Sikap yang Keliru Saat Sakit (bagian ke 2)

(ditulis oleh: al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Kekeliruan berikutnya yang dilakukan oleh sebagian orang yang sedang diuji oleh Allah l dengan penyakit adalah:

7. Minta bantuan kepada tukang sihir, dukun, atau “orang pintar”.
Perkara paling berbahaya yang dilakukan oleh orang yang sakit adalah pergi ke tukang sihir, dukun, atau “orang pintar” guna beroleh kesembuhan. Mengapa dikatakan paling berbahaya? Karena taruhannya adalah iman. Barang siapa mendatangi para thaghut tersebut, memercayai, dan membenarkan apa yang mereka katakan berarti ia telah kafir, na’udzubillah. Nabi n pernah bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n
“Siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lantas membenarkan apa yang dikatakannya, berarti ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad n.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 5939)

8. Tidak mau berdoa
Sakit yang menimpa seorang hamba adalah dengan takdir Allah l dan Dia Mahamampu untuk mengangkat dan menghilangkan sakit tersebut. Karena itu, si sakit harus berdoa kepada Allah l. Doa adalah senjata seorang mukmin.
Rasulullah n pernah bersabda:
الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ
“Doa bermanfaat untuk mengatasi apa yang telah menimpa dan yang belum, maka semestinya kalian, wahai hamba-hamba Allah, berdoa kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 3409)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Doa adalah obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi musibah, yang akan menolak dan menghilangkannya, yang mencegah turunnya, mengangkatnya, atau meringankannya apabila sudah menimpa. Doa adalah senjata orang beriman. Bersama musibah, doa memiliki tiga posisi:
1. Ia lebih kuat daripada bala, maka tertolaklah bala tersebut olehnya.
2. Ia lebih lemah daripada musibah sehingga mengalahkannya.
Akibatnya, bala pun menimpa si hamba. Akan tetapi, terkadang doa tersebut menjadikannya ringan walaupun doa sendiri dalam posisi lemah.
3. Sama/seimbang antara doa dan bala, sehingga masing-masing saling menolak. (Doa berupaya menolak bala, sebagaimana bala pun mengalahkan doa). (ad-Da’u wad Dawa’, hlm. 11)
Jika demikian posisi doa saat berhadapan dengan bala, lantas mengapa ada orang sakit yang lalai atau enggan berdoa, menganggapnya remeh dan tidak perlu?

9. Berpaling dari ruqyah yang syar’i1
Allah l berfirman:
“Dan Kami menurunkan dari al-Qur’an ini apa yang merupakan penyembuh/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-Isra: 82)
Dalam as-Sunnah, pengobatan dengan al-Qur’an adalah sesuatu yang diakui. Rasulullah n pernah melakukannya, demikian pula para sahabat beliau.
Al-Imam Ibnul Qayyim t mengatakan, “Dimaklumi bahwa ada di antara ucapan yang memiliki kekhususan dan kemanfaatan yang teruji. Lalu, apa kira-kira persangkaan terhadap kalam/ucapan Rabbul Alamin, yang ucapan-Nya itu dilebihkan-Nya di atas seluruh ucapan, sebagaimana kelebihan Allah l di atas seluruh makhluk-Nya? Kalam-Nya adalah penyembuh/obat yang sempurna, penjagaan yang bermanfaat, dan cahaya yang memberikan petunjuk serta rahmat yang umum. Andai kalam-Nya tersebut Dia turunkan kepada gunung, niscaya gunung akan hancur karena keagungan dan kemuliaannya.” (ath-Thibbun Nabawi, hlm. 138)
Dalam Zadul Ma’ad (4/287), Ibnul Qayyim t menegaskan, “Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, sebagaimana pula penyembuh seluruh penyakit dunia dan akhirat. Tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat.
Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, kepasrahan secara total, keyakinan yang kokoh dan penunaian syaratnya yang sempurna, niscaya penyakit apa pun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi? Kalam yang jika diturunkan kepada gunung, ia akan hancur. Atau jika diturunkan kepada bumi, akan terbelahlah ia.
Maka dari itu, tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam al-Qur’an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan)nya.”
Ibnul Qayyim t juga mengatakan, “Ketahuilah, pengobatan ilahiah bermanfaat terhadap penyakit setelah terjadinya penyakit tersebut dan bisa mencegah terjadinya penyakit (apabila belum mengenai seorang hamba). Jika ternyata penyakit tetap datang, tidaklah sampai memudaratkan, sekalipun menyakitkan (memberi rasa sakit).” (ath-Thibbun Nabawi, hlm. 142)
Ruqyah dan ta’awwudzat (bacaan/doa yang berisi permohonan perlindungan kepada Allah l) tidak hanya bisa menghilangkan penyakit2. Bahkan, ia bisa menjaga kesehatan (sebelum penyakit datang). Sebagai buktinya adalah apa yang ditunjukkan dalam hadits Aisyah x yang dalam Shahihain, Aisyah x berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِـ{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَمَا بَلَغَتْ يَدُهُ مِنْ جَسَدِهِ
“Apabila telah berada di tempat tidurnya, Rasulullah n meniup pada kedua telapak tangannya dengan membaca Qul huwallahu ahad dan al-mu’awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Nas). Setelahnya, dengan kedua telapak tangan tersebut beliau mengusap wajahnya dan seluruh tubuhnya yang bisa dicapai oleh tangannya.”
Dalam Shahihain pula disebutkan hadits:
مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah pada waktu malam, niscaya kedua ayat tersebut mencukupinya.”
Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Nabi n:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً فَقَالَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ؛ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
“Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca doa:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa yang diciptakan-Nya,’ tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakannya sampai ia meninggalkan tempatnya tersebut.”
Karena itu, hendaknya orang yang sedang ditimpa sakit tidak melupakan pengobatan yang merupakan petunjuk Nabi n ini, yaitu berobat dengan bacaan al-Qur’anul Karim, zikir-zikir, dan doa-doa yang diajarkan serta dilakukan oleh Nabi n saat sakit. Jangan sampai yang ada di pikirannya hanyalah minum obat dari dokter atau yang dibeli di apotek, tanpa ingin mencoba pengobatan nabawi.
Namun, yang perlu kita ketahui saat melakukan pengobatan dengan ruqyah adalah pengobatan ini butuh penerimaan dari yang diobati dan kekuatan dari yang mengobati, serta tidak ada penghalang yang mencegah keberhasilan pengobatan tersebut. (ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 8)
Oleh karena itu, masing-masing (pihak yang mengobati dan yang diobati) harus yakin, bersih hatinya dari ketergantungan kepada selain Allah l, berpegang dengan tauhid, jauh dari kesyirikan, dan tunduk serta merendah kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Insya Allah dengan demikian pengaruh ruqyah akan tampak.
10. Tidak memerhatikan wasiat
Apabila di tangan kita ada hak orang lain atau kita punya hak pada orang lain, dan tidak ada tanda bukti hitam di atas putih, kita harus membuat wasiat agar hak tersebut tidak tersia-siakan. Wasiat ini bisa dilakukan secara lisan meskipun tertulis lebih baik, sebagaimana halnya ditunjukkan oleh hadits yang akan disebutkan.
Rasulullah n bersabda:
مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيِّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ
“Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya itu tertulis di sisinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dengan demikian, bersegera menulis wasiat termasuk sunnah Nabi n.
Ada orang sakit yang merasa enggan menulis wasiat. Dengan wasiat tersebut, ia merasa seolah-olah ajalnya sudah dekat, padahal ia masih menginginkan sembuh dari sakitnya dan hidup lebih lama lagi. Sungguh, penulisan wasiat tidaklah mendekatkan ajal si sakit. Sebaliknya, tidak menulis wasiat tidak pula menjauhkan ajal si sakit. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kematian akan mendatanginya.
Yang jelas, kita semua meyakini firman Allah l:
“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)
Apabila di saat sakit kita ingin berwasiat terkait dengan harta yang kita miliki, wasiat tersebut tidak boleh lebih dari sepertiga jumlah harta, sebagaimana tuntunan Rasulullah n. Jika kita menetapkannya lebih dari itu, berarti kita telah berlaku zalim terhadap hak ahli waris. Di samping itu, tidak boleh pula berwasiat memberi harta kepada ahli waris karena mereka sudah punya bagian tersendiri yang diatur oleh syariat. Wasiat hanyalah untuk selain ahli waris.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Lihat pembahasan ruqyah pada edisi no. 24/1427 H/2006.
2 Contohnya, kisah sahabat yang meruqyah seorang kepala suku yang disengat hewan berbisa dengan membacakan surah al-Fatihah, sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang dibawakan dalam Shahihain. Obat berupa bacaan al-Fatihah ini telah memberi pengaruh terhadap penyakit yang diderita si kepala suku sehingga hilanglah penyakit tersebut seakan-akan tidak pernah menimpa. Ini adalah pengobatan yang sangat mudah dilakukan. Andai seorang hamba melakukan pengobatan dengan bacaan al-Fatihah dengan baik, niscaya ia akan melihat pengaruh yang menakjubkan dalam penyembuhan. Demikian keterangan al-Imam Ibnul Qayyim t. Beliau juga menyebutkan pengalamannya ketika terkena sakit saat tinggal di Makkah. Tidak ada tabib dan obat yang beliau dapat. Beliau lantas mengobati dirinya sendiri dengan bacaan al-Fatihah. Setelahnya, beliau melihat pengaruh yang menakjubkan terhadap sakit yang beliau derita. Ketika beliau menceritakan pengalamannya tersebut kepada orang-orang yang mengeluh sakit, banyaklah yang mengamalkannya. Ternyata, dengan izin Allah l, banyak dari mereka yang cepat sembuh. (ath-Thibbun Nabawi, hlm. 8)

Orang yang Jahil tentang Tauhid

Apakah seseorang yang tidak mengetahui urusan yang berkaitan dengan tauhid diberi uzur?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t menjawabnya sebagai berikut.
Pemberian uzur karena jahil (bodoh) adalah satu hal yang pasti dalam seluruh urusan agama seorang hamba. Hal ini berdasarkan firman Allah l:
“Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu sebagaimana Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.”
sampai firman-Nya:
“Para rasul yang memberi kabar gembira dan memberi peringatan, agar tidak ada lagi bagi manusia alasan setelah pengutusan para rasul.” (an-Nisa: 163—165)
Allah l juga berfirman:
“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (al-Isra: 15)
Demikian pula firman-Nya:
”Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” (at-Taubah: 115)
Hal ini juga berdasar sabda Nabi n:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي وَاحِدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ لاَ يُؤْمِنُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seorang pun dari umat ini, baik ia Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia tidak beriman dengan apa yang aku datang membawanya, melainkan ia termasuk penghuni neraka.”5
Nash (dalil) dalam masalah ini banyak jumlahnya6.
Oleh karena itu, orang yang jahil tidak dihukum (dikenai dosa) karena kebodohannya dalam urusan apa pun dari agama ini. Akan tetapi, kita wajib mengetahui bahwa ada di antara orang-orang yang bodoh yang pada dirinya ada semacam penentangan. Yakni, pernah disebutkan kepadanya al-haq/kebenaran, tetapi ia tidak berusaha mencarinya dan tidak pula mengikutinya. Ia justru tetap berpegang dengan ajaran guru-gurunya serta orang yang mereka agungkan dan mereka jadikan panutan. Jika seperti ini, hakikatnya ia bukanlah orang yang patut diberi uzur karena hujah telah sampai kepadanya. Paling tidak, keadaannya dianggap sebagai syubhat (hal yang samar) yang perlu dicari hingga kebenaran menjadi jelas baginya.
Keadaan orang yang mengagungkan panutannya seperti ini7 layaknya orang yang disebutkan Allah l dalam firman-Nya:
Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya, kami mendapati bapak-bapak kami menganut satu agama/ajaran dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka.” (az-Zukhruf: 22)
dan ayat yang berikutnya:
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (az-Zukhruf: 23)
Yang penting untuk dipahami, kebodohan/ketidaktahuan yang diberi uzur adalah ketika seseorang sama sekali tidak mengetahui kebenaran dan tidak pernah ada orang yang menyebutkan kebenaran itu kepadanya. Dosa orang yang seperti ini diangkat (maksudnya, ia tidak berdosa akibat penyelisihan yang dilakukannya karena kebodohan). Hukum terhadap pelakunya sesuai dengan kandungan amalannya.
Berikutnya, jika ia adalah seorang yang mengaku muslim dan bersaksi la ilaha illallah dan Muhammadan Rasulullah, ia teranggap sebagai bagian kaum muslimin. Namun, jika ia tidak termasuk orang yang mengaku muslim, hukumnya adalah hukum pemeluk agama yang dianutnya di dunia. Adapun di akhirat, keberadaan orang yang tidak mengetahui al-haq ini sama dengan keadaan ahlul fatrah8, urusannya diserahkan kepada Allah l pada hari kiamat nanti. Pendapat yang paling sahih tentang mereka adalah mereka akan diuji dengan apa yang Allah l kehendaki. Siapa yang taat, ia akan masuk surga. Sebaliknya, siapa yang durhaka, ia masuk neraka.
Akan tetapi, hendaklah diketahui bahwa di hari ini kita berada pada satu masa yang hampir-hampir tidak ada satu tempat pun di muka bumi ini melainkan dakwah Nabi n telah menjangkaunya, dengan perantaraan media komunikasi yang beragam dan interaksi antarmanusia. Dengan demikian, secara umum kekafiran yang ada disebabkan oleh penentangan (tidak mau menerima kebenaran). Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/127—129)

Catatn Kaki:

5 HR. Muslim dalam Shahih-nya.
6 Semua dalil di atas menunjukkan keharusan disampaikannya hujah terlebih dahulu kepada hamba atau ilmu sama sekali kepadanya, barulah ia pantas dihukumi. Apabila hujah atau ilmu belum sampai kepadanya, ia diberi uzur.
7 Merasa cukup dengan orang yang diikutinya selama ini tanpa peduli dengan al-haq yang datang kepadanya.

8 Orang-orang yang menemui masa kekosongan pengutusan rasul sehingga bumi dipenuhi oleh kegelapan. Orang yang menginginkan kebenaran tidak mengetahui jalan untuk bisa sampai kepadanya.

Ibadah Disertai Riya

Apa hukum ibadah yang disertai riya?

awab:
Berikut ini jawaban Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t terhadap pertanyaan di atas.
Riya yang menyertai ibadah itu ada tiga macam:
1. Riya yang sejak awal mendorong seseorang untuk melakukan ibadah.
Contohnya, seseorang melaksanakan shalat untuk Allah l dengan tujuan mendapat pujian/sanjungan manusia atas shalatnya. Riya yang seperti ini membatalkan ibadah.

2. Riya menyertai ibadah di tengah-tengah pelaksanaan ibadah.
Artinya, di awal ibadah ia ikhlas melakukannya karena Allah l, kemudian di tengah ibadah datanglah riya. Ibadah seperti ini tidak luput dari dua kemungkinan:
a. Ibadah yang awal tidak berkaitan dengan akhir ibadah, maka yang awal (yang ikhlas semata karena Allah l) sah sedangkan yang didatangi riya batal.
Misalnya, seseorang memiliki uang seratus riyal yang ingin disedekahkan. Pada kesempatan pertama, ia mengeluarkan sedekah lima puluh riyal dengan ikhlas. Ketika hendak mengeluarkan lima puluh riyal yang tersisa, datanglah riya. Untuk kasus yang semacam ini, sedekah yang awal sahih dan diterima, sedangkan sedekah yang belakangan adalah sedekah yang batil karena keikhlasannya telah dicampuri riya.
b. Ibadah yang awal berkaitan dengan yang akhir.
Pada ibadah yang seperti ini, seseorang tidak lepas dari dua keadaan:
(1) Ia berusaha menolak riya tersebut dan tidak merasa tenang dengannya. Bahkan, ia berusaha berpaling dari riya dan membencinya.
Jika seperti ini, riya tersebut tidak berpengaruh sedikit pun terhadap ibadah, berdasar sabda Nabi n:
إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسُهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
“Sesungguhnya, Allah memaafkan dari umatku apa yang diucapkan oleh jiwanya (betikan hati) selama belum diamalkannya1 atau diucapkannya (dengan lisan).”2
(2) Ia merasa tenang-tenang saja dengan riya yang muncul tersebut dan tidak berusaha menolaknya.
Apabila demikian keadaannya, batallah seluruh ibadahnya karena ibadah yang awal bergandengan dengan yang akhirnya.
Contoh kasusnya, seseorang memulai shalatnya dengan ikhlas karena Allah l. Datang riya pada rakaat yang kedua (tanpa ia berusaha melawan dan melepaskan diri darinya), maka batallah seluruh shalatnya karena bagian yang awalnya bergandengan dengan yang akhirnya.

3. Riya datang setelah selesai melakukan ibadah.
Hal ini tidak memengaruhi ibadah yang telah selesai dilakukan dan tidak membatalkannya karena ibadah tadi telah selesai. Ibadah tersebut sah, tidak rusak disebabkan oleh riya yang muncul setelahnya.
Yang perlu diketahui, tidak termasuk riya ketika seseorang merasa gembira saat ada orang yang mengetahui ibadahnya karena hal itu muncul setelah ia selesai melakukan ibadah. Tidak pula termasuk riya ketika seseorang merasa senang dengan ketaatan yang telah dilakukannya karena hal itu justru menjadi bukti akan keimanannya. Nabi n bersabda:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ
“Siapa yang kebaikannya menggembirakannya dan kejelekannya menyusahkannya, maka dia adalah seorang mukmin.”3
Nabi n pernah ditanya tentang hal tersebut. Beliau n bersabda:
تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin.”4
(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/206—207)

Catatan Kaki:

1 Oleh anggota badan.
2 HR. Ahmad dalam Musnad-nya, al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan selain keduanya.

3 HR. ath-Thabarani dan dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. 6294.
4 HR. Muslim dalam Shahih-nya.

Wanita Surga dalam Sebutan Sunnah yang Mulia

(ditulis oleh: al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Tak akan kita dapatkan kalimat yang tepat saat berbicara tentang kenikmatan surga. Bagaimana bisa kita menuturkan sebuah kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tiada pula pernah tebersit di hati manusia?
Sebuah kenikmatan nyata yang pasti dijumpai, yang menorehkan rasa rindu di dada insan beriman, kapan kiranya berjumpa dengan kenikmatan jannah?
Setelah kita membahas salah satu kenikmatan surga berupa beroleh pasangan hidup yang sempurna, bidadari nan jelita, sesuai dengan kabar al-Qur’an, berikut ini kita lihat gambaran as-Sunnah tentangnya.
Al-Imam Ahmad t membawakan dalam Musnad-nya hadits Abu Hurairah z dari Rasulullah n:
لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ زَوْجَتَانِ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ سَبْعُوْنَ حُلَّةٍ يُرَى مُخُّ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ الثِّيَابِ
“Seorang lelaki penghuni surga akan mendapatkan dua istri dari hurun ‘in1. Pada setiap bidadari tersebut ada tujuh puluh pakaian/perhiasan. Terlihat sumsum betisnya dari balik pakaiannya.” (Dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. 2564)
Dalam riwayat Muslim (no. 7076) disebutkan, saat Abu Hurairah z ditanya, “Pria ataukah wanita yang paling banyak di surga?”
Abu Hurairah z menjawab, “Bukankah Abul Qasim n telah bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ زَمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ بَدْرٍ، وَالَّتِي تَلِيْهَا عَلَى أَضْوَاءِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوْقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ، وَمَا فِي الْجّنَّةِ عَزَبٌ
‘Sesungguhnya, rombongan pertama yang masuk surga berada di atas bentuk bulan pada malam purnama. Rombongan berikutnya di atas bentuk bintang yang paling bersinar terang di langit. Masing-masing beroleh dua istri2 yang terlihat sumsum betis keduanya dari balik daging3. Di dalam surga tidak ada orang yang membujang’.”
Anas bin Malik z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:
لَرَوْحَةٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ غَدْوَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا، وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ مَوْضِعُ قِيْدٍ –يَعْنِي سَوْطَهُ- خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا. وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيْحًا، وَلَنَصِيْفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“Keluar di sore hari atau di pagi hari (untuk berjihad) di jalan Allah lebih baik daripada dunia seisinya. Tempat anak panah salah seorang dari kalian atau tempat cambuknya dari surga (kelak) lebih baik daripada dunia seisinya. Seandainya seorang wanita dari kalangan penghuni surga melihat ke penduduk bumi, niscaya ia akan menyinari apa yang ada di antara keduanya dan ia akan memenuhi bumi dengan aroma yang wangi. Kerudung yang ada di atas kepalanya lebih baik daripada dunia berikut isinya.” (HR. al-Bukhari no. 2796)
Ibnu Umar c memberitakan dari Rasulullah n bahwa:
إِنَّ أَزْوَاجَ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّيْنَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ أَصْوَاتٍ، مَا سَمِعَهَا أَحَدٌ قَطُّ. إِنَّ مِمَّا يُغْنِيْنَ بِهِ:
نَحْنُ الْخَيْرَاتُ الْحِسَانُ، أَزْوَاجُ قَوْمٍ كِرَامٍ
يَنْظرْنَ بِقُرَّةِ أَعْيَانٍ
وَإِنَّ مِمَّا يُغْنِيْنَ بِهِ:
نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلاَ نَمُتْنَ
نَحْنُ الْآمِنَاتُ فَلاَ نَخَفْنَ
نَحْنُ الْمُقِيْمَاتُ فَلاَ نَظْعَنَّ
“Istri-istri penduduk surga sungguh akan mendendangkan nyanyian dengan suara paling merdu. Sama sekali tidak pernah seorang pun mendengar suara sebagus itu. Di antara yang mereka dendangkan:
‘Kami adalah wanita yang baik akhlaknya lagi cantik-cantik parasnya. Istri-istri dari kaum yang mulia
Yang terlihat sebagai penenteram/penyejuk mata’
Termasuk yang mereka dendangkan pula:
‘Kami adalah wanita-wanita yang kekal tidak akan mati
Kami adalah wanita-wanita yang aman tidak merasa takut
Kami adalah wanita-wanita yang berdiam di tempat, tidak pernah bepergian jauh’.” (HR. ath-Thayalisi, dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. 1561)
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah t dalam Nuniyah-nya yang terkenal menggambarkan penduduk surga dengan ungkapan:
وَرَأَوْا عَلَى بُعْدٍ خِيَامًا مُشْرِفَا تٍ مُشْرِقَاتِ النُّوْرِ وَالْبُرْهَانِ
فَتَيَمَّمُوْا تِلْكَ الْخِيَامَ فَأَنَسُوا
فِيْهِنَّ أَقْمَارًا بِلاَ نُقْصَانِ
مِنْ قَاصِرَاتِ الطَّرْفِ لاَ تَبْغِي سِوَى
مَحْبُوْبِهَا مِنْ سَائِرِ الشُّبَّانِ
وَيَقُوْلُ لـَمَّا أَنْ يُشَاهِدَ حُسْنَهَا
سُبْحَانَ مُعْطِي الْحُسْنِ وَالْإِحْسَانِ
وَالطَّرْفُ يَشْرَبُ مِنْ كُؤُوْسِ جَمَالِهَا
فَتَرَاهُ مِثْلَ الشَّارِبِ النَّشَوَانِ
كَمُلَتْ خَلاَئِقُهَا وَأُكْمِلَ حُسْنُهَا
كَالْبَدْرِ لَيْلَ السِّتِّ بَعْدَ ثَمَانِ
Mereka melihat dari kejauhan kemah-kemah yang tinggi
yang bersinar dengan cahaya dan burhan
Mereka pun menuju kemah-kemah tersebut, dan ternyata mereka merasa betah (senang)
karena di dalamnya ada rembulan-rembulan yang tidak memiliki kekurangan
Berupa wanita-wanita yang menundukkan pandangan, yang tidak menginginkan selain
orang yang dicintainya dari seluruh pemuda (suaminya)
Berkatalah suaminya tatkala menyaksikan keindahan bidadarinya
Mahasuci Dzat yang memberikan kebagusan dan kebaikan
Pandangan mata pun minum dari gelas-gelas kecantikannya
maka engkau melihatnya seperti orang yang minum hingga mabuk kepayang
Sempurna penciptaan sang bidadari dan sempurna pula keindahannya
ibarat rembulan pada malam keenam setelah lewat delapan malam4

Bagaimana dengan Pasangan Wanita Penduduk Dunia di Surga Kelak?
Pernah ditanyakan kepada Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t beberapa pertanyaan berikut ini.
1. Disebutkan bahwa kaum lelaki di surga kelak akan mendapatkan hurun ‘in (bidadari bermata jeli), lalu bagaimana dengan kaum wanita?
2. Apabila seorang wanita ahlul jannah saat di dunia belum sempat menikah atau ia menikah hanya saja suaminya tidak masuk surga, siapakah yang menjadi pasangan/suaminya di surga?
3. Apabila seorang wanita pernah menikah dua kali di dunia (punya dua suami), nanti di surga si wanita bersama suami yang mana? Mengapa Allah l menyebutkan adanya istri-istri bagi para lelaki di surga, namun tidak ada penyebutan suami-suami untuk para wanita?
Fadhilatusy Syaikh t menjawab satu persatu pertanyaan di atas:
1. Allah l berfirman tentang kenikmatan yang diperoleh penduduk surga:
“Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan beroleh pula di dalamnya apa saja yang kalian minta. Sebagai hidangan (persembahan) bagi kalian dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31—32)
Dia Yang Mahatinggi juga berfirman:
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf: 71)
Dimaklumi bahwa menikah (mendapat pasangan hidup) termasuk hal yang paling didamba oleh setiap jiwa. Dengan demikian, hal itu pun akan didapatkan di surga oleh penghuninya, laki-laki atau perempuan. Jadi, kelak di surga, Allah l akan menikahkan (memasangkan) seorang wanita dengan suaminya di dunia, sebagaimana firman-Nya (tentang doa para malaikat untuk orang-orang yang beriman):
“Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka serta anak keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Memiliki hikmah.” (Ghafir: 8)

2. Jawaban pertanyaan (yang kedua ini) diambil dari keumuman firman Allah l:
“Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan beroleh pula di dalamnya apa saja yang kalian minta. Sebagai hidangan (persembahan) bagi kalian dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31—32)
Dia Yang Mahatinggi juga berfirman:
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf: 71)
Dengan demikian, jika seorang wanita menjadi penghuni surga padahal di dunia ia belum menikah atau suaminya bukan ahlul jannah, di surga tentu ada pula kaum lelaki yang di dunia belum sempat menikah. Para lelaki inilah yang akan beroleh istri-istri dari kalangan bidadari dan juga istri-istri dari kalangan wanita penduduk dunia, jika para lelaki ini menghendaki dan jiwa mereka berhasrat. Demikian pula yang kita katakan tentang wanita yang ketika di dunia tidak memiliki suami atau suaminya tidak masuk surga bersamanya. Jika si wanita menghendaki untuk menikah, pasti ia akan dapatkan apa yang dikehendakinya, berdasarkan keumuman ayat di atas.
Adapun nash khusus terkait dengan hal ini, sekarang belum tampak bagi kami. Ilmunya ada di sisi Allah l.

3. Jika seorang wanita memiliki dua suami ketika di dunia (pernah menikah dua kali), pada hari kiamat di surga kelak ia akan diberi pilihan di antara kedua suaminya. Jika di dunia si wanita belum sempat menikah, Allah l akan menikahkannya dengan seseorang yang menyenangkan pandangan matanya di surga.
Kenikmatan di surga pun tidaklah hanya dirasakan oleh kaum pria, namun oleh semuanya, baik pria maupun wanita. Di antara sejumlah nikmat tersebut adalah mendapat pasangan (menikah).
Pertanyaan penanya: Allah l menyebutkan tentang hurun ‘in yang menjadi istri-istri lelaki ahlul jannah, namun Allah l tidak menyebutkan pasangan bagi kaum wanita.
Kami jawab, Allah l hanya menyebutkan istri-istri bagi para suami karena seorang prialah yang mencari dan menginginkan wanita (bukan wanita yang mencari pasangan hidupnya, dia adalah pihak yang dicari). Oleh karena itu, Allah l menyebutkan istri-istri bagi para pria di dalam surga dan tidak menyebutkan suami-suami bagi para wanita. Akan tetapi, tidaklah berarti bahwa para wanita tidak memiliki suami di surga kelak. Mereka punya suami dari kalangan Bani Adam (manusia). (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/51—53)

Kita memohon kepada Allah l agar memasukkan kita ke dalam negeri kenikmatan yang kekal abadi, yang dikatakan-Nya:
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf: 71)
dan dinyatakan Rasul-Nya n sebagai kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tiada pula pernah tebersit di hati manusia.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Bidadari yang bermata jeli, bagian hitam matanya sangat hitam dan bagian putihnya sangat putih, sebagaimana keterangan al-Imam al-Bukhari t dalam Shahihnya, Kitabul Jihad was Sair, Bab “al-Hurun ‘In wa Shifatihinna”.
2 Yang tampak, hadits ini menunjukkan bahwa wanitalah yang paling banyak menghuni surga. Dalam hadits lain disebutkan bahwa wanita paling banyak menjadi penghuni neraka. Menurut al-Qadhi t, ini menunjukkan bahwa mayoritas keturunan Adam itu perempuan. Ada pula kabar yang menyatakan bahwa ada penduduk surga yang beroleh bidadari surga dalam jumlah yang banyak (al-Minhaj, 17/170), seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi t bahwa orang yang mati syahid akan mendapatkan tujuh puluh lebih bidadari.

3 Menggambarkan keindahan mereka.

4 Yakni enam ditambah delapan, malam keempat belas.

 

 

Arwa bintu ‘Abdi Muthalib

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Dari namanya jelas terbaca, dia adalah bibi Rasulullah n. Putranya telah mengetuk hatinya untuk menerima Islam. Allah l pun membukakan pintu hatinya untuk tunduk dalam keimanan.
Arwa bintu ‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushai al-Hasyimiyah. Ibunya bernama Fathimah bintu ‘Amr bin ‘Aid bin ‘Imran bin Makhzum.
Di masa jahiliah, dia disunting oleh ‘Umair bintu Wahb bin ‘Abd bin Qushai. Dari pernikahan mereka, lahir seorang anak laki-laki, Thulaib bin ‘Umair. Setelah berpisah dengan ‘Umair, Arwa menikah dengan Arthah bin Syarahbil bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin ‘Abdid Dar bin Qushai. Pasangan ini dikaruniai seorang putri bernama Fathimah.
Dakwah Rasulullah n mulai merebak di negeri Makkah. Satu per satu para sahabat menyatakan keislamannya di rumah al-Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumi. Di sanalah Rasulullah n mengajarkan Islam kepada mereka di awal dakwah beliau.
Begitu pula Thulaib yang kala itu telah beranjak dewasa. Dia masuk Islam bersama sahabat yang lain. Setelah masuk Islam, Thulaib segera keluar dari rumah al-Arqam untuk menemui ibunya.
“Aku telah masuk Islam dan mengikuti Muhammad,” Thulaib mengaku di hadapan ibunya.
“Memang sesungguhnya orang yang paling berhak kaubantu dan kaubela adalah anak pamanmu itu!” tutur Arwa.
“Demi Allah!” lanjut Arwa, “Seandainya kami punya kemampuan sebagaimana yang dimiliki lelaki, sungguh kami akan mengikuti dan membelanya pula.”
“Lalu apa yang membuatmu tak mau masuk Islam dan mengikutinya, wahai Ibu? Padahal saudaramu, Hamzah, pun sudah masuk Islam,” desak Thulaib.
“Aku akan menunggu apa yang dilakukan saudari-saudariku. Aku akan mengambil jalan yang sama dengan mereka,” ujar Arwa.
Thulaib terus mendesak ibunya, “Aku meminta kepadamu dengan nama Allah. Datangilah Muhammad, ucapkan salam kepadanya dan benarkanlah dia! Lalu bersaksilah bahwa tak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah!”
Akhirnya terucaplah persaksian Arwa bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah l dan Muhammad n adalah utusan Allah l.
Setelah keislamannya itu, Arwa senantiasa membela Rasulullah n dengan lisannya. Tak hanya itu, dia juga mendorong putranya untuk membela dan membantu Rasulullah n.
Suatu hari, Abu Jahl bersama beberapa orang kafir Quraisy menghadang Rasulullah n. Mereka mulai mengganggu beliau. Melihat itu, Thulaib tidak tinggal diam. Bergegas dia berdiri di hadapan Abu Jahl. Pukulannya melayang mengenai Abu Jahl dan melukai kepalanya. Orang-orang pun segera menangkap dan membelenggu Thulaib. Abu Jahl berdiri di hadapan Thulaib dan melepaskannya.
Peristiwa ini didengar oleh Arwa. Orang-orang mengatakan kepadanya, “Tidakkah kau lihat anakmu menjadikan dirinya tameng bagi Muhammad?” Arwa memuji putranya, “Sebaik-baik hari Thulaib adalah hari ketika dia membela anak pamannya. Sesungguhnya dia datang membawa kebenaran dari sisi Allah l.”
Orang-orang terperanjat mendengar jawaban Arwa. “Kamu sudah mengikuti Muhammad?”
“Ya,” jawab Arwa.
Ada di antara mereka yang mengabarkan hal itu pada Abu Jahl. “Arwa telah mencelamu!” kata mereka.
Betapa berang Abu Jahl. Segera ditemuinya Arwa dan dicaci-maki. “Aku benar-benar heran kepadamu! Bisa-bisanya engkau ikuti Muhammad dan engkau tinggalkan agama ‘Abdul Muththalib!”
“Itu sudah terjadi,” jawab Arwa dengan tenang.
“Datanglah ke hadapan anak saudaramu itu,” lanjut Arwa, “Kalau telah jelas urusannya, kau bisa memilih masuk Islam bersamanya atau tetap dalam agamamu. Kalaupun tidak, kau bisa memaafkan anak saudaramu itu.”
Namun, kesombongan telah menutupi hati Abu Jahl. Dia menolak mentah-mentah.
“Bagaimana mungkin?! Kami mempunyai kekuatan di hadapan seluruh kalangan bangsa Arab, sedangkan dia datang membawa agama baru!” tukasnya.
Inilah syair Arwa, seorang ibu yang menyenandungkan pujian kepada Thulaib, putranya, akan kecintaannya kepada Rasul yang mulia:
Sesungguhnya Thulaib telah menolong anak pamannya
Membantunya dengan darah dan hartanya
Arwa bintu ‘Abdil Muththalib, semoga Allah l meridhainya….

Sumber bacaan:
al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/8—9)
al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/481—482)
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam al-Mizzi (10/42—43)

Seluk Beluk Mendidik Anak Perempuan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Memiliki anak-anak perempuan bukanlah sebuah kekurangan bagi seseorang. Bisa jadi, ia justru menjadi anugerah yang amat indah baginya, manakala dia bisa menunaikan segala kewajiban memelihara dan mendidik mereka.

Bagi orang tua yang dianugerahi anak-anak perempuan, pemberian Allah l ini sebenarnya merupakan karunia yang amat besar dari-Nya. Dia bisa berharap janji Rasulullah n:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barang siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia (seperti ini).” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim no. 2631)
Juga pada janji beliau n yang lainnya:
مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
“Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)
Kita juga mengingat penuturan ‘Aisyah x tentang seorang wanita miskin yang datang kepadanya. ‘Aisyah x mengisahkan:
جَاءَتْنِي مِسْكِيْنَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمْرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيْهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي تُرِيْدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ n، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ وَأَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ
“Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua orang anak perempuannya. Kuberikan kepadanya tiga butir kurma. Ia lalu memberikan kepada setiap anaknya sebutir kurma. Sebutir yang lain ia angkat ke mulutnya untuk dia makan. Namun, kedua anak perempuannya meminta kurma itu. Lantas dibaginya kurma yang hendak dia makan itu untuk kedua anaknya. Aku pun merasa kagum terhadap perbuatannya, lalu kuceritakan apa yang dilakukannya kepada Rasulullah n. Beliau pun berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dengan kurma yang diberikannya itu dan membebaskannya dari neraka’.” (HR. Muslim no. 2630)
Begitu pun kalau kita cermati, pendidikan terhadap anak perempuan memiliki peran yang amat strategis. Tentu saja, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat dan generasinya kelak. Bagaimana tidak! Seorang anak perempuan akan menjadi seorang istri bagi suaminya, akan menjadi ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Selain itu, dia akan mengemban berbagai tugas lain yang telah menanti.
Jika dia baik, dia akan menunaikan berbagai perannya ini dengan baik. Dia akan berkhidmah di balik kesibukan suaminya dengan sebaik-baiknya serta memberikan dorongan dan pengaruh yang baik bagi sang suami. Dia akan memelihara serta menjaga fisik dan psikis anak-anaknya yang kelak akan menjadi generasi pengganti, juga mengajari mereka dengan berbagai hal yang positif. Dia juga akan menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Selanjutnya, dia pun mengerti tanggung jawab dan amanat yang harus dia tunaikan dalam setiap tugas yang diembannya. Dengan demikian, baiklah masyarakatnya—insya Allah.
Sebaliknya, anak perempuan yang tak terdidik dengan baik tidak akan bisa membantu dan mendukung kebaikan suaminya. Anak-anaknya pun telantar, tidak terurus karena dia tidak mengerti hak anak-anaknya. Tingkah laku anak-anaknya pun akan jauh dari sebutan beradab. Lebih-lebih lagi, dia akan menjadi sumber kerusakan yang bisa menghancurkan tatanan masyarakat.
Tentu kita tidak ingin memiliki anak perempuan sebagaimana gambaran terakhir ini. Kita mohon keselamatan kepada Allah l….
Kalau begitu, kita perlu menelisik seluk-beluk mendidik anak perempuan ini—dengan terus memohon pertolongan dan kemudahan dari Allah l—untuk mewujudkan impian dan harapan kita.

Mengajarkan Agama kepada Mereka
Bekal yang paling berharga bagi anak-anak, termasuk anak perempuan, adalah agama. Bahkan, seorang wanita dipilih karena agamanya, sebagaimana anjuran Rasulullah n:
تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعَةٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَلِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi karena empat hal: bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka dari itu, pilihlah wanita yang baik agamanya. Jika tidak, engkau akan celaka.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620)
Menanamkan agama kepada anak-anak tentu saja harus bertahap. Pada tahap awal, saat anak-anak mulai mengerti pembicaraan, kita bisa mengenalkan mereka pada Rabbnya. Kita tuntun mereka menunjuk ke langit sambil kita katakan, “Allah.” (Nashihati lin Nisa’, hlm. 65)
Ketika tiba saat anak dapat berbicara, mereka dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
Jadikanlah yang pertama kali mengetuk pendengarannya adalah pengenalan kepada Allah l, pengesaan-Nya, dan bahwa Allah l di atas ‘Arsy-Nya, Allah l melihat dan mendengar segala ucapan mereka, Dia selalu bersama mereka di mana pun berada. (Tuhfatul Maudud, hlm. 195)
Saat berusia sekitar satu setengah tahun, ketika mereka mulai belajar bicara, kita tuntunkan mereka untuk mengucapkan basmalah sebelum makan dan minum. Kita biasakan sampai mereka terbiasa mengucapkannya sendiri setiap hendak makan dan minum. (Nashihati lin Nisaa’, hlm. 65)
Ini sebagaimana halnya Rasulullah n mengajarkan basmalah kepada ‘Umar bin Abi Salamah yang berada dalam asuhan beliau:
يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Nak, ucapkan bismillah. Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu!” (HR. al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Ketika mereka mulai bisa memahami, kita ajari mereka rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Pengajaran tentang hal ini tidak bisa dibatasi mulai usia tertentu, tergantung kemampuan pemahaman dan bicara anak.
Ajari serta biasakan mereka untuk berwudhu dan shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun. Pada usia ini pula, pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan. Demikian yang diperintahkan oleh Rasulullah n kepada setiap orang tua dalam sabda beliau:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي المَضَاجِعِ
“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 5744, “Hadits ini hasan.”)
Jika mereka telah mampu, kita latih mereka untuk berpuasa agar terbiasa kelak ketika dewasa. Hal seperti ini telah dilakukan oleh para ibu dari kalangan shahabiyah, sebagaimana yang dituturkan oleh ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x:
وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُوْنَ عِنْدَ الْفِطْرِ
“Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Nashihati lin Nisa’, hlm. 66—67)
Kemudian diajari pula mereka akidah yang benar, sebagaimana halnya Rasulullah n mengajari anak pamannya, ‘Abdullah bin ‘Abbas c:
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya selain apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/2043 dan al-Misykat no. 5302)
Kita ajarkan pula hal-hal yang terkandung dalam wasiat Luqman kepada anaknya yang dikisahkan oleh Allah l dalam al-Qur’an, Surat Luqman ayat 13—19.
Selain itu, mereka harus pula mengetahui perkara-perkara yang harus dijauhi dalam syariat sehingga mereka dapat menghindarinya. Ini telah dicontohkan oleh Rasulullah n:
أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِي فِيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلَ الصَّدَقَةَ؟
Al-Hasan bin ‘Ali c memungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. Rasulullah n pun bersabda, “Kikh, kikh1! Buang kurma itu! Apa kau tidak tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?” (HR. Muslim no. 1069)
Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya usia, kita ajarkan mereka satu demi satu syariat Islam yang mulia ini—terutama hal-hal yang khusus berkenaan dengan wanita— sebagai bekal utama bagi mereka dalam menghadapi kehidupan.
Memupuk Kesadaran Mereka Sebagai Seorang Wanita
Sedari awal, anak perempuan harus diberi pengertian bahwa mereka berbeda dari anak laki-laki. Hal yang termudah untuk mengenalkan perbedaan ini adalah dari sisi pakaian. Mereka dilarang mengenakan pakaian yang biasa dipakai anak laki-laki. Selain pakaian, sikap dan perilaku pun demikian. Anak perempuan diajari sikap dan perilaku yang khas anak perempuan. Mereka harus diberi pengertian bahwa Rasulullah n melarang mereka menyerupai anak laki-laki, sebagaimana dalam hadits:
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ n الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَلَعَنَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Rasulullah n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Beliau melaknat laki-laki yang berperilaku seperti wanita dan wanita yang berperilaku seperti laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)
Difatwakan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t, “Tasyabbuh (penyerupaan) laki-laki dengan perempuan termasuk dosa besar, demikian pula penyerupaan perempuan dengan laki-laki. Dalilnya, ‘Rasulullah n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki’. Di samping itu, penyerupaan seperti ini akan merusak sunnah Allah l terhadap ciptaan-Nya, karena Allah l telah menciptakan kekhususan tersendiri bagi wanita dan kekhususan tersendiri pula bagi laki-laki. Jika wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan, tentu sunnah yang telah diciptakan oleh Allah l ini akan hilang dan sirna sehingga terjadilah sesuatu yang bertentangan dengan penciptaan dan hikmah Allah l.” (Fatawa ‘Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1761—1762)
Membiasakan Mereka dengan Adab dan Akhlak Mulia
Di masa sekarang, banyak anak perempuan kaum muslimin yang kehilangan pesonanya sebagai seorang muslimah. Makan dengan tangan kiri, bersuara lantang di depan khalayak, keluyuran di pusat perbelanjaan, dan berdesakan di tengah keramaian tidak lagi dipandang sebagai aib. Bisa jadi pula, mereka bahkan terlepas dari perhatian orang tua. Rasa malu mulai tanggal dari diri mereka.
Di sisi yang lain, ada orang tua yang merasa perlu menyekolahkan anaknya di ‘sekolah etika’ agar anak perempuannya tampil anggun dan penuh etika.
Sebenarnya, seorang muslimah bisa tampil santun dan penuh pesona manakala dia berpegang dengan adab dan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Becermin kepada pribadi Rasulullah n, ummahatul mukminin, dan para shahabiyah.
Di samping itu, sejak dini mereka harus dikenalkan dan dibiasakan dengan adab-adab yang diajarkan oleh Islam. Ini sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Ali bin Abi Thalib z:
أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ
“Ajarilah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu!”
Adab terhadap orang tua, tetangga, tamu, adab makan dan minum, adab berpakaian, adab meminta izin, dan sekian banyak adab yang diajarkan oleh Islam—hingga yang sekecil-kecilnya, seperti memotong kuku, membersihkan badan dan pakaian, serta menunaikan hajat—perlu mereka ketahui dan amalkan. Adab dan akhlak yang mulia akan menjadi perhiasan bagi mereka.

Membiasakan Mereka Berpakaian Sesuai Syariat
Tidak selayaknya kita memakaikan mereka pakaian yang jauh dari tuntunan syariat, rok mini atau hot pants misalnya. Dinasihatkan oleh Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin t, “Tidak pantas orang tua memakaikan anak perempuannya pakaian seperti ini (pakaian yang pendek, –pen.) semasa kanak-kanak. Karena jika terbiasa, hal ini akan melekat dan dianggap remeh olehnya. Apabila yang seperti ini menjadi kebiasaannya, keadaan ini akan terus dia bawa hingga dewasa. Yang saya nasihatkan kepada para saudari saya kaum muslimah, hendaknya mereka meninggalkan busana wanita asing dari kalangan musuh-musuh agama ini. Hendaknya pula mereka membiasakan anak-anak perempuan mereka untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat dan senantiasa merasa malu karena malu itu termasuk keimanan.” (Fatawa asy-Syaikh Muhammad ash-Shalih al-’Utsaimin, 2/845—846)
Bahkan, kita harus mendorong mereka untuk menutup aurat sejak masih kanak-kanak agar mereka terbiasa ketika dewasa kelak. Sejak umur tujuh tahun, kita biasakan mereka mengenakan kain kerudung untuk menutup kepala. Ketika telah baligh, kita perintahkan untuk menutup wajahnya, mengenakan pakaian panjang dan lapang yang akan menjaga kehormatannya.
ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮﮯ
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan seluruh wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka. Ini lebih layak bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab: 59)
Allah l juga telah melarang para wanita mukminah membuka wajah serta menampakkan kecantikan dan perhiasan pada selain mahramnya. Allah l berfirman:
ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽﭾ
“Dan janganlah kalian menampakkan perhiasan sebagaimana kaum jahiliah dahulu.” (al-Ahzab: 33) (Kaifa Nurabbi Auladana, hlm. 26)

Mengajari Berbagai Keterampilan Rumah Tangga
Anak perempuan harus dibekali dan dibiasakan melakukan segala pekerjaan rumah. Hal ini nanti akan dibutuhkannya ketika mulai memasuki rumah tangga bersama suaminya. Banyak hal harus dia ketahui: cara bergaul dengan suami dan mengurus rumah tangga, seperti memasak, mengatur rumah, dan sebagainya.
Kadang ada keluarga yang kurang memerhatikan sisi ini. Anak perempuannya tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai untuk terjun dalam rumah tangga. Tatkala si anak mulai berumah tangga, ternyata dia tak bisa memasak atau membereskan rumah. Bahkan, ia tak mengerti bagaimana bergaul dengan baik dan santun dengan suaminya. Yang lebih menyedihkan jika sang suami adalah seorang yang tak sabaran dan cepat naik pitam. Akhirnya, muncullah berbagai problem rumah tangga sejak awal perjalanannya yang terkadang harus berakhir dengan perpisahan. Kita memohon keselamatan kepada Allah l.
Alangkah indah nasihat seorang ibu untuk putrinya yang hendak dinikahkan dengan al-Harits bin ‘Amr al-Kindi. Dia pesankan,
“Wahai putriku, sesungguhnya jikalau wasiat tak lagi diberikan untuk seorang yang beradab dan bernasab mulia, tentu takkan kuberikan wasiat ini untukmu. Namun, wasiat adalah pengingat bagi orang yang berakal dan pemberi peringatan bagi orang yang lalai.

Wahai putriku, seandainya seorang anak perempuan tak lagi membutuhkan suami karena ayah bundanya telah mencukupinya, sesungguhnya engkau orang yang paling tak butuh terhadap suami. Namun, kita ini diciptakan untuk kaum laki-laki, sebagaimana pula diciptakan kaum laki-laki untuk kita.
Wahai putriku, engkau hendak berpisah dengan tanah tempat kelahiranmu, meninggalkan kehidupan yang dahulu engkau tumbuh di sana, menuju tempat yang tak kau kenal bersama teman yang asing bagimu. Dengan kepemilikannya atas dirimu, dia menjadi penguasa atasmu. Berlakulah layaknya hamba sahayanya, niscaya dia akan menjadi sahaya yang tunduk kepadamu. Jagalah sepuluh hal yang akan menjadi simpanan berharga bagimu:
1. Bergaullah dengannya dengan penuh qana’ah karena qana’ah akan melapangkan hati.
2. Dengar dan taatlah engkau dengan baik karena pada kedua hal ini ada keridhaan Rabbmu.
3. Berupayalah menjaga pandangan mata dan penciumannya, jangan sampai kedua matanya memandang sesuatu yang buruk darimu dan hidungnya mencium sesuatu darimu selain aroma yang semerbak wangi.
4. Kenakanlah selalu celak dan air karena celak adalah sebaik-baik perhiasan dan air adalah sebaik-baik wewangian.
5. Jagalah selalu waktu makannya, karena panasnya rasa lapar akan mudah membangkitkan kemarahan.

6. Ciptakan suasana tenang saat tidurnya karena tidur yang terganggu akan menimbulkan amarah.
7. Berusahalah selalu menjaga rumah dan hartanya karena mampu menjaga harta termasuk sebaik-baik kemampuan.
8. Jagalah selalu hubungan dengan keluarganya karena kemampuan menjaga hubungan dengan kerabat termasuk sebaik-baik pengaturan.
9. Jangan engkau sebarkan rahasianya karena jika engkau lakukan, niscaya engkau takkan aman dari pengkhianatannya.
10. Jangan pernah kau durhakai perintahnya, karena jika kau mendurhakai perintahnya, berarti engkau buat menggelegak dadanya.
Semakin kau agungkan dia, dia pun makin memuliakanmu. Semakin sering engkau seia-sekata dengannya, dia pun semakin baik kepadamu.
Ketahuilah, engkau takkan bisa melakukan semua ini sampai engkau utamakan keinginannya di atas keinginanmu, dan engkau utamakan keridhaannya di atas keridhaanmu, baik dalam hal-hal yang kau sukai maupun yang engkau benci.
Hati-hatilah, jangan sampai engkau bergembira di hadapannya manakala dia sedang gundah gulana, dan jangan bermuram durja di hadapannya tatkala dia sedang gembira.” (Takrimul Mar’ah fil Islam, hlm. 96—97)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1 Ini adalah perkataan untuk memperingatkan anak-anak dari sesuatu yang kotor. Maknanya, “Tinggalkan dan buang barang itu!”

 

Memujudkan Rumah Tangga Bahagia (bagian 1)

(ditulis oleh: al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Pembicaraan tentang pernikahan sudah sering berulang. Bahkan, majalah yang semoga diberkahi ini pernah memuat kajian utama yang menyorot tentang pernikahan Islami. Namun, apabila kita membaca tulisan-tulisan ilmiah dari orang yang berilmu—baik dari ulama maupun penuntut ilmu syar’i—tentang masalah ini, sepertinya ada saja sisi yang menarik untuk disampaikan kepada Pembaca dan perlu diingatkan kepada insan yang akan atau telah melangsungkan pernikahan. Untuk yang akan menikah, maka semoga bisa menjadi bahan renungan sebelum melangkah. Adapun bagi yang sudah menikah, diharap bisa menjadi bahan introspeksi untuk mempertahankan apa yang telah dijalani dan dapat membawa bahtera ke ‘pulau bahagia’ yang diimpikan.
Tulisan di bawah ini pun idenya berawal dari hasil membaca artikel yang cukup panjang tentang rumah tangga dan pernikahan karya asy-Syaikh Salim al-‘Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al-Ukht as-Salafiyyah, sebuah situs internet yang khusus ditujukan untuk para muslimah. Muncul rasa ingin berbagi kepada pembaca muslimah….
Dengan menengadahkan kedua tangan memohon kepada Rabbul Alamin agar dianugerahi keikhlasan dalam berbuat, kami pun menyusun nukilan-nukilan dari tulisan tersebut ditambah narasumber yang lain. Semoga bisa memberi manfaat untuk sesama.
Ketahuilah wahai muslimah!
Berdirinya sebuah rumah yang dipenuhi kebahagiaan adalah tujuan yang ingin dicapai dan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh setiap orang. Rumah adalah tempat berdiam yang selalu dituju setelah diterpa kelelahan dan kepenatan di luar sana. Apabila seseorang pulang ke rumahnya, lalu didapatinya rumah yang tenang dan dirasakannya ketenteraman di dalamnya, berarti kebahagiaan ada bersamanya. Betapa banyak rumah yang kecil dan sempit, namun kebahagiaan menjadikannya luas lagi lapang.
Sebaliknya, betapa banyak kediaman yang besar dan luas, namun kegersangan menjadikannya lebih sempit daripada lubang jarum. Tidak ada keinginan penghuninya selain meninggalkan rumah tersebut. Tidak ada kebetahan berdiam di dalamnya. Mereka berusaha mengobati rasa sempit mereka dengan lari dari sebab-sebabnya. Ternyata, rumah mereka telah ‘roboh’ diempas oleh badai kesengsaraan.
Untuk mewujudkan sebuah ‘rumah bahagia’, sudah merupakan keniscayaan seorang lelaki menggandeng tangan seorang wanita untuk hidup bersamanya di rumah tersebut dalam ikatan yang suci. Kebersamaan ini merupakan tujuan agung, yang dengannya terwujud kasih sayang, kedekatan, dan persahabatan.
Kebersamaan dalam nikah termasuk kenikmatan terbesar yang diberikan oleh Allah l kepada para hamba. Dengannya, dihasilkanlah ketenangan yang dapat memenuhi hati sepasang insan.
Sungguh, tidak ada kebersamaan insan yang menyamai pernikahan. Karena itulah, Allah l berfirman mengingatkan nikmatnya tersebut, sementara Dia adalah Dzat yang paling benar ucapan-Nya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya; Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari diri-diri kalian, agar kalian merasakan ketenangan kepadanya dan Dia jadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berpikir.” (ar-Rum: 21)
Perhatikanlah. Di dalam ayat di atas Allah l menyebutkan dengan lafadz ﮑ ﮒ yang berarti “agar kalian merasakan ketenangan kepadanya”, tidak dengan lafadz لِتَسْكُنُوا مَعَهَا (sakan ma’a) karena sakan ma’a (bersama) sesuatu bisa disertai kecintaan kepadanya dan bisa pula tidak. Adapun sakan ila (kepada) sesuatu mengandung makna yang lebih besar daripada kedekatan, cinta, kecondongan, dan ketenangan.
Sepanjang apa pun pencarian seseorang dalam hidupnya guna beroleh teman yang dapat membuatnya tenang dan tenteram jiwanya saat berdekatan, dia tidak akan mendapatkan teman yang semisal seorang istri. Sebaliknya, seorang wanita pun tidak akan beroleh teman semisal suami. Inilah fitrah insan yang kita tidak bisa lari dan lepas darinya.
Allah l berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu (Adam) dan dari jiwa yang satu itu Dia jadikan pasangannya (Hawa) agar si jiwa yang satu merasa tenang dengan keberadaan pasangannya.” (al-A’raf: 189)
Seandainya Allah l menjadikan anak Adam itu seluruhnya laki-laki dan dijadikan-Nya perempuan mereka dari jenis yang lain, bukan jenis manusia, mungkin dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak mungkin terjalin kedekatan di antara mereka. Yang terjadi justru yang satu akan lari menjauh dari yang lain.
Di samping menjadikan pasangan manusia adalah manusia juga, pria berpasangan dengan wanita sebagai istrinya, Allah l juga menyempurnakan nikmat-Nya kepada anak Adam dengan ditumbuhkan-Nya rasa cinta dan kasih sayang di antara suami istri tersebut. Seorang lelaki tetap menahan seorang wanita dalam ikatan pernikahan dengannya, bisa jadi karena dia mencintai istrinya tersebut, atau dia menyayanginya dengan adanya anak yang terlahir dari si istri, atau karena istrinya butuh kepadanya untuk beroleh infak/belanja, atau adanya kedekatan di antara keduanya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/171)
Siapa yang merenungkan hal ini niscaya dia akan berusaha dengan serius mencari belahan dirinya yang hilang. Barangkali, belahan jiwanya bisa didapatkan pada seseorang yang menenteramkan pandangan matanya, menenangkan jiwanya, dan membahagiakan dirinya. Sesuatu yang sekian lama dirasakannya sebagai ruang yang belum terisi dalam hatinya. Tatkala pada akhirnya dia mengakhiri kesendiriannya dengan menikah, tertutuplah kekosongan ruang tersebut. Kini, telah ada yang mengisi kebahagiaan hatinya.
Saat seorang lelaki yang saleh mencari tambatan hatinya, tentu tidak pernah lupa menghadirkan sabda Rasulullah n yang mulia:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتاَعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu perhiasan1 dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 3638 dari Abdullah ibnu Amr ibnul Ash c)
Kata Rasul n, dunia berikut isinya tidak lain hanyalah kesenangan dan perhiasan. Sebaik-baik kesenangan yang bisa dinikmati oleh seorang hamba di dunia ini adalah wanita salehah, yang akan menjadi perhiasan bagi rumahnya. Apabila dia memandangnya, dia merasa senang. Apabila dia pergi, si wanita akan menjaga dirinya untuknya dan menjaga hartanya.
Karena itulah, seorang penyair Arab berkata,
أَفْضَلُ مَا نَالَ الْفَتَى بَعْدَ الْهُدَى وَالْعَافِيَةِ
قَرِيْنَةٌ مُسْلِمَةٌ عَفِيْفَةٌ مُوَاتِيَةٌ
Yang paling utama yang diperoleh seorang pemuda setelah petunjuk dan afiah/kesehatan/kelapangan
adalah teman muslimah yang menjaga kehormatan dirinya
Rasulullah n pernah bersabda tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Beliau menyatakan:
ثلَاَثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَثَلاَثٌ مِنَ الشَّقاوة. فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ تَرَاهَا تُعْجِبُكَ، وَتَغِيْبُ فَتَأْمَنَهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ، وَالدَّابَّةُ تَكُوْنُ وَطِيْنَةٌ فَتُلْحِقُكَ بِأَصْحَابِكَ، وَالدَّارُ تَكُوْنُ وَاسِعَةً كَثِيْرَةَ الْمَرَافِقِ؛ وَمِنَ الشَّقَاوَةِ: الْمَرْأَةُ تَرَاهَا فَتَسُوؤُكَ، وَتَحْمِلُ لِسَانَهَا عَلَيْكَ، وَإِنْ غِبْتَ عَنْهَا لَمْ تَأْمَنْهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ، وَالدَّابَّةُ تَكُوْنُ قُطُوْفًا، فَإِنْ ضَرَبْتَهَا أَتْعَبَتْكَ، وَإِنْ تَرَكَهَا لَمْ تُلْحِقْكَ بِأَصْحَابِكَ، وَالدَّارُ تَكُوْنُ ضَيِّقَةً قَلِيلَةَ الْمَرَافِقِ.
“Tiga perkara termasuk kebahagiaan dan tiga perkara termasuk kesengsaraan. Yang termasuk kebahagiaan adalah wanita salehah, yang apabila engkau lihat akan mengagumkanmu, apabila engkau pergi meninggalkannya engkau merasa aman dari (pengkhianatan/perselingkuhan) nya (karena dia menjaga dirinya untukmu) dan aman hartamu (karena dia menjaga hartamu). (Yang kedua) tunggangan yang jinak/tangkas (enak ditunggangi) sehingga dia menyusulkanmu dengan teman-temanmu (tidak membuatmu tertinggal dari rombongan), dan (yang ketiga) rumah yang luas lagi banyak ruangannya.
Termasuk kesengsaraan adalah istri yang apabila engkau melihatnya tidak menyenangkanmu, lisannya menyakitimu, apabila engkau pergi meninggalkannya engkau tidak merasa aman dari pengkhianatannya dan tidak aman hartamu (karena ia tidak menjaganya, bahkan berkhianat dalam hal dirinya dan harta suami). (Yang kedua) tunggangan yang lambat, tidak nyaman dinaiki. Apabila engkau memukulnya, dia akan membuatmu capek, namun apabila engkau biarkan, dia tidak bisa menyusulkanmu dengan teman-temanmu (membuatmu tertinggal dari rombongan). (Yang ketiga) rumah yang sempit lagi sedikit ruangannya.” (HR. al-Hakim 2/162, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1047)
Ali bin Abi Thalib z, sahabat Rasulullah n yang utama, sekaligus saudara misan dan menantu beliau, pernah berkata,
مِنْ سَعَادَةِ الرَّجُلِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَإِخْوَانُهُ شُرَفَاءَ، وَجِيْرَانُهُ صَالِحِيْنَ، وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ في بَلَدِهِ
“Termasuk kebahagiaan seorang lelaki apabila ia memiliki istri yang salehah, anak-anak yang berbakti, saudara-saudara yang mulia, dan tetangga yang baik, ditambah lagi rezekinya bisa diperoleh di negerinya sendiri (tidak perlu merantau untuk mencari rezeki).”
Rasulullah n bersabda kepada Umar ibnul Khaththab z:
أَلآ أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ؟ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَها أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beri tahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu istri salehah yang apabila dipandang akan menyenangkannya2, apabila diperintah3 akan menaatinya4, dan apabila ia pergi si istri akan menjaga dirinya untuk suaminya.” (HR. Abu Dawud no. 1417, dinyatakan sahih menurut syarat Muslim dalam al-Jami’ush Shahih 3/57)
Ketika Umar ibnul Khaththab z menanyakan harta terbaik yang dimiliki seorang insan, Rasulullah n menjawab:
لِيَتَّخِذَ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْأَخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri mukminah yang membantunya dalam urusan akhiratnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibni Majah)
Merupakan kemestian bagi seorang wanita, apabila datang seorang lelaki kepada walinya, hendaknya ia memerhatikan kebaikan agama dan akhlak si lelaki tersebut. Hal ini karena orang yang diterimanya sebagai teman hidupnya nanti adalah surga dan nerakanya. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasul n kepada bibi Hushain ibnu Mihshan z kala mendorongnya untuk membaikkan pergaulannya terhadap suaminya:
هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Dia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah hlm. 285)
Sungguh, termasuk kebahagiaan terbesar bagi seorang wanita apabila dianugerahi suami yang saleh, yang menjadi pelipur laranya, teman berbagi suka dan derita, yang selalu melapangkan diri untuk menolong pekerjaannya, menjadi penopang yang kuat dalam hidupnya, yang melindunginya saat dia merasa takut, yang mengisi harinya dengan kasih sayang dan kelembutan.
(insya Allah bersambung)

Catatan kaki:

1 Tempat untuk bersenang-senang. (Syarh Sunan an-Nasa’i, al-Imam as-Sindi, 6/69)

2 Karena keindahan dan kecantikannya secara lahir, atau karena akhlaknya yang bagus secara batin, atau karena si istri senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah l. (Ta’liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun Nikah, Bab “Afdhalun Nisa”, 1/596, ‘Aunul Ma’bud 5/56)
3 Untuk melakukan urusan syar’i atau urusan biasa. (‘Aunul Ma’bud 5/56)
4 Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya. (‘Aunul Ma’bud 5/56)

 

Lelaki menikahi anak hasil zinanya sendiri

Tolong jelaskan hukumnya dengan dalil yang lengkap. Seseorang berzina kemudian punya anak perempuan. Setelah anak itu dewasa mau dinikahi oleh si bapak tersebut, soalnya ada dalil yang membolehkannya, katanya.

Jay—Denpasar

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Hal itu tidak benar. Satu-satunya dalil yang bisa dijadikan hujah untuk membolehkan hal itu adalah hadits:
لاَ يُحَرِّمُ الْحَرَامُ، إِنَّمَا يُحَرِّمُ مَا كَانَ بِنِكَاحٍ حَلاَلٍ.
“Percampuran yang haram tidaklah mengharamkan. Sesungguhnya yang mengharamkan hanyalah pernikahan yang halal (sah).” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil, Ibnu Hibban dalam adh-Dhu’afa’, ad-Daraquthni, dan al-Baihaqi)
Namun, hadits ini dihukumi sebagai hadits yang batil oleh al-Imam al-Muhaddits al-Albani dalam adh-Dha’ifah, karena pada sanadnya terdapat:
• Utsman bin ‘Abdirrahman al-Waqqashi yang kadzdzab (pendusta) sebagaimana kata Ibnu Ma’in.
• Al-Mughirah bin Isma’il yang majhul (tidak dikenal) sebagaimana kata adz-Dzahabi.
Kata al-Albani dalam adh-Dha’ifah, “Fuqaha mazhab Syafi’i dan lainnya berdalil dengan hadits ini untuk menghalalkan seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya, padahal Anda telah mengetahui bahwa hadits ini dha’if (lemah) sehingga tidak ada hujah dalam hal ini.”
Sebaliknya, sebagian ulama yang berpendapat bahwa hal itu tidak boleh juga berdalil dengan hadits yang tidak ada asal usulnya, yaitu hadits:
مَا اجْتَمَعَ الْحَلاَلَ وَالْحَرَامَ إِلاَّ غَلَبَ الْحَرَامُ.
“Tidaklah berkumpul antara yang halal dan yang haram melainkan yang haram menang.”
Kata al-Albani dalam adh-Dha’ifah, “Hadits ini tidak ada sumbernya. Hal ini dinyatakan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi pada kitab Takhrij al-Minhaj, kemudian dinukil oleh al-Munawi pada kitab Faidhul Qadir dan ia menyetujuinya. Hadits ini dijadikan dalil tentang haramnya seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya, dan ini adalah pendapat fuqaha mazhab Hanafi. Meskipun pendapat ini benar ditinjau dari sisi makna, tetapi tidak boleh berdalilkan dengan hadits batil semisal ini.”
Berikutnya, al-Albani berkata dalam adh-Dha’ifah, “Masalah ini telah diperselisihkan di kalangan salaf. Setiap pihak tidak memiliki nash sebagai dalilnya, tetapi tinjauan makna dan qiyas (analogi) menuntut haramnya hal itu. Ini adalah mazhab Ahmad dan selainnya, serta dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.”1
Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh al-Imam al-Faqih Ibnu ‘Utsaimin. Pendapat ini dinisbatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada jumhur (mayoritas) ulama, dan inilah yang benar. Tinjauan makna dan qiyas (analogi) menuntut haramnya hal itu.
Adapun tinjauan makna, hal itu haram karena anak itu adalah darah dagingnya sendiri yang berasal dari air maninya sehingga merupakan anaknya secara hukum kauni qadari (ketetapan takdir Allah l), meskipun secara hukum syar’i (ketentuan syariat) anak itu bukan anaknya karena lahir di luar pernikahan yang sah.
Adapun tinjauan secara qiyas (analogi), hal itu haram seperti haramnya seorang lelaki menikahi anak susuannya yang disusui oleh istrinya. Jika anak susuan seseorang haram atasnya, padahal faktornya hanyalah karena anak itu meminum air susu istrinya yang terproduksi dengan sebab digauli olehnya sehingga hamil dan melahirkan, tentulah seorang anak zina yang berasal dari air maninya, yang merupakan darah dagingnya sendiri, lebih pantas untuk dinyatakan haram atasnya. Wallahu a’lam.2

Peringatan
Pada kesempatan ini kami hendak mengingatkan kesalahan sebagian orang yang menisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i t bahwa beliau hanya berpendapat makruh (tidak haram).
Kata al-Imam al-Albani dalam kitab Tahdzir as-Sajid (hlm. 37), “Benar-benar telah keliru orang yang menisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i bahwa beliau berpendapat bolehnya seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya dengan hujah bahwa al-Imam asy-Syafi’i telah menegaskan makruhnya hal itu, sedangkan hukum makruh yang bersifat tanzih (untuk membersihkan diri dari hal-hal yang dibenci tetapi tidak haram) tidaklah berkontradiksi dengan hukum mubah (boleh).”
Al-Albani kemudian menukil ucapan Ibnul Qayyim t dari kitab I’lam al-Muwaqqi’in, “Asy-Syafi’i menegaskan bahwa makruh (dibenci) bagi seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya. Beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa hal itu boleh (mubah/ja’iz). Yang selaras dengan kemuliaan dan keimaman serta kedudukan yang disandangnya dalam agama ini, yang beliau maksud dengan makruh (dibenci) di sini adalah makruh yang bersifat haram. Beliau memutlakkan kata makruh (menggunakannya secara lepas) dalam masalah ini, karena di sisi Allah l dan Rasul-Nya perkara yang haram itu adalah sesuatu yang makruh. Allah l berfirman menyebutkan hal-hal yang haram mulai dari ayat:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (al-Isra’: 23)
Sampai firman Allah l:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (al-Isra’: 33)
Sampai firman Allah l:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (al-Isra’: 36)
Sampai akhir ayat ke-37, kemudian Allah l berfirman:
“Semua itu kejelekannya amat dibenci (makruh) di sisi Rabb-mu.” (al-Isra’: 38)
Dalam kitab ash-Shahih3 Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاً: قِيْلَ وَقاَلَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الماَلِ.
“Sesungguhnya Allah membenci tiga perkara untuk kalian: ucapan ini dan itu (ucapan sia-sia), banyak meminta dan bertanya, serta membuang harta dengan sia-sia.”
Jadi, kaum salaf terbiasa menggunakan kata makruh (dibenci) dengan makna yang digunakan dalam ucapan Allah l dan Rasul-Nya. Akan tetapi, orang-orang belakangan menjadikan kata makruh sebagai istilah untuk masalah yang tidak haram tetapi sebaiknya ditinggalkan. Kemudian ada di antara mereka yang menggiring ucapan imam-imam Islam ke makna yang sesuai dengan istilah baru tersebut sehingga dia pun keliru karenanya.
Yang lebih parah kesalahannya daripada ini adalah yang menggiring kata ‘makruh’ dan ‘la yanbaghi’ (tidak sepantasnya) dari ucapan Allah l dan Rasul-Nya ke makna yang sesuai dengan istilah baru tersebut.”4
Wal ‘ilmu ‘indallah.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab adh-Dha’ifah (1/565—566).
2 Lihat kitab Majmu’ Fatawa (32/134—137, 138—140), al-Akhbar al-‘Ilmiyyah min al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah hlm. 303, asy-Syarhul Mumti’ (5/170).

3 Maksudnya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim (muttafaq ‘alaih) dari sahabat al-Mughirah bin Syu’bah z. Hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Abu Hurairah z yang dikeluarkan oleh Muslim.
4 Lihat kitab I’lam al-Muwaqqi’in (2/80—81, cetakan Dar Ibnil Jauzi).

Asy-Syakir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Asy-Syakir (الشَّاكِرُ) adalah salah satu nama Allah l yang agung, al-Asma’ul Husna. Nama tersebut termaktub pada beberapa ayat dalam kitab suci al-Qur’an. Di samping itu, hadits Nabi-Nya yang mulia juga menyebutkan bahwa Allah l memiliki sifat tersebut.
Di dalam al-Qur’an juga disebutkan nama yang mulia, asy-Syakur (الشَّكُورُ):
“Dan barang siapa mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 158)
“Dan Allah itu Syakur lagi Maha Penyantun.” (at-Taghabun: 17)
Kedua nama di atas sama-sama berasal dari kata asy-syukr (الشُّكْرُ). Kata asy-syukr itu sendiri berarti menyanjung seseorang atas kebaikan yang dilakukannya kepadamu. Dikatakan pula bahwa hakikat asy-syukr adalah ridha dengan sesuatu yang sedikit. (Mu’jam Maqayis al-Lughah karya Ibnu Faris)
Asy-Syaikh as-Sa’di menjelaskan, “Di antara nama Allah l adalah asy-Syakir dan asy Syakur. Maknanya, Allah l mensyukuri amalan sedikit yang ikhlas, bersih, bermanfaat, dan memaafkan banyak kesalahan, serta tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Bahkan, Allah l melipatgandakan pahalanya dengan jumlah yang banyak tanpa hitungan.
Di antara bentuk syukur Allah kepada hamba-Nya, Dia membalasi satu kebaikan dengan 10 kali lipatnya sampai 700 kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang banyak. Bisa jadi, Allah l membalasi amalan seorang hamba dengan berbagai pahala yang disegerakan sebelum yang tertunda, padahal Allah l tidak terbebani kewajiban membalas atas amalan hamba-Nya. Akan tetapi, Allah l yang mewajibkan atas diri-Nya sendiri sebagai wujud kedermawanan dan kemurahan-Nya.
Allah l juga tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang beramal apabila mereka berbuat baik dalam amalan tersebut dan ikhlas. Karena itu, apabila seorang hamba melakukan perintah Allah l dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, Dia akan membantunya untuk itu, memujinya, dan menyanjungnya, serta memberinya ganjaran dengan cahaya, iman, dan kelonggaran pada kalbunya. Selain itu, Allah l juga akan memberikan balasan berupa kekuatan dan semangat dalam tubuhnya, tambahan keberkahan dalam segala keadaannya, dan tambahan taufik dalam hal perbuatannya. Setelahnya, Allah l memberikan pahala yang ditunda tersebut di sisi-Nya dalam keadaan lengkap, tidak terkurangi.
Di antara bentuk syukur Allah l kepada hamba-Nya, seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah l maka Dia akan menggantikan yang lebih baik darinya….” (Tafsir Asma wa ash-Shifat)
Al-Hulaimi mengatakan, “Asy-Syakir maknanya adalah Dzat yang memuji orang yang menaati-Nya, yang menyanjung-Nya, dan memberi pahala atas ketaatannya, semata-mata karena karunia dari-Nya. Adapun asy-Syakur adalah Dzat yang syukurnya terus-menerus dan meliputi setiap orang yang taat, baik ketaatan yang kecil maupun yang besar.” (al-Asma wash Shifat karya al-Baihaqi)
Al-Harras mengatakan, “Nama Allah asy-Syakur terdapat bersamaan dengan nama Allah al-Ghafur dalam firman-Nya yang menceritakan ucapan penghuni surga:
Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dukacita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 34)
Selain itu, nama tersebut juga didapati bersamaan dengan nama Allah al-Halim dalam firman-Nya:
“Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun.” (at-Taghabun: 17)
Makna asy-Syakur adalah Dzat yang menerima amalan para hamba-Nya, meridhainya, dan mengganjarnya, bahkan melipatgandakannya dalam jumlah yang banyak sesuai dengan keikhlasan dan ketekunannya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.” (al-Kahfi: 30)
Allah l telah mengumpamakan infak di jalan-Nya dengan sebuah biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai dan pada setiap tangkainya ada seratus biji. Lalu Allah l menyebutkan pada akhirnya:
“Allah melipatgandakannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (al-Baqarah: 261)
Firman-Nya di atas adalah pemberitahuan bahwa kelipatan tersebut bisa jadi melebihi ukuran tersebut, bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah l. Dalam hadits yang sahih disebutkan, “Barang siapa yang menyedekahkan senilai satu butir kurma dari penghasilan yang baik—dan Allah tidak menerima selain yang baik—, Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya hingga berkembang menjadi seperti gunung yang besar.”
Mahasuci Allah yang memberikan taufik-Nya kepada kaum mukminin untuk melakukan sesuatu yang Dia ridhai, lalu Dia mensyukurinya atas perbuatan tersebut dengan pahala-Nya yang bagus dan pemberian-Nya yang banyak, sebagai keutamaan yang murni dari-Nya, bukan kewajiban sebagai (timbal balik atas) amal seorang hamba. Bahkan, hal itu karena kewajiban yang Dia wajibkan atas diri-Nya sebagai wujud kemurahan dan kedermawanan-Nya. (Syarah Nuniyyah)

Buah Mengimani Nama Allah asy-Syakir
Mengimani nama Allah l tersebut akan semakin menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah l karena timbulnya kesadaran akan kebesaran karunia-Nya. Selain itu, beriman kepada nama Allah l tersebut akan menambahkan rasa syukur kita kepada-Nya karena amal kita yang sedikit akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah l, dengan syarat ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah n. Dengan keimanan kepada nama Allah itu, mestinya seseorang semakin taat kepada Allah l dalam rangka bersyukur kepada-Nya, karena orang yang bersyukur adalah yang membalas kebaikan dengan kebaikan.
Lihatlah bagaimana Nabi n bersyukur kepada Allah l atas karunia-Nya. Beliau semakin bersungguh-sungguh dalam hal ibadah hingga membengkak kakinya karena shalat malamnya. Saat Aisyah x, sang istri, muncul rasa belas kasihnya kepada beliau ketika melihat hal itu, dia pun bertanya, “Mengapa engkau melakukan demikian, padahal Allah l telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah aku suka untuk menjadi hamba yang bersyukur?”
Wallahu a’lam.

 

Mengapa Kalian Membuat Sekutu bagi Allah?

Allah l berfirman:

“Dia membuat perumpamaan untukmu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolong pun.” (ar-Rum: 28—29)
Ini adalah dalil kias. Dengan dalil ini, Allah l berhujah terhadap orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah l dengan makhluk-Nya. Allah l menegakkan hujah yang telah mereka ketahui kebenarannya, tidak perlu yang lain untuk menegakkan hujah tersebut. Sungguh termasuk hujah yang paling kuat, (jika) seseorang mengambilnya dari (keadaan) dirinya, lalu dia berhujah terhadap dirinya dengan sesuatu yang telah dia akui dan telah dia ketahui.
Allah l pun mengatakan (yang maknanya), “Apakah kalian memiliki budak-budak, baik yang laki-laki maupun perempuan serta menjadi serikat kalian dalam pemilikan harta dan keluarga?”
Yakni, menyertai kalian dalam hal kepemilikan harta dan keluarga sehingga kalian dan mereka sederajat. Kalian tentu khawatir kalau mereka membagi harta kalian setengah-setengah bersama mereka, dan mereka mendahulukan diri mereka daripada kalian pada sebagiannya, sebagaimana lazimnya seorang serikat khawatir terhadap teman serikatnya.
Ibnu Abbas c menafsirkan, “(Yakni) kalian khawatir mereka mewarisi harta kalian sebagaimana halnya sebagian kalian mewarisi harta yang lain.”
Maknanya, apakah seseorang di antara kalian rela apabila budaknya menjadi serikatnya dalam memiliki harta dan keluarga kalian sehingga menyamai kalian dalam menggunakannya? Tentu dia khawatir, nanti budak itu akan menguasai sendiri hartanya dan menggunakannya sekehendaknya, sebagaimana halnya serikat yang merdeka mengkhawatirkan hal itu. Kalau kalian tidak rela hal yang seperti itu terhadap diri kalian sendiri, mengapa kalian menjadikan sesuatu dari makhluk-Ku sebagai serikat bagi-Ku, padahal dia adalah milik-Ku?! Kalau kalian menilai, ini adalah sesuatu yang tidak benar menurut fitrah dan akal kalian, padahal itu bisa dan mungkin terjadi pada diri kalian—karena budak kalian pada hakikatnya bukan milik kalian, melainkan saudara kalian sendiri yang dijadikan oleh Allah l berada di bawah kekuasaan kalian, dan kalian juga mereka adalah hamba-Ku—, mengapa kalian menganggap boleh hukum tersebut untuk-Ku? Padahal yang kalian jadikan sebagai serikat-Ku adalah hamba-Ku, milik-Ku, dan ciptaan-Ku.
Sungguh, ini termasuk sesuatu yang sangat mengherankan dan sangat menunjukkan kebodohan seseorang yang menjadikan serikat dan tandingan bagi Allah l. Sesungguhnya, apa yang ia jadikan sebagai serikat itu bakal sirna. Tidak akan bisa menyamai Allah l dan tidak berhak mendapatkan ibadah sedikit pun.
“Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat”, yakni menjelaskannya dengan permisalan-permisalan, “Bagi orang-orang yang berakal”, yakni memahami hakikat sesuatu dan mengetahuinya. Adapun seorang yang tidak berakal, bagaimanapun diterangkan mengenai ayat-ayat-Nya, niscaya ia tidak memiliki kemampuan untuk memahami penjelasannya. Untuk orang-orang yang berakallah ditujukan pembicaraan dan keterangan.
Apabila telah diketahui dari permisalan ini bahwa seseorang yang telah menjadikan selain Allah l sebagai tandingan bagi-Nya, lalu ia mengibadahinya, bertawakal kepadanya dalam segala urusannya, dia tidak memiliki sisi kebenaran sedikit pun. Lantas, apa yang menyebabkannya berani melakukan sesuatu yang batil dan telah dijelaskan kebatilannya serta tampak buktinya?
Sesungguhnya, yang mendorong mereka berbuat demikian adalah ketundukan kepada hawa nafsu. Oleh karena itu, Allah l berfirman:
“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.” (ar-Rum: 29)
Yakni nafsu mereka yang bodoh. Kebodohannya tampak dari sesuatu yang nafsunya bergantung padanya. Nafsu tersebut menginginkan sesuatu yang telah dipastikan rusaknya oleh akal. Fitrah pun pasti menolaknya, tanpa ilmu yang membimbing mereka dan bukti yang menuntun mereka.
“Maka siapa yang dapat memberi petunjuk orang yang telah Allah l sesatkan”, yakni, kalian jangan heran apabila mereka tidak mendapatkan hidayah karena Allah l telah menyesatkan mereka dengan sebab kezaliman diri mereka sendiri. Tiada jalan untuk menunjuki orang yang disesatkan oleh Allah l karena tidak ada seorang pun yang dapat menentang dan melawan-Nya dalam hal kekuasaan-Nya.
(Diterjemahkan dari I’lam al Muwaqqi’in oleh al-Ustadz Qomar Suaidi dengan penambahan dari Tafsir as-Sa’di)