Wasiat Nabi Kepada Anak Pamannya

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Suatu hari Abdullah ibnu Abbas c yang masih belia beroleh wasiat dari sepupunya yang mulia, Nabi n:
يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ؛ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتِ الْأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Wahai anak1, sungguh aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta (suatu keperluan) maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, andai umat ini berkumpul untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa memberikannya selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudaratan kepadamu niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya, selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran catatan.”2
Dalam riwayat lain, Nabi n bersabda kepadanya:
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَماَ أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرَبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan engkau lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat engkau dalam kesempitan. Ketahuilah, apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”3
Wasiat yang tersampaikan lewat lisan Rasul n ini adalah wasiat yang sangat bermanfaat. Sepantasnya setiap muslim menghafalkan dan mengamalkannya karena mengamalkannya akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.
Wasiat pertama: Rasulullah n bersabda, “Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu.”
Menjaga Allah l adalah menjaga syariat agama-Nya dan batasan-batasan-Nya, yakni seseorang menjaga ketaatan kepada Allah dan menegakkan batasan-batasan Allah. Jika batasan tersebut berupa kewajiban maka ia tidak melampauinya. Jika berupa keharaman, ia meninggalkan dan menjauh darinya. Siapa yang menjaga Allah niscaya Allah akan menjaga agama, keluarga dan hartanya.
Menegakkan ketaatan kepada Allah adalah sebab dijaganya agama seorang hamba hingga ia wafat. Di samping itu, ia juga menjadi sebab terjaganya keluarga seseorang ketika hidupnya dan setelah matinya sehingga tidak terjadi sesuatu yang tak disukai pada keluarga yang ditinggalkan. Disebutkan dalam surah al-Kahfi tentang perjalanan Nabi Musa q dan Nabi Khidhir q, saat Nabi Khidhir menegakkan dinding yang hampir roboh karena di bawahnya ada harta yang tersimpan milik dua anak yatim yang akan dikeluarkan oleh Allah apabila keduanya telah dewasa. Disebutkan bahwa ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang saleh.
“Adalah ayah keduanya seorang yang saleh.” (al-Kahfi: 82)
Ini menjadi bukti penjagaan Allah l terhadap keturunan seorang hamba yang saleh.
Menjaga batasan Allah juga menjadi sebab terjaganya harta seorang hamba. Bukankah Allah l telah berfirman:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan jadikan jalan keluar baginya dan Dia beri rezki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2—3)
Betapa banyak orang yang diberkahi hartanya, dijaga dari penyakit-penyakit dan gangguan karena ia menjaga batasan-batasan Allah.

Wasiat kedua: Sabda Rasulullah n, “Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Termasuk manfaat yang diperoleh hamba dengan ia menjaga batasan-batasan Allah adalah Allah ada di hadapan si hamba. Allah l memberi hidayah kepadanya berupa hal-hal mengandung kebaikan si hamba. Allah l juga memudahkan urusannya sehingga tidak ia dapatkan sebuah urusan pun melainkan menjadi mudah dan ringan.

Wasiat ketiga: “Kenalilah Allah dalam keadaan lapang niscaya Dia akan mengenalimu di saat sempit.”
Tabiat umumnya manusia, saat lapang ia bersenang-senang dan melupakan hak-hak Allah. Adapun orang-orang yang diberikan taufik, mereka mengetahui bahwa kelapangan tidaklah terus-menerus dirasakan. Pasti ada saatnya seseorang jatuh dalam kesempitan dan kesulitan—paling tidak kesulitan saat kematian: berpisah dengan harta, istri dan anak. Maka dari itu, ketika lapang mereka melakukan amalan yang bisa menolong mereka di saat sempit. Di saat lapang mereka mengenali Rabb mereka dengan cara menunaikan ketaatan kepada-Nya. Allah l tidak kehilangan mereka dari mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Allah l pun tidak mendapati mereka mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya. Siapa yang mengenal Allah dalam keadaan senang, di saat sehat, atau di saat hidup dalam kekayaan, niscaya Allah akan mengenalinya dalam keadaan sempit.
Kesempitan bisa berupa kefakiran, sakit, atau rasa takut. Kesempitan paling besar yang akan dialami seorang hamba adalah saat kematian, karena kematian adalah saat berpisah dengan dunia dan menuju ke negeri akhirat. Dalam keadaan seperti ini, yang paling dia butuhkan adalah kelembutan Allah l dan rahmat-Nya. Di saat kematian datang menjemputnya, terkumpul padanya berbagai kesulitan: kesulitan berpisah dengan dunia, istri, anak, dan harta. Demikian juga kesulitan berupa rasa sakit yang menimpanya saat itu (sakaratul maut), kesulitan berupa ngerinya pemandangan yang ada, ditambah oleh kesulitan untuk tetap kokoh di atas iman. Hal ini karena setan sangat berambisi untuk menyimpangkan hamba dan menyesatkannya saat itu. Saat tersebut adalah poros penentu kebahagiaan seorang hamba atau celakanya. Bisa jadi, di saat genting demikian, ditawarkan kepada si hamba agama Yahudi dan Nasrani atau selainnya sebagai fitnah (ujian) baginya. Jika si hamba mengenali Rabbnya di saat lapang, Allah akan mengenalinya dalam kesempitan, mengokohkannya, dan menutup umurnya dengan akhir yang baik (husnul khatimah).
Wasiat keempat dan kelima: Sabda Rasulullah n, “Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan bila engkau minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.”
Siapa yang ingin kebutuhannya terpenuhi tanpa harus berutang budi kepada seseorang selain Allah saja dan tanpa beroleh kesulitan, hendaknya ia memohon kepada Allah l, minta keutamaan, dan bersandar hanya kepada-Nya.
Nabi n telah membaiat sejumlah sahabat beliau agar tidak meminta apapun kepada manusia. Sampai-sampai ada salah seorang dari mereka yang cambuk atau tali kekang untanya jatuh, namun ia tidak meminta seorang pun untuk mengambilkannya. (HR. Muslim)
Kalaupun kita terpaksa minta tolong kepada makhluk dalam hal yang makhluk mampu melakukannya, yakinlah bahwa itu hanyalah sebab. Adapun yang menetapkannya dan menolong secara hakiki adalah Dia Yang di Atas. Maka dari itu, jangan lupakan Dia ketika Dia menolongmu lewat perantara seseorang dari kalangan hamba-Nya.
Di akhir sabdanya, Nabi n menerangkan bahwa umat ini tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepadamu atau memudaratkanmu selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah l bagimu. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu, pasti akan menimpamu karena ketentuan takdir telah selesai. Semuanya telah tercatat.
Setelahnya, Rasulullah n berkata kepada sepupunya agar ia tahu bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran. Siapa yang bersabar, ia akan menang dan mencapai tujuannya. Kelapangan itu bersama kesulitan. Kapan saja kesulitan itu semakin besar menimpamu dan urusannya terasa sempit bagimu, menghadaplah kepada Rabbmu. Nantikanlah kelapangan dari-Nya karena sungguh kelapangan itu sangat dekat. Dan kesulitan itu bersama kemudahan. Kesulitan itu dilingkupi oleh dua kemudahan, kemudahan yang telah lewat dan kemudahan yang akan datang. Allah l berfirman:
“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)4
Oleh karena itu, satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan, kata Ibnu Abbas c.
Demikianlah wasiat Nabi n kepada anak pamannya. Hafalkan, realisasikan dan amalkanlah, mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung.
Sebagai penutup, kita akan menyimpulkan beberapa faedah dari hadits di atas.
1. Rasulullah n memiliki sifat lembut kepada orang yang kedudukannya di bawah beliau n. Dalam hal ini, beliau menyapa sepupunya dengan kalimat, “Wahai anak!”
2. Sebelum menyampaikan sesuatu yang penting, hendaknya seseorang mengawali dengan kalimat yang menarik perhatian pendengar. Rasulullah n mengatakan, “Wahai anak, aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.”
3. Siapa yang menjaga Allah l, niscaya Allah akan menjaganya.
4. Siapa yang menyia-nyiakan agama Allah, Allah pun akan menyia-nyiakannya, tidak menjaganya. Allah l berfirman:
“Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah maka Allah jadikan mereka melupakan diri-diri mereka. Mereka itulah orang-orang fasik.” (al-Hasyr: 19)
5. Siapa yang menjaga Allah, Allah akan memberi hidayah dan menunjukkan kebaikan kepadanya. Konsekuensi penjagaan Allah adalah Allah akan menghalangi kejelekan dari si hamba.
6. Jika seseorang membutuhkan pertolongan, hendaklah ia meminta tolong kepada Allah.
7. Manusia/makhluk yang ada tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepada seseorang melainkan apabila Allah l telah menetapkannya. Demikian pula sebaliknya, manusia tidak mampu memudaratkan seseorang melainkan jika Allah telah menentukannya.
8. Seseorang wajib menggantungkan harapannya kepada Allah dan tidak menoleh kepada makhluk karena makhluk tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula dapat menolak kemudaratan.
9. Segala sesuatu telah tercatat dalam catatan takdir karena seperti kata Rasulullah n dalam hadits yang sahih bahwa takdir makhluk telah Allah tetapkan 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. (HR. Muslim)
10. Urusan yang telah ditetapkan oleh Allah akan diperoleh oleh seseorang, pasti dia akan mendapatkannya, tidak akan luput darinya. Sebaliknya, apa yang ditetapkan oleh Allah tidak akan diperoleh si hamba, selamanya ia tidak akan didapatkannya.
11. Kabar gembira yang agung bagi orang-orang yang bersabar, yakni dekatnya pertolongan Allah l untuknya karena pertolongan itu selalu bergandengan dengan kesabaran.
12. Kabar gembira besar yang lain, bahwa kesulitan itu pasti akan hilang karena kelapangan selalu bergandengan dengan kesulitan itu sendiri. Dengan demikian, manakala seorang hamba mengalami kesulitan dalam suatu urusan niscaya Allah l akan memberikan kelapangan kepadanya setelah kesulitan tersebut.
13. Kabar gembira yang ketiga adalah jika seseorang ditimpa oleh kesulitan maka hendaklah ia menanti datangnya kemudahan karena Allah telah menyebutkan hal tersebut dalam Al-Qur’anul Karim. Dia Yang Mahasuci berfirman:
“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)
Jika urusan yang engkau hadapi terasa sulit, berdoalah kepada Allah sembari menantikan kemudahan dari-Nya dan membenarkan janji-Nya.
14. Hiburan bagi hamba tatkala terjadi musibah dan terluput dari urusan yang diidamkannya. Rasulullah n bersabda (yang artinya), “Ketahuilah apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu. Dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Dinukil secara ringkas dari adh-Dhiya’ul Lami’ minal Khuthabil Jawami’, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 6/264—268, dan Syarhul Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 224—229)

Catatan Kaki:

1 Nabi n wafat sementara Ibnu Abbas baru berusia sekitar 15 atau 16 tahun atau lebih kecil lagi.
2 HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Shifatul Qiyamah, no. 2516, Ahmad dalam Musnad­-nya, 1/293. Hadits ini sahih, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, al-Misykat no. 5302, dan Zhilalul Jannah, 316—318.
3 HR. Ahmad 1/307, al-Hakim dalam al-Mustadrak, 3/624.

4 Kesulitan yang disebutkan dalam ayat pertama sama dengan kesulitan yang disebutkan dalam ayat berikutnya. Penyebutannya diulangi menggunakan alif lam lil ‘ahd adz-dzikri. Namun, kemudahan yang disebutkan dalam ayat yang awal berbeda dengan kemudahan yang disebutkan dalam ayat berikutnya karena keduanya disebutkan dengan lafadz nakirah (tak tertentu). Dengan demikian, satu kesulitan akan dihadapi oleh dua kemudahan. (Lihat Tafsir al-Qur’anil Karim, Juz ‘Amma, hal. 253, karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)

JENIS KELAMIN JANIN TERMASUK URUSAN GAIB?

Bagaimana cara mendudukkan ilmu kedokteran sekarang yang dengan penemuan alat canggih dapat melihat jenis kelamin janin yang dikandung oleh seorang ibu apakah lelaki atau perempuan, dengan firman Allah l:
“Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim.” (Luqman: 34)
Demikian pula keterangan yang ada dalam Tafsir Ibni Jarir dari Mujahid bahwasanya ada seseorang bertanya kepada Nabi n tentang apa yang akan dilahirkan oleh istrinya. Lalu Allah l menurunkan ayat dalam surah Luqman tersebut. Demikian pula penafsiran Qatadah. Apakah ada yang mengkhususkan keumuman firman Allah l:
“Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim.” (Luqman: 34)
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab,
“Sebelum kita berbicara tentang permasalahan ini, saya ingin menerangkan bahwa tidak mungkin selama-lamanya ada pertentangan antara ayat-ayat Al-Qur’an yang sharih (jelas) dengan waqi’ (kenyataan). Namun, jika secara zahir tampak ada pertentangan antara keduanya maka bisa jadi kenyataan itu hanya pengakuan tanpa ada hakikatnya, atau bisa jadi Al-Qur’anul Karim tidak secara sharih menyelisihinya, karena memang Al-Qur’anul Karim yang sharih dan hakikat waqi’ (realitas) adalah hal yang qath’i (pasti). Dan dua hal yang qath’i selamanya tidak mungkin saling bertentangan. Jika hal ini telah jelas maka kita beralih kepada permasalahan yang ditanyakan.
Dinyatakan bahwa mereka sekarang dapat menyingkap apa yang ada di dalam rahim dan dapat mengetahui apakah yang di dalam rahim itu perempuan atau lelaki dengan bantuan alat-alat yang canggih. Jika yang dinyatakan itu batil/omong kosong maka tak ada pembicaraan lagi (masalahnya selesai). Namun, jika yang dikatakan itu benar maka hal itu tidaklah bertentangan dengan ayat yang disebutkan (dalam surah Luqman). Ayat tersebut menunjukkan satu dari lima hal gaib1 yang ada dalam ilmu Allah l. Adapun urusan gaib yang berkaitan dengan janin adalah menyangkut kadar lamanya berada dalam perut ibunya, kehidupannya, amalnya kelak, rezekinya, dan celaka atau bahagianya. Termasuk dalam hal ini, apakah janin itu lelaki atau perempuan. Semua ini tidaklah diketahui sebelum janin itu diberi bentuk.
Adapun setelah dibentuk, pengetahuan tentang janin itu lelaki ataukah perempuan bukan lagi termasuk ilmu gaib. Dengan dibentuknya janin, pengetahuan tentangnya menjadi ilmu syahadah2 (nyata). Hanya saja, janin itu masih tertutup dalam tiga kegelapan atau tiga penutup3. Seandainya penutup tersebut bisa disingkap, niscaya akan jelas urusannya. Tidaklah mustahil di antara sinar yang diciptakan oleh Allah l ada sinar kuat yang dapat menembus kegelapan tersebut hingga tampaklah jenis kelamin janin yang dikandung, apakah laki-laki atau perempuan. Ayat tersebut tidak secara terang-terangan menyebutkan bahwa pengetahuan tentang jenis kelamin lelaki dan perempuan (sebagai ilmu gaib). Demikian pula, tidak ada dari As-Sunnah tentang hal tersebut.
Adapun penukilan penanya dari Ibnu Jarir dari Mujahid tentang seseorang yang bertanya kepada Nabi n tentang apa yang dikandung oleh istrinya, lalu Allah l menurunkan ayat ini, riwayat ini munqathi’ (terputus sanadnya) karena Mujahid dari kalangan tabi’in (sehingga tidak bertemu dengan Nabi n).
Adapun tafsir Qatadah mungkin dibawa kepada pemahaman adanya pengkhususan ilmu Allah l tentang hal tersebut4 di saat janin belum diberi bentuk. Adapun setelah dibentuk, ilmu tentang hal tersebut diketahui juga oleh selain Allah l. Ibnu Katsir t berkata ketika menafsirkan ayat surah Luqman ini, “Demikianlah, tidak ada selain Allah l yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim berupa apa yang hendak Dia ciptakan. Akan tetapi, apabila Dia telah memerintahkan keberadaan janin tersebut lelaki atau perempuan, celaka atau bahagia, malaikat yang ditugaskan mengurusi janin pun mengetahuinya. Demikian pula siapa yang Dia kehendaki dari kalangan makhluk-Nya.”
Pertanyaan Anda tentang yang mengkhususkan keumuman firman Allah l:
“Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim.” (Luqman: 34)
Kami menyatakan, jika ayat tersebut mencakup ilmu tentang jenis kelamin janin setelah pembentukannya (sebagai ilmu gaib) maka yang mengkhususkannya (mengeluarkannya dari bagian ilmu gaib) adalah perkara inderawi dan waqi’ (kenyataan)5. Ulama ushul menyebutkan bahwa yang mengkhususkan keumuman Al-Kitab dan As-Sunnah bisa berupa nash (dalil lain), atau ijma’, atau qiyas, atau hal inderawi, atau akal. Ucapan ulama ushul dalam hal ini sudah dikenal.
Akan tetapi, jika ayat tersebut tidak mencakup setelah pembentukan janin, namun yang diinginkan hanyalah sebelum pembentukannya (merupakan ilmu gaib) maka tidak ada pertentangan dengan perkembangan ilmu kedokteran yang bisa mengetahui janin itu lelaki atau perempuan.
Alhamdulilah, tidak didapatkan dan tidak akan pernah didapatkan dalam waqi’ ini ada sesuatu yang menyelisihi Al-Qur’anul Karim yang sharih. Hujatan musuh-musuh kaum muslimin terhadap Al-Qur’anul Karim tentang terjadinya beberapa peristiwa yang secara zahir bertentangan dengan Al-Qur’anul Karim, hanyalah karena kedangkalan pemahaman mereka terhadap Kitabullah, atau peremehan mereka karena jeleknya niat mereka. Akan tetapi, ahli agama dan ahli ilmu memiliki pembahasan yang bisa menyampaikan kepada hakikat sehingga dapat mematahkan syubhat mereka. Hanya untuk Allah lah segala pujian, dan hanya Dia yang melimpahkan anugerah.
Manusia dalam masalah ini6 berada pada dua sisi yang bertentangan, dan ada golongan ketiga yang bersikap pertengahan.
Sisi yang pertama, mereka yang berpegang dengan zahir Al-Qur’anul Karim yang tidak sharih dan mengingkari seluruh waqi’ yang meyakinkan yang menyelisihinya. Sikap ini membawa kepada celaan terhadap dirinya karena kedangkalan ilmunya atau karena sikap taqshirnya, atau malah celaan diarahkan kepada Al-Qur’anul Karim karena menurutnya Al-Qur’an menyelisihi waqi’ yang meyakinkan.
Golongan yang satu lagi (berada pada sisi yang berseberangan). Mereka berpaling dari apa yang ditunjukkan Al-Qur’anul Karim dan hanya mengambil hal-hal materi. Dengan demikian, mereka termasuk orang-orang yang menyimpang (mulhid).
Adapun golongan yang pertengahan mengambil penunjukan Al-Qur’anul Karim dan membenarkan waqi’. Mereka mengetahui bahwa keduanya benar. Tidak mungkin ayat-ayat Al-Qur’an yang sharih bertentangan dengan hal yang diketahui dengan pandangan mata. Mereka pun mengumpulkan pengamalan hal yang naqli (berdasarkan wahyu) dan yang ma’qul (rasional). Dengan sikap seperti ini, selamatlah agama dan akal mereka. Allah l memberi hidayah kepada al-haq terhadap orang-orang yang beriman terkait dengan hal yang mereka perselisihkan dan Dia memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus. Semoga Allah memberi taufik kepada kita dan saudara-saudara kita kepada hal tersebut dan menjadikan kita orang-orang yang memberikan bimbingan lagi terbimbing, dan pimpinan terdepan yang mengajak kepada kemaslahatan. Tidak ada taufik yang kuperoleh melainkan dengan pertolongan Allah l. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya pada-Nya pula aku kembali.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Fatwa no. 23 dari Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatisy Syaikh Muhammad ibn al-Utsaimin t, 1/68—70)

Catatan Kaki:

1 Lima urusan gaib yang disebutkan dalam ayat 34 surah Luqman adalah pengetahuan tentang hari kiamat, turunnya hujan, apa yang ada di dalam rahim, apa yang diusahakan seorang hamba, dan di mana seorang hamba diwafatkan. –pent.

2 Lawan dari ilmu gaib. –pent.
3 Sebagaimana disebutkan dalam surah az-Zumar ayat 6:
“Dia menjadikan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menerangkan dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan tiga kegelapan adalah kegelapan rahim, kegelapan selaput yang menutup anak di dalam rahim, dan kegelapan perut. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 7/63) –pent.
4 Apakah janin itu lelaki atau perempuan. –pent.
5 Maksudnya, pengetahuan tentang janin itu lelaki atau perempuan setelah dibentuk di dalam rahim bukan lagi termasuk ilmu gaib karena bisa ditunjukkan oleh inderawi/pandangan mata dan kenyataan yang terjadi. –pent.

6 Antara Al-Qur’anul Karim dan waqi’.–pent.

Sama dalam Meraih Janji

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Telah kita ketahui bahwa wanita dalam Islam memperoleh kemuliaan sebagaimana kaum lelaki. Oleh karena itu, tidak benar pernyataan bahwa Islam mengecilkan keberadaan wanita, Islam memojokkan wanita dan berpihak kepada kaum lelaki saja. Memang di satu sisi derajat lelaki ditempatkan oleh syariat di atas wanita, sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan kaum lelaki berada satu derajat di atas kaum wanita.” (al-Baqarah: 228)
Karena kelebihan ini, lelakilah yang berhak memimpin wanita sebagaimana dalam firman-Nya:
“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (an-Nisa: 34)
Maksudnya, lelakilah yang bertanggung jawab memberikan nafkah kepada keluarganya, dan mencukupi kebutuhan mereka. Dia pula yang menanggung mahar untuk wanita yang dinikahinya. (Tafsir ath-Thabari, 4/59)
Akan tetapi, hal ini tidak berarti meremehkan keberadaan wanita dalam Islam.
Dalam meraih janji Allah l di akhirat nanti, Allah l menyamakan kaum wanita dengan kaum lelaki. Allah l menyebutkan kedua jenis ini dalam tanzil-Nya secara bergandengan tanpa membedakan keduanya. Kita lihat ayat Al-Qur’an berikut ini.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur/memenuhi perjanjian yang diberikan kepadanya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)
Disebutkan bahwa Ummu Umarah al-Anshariyah x pernah mendatangi Nabi n lalu mengatakan:
مَا أَرَى كُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ لِلرِّجَالِ وَمَا أَرَى النِّسَاءَ يُذْكَرْنَ بِشَيْءٍ. فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ } الْآيَةَ
“Tidaklah aku melihat segala sesuatu terkecuali untuk kaum lelaki dan aku tidak melihat kaum wanita disebut sedikitpun.” Lalu turunlah ayat ini, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin….” (HR. at-Tirmidzi no. 3211, disahihkan asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil al-Wadi’i t dalam ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, hlm. 187—188)
Dalam riwayat al-Imam Ahmad t disebutkan bahwa Ummu Salamah x, istri Nabi n, berkata kepada Nabi n:
مَا لَنَا لاَ نُذْكَرُ فِي الْقُرْآنِ كَمَا يُذْكَرُ الرِّجَالُ؟
“Kenapa kami tidak disebut dalam Al-Qur’an sebagaimana kaum lelaki disebut dalam Al-Qur’an?”
Ketika Ummu Salamah x sedang menyisir rambutnya, ia mendengar Rasulullah n bersabda di sisi mimbarnya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: { ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ } الْآيَةَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah l berfirman, ‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin…’.”
Riwayat ini disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya sebagai sebab turunnya ayat (sabubun nuzul) surah al-Ahzab tersebut. Beliau t juga membawakan jalan-jalan lain dari hadits ini. (Tafsir Ibni Katsir, 6/252—253)
Demikianlah, syariat Islam bersemangat untuk membersihkan pemeluknya dan menegakkan kehidupan pemeluknya di atas kelurusan yang dibawa oleh Islam. Lelaki dan perempuan dalam hal ini sama. Allah l menyebutkan secara rinci sifat-sifat yang dengannya terwujud kelurusan tersebut. Allah l menyebutkan sepuluh sifat dalam ayat ini, yang semuanya saling membantu dalam membentuk jiwa yang tunduk yaitu Islam, iman, qunut (taat), shidiq (jujur), sabar, khusyuk, bersedekah, puasa, menjaga kemaluan, dan banyak berzikir kepada Allah l. Masing-masing sifat tersebut memiliki andil dalam membangun kepribadian seorang muslim, baik ia lelaki maupun wanita.
Di dalam ayat ini, wanita disebut berdampingan dengan lelaki sebagai bukti pengangkatan nilai seorang wanita dan pemberian kedudukan yang sama dengan lelaki dalam hubungan dengan Allah l. Demikian pula dalam pengajaran akidah berupa pembersihan diri, ibadah, dan perangai yang lurus dalam kehidupan agar mereka semua secara bersama-sama dapat mencapai kehidupan yang kekal dalam surga-surga yang seluas langit dan bumi, yang disiapkan untuk kaum lelaki dan kaum wanita. Sama sekali tidak dikurangi pahala mereka dengan sebab kaum wanita. (Mazhahir Takrimil Mar’ah fi asy-Syariah al-Islamiyah, sebuah risalah yang diajukan untuk meraih gelar magister, karya Dr. Su’ad Muhammad, hlm. 40—41)
Dalam ayat di atas, Allah l memuji wanita bersama dengan lelaki.
Pertama, karena keislaman mereka, yaitu tunduk dan terikat dengan perintah Allah l. Kedua, karena keimanan mereka, yaitu pembenaran, benarnya keyakinan, dan kesesuaian lahir dengan batin. Islam dan iman memiliki hubungan yang sangat erat karena tidak ada iman bagi orang yang tidak berislam dan tidak ada Islam bagi orang yang tidak beriman. Seorang mukmin harus terlebih dahulu berislam sehingga terwujud keimanannya. Seorang muslim juga harus memiliki iman sehingga mengesahkan keislamannya. (Tafsir al-Khazin1/Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, 3/426)
Disebutnya iman dan Islam bersama-sama menunjukkan bahwa iman itu berbeda dengan Islam. Iman bersifat lebih khusus. Allah l berfirman tentang orang-orang A’rab (Badui):
Orang-orang A’rab (Badui) itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kalian belum beriman tetapi katakanlah, ‘kami telah berislam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (al-Hujurat: 14)
Setelah iman dan Islam, Allah l menyebutkan sifat yang ketiga yaitu qunut. Maknanya adalah beribadah dengan penuh ketaatan. Allah l berfirman memuji hamba-Nya yang qanit:
“(Apakah kalian wahai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (az-Zumar: 9)
Sifat qunut ini tumbuh dari keislaman dan keimanan.
Sifat keempat adalah shidq/kejujuran. Sifat ini terkait dengan ucapan. Kejujuran adalah perangai yang terpuji. Oleh karena itulah, di antara sahabat Rasulullah n tidak pernah berdusta baik di masa jahiliahnya (sebelum berislam), apalagi setelah masuk Islam. Kejujuran adalah tanda keimanan sebagaimana dusta tanda kemunafikan. Barang siapa yang jujur, dia akan selamat. Sebaliknya, barang siapa berdusta dia akan celaka. Rasulullah n bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
“Wajib bagi kalian untuk bersifat jujur karena jujur akan membimbing kepada kebaikan, dan sungguh kebaikan akan membimbing kepada surga. Berhati-hatilah kalian dari dusta karena dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan sungguh kefajiran akan mengantarkan ke neraka. Terus-menerus seseorang berlaku jujur dan membiasakan kejujuran hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan terus-menerus seseorang berdusta dan membiasakan dusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sifat sabar ditempatkan setelahnya. Orang sabar yang dipuji dalam ayat ini adalah orang yang sabar mengekang syahwat dan sabar menjalankan ketaatan, baik dalam keadaan tidak suka maupun dalam keadaan giat/bersemangat.
Demikian pula sabar menghadapi musibah. Ia menyadari bahwa apa yang telah ditakdirkan pasti terjadi, tidak mungkin luput darinya. Ia menghadapi takdir tersebut dengan sabar dan tabah. Sabar yang paling berat adalah ketika waktu pertama terjadinya (hal yang tidak disukai), sebagaimana dalam hadits:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدَمَةِ الْأُوْلَى
“Hanyalah kesabaran itu pada pukulan yang pertama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Adapun setelahnya, lebih mudah.
Khusyuk adalah sifat yang berikutnya. Maknanya adalah diam, tenang, dan tunduk. Yang mendorong seseorang berlaku demikian adalah perasaan takut kepada Allah l dan merasakan pengawasan-Nya.
Selanjutnya, Allah l memuji lelaki dan perempuan yang bersedekah. Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik kepada orang lemah yang keadaan ekonominya minim, dengan memberikan kelebihan harta yang ada, dalam rangka taat kepada Allah l. Dalam Shahihain disebutkan Rasulullah n bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ –فَذَكَرَ مِنْهُمْ– وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya…—(lalu beliau menyebutkan ketujuh golongan tersebut dan di antara mereka adalah)—seseorang yang bersedekah dalam keadaan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 2377)
Berikutnya, lelaki dan wanita yang berpuasa. Allah l memuji mereka karena ibadah puasa yang mereka lakukan. Hal ini karena amalan puasa merupakan penolong terbesar untuk mematahkan syahwat. Rasulullah n bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَة فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْج، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْم، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan maka hendaklah ia menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa karena puasa adalah perisai baginya.” (HR. al-Bukhari no. 1905 dan Muslim no. 3384)
Setelah menyebutkan lelaki dan wanita yang berpuasa yang syahwat akan terkekang dengannya, sesuai sekali disebutkan orang yang menjaga kemaluan dari yang haram dan dosa, baik kalangan lelaki maupun wanita.
Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang menjaga/memelihara kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Ma’arij: 29—31)
Sifat terakhir yang mendapatkan janji kebaikan adalah banyak berzikir kepada Allah l, baik lelaki maupun perempuan.
Abu Sa’id al-Khudri z berkata, “Sungguh Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Apabila seorang suami membangunkan istrinya di waktu malam, lalu keduanya mengerjakan shalat sunnah dua rakaat, pada malam tersebut keduanya akan dicatat termasuk lelaki dan wanita yang banyak berzikir (mengingat) Allah.” (HR. Ibnu Abi Hatim, Abu Dawud no. 1309, disahihkan oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 333)
Untuk mereka yang disebutkan dalam ayat di atas, Allah l telah menyediakan ampunan dari dosa dan pahala yang besar yaitu surga. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 14/120, Tafsir Ibni Katsir, 6/254—256)
Demikianlah kita dapatkan agama Islam ini menyamakan lelaki dan wanita dalam hal meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah l. Islam tidak membedakan keduanya dalam hal beroleh tempat yang diridhai di sisi Pencipta langit dan bumi.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Karya Alauddin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi asy-Syafi’i t, yang masyhur dengan sebutan al-Khazin, wafat 725 H. Tafsir ini adalah ringkasan dari tafsir Ma’alimut Tanzil karya al-Imam al-Baghawi t dengan tambahan penukilan dan tambahan ringkasan dari tafsir-tafsir sebelumnya. (at-Tafsir wal Mufassirun, 1/ 220—221)

Ummul Mundzir Al-Anshariyyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu ‘Imran)

Namanya adalah Ummul Mundzir bintu Qais bin ‘Amr bin ‘Ubaid bin Malik bin ‘Adi bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin an-Najjar al-Anshariyah an-Najjariyah x. Ibunya bernama Raghibah bintu Zurarah bin ‘Adas bin ‘Abid bin Tsa’labah bin Ghanm bin Malik bin an-Najjar. Ia bersaudara kandung dengan Salith bin Qais z, sahabat mulia yang turut dalam pertempuran Badr.
Ummul Mundzir disunting oleh Qais bin Sha’sha’ah bin Wahb bin ‘Adi bin Malik bin ‘Adi bin Ghanm bin ‘Adi bin an-Najjar. Allah menganugerahkan kepada pasangan ini seorang anak bernama al-Mundzir.
Ketika dakwah mulai menyebar di Madinah, Ummul Mundzir masuk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah n.
Berbagai keutamaan terkumpul pada dirinya. Salah satunya, dia berkerabat dengan Rasulullah n dari pihak ibu beliau, Aminah, yang juga berasal dari Bani an-Najjar.
Selain itu, Ummul Mundzir pernah shalat bersama Rasulullah n menghadap ke dua kiblat. Pada tahun kedua hijriyah, peristiwa besar ini terjadi. Kaum muslimin semula shalat menghadap ke Baitul Maqdis, kiblat yang sama dengan kaum Yahudi. Rasulullah n sangat menginginkan agar kiblat kaum muslimin dipalingkan ke arah Ka’bah. Allah l mengabulkan keinginan beliau yang mulia. Ummul Mundzir x yang biasa shalat bersama Rasulullah n pun turut menyaksikan peristiwa besar ini.
Masih tentang kemuliaan Ummul Mundzir x, Rasulullah n pernah datang ke rumahnya bersama Ali bin Abi Thalib z. Waktu itu Ali z baru saja sembuh dari sakitnya.
Di rumah Ummul Mundzir tergantung setandan kurma muda. Rasulullah n mengambil dan memakan kurma itu. Ali z hendak turut memakannya. Rasulullah n segera mencegahnya. “Tunggu, engkau baru saja sembuh dari sakit,” kata Rasulullah n. Ali z pun duduk, sementara Rasulullah n tetap makan.
Lalu Ummul Mundzir x membuat hidangan terbuat dari gandum yang dicampur silq, sejenis sayuran. Ummul Mundzir menghidangkan makanan itu kepada Rasulullah n. Melihat hidangan itu, Rasulullah n pun mengatakan, “Nah, ini lebih cocok bagimu.”
Seorang wanita mulia yang tertulis namanya dalam kitab-kitab para ulama. Periwayatannya diambil oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Ummul Mundzir bintu Qais al-Anshariyah, semoga Allah meridhainya….

Sumber bacaan:
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/392—393)
al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/480—481)
al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/599)
Mukhtashar Siratir Rasul, al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab
Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/387—388)

Suami, Antara Dua Kekeliruan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Islam telah mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi seorang istri dan bagaimana seharusnya menjadi suami yang baik. Namun, disayangkan aturan Islam yang demikian adil, arif dan sempurna banyak dilanggar oleh pemeluknya termasuk dalam hal yang satu ini. Pelanggaran yang terjadi bisa karena kesengajaan, atau sikap masa bodo terhadap apa yang dimaukan syariat, atau lebih banyaknya karena memang jahil alias tidak paham.
Kali ini pembicaraan kita akan menyinggung tentang kesalahan yang ada pada suami dalam berbuat dan bersikap terhadap istrinya: dua posisi yang berlawanan, antara yang berlebih-lebihan dan yang menyia-nyiakan. Kenapa yang dibicarakan dari sisi suami, bukan kesalahan istri? Kami jawab bahwa sebelum ini pembahasan di lembar Sakinah sudah sering menyinggung kesalahan istri. Bagaimana seharusnya menjadi seorang istri shalihah, kewajiban yang harus ditunaikan terhadap suami, dan semisalnya. Oleh karena itu, sekarang tiba saatnya kita berbicara tentang suami.
Jika seorang suami mempunyai kesalahan dan kekurangan, Islam akan menegur dan mengarahkannya kepada kebaikan dan hal yang semestinya. Untuk bisa mengambil pelajaran dan melakukan perbaikan diri, tidak ada salahnya kita menengok kekeliruan yang terjadi lalu kita melihat sikap yang seharusnya dan semestinya dilakukan oleh seorang suami.
Kekeliruan yang pertama: Suami menghinakan istri, merendahkan dan melanggar hak-haknya. Ia membiarkan istrinya tanpa bimbingan dan arahan sehingga istri tidak tahu apa yang diwajibkan oleh Allah l terhadap dirinya. Akibatnya, si istri sering menyelisihi aturan-aturan Allah l, dan bisa jadi merusak keluarganya serta memenuhi seruan setiap orang yang mengajaknya kepada kejelekan. Sikap suami yang meremehkan istri dan tidak mengerti arti penting istri ini tidak dibolehkan oleh syariat. Syariat justru memberikan kemuliaan kepada wanita dan meninggikan kedudukannya. Al-Qur’an yang mulia turun memerintahkan suami untuk bergaul dengan baik kepada istrinya:
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Jika kalian tidak menyukai mereka (bersabarlah), karena bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa: 19)
Rasulullah n dalam haji Wada’ tidak lupa menganjurkan para suami agar memperbaiki pergaulan mereka dengan istri-istri mereka. Di saat kaum muslimin berkumpul dalam jumlah yang besar tersebut, beliau n bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kekeliruan yang kedua: Mereka melepaskan tali kendali para istri, memberikan kebebasan kepadanya sebebas-bebasnya, dan membiarkannya lepas begitu saja kemana si istri suka. Akibatnya, si istri bebas bepergian tanpa mahram, bercampur baur dengan lelaki lain di tempat-tempat umum, di tempat kerja, dan sebagainya. Padahal Allah l telah mengangkat suami sebagai qawwam, sebagaimana firman-Nya:
“Para lelaki adalah pimpinan bagi para wanita.” (an-Nisa: 34)
Sebagai pemimpin, suami bertanggung jawab mengarahkan istrinya, membimbingnya kepada kebaikan, dan tidak membiarkannya begitu saja1.
Sikap suami pada dua keadaan yang berlawanan ini akan menimbulkan akibat yang buruk. di antaranya:
1. Perceraian
Kita mengetahui konsekuensi dari perceraian ini: tercerai-berainya keluarga dan tersia-siakannya anak. Parahnya akibat yang ditimbulkan oleh sebuah perceraian sehingga membuat ikatan keluarga menjadi terurai ini adalah target utama Iblis. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah n:
إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيْئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيْئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengirim tentara-tentaranya. Yang paling dekat di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah (kerusakan) yang ditimbulkannya. Salah seorang dari mereka datang seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang yang lain seraya berkata, “Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim)
2. Timbulnya berbagai problem suami-istri
Akibat yang jelas dari munculnya problem dalam rumah tangga adalah keluarga tidak bisa menjadi tempat pengasuhan dan pendidikan yang baik bagi generasi yang lahir di tengah-tengahnya.
Sikap suami dalam dua keadaan yang berlawanan ini adalah dosa yang akan dituntut di hadapan Allah l karena Rasulullah n bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ… وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya… Dan suami adalah pemimpin atas keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat an-Nasai disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعاَهُ، أََحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya. Sampai-sampai seorang suami pun akan ditanyai tentang keluarganya.” (Disahihkan oleh al-Imam al-Albani dalam ash Shahihah no. 1636)
Bukankah seorang suami berkewajiban menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka, sebagai pengamalan dari firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (at-Tahrim: 6)
Dari sini kita mendapatkan kesimpulan bahwa sikap yang semestinya dari seorang suami adalah ia menjalankan fungsinya sebagai qawwam di tengah keluarganya. Hendaknya ia memuliakan istrinya dengan memberikan hak-haknya. Ia juga hendaknya memberikan pengajaran aturan-aturan syariat, hukum Allah l, dan Sunnah Rasul-Nya kepada sang istri secara langsung ataupun lewat perantara, karena ia bertanggung jawab menyelamatkan istri dan anak keturunannya dari api neraka.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Lihat Muqaddimah asy-Syaikh al-Fadhil al-Imam Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i terhadap kitab Nashihati lin Nisa’ karya putri beliau, Ummu Abdillah al-Wadi’iyah.

KEWAJIBAN MENJAGA LISAN

Khutbah Pertama:
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ، أَحَاطَ عِلْمَهُ بِالظَّاهِرِ وَالخَفِيِّ وَالقَرِيْبِ وَالبَعِيْدِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ فَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَعَبْدُهُ أَفْضَلَ العَبِيْدِ، صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فِي هَدْيِهِمُ الرَّشِيْدِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَتَحْفَظُوْا مِنْ أَلْسِنَتِكُمْ فَإِنَّ كَلاَمَكُمْ مَحْفُوْظٌ عَلَيْكُمْ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l yang telah menciptakan manusia dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga ucapan dan perkataannya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali hanya Allah l semata dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dengan senantiasa menjaga lisan kita untuk tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai-Nya. Ingatlah, bagi setiap manusia telah ditugaskan dua malaikat yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Salah satunya akan mencatat dan menulis setiap kebaikan yang dilakukannya. Adapun yang satunya akan mencatat setiap perbuatan jeleknya. Allah l berfirman:
“(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, salah satunya duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 17—18)
Berdasarkan ayat ini, setiap perkataan, baik yang diucapkan dengan keras maupun lirih, begitu pula setiap perbuatan, baik yang dilakukan di hadapan orang maupun sembunyi-sembunyi akan ditulis dan dimintai pertanggungjawabannya serta akan diperlihatkan di akhirat nanti kepada para pelakunya. Allah l berfirman:
“Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (al-Isra’: 13—14)

Hadirin rahimakumullah,
Setiap muslim tentu mengimani hal tersebut. Namun, kenyataannya banyak di antara kita yang kurang berhati-hati menjaga lisan sehingga terjatuh pada ketergelinciran. Betapa banyak orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan pembicaraan yang sesungguhnya tidak ada kepentingan bagi dirinya. Yang dilakukan hanyalah semata-mata mencampuri urusan orang lain, tidak meringankan atau membantu, apalagi menyelesaikan masalah. Justru pembicaraannya bisa menyebabkan semakin keruh keadaan. Hal ini tentunya termasuk ketergelinciran lisan dan menyelisihi sabda Nabi n:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
“Termasuk baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak ada urusannya dengan dirinya.” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Termasuk kesalahan lisan yang sering dilakukan oleh seseorang adalah larut dalam pembicaraan yang tidak benar, seperti pembicaraan yang berisi kemaksiatan atau pembicaraan yang belum jelas kebenarannya. Akibatnya, perkataan yang berupa kemaksiatan atau kejelekan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin menjadi bahan pembicaraan yang tersebar di mana-mana. Tentu saja hal ini akan menyenangkan dan menguntungkan orang-orang yang menyukai kemaksiatan, orang-orang munafik, dan musuh-musuh Islam. Allah l telah mengancam orang-orang yang suka menyebarkan kejelekan sebagian kaum muslimin dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang senang agar (berita tentang saudaranya) yang berbuat kemaksiatan itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat, dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Hadirin rahimakumullah,
Terkadang ada orang yang berprasangka tidak baik terhadap saudaranya, padahal baru sebatas dugaan yang sangat lemah. Namun, dia terburu-terburu menyampaikan kepada yang lainnya sehingga tanpa disadari dia telah menyakiti saudaranya dengan perbuatannya tersebut. Maka dari itu, dikhawatirkan perbuatan tersebut memasukkan dirinya dalam hadits Nabi n:
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sungguh seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah dalam keadaan dia tidak peduli dengan ucapan tersebut sehingga menyebabkan dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari)
Oleh karena itu, yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim ketika mendapatkan saudaranya seiman berbuat kemaksiatan adalah mengingatkan dan menasihatinya. Adapun menjadikan ketergelinciran atau kesalahan saudaranya sebagai bahan pembicaraan semata ketika berkumpul dengan orang, hal tersebut adalah perbuatan yang tercela. Ingatlah sabda Nabi kita n:
يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai orang-orang yang telah menyatakan Islam dengan lisan namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin dan menjelek-jelekkan mereka serta jangan pula mencari-cari kejelekannya. Karena barang siapa mencari-cari kejelekan saudaranya, Allah akan mencari kejelekannya pula. Dan barang siapa yang Allah mencari kejelekannya, pasti akan terbongkar kejelekannya meskipun dia melakukannya sembunyi-sembuyi di dalam rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan asy-Syaikh al-Albani)
Maka dari itu, marilah kita memikirkan apa yang akan kita ucapkan. Tidakkah kita takut, apabila di akhirat kelak ditanya: Bukankah engkau telah mengatakan demikian dan demikian? Atas dasar apa engkau mengatakannya dan dari mana engkau mendapatkannya? Sementara urusannya belum jelas bagi kita. Sungguh, bisa jadi apa yang kita sampaikan adalah berita yang dusta atau tidak benar semuanya. Betapa banyak kejadian yang disebabkan ketidakhati-hatian dalam menerima dan menyampaikan berita sehingga menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin.

Hadirin rahimakumullah,
Termasuk kesalahan lisan adalah mengucapkan kata-kata yang berbentuk cercaan, celaan, dan cacian. Oleh karena itu, sungguh sangat disayangkan ada orang yang bermudah-mudahan dan terbiasa mengucapkan kata-kata laknat dan cercaan, baik kepada orang lain maupun kepada kendaraan yang dinaikinya atau yang semisalnya. Padahal Nabi n bersabda:
وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ
“Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dahulu ada seorang wanita yang melaknat kendaraan untanya. Kemudian Nabi n bersabda:
خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ
“Ambillah barang yang ada di atas (unta tersebut) dan biarkan dia sendirian karena dia adalah kendaraan yang sudah dilaknat.” (HR. Muslim)
Sebagian orang, ketika ada permasalahan dengan saudaranya, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan kepada saudaranya seiman. Dirinya yang lemah tidak menyadari bahwa dengan ucapan tersebut justru dia telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri dan telah memikul dosa yang berat.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Di antara kesalahan lisan adalah memperolok-olok dan merendahkan manusia. Baik dengan ucapan, seperti mengejek orang atau menertawakannya; dengan isyarat dan perbuatan, seperti mengejek dengan mencibir; atau dengan pandangan matanya. Allah l berfirman:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (al-Humazah: 1)
Akhirnya, marilah kita berupaya untuk menjaga lisan-lisan kita dan membasahinya dengan zikir serta ucapan yang baik. Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah l dengan senantiasa mengingat bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perkataan yang kita ucapkan.

Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa kesalahan lisan akan menjatuhkan pelakunya kepada kebinasaan. Nabi n bersabda:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟
“Bukankah yang menyebabkan manusia diseret ke neraka tertelungkup di atas wajah-wajah mereka adalah akibat perkataan yang keluar dari lisan-lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan asy-Syaikh al-Albani)
Oleh karena itu, seseorang harus senantiasa berhati-hati dalam berbicara. Apalagi di antara kesalahan lisan ada yang berupa kekafiran dan bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agamanya. Seperti ucapan yang memperolok-olok Allah l, kitab-Nya, agama, dan Rasul-Nya. Bahkan, ada ucapan yang barangkali seseorang mengucapkannya dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar namun karena tidak memikirkan akibat ucapannya, dia menghinakan orang lain dan tidak beradab kepada Allah l. Hasilnya, bukan rahmat Allah l yang dia dapatkan. Justru Allah l menggugurkan seluruh amalannya. Nas’alullah as-salamah (Kita meminta keselamatan kepada Allah). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jundab z bahwa Rasulullah n bersabda:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللهِ، لاَ يَغْفِرُ اللهُ لِفُلاَنٍ؛ وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَيََّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
Ada seseorang yang mengatakan, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni kesalahan orang itu.” Allah pun berkata: “Siapa yang bersumpah mendahului Aku dan menyatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni dosa orang itu? Sungguh Aku telah mengampuni-Nya, dan sungguh Aku telah menggugurkan amalanmu.” (HR. Muslim)
Demikianlah beberapa jenis kesalahan lisan serta akibatnya. Masih ada beberapa jenis lainnya, seperti ghibah, namimah (adu domba), berdusta, berlebihan dalam bercanda, dan sebagainya. Semua ini harus ditinggalkan, karena kesalahan-kesalahan lisan tersebut sering kurang diperhatikan. Padahal, di antara kesalahan lisan ada yang berupa dosa besar, bahkan berupa syirik dan pembatal Islam. Hal ini semua menunjukkan pentingnya menjaga lisan dan berfikir sebelum berbicara agar tidak terjatuh pada kesalahan-kesalahan.

Catatan Kaki:

Kami tidak mencantumkan doa pada rubrik “Khutbah Jumat” agar khatib yang ingin membaca doa memilih doa yang sesuai dengan keadaan masing-masing.

 

Sedang Shalat Sunnah, Muadzin Kumandangkan Iqamat

Bagaimana hukumnya jika muadzin mengumandangkan iqamat ketika masih ada jamaah yang shalat sunnah qabliyah? Ia beralasan bahwa yang shalat sunnah itu datangnya terlambat, yaitu setelah yang lainnya selesai shalat sunnah, dan ia ingin segera mendirikan shalat pada awal waktu (tidak mau menunggu lama-lama). Tolong ustadz, berikan solusi dan penjelasannya.
085284xxxxxx
Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.
Peristiwa semacam ini tidak jarang terjadi. Dalam kondisi semacam ini, banyak pihak yang merasa bingung. Imam dan muadzin bingung, karena ingin mengumandangkan iqamat namun masih ada jamaah yang shalat sunnah. Jamaah juga bingung karena ingin shalat sunnah sementara jamaah lain sudah terlalu lama menunggu dan seakan-akan sudah mau iqamat, sehingga kalau dia melaksanakan shalat sunnah takut terkejar-kejar iqamat. Begitulah kondisi yang ada. Semua kebingungan ini terjadi karena mayoritas jamaah shalat—termasuk pula muadzin dan imam—belum mengetahui hukum iqamat dan shalat sunnah dalam kondisi semacam ini. Untuk itu saya akan mencoba menjelaskan beberapa hukum yang semoga bisa menjadi pencerahan yang memberikan solusi bagi banyak kaum muslimin yang belum mengetahui masalah ini.
Yang pertama harus kita ketahui adalah bahwa iqamat merupakan hak imam. Dialah yang menentukan iqamat, bukan muadzin apalagi jamaah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, di antaranya al-Imam at-Tirmidzi t. Beliau t mengatakan, “Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa muadzin lebih berhak dalam hal azan, sedangkan imam lebih berhak dalam hal iqamat.”
Dalam kitab al-Mughni (2/72) karya Ibnu Qudamah disebutkan, “Tidak boleh dikumandangkan iqamat sampai imam mengizinkannya.”
Dalam kitab al-Majmu’ (3/138) karya an-Nawawi disebutkan, “Asy-Syafi’i berkata dalam kitab al-Umm, ‘Wajib bagi imam untuk mengontrol keadaan para muadzin agar mereka azan di awal waktu dan tidak menunggu mereka dalam hal iqamat. Imam juga wajib memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan iqamat pada waktunya.’ Ini teks ucapan beliau. Ulama yang semazhab dengan kami berkata, ‘Waktu azan diserahkan kepada pandangan muadzin. Ia tidak perlu bertanya dulu kepada imam. Adapun waktu iqamat diserahkan kepada imam, sehingga muadzin tidak boleh mengumandangkan iqamat melainkan dengan isyarat dari imam’.”
Dalam kitab Musykil al-Atsar karya ath-Thahawi disebutkan, “Iqamat diserahkan kepada imam, bukan kepada muadzin.”
Pernyataan para ulama tersebut berdasarkan apa yang mereka pahami dari hadits-hadits Nabi n. Di antaranya hadits Jabir bin Samuroh z, ia berkata:
كَانَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللهِ n يُمْهِلُ فَلاَ يُقِيمُ حَتَّى إِذَا رَأَى رَسُولَ اللهِ n قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلاَةَ حِينَ يَرَاهُ
“Adalah muadzin Rasulullah n menunggu sehingga ia tidak mengumandangkan iqamat sampai ia melihat Rasulullah keluar (dari rumahnya). Ia mengumandangkan iqamat saat melihat beliau n.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi, Abwabu ash-Shalah, Bab Annal Imam Ahaq bil Imamah, dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Demikian pula hadits Ibnu Abbas c, (ia berkata):
أَخَّرَ النَّبِىُّ n هَذِهِ الصَّلاَةَ فَجَاءَ عُمَرُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، رَقَدَ النِّسَاءُ وَالْوِلْدَانُ
“Nabi n mengakhirkan shalat ini (isya). Umar lalu mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, wanita-wanita dan anak-anak telah tertidur’.” (Sahih, HR. al-Bukhari)
Beberapa ulama berdalil dengan hadits ini dalam masalah ini. Tampak dari kejadian tersebut bahwa para sahabat menunggu Rasulullah n dalam hal iqamat karena beliau adalah imam. Sampai-sampai Umar z mengabarkan kepada Rasulullah n bahwa para wanita dan anak-anak telah tertidur, menunjukkan bahwa waktu sudah cukup malam. Setelah itu Rasulullah n keluar lalu melaksanakan shalat isya.
Terdapat pula riwayat dari sahabat Ali z:
الْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ
“Muadzin lebih berhak dalam hal azan, dan imam lebih berhak dalam hal iqamat.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, Abu Hafsh al-Kattani, dan al-Baihaqi dalam as-Sunan ash-Shughra. Riwayat ini disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah pada pembahasan hadits no. 46691. Lihat takhrijnya pada kitab tersebut)
Di antara hikmahnya adalah terkadang terjadi sesuatu pada imam, atau ada kebutuhan tertentu padanya, dia juga yang menentukan waktunya agar tepat menurut Sunnah Nabi n dan selaras dengan kondisi makmum. Oleh karena itu, adalah pantas jika iqamat tersebut menunggu izin atau perintahnya. (Mathalibu Ulin Nuha, Kasysyaful Qina’ dan Syarh Zadul Mustaqni’ karya al-Hamd)
Atas dasar ini, ketika imam memerintahkan atau mengizinkan muadzin untuk iqamat, hendaknya segera dikumandangkan, baik saat itu ada jamaah yang sedang shalat sunnah maupun tidak. Tidak mesti menunggu jamaah menyelesaikan shalat sunnahnya. Jadi, waktu iqamat diserahkan kepada imam dan pertimbangannya.
Yang kedua, masalah makmum: apa sikap makmum setelah muadzin mulai mengumandangkan iqamat?
Makmum bisa kita bagi menjadi dua.
1. Makmum yang tidak sedang melaksanakan shalat sunnah
2. Makmum yang sedang melaksanakan shalat sunnah.
Makmum yang tidak sedang melaksanaan shalat sunnah tidak boleh memulai shalat sunnah sementara muadzin sudah memulai iqamat. Hal itu berdasarkan hadits Nabi n dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau n bersabda:
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ
“Jika telah ditegakkan shalat maka tidak ada shalat selain shalat yang wajib.” (Sahih, HR. Muslim)
Dalam riwayat Ahmad disebutkan dengan lafadz:
إِلاَّ الَّتِي أُقِيْمَتْ
“… Selain shalat yang ditegakkan.”
Makna ditegakkan shalat yakni dikumandangkan iqamat, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh para ulama, di antaranya al-Mubarakfuri t. Beliau t mengatakan, “Itulah makna yang dikenal. Al-Iraqi mengatakan, ‘Itulah yang langsung terpahami oleh pikiran tentang hadits ini’.” (Tuhfatul Ahwadzi)

Dilarangnya Shalat tersebut Apakah sejak Awal Iqamat atau Akhirnya?
Al-Iraqi menjawab, “Tampaknya yang dimaksud adalah ketika (muadzin) memulai iqamat agar makmum bersiap-siap mendapatkan takbiratul ihram bersama imam. Di antara yang menunjukan hal ini adalah hadits Abu Musa z dalam riwayat ath-Thabarani bahwa Nabi n melihat seseorang shalat dua rakaat sunnah fajar ketika muadzin memulai iqamat.” Al-Iraqi mengatakan, “Sanad hadits ini bagus.” Hal ini juga dipertegas oleh al-Mubarakfuri dalam Syarah at-Tirmidzi.
Dari sini, an-Nawawi t menyimpulkan, “Hadits-hadits ini mengandung larangan yang tegas untuk memulai shalat sunnah setelah iqamat shalat dikumandangkan, sama saja baik sunnah rawatib seperti sunnah subuh, zuhur, dan asar, maupun yang lainnya.” (al-Minhaj Syarah Shahih Muslim)
Ibnu Hajar t juga mengatakan, “Hadits itu mengandung larangan melakukan shalat sunnah setelah dimulainya iqamat shalat, sama saja baik itu sunnah rawatib maupun selainnya.” (Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari)
Menurut an-Nawawi, ini adalah pendapat al-Imam asy-Syafi’i t dan jumhur ulama. Adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa bagi yang belum shalat dua rakaat sunnah (qabliyah) subuh hendaknya shalat di masjid setelah iqamat, selama tidak khawatir tertinggal rakaat kedua.
Dalam hal ini, ada sembilan pendapat sebagaimana diterangkan oleh asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar dan dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi. Namun, pendapat asy-Syafi’i dan jumhur itulah yang dikuatkan oleh al-Mubarakfuri. Dengan demikian, dua rakaat qabliyah subuh pun tidak boleh dilakukan, walaupun keutamaan shalat tersebut sangat besar. Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سِرْجِسٍ، وَكَانَ قَدْ أَدْرَكَ النَّبِيَّ n أَنَّ رَسُولَ اللهِ n صَلَّى الْفَجْرَ، فَجَاءَ رَجُلٌ فَصَلَّى خَلْفَهُ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ، ثُمَّ دَخَلَ مَعَ الْقَوْمِ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ n صَلَاتَهُ قَالَ لِلرَّجُلِ: أَيُّهُمَا جَعَلْتَ صَلَاتَكَ، الَّتِي صَلَّيْتَ وَحْدَكَ، أَوِ الَّتِي صَلَّيْتَ مَعَنَا؟
Dari Abdullah bin Sirjis z—dan beliau telah berjumpa dengan Rasulullah n—bahwa Rasulullah n shalat fajar. Datanglah seseorang lalu shalat dua rakaat (sunat) fajar di belakang beliau. Dia kemudian masuk (shalat bersama jamaah). Ketika Nabi n selesai dari shalatnya, beliau n mengatakan kepada orang tersebut, “Shalat yang mana yang engkau anggap sebagai shalatmu: yang engkau shalat sendirian, atau yang engkau shalat bersama kami!?” (Sahih, HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Hibban dan yang lain. Hadits tersebut adalah lafadz Ibnu Hibban, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t)
Dari Ibnu Abbas c, ia berkata:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي وَأَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْإِقَامَةِ، فَجَذَبَنِي النَّبِيُّ n وَقَالَ: أَتُصَلِّي الصُّبْحَ أَرْبَعًا؟
Aku shalat sementara muadzin mulai mengumandangkan iqamat. Nabi n lalu menarikku dan mengatakan, “Apakah engkau mau shalat subuh empat rakaat?!” (HR. Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Hakim, beliau mengatakan, “Sahih sesuai dengan syarat Muslim.”)
Adapun sikap makmum yang sedang melakukan shalat sunnah sementara muadzin mengumanangkan iqamat adalah sebagai berikut.
Secara ringkas, jika ia melanjutkan shalatnya akan menyebabkannya tertinggal takbiratul ihram maka hendaknya ia membatalkan shalatnya. Akan tetapi, kalau tersisa dari shalat sunnahnya kurang dari satu rakaat, hendaknya dia mempercepat dan tidak membatalkannya agar mendapatkan takbiratul ihram imam.
Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang lalu yang mengandung larangan mengerjakan shalat sunnah setelah dikumandangkannya iqamat. Berikut ini saya tambahkan juga beberapa keterangan ulama.
Ibnu Rajab t mengatakan, “Jika seseorang telah memulai shalat sunnah sebelum iqamat, lalu iqamat dikumandangkan, dalam hal ini ada dua pendapat. Salah satunya, ia tetap menyempurnakan shalatnya. Pendapat yang kedua, ia memutusnya.” (Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari, dengan diringkas)
Yang berpendapat memutus adalah Said bin Jubair (seorang tabi’in), dan salah satu riwayat dari asy-Syafi’i serta Ahmad. Ini juga pendapat Zhahiriyah. Al-Lajnah ad-Daimah juga memfatwakan agar shalat sunnahnya diputus sehingga mendapatkan takbiratul ihram. (Fatwa no. 3763)
Ibnu Abdir Bar t mengatakan, “Yang jadi hujjah saat perselisihan adalah sunnah Nabi n. Oleh karena itu, barang siapa berhujjah dengannya, dialah yang beruntung. Barang siapa menggunakannya, dialah yang selamat. Tidaklah aku diberi taufiq selain oleh Allah.” (at-Tamhid)
Muhammad bin Sirin t (seorang ulama tabi’in) mengatakan, “Mereka tidak menyukai untuk shalat dua rakaat jika iqamat telah dikumandangkan.” Beliau t juga mengatakan, “Apa yang tertinggal dari shalat yang wajib lebih saya sukai daripada kedua rakaat sunnah tersebut.” (at-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar)
Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Hal itu karena apabila muadzin memulai iqamat berarti telah wajib masuk shalat bersamanya dan jamaah itu wajib. Maka dari itu, tidak boleh seseorang tersibukkan dengan selainnya yang lebih rendah nilainya …
Barang siapa melakukan shalat setelah iqamat selain shalat yang wajib, seolah-olah ia menambah dalam shalat wajib, atau seolah-olah ia melakukan shalat wajib dua kali.
Oleh karena itu, wallahu a’lam, Rasulullah n mengisyaratkan dengan sabdanya, “Apakah subuh itu empat rakaat?!”
Demikian pula sabdanya, “Shalat yang mana yang engkau anggap, shalatmu yang sendirian atau shalatmu bersama kami?”
Sebab, tidak ada shalat setelah iqamat melainkan shalat yang ditegakkan dengan iqamat tersebut. Demikian pula, shalat-shalat sunnah itu mungkin diqadha setelah shalat wajib. Adapun yang tertinggal dari batas awal shalat wajib dan selanjutnya dari shalat di belakang imam walaupun setelah satu rakaat secara berjamaah tidak mungkin diganti dengan qadha. Jelas bahwa menjaga yang tidak mungkin diqadha lebih utama daripada yang mungkin diqadha. Apa yang didapat berupa takbiratul ihram, ucapan amin, dan ruku’, itu lebih bagus dari seluruh shalat sunnah.” (Syarhul Umdah)
Asy-Syaikh Ubaidullah ar-Rahmani mengatakan, “Yang kuat menurut saya adalah ia memutus shalatnya saat iqamat dikumandangkan jika masih tersisa satu rakaat2 karena paling sedikitnya shalat itu satu rakaat. Nabi n mengatakan, ‘Tidak ada shalat setelah iqamat selain shalat yang wajib.’ Oleh karena itu, tidak boleh shalat satu rakaat pun setelah iqamat. Adapun jika iqamat dikumandangkan sementara dia sedang sujud atau tasyahhud maka tidak mengapa apabila dia tidak memutusnya dan tetap menyempurnakannya, karena dalam kondisi tersebut tidak disebut shalat satu rakaat setelah iqamat. (Syarah Misykatul Mashabih)
Ini pula yang difatwakan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t dalam Majmu Fatawa beliau (11/389).
Al-Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang belum shalat dua rakaat sunnah subuh, sementara muadzin telah mengumandangkan iqamat, “Apa yang lebih engkau sukai, apakah ia mengikuti imam lalu mengqadha dua rakaat tersebut, atau dia shalat dua rakaat dahulu baru masuk bersama imam?”
Beliau t menjawab, “Sunnah Nabi n dalam hal ini adalah jika telah dikumandangkan iqamat shalat, tidak boleh sama sekali shalat dua rakaat fajar di masjid. Kalau dia shalat di rumah sebelum keluar, kuharap ada kelonggaran baginya. Akan tetapi, sebagian ulama juga membenci hal itu. Tidak melakukannya lebih aku sukai.
Jika seseorang sudah memulai dua rakaat fajar lalu muadzin memulai iqamat, dan harapannya jika ia mempercepat akan mendapatkan takbiratul ihram bersama imam, ia boleh melanjutkannya.” (Masa’il al-Imam Ahmad dan al-Imam Ishaq bin Rahuyah)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Ada juga yang meriwayatkan ucapan tersebut dari Nabi n (marfu’). Akan tetapi, riwayat tersebut lemah. Riwayat tersebut dilemahkan oleh para ulama, di antaranya asy-Syaikh al-Albani dalam adh-Dha’ifah no. 4669. Yang sahih, itu ucapan Ali z.

2 Yakni—wallahu a’lam—satu rakaat terhitung sampai batas ruku. Adapun setelah ruku, itu kurang dari satu rakaat. Dengan demikian, apabila iqamat dikumandangkan sedangkan yang tersisa dari shalatnya kurang dari satu rakaat, hendaknya ia menyempurnakannya segera dengan tetap thuma’ninah, tidak membatalkannya.

Sifat Shalat Nabi (bagian ke 11)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari)

Membaca Surah Al-Qur’an Setelah al-Fatihah
Setelah membaca al-Fatihah, Rasulullah n membaca surah-surah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hukum qiraah (membaca surah-surah Al-Qur’an) setelah al-Fatihah adalah mustahab (sunnah) menurut pendapat mayoritas ulama, di antaranya Malik, ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan Ahmad. (al-Majmu’ 3/353—354, al-Mughni, Kitab ash-Shalah, “Fashl Saktatul Imam Ba’dal Fatihah, mas’alah: Qala Tsumma Yaqra’ Suratan fi Ibtida’iha …”)
Jika shalat fardhu itu dikerjakan pada malam hari, yaitu maghrib dan isya1 serta shalat subuh, demikian pula shalat Jum’at, shalat ‘Iedain, shalat dua gerhana (gerhana matahari dan bulan), shalat istisqa’, dan shalat nafilah seperti shalat tarawih, beliau mengeraskan bacaan beliau (jahr). Adapun dalam shalat fardhu di siang hari, zhuhur dan ashar2, juga shalat nafilah seperti shalat rawatib, shalat dhuha, dan selainnya, Rasulullah n tidak mengeraskan bacaan beliau (sirr).
Tentang masalah shalat fardhu yang bacaannya jahr dan sirr, al-Imam an-Nawawi t telah menyebutkan adanya ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan khalaf (generasi belakangan) maupun salaf (generasi terdahulu yang saleh). Terlebih lagi, banyak hadits sahih yang menunjukkan hal ini. (al-Majmu’, 3/355)
Demikian pula pendapat Ibnu Hazm t sebagaimana dalam Maratibul Ijma’. (hlm. 60)

Hikmah Jahr dan Sirr dalam Bacaan Shalat
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Perbedaan jahr dan sirr antara shalat malam hari dan shalat siang hari sungguh merupakan puncak keselarasan dan hikmah. Hal ini karena malam hari (yang bacaan diucapkan dengan jahr, pen.) adalah saat suara-suara menjadi tenang, gerakan pun tenang, dan hati kosong dari berbagai kesibukan. Begitu pula, konsentrasi yang terpencar pada siang hari dapat terkumpul di waktu malam. Adapun siang hari adalah tempat kesibukan yang panjang bagi hati dan badan. Malam adalah tempat bertemunya hati dengan lisan dan bertemunya lisan dengan telinga.
Oleh karena itulah, As-Sunnah mengajarkan bacaan pada shalat fajar (shalat subuh) lebih panjang daripada bacaan dalam shalat-shalat fardhu yang lain. Dalam shalat subuh, Rasulullah n membaca sekitar 60—100 ayat. Abu Bakr ash-Shiddiq z membaca surah al-Baqarah dalam shalat fajar. Umar ibnul Khaththab z membaca surah an-Nahl, Hud, Bani Israil, dan Yunus serta surah-surah semisalnya. Saat itu adalah saat seseorang bangun dari tidurnya, hati sangat kosong dari berbagai kesibukan. Oleh karena itu, jika yang pertama kali mengetuk pendengaran hati adalah Kalamullah yang berisi kebaikan seluruhnya, bertepatan dengan kosongnya hati dari berbagai kesibukan, tentu kebaikan tersebut akan mendapatkan tempat di dalam hati dengan mapan, tanpa ada yang mendesaknya.
Adapun siang hari, keadaannya berlawanan dengan apa yang kita sebutkan di atas sehingga bacaan shalat di siang hari itu dilakukan dengan sirr. Namun, bacaan sirr ini dilakukan jika tidak berhadapan dengan hal lain yang lebih kuat, seperti adanya kumpulan orang banyak dalam dua shalat Id dan shalat Jum’at, shalat istisqa’ dan kusuf (gerhana). Menjahrkan bacaan ketika itu lebih bagus dan lebih pantas agar tujuan tercapai dan lebih bermanfaat bagi banyak orang. Sementara salah satu tujuan risalah yang paling agung adalah membacakan Kalamullah kepada mereka dan menyampaikannya pada kumpulan manusia yang banyak. Wallahu a’lam. (I’lamul Muwaqqi’in, 2/91)

Berita para Sahabat g tentang Bacaan Nabi n
Para sahabat g bisa mengetahui Rasulullah membaca surah Al-Qur’an dalam shalat sirriyah dari gerakan jenggot beliau. Hal ini dikabarkan oleh sejumlah sahabat, seperti Khabbab ibnul Arat z ketika ditanyakan kepadanya apakah Nabi n membaca surah ketika shalat zhuhur dan ashar. Khabbab mengiyakan dan menyatakan bahwa mereka mengetahui hal tersebut dari gerakan jenggot beliau n. (HR. Al-Bukhari no. 760)
Surah yang dibaca Rasulullah n juga diketahui dari bacaan yang terkadang beliau perdengarkan kepada para sahabat yang shalat di belakang beliau. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qatadah z yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahih-nya (no. 759) yang akan dibawakan dalam bacaan shalat zhuhur, insya Allah.
Terkadang Rasulullah n membaca surah yang panjang. Namun, pada kesempatan yang lain beliau membaca surah yang pendek. Bisa jadi, karena sedang dalam perjalanan/safar, atau beliau sedang sakit, atau beliau memutus bacaannya karena batuk. Pernah pula beliau n memendekkan shalat dan bacaannya karena mendengar tangisan anak kecil yang ibunya ikut shalat di belakang beliau. Hal ini diceritakan oleh Anas bin Malik z:
“Suatu hari dalam shalat fajar, Rasulullah n meringankan shalat. Beliau n membaca surah yang paling pendek dari dua surah dalam Al-Qur’an. Ditanyakan kepada beliau:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ، لِمَ جَوَّزْتَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ بُكَاءَ صَبِيٍّ فَظَنَنْتُ أَنَّ أُمَّهُ مَعَنَا تُصَلِي، فَأَرَدْتُ أَنْ أُفْرِغَ لَهُ أُمَّهُ
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau memendekkan/meringankan pelaksanaan shalat?” Beliau menjawab, “Aku mendengar tangisan anak kecil. Aku sangka ibunya ikut shalat bersama kita sehingga aku ingin memberikan kesempatan kepada ibunya untuk anaknya.” (HR. Ahmad 3/257, sanadnya sahih menurut syarat Syaikhani [al-Bukhari dan Muslim, red.], kecuali Ali bin Zaid, riwayatnya mutaba’ah (dalam kitab Shahih hanya sebagai pendukung), sebagaimana kata al-Imam al-Albani t dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi n, 1/ 391)
Dalam riwayat al-Bukhari (no. 708) disebutkan bahwa Anas bin Malik z berkata:
مَا صَلَّيْتُ خَلْفَ إِمَامٍ أَخَفَّ صَلاَةً مِنْ رَسُوْلِ اللهِ n وَلاَ أَتَمَّ، وَإِنْ كَـانَ رَسُوْلُ اللهِ n لَيَسْمَعُ بُكاَءَ الصَّبِيِّ فَيُخَفِّفُ مَخَافَةَ أَنْ تُفْتَنَ أُمُّهُ
“Aku tidak pernah shalat di belakang imam yang paling ringan namun paling sempurna shalatnya daripada Rasulullah n. Pernah beliau mendengar tangisan anak kecil, beliau pun meringankan shalat karena khawatir tangisan bayi tersebut memfitnah3 ibunya.”
Kebiasaan Rasulullah n ketika membaca surah dalam Al-Qur’an adalah memulai dari awal surah. Sering kali beliau membaca satu surah sampai selesai dalam satu rakaat. (Zadul Ma’ad, 1/209)
Terkadang pula beliau n membagi satu surah dalam dua rakaat. Bahkan, pernah pula beliau n mengulangi satu surah secara sempurna dalam rakaat kedua padahal telah dibaca dalam rakaat pertama4. Kadang-kadang dalam satu rakaat beliau menggabungkan dua surah atau lebih. Hal ini beliau lakukan dalam shalat sunnah. Akan tetapi, dalam shalat fardhu tidak didapatkan (riwayat) bahwa beliau n melakukannya. (Zadul Ma’ad, 1/209)
Disebutkan, ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang bernama Kultsum ibnul Hidm atau Kultsum ibnu Zahdam atau Kurz ibnu Zahdam5. Ia biasa mengimami mereka di masjid Quba’. Setiap kali hendak membaca bacaan Al-Qur’an dalam shalat setelah membaca al-Fatihah, ia mengawalinya dengan membaca surah al-Ikhlas sampai selesai. Setelahnya, barulah ia membaca surah yang lain. Demikian yang dilakukannya dalam setiap rakaat. Teman-temannya pun menegurnya. Namun, ia bersikukuh untuk meneruskan kebiasaannya tersebut sembari mempersilakan mereka mencari imam yang lain. Orang-orang lalu mengadukan hal ini kepada Rasulullah n. Beliau n lalu berkata:
يَا فُلاَنُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُوْمِ هَذِهِ السُّوْرَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا. قَالَ: حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ
“Wahai Fulan (Rasulullah menyebut namanya), apa yang menghalangimu untuk melakukan saran teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk senantiasa membaca surah al-Ikhlas dalam setiap rakaat?” Dia menjawab, “Aku mencintai surah tersebut.” Beliau n pun bersabda, “Kecintaanmu kepada surah tersebut memasukkanmu ke dalam surga.” (HR. al-Bukhari no. 774)

Penggabungan Surah-Surah Mufashshal
Rasulullah n pernah menggabungkan dua surah mufashshal6 yang semakna dalam hal nasihat, atau hukum, atau kisah yang ada di dalamnya. Surah-surah yang pernah dibaca bersama dalam satu rakaat itu adalah sebagai berikut.
1. Ar-Rahman (78 ayat) dan an-Najm (62 ayat)
2. Al-Qamar (55 ayat) dan al-Haqqah (52 ayat)
3. Ath-Thur (49 ayat) dan adz-Dzariyat (60 ayat)
4. Al-Waqi’ah (96 ayat) dan al-Qalam (52 ayat)
5. Al-Ma’arij (44 ayat) dan an-Nazi’at (46 ayat)
6. Al-Muthaffifin (36 ayat) dan ‘Abasa (42 ayat)
7. Al-Mudatstsir (56 ayat) dan al-Muzammil (20 ayat)
8. Al-Insan (31 ayat) dan al-Qiyamah (40 ayat)
9. An-Naba’ (40 ayat) dan al-Mursalat (50 ayat)
10. Ad-Dukhan (59 ayat) dan at-Takwir (29 ayat)
Demikian yang disebutkan oleh hadits Ibnu Mas’ud z yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 775) dan Muslim (no. 1910), tanpa perincian surah-surah di atas. Perinciannya disebutkan oleh riwayat Abu Dawud (no. 1396).
Terkadang Rasulullah n menggabungkan surah-surah yang panjang dalam satu rakaat, seperti yang pernah beliau n lakukan dalam shalat malam. Dalam satu rakaat, beliau n membaca surah al-Baqarah, an-Nisa, dan Ali Imran7. Rasulullah n pernah bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقِيَامِ
“Shalat yang paling utama adalah yang panjang berdirinya.” (HR. Muslim no. 1765)
Ketika Rasulullah n membaca surah al-Qiyamah dan sampai pada ayat yang akhir:
“Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 40)
Beliau n mengatakan:
سُبْحَانَكَ فَبَلَى
“Mahasuci Engkau, tentu Engkau mampu.”
Jika beliau n membaca:
”Sucikanlah nama Rabbmu Yang Mahatinggi.” (al-A’la: 1)
Setelahnya beliau berkata:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi.” (HR. Abu Dawud no. 883 dari Ibnu Abbas c)
Al-Imam al-Albani t menyatakan, secara zahir mengucapkan seperti ini hukumnya mustahab bagi setiap orang yang shalat kecuali makmum dalam shalat jahriyah, karena kalau ia mengucapkan سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى ia akan tersibukkan dari mendengarkan bacaan imam. Sementara Allah l berfirman:
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an maka dengarkanlah dan diamlah kalian, mudah-mudahan kalian dirahmati.” (al-A’raf: 204) (Ashlu Shifat Shalatin Nabi n, 1/408)

Bolehnya Mencukupkan Qiraah dengan al-Fatihah saja
Telah disebutkan di atas bahwa hukum qiraah setelah al-Fatihah adalah mustahab. Oleh karena itu, jika ada orang shalat hanya membaca surah al-Fatihah dan tidak membaca surah yang lain setelahnya maka dia tidak disalahkan. Bahkan hal ini hukumnya boleh, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat berikut ini.
Adalah Mu’adz ibnu Jabal z biasa shalat isya bersama Rasulullah n. Setelah itu, ia pulang ke tempatnya dan mengimami teman-temannya. Suatu malam, ia pulang dari shalat jamaah bersama Rasulullah n lalu mengimami orang-orang seperti biasanya. Sulaim, seorang pemuda dari Bani Salamah, ikut shalat bersama orang-orang tersebut. Ketika shalat Mu’adz terasa panjang oleh si pemuda, ia pun keluar dari jamaah lalu shalat sendirian di sisi masjid. Kemudian ia keluar dan memegang tali kekang untanya. Selesai shalat, hal tersebut disampaikan kepada Mu’adz. “Sungguh ada kemunafikan pada dirinya! Aku pasti akan mengabarkan perbuatannya kepada Rasulullah n,” kata Mu’adz. Si pemuda juga mengatakan, “Aku pun sungguh akan mengabarkan perbuatan Mu’adz kepada Rasulullah n.”
Keesokan harinya, mereka mendatangi Rasulullah n. Mu’adz mengabarkan kepada beliau perbuatan si pemuda. Si pemuda pun berkata, “Wahai Rasulullah, Mu’adz lama berada di sisimu. Kemudian dia pulang ke tempat kami untuk mengimami kami, lalu dipanjangkannya shalat.”
Mendengar keluhan si pemuda, Rasulullah n menegur Mu’adz, “Apakah engkau hendak menjadi juru fitnah, wahai Mu’adz?”
Beliau n juga mengatakan kepada si pemuda, “Engkau wahai anak saudaraku, apa yang engkau perbuat (engkau baca) bila engkau shalat?”
“Aku membaca Fatihatul Kitab (surah al-Fatihah) dan aku memohon surga kepada Allah serta berlindung dari neraka8. Aku tidak tahu apa yang sayup-sayup diucapkan olehmu, begitu pula yang diucapkan oleh Mu’adz!” jawab si pemuda.
Rasulullah n menjawab, “Aku dan Mu’adz di antara dua ini atau yang semisalnya.”
Si pemuda berkata, “Akan tetapi, Mu’adz akan mengetahui jika kaum yang akan menyerang telah datang.”
Sungguh dikabarkan bahwa musuh telah datang. Mereka pun maju menghadapi musuh, termasuk si pemuda. Akhirnya, ia menemui syahidnya. Setelahnya, Rasulullah n berkata kepada Mu’adz, “Apa yang telah dilakukan oleh pemuda yang mendebatku dan mendebatmu?” Mu’adz menjawab, “Wahai Rasulullah, Mahabenar Allah, sedangkan aku telah salah. Pemuda itu syahid.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1634 dan al-Baihaqi. Al-Imam al-Albani menyatakan sanadnya jayyid [bagus])
Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 793) meriwayatkan pula ucapan si pemuda dalam shalatnya dan haditsnya disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Asal kisah ini ada dalam Shahihain.

Tidak Ada Keharusan Membaca Surah Tertentu dalam Shalat
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Rasulullah n tidak mengharuskan membaca surah tertentu dalam shalat sehingga tidak boleh membaca selainnya, selain dalam shalat Jum’at dan dua shalat Id. Adapun shalat-shalat yang lain, Abu Dawud menyebutkan hadits Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, ‘Tidak ada satu pun surah mufashshal, baik yang pendek maupun yang panjang, melainkan aku pernah mendengar Rasulullah n mengimami manusia dengan membacanya dalam shalat wajib9’.” (Zadul Ma’ad, 1/209)
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Pada dua rakaat yang pertama.
2 Demikian pula rakaat ketiga dari shalat maghrib dan dua rakaat yang terakhir dari shalat isya.

3 Maksudnya, mengacaukan shalat ibunya sehingga tidak bisa khusyuk karena risau memikirkan anaknya yang terus menangis.
4 Insya Allah akan disebutkan dalilnya.
5 Silakan melihat perbedaan pendapat tentang namanya ini dalam Fathul Bari (2/334).
6 Dinamakan mufashshal karena banyaknya pemisah antara surah dan basmalah. Banyak pendapat tentang surah-surah mufashshal. Namun, yang sahih, awal mufashshal adalah surah Qaf sampai akhir surah dalam Al-Qur’an. (Fathul Bari, 2/335)

7 Hal ini akan disebutkan dalam pembahasan tentang bacaan shalat malam, insya Allah.

8 Ucapan pemuda yang didiamkan oleh Rasulullah n inilah yang menjadi dalil dalam permasalahan ini.
9 HR. Abu Dawud no. 814, namun didhaifkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dhaif Sunan Abi Dawud.

Ar-Raqib

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Nama Allah l Ar-Raqib tersebut dalam firman-Nya:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (an-Nisa: 1)
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, “Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,” dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (al-Maidah: 117)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata, “Salah satu al-Asma’ul Husna adalah Ar-Raqib. Nama Allah l tersebut maknanya sama dengan nama asy-Syahid. Keduanya menunjukkan bahwa Dia mengawasi makhluk-Nya, mendengar apa yang mereka perbincangkan, melihat apa yang mereka lakukan, mengetahui gerak-gerik mereka, mengetahui apa yang terlintas dalam pikiran, dan apa yang tebersit dalam kalbu, serta mengetahui perpindahan perhatian mereka. Tidak terlewatkan sedikitpun dari urusan mereka, baik yang mereka katakan maupun yang mereka lakukan, sebagaimana firman Allah l:
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu biarpun sebesar semut kecil di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yunus: 61)
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Mujadalah: 7)
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)
Dalam hadits yang sahih disebutkan:
صَرِيحُ الْإِيْمَانِ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ اللهَ مَعَكَ حَيْثُ كُنْتَ
“Iman yang nyata adalah engkau mengetahui bahwa Allah l bersamamu di manapun kamu berada.”
Oleh karena itu, sikap al-muraqabah (merasa diawasi oleh Allah l), yang merupakan salah satu amalan kalbu yang paling agung, adalah bentuk penghambaan kepada Allah l sebagai bentuk refleksi dengan nama Allah l ar-Raqib dan asy-Syahid. Dengan demikian, ketika seorang hamba mengetahui bahwa gerak-geriknya yang lahir dan yang batin telah diketahui oleh Allah l seutuhnya, dan ia menyadari hal ini setiap saat, niscaya akan muncul pada dirinya penjagaan batin dari segala pikiran dan bisikan yang dimurkai oleh Allah l, penjagaan lahirnya dari segala ucapan dan perbuatan yang membuat murka Allah l, serta memunculkan sikap penghambaan pada taraf ihsan, sehingga ia beribadah kepada Allah l seolah-olah ia melihat-Nya dan apabila tidak melihat-Nya maka Allah l melihatnya.
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Dialah Yang Maha Mengawasi pikiran-pikiran dan lirikan-lirikan. Lalu, bagaimana halnya dengan perbuatan anggota badan?!” Maksudnya, apabila Allah l mengawasi hal-hal yang detail dan tersembunyi, mengetahui rahasia kalbu dan niatnya, tentu lebih mengetahui yang lahir dan jelas, yaitu perbuatan anggota badan. (Syarh Nuniyyah, 2/89, hal ini dijelaskan pula sebelumnya oleh as-Sa’di. Lihat Syarh al-Asma’ul Husna)
Al-Qurthubi t mengatakan, “(Raqib) adalah salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya. Sifat ini kembali kepada ilmu, pendengaran, dan penglihatan-Nya. Sesungguhnya Allah l mengawasi segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang suci dari kelupaan. Dia mengawasi segala sesuatu yang dapat dilihat dengan pandangan-Nya yang tidak pernah kantuk ataupun tidur. Dia juga mengawasi segala sesuatu yang dapat didengar dengan pendengaran-Nya yang dapat menangkap segala gerakan dan ucapan. Allah l mengawasi semuanya dengan sifat-sifat-Nya tersebut. Berada di bawah pengawasan-Nya segala yang inti dan yang rinci, serta segala yang tersembunyi di bumi dan langit. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya. Bahkan, semua yang ada adalah sama, di bawah pengawasan-Nya yang merupakan sebagian dari sifat-Nya. (al-Kitabul Asna. Dinukil dari kitab Shifatullah karya Alwi bin Abdul Qadir, hlm. 131)
Sebagian ulama mengatakan, makna Ar-Raqib adalah Al-Hafizh.
Ibnu Manzhur dalam Kamus Lisanul Arab mengatakan, “Ar-Raqiib, sesuai wazan (timbangan) فَعِيلٌ yang maknanya adaah فَاعِلٌ (sebagai pelaku). Artinya adalah al-Hafizh, yang tidak terlewatkan dari-Nya suatu apapun (yakni segala sesuatu dijaga dan dipelihara oleh-Nya).” (Lisanul Arab)
Demikian pula dikatakan Ibnul Atsir t dalam kitabnya, Jami’il Ushul, dan Az-Zajjaj dalam kitabnya, Syarh al-Asma’ul Husna. (lihat kitab Shifatullah karya Alwi bin Abdul Qadir hlm. 131)

Buah Mengimani Nama Allah l ar-Raqiib
Dengan mengimani nama Allah l tersebut, akan tumbuh dalam diri seseorang pengawasan dan kontrol terhadap perbuatan lahiriahnya, sebagaimana juga terhadap amalan batinnya. Hal ini karena dia menyadari bahwa Allah l mengawasi semuanya, yang lahir ataupun yang batin, yang besar ataupun yang kecil, ucapan ataupun perbuatan, bahkan juga niatan.
Semoga Allah l senantiasa menganugerahkan taufik-Nya kepada kita semua dan kaum muslimin untuk selalu taat kepada-Nya.
Wallahu a’lam.

 

Munafik Kehilangan Cahaya di Tengah Kegelapan

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Allah l berfirman:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (al-Baqarah: 17—19)
Allah l menyebutkan dua permisalan bagi orang-orang munafik—sesuai dengan keadaan mereka—, permisalan api dan permisalan air karena keduanya mengandung sinar, cahaya dan kehidupan. Api adalah sumber cahaya dan air adalah sumber kehidupan. Allah l telah menjadikan wahyu yang Ia turunkan dari langit mengandung kehidupan bagi kalbu dan keterangan baginya. Oleh karena itu, Allah l menamakan wahyu dengan roh dan cahaya sehingga Dia menjadikan penerimanya sebagai orang-orang yang hidup dalam cahaya, sedangkan orang yang tidak tergerak sama sekali Dia jadikan sebagai orang yang mati dalam kegelapan.
Allah l mengabarkan keadaan orang-orang munafik terkait dengan bagian mereka dari wahyu bahwa mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk menyinarinya dan mengambil manfaat darinya.
Hal ini karena mereka telah masuk ke dalam agama Islam sehingga mereka mendapatkan cahaya dan manfaatnya. Mereka beriman dengannya. Mereka pun berbaur dengan kaum muslimin. Akan tetapi, manakala pembauran mereka dengan muslimin tidak dilandasi oleh sumber cahaya Islam dalam kalbu mereka, cahaya itu pun padam. Allah l pun melenyapkan cahaya mereka.
Allah tidak mengatakan “Allah melenyapkan api mereka” karena api itu bersifat menyinari dan membakar. Allah l hanya menghilangkan sinarnya namun menyisakan sifat membakarnya. Lalu Allah l membiarkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak dapat melihat.
Inilah keadaan seseorang yang dahulu melihat lalu menjadi buta. Dahulu mengenal yang baik lalu ingkar, dan dahulu memasuki agama Islam lalu memisahkan diri darinya dengan kalbunya. Dia tidak akan kembali kepadanya. Oleh karena itu, Allah l berfirman:
ﭦ ﭧ ﭨ
“Maka mereka tidak kembali.”1
Kemudian Allah l menjelaskan keadaan mereka dengan permisalan air (hujan). Allah l menyerupakan mereka dengan orang-orang yang tertimpa hujan, yang turun dari langit membawa kegelapan, halilintar, dan kilat.
(Allah l menyerupakan petunjuk dengan hujan, karena dengan hidayah, kalbu menjadi hidup sebagaimana hidupnya bumi dengan hujan. Allah l juga menyerupakan bagian seorang munafik dari hidayah tersebut seperti bagian seseorang yang tidak mendapatkan dari hujan selain kegelapan, halilintar dan kilatnya. Ia tidak mendapatkan manfaat di balik hujan tersebut yang merupakan tujuan turunnya hujan, yaitu hidupnya suatu negeri dan penduduknya, tumbuh-tumbuhan serta hewan-hewan. Adapun kegelapan yang beserta hujan, halilintar dan kilat itu punya tujuan lain, yakni sebagai sarana menuju kesempurnaan pemanfaatan hujan tersebut. Maka dari itu, seorang yang bodoh, karena sangat bodohnya dia hanya merasakan kegelapan, halilintar, kilat, dan rasa dingin yang sangat dari hujan tersebut. Demikian juga tertundanya perjalanan seorang musafir dan terhentinya pekerjaan seorang tukang. Dia tidak punya pandangan (jauh) yang bisa menerobos akibat baik hujan tersebut berupa kehidupan dan manfaat yang menyeluruh.)
Karena lemahnya pandangan dan akal mereka (orang-orang munafik), peringatan-peringatan Al-Qur’an terasa berat bagi mereka. Ancaman-ancaman, perintah-perintah, larangan-larangan, dan pembicaraan Al-Qur’an bagi mereka laksana halillintar. Karena itu, kondisi mereka seperti orang yang tertimpa hujan yang disertai kegelapan, halilintar dan kilat. Karena kelemahan dan ketakutannya terhadap halilintar yang akan menyambarnya, ia meletakkan dua jarinya di telinganya serta menutupkan kedua matanya.
Kata Ibnul Qayyim selanjutnya, “Sungguh, kami telah menyaksikan sebagaimana orang yang lain menyaksikan, banyak para banci anak didik aliran Jahmiyah dan ahli bid’ah jika mendengar sebagian ayat dan hadits yang menyebutkan sifat-sifat Allah yang (tentu saja) tidak sesuai dengan bid’ah mereka—aku perhatikan—mereka berpaling bagaikan keledai-keledai yang lari menyelamatkan diri dari singa.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “Tutuplah pembahasan ini dari kami. Bacalah ayat selain ini.” Engkau perhatikan bahwa kalbu mereka berpaling. Mereka marah karena akal dan kalbu mereka berat untuk mengenal Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Demikian pula orang-orang musyrik dengan kesyirikan mereka yang beraneka ragam. Jika dihunuskan kepada mereka pembahasan tauhid dan engkau bacakan kepada mereka ayat-ayat yang membantah kesyirikan mereka, kalbu mereka membeku dan terasa berat bagi mereka. Andai mereka dapat menutup telinga mereka tentu mereka akan melakukannya. Oleh karena itu, engkau dapati orang-orang yang memusuhi para sahabat Nabi n jika mendengar ayat-ayat yang memuji al-Khulafa ar-Rasyidin dan para sahabat g, mereka merasa sangat berat dan kalbu mereka mengingkarinya.
Ini semua adalah keserupaan yang nyata dan perumpamaan yang telah terbukti pada saudara-saudara mereka, orang-orang munafik, yang disebutkan oleh Allah l dengan permisalan air (hujan).
Ketika kalbu mereka serupa, kelakuan mereka pun serupa.
(I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin, 1/200, dan at-Tafsirul Qayyim, disusun dan diterjemahkan oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Catatan Kaki:

1 Oleh karena itu, kondisi orang-orang munafik di akhirat adalah seperti yang diceritakan oleh Allah l dalam surat al-Hadid ayat 12—14:
(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka), “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong hingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.