Bertutur Kata yang Baik dan Berkata Manis

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah)

 

Sekedar menampakkan wajah yang berseri-seri serta bertutur yang baik sesungguhnya merupakan perkara ringan. Namun demikian, bagi sebagian besar kita hal itu seolah demikian berat untuk dipraktikkan. Yang memprihatinkan, gejala ini juga menimpa sebagian para penuntut ilmu agama di mana sikap mereka demikian kaku terhadap orang-orang awam.

Berjumpa dengan orang lain adalah perkara yang biasa dalam keseharian kita sebagai makhluk sosial. Karena tak mungkin kita hidup menyendiri dari orang lain. Kita butuh saudara, butuh teman, dan kita butuh orang lain. Yang tak biasa alias luar biasa, bila kita dapat mengamalkan tuntunan Allah k dan Rasul-Nya kala berjumpa dan berkata. Kenapa demikian? Karena di zaman kita sekarang, adab-adab Islam sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin. Mungkin karena kebodohan ataupun karena ketidakpedulian mereka.

Adapula yang berdalil dengan tabiat, yakni ada sebagian daerah di negeri kita ini di mana orang-orangnya bertabiat kaku, cuek, dan sok tak peduli. Sehingga bila bertemu dengan orang yang mereka kenal sekalipun, sikap mereka seperti tak kenal, tak ada senyum, tak ada sapaan. Lebih-lebih bila berjumpa dengan orang yang tak mereka kenal walaupun duduk bersama-sama dalam satu majelis. Ibaratnya kalau kita tidak menegur dan menyapa terlebih dahulu, mereka pun tidak akan menegur dan menyapa, benar-benar cuek dan kaku. Orang-orang seperti ini dijumpai sendiri oleh penulis. Awalnya penulis merasa mungkin punya salah terhadap mereka atau ada sikap yang tidak berkenan di hati mereka sehingga mereka berlaku demikian. Tetapi akhirnya penulis mengerti bahwa memang demikian tabiat umumnya mereka yang tinggal di daerah tersebut. Wallahu al-musta’an.

Sungguh Allah l telah memerintahkan kaum muslimin untuk berlaku baik kepada sesamanya, rendah hati kepada saudara dan penuh tawadhu’. Allah k berfirman kepada Nabi-Nya:

“Rendahkanlah sayapmu kepada kaum mukminin.” (Al-Hijr: 88)
Maksudnya: bersikap lunaklah terhadap mereka dan perbaiki akhlakmu terhadap mereka karena mencintai, memuliakan, dan mengasihi mereka. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 435)
Dalam ayat lain, Allah l berfirman:
“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)
Bersikap ramah kepada saudara dan bertutur yang baik jelas merupakan amalan kebaikan, bahkan bila seseorang tidak mendapatkan harta untuk disedekahkannya di jalan Allah k maka mengucapkan kalimat yang baik dapat menggantikannya.
‘Adi bin Hatim z berkata, “Rasulullah n bersabda:
اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَـمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun siapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 2346)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa kalimat thayyibah merupakan sebab selamat dari neraka. Yang dimaksud kalimat thayyibah adalah ucapan yang menyenangkan hati seseorang jika ucapan itu mubah atau mengandung ketaatan.” (Al-Minhaj, 7/103)
Ibnu Baththal tberkata, “Kalimat thayyibah teranggap sebagai sedekah, dari sisi di mana pemberian harta akan membahagiakan hati orang yang menerimanya dan menghilangkan rasa tidak senang dari hatinya. Demikian pula kalimat-kalimat yang baik, maka keduanya (pemberian harta dan ucapan yang baik) serupa dari sisi ini.” (Fathul Bari, 10/551)
Dalam hadits yang lain, Nabi n bersabda:
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2707 dan Muslim no. 2332)
Rasulullah n pernah berpesan kepada sahabatnya Abu Dzar Al-Ghifari z:
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْـمَعْرُوْفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ
“Jangan sekali-kali engkau meremehkan perkara kebaikan walaupun hanya berwajah cerah ketika engkau bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim no. 6633)
Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi t dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim: “Disenanginya berwajah cerah ketika bertemu.”
Al-Qadhi Iyadh t berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa berwajah cerah/berseri-seri kepada kaum muslimin dan menunjukkan rasa senang kepada mereka merupakan perkara yang terpuji, disyariatkan, dan diberikan pahala bagi pelakunya.”
Beliau juga mengatakan, “Cukuplah bagi kita akhlak Nabi kita n dalam hal ini dan sifat beliau yang Allah l sebutkan dalam Al-Qur`an, dan Allah l bersihkan beliau dari sifat yang sebaliknya seperti tersebut dalam firman-Nya:
“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159) [Ikmalul Mu’allim bi Fawa`id Muslim, 8/106]
Masih dalam hadits yang disampaikan oleh Abu Dzar z, Rasulullah n bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ
“Senyumanmu di wajah saudaramu (seagama) adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi no. 1956, dishahihkan Asy-Syaikh Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah no. 572)
Maksud hadits di atas, engkau menampakkan wajah cerah, berseri-seri dan penuh senyuman ketika bertemu saudaramu akan dibalas dengan pahala sebagaimana engkau diberi pahala karena mengeluarkan sedekah. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Birr wash Shilah, bab Ma Ja`a fi Shana`i’ Al-Ma’ruf, ketika membahas hadits di atas)
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin tberkata, “Sepantasnya ketika seseorang bertemu saudaranya ia menunjukkan rasa senang dan menampakkan wajah yang manis/cerah serta bertutur kata yang baik, karena yang demikian ini merupakan akhlak Nabi n. Tentunya, sikap seperti ini tidak merendahkan martabat seseorang bahkan justru mengangkatnya. Ia pun mendapatkan pahala di sisi Allah l dan mengikuti Sunnah Nabi n. Karena beliau n selalu cerah wajahnya, tidak kusut ketika bertemu orang lain dan beliau banyak melempar senyuman. Karena itu, sepantasnya seseorang berjumpa saudaranya dengan wajah yang cerah dan mengucapkan ucapan yang baik. Sehingga dengannya ia dapat meraih pahala, rasa cinta dan kedekatan hati, di samping jauh dari sikap takabur dan merasa tinggi dari hamba-hamba Allah l yang lain. (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/500)
Sungguh wajah yang cemberut ataupun tanpa ekspresi, dingin dan kaku, tidak pantas diberikan kepada sesama muslim, karena hal itu menyelisihi apa yang dititahkan oleh Allah k dan Rasul-Nya. Yang seperti itu seharusnya ditujukan kepada orang-orang kafir dan munafik karena Allah l berfirman:
“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat kembali mereka adalah jahannam sebagai sejelek-jelek tempat kembali.” (At-Taubah: 73)
Meskipun begitu, bila si orang kafir diharapkan mau masuk Islam, kita sepantasnya menampakkan wajah yang manis ketika berjumpa. Namun bila sikap baik kita ini justru menambah kesombongannya dan ia merasa tinggi daripada kaum muslimin, maka wajah cerah tidak boleh diberikan kepadanya. (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/500-501)
Asy-Syaikh Al-’Utsaimin t juga menyatakan, “Wajah yang cerah/manis termasuk perkara kebaikan, karena akan memasukkan kebahagiaan pada saudaramu dan melapangkan dadanya. Kemudian bila wajah yang berseri-seri ini digabungkan dengan tutur kata yang baik, akan tercapai dua maslahat, yaitu wajah yang berseri-seri dan tutur kata yang baik. Nabi n menyatakan dalam sabdanya:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma.”
maksudnya jadikanlah pelindung antara kalian dan neraka walaupun kalian bersedekah hanya dengan sepotong kurma. Karena, hal itu akan dapat melindungimu dari api neraka jika memang Allah l menerima sedekah tersebut.
Namun jika kalian tidak mendapatkan sesuatupun yang dapat kalian sedekahkan, maka ucapkan kata-kata yang baik ketika berjumpa dengan saudara seiman. Misalnya engkau berkata kepadanya,
“Bagaimana kabarmu?”,
“Bagaimana keadaanmu?”,
“Bagaimana kabar saudara-saudaramu?”,
“Bagaimana dengan keluargamu?”,
dan yang semisalnya. Karena kalimat-kalimat seperti ini akan meresapkan kebahagiaan di hati saudaramu. Setiap kata-kata yang baik adalah sedekah di sisi Allah k. Dengannya akan diperoleh ganjaran dan pahala. Sungguh Nabi n telah bersabda:
الْبِرُّ حُسْنُ الْـخُلُقِ
“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.”1
Beliau n juga bersabda:
أَكْمَلُ الْـمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka.”2 (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/501)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Wanita Shalat Berjamaah

Tanya: Bila ada beberapa wanita dalam sebuah rumah, apakah salah seorang dari mereka wajib mengimami yang lain dalam pelaksanaan seluruh shalat  fardhu?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan t menjawab, “Iya, boleh bagi wanita untuk mengerjakan shalat fardhu secara berjamaah, di mana salah seorang dari mereka bertindak sebagai imam. Imam mereka ini tidak berdiri di depan, namun berdiri sejajar dengan makmumnya di dalam shaf.
Kalau ditanyakan apakah shalat berjamaah ini wajib bagi wanita? Maka dijawab, tidak wajib. Karena kewajiban berjamaah hanya dibebankan kepada laki-laki. Namun boleh atau bahkan disenangi wanita shalat secara berjamaah.
Apakah shalat berjamaahnya ini lebih utama/afdal dari pada shalatnya secara sendiri-sendiri? Kita harapkan demikian, Insya Allah. (Majmu’ Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 1/346)

Mengajari Orang Tua Shalat

Nenek dari ayahku tidak pernah luput mengerjakan shalat lima waktu, hanya saja yang disayangkan shalatnya salah dari awal sampai akhir. Di mana ia terkadang tidak ruku’, terkadang tidak membaca tahiyyat, sebagai gantinya ia membaca Al-Fatihah saat duduk tasyahhud. Bahkan ia melakukan salam di setiap satu rakaat. Tentunya kami tidak senang dengan apa yang dilakukannya. Ketika saudaraku yang tertua berusaha menjelaskan bahwa shalatnya salah, ia malah mencerca dan mencela kami lalu menangis. Sekalipun misalnya kami bisa mengajarinya shalat yang benar, ia tidak mampu melakukannya karena sudah terbiasa dengan shalatnya yang salah. Bila demikian berdosakah nenek kami tersebut? Apa yang wajib kami lakukan dalam hal ini? Berilah kami fatwa, semoga anda mendapatkan pahala karenanya.

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan t menjawab, “Wanita tua itu tidak lepas dari dua keadaan:

Pertama: akalnya sudah berkurang/tidak sehat lagi, hingga ia tidak paham apa yang dikatakan kepadanya. Bila seperti ini keadaannya maka tidak ada dosa baginya, karena Allah l berfirman:

“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (At-Taghabun: 16)

Selama kalian menjelaskan kesalahannya namun ia tidak mampu memahaminya maka tidak ada dosa baginya, Insya Allah, karena demikian puncak dari kemampuannya.

Kedua: akalnya masih sehat, ia melakukan shalat yang demikian dikarenakan kebodohannya, maka ia tidak diberi udzur. Karena orang yang bodoh bila mendapatkan orang yang bisa memahamkannya serta mengajarinya berarti hilanglah udzurnya dan wajib baginya untuk mengambil jalan kebenaran.

Maka yang wajib kalian lakukan adalah terus mengulang-ulang untuk memberikan pemahaman kepadanya, menakut-nakutinya dengan Allah l dan shalat yang biasa dikerjakannya belum memenuhi kewajibannya (karena shalatnya salah). Ini upaya yang dapat kalian lakukan. Bila ternyata nenek kalian bisa lurus maka alhamdulillah, bila tidak maka kalian telah menunaikan apa yang menjadi kewajiban kalian dan mintalah hidayah Allah l untuknya. (Majmu’ Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 1/355,356)

Shalat di atas Pesawat dan Jarak Safar

Tanya: Bagaimana cara shalat di atas pesawat? Berapa jarak safar yang dengannya dibolehkan mengqashar shalat dan meninggalkan puasa?

Jawab:

Al-Imam Al-Albani tmenjawab, “Safar itu dimulai dari keluarnya seseorang dari negeri/daerahnya, terhitung dari batas daerahnya. Tentang shalat di atas pesawat, orang yang biasa naik pesawat di zaman sekarang ini akan menyaksikan bahwa pesawat memiliki kelebihan dari sisi kenyamanan di mana penumpangnya tidak merasa sedang terbang di antara langit dan bumi.

Beda halnya dengan kapal laut, di mana terkadang memberikan goncangan kepada penumpangnya, lebih besar daripada goncangan pesawat. Karena itu orang yang mengendarai pesawat, bila memang pesawatnya besar, luas dan lapang, ia akan mendapati tempat kosong yang di situ ia bisa berdiri dan duduk saat mengerjakan shalat.

Inilah yang wajib berdasarkan kaidah yang telah lewat penyebutannya:

اتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”

Termasuk kewajiban yang harus diperhatikan oleh orang yang ingin shalat di atas pesawat adalah memerhatikan pada awal shalatnya di mana arah kiblat, bila memang memungkinkan untuk mengetahuinya, kemudian ia shalat menghadap kiblat tersebut. Setelah itu tidak menjadi masalah pesawatnya menghadap ke mana saja, mengarah ke kiri atau kanan. Ia tetap melanjutkan shalatnya sesuai dengan arah awal ia menghadap (walaupun ternyata tidak lagi menghadap kiblat karena arah pesawat telah berubah, pent.)

Yang penting, ada dua perkara yang harus diperhatikan oleh penumpang pesawat, penumpang kapal, atau penunggang hewan.

Pertama: Bila mampu untuk berdiri dan duduk dalam shalat, hendaklah ia melakukannya. Bila memungkinkan baginya untuk turun dari kendaraannya seperti orang yang mengendarai mobil, hendaknya ia turun dan shalat sebagaimana biasanya.

Kedua: Ia memulai shalatnya di atas kendaraan yang ditumpanginya dengan menghadap kiblat, setelah itu tidak menjadi masalah bila mobil, pesawat, atau kapal yang ditumpanginya, ataupun hewan (yang ditungganginya) itu bergerak sehingga arah kiblat berpindah. Kecuali bila memungkinkan baginya untuk turun dari kendaraannya, maka ia shalat seperti biasanya.

Tentang safar, tidak ada batasan jarak tertentu dengan ukuran kilometer atau marahil. Karena ketika Allah l menyebutkan safar dalam Al-Qur`an berkaitan dengan qashar shalat ataupun kebolehan berbuka (tidak puasa) di bulan Ramadhan, Allah l menyebutkan safar secara mutlak, tanpa menetapkan batasannya. Bisa kita lihat hal ini dalam firman-Nya:

“Apabila kalian melakukan perjalanan di muka bumi (safar) maka tidak ada dosa atas kalian untuk kalian mengqashar shalat.” (An-Nisa`: 101)

Lafadz: merupakan ungkapan dari safar, di mana Allah l menyebutkannya secara mutlak (tanpa pembatasan ini dan itu…, pent.)

Demikian pula dalam firman-Nya:

“Siapa di antara kalian yang sakit atau dalam keadaan safar, maka (ia boleh meninggalkan puasa) dengan menggantinya pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

Dengan demikian yang benar dari pendapat yang ada di kalangan ulama tentang pembatasan jarak safar adalah tidak ada batasannya. Setiap itu disebut safar, menurut kebiasaan (‘urf) dan menurut pengertian syar’i, berarti itulah safar, baik jaraknya jauh ataupun dekat. Perjalanan tersebut safar menurut kebiasaan yang dikenali di tengah manusia. Dari sisi syar’i memang orang yang menempuhnya bertujuan untuk safar. Karena terkadang kita dapati ada orang yang menempuh jarak jauh bukan untuk safar, seperti kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, “Terkadang seseorang keluar dari negerinya untuk berburu. Lalu ia tidak mendapatkan buruannya hingga ia terus berjalan mencari-cari sampai akhirnya ia tiba di tempat yang sangat jauh. Ternyata di akhir pencariannya ia telah menempuh jarak yang panjang, ratusan kilometer. Kita menganggap orang ini bukanlah musafir, padahal bila orang yang keluar berniat safar dengan jarak yang kurang daripada yang telah ditempuhnya telah teranggap musafir. Tapi pemburu ini keluar dari negerinya bukan bertujuan safar sehingga ia bukanlah musafir. Berarti yang namanya safar harus menurut ‘urf (adat masyarakat) dan sesuai pengertian syar’i. (Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani,  hal. 227)

Bersedekahlah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Sudah menjadi kecenderungannya, manusia amat mencintai materi atau harta yang menjadi miliknya. Di saat lapang saja ia demikian, terlebih lagi di saat sempit. Padahal Islam senantiasa menganjurkan umatnya untuk bersedekah di saat sulit sekalipun.

Allah k berfirman:

“Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan siang hari secara sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapatkan pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 274)
Keutamaan bersedekah sudah kita maklumi. Karena keutamaannya yang besar, syariat yang mulia ini banyak mendorong kita untuk mengeluarkan sedekah. Dorongan tersebut tidak hanya ditujukan kepada lelaki namun juga kepada kaum perempuan. Allah k berfirman dalam kitab-Nya yang agung:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berdzikir), Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Dalam surah lain, Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan serta meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka dan mereka akan beroleh pahala yang banyak.” (Al-Hadid: 18)
Rasul n yang mulia pun turut memberi dorongan kepada para wanita untuk bersedekah, sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas c. Ia bertutur:
أَنَّ النَّبِيَّ n صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا، ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ، فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَجَعَلْنَ يُلْقِيْنَ، تُلْقِي الْمَرْأَةُ خُرْصَهَا وَسِخَابَهَا
“Nabi n shalat pada hari Idul Fithri dua rakaat dan tidak shalat sebelum maupun sesudahnya. Kemudian (setelah menyampaikan khutbah kepada hadirin) beliau mendatangi tempat para wanita sementara Bilal menyertai beliau. Beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka mulailah mereka melemparkan perhiasan mereka (ke kain yang dibentangkan Bilal untuk menampung sedekah), ada wanita yang melemparkan anting-anting dan kalungnya.” (HR. Al-Bukhari no. 964 dan Muslim no. 2054)
Asma` bintu Abi Bakr x berkata:
قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَالِي مَالٌ إِلاَّ مَا أَدْخَلَ عَلَيَّ الزُّبَيْرُ، فَأَتَصَدَّقُ؟ قَالَ: تَصَدَّقِي وَلاَ تُوْعِي فَيُوْعَى عَلَيْكِ
“Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang dimasukkan Az-Zubair kepadaku. Apakah boleh aku menyedekahkannya?’ Beliau bersabda: ‘Bersedekahlah. Jangan engkau kumpul-kumpulkan hartamu dalam wadah dan enggan memberikan infak, niscaya Allah akan menyempitkan rizkimu’.” (HR. Al-Bukhari no. 2590 dan Muslim no. 2375)
Sampaipun seorang wanita tidak memiliki kelebihan harta ataupun makanan, kecuali sedikit, Rasulullah n tetap memberikan dorongan baginya untuk bersedekah dan tidak menahannya, terutama kepada tetangganya. Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:
يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ، لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ
“Wahai wanita-wanita muslimah! Janganlah seorang tetangga meremehkan untuk memberikan sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya sepotong kaki kambing.” (HR. Al-Bukhari no. 6017 dan Muslim no. 2376)
Al-Imam An-Nawawi t menerangkan, “Janganlah seorang wanita menahan untuk memberi sedekah dan hadiah kepada tetangganya, karena kekurangannya yang ada pada dirinya dan ia meremehkan apa yang hendak diberikannya. Namun hendaknya ia bersifat dermawan, memberi apa yang mudah baginya untuk diberikan walaupun hanya sedikit, seperti sepotong kaki kambing. Itu lebih baik daripada tidak memberi sama sekali. Allah k telah berfirman:
“Siapa yang beramal kebaikan walaupun hanya seberat semut yang sangat kecil niscaya ia akan melihat balasannya.” (Az-Zalzalah: 7)
Nabi n bersabda:
اتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Takutlah kalian kepada api neraka walaupun (untuk menjaga diri dari neraka tersebut) kalian hanya dapat bersedekah dengan sepotong belahan kurma1.” (Al-Minhaj, 7/121)
Ketika Rasulullah n menyebutkan bahwa kaum wanita paling banyak menjadi penghuni neraka, beliau n memerintahkan mereka untuk banyak-banyak bersedekah. Sebagaimana pengabaran Abu Sa’id Al-Khudri z berikut ini, “Dalam satu hari raya, Idul Adha atau Idul Fithri, Rasulullah n keluar menuju mushalla (tanah lapang). Beliau melewati para wanita, maka beliau bersabda:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah. Karena diperlihatkan kepadaku mayoritas penduduk neraka adalah kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 304)
Kaum wanita diperintah bersedekah karena mayoritas mereka penghuni neraka. Dengan demikian, sedekah yang mereka keluarkan dapat menolak adzab api neraka dari mereka dengan izin Allah k, selain juga dengan banyak beristighfar, sebagaimana tambahan dalam riwayat Muslim dari hadits Ibnu ‘Umar c:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الْاِسْتِغْفَرَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (meminta ampun). karena aku melihat mayoritas penduduk neraka adalah kalian.” (HR. Muslim no. 238)
Boleh Bersedekah kepada Suami dan Anak
Sedekah yang utama adalah yang diberikan kepada kerabat terdekat. Karenanya, seorang wanita boleh memberikan sedekah kepada suaminya, bahkan mengeluarkan zakatnya untuk suaminya, bila memang suami termasuk orang yang berhak memperolehnya, dari kalangan orang-orang yang tersebut dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk fi sabilillah, dan ibnu sabil (musafir)….” (At-Taubah: 60)
Ini merupakan pendapat jumhur ulama, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ash-Shan’ani t dalam Subulus Salam (4/67).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata, “Ulama berdalil dengan hadits ini (hadits Zainab Ats-Tsaqafiyyah x yang akan disebutkan setelah ini, pent.) untuk membolehkan seorang wanita memberikan zakatnya kepada suaminya. Ini merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, Ats-Tsauri, dua murid Abu Hanifah, dan salah satu dari dua riwayat Al-Imam Malik dan Al-Imam Ahmad.” (Fathul Bari, 3/415)
Al-Imam Asy-Syaukani t menyatakan, “Secara zahir, boleh bagi istri menyerahkan zakatnya kepada suaminya. Pertama, karena tidak ada larangan dalam hal ini. Dan siapa yang mengatakan tidak boleh, hendaklah ia mendatangkan dalil. Kedua (dalam hadits Zainab Ats-Tsaqafiyyah x, pent.) Nabi n tidak minta perincian2. Berarti, sedekah di sini keberadaannya umum (mencakup yang sunnah dan yang wajib). Tatkala beliau tidak meminta perincian tentang sedekah tersebut apakah sifatnya sunnah ataukah wajib, seakan-akan beliau menyatakan (kepada Zainab), ‘Boleh bagimu memberikan sedekah kepada suamimu, sama saja baik sedekah yang fardhu (yaitu zakat, pent.) atau yang sunnah’.” (Nailul Authar, 4/224)
Zainab Ats-Tsaqafiyyah, istri Abdullah bin Mas’ud z, pernah minta izin menemui Rasulullah n. Ketika disebutkan nama Zainab di hadapan Rasulullah n, beliau bertanya:
أَيُّ الزَّياَنِبِ؟ فَقِيْلَ: امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُوْدٍ. قَالَ: نَعَمْ، ائْذنُوا لَهَا. فَأُذِنَ لَهَا، قَالَتْ: يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ، وَكَانَ عِنْدِي حُلِّيٌ لِي، فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهَا، فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ n: صَدَقَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيهِمْ
“Zainab yang mana?” Dijawab, “Istri Ibnu Mas’ud.” Beliau berkata, “Iya, izinkan dia masuk.” Maka diizinkanlah Zainab, ia bertanya, “Wahai Nabiyullah! Engkau hari ini memerintahkan kami bersedekah. Aku memiliki perhiasan, aku ingin menyedekahkannya. Namun Ibnu Mas’ud menganggap bahwa dirinya dan anaknya adalah orang yang paling pantas memperoleh sedekahku itu.” Nabi n bersabda, “Benar kata Ibnu Mas’ud, suami dan anakmu adalah orang yang paling pantas mendapatkan sedekahmu tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 1462)
Dalam riwayat lain disebutkan, Zainab Ats-Tsaqafiyyah x berkata:
كُنْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ n، فَقَالَ: تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ. وَكَانتْ زَيْنَبُ تُنْفِقُ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَأَيْتَامٍ فِي حِجْرِهَا. فَقَالَتْ لِعَبْدِ اللهِ: سَلْ رَسُوْلَ اللهِ n، أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ وَعَلَى أَيْتَامِي فِي حِجْرِيْ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ فَقَالَ: سَلِي أَنْتِ رَسُوْلَ اللهِ n. فَانْطَلَقْتُ إِلَى النَّبِيِّ n فَوَجَدْتُ امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ عَلَى الْبَابِ، حَاجَتُهَا مِثْلُ حَاجَتِيْ. فَمَرَّ عَلَيْنَا بِلاَلٌ، فَقُلْنَا: سَلِ النَّبِيَّ n أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي وَأَيْتاَمٍ لِي فِي حِجْرِي. وَقُلْنَا: لاَ تُخْبِرْ بِنَا. فَدَخَلَ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: مَنْ هُمَا؟ قَالَ: زَيْنَبُ. قَالَ: أَيُّ الزَّياَنِبِ؟ قَالَ: امْرَأَةُ عَبْدِ اللهِ. قَالَ: نَعَمْ، وَلَهَا أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ
“Aku pernah berada dalam masjid, ketika itu aku melihat Nabi n bersabda, ‘Bersedekahlah kalian (para wanita) walaupun dengan perhiasan kalian.’ Sementara Zainab biasa memberikan infak kepada Abdullah dan anak-anak yatim yang berada dalam pengasuhannya. Zainab berkata kepada Abdullah, ‘Tanyakan kepada Rasulullah n, apakah boleh bagiku memberikan infak kepadamu dan kepada anak-anak yatim yang dalam asuhanku?’ Abdullah berkata, ‘Kamu saja yang bertanya kepada Rasulullah.’ Aku pun pergi ke tempat Nabi n. Di depan pintu aku menjumpai seorang wanita dari kalangan Anshar, keperluannya (permasalahannya) sama dengan keperluanku. Ketika itu Bilal melewati kami, maka kami pun memanggilnya dan meminta kepadanya, ‘Tanyakan kepada Nabi n, apakah boleh bagiku memberikan infak kepada suamiku dan kepada anak-anak yatimku yang dalam asuhanku?’ Kami juga berpesan, ‘Jangan engkau beritahu kepada Nabi siapa kami berdua.’ Bilal pun masuk ke tempat Nabi dan bertanya kepada beliau. Setelahnya Rasulullah n bertanya, ‘Siapa dua wanita yang bertanya itu?’ Bilal menjawab, ‘Zainab.’ ‘Zainab yang mana?’ tanya Rasulullah n. Bilal menjawab, ‘Istri Abdullah.’ ‘Iya, boleh dan ia akan mendapatkan pahala karena menyambung hubungan kekerabatan dan pahala sedekah’.” (HR. Al-Bukhari no. 1466 dan Muslim no. 2315)

1 HR. Al-Bukhari dan Muslim
2 Ketika ditanya sehubungan dengan masalah Zainab Ats-Tsaqafiyyah x, apakah seorang istri boleh memberikan sedekahnya kepada suaminya. Beliau n menyatakan kebolehannya tanpa mempertanyakan apakah sedekah tersebut sedekah yang sunnah atau sedekah yang wajib (zakat).
3 Suaminya yang telah meninggal dunia.

Ummu Khalid Bintu Khalid

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Dari Sang Raja Najasyi tersampaikan ucapan salam bagi Rasulullah n yang mulia, melalui para muhajirin yang tiba dari negeri seberang. Di antara mereka, ada seorang gadis kecil yang kelak mendapatkan kemuliaan dari Rasulullah n, dipakaikan sehelai baju hadiah dari Sang Najasyi. Gadis kecil yang kelak turut meriwayatkan ilmu dari Rasulullah n.

Dia bernama Amah bintu Khalid bin Sa’id ibnul ‘Ash bin Umayyah bin ‘Abdi Syams, namun dia lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Khalid x. Ibunya bernama Humainah bintu Khalaf bin As’ad bin ‘Amir bin Bayadhah bin Subai’ bin Ju’tsumah bin Sa’d bin Malih bin ‘Amr bin Khuza’ah.
Khalid dan istrinya termasuk orang-orang yang menyambut datangnya Islam di awal kemunculannya. Tak ubahnya kaum muslimin yang lain, Khalid dan istrinya merasakan beratnya hidup sebagai seorang muslim di tengah masyarakat musyrikin di Makkah. Hingga akhirnya mereka harus menyelamatkan agama mereka ke negeri yang menjanjikan perlindungan, Habasyah. Di sanalah Humainah melahirkan putra-putri bagi Khalid, Sa’id bin Khalid dan Amah bintu Khalid.
Di negeri Habasyah, Amah atau Ummu Khalid tumbuh memasuki usia kanak-kanaknya. Sampai saatnya kaum muslimin di Habasyah harus menyusul Rasulullah n dan kaum muslimin yang lain ke Madinah.
Mereka bertolak menuju Madinah menumpang dua perahu. Sebelum mereka mengarungi lautan, Raja Najasyi sempat berpesan, “Sampaikanlah oleh kalian salamku kepada Rasulullah n!” Kaum muslimin pun menyampaikan salam Najasyi kepada Rasulullah n. Ummu Khalid kecil turut menyampaikan salam itu.
Suatu saat, Rasulullah n mendapatkan hadiah dari Najasyi. Di antaranya ada sehelai baju hitam kecil yang bercorak merah dan kuning. Beliau mengambilnya, lalu bertanya pada para sahabat, “Menurut kalian, untuk siapa kuberikan baju ini?” Para sahabat terdiam.
“Bawa kemari Ummu Khalid!” kata beliau kemudian. Ummu Khalid pun digendong ayahnya, datang ke hadapan Rasulullah n. Beliau pakaikan baju itu pada Ummu Khalid dengan tangan beliau sendiri. “Abli wa akhliqi!” kata beliau pada Ummu Khalid, dua atau tiga kali. Kemudian beliau mengamati corak baju yang dikenakan Ummu Khalid. ”Ini bagus, wahai Ummu Khalid! Ini bagus!” kata beliau sambil menunjuk corak baju itu.
Setelah berangkat dewasa, Ummu Khalid disunting oleh sahabat yang mulia, Az-Zubair ibnul ’Awwam z. Darinya lahir dua orang putra Zubair, ’Amr dan Khalid.
Ummu Khalid x sempat mendengar riwayat dari Rasulullah n, salah satunya tercantum dalam Shahih Al-Bukhari, ketika Ummu Khalid mendengar Rasulullah n memohon perlindungan kepada Allah l dari adzab kubur. Dia pun menyampaikan apa yang didengarnya kepada generasi setelahnya.
Ummu Khalid bintu Khalid, semoga Allah l meridhainya. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Sumber bacaan:
• Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar (8/28)
• Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (10/222-223)
• Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (3/470-471)
• Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (35/129-130)

Kedermawanan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Ketika anak mulai memasuki usia balita, biasanya ia mulai mengerti tentang apa itu ‘milik’. Dia mulai memahami, ada barang-barang miliknya, ada barang milik orang lain.

Namun kesadaran tentang milik ini terkadang –atau malah seringnya– disertai berkembangnya sifat ‘pelit’. Ada rasa keberatan bila dia harus memberikan sebagian miliknya kepada orang lain atau barang miliknya sekadar dipegang, dipinjam atau digunakan oleh orang lain. Yang seperti ini kadangkala menjadi biang pertengkaran si anak dengan saudara atau teman sepermainannya.

Keadaan seperti ini tentu tak dapat dibiarkan, karena sifat buruk ini bisa jadi akan terus berkembang dan melekat pada pribadi anak. Tentu kita tak ingin anak kita menjadi anak yang bakhil, karena sifat ini jelas-jelas dicela oleh Allah l. Dalam Kitab-Nya, Allah  l berfirman:

”Adapun orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, serta membenarkan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya  keadaan yang mudah. Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya tidak butuh kepada Allah, serta mendustakan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya keadaan yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)
Dalam ayat yang lain Allah k berfirman:
”Orang-orang yang bakhil dan menyuruh orang lain untuk berbuat bakhil, serta menyembunyikan karunia yang telah Allah berikan kepada mereka, dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” (An Nisa`: 37)
Begitu pula Rasulullah n juga menggambarkan bagaimana beratnya seorang yang bakhil memberikan hartanya. Al-Imam Bukhari t meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah z, bahwa dia mendengar Rasulullah n bersabda:
مَثَلُ الْبَخِيْلِ وَالْـمُنْفِقِ كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيْدٍ مِنْ ثَدْيِهِمَا إِلَى تَرَاقِيْهِمَا، فَأَمَّا الْـمُنْفِقُ فَلاَ يُنْفِقُ إِلاَّ سَبَغَتْ –أَوْ وَفَرَتْ– عَلَى جِلْدِهِ حَتَّى تُخْفِيَ بَنَانَهُ وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ، وَأَمَّا الْبَخِيْلُ فَلاَ يُرِيْدُ أَنْ يُنْفِقَ إِلاَّ لَزِقَتْ كُلُّ حَلْقٍ مَكَانَهُ، فَهُوَ يُوَسِّعُهَا وَلاَتَتَّسِعُ
”Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang suka berinfak seperti dua orang yang memakai jubah besi yang dia masukkan dari dada hingga kerongkongannya. Adapun orang yang suka berinfak, setiap kali dia berinfak jubahnya bertambah longgar dari kulitnya, sampai akhirnya menutupi jari-jemarinya dan menghapus jejak langkahnya (karena panjangnya, pen.). Adapun orang yang bakhil, setiap kali dia akan berinfak, maka menyempitlah baju besi itu, dia ingin melonggarkannya, tapi jubah itu tetap tidak bertambah longgar.” (HR. Al-Bukhari no. 1443)
Oleh karena itu, orangtua harus melatih anak-anak untuk menghilangkan sifat bakhil ini, disertai penanaman sifat dermawan. Anak-anak harus diajarkan, bahwa segala sesuatu yang dia miliki adalah rizki dari Allah l. Allah l-lah yang memberikannya dan Allah k yang memerintahkan kita untuk bersedekah dan berbuat baik. Allah k akan memberikan balasan yang lebih banyak bila kita mematuhi perintah-Nya untuk bersedekah. Allah lberfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada saat itu tidak ada jual beli, tidak ada hubungan kasih sayang dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Baqarah: 254)
Di ayat yang lain, Allah l juga berfirman:
“Dan apa pun yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (Saba`: 39)
Allah l berfirman pula:
“Maka bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian, dengar dan taatlah kalian kepada-Nya, serta infakkanlah harta yang baik bagi diri kalian, dan barangsiapa dilindungi dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghabun: 16)
Rasulullah n juga pernah memberikan hasungan kepada kita untuk senantiasa melapangkan diri untuk memberi. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah z, bahwa beliau n bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidak ada suatu hari yang dimasuki oleh seorang hamba, kecuali pada hari itu ada dua malaikat yang turun. Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, berikan ganti pada orang yang menginfakkan hartanya.’ Yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kemusnahan harta pada orang yang tidak mau memberi’.” (HR. Al-Bukhari no. 1442)
Benarlah berita yang dibawa oleh Rasulullah n ini. Sehingga sudah semestinya kita hasung anak-anak untuk memiliki sifat dermawan, dengan mengingatkan mereka akan doa malaikat bagi orang-orang yang berinfak.
Selain itu, bisa pula kita ceritakan, bagaimana kedermawanan Rasulullah n yang kita diperintah untuk mengikuti beliau n. Rasulullah n adalah orang yang paling dermawan. Tak pernah beliau menolak apabila diminta. Jabir bin ‘Abdillah z mengatakan:
مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ n شَيْئًا قَطُّ فَقَالَ: لاَ.
“Tak pernah sekalipun Rasulullah n diminta sesuatu kemudian beliau mengatakan ‘tidak’.” (HR. Muslim no. 2311)
Kedermawanan Rasulullah n ini sangat mengesankan siapa pun. Bahkan seseorang yang baru masuk Islam menjadi lunak hatinya dengan pemberian beliau ini, sehingga membuat dia mencintai Islam dan menjadi baik keislamannya. Diceritakan oleh Anas bin Malik z:
أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ n غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ: أَيْ قَوْمِ، أَسْلِمُوا، فَوَاللهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِي عَطَاءً مَا يَخَافُ الفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ: إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيْدُ إِلاَّ الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُوْنَ الْإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
”Ada seseorang meminta kepada Nabi n kambing sebanyak antara dua bukit. Beliau pun memenuhi permintaannya. Maka orang itu mendatangi kaumnya sambil berkata, ’Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad itu suka memberi dengan pemberian yang dia sendiri tidak khawatir akan fakir!’ Anas mengatakan, ’Tadinya orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia, sampai akhirnya setelah masuk Islam, Islam lebih dia cintai daripada dunia seisinya’.” (HR. Muslim no. 2312)
Sifat dermawan pada diri Rasulullah n tampak lebih menonjol saat tiba bulan Ramadhan. Karena itu, kita ajarkan pula anak-anak untuk banyak berbuat kebaikan dan banyak memberi saat bulan Ramadhan tiba. ’Abdullah bin ’Abbas c mengatakan:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ n حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ
”Rasulullah n adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam sepanjang bulan Ramadhan, lalu mengajari beliau Al-Qur’an. Maka ketika itulah Rasulullah n lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.” (HR. Al-Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)
Al-Imam An-Nawawi t mengatakan, hadits ini memiliki beberapa faedah, di antaranya penjelasan tentang besarnya kedermawanan Rasulullah n, serta disenanginya memperbanyak kedermawanan ini pada bulan Ramadhan. (Syarh Shahih Muslim, 15/68)
Biasanya, mengajarkan kebaikan pada anak bisa pula didukung dengan menyampaikan berbagai kisah yang benar. Mudah mereka mengingatnya dan membekas dalam hati. Demikian pula dalam hal mengajari mereka agar dermawan. Kisah-kisah tentang kedermawanan para sahabat cperlu kita tuturkan pada mereka, seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq z yang paling banyak menyerahkan harta dan persahabatannya untuk mendukung Rasulullah n. Juga seperti ’Utsman bin ’Affan z yang membeli sumur Ruumah milik seorang Yahudi dengan hartanya agar bisa diambil airnya oleh kaum muslimin. Demikian pula para sahabat lain yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah l.
Dari kalangan wanita, ada Ummul Mukminin ‘Aisyah x yang sangat gemar bersedekah sampai-sampai lupa menyisakan sedikit pun hartanya untuk berbuka puasa. Juga Ummul Mukminin Zainab bintu Khuzaimah x yang dijuluki Ummul Masakin, ibunda kaum miskin, karena senantiasa mengulurkan bantuan kepada orang-orang miskin. Begitu pula Ummul Mukminin Zainab bintu Jahsy yang paling banyak bersedekah di antara para istri Rasulullah n. Asma` bintu Abi Bakr x yang gemar membuat sesuatu kemudian hasilnya dia sedekahkan, dan masih banyak lagi.
Melalui biografi yang membeberkan kisah hidup para sahabat ini, mereka akan mengenal sosok mulia para sahabat g. Di samping itu, mereka akan mendapatkan teladan dari kisah yang mereka baca. Diharapkan, mereka akan bisa meniru kedermawanan para sahabat g.
Yang tak kalah pentingnya adalah teladan kita sebagai orangtua. Seorang anak yang melihat orangtuanya senantiasa memberikan kebaikan pada orang-orang yang ada di sekelilingnya, akan lebih mudah dibiasakan untuk bersifat dermawan. Diiringi pula doa kebaikan kita untuk mereka, agar Allah l jauhkan mereka dari sifat-sifat yang yang tercela dan menghiasi mereka dengan sifat-sifat yang mulia.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Nasihat Ayah Kepada Putrinya

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Ketika anak perempuannya telah menikah, orangtua tak serta merta lepas tangan begitu saja. Pendidikan serta bimbingan mereka masih diperlukan meskipun hal itu menjadi tanggung jawab utama sang suami.

Dengan terjalinnya ikatan pernikahan, perwalian seorang anak perempuan berpindah dari sang ayah kepada suaminya. Suaminya lah kini yang mengambil alih tugas sang ayah untuk mendidik, membimbing, menjaga serta menghidupinya. Suamilah yang bertanggung jawab memberikan pengajaran agama kepada istrinya guna menyelamatkannya dari api neraka, menasihatinya ketika menyimpang dari kebenaran serta meluruskannya.
Namun demikian, bukan berarti seorang ayah kemudian tutup mata dari kesalahan putrinya ketika ia telah berumah tangga, merasa tidak perlu lagi menasihatinya dan membimbing tangannya kepada kebenaran. Bahkan semestinya, ketika memang dibutuhkan, seorang ayah membantu anak menantunya (suami putrinya) dengan turut memberikan arahan yang positif kepada putrinya dalam rangka melanggengkan kebersamaan putrinya bersama sang suami. Kita ambil contoh apa yang dilakukan oleh seorang ayah yang bijak, Umar ibnul Khaththab z, ketika menasihati Hafshah putrinya, dalam persoalan dengan suaminya, Rasul yang mulia n.
Kisahnya tercatat dengan panjang dalam sebuah hadits yang agung. Agar kita tak luput dari faedahnya, kita bawakan makna haditsnya secara lengkap.
Abdullah bin Abbas c berkisah, “Aku terus berkeinginan kuat untuk bertanya kepada Umar ibnul Khaththab z tentang siapakah dua istri Nabi n yang dinyatakan  dalam firman Allah l:
“Apabila kalian berdua bertaubat kepada Allah, maka sungguh hati kalian berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)….” (At-Tahrim: 4)
Hingga ketika aku berhaji bersamanya, aku mendapatkan kesempatan itu. Saat itu Umar berbelok dari jalan yang semestinya dilalui karena hendak buang hajat. Aku pun ikut belok bersamanya dengan membawa seember air. Seselesainya dari buang hajat, aku menuangkan air di atas kedua tangannya, hingga ia pun berwudhu. Aku pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah dua orang istri Nabi n yang Allah l nyatakan dalam firman-Nya:
Umar menjawab, “Mengherankan sekali kalau engkau sampai tidak tahu siapa keduanya, wahai Ibnu Abbas! Keduanya adalah Aisyah dan Hafshah.”
Kemudian Umar mulai berkisah sebab turunnya ayat tersebut. Katanya, “Aku dan tetanggaku dari Anshar berdiam di Bani Umayyah bin Zaid, mereka ini termasuk penduduk yang bermukim di kampung-kampung dekat kota Madinah. Kami berdua biasa saling bergantian untuk turun menemui Nabi n guna mendengarkan ilmu yang beliau sampaikan, sehari gilirannya dan hari berikutnya giliranku. Bila giliran aku yang turun dan aku mendapati berita hari tersebut, baik berupa wahyu ataupun selainnya, aku mesti datang menemui temanku guna menyampaikan semua yang kudapatkan. Bila gilirannya, ia pun melakukan hal yang sama.
Kami ini orang-orang Quraisy sangat dominan atas istri-istri kami, mereka tunduk sepenuhnya pada kehendak kami dan kami tidak pernah melibatkan mereka sedikitpun dalam urusan kami. Tatkala kami datang ke negeri orang-orang Anshar, kami dapati ternyata mereka dikalahkan oleh istri-istri mereka. Istri-istri mereka turut angkat suara dalam urusan mereka dan berani menjawab. Maka mulailah wanita-wanita kami mengambil dan mencontoh kebiasaan wanita-wanita Anshar. Suatu ketika, aku marah kepada istriku, ternyata ia berani menjawab ucapanku dan membantahku, aku pun mengingkari hal tersebut. Istriku malah berkata, “Mengapa engkau mengingkari apa yang kulakukan? Padahal demi Allah, istri-istri Nabi n berani menjawab dan membantah beliau. Sungguh salah seorang dari mereka pernah sampai memboikot Nabi n dari awal siang sampai malam hari.”
Aku terkejut dengan penyampaian istriku, “Sungguh merugi yang melakukan hal itu,” tukasku. Kemudian aku mengenakan pakaianku secara lengkap, lalu turun ke Madinah menuju rumah putriku Hafshah.
“Wahai Hafshah, apakah benar salah seorang dari kalian pernah marah pada Nabi n dari awal siang hingga malam hari?” tanyaku meminta keterangan.
“Iya,” jawab Hafshah.
“Kalau begitu engkau merugi, apakah engkau merasa aman bila Allah  l sampai murka disebabkan Rasulullah n dibuat marah, hingga akhirnya engkau akan binasa? Jangan engkau banyak meminta kepada Nabi n, jangan engkau menjawabi dan membantah beliau dalam suatu perkara pun serta jangan berani memboikot beliau. Mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan. Jangan sekali-kali membuatmu tertipu dengan keberadaan madumu, Aisyah, ia lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Nabi n.” Demikian aku menasihati  Hafshah.
Sebelumnya kami telah memperbincangkan bahwa Ghassan telah memakaikan sepatu pada kuda-kudanya guna memerangi kami.
Turunlah temanku si orang Anshar pada hari gilirannya. Pada waktu Isya’, ia kembali pada kami. Diketuknya pintu rumahku dengan keras seraya berkata, “Apa di dalam rumah ada Umar?” Aku terkejut lalu keluar menemuinya. Temanku itu berkata, “Pada hari ini telah terjadi peristiwa besar.”
“Apa itu? Apakah Ghassan telah datang?” tanyaku tak sabar.
“Bukan, bahkan lebih besar dari hal itu dan lebih mengerikan. Nabi n telah menceraikan istri-istrinya,” jawabnya.
“Telah merugi Hafshah. Sungguh sebelumnya aku telah mengkhawatirkan ini akan terjadi,” tukasku.
Kemudian kukenakan pakaian lengkapku, lalu turun ke Madinah hingga aku menunaikan shalat fajar (shubuh) bersama Nabi n. Selesai shalat Nabi n masuk ke masyrabah1nya dan memisahkan diri dari istri-istrinya di tempat tersebut. Aku pun masuk ke rumah Hafshah, ternyata kudapati ia sedang menangis, “Apa yang membuatmu menangis?” tanyaku. “Bukankah aku telah memperingatkanmu dari hal ini, apakah Nabi n menceraikan kalian?”
“Saya tidak tahu. Beliau sedang menyepi di masyrabahnya,” jawab Hafshah.
Aku keluar dari rumah Hafshah, masuk ke masjid dan mendatangi mimbar, ternyata di sekitarnya ada beberapa orang, sebagian mereka tengah menangis. Aku duduk sebentar bersama mereka, namun kemudian mengusik hatiku kabar yang kudapatkan hingga aku bangkit menuju ke masyrabah di mana Nabi n sedang berdiam di dalamnya. “Mintakan izin Umar untuk masuk,” ucapku kepada Rabah, budak hitam milik beliau yang menjaga masyrabahnya. Ia pun masuk dan berbicara dengan Nabi n, kemudian kembali menemuiku. “Aku telah berbicara kepada Nabi dan aku menyebut dirimu di hadapan beliau namun beliau diam saja,” ujarnya.
Aku berlalu, hingga kembali duduk bersama sekumpulan orang yang berada di sisi mimbar. Hatiku kembali terusik dengan kabar yang kudapatkan hingga aku bangkit menuju ke masyrabah, bertemu dengan Rabah dan berkata kepadanya, “Mintakan izin untuk Umar.” Ia masuk ke masyrabah kemudian kembali menemuiku. “Aku telah menyebut dirimu di hadapan beliau namun beliau diam saja,” ujarnya.
Aku kembali duduk bersama sekumpulan orang yang berada di sisi mimbar. Namun kemudian hatiku kembali terusik dengan kabar yang kudapatkan hingga untuk ketiga kalinya aku bangkit menuju ke masyrabah, bertemu dengan Rabah dan berkata kepadanya, “Mintakan izin untuk Umar.” Ia masuk ke masyrabah kemudian kembali menemuiku. “Aku telah menyebut dirimu di hadapan beliau namun beliau diam saja,” ujarnya lagi.
Ketika aku hendak berbalik pergi, tiba-tiba Rabah memanggilku, “Nabi n telah mengizinkanmu untuk masuk,” katanya.
Aku segera masuk menemui Rasulullah n, ternyata beliau sedang berbaring di atas tikar, tidak ada alas di atasnya hingga tampak bekas-bekas kerikil di punggung beliau, bertelekan di atas bantal dari kulit yang berisi sabut. Aku mengucapkan salam kepada beliau, kemudian dalam keadaan berdiri aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menceraikan istri-istrimu?”
Beliau mengangkat pandangannya, “Tidak,” jawab beliau.
“Allahu Akbar,” sambutku. Masih dalam keadaan berdiri aku berkata, “Izinkan aku untuk melanjutkan pembicaraan, wahai Rasulullah! Kita dulunya orang-orang Quraisy mengalahkan istri-istri kita, namun ketika kita datang ke Madinah kita dapati mereka dikalahkan oleh istri-istri mereka.” Nabi n tersenyum. Aku kembali bicara, “Wahai Rasulullah, andai engkau melihatku masuk ke tempat Hafshah, aku katakan padanya, ‘Jangan sekali-kali membuatmu tertipu dengan keberadaan madumu, Aisyah, ia lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Nabi n’.” Nabi n tersenyum lagi, aku pun duduk ketika melihat senyuman beliau. Kemudian aku mengangkat pandanganku melihat isi masyrabah tersebut, maka demi Allah aku tidak melihat ada sesuatu di tempat tersebut kecuali tiga lembar kulit, aku pun berkata, “Mohon  engkau  berdoa kepada Allah l agar Allah k memberikan kelapangan hidup bagi umatmu, sungguh Allah l telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah l.”
Nabi n duduk dari posisi bersandarnya, seraya berkata, “Apakah engkau seperti itu, wahai putranya Al-Khaththab? Sungguh mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rizki yang baik-baik) mereka di dalam kehidupan dunia.”
“Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampun untukku,” pintaku.
Nabi n memisahkan diri dari istri-istrinya selama 29 malam disebabkan pembicaraan (rahasia) yang disebarkan oleh Hafshah kepada Aisyah c. Beliau mengatakan, “Aku tidak akan masuk menemui mereka selama sebulan,” hal ini beliau lakukan karena kemarahan beliau yang sangat kepada mereka di mana Allah l sampai mencela beliau dikarenakan perkara dengan mereka.”
Hadits di atas dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari t dalam kitab Shahih-nya no. 5191, dengan judul bab Mau’izhah Ar-Rajul Ibnatahu li Hali Zaujiha, artinya: Nasihat seseorang kepada putrinya karena perkara dengan suaminya. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya no. 3679.
Dalam hadits ini, kata Al-Imam An-Nawawi t, terkandung adanya pengajaran seorang ayah kepada anaknya, baik anaknya masih kecil ataupun telah dewasa, atau bahkan telah menikah, karena Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Umar c memberikan ta`dib “pendidikan/pengajaran” kepada kedua putri mereka, bahkan sampai memukul putri mereka2. (Al-Minhaj, 9/333)
Al-Qadhi `Iyadh t dalam Al-Ikmal, kitab yang berisi penjelasan beliau terhadap hadits-hadits dalam Shahih Muslim, menyatakan bahwa dalam pemberian ta’dib  Umar dan Abu Bakr c kepada kedua putri mereka menunjukkan bolehnya hal itu dilakukan oleh para ayah terhadap anak-anak mereka yang telah besar dan anak-anak perempuan mereka yang telah menikah. Al-Qadli t juga menyatakan bahwa dalam hadits di atas menunjukkan bagusnya pergaulan Rasulullah n dengan istri-istri beliau serta sabarnya beliau menghadapi rasa cemburu mereka dan akhlak mereka, sebagaimana beliau menghasung para suami untuk memperbaiki pergaulan dengan para istri, bersabar atas kebengkokan mereka, dan bernikmat-nikmat (istimta’) dengan mereka di atas kebengkokan tersebut3. (Al-Ikmal, 5/42,43)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t menyebutkan beberapa faedah dari hadits di atas, di antaranya:
q Terlalu menekan istri adalah perbuatan tercela karena Nabi n mengambil kebiasaan orang Anshar dalam urusan istri-istri mereka dan meninggalkan kebiasaan kaumnya (orang Quraisy).
q “Pengajaran” seorang ayah kepada putrinya dengan memberikan nasihat guna membaikkan si putri dalam hubungannya dengan suaminya.
q Bolehnya ayah masuk ke rumah putrinya yang sudah menikah walaupun tanpa seizin suaminya.
q Bersabar dengan istri, tidak ambil pusing dengan pembicaraan mereka serta memaafkan ketergeliciran mereka dalam menunaikan hak suami, kecuali bila berkaitan dengan hak Allah l. (Fathul Bari, 9/362)

1 Kamar yang tinggi, untuk naik ke atasnya harus memakai tangga, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas c dari cerita Umar ibnul Khaththab z kepadanya:
فَإِذَا رَسُولُ اللهِ n فِي مَشْرَبَةٍ لَهُ يَرْقَى عَلَيْهَا بِعَجَلَةٍ
“Ternyata Rasulullah n  berada di masyrabahnya, beliau naik ke atasnya dengan menggunakan tangga dari pelepah kurma.” (HR. ِAl-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)
2 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir bin Abdillah c berikut ini:
دَخَلَ أَبُوْ بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ n فَوَجَدَ النَّاسَ جُلُوْسًا بِبَابِهِ، لَمْ يُؤْذَنْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. قَالَ: فَأُذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ، فَدَخَلَ. ثُمَّ أَقْبَلَ عُمَرُ فَاسْتَأْذَنَ، فَأُذِنَ لَهُ، فَوَجَدَ النَّبِيَّ n جَالِسًا، حَوْلَهُ نِسَاؤُهُ، وَاجِمًا سَاكِتًا.
Abu Bakr masuk minta izin untuk menemui Rasulullah  n, ia dapatkan orang-orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, tidak ada seorang pun dari mereka yang diizinkan masuk. Jabir berkata, “Abu Bakr diizinkan maka ia pun masuk. Kemudian datang Umar meminta izin, ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi n sedang duduk dalam keadaan sedih terdiam, di sekitar beliau ada istri-istrinya.”
Jabir melanjutkan haditsnya, di antaranya disebutkan ucapan Rasulullah n:
هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ. فَقَامَ أَبُوْ بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلاَهُمَا يَقُوْلُ: تَسْأَلْنَ رَسُوْلَ اللهِ n مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟
“Mereka (istri-istri beliau) ada di sekelilingku sebagaimana yang engkau lihat, mereka meminta nafkah kepadaku.” Mendengar hal itu bangkitlah Abu Bakar menuju putrinya Aisyah lalu memukul lehernya. Bangkit pula Umar ke arah putrinya Hafshah lalu memukul lehernya. Abu Bakar dan Umar berkata, “Apakah kalian meminta kepada Rasulullah n sesuatu yang tidak ada pada beliau?” (HR. Muslim no. 3674)
Ada pula kisah ta`dib yang dilakukan Abu Bakr z terhadap putrinya Aisyah d sebagaimana yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, Abu Dawud dalam Sunan-nya, dan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Disebutkan bahwa Abu Bakr minta izin masuk ke rumah Rasulullah n, lalu ia mendengar suara Aisyah yang keras kepada Rasulullah n, Abu Bakr pun hendak memukul putrinya seraya berkata, “Wahai putrinya Fulanah, apakah kau berani bersuara keras terhadap Rasulullah n?!” Namun Rasulullah n menghalangi Abu Bakr dan menahannya. Abu Bakr kemudian keluar dalam keadaan marah. Setelahnya Rasulullah n berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, bagaimana yang engkau lihat tadi, bukankah aku telah menyelamatkanmu dari ayahmu?” Beberapa hari kemudian, datang lagi Abu Bakr minta izin masuk ke rumah Rasulullah n, ternyata didapatkannya Rasulullah n telah berdamai dengan Aisyah, maka Abu Bakr berkata kepada keduanya, “Masukkanlah aku ke dalam perdamaian ini sebagaimana kalian memasukkan aku ke dalam pertikaian yang lalu.” Rasulullah n menjawab, “Sungguh kami telah melakukannya. Sungguh kami telah melakukannya.”
Namun hadits ini lemah sanadnya (dhaiful isnad) sebagaimana dinyatakan Al-Imam Al-Albani t dalam Dhaif Abi Dawud.
3 Sebagaimana tersebut dalam hadits Rasulullah n:
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإنَّ أَعْوَجَ شَيْء فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya, engkau bisa bernikmat-nikmat namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)

Makna dan Kandungan Lailahaillallah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَه وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,

Segala puji kita panjatkan kepada Allah l, Rabb yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta. Kita senantiasa memuji Allah l karena keagungan dan kesempurnaan-Nya, serta karena keadilan hukum-hukum-Nya dan hikmah yang ada di balik ketentuan-ketentuan-Nya.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita sentiasa menjaga diri kita dari adzab api neraka. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah l dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih perintah yang paling besar yaitu tauhid, dan larangan yang paling besar yaitu berbuat syirik. Karena pentingnya hal ini, Allah l menjadikan tauhid sebagi perintah yang pertama di dalam Al-Qur`an. Yaitu di dalam firman-Nya:

“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21)

Kemudian Allah l mengiringkan perintah tauhid ini dengan larangan yang pertama di dalam Al-Qur`an, yaitu perbuatan syirik. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

“Maka, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22)

 

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah,

Sungguh merupakan pemandangan yang sangat memprihatinkan, ketika kita dapati ternyata banyak di antara kaum muslimin yang masih melakukan perbuatan syirik ini. Di antara perbuatan syirik yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah menjadikan orang-orang yang sudah meninggal dunia sebagai perantara dalam meminta kepada Allah l, sehingga iapun meminta dan berdoa kepadanya. Sebagian mereka menganggap bahwa perbuatan yang mereka lakukan bukanlah syirik. Karena mereka menyangka bahwa syirik adalah beribadah kepada patung. Sementara mereka berdoa kepada orang yang dianggap shalih yang telah meninggal dunia, dan itupun hanya sebatas menjadikan mereka sebagai perantara. Tidak meyakini bahwa orang shalih yang telah meninggal tersebut bisa menghilangkan kesulitan atau mengabulkan apa yang mereka butuhkan. Bahkan mereka meyakini bahwa Allah l sajalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta.

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Ketahuilah, bahwa orang-orang kafir di zaman Nabi n bukanlah orang-orang yang mengingkari bahwa Allah l adalah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta ini. Allah l menyebutkan tentang mereka dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’.” (Luqman: 25)

Orang-orang musyrikin dahulu, juga bukan orang-orang yang hanya beribadah pada patung saja. Mereka juga beribadah kepada kuburan orang-orang yang dianggap shalih. Bahkan perbuatan syirik yang pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah berupa peribadatan kepada orang shalih yang telah meninggal dunia, sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah l :

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan yang kalian ibadahi dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (sesembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (Nuh: 23)

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa sahabat Abdullah ibnu ‘Abbas c menerangkan berkaitan dengan ayat tersebut: “Nama-nama yang disebutkan di dalam ayat tersebut adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh q. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh q untuk meletakkan pada majelis-majelis mereka patung/prasasti untuk mengenang orang shalih tersebut. Dan (setan membisikkan) agar mereka memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama orang shalih (yang telah meninggal) tadi. Merekapun mengikuti bisikan setan tersebut. Pada awalnya patung-patung tersebut tidak mereka ibadahi. Namun ketika datang generasi setelah mereka dan juga setelah ilmu dilupakan, akhirnya patung/prasasti tersebut diibadahi.”

Adapun keyakinan mereka bahwa orang shalih yang telah meninggal dunia tersebut sekadar dijadikan perantara, tanpa meyakini bahwa mereka bisa menghilangkan musibah dan yang lainnya, adalah keyakinan yang tidak berbeda dengan keyakinan orang-orang musyrikin di zaman dahulu. Allah l menyebutkan tentang mereka di dalam firman-Nya:

“Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada Kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Dari ayat-ayat tersebut kita mengetahui bahwa perbuatan menjadikan orang yang telah meninggal dunia sebagai perantara dalam meminta kepada Allah l adalah agama orang-orang musyrikin. Bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah n. Bahkan itu adalah agama Abu Jahl dan Abu Lahab serta orang-orang musyrikin dahulu. Bahkan bisa jadi, orang-orang musyrikin zaman sekarang lebih jelek dibandingkan orang-orang musyrikin di zaman dahulu. Karena mereka meminta pertolongan kepada orang yang meninggal dunia tersebut bukan hanya ketika dalam keadaan tenang saja. Bahkan ketika ditimpa musibahpun mereka masih melakukan hal itu. Sementara orang-orang musyrikin di zaman dahulu, ketika ditimpa bencana mereka meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah l. Meskipun ketika diselamatkan oleh Allah l dari bencana, mereka kembali berpaling dari Allah l dan beribadah kepada selain-Nya. Allah l menyebutkan di dalam firman-Nya:

“Dan apabila menimpa kalian (orang-orang kafir) suatu bahaya di lautan, niscaya hilanglah seluruh yang kalian ibadahi kecuali Allah, maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian pun berpaling. Dan manusia itu adalah banyak mengingkari nikmat Allah.” (Al-Isra`: 67)

 

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,

Yang sangat mengherankan adalah bahwa perbuatan syirik ini justru dilakukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai tokoh Islam. Akibat dari perbuatan mereka ini, syirik atau hal-hal yang akan menyeret kepada perbuatan syirikpun menjadi lebih tersebar di kalangan masyarakat. Masjid-masjid yang dibangun kuburan di dalamnya tersebar di mana-mana. Begitu pula kuburan-kuburan yang dikeramatkan dibangun sedemikian rupa sehingga menyerupai rumah atau bahkan masjid. Hal ini adalah perkara yang tidak diajarkan oleh Islam, bahkan akan menyeret pada perbuatan syirik.

Rasulullah n sebagaimana tersebut dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, telah mengingatkan dalam sabdanya:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ؛ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوْا

“Semoga Allah l melaknat Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat beribadah.” Beliau n mengingatkan (umatnya) dari apa yang mereka lakukan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau n dan para sahabatnya juga memerintahkan agar setiap kuburan yang tingginya melebihi satu jengkal untuk diratakan, sehingga tingginya tidak lebih dari satu jengkal. Sebagaimana tersebut dalam hadits:

أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ n؟ أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Maukah engkau aku utus dengan sesuatu yang aku diutus dengannya oleh Rasulullah n? Jangan engkau biarkan patung (makhluk yang bernyawa) kecuali engkau harus menghilangkannya, dan (jangan engkau biarkan) kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan (menjadi satu jengkal).” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk hati-hati dan waspada terhadap orang-orang yang menyampaikan agama ini tanpa ilmu. Janganlah kita tertipu dengan mereka yang berdalih dalam rangka mencintai orang shalih. Padahal yang mereka lakukan adalah perkara yang dilarang dalam Islam, yaitu berlebih-lebihan terhadap orang shalih yang akan menyeret pada perbuatan syirik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peringatan bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-shawab.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه أَجْمَعِيْنَ

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah l,

Marilah kita berusaha untuk senantiasa mempelajari agama Allah l dan mengamalkannya. Karena ilmu adalah cahaya. Barangsiapa mencarinya maka Allah l akan mudahkan jalannya menuju surga. Sedangkan kebodohan adalah kegelapan yang akan menyeret seseorang ke dalam kesesatan di dunia dan kesengsaraan di akhirat.

 

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,

Ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah dikatakan beriman kepada Allah l kecuali dengan mentauhidkan-Nya. Sementara itu tidaklah seseorang dikatakan bertauhid kecuali dengan berlepas diri dari syirik. Sehingga apabila seseorang belum meninggalkan syirik, maka ibadah dan kebaikan sebanyak apapun yang dilakukannya tidak akan ada nilainya di sisi Allah l. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (yaitu amalan orang-orang yang tidak beriman), lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)

 

Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah l,

Ketahuilah bahwa tauhid adalah makna yang terkandung dalam dalam kalimat Laa ilaaha illallah yang senantiasa kita ucapkan. Sehingga orang yang telah menyatakan dirinya bersaksi dengan kalimat ini, harus mentauhidkan Allah l. Yaitu dengan mengarahkan seluruh bentuk ibadahnya hanya kepada Allah l dan harus meninggalkan segala peribadatan kepada selain-Nya. Karena kalau dia berbuat syirik, maka seluruh ibadah yang dilakukan baik berupa shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, membaca Al-Qur`an dan yang lainnya, akan gugur dan tidak ada manfaatnya. Hal ini sebagaimana terekam dalam firman Allah l:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

 

Saudara-saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah,

Tauhid inilah yang tidak diterima oleh orang-orang kafir Quraisy ketika Rasulullah n dahulu diutus kepada mereka. Allah l menyebutkan jawaban mereka ketika diperintah untuk mengucapkannya di dalam firman-Nya:

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shad: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir Quraisy tidak mau mengucapkannya karena mereka mengetahui makna kalimat ini. Yaitu, mereka harus meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah k. Hal inilah yang tidak mau mereka terima.

 

Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,

Maka sungguh sangat memprihatinkan, ketika ada seorang muslim yang tidak mengetahui makna Laa ilaaha illallah. Apa kelebihannya dari kafir Quraisy, apabila dia mengucapkan kalimat yang agung ini namun tidak mengetahui maknanya? Maka dari itu, wajib bagi kita semuanya untuk memahami dan mengamalkan kandungan kalimat Laa ilaaha illallah ini. Janganlah kita menyangka bahwa kalimat ini cukup dan sudah bermanfaat dengan hanya diucapkan saja dan tidak perlu dipahami maknanya. Bukankah dahulu orang-orang munafiq juga mengucapkannya di hadapan Rasulullah n? Namun di mana akhir keberadaan mereka? Allah l menyebutkan bahwa mereka nantinya akan dimasukkan ke dasar api neraka. Nas`alullah as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah l dari terkena api neraka).

 

Jamaah jum’ah rahimakumullah,

Akhirnya, marilah kita menjauhi dan berlepas diri dari perbuatan syirik, sebagai bentuk pengamalan kita dari kalimat yang agung ini. Begitu pula, marilah kita berusaha menjalankan perintah-perintah Allah l yang lainnya dan menjauhi seluruh larangan-Nya sehingga kita akan semakin sempurna dalam menjalankan kalimat tauhid ini.

Mudah-mudahan Allah l memberikan pertolongan kepada kita semua agar dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa untuk kemudian mendapatkan kenikmatan surga yang dijanjikan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.

وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Bolehkah Menjadi Pembantu / Pelayan Orang Kafir?

Pertanyaan: Apakah dibolehkan bagi seorang muslim untuk menjadi pembantu orang non-muslim? Dan bila dibolehkan, bolehkah menyajikan makanan untuk mereka pada siang hari bulan Ramadhan?

Al-Lajnah menjawab:

Islam adalah agama yang toleran dan mudah. Bersamaan dengan itu, Islam adalah agama yang adil. Hukum seorang muslim menjadi pembantu bagi orang kafir, berbeda sesuai dengan tujuannya. Bila tujuannya adalah syar’i, dengan mewujudkan hubungan baik antara dia dengan orang kafir itu sehingga dia bisa mendakwahinya kepada Islam dan menyelamatkannya dari kekafiran dan kesesatan, ini adalah tujuan yang mulia. Dan di antara kaidah yang telah tetap dalam syariat ini: “Sarana-sarana hukumnya seperti hukum tujuannya.” Bila tujuannya adalah perkara yang wajib, maka sarana itu menjadi wajib pula. Dan bila tujuannya adalah perkara haram, maka sarana itu menjadi haram.

Bila dia tidak memiliki tujuan yang syar’i, maka dia tidak boleh menjadi pembantu mereka. Ini terkait dengan perkara-perkara yang sifatnya mubah.

Adapun menjadi pembantu dalam menyajikan makanan dan minuman yang haram, seperti daging babi dan khamr, tidak diperbolehkan secara mutlak. Karena memuliakan mereka dengan menyajikan hal-hal itu merupakan suatu bentuk maksiat kepada Allah l dan taat kepada mereka dalam hal kemaksiatan. Juga merupakan bentuk mendahulukan hak mereka daripada hak Allah l. Seorang muslim wajib berpegang teguh dengan agamanya.

Adapun menyajikan makanan untuk mereka pada siang hari bulan Ramadhan, juga tidak diperbolehkan secara mutlak. Karena ini merupakan perbuatan menolong mereka dalam hal yang Allah l haramkan. Dan sudah maklum dari syariat yang suci ini, bahwa orang-orang kafir juga terkena seruan (untuk melaksanakan) syariat ini, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang)-nya. Tidak diragukan bahwa puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam, dan orang-orang kafir juga terkena kewajiban untuk melaksanakannya dengan (terlebih dahulu) merealisasikan syaratnya, yaitu masuk Islam. Sehingga, seorang muslim tidak boleh membantu mereka untuk tidak melaksanakan hal yang Allah l wajibkan atas mereka. Sebagaimana tidak boleh membantu mereka pada perkara yang mengandung penistaan dan penghinaan terhadap si muslim tersebut, seperti menyajikan makanan untuk mereka, dan semacamnya.

Hanya Allah l-lah yang memberikan taufik. Shalawat dan salam Allah l semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad n, keluarga, dan para sahabat beliau.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq ‘Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa Al-Lajnah, 14/474-475, fatwa no. 1850)