Mempersiapkan Jenazah Menuju Alam Barzakh

Pada edisi yang lalu telah dibahas tuntunan menghadapi sakaratul maut. Masih dalam rangkaian tema yang sama, berikut adalah bahasan tentang mempersiapkan jenazah menurut tata cara yang benar dalam Islam.

        Sesosok jenazah terbujur di hadapan kita menanti uluran tangan insan yang hidup untuk memandikan, mengafani, menshalatkan dan menguburkannya. Inilah kewajiban orang yang masih hidup. Akan tetapi, apabila ada sebagian orang yang menunaikannya, gugurlah kewajiban yang lain. (al-Hawil Kabir, al-Mawardi, 3/6; al-Muhalla 4/343)

        Berikut ini kami akan merinci penyelenggaraan jenazah seorang muslim, dimulai dari memandikannya.

 

Memandikan Jenazah

        Hukum dimandikannya jenazah diperselisihkan ulama. Adapun penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini yang disebutkan oleh an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ (5/112) tidaklah tepat.

        Karena, kata al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani rahimahullah, perselisihan pendapat dalam masalah ini masyhur di kalangan mazhab Maliki. Sampai-sampai al-Imam al-Qurthubi rahimahullah menguatkan pendapat yang menyatakan hukumnya sunnah.

        Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat wajib. Ibnul ‘Arabi rahimahullah telah membantah orang yang berpendapat dengan selain pendapat jumhur ini. (Fathul Bari 3/156)

        Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma adalah satu di antara beberapa dalil yang menunjukkan jenazah itu wajib dimandikan. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Ketika seseorang sedang wuquf di Arafah, tiba-tiba ia jatuh dari hewan tunggangannya yang seketika itu menginjaknya hingga meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya,

        اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

        “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara….” (HR. al-Bukhari no. 1265 dalam Shahih-nya, Kitab al-Jana`iz, bab al-Kafan fi Tsaubaini dan Muslim no. 1206, kitab al-Hajj, bab Ma Yuf’alu bil Muhrim idza Maata.)

 

 

Yang Harus Diperhatikan sebelum Memandikan Jenazah

        Sebelum memandikan jenazah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

      1. Jenazah laki-laki harus dimandikan oleh laki-laki dan jenazah wanita dimandikan oleh wanita pula, kecuali suami istri.

        Suami diperbolehkan memandikan jenazah istrinya dan sebaliknya, istri boleh memandikan jenazah suaminya, menurut pendapat jumhur ulama. (Syarhus Sunnah, al-Baghawi, 5/309, al-Muhalla 3/405, Nailul Authar 4/37, asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ 2/489)

        Dalilnya ialah hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

        رَجَعَ إِلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ جَنَازَةٍ بِالْبَقِيْعِ، وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا فِي رَأْسِي، وَأَقُوْلُ :وَارَأْسَاه .فَقَالَ :بَلْ أَنَا وَارَأْسَاه مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي فَغَسَلْتُكِ، وَكَفَّنْتُكِ، ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ

        “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali kepadaku setelah mengantarkan jenazah ke Baqi’. Ketika itu aku merasakan sakit pada kepalaku, maka aku katakan, “Aduh, kepalaku sakit.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Aduh, aku juga sakit kepalaku. Tidak bermudarat bagimu, seandainya engkau meninggal mendahuluiku, aku akan memandikan jenazahmu, mengafanimu, menyalatimu, lalu menguburkanmu.” (HR. Ahmad 6/228 dan selainnya; dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Ahkamul Jana`iz, hal. 67.)

 

        Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

        لَوْ اسْتَقْبَلْتُ مِنَ اْلأَمْرِ مَا اسْتَدْبَرْتُ، مَا غَسَلَ النَّبِيَّ إلاَّ نِسَاؤُهُ

        “Seandainya urusan yang telah lewat ini dapat kutemui pada waktu mendatang, niscaya tidak ada yang memandikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain istri-istri beliau.” (HR. Ahmad 6/267, dinyatakan hasan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam al-Jami’ush Shahih 2/248.)

        Ibnu Hazm rahimahullah menyatakan, suami boleh memandikan jenazah istrinya, istri pun boleh memandikan jenazah suaminya. (al-Muhalla 3/405)

  1. Yang memandikan jenazah hendaklah orang yang mengilmui tata caranya, lebih baik lagi apabila orang tersebut dari kalangan keluarganya. (Ahkamul Janaiz, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah hlm. 68)

        Diutamakan dia seorang yang saleh. Sebab, ia dapat menahan dirinya tidak menceritakan aib (cacat/cela) yang dilihatnya dari si mayit, justru menutupinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

        “Siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari no. 2442, kitab al-Mazhalim, bab La Yazhlimul Muslim al-Muslima wa Yuslimuhu dan Muslim no. 2580, kitab al-Birru wash Shilah wal Adab, bab Tahrimuzh Zhulm.)

        Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

        مَنْ غَسَلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ لَهُ اللهُ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً

        “Siapa yang memandikan (jenazah) seorang muslim lalu menyembunyikan (apa yang dilihatnya dari aib si mayit), Allah akan mengampuninya 40 kali.” (HR. al-Hakim 1/354, 362. Ia berkata tentang hadits ini, “Sahih di atas syarat Muslim.” Adz-Dzahabi menyepakatinya. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam Ahkamul Jana`iz hlm. 69, “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim sebagaimana yang dikatakan keduanya.”)

  1. Jenazah yang akan dimandikan tidak diletakkan di atas tanah karena akan mempercepat kerusakan jasadnya.

        Jenazah diletakkan di atas tempat tidur atau papan yang lurus. Pada bagian kaki mayit, papan tersebut agak dimiringkan. Dengan demikian, air basuhan dapat mengalir ke bawah kaki, tidak mengalir ke kepala mayat atau menggenang di bawah tubuhnya. (al-Mughni 2/164, al-Majmu’ 5/131, asy-Syarhul Mumti’ 2/479)

 

 

Tata Cara Memandikan Jenazah

        Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini mengawali pembicaraan kita tentang tata cara memandikan jenazah.

        Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Ketika hendak memandikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, ‘Demi Allah, kami tidak tahu, apakah kami harus melepaskan pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang biasa kami lakukan terhadap orang yang meninggal di kalangan kami, atau kami harus memandikan beliau dalam keadaan beliau tetap mengenakan pakaian?’

        Ketika mereka berbeda pendapat dalam masalah ini, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan rasa kantuk pada mereka hingga tertidur. Sampai-sampai tidak ada seorang pun dari mereka kecuali dagunya menempel pada dadanya. Kemudian ada seseorang yang tidak mereka ketahui mengajak bicara mereka dari sisi rumah.

        Orang itu berkata, “Mandikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pakaiannya tetap dikenakan.”

        Setelah itu, mereka bangkit menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memandikannya dengan gamis beliau tetap menempel pada tubuh beliau. Mereka menuangkan air di atas gamis beliau dan menggosok tubuh beliau dengan gamis tersebut, tidak langsung dengan tangan-tangan mereka.” (HR. Abu Dawud no. 3141, Kitab al-Jana`iz, bab Fi Satril Mayyit ‘inda Ghaslihi, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud.)

        Berikutnya, hadits Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyah radhiallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim rahimahullah dalam Shahih keduanya. Kita bawakan di bawah ini karena hadits ini termasuk pokok dalam masalah memandikan jenazah dan tata caranya. Karena itu, sekelompok sahabat dan ulama dari kalangan tabi’in di Bashrah mengambil tata cara memandikan jenazah dari Ummu ‘Athiyyah. (al-Isti’ab 4/1947, al-Ishabah 8/261)

        Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Tidak ada hadits yang berbicara tentang memandikan jenazah yang lebih tinggi daripada hadits Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha.” (Fathul Bari 3/159)

        Sahabiyah yang biasa memandikan jenazah ini mengisahkan saat ia memandikan jenazah Zainab putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ حِيْنَ تُوُفِّيَتْ ابْنَتُهُ، فَقَالَ :اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي اْلآخِرَةِ كَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرٍ، فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَنِي .فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ، فَأَعْطَانَا حِقْوَهُ فَقَالَ :أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ. تَعْنِي إِزَارَهُ

        “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui kami ketika kami akan memandikan jenazah putri beliau Zainab.

        Beliau berkata, ‘Mandikanlah dia tiga kali, lima kali atau lebih jika kalian pandang perlu, dengan air dan daun sidr. Jadikanlah akhir basuhannya bercampur dengan kapur barus atau sedikit dari kapur barus. Bila kalian telah selesai memandikannya, panggillah aku.”

        Setelah selesai, kami pun memanggil beliau. Beliau memberikan sarungnya pada kami seraya berkata, “Selimutilah tubuhnya[1] dengan kain ini.” (HR. al-Bukhari no. 1253, Kitab al-Jana`iz bab Ghuslil Mayyit wa Wudhu‘ihi bil Ma‘i was Sidr dan Muslim no. 939 Kitab al-Jana`iz bab Fi Ghuslil Mayyit.)

        Ummu ‘Athiyyah juga mengabarkan,

        أَنَّهُنَّ جَعَلْنَ رَأْسَ بِنْتِ رَسُوْلِ اللهِ ثَلاثَةَ قُرُوْنٍ، نَقَضْنَهُ ثُمَّ غَسَلْنَهُ ثُمَّ جَعَلْنَهُ ثَلاَثَةَ قُرُونٍ

        “Mereka menjadikan rambut putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga pintalan. (Sebelumnya) mereka mengurainya (melepas ikatannya) dan mencucinya, lalu menjadikannya tiga pintalan.” (HR. al-Bukhari no. 1260, Kitab al-Jana`iz, bab Naqdhu Sya’ril Mar`ah dan Muslim no. 939)

        Ummu Athiyyah radhiallahu ‘anha berkata,

        وَمَشَطْنَاهَا ثَلاَثَةَ قُرُوْنٍ

        “Kami menyisirnya menjadi tiga jalinan.” (HR. al-Bukhari no. 1254 bab Ma Yustahabbu An Yughsala Witran dan Muslim no. 939)

        Masih berita dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika putri beliau sedang dimandikan,

        ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوْءِ مِنْهَا

        “Mulailah dari bagian kanannya dan tempat-tempat (anggota-anggota, ed) wudhunya.” (HR. al-Bukhari no. 1255 bab Yubda`u bi Mayaminil Mayyit dan Muslim no. 939)

        Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa cara memandikan jenazah adalah sebagai berikut.

  1. Ketika hendak dimandikan, pakaian yang masih menutupi tubuh mayat dilepas seluruhnya, sebagaimana yang biasa dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditunjukkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha di atas. Bagian auratnya ditutup. (asy-Syarhul Mumti’ 2/492)

        Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

        “Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim no. 338 kitab al-Haidh, bab Tahrimun Nazhar ilal ‘Aurat)

        Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Disenangi melepas pakaian si mayat ketika hendak dimandikan dan auratnya ditutup dengan kain.” (al-Mughni 2/163)

        Mayat dimandikan di tempat yang tertutup dari pandangan mata. Yang hadir hanyalah yang memandikannya dan yang membantunya jika diperlukan.

        Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sepantasnya mayat dimandikan di tempat yang tidak terlihat manusia, bisa di kamar, di kemah, dan semisalnya. Menutup mayat dari pandangan mata lebih utama dari menyingkapnya. Sebab, mayat terkadang berada dalam keadaan yang tidak disenangi (untuk dilihat) sehingga menampakkannya di hadapan manusia merupakan satu bentuk penghinaan terhadapnya.

        Terkadang pula, mayat mebuat takut orang yang melihatnya, lebih-lebih lagi sebagian manusia yang sangat ketakutan saat melihat mayat. Dengan demikian, menutup mayat dari pandangan manusia lebih utama dan lebih menjaga.” (asy-Syarhul Mumti’ 2/493)

  1. Mayat mulai dicuci anggota-anggota wudhunya.

        Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Setelah dihilangkan najis dari si mayat (dan dibersihkan –pen.), ia diwudhukan oleh orang yang memandikannya seperti wudhu untuk shalat. Kedua telapak tangannya dicuci. Lalu diambil kain yang kasar, dibasahi, dan diletakkan pada jari orang yang memandikan si mayat. Dengan jari yang dibalut kain tersebut, gigi geligi mayat diusap. Demikian pula bagian dalam hidungnya hingga bersih. Lakukan dengan lemah lembut. Setelah itu, wajah mayat dicuci dan disempurnakan wudhunya.” (al-Mughni 2/165)

        Setelah mayat diwudhukan, rambutnya digerai dengan perlahan dan dicuci bersih. (al-Hawil Kabir 3/10, al-Majmu’ 5/132)

        Untuk mayat seorang wanita, rambutnya disisir dan dikepang tiga, dua kepangan pada dua sisi kepala dan satunya lagi di bagian rambut depan/ jambul. Demikian dinyatakan oleh Sufyan ats-Tsauri rahimahullah.[2]

        Setelah itu, kata Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha,

        فَضَفَرْناَ شَعْرَهَا ثَلاَثَةَ قُرُوْنٍ وَأَلْقَيْنَاهَا خَلْفَهَا

        “Kami menjalin rambutnya menjadi tiga pintalan dan meletakkannya di belakangnya.” (HR. al-Bukhari no. 1263, bab Yulqa Sya’rul Mar`ah Khalfaha.)

  1. Setelah itu, dimulai membasuh bagian kanan tubuh mayat.

        Mayat dimandikan dengan tiga kali siraman atau lebih apabila dipandang perlu oleh yang memandikan, namun tetap dalam hitungan ganjil. Pada sebagian siraman, mayat dibasuh dengan air yang dicampur dengan daun sidr (bidara) yang dihaluskan.

        Apabila tidak didapatkan, bisa digantikan dengan pembersih lainnya seperti sabun. (Ahkamul Jana’iz, hlm. 64)

        Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

        “Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)

       لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ

        “Allah tidak membebani satu jiwa kecuali sekadar kemampuannya.” (al- Baqarah:286)

        Pada akhir basuhan, air dicampur dengan wewangian, lebih utama lagi dicampur dengan kapur barus yang dihaluskan. (Ahkamul Jana’iz, hlm. 65, asy-Syarhul Mumti’ 2/497)

        Air yang digunakan untuk memandikan mayat sebaiknya air dingin. Akan tetapi, jika dibutuhkan dan lebih bermanfaat bagi kebersihan tubuh si mayat, bisa digunakan air hangat (al-Hawil Kabir 3/9, asy-Syarhul Mumti’ 2/497).

  1. Ketika dimandikan, bagian-bagian tubuh mayat digosok perlahan dengan kain perca/washlap atau semisalnya.

        Caranya, orang yang memandikan membungkus tangannya dengan kain tersebut atau menggunakan kaos tangan. Kemudian tubuh mayat digosok perlahan dari bawah kain penutup tubuhnya.

        Hal ini dilakukan agar orang yang memandikan tidak menyentuh aurat si mayit. Sebaiknya disiapkan lebih dari satu kain perca/kaos tangan. Jadi, setelah dipakai untuk menggosok bagian pembuangan si mayat, kain/kaos tangan diganti. (al-Umm 1/302, al-Hawil Kabir 3/9, al-Majmu’ 5/130, asy-Syarhul Mumti’, 2/494)

        Setiap kali basuhan, tangan orang yang memandikan tetap mengurut-urut perut mayat agar sisa kotoran yang tertinggal dapat keluar. (asy-Syarhul Mumti’, 2/496)

        Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Mayat dimandikan (mulai) dari sisi kanan lehernya, belahan (kanan) dadanya, rusuknya, paha dan betis (kanan) nya. Setelah itu, kembali ke bagian kiri tubuhnya dan dilakukan semisal bagian kanan tubuhnya. Kemudian mayat dimiringkan ke rusuk kirinya, lalu dicuci punggung, tengkuk, paha dan betis kanannya. Mayat lalu dimiringkan ke rusuk kanannya dan dilakukan hal yang sama. Setelah itu bagian bawah kedua telapak kaki, antara dua paha, dan belahan pantat dicuci dengan kain perca.” (al-Hawil Kabir 3/10, al-Majmu’ 5/133)

        Selesai dari semua itu, seluruh tubuh mayat disiram dengan air yang dicampur dengan kapur barus.

        Usai basuhan terakhir, kedua tangan mayat dirapatkan pada rusuknya. Kedua kakinya dirapatkan hingga kedua mata kakinya saling menempel. Kedua pahanya juga dirapatkan.

        Apabila ada sesuatu yang keluar dari tubuh mayat setelah dimandikan, dibersihkan dan tubuhnya dibasuh sekali lagi. Terakhir, tubuh mayat dikeringkan dengan kain. Setelah kering, diletakkan di atas kafan yang telah disiapkan. (al-Umm 1/303, al-Hawil Kabir 5/12)

 

Mengusap Perut Mayat agar Kotoran di Dalamnya Keluar

        Ketika mayat dibaringkan di tempat pemandian, mayat didudukkan sedikit (hampir mendekati posisi duduk) dengan mengangkat kepalanya.

        Orang yang memandikan menjalankan tangannya di atas perut mayat berulang kali (diusap dengan tekanan/diurut) dengan lembut agar keluar kotoran yang mungkin masih ada dalam perutnya[3].

        Setelah itu dibersihkan/diceboki. Caranya, orang yang memandikan membalut tangannya dengan kain atau kaos tangan, lalu membersihkan kemaluan mayat dari kotoran yang keluar. Hal ini dilakukan untuk mencegah kotoran itu keluar setelah mayat selesai dimandikan sehingga mengotori kafannya. (al-Umm 3/404, al-Majmu’ 5/130, asy-Syarhul Mumti’ 2/493-494)

        Disenangi meletakkan wangi-wangian di tempat tersebut, seperti bukhur (dupa yang dibakar dan asapnya menyebarkan aroma wangi). Tujuannya, bau tidak sedap yang mungkin tercium dari kotoran mayat bisa tersamarkan. (al-Majmu’ 5/135, al-Mughni 2/165)

 

Apa yang Dilakukan Setelah Memandikan Jenazah?

        Selesai memandikan jenazah, disunnahkan bagi yang memandikannya untuk mandi menurut pendapat jumhur ulama[4]. (al-Majmu’ 5/144)

        Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        مَنْ غَسَلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ، وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

        “Siapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi. Siapa yang memikul jenazah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud no. 3161 dan at-Tirmidzi no. 993, dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abu Dawud dan Shahih at-Tirmidzi.)

        Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas tidaklah bermakna wajib. Sebab, ada hadits lain yang mauquf[5] namun hukumnya marfu’, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Salah satunya dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ia menyatakan,

        كُنَّا نَغْسِلُ الْمَيِّتَ، فَمِنَّا مَنْ يَغْتَسِلُ وَمِنَّا مَنْ لاَ يَغْتَسِلُ

        “Dahulu kami memandikan mayit. Di antara kami ada yang mandi dan ada yang tidak.” (HR. ad-Daraquthni no. 191 dan al-Khathib dalam Tarikh-nya (5/424) dengan sanad sahih, sebagaimana dinyatakan al-Hafizh. Demikian kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Ahkamul Jana`iz hlm. 72.)

 

Bolehkah Wanita yang Sedang Haid atau Nifas Memandikan Jenazah?

        Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan, ada yang menganggap makruh. ‘Alqamah berpendapat boleh, sedangkan al-Hasan al-Bashri dan Ibnu Sirin berpendapat makruh. Ini disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (2/254).

        Pendapat yang kami pandang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang membolehkan. Sebab, tidak ada larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Pendapat ini dipilih an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ (5/145).

        Ditanyakan kepada al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’[6] tentang masalah ini. Keluarlah fatwa al- Lajnah bernomor 6193, “Wanita yang sedang haid boleh memandikan dan mengafani jenazah wanita atau jenazah suaminya secara khusus. Sebab, haid tidak teranggap sebagai penghalang memandikan jenazah. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/369)

 

Mayat Meninggal dalam Keadaan Haid atau Junub

        Apabila mayat meninggal dalam keadaan haid atau junub, cukup dimandikan satu kali karena tidak ada larangan dalam hal ini. Demikian pendapat sejumlah ulama. (al-Majmu’ 5/123)

        Pendapat inilah yang kuat, insya Allah.

        Ada ulama yang memakruhkan jika mayat hanya dimandikan sekali. al-Hasan berpendapat, mayat yang junub dimandikan dengan mandi janabah dahulu, yang haid juga dimandikan mandi haid dahulu, baru dimandikan dengan mandi jenazah. Jadi, mayat dimandikan dua kali mandi. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah 2/254)

 

Apakah Janin yang Gugur Harus Dimandikan?

        Apabila belum genap empat bulan, janin tidak dimandikan dan tidak dishalati. Dia dibalut dalam kain dan dikuburkan.

        Sebab, kata Ibnu Qudamah rahimahullah, sebelum berusia empat bulan, janin belum ditiupi ruh sehingga belum menjadi manusia. Adapun jika janin telah genap empat bulan, harus dimandikan. (al-Mughni 2/200, asy-Syarhul Mumti’ 2/507)

        Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

(Bersambung insya Allah)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah


                [1] Al-Imam al-Baghawi rahimahullah menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk menjadikan kain beliau sebagai syi’ar bagi putrinya. Syi’ar adalah pakaian/kain yang langsung bersentuhan dengan tubuh, tanpa ada penghalang. Adapun ditsar adalah pakaian/kain yang di atas syi’ar.” (Syarhus Sunnah 5/306)

                [2]  (HR. al-Bukhari no. 1262, bab Yuj’al Sya’rul Mar`ati Tsalatsata Qurun.)

                [3] Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Mayat mengendor/lunak seluruh urat syarafnya. Jadi, apabila kepalanya diangkat pada posisi demikian dan perutnya diurut dengan lembut, bisa jadi akan keluar kotoran dalam perutnya yang memang telah siap untuk keluar.” (asy-Syarhul Mumti’ 2/493)

                [4] Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini.

                [5] Ucapan, perbuatan, atau taqrir dari sahabat, bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

                [6] Saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Wakil Ketua asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi.