Dua Tujuan Utama

Setan sangat pandai memanfaatkan kelemahan manusia. Seperti telah diuraikan pada tulisan sebelumnya, manusia mempunyai banyak kelemahan yang hakikatnya adalah penyakit yang menimpa hatinya. Akhirnya kelemahan-kelemahan itu menjadi sebagian pintu masuk setan.

Setan mempunyai dua tujuan: jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka panjangnya ialah menarik manusia sebanyak-banyaknya menjadi temannya di neraka. Adapun jangka pendeknya ialah menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran dan kesyirikan.

Dalam usahanya mencapai tujuan jangka panjang dan jangka pendek ini, setan tidak akan menyuruh manusia, “Tinggalkanlah shalat, jauhilah tauhid, kafirlah kepada Allah!” seandainya dia berbuat demikian, tentu tidak akan diikuti oleh banyak manusia. Sebab, manusia diciptakan di atas fitrahnya, mengakui keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb (Yang Maha Menciptakan, Memberi rezeki dan Mengatur)nya. Tentang hal ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan hal itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.” (al-A’raf: 172)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dia mengeluarkan anak manusia dari tulang sulbi bapak-bapak mereka, menjadikan mereka saling berketurunan, generasi demi generasi. Ketika mengeluarkan mereka dari perut ibu mereka, Allah subhanahu wa ta’ala menekankan kepada mereka Rububiyah-Nya sebagaimana telah ditanamkan-Nya dalam fitrah mereka, bahwa Dia adalah Rabb mereka, Yang Menciptakan dan Menguasai serta Memiliki mereka, “Bukankah Aku adalah Rabb (Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki dan Pemelihara) kamu?”

Saat itu manusia mengatakan, “Betul, kami mengakui dan bersaksi.”

Siapa pun, telah diciptakan di atas fitrah tersebut. Akan tetapi, fitrah ini bisa berubah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِيَ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Sungguh, Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus semuanya, dan sesungguhnya setan mendatangi mereka lalu menarik mereka keluar dari agama mereka.” (HR. Muslim no. 2865 dari ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu)

Hadits ini menerangkan secara tegas bahwa manusia diciptakan dalam keadaan hanif (Islam dan bertauhid), tetapi setan menyeret mereka keluar dari agama mereka.

Upaya setan menyeret mereka keluar dari fitrah tersebut tidak serta-merta dengan seketika, tetapi bertahap dan berangsur-angsur, sebagaimana telah dijelaskan. Bahkan, dia akan datang dengan cara-cara yang licik, yang tidak pernah diperkirakan oleh manusia.

Di antara caranya yang keji untuk menjerumuskan manusia ke dalam kekafiran atau pelanggaran adalah dengan menampakkan seolah-olah dia sedang memberi nasihat. Dia mendatangi seorang manusia untuk mengajaknya kepada maksiat, sementara manusia itu mengira bahwa setan sedang menasihati dan mengajaknya kepada kebaikan.

Dia selalu berusaha menjegal dakwah para nabi dan rasul dengan seluruh kemampuannya. Dialah yang menjadi sebab terbunuhnya Yahya dan Zakariya ‘alaihimassalam. Dia pula yang berusaha mencelakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melemparkan api ke wajah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga yang membantu orang-orang Yahudi menyihir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pintu-Pintu Setan

Tidak ada jalan untuk menghindar dari kejahatannya selain dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tidak mungkin membatasi jenis-jenis kejahatannya, apalagi menyebutnya satu per satu, karena semua kejahatan di alam ini, dialah sebabnya.

Akan tetapi, mungkin dapat diringkas, menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, secara umum ada enam pintu kejahatan yang dimasukinya Sebab, dia ingin meraih kemenangan dengan menjerumuskan manusia melalui pintu-pintu kejahatan yang sebagiannya lebih sulit daripada yang lainnya. Setan tidak akan berpindah ke pintu yang lebih rendah, kecuali jika dia kesulitan untuk memasuki pintu yang di atasnya.

 

Pintu yang pertama adalah kekufuran dan kesyirikan serta memusuhi Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Apabila dia berhasil menghancurkan manusia melalui kejahatan ini, tenanglah hatinya, redalah kesedihannya, dan dia dapat beristirahat dari kepayahannya melumpuhkan manusia. Inilah yang pertama kali diinginkannya terhadap diri manusia.

Setan tidak henti-hentinya membujuk dan merayu manusia sampai manusia itu jatuh dalam kekafiran, kesyirikan, dan permusuhan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Kalau berhasil, dia akan menjadikan manusia itu sebagai prajuritnya, bahkan menjadi pengganti setan untuk menghancurkan manusia lainnya.

Kaum musyrikin secara lahiriah terlihat menyembah patung dan berhala yang mereka buat dan mereka beri nama, tetapi sesungguhnya, mereka itu sedang beribadah kepada setan yang membuat mereka memandang indah dan baik kesyirikan tersebut.

Seandainya setan gagal dari arah ini, dia akan beralih kepada kejahatan berikutnya, yaitu…

Pintu yang kedua ialah bid’ah.[1] Termasuk pula ide-ide sempalan yang menyelisihi pemahaman dan prinsip para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Mengapa setan menjadikannya sebagai jalan kedua untuk menghancurkan manusia?

Alasannya, karena bahaya bid’ah dan dosanya sangat besar jika menimpa agama seseorang. Bahkan, hampir dapat dipastikan pelakunya sangat sulit untuk bertobat dan berhenti dari suatu kebid’ahan atau pemikiran hizbiyah, karena pelakunya merasa yakin bahwa dia sedang melakukan sebuah kebaikan atau ketaatan yang mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahul Musta’an.

Dikisahkan, di masa tabi’in terkemuka, Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah, ada yang mengerjakan shalat sunah subuh di Masjid Nabawi berulang kali. Sa’id bin al-Musayyab menegur dan menasihatinya. Akan tetapi, orang itu membantah, “Wahai Imam, apakah saya akan disiksa karena mengerjakan shalat?”

Sa’id bin al-Musayyab berkata, “Engkau tidak disiksa karena mengerjakan shalat, tetapi disiksa karena menyelisihi perintah/sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Seperti itu juga yang pernah dialami oleh al-Imam Malik rahimahullah ketika ada seseorang yang bertanya, “Wahai Abu ‘Abdillah, dari manakah saya ihram?”

 Beliau berkata, “Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ihram.”

Orang itu berkata lagi, “Saya ingin berihram dari masjid, dekat kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kata beliau, “Jangan lakukan, karena saya khawatir kamu ditimpa fitnah.”

Orang itu bertanya pula, “Fitnah apa yang ada dalam masalah ini? Bukankah saya hanya menambah jarak beberapa mil?”

Kata beliau, “Fitnah apa lagi yang lebih besar daripada kamu menganggap bahwa kamu telah bersegera menuju sebuah keutamaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang mendapatkannya?! Sungguh, aku mendengar Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”[2]

Secara bahasa, bid’ah adalah sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Akan tetapi, yang dimaksud dalam hadits dan perkataan para ulama Ahlus Sunnah adalah bid’ah dalam urusan agama, bukan dunia.

Oleh sebab itu, bid’ah yang dinyatakan sesat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semua ajaran yang menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ajakan untuk menyimpang dari ajaran yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa.

Berdasarkan tinjauan inilah, sebagian ulama salaf mengatakan, “Bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan. Sebab, pelaku kemaksiatan itu, mungkin saja bertobat, sedangkan pelaku bid’ah tidak mungkin (susah) bertobat (karena merasa dirinya benar).”

Sebab itu pula, semua gagasan pemikiran atau kaidah yang menyalahi sunnah dan manhaj salaf termasuk bid’ah, yang diancam dengan neraka.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنّ اللهَ احَتَجَرَ التَّوْبَةَ على كلِّ صاحِبِ بِدْعَةٍ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menghalangi tobat setiap pelaku bid’ah.”[3]

Wallahul Musta’an.

Kalau setan berhasil melalui jalan ini, dia akan menjadikan manusia itu sebagai wakilnya yang mengajak manusia lain kepada kebid’ahan. Andaikata dia gagal, misalnya karena manusia itu diberi anugerah kecintaan kepada sunnah dan memusuhi bid’ah dan para pengusungnya, setan akan menggunakan arah berikutnya, yaitu;

Pintu yang ketiga ialah dosa-dosa besar (al-kabair) dengan semua bentuk dan tingkat perbedaannya. Setan sangat berambisi menjerumuskan seorang manusia ke dalamnya. Terutama apabila manusia itu dikenal sebagai seseorang yang berilmu dan diikuti. Setan sangat antusias membuat manusia lari meninggalkan orang tersebut.

Jika dia berhasil menjerumuskan orang yang berilmu itu hingga melakukan dosa besar, dia akan menyebarkan dosa itu di tengah-tengah manusia, bahkan menunjuk wakil-wakilnya di antara mereka untuk menyebarkannya ke seluruh penjuru dengan dalih taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, namun tanpa disadarinya dia menjadi wakil iblis.

Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١١

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (an-Nur: 11)

Inilah buahnya jika mereka senang menyebarkannya. Lalu, bagaimana jika mereka justru yang paling berperan menyebarkan aib itu tanpa memberinya nasihat, tetapi menuruti ajakan iblis agar membuat orang lari dari orang alim tersebut dan ilmunya? Adapun dosa yang dilakukan orang alim itu, meskipun sampai ke ujung langit, masih lebih ringan dalam pandangan Allah subhanahu wa ta’ala daripada perbuatan mereka.

Dosa itu adalah kezaliman terhadap dirinya sendiri, yang seandainya dia meminta ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bertobat kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala menerimanya dan mengganti kejelekannya dengan kebaikan. Adapun dosa mereka yang menyebarkan aib tersebut, adalah kezaliman terhadap orang-orang yang beriman dan mencari-cari aib mereka serta sengaja ingin mempermalukan mereka.

Wallahul Musta’an.

(Insya Allah Bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Yaitu perkara baru yang dibuat-buat di dalam urusan agama, menyerupai ajaran agama, dengan tujuan berlebih-lebihan dalam mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi, bukan bid’ah dalam urusan dunia, sebagaimana anggapan sebagian kaum muslimin.

[2] Lihat Dzammul Kalam karya al-Harawi dan al-I’tisham karya asy-Syathibi, sebagaimana dinukil oleh asy-Syaikh al-Albani dalam adh-Dha’ifah (1/377).

[3] HR. ath-Thabarani dari Anas radhiallahu ‘anhu dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ (no. 1699).