Masuk Islamnya Hamzah dan ‘Umar

Saat Hamzah dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma masuk Islam, posisi kaum muslimin di Makkah bertambah kuat. Namun upaya kaum musyrikin untuk menghentikan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kendor. Melalui paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kaum musyrikin meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan dakwahnya. Namun upaya ini pun gagal. Akibatnya, penindasan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi.

Lanjutkan membaca Masuk Islamnya Hamzah dan ‘Umar

Adakah Bid’ah Hasanah?

Banyak alasan yang dipakai orang-orang untuk ‘melegalkan’ perbuatan bid’ah. Salah satunya, tidak semua bid’ah itu jelek. Menurut mereka, bid’ah ada pula yang baik (hasanah). Mereka pun memiliki “dalil” untuk mendukung pendapatnya tersebut. Bagaimana kita menyikapinya?

Lanjutkan membaca Adakah Bid’ah Hasanah?

Keburukan Bid’ah

Al-Imam asy-Syathibi rahimahullah mengatakan bahwa tidak diragukan lagi (bagi kita) bahwa bid’ah itu dari keadaannya yang demikian adalah sesuatu yang tercela. Hal ini dapat diterangkan berdasarkan pandangan teoritis ataupun dari dalil-dalil yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lanjutkan membaca Keburukan Bid’ah

Agama ini Telah Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan agama Islam dalam keadaan telah sempurna. Ia tidak membutuhkan penambahan ataupun pengurangan. Namun toh, banyak manusia menciptakan amalan-amalan baru yang disandarkan pada agama hanya karena kebanyakan dari mereka menganggap baik perbuatan tersebut. Lanjutkan membaca Agama ini Telah Sempurna

Al-Hizbiyah

Tak bisa dimungkiri, kondisi umat Islam saat ini telah berpecah menjadi sejumlah kelompok. Tiap-tiap kelompok memiliki aturan dan jalan sendiri-sendiri. Masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada di kelompoknya dan tentu merasa benar dengan aturan-aturan yang dibuat kelompoknya. Satu keniscayaan yang pasti ada di tiap kelompok adalah adanya ‘belenggu-belenggu’ yang dipakai untuk menjerat anggotanya agar tidak lari.

Lanjutkan membaca Al-Hizbiyah

Doa Makan

إِذَا أَكَلَ أَحُدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ؛
فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فيِ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

“Jika salah seorang dari kalian makan maka ucapkanlah ‘Bismillah’. Jika ia lupa di awal maka ucapkanlah, ‘Bismillah fi awwalihi wa akhiri’.” (Sahih, HR. Abu Dawud 3/347, at-Tirmidzi 4/288, lihat Shahih at-Tirmidzi karya asy-Syaikh al-Albani 2/167)

Keterangan
Hadits ini dan yang sejenisnya menunjukkan disyariatkannya mengucapkan bismillah ketika hendak makan dan jika lupa mengucapkan seperti yang disebutkan dalam teks hadits di atas. Demikian pula bila tidak mengucapkan dengan sengaja disyariatkan mengucapkannya di saat makan.
Dalam kitab Nailul Authar disebutkan bahwa mengucapkan bismillah hukumnya wajib karena hadits-hadits yang memerintahkannya tidak ada yang menyelisihi dan berlawanan dengannya, serta orang yang meninggalkannya (tidak mengucapkan bismillah) berarti ia makan dan minum bergabung bersama-sama setan. (Nailul Authar, 9/42)
Dalam kitab Subulus Salam disebutkan bahwa sebaiknya setiap orang yang mau makan hendaknya mengucapkan bismillah. Seandainya ada salah seorang telah mengucapkannya (bila makan berjamaah) maka cukup bagi yang lainnya. Dalam hadits yang sebelumnya disebutkan perintah makan dengan tangan kanan sebagai dalil wajibnya makan dengan tangan kanan untuk menyelisihi setan yang makan dan minum dengan tangan kiri, dan perbuatan setan diharamkan bagi manusia untuk menirunya. (Subulus Salam, 3/159)
Tidak disunnahkan membaca bismillah setiap kali menyuap makanan.
Sesuai dengan teks hadits, disunnahkan untuk membaca bismillah saja, tidak bismillahirrahmanirrahim karena tidak ada dalil yang menjelaskannya. (Bahjatun Nazhirin, 2/50)