Keutamaan Iffah dan Bersabar

(ditulis oleh: Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di)

Abu Sa’id al-Khudri z menyampaikan sabda Rasulullah n yang mulia:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah l akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421) Lanjutkan membaca Keutamaan Iffah dan Bersabar

Haramkah Wanita Memperdengarkan Suaranya?

Apakah suara wanita haram sehingga ia tidak boleh berbicara dengan pemilik warung/kios di pasar guna membeli kebutuhannya, walaupun tanpa membaguskan dan melembutkan suaranya? Begitu pula, dengan rasa malu ia mengajak bicara tukang jahit saat ia hendak menjahitkan pakaiannya?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Ucapan wanita tidaklah haram dan bukan aurat. Akan tetapi, bila si wanita melunakkan suaranya dan melembutkannya, serta berucap dengan gaya bicara yang bisa membuat orang lain tergoda, itu baru haram. Ini berdasarkan firman Allah l:
“Maka janganlah kalian tunduk dalam ucapan hingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (Al-Ahzab: 32)
Dalam ayat di atas, Allah l tidak mengatakan, “Maka janganlah kalian berbicara dengan para lelaki.” Tetapi, Allah l mengatakan, “Maka janganlah kalian tunduk dalam ucapan.”
Tunduk dalam ucapan lebih khusus daripada berbicara secara mutlak1.
Dengan demikian, tidak mengapa seorang wanita berucap kepada lelaki bila tidak menimbulkan fitnah. Dahulu ada wanita mendatangi Nabi n dan mengajak bicara beliau, sementara orang-orang mendengar ucapan si wanita dan Nabi n pun menjawab ucapannya. Hal itu tidaklah dianggap sebagai kemungkaran.
Hanya saja, tidak boleh berduaan saat berbincang dengan seorang wanita, melainkan harus ditemani mahram si wanita dan tidak menimbulkan fitnah. Karena itulah, seorang lelaki tidak diperkenankan menikmati suara wanita, sama saja baik ia menikmatinya sebagai kesenangan yang biasa (karena kemerduan suaranya, misalnya, pen.) maupun karena kesenangan syahwat. Wallahul muwaffiq.” (Fatawa Manaril Islam, 3/835—836, dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 688)

Melembutkan Suara

Allah l berfirman:
“Maka janganlah kalian tunduk dalam ucapan hingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (Al-Ahzab: 32)
sementara diketahui, tabiat seorang remaja putri, ia merasa malu dan memerah wajahnya bila berbicara dengan lelaki mana pun. Apakah ini termasuk hal yang dilarang bila sampai suaranya berubah saat ia terpaksa berbicara?

Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pertama: Seorang wanita tidak boleh berbicara dengan lelaki yang bukan mahramnya (ajnabi) kecuali bila dibutuhkan dan dengan suara yang tidak membangkitkan syahwat lelaki. Juga si wanita tidak boleh memperluas pembicaraan dengan lelaki ajnabi melebihi kebutuhan.
Kedua: Melembutkan suara yang dilarang dalam Al-Qur’an adalah melunakkan suara dan membaguskannya sehingga dapat membangkitkan fitnah. Oleh karena itu, seorang wanita tidak boleh mengajak bicara lelaki ajnabi dengan suara yang lembut. Ia tidak boleh pula berbicara dengan lelaki ajnabi sebagaimana berbicara dengan suaminya, karena hal tersebut dapat menggoda, menggerakkan syahwat, dan terkadang menyeret kepada perbuatan keji. Sementara itu, telah dimaklumi bahwa syariat yang penuh hikmah ini datang untuk menutup segala jalan/perantara yang mengantarkan kepada hal yang dilarang.
Adapun perubahan suara si wanita karena malu tidaklah termasuk melembutkan suara. Wallahu a’lam.”
(Jaridah al-Muslimun no. 68, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hal. 689—690)

THAHARAH MERUPAKAN SYARAT SAHNYA THAWAF?

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata, “Jumhur ulama berpendapat, thaharah merupakan syarat pelaksanaan thawaf, berdasarkan hadits Ibnu Abbas c:
الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ اللهَ أَبَاحَ فِيْهِ الْكَلاَمَ
“Thawaf di Baitullah adalah shalat. Hanya saja, Allah l membolehkan berbicara dalam thawaf.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t memilih pendapat lain, yaitu thaharah bukanlah syarat, sehingga boleh dan sah bagi orang yang berhadats kecil untuk melakukan thawaf. Beliau berdalil dengan dalil-dalil yang kuat1. Siapa yang melihat dalil-dalil tersebut akan jelas baginya bahwa itu adalah haq (maksudnya, pendapat Ibnu Taimiyah adalah benar, pen.)
Adapun hadits “Thawaf di Baitullah adalah shalat…”2 tidak shahih dari Nabi n. Akan tetapi, riwayat ini mauquf sampai Ibnu Abbas c (yakni, ucapan Ibnu Abbas saja)3, dan yang dimaksud oleh Ibnu Abbas dengan ucapan tersebut4, wallahu a’lam, thawaf hukumnya sama dengan hukum shalat ditinjau dari sisi yang mengerjakannya harus khusyuk, berzikir kepada Allah l, dan yang semisalnya.
Ucapan Ibnu Abbas “hanya saja Allah l membolehkan berbicara saat thawaf,” perbedaan shalat dengan thawaf bukan hanya itu saja. Selain dibolehkan berbicara, ketika thawaf boleh pula makan dan minum, boleh cepat-cepat dan boleh pula tidak, tidak dipersyaratkan thawaf dengan menghadap kiblat/Ka’bah, bahkan tidak sah thawaf sambil menghadap Ka’bah. Perbedaan lain, dalam thawaf tidak membaca Al-Fatihah, tidak ada takbiratul ihram, dan tidak ada salam.
Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t ini lebih dekat kepada kebenaran. Akan tetapi, tidak boleh kita katakan kepada seseorang, “Thawaf Anda dengan berwudhu sama dengan tanpa berwudhu.” Walaupun seharusnya, thawaf dengan berwudhu sebelumnya (dalam keadaan suci) lebih utama, tanpa diragukan. Hanya saja, terkadang di tengah kerumunan manusia di Al-Haram ketika thawaf, seseorang mungkin berhadats dengan mengeluarkan angin, kencing, atau yang semisalnya. Dalam keadaan seperti ini, siapa pun tidak bisa mengharuskan hamba-hamba Allah l dengan ucapannya, “Pergilah engkau mencari tempat wudhu dan berwudhulah, lalu ulangi thawafmu.” Dalam kerumunan manusia yang sangat besar, kapan ia bisa mendapatkan air untuk berwudhu, padahal seluruh tempat telah penuh? Jika kemudian ia berwudhu dan kembali melakukan thawaf, apakah bisa dijamin ia tidak akan berhadats lagi?
Tentunya tidak bisa dijamin, karena mungkin ia akan berhadats untuk kedua kalinya. Bila kita katakan, “Wudhumu batal, pergi dan berwudhulah,” lalu dia pergi. Ketika ia mendapatkan tempat untuk berwudhu, ia pun melakukannya. Setelah itu ia kembali dan mengulang thawafnya. Ia tidak aman dari berhadats lagi dan terus demikian.
Dengan demikian, jika datang sesuatu yang tidak diterangkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa sesuatu itu wajib, terlebih lagi ada kesulitan untuk menghindarinya ataupun menjaganya, hendaklah dipertimbangkan bila mengharuskan orang lain untuk melakukannya.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh, hlm. 22/359—360)


1 Sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa beliau, 26/225—230.
2 HR. Asy-Syafi’i secara mauquf. Riwayat yang marfu’ disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 960 dan selainnya.
3 Al-Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Thawus dan selainnya, dari Thawus, dari Ibnu Abbas secara mauquf. Tidak diketahui ada yang meriwayatkannya secara marfu’ kecuali dari hadits Atha’ ibnus Saib. Tidak demikian, kata Asy-Syaikh Al-Albani t, karena ada dua rawi tsiqah yang mengikuti Atha’ (mutaba’ah) dalam periwayatan secara marfu’, Ibrahim ibnu Maisarah dan Al-Hasan ibnu Muslim al-Makki.  Riwayat yang marfu’ ini disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ (no. 121). Walaupun Atha’ ibnus Saib seorang perawi yang mukhtalith (bercampur hafalannya) namun Sufyan ats-Tsauri t meriwayatkan darinya sebelum bercampur hafalannya, dan Sufyan termasuk yang meriwayatkan hadits ini dari Atha’. Ini mengisyaratkan bahwa hadits yang diriwayatkan Sufyan dari Atha’ tersebut adalah sahih. Lihat keterangan lebih lanjut dalam Al-Irwa’ pada pembahasan hadits no. 121.
4 Sebagaimana telah disebutkan, hadits ini sahih pula dari ucapan Nabi n (marfu’). Akan tetapi, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, bukanlah maknanya bahwa thawaf merupakan satu macam dari ibadah shalat seperti halnya shalat Jum’at, istisqa, kusuf, dan lainnya, karena Allah l membedakan antara shalat dan thawaf dengan firman-Nya:
“Sucikanlah oleh kalian berdua (Ibrahim dan Ismail) rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang-orang yang i’tikaf, dan orang-orang yang ruku dan sujud (shalat).” (Al-Baqarah: 125)
Lihat keterangan Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa (26/193—194).

Antara Haid, Haji dan ‘Umrah bagian 2

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

 

Thawaf dalam Keadaan Darurat
Kita ketahui dari penjelasan yang telah dibawakan dalam edisi yang lalu bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berpendapat larangan thawaf bagi wanita haid adalah bila ia melakukan thawaf dalam keadaan tidak darurat, sedangkan bila darurat, lain lagi pembicaraannya.
Kita lihat jawaban beliau ketika ditanyakan permasalahan berikut, “Seorang wanita yang haid belum melakukan thawaf ifadhah. Ia belum juga suci sampai orang yang berhaji pulang meninggalkan Makkah. Tidak mungkin pula dia tetap tinggal di Makkah menanti sampai ia suci setelah jamaah haji pulang. Apakah dalam keadaan demikian dia boleh melakukan thawaf? Apakah keadaan seperti itu teranggap darurat ataukah tidak? Bila ternyata ia boleh melakukan thawaf, apakah dia wajib membayar dam ataukah tidak? Apakah disunnahkan mandi sebelum thawaf?”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjawab, “Alhamdulillah. Ulama memiliki dua pendapat yang masyhur tentang thaharah saat thawaf, apakah sebagai syarat sahnya thawaf atau tidak.
1. Thaharah adalah syarat
Ini adalah mazhab Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayat yang ada.
2. Thaharah bukan syarat
Demikian mazhab Abu Hanifah dan Ahmad dalam riwayat yang lain. Oleh karena itu, menurut mereka, andai seseorang yang junub, berhadats, atau membawa najis, melakukan thawaf maka thawaf tersebut sah, namun ia wajib membayar dam.1 Akan tetapi, pengikut mazhab Al-Imam Ahmad t berbeda pendapat, apakah dam ini dibebankan secara mutlak—walau terhadap orang yang diberi uzur yang lupa bahwa ia sedang janabah—ataukah tidak?
Abu Hanifah menjadikan dam berupa badanah (unta).
Seorang wanita haid—yang tidak mungkin melakukan thawaf melainkan dalam keadaan haid—tentu lebih pantas lagi mendapatkan uzur, karena haji merupakan amalan yang wajib baginya. Tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan, “Kewajiban haji gugur dari wanita haid.” Menggugurkan suatu kewajiban/fardhu dengan alasan kelemahan/ketidakmampuan mengerjakan sebagian hal yang wajib dalam kewajiban/fardhu tersebut, bukanlah termasuk ucapan syariat. Sebagaimana halnya bila dia tidak mampu bersuci untuk shalat2.
Jika si wanita mungkin untuk tinggal di Makkah sampai suci dan menunaikan thawaf yang tertunda, tidak diragukan lagi dia wajib melakukannya. Namun, bila hal itu tidak mungkin, dengan menyuruhnya pulang ke negerinya bersama rombongan3—lalu kembali ke Makkah setelah suci untuk thawaf ifadhah—berarti mewajibkan safar dua kali baginya untuk pelaksanaan ibadah haji tanpa ada kesalahan yang diperbuatnya. Ini tentu saja menyelisihi syariat. Di samping itu, dia tidak mungkin pergi melainkan bersama rombongan, sementara haidnya dalam bulan itu seperti biasanya, sehingga hal ini tidak memungkinkannya thawaf dalam keadaan suci sama sekali.
Pokok-pokok syariat dibangun di atas ketetapan bahwa syarat-syarat ibadah yang tidak mampu dilakukan seorang hamba, maka syarat-syarat itu digugurkan. Misalnya bila orang yang shalat tidak mampu menutup auratnya, atau tidak bisa menghadap kiblat, atau menghindari/menjauhi sesuatu yang najis4, atau orang yang thawaf, bila ia tidak mampu thawaf sendiri, baik naik kendaraan atau berjalan kaki, ia dipikul dan dithawafkan.
Pendapat bahwa orang yang thawaf tanpa bersuci tetap sah walaupun tidak ada udzur (alasan/sebab yang diterima), namun harus membayar dam—sebagaimana dinyatakan oleh pengikut Abu Hanifah dan Ahmad—tentu lebih utama dan lebih pantas ditujukan kepada orang yang memiliki udzur.
Adapun tentang mandi, jika si wanita melakukannya, itu bagus sebagaimana wanita haid dan nifas mandi untuk berihram. Wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa, 26/243—244)
Tentang pewajiban membayar dam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menyatakan, “Jika ia membayar dam, itu lebih berhati-hati. Jika tidak membayar pun sebenarnya tidak ada kewajiban apa-apa baginya, karena Allah l tidak membebani suatu jiwa kecuali sebatas kemampuannya.
Allah l berfirman:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (At-Taghabun: 16)
Nabi n bersabda:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Jika aku memerintahkan kalian dengan satu perkara maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. ِAl-Bukhari dan Muslim)
Adapun wanita haid ini tidak mampu kecuali demikian (thawaf dalam keadaan tidak suci)….”
Ibnu Taimiyah t juga menyatakan, “Nabi n menggugurkan kewajiban thawaf wada’ bagi wanita haid. Beliau menggugurkan pula bagi orang-orang yang mengurusi siqayah (penyediaan air minum bagi jamaah haji) untuk bermalam di Mina karena adanya kebutuhan. Akan tetapi, beliau n tidak mewajibkan mereka membayar dam, karena mereka diberi uzur dalam hal tersebut. Beda halnya dengan orang yang tidak memiliki uzur. Demikian pula orang yang tidak mampu melempar jumrah sendiri karena sakit atau semisalnya, ia boleh mewakilkan kepada orang lain melakukannya untuk dirinya. Tidak ada pewajiban apa-apa baginya, karena tidaklah sama orang yang meninggalkan kewajiban karena ketidakmampuan dengan orang yang meninggalkannya bukan karena tidak mampu. Wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa, 26/245)

Sa’i antara Shafa dan Marwah bagi Wanita Haid
Mayoritas ulama berpendapat tidak dipersyaratkan thaharah untuk sa’i, demikian pendapat Hanafiyah (Raddul Mukhtar 2/517), Malikiyyah (Al-Muntaqa 3/60), Syafi’iyah (Al-Majmu’, 8/100), Hanabilah (Al-Mughni, Kitabul Hajj, Mas’alah: Wa Man Sa’a Baina Ash-Shafa wal Marwah ‘ala Ghairi Thaharah), dan Zhahiriyyah (Al-Muhalla).
Ini juga pendapat Atha’ dan Abu Tsaur (Al-Mughni, Kitabul Hajj, Mas’alah: Wa Man Sa’a Baina Ash-Shafa wal Marwah ‘ala Ghairi Thaharah).
Dalil pendapat ini adalah sebagai berikut.
1. Sabda Rasulullah n kepada Aisyah x yang sedang haid saat menunaikan ibadah haji:
افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِي بِالْبَيْتِ
“Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, hanya saja jangan engkau thawaf sampai engkau suci.” (HR. Al-Bukhari no. 305 dan Muslim no. 2911)
Berdasarkan hadits di atas, wanita haid tidak dilarang melakukan segala sesuatu dari amalan manasik haji, kecuali thawaf di Baitullah.
2. Atsar dari Aisyah dan Ummu Salamah c, keduanya berkata, “Apabila seorang wanita telah thawaf di Baitullah dan mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian ia haid maka hendaklah ia tetap melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Al-Atsram, sebagaimana dinukil dalam Al-Mughni, Kitabul Hajj, Mas’alah: Wa Man Sa’a Baina Ash-Shafa wal Marwah ‘ala Ghairi Thaharah)
3. Sa’i merupakan ibadah yang tidak terkait dengan Baitullah sehingga tidak bisa dipersyaratkan thaharah saat melaksanakannya, sama halnya dengan wukuf di Arafah. (Al-Mughni, Kitabul Hajj, Mas’alah: Wa Man Sa’a Baina Ash-Shafa wal Marwah ‘ala Ghairi Thaharah)
Al-Imam Al-Hasan al-Basri t memiliki pendapat yang menyelisihi pendapat jumhur ini. Diriwayatkan dari beliau adanya persyaratan thaharah ketika mengerjakan sa’i. Kata Ibnu Rusyd, “Karena beliau menyerupakan sa’i dengan thawaf.” (Bidayatul Mujtahid, hlm. 320)
Namun yang rajih/kuat adalah pendapat yang dipegangi jumhur karena kuatnya dalil mereka.

Thawaf Wada’ bagi Wanita Haid
Seluruh ahlul ilmi berpandangan bahwa wanita haid tidak wajib mengerjakan thawaf wada’5, sementara thawaf ini wajib bagi selain wanita haid. Mereka berdalil dengan hadits-hadits berikut.
1.    Hadits Aisyah x:
أَنَّ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيّ زَوْجَ النَّبِيِّ n حَاضَتْ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ n فَقَالَ: أَحَابِسَتُنَا هِيَ؟ قَالُوْا: إِنَّهَا قَدْ أَفَاضَتْ. قَالَ: فَلاَ إِذًا.
Shafiyah bintu Huyai istri Nabi n ditimpa haid. Aku pun menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah n, maka beliau bersabda, “Apakah berarti ia akan  menahan kita6 (di sini)7?” Mereka menjawab, “Ia telah mengerjakan thawaf ifadhah (sebelum ditimpa haid).” Rasulullah n berkata, “Kalau begitu dia tidak menahan kita.” (HR. Al-Bukhari no. 1757)
Dalam riwayat lain, Rasulullah n bersabda:
فَلْتَنْفِرْ
“Berarti hendaklah dia berangkat pulang.” (HR. Al-Bukhari no. 4401 dan Muslim no. 3209)
Rasulullah n tidak memerintahkan Shafiyah x untuk membayar fidyah ataupun lainnya, sehingga ini menjadi dalil tidak wajibnya thawaf wada’ bagi wanita haid. (Al-Mughni, Kitabul Hajj, Mas’alah: Wal Mar’ah idza Hadhat Qabla an Tuwaddi’a Kharajat wa la Wada’ alaiha wa la Fidyah)

2. Hadits Ibnu Abbas c, ia berkata:
أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُوْنَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ
“Manusia diperintah agar akhir dari perkara mereka (sebelum meninggalkan Ka’bah/Makkah) adalah melakukan thawaf di Baitullah, kecuali wanita haid yang diberi keringanan dari kewajiban ini.” (HR. Al-Bukhari no. 329 dan Muslim no. 3207)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Hadits ini merupakan dalil wajibnya thawaf wada’ bagi selain wanita haid, dan gugurnya kewajiban ini dari wanita haid, serta tidak ada keharusan baginya untuk membayar dam karena meninggalkan thawaf wada’. Ini adalah mazhab Asy-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan ulama secara keseluruhan, kecuali yang dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Umar, Ibnu Umar, dan Zaid bin Tsabit g, mereka memerintahkan wanita haid untuk tetap tinggal di Makkah (sampai suci) guna mengerjakan thawaf wada’.” (Al-Minhaj, 9/84)
Namun diriwayatkan bahwa mereka rujuk dari pendapat ini (Al-Mughni Kitabul Hajj, Mas’alah: Wal Mar’ah idza Hadhat Qabla an Tuwaddi’a Kharajat wa la Wada’ alaiha wa la Fidyah), dan akhirnya berpendapat bahwa hal itu tidak wajib. Rujuknya mereka bisa kita lihat pada riwayat-riwayat berikut ini.

– Rujuk Zaid ibnu Tsabit z
Al-Imam Muslim t meriwayatkan dalam Shahihnya (no. 3208) dari Thawus, ia berkata, “Aku pernah bersama Ibnu Abbas c ketika Zaid ibnu Tsabit z berkata, ‘Apakah engkau berfatwa wanita haid boleh pergi (meninggalkan Makkah) sebelum mereka mengerjakan thawaf wada?’.”
Ibnu Abbas c berkata kepadanya, ‘Jika tidak seperti itu, silakan engkau bertanya kepada Fulanah wanita dari kalangan Anshar, apakah Rasulullah n memerintahkannya untuk melakukan thawaf wada?’
Zaid kembali kepada Ibnu Abbas sambil tertawa dan berkata, ‘Tidaklah aku semakin yakin bahwa fatwamu memang benar’.”

– Rujuk Ibnu Umar c
Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya (no. 1761) meriwayatkan dari Thawus, ia berkata, “Aku pernah mendengar Ibnu Umar c berkata, ‘Wanita haid tidak boleh meninggalkan Ka’bah/Makkah (sebelum thawaf wada’).’ Setelah itu aku mendengar ia berkata, ‘Sesungguhnya Nabi n memberikan keringanan bagi mereka (wanita yang haid dari mengerjakan thawaf wada’)’.”
– Rujuk Umar z
Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya dari Nafi’, ia berkata, “Umar ibnul Khaththab z mengembalikan para wanita yang telah melakukan thawaf ifadhah pada hari Nahr (menyembelih). Para wanita itu kemudian tertimpa haid dan meninggalkan Makkah. Namun, Umar mengembalikan mereka. Mereka harus menunggu sampai mereka suci dan mengerjakan thawaf wada’ di Baitullah setelah sucinya. Setelah itu sampai kepada Umar hadits Rasulullah n yang berbeda dengan apa yang diperbuatnya, ia pun tidak melakukan lagi perbuatannya yang pertama.”

Hukum Memakai Obat Pencegah Haid Selama Haji dan Umrah
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t menyatakan, tidak mengapa memakai obat-obatan pencegah haid selama pelaksanaan haji dan umrah karena adanya hajat/kebutuhan. Akan tetapi, pemakaiannya harus meminta pertimbangan dokter terlebih dahulu, karena terkadang obat-obatan tersebut ada mudarat/efek sampingnya, sehingga si wanita bisa terkena mudaratnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibni Utsaimin, 22/392)
Demikian yang bisa kami sampaikan kepada pembaca tentang wanita haid bila dikaitkan dengan ibadah haji dan umrah. Wallahu ta’ala a’lam.


1  Berupa seekor kambing.
2 Ia tidak boleh meninggalkan shalat, namun tetap mengerjakannya sesuai keadaannya.
3 Dalam keadaan ia masih berstatus muhrim, belum tahallul dari haji, karena tidak mungkin baginya bertahallul dengan tahallul yang kedua dengan alasan thawaf ifadhah belum ditunaikannya.
4 Sementara, shalat lebih agung urusannya daripada thawaf. Bila seseorang tidak mampu memenuhi syarat-syarat shalat seperti thaharah dan lainnya, ia shalat sesuai keadaannya. Tentu thawaf lebih utama lagi kebolehannya. (Majmu’ Fatawa, 26/245)
5 Thawaf perpisahan sebelum meninggalkan Ka’bah untuk pulang ke negerinya.
6 Rasulullah n mengatakan, “Apakah ia akan menahan kita untuk meninggalkan Makkah pada waktu yang kita inginkan?” karena beliau menyangka Shafiyah belum mengerjakan thawaf ifadhah. Hanyalah Rasulullah n mengucapkan seperti ini karena beliau n tidak mungkin meninggalkan Shafiyah di Makkah dan pulang ke Madinah. Tidak mungkin pula beliau n menyuruh Shafiyah pulang bersama beliau n dalam keadaan Shafiyah masih muhrim, sehingga beliau butuh tetap tinggal di Makkah menemani istrinya sampai ia suci dan bisa mengerjakan thawaf lalu tahallul dengan tahallul yang kedua. (Fathul Bari, 3/741)
7 Untuk menunggunya suci dari haid guna mengerjakan thawaf ifadhah.

Orang Lain dalam Kehidupan Kami

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

 

Yang dimaksud ‘orang lain’ dalam judul di atas, sebenarnya bukanlah benar-benar orang lain atau pihak asing yang tak ada hubungannya dengan pasangan suami istri. Mereka justru masih ada hubungan erat dengan si suami atau si istri, karena mereka adalah pihak kerabat dekat, dalam hal ini orang tua dan saudara-saudara suami atau istri. Namun, kita pinjam istilah ‘orang lain’ dengan maksud mengecualikan mereka dari keluarga baru yang dibentuk oleh sepasang suami-istri. 
Tentu saja keberadaan mereka, pihak keluarga suami dan istri, tak dapat dimungkiri. Sebagaimana mereka ada dalam kehidupan seorang lelaki sebelum ia bertemu dengan seorang wanita untuk kemudian menjalin ikatan pernikahan dengannya dan dalam kehidupan seorang wanita sebelum ia bertemu dengan pasangan hidupnya, tentunya setelah itu mereka tetap ada. Namun bagaimanakah interaksi dengan mereka setelah itu? Kita sering mendapatkan keluhan munculnya permasalahan antara suami dengan keluarganya atau dengan keluarga istrinya. Sebaliknya, timbul problem antara istri dengan pihak keluarganya atau dengan keluarga suaminya.
Islam sebagai agama yang mengajarkan seluruh kebaikan tentu telah memberikan tuntunan yang terindah dan paling sempurna. Islam memerintahkan insan yang beriman untuk tetap menyambung hubungan silaturahim dengan orang tua dan karib kerabat serta berbuat baik kepada mereka. Allah l berfirman:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya kalian.” (An-Nisa: 36)
Allah k juga memuji hamba-hamba-Nya yang menyambung hubungan rahimnya, seperti dalam firman-Nya yang agung:
“Dan orang-orang yang menyambung/menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan…” (Ar-Ra’d: 21)
Rasulullah n bersabda dalam haditsnya yang mulia:
Sesungguhnya Allah l menciptakan makhluk hingga ketika selesai dari menciptakan mereka, berdiri Ar-Rahim seraya berkata, “Ini tempat berdiri orang yang berlindung kepada-Mu dari memutus hubungan1.” Allah l berfirman, “Iya, tidakkah engkau ridha Aku menyambung orang yang menyambungmu dan Aku memutus orang yang memutusmu?” Ar-Rahim menjawab, “Tentu (aku ridha).” Allah l berfirman, “Maka itulah untukmu.” Kemudian Rasulullah n bersabda, “Bacalah bila kalian mau, ayat: ‘Maka apakah kiranya bila kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan rahim/kekeluargaan kalian?…’.” (Muhammad: 22-23) [HR. Al-Bukhari no. 4830 dan Muslim no. 6465 dari sahabat Abu Hurairah z]
Dalam riwayat Al-Bukhari:
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ, وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ
Allah l berfirman, “Siapa yang menyambungmu, Aku akan menyambungnya. Siapa yang memutusmu, Aku akan memutusmu.”
Dalam hadits yang mulia ini, terdapat ancaman terhadap orang yang memutus hubungan rahimnya. Jubair bin Muth’im z mengabarkan bahwa Rasulullah n bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan rahimnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5984 dan Muslim no. 6468)
Selain hukuman di akhirat, pelakunya pun akan beroleh hukuman di dunia sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut ini.
Abu Bakrah z berkata: Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يُدَخِّرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak ada satu dosa pun yang lebih pantas untuk Allah l segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang menantinya di akhirat daripada dosa memutus hubungan rahim dan dosa kezaliman.” (HR. Abu Dawud no. 4902 dan At-Tirmidzi no. 2511, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih At-Tirmidzi)
Dalam Fathul Bari (10/513—514) disebutkan, Al-Qurthubi t menyatakan bahwa rahim yang disambung itu bermakna umum dan khusus. Makna secara umum adalah hubungan rahim karena agama, wajib disambung dengan rasa cinta, saling menasihati, bersikap adil, dan inshaf, serta menunaikan hak-hak yang wajib maupun mustahab. Adapun makna rahim yang khusus adalah memberi nafkah kepada kerabat, mencari tahu keadaan/kabar mereka dan memaafkan kesalahan mereka. Ibnu Abi Jamrah t mengatakan, “Silaturahim bisa dilakukan dengan memberikan materi (harta), memberikan bantuan ketika dibutuhkan, menghindarkan dari kemudaratan, berwajah manis, dan mendoakan.” Adapun makna yang mencakup/menyeluruh (makna jami’) dari silaturahim adalah menyampaikan kebaikan sebisa mungkin dan menghindarkan kejelekan yang mungkin menimpa sesuai dengan kemampuan.
Dengan demikian, sepasang suami-istri harus berupaya untuk tetap menyambung hubungan dengan orang tua, saudara-saudara, dan sanak famili mereka yang lain. Mereka pun harus berupaya menyambung hubungan dengan orang tua, saudara-saudara, dan sanak famili pasangan mereka; suami dengan kerabat istrinya, dan istri dengan kerabat suaminya.
Bagaimana bentuk menyambung silaturahim? Ini kembali kepada ‘urf (kebiasaan) yang diikuti oleh masyarakat muslim yang terjaga (‘urf islami), karena memang macam silaturahim, jenis dan kadarnya tidak diterangkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi n tidak mengaitkannya dengan sesuatu yang tertentu, misalnya dengan menetapkan silaturahim itu adalah karib kerabat tersebut harus makan bersama, minum bersama, atau tinggal bersama. Bahkan, beliau n menetapkan secara mutlak (bebas). Oleh karena itulah, masalah ini kembali kepada ‘urf. Apa yang berlangsung dalam ‘urf sebagai menyambung hubungan, berarti itu adalah menyambung silaturahmi). Apa yang dikenali manusia sebagai qathi’ah/memutus hubungan, itu adalah pemutusan hubungan. Demikian asalnya, menurut Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t, dengan ketentuan ‘urf tersebut belum rusak karena ‘urf yang rusak tidak bisa menjadi patokan. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 2/131—132)
Kaitannya dengan tetap menyambung hubungan dengan keluarga bagi pasangan yang telah menikah, ada beberapa permasalahan yang mungkin timbul.

1. Apakah orang tua berhak meminta putrinya tetap tinggal bersama mereka setelah ia menikah?
Apakah seorang istri harus mematuhi permintaan orang tuanya untuk tetap tinggal bersama keluarga besarnya dan tidak tinggal di rumah yang disediakan suaminya?
Tentu saja tidak. Bahkan, dia wajib tinggal di rumah suaminya, karena konsekuensi dari akad nikah adalah menyerahkan istri kepada suaminya di rumah suaminya. Oleh karena itu, tidak ada hak bagi kedua orang tuanya untuk menahannya di rumah mereka, sebagaimana si istri tidak bisa memaksa suaminya tinggal bersamanya di rumah orang tuanya. Demikian keterangan Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh t. (Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 10/193)
Bagaimana bila hal tersebut menjadi persyaratan dalam pernikahan, yang sebelum akad nikah berlangsung sang ayah mempersyaratkan kepada calon suami putrinya agar membiarkan putrinya tetap tinggal bersamanya untuk mengurusi/berkhidmat kepadanya?
Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh t menjelaskan bahwa syarat-syarat dalam pernikahan hanya khusus untuk pihak suami dan pihak istri. Adapun syarat yang diajukan oleh ayah si istri sebagaimana di atas merupakan syarat yang tidak ada nilainya, sehingga sama sekali tidak harus dipenuhi. Tidak ada hak bagi sang ayah menghalangi si suami dari istrinya selama keadaan keduanya baik-baik saja dan si istri ridha/senang kepada suaminya. (Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 10/196)

2. Apakah istri harus menuruti suaminya untuk tinggal serumah bersama keluarga suaminya?
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t berkata, “Sepantasnya, seorang istri bersikap lunak dan merasa terbiasa/tidak canggung berada bersama keluarga suaminya, baik ibu, ayah, saudara-saudara, maupun karib kerabatnya.
Hendaklah ia hidup bersama mereka dengan kehidupan yang terpuji, karena hal itu termasuk kebahagiaannya dan kebahagiaan suaminya. Hendaklah ia bersabar dan mengharapkan pahala atas beberapa hal yang tidak ia sukai. Apabila ia tidak mendapati hal-hal tersebut, ia wajib berpegang dengan kesabaran dan tidak mempersulit kehidupan suaminya bersama keluarganya. Bisa jadi, bila terjadi pertentangan dan kesalahpahaman berulang-ulang akan menyebabkan suami menceraikannya, hingga terurailah ikatan/tali pernikahan, padahal ada anak-anak. Lalu, bagaimana keadaan mereka setelah perpisahan kedua orang tua mereka? Tanpa diragukan, anak-anak itu keadaannya tidaklah berbahagia menghadapi perpisahan ayah dan ibu mereka.
Karena itulah, hendaknya seorang istri mengintrospeksi dirinya dan kembali kepada kelurusannya. Saya menasihatkan kepadanya agar memaksa jiwanya untuk ta’awun (saling membantu) bersama suaminya dalam menghadapi kehidupan. (Fatawa Manarul Islam, 3/109)

3. Bolehkah seorang istri meminta kepada suaminya untuk ditempatkan di rumah sendiri, tidak serumah dengan keluarganya?
Bila sebelumnya sepasang suami istri tinggal bersama keluarga si suami, namun di belakang hari terjadi permasalahan antara si istri dan keluarga suaminya, bolehkah si istri meminta suaminya pindah dari rumah tersebut dan mencari rumah lain untuk mereka tempati?
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menyatakan, “Permasalahan seperti ini banyak terjadi di antara keluarga suami dengan si istri. Dalam keadaan ini, yang sepantasnya dilakukan adalah si suami berusaha menyelesaikan persoalan yang terjadi antara istrinya dengan keluarganya. Semampu mungkin ia berupaya mendekatkan mereka dan memberikan peringatan kepada pihak yang zalim dan melampaui batas terhadap hak saudaranya. Peringatan diberikan dengan cara yang baik dan lembut, hingga tercapailah kedekatan dan penyatuan, karena kedekatan dan penyatuan seluruhnya merupakan kebaikan.
Bila tidak terwujud ishlah/perbaikan yang diharapkan, tidak ada masalah bila si suami mencari rumah yang terpisah dari keluarganya. Bahkan, terkadang hal ini lebih baik dan lebih bermanfaat bagi semua pihak, sehingga hilang apa yang ada di hati sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Dalam keadaan seperti ini (tinggal di rumah terpisah), hendaknya ia tidak memutus perhubungan dengan keluarganya. Bahkan, ia harus tetap menyambung hubungan dengan mereka. Lebih baik lagi bila rumah yang ditempatinya berdua dengan istrinya itu dekat dengan rumah keluarganya, sehingga mudah baginya menjenguk mereka dan menyambung hubungan dengan mereka.
Bila ia telah menunaikan kewajibannya terhadap keluarganya dan terhadap istrinya, bersamaan dengan ia tinggal bersama istrinya di tempat tinggal tersendiri—karena tidak memungkinkan bagi semuanya tinggal bersama dalam sebuah rumah—hal ini lebih baik dan lebih utama.” (Fatawa Islamiyah, 3/114)

4. Berkhidmat kepada keluarga suami
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata, “Seorang istri tidak wajib berkhidmat kepada ibu, ayah, saudara-saudara, paman-paman suaminya, atau berkhidmat kepada salah seorang dari kerabat suaminya. Hanya saja, hal ini termasuk muru’ah/penjagaan kehormatan diri. Bila ia di dalam rumah melayani kedua orang tua suaminya atau saudara-saudara lelaki suaminya, itu dibolehkan asalkan tidak terjadi fitnah (godaan) sedikitpun dalam khidmatnya kepada saudara-saudara lelaki suaminya, atau tidak terjadi khalwat (berduaan/bersepi-sepi) misalnya. Akan tetapi tidak boleh mewajibkan si wanita untuk melakukannya. Suaminya tidak boleh mengharuskan istrinya melakukan hal tersebut dan hal itu tidak wajib baginya. Masalahnya hanya berkaitan dengan muru’ah.
Namun yang saya serukan, kata Syaikh, hendaklah seorang istri itu membiasakan dirinya dan bersikap sangat penyabar dalam berkhidmat kepada ayah dan ibu suaminya. Masalah ini tidaklah memudaratkannya, bahkan menambah kemuliaannya dan menambah cinta suaminya terhadapnya. Demikian pula cinta ayah dan ibu suaminya terhadap dirinya. Sebaliknya, bila si istri durhaka dan enggan mengurusi orang tua suaminya, terkadang menjadi sebab memburuknya pergaulannya dengan suaminya. Mungkin karena si suami tidak suka melihat jeleknya pergaulannya dengan kedua orang tuanya, atau bisa jadi kedua orang tuanya menjelekkan si istri di hadapan suaminya, hingga mereka membuat si suami benci kepada istrinya.” (Fatawa Manarul Islam, 3/108)

5. Berkhidmat kepada ayah suami yang sudah tua
Seorang istri pernah mengajukan pertanyaan berikut ini kepada Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t, “Saya seorang istri yang menunaikan khidmat/memberikan pelayanan dan pengurusan kepada ayah suami/mertua saya berhubung ia tidak memiliki siapa-siapa kecuali suami saya. Apakah saya boleh memandikan dan mengurusinya?”
Fadhilatusy Syaikh t menjawab, “Khidmat yang Anda berikan kepada ayah suami Anda ini merupakan perkara yang patut disyukuri, karena hal tersebut termasuk berbuat ihsan/kebaikan kepada lelaki yang telah tua tersebut, juga termasuk berbuat ihsan kepada suami Anda. Anda boleh memandikannya selain pada dua kemaluannya (qubul dan dubur). Kalau mertua Anda bisa membasuhnya sendiri, hendaklah ia lakukan sendiri. Anda tidak boleh melakukannya. Akan tetapi kalau ia tidak mampu melakukannya, tidak ada dosa/keberatan bagi Anda untuk memandikan bagian auratnya tersebut dengan syarat Anda menggunakan kaos tangan yang menutupi kedua tangan Anda sehingga engkau tidak menyentuh auratnya secara langsung, sebagaimana wajib bagi Anda menundukkan pandangan Anda dari melihat auratnya, karena Anda tidak diperkenankan melihat aurat seorang pun kecuali suami Anda. Demikian pula suami Anda terhadap Anda.” (Majmu’ Fatawa, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/177)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Ini menunjukkan bahwa ar-rahim bisa berbicara secara hakiki dengan izin Allah l. Dia bisa ridha dan bisa marah. Ia juga bisa meminta perlindungan kepada Allah l dari pemutusan hubungan. (Syarhu Shahih al-Adabil Mufrad, 1/67)

Sahkah Khulu’ Tanpa Ganti Rugi?

Sepasang suami istri telah menjalani kehidupan rumah tangga cukup lama. Tiba-tiba, istrinya meminta berpisah dengan alasan dirinya tidak bisa lagi mencintai suaminya. Setelah menjalani proses pembicaraan yang serius, sang suami menerima permintaan sang istri. Keduanya memahami bahwa hal itu adalah peristiwa khulu’. Akan tetapi, tidak ada pembayaran ganti rugi sebagai tebusan dari sang istri hingga sekarang. Peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1.     Apakah dari kasus di atas, jatuh hukum khulu’ sebagaimana yang dipahami oleh keduanya, ataukah talak?
2.    Bagaimana bila sang suami merelakan saja tanpa menuntut ganti rugi?
3.    Bolehkah keduanya menjalin hubungan lagi?
4.    Si lelaki sekarang dalam kebingungan yang serius, seakan-akan memikul beban yang berat karena peristiwa tersebut dan menganggap dirinya telah melakukan kesalahan yang fatal. Apa yang harus diperbuatnya?


Fulan di bumi Allah

 

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Berdasarkan kasus yang diuraikan, tampak bagi kami kesimpulan dan jawaban sebagai berikut.
1 & 2. Kasus tersebut tidak jatuh sebagai hukum khulu’ yang berstatus fasakh (pembatalan akad), meskipun keduanya memahami bahwa kasus mereka adalah khulu’ dan sang suami menganggap dirinya telah menjatuhkan khulu’. Hal ini disebabkan tidak adanya pembicaraan ganti rugi sebagai tebusan dari pihak istri atas permintaan khulu’ yang diajukannya, padahal itu adalah salah satu rukun khulu’ yang harus ada dalam kasus khulu’ yang berstatus fasakh (pembatalan akad nikah). Ibnu Taimiyah menukilkan kesepakatan ulama bahwa kasus khulu’ tanpa pembayaran ganti rugi sebagai tebusan dari istri tidak bisa jatuh sebagai fasakh, sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa (32/191, cet. Darul Wafa’). Demikian pula dalam Zadul Ma’ad (5/675—676), Ibnul Qayyim menukilkan dari gurunya (Syaikhul Islam) adanya kesepakatan ulama dalam hal ini dan beliau membenarkannya.
Akan tetapi, apakah kasus tersebut jatuh sebagai talak? Jika yang dimaksud adalah talak ba’in1, maka tidak. Hal ini menurut pendapat yang rajih bahwa seorang istri tidak dibenarkan untuk meminta khulu’ kepada suaminya dengan menceraikannya sebagai talak ba’in tanpa tebusan ganti rugi. Suami juga tidak berwenang untuk menjatuhkan hal itu,2 karena hak raj’ah—hak suami untuk menariknya kembali sebagai istri tanpa akad baru selama dalam masa ‘iddah—yang gugur dengan talak ba’in merupakan hak Allah l yang telah tetap dalam syariat ini dan tidak bisa diganggu gugat. Oleh karena itu, keduanya tidak dibenarkan untuk bersepakat menggugurkan hak tersebut.
Ini adalah salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad dan pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, dirajihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (5/675), Asy-Syaukani dalam As-Sailul Jarrar (2/370), dan As-Sa’di dalam Al-Fatawa As-Sa’diyyah (hlm. 389). Ibnu Taimiyah pun mendukungnya dalam Majmu’ Al-Fatawa (32/191). Beliau menyatakan, pendapat inilah yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mayoritas riwayat yang tsabit (tetap) dari mayoritas sahabat.
Berdasarkan pendapat ini, apabila sang suami menjatuhkan khulu’ dengan menggunakan lafadz-lafadz tertentu (khusus) untuk khulu’, yaitu khulu’ (melepaskan), fasakh (membatalkan akad nikah) atau fida’/iftida’ (menerima tebusan) tanpa disertai niat menalaknya maka tidak ada sesuatu yang terjadi antara keduanya. Keduanya masih sebagai suami-istri.
Apabila sang suami menggunakan lafadz-lafadz khas tersebut atau lafadz lainnya yang merupakan bahasa kiasan untuk talak disertai dengan niat talak maka jatuh sebagai talak raj’i3. Demikian pula, jika menggunakan lafadz talak atau cerai yang jelas dan gamblang untuk talak, maka jatuh sebagai talak raj’i.4

3. Apabila tidak terjadi sesuatu pun dalam kasus ini berdasarkan keterangan di atas, keduanya masih sebagai suami-istri sampai sekarang. Hendaklah keduanya memproses ulang kasus khulu’ yang diinginkan dengan cara syar’i yang terpenuhi rukun-rukunnya, jika memang sang istri tidak bisa lagi mencintai suaminya dan khawatir terjerumus dalam nusyuz (pelanggaran hak suami yang wajib). Hal ini dilakukan dengan cara sebagai berikut.
–    Pembayaran ganti rugi sebagai tebusan dari pihak istri dengan nilai yang disepakati bersama, sebaiknya tidak lebih dari nilai mahar yang pernah diberikan saat pernikahan.
–    Pihak suami menjatuhkan khulu’ dengan salah satu lafadz khulu’ yang khusus atau lafadz lainnya.5
–    Disertai kerelaan masing-masing pihak tanpa ada unsur tekanan dan pemaksaan.6
Dengan demikian, proses khulu’ pun jatuh dengan sah dan benar sebagai fasakh (pembatalan akad). Dengannya, keduanya bukan lagi suami-istri meskipun tanpa diproses di hadapan hakim (melalui Kantor Pengadilan Agama), menurut pendapat yang rajih. Akan tetapi, kami sarankan agar kasus ini diselesaikan secara administrasi pemerintahan di Kantor Pengadilan Agama agar tidak tersandung oleh hal-hal yang membingungkan dan memberatkannya di kemudian hari.
Setelah itu, hendaklah sang wanita menjalani masa ‘iddah (penantian) hingga haid satu kali dalam rangka pembebasan rahim dari bibit yang mungkin telah ada akibat hubungan suami-istri. Setelah masa ‘iddah itu selesai, sang wanita halal untuk menikah dengan laki-laki lain. Akan tetapi, sang lelaki bekas suaminya memiliki hak untuk menikahinya kembali dengan akad yang baru, baik dalam masa ‘iddah maupun setelahnya, jika keduanya ingin bersatu kembali.
Apabila yang terjadi sesuai uraian di atas, kasus tersebut adalah talak raj’i, maka kasusnya telah selesai dengan hukum talak raj’i tersebut. Jika sang lelaki ingin bersatu kembali, dia bisa menarik kembali istrinya sebagai istrinya tanpa akad yang baru, jika masih dalam masa ‘iddah (belum melewati tiga kali haid). Adapun jika masa ‘iddah-nya telah selesai, keduanya bisa bersatu kembali dengan akad nikah yang baru.
4. Yang harus dilakukan adalah bersegera memperjelas kasus yang dialaminya, kemudian menentukan langkah yang tepat berdasarkan bimbingan di atas, agar dirinya menjadi tenang dan bisa mantap melangkah ke depan tanpa beban.
Jika selama ini dia sering mengecewakan istrinya dengan kelalaian dan akhlaknya yang jelek, dia pantas merasa bersalah, lalu bertaubat kepada Allah l atas semua itu. Jika istrinya kecewa kepadanya dan tidak bisa mencintainya lagi karena sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh Allah l atas dirinya dan di luar kemampuannya, hendaklah dia bersabar atas takdir Allah l.
Terakhir, kami ingatkan kepada siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk bertakwa kepada Allah l dalam urusan-urusan mereka, agar tidak berucap dan bertindak tanpa bimbingan ilmu yang menerangi langkah mereka. Wallahul muwaffiq.


1 Talak ba’in yang dimaksud di sini adalah bainunah shugra’ (perpisahan kecil), yaitu keduanya bukan lagi suami-istri dengan talak itu. Selama masa ‘iddah (penantian) hingga haid satu kali, sang suami tidak lagi memilki hak untuk menariknya kembali menjadi istrinya tanpa akad baru. Sebaliknya, sang istri tidak memilki hak lagi untuk diberi nafkah dan tempat tinggal. Yang dibahas di sini bukan talak ba’in yang merupakan bainunah kubra’ (perpisahan besar) yang terjadi pada talak tiga. –pen.
2 Demikian pula jika disertai tebusan ganti rugi, karena pendapat yang benar adalah bahwa khulu’ semuanya adalah fasakh dengan lafadz apa pun sang suami menjatuhkannya.
Ada pendapat yang mengatakan khulu’ bisa jatuh sebagai fasakh (pembatalan akad) atau sebagai talak ba’in, tergantung lafadz yang digunakan serta niatnya. Akan tetapi, pendapat ini lemah dan yang rajih adalah apa yang kami sebutkan. –pen.
3 Talak raj’i yaitu talak yang selama masa ‘iddah (penantian) hingga haid tiga kali sang suami memiliki hak untuk menariknya kembali menjadi istrinya, tanpa akad yang baru. Sebaliknya, istri memiliki hak untuk diberi nafkah dan tempat tinggal –pen.
4 Yang kami maksud adalah dengan lafadz Arab, atau dengan maknanya dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah, dan yang mengucapkannya mengerti makna dan maksud dari lafadz yang diucapkannya. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (32/191) berkata, “Khulu’ dan talak sah dijatuhkan dengan selain bahasa Arab, menurut kesepakatan ulama.” –pen.
5 Lihat catatan kaki no. 4
6 Hal ini tidak menafikan wewenang hakim untuk mengharuskan pihak suami melepas istrinya pada kasus khulu’, jika sang istri benar-benar tidak bisa lagi hidup bersamanya, menurut pendapat yang rajih.

Bolehnya Membaca Basmalah Secara Jahr dalam Keadaan Tertentu Karena Maslahat

Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz bin Baz t berkata, “Riwayat yang menyebutkan basmalah dibaca dengan jahr dibawa kepada (pemahaman) bahwa Nabi n pernah menjahrkan basmalah untuk mengajari orang yang shalat di belakang beliau (para makmum) apabila beliau membacanya (dalam shalat sebelum membaca Alhamdulillah…). Dengan pemahaman seperti ini, terkumpullah hadits-hadits yang ada. Terdapat hadits-hadits shahih yang memperkuat apa yang ditunjukkan oleh hadits Anas z yaitu disyariatkannya membaca basmalah secara sirr.” (Ta’liq terhadap Fathul Bari, 2/296)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Terkadang disyariatkan membaca basmalah dengan jahr karena sebuah maslahat yang besar, seperti pengajaran imam terhadap makmum, atau menjahrkannya dengan ringan untuk melunakkan hati dan mempersatukan kalimat kaum muslimin yang dikhawatirkan mereka akan lari kalau diamalkan sesuatu yang lebih afdhal. Hal ini sebagaimana Nabi n mengurungkan keinginan untuk membangun kembali Baitullah sesuai dengan fondasi Ibrahim q karena kaum Quraisy di Makkah pada waktu itu baru saja meninggalkan masa jahiliah dan masuk Islam. Beliau n mengkhawatirkan mereka dan melihat maslahat yang lebih besar berkenaan dengan persatuan dan keutuhan hati-hati kaum muslimin. Beliau n pun lebih memilih hal tersebut daripada membangun Baitullah di atas fondasi Ibrahim q.
Pernah pula Ibnu Mas’ud z shalat dengan sempurna empat rakaat di belakang Khalifah Utsman bin Affan z dalam keadaan mereka sedang safar. Orang-orang pun mengingkari Ibnu Mas’ud yang mengikuti perbuatan Utsman z, karena seharusnya dia shalat dua rakaat dengan mengqashar. Akan tetapi, beliau n menjawab dan menyatakan, “Perselisihan itu jelek.”
Oleh karena itu, para imam, seperti Al-Imam Ahmad dan lainnya, membolehkan berpindah dari yang afdhal kepada yang tidak afdhal, seperti menjahrkan basmalah dalam suatu keadaan, menyambung shalat witir, atau yang lainnya, untuk menjaga persatuan kaum mukminin, mengajari mereka As-Sunnah, dan yang semisalnya.” (Majmu’ Fatawa, 22/437—438)

Kelemahan Hadits-hadits yang Menyebutkan Bacaan Basmalah Secara Jahr

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ulama yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits telah bersepakat, tidak ada satu pun hadits (sahih, pen.) yang tegas menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Demikian pula, tidak diketahui ada salah satu kitab sunan yang masyhur—seperti Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i—yang membawakan periwayatan basmalah secara jahr. Periwayatan yang menyebutkan secara jahr hanya didapatkan dalam hadits-hadits maudhu’ah (palsu) yang diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dan Al-Mawardi—dalam Tafsir—dan yang serupa dengan beliau berdua, atau disebutkan di beberapa kitab fuqaha yang tidak membedakan antara riwayat yang palsu dan yang tidak.
Ketika Al-Imam Ad-Daraquthni t datang ke Mesir, beliau pernah diminta mengumpulkan hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Beliau pun melakukannya. Ketika beliau ditanya, adakah yang sahih dari hadits-hadits tersebut? Beliau menyatakan, “Adapun dari Nabi n, tidak didapatkan, sedangkan atsar dari sahabat Nabi n ada yang sahih dan ada pula yang dhaif (lemah).” (Majmu’ Fatawa, 22/416,417)
Beliau juga berkata, “Sebenarnya, banyak beredar kedustaan dalam hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr karena orang-orang Syi’ah berpendapat bacaan basmalah dijahrkan, padahal mereka dikenal oleh kaum muslimin sebagai kelompok yang paling pendusta di antara kelompok-kelompok sempalan dalam Islam. Mereka memalsukan hadits-hadits dan membuat rancu agama mereka dengan hadits-hadits tersebut.
Oleh karena itu, didapatkan ucapan imam Ahlus Sunnah dari penduduk Kufah, seperti Sufyan ats-Tsauri t, yang menyatakan bahwa termasuk sunnah adalah mengusap kedua khuf dan meninggalkan membaca basmalah secara jahr. Sebagian mereka juga menyebutkan bahwa Abu Bakr dan Umar c lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama dan lebih mulia daripada para sahabat yang lainnya, dan ucapan-ucapan yang semisalnya, karena hal-hal tersebut—yaitu tidak mau mengusap khuf, membaca basmalah secara jahr, menganggap ada yang lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama, dan lebih mulia daripada Abu Bakr dan Umar—merupakan syiar Rafidhah. Ada pula seorang imam mazhab Syafi’i, Abu Ali ibnu Abi Hurairah t, yang meninggalkan jahr ketika membaca basmalah. Ketika ditanya sebabnya, beliau t berkata, “Karena membaca basmalah secara jahr telah menjadi syiar orang-orang yang menyelisihi agama.” (Majmu’ Fatawa, 22/424)
Hadits yang menyebutkan secara tegas bahwa basmalah diucapkan dengan jahr diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (hadits no. 145), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/233), dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya (2/47), dari jalan Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu Bakr bin Hafsh bin Umar, dari Anas bin Malik z, bahwasanya Mu’awiyah z pernah mengimami shalat di Madinah dan menjahrkan bacaan Al-Qur’an, membaca basmalah sebelum membaca Al-Fatihah, dan tidak membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Al-Fatihah sampai selesai bacaan tersebut. Beliau z tidak bertakbir ketika turun sujud hingga selesai shalat. Setelah mengucapkan salam dari shalatnya, para sahabat Muhajirin yang mendengar hal tersebut menyerunya dari setiap tempat, “Wahai Mu’awiyah, apakah engkau mencuri shalat, ataukah engkau lupa?” Setelah peristiwa itu, bila shalat mengimami manusia, Mu’awiyah z membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Ummul Qur’an (Al-Fatihah) dan bertakbir ketika turun sujud.
Hadits yang lain diriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah, dari bapaknya, bahwasanya Mu’awiyah z pernah mengimami penduduk Madinah tanpa membaca basmalah dan tanpa bertakbir ketika melakukan gerakan turun dan naik dalam shalat. Beliau ditegur oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar, kemudian disebutkanlah hadits yang semakna dengan hadits di atas. (Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i no. 146)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menyatakan, hadits ini dhaif ditinjau dari beberapa sisi.
1. Riwayat yang sahih dan masyhur menyebutkan secara jelas penyelisihan dari Anas z terhadap riwayat di atas.
2. Poros sanad dalam kedua hadits tadi dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim. Ia dilemahkan sekelompok ahlul hadits. Mereka memandang hadits ini mudhtharib/goncang periwayatannya, baik secara sanad maupun matan. Ini menjelaskan bahwa hadits tersebut ghairu mahfuzh (mungkar).
3. Pada sanadnya tidak ada kesinambungan mendengarnya seorang perawi dari perawi yang lain. Bahkan, dalam sanad itu ada kelemahan dan kegoncangan yang dikhawatirkan menyebabkan inqitha’ (terputusnya sanad), juga jeleknya hafalan perawinya.
4. Anas z tinggal di Bashrah, sedangkan ketika Mu’awiyah z di Madinah, tidak ada seorang ulama ahli sejarah pun yang menyebutkan Anas bersamanya. Bahkan, secara zahir Anas tidak bersama Mu’awiyah.
5. Kalaupun benar terjadi di Madinah dan perawinya adalah Anas z, tentu murid-murid beliau yang terkenal menemani beliau—demikian juga penduduk Madinah—akan meriwayatkan hadits tersebut dari beliau. Akan tetapi, tidak didapatkan salah seorang dari mereka yang meriwayatkan dari Anas, bahkan yang dinukil dari mereka justru sebaliknya.
6. Bila benar Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr, ini menyelisihi kebiasaan beliau yang dikenal oleh penduduk Syam yang menemani beliau, sementara tidak ada seorang pun dari mereka yang menukilkan bahwa Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr. Bahkan, seluruh penduduk Syam, baik pemimpin maupun ulamanya, berpendapat tidak menjahrkan bacaan basmalah. Dalam hal ini Al-Imam Al-Auza’i sendiri—yang dikenal sebagai imam negeri Syam—bermazhab seperti mazhab Al-Imam Malik, yaitu tidak membaca basmalah sama sekali, baik sirr ataupun jahr.
Dengan demikian, orang yang berilmu (para muhaddits) yang melihat beberapa sisi ini akan memastikan bahwa hadits ini batil, tidak ada hakikatnya, atau telah diubah dari yang sebenarnya.
Adapun yang membawakan hadits ini, telah sampai kepadanya (hadits tersebut) dari jalan yang tidak sahih, sehingga menimbulkan cacat berupa terputusnya sanad.
Kalaupun hadits ini selamat, dia tetap syadz (ganjil), karena menyelisihi periwayatan perawi yang banyak dan lebih kokoh (hafalannya) yang meriwayatkan dari Anas z bahkan menyelisihi periwayatan penduduk Madinah serta Syam. (Majmu’ Fatawa, 22/431—433)

Apakah basmalah termasuk ayat dari Al-Fatihah?

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, para ulama berselisih pandang dalam masalah ini. Kita akan melihat perselisihan mereka dari beberapa sisi.

Apakah Basmalah Termasuk Ayat Al-Qur’an?
Dalam hal ini ada tiga pendapat ulama.
1.     Basmalah bukan bagian dari Al-Qur’an kecuali ayat ke-30 pada surah An-Naml.
Ini pendapat Al-Imam Malik dan sekelompok ulama Hanafiyah. Juga dinukilkan oleh sebagian pengikut Al-Imam Ahmad dalam sebuah riwayat dari beliau bahwa ini mazhab beliau.
2.    Basmalah adalah ayat dari setiap surah atau sebagian surah.
Ini mazhab Al-Imam Syafi’i dan yang mengikuti beliau. Akan tetapi, dalam sebuah penukilan dari beliau disebutkan bahwa basmalah bukan ayat di permulaan setiap surah kecuali Al-Fatihah, sedangkan surah lain hanyalah dibuka dengan basmalah untuk tabarruk (mencari berkah).
3. Basmalah adalah bagian dari Al-Qur’an, namun dia bukan termasuk bagian surah, tetapi ayat yang berdiri sendiri dan dibaca di awal setiap surah Al-Qur’an kecuali surah At-Taubah, sebagaimana Nabi n membacanya ketika diturunkan kepada beliau surah Al-Kautsar seperti yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Shahih-nya.
Ini merupakan pendapat Al-Imam Abdullah ibnul Mubarak, Al-Imam Ahmad, dan Abu Bakr ar-Razi—beliau menyebutkan bahwa inilah yang diinginkan oleh mazhab Abu Hanifah—. Ini pula pendapat para muhaqqiq (peneliti) dalam masalah ini.
Kami lebih condong kepada pendapat yang terakhir ini.

Apakah Basmalah Itu Ayat Pertama Al-Fatihah?
Ada dua pendapat ulama tentang hal ini.
1.    Basmalah bagian dari surah Al-Fatihah, namun bukan bagian surah yang lain, sehingga wajib membacanya ketika membaca Al-Fatihah.
2.    Tidak dibedakan antara Al-Fatihah dan surah yang lainnya dalam Al-Qur’an, sehingga membaca basmalah di awal Al-Fatihah sama dengan membaca basmalah di awal surah lainnya (karena basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri). Pendapat ini bersesuaian dengan hadits yang sahih, dan inilah pendapat yang rajih (kuat) menurut penulis.

Bacaan Basmalah dalam Shalat
Ada tiga pendapat ulama tentang hal ini.
1. Wajib seperti wajibnya membaca Al-Fatihah.
Ini merupakan pendapat Al-Imam Syafi’i, sebuah riwayat dari Al-Imam Ahmad dan sekelompok ahlul hadits. Pendapat ini dibangun berdasar anggapan bahwa basmalah itu bagian dari Al-Fatihah.
2.    Makruh (dibenci) baik secara sirr maupun jahr.
Pendapat ini masyhur dari mazhab Al-Imam Malik.
3.    Boleh, bahkan mustahabbah (disenangi).
Ini pendapat yang masyhur dari Al-Imam Ahmad, Abu Hanifah, dan kebanyakan ulama ahlul hadits. Ini pula pendapat yang kami pilih.
Pendapat ini juga dipegangi oleh orang yang berpendapat boleh membacanya ataupun tidak karena berkeyakinan bahwa kedua hal tersebut adalah qira’ah/bacaan Al-Qur’an yang diperkenankan.

Apakah Basmalah Dibaca Jahr atau Sirr?
Dalam hal ini juga ada perbedaan pendapat.
1. Disunnahkan membacanya secara jahr.
Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan ulama lain.
2. Disunnahkan membacanya secara sirr.
Ini merupakan pendapat jumhur ulama ahlul hadits dan ahli ra’yu, serta pendapat mayoritas fuqaha di dunia.
3. Seseorang bisa memilih, secara jahr atau sirr.
Pendapat ini diriwayatkan dari Al-Imam Ishaq bin Rahawaih. Ini juga pendapat Al-Imam Ibnu Hazm dan lainnya. (Majmu’ Fatawa, 22/435—437)