Di Balik Rumah Tangga Rasul (2)

Kesabaran yang luar biasa menghadapi tingkah istri, kelembutan tiada tara, tiada membalas kejelekan dengan kejelekan, keadilan, kesetiaan, tidak melupakan cinta dan kebaikan, dan sebagainya dari sifat-sifat keutamaan adalah perangai yang melekat erat pada diri Sang Rasul dalam posisi beliau sebagai seorang suami.

Alangkah indahnya penggambaran diri beliau sebagai pendamping hidup para wanita.

Kesabaran Menghadapi Istri

Tidak pernah diketahui ada suami yang paling sabar dan paling menahan diri dalam menghadapi kelakuan istri yang tidak semestinya daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau adalah manusia yang paling tinggi kedudukannya dan paling mulia derajatnya di sisi al-Khaliq dan di sisi para hamba.

Banyak kisah yang menjadi bukti akan hal ini, di antaranya berikut.

  1. Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkisah dengan panjang yang penggalannya sebagai berikut.

“Kami orang- orang Quraisy menguasai istri-istri kami[1]. Namun, ketika kami datang (ke Madinah) dan tinggal di kalangan orang-orang Anshar, kami dapatkan mereka itu dikalahkan istri-istri mereka. Mulailah istri-istri kami mengambil adab/kebiasaan wanita-wanita Anshar. Suatu hari, aku menghardik istriku dan bersuara keras padanya, ia pun menjawab dan membantahku. Aku mengingkari perbuatannya yang demikian.

“Mengapa engkau mengingkari apa yang kulakukan, sementara demi Allah, istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mendebat beliau, sampai-sampai salah seorang dari mereka memboikot beliau dari siang sampai malam,” kata istriku membela diri.

Berita itu mengejutkan aku, “Sungguh merugi orang yang melakukan hal itu dari mereka,” kataku kepada istriku. Lalu kukenakan pakaian lengkapku dan turun menemui Hafshah, putriku.

“Wahai Hafshah, apakah benar salah seorang kalian ada yang marah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siang sampai malam?” tanyaku.

“Ya,” jawab Hafshah.

“Sungguh merugi yang melakukan hal itu,” tanggapku. “Apakah kalian merasa aman dari kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala karena kemarahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kamu pun binasa? Jangan kamu banyak menuntut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jangan kamu mendebat beliau dalam satu perkara pun dan jangan memboikotnya. Minta saja kepadaku apa yang ingin kamu minta. Jangan tertipu dengan keberadaan madumu yang lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yang dimaksud Umar radhiallahu ‘anhu adalah Aisyah radhiallahu ‘anhu…. (HR. al-Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim)

Lihatlah bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tersentak dengan berubahnya keadaan istrinya yang sekarang berani membantahnya. Namun, ternyata Umar radhiallahu ‘anhu dapati berita yang lebih membuatnya terkejut bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima sikap demikian dari istri-istri beliau.

Bagaimana halnya dengan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri?

Ternyata beliau bersabar menghadapi sikap istri-istri beliau, menanggung kemarahan mereka, sampai-sampai mereka mendiamkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masya Allah! Padahal siapakah beliau? Beliau bukan orang biasa, tapi seorang nabi yang sangat mulia dan imam yang agung.

Tidaklah beliau bersikap demikian kecuali karena besarnya sifat hilm[2] beliau dan kuatnya kesabaran beliau.

  1. Yang lebih mengagumkan lagi dari diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun istrinya menunjukkan kejengkelan terhadap beliau, namun beliau tetap lemah lembut kepada mereka. Seakan-akan mereka tidak berbuat salah. Aisyah radhiallahu ‘anha memberitakan,

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ , وَ إِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى.قَالَتْ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذلِكَ؟ فَقَالَ: أَمَا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ فَإِنَّكِ تَقُوْلِيْنَ: لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ. وَإِذَا كًنْتِ غَضْبَى قُلْتِ: لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيْمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: أَجَلْ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Aku sungguh mengetahui kapan engkau ridha kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku.”

Aisyah berkata, “Aku katakan, ‘Dari mana Anda tahu hal itu?’

“Jika engkau sedang ridha kepadaku, engkau akan berkata, ‘Tidak! Demi Rabb Muhammad.’ Namun, jika engkau sedang marah kepadaku, engkau berkata, ‘Tidak! Demi Rabb Ibrahim,” jelas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata Aisyah, “Benar, demi Allah, wahai Rasulullah! Yang aku tinggalkan tidak lain hanyalah sebutan namamu[3].” (HR. al-Bukhari no. 5228)

  1. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumah salah seorang istri beliau. Lalu salah seorang ummahatul mukminin (istri beliau yang lain) mengirimkan sepiring makanan untuk beliau dengan diantar oleh seorang pelayan.

Istri yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumahnya tersebut memukul tangan si pelayan hingga jatuhlah piring yang berada di tangannya. Akibatnya piring tersebut pecah dan makanan yang ada di atasnya berceceran.

Mulailah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut berikut makanan yang berceceran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibu kalian sedang cemburu.”

Kemudian beliau menahan pelayan tersebut agar tidak kembali hingga didatangkan kepadanya piring milik istri yang rumahnya sedang didiami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Piring yang masih bagus (utuh tidak pecah) tersebut diserahkan lewat si pelayan untuk istri yang piringnya dipecahkan sebagai ganti rugi. Piring yang pecah ditahan di rumah istri yang memecahkan.” (HR. al-Bukhari no. 5225) .

Lihatlah lagi sifat hilm Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri-istri beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diboikot seharian, tidak disebut namanya, salah seorang istrinya dengan sengaja memecahkan piring milik istri yang lain di hadapannya lantaran cemburu, lalu beliau sendiri yang mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berceceran, luar biasa!

Beliau hadapi semua itu dengan menahan diri, bersabar dan memaafkan, sementara beliau sangat bisa memarahi istri-istri beliau bahkan menceraikan mereka hingga Allah subhanahu wa ta’ala menggantikan untuk beliau dengan istri-istri yang lebih baik, seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan dalam ayat,

عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٖ مُّؤۡمِنَٰتٖ قَٰنِتَٰتٖ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٖ سَٰٓئِحَٰتٖ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ٥

“Jika Nabi menceraikan kalian, Allah akan memberi ganti kepada beliau dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian; yang patuh tunduk berserah diri (kepada Allah), yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang ahli ibadah, yang gemar berpuasa, yang janda ataupun yang perawan.”[4] (at-Tahrim: 5)

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat pengasih dan penyayang, suka memaafkan dan melupakan kesalahan yang diperbuat kepadanya. Tidak ada perbuatan tidak pantas yang ditujukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali menambah pada diri beliau sifat al-hilm.

Kesetiaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Kepada Cintanya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suami yang setia dengan cintanya kepada istri-istrinya, tidak melupakan kebaikan mereka, terutama kepada Khadijah radhiallahu ‘anha, sampai-sampai membuat Aisyah radhiallahu ‘anha cemburu. Padahal Khadijah radhiallahu ‘anha telah wafat dan keduanya pun sebelumnya tidak pernah bersua. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُوْلِ اللهِ كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ، لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُوْلِ اللهِ إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهِ.

“Tidak pernah aku cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terhadap Khadijah, karena beliau sering sekali menyebut dan memujinya.” (HR. al-Bukhari no. 5229 dan Muslim no. 6228, 6230)

Dengarkan ungkapan kecemburuan Aisyah radhiallahu ‘anha kepada Khadijah radhiallahu ‘anha,

كَأَنَّهَ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ.

“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Khadijah itu begini dan begitu[5], dan aku mendapat anak darinya.” (HR. al-Bukhari no. 3818)

Sampai pun Khadijah radhiallahu ‘anha telah wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap terkenang kepadanya, kepada cinta dan pengorbanannya yang besar. Untuk menyambung ‘rasa’ tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat baik kepada sahabat-sahabat sang istri. Seperti kabar dari Aisyah radhiallahu ‘anha,

وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيْجَةَ

“Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kambing kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu mengirimnya kepada teman-teman Khadijah.” (HR. al-Bukhari no. 3818)

Dalam riwayat Muslim, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

أَرْسِلُوْا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيْجَةَ. قَالَتْ: فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ: خَدِيْجَة؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ :إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Kirimkanlah daging-daging ini kepada para sahabat Khadijah.”

Kata Aisyah, “Suatu hari aku marah kepada Rasulullah, aku berkata, “(Lagi-lagi) Khadijah?”

Rasulullah menjawab, “Sungguh, aku dianugerahi cintanya.” (HR. Muslim no. 6228)

Kenangan terhadap Khadijah radhiallahu ‘anha pun sempat tergugah manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara Halah radhiallahu ‘anha saudari Khadijah. Lagi-lagi Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai penyampai ilmunya[6], “Halah bintu Khuwailid, saudari Khadijah, minta izin masuk ke kediaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam teringat dengan suara Khadijah saat minta izin (dahulu).

Beliau pun bergembira dengan kedatangan Halah. ‘Ya Allah, Halah bintu Khuwailid,’ seru beliau.” (HR. Muslim no. 6232)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senang dengan kunjungan Halah ke tempat beliau karena membuka kembali kenangan bersama Khadijah dan hari-hari indah yang dahulu dilalui bersamanya. Hal ini merupakan bukti penjagaan cinta (kesetiaan). Demikian keterangan an-Nawawi rahimahullah. (al-Minhaj, 15/198)

Contoh bukti kesetiaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berikutnya. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat takhyir,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحٗا جَمِيلٗا ٢٨ وَإِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٢٩

Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah aku berikan mut’ah[7] untuk kalian dan aku ceraikan kalian dengan cara baik-baik. Dan jika kalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (al-Ahzab: 28—29)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Aisyah radhiallahu ‘anha untuk menawarkan pilihan yang disebutkan dalam ayat di atas. Aisyah radhiallahu ‘anha-lah istri beliau yang paling awal beliau berikan pilihan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiallahu ‘anha,

إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمْرًا فَلاَ عَلَيْكِ أَنْ لاَ تَسْتَعْجِلِي حَتَّى تَسْتَأْمِرِي أَبَوَيكِ

“Aku akan menyebutkan kepadamu satu urusan. Namun, janganlah engkau terburu-buru memutuskan sampaikan engkau mengajak musyawarah kedua orang tuamu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan Aisyah radhiallahu ‘anha untuk bermusyawarah dengan kedua orang tuanya, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan Ummu Ruman radhiallahu ‘anha, karena beliau meyakini bahwa kedua orang tua Aisyah radhiallahu ‘anha tidak mungkin menyuruh putrinya untuk memilih berpisah (bercerai) dari beliau. (HR. al-Bukhari, kitab ath-Thalaq, bab ke-6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya kepada sang istri,

إِنَّ اللهَ قَالَ: يآ أَيُّهَا النَّبِيُّ قلْ لِأَزْوَاجِكَإِلَى تَمَامِ الْآيَتَيْنِ. فَقُلْتُ لَهُ: فَفِي أَي هذا أَسْتَأْمر أَبَوَيَّ؟ فَإِنِّي أُرِيْدُ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ الدَّارَ الآخِرَةَ

Sungguh Allah telah menurunkan firman-Nya, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu….” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan dua ayat sampai sempurna.

Aku (Aisyah) katakan kepada beliau, “Apakah dalam urusan seperti ini aku perlu mengajak musyawarah kedua orang tuaku? Sungguh, aku menginginkan (memilih) Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.” (HR. al-Bukhari no. 4785) (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 6/243, karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dan ash-Shahihul Musnad min Asbab an-Nuzul, hlm. 164, karya asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah)

Ternyata Aisyah radhiallahu ‘anha bukanlah wanita yang mengejar kesenangan yang fana. Lihatlah pilihannya, “Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.”

Setelah beroleh keputusan Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada istri-istri beliau yang lain. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka,

إِنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَذَا وَكَذَا. فَقُلْنَ: وَنَحْنُ نَقُوْلُ مِثْلَ مَا قَالَتْ عَائِشَةُ كُلُهُنَّ

“Sungguh, Aisyah mengatakan ini dan itu….”

Para istri yang lain semuanya mengatakan kepada beliau, “Kami mengucapkan sebagaimana ucapan Aisyah.”

Padahal sebelumnya Aisyah radhiallahu ‘anha berpesan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، لاَ تُخْبِرْ أَزْوَاجَكَ أَنِّي اخْتَرْتُكَ

“Wahai Rasulullah, jangan beri tahu kepada istri-istrimu bahwa aku memilihmu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إِنَّمَا بَعَثَنِيَ اللهُ مُبَلِّغًا وَلَمْ يَبْعَثْنِي مُتَعَنِّتًا

“Aku diutus Allah subhanahu wa ta’ala hanyalah sebagai muballigh (penyampai) dan tidaklah aku diutus sebagai orang yang menyengsarakan.” (HR. al-Bukhari no. 5191 dan Muslim)

Semua istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kecuali memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa didikan akhlak nubuwwah telah tertanam dalam sanubari mereka.

Mereka memilih sebagaimana pilihan sang Rasul untuk hidup zuhud dalam kehidupan dunia dan hanya berambisi meraih kebahagiaan di negeri yang kekal abadi. (Taisir al-Karim ar-Rahman, karya al-Imam as-Sa’di rahimahullah, hlm. 663)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Istri-istri mereka tidak berani melawan atau membantah suami.

[2] Hilm, kurang lebihnya kita maknakan sangat penyabar, tidak bertindak dengan emosi dan serampangan, namun tetap tenang dalam bersikap dan dalam mengambil keputusan atau tindakan. Dalam at-Ta’rifat, karya al-Jurjani al-Hanafi, disebutkan makna al-hilm adalah tetap tenang saat bergejolaknya kemarahan. Disebut pula bahwa al-hilm adalah menunda memberi balasan orang yang berbuat zalim. (hlm. 96)

[3] Kata Ibnul Munayyir, “Yang dimaukan Aisyah radhiallahu ‘anha adalah dia meninggalkan penyebutan nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lafadz (tidak mau menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sedang marah, namun kalbu Aisyah radhiallahu ‘anha tetap saja dipenuhi cinta kepada beliau radhiallahu ‘anha) dan tidak mengosongkan kalbunya dari rasa cinta dan kasih kepada diri beliau yang mulia.” (Fathul Bari, 9/405)

[4] Tatkala istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ancaman dan peringatan dalam ayat ini, mereka bersegera membuat ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat cocok diterapkan pada diri mereka. Jadilah mereka wanita-wanita mukmin yang paling utama. Ini merupakan dalil bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah memilihkan untuk Rasul-Nya kecuali keadaan yang paling sempurna dan perkara yang paling tinggi. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memilih untuk Rasul-Nya agar tetap menahan istri-istri beliau yang disebutkan dalam ayat (tidak menceraikan mereka), hal ini menunjukkan mereka adalah sebaik-baik wanita dan paling sempurna. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 874)

[5] Yakni Khadijah radhiallahu ‘anha itu wanita yang memiliki keutamaan, wanita yang cerdas dan semisalnya. Dalam riwayat al-Imam Ahmad dari hadits Masruq dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Dia beriman kepadaku ketika semua manusia mengkufuriku. Dia membenarkan aku ketika semua manusia mendustakanku. Dia mendukungku dengan hartanya ketika manusia menahannya dariku, dan Allah subhanahu wa ta’ala memberi rezeki kepadaku berupa anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari istri-istriku yang lain.” (Fathul Bari, 7/170)

[6] Aisyah radhiallahu ‘anha adalah wanita cerdas yang faqih yang terlahir dari madrasah nubuwah. Beliau banyak mendengarkan hadits dan meriwayatkannya dari suaminya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup berdampingan sebagai istri sang Rasul benar-benar digunakan Aisyah radhiallahu ‘anha dengan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dari beliau. Aisyah radhiallahu ‘anha terdepan dalam hal keilmuan dibanding para istri beliau yang lain, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya. Lebih dari itu, Aisyah radhiallahu ‘anha bahkan termasuk dari kalangan sahabat Rasul yang banyak menyampaikan hadits beliau.

Tentu untuk urusan dalam rumah sang Rasul, urusan beliau dengan istri-istrinya, kita dapati kabarnya dari orang dalam rumah beliau, yakni para istri beliau. Aisyah yang paling banyak menyampaikan ilmunya kepada kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai al-Humaira radhiallahu ‘anha.

[7] Mut’ah adalah pemberian sesuatu atau materi untuk menyenangkan istri yang dicerai.

Di Balik Rumah Tangga Rasul

Kisah-kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di luar rumah beliau, sebagai pengajar dan pembimbing umat, pemimpin kaum muslimin dan panglima tertinggi dalam jihad fi sabilillah, sangat sering dibicarakan. Sementara itu, ada sisi lain kehidupan manusia paling mulia tersebut yang tidak kalah pentingnya. Apakah sisi lain tersebut?

Lanjutkan membaca Di Balik Rumah Tangga Rasul

Aturan Dalam Poligami

Ada beberapa aturan atau hukum yang diatur oleh syariat dalam hal poligami, di antaranya:

1. Tidak boleh mengumpulkan dua perempuan bersaudara dalam ikatan pernikahan.

Artinya, seorang lelaki tidak boleh menikahi seorang perempuan kemudian menikahi lagi saudara perempuan istri, yakni iparnya. Sama saja, apakah itu adik atau kakak ipar, sekandung, seayah, atau seibu dengan istri, lalu keduanya dikumpulkan dalam pernikahan (dijadikan madu satu dengan yang lainnya).

Ketika Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi, termasuk yang haram dilakukan adalah,

وَأَن تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ

“Dan kalian mengumpulkan dua perempuan yang bersaudara, terkecuali apa yang telah lalu.” (an-Nisa: 23)

Ummu Habibah bintu Abi Sufyan radhiyallahu ‘anha, seorang ummul mukminin, pernah berkata kepada suaminya, “Wahai Rasulullah, nikahilah saudara perempuanku, putri Abu Sufyan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Apakah kamu menyenangi hal itu1?” “Iya. Toh, saya tidak sendirian sebagai istrimu, saya dapati saya punya madu (istri-istrimu yang lain),” jawab Ummu Habibah. “Aku suka saudara perempuanku ikut menyertaiku dalam kebaikan.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh hal itu tidak halal bagiku.” Ummu Habibah berkata lagi, “Kami membicarakan bahwa Anda ingin menikahi putri Abu Salamah.” “Putri Ummu Salamah?” tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meyakinkan. “Iya,” jawab Ummu Habibah. Rasulullah n menjelaskan, “Andainya pun ia bukan rabibahku (putri istriku) yang dalam asuhanku, ia tetap tidak halal bagiku, karena ia adalah putri dari saudara laki-lakiku sesusuan. Aku dan Abu Salamah pernah disusui oleh Tsuwaibah (budak Abu Lahab). Janganlah kalian (para istriku) menawarkan kepadaku (untuk kunikahi) putri-putri kalian dan jangan pula saudara-saudara perempuan kalian.” (HR. al-Bukhari no. 5101 dan Muslim no. 3571)

2. Tidak boleh mengumpulkan istri dengan bibinya, dari pihak ayah ataupun ibu (‘ammah dan khalah) dalam pernikahan.

Berarti, tidak boleh setelah menikahi si istri lalu menikahi bibinya, atau sebaliknya, menikah dulu dengan si bibi lalu menikahi keponakannya. Demikian pendapat yang rajih, dan ini adalah pendapat jumhur ulama (Fathul Bari, 9/202).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

نَهَى النَّبِيُّ أَنْ تُنْكَحَ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا  وَالْمَرْأَةُ عَلَى خَالَتِهَا

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang perempuan dinikahi setelah ‘ammahnya dan seorang perempuan dinikahi setelah memperistri khalahnya.” (HR. al- Bukhari no. 5110 dan Muslim no. 3429)

Yang haram hanyalah apabila mereka disatukan dalam pernikahan, yakni dijadikan madu. Adapun apabila istrinya sudah meninggal atau bercerai darinya, tidak apa-apa si suami menikahi adik perempuan, kakak perempuan, atau bibi istrinya.

3. Boleh memberikan mahar yang berbeda antara satu istri dan istri yang lain, baik dalam hal jumlah atau macamnya.

Dalilnya apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal pemberian mahar pernikahannya dengan istri-istri beliau. Beliau tidaklah menyamakan satu istri dengan istri yang lain. Ketika menikahi Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Raja Najasyi menyerahkan mahar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebesar empat ribu dirham5. (HR. Abu Dawud no. 2107, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

 Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu memberitakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakan Shafiyah bintu Huyai radhiyallahu ‘anha dari perbudakan dan menjadikan kemerdekaannya sebagai maharnya. (HR. al-Bukhari no. 5086 dan Muslim no. 3482)

4. Boleh menyelenggarakan walimah pernikahan dengan seorang istri lebih meriah daripada walimah pernikahan dengan istri yang lain.

Tsabit al-Bunani, seorang tabi’in yang mulia dan murid Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, mengatakan, “Disebut-sebut tentang pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha di sisi Anas radhiyallahu ‘anhu, maka ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat Nabi n menyelenggarakan walimah pernikahan beliau dengan salah satu dari istri-istri beliau melebihi walimah yang diadakannya saat menikahi Zainab’.” (HR. al-Bukhari no. 5171 dan Muslim no. 3489)

Al-Kirmani mengatakan, bisa jadi, sebab Zainab radhiyallahu ‘anha  dilebihkan dalam walimah daripada istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain adalah sebagai tanda kesyukuran kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang dilimpahkan kepada beliau, yaitu Allah Subhanahu wata’ala menikahkan Zainab dengan beliau lewat wahyu. (Fathul Bari, 9/296)

5. Setiap istri ditempatkan di rumah tersendiri karena demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Subhanahu wata’ala menyatakan dalam al- Qur’an,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Tetaplah kalian (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kalian.” (al-Ahzab: 33)

Demikian pula ayat,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ

 “Dan ingatlah apa yang dibacakan dalam rumah-rumah kalian dari ayatayat Allah dan hikmah….” (al-Ahzab: 34)

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan lafadz buyut (bentuk jamak dari kata bait) yang bermakna rumah rumah, yang berarti rumah Nabi  tidak hanya satu, tetapi berbilang.

Hadits – hadits juga banyak menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan istri-istri beliau dalam rumah yang terpisah. Di antaranya hadits Aisyah berikut ini radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ,كَانَ يَسْأَلُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي  مَاتِ فِيْهِ: أَيْنَ أَنَا غَدًا، أَيْنَ أَنَا غَدًا؟ يُرِيْدُ يَوْمَ عَائِشَةَ، فَأَذِنَ لَهُ أَزْوَاجُهُ يَكُوْنُ حَيْثُ شَاءَ، فَكاَنَ فِي بَيْتِ عَائِشَة حَتَّى مَاتَ عِنْدَهَا.

Saat sakit yang mengantarkan kepada kematian Rasulullah n, beliau biasa bertanya, “Di mana aku besok, di mana aku besok?” Beliau menginginkan tiba hari giliran Aisyah. Istri-istri beliau pun mengizinkan beliau untuk berdiam di mana saja yang beliau inginkan. Beliau pun tinggal di rumah Aisyah sampai meninggal di sisi Aisyah. ( HR. al- Bukhari no. 5217)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah salah seorang istrinya, istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan untuk beliau. Melihat hal itu, istri yang Nabi sedang berdiam di rumahnya memukul tangan pelayan yang membawa makanan tersebut hingga jatuhlah piring itu dan terbelah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengumpulkan belahan piring tersebut kemudian mengumpulkan makanan yang berserakan, lalu beliau letakkan di atas piring yang terbelah seraya berkata, “Ibu kalian sedang cemburu.” Beliau lalu menahan pelayan tersebut hingga diberikan kepadanya ganti berupa piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya, sementara piring yang pecah disimpan di tempatnya.” (HR. al-Bukhari no. 5225)]

Para istri sebaiknya ditempatkan di rumah tersendiri karena berkumpulnya mereka rawan memunculkan kecemburuan dan pertikaian. Dikhawatirkan saat suami menggauli salah satu istrinya, istri yang lain akan melihatnya. Demikian kata al- Hasan al-Bashri rahimahullah. (al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah, 4/388)

6. Boleh menempatkan istri-istri dalam satu rumah apabila mereka ridha.

Al-Imam Ibnu Qudamah t menerangkan, “Tidak boleh seorang suami mengumpulkan dua istri dalam satu tempat tinggal tanpa keridhaan keduanya, baik istri muda maupun istri tua, karena mudarat yang bisa muncul di antara keduanya, yaitu permusuhan dan kecemburuan. Apabila keduanya

dikumpulkan akan mengobarkan pertikaian dan permusuhan. Yang satu akan mendengar atau melihat ketika suaminya “mendatangi” istri yang lain. Namun, jika kedua istri ridha, hal itu dibolehkan.

Sebab, hal itu menjadi hak keduanya dan mereka bisa menggugurkannya. Demikian pula, apabila keduanya ridha suami tidur di antara keduanya dalam satu selimut. Namun, apabila keduanya ridha suami mencampuri salah satunya dan yang lainnya menyaksikan, hal ini tidaklah diperbolehkan. Sebab, hal ini adalah perbuatan yang rendah, tidak pantas, dan menjatuhkan kehormatan. Karena itu, walaupun keduanya ridha, tetap tidak diperkenankan. (al-Mughni, Kitab ‘Isyratun Nisa”, “Fashl an Yajma’a Baina Imra’ataihi fi Maskan Wahid”)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah juga menyatakan bolehnya mengumpulkan istri dalam satu rumah apabila mereka ridha. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 14/140)

7 . Seorang istri boleh mengirimkan hadiah kepada suaminya saat si suami sedang berada di rumah istri yang lain.

Dalil kita adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan tentang seorang ummul mukminin yang mengirimkan hadiah sepiring makanan kepada Rasulullah n saat beliau berada di rumah istri beliau yang lain, dan beliau tidak mengingkari perbuatan tersebut.

8. Suami harus berlaku adil dalam hal nafkah, pakaian, dan tempat tinggal. Demikian pula dalam urusan mabit (bermalam), dijatahnya istri-istrinya, malam dan siangnya dengan adil.

Suami bisa menggilir semalamsemalam, atau sesuai kesepakatan yang ada. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri membagi giliran istri-istrinya sehari semalam, sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,

وَكَانَ يَقْسِمُ لِكُلِّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا غَيْرَ أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا لِعَائِشَةَ النَّبِيِّ, تَبْتَغِي بِذَلِكَ رِضَا   زَوْجِ   رَسُوْلِ اللهِ

“Beliau membagi giliran setiap istrinya sehari semalam, kecuali Saudah bintu Zam’ah, ia telah menghadiahkan hari dan malamnya untuk Aisyah guna mencari keridhaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. al-Bukhari no. 2688)

Apabila seorang istri ditambah hari gilirannya, istri yang lain pun ditambah, berdasar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha saat pengantin barunya,

إِنْ شِئْتِ سَبَّعْتُ لَكِ وَإِنْ سَبَّعْتُ لَكِ سَبَّعْتُ لِنِسَائِي

“Apabila engkau mau, aku akan mencukupkan tujuh hari bersamamu. Namun, kalau aku memberikan waktu tujuh hari denganmu, berarti aku juga memberikan tujuh hari untuk istri-istriku yang lain.” (HR. Muslim no. 3606)

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata ketika menjelaskan ucapan al-Khiraqi, “Masalah: Sandaran pembagian giliran adalah malam hari”,

Tidak ada perselisihan dalam hal ini, karena waktu malam itu untuk istirahat/menenangkan diri dan berdiam. Seseorang berdiam di rumahnya pada waktu malam, menenangkan diri  dengan keluarganya, dan biasanya tidur di tempat tidurnya bersama istrinya. Adapun siang hari adalah waktu untuk mengurusi penghidupan, keluar rumah, mencari rezeki, dan menyibukkan diri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا

“Dan Dia menjadikan malam sebagai waktu ketenangan.” (al-An’am: 96)

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا () وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

“Kami menjadikan malam sebagai pakaian dan siang untuk mengurusi penghidupan.” (an-Naba: 10—11)

وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Termasuk rahmat-Nya, Dia menjadikan bagi kalian malam dan siang agar kalian mendapatkan ketenangan di dalamnya (di waktu malam) dan agar kalian bisa mencari sebagian keutamaan- Nya (pada siang hari).” (al-Qashash: 73)

Berdasarkan hal ini, seorang lelaki membagi giliran di antara istrinya semalam demi semalam, sedangkan siang harinya ia mengurusi pekerjaan, memenuhi hakhak manusia, dan melakukan urusan mubah yang dia inginkan. Berbeda halnya apabila ia termasuk orang yang bekerja di waktu malam, seperti penjaga keamanan (satpam) dan yang semisalnya, ia menunaikan giliran istri-istrinya di siang hari, sedangkan malam hari baginya seperti siang bagi orang lain.” (al- Mughni, “Kitab ‘Isyratun Nisa”, “Fashl at-Taswiyah baina an-Nisa fin Nafaqah wal Kiswah”)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, malam menjadi sandaran giliran di saat seseorang bermukim. Adapun saat safar, patokan giliran adalah saat singgah di suatu tempat. (Fathul Bari, 9/386)

Namun, riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyebutkan Saudah  menghadiahkan malam dan siangnya untuk Aisyah, menunjukkan siang juga masuk dalam pembagian mengikuti malam. Yang dimaksud dengan siang hari adalah hari yang mengikuti malam yang sudah lewat. (al-Mughni, “Kitab ‘Isyratun Nisa”, fashl an-Nahar Yadkhulu fil Qism Taba’an Lil lail)

9. Istri yang sedang haid, nifas, atau sakit juga tetap mendapat pembagian giliran.

Demikian yang dinyatakan oleh ats-Tsauri, asy-Syafi’i, dan ashabur ra’yi, sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Qudamah ( al-Mughni, “Kitab ‘Isyratun Nisa”, “fashl Yuqsamu lil Maridhah…”).

Al-Qurthubi rahimahullah juga menyatakan demikian. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 14/139)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bermalam di rumah istri beliau yang haid dan tidur bersamanya. Kata Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Apabila salah seorang dari kami haid dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin bercampur (selain jima’) dengannya, beliau perintahkan si istri untuk bersarung (menutupi tubuh bagian bawah), lalu beliau pun mencampurinya. Kata Aisyah, “Siapa di antara kalian yang mampu menahan nafsunya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mampu menguasainya?” (HR. al-Bukhari no. 302 dan Muslim no. 677)

Maimunah radhiyallahu ‘anha pun memberitakan sebagaimana yang dikabarkan oleh Aisyah x. (HR. al-Bukhari no. 303 dan Muslim no. 678)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Wajib bagi suami berlaku adil di antara istri-istrinya. Setiap istri berhak mendapatkan giliran sehari semalam. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Sebagian ulama berpendapat, giliran hanya wajib pada malam hari, tidak pada siang hari. Hak istri tidak gugur pada saat sakit dan haid. Suami harus berada di samping istrinya pada hari gilirannya dan malamnya. Wajib bagi suami berlaku adil di antara para istri di saat sakit (suami) sebagaimana yang ia lakukan di saat sehatnya. Lain halnya jika ia tidak kuasa untuk bergerak, maka ia tinggal di rumah istrinya tempat ia jatuh sakit (yang membuatnya tidak bisa bergerak/ sakit parah) di situ. Apabila telah sehat, ia memulai lagi giliran yang baru. (al- Jami’ li Ahkamil Qur’an, 14/139)

10. Bermalam di samping seorang istri tidak berarti harus jima’ dengannya.

Yang penting, si suami bermalam di rumah istri tersebut, maka hal tersebut sudah mencukupi. Namun, tentu disenangi apabila suami tidak menyia-nyiakan istrinya. (al-Minhaj, 9/288)

1 1 . Suami tidak wajib menyamakan istri-istrinya dalam hal cinta, kecondongan hati, dan jima’. Namun, apabila suami bisa menyamakan, hal itu baik dalam tinjauan keadilan. Kalaupun tidak, tidak ada dosa bagi suami.

12. Tidak boleh mendahulukan satu istri selain dalam hal awal mendapatkan giliran sehingga dilakukan undian, kecuali apabila para istri ridha mengikuti kehendak suami, siapa istri yang digilirnya terlebih dahulu.

Disebutkan dalam al-Majmu’, (18/110), “Apabila suami hendak membagi giliran (di antara para istrinya) ia tidak boleh memulai dari salah seorang istri tanpa keridhaan istri-istri yang lain, kecuali dengan undian. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ.

“Siapa yang memiliki dua istri lalu condong kepada salah seorang dari keduanya (berlaku tidak adil), maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sebelah tubuhnya miring.” (HR. Abu Dawud no. 2133, an-Nasa’i no. 3942, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud, Shahih an-Nasa’i, dan Irwa’ul Ghalil no. 2017)

Selain itu, memulai dari salah seorang istri tanpa melakukan undian akan mengundang perasaan tidak suka/iri. Apabila ia mengutamakan satu istrinya dalam hal giliran baik dengan undian maupun tidak, ia wajib mengqadha (menggantinya) untuk istri-istri yang lain. Sebab, kalau ia tidak qadha berarti ia telah condong/melebihkan salah seorang istrinya dari yang lain sehingga ia masuk dalam ancaman yang disebutkan dalam hadits.”

13. Saat giliran seorang istri, maka pada malam hari suami tidak boleh pergi ke rumah istrinya yang lain kecuali karena suatu keperluan yang darurat. Apabila sampai suami melakukannya, hal itu adalah pelanggaran terhadap sikap adil.

Dalilnya adalah kisah malam giliran Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan Aisyah untuk memenuhi ajakan Jibril  ziarah ke Baqi’, namun disangka oleh Aisyah hendak ke tempat istri yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu menyatakan, “Apakah engkau menyangka Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu7?” (HR. Muslim no. 974)

Darurat yang dimaksud contohnya sakit, atau si madu dikhawatirkan meninggal, atau ia dipaksa oleh penguasa untuk ke tempat madu istrinya. Apabila demikian, ia boleh keluar dan wajib baginya mengqadha waktu yang terpotong dari istri yang punya hak giliran. (al- Majmu’, 18/119)

14. Boleh para istri berkumpul di malam hari di rumah istri yang sedang mendapatkan giliran untuk bercerita atau berbincang-bincang sampai datang waktu tidur, kemudian masing-masing pulang ke rumah mereka. (Zadul Ma’ad, 4/20)

Hal ini dilakukan oleh istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

فَكُنَّ يَجْتَمِعْنَ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي بَيْتِ الَّتِي يَأْتِيْهَا

“Mereka (para istri Nabi) berkumpul setiap malam di rumah istri yang didatangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim no. 3613)

15. Hukum asalnya dan yang lebih utama, suami menggilir istriistrinya dengan mendatangi mereka di rumah masing-masing, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hal ini lebih bagus dari sisi pergaulan suami istri, lebih menjaga istri, dan lebih menutupinya. Namun, apabila suami memiliki tempat atau kamar khusus, kemudian memanggil istri yang sedang memperoleh giliran ke tempatnya, hal itu dibolehkan. Sebab, memindahkan istri ke mana saja yang ia inginkan adalah hak suami, dan sudah menjadi kewajiban bagi istri untuk mengikuti suaminya. (al-Mughni, “Kitab ‘Isyratun Nisa”, “fashl Al-Aula an Yakuna li Kulli Wahidah min hunna Maskan”, dan al- Minhaj, 10/289)

16. Tidak boleh menggauli istri yang bukan gilirannya kecuali dengan keridhaan istri yang sedang memperoleh giliran.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan kepadakeponakannya, Urwah bin az-Zubair, “Wahai anak saudara perempuanku! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak mengutamakan sebagian kami dari yang lain dalam hal berdiamnya beliau di sisi kami saat pembagian giliran. Hampir setiap hari beliau berkeliling ke tempat kami seluruhnya, lalu beliau mendekati setiap istrinya tanpa melakukan jima’. Tatkala beliau sampai ke rumah istri yang mendapat giliran hari itu, beliau pun bermalam di rumahnya.” (HR. Abu Dawud no. 2135, hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Shahih Abi Dawud)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, boleh bagi suami untuk masuk menemui istri-istrinya seluruhnya pada hari giliran salah seorang dari mereka, tetapi ia tidak boleh menggauli istri yang bukan hari gilirannya. (Zadul Ma’ad, 4/20)

Al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah juga menyatakan demikian. Jadi, suami dibolehkan bermesraan, menyentuh/ meraba, dan mencium istri yang bukan gilirannya (asal bukan jima’). (Subulus Salam, 6/145)

17. Seorang istri boleh  menghadiahkan gilirannya kepada madunya.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha yang memberikan hari dan malamnya untuk Aisyah radhiyallahu ‘anha. (HR. al-Bukhari no. 2688 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

18. Mengundi para istri apabila ada yang hendak dibawa safar.

 Walaupun dalam masalah ini adaperbedaan pendapat, antara yang mengatakan wajib diundi, seperti al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, dan yang berpendapat tidak wajib (Subulus Salam 6/146)9, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Apabila ingin safar, beliau n mengundi di antara istri istrinya. Siapa di antara mereka yang keluar undiannya, beliau membawanya dalam safar. (HR. al- Bukhari no. 2688 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Suami tidak boleh mengkhususkan salah seorang istrinya untuk safar bersamanya kecuali dengan undian.” (al-Muhalla, 10/63)

Setelah pulang dari safar yang sebelumnya dilakukan undian untuk menentukan istri mana yang akan diajak, si suami tidak mengqadha giliran untuk istri yang tidak diajak safar.

Demikian pendapat kebanyakan ulama. Mereka berdalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan alasan seperti itu dalam Zadul Ma’ad.

Adapun kalau safarnya tanpa undian, dibawa siapa saja dari istri yang diinginkan oleh suami, Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan tiga pendapat, apakah suami harus mengqadha untuk istri yang tidak diajak safar ataukah tidak.

1. Tidak mengqadha, sama saja dilakukan undian atau tanpa undian. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan al-Imam Malik.

2. Diqadha untuk istri-istri yang ditinggal dan tidak diajak safar, sama saja apakah dilakukan undian atau tidak. Ini adalah mazhab Zhahiri.

3. Kalau dilakukan undian, suami tidak mengqadha; apabila tanpa undian, suami harus mengqadha. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan asy- Syafi’i. Wallahu a’lam. (Zadul Ma’ad, 4/20)

19. Seorang perempuan dibenci “memanas-manasi” madunya dengan apa yang tidak ada padanya.

Ketika ada seorang perempuan berkata, “Wahai Rasulullah, saya memiliki madu. Apakah saya berdosa apabila saya mengatakan kepadanya bahwa saya diberikan harta ini-itu dari suamiku, padahal sebenarnya suamiku tidak memberikannya?” Rasulullah rahimahullah menjawab,

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ

“Orang yang berhias-hias (mengakungaku) dengan apa yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. al- Bukhari no. 5219 dan Muslim no. 5549 dari Asma radhiyallahu ‘anha)

Biasanya, perempuan melakukannya karena ingin membuat marah atau memanas-manasi madunya (Fathul Bari, 9/394 ).

Perbuatan seperti ini jelas tercela Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang tidak wajibnya membagi sama rata di antara para istri dalam urusan jima’ (berhubungan badan).”

Mampu Bersikap Adil Adalah Nikmat Menikah lebih dari satu istri bagi yang mampu adalah sebuah kelebihan. Namun, hal itu haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu disertai kewajiban menghindari sikap-sikap yang tercela. Ia harus mengedepankan sikap adil dan menjauhi bentuk-bentuk kezaliman.

Al – Imam Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Nikmat Allah Subhanahu wata’ala terbesar kepada seorang hamba adalah dimudahkan untuk memiliki sikap adil dan cinta kepada keadilan, serta dimudahkan untuk berada di atas kebenaran dan cinta kepada kebenaran.” (Mudawatun Nufus hlm. 90) Semoga Allah Subhanahu wata’ala memudahkan setiap hamba yang berusaha menegakkan sunnah Nabi-Nya. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al Ustadz Muslim Abu Ishaq al Atsari

Bersikaplah Adil, Wahai Suami!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

“Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Takhrij Hadits Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213), ad-Darimi (2/143), Ibnu Majah (1969), Ibnu Abi Syaibah (2/66/7), Ibnul Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307), al-Hakim (2/186), al-Baihaqi (7/297), ath-Thayalisi (no. 2454), dan Ahmad (2/347, 471) melalui jalur Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari an-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.

Di dalam Sunan at-Tirmidzi, hadits di atas diriwayatkan dengan lafadz,

إِذَا كَانَ عِنْدَ الرَّجُلِ امْرَأَتَانِ فَلَمْ يَعْدِلْ بَيْنَهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ سَاقِطٌ

“Apabila seorang laki-laki memiliki dua istri namun tidak berlaku adil di antara keduanya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Al-Hakim menghukumi hadits ini sahih berdasarkan syarat asy-Syaikhain (al-Bukhari & Muslim). Adz-Dzahabi dan Ibnu Daqiqil ‘Ied sepakat dengan al-Hakim, sebagaimana dinukilkan oleh al-Hafizh dalam at-Talkhis (3/201) dan beliau pun menyepakatinya.

Al-Hafizh  menambahkan bahwa al-Imam at-Tirmidzi menghukumi hadits ini gharib padahal beliau sendiri menyatakannya sahih. Abdul Haq mengatakan, ‘Hadits ini tsabit, namun ada cacatnya, yaitu Hammam sendirian meriwayatkannya.’

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Cacat semacam ini tidak membuat hadits menjadi lemah. Oleh karena itu, para ulama secara berturut-turut menyatakannya sahih.” (Silsilah ash- Shahihah no. 2017, al-Albani)

Islam Menjunjung Nilai-Nilai Keadilan 

Islam sangat menjunjung nilai-nilai keadilan. Bahkan, keadilan menjadi salah satu pilar penting bagi seorang hamba untuk mewujudkan bangunan Islam. Sikap adil, menurut asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, adalah menunaikan hak-hak yang wajib dan memenuhi hak bagi yang memilikinya.

Ada juga yang memaknai adil sebagai sikap menentukan hukum sesuai dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,, bukan semata-mata berdasarkan akal pikiran. Dalam memutuskan perkara, keadilan mesti menjadi landasan berpijak. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

إِذَا حَكَمْتُمْ فَاعْدِلُوْا

“Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!” (Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [no. 469])

Bahkan, bagi orang tua, sikap adil haruslah mendasari setiap perhatian kepada anaknya. Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, “Aku pernah diberi sesuatu oleh ayahku. ‘Amrah bintu Rawahah (ibunya) lantas berkata (kepada ayahku), ‘Aku tidak rela (dengan pemberian ini) sampai engkau meminta persaksian dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,.’ Lantas ayahku menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan  menyampaikan, ‘Sesungguhnya aku memberi sesuatu kepada salah seorang anakku, anak dari ‘Amrah bintu Rawahah.

Amrah menuntutku untuk meminta Anda sebagai saksi, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti yang engkau berikan kepada anak itu?’ Ayahku menjawab, ‘Tidak.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil di antara anakanak kalian!’

Akhirnya ayahku pulang dan mengambil kembali pemberian itu.” (HR. Bukhari 5/2587)

Mengenai bentuk-bentuk keadilan, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskannya berkenaan dengan ayat Allah Subhanahu wata’ala di dalam surat an-Nahl, yaitu firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(an-Nahl: 90)

Beliau rahimahullah menerangkan , “Kewajiban hamba adalah bersikap adil terhadap diri sendiri, keluarga, dan orangorang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Bersikap adil terhadap diri sendiri artinya tidak memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Bahkan, ia pun harus memerhatikan diri sendiri saat melakukan kebaikan, dengan cara tidak melakukannya melebihi batas kemampuan. Oleh sebab itu, saat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma menyatakan, ‘Aku akan berpuasa terus dan tidak akan berbuka. Aku akan shalat malam terus dan tidak akan tidur’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, memanggilnya dan melarang hal itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 ‘Sesungguhnya dirimu sendiri memiliki hak, Rabbmu juga memiliki hak, dan keluargamu pun memiliki hak. Maka dari itu, berikanlah hak masing-masing.’

Demikian juga seorang suami, ia harus bersikap adil di tengah-tengah keluarga. Siapa saja yang memiliki lebih dari satu istri, ia harus bersikap adil di antara para istrinya. Sebab, seorang suami yang lebih cenderung kepada salah satu istri, ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring sebelah tubuhnya.

Sikap adil juga wajib diwujudkan di antara anak-anak. Jika Anda memberi satu real kepada salah seorang di antara mereka, berikan juga senilai itu kepada yang lain. Jika engkau memberi dua real kepada anak laki-laki, berikanlah satu real kepada anak perempuan. Jika engkau memberikan satu real kepada anak laki-laki, berikanlah setengah real kepada anak perempuan.

Bahkan, ulama salaf memerhatikan sikap adil di antara anak-anak dalam hal ciuman. Jika ia mencium anaknya yang masih kecil sementara kakaknya ada di situ, ia pun menciumnya juga. Jadi, ia tidak membeda-bedakan di antara mereka dalam hal ciuman.

Demikian juga dalam hal berbicara, Jangan sampai Anda berbicara dengan seorang anak dengan nada yang kasar, sedangkan kepada anak yang lain dengan nada yang lembut. Sikap adil harus juga dijunjung kepada orang-orang yang berhubungan dengan kita. Jangan Anda berpihak kepada seseorang hanya karena ia adalah kerabat, orang kaya, orang fakir, atau seorang teman. Jangan berpihak kepada seseorang, semua orang sama kedudukannya.

Sesungguhnya para ulama rahimahumullah mengatakan, ‘Harus bersikap adil kepada dua orang yang sedang berseteru, jika mereka berhukum kepada seorang hakim, dalam hal tutur kata, perhatian, pembicaraan, tempat duduk, dan cara masuknya. Jangan engkau memandang kepada salah satunya dengan pandangan marah, namun kepada yang lain dengan pandangan senang.

Jangan engkau berbicara dengan nada lembut kepada salah seorang di antara mereka, namun kepada yang lain sebaliknya. Jangan sampai Anda bertanya kepada salah seorang di antara mereka, ‘Apa kabarmu? Apa kabar keluargamu? Bagaimana kabar anak-anakmu?’, namun orang kedua engkau biarkan tanpa pertanyaan. Bersikaplah adil di antara keduanya. Sampai serinci ini. Demikian juga dalam hal tempat duduk. Jangan Anda mempersilakan salah seorang darinya duduk dekat di sebelah kananmu sementara yang lain berada jauh darimu.

Namun, posisikan mereka berdua di hadapanmu dalam garis yang sama. Bahkan, jika ada seorang muslim bertengkar dengan orang kafir di hadapan seorang hakim, ia harus bersikap adil di antara keduanya dalam pembicaraan, cara memandang, dan posisi duduk. Jangan sampai ia mengatakan kepada si muslim, ‘Kemarilah!’ sementara si kafir diposisikan jauh. Namun, ia harus memberikan tempat yang sama. Kesimpulannya, sikap adil harus dijunjung dalam segala hal. (Syarah Riyadhus Shalihin, al-Utsaimin)

Bersikap Adil kepada Istri

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menerangkan makna hadits di atas, “… Dengan bersikap adil kepada para istri dalam hal giliran bermalam, nafkah, dan pergaulan. Adapun perasaan yang ada di dalam hati, hal ini di luar kemampuan manusia dan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Meski demikian, seorang suami tidak boleh bersikap lebih cenderung kepada istri yang paling ia sayangi dan cintai. Ia harus bersikap adil dalam hal giliran bermalam, nafkah, dan segala sesuatu yang ia mampu.

Adapun perasaan di hati, tidak ada yang mampu menentukannya selain Allah k. Akan tetapi, tidak sepantasnya seorang suami lebih condong kepada salah seorang istrinya. Yang seharusnya ia lakukan adalah memenuhi hak masingmasing tanpa menyakiti istri yang lain.

Membagi di antara istri dilakukan sebatas kemampuan yang ia miliki. Jika ada kecenderungan kepada salah seorang istri, hendaknya ia tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar sikap tersebut tidak mendorongnya untuk menghilangkan atau mengurangi hak istri lainnya, atau hanya memberikan sedikit saja dari hak mereka padahal ia mampu. Kewajiban suami adalah bersikap adil dan seimbang di antara para istri.”

Asy – Syaikh Abdu l Muhsin melanjutkan, “Abu Dawud membawakan hadits Abu Hurairah z di atas untuk menunjukkan bahwa balasan yang diperoleh seorang hamba sesuai dengan jenis amalan yang ia perbuat. Pada hari kiamat kelak, ia datang dengan sebelah tubuh yang miring karena saat di dunia ia lebih condong kepada salah seorang istri. Hal ini berlaku pada hal-hal yang sebenarnya ia mampu untuk bersikap adil, namun ia justru bersikap tidak sepantasnya. Orang semacam ini akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah tubuh yang miring.” (Syarah Abu Dawud, al-Abbad)

Oleh sebab itu, seorang muslim yang memiliki lebih dari seorang istri harus benar-benar berjuang untuk bersikap adil. Alangkah beratnya hukuman dari Allah Subhanahu wata’ala yang harus dijalani pada hari kiamat nanti apabila sikap adil tersebut tidak diupayakan dengan maksimal. Dalam hal-hal yang dapat diberlakukan sikap adil, seorang suami harus mampu memberikannya.

Apabila kepada salah seorang istri ia dapat bersikap romantis dengan kata-kata dan wajah berseri, kepada istri yang lain pun harus bersikap demikian. Memberikan waktu senggang untuk berbincangbincang harus dapat terwujud kepada semua istri. Hadiah tidak hanya diberikan kepada salah seorang istri, namun kepada seluruh istri. Demikian pula halnya perhatian kepada anak-anaknya, haruslah sama antara anak dari istri yang satu dengan istri lainnya.

Perhatikanlah teladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,! Betapa pun dirasa berat, beliau tetap berjuang untuk bersikap adil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetap memerhatikan waktu menggilir meskipun beliau sedang sakit. Padahal keadaan beliau benar-benar payah.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari ‘Aisyah x bahwa pada saat sakit yang berujung wafatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menanyakan,

أَيْنَ أَنَا غَدًا، أَيْنَ أَنَا غَدًا؟

“Di manakah aku besok? Di manakah aku besok?”

Beliau berharap di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Istri-istri beliau yang lain pun mengizinkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sampai meninggalnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Urwah bin az-Zubair rahimahullah, “Dahulu, Rasulullah tidak melebihkan salah seorang di antara kami (para istri) dalam jadwal giliran bermalam.

Dahulu, kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, jarang sekali hari berlalu kecuali beliau pasti berkeliling di antara kami semua. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati tiap istri tanpa berhubungan sampai pada istri yang memiliki giliran lalu menginap (bermalam) di sana. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama  tentang wajibnya menggilir dan kesamaan waktu untuk menggilir di antara para istri.”

Adapun dalam hal besar kecilnya rasa cinta dan ketertarikan untuk berhubungan badan, hal ini di luar kemampuan hamba. sebagaimana tercelanya orang yangmmemakai dua potong pakaian kedustaan.m(al-Minhaj, 14/336)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan permisalanmseperti dalam hadits di atas agar paramperempuan menjauhi perbuatan tersebut,mkarena akibat yang ditimbulkannyamtidaklah remeh. Perbuatan itu bisammerusak hubungan suami dengan simmadu yang dipanas-panasi dan bisanmembuat kebencian di antara keduanya,nsehingga perbuatan tersebut seperti sihir yang bisa memisahkan antara suami dan istrinya. (Fathul Bari 9/394—395) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Mukhtar bin Rifai

Bahaya yang Mengancam Keharmonisan Rumah Tangga

 Sesungguhnya di antara doa seorang mukmin yang diabadikan Allah Subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an adalah,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

 “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Menurut penafsiran salaf, maksud penyejuk mata di sini bukanlah bagusnya fisik, melainkan tumbuhnya mereka dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menyebabkan mata sejuk memandangnya di dunia dan di akhirat. Al-Hasan al- Bashri rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala memperlihatkan kepada hamba-Nya yang muslim ketaatan istri, saudara, dan temannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.  Sungguh, demi Allah, tiada sesuatu yang menyejukkan mata seorang muslim yang melebihi melihat anak, cucu, saudara, atau temannya taat kepada Allah Subhanahu wata’ala. (Tafsir Ibnu Katsir 3/342)

Kehidupan rumah tangga termasuk salah satu sisi kehidupan terpenting yang dilalui oleh pria dan wanita karena telah mengambil bagian yang terbesar dalam kehidupan mereka. Karena itu, apabila rumah tangga ini dibangun di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan cinta yang sejati, kecocokan yang sempurna dan saling adanya pengertian, niscaya kehidupan mereka akan bahagia.

Ketenteraman dan cinta kasih akan senantiasa menaungi kehidupan mereka. Ini artinya bahwa suami istri sedang membangun sebuah generasi yang tahu tentang arti kehidupan. Anak-anak mereka akan tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang kondusif dan dipenuhi cinta kasih.

Rumah Tangga Bahagia

Pernikahan bukan sekadar bersenangsenang menyalurkan kebutuhan biologis. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dengan pernikahan, jenis manusia terus berlanjut keberadaannya untuk memakmurkan bumi ini sampai batas waktu yang Dia  tentukan.

Dengan pernikahan pula, seseorang akan mendapatkan ketenteraman batin dan terhindar dari penyimpangan seksual, dengan seizin Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 “Di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

Pernikahan sebagai tali ikatan cinta yang suci antara pria dan wanita menuntut masing-masing pihak untuk menunaikan kewajibannya terhadap yang lain. Setiap pihak menjalankan tugasnya dan mampu memainkan perannya demi terwujudnya keharmonisan rumah tangga yang didambakan.

Suami, sebagai kepala keluarga berkewajiban memberikan bimbingan agama kepada istrinya serta mencukupi nafkah lahir dan batin. Adapun istri, sebagai orang yang ditugasi mengurusi rumah, diharuskan menjaga harta suami, menaatinya dalam perkara kebaikan, serta mengurusi anak dan mendidiknya. Apabila suami istri tulus menjalankan tugasnya, pahala dari Allah Subhanahu wata’ala telah menunggunya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya, tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah Subhanahu wata’ala  kecuali engkau diberi pahala atasnya, sampaipun makanan dan minuman yang engkau suapkan untuk mulut istrimu.” (Muttafaqun alaihi dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, juga bersabda,

إِذَاصَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَاوَصَامَتْ شَهْرَهَا
وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا:
ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan’.” (HR. Ibnu Hibban dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

Di antara suami istri hendaknya ada saling pengertian dan tidak bersikap egois. Ketika melihat ada kekurangan dari pihak lain, janganlah hal ini dijadikan sebagai sebab untuk menanam kebencian kepadanya yang nantinya akan mengganggu keharmonisan. Ia hendaknya melihat banyak sisi kebaikannya dan kelebihan yang disandangnya. Namun, tentu tak ada masalah apabila dia berusaha memperbaiki kekurangannya dengan cara yang bijak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

لَا يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخِرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Apabila ia tidak menyukai suatu perangai pada dirinya, ia akan suka darinya perangai yang lain.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh as-Sa’di berkata, “Bimbingan dari Nabi n bagi suami dalam hal bergaul dengan istrinya ini adalah faktor terbesar untuk (mewujudkan) hubungan rumah tangga yang harmonis. Di sini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, melarang seorang mukmin (suami) dari pergaulan yang jelek terhadap istrinya.

Tentunya, larangan terhadap sesuatu (mengandung) perintah untuk melakukan yang sebaliknya. Beliau memerintah suami untuk memerhatikan apa yang dimiliki oleh istrinya, berupa perangai yang indah dan hal yang sesuai dengan dirinya, lalu ia jadikan hal ini sebagai pembanding terhadap perangai istrinya yang tidak dia sukai….

Seorang yang adil akan menutup mata dari kekurangan (istrinya) karena telah lebur dalam kebaikannya yang banyak. Dengan demikian, hubungan akan tetap langgeng. Akan tertunaikan pula hakhaknya yang wajib dan yang sunnah. Boleh jadi, (dengan sikap seperti ini) seorang istri akan berusaha memperbaiki apa yang tidak disukai oleh suaminya. Adapun orang yang menutup mata dari kebaikan istrinya dan (hanya) melihat kejelekannya walaupun kecil, hal ini tentu bukan sikap yang adil. Orang seperti ini kecil kemungkinannya akan bisa hidup harmonis bersama istrinya.” (Bahjah  Qulubil Abrar hlm. 101)

Demikian pula sikap seorang istri ketika melihat kekurangan yang ada pada suaminya. Adapun menuntut penampilan yang selalu prima dan pelayanan yang selalu sempurna tentu sulit, bahkan hampir-hampir mustahil.

Badai Rumah Tangga

Kadang ketenteraman rumah tangga terusik dengan adanya problem yang berasal dari pribadi suami atau istri. Hal ini membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang tepat agar bahtera rumah tangga tetap terkendali. Apabila kita telusuri, banyak sekali faktor yang memicu munculnya problem.

Dari pihak suami, misalnya, terkadang ia tidak perhatian terhadap istrinya dari sisi pemberian nafkah, pembagian giliran bermalam yang tidak adil bagi yang beristri lebih dari satu, hubungan ranjang yang tidak memuaskan (egois), kasar dan kakunya perangai terhadap istri, anak, atau mertuanya, serta kurang memedulikan kebutuhan istri dan anakanaknya berupa perasaan aman dan nyaman.

Adapun dari pihak istri, terkadang seorang suami merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari istrinya. Terkadang seorang istri sibuk dengan aktivitas di luar rumah sehingga kebutuhan suaminya kurang terpenuhi. Demikian pula pendidikan terhadap anak kurang maksimal. Bisa juga karena perangai istri yang buruk dan tidak tahu persis apa yang harus dia lakukan terhadap suaminya.

Intinya, apa pun faktor pemicu ketidakharmonisan tersebut sangat membutuhkan solusi yang cepat dan tepat. Mereka yang sedang dilanda masalah keluarga harusnya menyadari butuhnya mempelajari kembali kewajibankewajiban yang harus ditunaikan terhadap yang lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan agama dan nasihat orang yang berilmu. Seorang suami hendaknya ingat firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (an-Nisa: 19)

Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ

“Cukup seseorang dikatakan berdosa manakala ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. An-Nawawi rahimahullah menyatakannya sahih dalam Riyadhush Shalihin)

Seorang suami yang baik akan menyadari kekurangannya dan berusaha memperbaikinya. Dia akan membuang sikap egois dan siap menjadi suami yang perhatian terhadap istrinya, sekaligus bapak yang sayang terhadap anakanaknya dan tahu kebutuhan mereka. Seorang istri yang salehah akan selalu ingat besarnya hak suami atasnya sebagaimana sabda Nabi n yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ يَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintah seorang untuk sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi dan selainnya)

Dia juga tidak melakukan suatu aktivitas yang sifatnya tidak mendesak yang menyebabkan suaminya terhalangi mengungkapkan gejolak cinta yang terpendam dalam hatinya atau setidaknya mengurangi kenikmatannya. Istri salehah teringat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,,

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa padahal suaminya hadir (ada di sisinya) kecuali dengan seizinnya dan tidak boleh ia memberi izin (seorang memasuki) rumahnya kecuali dengan seizin suami.” ( HR. al-Bukhari dari jalan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Istri yang salehah juga siap mengoreksi diri demi tergapainya kebahagiaan rumah tangga. Sudah saatnya bagi suami istri untuk mempelajari agama ini secara umum dan hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban dalam berumah tangga secara khusus, lalu mempraktikkannya dalam kehidupan rumah tangga mereka.  Suami istri juga perlu selalu membangun komunikasi yang baik. Dengan demikian, ketegangan dalam rumah tangga akan hilang, setidaknya bisa diminimalisir mudaratnya.

Mewaspadai Bahaya dari Luar

Keharmonisan hidup berumah tangga adalah nikmat yang besar. Dan, setiap merasakan nikmat duniawi pasti akan selalu ada orang yang tidak menyenanginya. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,. Kehidupan rumah tangga beliau yang harmonis sempat diguncang oleh dahsyatnya isu yang ditiupkan oleh orang-orang munafik.

Alkisah, Rasulullah n dan para sahabat dalam perjalanan pulang ke Madinah. Beliau waktu itu juga membawa istrinya. Di tengah perjalanan, istri beliau, Aisyah, ingin buang hajat. Rombongan pun berhenti menunggu Aisyah. Setelah selesai hajatnya, Aisyah kembali ke tengah rombongan dan naik di atas sekedupnya.

Tetapi, ia ingat bahwa kalungnya tertinggal. Dia pun turun kembali dan mencarinya. Setelah kembali lagi, ia dapatkan rombongan telah pergi jauh tak terkejar. Aisyah memutuskan untuk tetap di situ. Secara kebetulan, lewatlah sahabat Shafwan bin Mu’aththal radhiyallahu ‘anhuma yang tertinggal di belakang rombongan karena suatu keperluan. Ia pun melihat seorang wanita yang tertinggal dari rombongan.

Setelah mendekat ia pun tahu bahwa ia adalah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Shafwan mendudukkan kendaraannya lalu Aisyah menaikinya. Shafwan lantas menuntun kendaraannya hingga masuk kota Madinah tanpa ada pembicaraan antara keduanya. Orang-orang munafik memanfaatkan kejadian ini untuk menebarkan isu miring bahwa Aisyah berbuat yang tidak baik dengan Shafwan. Keharmonisan rumah tangga Nabi n pun terguncang dalam beberapa hari dan para sahabat pun ikut bersedih karenanya. Lalu Allah Subhanahu wata’ala menurunkan ayat yang menegaskan kesucian Aisyah radhiyallahu ‘anha dari apa yang dituduhkan kepadanya. (Lihat Tahdzib Sirah Ibni Hisyam hlm. 109—195)

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil faedah, di antaranya bahwa keharmonisan rumah tangga bisa terancam karena adanya faktor dari luar. Berikut di antara faktor tersebut:

1. Setan

Kedengkian setan terhadap manusia yang sudah tertanam semenjak Allah Subhanahu wata’ala memuliakan Adam di hadapan para malaikat terus muncul dari waktu ke waktu. Di antara bukti nyatanya sebagaimana tersebut dalam hadits (yang artinya),

“Setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang yang shalat di Jazirah Arab, tetapi ia (berusaha) untuk mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim)

Juga disebutkan dalam hadits riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda (yang artinya),

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu ia mengutus pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya dari iblis adalah yang paling besar upaya menggodanya. Salah satu pasukannya datang (kepada iblis) lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Kamu belum berbuat apa-apa.’ Datang (lagi) salah satu dari mereka lalu berkata, ‘Aku tidak tinggalkan ia (manusia) hingga aku memisahkan antara ia dan istrinya.’ Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Kamu bagus’.” ( HR. Ahmad 3/314 dan Muslim)

Tujuan Iblis terbesar adalah memutuskan keturunan manusia sehingga lenyap keberadaannya dan menjatuhkan manusia ke dalam perzinaan yang merupakan dosa besar yang paling jahat. (Faidhul Qadir 2/517)

Oleh karena itu, hendaknya seseorang senantiasa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari godaan setan.

2. Orang yang iri dan tidak suka melihat keharmonisan rumah tangga orang lain

Rasa iri orang semacam ini terkadang semata-mata ingin agar suami istri itu ribut dan bercerai. Ada pula orang yang sifat irinya diikuti keinginan untuk terjadinya perceraian lalu ia akan menikah dengan salah satunya. Orang yang iri terkadang tega melakukan cara-cara yang bengis dan keji, seperti pembunuhan atau menyampaikan berita dusta kepada salah satu dari suami istri, sehingga timbul percekcokan yang berujung perceraian padahal berita itu belum ditelusuri kebenarannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

مَنْ خَبَّبَ عَلَى امْرِئٍ زَوْجَتَهُ أَوْ مَمْلُوْكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa merusak istri seseorang atau budaknya, ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Ahmad, asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 325)

Semoga Allah Subhanahu wata’ala melindungi kita dari kejahatan orang yang hasad/iri dengki.

3. Bermudah-mudah dengan ipar

Tidak sedikit suami bermudah-mudah dengan saudara perempuan istrinya, demikian pula seorang istri dengan saudara laki-laki suaminya. Terkadang mereka masuk kepada yang lain berduaan saja padahal bukan mahramnya. Dalam benak sebagian orang, hal itu dianggap perkara lumrah dan tidak akan terjadi apa-apa, toh itu hanya ipar. Kenyataannya, tidak sedikit keharmonisan keluarga menjadi hancur berantakan karena sikap bermudah-mudah yang seperti ini.

Bahkan, dalam kondisi tertentu sampai terjadi pertumpahan darah karenanya dan terputusnya tali silaturahmi. Ini semua akibat melanggar tuntunan agama. Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang lelaki besepisepian dengan seorang wanita kecuali bersama wanita itu ada mahramnya.” (Muttafaqun ’alaihi)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, juga bersabda (yang artinya),

“Hati-hatilah kalian dari masuk kepada para wanita!” Ada seorang lelaki dari Anshar bertanya, “Apa pendapat Anda tentang al-hamwu (ipar dan kerabat suami)?” Nabi bersabda, “Al-hamwu itu maut.” (Muttafaqun ’alaihi)

Maksudnya, masuknya ipar atau kerabat suami kepada wanita itu seperti maut, yaitu membinasakan.

Al – Munawi rahimahullah berkata ,“Diserupakan dengan maut dari sisi sama kejelekannya dan merusaknya sehingga hal ini sangat diharamkan…. Masuknya ipar kepada wanita akan mengantarkan kepada kematian agama atau kematian (berakhirnya) wanita itu karena diceraikan saat suaminya cemburu atau dirajamnya ia apabila berzina dengan ipar.” (Faidhul Qadir 3/160)

4. Mertua

Terkadang seorang mertua mendengar problem anaknya dengan suami/istrinya. Tidak jarang, seorang mertua memberikan pembelaan terhadap anaknya tanpa melihat yang benar. Karena campur tangan mertua yang tidak mencarikan solusi yang terbaik, permasalahan semakin melebar dan perselisihan semakin tajam. Padahal yang seharusnya dilakukan oleh mertua adalah mencari jalan agar suasana menjadi sejuk.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pada suatu hari marah kepada istrinya, Fathimah, putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,. Ali keluar menuju masjid dan berbaring dengan bersandar ke tembok masjid. Nabi n datang menemui Ali yang saat itu punggungnya penuh dengan debu. Rasulullah n mengusap debu dari punggung Ali dan memintanya untuk duduk. (lihat Shahih al-Bukhari no. 6204)

Seperti inilah seorang mertua yang bijak, berusaha untuk memadamkan api kemarahan dan mendinginkan suasana.

5. Pergaulan yang tidak selektif

Tidak semua orang pantas untuk dijadikan teman bergaul karena ada jenis manusia yang memiliki perangai jahat. Sementara itu, agama seseorang sangat dipengaruhi oleh teman sepergaulannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang mengikuti agama (perangai) teman sepergaulannya, maka hendaknya seorang dari kalian melihat orang yang ia jadikan teman.” ( HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Asy- Syaikh al-Albani menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’)

Parahnya, seorang lelaki terkadang menjalin pertemanan dengan perempuan yang bukan mahram, demikian pula sebaliknya. Terkadang juga mereka bercerita/curhat tentang problem rumah tangga masing-masing. Akibatnya, seorang wanita berani bersikap kasar terhadap suaminya dan seorang suami sudah tidak peduli lagi dengan istrinya. Bahkan, ada yang sampai terjadi perzinaan dengan teman curhatnya. Wal ‘iyadzu billah.

Sungguh, ketika keimanan telah menipis dan nyaris hilang serta sifat malu menjadi suatu yang langka, sudah semestinya seseorang berhati-hati demi keselamatan agamanya dan keharmonisan rumah tangganya. Jangan menjadi orang yang latah dan hanya ikut-ikutan.

Waspadalah dari bahaya yang mengancam, seperti bergabung dengan situs jejaring sosial yang kadang dimanfaatkan untuk kejahatan. Akhirnya, semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi taufik kepada seluruh muslimin baik rakyat maupun penguasanya untuk kembali kepada jalan-Nya yang lurus demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan Doa.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc.

Setelah Mau’izhah

Pada edisi lalu, telah dijelaskan tahapan awal yang mesti dilakukan seorang suami ketika dihadapkan pada ‘kebengkokan’ istrinya. Selanjutnya kita akan menapaki tahapan berikutnya.

Cara nasihat sudah ditempuh tapi si istri belum juga kembali pada kelurusannya. Maka syariat mengajarkan agar dijalani tahapan kedua, hajr, sebagaimana dalam ayat:

“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka maka berilah mau’izhah kepada mereka, hajrlah mereka di tempat tidur….” (an-Nisa: 34)

Kata hajr mungkin lebih mudahnya kita artikan memboikot. Sebagian ulama berkata, “Yang dimaksudkan dengan hajr di sini adalah hajrul jima’, maknanya si suami tetap seranjang dengan istrinya namun ia tidak menggaulinya bahkan memunggunginya.” Yang lainnya mengatakan bahwa hajr di sini adalah tidak mengajaknya bicara dalam artian mendiamkannya. Adapula yang mengatakan, si suami meninggalkan tempat tidurnya, tidak tidur sekamar dengan istrinya yang berbuat nusyuz tersebut. Adapun jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaukan dengan hajr di sini adalah tidak masuk ke tempat si istri dan tidak tinggal di sisinya menurut dzahir ayat. (Fathul Bari, 9/374)

Ada beberapa hadits yang menyinggung tentang hajr ini, sebagiannya akan kita sebutkan dalam pembahasan kali ini.

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengisahkan:

أَنَّ النَّبِيَّ حَلَفَ لاَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ أَهْلِهِ شَهْرًا، فَلَمَّا مَضَى تِسْعَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمًا غَدَا عَلَيْهِمْ– أَوْ رَاحَ –فَقِيْلَ لَهُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، حَلَفْتَ أَنْ لاَ تَدْخُلَ عَلَيْهِنَّ شَهْرًا. قَالَ: إِنَّ الشَّهْرَ يَكُوْنُ تِسْعَةً وَعِشْرِينَ يَوْمًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah tidak akan masuk menemui sebagian istrinya selama sebulan. Tatkala berlalu 29 hari, beliau berpagi hari[1] –atau di sore harinya– menuju ke tempat istri-istrinya. Maka ada yang berkata kepada beliau, “Wahai Nabiyullah, engkau telah bersumpah untuk tidak masuk menemui mereka selama sebulan (sementara baru berlalu 29 hari, –pent.).” Beliau menjelaskan, “Bulan saat ini lamanya memang hanya 29 hari[2].” (HR. Al-Bukhari no. 5202 dan Muslim no. 2519)

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:

آلىَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا، وَقَعَدَ فِي مَشْرَبَةٍ لَهُ، فَنَزَلَ لِتِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ، فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّكَ آلَيْتَ شَهْرًا. قَالَ: إِنَّ الشَّهْرَ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah tidak akan masuk menemui istri-istrinya selama satu bulan, beliau tinggal di masyrabah[3] milik beliau. Setelah lewat 29 hari, beliau turun (menemui istri-istrinya, -pent.) Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau telah bersumpah tidak akan masuk menemui istri-istrimu selama sebulan (sementara sekarang baru berjalan 29 hari, –pent.). Beliau menjawab, “Sesungguhnya bulan sekarang memang lamanya hanya 29 hari.” (HR. Al-Bukhari no. 5201)

Adapula berita dari Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu, suatu ketika ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ

“Wahai Rasulullah, apa hak istri kami  atas kami?” Beliau menjawab: “Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan menjelekkannya[4], dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Dawud no. 2142 dan selainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/86)

Dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghajr istri-istrinya di luar rumah tapi dalam hadits Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu disebutkan larangan menghajr istri di luar rumah. Lalu bagaimana mendudukkan kedua hadits yang seakan bertentangan ini? Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan bahwa hadits Anas lebih shahih sanadnya daripada hadits Mu’awiyah bin Haidah, namun kedua hadits ini bisa dijama’ (dikumpulkan) dan diamalkan kedua-duanya.

Hajr dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah dengan melihat keadaan. Bila memang dibutuhkan hajr di luar rumah maka dilaksanakan, tapi bila tidak perlu maka cukup di dalam rumah. Bisa jadi hajr di dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa perasaan si istri daripada hajr di luar rumah. Namun bisa jadi pula sebaliknya. Akan tetapi yang dominan hajr di luar rumah lebih menyiksa jiwa, khususnya bila yang menghadapinya kaum wanita karena lemahnya jiwa mereka.” (Fathul Bari, 9/374)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata berkenaan dengan kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghajr istri-istrinya, “Suami berhak menghajr istrinya dan memisahkan dirinya dari si istri ke rumah lain apabila ada sebab yang bersumber dari sang istri.” (Al-Minhaj, 10/334)

Mungkin tersisa pertanyaan di benak anda, apa yang menjadi penyebab sumpahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak mendatangi istri-istrinya? Jawabannya terdapat dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang panjang dari kisahnya Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Di antaranya Umar berkata:

فَاعْتَزَلَ النَّبِيُّ نِسَاءَهُ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ الْحَدِيْثِ حِيْنَ أَفْشَتْهُ حَفْصَةُ إِلَى عَائِشَةَ تِسْعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً، وَكَانَ قَالَ: مَا أَنَا بِدَاخِلٍ عَلَيْهِنَّ شَهْرًا. مِنْ شِدَّةِ مَوْجِدَتِهِ عَلَيْهِنَّ حِيْنَ عَاتَبَهُ اللهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan diri dari istri-istrinya selama 29 malam disebabkan pembicaraan (rahasia) yang disebarkan oleh Hafshah kepada Aisyah. Beliau mengatakan, “Aku tidak akan masuk menemui mereka selama sebulan.” Hal ini beliau lakukan karena kemarahan beliau yang sangat kepada mereka di mana Allah k sampai menegur beliau dikarenakan perkara dengan mereka….” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam penjelasannya terhadap hadits di atas menyatakan bahwa dalam jalan hadits ini tidak diterangkan pembicaraan apa yang disebarkan oleh Hafshah. Adapun teguran yang dimaksudkan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ تَبۡتَغِي مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١

“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, dikarenakan engkau mencari keridhaan (kesenangan hati) istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (at-Tahrim: 1)

Ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi tentang apa gerangan yang diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi diri beliau hingga Allah subhanahu wa ta’ala menegurnya, sebagaimana diperselisihkan kenapa beliau sampai bersumpah tidak akan masuk menemui istri-istrinya. Ada yang mengatakan beliau mengharamkan madu untuk dirinya dan pendapat lain mengatakan beliau mengharamkan Mariyah, budak perempuannya.

Dalam riwayat Yazid bin Ruman dari Aisyah radhiallahu ‘anha yang dibawakan Ibnu Mardawaih disebutkan kedua-duanya, yakni beliau mengharamkan madu dan juga Mariyah, budak beliau.

Istri beliau Hafshah radhiallahu ‘anha yang mendapat hadiah madu, biasa menahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya agar beliau minum madu tersebut. Mengetahui hal itu, Aisyah radhiallahu ‘anha mengajak istri-istri Rasul yang lain agar sepakat bila beliau masuk menemui mereka, semuanya mengatakan mulut beliau berbau maghafir, sementara beliau tidak suka baunya. Ketika disampaikan hal tersebut kepada beliau, berkatalah beliau:

هُوَ عَسَلاً، وَاللهِ لاَ أَطْعمُهُ أَبَدًا

“Yang tadi aku minum adalah madu. Kalau begitu demi Allah, aku tidak akan minum madu lagi selama-lamanya.”

Saat giliran Hafshah, ia minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi menemui ayahnya. Rasulullah pun mengizinkannya. Sepulangnya dari tempat sang ayah, Hafshah mendapati pintu rumahnya tertutup dan ternyata Rasulullah sedang bersama Mariyah, budaknya. Hafshah pun menangis, maka Rasulullah berkata menghiburnya, “Aku persaksikan di hadapanmu, Mariyah haram bagiku. Jangan engkau beritahu kepada siapapun tentang hal ini, ini amanah bagimu.” Namun tenyata Hafshah menyampaikan rahasia tersebut kepada Aisyah, hingga turunlah ayat dalam surat At-Tahrim. (Fathul Bari, 9/359-360)

Dalam hadits yang dikeluarkan Al-Imam Muslim rahimahullah dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma disebutkan sebab lain kenapa beliau memisahkan diri dari istri-istrinya. Jabir mengisahkan:

دَخَلَ أَبُوْ بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ فَوَجَدَ النَّاسَ جُلُوْسًا بِبَابِهِ، لَـمْ يُؤْذَنْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. قَالَ: فَأُذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ، فَدَخَلَ. ثُمَّ أَقْبَلَ عُمَرُ فَاسْتَأْذَنَ، فَأُذِنَ لَهُ، فَوَجَدَ النَّبِـيَّ جَالِسًا، حَوْلَهُ نِسَاؤُهُ، وَاجِمًا سَاكِتًا

Abu Bakr masuk minta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapatkan orang-orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, tidak ada seorang pun dari mereka yang diizinkan masuk. Jabir berkata, “Abu Bakr diizinkan maka ia pun masuk. Kemudian datang Umar meminta izin, ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dalam keadaan sedih terdiam, di sekitar beliau ada istri-istrinya.”

Lalu Jabir melanjutkan haditsnya, di antaranya disebutkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ. فَقَامَ أَبُوْ بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلاَهُمَا يَقُوْلُ: تَسْأَلْنَ رَسُوْلَ اللهِ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟ فَقُلْنَ: وَاللهِ، لاَ نَسْأَلُ رَسُوْلَ اللهِ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ. ثُمَّ اعْتَزَلَـهُنَّ شَهْرًا أَوْ تِسْعًا وَعِشْرِيْنَ يَوْمًا

“Mereka (istri-istri beliau) ada di sekelilingku sebagaimana yang engkau lihat, mereka meminta nafkah kepadaku.” Mendengar hal itu bangkitlah Abu Bakr menuju putrinya Aisyah lalu memukul lehernya. Bangkit pula Umar ke arah putrinya Hafshah lalu memukul lehernya. Abu Bakr dan Umar berkata, “Apakah kalian meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang tidak ada pada beliau?” Para istri Rasulullah menjawab, “Demi Allah, kami selama-lamanya tidak akan lagi meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian beliau memisahkan diri dari mereka selama sebulan atau selama 29 hari.” (HR. Muslim no. 3674)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa bisa saja semua perkara yang telah disebutkan di atas menjadi sebab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tizal (memisahkan diri) dari istri-istrinya. Hal ini bersesuaian sekali dengan kemuliaan akhlak beliau, lapangnya dada beliau dan banyaknya beliau memberikan pemaafan, di mana beliau tidak melakukan i’tizal tersebut sampai terjadi berulang-ulang permasalahan yang mengharuskan para istri beliau mendapatkan hukuman demikian. Pada akhirnya Al-Hafizh menyebutkan hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan waktu sebulan untuk i’tizal dari istri-istrinya, yaitu hajr yang disyariatkan lamanya tiga hari[5], sementara jumlah istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu ada sembilan orang, bila masing-masingnya dihajr selama tiga hari pada hari gilirannya berarti seluruhnya ada 27 hari, tersisa dua hari untuk Mariyah karena statusnya sebagai budak maka ia mendapat hitungan yang kurang bila dibandingkan dengan orang merdeka. (Fathul Bari, 9/360)

Lantas bolehkah menghajr istri lebih dari tiga hari karena adanya hadits dalam Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلاَ يَحِلُّ لِـمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثةِ أَيَّامٍ

 

“Tidak halal bagi seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”

Al-Khaththabi rahimahullah menyebutkan bahwa hajrnya ayah terhadap anaknya, suami terhadap istrinya dan semisalnya tidaklah dibatasi waktu tiga hari, berdalil dengan hajr yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap istri-istri beliau selama sebulan. (Fathul Bari, 10/610)

Mendiamkan seseorang karena permasalahan agama juga dibolehkan lebih dari tiga hari. Misalnya ada seorang ahlul bid’ah yang sudah diperingatkan tentang kebid’ahan namun tetap melakukannya, maka boleh mendiamkannya, tidak mengajaknya bicara walaupun lebih dari tiga hari. Dalam hal ini kita berdalil dengan hadits Ka’b bin Malik radhiallahu ‘anhu yang panjang, dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, tentang kisah tidak ikut sertanya Ka’b bersama dua temannya dalam perang Tabuk tanpa ada udzur. Sebagai hukuman untuk ketiganya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin mendiamkan mereka selama 50 malam. Sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu-Nya dari atas langit memberi taubat kepada ketiganya[6], g. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut kepada ketiga sahabatnya ini melainkan karena khawatir mereka terkena penyakit nifak. (Bahjatun Nazhirin, 1/75)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Apabila terjadi nusyuz istri berkenaan dengan hak suaminya dan sang suami telah menasihatinya namun tidak juga menarik diri dari perbuatannya, maka suami punya hak untuk memboikotnya di tempat tidur. Maksudnya, suami tetap tidur bersama istrinya namun tidak mengajaknya bicara (mendiamkannya) serta memalingkan wajahnya dari istrinya sampai si istri mau bertaubat. Dan ini tidaklah bertentangan dengan keharaman memboikot saudara lebih dari tiga hari, karena hajr yang dilakukan seorang suami dibatasi dengan pemboikotan di tempat tidur, adapun yang terlarang adalah hajr secara mutlak. Atau dikatakan, yang terlarang adalah hajr tanpa adanya sebab maksiat, sementara nusyuz istri teranggap maksiat sehingga boleh menghajrnya.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 2/679)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

 

 

[1] Pagi hari dari hari yang ke-30.

 

[2]  Di antara bulan hijriyah ada yang lamanya 29 hari dan ada yang 30 hari.

 

[3] Kamar yang tinggi, untuk naik ke atasnya harus memakai tangga, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dari cerita Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu kepadanya:

فَإِذَا رَسُولُ اللهِ  فِي مَشْرَبَةٍ لَهُ يَرْقَى عَلَيْهَا بِعَجَلَةٍ.

“Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di masyrabahnya, beliau naik ke atasnya dengan menggunakan tangga dari pelepah kurma.” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

 

[4] Maksudnya: mengucapkan pada istri ucapan yang buruk, mencaci-makinya atau mengatakan padanya, “Semoga Allah menjelekkanmu”, atau yang semisalnya. (‘Aunul Ma’bud, kitab An-Nikah, bab Fi Haqqil Mar`ah ‘ala Zaujiha)

 

[5]  Sebagaimana hadits dalam Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلاَ يَحِلُّ لِـمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثةِ أَيَّامٍ

“Tidak halal bagi seorang musim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”

 

[6] Lihat surah At-Taubah: 117-119

 

Suapan yang Halal

Salah satu “bentuk” pendidikan orangtua kepada anak-anak adalah memberikan makanan atau suapan yang halal kepada mereka. Karena, disadari atau tidak, pemenuhan kebutuhan hidup yang bersumber dari yang haram, bisa membentuk kejelekan pada diri sang anak.

Mungkin tak akan asing lagi di telinga setiap orang bila kita katakan bahwa salah satu kewajiban orangtua adalah memberikan nafkah kepada anak-anaknya. Segala yang dibutuhkan si anak menjadi kewajiban orangtua untuk memenuhinya sesuai dengan kemampuannya. Makanan dan minuman sehari-hari, pakaian, biaya untuk keperluan sekolah, dan segala tetek-bengek yang diperlukan oleh anak menjadi tanggungan orangtua.

Untuk mencukupi semua itu, tidak segan orangtua peras keringat banting tulang. Bahkan terkadang permasalahan inilah yang memenuhi pikiran orangtua. Bagaimana segala kebutuhan, permintaan dan keinginan anak dapat dipenuhi. Tidak didapat hasil dari jalan yang ini, diusahakan dari jalan yang lain.

Memang, memberi nafkah kepada anak merupakan kewajiban orangtua. Demikian yang ada dalam kehidupan. Namun tak hanya berhenti sampai di situ. Syariat menjelaskan bahwa memberi nafkah bukan sekedar tuntutan, namun di sana ada janji pahala bagi yang menunaikannya. Tentunya yang disertai niat untuk mendapatkan pahala, karena setiap perbuatan akan diberi balasan sesuai dengan niatnya, sebagaimana disampaikan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu:

 

Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Berkaitan dengan hal ini, Abu Mas’ud Al-Anshari radhiallahu ‘anhu menukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ– وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا –كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya –yang dia inginkan nafkah itu untuk mengharap pahala dari Allah– maka itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Al-Bukhari no. 5351)

Menerangkan hadits ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar  rahimahullah menukilkan perkataan Al-Muhallab, bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan kewajiban menurut kesepakatan kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakannya dengan sedekah karena dikhawatirkan ada orang-orang yang menyangka, pelaksanaan kewajiban (memberi nafkah, pen.) ini tidak ada pahalanya.

Sementara mereka telah mengetahui bahwa sedekah itu berpahala. Maka beliau memberitahukan bahwa nafkah ini adalah sedekah bagi mereka, agar mereka tidak mengeluarkan nafkah untuk selain keluarga kecuali setelah mencukupi keluarganya. Hal ini sebagai hasungan bagi mereka untuk mendahulukan sedekah yang wajib sebelum sedekah yang tathawwu’ (sunnah). (Fathul Bari, 9/618)

Datang pula riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى، وَالْيَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

“Sedekah yang paling utama adalah yang masih menyisakan kecukupan, dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan mulailah dengan orang-orang yang ada dalam tanggunganmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5355)

Ini permasalahan yang harus diketahui oleh setiap orangtua. Memberi nafkah kepada anak-anak bukan tuntutan kehidupan semata, namun akan membuahkan pahala jika diniatkan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak hanya itu, dalam pemberian nafkah ini ada permasalahan lain yang harus pula diperhatikan; masalah kehalalan nafkah yang kita berikan, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima kecuali segala sesuatu yang baik dan halal. Jangan sampai kita suapkan ke mulut anak-anak makanan yang haram atau didapat dari hasil yang haram. Begitu pula minuman yang mereka teguk, pakaian yang mereka kenakan, dan segala kebutuhan yang mereka dapatkan dari orangtua.

Jangan sampai karena belum mendapatkan jalan yang lapang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak, kita melirik berbagai praktik haram yang menjanjikan hasil berlipat. Dari korupsi, riba, penggelapan, penipuan, hingga praktik bisnis dengan sistem yang tidak dibenarkan oleh syariat. Perlu kita sadari, segala sesuatu yang haram itu akan berpengaruh pada diri anak-anak. Lebih-lebih lagi, orangtua yang memberi nafkah yang tidak halal bagi anak-anaknya berarti menghalangi doa mereka untuk dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ} وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الذَّيِنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: {يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu suci dari segala kekurangan dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah segala sesuatu yang baik, dan berbuatlah amalan-amalan shalih, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuat’, dan Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah segala sesuatu yang baik yang telah Kami rizkikan kepada kalian’. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam keadaan kusut masai rambutnya dan berdebu. Dia tengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku!’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan disuapi dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana akan dikabulkan doa orang yang seperti ini?” (HR. Muslim no. 1015)

Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan para rasul untuk makan segala sesuatu yang baik, yaitu segala sesuatu yang dihalalkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan didapatkan dari jalan yang dibenarkan oleh syariat. Apabila tidak dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, seperti khamr misalnya, maka tidak boleh dimakan. Juga bila makanan itu dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi didapat dari jalan yang haram, maka ini pun tidak boleh dimakan. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 164)

Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan dalam perintah-Nya kepada orang-orang yang beriman:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (al-Baqarah: 172)

sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala katakan kepada para rasul:

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik.” (al-Mu`minun: 51)

Sehingga di sini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 165)

Al-Imam An-Nawawi  rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini merupakan hasungan untuk memberikan nafkah dari sesuatu yang halal dan larangan memberikan nafkah dengan sesuatu yang tidak halal. Selain itu juga menunjukkan bahwa minuman, makanan, pakaian dan yang semacamnya seharusnya berupa sesuatu yang halal, bersih, dan tidak mengandung syubhat. Hadits ini pun menunjukkan bahwa seseorang yang ingin berdoa hendaknya lebih memerhatikan hal ini dibandingkan yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 7/99)

Ini pun merupakan peringatan keras dari memakan segala sesuatu yang haram, karena hal itu termasuk sebab tertolaknya doa, walaupun dia juga melakukan hal-hal yang merupakan sebab terkabulnya doa. Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka bagaimana akan dikabulkan doa orang yang seperti ini?”

Di samping itu, makan makanan yang haram –wal ‘iyadzu billah– merupakan sebab seseorang meninggalkan kewajiban-kewajiban agamanya, karena jasmaninya telah disuapi dengan sesuatu yang jelek. Segala suapan yang jelek ini pun akan berpengaruh pada dirinya. Wallahul musta’an. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 175)

Contoh yang begitu jelas bisa kita lihat, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu berhati-hati dan menjauhkan dirinya dari sesuatu yang dikhawatirkan berasal dari perkara yang haram. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

“Aku pernah datang menemui keluargaku. Kemudian aku dapatkan sebutir kurma jatuh di atas tempat tidurku. Aku pun mengambilnya untuk kumakan. Lalu aku merasa khawatir jika kurma itu adalah kurma sedekah, maka kuletakkan lagi kurma itu.”

Selain dirinya, beliau juga berusaha menjauhkan cucunya dari makan sesuatu yang haram. Beliau melarang cucunya makan sekedar sebutir kurma yang berasal dari kurma sedekah –sementara sedekah diharamkan bagi keluarga beliau– dan memperingatkan sang cucu. Diceritakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

 

Al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma memungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kikh, kikh[1]! Buang kurma itu! Apa kau tidak tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?” (HR. Muslim no. 1069)

Yang demikian semestinya menjadi contoh bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan kebaikan bagi anak-anaknya. Kasih sayang bukanlah berarti menuruti setiap tuntutan, memberikan setiap keinginan hingga melampaui batasan-batasan Rabb seluruh alam.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran

[1] Ini adalah perkataan untuk memperingatkan anak-anak dari sesuatu yang kotor. Maknanya, “Tinggalkan dan buang barang itu!”

Mawaddah, Mahabbah wa Rahmah Dalam Kehidupan Sepasang Insan

Perasaan cinta kepada pasangan hidup kita terkadang mengalami gejolak sebagaimana pasang surut yang dialami sebuah kehidupan rumah tangga. Tinggal bagaimana kita menjaga tumbuhan cinta itu agar tidak layu terlebih mati.

 

Satu dari sekian tanda kebesaran-Nya yang agung, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan anak Adam ‘alaihissalam memiliki pasangan hidup dari jenis mereka sendiri, sebagaimana kenikmatan yang dianugerahkan kepada bapak mereka Adam ‘alaihissalam. Di saat awal-awal menghuni surga,  bersamaan dengan limpahan kenikmatan hidup yang diberikan kepadanya, Adam ‘alaihissalam hidup sendiri tanpa teman dari jenisnya. Allah subhanahu wa ta’ala pun melengkapi kebahagiaan Adam dengan menciptakan Hawa sebagai teman hidupnya, yang akan menyertai hari-harinya di surga nan indah.

Hingga akhirnya dengan ketetapan takdir yang penuh hikmah, keduanya diturunkan ke bumi untuk memakmurkan negeri yang kosong dari jenis manusia (karena merekalah manusia pertama yang menghuni bumi). Keduanya sempat berpisah selama beberapa lama karena diturunkan pada tempat yang berbeda di bumi (Al-Bidayah wan Nihayah,1/81). Mereka didera derita dan sepi sampai Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan mereka kembali.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala menutup “sepi” hidup-nya seorang lelaki keturunan Adam dengan memberi istri-istri sebagai pasangan hidupnya. Dia Yang Maha Agung berfirman:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٢١

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ruum: 21)

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan seorang istri dari keturunan anak manusia, yang asalnya dari jenis laki-laki itu sendiri, agar para suami merasa tenang dan memiliki kecenderungan terhadap pasangan mereka. Karena, pasangan yang berasal dari satu jenis termasuk faktor yang menumbuhkan adanya keteraturan dan saling mengenal, sebagaimana perbedaan merupakan penyebab perpisahan dan saling menjauh. (Ruhul Ma’ani,11/265)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِيَسۡكُنَ إِلَيۡهَاۖ

“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia jadikan dari jiwa yang satu itu pasangannya agar ia merasa tenang kepadanya…” (al-A’raf: 189)

Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah : “Yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah Hawa. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakannya dari Adam, dari tulang rusuk kirinya yang paling pendek. Seandainya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan anak Adam semuanya lelaki sedangkan wanita diciptakan dari jenis lain, bisa dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak akan tercapai kesatuan hati di antara mereka dengan pasangannya. Bahkan sebaliknya, akan saling menjauh. Namun termasuk kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak Adam, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan istri-istri atau pasangan hidup mereka dari jenis mereka sendiri, dan Allah subhanahu wa ta’ala tumbuhkan mawaddah yaitu cinta dan rahmah yakni kasih sayang. Karena seorang lelaki atau suami, ia akan senantiasa menjaga istrinya agar tetap dalam ikatan pernikahan dengannya. Bisa karena ia mencintai istrinya tersebut, karena kasihan kepada istrinya yang telah melahirkan anak untuknya, atau karena si istri membutuhkannya dari sisi kebutuhan belanja (biaya hidupnya), atau karena kedekatan di antara keduanya, dan sebagainya.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1052)

Mawaddah dan rahmah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik mereka. Di samping itu, ia merasakan ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak didapatkan mawaddah dan rahmah di antara  sesama manusia sebagaimana mawaddah dan rahmah yang ada di antara suami istri. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 639)

Allah subhanahu wa ta’ala tumbuhkan mawaddah dan rahmah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya kasih sayang, baik berupa hubungan kekerabatan ataupun hubungan rahim. Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, dan ‘Ikrimah rahimuhumullah berkata: “Mawaddah adalah ibarat/kiasan dari nikah (jima‘) sedangkan rahmah adalah ibarat/kiasan dari anak.” Adapula yang berpendapat, mawaddah adalah cinta seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya agar istrinya tidak ditimpa kejelekan. (Ruhul Ma’ani 11/265, Fathul Qadir 4/263)

Cinta Suami Istri adalah Anugerah Ilahi

Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada keduanya, dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun tentunya selama tidak melalaikan dari berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Munafiqun:9)

رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah… “ (an-Nur: 37) (Ad-Da`’alaihissalam wad Dawa`, Ibnul Qayyim, hal. 293, 363)

Juga, cinta yang merupakan tabiat manusia ini tidaklah tercela selama tidak menyibukkan hati seseorang dari kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Dzat yang sepantasnya mendapat kecintaan tertinggi. Karena Dia Yang Maha Agung mengancam dalam firman-Nya :

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٤

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 24)

Kecintaan kepada Istri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia dan sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya. Beliau nyatakan dalam sabdanya:

Dicintakan kepadaku dari dunia kalian[1], para wanita (istri) dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”[2]

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh shahabatnya yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu:

“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “Aisyah.”

Aku (‘Amr ibnul Ash) berkata: “Dari kalangan lelaki?”

“Ayahnya (Abu Bakar),” jawab beliau.[3]

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata membela dan memuji Khadijah bintu Khuwailid  radhiallahu ‘anha  ketika ‘Aisyah  radhiallahu ‘anha cemburu kepadanya:

“Sesungguhnya aku diberi rizki yaitu mencintainya.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah ingin menjadi perantara dan penolong seorang suami yang sangat mencintai istrinya untuk tetap mempertahankan istri yang dicintainya dalam ikatan pernikahan dengannya. Namun si wanita enggan dan tetap memilih untuk berpisah, sebagaimana kisah Mughits dan Barirah. Barirah[5] adalah seorang sahaya milik salah seorang dari Bani Hilal. Sedangkan suaminya Mughits adalah seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah. Barirah pada akhirnya merdeka, sementara suaminya masih berstatus budak. Ia pun memilih berpisah dengan suaminya diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits berjalan di belakang Barirah sembari berlinangan air mata hingga membasahi jenggotnya, memohon kerelaan Barirah untuk tetap hidup bersamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas radhiallahu ‘anhu:

“Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dengan rasa cinta Mughits pada Barirah dan rasa benci Barirah terhadap Mughits?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah: “Seandainya engkau kembali kepada Mughits.” Barirah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?”

“Tidak,” kata Rasulullah, “Akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”

“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Barirah.[6]

 

Tiga Macam Cinta Menurut Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah

Perlu diketahui oleh sepasang suami istri, menurut Al-Imam Al-’Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar yang lebih dikenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah  rahimahullah ada tiga macam cinta dari seorang insan kepada insan lainnya:

Pertama: Cinta asmara yang merupakan amal ketaatan. Yaitu cinta seorang suami kepada istri atau budak wanita yang dimilikinya. Ini adalah cinta yang bermanfaat. Karena akan mengantarkan kepada tujuan yang disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam pernikahan, akan menahan pandangan dari yang haram dan mencegah jiwa/hati dari melihat kepada selain istrinya. Karena itulah, cinta seperti ini dipuji di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan di sisi manusia.

Kedua: Cinta asmara yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala dan akan menjauhkan dari rahmat-Nya. Bahkan cinta ini paling berbahaya bagi agama dan dunia seorang hamba. Yaitu cinta kepada sesama jenis, seorang lelaki mencintai lelaki lain (homo) atau seorang wanita mencintai sesama wanita (lesbian). Tidak ada yang ditimpa bala dengan penyakit ini kecuali orang yang dijatuhkan dari pandangan Allah subhanahu wa ta’ala, hingga ia terusir dari pintu-Nya dan jauh hatinya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Penyakit ini merupakan penghalang terbesar yang memutuskan seorang hamba dari Allah subhanahu wa ta’ala. Cinta yang merupakan musibah ini merupakan tabiat kaum Luth ‘alaihissalam hingga mereka lebih cenderung kepada sesama jenis daripada pasangan hidup yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan:

لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ٧٢

“Demi umurmu (ya Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan.” (al-Hijr: 72)

Obat dari penyakit ini adalah minta tolong kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, berlindung kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, menyibukkan diri dengan berdzikir/mengingat-Nya, mengganti rasa itu dengan cinta kepada-Nya dan mendekati-Nya, memikirkan pedihnya akibat yang diterima karena cinta petaka itu dan hilangnya kelezatan karena cinta itu. Bila seseorang membiarkan jiwanya tenggelam dalam cinta ini, maka silahkan ia bertakbir seperti takbir dalam shalat jenazah[7]. Dan hendaklah ia mengetahui bahwa musibah dan petaka telah menyelimuti dan menyelubunginya.

Ketiga: Cinta yang mubah yang datang tanpa dapat dikuasai. Seperti ketika seorang lelaki diceritakan tentang sosok wanita yang jelita lalu tumbuh rasa suka di hatinya. Atau ia melihat wanita cantik secara tidak sengaja hingga hatinya terpikat. Namun rasa suka/ cinta itu tidak mengantarnya untuk berbuat maksiat. Datangnya begitu saja tanpa disengaja, sehingga ia tidak diberi hukuman karena perasaannya itu. Tindakan yang paling bermanfaat untuk dilakukan adalah menolak perasaan itu dan menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermanfaat. Ia wajib menyembunyikan perasaan tersebut, menjaga kehormatan dirinya (menjaga ‘iffah) dan bersabar. Bila ia berbuat demikian, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya pahala dan menggantinya dengan perkara yang lebih baik karena ia bersabar karena Allah subhanahu wa ta’ala dan menjaga ‘iffah-nya. Juga karena ia meninggalkan untuk menaati hawa nafsunya dengan lebih mengutamakan keridlaan Allah subhanahu wa ta’ala dan ganjaran yang ada di sisi-Nya. (Ad-Da`’alaihissalam wad Dawa`, hal. 370-371)

Bila cinta kepada pasangan hidup, kepada suami atau kepada istri, merupakan perkara kebaikan, maka apa kiranya yang mencegah seorang suami atau seorang istri untuk mencintai, atau paling tidak belajar mencintai teman hidupnya?

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

[1] Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi dan shalat) dinyatakan termasuk dari dunia. Maknanya adalah: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan bahwa dicintakan kepadaku di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita dan minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi, sedangkan yang ketiga (shalat) termasuk perkara diniyyah (agama). (Catatan kaki Misykatul Mashabih 4/1957, yang diringkas dari Al-Lam’aat, Abdul Haq Ad-Dahlawi)

[2] HR. Ahmad 3/128, 199, 285, An-Nasa`i no. 3939 kitab ‘Isyratun Nisa’ bab Hubbun Nisa`. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain (1/82)

[3] HR. Al-Bukhari no. 3662, kitab Fadha`il Ashabun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan” dan Muslim no. 6127 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Min Fadha`il Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

[4] HR. Muslim no. 6228 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Fadha`il Khadijah Ummul Mu`minin  radhiallahu ‘anha

[5] Disebutkan bahwa Barirah memiliki paras yang cantik, tidak berkulit hitam. Beda halnya dengan Mughits, suaminya. Barirah menikah dengan Mughits dalam keadaan ia tidak menyukai suaminya. Dan ini tampak ketika Barirah telah merdeka, ia memilih berpisah dengan suaminya yang masih berstatus budak. Dimungkinkan ketika masih terikat dalam pernikahan dengan suaminya, Barirah memilih bersabar di atas hukum Allah subhanahu wa ta’ala walaupun ia tidak menyukai suaminya. Dan ia tetap tidak menampakkan pergaulan yang buruk kepada suaminya sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kelapangan dan jalan keluar baginya. (Fathul Bari, 9/514)

[6] Lihat hadits dalam Shahih Al-Bukhari no. 5280-5282, kitab Ath-Thalaq, bab Khiyarul Amati Tahtal ‘Abd dan no. 5283, bab Syafa’atun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam fi Zauji Barirah.

[7] Artinya dia telah mati

 

Menyenangkan Suami Ada Batasnya

Membuat suami senang merupakan salah satu tugas seorang istri. Akan tetapi, caranya tentu bukan dengan berprinsip Asal Suami Senang. Tidak semua hal yang membuat senang suami boleh dilakukan. Apa saja yang membuat suami senang tetapi dilarang oleh syariat?

Lanjutkan membaca Menyenangkan Suami Ada Batasnya

Arti Sebuah Kejujuran

Dalam kehidupan rumah tangga, dusta kepada pasangan barangkali telah menjadi hal lumrah. Lebih-lebih bila aroma perselingkuhan sudah merebak di antara mereka. Tak pelak, rasa percaya dan cinta pun akan terurai menjadi kebencian yang berujung pada kehancuran rumah tangga. Namun, dalam keadaan tertentu, dusta terkadang boleh dilakukan suami/istri. Kapan? Simak bahasan berikut.

Lanjutkan membaca Arti Sebuah Kejujuran