Menerima Hadiah dari Murid

Bolehkah seorang guru menerima hadiah dari murid-muridnya? Jika tidak boleh, bagaimana bila hadiah itu diberikan setelah selesai tahun ajaran dan setelah hasil belajar (rapor) diserahkan? Kalau tidak boleh juga, bagaimana dengan hadiah yang diberikan oleh murid setamatnya dia dari sekolah tersebut atau ingin pindah ke sekolah yang lain?
Jawab:
Kata Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t, seorang guru semestinya tidak menerima hadiah-hadiah dari murid/wali muridnya. Alasannya, hadiah tersebut terkadang menyeretnya untuk berbuat tidak adil dan tidak mau memberi perhatian lebih kepada murid yang tidak memberi hadiah, sementara murid yang memberi hadiah kemudian diberi perhatian istimewa. Selain itu, si guru juga terdorong berlaku curang. Yang wajib, seorang guru tidak menerima hadiah dari murid-muridnya karena hadiah itu terkadang mengantarkan kepada akibat yang tidak terpuji. Seorang mukmin dan mukminah seharusnya menjaga agamanya dan menjauhi sebab-sebab yang mengundang keraguan, tuduhan, dan mudarat.
Adapun jika hadiah itu diberikan oleh si murid setelah ia pindah ke sekolah yang lain, tidak menjadi masalah bagi guru untuk menerimanya karena ketika itu keraguan/tuduhan telah berakhir dan aman dari mudarat. Demikian pula, jika hadiah diberikan setelah selesai dari suatu pekerjaan atau setelah pensiun, tidak apa-apa diterima. (Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Ibnu Baz t dalam acara radio Nurun ‘alad Darb, dikutip dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail Mutanawwi’ah, 20/63—64)

 

Hadiah Seusai Tugas

Saya mengajarkan Al-Qur’anul Karim di sebuah yayasan amal kebajikan. Setelah pemberian ijazah kepada para santri, mereka menyerahkan hadiah bersama dari mereka untuk saya. Hadiah itu sama sekali tidak memengaruhi nilai seorang santri. Apakah saya boleh menerima hadiah tersebut?

Jawab:
Samahatusy Syaikh t memfatwakan, “Apabila hadiah itu diberikan setelah selesai penentuan peringkat para santri dan setelah selesai penyerahan ijazah, demikian pula selesai dari mengerjakan pekerjaan di yayasan tersebut, tidak ada dosa menerimanya, berdasarkan dalil-dalil yang umum yang menunjukkan disyariatkannya menerima hadiah. Wallahu waliyut taufiq.”
(Kumpulan pertanyaan yang diajukan kepada asy-Syaikh Ibnu Baz dari surat kabar al-Muslimun, dijawab oleh beliau tanggal 12/6/1419. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Mutanawwi’ah, 20/64)

 

Haramnya Hadiah Sebagai Suap
Apa hukumnya seseorang memberikan barang berharga dengan menyebutnya sebagai hadiah kepada orang yang menjadi pimpinannya dalam sebuah pekerjaan?
Jawab:
Pertanyaan di atas diajukan kepada Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz t di akhir ceramah beliau yang disampaikan di rumah sakit an-Nur, di Makkah al-Mukarramah, tanggal 27/7/1412 H. Beliau memberikan jawaban sebagai berikut.
Ini adalah kesalahan dan sebuah perantara kepada kejelekan yang besar. Seorang pemimpin seharusnya tidak menerima hadiah karena terkadang hadiah tersebut adalah suap dan dapat mengantarkannya kepada sikap mudahanah/basa-basi dan khianat.
Lain halnya jika orang yang diberi hadiah tersebut menerimanya kemudian menyerahkannya ke rumah sakit1 dan untuk kemaslahatan rumah sakit, bukan keuntungan pribadinya. Ia memberitahu si pemberi hadiah bahwa hadiah tersebut untuk kemaslahatan rumah sakit, “Saya tidak mengambilnya untuk diri saya pribadi.” Namun, yang lebih hati-hati, ia mengembalikannya, tidak menerimanya untuk pribadinya atau untuk rumah sakit, karena hal ini dapat menyeretnya untuk mengambil hadiah tersebut untuk dirinya sendiri.
Selain itu, terkadang orang akan berburuk sangka kepadanya. Terkadang pula, pemberi hadiah menjadi lancang terhadapnya dan menuntutnya agar memberikan muamalah yang terbaik kepadanya, lebih dari yang diterima oleh orang selainnya.
Tatkala Rasulullah n mengutus para petugas beliau (amil zakat) untuk mengumpulkan zakat, salah seorang dari mereka berkata, “Ini untuk kalian dan ini yang dihadiahkan kepadaku.”
Rasulullah n mengingkari hal tersebut. Beliau n menyampaikan khutbah di hadapan manusia seraya berkata:
مَا بَالُ الرَّجُلِ مِنْكُمْ نَسْتَعْمِلُهُ عَلَى أَمْرٍ مِنْ أَمْرِ اللهِ فَيَقُوْلُ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي؛ أَلآ جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيْهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ هَلْ يُهْدَى إِلَيْهِ
“Kenapa ada seseorang dari kalian yang kami pekerjakan dia untuk mengurusi satu perkara dari perintah Allah, ia berkata, ‘Ini untuk kalian dan ini yang dihadiahkan untukku.’ Tidakkah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, lalu ia lihat apakah ada yang memberi hadiah kepadanya?” (HR. Muslim dalam Shahih-nya2)
Hadits ini menunjukkan bahwa seorang pegawai, karyawan, pekerja, atau petugas—dalam bidang pekerjaan apa pun—semestinya menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya dan tidak boleh menerima hadiah-hadiah yang berkaitan dengan pekerjaan yang sedang diurusnya. Jika ternyata ia telanjur menerimanya, hendaknya ia menyerahkan ke baitul mal. Ia tidak boleh mengambilnya untuk pribadinya berdasarkan hadits yang sahih di atas. Di samping itu, hadiah yang diberikan itu merupakan perantara kepada kejelekan dan cacatnya penunaian amanat. La haula wala quwwata illa billah.”
(Dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail Mutanawwi’ah, 20/65—66)

 

Catatan Kaki:

1 Pertanyaan diajukan ketika beliau n sedang berceramah di rumah sakit.
2 Diriwayatkan al-Bukhari dalam al-Hibah, bab Man Lam Yaqbalul Hibah li’illatin no. 2597 dan Muslim dalam al-Imarah, bab “Tahrim Hadayal ‘Ummal” no. 1832, 1833

Rambut Wanita

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Rambut yang tumbuh di kepala adalah salah satu nikmat Allahlyang diberikan kepada kita. Penampilan kita menjadi bagus, indah, dan cantik karenanya. Untuk seorang lelaki saja, rambut merupakan perhiasan, apatah lagi bagi seorang wanita. Mungkin kita masih ingat dengan kisah tiga orang dari kalangan Bani Israil: si abrash atau orang yang berpenyakit sopak/belang, si a’ma atau orang yang buta, dan si aqra’. Ya, salah satu dari tiga orang yang beroleh kesulitan dan kesempitan tersebut adalah si aqra’, seseorang yang sama sekali tidak tumbuh rambut di atas kepalanya. Ia merasa, kebotakan yang dideritanya menyebabkan manusia menjauhinya dan tidak suka melihatnya. Oleh karena itu, tatkala malaikat datang sebagai utusan Allah l dengan menyamar (dalam rupa manusia) guna menguji mereka bertiga, siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, si aqra’ meminta dihilangkan penyakitnya dan diberi rambut yang bagus. (Lihat kelengkapan kisahnya dalam hadits yang diriwayatkan dalam ash-Shahihain)
Karena pentingnya rambut dalam berhias, terutama bagi wanita1, tak heran apabila rambut disebut mahkota wanita karena fungsinya sebagai hiasan di atas kepala.
Tentang masalah rambut, syariat memiliki ketentuan yang mengaturnya. Ada hukum-hukum yang berkaitan dengan rambut wanita.
Berikut ini rangkuman hukum rambut wanita dari fatwa ulama yang mulia, yang dibawakan secara makna lagi ringkas2.

1. Mengumpulkan rambut (mengikat jadi satu) di bagian paling atas dari kepala si wanita tidaklah dibolehkan.
Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah z, ia berkata, “Rasulullah n bersabda:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهِ النَّاسَ؛ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوسَهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ المْاَئِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum melihat mereka sekarang. (Yang pertama,) suatu kaum yang bersama mereka ada cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia. (Yang kedua,) para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka miring lagi membuat orang lain miring. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan bisa mencium bau wangi surga, padahal wanginya bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian’.” (HR. al-Imam Muslim no. 5547) (Fatwa dari al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’)
“Mailatun” maknanya miring dari menaati Allahldan dari urusan yang semestinya mereka jaga. Adapun mumilatun maknanya mereka mengajari orang lain untuk berbuat seperti perbuatan mereka yang tercela.
Ada pula yang mengatakan, “mailatun” adalah wanita yang berjalan dengan berlagak sombong, menggoyang-goyangkan atau memiring-miringkan pundak-pundak mereka. Ada pula yang mengatakan, maknanya adalah wanita yang menyisir rambutnya dengan sisiran/model miring atau belahan samping, yang merupakan model sisiran wanita pelacur. Adapun mumilatun maknanya mereka menyisir wanita-wanita lain dengan model sisiran tersebut.
“Kepala-kepala mereka seperti punuk unta”, maknanya mereka membesarkan kepala mereka dengan melilitkan imamah, bebat kepala, atau yang semisalnya. (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, an-Nawawi, 14/336)

2. Mengumpulkan rambut atau melilitkan/melingkarkannya di sekitar kepala si wanita hingga tampak seperti imamah/sorban yang biasa dipakai lelaki.
Hal ini tidak diperbolehkan dengan alasan ada unsur tasyabbuh (meniru/menyerupai) lelaki3. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

3. Mengumpulkan rambut dan menjadikannya satu ikatan/kepangan ataupun lebih, lalu dibiarkan tergerai tidaklah menjadi masalah (boleh saja) selama rambut tersebut tertutup dari pandangan mata yang tidak halal melihatnya.
Mengapa dibolehkan? Karena tidak ada larangan tentang hal ini. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

4. Haram menyambung rambut wanita dengan rambut yang lain atau disambung dengan sesuatu yang membuat kesamaran (disangka oleh yang melihat sebagai rambutnya padahal bukan rambut).
Ini fatwa al-Lajnah ad-Daimah. Dalil yang melarang menyambung rambut di antaranya hadits:
لَعَنَ اللهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ
“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan meminta disambungkan rambutnya.” (HR. al-Bukhari no. 5941, 5926 dan Muslim no. 5530)
Sa’id al-Maqburi t berkata, “Aku pernah melihat Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan c di atas mimbar dan di tangan beliau ada satu gelungan rambut (wig) wanita. Beliau berkata:
مَا بَالُ الْمُسْلِمَاتِ يَصْنَعْنَ مِثْلَ هَذَا؟ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ n يَقُوْلُ: أَيُّمَا امْرَأَةٍ زَادَتْ فِي رَأْسِهَا شَعْرًا لَيْسَ مِنْهُ فَإِنَّهُ زُوْرٌ تَزِيْدُ فِيْهِ
Mengapa para wanita muslimah melakukan seperti ini?! Padahal aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda, “Wanita mana saja yang menambah rambut pada kepalanya padahal bukan bagian dari kepalanya, maka itu merupakan kedustaan/kepalsuan yang ditambahkannya pada kepalanya.” (HR. an-Nasa’i no. 5093, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih an-Nasa’i)

5. Mengeriting rambut menurut hukum asalnya tidak apa-apa, melainkan jika dilakukan karena tasyabbuh dengan wanita-wanita yang fajir lagi kafir, hukumnya menjadi tidak boleh. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, disahihkan asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6025)

6. Tidak boleh memakai pita atau rambut palsu di rambut dengan maksud menambah banyak rambut, membesarkan, atau menambah panjangnya. (Fatwa asy-Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan hafizhahullah)

7. Pita/hiasan rambut yang tidak bertujuan membesarkan ukuran kepala (rambut tampak menjadi banyak) dan memang dibutuhkan untuk memperbaiki tatanan rambut (sehingga tidak berantakan), maka tidak apa-apa digunakan.
Jika pita, jepit rambut, dan (penghias rambut wanita) yang semisalnya berbentuk hewan (makhluk bernyawa) atau berbentuk alat-alat musik, tidak boleh dipakai karena keharaman gambar makhluk bernyawa dan haramnya memakai gambar tersebut pada pakaian dan lainnya. (Fatwa asy-Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan hafizhahullah)

8. Membelah rambut sepantasnya di bagian tengah kepala mulai dari ubun-ubun.
Inilah yang diajarkan oleh as-Sunnah (belah tengah). Rambut dari dua sisi, kiri dan kanan, dibagi sama. Adapun membelahnya di satu sisi, belah kanan atau belah kiri, tidak sepantasnya dilakukan, terlebih lagi apabila ada keinginan bertasyabbuh dengan selain muslimah, tentu hukumnya haram. Bahkan, bisa jadi termasuk dalam hadits:
مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ…
“…wanita-wanita yang miring dan membuat orang lain miring….”
Menurut penafsiran sebagian ulama, para wanita yang dimaksud dalam hadits di atas adalah para wanita yang menyisir rambut mereka dengan model miring. Tetapi, penafsiran yang benar adalah wanita yang miring/menyimpang dari rasa malu yang semestinya ia miliki. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)
Sementara itu, kita melihat banyak wanita muslimah yang senang meniru model para artis ataupun aktris yang merupakan wanita-wanita fasik. Rasulullah n telah bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”

9. Seandainya seorang wanita pergi ke seorang penata rambut guna menata rambutnya dengan tarif yang tidak mahal, sehingga tidak masuk dalam kategori membuang atau menghambur-hamburkan harta, dengan maksud berhias untuk suaminya, maka tidak apa-apa. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)

10. Ada beberapa sisi negatif yang didapati ketika seorang wanita pergi ke pemangkas rambut (kapster di salon).
Yang paling penting adalah:
– Kapster umumnya akan membentuk rambut dengan model orang-orang kafir, dan di sini ada sisi tasyabbuh dengan mereka.
– Kapster biasa melakukan namsh pada pelanggannya, yaitu mencabut rambut alis untuk dirapikan/dibaguskan menurut anggapan mereka, padahal namsh ini haram berdasar hadits yang berbunyi:
لَعَنَ اللهُ النَّامِصَةَ وَالْمُتَنَمِّصَةَ
“Allah melaknat wanita yang mencabut rambut alis dan wanita yang minta dicabutkan rambut alisnya.” (HR. al-Bukhari no. 4886, 5939 dan Muslim no. 5538)
Makna laknat adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah l.
– Membuang-buang banyak harta tanpa ada faedah (menyia-nyiakannya), bahkan dibuang untuk sesuatu yang memudaratkan. Bukankah syariat melarang membuang-buang harta, sebagaimana dalam sebuah hadits:
نَهَى عَنْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“Rasulullah n melarang dari qila dan qala (katanya dan katanya), banyak bertanya, dan membuang-buang harta.”
– Menanamkan dan menumbuhkan pemikiran para wanita untuk mengambil perhiasan yang biasa dinikmati dan dipakai oleh para wanita kafir. Ujung-ujungnya, setelah itu si wanita condong kepada urusan yang lebih besar daripada itu, yaitu penyimpangan dan kerusakan akhlak wanita-wanita kafir. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)
Termasuk kejelekan yang terjadi adalah apa yang disebut sebagai massage, spa, dan semisalnya, untuk memandikan (perawatan) tubuh si wanita dan melihat auratnya. Semua ini termasuk perkara yang diharamkan.

11. Seorang muslimah tidak boleh mendatangi pemangkas rambut pria, karena diharamkan bagi wanita menampakkan aurat dan rambut mereka kepada lelaki ajnabi (bukan mahramnya). (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz t)

12. Tidak diketahui ada larangan menggunting rambut wanita. Namun, yang ada hanyalah larangan mencukur habis.
Oleh karena itu, wanita boleh memotong rambutnya karena panjang (mengurangi panjangnya) atau banyaknya. Hal ini tidak apa-apa dilakukan lebih-lebih dengan maksud berhias untuk suami, dengan syarat tidak ada tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir (atau wanita-wanita fasik). (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz t dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)
Dibolehkan pula memotong rambut yang panjang ketika rambut yang panjang tersebut membebani si wanita dalam hal mencuci dan menyisirnya (harus mengeluarkan banyak biaya untuk kebutuhan sampo dan sebagainya). (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz t dan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)
Jika rambut wanita terpaksa dicukur karena suatu penyakit/keluhan/gangguan di kepalanya, hal ini tidak mengapa. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz t)
Adapun hadits Ali bin Abi Thalib z yang berbunyi:
نَهَى عَنْ تَخْلُفَ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا
“Rasulullah n melarang wanita mencukur rambut kepalanya.” (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)
adalah hadits yang dhaif. (Lihat adh-Dha’ifah no. 678)
Model potongan rambut wanita yang menyerupai potongan rambut lelaki adalah diharamkan, karena adanya tasyabbuh. Dalam hadits disebutkan:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجاَلِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah n melaknat para laki-laki yang menyerupai para wanita dan para wanita yang menyerupai para lelaki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)
(Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)
Ada pendapat yang menyatakan wanita tidak boleh memotong rambutnya melainkan ketika ada kebutuhan saja. (Fatwa asy-Syaikh Shalih ibnu Fauzan hafizhahullah)
Ada pula yang berpendapat hukumnya makruh, dan ini yang masyhur dari mazhab al-Imam Ahmad t.

13. Ada model-model potongan rambut wanita yang mereka istilahkan: model “Lady Diana”, seorang wanita kafir, model “Lion King”, model “Minnie Mouse” dan model lainnya yang sedang populer. Semua ini haram karena ada unsur tasyabbuh dengan orang-orang kafir dan menyerupai hewan. (Fatwa asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah)

14. Dibolehkan bagi seorang wanita menghilangkan seluruh rambut yang tumbuh di tubuhnya selain rambut alis dan rambut kepala.
Dia bisa melakukannya sendiri, atau dibantu oleh suaminya atau salah seorang mahramnya, atau dilakukan oleh wanita lain, dalam batasan yang diperkenankan bagi mereka untuk melihatnya. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

15. Jika seorang wanita memotong rambutnya dari atas dahinya dan sisanya dibiarkan terjulur menutup dahinya—istilah lainnya: poni—dengan maksud bertasyabbuh dengan wanita-wanita kafir dan orang-orang yang menyimpang, hukumnya haram, tidak boleh melakukannya dengan alasan tasyabbuh ini. Namun, jika dia melakukannya karena mengikuti kebiasaan para wanita muslimah di sekitarnya, ditambah lagi dia ingin berhias untuk suaminya, atau di hadapan karib kerabatnya, tidak tampak bagi kami adanya larangan dalam hal ini. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

16. Memotong rambut karena rontok tidaklah terlarang. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

17. Memakai wig/rambut palsu hukumnya haram, karena termasuk al-washl yaitu menyambung rambut yang diharamkan. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)
Seandainya tidak dianggap al-washl, maka wig itu menampakkan rambut si wanita lebih panjang daripada yang sebenarnya sehingga menyerupai al-washl. Padahal wanita yang melakukannya dilaknat sebagaimana disebutkan oleh hadits:
لَعَنَ اللهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ
“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan minta disambungkan rambutnya.” (HR. al-Bukhari no. 5941, 5926 dan Muslim no. 5530)
(Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)
Perbuatan al-washl ini diharamkan, sama saja apakah si wanita melakukannya dengan izin suami atau tidak, karena perbuatan haram tidak terkait dengan izin dan ridha.

18. Jika si wanita mengalami kebotakan, tidak tumbuh rambut di atas kepalanya, menurut satu pendapat, ia tetap tidak boleh memakai rambut palsu. Namun, menurut pendapat yang dipegangi oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t, si wanita boleh memakai rambut palsu. Alasannya, kebotakan ini adalah aib/cacat/cela, dan aib itu boleh ditutup, sebagaimana seorang lelaki yang diizinkan Nabi n untuk memakai hidung dari emas karena hidungnya terpotong dalam satu peperangan4. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

19. Berhias/memperbagus penampilan berada di antara halal dan haram.
Jika berhias dilakukan untuk menghilangkan aib, misalnya orang yang hidungnya bengkok lalu ia meluruskannya, atau pada wajahnya ada noda/flek hitam (yang dulunya tidak ada/bersih) lalu ia menghilangkannya dengan kosmetik atau lainnya, tidak apa-apa.
Berhias juga bisa menjadi haram jika dilakukan bukan karena keinginan menghilangkan aib, seperti orang yang membuat tato di wajah atau bagian tubuh lain, mencabut rambut alis, dan memakai wig/rambut palsu. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)
Termasuk yang dilarang adalah menebalkan/membesarkan bibir, payudara, dan anggota badan tertentu, terkhusus jika dilakukan karena taklid/membebek kepada wanita-wanita kafir dan fasik.

20. Hukum mengecat rambut.
Mengecat rambut dengan warna hitam murni/tanpa campuran warna lain hukumnya haram berdasar sabda Rasulullah n:
غَيِّرُوْا هَذَا الشَّيْبَ وَجَنِّبُوْا السَّوَادَ
“Ubahlah uban ini dan jauhilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 5476)
Mengubah uban (mengecatnya dengan warna lain sehingga tertutupi putihnya uban tersebut) adalah sunnah. Jika warna hitam dicampur dengan warna lain sehingga menjadi kehitam-hitaman, tidak apa-apa. Dengan demikian, boleh mengecat uban dengan warna coklat dan warna merah kekuning-kuningan (blonde) serta semisal keduanya dengan syarat tidak ada tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir, atau wanita-wanita pelacur atau fajir/pendosa. Jika ada niatan tasyabbuh, hukumnya haram. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

21. Tidak apa-apa mengecat rambut dengan hena (pacar/inai) walaupun dalam hari-hari haid. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

22. Inai yang dipakai tidaklah menghalangi sahnya wudhu karena inai tidak memiliki zat/subtansi yang dapat mencegah sampainya air wudhu.
Inai pada akhirnya hanya tinggal warna saja (adapun zatnya dihilangkan setelah inai yang dipakai kering). Adapun sesuatu yang dapat mencegah sampainya air wudhu karena ia memiliki zat (seperti cat kuku/kuteks yang catnya tetap menempel di kuku) harus dihilangkan terlebih dahulu dari anggota wudhu agar wudhu yang dilakukan sah. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

23. Mengecat bagian-bagian tertentu dari rambut, seperti ujungnya saja, atau bagian atasnya, hukum asalnya halal. Namun, jika terkait dengan uban yang hendak diubah dengan warna hitam atau ada tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir atau fajir, hal ini tidak diperbolehkan. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)
24. Warna-warna yang biasa dipakai untuk mengecat rambut terbagi tiga.
Pertama: yang diperintahkan, seperti memakai inai (warna inai) untuk mengubah uban karena ada dalil yang menunjukkannya.
Kedua: yang dilarang, yaitu warna hitam yang dipakai untuk mengubah warna uban.
Ketiga: yang didiamkan (tidak diperintahkan dan tidak pula dilarang).
Jika perkara yang didiamkan itu asalnya halal, berarti hukumnya halal. Dengan demikian, mengubah rambut hitam ke warna merah hukumnya boleh, melainkan jika dilakukan karena tasyabbuh, hukumnya menjadi haram. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)
Ada pula pendapat yang melarang rambut hitam diubah ke warna lain dengan alasan tidak ada dalil yang menunjukkannya. Yang dibolehkan hanyalah mengubah rambut uban. Ditambah lagi tidak ada kebutuhan mengubah rambut yang hitam, karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah l. (Fatwa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan)

25. Mengubur/memendam rambut yang jatuh/rontok, gigi, ataupun kuku (yang tanggal), menurut sebagian ulama hukumnya mustahab, berdasar atsar dari Ibnu Umar c, dan perbuatan seorang sahabat lebih utama diikuti daripada perbuatan selainnya. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

26. Tidak apa-apa menghilangkan/mencabut rambut yang tumbuh di wajah seorang wanita, seperti jenggot atau kumis, karena keduanya bukan asal penciptaan wanita (asalnya wanita itu tidak berkumis dan berjenggot, beda halnya dengan kaum lelaki).
Adapun jika rambut yang tumbuh itu merupakan asal penciptaan, seperti alis, tidak boleh dihilangkan. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah dan fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz)

27. Wanita boleh membuka/menampakkan rambut dan wajahnya di hadapan wanita kafir, menurut satu pendapat. (Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)
Namun, ada pendapat lain yang menyatakan tidak boleh. (Fatwa asy-Syaikh al-Albani)
Kedua pendapat di atas sama-sama berdalil dengan ayat:

“Katakanlah (ya Muhammad) kepada wanita-wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka. Jangan pula mereka menampakkan perhiasan mereka terkecuali yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah mereka menjulurkan kerudung-kerudung mereka di atas dada-dada mereka dan jangan menampakkan perhiasan mereka selain kepada suami-suami mereka, ayah-ayah mereka, ayah-ayah suami (mertua) mereka, kepada putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, atau di hadapan saudara-saudara lelaki mereka, putra-putra saudara-saudara lelaki mereka (keponakan lelaki), putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau kepada wanita-wanita mereka, budak-budak yang mereka miliki, lelaki yang tidak memiliki syahwat yang mengikuti mereka (menjadi pelayan/pembantu mereka), ataupun anak-anak lelaki kecil yang belum mengetahui aurat wanita. Jangan pula para wanita itu memukulkan/menghentakkan kaki-kaki mereka ketika berjalan agar diketahui apa yang mereka sembunyikan dari perhiasan (di balik pakaian mereka, seperti gelang kaki yang diperdengarkan bunyinya), hendaklah kalian semuanya bertaubat kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung.” (an-Nur: 31)
Mereka berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan para wanita mereka pada ayat di atas, apakah jenis wanita secara umum ataukah dikecualikan wanita-wanita kafir?
Yang berpendapat dengan pandangan yang pertama akan membolehkan seorang wanita membuka wajah dan rambut di depan wanita-wanita kafir. Sementara itu, yang berpendapat dengan pandangan kedua tidak akan membolehkan membuka wajah dan rambut di depan wanita kafir.
Wallahu ta’ala a’lam.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:

1 Sesuai kodratnya, wanita diciptakan senang berhias, sebagaimana firman Allah l:

“Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedangkan dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.” (az-Zukhruf: 18)
2 Diambil dari website Mu’assasah ad-Da’wah al-Khairiyyah, KSA.

3 Rasulullah n melarang tasyabbuh dengan lawan jenis, sebagaimana dalam hadits:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجاَلِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah n melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan para wanita yang menyerupai para lelaki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)

4 Sahabat tersebut adalah ‘Arfajah ibnu As’ad as-Sa’di, seorang penunggang kuda yang mahir di masa jahiliah. Dalam satu peperangan, hidungnya terpotong. Kemudian beliau masuk Islam. Nabi mengizinkannya memakai hidung dari emas. Demikian disebutkan dalam al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya al-Hafizh Ibnu Hajar (4/400).

 

Menghadiahi Minyak Wangi

Bolehkah seorang wanita menghadiahkan sebotol minyak wangi kepada wanita lain, padahal wanita yang dihadiahi tersebut biasa keluar rumah dengan memakai minyak wangi? Apakah yang menghadiahi terkena dosa?

Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz t menjawab, “Tidak apa-apa menghadiahkan minyak wangi kepada wanita lain karena hadiah bisa mendatangkan rasa cinta dan orang yang memberi hadiah beroleh pahala. Jika ternyata minyak wangi tersebut dipakai untuk perkara yang haram, dosanya ditanggung si pemakai. Akan tetapi, jika yang menghadiahkan mengetahui bahwa minyak wangi yang dihadiahkan akan dipakai untuk keluar rumah, ia tidak boleh menghadiahkannya, karena hal itu termasuk saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allah l berfirman:

“Janganlah kalian tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)
Wallahu a’lam.” (Dimuat dalam surat kabar ‘Ukkazh, no. 10877, tanggal 7/1/1417 H, sebagaimana dikutip dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail Mutanawwi’ah Samahatusy Syaikh Ibn Baz t, 20/62—63)

 

Sahlah bintu Suhail (Al-Qurasyiyah Al’Amiriyah)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Islam merebak di negeri Makkah. Saat itu, Allah l membuka hati seorang wanita mulia untuk menerima agama ini. Dia, Sahlah bintu Suhail bin ‘Amr bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin ‘Amir bin Lu’ai, berbaiat kepada Rasulullah n.
Namun, segalanya tidaklah berjalan mudah. Keislaman setiap orang harus berhadapan dengan berbagai penindasan kaum musyrikin. Makin hari, makin gencar dan dahsyat.
Dengan izin Allah l, Rasulullah n memerintahkan para sahabat yang tertindas untuk hijrah ke negeri Habasyah. Sahlah turut hijrah bersama suaminya, Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdi Syams. Di sana mereka mencari perlindungan bagi agamanya, di bawah naungan Raja Najasyi. Di negeri asing ini, Sahlah melahirkan putranya, Muhammad bin Abi Hudzaifah.
Sampai berita ke negeri Habasyah, kaum musyrikin di Makkah telah beriman. Dengan sejuta harapan dan kerinduan, Sahlah beserta para sahabat yang berada di Habasyah meninggalkan negeri itu untuk kembali ke Makkah. Namun belum sampai mereka menginjakkan kaki di tanah air, terdengar bahwa berita itu tidak benar. Mereka pun bertolak kembali, hijrah untuk yang kedua kalinya ke negeri Habasyah.
Berbilang tahun, masa berganti, keadaan pun telah berubah. Kini mereka hidup tenang di sisi Rasulullah n di kota Madinah.
Saat itu, Abu Hudzaifah memiliki seorang budak. Salim namanya, dikenal dengan Salim maula Abu Hudzaifah. Dia seorang pemuda yang telah dewasa. Saat meletus Perang Badar, Salim turut pula bertempur melawan kaum musyrikin.
Keluarga Abu Hudzaifah telah menganggap Salim sebagai anak. Salim sering keluar masuk di tengah keluarga Abu Hudzaifah. Namun, bagaimana pun Salim tetaplah bukan anak keluarga Abu Hudzaifah. Dia bukan mahram bagi Sahlah.
Kesulitan meliputi mereka hingga Sahlah mengadu kepada Rasulullah n.
“Wahai Rasulullah,” ujar Sahlah, “Di keluarga kami ada Salim, budak Abu Hudzaifah. Kami sudah menganggapnya sebagai anak. Sementara itu, saya biasa mengenakan pakaian harian, sehingga dia pun bisa melihat saya.”
Rasulullah n memberikan jalan keluar bagi Sahlah. Beliau memberikan keringanan kepadanya. “Susuilah dia lima kali susuan!”
Sahlah melakukan perintah Rasulullah n. Setiap hari dia peras air susunya, ditampung dalam sebuah wadah hingga mencukupi satu kali susuan. Salim meminum air susu Sahlah.

Demikian berlangsung hingga lima hari.
Selesai lima kali penyusuan itu, Salim pun masuk menemui ibu susuannya, Sahlah bintu Suhail, dalam keadaan tanpa berhijab.
Sepeninggal Abu Hudzaifah, Sahlah menikah dengan ‘Abdullah ibnul Aswad bin ‘Amr dari bani Malik bin Hisl. Dari pernikahan ini, Allah l menganugerahkan seorang anak, Salith bin ‘Abdillah.
‘Abdullah, suami yang kedua ini tidak bisa menemani Sahlah lebih lama di dunia. Ia juga meninggalkan Sahlah untuk selamanya, kembali ke hadapan Penciptanya. Sahlah kembali menjanda.
Kemudian ia disunting oleh Syammakh bin Sa’id bin Qaif bin al-Auqash bin Murrah bin Hilal bin Falij bin Dzakwan bin Tsa’labah bin Buhtsah bin Sulaim bin Manshur. Allah l memberikan kepada mereka seorang anak, ‘Amir bin Syammakh. Kemudian Allah l menghendaki untuk memanggil Syammakh, meninggalkan alam yang fana menuju alam baka, hingga kembali wanita mulia ini menjanda.
Ternyata Allah l masih memberinya jodoh. Setelah suaminya tiada, Sahlah dipinang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bin ‘Abdi ‘Auf bin al-Harits bin Zuhrah. Dari pernikahan ini lahirlah Salim bin ‘Abdirrahman.
Sahlah bintu Suhail, semoga Allah l meridhainya…
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Sumber bacaan:
– al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (8/193)
– al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/535)
– ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/256—257)

Menghafal Kitabullah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Kalau orang tua berbicara tentang cita-cita anak, biasanya yang tergambar adalah kemuliaan anak di masa mendatang. Entah sebagai apa pun dia nanti.
Namun, yang kita harapkan tentu bukanlah kemuliaan semu, tapi kemuliaan yang hakiki. Kalau berbicara tentang sesuatu yang hakiki, tentu rujukannya adalah syariat. Kita lihat apa yang ada dalam Kitabullah. Di sana disebutkan orang yang memiliki kemuliaan hakiki. Allahlberfirman:

“Allah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, begitu pula para malaikat dan ahlul ilmi (mempersaksikan demikian) dalam keadaan mereka menegakkan keadilan.” (Ali ‘Imran: 18)
Al-Imam al-Qurthubi t menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu serta kemuliaan dan keutamaan para ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia daripada ulama, pastilah Allah l akan menyertakan mereka bersama penyebutan nama Allah l dan malaikat-Nya, seperti halnya Allah l menyertakan para ulama dalam ayat ini. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 4/41)
Dalam ayat yang lain, Allahlberfirman:

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menerangkan bahwa Allahlakan mengangkat orang-orang yang beriman beberapa derajat di atas orang-orang yang tidak beriman. Allahljuga akan mengangkat orang-orang yang berilmu beberapa derajat di atas orang-orang yang beriman. Jadi, orang yang beriman sekaligus berilmu akan diangkat oleh Allahlbeberapa derajat karena imannya, kemudian diangkat lagi beberapa derajat karena ilmunya. (Fathul Qadir, 5/232)
Tak hanya itu, dalam as-Sunnah kita dapati pula Rasulullah n bersabda:
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Ulama itu adalah pewaris para nabi.”
Sementara itu, kita telah mengetahui bahwa tidak ada tingkatan yang lebih tinggi di atas tingkatan nubuwah (kenabian). Dengan demikian, tentu tidak ada warisan yang lebih mulia daripada warisan para nabi. Jelaslah, kalau kita ingin anak-anak kita mulia, kita harus mengarahkan mereka agar menjadi orang-orang yang berilmu.
Berarti, ada sederet panjang tugas kita dalam membimbing, mengarahkan, dan mengantarkan mereka dalam perjalanan menuntut ilmu. Kita perlu tahu, apa yang amat mereka butuhkan di awal perjalanan ini?
Dalam perjalanan menuntut ilmu, hendaknya anak-anak mengawalinya dengan menghafal Al-Qur’an. Namun, ada anak-anak yang kurang berminat dan kurang tertarik untuk menghafal Al-Qur’an. Padahal—sekali lagi—ini merupakan bagian yang penting dalam perjalanannya menuntut ilmu. Dalam keadaan seperti ini, dorongan orang tua amatlah dibutuhkan.
Demikian pula yang pernah dinasihatkan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin t kepada para orang tua. Beliau mengatakan, “Saya mengimbau saudara-saudara saya yang dikaruniai anak oleh Allah l, hendaknya menyemangati anak-anaknya untuk mengikuti perkumpulan-perkumpulan tahfidz Al-Qur’an, dan selalu berpesan agar mereka mengikutinya secara teratur. Hal ini karena membaca Kitabullah adalah salah satu sebab datangnya kebaikan, dan baiknya anak merupakan kebaikan bagi orang tua, di dunia dan setelah wafatnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah n:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ، إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal, terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.”
Tidak diragukan lagi, bergabung dengan perkumpulan semacam ini—maksud saya perkumpulan tahfidz Al-Qur’an—akan membuahkan berbagai kebaikan dan mencegah berbagai kerusakan. Di sana anak akan bisa menghafal Al-Qur’anul Karim, menumbuhkan kecintaan dan kesenangannya terhadap Al-Qur’an. Juga menciptakan keterikatan si anak dengan rumah Allah l (masjid). Waktunya pun akan tersibukkan dengan urusan mulia ini. Selain itu, menghafal Al-Qur’an juga memberikan penjagaan yang baik terhadap anak, yaitu akan membuahkan pahala bagi orang tua atau walinya. Masyarakat pun akan mendapatkan ganjaran dengan dibacanya Kitabullah di rumah-rumah Allah l. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allahluntuk membaca dan saling mengajarkan Kitabullah, melainkan akan turun ketenangan pada mereka, rahmat meliputi kepada mereka, malaikat menaungi mereka, dan Allahlakan menyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya.
Kegiatan ini juga akan mencegah berbagai kerusakan. Dengan kegiatan ini, waktu tidak tersia-siakan, yang penyia-nyiaan waktu ini lebih berbahaya daripada penyia-nyiaan harta. Harta ada gantinya, sedangkan waktu tidak bisa diganti dengan yang lain. Setiap waktu yang berlalu tidak akan kembali, sebagaimana dikatakan:
“Hari kemarin telah berlalu dan tak akan kembali lagi.”
Kegiatan ini akan mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh waktu luang, karena waktu luang itu mengandung begitu banyak kerusakan, sebagaimana dikatakan:
“Seorang pemuda dengan waktu luang dan kekuatan
membawa banyak kerusakan bagi seseorang.”
(Kitabul ‘Ilmi hlm. 225—226)
Selain mendorong mereka untuk selalu hadir dalam majelis tahfidz Al-Qur’an, kita bisa pula menyampaikan anjuran dari Rasulullah n tentang keutamaan orang yang menghafal Al-Qur’an.
Kita sampaikan bahwa yang sedang mereka baca dan hafalkan adalah kalamullah, ucapan Allah l, Rabb kita dan seluruh alam ini. Oleh karena itu, membaca dan menghafalnya akan membuahkan keutamaan yang sangat besar bagi mereka. Rasulullah n pernah bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari no. 5027)
Kita mengingatkan mereka, bukankah mereka ingin menjadi seorang hamba yang terbaik di hadapan Allah l? Jika demikian, mereka harus bersemangat menghafal Al-Qur’an dan saling membantu dengan teman atau saudara mereka untuk menghafal Kitabullah ini, karena seseorang yang menghafal Al-Qur’an, mengajari orang lain membaca Al-Qur’an, dan membantu mereka untuk menghafalnya termasuk mengajarkan Al-Qur’an.
Jika mereka mendapati kesulitan, kita harus mendorong mereka agar tidak berputus asa. Bahkan, kita meyakinkan bahwa mereka tetap mendapatkan kebaikan di sisi Allah l. Kesusahan yang mereka alami ketika membaca dan menghafal Al-Qur’an akan mendapatkan pahala. Ummul Mukminin ‘Aisyah x meriwayatkan bahwa Rasulullah n pernah mengatakan:
الَّذِيْنَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ فِيْهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِيْنَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ شَاقٌّ عَلَيْهِ لَهُ أَجْرَانِ
“Seseorang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir, ia bersama malaikat yang diutus, yang mulia lagi senantiasa berbuat taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.” (HR. al-Bukhari no. 5027 dan Muslim no. 798)
Orang yang mahir membaca Al-Qur’an adalah orang yang bagus dan kokoh bacaannya. Orang seperti ini bersama para malaikat utusan Allahlyang mulia lagi senantiasa berbuat taat. Adapun orang yang terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, yaitu orang yang membaca dengan mengeja dan mengalami kesusahan dalam membacanya, dia akan mendapatkan dua pahala. Pahala yang pertama untuk bacaannya, pahala yang kedua untuk kepayahan dan kesusahannya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 3/161)
Kita ingatkan pula bahwa orang yang menghafal Kitabullah memiliki keutamaan dan kemuliaan di atas orang yang tidak menghafalnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’arizbahwa Rasulullah n pernah bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ: رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ: لاَ رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an itu seperti buah utrujjah, baunya wangi, dan rasanya pun lezat. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma; tidak punya bau namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti minyak wangi’ baunya wangi tetapi rasanya pahit. Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pun pahit.” (HR. al-Bukhari no. 5020 dan Muslim no. 797)
Al-Imam an-Nawawi t menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menghafal Al-Qur’an. (al-Minhaj, 6/83)
Abdullah bin Mas’ud z meriwayatkan pula bahwa Rasulullah n bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ ألم حَرْفٌ، بَلْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, dia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Tidaklah aku mengatakan alif lam mim satu huruf. Bahkan, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910, disahihkan oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Keutamaan lain di akhirat kelak akan didapatkan oleh seorang hamba yang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Diriwayatkan oleh Abu Hurairahzdari Rasulullah n, beliau mengatakan:
يَجِيْءُ صَاحِبُ الْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ. فَيُلْبَسُ تَاجُ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ زِدْهُ. فَيُلْبَسُ حُلَّةُ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ أَرْضَ عَنْهُ، فَيُرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً
“Akan datang pembaca Al-Qur’an nanti pada hari kiamat, lalu dia mengatakan, ‘Wahai Rabbku, berilah perhiasan!’ Dipakaikanlah padanya mahkota kemuliaan. Kemudian dia mengatakan, ‘Wahai Rabbku, tambahilah!’ Lalu dipakaikan padanya pakaian kemuliaan. Kemudian dia mengatakan, ‘Wahai Rabbku, ridhailah!’ Dia pun diridhai. Lalu dikatakan padanya, ‘Bacalah dan naiklah!’ Dan ditambahkan setiap satu ayat satu kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2915, dihasankan oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Sahabat yang lain, Abdullah bin ‘Amr c juga meriwayatkan dari Rasulullah n, beliau bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا
Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an (ketika masuk surga), “Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana dahulu engkau membacanya dengan tartil di dunia, karena kedudukanmu sesuai dengan akhir ayat yang engkau baca.” (HR. at-Tirmidzi no. 2914)
Sementara itu, Umar ibnul Khaththab z mengatakan bahwa Nabi n mengatakan:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah l mengangkat beberapa kaum dengan Kitab ini dan merendahkan yang lain dengannya.” (HR. Muslim no. 817)
Kita juga mengingatkan tentang keadaan mereka. Terkadang ada orang-orang yang mempunyai kebaikan sehingga mereka iri kepadanya. Yang seperti ini terlarang, selain pada orang yang menghafal Al-Qur’an dan orang kaya yang selalu berinfak. Hanya terhadap dua orang ini kita patut merasa iri. Tentang hal ini, Abu Umamah al-Bahilizmengatakan, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
Tidak boleh hasad melainkan kepada dua orang: seseorang yang Allah menganugerahinya Al-Qur’an, dia membacanya siang malam; dan seseorang yang Allah menganugerahinya harta yang dia infakkan siang malam.” (HR. al-Bukhari no. 5025 dan Muslim no. 815)
Hasad itu ada dua macam: hakiki dan majazi. Hasad hakiki adalah mengangankan hilangnya suatu nikmat dari pemiliknya. Ini haram berdasarkan kesepakatan umat serta dalil-dalil yang sahih.
Adapun hasad majazi, maksudnya adalah ghibthah, yaitu mengangankan nikmat serupa yang didapatkan oleh orang lain tanpa mengharap hilangnya nikmat itu dari pemiliknya. Jika urusannya adalah urusan dunia, ghibthah ini diperbolehkan. Jika urusannya adalah ketaatan kepada Allah l, hukumnya mustahab.
Yang dimaksud dalam hadits ini, tidak ada ghibthah yang disenangi selain pada dua orang ini atau yang semakna dengan dua orang ini. (al-Minhaj, 6/96)
Dorongan-dorongan semacam ini tentu mereka butuhkan. Dengan demikian, mereka akan melangkah di atas ilmu. Selanjutnya, akan menyalakan semangat mereka untuk mencintai, mengakrabi, dan menghafal Kitabullah.
Inilah bekal yang kita persiapkan agar mereka menuai kemuliaan hakiki, seperti yang selalu kita harapkan.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Harta Bersama

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Mencari nafkah untuk menghidupi keluarga adalah tugas dan tanggung jawab suami. Inilah salah satu rahasia mengapa derajat lelaki di atas wanita, dengan dijadikannya lelaki sebagai pemimpin, pengayom, penanggung jawab, penjaga, dan pelindung kaum wanita. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an yang mulia:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (para lelaki) telah menafkahkan sebagian harta mereka.” (an-Nisa: 34)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menyatakan, lelaki adalah pemimpin, pembesar, pemutus urusan, dan pendidik bagi wanita ketika ia bengkok/menyimpang karena lelaki lebih baik dan lebih utama daripada wanita. Oleh sebab itu, yang beroleh kenabian hanya lelaki. Di samping itu, lelaki telah membelanjakan dan mengeluarkan hartanya untuk memberi mahar kepada wanita yang dinikahinya, memberi nafkah kepada keluarganya, dan tanggungan-tanggungan lain yang diwajibkan oleh Allah l atas lelaki untuk kepentingan wanita. (Tafsir al-Qur’anil Azhim, 2/209)
Sesuatu yang lumrah dalam budaya masyarakat yang masih lurus, ketika seorang lelaki berposisi sebagai suami dan ayah, anak lelaki, atau saudara lelaki, ia bekerja untuk memberi makan anak dan istrinya berikut orang-orang yang berada di bawah tanggungannya. Sementara itu, wanita sebagai istri, ibu, anak perempuan, atau saudara perempuan tinggal di rumah untuk mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Maka dari itu, suami atau ayah sering disebut sebagai penopang ekonomi keluarga karena lewat dirinyalah umumnya seorang istri beroleh harta yang dikelola untuk kepentingan rumah tangga, kebutuhan bersama, atau keperluan pribadi si istri. Demikian juga, umumnya kebutuhan anak-anak didapatkan dari sang ayah. Karena adanya ketergantungan seorang istri kepada suami dalam hal nafkah inilah, Hindun bintu ‘Utbah x terdorong untuk mengadukan suaminya, Abu Sufyan z, kepada Rasulullah n. Menurutnya, Abu Sufyan menyempitkan nafkah untuk diri dan anaknya sehingga Hindun mengambil harta suaminya secara diam-diam. Hindun mengadu:
إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ، وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِي إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ. فَقَالَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ
“Abu Sufyan adalah seorang yang pelit. Dia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku dan anakku selain apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.”
Rasulullah n menjawab, “Ambillah dari hartanya apa yang dapat mencukupimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf1.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam satu riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari, disebutkan ucapan Hindun:
فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ سِرًّا؟
“Apakah aku berdosa mengambil hartanya dengan sembunyi-sembunyi?”
Apa yang kita sebutkan di atas adalah perkara secara umum, yaitu keuangan keluarga berasal dari “banting tulang peras keringat” suami. Namun, terkadang istri juga punya andil dalam memasok keuangan rumah tangga. Bisa jadi, si istri memiliki penghasilan sendiri yang diperolehnya dengan bekerja/berwirausaha, atau istri termasuk orang yang berharta dari pemberian atau warisan kerabatnya.
Karena si istri punya ‘pegangan sendiri’, ia bisa ikut membelanjakan hartanya untuk kebutuhan rumah suaminya atau rumah yang mereka beli bersama (patungan -Jw.). Mungkin pula ia membeli kendaraan keluarga atau keperluan anak-anak tanpa harus bergantung 100% kepada penghasilan/harta suaminya. Jika seperti ini keadaannya, apakah dibolehkan secara syariat adanya percampuran harta suami istri yang kemudian dianggap harta bersama (Jw: gono-gini)? Bolehkah suami memanfaatkan harta istrinya untuk keperluan rumah tangga mereka?
Masalah inilah yang ingin kami bawakan di sini secara ringkas, menukil keterangan dari ulama kita yang mulia. Ada yang mengajukan pertanyaan kepada Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz t sebagai berikut.
“Saya dan istri saya sama-sama bekerja. Sejak kami menikah, harta kami (penghasilan saya dan istri saya) digabung sebagai harta milik bersama. Saya, sebagai suami, mengurusi penghasilan kami. Setelah dikeluarkan untuk keperluan rumah tangga, kami menyimpan bagian yang tersisa untuk keperluan masa depan keluarga, seperti membangun rumah, membeli mobil, dan lainnya. Apakah harta istri yang terpakai oleh suaminya (guna membiayai kebutuhan keluarga) itu haram bagi suaminya, dalam keadaan si istri menyetujui/rela?”
Samahatusy Syaikh t menjawab, “Jika istri memperkenankan kerja sama (pengumpulan harta bersama) seperti yang disebutkan, dalam keadaan ia adalah wanita yang lurus pikirannya/baik akalnya (rasyidah, tidak lemah akal), tidak menjadi masalah. Hal ini berdasar firman Allah l:

“Berikanlah mahar kepada wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai makanan (sesuatu) yang sedap lagi baik akibatnya.” (an-Nisa: 4)
Adapun jika si istri adalah seorang yang kurang akalnya, tidak cerdas/lurus2, Anda tidak boleh mengambil hartanya sedikit pun. Jagalah harta itu untuknya. Semoga Allah l memberi taufik kepada semuanya menuju perkara yang menyampaikan keridhaan-Nya.”3
Pertanyaan senada juga ditujukan kepada beliau t. “Jika saya menikah dengan seorang wanita yang bekerja sebagai guru, apakah pantas saya mengambil gajinya dengan keridhaannya guna menutupi kebutuhan dan kemaslahatan kami berdua, seperti membangun rumah, misalnya. Saya tidak mencatat pengambilan tersebut, dia pun tidak memintanya. Saya sendiri mempunyai penghasilan bulanan dari pekerjaan saya sebagai pegawai.”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t menjawab, “Tidak ada dosa bagi Anda mengambil gaji istri Anda dengan keridhaannya jika ia seorang wanita yang berpikiran lurus/tidak kurang akal. Demikian pula segala sesuatu yang diserahkannya kepada Anda sebagai bentuk bantuan (atau tolong-menolong) maka tidak ada keberatan bagi Anda untuk mengambilnya jika ia memberikannya dengan senang hati dan ia wanita yang lurus akalnya, berdasar firman Allah l:

“Berikanlah mahar kepada wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai makanan (sesuatu) yang sedap lagi baik akibatnya.” (an-Nisa: 4)
Walaupun hal itu dilakukan tanpa pencatatan, tetapi jika Anda mencatatnya, hal itu lebih hati-hati, terutama jika Anda khawatir tuntutan dari keluarga istri Anda dan karib kerabatnya, atau Anda khawatir ia meminta kembali hartanya yang terpakai. Wabillahi at-taufiq.”4
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1 Kadar harta yang diambil tersebut diketahui telah mencukupi secara kebiasaan. (Fathul Bari, 9/613)

2 Mungkin karena usianya yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi tidak sempurna akalnya.
3 Dimuat dalam surat kabar al-Bilad, no. 15377, 19-04-1419 H, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 20/42—43).
4 Dimuat dalam surat kabar al-Bilad, no. 15376, 18-04-1419 H, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 20/43—44).

Apakah Tupai Halal Dimakan?

Dijawab oleh al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Alhamdulillah.
Istilah tupai dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut semua celurut pohon dan bajing karena keduanya sangat mirip. Tupai/bajing keumumannya berdiam di pohon. Ada juga jenis yang berdiam di tanah. Makanannya adalah buah-buahan dan serangga.12
Hewan kecil ini dijadikan permisalan dalam kepandaian melompat, ekornya panjang dengan bulu yang lebat dan terangkat ke atas.13
Berdasarkan keterangan ini, tupai/bajing tidak tergolong predator (hewan pemangsa hewan lain). Dengan demikian, pendapat yang mengharamkannya dengan alasan tergolong predator dengan gigi taringnya adalah pendapat yang lemah.
Di antara yang menghalalkan tupai/bajing adalah al-Imam asy-Syafi’i t. Pendapat ini juga yang dirajihkan oleh an-Nawawi t.
Ibnu Qudamah t menyatakan ada kemungkinan halal dengan alasan bahwa binatang yang diragukan antara halal dan haramnya maka didominankan sisi kehalalannya, karena hukum asalnya halal dan keumuman nash-nash menuntut demikian.
Jadi, hewan ini halal, insya Allah.14

Catatan Kaki:

12 Lihat Ensiklopedi Indonesia seri Fauna/Mamalia 1.
13 Lihat Ensiklopedi Indonesia seri Fauna/Mamalia 1.
15 Lihat kitab al-Majmu’ (9/13) dan al-Mughni (13/326, terbitan Dar ‘Alam al-Kutub).

Hukum Memakan Daging Katak

(ditulis oleh: Dijawab oleh al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini al-Makassari)

Alhamdulillah. Katak haram menurut pendapat yang rajih (kuat). Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad, yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin dan al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai oleh Ibnu Baz).
Dalilnya adalah hadits ‘Abdurrahman bin ‘Utsman at-Qurasyi z:
أَنَّ طَبِيْبًا سَأَلَ النَّبِيَّ n عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِيْ دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِيُّ n عَنْ قَتْلِهَا.
“Seorang tabib bertanya kepada Nabi n tentang katak untuk dijadikan obat. Nabi n melarang membunuhnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan al-Hakim. Hadits ini disahihkan oleh al-Albani)9
Kata al-Lajnah, “Ini adalah dalil haramnya makan katak. Larangan Nabi n membunuh makhluk hidup tidak lepas dari dua kemungkinan:
– kehormatan makhluk itu seperti manusia; atau,
– keharaman memakannya, seperti katak.
Karena katak bukan makhluk terhormat, maka larangan membunuhnya tertuju kepada faktor haramnya dimakan.”
Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam Fath Dzil Jalali wal Ikram10 “Larangan membunuh suatu jenis binatang mengandung larangan memakannya karena tidak mungkin memakannya melainkan setelah disembelih atau dibunuh.” Ya, seandainya boleh memakannya, tidak mungkin Rasulullah n melarang membunuhnya.
Dengan demikian, tampaklah kelemahan pendapat yang mengatakan bahwa katak halal dengan alasan katak termasuk binatang air. Sebab, memakannya berkonsekuensi membunuhnya, dan ini haram.
Wallahu a’lam.11

Catatan Kaki:

9 Lihat kitab Takhrij al-Misykah (no. 4545) dan Shahih al-Jami’ (no. 6971).

10 Pada syarah hadits Ibnu ‘Abbas tentang larangan membunuh empat binatang.
11 Lihat kitab al-Mughni (2/345—346), Fatawa al-Lajnah (22/322—324), dan Fath Dzil Jalali wal Ikram (syarah hadits ‘Abdurrahman bin ‘Utsman al-Qurasyi).

 

Hukum Memakan Daging Biawak

Alhamdulillah. Biawak dalam bahasa Arab disebut waral. Binatang ini adalah jenis binatang melata, termasuk golongan kadal besar dan sangat dikenal di negeri ini. Hidupnya di tepi sungai dan berdiam dalam lubang di tanah, bisa berenang di air serta memanjat pohon. Binatang ini tergolong hewan pemangsa dengan gigi taringnya yang memangsa ular, ayam, dan lainnya.1 Ada biawak yang lebih besar dan lebih buas, disebut komodo.
Dengan demikian, biawak haram dimakan berdasarkan sabda Nabi n:
كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ
“Seluruh binatang pemangsa dengan gigi taringnya maka haram memakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Terdapat hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta lainnya.
Jangan disangka bahwa biawak (waral) adalah dhab (hewan mirip biawak) yang halal. Dhab dihalalkan oleh Rasulullah n, sebagaimana dalam hadits Khalid bin al-Walid z:
أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللهِ n بَيْتَ مَيْمُونَةَ، فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ، فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ n بِيَدِهِ فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ: أَخْبِرُوا رَسُولَ اللهِ n بِمَا يُرِيدُ أَنْ يَأْكُلَ. فَقَالُوا: هُوَ ضَبٌّ، يَا رَسُولَ اللهِ. فَرَفَعَ يَدَهُ، فَقُلْتُ: أَحَرَامٌ هُوَ، يَا رَسُولَ الله؟ِ فَقَالَ: لاَ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ. قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللهِ n يَنْظُرُ.
“Ia masuk bersama Rasulullah n ke rumah Maimunah, lalu disajikan daging dhab panggang. Nabi n menjulurkan tangannya (untuk mengambilnya). Berkatalah sebagian wanita (yang ada di dalam rumah), ‘Beritahu Rasulullah n apa yang akan dimakannya.’ Mereka lantas berkata, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah daging dhab.’ Nabi n pun menarik kembali tangannya. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah binatang ini haram?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, tetapi binatang ini tidak ada di tanah kaumku sehingga aku merasa jijik padanya’.” Khalid berkata, “Aku pun mencuilnya dan memakannya sementara Rasulullah n memerhatikanku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim serta lainnya)2
Dhab adalah golongan kadal besar yang serupa dengan biawak dan sama-sama berdiam di dalam lubang di tanah. Berikut ini keterangan ahli bahasa Arab tentang dhab sekaligus perbandingannya dengan biawak.
– Binatang ini adalah jenis melata yang tergolong kadal besar3, seperti halnya biawak.
– Bentuknya mirip biawak.4
– Banyak ditemukan di gurun pasir (sahara) Arab.5 Lain halnya dengan biawak yang hidupnya di tepi-tepi sungai.
– Panjang tubuhnya lebih pendek dari biawak.6
– Ekornya bersisik kasar seperti ekor buaya dengan bentuk yang lebar dan maksimal panjangnya hanya sejengkal. Berbeda halnya dengan ekor biawak yang tidak bersisik kasar dan berukuran panjang seperti ekor ular.7
– Makanannya adalah rumput, belalang kecil (dabah), dan jenis belalang lainnya yang disebut jundub (jamaknya janaadib). Adapun biawak adalah predator (hewan pemangsa hewan lain) yang memangsa ular dan lainnya.8
Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

2 Al-Imam Muslim meriwayatkannya dari musnad Ibnu ‘Abbas bahwa dia dan Khalid masuk bersama Rasulullah n …. dst.
Lihat tentang dhab pada kitab Fathul Bari (9/”Kitab adz-Dzaba’ih wash-Shaid Bab adh-Dhabb”), ash-Shahihah (5/505—507), dan Fatawa al-Lajnah (22/311).

3 Lihat al-Mu’jam al-Wasith.
4 Lihat Lisanul ‘Arab, al-Mu’jam al-Wasith, dan Tajul ‘Arus.
5 Lihat al-Mu’jam al-Wasith.
6 Lihat al-Mu’jam al-Wasith.
7 Lihat Lisanul ‘Arab, al-Mu’jam al-Wasith, dan Tajul ‘Arus.
8 Lihat Lisanul ‘Arab.

As-Sami’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

As-Sami’ (السَّمِيعُ) adalah salah satu Asma’ullah al-Husna. Allah l menyebut nama-Nya yang Agung ini dalam beberapa ayat Al-Qur’an semisal dalam firman-Nya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (perkaranya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mujadilah:1)
Rasulullah n juga menyebut nama Rabbnya dalam beberapa haditsnya sebagaimana dalam riwayat berikut.
Dari Abu Musa al-Asy’ari z, ia berkata:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ n فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ n أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ أَوْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.
“Ketika kami safar bersama Rasulullah, jika kami menaiki jalanan menanjak, maka kami mengucapkan takbir.1 Beliau berkata, ‘Wahai manusia kasihilah diri kalian, karena kalian tidak menyeru Dzat yang tuli atau jauh. Akan tetapi, Ia Maha Mendengar dan Maha Melihat.’ Lalu beliau n mendatangiku, sementara aku sedang berucap dalam hatiku, ‘La haula wala Quwwata illa billah.’ Beliau pun berkata, ‘Wahai Abdullah bin Qais (Abu Musa), ucapkan La haula wala quwwata illa billah. Sesungguhnya hal itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga’, atau beliau berkata, ‘Tidakkah kamu mau saya tunjuki salah satu harta kekayaan di surga? (Yakni) la haula wala quwwata illa billah’.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5905)
As-Sa’di t mengatakan bahwa di antara asma’ul husna-Nya adalah as-Sami’, yaitu yang mendengar segala suara dengan berbagai bahasa dan beragam kebutuhan. Yang rahasia bagi-Nya adalah nyata, yang jauh bagi-Nya adalah dekat. (Tafsir Asma’ullah al-Husna)
Pendengaran Allah l ada dua macam:
Pertama: pendengaran-Nya yang umum terhadap seluruh suara yang lahir dan batin, yang tersembunyi dan yang jelas, sehingga Allah l meliputinya seluruhnya secara sempurna.
Kedua: pendengaran yang khusus, yaitu pendengaran beserta ijabah dari-Nya. Pendengaran bagi orang-orang yang berdoa kepada-Nya serta hamba-hamba yang beribadah kepada-Nya. Maka Allah l akan mengijabahi mereka dan memberi mereka pahala seperti dalam firman-Nya:

“Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).” (Ali Imran: 35)
dan firman-Nya melalui lisan Ibrahim q, kekasih-Nya:

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (Ibrahim: 39)
Termasuk dalam hal ini ucapan seorang yang shalat, “Sami’allahu liman hamidah” (yakni Allah l mendengar dan mengijabahi orang yang memuji-Nya). (Tafsir Asma’llahul Husna karya as-Sa’di dan Syarah Nuniyyah karya al-Harras)
Al-Harras t menjelaskan bahwa makna as-Sami’ adalah yang mendengar seluruh suara yang tersembunyi atau yang terang-terangan sehingga tidak ada yang tersembunyi sedikit pun darinya. Bagaimanapun tersembunyinya seluruh suara, bagi pendengaran-Nya jauh dekat sama saja. Pendengaran-Nya mendengar setiap suara, tidak tersamar baginya dan tidak tercampur.
Dalam hadits Abu Hurairah z, ia mengatakan bahwa Nabi n membaca ayat ini:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisa’:58)
Lalu beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Melihat, lalu beliau meletakkan ibu jarinya pada telinganya dan jari telunjuknya pada matanya.” (Sahih, HR. Abu Dawud, “Kitab as-Sunnah Bab fil Jahmiyyah”. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Makna hadits ini adalah Allah l mendengar dengan pendengaran dan melihat dengan mata. Hadits ini menjadi bantahan terhadap aliran Mu’tazilah dan sebagian aliran Asy’ariyyah yang meyakini bahwa pendengaran Allah l artinya pengetahuan Allah l terhadap sesuatu yang terdengar, sedangkan penglihatan Allah l artinya pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat dilihat. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan penafsiran yang salah. Karena masing-masing dari pendengaran dan penglihatan adalah makna yang lebih dari sekadar pengetahuan. Bisa jadi ada pengetahuan tanpa penglihatan dan pendengaran. Seorang yang buta mengetahui adanya langit, sementara itu ia tidak melihatnya. Demikian pula orang tuli mengetahui adanya suara, sementara itu ia tidak mendengarnya. Lebih aneh lagi pendapat kelompok Asy’ariyah yang berpandangan bahwa setiap pendengaran dan penglihatan terkait dengan semua yang ada. Bagaimana bisa dikatakan bahwa pendengaran terkait dengan sesuatu yang tidak didengar seperti orang atau warna? Bagaimana pula penglihatan terkait dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat semacam suara-suara yang terdengar oleh telinga? (Syarah Nuniyyah)
Dengan demikian, kita harus mengimani nama Allah l, as-Sami’ yang berarti Maha Mendengar serta sifat pendengaran Allah Mahaluas. Tidak ada suara apa pun dan di mana pun kecuali Allah l mendengarnya dengan jelas. Makna ini harus benar-benar kita sadari sebagaimana Aisyah x, istri Nabi n dan ibu kaum mukminin, sangat merasakan makna tersebut. Perhatikan penuturannya terkait dengan kisah seorang wanita yang mengadukan suaminya kepada Rasulullah n, Khaulah bintu Tsa’labah x mengadukan kejelekan akhlak suaminya yang sampai mengharamkan istrinya terhadap dirinya sehingga Allah l menurunkan ayat:

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (perkaranya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mujadalah: 1)
Aisyah x bertutur:
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى النَّبِىِّ n تُكَلِّمُهُ وَأَنَا فِى نَاحِيَةِ الْبَيْتِ مَا أَسْمَعُ مَا تَقُولُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ () إِلَى آخِرِ الْآيَةِ.
“Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala suara. Sungguh telah datang wanita kepada Nabi mengeluhkan dan berbicara dengannya, sedangkan saya (saat itu) di salah satu sisi rumah. Saya tidak mendengar apa yang dia ucapkan. Lalu Allah turunkan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan tentang suaminya.’ (al-Mujadilah: 1)” (HR. al-Bukhari secara mu’allaq [tanpa menyebutkan sanadnya dari awal] dan Ahmad)

Buah Mengimani Nama Allah l, as-Sami’
Dengan mengimani nama Allah l, as-Sami’, kita semakin mengenal keagungan Allah k yang Mahasempurna sifat-Nya. Pada saat yang sama, kita sangat mengetahui kelemahan pendengaran kita yang terbatas dan mengetahui kelemahan sesembahan selain Allah l yang tidak mampu mendengar. Oleh karena itu, sesembahan selain Allah l dilarang diibadahi seperti nasihat Nabi Ibrahim q kepada ayahnya:

Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?” (Maryam: 42)
Allah l juga berfirman:

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Rabbmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari biji kurma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu. Kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13—14)
Sia-sialah mereka yang berdoa kepada selain Allah l dan takkan sia-sia orang yang berdoa kepada Allah l. Ia Maha Mendengar terhadap doa yang kita mohonkan, pengaduan yang kita panjatkan, dan ucapan yang kita bisikkan.
Dengan iman ini pula, seharusnya membuat kita berhati-hati dalam bertutur kata dan menjauhi segala ucapan yang tidak Allah l ridhai, karena Allah l senantiasa mendengarnya.
Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

1 Dalam sebagian lafadz, “Sampai kami keraskan suara kami.” (HR. al-Bukhari no. 2770)