat) minyak rambut itu harus dihilangkan sebelum/saat mandi agar air benar-benar membasuh seluruh kepala sampai ke dasar rambut (kulit kepala).
Apabila yang tersisa hanyalah bekas minyak rambut dan tidak tersisa lagi substansinya (zatnya) yang padat, hal ini tidak menghalangi sahnya mandi. Namun, dalam hal ini hendaklah digosok semaksimal mungkin untuk meyakinkan bahwa air benar-benar membasuh seluruh kepala hingga ke kulit kepala. Karena, biasanya air yang mengalir di atas sesuatu yang berminyak akan berpencar sehingga mungkin mengakibatkan ada bagian yang tidak terkena air.
Makna ini kami petik dari keterangan asy-Syaikh al-’Utsaimin dalam Majmu’ ar-Rasail (11/147) mengenai pengaruh minyak yang dioleskan pada anggota wudhu terhadap wudhu.
Wallahu a’lam.

Membaca Basmalah Saat Berwudhu di Kamar Mandi

Bagaimana hukum membaca basmalah saat berwudhu dalam kamar mandi yang bukan toilet/WC, dengan catatan terkadang atau bahkan sering dikencingi ketika mandi?
Dijawab oleh Al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari
Boleh, karena tempat itu tidak difungsikan secara khusus sebagai tempat pembuangan najis, sehingga tidak sama hukumnya dengan toilet/WC. Ini adalah fatwa guru kami asy-Syaikh Abdurrahman bin Mar’i al-’Adni.
Fatwa ini senada dengan ucapan Ibnu Qudamah t dalam al-Mughni (1/308, cet. Darul ‘Alam al-Kutub), “Tidak mengapa berzikir dalam hammam (kamar mandi), karena berzikir adalah amalan yang disukai di setiap tempat selama tidak ada larangan untuk melakukannya di tempat itu.”
Wallahu a’lam.

Sifat Shalat Nabi (bagian 10)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari)

Keadaan Masbuk Terkait dengan Kewajiban Membaca al-Fatihah
Apabila orang yang masbuk dalam shalat berjamaah mendapati imam masih berdiri, ia membaca al-Fatihah karena hukumnya wajib baginya. Namun, apabila ia mendapati imam telah ruku’, ia bertakbir kemudian ruku’, tanpa membaca al-Fatihah. Saat imam bangkit dari ruku’, ia pun mengikutinya. Dengan ini, ia terhitung beroleh rakaat shalat tersebut walaupun ia tidak membaca al-Fatihah, karena keadaannya sebagai masbuk yang mendapati imam telah ruku’ menggugurkan kewajibannya untuk membaca al-Fatihah.
Demikian pula apabila orang yang masbuk ini sempat mendapati imam masih berdiri untuk membaca surah dalam Al-Qur’an, namun tidak memungkinkan baginya menyelesaikan bacaan al-Fatihah karena imam ternyata telah ruku’. Ia pun bertakbir dan ikut ruku’ bersama imam. Adapun al-Fatihah yang belum selesai dibacanya telah gugur darinya. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Abu Bakrah z dalam Shahih al-Bukhari berikut ini.
أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ n وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ n فَقَالَ: زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ
“Ia sampai ke Nabi n (ketika masuk ke masjid) dalam keadaan Nabi sedang ruku’. Ia pun ruku sebelum sampai ke dalam shaf1. Lalu diceritakan hal itu kepada Nabi n. Beliau pun bersabda, ‘Semoga Allah menambah semangatmu untuk berbuat kebaikan, namun jangan kamu ulangi perbuatanmu2’.” (HR. al-Bukhari no. 783)
Ketika Abu Bakrah z masuk ke dalam shalat berjamaah, ia tidak mendapati qiyam (berdiri untuk membaca surah) karena imam telah ruku’, padahal qiyam merupakan saat dibacanya al-Fatihah. Berarti, gugur darinya kewajiban membaca al-Fatihah karena telah berlalu tempatnya. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/69—70)
Kita katakan kewajibannya gugur karena Nabi n tidak menyuruh Abu Bakrah z menambah satu rakaat dari shalatnya tersebut. Artinya, Abu Bakrah teranggap beroleh rakaat pertama yang didapatkannya dalam keadaan imam telah ruku’ dan ia sendiri sempat ruku’ bersama imam. Inilah pendapat yang rajih (kuat) menurut kami.
Dalam masalah ini ada pendapat yang lain, yaitu ketika masbuk tidak mendapatkan al-Fatihah sama sekali ataupun tidak sempurna membacanya, ia tidak teranggap mendapatkan satu rakaat dalam shalat. Pendapat ini dipegangi oleh sebagian muta’akhirin (orang-orang yang belakangan) seperti al-Imam asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2/67—69) dan yang lainnya—semoga Allah l merahmati mereka semua—.

Fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz t
Al-Imam Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang wajibnya membaca al-Fatihah bagi makmum. Yang rajih, makmum3 wajib membacanya berdasarkan keumuman sabda Nabi n:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (Muttafaqun alaihi)
Juga sabda beliau n:
لَعَلَّكُمْ تَقْرَؤُوْنَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: لاَ تَفْعَلُوا إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا
”Tampaknya di antara kalian ada yang membaca di belakang imam kalian?” Mereka menjawab, “Ya, kami melakukannya, wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda, “Jangan kalian lakukan hal itu selain pada Fatihatul Kitab, karena tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.” (HR. Abu Dawud dan selainnya dengan sanad yang hasan)
Jika imam tidak diam dalam shalat jahriah maka makmum membaca al-Fatihah ini walaupun dalam keadaan imam sedang membaca Al-Qur’an. Setelahnya, dia diam agar bisa mengamalkan dua hadits yang disebutkan di atas. Apabila makmum lupa atau tidak tahu tentang wajibnya membaca al-Fatihah, gugur darinya kewajiban tersebut, seperti orang yang masuk dalam jamaah dalam keadaan imam sedang ruku’, ia ruku’ bersama imam dan ia mendapat satu rakaat bersama imam, menurut pendapat yang paling sahih dari dua pendapat ulama. Ini adalah pendapat mayoritas ahlul ilmi berdasarkan hadits Abu Bakrah ats-Tsaqafi z. Disebutkan bahwa beliau z mendatangi masjid dalam keadaan Nabi n sedang ruku’. Ia pun ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf, kemudian berjalan dalam keadaan ruku’ untuk bergabung dalam shaf. Nabi n pun bersabda kepadanya setelah mengucapkan salam dari shalat beliau:
زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ
“Semoga Allah menambah semangatmu untuk berbuat kebaikan, namun jangan kamu ulangi perbuatanmu.”
Nabi n tidak menyuruh Abu Bakrah z mengganti rakaat tersebut. Hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya.
Adapun hadits:
قِرَءَةُ الْإِمَامِ قِرَاءَةٌ لِمَنْ خَلْفَهُ
“Bacaan imam adalah bacaan bagi orang yang di belakangnya.”
adalah hadits dhaif yang tidak bisa ditegakkan hujjah dengannya. Hal ini telah diperingatkan oleh ulama hadits. Seandainya hadits ini sahih, dia ditempatkan sebagai hadits umum yang dikhususkan dengan perintah membaca al-Fatihah (yakni selain al-Fatihah maka bacaan imam adalah bacaan makmum). Wabillahi at-taufiq.” (Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/226—227)

Al-Fatihah Lebih Penting daripada Doa Istiftah
Ditanyakan kepada al-Imam Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t tentang makmum yang mendapati imam hampir ruku’, apakah ia membaca al-Fatihah atau membaca doa istiftah? Apabila imam telah ruku’ sementara ia belum selesai membaca al-Fatihah, apa yang harus dilakukannya?
Samahatusy Syaikh menjawab, “Membaca istiftah adalah sunnah, sedangkan membaca al-Fatihah hukumnya wajib bagi makmum, menurut pendapat yang benar. Apabila engkau khawatir luput dari membaca al-Fatihah, mulailah dengan membaca al-Fatihah. Ketika imam ruku’ sebelum engkau menyempurnakan bacaan al-Fatihah, ruku’lah bersama imam dan gugur darimu kewajiban membaca al-Fatihah yang tersisa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi n:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوْا عَلَيْهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا
“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Oleh karena itu, janganlah kalian berbeda/ketinggalan darinya. Apabila ia bertakbir, ikutlah bertakbir. Apabila ia ruku’, ruku’lah kalian.”
Hadits ini muttafaqun alaihi.” (Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/243—244)
Peringatan
Yang sunnah bagi makmum adalah membaca dengan samar (cukup ia dengar untuk dirinya sendiri/tidak memperdengarkannya kepada orang lain). Demikian pula ketika membaca zikir-zikir dan doa-doa di dalam shalat. Tidak ada dalil yang membolehkan membaca dengan suara keras/jahr. Selain itu, apabila ia menjahrkan bacaannya niscaya akan mengganggu orang-orang yang sedang shalat di sekitarnya. (Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/238)

Kapan Makmum Membaca al-Fatihah dalam Shalat Jahriyah?
Al-Imam Makhul4 t berkata, “Bacalah al-Fatihah di setiap rakaat dengan sirr apabila imam sedang diam/tidak membaca. Namun, apabila imam tidak diam, al-Fatihah dibaca sebelum imam membacanya, atau bersamaan dengan bacaan imam, atau setelah imam membaca. Jangan engkau tinggalkan bacaan al-Fatihah ini sama sekali.” (Muhadzdzab fi Ikhtishar as-Sunan al-Kubra, 2/614)

Mengucapkan Amin
Seselesainya membaca al-Fatihah, diucapkan amin dengan jahr/suara keras oleh imam, apabila shalatnya adalah shalat jahriyah, seperti shalat fardhu maghrib, isya, dan subuh. Demikian pula shalat Jum’at, shalat Idul Fithri dan Adha, shalat istisqa, shalat kusuf, serta tarawih. Menjahrkan bacaan dalam shalat jahriyah dan mensirrkan (kebalikan dari jahr) dalam shalat sirriyah adalah pendapat Atha’, Ahmad, Ishaq, Dawud, Sulaiman bin Dawud, Yahya ibnu Yahya, Abu Khaitsamah, Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, Ibnul Mundzir, dan jumhur ashabul hadits. (al-Isyraf, 2/64)
Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (2/294—295). Beliau mengatakan, “Demikian yang sahih dari Rasulullah n. Ini adalah amalan para sahabat g dan ini yang rajih menurut kami.”5
Abu Hurairah z berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ وَ قَالَ: آمِيْن
“Adalah Rasulullah n bila selesai dari membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah), beliau mengeraskan suara mengucapkan amin.” (HR. ad-Daraquthni, 1/311, ia menghasankannya dan al-Hakim, 1/223, ia berkata, “Ini hadits yang sahih di atas syarat Syaikhan dan ini disepakati oleh adz-Dzahabi)
Hadits ini menunjukkan disyariatkannya imam mengucapkan amin dengan suara keras setelah membaca al-Fatihah. (Subulus Salam, 2/196)
Nabi n bersabda:
إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ، فَأَمِّنُوا
“Apabila imam telah mengucapkan amin, ucapkanlah amin.” (HR. al-Bukhari no. 780 dan Muslim no. 914)
Al-Imam Ibnul Mundzir t mengatakan, “Di sini ada dalil bahwa imam menjahrkan/mengeraskan ucapan amin kepada makmum dan imam tidak boleh mengamalkan selain menjahrkan, karena jika ia mengucapkan amin dengan perlahan niscaya makmum tidak mengetahuinya. Makmum bisa mengucapkan amin ketika imamnya mengucapkan amin. Ini adalah masalah yang jelas dan tampak bagi orang yang diberi taufik oleh Allah l untuk memahami sabda Rasulullah n. Mustahil beliau n memerintahkan makmum untuk mengucapkan amin apabila imam mengatakan amin (sementara ucapan amin dari sang imam tidak terdengar).” (al-Isyraf, 2/23)
Amin ini diucapkan setelah mengucapkan:
“Bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 7)
Hal ini ditunjukkan dalam hadits Wail ibn Hujr z yang mengabarkan:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا قَرَأَ { ﭲ ﭳ} قَالَ: آمِيْن؛ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ
“Apabila Rasulullah n selesai membaca ‘waladh dhallin’, beliau mengucapkan amin dengan mengeraskan suaranya.” (HR. Abu Dawud. Kata guru kami, asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i t, dalam al-Jami’ ash-Shahih, 2/102, “Hadits ini sahih, perawinya adalah perawi ash-Shahih kecuali Hujr. Ibnu Ma’in mentsiqahkannya sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib)
Ta’min ini diucapkan dengan lafadz آمِيْن, tidak dengan lafadz آمِّيْن dengan mentasydid huruf mim. Ini adalah bahasa yang jelek sekali karena makna آمِّيْن adalah orang-orang yang bertujuan/memaksudkan. Boleh pula mengucapkannya dengan memendekkan hamzah أَمِين, namun ini bahasa yang lemah sekali, hanya saja masih lebih baik daripada lafadz آمِّيْن. Oleh karena itu, yang paling benar ini adalah mengucapkannya dengan lafadz آمِيْن. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/74)
Mustahab (sunnah) hukumnya bagi imam memanjangkan suaranya saat mengucapkan amin, sebagaimana hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan al-Hakim (1/357) dan al-Baihaqi (2/46) yang disahihkan oleh al-Baihaqi. Abu Hurairah z berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا بَلَغَ { ﭲ ﭳ} يَقُوْلُ: آمِين، يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ حَتَّى يَسْمَعَ أَهْلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ، فَيَرْتَجُّ الْمَسْجِدُ
“Apabila Rasulullah n sampai pada ucapan ‘waladh dhallin’ beliau mengatakan, ‘Amin’, beliau memanjangkan suaranya (dengan mengeraskannya) sehingga orang-orang yang di shaf pertama mendengarnya dan bergetarlah masjid (dengan suara amin tersebut).”
Makmum pun disyariatkan mengucapkan amin. Sebagian ulama mengatakan, makmum mengucapkan amin apabila imam telah selesai mengucapkannya. (al-Inshaf, 3/447)
Dalilnya adalah zahir sabda Nabi n:
إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا
“Jika imam telah mengucapkan amin maka ucapkanlah amin.” (HR. al-Bukhari no. 780 dan Muslim no. 914)
Namun, yang rajih adalah secara beriringan, karena dalam lafadz lain dari hadits di atas (dalam riwayat al-Bukhari no. 782) disebutkan:
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: { ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ } فَقُوْلُوْا: آمِيْن
“Apabila imam membaca ‘Ghairil maghdzhubi ‘alaim waladh dhallin,’ ucapkanlah amin.”
Maknanya, apabila imam sampai pada ucapan:
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 7)
atau imam mulai mengucapkan amin, kalian hendaknya mengucapkan amin agar ucapan amin kalian bersamaan dengan ucapan amin imam. Ini adalah pendapat jumhur ulama. (Taudhihul Ahkam, 2/201)
Abu Muhammad al-Juwaini—sebagaimana dinukil al-Hafizh t dalam Fathul Bari (2/342)—mengatakan, “Tidak disenangi beriringan dengan imam dalam amalan/gerakan shalat selain ucapan amin.”
Akan tetapi, kita biasa mendengar sebagian jamaah terburu-buru mengucapkan amin. Sebelum imam sampai pada bacaan ﭲ ﭳ, mereka telah mengatakan amin. Ini jelas menyelisihi sunnah dan termasuk mendahului imam karena imam belum sampai pada batasan boleh diucapkan amin setelahnya. (asy-Syarhul Mumti’, 3/68—69)
Orang yang shalat sendiri (munfarid) juga mengucapkan amin seselesainya membaca al-Fatihah karena pensyariatan bagi makmum juga mencakup munfarid.
Adapun makna amin adalah “Ya Allah, kabulkanlah.” Amin adalah isim fi’il yang menempati kedudukan doa. (Subulus Salam, 2/196—197)
Mengapa diucapkan amin setelah membaca al-Fatihah? Karena seluruh al-Fatihah adalah doa. Awalnya adalah doa ibadah, yaitu pujian dan sanjungan kepada Allah l. Akhirnya adalah doa yang berisi permintaan, yaitu ayat:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)
Dengan demikian, surah al-Fatihah mengandung dua macam doa, doa ibadah dan doa mas’alah (permintaan). Apabila seseorang mengatakan amin setelah membaca surah ini berarti ia memohon kepada Allah l agar mengabulkan dua macam doa tersebut darinya. (Tashilul Ilmam, 2/225)

Keutamaan Amin
Abu Hurairah z menyampaikan sabda Rasulullah n:
“Apabila salah seorang dari kalian mengatakan amin dan para malaikat di langit mengucapkan amin, lalu ucapan salah satunya bersamaan dengan yang lainnya, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari no. 781)
Aisyah x menyatakan bahwa Nabi n bersabda:
مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُوْدُ عَلَى شَيْءٍ مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى السَّلاَمِ وَالتَّأْمِيْنِ
“Tidaklah orang-orang Yahudi hasad kepada kalian atas sesuatu sebagaimana hasad mereka kepada kalian atas ucapan salam dan ta’min (ucapan amin) kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 856, dalam al-Jami’ush Shahih, 2/102, hadits ini dinyatakan hasan sesuai dengan syarat Muslim)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)

 

Catatan Kaki:

1 Sebelum bergabung dalam shaf, Abu Bakrah z telah bertakbiratul ihram, lalu ruku’ dan berjalan masuk ke dalam shaf dalam keadaan ruku’.
2 Dengan terburu-buru ingin bergabung dengan shaf/tidak ingin ketinggalan rakaat, kemudian melakukan ruku’ sebelum sampai ke dalam shaf lalu berjalan dalam keadaan ruku’ untuk bergabung dalam shaf. (Fathul Bari, 2/347)

3 Adapun bagi imam dan munfarid (yang shalat sendirian), membaca al-Fatihah adalah amalan rukun, menurut jumhur ahlul ilmi. Dia tidak bisa gugur sama sekali selama keduanya mampu/bisa membacanya. (Majmu’ Fatawa libni Baz, 11/236)

4 Beliau adalah tabi’in yang mulia, Makhul asy-Syami Abu Abdillah ad-Dimasyqi al-Faqih. Beliau adalah alim negeri Syam. Beliau seangkatan dengan Ibnu Syihab az-Zuhri. (as-Siyar, 5/155—160)

5 Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan ashabur ra’yi berpendapat bahwa imam mengucapkan amin dengan sir, sedangkan Malik berpendapat bahwa imam tidak membaca amin sama sekali. (al-Muhalla 2/295, al-Isyraf 2/24)

 

RUKUN HIKMAH, Ilmu al-Hilmu at-ta’anni

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Allah l berfirman:
“Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (al-Baqarah: 269)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “(Dalam ayat-ayat yang sebelumnya) Allah l memerintahkan beberapa hal besar yang mengandung banyak rahasia dan hikmah yang mulia. Tidak setiap orang bisa mendapatkannya. Yang bisa mendapatkannya hanyalah orang-orang yang diberi karunia hikmah oleh Allah l. Hikmah yang dimaksud di sini adalah ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, serta pengetahuan tentang rahasia kandungan syariat dan hikmahnya. Barang siapa dikaruniai hikmah ini oleh Allah l, sungguh Dia telah mengaruniakan banyak kebaikan kepadanya. Termasuk kebaikan yang paling agung yang mengandung kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.”
Tentang rukun hikmah, al-Imam Ibnul Qayyim t menjelaskan, “Hikmah memiliki tiga rukun: ilmu, al-hilmu (santun), dan al-anah (tidak tergesa-gesa). Lawan-lawannya adalah al-jahl (kebodohan), ath-thaisy (ngawur, bertindak serampangan), dan al-’ajalah (tergesa-gesa bertindak). Jadi, orang yang bodoh dan tidak berilmu tidak bisa memiliki sifat hikmah. Demikian juga orang yang bertindak serampangan dan orang yang tergesa-gesa bertindak.” (Madarijus Salikin, 2/480)
Dari pernyataan al-Allamah Ibnul Qayyim t tersebut, rukun hikmah dapat kita rincikan sebagai berikut.

1. Ilmu
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t mengatakan dalam Kitabul ‘Ilmi (hlm. 13), “Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu tentang al-bayyinah (penjelasan) dan al-huda (petunjuk) yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya n. Hal ini karena ilmu tersebutlah yang mendapatkan pujian dan sanjungan, sebagaimana sabda Rasulullah n:
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu ad-Darda z)
Ilmu tentang Al-Kitab dan As-Sunnah adalah rukun hikmah yang paling pokok. Oleh karena itulah, Allah l memerintahkan hamba-Nya untuk berilmu dahulu sebelum berbicara dan beramal. Allah l berfirman:
“Maka ilmuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)
Al-Imam al-Bukhari t membuat sebuah bab khusus tentang hal ini dalam kitab Shahih-nya karena kandungan mulia yang ada dalam ayat di atas. Beliau memberi judul bab tersebut dengan nama “Bab Ilmu sebelum berbicara dan beramal.”
Dalam ayat di atas, Allah l memerintahkan dua hal penting kepada Nabi-Nya, yaitu berilmu kemudian beramal. Allah l mengawali perintah-Nya dengan ilmu:
“Maka ilmuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah.” (Muhammad: 19)
Perintah tersebut disusul oleh perintah-Nya untuk beramal dalam firman-Nya:
“… dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad: 19)
Hal ini menunjukkan bahwa ilmu lebih didahulukan daripada amal dan ilmu adalah syarat untuk meluruskan perkataan dan amalan. Artinya, keduanya (perkataan dan amalan) tidak bermakna melainkan jika dilandasi oleh ilmu.
Oleh karena itu, ilmu didahulukan daripada perkataan dan amalan, karena ilmu akan meluruskan niat dan niat akan meluruskan amalan. (Hasyiyah Tsalatsatil Ushul, hlm. 15)
Allah l dalam Kitab-Nya yang mulia sering memberi motivasi kepada kita untuk berilmu. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:
Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar: 9)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Dalam sunnah yang mulia, Rasulullah n juga memberikan dorongan kepada umatnya untuk menuntut ilmu. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut.
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya, Dia akan memahamkannya tentang agama.” (Muttafaqun ‘alaih dari Mu’awiyah c)
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh sebuah jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Untuk lebih meyakinkan kita tentang kemuliaan ilmu, mari kita perhatikan akibat yang ditimbulkan oleh kebodohan, baik yang menimpa diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah n mengabarkan:
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sungguh, Allah l tidak mencabut ilmu dari manusia dengan sekali ambil dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika Dia tidak menyisakan lagi seorang alim pun di bumi, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka lalu ditanya dan memberi fatwa tanpa ilmu. Mereka pun sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash c)
Syaikhul Islam mengatakan, “Tidaklah engkau dapati seorang pun yang jatuh dalam perbuatan bid’ah melainkan karena kekurangannya dalam mengikuti sunnah, baik secara ilmu maupun amal. Bagaimana tidak. Jika seseorang mengilmui sunnah dan mengikutinya maka tidak ada yang mendorongnya untuk mengikuti bid’ah. Yang terjatuh dalam bid’ah hanyalah orang-orang yang jahil (tidak mengetahui) sunnah.” (Syarh Hadits La Yazni, hlm. 35)
Al-Imam asy-Syaukani t berkata, “Kecenderungan kepada pendapat-pendapat yang batil bukanlah sikap ahli tahqiq (para peneliti) yang memiliki pengertian yang sempurna, pemahaman yang kuat, kelebihan dalam penelitian, dan kesahihan dalam pengambilan riwayat. Sifat itu adalah sikap orang yang tidak memiliki bashirah (ilmu dan keyakinan) yang berjalan dan pengetahuan yang bermanfaat.” (Adab ath-Thalab, hlm. 40)
Rukun yang pertama ini sangat dibutuhkan dalam berdakwah. Terkadang kemuliaan dan keagungan dakwah salafiyah tercoreng oleh tindakan para penyusup tak berilmu yang menyelinap ke medan dakwah.
Abu Muhammad Ibnu Hazm t mengatakan, “Tidak ada penyakit yang lebih membahayakan ilmu dan ahli ilmu daripada para penyusup. Mereka bukan ahli ilmu. Mereka adalah orang-orang jahil yang meyakini dirinya berilmu. Mereka adalah para perusak (dakwah) yang meyakini dirinya sebagai orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (al-Akhlaq was Siyar, hlm. 91)
Ketika al-Imam asy-Syaukani t menyebutkan biografi Ali bin Qasim t dalam al-Badr ath-Thali’ (1/473), beliau mengatakan, “Di antara pendapat bagus yang saya dengar dari beliau adalah bahwa umat manusia (kaum muslimin, -pen.) terbagi menjadi tiga tingkatan.
a. Tingkatan yang tinggi (ath-thabaqat al-’ulya)
Mereka adalah para ulama besar yang mengilmui mana kebenaran dan kebatilan. Apabila mereka berbeda pendapat, tidak akan menimbulkan berbagai fitnah disebabkan pengetahuan mereka terhadap ilmu yang dimiliki oleh masing-masing mereka.
b. Tingkatan yang rendah (ath-thabaqat as-sufla)
Mereka adalah orang-orang awam yang berada di atas fitrahnya. Mereka tidak akan lari dari kebenaran (ketika kebenaran itu datang). Mereka adalah orang-orang yang mengikuti (para pembimbing mereka). Apabila pembimbingnya adalah orang yang mengikuti kebenaran, mereka pun akan mengikuti kebenaran tersebut. Sebaliknya, apabila pembimbingnya adalah orang yang mengikuti kebatilan niscaya mereka akan mengikutinya dalam kebatilan tersebut.
c. Tingkatan yang pertengahan (ath-thabaqat al-wustha)
Inilah tingkatan yang menjadi sumber fitnah. Berbagai fitnah yang muncul dalam agama, merekalah sumbernya. Mereka adalah orang-orang yang belum mapan keilmuannya. Seandainya keilmuan mereka mapan, tentu mereka akan naik ke tingkatan yang tinggi. Di sisi lain, mereka juga tidak meninggalkan ilmu seluruhnya sehingga tidak dapat digolongkan sebagai tingkatan yang rendah.
Apabila mereka mendengar seorang alim (dari tingkatan yang tinggi) berpendapat tentang suatu masalah yang tidak bisa dicapai oleh ilmu mereka, mereka akan tergelincir. Mereka akan segera menegur orang alim tersebut dengan keras. Bisa jadi, mereka mengeluarkan ucapan-ucapan yang keji terhadap diri si orang alim. Akibatnya, mereka merusak fitrah orang-orang yang berada di tingkatan yang rendah sehingga tidak mau menerima kebenaran karena adanya gambaran-gambaran yang batil/keliru. Ketika hal ini terjadi, muncullah berbagai fitnah dalam agama.
Al-Imam asy-Syaukani t mengomentari pendapat Ali bin Qasim t di atas, “Inilah makna ucapan yang kami dengarkan dari beliau t. Apa yang beliau t katakan sungguh tepat. Barang siapa yang memerhatikan keadaan umat dengan baik niscaya akan mendapatkan kenyataan sebagaimana yang beliau ungkapkan.”
Al-Imam Ibnul Jauzi t berkata, “Urusan yang paling utama adalah membekali diri dengan ilmu karena barang siapa merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, dia akan merasa yakin bahwa keilmuannya akan mencukupinya. Akibatnya, dia menjadi keras kepala. Dia akan menjadi orang yang membanggakan dirinya sendiri. Akhirnya, dia tidak mau mengambil faedah ilmu dari orang lain. Dia juga tidak mau bermudzakarah (mengulang pelajaran ilmu) dengan orang lain, padahal hal ini bisa menunjukkan kesalahan (atau kekurangannya).” (Shaidul Khathir, hlm. 158)

2. Al-hilmu (santun)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Al-hilmu adalah seseorang mampu mengendalikan diri ketika marah. Ketika marah, dia tetap bersikap santun meskipun dia mampu melampiaskan kemarahannya. Dia tidak mengikuti nafsu amarahnya dan tidak pula tergesa-gesa melampiaskannya.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/285)
Allah l memuji hamba-hamba-Nya yang memiliki sifat yang mulia ini dalam firman-Nya:
“… Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)
Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
Rasulullah n sendiri telah memberikan teladan dalam mempraktikkan sikap santun. Di antara yang bisa kita sebutkan adalah:
a. Ibnu Mas’ud z menceritakan bahwa seusai perang Hunain, Rasulullah n membagikan ghanimah (harta rampasan perang). Beliau n melebihkan pembagian kepada beberapa orang. Beliau n memberikan seratus ekor unta kepada al-Aqra’ bin Habis, sejumlah itu pula kepada ‘Uyainah. Beliau juga memberikan bagian ghanimah kepada pemuka orang-orang badui lebih dari yang lain. Ada seseorang yang berkomentar, “Demi Allah, sungguh pembagian ini tidak adil dan tidak ikhlas karena Allah l.” Ibnu Mas’ud z lalu berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan melaporkan ucapan ini kepada Nabi n.” Dia kemudian mendatangi Rasulullah n dan memberitahukan ucapan tersebut kepada beliau n. Beliau n lalu berkata:
فَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ يَعْدِلِ اللهُ وَرَسُولُهُ، رَحِمَ اللهُ مُوسَى قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ
“Siapa lagi yang mampu berbuat adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak berbuat adil? Semoga Allah merahmati Musa q. Sungguh dia telah disakiti (oleh kaumnya) lebih daripada ucapan ini, tetapi dia bersabar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t mengatakan, “Kisah ini adalah sebuah bentuk al-hilmu (kesantunan) yang agung dalam berdakwah kepada (jalan) Allah l. Kebijaksanaan beliau n mengharuskan ghanimah dibagi kepada beberapa orang muallaf. Adapun para sahabat yang hatinya penuh dengan keimanan beliau menyerahkan mereka kepada keimanan mereka.” (Fathul Bari, 8/49)
b. Anas bin Malik z mengatakan, “Aku berjalan bersama Nabi n. Beliau n memakai burdah dari Najran yang tebal dan kasar. Tiba-tiba ada seorang badui menemui beliau dan menarik burdah beliau n dengan keras hingga membekas di pundak beliau n. Orang itu lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, berilah aku sebagian harta Allah l yang ada padamu!’ Beliau n lalu menoleh kepadanya sembari tertawa dan memberikan sesuatu kepadanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t mengatakan, “Ini termasuk sikap santun beliau yang menakjubkan dan kesempurnaan akhlak beliau. Ini adalah sikap pemaafan dan kesabaran beliau menghadapi ujian dan cobaan pada jiwa dan harta. Beliau n tidak membalas sikap kasar dari orang yang beliau n harapkan masuk Islam. Hendaknya para dai dan pemimpin sepeninggal beliau n meneladaninya.” (Fathul Bari, 10/507)
c. Salah satu sikap santun beliau n adalah tidak mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang menyakiti beliau n padahal beliau n sangat mampu melakukannya. Allah l pun akan mengabulkannya. Akan tetapi, beliau n dengan sifat santunnya justru mengharapkan keislaman mereka atau anak keturunan mereka. Ibnu Mas’ud z mengatakan:
كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ n يَحْكِي نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Seakan-akan aku melihat Rasulullah n sedang menceritakan seorang nabi dari para nabi r yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah. Nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui’.” (Muttafaqun alaih)
Dalam sebuah hadits yang panjang disebutkan bahwa Rasulullah n berkata kepada Jibril q:
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Aku justru mengharapkan Allah l akan mengeluarkan dari tulang-tulang sulbi mereka sebuah generasi yang beribadah kepada Allah l semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Muttafaqun ‘alaih dari Aisyah x)

3. At-ta’anni (tidak tergesa-gesa bertindak)
At-ta’anni adalah memperjelas permasalahan dan tidak tergesa-gesa (bertindak). (al-Mishbah, 1/28)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “At-ta’anni dalam berbagai urusan dan tidak tergesa-gesa adalah seseorang tidak mengambil sikap hanya berdasarkan lahiriahnya lalu tergesa-gesa membuat keputusan. Dia langsung mengambil keputusan sebelum memperjelas dan meneliti masalah.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/285)
Dalam banyak firman-Nya, Allah l memerintah hamba-hamba-Nya untuk bersikap at-ta’anni dalam berbagai urusan.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (al-Hujurat: 6)
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepadamu, ‘Kamu bukan seorang mukmin’ (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (an-Nisa: 94)
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)
Demikian pula tarbiyah yang diberikan oleh Rasulullah n kepada umatnya. Beliau n membimbing umatnya untuk bersikap tenang dalam berbagai urusan, terlebih dalam hal ibadah. Beliau n bersabda:
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَلَكِنِ ائْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Apabila shalat telah ditegakkan, janganlah kalian mendatanginya sambil berlari. Datangilah dengan berjalan. Wajib bagi kalian untuk tenang. Apa yang kalian dapatkan dalam shalat itu, shalatlah. Adapun yang kalian tertinggal darinya maka sempurnakanlah.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
Sebagian salaf berkata, “Janganlah kalian tergesa-gesa, karena sikap tergesa-gesa itu dari setan.”
‘Amr bin al-’Ash berkata, “Seseorang senantiasa akan menuai penyesalan dari ketergesa-gesaannya.”
Sebagai penutup, kita memohon kepada Allah l saja agar memberi kita karunia hikmah dalam seluruh urusan kita. Sungguh Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya.
Amin.