Akhlak Iblis

Setiap orang bercita-cita untuk mendapatkan yang terbaik dan yang paling membahagiakan, mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Akan tetapi sedikit dari mereka yang mengetahui jalannya. Seorang pencuri, pezina, dan pemabuk bisa mengatakan dirinya yang paling bahagia dan tenteram, serta mengklaim orang lain yang menjaga dirinya dari bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai seorang yang sok suci dan bersih, mengklaimnya sebagai seorang yang kolot dan kuno. Demikianlah hawa nafsu apabila telah mencapai apa yang diinginkan. Rintangan demi rintangan bukan sebagai badai yang mengempas bahtera nafsunya. Zikir dan peringatan serta nasihat bukan lagi sebagai pengetuk gendang telinga dan mata hatinya. Lanjutkan membaca Akhlak Iblis

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim

Dalam berdakwah menghadapi kaumnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam banyak melakukan dialog yang penuh dengan hikmah dan hujjah, yang bila hati seseorang masih bersih niscaya akan menerima dakwah beliau. Namun mereka tetap pada kekafirannya, termasuk ayah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sendiri.

Lanjutkan membaca Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim

Prinsip Yang Tak Pernah Sirna; bagian 2

بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam itu dibangun di atas lima (tiang ataupun rukun): (yaitu) syahadat laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala) serta Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, serta puasa Ramadhan.”

Shalat

Shalat secara bahasa maknanya adalah doa. Adapun ditinjau dari pandangan syariat, shalat adalah suatu peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu, diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, dan disertai dengan niat. (asy-Syarhul Mumti’ 2/5, Taisirul ‘Allam 1/109)

Serambi-Masjid-Kraton-Kartasura

Kewajiban shalat ini demikian jelasnya ditunjukkan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Dalam hadits di atas disebutkan bahwasanya shalat merupakan asas bangunan Islam sebagaimana ia juga merupakan tiang agama. Seperti disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang mulia:

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ

“Pokok dari perkara ini adalah Islam dan tiangnya adalah shalat…” (HR. Ahmad, 5/231, 237 dan selainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz[1])

Oleh karenanya, apabila roboh tiang ini maka bangunan Islam tidak akan bisa berdiri tegak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perintah shalat langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala saat beliau di-mi’raj-kan ke langit sebelum hijrah ke Madinah. (Fathul Bari, 1/576, Syarah Shahih Muslim, 2/210)

Siapa yang menunaikan amalan agung ini sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disertai kekhusyukan hati dan anggota badannya, niscaya akan mendapatkan keberuntungan yang dijanjikan dalam ayat Allah subhanahu wa ta’ala:

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

“Sungguh beruntunglah orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya.” (al-Mu’minun: 1—2)

Sampai pada firman-Nya:

أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١

“Mereka itulah orang-orang yang mewarisi, yaitu orang-orang yang berhak untuk menempati surga Firdaus dan mereka kekal di dalamnya.” (al-Mu’minun: 10—11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ، وَصَلاَّهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ، وَأَتَمَّ رُكُوْعَهُنَّ وَسُجُوْدَهُنَّ وَخُشُوْعَهُنَّ، كَانَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

“Shalat lima waktu diwajibkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Siapa yang membaguskan wudhunya guna melaksanakan shalat yang lima ini dan melaksanakannya pada waktunya, dia sempurnakan ruku’, sujud, dan khusyuknya, maka orang yang seperti ini akan mendapatkan janji dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan ampunan-Nya. Namun siapa yang tidak melaksanakan seperti ketentuan tersebut, dia tidak mendapatkan janji dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bila Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya dan bila Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengazabnya.” (HR. Abu Dawud no. 361, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam mukadimah Shifat Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 36)

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Tidak ada satu ibadah pun dari ibadah-ibadah yang ada setelah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang Allah subhanahu wa ta’ala namakan dengan istilah iman[2] dan dinamakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang meninggalkannya dengan kufur[3] selain ibadah shalat.” (Mukhtashar Syu’abil Iman, hlm. 52)

Zakat

Secara etimologis, makna zakat adalah tumbuh berkembang dan penyucian. Makna zakat secara bahasa ini juga menjadi makna secara syar‘i, karena mengeluarkan zakat merupakan sebab berkembangnya (bertambahnya) harta, menyucikan jiwa dari kerendahan sifat bakhil, dan membersihkan diri dari dosa (Fathul Bari, 3/319).

Dinar

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

“Ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan diri mereka dan menyucikan mereka dengan zakat tersebut.” (at-Taubah: 103)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tujuan dikeluarkannya zakat antara lain untuk membersihkan dan menyucikan jiwa pemilik harta dari sifat bakhil, sekaligus membersihkan harta yang dimiliki dari kotoran yang menodainya. Ketika ada seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu apabila seseorang menunaikan zakat dari hartanya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

مَنْ أَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدْ ذَهَبَ عَنْهُ شَرُّهُ

“Siapa yang menunaikan zakat dari hartanya maka sungguh telah hilang kejelekan harta tersebut.” (HR. ath-Thabarani dan Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam at-Targhib, no. 743)

Selain itu, zakat akan mengokohkan rasa cinta dan kasih sayang antara orang kaya dengan fakir miskin. Karena jiwa ini memiliki kecenderungan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. (Risalatani Mujazatani fiz Zakat wash Shiyam, asy-Syaikh Ibnu Baz, hlm. 6)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu untuk berdakwah di negeri Yaman, beliau berpesan kepadanya, “Engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahlul kitab (Yahudi). Maka bila engkau telah tiba di tempat mereka, awal pertama yang engkau dakwahkan adalah agar mereka mau bersaksi Laa Ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah. Bila mereka menaatimu (mau mengikutimu) dalam perkara ini, beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap malam dan siang hari. Bila mereka menaatimu dalam perkara ini, kabarkanlah bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan zakat kepada mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada fakir miskin mereka….” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1395, 1496, 4347 dan Muslim no. 19)

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kita semua untuk mengeluarkan zakat, bahkan diwajibkan. Namun tentunya zakat ini dikeluarkan oleh seorang muslim yang mampu dan memiliki harta yang mencukupi kadar yang telah ditentukan dikeluarkannya zakat baik berupa hasil bumi, hewan peliharaan, maupun emas dan perak, serta genap setahun dalam pemilikan.

Haji ke Baitullah

Haji adalah bersengaja menuju ke Baitullah untuk mengerjakan amalan-amalan yang khusus/tertentu. (Fathul Bari, 3/461)

kabah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ

“Wajib bagi manusia untuk menunaikan haji karena Allah bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk menempuh jalan ke sana.” (Ali ‘Imran: 97)

Haji ini hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang mukallaf (baligh dan berakal) dan dia seorang yang merdeka (bukan budak) serta memiliki kemampuan (Syarah Shahih Muslim, 8/72). Kewajiban ini harus segera ditunaikan tanpa ditunda oleh seorang hamba yang memiliki kemampuan. Ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti al-Imam Ahmad, murid-murid Abu Hanifah, al-Muzani, dan pendapat yang kuat dari al-Imam Malik. (Nailul Authar, 4/362, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, 17/24)

Yang dimaksud mampu di sini adalah memiliki bekal, kendaraan untuk pulang pergi (kalaupun tidak memiliki kendaraan namun ia mampu dan memungkinkan untuk berjalan kaki karena jaraknya yang dekat, maka dia termasuk kategori orang yang mampu), adanya jaminan bagi orang yang ditinggalkan (yang berada di bawah tanggungan/tanggung jawabnya), dan aman jiwa beserta hartanya dalam perjalanan. (Thariqul Wushul, hlm. 154, 167—168)

Kita tahu bahwa masalah kemampuan ini merupakan syarat dalam seluruh ibadah, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)

Lalu mengapa dikhususkan penyebutannya dalam permasalahan haji?
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Dalam hal ini dikhususkan haji karena umumnya dalam pelaksanaan haji itu adalah kesulitan dan kepayahan serta ketidakmampuan.” (kaset Durus al-Arba’in an-Nawawiyyah, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Adapun keutamaan haji disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Umrah yang satu ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa antara keduanya, sedangkan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga.” (HR. al-Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Makna haji mabrur yang benar dan masyhur adalah haji yang dilakukan tidak bercampur dengan dosa.”

Beliau melanjutkan, “Adapun makna لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ (tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga) maksudnya balasan bagi yang mengerjakan haji mabrur, tidak dibatasi dengan pengampunan sebagian dosanya, bahkan pasti ia akan masuk surga. Wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 9/119)

Puasa Ramadhan

Puasa secara bahasa adalah menahan diri. Sedangkan dalam pandangan syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, jima’, dan selainnya pada siang hari menurut cara yang disyariatkan. Konsekuensi dari menahan diri tersebut adalah juga menahan diri dari perkara laghwi (sia-sia), dari perkataan keji, serta ucapan yang diharamkan dan dibenci selain keduanya. (Subulus Salam, 2/239)

Ramadhan

Sementara perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan jima’, tidaklah membatalkan puasa seseorang kecuali bila terkumpul padanya tiga syarat:

  1. Orang itu mengetahui bahwa perkara tersebut merupakan pembatal puasa
  2. Dia ingat ketika melakukannya (tidak dalam keadaan lupa)
  3. Dia berkeinginan sendiri ketika melakukannya bukan karena dipaksa… (kaset Durus al-Arba’in an-Nawawiyyah, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Tidak kita ragukan lagi bahwasanya puasa ini merupakan satu kewajiban agama, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan terhadap orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian mau bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Dari ayat di atas dapat diambil beberapa faedah, di antaranya:

Pertama: Kedudukan puasa sangatlah penting yang Allah ‘azza wa jalla juga mewajibkannya kepada umat sebelum kita dan ini menunjukkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap amalan ini.

Kedua: Keringanan terhadap umat ini yang kewajiban puasa tidak hanya dibebankan kepada mereka tetapi juga terhadap umat sebelum mereka.

Ketiga: Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan bahwasanya Dia memberikan kesempurnaan kepada umat ini dalam perkara agama mereka karena Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan bagi mereka keutamaan-keutamaan yang pernah dimiliki oleh umat sebelum mereka.

Keempat: Hikmah puasa mengantarkan pelakunya untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarhu Tsalatsatil Ushul, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 74)

Banyak sekali yang kita dapatkan dari keutamaan puasa ini. Di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1901)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Allah berfirman, ‘Seluruh amalan anak Adam untuknya kecuali puasa, maka dia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah tameng. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berucap keras (tanpa keperluan). Jika ada seseorang mencelanya atau memeranginya, hendaklah ia mengatakan, ‘Aku sedang puasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misik. Bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: apabila berbuka ia bergembira dan apabila bertemu kelak dengan Tuhannya dia bergembira dengan puasanya (ketika di dunia).” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Dalam riwayat al-Bukhari (no. 1894) disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, sedangkan satu kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat.”

Pilar SZM

Faedah Hadits

  1. Islam diibaratkan sebuah bangunan yang tidak akan tegak tanpa tiang-tiangnya.
  2. Syahadatain, shalat, zakat, puasa, dan haji merupakan pilar-pilar Islam, adapun kewajiban lain merupakan penyempurna bangunan Islam.
  3. Cabang-cabang iman itu banyak, dalam hadits ini hanya dibatasi lima perkara karena kelima perkara ini merupakan pokok, asas, dan fondasi bangunan Islam.
  4. Islam itu adalah akidah/keyakinan dan amalan. Maka tidak bermanfaat amal tanpa iman sebagaimana tidak ada wujudnya iman tanpa amal.
  5. Tidaklah dimaksudkan dari ibadah dalam Islam sekadar model dan bentuknya saja namun yang dimaksudkan adalah tujuannya dan maknanya disertai pengamalannya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari


[1] Sebagaimana dalam ta’liq Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 83.

[2] Yang dimaksud al-Baihaqi adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ

“Dan Allah tidaklah menyia-nyiakan keimanan kalian.” (al-Baqarah: 143)

Yang dimaksud dengan “keimanan kalian” dalam ayat di atas adalah shalat kalian. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/197)

[3] Yaitu hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim (no. 82) :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran, adalah meninggalkan shalat.”

Hasad Sumber Kesesatan

وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتَٰبٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٞ لِّمَا مَعَهُمۡ وَكَانُواْ مِن قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٨٩

“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa-apa yang ada pada mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allahlah atas orang-orang yang ingkar tersebut.” (al-Baqarah: 89)

Lanjutkan membaca Hasad Sumber Kesesatan

Tata Cara Wudhu Rasulullah (bagian 2)

Dalam edisi yang lalu, telah dipaparkan tata cara wudhu yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dari niat hingga pembahasan madhmadhah, istinsyaq, dan istintsar. Dalam edisi ini, kita masih melanjutkan pembahasan yang lalu, yang dimulai dari mencuci wajah.

Lanjutkan membaca Tata Cara Wudhu Rasulullah (bagian 2)

Bahaya Laten Penyimpangan Akidah

Bagi seorang muslim, keharusan memiliki akidah yang benar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Baginya, kedudukan akidah yang benar seperti kepala bagi jasad. Di atas akidah yang benar inilah akan dibangun segala amal perbuatannya, yang nantinya akan menentukan bermanfaat atau tidaknya amalan tersebut di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Lanjutkan membaca Bahaya Laten Penyimpangan Akidah

Kisah Bai’at Aqobah

Beberapa orang suku Khazraj dari Madinah ketika melakukan ibadah haji akhirnya bersedia menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya, mereka telah mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa akan datang seorang nabi. Ketika nabi itu benar-benar datang, mereka pun beriman kepadanya, sementara orang-orang Yahudi malah mengkufurinya.

Lanjutkan membaca Kisah Bai’at Aqobah

Cara Menasehati Penguasa

Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah dalam menyikapi kesalahan-kesalahan penguasa kita harus selalu sabar, diam, dan menerima sepenuhnya apa yang dilakukan penguasa? Lantas bagaimana dengan anjuran untuk melakukan ingkarul mungkar dan memberikan nasihat kepada penguasa, yang notabene keduanya adalah bagian dari prinsip-prinsip Islam yang tidak mungkin ditinggalkan? Lanjutkan membaca Cara Menasehati Penguasa

Pemberontakan Tidak Akan Membawa Dampak Positif

Hadits-hadits yang telah dijelaskan sebelumnya mengingatkan kaum muslimin, jika mengharapkan munculnya penguasa yang baik dan saleh, maka harus menjadi rakyat yang baik dan saleh. Jalanilah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan, ikutilah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sunnahkan, sebarkanlah ilmu, dan anjurkanlah agar manusia beramal dengannya, baik mereka sebagai penguasa maupun sebagai rakyat jelata. Niscaya dengan ini, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan apa yang kita harapkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa urusannya sangat dekat.

Emosi dan pemberontakan hanya akan melahirkan dampak negatif. Selain itu, pemberontakan hanya akan menghasilkan kekacauan, penjarahan, dan pertumpahan darah. Bahkan yang diperintahkan kepada kaum muslimin adalah bersabar atas kezaliman penguasa dan menghadapi gangguan mereka dengan tabah. Karena yang demikian dapat mencegah timbulnya kerusakan yang lebih besar baik kerusakan pada agama maupun kerusakan materi, yang terjadi akibat ketidaksabaran dan pemberontakan.

Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi rahimahullah berkata, “Adapun keharusan taat kepada mereka walaupun jahat adalah karena dengan memberontak kepada mereka (justru) akan mengakibatkan kerusakan yang berlipat ganda lebih daripada kejahatan mereka. Sungguh dalam kesabaran (terhadap kejahatan mereka), ada penghapusan terhadap dosa-dosa dan pahala yang berlipat-lipat, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menguasakan mereka (yang jahat, pen.) atas kita karena amalan-amalan kita yang jelek. Sedangkan suatu balasan adalah sesuai dengan bentuk amalannya. Maka wajib atas kita untuk bersungguh-sungguh dalam meminta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bertaubat serta memperbaiki amalan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ ٣٠

“Dan tidaklah menimpa kalian suatu musibah kecuali disebabkan perbuatan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (yang lainnya).” (asy-Syura: 30)

Abu Bakr al-Marwadzi rahimahullah berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (al-Imam Ahmad rahimahullah) memerintahkan untuk menahan/mencegah tertumpahnya darah dan mengingkari pemberontakan dengan pengingkaran yang keras.” (Riwayat al-Khallal dalam as-Sunnah dengan sanad yang sahih, hlm. 131, cet. Darur Rayyah ar-Riyadh)

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed