Tanya Jawab Ringkas Edisi 107

Berharap Pahala=Berharap Imbalan?

Saya selalu membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan saya. Terkadang ada ketakutan bahwa kelak hidup saya tidak seenak sekarang. Saya sangat setuju bahwa hidup di dunia ini sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Apapun yang kita lakukan yang akan kita dapatkan hasilnya kelak. Saya sengaja selalu berusaha untuk melakukan hal baik sekarang, karena saya sangat berharap kelak saya akan hidup bahagia. Apakah hal ini sama seperti memberi tetapi mengharapkan imbalan?

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Lakukanlah kebaikan semampu Anda, niscaya Allah tidak akan menyianyiakan amalan Anda, asalkan kebaikan itu ada contohnya dalam syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disertai niat yang ikhlas.

Perlu diketahui, tidak ada seorang pun yang masuk surga dengan sebab amalnya semata, sampaipun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, Allah subhanahu wa ta’ala memberi rahmat-Nya kepada beliau.

Oleh karena itu, beramallah demi mendapat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada istilah imbal-balik ketika kita beramal untuk mendapatkan pahala dari Allah. Amal kita terlalu sedikit, sedangkan nikmat-Nya terlalu banyak. Akan tetapi, dengan amal, kita akan mendapatkan rahmat-Nya.

 


Ikhtilath Saat Latihan Bela Diri

Apa boleh ikut bela diri yang pada waktu latihan antara laki-laki dengan wanita tidak dipisah?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bela diri tanpa ada ilmu hitam atau bantuan jin, hukumnya boleh. Akan tetapi, saat mempelajarinya tidak boleh ada pelanggaran syariat, seperti ikhtilath.

 


Titip Doa di Depan Ka’bah

Apa hukum menitipkan doa lewat orang yang sedang ibadah umrah agar dia mendoakan kita di depan Ka’bah dengan doa yang kita inginkan?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Hadits yang menjelaskan titip doa kepada seseorang yang safar, haji, atau umrah adalah dhaif.

 


Oper Kontrak Rumah

Saya mengontrak rumah dua tahun. Sebelum masa kontrak selesai, saya pindah. Rumah kontrakan lama tidak boleh dioper/ditempati orang lain oleh pemilik rumah. Apakah salah jika kontrakan itu saya operkan kepada orang lain tanpa sepengetahuan pemilik rumah?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Tergantung kesepakatan sebelumnya. Jika disepakati bahwa apabila rumah kontrak tidak ditempati, dikembalikan kepada pemilik rumah dan tidak boleh dioper kepada orang lain harus ditepati. Jika tidak ada kesepakatan apapun sebelumnya, sang penyewa punya hak oper kontrak selama waktu kontrak tersisa.

 


BPJS

Apa hukumnya kita ikut BPJS? Yang saya tahu, kalau ikut BPJS setiap bulan harus mengangsur uang ke bank, padahal transaksi lewat bank biasanya ada bunganya.

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Faidah yang kita dapatkan dari asy-Syaikh Ali asy-Syarafi bahwa BPJS dengan membayar setoran tiap bulan untuk dapat layanan kesehatan saat sakit, termasuk asuransi bisnis yang ribawi. Karena itu, kita tidak boleh mengikutinya. Seorang dokter tidak boleh mengadakan BPJS dalam praktiknya. Namun, apabila dia tidak mengadakannya dan hanya buka praktik, tidak mengapa walaupun pasien membayar dengan sistem asuransi. Wallahu alam.

 


Daging Kurban Disimpan Lebih dari Tiga Hari

Bolehkah orang yang berkurban kemudian mengambil daging dan disimpan lebih dari tiga hari?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Boleh, kecuali jika daerah tempat Anda tinggal tertimpa kelaparan karena kurang makanan, maka tidak boleh.

 


Istri Diminta Keluar dari PNS

Istri saya seorang PNS. Saat diminta keluar, istri bersedia, tetapi orang tuanya tidak setuju. Apa nasihat ustadz kepada saya?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Pada asalnya istri lebih wajib taat kepada suami daripada orang tua.

 


Berkurban Tanggal 9 Dzulhijjah

Bolehkah menerima tawaran untuk menyembelih hewan kurban yang dilaksanakan pada hari Sabtu (sedangkan penetapan Idul Adha berdasarkan pemerintah jatuh pada hari Ahad -red.)?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Jangan penuhi tawaran itu demi menasihati mereka agar bersatu bersama pemerintah dalam masalah ini.

 


Berbuka Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah

Benarkah ada hadits yang menyebutkan bahwa ketika mendengar takbir kita harus membatalkan puasa? Hari ini (9 Dzulhijjah berdasarkan penetapan pemerintah -red.) saya berniat puasa Arafah, tetapi saya mendengar sudah ada yang bertakbir. Apakah saya harus membatalkan puasa?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Jangan batalkan, yang keliru adalah mereka yang menyelisihi pemerintah dalam masalah ini.

 


Darah Sebelum dan Sesudah Kiret

Saat ini, saya telah hamil tiga bulan dan mengalami pendarahan. Dokter mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan janin bisa berkembang dan harus dikiret. Bagaimana hukum darah sebelum dan sesudah kiret?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Jika anggota tubuh janin belum terbentuk, maka bukan nifas. Hukumnya adalah darah fasad, seperti darah istihadhah.

 


Tobat dari Membatasi Kehamilan

Saya sudah terlanjur mengikat kandungan istri saya (sehingga tidak bisa hamil). Bagaimana yang harus saya lakukan karena ketidakpahaman saya saat itu?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Anda wajib bertobat dari hal itu. Adapun ketidakpahaman Anda tentang masalah ini semoga menjadi uzur dan dimaafkan. Jika memungkinkan, segera diperbaiki kembali. Jika sudah tidak bisa lagi diperbaiki, cukup bertobat.

 


Harta Istri Pemberian Orang Tua

Saya memiliki perhiasan pribadi pemberian orang tua dan sekarang saya telah menikah. Apakah boleh saya menjual perhiasan tersebut untuk keperluan pribadi tanpa minta izin suami terlebih dahulu, karena saya khawatir hal ini jadi beban bagi suami?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Boleh, karena harta itu milik Anda. Akan tetapi, secara adab sebaiknya disampaikan kepada suami.

 


Buang Air Kecil Sambil Berdiri

Apakah ada hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah buang air kecil dengan berdiri yang tidak bertentangan dengan hadits buang air kecil dengan berjongkok?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Tidak ada larangan buang air dengan berjongkok. Adapun kencing berdiri terdapat riwayat sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah melakukannya. Kesimpulan tentang masalah ini, tergantung keadaan masing-masing saat kencing, mana yang lebih sesuai baginya saat itu.

 


Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Tanya Jawab Ringkas Edisi 101

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Tanya Jawab Ringkas

Zikir Pagi dan Petang

Kapan zikir pagi dan petang? Apakah shalat subuh ketika duduk tahiyat seperti duduk tahiyat pertama/terakhir?

082155XXXXXX

Jawaban:

Zikir pagi dibaca setelah selesai zikir ba’da shalat subuh sampai terbit matahari. Zikir petang yang rajih dilakukan setelah Ashar. Pendapat yang rajih, shalat yang hanya ada satu tasyahud duduk iftirasy seperti tasyahud awal.

 

Melihat Petasan Tahun Baru

Apakah kita melihat petasan saat tahun baru berarti kita ikut merayakannya?

081360XXXXXX

Jawaban:

Jika perbuatan tersebut diiringi dengan perasaan suka, ridha, dan dukungan; maka jelas tidak boleh. Namun, jika melihat karena kita lewat atau tampak dari kejauhan tanpa rasa ridha, maka tidak masalah.

 

Membeli Barang Saat Diskon Tahun Baru

Bolehkah memanfaatkan waktu tahun baru untuk membeli barang yang mendapat potongan harga karena momen tersebut?

085646XXXXXX

Jawaban:

Jika beli barang karena diskon, tidak masalah. Namun, jika karena momen tahun baru, natal, atau ulang tahun sebuah kota; tidak boleh.

Yang saya tanyakan jika barang tersebut didiskon karena tahun baru? Jadi, hari biasa tidak didiskon, sedangkan saat tahun baru didiskon 25%.

085646XXXXXX

Jawaban:

Pihak penjual biasa melakukan promo barang pada momen tertentu: musim liburan, tahun baru, natal, hari besar Islam, dan awal pemasaran. Semua terkait dengan penjual.

Pihak pembeli dikaitkan dengan niatnya. Jika beli dengan niat mencari harga murah tanpa mementingkan momen diskon, tidak masalah. Jika membeli karena menyemarakkan momen yang melanggar syar’i, tidak boleh.

 

Rentang Waktu Haid

Beberapa hari usai nifas, saya haid. Setelah itu, saya pasang KB susuk. Beberapa hari kemudian keluar darah lagi. Bidan menyatakan bahwa itu haid yang disebabkan gejala normal efek awal dari hormon yang dimasukkan. Apakah darah tersebut termasuk haid?

085229XXXXXX

Jawaban:

Haid tidak ada batas waktu minimal maupun maksimal. Yang dianggap adalah wujud darah. Jika memang darah yang keluar bersifat haid, maka dihukumi haid.

 

Berjualan di Area Kemaksiatan

Bagaimana hukum berjualan makanan/minuman di tepi jalan menuju ke tempat lokalisasi atau makam yang dianggap para wali. Apakah hal ini tidak sama seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil uang dari sesajen orang musyrikin?

081231XXXXXX

Jawaban:

Jika tempat berjualan itu sudah kita gunakan sebelum adanya kemungkaran tersebut, boleh; meski diutamakan untuk pindah. Namun, jika tempat berjualan kita baru ada setelah ada kemungkaran tersebut, tidak boleh; karena termasuk meramaikan tempat tersebut.

 

Bayar Utang dengan Uang Riba

Apakah uang riba bisa dimanfaatkan untuk membayar utang? Misal si A memberi si B sejumlah uang riba, kemudian si B melunasi utangnya kepada si C dengan uang riba tersebut.

085250XXXXXX

Jawaban:

Jika uang riba sudah diberikan kepada pihak lain yang miskin (sebagian ulama membolehkan alokasi uang riba untuk fakir-miskin), penggunaan sudah menjadi hak mereka. Jika diberikan kepada orang yang tidak miskin untuk membayar utang secara khusus, tidak boleh; karena termasuk mukil ar-riba  (memberi makan orang lain dengan riba).

 

Barang Bermerek Termasuk Tasyabuh?

Apakah dengan membeli produk bermerk terkenal (Sh*pi* M*rt*, H*rm*s, dll) yang dipilih karena kualitasnya termasuk perbuatan tasyabuh?

085747XXXXXX

Jawaban:

Membeli barang yang sifatnya mubah dengan merek terkenal di kalangan orang kafir karena kualitas, tidak termasuk tasyabuh, selama barang tersebut bukan ciri khas/ikon orang-orang kafir.

 

MLM Bersertifikat MUI

Apa hukum MLM yang sudah mendapatkan sertifikat MUI?

089660XXXXXX

Jawaban:

Sejauh yang kami ketahui, sampai saat ini belum ada sistem MLM yang sesuai syariat.

 

Memutihkan Gigi Kuning

Bolehkah memutihkan gigi yang kuning?

081392XXXXXX

Jawaban:

Memutihkan gigi yang kuning diperbolehkan karena mengembalikan sesuatu pada asal ciptaannya; bisa dengan menyikat gigi yang teratur atau periksa ke dokter gigi.

 

Merasa Durhaka kepada Orang Tua

Saya telah melakukzn dosa besar, yaitu durhaka kepada orang tua. Mereka sudah meninggal dan sekarang saya menyesal. Apa yang harus saya lakukan?

085330XXXXXX

Jawaban:

Alhamdulillah jika sudah insyaf dan menyesal dari tindakan durhaka kepada orang tua. Sekarang, berbaktilah kepada beliau yang telah wafat dengan cara: perbanyak doa kebaikan untuk beliau, menyambung hubungan baik dengan karib kerabat orang tua, dan menyambung hubungan baik dengan teman akrab orang tua.

 

Hukum Berdoa setelah Shalat

Bagaimana hukum berdoa setelah shalat?

085261XXXXXX

Jawaban:

Yang disyariatkan setelah shalat adalah berzikir seperti yang dicontohkan dalam sunnah. Tidak ada syariat doa secara khusus setelah shalat. Namun, jika seseorang ingin berdoa tanpa niat mengkhususkan waktu setelah shalat, tidak masalah.

 

Suap

Apa boleh jika seseorang untuk memperoleh pekerjaan harus membayar uang kepada oknum di instansi tertentu?

081542XXXXXX

Jawaban:

Membayar sejumlah uang kepada oknum di perusahaan atau semisal agar diterima sebagai karyawan merupakan risywah (suap) yang diharamkan.

 

Cara Shalat Musafir

Bagaimana hukum safar pada hari Jumat? Bagaimana cara shalat seorang musafir yang tidak berniat mukim?

085XXXXXX

Jawaban:

Safar diperbolehkan pada hari apa pun walau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa safar pada hari Kamis pagi. Jenis musafir ada dua.

  • Sair (yang sudah menempuh perjalanan), shalatnya qashar dan jamak; bisa taqdim atau ta’khir.
  • Nazil (yang singgah di sebuah tempat), shalatnya qashar pada waktunya masing-masing; ini lebih afdal. Diperbolehkan juga dijamak; kecuali jika shalat berjamaah di belakang imam yang mukim, dia shalat sempurna seperti orang yang mukim.

 

Gadai Riba

Si A memiliki kebun cengkeh yang digadaikan kepada si B seharga tiga puluh juta rupiah dalam jangka waktu sepuluh tahun. Hasil cengkeh selama masa gadai diambil oleh si B. Setelah sepuluh tahun, uang sejumlah tiga puluh juta rupiah dikembalikan utuh kepada si B. Apakah gadai semacam ini diperbolehkan?

081936XXXXXX

Jawaban:

Termasuk gadai yang riba. Hakikatnya, Si A meminjam uang 30 juta kemudian mengembalikannya sejumlah 30 juta ditambah hasil panen selama sepuluh tahun.

 

Antara Memberi Utang dan Kurban

Mana yang lebih didahulukan antara meminjamkan uang kepada kakak yang sedang membutuhkan uang (melanjutkan pendidikan yang bukan agama) atau berkurban?

085260XXXXXX

Jawaban:

Selama pembayaran utangnya masih bisa ditangguhkan dan ada dana lain yang diupayakan untuk membantu saudara, lebih utama untuk berkurban.

 

Penyakit Tiba-Tiba Muncul

Misal ada bagian tubuh tiba-tiba cacat yang diduga karena penyakit ‘ain atau rasa sombong (merasa memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain) lalu tersadar bahwa bisa jadi akibat kesombongan yang dia lakukan. Apakah ada obat untuk penyakit semacam ini?

085233XXXXXX

Jawaban:

Perubahan kulit umumnya karena masalah medis atau sebab lain. Jika ternyata sebab tersebut tidak ada dan ada indikasi seperti dalam pertanyaan, harus memperbanyak istighfar dan mencoba diruqyah.

 

Hikmah Amalan

Apakah ada dalil yang menjelaskan tentang: 1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalankan shalat Subuh dua rakaat, maghrib tiga rakaat, dst. 2. Pada shalat Subuh, Maghrib, Isya’ berjamaah suara imam dijahrkan (dilantangkan)?

081331XXXXXX

Jawaban:

Jumlah rakaat shalat lima waktu sudah dinashkan dalam banyak riwayat sahih. Itu adalah syariat yang harus dijalankan dan tidak dijelaskan apa hikmahnya. Begitu banyak bimbingan Islam yang belum kita ketahui hikmahnya, karena hanya Allah ‘azza wa jalla yang tahu. Hal itu menunjukkan dangkalnya ilmu kita sekaligus sebagai ujian ketaatan bagi kita.

 

Jual Beli Tanah

Jika si A hendak membeli tanah milik si B melalui perantara si C. Kemudian si C mengambil keuntungan dari jual beli tersebut. Akan tetapi, dalam hal ini si A telah ridha jika si C mengambil keuntungan tersebut. Apa hal ini diperbolehkan?

085780XXXXXX

Jawaban:

Si C dalam kasus ini adalah makelar. Dia boleh minta upah kepada si A yang menjadikannya perantara atau ambil keuntungan dari pembelian bila sudah ada kesepakatan sebelumnya dengan si A.

 

Ruqyah Diri Sendiri

Bisakah kita meruqyah diri sendiri? Bagaimana caranya?

082393XXXXXX

Jawaban:

Kita bisa meruqyah diri sendiri. Caranya dengan membaca ayat ruqyah atau doa yang disyariatkan dengan memegang bagian tubuh yang sakit atau mengusapkannya ke sekujur tubuh.

 

Pelaku Syirik

Apakah orang Islam yang berbuat syirik besar dengan orang kafir yang tidak mengenal Allah ‘azza wa jalla dan tidak pernah berbuat syirik besar kekal berada di neraka Jahanam?

085747XXXXXX

Jawaban:

Orang kafir umumnya jatuh ke dalam syirik besar. Jika mati di atas kekufurannya, kekal di dalam neraka. Muslim yang jatuh ke dalam syirik besar tidak bisa langsung divonis kafir. Harus terpenuhi syarat pengkafiran dan telah hilang faktor penghalang. Jika ulama sudah memvonis kafir dan dia mati di atasnya, juga kekal dalam neraka.

 

Menafkahi Orang Tua

Apakah menafkahi kedua orang tua yang masih mampu bekerja termasuk sedekah? Sementara dia tidak mampu untuk bersedekah selain jalan itu.

085866XXXXXX

Jawaban:

Nafkah dia untuk orang tua adalah sedekah; dan birrul walidain adalah hal yang utama. Namun, dia juga berusaha sebisa mungkin ta’awun fi sabilillah walau tidak banyak jumlahnya.

 

Alokasi Sedekah

Bagaimana dan ke mana arah sedekah yang syar’i? Sebab, selama ini kita hanya fokus kepada pengemis.

085641XXXXXX

Jawaban:

Sedekah ada yang bersifat jariyah (manfaatnya untuk muslimin dan berlangsung lama) seperti membangun masjid, pondok pesantren, sumur, dll. Adapula sedekah yang mu’aqqat seperti: bantuan kepada fakir miskin, dhuafa, yatim, dll.

 

Mendiamkan Pelaku Bid’ah

Apakah perbuatan tidak tegur sapa dengan pelaku bid’ah/hizbi termasuk memutuskan tali persaudaraan seorang muslim?

085242XXXXXX

Jawaban:

Tidak berbicara atau memberi salam kepada seorang hizbi adalah prinsip salaf. Hal ini termasuk sikap berlepas diri karena Allah ‘azza wa jalla, bukan memutus persaudaraan atau merusak ukhuwah. Justru yang merusak ukhuwah adalah kehizbiyahan pelaku bid’ah/hizbi tersebut.

 

Mengikuti Acara Bid’ah di Sekolah

Bagaimana sikap kita jika kita bersekolah di sekolah umum yang mengajarkan sesuatu yang dilarang (misalkan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Jika kita tidak mengikuti acara tersebut, maka kita tidak mendapatkan nilai?

082331XXXXXX

Jawaban:

Hal itu sedikit dari sekian banyak mudarat sekolah umum. Jelas tidak boleh dilakukan dan bukan termasuk kondisi darurat. Nilai jelek adalah risiko kita jika lebih mementingkan akidah dan prinsip. Lebih baik lagi bila kita berusaha keluar dari sekolah umum.

 

Mendiamkan Saudara Muslim

Bagaimana hukumnya jika kita tidak berbicara dengan seorang muslim lebih dari tiga hari? Sebab, jika berbicara dikhawatirkan mendapat masalah lagi.

087840XXXXXX

Jawaban:

Tidak mau berbicara dengan muslim karena masalah pribadi atau duniawi lebih dari tiga hari hukumnya haram dengan nash hadits. Yang terbaik adalah yang lebih dahulu memberi salam. Boleh pula mendiamkan selamanya karena alasan masalah prinsip agama dan manhaj, apabila seseorang menyimpang tidak kunjung bertobat.

 

Jual Beli Lewat Toko Online

Bagaimana hukum jual beli lewat toko online? Karena praktik ini bisa menjerumuskan pada jual beli yang tidak jelas akadnya.

085747XXXXXX

Jawaban:

Pada dasarnya boleh, dengan syarat umum: akadnya sesuai syariat dan tidak ada hal yang melanggar syariat. Karena itu, bagi yang terjun dalam dunia usaha terutama dengan cara masa kini harus belajar hukum-hukum syariat tentang jual beli.

 

Wanita yang Bekerja dengan Ikhtilath

Apa hukum wanita yang memiliki pekerjaan yang mengharuskan berkomunikasi dengan laki-laki, meski jabat tangan sudah dihindari, sedangkan suami ridha?

085293XXXXXX

Jawaban:

Wanita boleh bekerja dengan syarat:

  • Tidak ada yang memberi nafkah atau untuk menambah penghasilan,
  • Tempat bekerja di rumah atau di tempat khusus wanita,
  • Pekerjaan halal,
  • Aman dari fitnah/gangguan,
  • Jika sampai jarak safar, harus dengan mahram,
  • Tidak mengganggu tugas rumah.

Adapun kasus yang ditanyakan, jelas tidak boleh, karena ada ikhtilat dan pelanggaran syariat lain.

 

Biaya Walimah

Apakah wali/orang tua berdosa jika tidak mau membiayai pernikahan putrinya dan hanya cukup mengharapkan uang lamaran dari calon suami?

085799XXXXXX

Jawaban:

Kewajiban walimah sesungguhnya dibebankan kepada pihak laki-laki sebagaimana nash hadits. Namun, alangkah baiknya orang tua turut membantu acara pernikahan putrinya, karena hal itu termasuk perbuatan ihsan kepadanya. Selain itu, menurut kebiasaan masyarakat juga termasuk kebaikan. Seandainya orang tua mencukupkan dengan biaya dari pihak laki-laki, insya Allah bukan termasuk tindakan dosa.

 

Syafaat bagi Ibu Sang Anak

Apakah wanita yang keguguran sampai empat kali kelak anak-anaknya bisa memberinya syafaat?

08217XXXXXXX

Jawaban:

Jika keguguran sebelum ditiupkan ruh, tidak termasuk pembahasan karena belum bernyawa. Namun, jika keguguran setelah ditiupkan ruh, hal itu seperti bayi yang wafat. Mereka bisa memberi syafaat dan menjadi hijab (penghalang) dari neraka. Dalam riwayat disebutkan dua atau tiga anak.

 

Lomba dengan Uang Pendaftaran

Jika mengikuti pertandingan olah raga dengan dipungut uang pendaftaran yang digunakan konsumsi peserta, sedangkan hadiah uang sudah disiapkan oleh panitia, apakah diperbolehkan ikut?

089693XXXXXX

Jawaban:

Perlombaan ada beberapa keadaan.

  • Perlombaan dalam hal haram. Hukumnya haram secara mutlak, baik dengan atau tanpa membayar, berhadiah atau tidak.
  • Perlombaan dalam hal mubah tanpa membayar. Hukumnya boleh selama tidak melupakan yang wajib atau menerjang yang haram.
  • Perlombaan dalam hal mubah dengan yang membayar dari kedua pihak atau salah satunya. Hukumnya haram, karena termasuk judi, kecuali dalam tiga hal berdasarkan nash hadits: memanah, balap kuda, dan balap unta (lihat an-Nihayah, -ed.); karena bermanfaat dalam jihad.
  • Perlombaan dalam hal mubah dengan hadiah dari pihak ketiga, baik pemerintah atau swasta. Jenis ini diperbolehkan pada tiga hal di atas dengan dalil nash hadits. Diperbolehkan pula dalam hal lain dengan ketentuan seperti poin pertama.

Kasus yang ditanyakan kondisinya sama dengan poin terakhir. Wallahu a’lam.

 

Kasus Waris

Ada harta warisan yang ditinggal ayah sebesar 150 juta rupiah. Ahli waris yang ditinggal: ibu, tiga anak perempuan, dan satu anak laki-laki. Berapa hak masing-masing?

085206XXXXXX

Jawaban:

Ibu mendapat 1/6 bagian. Sisanya dibagi untuk anak-anaknya, laki-laki mendapat dua bagian dan perempuan mendapat satu bagian.

43

Mengucapkan Hamdalah untuk Anak Kecil

Bolehkan saat anak kecil bersin, orang tua mengucapkan hamdalah?

085230XXXXXX

Jawaban:

Kita ucapkan hamdalah dalam rangka mengajari si kecil.

 

Zikir Setelah Shalat Witir

Saya membaca Majalah Asy Syariah edisi 97/1435 hlm. 32 rubrik “Tanya Jawab Ringkas” dan menemui kejanggalan. Disebutkan bahwa zikir khusus setelah witir tidak ada. Jadi zikir, “Subhanal malikil quddus…dst, apakah bukan zikir?

08126XXXXXX

Jawaban:

Benar, zikir tersebut disunnahkan setelah witir dan hanya itu yang disunnahkan. Adapun membaca zikir setelah witir seperti zikir setelah shalat fardhu, tidak ada sunnahnya. Pertanyaan Anda sebagai tambahan penjelasan dari jawaban yang tampil sebelumnya. Jawaban yang lengkap, “Yang disunnahkan adalah zikir khusus setelah shalat fardhu. Adapun shalat sunnah, tidak ada zikir khusus kecuali setelah shalat witir.” Jazakumullah khairan atas koreksi Anda.

 

Beda Infak dengan Sedekah

Apa perbedaan antara infak dan sedekah?

085246XXXXXX

Jawaban:

Infak dan sedekah sunnah sama mustahiqnya. Sedekah wajib adalah zakat mal dan zakat fitrah telah diatur mustahiq, nishab, dan haulnya dalam Kitab az-Zakat dari karya-karya para ulama.

Infak wajib adalah nafkah yang wajib dikeluarkan untuk orang/pihak yang kita tanggung, seperti anak, istri, orang tua, pembantu, kendaraan, dll., tanpa ada ketentuan nishab dan haul; namun sesuai dengan kemampuan.

 

Niqab Model Butterfly

Apakah boleh menggunakan niqab model butterfly? Apakah tidak termasuk tasyabuh dengan biarawati, karena niqab tersebut mirip dengan penutup kepala yang biasa digunakan oleh biarawati?

083863XXXXXX

Jawaban:

Niqab butterfly insya Allah tidak mengapa karena:

  • Tertutup, lebih panjang dan lebih bagus supaya tidak mudah tersingkap,
  • Tidak ada unsur tasyabbuh dengan biarawati dari beberapa sisi:
  1. model tersebut diaplikasikan pada niqob, sementara biarawati pada kerudung tanpa niqob (umumnya),
  2. tasyabbuh hanya pada hal khusus dan ciri khas orang kafir, sementara pada kasus ini tidak ada kekhususan. Artinya, bila ada muslimah yang memakai niqab model tersebut, kita tidak bisa secara spontan mengatakan bahwa dia biarawati.

Wallahu a’lam.

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Belajar Tanpa Campur Baur

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

kitab-fikih

Serombongan wanita sahabiyah pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kabar Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Mereka datang untuk mengadu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohon jalan keluarnya.

غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ. فَكاَنَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ: مَا مِنْكُمُ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: وَاثْنَيْنِ

“Kaum lelaki mengalahkan kami untuk mendapatkan ilmu darimu (karena banyaknya lelaki di majelismu). Oleh karena itu, mohon tentukanlah untuk kami satu hari yang engkau khususkan untuk kami belajar darimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut baik keinginan dan harapan mereka dengan menjanjikan satu hari yang khusus. Beliau akan menemui mereka di hari tersebut guna menasihati dan memberi perintah kepada mereka (dari urusan agama ini). Di antara yang beliau sampaikan kepada mereka di majelis khusus tersebut adalah, “Tidak ada satu wanita pun yang meninggal tiga anaknya[1] (lalu dia bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah tersebut), melainkan anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

Mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, berkatalah seorang wanita di antara mereka, “Bagaimana kalau yang meninggal itu dua anak?” Beliau menjawab, “Ya, dua anak juga.”

Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan tempat taklim mereka,

مَوْعِدُكُنَّ بَيْتُ فُلاَنَةَ. فَأَتَاهُنَّ فَحَدَّثَهُنَّ

“Tempat pertemuan dengan kalian adalah rumah Fulanah.” Beliau lalu mendatangi mereka di rumah tersebut dan menyampaikan ilmu kepada mereka.

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Ilmi, bab “Hal Yuj’al Lin-Nisa’ Yaumun ‘ala Hiddah fil ‘Ilm” (no. 101 dan 102).

Pembaca yang mulia, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Anda…

Dalam hal kewajiban mencari ilmu syar’i dan mengamalkannya, wanita memang sama dengan pria. Jadi, seorang wanita dituntut sebagaimana yang dituntut dari seorang pria terkait dengan ilmu yang wajib dia amalkan dalam kesehariannya[2].

Majelis ilmu di kota Madinah, di mana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wahyu dari langit, disesaki oleh kaum pria. Mereka ini—para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum—sangat bersemangat mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka berlomba-lomba mendatangi majelis beliau dan duduk dekat dengan beliau.

Mereka menyadari bahwa yang mereka cari adalah ilmu yang merupakan kebahagiaan, keselamatan, dan kesuksesan mereka di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak. Karena banyaknya lelaki yang hadir, kaum wanita dari kalangan sahabiyah tidak mungkin menembus kerumunan tersebut karena rasa malu bercampur baur dengan lelaki. Apalagi telah datang larangan ikhtilath (campur baur) dengan lawan jenis. Para wanita terpaksa harus puas mendengarkan sedikit ilmu karena mayoritas majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam didominasi oleh kaum lelaki.

Namun, sebagian mereka tidak menginginkan hal itu terus berlarut. Sebab, mereka juga haus akan ilmu dan ingin meminumnya dari sumbernya yang asli. Permintaan majelis khusus mereka utarakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disambut baik oleh beliau. Terjadilah kesepakatan waktu dan tempat antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka. Berlangsunglah majelis khusus tersebut….

Pesan yang tersampaikan lewat hadits di atas demikian jelas, yaitu tidak boleh wanita bercampur baur dengan lelaki, walaupun untuk belajar ilmu agama yang menjadi kewajiban setiap muslim—sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan beberapa sahabat yang lain,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim.”[3]

Apabila belajar agama saja tidak boleh ikhtilath, lantas bagaimana gerangan jika yang dipelajari itu bukan ilmu agama? Tentu lebih tidak boleh! Seandainya bercampur baur dalam taklim dibolehkan, niscaya para wanita sahabiyah akan memaksakan diri hadir di majelis umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun harus menembus kumpulan lelaki yang banyak. Bukankah ilmu agama wajib dipelajari?! Akan tetapi, karena ikhtilath tidak diperbolehkan, mereka pun tidak melakukannya.

Namun, bukan berarti ketidakbolehan ikhtilath dijadikan dalil untuk meninggalkan belajar agama di majelis taklim. Sebab, ada solusi yang diberikan oleh hadits di atas, yaitu disiapkan waktu dan tempat yang khusus bagi para wanita yang ingin belajar. Dengan demikian, diharapkan akan diperoleh maslahat yang murni, tidak bercampur dengan mafsadat.

Apabila sulit atau tidak memungkinkan pengkhususan waktu bagi wanita, maka bisa dengan cara memisahkan tempat belajar antara kedua jenis. Lelaki di tempat tersendiri, terpisah dari wanita, demikian pula sebaliknya.

Hal ini dicontohkan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat pelaksanaan shalat Id. Setelah menyampaikan khutbah umum di hadapan jamaah laki-laki, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu menuju tempat kaum wanita dan menyampaikan nasihat khusus untuk mereka karena khawatir nasihat umum yang telah beliau sampaikan sebelumnya tidak terdengar disebabkan tempat mereka yang terpisah. Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam nasihatkan adalah agar mereka banyak bersedekah karena mayoritas penghuni neraka adalah kalangan wanita. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari hadits tentang shalat Id ini. Di antaranya ialah disenangi memberikan nasihat kepada kaum wanita, mengajari mereka hukum-hukum Islam, dan mengingatkan kewajiban mereka. Disenangi pula mendorong mereka untuk bersedekah dan mengkhususkan pemberian taklim bagi mereka di majelis yang terpisah. Hal itu dilakukan apabila aman dari godaan dan mafsadat[4]. (Fathul Bari, 2/603)

Kembali kepada hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menjadi pokok pembicaraan kita. Hadits ini adalah dalil larangan belajar dalam keadaan ikhtilath, yaitu pelajar putri berada dalam satu ruangan dengan pelajar putra tanpa pemisah di antara keduanya. Apalagi bila pelajar putri tidak memakai hijab yang syar’i, dan justru ber-tabarruj (bersolek menampakkan kecantikannya), hal ini adalah kerusakan tersendiri. Jadilah kerusakan di atas kerusakan. Kita bisa mengambil beberapa poin yang dipahami dari hadits ini[5]:

  1. Larangan bercampur baur antara pria dan wanita walaupun dalam belajar ilmu agama.
  2. Seorang lelaki atau seorang ustadz yang bersifat amanah[6] boleh memberikan taklim kepada sekelompok wanita, tetapi tidak boleh berdua-duaan dengan salah seorang dari mereka.
  3. Apabila lelaki/ustadz yang memberikan pengajaran tersebut bersamanya ada satu atau dua orang lelaki yang lain (yang bukan sebagai pengajar), hendaknya yang hadir itu memang dibutuhkan. Apabila tidak diperlukan, tidak sepantasnya dia hadir di majelis khusus wanita.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang menjadi pembicaraan kita. Abu Said radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bisa menyebutkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita di tempat taklim mereka yang khusus dan bisa menyebutkan pertanyaan si wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Secara zahir, ini menunjukkan bahwa keduanya hadir di situ hingga bisa menceritakan apa yang berlangsung di majelis tersebut.

Contoh lainnya adalah saat mendatangi tempat para wanita dalam shalat Id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu yang bertugas mengumpulkan sedekah dari para wanita dengan membentangkan bajunya hingga mereka melemparkan perhiasan yang mereka kenakan ke baju tersebut.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Di dalamnya ada adab mengajak bicara para wanita untuk memberikan nasihat atau hukum, yaitu hendaknya tidak ada lelaki yang hadir selain orang yang memang dibutuhkan kehadirannya, baik sebagai saksi maupun yang semisalnya.” (Fathul Bari, 2/600)

  1. Keberadaan seorang lelaki di tempat yang di situ ada sekumpulan wanita tidaklah dianggap khalwat (besepi-sepi/berduaan), karena khalwat adalah berdua-duaannya seorang pria dengan seorang wanita.
  2. Ketakwaan para wanita sahabiyah dan jauhnya mereka dari bercampur baur dengan para lelaki dalam keadaan mereka sangat ingin beroleh ilmu.
  3. Anak-anak kaum muslimin yang meninggal saat masih kecil adalah penghuni surga.
  4. Orang tua yang kehilangan tiga atau dua anaknya yang masih kecil, dalam keadaan dia bersabar dan mengharapkan pahala, akan dijauhkan dari api neraka serta dimasukkan ke dalam surga, setelah dia beriman dan bertauhid tentunya. Terlebih lagi apabila anaknya yang meninggal lebih dari tiga.
  5. Musibah yang menimpa seorang mukmin akan menghapuskan dosanya dan mengangkat derajatnya.
  6. Wanita boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu agama dan memenuhi kebutuhannya yang lain dengan memerhatikan adab ketika keluar rumah.

fsadat.

  1. Wanita boleh berbicara dengan pria untuk menyampaikan kebutuhannya—tentu saja bicara seperlunya tanpa berpanjang kata—atau bertanya tentang masalah agamanya, dengan memerhatikan adab berbicara dengan lawan jenis, di antaranya berbicara dengan baik, tidak mendayu-dayu atau bersuara manja dan tidak melembutkan suara sebagaimana ucapan seorang istri kepada suaminya.
  2. Dengan adanya perintah hijab, maka pengajaran yang disampaikan seorang lelaki kepada sekelompok wanita dianjurkan dari balik tabir dalam rangka menjaga kesucian hati masing-masing. Dan tidak boleh bermudah-mudah dalam hal ini dengan memasang tabir yang pendek sehingga kepala sang ustadz bisa terlihat ketika dia berdiri, atau tipis transparan sehingga gerak-gerik jamaah wanita yang hadir bisa terlihat oleh sang ustadz.

Jangan pula hijab hanya saat taklim. Adapun setelah bubar taklim, saat jamuan makan yang disediakan tuan rumah, misalnya, sang ustadz tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah para wanita.

Dari negeri Yaman, putri al-’Allamah asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i rahimahullah, Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafizhahallah pernah mengirim surat kepada kami sebagai balasan surat yang dikirimkan kepada beliau. Beliau adalah seorang mustafidah (seorang yang memberikan faedah ilmu kepada sesamanya) yang dipuji oleh sang ayah[7].

Di antara isi suratnya, beliau memberikan arahan kepada wanita yang menuntut ilmu agama untuk belajar dari seorang guru (tidak belajar sendiri/otodidak). Beliau juga menyebutkan, tidak mengapa belajar ilmu agama melalui tangan seorang syaikh (guru laki-laki atau ustadz), dengan syarat aman dari godaan dan dilakukan dari belakang hijab/tabir pemisah, karena selamatnya kalbu tidak bisa diimbangi oleh apa pun.[8]

Beliau juga mengatakan bahwa apabila ada guru/pengajar wanita yang berpegang dengan sunnah (sunni) yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, belajar kepada mereka lebih baik….

Demikian penggalan surat yang bertanggal Sabtu, 20 Ramadhan 1418 H, 16 tahun yang lalu….

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pembatasan,

ثَلاَثَةً لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ

“Tiga anak yang belum mencapai usia baligh.

[2] Al-Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang ilmu agama yang seperti apa yang wajib dipelajari. Beliau menjawab,

“Ilmu yang seseorang tidak boleh tidak tahu tentangnya, terkait dengan urusan shalatnya, puasanya, dan semisalnya. “ (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Muhammad bin Qasim al-Hambali an-Najdi rahimahullah—seorang alim yang hidup dalam rentang 1312—1392 H, dalam penjelasannya terhadap kitab al-Ushul ats-Tsalatsah karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah—mengatakan, “Apa yang wajib diamalkan oleh seseorang, seperti pokok-pokok keimanan, syariat-syariat Islam, perkara-perkara haram yang wajib dihindari, perkara yang dibutuhkan dalam muamalah dan semisalnya yang sebuah kewajiban tidak akan sempurna terkecuali dengannya, maka semua itu wajib dipelajari.” (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

[3] Hadits hasan dengan syawahidnya. Lihat tahqiq Abu al-Asybal az-Zuhairi terhadap kitab Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/69 dst.

[4] Sebab, yang mengajari mereka adalah lelaki, sehingga dikaitkan dengan aman dari godaan.

[5] Ditambahkan dari kitab Lin Nisa’ Ahkam wa Adab, Syarhu al-Arba’in an-Nisa’iyah, Muhammad ibnu Syakir asy-Syarif, hlm. 118—119.

[6] Seorang lelaki yang amanah dan menjaga agamanya tentu tidak akan bermudah-mudah berhubungan dengan wanita, walaupun dia adalah orang yang didakwahi atau muridnya, baik dalam bentuk menggampangkan berbicara via telepon, SMS, maupun sarana lainnya. Wallahul musta’an.

[7] Di antara ucapan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah tentang putrinya, “Allah ‘azza wa jalla lah yang memberi taufik kepada Ummu Abdillah untuk menuntut ilmu, kemudian menjadikannya cinta untuk meneliti permasalahan ilmu dan menulis.

Dia—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaganya—memberikan pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dalam bidang hadits, tajwid, mushthalah, dan nahwu. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya berfaedah bagi sesama, dalam bentuk pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dan penelitiannya yang berkesinambungan terhadap kitab-kitab ulama.

Aku pernah berkata kepadanya (karena melihatnya terus menyibukkan diri dengan penelitian ilmiahnya), ‘Kasihanilah dirimu wahai putriku!’

Dia menjawab, ‘Sungguh, jika kami melihat perjalanan hidup para ulama kita, kami dapati diri kami bukanlah apa-apa (belum berbuat apa-apa terhadap agama Allah ‘azza wa jalla yang agung).’

Ucapannya ini membuatku terdiam. Ummu Abdillah tidak pernah belajar di bangku sekolah, apakah ibtidaiyah (SD), terlebih lagi mutawassithah (SMP) dan tsanawiyah (SMU). Dia tidak pernah duduk di bangku kuliah, tidak bergelar magister ataupun doktor. Namun, saya memandang penelitiannya lebih bagus daripada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Ini adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Mukaddimah kitab ash-Shahih al-Musnad min asy-Syamail al-Muhammadiyyah, 1/9, karya Ummu Abdillah)

[8] Selamatnya kalbu itu penting, wahai saudariku! Maka dari itu, janganlah Anda semua bermudah-mudah berhubungan dengan ajnabi, walaupun itu ustadz Anda!

Bila Suami Membiarkan Istrinya Bermaksiat

Tali pernikahan menuntut seorang suami sebagai kepala keluarga untuk memikul tanggung jawab yang tidak ringan dalam mengurusi istri dan anak-anaknya. Tanggung jawab ini tidak hanya berupa pemberian nafkah dan kebutuhan lahiriah saja. Namun lebih dari itu, yaitu memerhatikan perkara agama dengan membimbing mereka kepada ketaatan serta mencegah mereka dari kemaksiatan dan penyimpangan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Dahulu sahabat Malik bin al-Huwairits radhiallahu ‘anhu bercerita bahwa dia dan beberapa orang dari kaumnya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimba ilmu dan tinggal di sisi beliau selama dua puluh hari dua puluh malam. Malik bin al-Huwairits z mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang penyayang. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa kami telah merindukan keluarga, beliau menanyai kami tentang orang-orang yang kami tinggalkan. Kami pun memberi tahu beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kembalilah kalian kepada keluarga kalian. Tinggallah di tengah-tengah mereka dan ajarilah serta perintahlah mereka…’.” ( Shahih al-Bukhari, no. 631)

Orang yang terdekat dengan suami adalah anak-anak dan istrinya. Merekalah orang yang paling berhak mendapatkan arahan dan bimbingan kepada kebaikan. Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya (semangat beribadah) dan membangunkan keluarganya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132)

Di antara sifat kemuliaan Nabi Ismail ‘alaihissalam yang diabadikan oleh al-Qur’an,

“Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.” (Maryam: 55)

Apabila seorang suami memberi perhatian penuh terhadap istri dari sisi bimbingan agama, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, istrinya akan menjadi penyejuk mata baginya. Wanita yang seperti ini diharapkan mampu memberikan bimbingan yang baik terhadap putra-putrinya.

Dengan demikian, ia memiliki andil mencetak generasi masa depan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang tua, masyarakat, dan agamanya.

 

Suami yang Jelek

Suami yang mencintai istrinya tidak akan membiarkannya terjerumus dalam perilaku yang menyimpang. Sebab, cinta yang sejati menuntut seseorang untuk membentengi kekasihnya dari jurang kehancuran.

Suami yang tidak peduli dengan kondisi istrinya dan membiarkannya larut dalam kenistaan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajibannya dalam membimbing istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah penanggung jawab dan akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Seorang penguasa adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya, dan seorang lelaki adalah penanggung jawab terhadap keluarganya dan ia akan ditanyai tentang tugasnya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar c)

Lelaki yang tidak peduli terhadap istrinya yang melanggar batasan-batasan agama adalah lelaki yang jelek. Ia berhak mendapatkan murka dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiga golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan mereka dari (memasuki) surga: orang yang kecanduan khamr, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan ad-dayyuts, yaitu yang membiarkan istrinya berbuat zina.” (HR. Ahmad dalam Musnad dari Ibnu Umar c dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami no. 3052)

Al-Munawi rahimahullah menerangkan, “Tiga golongan ini dihukumi kafir jika mereka menganggap halal perbuatannya. Surga itu haram atas orang-orang kafir selama-lamanya.

Apabila mereka menganggap perbuatan itu haram, yang dimaksud dengan surga itu haram atas mereka ialah mereka terhalangi dari memasukinya sebelum dibersihkan dengan api neraka. Apabila mereka sudah bersih, baru dimasukkan ke dalam surga.” (Faidhul Qadir 3/420)

 

Kecemburuan yang Nyaris Hilang

Cemburu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Adapun yang terpuji dalah kecemburuan seseorang ketika melihat kekasihnya berbuat yang tidak baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya cemburu ada yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dan ada yang dibenci Allah…. Adapun cemburu yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala adalah cemburu dalam perkara yang mencurigakan, sedang cemburu yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala adalah cemburu pada perkara yang tidak mencurigakan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2221)

Disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud (7/320) bahwa cemburu dalam perkara yang mencurigakan, seperti seorang lelaki cemburu terhadap para mahramnya bila melihat mereka melakukan perbuatan yang diharamkan, termasuk yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun cemburu pada perkara yang tidak mencurigakan, seperti seorang cemburu kepada ibunya jika ia dinikahi oleh ayah tiri, demikian pula kecemburuan para mahramnya, yang seperti ini termasuk yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala halalkan bagi kita, kita wajib meridhainya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga cemburu bila hamba-Nya berbuat maksiat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala cemburu dan sesungguhnya seorang mukmin itu cemburu. Kecemburuan Allah subhanahu wa ta’ala adalah jika seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ibnul Arabi rahimahullah menerangkan, “Orang mukmin yang paling kuat cemburunya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau tegas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dan melakukan pembalasan hukuman karena Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau tidak peduli dalam hal ini pada celaan orang yang mencela.” (Faidhul Qadir 2/387)

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Orang yang paling mulia dan paling tinggi tekadnya adalah orang yang paling cemburu. Seorang mukmin yang cemburu pada tempatnya telah mencocoki Allah subhanahu wa ta’ala pada salah satu sifat-Nya. Barang siapa mencocoki Allah subhanahu wa ta’ala pada salah satu sifat-Nya, sifat itu akan menjadi kendalinya dan akan memasukkannya ke (hadapan) Allah subhanahu wa ta’ala serta mendekatnya kepada rahmat-Nya.” (Tuhfatul Arus, Istambuli, hlm. 387)

Seperti inilah bimbingan Islam yang sangat mulia. Masih adakah kiranya arahan seperti ini pada hati-hati para lelaki di zaman sekarang?! Sungguh, sulit didapatkan. Justru kebanyakan mereka membawa istri atau anak-anak perempuannya ke jalan-jalan umum untuk dipamerkan dan membiarkan mereka membuka aurat di jalan-jalan hingga menjadi umpan para perampok kehormatan dan kesucian.

 

Fenomena Pembiaran Maksiat pada Istri

Entah karena takut istri atau bersikap masa bodoh, dan yang pasti karena lemahnya iman, kita dapatkan tidak sedikit lelaki yang membiarkan istrinya terpaparkan pada kemudaratan. Hal ini bisa dilihat dalam banyak hal, di antaranya:

  1. Istri dibiarkan bepergian tanpa mahram.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah wanita bepergian kecuali dengan mahramnya.” ( HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Telah banyak korban berjatuhan karena melanggar aturan agama ini. Ada yang menjadi korban penipuan, perampokan, hingga pelecehan seksual.

Hukum larangan bepergian bagi wanita tanpa mahram berlaku umum, apakah bepergian dalam rangka ketaatan atau perkara yang mubah. Sesungguhnya syariat sangat sayang kepada manusia, namun amat disesalkan bahwa aturan yang mulia ini dianggap mengekang kebebasan mereka. Kadang kondisi suami lebih parah, ia justru menyuruh istrinya bekerja di luar negeri mencarikan nafkah untuknya dengan mempertaruhkan nyawa dan kehormatannya.

 

  1. Berbaurnya laki-laki dan perempuan sudah menjadi pemandangan yang dianggap lumrah.

  1. Padahal ini merupakan pintu yang lebar untuk terjadinya kekejian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

 

  1. Membiarkan istrinya berpenampilan seperti wanita-wanita yang fasik dan kafir, baik bentuk rambutnya, pakaiannya, gaya bicaranya, maupun yang semisalnya.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  1. “Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian mereka.” ( Abu Dawud dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Lihat Shahih al-Jami’ no. 6149)

Lebih parah lagi, dia bangga ketika istrinya tampil di hadapan manusia dengan penampilan ala barat (kafir).

 

  1. Tidak menasihati istrinya ketika berpakaian seperti para lelaki.

Padahal wanita yang seperti ini diancam dengan laknat,

“Allah subhanahu wa ta’ala melaknat wanita yang menyerupai lelaki dan para lelaki yang menyerupai wanita.” ( HR. Ahmad dan lain-lain, serta dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’)

 

  1. Membiarkan istrinya melakukan perbuatan mungkar dan ucapan yang maksiat.

Pembiaran seperti ini terjadi terkadang dilandasi oleh keyakinan suaminya yang sesat, yaitu bahwa setiap orang punya hak untuk bersuara dan mengekspresikan kemauannya. Orang seperti ini sangat bodoh karena dia tidak tahu bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan manusia kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

 

  1. Membiarkan istri digoda oleh lelaki lain dan dicandai hingga sudah kelewat batas.

Misalnya, dicium oleh lelaki lain, dicolek, dan dipegang-pegang tubuh atau bajunya. Lelaki seperti ini masih bercokol pada otaknya kebiasaan jahiliah yang memandang bahwa haknya suami dari istrinya adalah bagian setengah istrinya sampai bawah, adapun setengah tubuh istri ke atas maka siapa suka dan menaruh benih cinta. (Raudlatul Muhibbin 116, cetakan Dar ash-Shuma’i)

 

  1. Mendiamkan istrinya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lelaki yang bukan mahram.

Padahal ini termasuk jalan pintas untuk terjadinya perzinaan.

 

  1. Membiarkan istrinya dibonceng oleh lelaki yang bukan mahram dan terkadang oleh saudara laki-laki suami (ipar istri).

Padahal bermudah-mudah dalam hal ini bisa mengantarkan kepada penyimpangan istri dan tidak mustahil terjadi perselingkuhan dengan iparnya.

Masih banyak lagi bentuk ketidakberesan tingkah laku dan ucapan yang dilakukan oleh wanita yang disikapi dingin oleh suaminya. Sudah hilang darinya sifat kecemburuan dan telah lenyap jiwa kelaki-lakiannya. Yang paling mengerikan, suami yang seperti ini diancam dengan azab yang abadi, apabila ia meyakini bahwa hal tersbut halal/boleh, sebagaimana keterangan al-Munawi rahimahullah di atas.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan bimbingannya kepada kita untuk bisa menempuh jalan keselamatan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.