Ritual Munkar Seputar Kehamilan dan Kelahiran

Selamatnya kandungan dan sehatnya bayi yang dilahirkan adalah dambaan setiap orang yang ingin memiliki keturunan. Untuk mewujudkan harapan tersebut, umumnya manusia menempuh beragam cara, dari upaya-upaya medis (bahkan) hingga mistis. Seorang muslim yang taat beragama tidak mau asal-asalan melakukan sebuah upaya karena sikap, keyakinan, dan perbuatannya akan selalu ia cocokkan dengan nilai-nilai agamanya yang luhur dan yang selaras dengan akal sehat.

 

Ritual Mungkar Seputar Kehamilan

Sesuatu dikatakan mungkar apabila dihukumi tidak baik, tidak boleh, atau dinyatakan keharamannya oleh syariat, meskipun menurut pandangan sebagian orang itu baik dan sah-sah saja.

Di setiap daerah atau suku biasanya ada ritual-ritual khusus terkait kehamilan yang sulit bagi kita untuk menyebutkan jumlahnya, karena saking banyaknya.

Bagi sebagian orang, ritual-ritual tersebut menjadi budaya leluhur yang harus dilestarikan. Orang yang tidak mau melakukannya akan dicibir di tengah-tengah keluarga dan masyarakat, bahkan bisa jadi akan mendapatkan teror. Bagi mereka, ritual-ritual warisan leluhur adalah menu wajib yang terkadang lebih wajib daripada shalat berjamaah, bahkan shalat lima waktu.

Yang amat disayangkan, masih ada sebagian kaum muslimin yang ikut-ikutan menghidupkan ritual-ritual tersebut. Padahal tidak sedikit dari ritual-ritual itu yang hanya mitos tanpa bukti nyata dan sebagiannya diadopsi dari budaya non-Islam.

Di antara bentuk ritual tersebut adalah adat mitoni (adat Jawa). Upacara mitoni ini dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandungnya senantiasa memperoleh keselamatan.

Upacara-upacara yang dilakukan dalam masa kehamilan yaitu siraman, memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lilitan benang/janur, memecah periuk dan gayung, dan seterusnya. Upacara ini tidak bisa dilangsungkan di sembarang hari dan tempat. Di antara maksud ritual ini adalah agar sang ibu kelak diberi kemudahan ketika melahirkan.

Ritual mitoni ini tidak hanya dilakukan oleh wanita yang baru pertama kali mengandung. Cara-caranya terkadang berbeda antara satu tempat dan tempat yang lain. Bagi seorang muslim, ritual tersebut dan semisalnya, sangat sulit diterima oleh akal yang sehat, lebih-lebih apabila dilihat dari kacamata agama.

Apabila ada yang mengatakan bahwa ritual tersebut hanya sebuah ikhtiar/ usaha, kita jawab bahwa suatu usaha akan dibenarkan apabila memang menjadi sebab tercapainya tujuan dan tidak bertentangan dengan agama.

Pernyataan bahwa upacara seperti ini adalah ikhtiar, berarti mengaitkan sesuatu dengan hal yang tidak menjadi sebab terjadinya. Selain itu, tindakan ini mengandung bentuk ketergantungan kepada selain Allah ‘azza wa jalla yang akan menodai akidah seorang.

Bisa jadi, ada yang mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah tradisi leluhur yang menunjukkan kepada kita bahwa negeri ini kaya akan budaya dan peradaban. Kita katakan, benar bahwa hukum asal adat kebiasaan manusia yang biasa mereka lakukan di tengah masyarakat adalah boleh (mubah) selama tidak berseberangan dengan kaidah-kaidah agama. Adapun dalam upacara ini, tidak demikian keadaannya.

Karena itu, mengapa kita tidak mengubah tradisi yang keliru, yang mengandung bentuk penyia-nyiaan waktu, harta, tenaga, dan justru mencederai akidah; dengan upaya-upaya yang sesuai dengan syariat, semisal memohon kemudahan dan kebaikan kepada Allah ‘azza wa jalla serta upaya-upaya lain yang dibenarkan secara medis dan nalar yang sehat.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (al-Baqarah: 186)

Ada pula tradisi neloni atau ngupati (ngapati), yaitu tradisi membuat makanan tertentu untuk disedekahkan kepada para tetangga ketika kandungan menginjak usia tiga atau empat bulan dengan tujuan yang tidak jauh dari yang disebut di atas.

Amal sedekah memang salah satu sebab yang bisa menjaga seorang dari kejelekan dengan seizin Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, yang jadi masalah, mengapa jenis makanan yang disedekahkan harus ditentukan, misalnya nasi ketan yang dibungkus, buah pekarangan, jenis umbiumbian, labu/waluh, dan lainnya? Lagi pula, mengapa harus dilakukan pada usia kehamilan tertentu?

Ada pula yang ketika hamil membaca surat tertentu al-Qur’an, seperti surat Yusuf dan surat Maryam agar ketika lahir kelak menjadi anak saleh atau salihah, ganteng atau cantik, dan semisalnya.

Sebatas yang kami ketahui, hal ini tidak datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sehingga termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa membuat-buat perkara baru dalam agama kami yang tidak ada padanya, ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seandainya orang yang hamil membaca al-Qur’an kemudian berdoa semisal, “Ya Allah, dengan bacaan al-Qur’an ini, mudahkanlah aku saat melahirkan, atau jadikanlah anakku anak yang saleh,” yang seperti ini adalah tawassul yang dibolehkan.

Di antara perkara mungkar yang acap dilakukan/diyakini oleh sebagian orang, orang hamil tidak boleh duduk di tengah pintu, tidak boleh makan dengan piring nasi diletakkan di atas telapak tangan, dan tidak boleh membunuh binatang. Demikian pula suaminya memiliki pantangan-pantangan tertentu. Apabila dicermati, semua itu hanyalah takhayul.

Ada pula yang sampai pada tingkat kesyirikan, seperti membuat rajah-rajah agar mudah melahirkan. Rajah-rajah ini semacam jimat yang nasib seseorang digantungkan kepadanya. Pada rajahrajah itu ada huruf/kalimat-kalimat serta angka-angka yang tidak dipahami.

Di antara hal lain yang termasuk kesyirikan ialah orang hamil mendatangi kuburan tertentu lalu meminta keselamatan dan kemudahan kepada orang yang dikubur di dalamnya.

Kemungkaran di Hari Kelahiran

Di antara kemungkaran di hari melahirkan adalah perawat/bidan lelaki menangani proses kelahiran padahal ada bidan perempuan.

Demikian pula keyakinan sebagian orang bahwa apabila bayi laki-laki terlahir saat bulan purnama, kuncup kemaluannya akan melebar hingga seperti sudah terkhitan. (Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah hlm. 139)

 

Ritual Setelah Kelahiran

Seperti yang sudah disebutkan bahwa setiap daerah atau suku memiliki budaya dan ritual yang berbeda-beda yang tidak mungkin sebagian besarnya ditampilkan di sini.

Di antara tradisi yang mungkar adalah upacara mendhem (mengubur) ari-ari atau plasenta. Dalam praktiknya, upacara adat ini terkadang berbeda-beda caranya. Ada yang dengan cara plasenta dicuci lalu dimasukkan ke dalam periuk/kendi yang terbuat dari tanah. Ada beberapa barang yang ikut dimasukkan ke dalam kendi sebagai persyaratan, semisal minyak wangi, jarum, beras merah, kunyit, garam, pensil, buku, bawang merah, dan lainlain. Setelah itu, plasenta dikuburkan di samping rumah dan diberi lampu.

Ada yang melabuh plasenta di sungai atau melarungnya (dihanyutkan) di laut. Mereka berharap supaya bayinya pintar, banyak rezeki, jalannya terang, apabila bepergian tahan lama, suka merantau, dan semisalnya.

Sebagian orang meyakini bahwa plasenta adalah saudara kembar bayi yang harus dirawat.

Ritual-ritual di atas tentu bukan dari Islam. Seandainya pun ari-ari harus di kubur, mengapa harus ada ritual-ritual seperti itu?! Lebih parah lagi ketika ritual tersebut diiringi zikir-zikir dan lantunan ayat suci, karena termasuk kebid’ahan.

 

Kaidah untuk Mengenal Bid’ah

Sesungguhnya, kebid’ahan yang telah ditegaskan oleh syariat tentang kesesatannya adalah:

  1. Semua ucapan, perbuatan, atau keyakinan yang menyelisihi sunnah walaupun sumbernya adalah ijtihad.
  2. Setiap perkara yang dijadikan bentuk pendekatan kepada Allah ‘azza wa jalla padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya.
  3. Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan kecuali dengan adanya nash atau penjelasan dari syariat, padahal tidak ada, maka itu adalah bid’ah.

Berbeda halnya jika sebuah amalan ada sumbernya dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dilakukan oleh sahabat tersebut secara berulang-ulang tanpa ada pengingkaran.

  1. Segala adat-istiadat orang kafir yang dimasukkan ke dalam ritual ibadah.
  2. Penegasan sebagian ulama, lebih-lebih ulama belakangan, tentang sunnahnya (sesuatu) padahal tidak ada dalilnya.
  3. Semua bentuk ibadah yang tidak disebutkan tata caranya kecuali oleh hadits dhaif (lemah) atau maudhu’ (palsu).
  4. Berlebih-lebihan dalam ibadah.
  5. Semua ibadah yang tidak diberi batasan oleh syariat lantas manusia memberikan batasan-batasan (persyaratan-persyaratan) seperti tempat, waktu, bentuk, dan jumlah tertentu. (Ahkamul Janaiz hlm. 306)

Penutup

Sebagai penutup, kami akan menyebutkan hukum membatasi keturunan.

Sesungguhnya nash-nash (dalildalil) syariat dari al-Qur’an dan Sunnah, demikian pula ijma’ dan qiyas telah menetapkan bahwasanya tidak boleh secara mutlak membatasi keturunan dan tidak boleh mencegah kehamilan apabila alasannya takut fakir (miskin). Sebab, Allah ‘azza wa jalla adalah Dzat Pemberi Rezeki lagi Mahakuat. Membatasi kehamilan bertentangan dari tujuan syariat (yaitu perintah) memperbanyak umat Islam.

Adapun melakukan upaya pencegahan kehamilan yang bersifat sementara dalam kondisi personal karena adanya mudarat yang nyata, seperti seorang wanita tidak bisa melahirkan secara normal dan perlu operasi cesar untuk mengeluarkan janinnya, atau wanita tesebut mudah hamil sementara kehamilan menjadikannya sangat letih (repot) sehingga ia ingin mengatur kehamilannya, umpamanya setiap dua tahun dan semisalnya; maka yang seperti ini dibolehkan, dengan syarat mendapat izin dari suami dan tidak berisiko bagi wanita tersebut.

Dalilnya, para sahabat dahulu melakukan ‘azl (mengeluarkan sperma di luar kemaluan istri) di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar istri-istri mereka tidak hamil, dan mereka tidak dilarang dari hal tersebut.

Bisa jadi, mencegah kehamilan menjadi sesuatu yang harus dilakukan, yakni ketika ada mudarat yang jelas (baginya). (Al-Fiqhu wa Ushuluhu lish Shaffi ats-Tsalits ats-Tsanawi hlm. 62. Lihat juga ketetapan Hai’ah Kibar ‘Ulama no. 42 pada tanggal 13/4/1396 H)

Wallahu a’lam bish-shawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.ajian Utama

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Menyambut Kelahiran si Buah Hati

Lahirnya si mungil memang saat yang dinanti. Oleh karena itu, apabila dianugerahi anak, baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya kita bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla.

Selain itu, setiap muslim dianjurkan memberi tahu saudaranya sesama muslim yang dikaruniai anak ketika dia belum tahu bahwa anaknya telah lahir. Hal ini termasuk bentuk menyusupkan kebahagiaan ke dalam hati seorang muslim. Tentu saja, hal yang seperti ini akan mempererat tali kecintaan di antara mereka.

Al-Qur’an telah menyebutkan tentang kabar gembira bagi yang dikaruniai anak. Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan ucapan para malaikat yang singgah di rumah Ibrahim ‘alaihissalam sebelum mereka sampai ke tempat tujuan mereka diutus, yaitu kaum Nabi Luth ‘alaihissalam,

(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). (adz-Dzariyat: 28)

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang Nabi Zakaria ‘alaihissalam,

“Hai Zakaria, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya.” (Maryam: 7)

Dianjurkan juga bagi orang yang diberi kabar gembira oleh saudaranya untuk memberi hadiah kepada yang mengabarkannya. Sebagaimana halnya dahulu Ka’b bin Malik radhiallahu ‘anhu memberi hadiah kepada orang yang memberi tahu tentang turunnya ayat yang menjelaskan diterimanya tobat beliau radhiallahu ‘anhu.

Seperti inilah bimbingan Islam yang mulia. Seorang muslim ikut berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh saudaranya. Akan tetapi, karena ketidaktahuan mayoritas masyarakat muslimin di zaman sekarang tentang bimbingan yang mulia ini, ruh kecintaan nyaris hilang di tengah-tengah mereka. Sebagai gantinya, muncul sikap acuh tak acuh, bahkan kedengkian.

Di samping dianjurkan memberitakan kelahiran anak, alangkah bagusnya disertai dengan memberi tahni’ah (ucapan selamat). Perbedaan antara memberi kabar gembira dan ucapan selamat; memberi kabar gembira ialah memberitakan kepada teman yang dikaruniai anak bahwa anaknya telah terlahir dalam keadaan ia belum tahu. Adapun tahni’ah (ucapan selamat) adalah mendoakan kebaikan bagi anak saudaranya setelah dia mengetahui kelahiran anaknya. (Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim hlm. 21)

Sebatas pengetahuan kami, tidak ada satu hadits pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan tentang tahni’ah ini. Yang ada adalah atsar (ucapan dan perbuatan) sebagian tabi’in. Misalnya, atsar dari al-Hasan al-Bashri t bahwa ia ditanya tentang tahni’ah, apa yang semestinya diucapkan? Al-Hasan berkata, “Ucapkanlah,

‘Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan anak ini diberkahi bagimu dan bagi umat

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam ad-Du’a 2/1243 dengan sanad yang bagus)

Akan tetapi, tahni’ah ini bukan sesuatu yang sunnah apalagi keharusan, karena landasannya adalah atsar dari sebagian tabi’in, bukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak pantas pula apabila tahni’ah hanya diucapkan kepada yang dikaruniai anak laki-laki dan tidak diucapkan kepada yang dikaruniai anak perempuan. Hendaklah tahni’ah diberikan kepada yang dianugerahi bayi laki-laki atau perempuan, atau ia sama sekali tidak mengucapkan tahni’ah kepada yang dikaruniai anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Hal ini dilakukan untuk menjauhi kebiasaan orang jahiliah yang kebanyakan mereka memberikan tahni’ah terhadap kelahiran anak laki-laki dan mengucapkan tahni’ah terhadap kematian anak perempuan, bukan ketika kelahirannya. (Tuhfatul Maudud hlm. 21, cet. al-Muayyad)

Sebab Menjeritnya Bayi Ketika Lahir

Perlu diketahui, sebab seorang bayi menjerit ketika dilahirkan adalah karena ditusuk oleh setan. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jeritan bayi ketika terlahir adalah (karena) tusukan setan.” (HR . Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Tiada terlahir seorang anak Adam kecuali disentuh oleh setan saat lahirnya hingga ia menjerit karena sentuhannya, kecuali Maryam dan putranya (Nabi ‘Isa ‘alaihissalam).” (Shahih al-Bukhari no. 3431)

Maksud disentuh oleh setan dijelaskan oleh riwayat lain, yaitu setan menusuk dua sisi perut bayi dengan kedua jarinya. (Shahih al-Bukhari no. 3286)

Coba Anda perhatikan! Saat manusia masih bayi, setan telah menampakkan permusuhannya, bagaimana kiranya setelah dewasa, bahkan menjelang ajalnya? Seperti apa kiranya usaha setan untuk menyesatkan manusia yang telah tergerak syahwatnya untuk mencari dunia dan semisalnya?!

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Bimbingan Islam untuk Mendapat Keturunan yang Saleh

Di antara tujuan pernikahan adalah mengharapkan munculnya keturunan yang akan meneruskan kehidupan manusia di muka bumi ini sampai batas waktu yang Allah ‘azza wa jalla tentukan.

Demi tercapainya kemaslahatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat, Islam telah memberikan perhatian yang serius sejak seorang manusia terlahir di bumi ini hingga dewasa dan masa tuanya. Bahkan, sebelum bayi terlahir, Islam telah membimbing kedua orang tua untuk mempersiapkan generasi penerus yang baik dan jauh dari gangguan makhluk yang jahat semisal setan.

Di antara bimbingan yang mulia tersebut adalah:

  1. Memilih pasangan hidup yang baik dari sisi agamanya.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya; hendaklah kamu pilih yang beragama (bagus agamanya) niscaya kamu akan bahagia.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kesalehan orang tua merupakan faktor utama lahirnya anak-anak yang baik, sebagaimana juga menjadi sebab dijaganya anak keturunannya oleh Allah ‘azza wa jalla.

  1. Mencari istri yang penyayang dan banyak anaknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak, karena saya berbangga dengan banyaknya kalian di hadapan para umat.” (Sahih, HR . Abu Dawud, an-Nasai, al-Hakim, dan Ibnu Hibban)

  1. Berdoa saat berhubungan badan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Jika salah seorang kalian menggauli istrinya ucapkanlah, ‘Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari yang Kau anugerahkan kepada kami.’ Lalu ia ditakdirkan memiliki anak dari hubungannya itu, anak itu tidak termudarati oleh setan selama-lamanya.” (HR . al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Ulama berbeda pendapat tentang maksud sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Anak itu tidak termudarati oleh setan.” Ada yang menafsirkan bahwa anak tersebut tidak akan dirasuki oleh setan. Ad-Dawud rahimahullah menerangkan, “Maksud dari ‘tidak termudarati oleh setan’ ialah setan tidak menyesatkannya dari agama menuju kekafiran. Bukanlah yang dimaksud di sini bahwa anak itu terjaga dari berbuat maksiat.” (‘Aunul Ma’bud 6/198).

Hadits di atas memberikan bimbingan kepada para ayah untuk melakukan faktor-faktor yang bisa menjaga dan melindungi anak dari godaan setan saat anak tersebut masih di rahim ibunya. Sebab, setan selalu menempel kepada manusia dan tidak lepas darinya kecuali ketika ia berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlindung kepada-Nya dari setan. Seperti inilah syariat Islam yang cemerlang. Ia telah meletakkan kaidah untuk menjaga janin sejak tercipta di rahim ibunya hingga lahir ke dunia dalam keadaan kuat dan sempurna fisiknya.

 

  1. Memohon kepada Allah ‘azza wa jalla untuk dikaruniai keturunan yang baik.

Al-Qur’an telah mengabadikan doa sebagian rasul Allah ‘azza wa jalla seperti doa Nabi Zakariya ‘alaihissalam,

Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Ali Imran: 38)

 

Kesalehan anak akan membawa keberkahan bagi orang tuanya secara khusus serta bagi masyarakat dan umatnya secara umum. Orang tua akan tenteram hatinya dan sejuk matanya memandang anaknya yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Saat orang tuanya masih hidup, anak yang saleh akan menyuguhkan beragam kebaikan bagi orang tuanya sebagai bentuk balas budi atas kebaikan keduanya yang selama ini mereka curahkan. Saat orang tuanya meninggal di atas Islam, ia tidak kikir untuk mendoakan ampunan dan rahmat untuk keduanya. Jika orang tuanya masuk surga kelak, akan diangkat derajatnya lantaran kesalehan anaknya.

  1. Menghindari hal-hal yang bisa berefek buruk pada janin, semisal melihat ular jenis tertentu yang bisa menggugurkan kandungan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bunuhlah ular-ular itu, serta bunuhlah ular yang di atas punggungnya ada dua garis putih dan ular yang ekornya terputus. Sebab, kedua jenis ular ini bisa membutakan mata dan menggugurkan kandungan.” ( Shahih al-Bukhari dari Ibnu Umar c no. 3297)

An-Nadhr bin Syumail rahimahullah menerangkan tentang ular yang ekornyaterputus, yang dimaksud adalah ula berwarna biru yang jika orang hamil melihatnya, kandungannya akan gugur.

(Ahkam at-Thifl, Ahmad al-‘Isawi hlm. 57)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Surat Pembaca Edisi 96

Bahasan Takfir

Tolong masalah takfir mutlak dan takfir mu’ayyan yang pernah disinggung di no. 8/I/1425 hlm. 9 dibahas kembali dengan lebih rinci, luas, dan jelas.

085227xxxxxx

 

Insya Allah, semoga di edisi-edisi mendatang kami bisa mengangkattema tersebut secara lebih mendalam.

Jazakumullahu khairan atas masukanAnda.

 

Bantuan Dana untuk Kampung Laut

Saya membaca di Asy-Syariah tentang kisah mualaf Kampung Laut.

Saya ingin membantu dana. Bisa diberi tahu caranya?

087737xxxxxx

 

Untuk mendapatkan informasidan menyalurkan bantuan bagi mualafKampung Laut, Anda bisa menghubungial-Ustadz Fauzan di no.081219209841

Jazakumullahu khairan.

 

Salut dengan Tim Asy-Syariah

Masya Allah saya salut dengan kinerja seluruh Tim Redaksi Asy-Syariah yang sabar dan legowo dalam menghadapi segala bentuk saran dan kritikan yang tidak hanya karena kesalahan teknis dari

Redaksi tetapi bisa juga karena kejahilan dari Pembaca sendiri karena pembaca adalah dari berbagai kalangan. Semoga tetap istiqamah.

081556xxxxxx

 

Kesalahan dan kekhilafan tentumengiringi langkah kami sebagai manusiabiasa. Betapa pun kami berupayamengeliminir kesalahan, kelalaian niscayaakan tetap dan selalu ada.Di sisi lain, Majalah Asy-Syariahadalah bagian dari dakwah. Setiapdakwah tentu akan menghadapi beragampermasalahan bahkan ujian di dalamnya.Semoga kami bisa sabar dan istiqamahdalam menghadapinya.

Jazakumullahukhairan.

 

Menulis Ulang Artikel

Saya sering menulis ulang artikel dalam majalah ini kemudian mempostingnya di blog tanpa izin redaksi terlebih dahulu. Saya baru baca persyaratannya ternyata tidak boleh. Mohon kemaklumannya

karena saya tetap menuliskan sumberdari majalah Asy-Syariah beserta nomer halamannya juga.

Ummu Tsubaitah

085740xxxxxx

Pada prinsipnya, siapa pundiperkenankan mengutip artikelartikelAsy-Syariah selama tidak untukkepentingan komersial, dikutip utuhtanpa pengurangan dan penambahan,serta syarat lainnyasebagaimana terteradi halaman 3.

 

Bagi-Bagi Stiker

Bismillah. Saya mau mengusulkan agar membagikan stiker berisi hadits-hadits atau nasihat-nasihat sehingga bisa kami tempel, insya Allah akan memperluas syiar-syiar Sunnah.

085782xxxxxx

 

Insya Allah, semoga di waktu mendatang kami bisa merealisasikannya.

Budaya Islami untuk Si Buah Hati

 السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Kehadirannya senantiasa didamba. Betapa anak telah menjadi bagian jiwa setiap orang tua. Wajar jika segala upaya dicurahkan demi si anak. Sejak janin mengisi rahim sang ibu, beragam upaya bahkan ritual demi keselamatan sang calon bayi, sudah mengiringi perjalanan hidupnya. Sayangnya, kita demikian lekat dengan tradisi atau adat kebiasaan yang diwarisi dari agama selain Islam, sementara terhadap ajaran Islam kita justru masih demikian asing. Contoh sederhana, banyak orang yang dengan segala cara – termasuk berutang – menyelenggarakan beragam ritual pada masa kehamilan, selamatan kelahiran, selapanan (35 hari), dan sebagainya, namun meninggalkan akikah dengan alasan ketiadaan biaya. Banyak juga di antara kita yang mencukupkan diri dengan membagi-bagikan roti/cake dengan alasan kepraktisan, kemewahan, atau adu gengsi – yang tentunya dengan biaya yang tidak sedikit – kemudian meninggalkan akikah sama sekali.

kue-pizza

Yang lebih parah, ada yang getol menyelipkan ritual tertentu dengan dalih “ikhtiar”, namun faktanya justru mencemari akidah. Padahal yang namanya ikhtiar, harus nyambung dengan tujuan yang ingin dicapai, bukan mewujud pada ritual kesyirikan atau keyakinan/takhayul tertentu.

kado-ultah

Belum lagi perayaan ulang tahun yang mengiringi setiap tahunnya. Acara-acara itu walaupun dinamai “syukuran” tetapi tetaplah bukan tradisi Islam, setidaknya menghambur-hamburkan uang. Syukuran bertambahnya usia tidaklah diwujudkan dengan seremoni tertentu, tapi rasa syukur itu tertuang dalam kalbu, ucapan, dan perbuatan kita. Bagaimana acara itu dimaknai sebagai syukuran, jika kita malah memaksa diri menyelenggarkannya di restoran (mewah), ditambah lagi, di dalam pesta ulang tahun sendiri terangkum banyak kemungkaran dan kemaksiatan. Kemudian setelah acara itu, kita tidak menjadi pribadi yang bersyukur, malah mudah mengeluh, selalu berburuk sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tambah bermaksiat, dan sebagainya.

Bersyukur terhadap karunia dan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala semestinya dilakukan setiap saat, bukan hanya pada momen-momen tertentu. Tidak hanya ketika usia kandungan menginjak bulan tertentu, tidak hanya setiap ulang tahun, dan sebagainya. Namun, kita benar-benar menghabiskan seluruh lembaran sisa hidup untuk melukis rasa syukur kita.

batu

Karena itu, mari kita gunting lembar kejahilan dari buku hidup kita, jangan kita terus terperangkap dalam jeruji tradisi yang tidak islami. Jangan sampai buah hati kita terdidik sejak kecil untuk melakukan amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya dalam agama kita. Sudah semestinya kita mentradisikan Islam, bukan “mengislamkan” tradisi lebih-lebih memberhalakan tradisi yang tidak islami.

 Wallahu a’lam.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Pengaruh Orang Tua Terhadap Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud hlm. 351)

Beliau rahimahullah menyatakan pula,

“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud hlm. 337)

 

(Diambil dari Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat hlm. 8—9, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah)