Sepuluh Hak yang Harus Dipenuhi (2)

           Telah kita bicarakan dari ayatul huquq al-’asyrah ini hak Allah dan hak kedua orang tua. Masih tersisa delapan hak yang akan kita bawakan semuanya secara ringkas dalam pembahasan kali ini.

Purple Ribbon 

Hak Karib Kerabat

Karib kerabat adalah orang yang memiliki hubungan nasab dengan kita, baik dari pihak ayah maupun ibu. Mereka adalah kakek dan nenek, saudara sekandung, saudara seayah atau seibu dan anak-anak mereka (keponakan), paman, bibi dan anak-anak mereka.

Silaturahim dengan mereka harus dijaga, tidak diperkenankan untuk diputus. Allah ‘azza wa jalla akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambung hubungan rahimnya. Sebaliknya, Allah ‘azza wa jalla akan memutus orang yang memutus hubungan rahimnya. Hal ini disebutkam dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya,

Allah berfirman kepada rahim, “Siapa yang menyambungmu, Aku akan menyambungnya. Siapa yang memutusmu, Aku akan memutusnya.”

Abdullah ibnu ‘Amr c menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang yang menyambung hubungan (silaturahim) bukanlah yang membalas dengan yang setimpal. Akan tetapi, orang yang menyambung hubungan adalah orang yang bila terputus hubungan rahimnya, dia menyambungnya.” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa menyambung hubungan dengan kerabat yang menyambung hubungan dengan kita disebut sebagai mukafaah, bukan silaturahim. Sebab, silaturahim hakikatnya adalah menyambung hubungan rahim dengan kerabat yang semula terputus.

Yang disebut silaturahim adalah apa yang menurut ‘urf atau kebiasaan masyarakat muslimin setempat sebagai silaturahim, karena al-Qur’an dan as-Sunnah tidak menerangkan macam, jenis, dan kadarnya.

Ahlul ilmi menyebutkan bahwa di antara bentuk silaturahim tersebut ialah berbuat baik kepada karib kerabat, misalnya dengan memberi nafkah kepada mereka yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan dan kelapangan si pemberi, mengunjungi mereka, memberikan kebahagiaan kepada mereka, menghormati dan menunjukkan penghargaan kepada mereka.

 

Hak Anak Yatim & Orang Miskin

Anak yatim adalah anak kecil yang ayahnya meninggal sebelum dia baligh. Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjadi pengganti ayah mereka dalam hal memberikan perhatian dan menutupi kebutuhannya. Adapun orang miskin adalah orang yang tidak mendapati nafkah yang bisa mencukupinya. Berbuat baik kepadanya orang miskin diwujudkan dengan memberikan apa yang bisa mencukupinya.

Terpenuhinya hak keduanya akan meringankan derita dan kesusahan dua golongan yang lemah ini di tengahtengah masyarakat muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri diperintah oleh Allah untuk berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Adapun anak yatim janganlah engkau memberatkannya. Dan adapun seorang peminta maka janganlah engkau menghardiknya.” (adh-Dhuha: 9-10)

Di antara sifat orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak menghiraukan anak yatim dan tidak mengajak orang lain untuk memberi makan orang-orang miskin, sebagaimana firman-Nya,

“Tahukah kamu, (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1-3)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sekali-kali tidak, bahkan kalian tidak memuliakan anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang-orang miskin.” (al-Fajr: 17-18)

Ayat di atas menunjukkan bahwa hak orang miskin adalah diberi makanan dan dipenuhi kebutuhannya, sedangkan anak yatim diberikan pemuliaan. Orang yang memelihara anak yatim akan beroleh janji berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dan ibu jari beliau,

“Aku dan orang yang memelihara/menanggung anak yatim[1] di surga (dekatnya) seperti ini[2].” (HR. al-Bukhari)

Berbuat baik kepada golongan yang lemah ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang dalam kalbu, kelunakan dan kelembutan hati, serta perasaan inabah/kembali dengan bertobat kepada Allah. Hal ini tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang telah mencobanya. Dengan mengasihi mereka yang lemah, tentu kasih Allah pun akan diperoleh, sebagaimana dalam hadits,

“Orang-orang yang penyayang akan disayang/dirahmati oleh ar-Rahman (Dzat Yang Maha Penyayang). Sayangilah makhluk yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi. Derajatnya sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jami’, no. 3522)

 

Hak Tetangga yang Ada Hubungan Dekat / Kerabat dan Tetangga yang Jauh / Bukan Kerabat

Tetangga adalah orang yang tinggal bersebelahan atau dekat dengan tempat tinggal kita. Tetangga itu, kata ahlul ilmi, terbagi tiga,

  1. Tetangga beragama Islam yang ada hubungan kerabat. Dia memiliki tiga hak: hak sebagai tetangga, sebagai kerabat, dan hak sebagai muslim.
  2. Tetangga muslim yang bukan kerabat. Dia memiliki dua hak: hak sebagai tetangga dan hak sebagai muslim.
  3. Tetangga yang kafir Dia memiliki hak sebagai tetangga. Apabila ada hubungan kerabat dengannya, dia memiliki hak tambahan sebagai kerabat.

Jibril terus-menerus berpesan kepada Rasulullah tentang hak tetangga sampai-sampai beliau menyangka akan turun wahyu yang menyebutkan hak tetangga untuk turut mendapat warisan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara bentuk memenuhi hak tetangga adalah berbuat baik kepada mereka dengan menghadiahkan apa yang mungkin dihadiahkan, walaupun hanya mengirimkan kuah masakan daging atau selainnya, sebagaimana pesan Rasulullah kepada Abu Dzar radhiallahu ‘anhu,

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak makanan berkuah, perbanyaklah airnya, dan jangan lupa untuk mengirimkannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

Diharamkan bagi kita menyakiti tetangga, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dengan ucapan, misalnya membuat suara gaduh yang mengganggu ketenangan tetangga, atau memutar radio/tape recorder dengan keras, walaupun yang diputar adalah kaset kajian/ceramah Islam atau tilawah al-Qur’an. Apalagi jika yang diputar adalah musik. Adapun dengan perbuatan, seperti melempar kotoran atau sampah di halaman tetangga, mengetuk pintu rumah mereka dengan keras, membiarkan dahan pohon kita merusak genting/atap rumah tetangga, dan sebagainya.

Barangsiapa mengganggu tetangganya, dia tidak memiliki sifat orang-orang beriman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman. Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman. Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman.”

Ada yang bertanya, “Siapa orang itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

 

Hak Teman Sejawat

Hak berikutnya yang tersebut dalam ayat al-huquq al-’asyrah adalah hak shahib bil janbi. Ahli tafsir menyebutkan maknanya adalah istri. Ada pula yang mengatakan kawan dalam safar dan ada pula yang berpendapat teman yang salih. Kata ahli tafsir yang lain, maknanya adalah teman dudukmu saat mukim dan kawanmu ketika safar.

Seorang teman memiliki hak tambahan selain hak Islam (hak sebagai seorang muslim), berupa hak untuk dibantu dalam urusan agama dan dunianya, mendapat nasihat, setia kepadanya (tidak berkhianat) dalam keadaan lapang atau sempit, ketika senang atau susah, menyenangi untuknya apa yang disenangi untuk dirinya, dan membenci untuknya apa yang dibenci oleh dirinya. Semakin dekat pertemanan atau persahabatan, maka semakin ditekankan hak tersebut dan semakin bertambah.

 

Hak Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah tamu atau musafir yang melintas melewati tempat Anda. Apabila si musafir kehabisan bekal dalam safarnya, berbuat baik kepadanya dilakukan dengan memberinya zakat atau sedekah yang cukup untuk menyampaikannya ke tujuan, walaupun dia adalah orang yang berharta di negeri tempat tinggalnya.

Ibnu sabil memiliki hak terhadap kaum muslimin karena musafir biasanya memiliki kebutuhan/keperluankeperluan. Selain itu, dia adalah orang asing yang perlu dibantu untuk menunaikan maksud/tujuannya, atau sebagian dari tujuannya. Dia pantas dimuliakan dan dibuat tidak merasa asing di negeri yang sebenarnya asing (bukan negerinya sendiri).

 

Hak Hamba Sahaya

Perbudakan dalam Islam memang ada, namun jangan dibayangkan di benak kita gambaran yang kelam penuh kelaliman. Sungguh, semua itu tidak didapatkan dalam Islam. Perbudakan tidak manusiawi yang sarat kezaliman itu hanyalah ada di luar Islam, agama kekafiran yang memperbudak manusia dan memperlakukannya layaknya binatang.

Islam sebagai agama yang dipenuhi keadilan memberikan hak kepada budak atau hamba sahaya dan menanggungkan kewajiban kepada tuan pemiliknya untuk berbuat baik kepadanya. Banyak nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan keharusan memperhatikan hak hamba sahaya ini. Satu bukti Islam tidak mengabaikan hak hamba sahaya adalah adanya dorongan untuk memerdekakannya. Bahkan, dalam Islam, banyak perkara pelanggaran yang ditebus dengan memerdekakan budak, seperti melanggar sumpah, tidak memenuhi nazar, dan bersetubuh di siang hari Ramadhan.

Ketika Rasulullah memberi Abu Dzar radhiallahu ‘anhu seorang hamba sahaya, beliau berpesan, “Terimalah wasiatku dalam urusan budak ini agar engkau berbuat baik dan bermuamalah kepadanya dengan baik pula.”

Ternyata Abu Dzar radhiallahu ‘anhu memerdekakan hamba sahaya tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang engkau perbuat terhadap hamba sahayamu?”

Abu Dzar radhiallahu ‘anhu menjawab, “Anda memerintahku berbuat baik kepadanya, maka saya memerdekakannya.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 121)

Rasulullah pernah bersabda kepada pemilik hamba sahaya tentang urusan hamba sahaya mereka, “Berilah para hamba sahaya makanan yang biasa kalian makan. Berilah mereka pakaian yang kalian pakai.” (HR. Muslim)

Pemilik hamba sahaya diperintah untuk tidak membebani hamba sahayanya pekerjaan yang di luar kemampuan mereka. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba sahaya memiliki hak untuk beroleh makanan dan pakaian. Dia tidak boleh dibebani pekerjaan yang tidak dia sanggupi.” (HR. Muslim)

Cukuplah ayat-ayat berikut ini menunjukkan mahasinul Islam (kebaikan Islam) kepada hamba sahaya dengan memberi dorongan untuk memerdekakannya, di samping menyebut tentang berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin,

“Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) dia menempuh ‹aqabah (jalan yang mendaki lagi sukar)? Tahukah kamu , apakah ‹aqabah itu? (Yaitu) melepaskan (memerdekakan) budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (al-Balad: 11-16)

Allah menawarkan, tidakkah kita ingin menempuh jalan menuju kesuksesan dan kebaikan? Kemudian Allah menerangkan jalan tersebut, yaitu membebaskan atau memerdekakan hamba sahaya dari perbudakan.

Banyak pula hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan keutamaan memerdekakan budak. Satu di antaranya ialah hadits berikut ini.

“Siapa yang memerdekakan hamba sahaya yang beriman (dari perbudakan), maka itu menjadi tebusannya dari api neraka.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i. Derajatnya sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jami’ no. 6050)

Jalan kebaikan lain yang Allah tawarkan dalam ayat di atas ialah memberi makan anak yatim yang ada hubungan kerabat dan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa pada hari terjadi kelaparan.

Satu lagi yang menunjukkan keluhuran ajaran Islam, Islam menjadikan hamba sahaya sebagai saudara pemiliknya. Karena itu, layaknya saudara, ia harus diperlakukan dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya, “Mereka adalah saudara-saudara kalian yang Allah jadikan mereka di bawah kekuasaan kalian….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Sumber:

  • al-Qur’an al-Karim
  • Muhadharat fil ‘Aqidah wad Da’wah, asy-Syaikh

Shalih Fauzan

  • Shahih al-Adab al-Mufrad
  • Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, al-Albani
  • Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin
  • Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di
  • Tafsir Ibnu Katsir

[1] Memelihara dan menanggung anak yatim adalah dengan menunaikan segala sesuatu yang dapat memberikan kemaslahatan dan kebaikan bagi agama dan dunia si yatim. Untuk urusan agamanya adalah dengan memberikan pendidikan, bimbingan, pengajaran, dan semisalnya. Adapun untuk urusan dunianya, dengan memberinya makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semisalnya.

 [2] Seperti dekatnya ibu jari dan jari telunjuk.

Tidak Ada Pertentangan di Antara Ayat Al-Qur’an

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dia juga berfirman,

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Apa makna kedua ayat ini? Bagaimana menggabungkan keduanya, karena seakan-akan bertentangan?

 ContradictionPic

Jawab [1]:

Tidak ada pertentangan di antara dua ayat ini, wahai saudaraku. Allah ‘azza wa jalla menerangkan kepada kita bahwa musibah yang menimpa kita karena sebab perbuatan kita dan Dia menerangkan pula bahwa apa yang terjadi itu adalah dengan ketetapan dan takdir-Nya.

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Ilmu Allah, ketetapan, dan kitabah-Nya (penulisan takdir di Lauh Mahfuzh sebagaimana yang diperintahkan kepada qalam/pena) telah mendahului segala sesuatu. Namun Allah ‘azza wa jalla mengaitkan perkara yang memudaratkan kita karena sebab maksiat-maksiat yang kita lakukan, walaupun semua itu juga sudah tertulis dan sudah ditakdirkan. Sebab, kita memiliki upaya, kita yang berbuat, dan kita sendiri yang memilih.

Segala sesuatu terjadi dengan takdir-Nya, sama saja apakah berupa ketaatan ataupun kemaksiatan. Namun, maksiat yang terjadi pada kita itu adalah usaha kita dan amalan kita, karenanya kita akan dihukum. Kita memiliki akal, keinginan, kemampuan, dan amalan. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dalam ayat yang lain,

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan/ulah dirimu sendiri.” (an-Nisa: 79)

Takdir dan amal usaha tidaklah saling bertentangan. Takdir itu telah terdahulu dan Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang ditetapkan-Nya. Perbuatan yang terjadi adalah amal usaha kita, seperti maksiat berupa zina, minum khamr, meninggalkan shalat, berbuat durhaka, dan memutus hubungan rahim. Semuanya kita yang berbuat, bukan siapa-siapa, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman karena sikap kita yang meremehkan. Kita sadar bahwa kita bisa memilih tanpa paksaan dalam berbuat, sehingga perbuatan yang ada pantas bila disandarkan kepada kita walaupun memang ilmu Allah ‘azza wa jalla, penulisan, dan ketetapan-Nya telah jauh mendahului.

Takdir tidak boleh menjadi alasan atas perbuatan tercela dan kemungkaran yang dilakukan seorang hamba. Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang telah lewat pada takdir-Nya, ilmu, dan kitabah-Nya. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita dan sikap kita yang menggampangkan berbuat dosa. Kita bisa disiksa karena perbuatan tersebut terkecuali bila Allah ‘azza wa jalla mengampuni.

Dengan demikian, Anda sekarang telah mengetahui tidak adanya pertentangan antara kedua ayat yang ditanyakan. Yang satu menunjukkan bahwa amalan itu merupakan hasil usaha kita, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman bila perbuatan yang dilakukan bukan amalan yang salih. Semua itu adalah amalan kita dengan pilihan kita sendiri.

Ayat yang lain menunjukkan musibah yang terjadi itu telah terdahulu dalam ilmu Allah ‘azza wa jalla, kitabah, dan takdir-Nya. Ada hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bunyinya,

“Sungguh, Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan takdir-takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi 50 ribu tahun dan arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Allah Yang Maha Memiliki hikmah lagi Maha Mengetahui, Dia mengetahui segala sesuatu, ilmu-Nya telah mendahului segala sesuatu, dan Dia telah mencatat segala sesuatu. Dalam satu ayat, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Tidak ada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Penulisan takdir Allah ‘azza wa jalla telah terdahulu, ilmu-Nya pun telah terdahulu, demikian pula ketetapan-Nya. Amal kita dihitung untuk kita, disandarkan kepada kita, dicatat untuk kita, karena amal tersebut adalah hasil usaha kita, yang kita lakukan dengan pilihan kita, tanpa ada pemaksaan. Karena itu, perbuatan kita yang baik, berupa ketaatan, macam-macam kebaikan dan zikir, dibalas dengan balasan yang baik pula. Sebaliknya kita pantas mendapatkan hukuman atas amalan buruk yang kita lakukan, apakah berupa kedurhakaan, zina, mencuri, seluruh maksiat, dan perbuatan penyelisihan. Wallahul musta’an. (hlm. 128-130)


[1] Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Allah ‘azza wa jalla Menghalangi Antara Seseorang & Kalbunya

Apa makna firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan ketahuilah sesungguhnya Allah menghalangi antara seseorang dan kalbunya.” (al-Anfal: 24)

 Tirai

Jawab [1]:

Makna ayat ini sesuai dengan zahirnya. Allah ‘azza wa jalla berbuat apa saja terhadap hamba-hamba-Nya. Ada yang diberi taufik dan dilapangkan kalbunya untuk menerima keimanan dan diberi hidayah kepada Islam. Terkadang ada yang Allah ‘azza wa jalla jadikan rasa berat dalam kalbunya dan sulit menerima agama Allah ‘azza wa jalla, yang jelas menjadi penghalang baginya untuk menerima Islam.

Allah ‘azza wa jalla memang menghalangi antara seseorang dan kalbunya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberikan petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya kepada Islam. Dan siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit.” (al-An’am: 125)

Allah ‘azza wa jalla lah yang berbuat sekehendaknya terhadap hamba-hamba- Nya sebagaimana yang diinginkan-Nya. Ada yang dilapangkan kalbunya menerima iman dan petunjuk. Ada pula yang tidak mendapatkan taufik. (hlm. 131)


 

Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Menghilangkan Pengaruh Sihir

Pertanyaan:

Saya seorang istri yang telah menikah sejak 17 tahun silam. Saya memiliki enam anak. Kehidupan bahagia dalam masa pernikahan ini hanya saya rasakan selama lima tahun awal, sedangkan sisanya saya jalani dengan perasaan benci terhadap suami. Saya tidak suka dia mempergauli saya sebagaimana pergaulan suami istri. Saya tidak sanggup tidur bersamanya. Saya menyangka apa yang saya alami ini karena pengaruh sihir. Saya pun pergi ke tukang sihir dan ‘orang pintar’ untuk melepaskan pengaruh sihir tersebut. Mereka memberi saya beberapa ramuan. Namun, saya tidak mendapatkan manfaat apa pun dan tidak lagi percaya dengan seorang pun dari mereka. Lalu saya pergi ke dokter jiwa, namun juga tidak ada perkembangan. Saya ingin suami saya dan tidak menginginkan seorang pun selainnya. Hampir-hampir rumah tangga saya mengalami kehancuran. Apabila seperti ini keadaan saya, apa yang harus saya lakukan? Barakallahu fikum.

 Separate

Jawab:

Penyakit seperti yang Anda ceritakan yang terjadi waktu-waktu terakhir kehidupan pernikahan Anda, bisa jadi memang karena pengaruh sihir, karena ‘ain (penyakit karena pandangan mata hasad ataupun kagum), atau sebab penyakit lain. Anda tidak boleh mendatangi tukang sihir dan dukun untuk bertanya kepada mereka. Karena itu, kepergian Anda ke tukang sihir dan dukun adalah perkara yang tidak dibolehkan dalam agama ini. Anda telah berbuat kesalahan sehingga harus bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla. sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

‘Arraf adalah orang yang mengaku-aku tahu urusan gaib dengan bantuan jin atau perantara lain yang tersembunyi atau samar. Bertanya kepadanya tentang yang demikian tidak boleh, demikian pula membenarkannya; berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau dukun, lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Untuk berobat, Anda bisa datang ke dokter yang dikenal tahu cara mengobati penyakit/masalah yang sedang Anda hadapi dengan memakai obat-obat yang memang diketahui sebagai obat, baik dengan suntikan, tablet/kapsul, atau yang lainnya.

Anda bisa pula berobat kepada seorang pembaca al-Qur’an atau wanita salehah yang bisa membacakan al-Qur’an untuk Anda (meruqyah). Apabila ada wanita yang bisa mengobati Anda, dia didahulukan daripada berobat kepada lelaki. Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menghilangkan sakit/masalah Anda lewat bantuan si peruqyah. Kalau tidak ada wanita yang bisa meruqyah Anda, tidak apa-apa berobat kepada lelaki yang membacakan al-Qur’an untuk Anda tanpa khalwat (berdua-duaan dengan si peruqyah). Harus ada yang menemani Anda, apakah ibu, saudara lelaki, ayah, atau semisal mereka. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kemanfaatan dengannya.

Adapun meruqyah sakit yang diderita bisa dengan membacakan surat al-Fatihah, ayat kursi, ayat penangkal sihir yang dikenali dalam surat al-A’raf, Yunus, Thaha, al-Kafirun, al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Nas. Surat-surat dan ayat-ayat tersebut dibacakan di air (yang diletakkan dalam wadah), setelahnya dibacakan doa, seperti

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah gangguan ini, sembuhkanlah, Engkau-lah Dzat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan seluruh jiwa atau mata yang hasad, Allah akan menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.”

Doa-doa ini diulang sebanyak tiga kali. Doa ini tsabit (pasti kabarnya) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu sebagian air yang sudah diruqyah diminum oleh si penderita dan sisanya untuk mandi. Cara seperti ini sudah terbukti mujarab—dengan izin Allah ‘azza wa jalla—dalam pengobatan sihir.

Cara ini juga bisa untuk mengobati suami yang “tertahan” dari menggauli istrinya dan pengobatan ‘ain. ‘Ain juga diobati dengan cara ruqyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak ada ruqyah (yang paling tampak pengaruh/manfaatnya) daripada ruqyah terhadap penyakit ‘ain atau hummah.”

Pengobatan bisa juga dilakukan dengan campuran air dengan tujuh lembar daun bidara hijau yang sudah ditumbuk/dihaluskan. Kami telah melakukan hal ini pada banyak orang dan Allah ‘azza wa jalla memberikan manfaat dengannya. Ulama telah menyebutkan cara pengobatan seperti ini, di antaranya ialah al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh rahimahullah, penulis kitab Fathul Majid, Syarhu Kitab at-Tauhid. Beliau menyebutkan hal ini dalam bab Ma Ja’a fi an-Nusyrah. Apabila Anda memiliki kitabnya, silakan melihat dan membacanya.

Anda tidak boleh bertanya atau meminta obat kepada tukang sihir, dukun, dan tukang ramal. Anda tidak boleh membenarkan omongan mereka. Bertanyalah kepada ulama yang sebenarnya dan para pembaca al-Qur’an yang dikenal dengan kebaikan. Mereka bisa membacakan untuk Anda bacaan-bacaan yang telah disebutkan. Anda bisa juga bertanya kepada wanita-wanita salihah dari kalangan pengajar/guru dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan hingga mereka bisa melakukannya pada Anda. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan anugerah berupa kesembuhan dengan sebab-sebab ini.

Di antara yang sepantasnya Anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar Dia menghilangkan apa yang menimpa Anda, karena Allah ‘azza wa jalla itu harus dimintai. Dia ‘azza wa jalla berfirman,

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi permintaan/doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan Aku masukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Dia ‘azza wa jalla berfirman pula,

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi semua perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Anda harus memohon kesembuhan hanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula suami Anda memohon kesembuhan Anda kepada Allah ‘azza wa jalla, karena seorang mukmin seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Demikian pula ayah dan ibu Anda. Doa adalah senjata orang yang beriman. Allah ‘azza wa jalla telah mejanjikan pengabulan doa, maka Anda harus berdoa dan bersungguhsungguh dalam berdoa. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kesembuhan.

Saya nasihatkan pula kepada Anda agar meniup pada dua telapak tangan Anda yang dibentangkan (seperti posisi mengangkat tangan saat berdoa) ketika hendak tidur dan membaca al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, masing-masing 3 kali. Lalu Anda usapkan kedua telapak tangan tersebut ke kepala, wajah, dan dada (serta anggota tubuh yang lain yang dapat dijangkau) sebanyak 3 kali (pada setiap bacaan/tiupan). Cara ini juga termasuk sebab kesembuhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengamalkannya. Di saat sakit2 beliau melakukannya ketika hendak tidur, sebagaimana berita yang sahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha.

 

(Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.)

Wallahu a’lam.

Untukmu Muslimah, Nasihat Penuh Hikmah dari ‘Alim Rabbani (2)

Wanita adalah bagian penting dari masyarakat manusia. Baiknya wanita akan membaikkan masyarakat dan sebaliknya. Bila wanita rusak, maka masyarakatnya pun akan menemui kehancuran. Karena itulah wanita harus terus beroleh bimbingan dan arahan sepanjang perjalanan kehidupan. Upaya ulama yang dahulu dan belakangan tidak kurang-kurang dalam hal ini, termasuk salah seorang alim rabbani yang walhamdulillah masih ada di tengah kita, Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan, semoga Allah ‘azza wa jalla memanjangkan umur beliau dalam kebaikan dan memberkahinya. Berikut ini kelanjutan dari wejangan beliau.

Islam mengharamkan terjadinya khalwat/bersepi-sepi atau berduaannya lelaki dengan wanita yang bukan mahramnya. Sebab, hal itu akan mendorong keduanya jatuh ke dalam perbuatan keji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,

“Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita (ajnabiyah).” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda dengan alhamwu[1]?”

Rasulullah menjawb, “Al-Hamwu adalah maut.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Uqbah ibnu Amir radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan kematian karena bahayanya lebih besar. Mengapa demikian? Karena karib kerabat suami dengan mudah keluar masuk ke rumah kita tanpa ada pengingkaran. Berbeda halnya apabila yang keluar masuk itu lelaki lain yang bukan kerabat.

Dengan demikian, kebiasaan membebaskan saudara dan paman suami serta kerabat suami untuk berduaan, bersalaman, dan berjabat tangan dengan istri adalah perbuatan yang batil dan mungkar.

Yang diajarkan oleh syariat justru lelaki ajnabi tidak boleh masuk ke dalam rumah yang di situ hanya ada seorang wanita, tidak ada bersamanya orang lain yang bisa menghilangkan makna berkhalwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia telah memperingatkan,

“Tidakkah seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita (ajnabiyah) terkecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. at-Tirmidzi dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.)

Termasuk khalwat yang diharamkan yang terjadi di zaman kita ini adalah wanita bepergian dalam mobil hanya berduaan dengan sopirnya yang duduk di belakang setir, apakah si wanita diantar ke pasar, ke sekolah, ataupun untuk ibadah ke masjid.

Khalwat yang diharamkan ini, sama saja apakah yang terjadi di rumah, di dalam mobil atau di mana saja, harus diperingatkan kepada para wanita muslimah secara khusus di masa kita sekarang ini di mana banyak didapatkan wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja, untuk belanja, ziarah ke tempat karib kerabatnya, atau kepentingan yang selainnya.

Wanita muslimah memang tidak sepantasnya sering keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan yang mengharuskannya keluar rumah. Kalaupun dia keluar maka harus mengenakan hijabnya yang sempurna dan tidak memakai wangi-wangian.

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kepada wanita-wanita terbaik, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan qudwah hasanah dengan perintah berikut ini,

Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.” (al-Ahzab: 33)

Tinggal di rumah akan lebih menjaga si wanita. Sampai-sampai wanita lebih disenangi mengerjakan shalat di rumahnya, tidak keluar ke masjid, padahal masjid merupakan rumah ibadah dan tempat yang suci, tetapi keluar menujunya memperhadapkan si wanita kepada keburukan. Karena itulah, shalatnya wanita di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah ‘azza wa jalla dari masjid-masjid Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu.)

Dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan, “… namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (Dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan al-Misykat no. 1062.)

Maksudnya shalat mereka di rumah mereka lebih baik daripada shalat di masjid. Kalaupun mereka hendak keluar ke masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

“Akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan nafilat.” (HR. Ahmad (2/438), Abu Dawud, dll., dinyatakan hasan sahih dalam Shahih Abi Dawud.)

Nafilat maksudnya tidak berhias dan tidak memakai wangi-wangian. Banyak wanita pada hari ini suka keluar rumah tanpa ada kebutuhan kecuali sekadar jalan-jalan di pasar dengan berdandan, harum semerbak, dan memamerkan kecantikan wajahnya. Yang ngobrol bebas dengan lelaki, bergurau, dan tertawa. Entah di mana rasa malumu, wahai wanita muslimah? Tidakkah Anda bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla?

Bila wanita hendak keluar dari rumahnya, dia harus mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, lebar dan lapang, tanpa ada hiasan padanya, tidak membentuk lekuk tubuhnya atau menampakkan apa yang ada di balik pakaiannya.

Wanita muslimah hendaknya berhati-hati dari apa yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum melihat keduanya (sekarang), yaitu satu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. (Yang kedua) para wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, mumilat, mailat[2]. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wangi surga didapatkan dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang,” maksudnya mereka memakai pakaian namun tidak menutupi tubuh. Bisa jadi karena pendeknya sehingga tubuhnya ada yang terbuka, atau pakaian itu panjang namun tipis sehingga tidak menutupi apa yang ada di baliknya. Hal ini bisa disaksikan di negeri-negeri yang tidak berpegang dengan adab Islam. Ini merupakan kebiasaan jahiliah yang jauh dari bimbingan Islam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah yang terdahulu.” (al-Ahzab: 33)

Tabarruj adalah wanita menampakkan perhiasannya di hadapan lelaki ajnabi. Yang dituntut dari wanita saat keluar rumah adalah tidak tabarruj, walaupun dia wanita yang sudah tua. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan wanita-wanita tua yang telah terhenti dari haid dan mengandung (menopause) yang tidak ada lagi keinginan untuk menikah, maka tidak ada dosa atas mereka untuk menanggalkan pakaian luar mereka[3] tanpa bermasud tabarruj/ mempertontonkan perhiasan.” (an-Nur: 60)

Bila wanita tua yang sudah tidak memiliki keinginan untuk menikah saja dilarang bertabarruj, lantas bagaimana halnya dengan wanita yang masih muda? Bagaimana pula dengan wanita yang berparas rupawan, yang lelaki pasti tertarik bila melihatnya? Bagaimana kiranya kalau wanita-wanita ini yang bertabarruj?

Karena itu, wanita yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan berharap negeri akhirat hendaknya tidak bermudah-mudah dalam masalah hijab dan bergampang-gampang mengenakan pakaian yang ada hiasannya saat keluar rumah, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak wanita pada hari ini. Demikian pula memakai wangi-wangian, bercampur baur dengan lelaki, dan bersenda gurau dengan mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada istri-istri Nabi-Nya,

“Janganlah kalian melembutkan suara ketika berbicara (dengan ajnabi) sehingga berkeinginan buruklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (al-Ahzab: 32)

Bila wanita terpaksa harus berbicara dengan lelaki yang bukan mahramnya, hendaknya dia berkata dengan ucapan yang biasa, tidak mendayu-dayu, dengan bergurau, dan tertawa.

Yang keluar dari lisannya hanya suara yang datar, ucapan sebatas keperluan, baik bertanya maupun menjawab, tidak bertele-tele, dengan suara yang dilemahlembutkan, berirama, dan dimerdukan, hingga orang yang di hatinya ada penyakit syahwat punya keinginan jelek padanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Wanita muslimah pada hari ini harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan diri mereka dan urusan masyarakat mereka. Mereka wajib memberikan perhatian terhadap tarbiyah anak-anak mereka, putra ataupun putri, karena merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk memberikan perhatian kepada anak-anak.

Mereka harus mendidik putri-putri mereka agar berakhlak mulia, beradab yang baik, menutup aurat, dan menjaga kehormatan diri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Sebagaimana yang kita maklumi, dalam syariat Islam ini selain ada perintah juga ada larangan. Termasuk perkara yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla adalah mengubah-ubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang diinginkan oleh setan sebagaimana yang diikrarkannya di hadapan Rabbul ‘Alamin,

“Dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka akan mengubahnya.” (an-Nisa:119)

Dalam tafsir ayat di atas disebutkan bahwa yang dimaukan dengan merubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla di antaranya adalah perbuatan namsh[4], wasym[5], wasyr[6], dan washl[7].

Dalam hadits dinyatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, serta melaknat perempuan yang membuat tato dan perempuan yang minta dibuatkan tato.” (HR. al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma)

Alqamah rahimahullah berkata,

‘“Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, perempuan yang mencabut rambut pada wajahnya (alisnya), perempuan yang minta dicabut rambut pada wajahnya (alisnya), dan perempuan yang mengikir giginya[8] agar terlihat bagus; para perempuan yang mengubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu memberitakan bahwa wanita-wanita tersebut dilaknatnya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat mereka yang melakukannya untuk dirinya sendiri dan mereka yang melakukannya terhadap wanita lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat wanita yang melakukan niyahah/meratapi mayat dengan ucapan ataupun perbuatan dan orang yang sengaja mendengarkannya[9]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang berteriak-teriak ketika ditimpa musibah (shaliqah), merobek bajunya (syaqah), dan memotong rambutnya (haliqah) sebagai tanda berdukacita[10].

Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar. Buktinya ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan azab yang akan diterima oleh wanita yang berbuat demikian, bila dia tidak bertobat. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wanita yang melakukan niyahah bila tidak bertobat sebelum matinya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan gamis dari ter dan pakaian dari kudis.”( HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Dahulu orang-orang jahiliah ketika ada musibah kematian biasa mengupah wanita-wanita yang melakukan niyahah ini. Yang seperti ini jelas keharamannya. Lalu, apakah tidak boleh menangis saat ditimpa musibah? Jawabannya, boleh asalkan menangis biasa tidak dengan suara keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menangis ketika mendapat musibah kematian dan beliau mengatakan,

“Ini adalah kasih sayang yang Allah ‘azza wa jalla jadikan di kalbu para hamba-Nya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun berkeluh kesah, marah, menyesali, dan meratap, justru memudaratkan mayat di dalam kuburnya, sebagaimana dalam hadits,

“Mayat itu diazab di kuburnya karena niyahah yang dilakukan kepadanya.[11]”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu.)

Yang dituntut kala ada musibah justru sabar dan mengharapkan pahala. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang beroleh shalawat dan rahmat dari Rabb mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (al-Baqarah: 155-157)

Sebagai akhir, kita simpulkan bahwa wanita memiliki tanggung jawab dan tuntutan dalam kehidupan di dunia ini. Dia diberi beban, diperintah, dilarang, diberi pahala, dan diberi hukuman. Di pundaknya ada tanggung jawab yang besar. Tidaklah umat terdahulu ataupun yang belakangan binasa kecuali karena sebab para wanita secara umum (ketika mereka melanggar syariat).

Wanita menjadi perantara paling berbahaya yang dimanfaatkan oleh setan untuk merusak umat manusia, apabila ia tidak menjaga dirinya baik-baik dan tidak dijaga oleh masyarakatnya. Pembicaraan tentang wanita sebenarnya masih panjang, namun cukuplah apa yang telah kami sampaikan di sini.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Muhadharat fil Aqidah wad Da’wah, 3/290-299, dengan ringkasan dan sedikit perubahan)


[1] Al-Laits ibnu Sa’d mengatakan al-hamwu adalah saudara ipar/adik ataupun kakak laki-laki suami, dan yang serupa mereka dari kalangan kerabat suami (yang bukan mahram istri) seperti sepupu (anak paman suami) dan semisalnya. (Ucapan ini dibawakan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya)

Adapun ayah-ayah suami dan anak-anak suami tidak termasuk di dalamnya sehingga mereka boleh berduaan dengan istri. (al-Minhaj, 14/378)

 [2] Mailat maknanya wanita-wanita yang meninggalkan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan apa yang semestinya mereka jaga. Mumilat adalah mengajarkan orang lain perbuatan mereka yang tercela. Ada pula yang mengatakan makna mailat adalah wanita-wanita yang berjalan dengan congkak, mumilat adalah memiringkan/menggerak-gerakkan pundak mereka (ketika berjalan).

Makna yang lain, mailat adalah wanita-wanita yang menyisir rambut mereka dengan model sisiran miring/belah samping sebagaimana model sisiran wanita pelacur (pada zaman dahulu, -ed.). Mumilat adalah wanita-wanita yang menyisiri orang lain dengan model sisiran demikian. (al-Minhaj, 14/336)

 [3] Pakaian luar yang kalau dibuka tidak sampai menampakkan aurat.

[4] Namsh adalah menghilangkan rambut pada wajah/alis apakah dengan gunting, dicukur atau dengan cara apa pun yang dengannya bisa menghilangkan rambut tersebut.

[5] Wasym adalah membuat tato.

[6] Wasyr adalah mengikir gigi agar terlihat bagus padahal sebenarnya tidak bermasalah, tidak ada cacat padanya, dan tidak ada penyakit.

[7] Washl adalah menyambung rambut dengan rambut palsu sehingga orang menyangka itu rambut aslinya.

[8] Adapun memperbaiki gigi yang penampakannya buruk tidak apa-apa karena termasuk pengobatan atau menghilangkan cacat, bukan untuk menambah kecantikan.

[9] HR. Ahmad (3/65) dan Abu Dawud, dari hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Namun, hadits ini dinyatakan lemah sanadnya dalam Dhaif Abi Dawud.

[10] Dalam hadits disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari shaliqah, haliqah, dan syaqah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu)

[11] Tentang makna hadits ini ada beberapa pendapat, namun yang paling dekat kepada kebenaran ada dua:

Pertama: pendapat jumhur ulama, yaitu hadits ini dibawa pemahamannya kepada orang yang memang berpesan agar nantinya bila dia mati mayatnya diratapi. Atau dia tidak berpesan kepada karib kerabatnya untuk tidak diratapi saat mati padahal dia tahu kebiasaan manusia di tempatnya melakukan niyahah ketika ada musibah kematian. Adapun bila dia sudah berpesan namun tetap dilakukan niyahah maka dia tidak menanggung hukuman apa-apa.

Kedua: Makna diazab di dalam kubur adalah dia merasa sakit mendengarkan tangisan keluarganya, merasa kasihan dan sedih. Ini terjadi di alam barzakh, bukan pada hari kiamat. Demikian pendapat yang dipegangi ath-Thabari dan selainnya. Pendapat ini yang didukung oleh Ibnu Taimiyah dan murid beliau, Ibnul Qayyim. Kata al-Imam al-Albani, yang rajih/lebih kuat adalah pendapat jumhur. (lihat Ahkamul Janaiz, hlm. 41—42)

Hukuman yang Mendidik

Acapkali seorang pendidik -baik orang tua maupun guru- harus menghadapi anak didiknya dengan menjatuhkan hukuman. Tentu saja disertai harapan, tindakannya ini bisa menghentikan kesalahan sang anak. Alangkah baiknya bila setiap pendidik memerhatikan metode pengajaran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, kembali kita telaah nasihat asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah.

Tanda Seru

Ada bentuk-bentuk hukuman yang mendidik, yang bisa diharapkan keberhasilannya. Seyogianya setiap pendidik menerapkan hukuman seperti ini terhadap anak yang kurang beradab dalam mengikuti pelajaran atau memandang remeh gurunya. Ini merupakan metode pendidikan yang aman dari dampak negatif dan bisa diharap keberhasilannya—dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla tentunya.

 

Nasihat dan Arahan

Ini adalah metode yang amat mendasar dalam pendidikan dan pengajaran. Kalaupun tanpa disertai metode lain, metode ini pun sudah cukup. Metode inilah yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak-anak dan orang dewasa.

  1. Nasihat kepada anak-anak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatseorang anak yang tangannya berkeliling mengambil makanan. Beliau pun mengajarinya cara makan yang benar,

“Nak, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Jangan ada seorang pun yang menyatakan bahwa metode seperti ini hanya sedikit memberikan pengaruh terhadap anak-anak. Saya sendiri (asy-Syaikh bin Jamil Zainu –pen.) pernah mengalaminya berkali-kali. Ternyata metode seperti ini memberikan pengaruh yang paling baik.

Pernah ada seorang anak yang mencela agama temannya. Saya pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Siapa namamu, nak? Kelas berapa dan dari sekolah mana?”

Setelah dia menjawab, saya pun bertanya, “Siapa yang menciptakanmu?”

“Allah,” jawabnya.

“Siapa yang memberimu pendengaran dan penglihatan? Siapa pula yang memberimu makanan berbagai buah-buahan dan sayur-sayuran?” tanya saya lagi.

“Allah,” jawabnya.

Saya tanya lagi, “Lalu apa kewajibanmu terhadap yang memberimu semua nikmat ini tadi?”

“Bersyukur kepada-Nya,” jawab anak itu lagi.

“Apa yang tadi baru saja kaukatakan kepada temanmu?” tanya saya.

Dia pun merasa malu. “Tadi temanku itu yang nakal kepadaku!”

Saya jelaskan kepadanya, “Memang, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerima perbuatan zalim, bahkan melarangnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

‘… dan janganlah kalian berbuat melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat melampaui batas.’ (al-Baqarah: 190).”

“Tetapi, sebenarnya siapa yang membisiki temanmu itu hingga memukulmu?”

Dia menjawab, “Setan.”

“Kalau begitu, seharusnya kau mencela setannya!” kata saya.

Dia pun mengatakan kepada temannya, “Semoga setanmu itu

dilaknat!”

Kemudian saya menasihatinya, “Sekarang kau harus bertobat kepada Allah dan memohon ampun pada-Nya, karena mencela agama itu perbuatan kufur.”

Dia segera mengatakan, “Saya memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang layak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”

Saya pun mengucapkan terima kasih kepadanya dan memintanya tidak mengulangi perbuatannya itu serta menasihati teman-temannya apabila ada di antara mereka yang mencela agama.

Suatu kali, saya sedang berjalan bersama seorang guru. Tiba-tiba kami melihat seorang anak kecil buang air kecil di tengah jalan. Guru itu pun berteriak, “Celaka kamu! Celaka kamu! Jangan kaulakukan!”

Anak kecil itu ketakutan. Dia segera memutus kencingnya dan lari.

Melihat itu, kukatakan kepada guru tadi, “Engkau telah menyia-nyiakan kesempatan kita untuk memberikan nasihat kepada anak itu.”

“Apa boleh kubiarkan anak itu kencing di tengah jalan di depan orang banyak?” katanya.

“Apakah engkau mau melakukan sesuatu yang tidak seperti apa yang kaulakukan tadi?” kata saya, “Biarkan anak itu sampai selesai buang air, lalu panggil dia kemari. Aku akan memperkenalkan diri, lalu akan kukatakan padanya, ‘Nak, jalanan ini tempat orang lalu lalang. Jadi, tidak boleh buang air kecil di sini. Di dekat sini ada tempat buang air. Jangan pernah kau ulangi lagi perbuatan seperti ini, supaya kau jadi anak yang baik. Semoga engkau mendapatkan petunjuk dan taufik’.”

Mendengar penjelasan itu, guru tadi menyatakan, “Ini metode yang bijaksana dan amat berfaedah.”

Kujelaskan padanya, “Ini metode pendidik seluruh manusia, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu saya sebutkan kepadanya kisah seorang Arab gunung yang amat masyhur itu.

 

  1. Nasihat kepada yang telah baligh

Contoh nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang teramat besar pengaruhnya bagi orang yang menerimanya adalah kisah A’rabi (Arab gunung) yang diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Suatu ketika, kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang seorang A’rabi, lalu buang air kecil sambil berdiri di masjid. Para sahabat pun berteriak menegur, “Jangan! Jangan!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian putuskan dia! Biarkan dia!”

Para sahabat membiarkan orang itu hingga selesai buang air kecil. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil A’rabi itu dan menasihatinya, “Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak sepantasnya untuk buang air kecil ataupun buang air besar. Masjid itu hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al- Qur’an.”

Beliau mengatakan kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pemberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan. Guyurlah bekas air kencing itu dengan seember air!”

Mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, A’rabi itu berdoa, “Ya Allah, kasihilah diriku dan Muhammad, dan jangan Engkau kasihi seorang pun selain kami berdua!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Engkau telah menyempitkan yang luas.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Menunjukkan Wajah Masam

Kadangkala, bisa pula seorang pendidik menunjukkan muka masam terhadap muridnya saat mereka gaduh, untuk menjaga jalannya pelajaran dan menjaga wibawanya. Ini lebih baik daripada menggampangkan perbuatan mereka yang seperti itu, namun akhirnya langsung menghukum mereka.

 

Memberi Peringatan Keras

Banyak guru yang mengambil jalan dengan memberi peringatan keras terhadap muridnya yang banyak tanya untuk mengulur waktu pelajaran, bermaksud meremehkan gurunya, atau melakukan kesalahan lainnya. Ketika guru telah memberi peringatan keras dan bersuara lantang, murid itu pun akan terdiam dan duduk dengan santun.

Metode ini dilakukan oleh Rasulullah ketika melihat seseorang menggiring badanah1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur, “Tunggangi unta itu!” [1]

“Sesungguhnya unta ini badanah,” jawab orang itu.

Rasulullah menegur lagi, “Tunggangi!”

Akhirnya orang itu menunggangi badanahnya, berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara sandalnya dia letakkan di leher untanya. (HR. al-Bukhari)

 

Menyuruh Murid Menghentikan Perbuatannya

Ketika melihat ada murid-muridnya yang bercakap-cakap saat pelajaran berlangsung, guru bisa menyuruh mereka untuk diam dengan suara yang lantang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh seseorang yang bersendawa di hadapan beliau,

“Tahanlah sendawamu di hadapan kami!” (Hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ no. 4367)

 

Berpaling

Bisa pula seorang pendidik berpaling dari anaknya atau muridnya jika melihatnya berkata bohong, memaksa meminta sesuatu yang tidak semestinya diberikan, atau kesalahankesalahan yang lain. Si anak akan merasakan sikap tidak peduli dari sang guru atau sang ayah, sehingga akan tersadar dari kesalahannya.

 

Hajr (Mendiamkan)

Seorang pendidik bisa mendiamkan anak atau muridnya jika mereka meninggalkan shalat, menonton film, atau melakukan perbuatan yang menyelisihi adab belajar. Hajr ini paling lama tiga hari, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Sahih, lihat Shahihul Jami’ no. 753)

Tindakan hajr ini mengandung pendidikan adab, baik bagi anak maupun murid. Seorang penyair pernah mengatakan,

Wahai kalbu, bersabarlah dengan hajr dari orang yang kau cinta

jangan kau putus asa karenanya, karena pendidikan kesantunan ada padanya

 

Teguran Keras

Jika nasihat dan arahan tidak memberikan hasil, pendidik boleh menegur anak atau muridnya dengan keras ketika melakukan suatu kesalahan besar.

 

Duduk Qurfusha’

Apabila seorang guru kewalahan mengatasi murid yang malas, tebal muka, atau yang semisalnya, sang guru bisa memerintahnya untuk bangkit dari tempat duduknya dan menyuruhnya duduk qurfusha’ di depan kelas, di atas kedua telapak kakinya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Ini bisa membuat lelah si murid dan menjadi hukuman baginya. Di samping itu, lebih utama daripada menghukumnya dengan tangan atau tongkat.

 

Hukuman dari Ayah

Apabila seorang murid terus menerus mengulangi kesalahannya, hendaknya guru menulis surat kepada wali murid tersebut dan menyerahkan hukumannya kepada sang wali terhadap si murid setelah menasihatinya. Dengan demikian, lengkaplah kerjasama antara sekolah dan rumah tangga dalam mendidik anak.

 

Menggantungkan Tongkat

Disenangi apabila seorang pendidik—baik guru maupun ayah— menggantungkan cambuk yang bisa digunakan untuk memukul dinding agar anak-anak bisa menyaksikannya dan merasa takut terhadap hukuman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluarga kalian, karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka.” (Dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 4022)

Ucapan beliau, “bisa dilihat oleh anggota keluarga”, maksudnya agar menjadi rintangan bagi mereka melakukan berbagai kejelekan, karena takut tertimpa hukuman sebagai akibatnya.

Ucapan beliau, “karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka”, maksudnya bisa membuat mereka bersikap santun, berakhlak dengan akhlak yang mulia dan menyandang berbagai keutamaan yang sempurna. (Faidhul Qadir, al-Munawi, 4/325)

 

Pukulan Ringan

Seorang pendidik boleh memukul dengan ringan, jika segala cara di atas tidak memberi manfaat. Lebih-lebih lagi dalam hal penunaian shalat bagi seorang anak yang telah berusia sepuluh tahun, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ajari anak-anak kalian shalat ketika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika telah berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sahih, HR. al-Bazzar dan yang lainnya)

Tentu amat indah pengajaran apabila disertai metode yang sesuai syariat. Karena itu, bekal berharga seperti ini sudah semestinya dimiliki oleh seorang pendidik sejati.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Nida’ ilal Murabbiyyin wal Murabbiyyat karya asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)


[1] Badanah adalah unta yang hendak dijadikan sebagai hadyu dalam ibadah haji.

Menikah, Memperbanyak Umat Rasul

 

 Janur Kuning

Pernikahan dalam Islam sebagai satu sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia memiliki banyak tujuan yang bermanfaat bagi insan. Di antara tujuannya yang paling agung adalah mendapatkan keturunan.

Mengapa dikatakan paling agung? Karena anak-anak yang terlahir dari pernikahan yang syar’i akan melanggengkan keberadaan manusia di muka bumi, selama umur bumi masih ada. Selain itu, anak-anak tersebut akan memperbanyak umat manusia, terkhusus umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi dorongan untuk hal tersebut dalam titahnya yang agung,

“Nikahilah perempuan yang wadud, yang walud karena aku membanggakan banyaknya kalian[1].” (HR. an-Nasa’i, al- Imam al-Albani rahimahullah menyatakan derajat hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1784 dan Adab az-Zifaf hlm. 61)

Wadud adalah sangat mencintai suami[2]. Adapun walud adalah banyak melahirkan atau subur rahimnya[3]. Lalu apa hubungannya sifat wadud dengan walud? Karena rasa cinta adalah perantara menuju hubungan yang menjadi sebab terciptanya keturunan. (Sunan an-Nasa’i dengan Hasyiyah al- Imam as-Sindi, 6/66)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian karena kata Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, “Datang seorang lelaki menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Aku menyenangi seorang wanita yang punya nasab yang mulia dan punya kedudukan (di mata manusia), hanya saja dia mandul[4]. Apakah boleh saya menikahinya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang si lelaki untuk menikahi wanita tersebut. Sampai-sampai dia datang meminta izin untuk ketiga kalinya, namun tetap saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan justru mengucapkan titah di atas.”

Di kali lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mendorong para sahabatnya untuk “mencampuri” istri-istri mereka sepulang dari safar, dengan tujuan salah satunya adalah akan didapatkan anak dari hubungan tersebut. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Janganlah kalian terburu-buru menemui keluarga kalian sampai kalian tiba di waktu malam, yakni isya (awal malam), agar para istri (yang mendengar kepulangan kalian) sempat merapikan/menyisiri rambutnya yang acak-acakan dan yang belum mencukur rambut kemaluannya sempat pula melakukannya[5]. Kemudian (setelah bertemu istri kalian) al-kais, al-kais.” (HR. al-Bukhari no. 5245 dan Muslim no. 3625)

Al-Kais yang dimaksud di sini adalah mencampuri istri, demikian kata al- Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan selainnya. (Fathul Bari, 9/424)

Maknanya adalah dorongan untuk mendapatkan keturunan (dari hubungan tersebut). (al-Minhaj, 10/296)

Apabila Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki umat beliau menjadi umat yang terbanyak dibanding umat nabi-nabi selain beliau, tentu keinginan yang menyelisihinya berupa ‘pembatasan keturunan’ tidaklah pantas. Menetapkan jumlah anak harus sekian dan sekian adalah aturan yang menyimpang dari syariat.

Kalau alasan ekonomi yang dikemukakan, ‘zaman semakin sulit, susah memberi makan’, ‘takut tidak bisa memberi makan’, ‘sekarang lagi krisis moneter’, atau ‘sedang masa krisis ekonomi’, telah dijawab oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah kalian membunuh anakanak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Allah ‘azza wa jalla yang memiliki nama ar-Razzaq (Dzat Yang Maha Memberikan rezeki)-lah yang menanggung rezeki hamba-hamba-Nya, baik di langit maupun di bumi, dan apa yang ada di antara keduanya.

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya.” (Hud: 6)

“Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepada kalian.” (al-Ankabut: 60)

Bukankah sejak janin berusia empat bulan dalam kandungan ibunya telah ditetapkan rezekinya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu?

Karena itu, harus diyakini tanpa keraguan bahwa setiap anak lahir membawa rezekinya masing-masing. Orang tuanya tidak perlu mengkhawatirkan rezeki mereka. Berbeda halnya kalau pengaturan jarak untuk ‘punya anak lagi’ atau pembatasan ‘tidak bisa punya anak lagi’ karena alasan yang dibolehkan oleh syariat, sebagaimana akan dijelaskan.

 

Hukum Pemutusan Keturunan

Memutus keturunan sama sekali hukumnya haram sebagaimana pernyataan para ulama karena menentang apa yang diinginkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari umat beliau. Selain itu, perbuatan tersebut termasuk sebab kelemahan dan kehinaan kaum muslimin. Apabila kaum muslimin jumlahnya banyak, itu adalah kemuliaan dan ketinggian bagi mereka.

Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan anugerah-Nya kepada bani Israil ketika Dia ‘azza wa jalla memperbanyak jumlah mereka,

“Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar.” (al-Isra: 6)

Nabi Syu’aib q mengingatkan kaumnya tentang nikmat Allah ‘azza wa jalla atas mereka dengan banyaknya jumlah mereka,

“Ingatlah waktu dahulu kalian berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kalian.” (al-A’raf: 86)

Kenyataan membuktikan hal ini. Umat yang banyak tidak akan tergantung dan membutuhkan yang selain mereka. Karena itu, mereka berwibawa di hadapan musuh-musuhnya.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh melakukan sesuatu yang mengarah pada memutus keturunan sama sekali, kecuali karena alasan darurat, mau tidak mau harus

dilakukan. Misalnya, jika seorang wanita berisiko kematian apabila sampai hamil, menurut keterangan dokter muslim yang tepercaya. Keadaan seperti ini adalah darurat, tidak apa-apa dilakukan terhadap si ibu. Inilah uzur yang membolehkan pemutusan keturunan (tidak punya anak lagi).

Demikian pula apabila rahim ibu mengalami gangguan/penyakit yang apabila hamil dikhawatirkan akan memudaratkan dirinya dan rahimnya terpaksa diangkat, yang seperti ini tidak apa-apa. (Fatawa Ibnu Utsaimin, 2/836)

 

Hukum Pembatasan Keturunan

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang pembatasan jumlah anak. Beliau menegaskan, “Membatasi keturunan karena khawatir rezeki yang sempit tidaklah dibolehkan, karena rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla, Dialah yang menentukan ajal dan rezeki hambahamba- Nya. Tidak ada satu anak pun yang lahir melainkan telah ditentukan rezekinya sebagaimana telah ditentukan ajalnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Perbuatan membatasi keturunan serupa dengan perbuatan orang-orang jahiliah yang membunuh anak-anak mereka karena takut fakir. Hanya saja, perbuatan orang-orang belakangan dalam bentuk mencegah punya anak karena takut miskin, sedangkan orangorang jahiliah benar-benar membunuh anak mereka yang sudah lahir karena takut miskin.

Bagaimana pun keadaannya, alasannya sama dan tentu hal semisal ini tidak dibolehkan. Yakinlah rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla. Perbuatan membatasi keturunan karena takut miskin adalah sikap berburuk sangka kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang wajib bagi kita, orang tua, adalah bertawakal kepada Allah ‘azza wa jalla. Percayalah bahwa Allah ‘azza wa jalla memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batasan. Karena itu, berbaik sangkalah kepada Rabbmu. Jangan sampai berbagai bisikan dan kekhawatiran yang tidak sepantasnya mengusikmu, sedangkan engkau tidak tahu mana yang baik dan bermaslahat bagimu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagi kalian. Allah-lah Yang Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Di kesempatan lain, Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Menginginkan anak dan keturunan adalah hal yang disyariatkan. Hal itu akan memperbanyak jumlah umat Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memberikan anjuran agar seorang lelaki menikahi perempuan yang subur rahimnya. Kata beliau, ‘Aku berbangga-bangga di hadapan umat yang lain dengan banyaknya kalian pada hari kiamat’.”

Jadi, menginginkan anak adalah hal yang disyariatkan bagi kaum muslimin dan sepantasnya menjadi perhatian dan semangat (orang-orang didorong untuk memperbanyak keturunan).

Adapun membatasi keturunan, ini adalah pemikiran buruk yang disisipkan oleh musuh-musuh Islam yang ingin melemahkah kaum muslimin dan meminimalkan jumlah mereka.

Membatasi keturunan tidak dibolehkan oleh Islam karena bertentangan dengan tujuan syar’i, yaitu memperbanyak individu umat Islam dan memperbanyak orang-orang yang beramal di tengah masyarakat.

Membatasi keturunan berarti juga mengurangi kemampuan manusia yang telah Allah ‘azza wa jalla ciptakan mereka untuk memakmurkan alam ini. Dengan banyaknya keturunan anak manusia, akan tercapai kemaslahatan bagi individu, masyarakat, dan umat.

Pemikiran untuk membatasi keturunan yang disusupkan ke tengah-tengah kaum muslimin berhasil memengaruhi sebagian orang yang lalai atau lemah iman. Mereka terpengaruh dan mengikutinya (bahkan turut mempropagandakannya dan menjadi pendukungnya di garis depan). Padahal yang wajib atas mereka adalah menghapus pemikiran ini dari benak mereka (dan dari orang lain). Semestinya mereka justru bersemangat punya keturunan yang banyak. Rezeki anak-anak itu di tangan Allah ‘azza wa jalla.

Banyaknya keturunan akan mendatangkan kebaikan, karena Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan satu jiwa kecuali telah menciptakan rezekinya. Selain itu, Dia memudahkan kemaslahatan bagi jiwa tersebut. Adapun keluhan atau ancaman dengan krisis ekonomi dan (teori bahwa) banyaknya penduduk akan berdampak kurangnya pangan dan rezeki, adalah wahyu dari setan dan pengikutnya yang tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan takdir-Nya.

Orang-orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla bersandar dan bertawakal kepada-Nya. Karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan,

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2-3)

Kebiasaan orang-orang musyrikin dahulu mereka membunuh anak-anak mereka karena takut miskin maka Allah ‘azza wa jalla melarang dengan firman-Nya,

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Hal ini menunjukkan rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla dan setiap jiwa telah Dia ‘azza wa jalla tentukan rezekinya. Memperbanyak keturunan akan memperbanyak rezeki, meningkatkan produksi/hasil, dan memperbanyak orang-orang yang bekerja (untuk memakmurkan alam ini), atau orang-orang yang beramal. (al- Muntaqa, 4/172—173)

 

Hukum Pengaturan Jarak Kehamilan

Apabila pengaturan ‘punya anak’ atau menunda kehamilan karena faktor kesehatan istri, seperti tidak bisa menanggung kehamilan atau tidak boleh melahirkan karena sakit yang dideritanya, tidak apa-apa dia menggunakan ‘sesuatu’ yang bisa mencegah kehamilan dalam jangka waktu tertentu (tidak selamanya) hingga hilang kondisi yang memberatkannya untuk menanggung kehamilan dan persalinan.

Perbuatan seperti ini termasuk penjagaan dan pengobatan, bukan pembatasan keturunan atau tidak ingin punya keturunan (lagi) karena takut miskin. (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 3/157)

Al-Imam al-Albani rahimahullah berfatwa tentang pengaturan keturunan bahwa hal tersebut termasuk problem yang menimpa kaum muslimin pada hari ini di negeri-negeri Islam. Apabila pengaturan tersebut dilakukan karena mengikuti saran dokter muslim yang pakar dalam bidangnya, yang benar-benar ingin memberikan nasihat yang baik, untuk menjaga kesehatan istri yang terganggu karena sering melahirkan, banyak anaknya, hal ini adalah uzur yang membolehkan.

Namun, apabila pendorong untuk melakukan pengaturan tersebut adalah karena takut miskin, perhitungan materi yang layaknya dilakukan oleh orang-orang kafir, tentu tidak dibolehkan. Sampai-sampai salah seorang yang melakukan pengaturan keturunan ini menyatakan, “Aku dan istriku sudah berdua. Aku cukup punya dua anak.”

Masing-masing melakukan perhitungan jumlah penghasilannya, berapa anggota keluarga yang bisa dihidupi dengan penghasilan sejumlah itu? Hal ini tidak dibolehkan oleh Islam karena faktor melakukan pengaturan keturunan muncul dari perbuatan orang jahiliah yang telah dinasihatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Lebih-lebih lagi kaum muslimin, seharusnya mengimani bahwa anak itu datang (lahir ke dunia) dalam keadaan rezekinya bersamanya, karena sebelum si anak lahir ke alam dunia, saat dia masih berada dalam perut ibunya telah dicatat rezekinya. Pembatasan anak karena alasan materi tidaklah diperkenankan selama-lamanya. (al-Hawi min Fatawa asy-Syaikh al-Albani, hlm. 332-333)

 

Obat Pencegah Kehamilan

Samahatul Walid al-Imam Ibnu Baz rahimahullah menyatakan, seorang wanita tidak boleh mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan. Sebab, Allah ‘azza wa jalla justru mensyariatkan sebaliknya, yaitu berupaya mendapatkan keturunan dan memperbanyak umat Islam. Umat sangat membutuhkan jumlah yang banyak untuk bisa menegakkan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla, berjihad fi sabilillah, dan melindungi eksistensi muslimin, dengan izin dan taufik Allah ‘azza wa jalla.

Demikian pula apabila seseorang memiliki anak yang banyak, dengan jarak kelahiran yang dekat dan menyusahkan ibu apabila hamil lagi, tidak apa-apa si ibu memakai obat-obatan pencegah kehamilan dalam masa tertentu, seperti setahun atau dua tahun selama masa penyusuan. Dengan demikian, urusannya menjadi ringan dan dia bisa mendidik anak-anaknya dengan semestinya.

Adapun seorang wanita menggunakan obat-obatan pencegah kehamilan karena ingin berkonsentrasi pada profesi/pekerjaannya, mengejar karir, atau yang semisalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita pada hari ini, tidaklah dibolehkan. (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 285-286)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Di hadapan para nabi pada hari kiamat, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Ibnu Hibban.

[2] Hal ini tercapai dengan menikahi wanita yang masih gadis/perawan. Karena sebelumnya si gadis tidak mengenal selain lelaki yang menikahinya, sehingga cintanya kepada suaminya adalah cinta yang awal; atau dia baru mengenal cinta dengan pernikahannya tersebut sehingga benar-benar mencintai suaminya. Berbeda halnya apabila yang dinikahi adalah janda, bisa jadi cintanya sudah atau masih terpaut pada suami yang sebelumnya.

[3] Hal ini bisa diketahui dengan melihat ibu si wanita atau saudara perempuannya, atau karib kerabatnya yang perempuan, apakah mereka punya banyak anak atau tidak.

Untuk melihat apakah seorang wanita bersifat wadud—memiliki rasa cinta yang lebih kepada suami—bisa pula diketahui dengan melihat karib kerabatnya, ibunya misalnya, bagaimana cinta ibunya kepada ayahnya.

[4] Bisa jadi, si lelaki mengetahui wanita tersebut mandul karena tidak mengalami haid, atau si wanita pernahmenikah dengan lelaki lain dan tidak punya keturunan. (Hasyiyah as-Sindi)

[5] Istri sempat berdandan menata dirinya dan menghilangkan apa yang tidak pantas terlihat oleh suami dalam rangka menyambut kedatangan sang suami, sehingga suami tidak kecewa ketika melihatnya.

Dikisahkan bahwa mereka hendak datang tiba-tiba di awal siang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah mereka dan memerintahkan agar mereka menundanya hingga akhir siang. Dengan demikian, berita kedatangan mereka telah sampai kepada istri-istri mereka sehingga para istri telah bersiap untuk menyambut suaminya. (Tuhfatul Ahwadzi)

Dalam Fathul Bari (9/391) dijelaskan, perintah untuk masuk menemui keluarga di waktu malam ketika pulang bepergian yang ada pada hadits ini dan larangan masuk menemui keluarga di waktu malam pada hadits yang lain, bisa dikompromikan Perintah dalam hadits ini yang dimaksud adalah masuk pada awal malam, sedangkan larangan dalam hadits yang lain ialah masuk pada tengah malam.

Bisa juga dikompromikan bahwa perintah masuk menemui keluarga di malam hari ini bagi orang yang telah mengabari keluarganya tentang kepulangannya, sedangkan larangan dalam hadits lain berlaku bagi orang yang belum memberitahu keluarganya tentang kepulangannya.

Bani Israil Terdampar di Padang Tiih (1)

Kisah ini terjadi setelah Bani Israil menyeberang lautan dan dihancurkannya patung anak sapi dari emas yang disembah oleh sebagian besar mereka. Kemudian, Bani Israil dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam menuju Tanah Air mereka yang telah dijanjikan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk mereka, yaitu Palestina.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”

Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orangorang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Apabila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.”

Berkatalah Musa, “Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.”

Allah berfirman, “(Jika demikian), sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka dari itu, janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (al-Maidah: 20—26)

Allah ‘azza wa jalla mengingatkan Bani Israil akan nikmat-Nya yang sangat besar, Dia menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir’aun, bahkan menyenangkan hati mereka dengan melihat sendiri kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya dalam satu hari. Tidak ada satupun musuh mereka itu yang selamat.

Tidak hanya itu, jenazah Fir’aun yang sudah mati diperlihatkan pula oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga saat ini, sebagai hiburan bagi Bani Israil, sekaligus peringatan bagi para penguasa di seluruh dunia sesudahnya. Kemudian, Nabi Musa ‘alaihissalam membawa mereka menuju tanah air mereka, Baitul Maqdis. Tanah suci yang ditinggalkan oleh bapak moyang mereka, Ya’qub (Israil) ‘alaihissalam. Belum berapa lama, setelah melewati sebuah negeri, Bani Israil melihat penduduknya sedang tirakat di sekitar berhala. Menyaksikan hal itu, terbit keinginan mereka, dan segera mereka utarakan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Nabi Musa ‘alaihissalam menegur mereka dengan keras. Bani Israil tidak lagi meminta hal itu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Akan tetapi, dalam empat puluh hari, ketika mereka ditinggal oleh Nabi Musa ‘alaihissalam yang memenuhi panggilan dari Allah ‘azza wa jalla untuk bertemu dengan-Nya di bukit Thursina, tujuh puluh ribu orang ikut teperdaya oleh Samiri dan terjerumus dalam perbuatan syirik akbar tersebut.

Allah ‘azza wa jalla yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengilhamkan tobat kepada mereka dan menerima tobat tersebut. Dikisahkan, tujuh puluh ribu orang yang dihukum mati oleh saudara mereka sendiri dihidupkan kembali oleh Allah ‘azza wa jalla.

Wallahu a’lam.

Sesudah itu, patung anak sapi yang disembah oleh sebagian besar Bani Israil itu dibakar musnah dan abunya dibuang ke laut. Bani Israil sekali lagi dihadapkan kepada kenyataan bahwa memang tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Patung anak sapi yang selama ini mereka puja-puja tidak lebih dari sebuah benda mati, tidak bisa menjawab perkataan mereka, tidak pula mampu bersuara sedikit pun.

Kemarahan Nabi Musa ‘alaihissalam sudah pupus, beliau mengambil Taurat yang sempat dilemparkannya. Beberapa lembaran yang berukuran besar. Ada yang menyebutkan asalnya adalah permata surga. Di dalam tulisannya terdapat hidayah yang menerangkan mana yang hak mana yang batil, mana amalan yang baik, mana pula yang buruk, serta petunjuk kepada semua kebaikan. Lembaran itu juga sarat dengan akhlak dan adab yang luhur dan berisi pula rahmat serta kebahagiaan bagi yang mengamalkannya, memahami hukum dan makna-maknanya.

Akan tetapi, tidak semuanya siap dan mau menerima hidayah dan rahmat Allah tersebut. Sebab, yang hanya mau menerimanya ialah orang-orang yang takut dan tunduk merendahkan dirinya kepada Rabb (Yang Mencipta, Menguasai, Memberi rezeki, Mengatur, dan Memelihara)nya.

Nabi Musa ‘alaihissalam mulai menerangkan kepada mereka kandungan Taurat yang beliau terima. Mulanya mereka menolak dan merasa perintah atau larangan tersebut sangat berat. Dengan sabar Nabi Musa ‘alaihissalam mengingatkan mereka bahwa itu semua ketetapan Allah ‘azza wa jalla, tetapi mereka tidak peduli dan masih menyanggah Nabi Musa ‘alaihissalam. Tiba-tiba, gunung yang ada di dekat mereka melayang tinggi di atas mereka seperti payung.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakanakan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (al-A’raf: 171)

Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa dalam ayat ini seakan-akan dikatakan kepada mereka,”Kalau kamu tidak menerima Taurat dan kandungannya, gunung ini akan dihempaskan kepada kamu.”

Melihat bayangan hitam bukit Thursina di atas kepala mereka, Bani Israil ketakutan dan segera menjatuhkan diri bersujud sambil mengintip ke arah gunung itu. Mereka sangat khawatir gunung itu menimpa mereka. Akhirnya, mereka menerima ketetapan Taurat yang disampaikan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam.

Cara sujud sambil mengintip ke langit, menjadi kebiasaan mereka turuntemurun. Kata mereka, “Tidak ada sujud yang lebih agung daripada sujud yang karenanya azab itu terangkat dari kami.”

Demikianlah keadaan mereka. Akan tetapi, hal itu tidak bertahan lama, karena dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.”

Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.” (al-Baqarah: 63—64)

Ingatlah; (ketika Kami mengambil janji dari kamu), yaitu janji yang berat dan diperkuat dengan ancaman yang menakut-nakuti mereka, yaitu terangkatnya bukit Thursina di atas kepala mereka, lalu diperintahkan kepada mereka: (Peganglah apa yang Kami berikan kepadamu), yaitu Taurat, (teguh-teguh), yakni dengan bersungguh-sungguh dan bersabar melaksanakan perintah Allah, (dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya), yaitu apa yang ada di dalam Kitabmu, dengan membaca dan mempelajarinya, (agar kamu bertakwa); menjaga diri dari azab dan murka Allah, atau menjadi orang yang bertakwa.

Akan tetapi, sesudah penekanan yang luar biasa ini, (Kemudian kamu berpaling), sehingga kamu pantas merasakan hukuman yang sangat berat. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”

Sampailah mereka di sebuah desa yang dekat dengan Baitul Maqdis. Nabi Musa ‘alaihissalam memberikan wejangan kepada mereka dan mengingatkan agar mereka maju untuk berjihad. Kata beliau, “Ingatlah nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada kalian.” Sebab, mengingat-ingat nikmat itu menjadi pendorong untuk mencintai Allah ‘azza wa jalla Yang telah melimpahkan kenikmatan itu, sekaligus menumbuhkan semangat beribadah kepada-Nya.

Beliau melanjutkan, “Ingatlah pula ketika Allah mengangkat nabi-nabi di antaramu, yang mengajak kamu kepada hidayah (petunjuk), memperingatkan kamu agar menjauhi hal-hal yang rendah, mendorong kamu kepada kebahagiaanmu yang abadi dan mengajari kalian hal-hal yang belum kalian ketahui.”

“Dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, yang mampu mengatur diri sendiri, lepas dari penindasan musuh kamu, sehingga kamu dapat menjalankan agama kamu dengan leluasa.”

“Dia memberikan kepadamu berbagai kenikmatan agama dan dunia yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.”

Mereka dilebihkan dari bangsa lain yang ada pada zaman itu, karena pada masa itu, Bani Israil adalah orang-orang yang beriman. Sebab itu pula ditetapkan bagi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka dari bangsa ‘Amaliqah.

Kemudian, beliau mengatakan kepada mereka, “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.”

Nabi Musa ‘alaihissalam menerangkan kepada mereka berita yang menenteramkan hati mereka, kalau mereka betul-betul beriman dan meyakini kebenaran berita dari Allah, bahwa Allah telah menentukan mereka memasukinya dan pasti menang melawan musuh-musuh mereka.

Nabi Musa mengingatkan mereka agar tidak berbalik, mundur sehingga menjadi orang-orang yang merugi. Rugi dunia karena kehilangan kesempatan meraih kemenangan yang sudah pasti dan rugi akhirat, karena tidak memperoleh pahala, bahkan justru menerima azab dan hukuman karena mendurhakai perintah.

Apa yang terjadi? Apa jawaban mereka?

Mereka memberikan jawaban yang menampakkan betapa lemahnya hati mereka, rapuhnya jiwa mereka, dan tidak adanya perhatian serta antusias mereka memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya ‘alaihissalam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan jawaban mereka,

Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa.” (al-Maidah: 22)

Ternyata mereka menolak dan memberikan alasan. Seakan-akan mereka hendak mengatakan, “Negeri yang engkau perintahkan kami memasukinya ini, di dalamnya ada orang-orang yang berperawakan mengerikan dan memiliki kekuatan yang dahsyat. Kami tidak sanggup menghadapi mereka. Tidak mungkin pula kami memasukinya selama mereka ada di sana. Kalau mereka sudah keluar, barulah kami memasukinya.”

Perkataan mereka sebagaimana dalam ayat ini, semakin menegaskan sifat dasar mereka, yaitu pengecut dan kurangnya keyakinan mereka terhadap Allah. Sebab, kalau mereka memiliki akal, tentu mereka mengerti bahwa mereka dan musuh mereka sama-sama manusia, anak-anak Adam ‘alaihissalam. Yang kuat adalah orang yang diberi kekuatan dari sisi Allah, karena memang tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Andaikata mereka memiliki keyakinan seperti ini, pasti mereka ditolong dan menang melawan musuh mereka, sebab Allah k sudah menjanjikan hal itu secara khusus kepada mereka.

Melihat keengganan Bani Israil untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, bangkitlah dua orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, termasuk orang-orang yang takut kepada ketetapan dan siksa Allah. Ada yang menyebutkan bahwa keduanya adalah Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam dan Kalib bin Yufana.

Mereka berkata mengingatkan kaum mereka, “Serbulah mereka melalui gerbang kota itu, dengan tiba-tiba. Desaklah mereka dan jangan beri mereka kesempatan. Sebab, apabila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang, tanpa harus bersusah payah bertempur dengan mereka. Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, setelah menjalankan sebab-sebabnya. Akan tetapi, jangan kalian bertumpu kepada sebab-sebab itu, karena semua itu tidak ada artinya jika tidak diizinkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Itupun kalau kamu benarbenar orang yang beriman, karena kalau kamu benar-benar beriman kepada Allah, mengakui kebenaran janji-Nya, hal itu pasti menumbuhkan tawakal kepada-Nya.”

Akan tetapi, rasa takut agaknya sudah menguasai hati sebagian mereka, kecuali yang dirahmati oleh Allah ‘azza wa jalla. Mereka tetap tidak peduli dengan nasihat kedua orang yang mulia itu. Kata mereka, sebagaimana dalam ayat,

Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.”

Di saat-saat genting seperti ini, dalam situasi yang seharusnya mereka membela dan menolong Nabi mereka, mereka justru menghina dan mengolok-olok Allah k dan Rasul-Nya ‘alaihissalam.

Dari sini jelaslah perbedaan antara umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat-umat yang lain. Maha Benarlah Allah ‘azza wa jalla dengan firman-Nya,

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)

Mereka adalah sebaik-baik manusia yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia dan paling bermanfaat bagi sesama manusia. Alangkah indahnya ucapan mereka, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat mereka dalam peristiwa Badr Kubra. Kafilah dagang Quraisy yang mereka kejar telah lolos, sekarang harus menghadapi pasukan Quraisy yang datang lengkap bersama para pemuka mereka. Silih berganti para sahabat mengemukakan pendapatnya, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menawarkan kepada mereka. Seakan-akan ingin menyelami kesiapan sahabat-sahabat Anshar, apakah baiat mereka di ‘Aqabah (I dan II) hanya terbukti bila beliau berada di perkampungan mereka, sedangkan jika di luar Madinah, mereka tidak menjalankannya?

Sahabat-sahabat Anshar tanggap terhadap apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Agaknya kami yang Anda maksud, wahai Rasulullah?”

“Betul.”

“Kami telah beriman dan membenarkan Anda, dan telah kami saksikan bahwa apa yang Anda bawa adalah hak. Karena itu, kami telah menyerahkan janji dan sumpah setia kami kepada Anda agar tetap mendengar dan menaati Anda. Sebab itu, berangkatlah, wahai Rasulullah, menuju apa yang Anda mau, niscaya kami tetap bersama Anda. Demi Dzat Yang mengutus Anda membawa al-haq, andaikata Anda membawa kami menyelami lautan, niscaya kami akan menyelam bersama Anda dan tidak akan ada seorang pun tertinggal di antara kami. Kami tidak benci andaikata bertemu musuh esok hari. Kami adalah orang-orang yang jujur dan tabah dalam peperangan. Semoga Allah memperlihatkan kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda dari kami. Berangkatlah dengan berkah Allah, wahai Rasulullah.”

“Kami tidak akan berkata seperti ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, Musa ‘alaihissalam, ‘Pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.’ Akan tetapi, berperanglah Anda, dan kami akan berperang pula bersama Anda, di kanan dan kiri Anda, juga di depan dan di belakang Anda.”

Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseri-seri, sangat senang mendengar ucapan tersebut dan memberikan kabar gembira kepada mereka akan janji kemenangan dari Allah ‘azza wa jalla.

Berbeda jauh dengan ucapan Bani Israil ini. Mendengar ucapan buruk mereka, Nabi Musa ‘alaihissalam marah. Beliau bersujud bersama Nabi Harun memohon ampunan kepada Allah. Yusya’ dan Kalib juga sedih dan marah melihat perilaku buruk saudara-saudara mereka. Akhirnya, Nabi Musa ‘alaihissalam mendoakan mereka, sebagaimana ayat,

“Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”

Seakan-akan beliau berkata,”Wahai Rabbku, tidak ada yang menaatiku dalam melaksanakan perintah Allah dan menyambut seruanku di antara mereka selain aku dan saudaraku Harun. Aku bukan penindas atau pemaksa mereka, maka putuskanlah persoalan antara kami dan mereka, dengan menurunkan hukuman yang sesuai dengan hikmah-Mu terhadap orang-orang fasik itu.”

Dari sini, jelaslah bahwa ucapan mereka adalah dosa besar yang menyebabkan mereka dihukumi sebagai orang-orang yang fasik.

Allah ‘azza wa jalla mengabulkan doa Rasul-Nya ‘alaihissalam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“(Jika demikian), sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.”

Itulah hukuman yang mereka rasakan di dunia. Allah mengharamkan mereka memasuki Tanah Suci yang telah ditetapkan-Nya bagi mereka, selama empat puluh tahun. Akhirnya, selama empat puluh tahun itu, mereka hanya berputar-putar di padang Tiih, tidak menemukan jalan dan tidak pernah merasa tenang. Mudah-mudahan itu menjadi kaffarah (penghapus) dosa-dosa mereka, sekaligus menjauhkan mereka dari hukuman yang lebih berat.

Bisa jadi, salah satu hikmahnya adalah agar mayoritas mereka yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya serta menolak jihad itu lenyap dan digantikan oleh orang-orang yang masih baik dan lurus hatinya. Sebab, munculnya ucapan bernada ejekan itu hanya muncul dari hati yang lemah dan tidak ada kesabaran serta keteguhan di dalamnya. Tidak ada kemauan dan cita-cita yang tinggi serta tekad yang kuat untuk meraih kemenangan.

Bisa jadi pula, dalam rentang waktu sekian lama, akan lahir dan muncul generasi baru yang akal dan jiwa mereka terbina serta terasah untuk mengalahkan musuh-musuh mereka.  Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (6)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Islamnya ‘Umar adalah pembukaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.” Pada edisi yang lalu telah dinukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidaklah meninggal dunia kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Pada edisi ini, kita akan menelusuri sebagian liku-liku kehidupan beliau yang sarat dengan keteladanan, terkhusus bagi para penguasa sepeninggal beliau.

Sungguh, apabila dikenang sikap tegas dalam memegang kebenaran, ‘Umar pasti disebut-sebut. Jika diingat keadilan dalam memutuskan dan bersikap, nama ‘Umar pasti diingat. Setiap kali kita menyebut kasih sayang kepada orangorang yang lemah dan miskin, beliaulah contoh nyata dalam tindakan. Kalau kita bangga dengan berbagai penaklukan dan pembebasan, beliaulah pahlawan.

Semua kebaikan ada padanya. Pria yang tidak pernah duduk di madrasah atau kursus ilmu-ilmu sosial, politik, dan pemerintahan ini, ternyata mampu menjadi penguasa sepertiga belahan dunia. Sepuluh tahun memegang kendali urusan kaum muslimin, baik bangsa Arab maupun ajamnya, tidak menyisakan celah untuk menjadi sasaran cemoohan dan kritikan.

Jenius yang sangat berhati-hati memegang amanah yang dipikulkan di pundaknya. Sampai-sampai sebagian sahabat besar berkata, “Demi Allah, hai Amirul Mukminin, Anda memberi beban berat kepada khalifah sepeninggal Anda.”

Benar. Mereka yang melihat kesungguhan ‘Umar mengurusi kepentingan kaum muslimin secara khusus atau rakyat secara umum, akan merasa takut dan enggan untuk memikul amanah ini. Betapa tidak, hampir tidak ada dalam benak beliau mengambil keuntungan dunia ketika menjalankan pemerintahannya, mengurusi kepentingan rakyat, khususnya kaum muslimin. Bahkan, beliau tidak rela keluarga beliau menanggung beban seperti yang dirasakannya. Cukup satu ‘Umar memikulnya. Pernah suatu ketika, beliau terlihat mengantuk. Sebagian sahabatnya menegur beliau agar menjaga istirahat yang cukup. Apa jawab pria jenius berhati lembut ini?

“Kalau malam hari aku tidur, pasti aku kehilangan bagianku dari Rabbku. Dan kalau aku tidur di siang hari, pasti aku tidak bisa menjalankan tugasku mengurusi kepentingan orang banyak.”

Subhanallah. Adakah penguasa atau pemimpin yang memikirkan ucapan ini? Semoga Allah memberi hidayah dan taufik kepada mereka yang mengurusi kepentingan kaum muslimin serta memperbaiki kekeliruan mereka.

Wallahul Muwaffiq.

Kekuasaan yang Membawa Rahmat

Setelah selesai dibai’at, ‘Umar duduk di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum muslimin duduk rapi di hadapan beliau. Beliaupun berdiri, membuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘azza wa jalla, shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertasyahud (mengucapkan syahadat).

Ternyata, yang pertama diucapkan oleh beliau adalah doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang keras, maka lembutkanlah aku. Aku lemah, maka kuatkanlah aku. Aku kikir, maka jadikanlah aku dermawan.”1[1]

Melalui jalur asy-Sya’bi, disebutkan bahwa setelah dibai’at sebagai khalifah, ‘Umar naik mimbar, lalu berkata, “Jangan sampai Allah melihatku merasa pantas menempati posisi Abu Bakr.” Lalu dia turun satu tingkat dari tempat yang biasa diduduki oleh Abu Bakr.

Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, beliau berpidato,

“Bacalah al-Quran, niscaya kalian dikenal dengannya. Amalkanlah al-Qur’an, niscaya kalian menjadi ahlinya. Timbanglah diri-diri kalian sebelum kalian ditimbang. Berhiaslah menghadapi hari

‘ardhul akbar (kiamat), ketika kalian dihadapkan kepada Allah, tidak ada satupun yang tersembunyi dari kalian sedikit pun. Sungguh, tidak akan sampai hak orang-orang yang mempunyai hak, untuk ditaati dalam bermaksiat kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya aku menempatkan diriku dalam urusan harta Allah ini seperti wali anak yatim. Kalau aku merasa cukup, aku menahan diri, dan kalau aku mempunyai keperluan, aku memakannya dengan cara yang baik.”2[2]

Pernyataan sederhana tetapi tegas, dan beliau telah menepati kata-katanya, hingga akhir hayatnya. Semoga Allahmeridhai beliau.

Sebagian ahli sejarah menerangkan bahwa perbedaan isi khutbah beliau adalah karena beberapa kemungkinan, di antaranya adalah perbedaan dalam penyampaian dari sebagian orang yang meriwayatkannya, sesuai dengan yang diingat oleh mereka.

Wallahu a’lam.

Ada pula yang menyebutkan bahwa banyak kaum muslimin merasa khawatir dengan ketegasan dan kekerasan watak ‘Umar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalhah bin ‘Ubaidillah kepada Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika riwayat itu sahih. Ketika sampai berita ini kepada ‘Umar, beliau segera berpidato menyampaikan keadaan dirinya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu meninggalkan dunia dalam keadaan ridha kepadanya.

Kemudian beliau mengatakan, “Sikap tegas dan keras itu hanya tertuju kepada mereka yang zalim dan melanggar hak orang lain. Aku tidak akan membiarkan siapapun menzalimi orang lain, atau melanggar haknya sampai aku letakkan pipinya di tanah dan menginjaknya sampai dia tunduk kepada yang hak. Dengan kekerasanku itu, aku akan menyerahkan pipiku kepada mereka yang menjaga kehormatan dan menahan dirinya. Kalian semua punya hak yang harus aku tunaikan; pertama, aku tidak akan menyembunyikan hak kalian sedikitpun, begitu pula rampasan perang yang diberikan oleh Allah untuk kalian, tidak aku tahan. Aku akan mengeluarkannya dengan cara yang benar, dan andaikata jatuh ke tanganku, niscaya aku salurkan pada haknya. Aku juga akan menambah jatah pemberian untuk kalian insya Allah dan menutupi kebutuhan kalian. Hak kalian yang harus aku tunaikan juga ialah bahwa aku tidak akan menggiring kalian kepada kebinasaan.

Kalau kalian tidak ada di tempat, akulah yang menjaga keluarga kalian sampai kalian kembali kepada mereka. Maka dari itu, bertakwalah wahai hambahamba Allah, dan bantulah aku menahan diri kalian terhadapku. Bantulah aku menghadapi diriku dengan amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasihat dalam urusan yang Allah tugaskan aku mengatur urusan kalian.

Aku ucapkan perkataan ini dan aku mohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kamu sekalian.”

Melalui khutbah ini, beliau menyadarkan kita bahwa kekuasaan yang diberikan kepadanya adalah amanat yang berat dan beliau merasa yakin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Beliau merasa yakin pula bahwa ini semua adalah ujian, bukan sebuah kehormatan dan kemuliaan.

Kerendahan hati beliau terlihat dengan merelakan diri melayani dan memuliakan orang-orang yang menahan diri dan memelihara kehormatan mereka. Akan tetapi, terhadap orang-orang yang zalim dan melanggar hak orang lain, beliau tidak akan memberikan apapun selain hukuman.

Melalui khutbah ini pula beliau mengisyaratkan dan memperingatkan para pejabatnya bahwa dia akan selalu mengawasi mereka dalam menjalankan tugas, meskipun jauh dari pandangan mata beliau. Dalam khutbah ini pula beliau menuntut kepada rakyatnya, agar tidak segan-segan menyampaikan nasihat dan meluruskan beliau jika terlihat menyimpang dari tugasnya. Beliau juga menuntut mereka agar menahan diri dari kekurangan yang mungkin muncul dari beliau, dengan tetap mendengar dan taat kepada beliau.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

[2] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

Perbedaan Hukum Bersuci dari Hadats & dari Najis

Bismillah. Pada Asy-Syariah edisi 94 halaman 42 dinyatakan,

apabila lupa terkena najis, dimaafkan dan shalatnya sah. Akan

tetapi, apabila lupa berwudhu, tidak dimaafkan dan shalat wajib

diulang. Apa yang membedakan kedua hukum ini padahal

penyebabnya sama, yaitu lupa syarat shalat? Apakah ada lupa

yang dimaafkan dan yang tidak? Mohon penjelasan.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

thaharah

Bersuci dari hadats besar dan kecil adalah syarat sahnya shalat. Ibnul Mundzir rahimahullah telah menukil ijma’ ulama mengenai hal ini selama ada jalan untuk bersuci dari hadats. Begitu pula an-Nawawi rahimahullah telah menukil ijma’ dalam masalah ini. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dengan lafadz,

“Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci dari hadats.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

“Shalat orang yang berhadats tidak akan diterima hingga dia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaih)

Pada riwayat al-Bukhari rahimahullah ada tambahan lafadz,

Seorang pria dari Hadramaut berkata, “Wahai Abu Hurairah, apakah hadats itu?” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Buang angin tanpa bunyi atau buang angin dengan bunyi.”

Apa yang disebutkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu hanya contoh, karena hadats kecil tidak terbatas dengan buang angin saja.

Ini adalah nash yang sangat gamblang bahwa bersuci dari hadats adalah syarat sahnya shalat. Oleh karena itu, tidak dimaafkan karena tidak tahu atau lupa. Apabila seseorang lupa mandi atau wudhu lantas shalat, ia wajib mengulang shalat-shalat yang telah dilaksanakan tanpa bersuci itu. Apabila shalat tanpa mandi atau wudhu karena tidak tahu hukum, seseorang wajib mengulang shalat yang masih tersisa waktunya saat itu, tidak meliputi shalat-shalat sebelumnya yang telah lewat waktunya.

Adapun hukum bersuci dari najis yang mengenai tubuh, pakaian, dan tempat shalat, terdapat silang pendapat yang cukup kuat di antara ulama. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat wajib sebagai syarat sahnya shalat, tetapi mereka berbeda pendapat apakah shalatnya diulang atau tidak apabila terjadi karena lupa atau tidak tahu. Yang benar, pendapat yang mengatakan dimaafkan jika lupa atau tidak tahu.

Ini adalah riwayat yang terkuat dan termasyhur dari Malik, pendapat lama asy-Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Pendapat ini yang dirajihkan oleh Ibnul Mundzir dan an-Nawawi dari kalangan fuqaha mazhab Syafi’i, serta Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin dari kalangan fuqaha mazhab Hanbali.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban bersuci dari najis adalah:

  • Seluruh hadits yang mewajibkan istinja (cebok dengan air) dan istijmar (bersuci dengan batu atau semisalnya) dari najis yang keluar melalui qubul (lubang kemaluan depan) dan dubur (lubang kemaluan belakang), yang hal itu bertujuan untuk membersihkan tempat keluarnya najis. Hadits-hadits tersebut dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
  • Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengenai dua penghuni kubur yang disiksa dalam kuburnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Adapun salah satunya, ia disiksa karena tidak memerhatikan kesucian dirinya dari air kencingnya (tidak peduli terkena air kencingnya dan tidak membersihkan air kencing yang mengenainya).” (Muttafaq ‘alaih)

  • Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat, tiba-tiba beliau melepaskan kedua sendal yang dikenakannya dan meletakkannya di samping kirinya. Ketika para sahabat melihat hal itu, serta-merta mereka ikut melepaskan sendal-sendal mereka. Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian melepaskan sendal-sendal kalian?”

Mereka berkata, “Kami melihat Anda melepaskan sendal, lantas kami pun melepaskannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkan kepadaku bahwa pada kedua telapak sandalku ada najis yang menempel,” lalu beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah dia memeriksa kedua telapak sendalnya. Apabila dia melihat ada najis yang menempel, hendaklah dia menggosokkannya (pada riwayat Ahmad: hendaklah dia menggosokkannya ke tanah), kemudian shalat dengannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, dan lainnya, dinyatakan sahih oleh al-Hakim menurut syarat Muslim, disetujui oleh adz-Dzahabi, al-Albani, dan al-Wadi’i)1[1]

  • Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tentang seorang a’rabi (Arab badui) yang buang air kecil dalam masjid Nabawi dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Biarkan dia dan guyurkan di atas kencingnya setimba air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu (Muttafaq ‘alaih).

Dalil-dalil di atas menunjukkan wajibnya membersihkan tubuh, pakaian, dan tempat shalat dari najis, yaitu tempat diletakkannya anggota tubuh dan yang bersentuhan dengan pakaian dalam shalat.

Barang siapa sengaja melaksanakan shalat dalam keadaan ada najis di tubuh, pakaian, atau tempat shalatnya, shalatnya tidak sah. Sebab, hal itu adalah perintah khusus dalam shalat, dan melalaikannya berarti melaksanakan shalat dengan sifat yang menyelisihi apa yang diperintahkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, hal itu tertolak.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, jika terjadi tanpa sengaja karena lupa atau tidak tahu, hal itu adalah uzur yang dimaafkan dan shalatnya sah. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhuma di atas yang menunjukkan bahwa hal itu dimaafkan jika terjadi karena tidak tahu lantaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melanjutkan shalatnya, tidak mengulanginya dari awal. Begitu pula halnya jika terjadi karena lupa berdasarkan kesamaan makna antara tidak tahu dan lupa secara metode qiyas (analogi).

Perbedaan masalah ini dengan bersuci dari hadats dari segi makna adalah karena bersuci dari hadats sifatnya perintah melakukan sesuatu, yaitu kewajiban bersuci dari hadats. Adapun bersuci dari najis sifatnya perintah menghindari sesuatu yang terlarang, yaitu haramnya shalat dengan terkena najis pada tubuh, pakaian, ataupun tempat shalat. Dengan demikian, keduanya tidak dapat disamakan hukumnya.

Adapun pendapat yang dipilih oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan ad-Darari bahwa hukumnya wajib tetapi shalat tetap sah dengan melalaikannya—meskipun pelakunya berdosa—ini adalah pendapat yang lemah. Sebab, hal itu adalah perintah khusus dalam shalat, dan melalaikannya berarti melaksanakan shalat dengan sifat yang menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lebih-lebih lagi riwayat ketiga dari Malik bahwa hukumnya hanya sunnah, ini jelas-jelas lemah dan bertentangan dengan perintah Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersuci dari najis dalam shalat.[2]

Wallahu a’lam


[1] Lihat kitab Irwa’ al-Ghalil (no. 284) dan al-Jami’ ash-Shahih (1/459—460)

[2] Lihat kitab al-Ijma’ (no. 1), al-Muhalla (no. 343 & 344), Bidayah al-Mujtahid (1/116—117), al-Majmu’ (3/139—140, 163), al-Mughni (2/464—466), al-Ikhtiyarat (hlm. 66—67), Nailul Authar (“Kitab ash-Shalah”, Bab “Ijtinab an-Najasat fi ash-Shalah”), ad-Darari (hlm. 57), al-Mukhtarat al-Jaliyyah (hlm. 34), dan asy-Syarh al-Mumti’ (2/90—91, 219—221, 228—230).