Surat Pembaca edisi 61

Asy-Syariah Mudah Dipahami?
Afwan saya ingin memberi masukan buat majalah Asy-Syariah.
1. Sebagai orang awam saya masih belum bisa menerima slogan majalah Asy-Syariah sebagai majalah yang ilmiah dan mudah dipahami. Untuk “Ilmiah”, insya Allah saya sepakat. Tetapi untuk slogan “Mudah Dipahami” sepertinya kurang cocok, karena banyak materi yang disajikan harus dibaca secara serius dan butuh waktu lebih dari satu kali baca untuk memahaminya. Ini juga dialami oleh beberapa teman yang membaca Asy-Syariah.
2. Seringkali materi rubrik Sakinah cenderung membela atau condong kepada kaum laki-laki, serta cenderung banyak menuntut para kaum hawa. Bukankah laki-laki dan perempuan dalam Islam itu sama? Atau memang hak laki-laki itu lebih besar?
3.Terima kasih buat majalah Asy-Syariah, meskipun harus “serius”, banyak manfaat yang telah saya dapatkan dari majalah ini
Ummu Faza-Solo
[email protected]
1.    Sebenarnya slogan “Mudah Dipahami” tersebut berawal dari harapan sekaligus penekanan bahwa agama ini mudah dijalankan oleh umat Islam secara umum. Anggapan bahwa yang bisa paham agama haruslah dari lingkungan ma’had (pondok pesantren) memang tidak sepenuhnya salah. Untuk bisa memahami ilmu agama secara lebih intensif, luas, dan dalam, memang harus dan sangat utama dikaji di ma’had-ma’had karena untuk memahami ilmu agama kita memerlukan pembimbing (ustadz). Sehingga menjadi hal yang patut disyukuri jika kita berkesempatan menimba ilmu di ma’had-ma’had.
Namun demikian, sebagian orang menghadapi keterbatasan-keterbatasan, baik ilmu, waktu, maupun lainnya. Sehingga Asy-Syariah sebagai sebuah majalah—dan sarana dakwah—diharapkan bisa memberikan kemudahan sekaligus menjembatani “jurang keilmuan” ini.
Asy-Syariah sendiri berupaya menyuguhkan pembahasan seilmiah mungkin, dengan dalil yang lengkap, mengutip ucapan sahabat, tulisan atau pendapat ulama, dan sebagainya. Selain itu, kami acapkali juga memaparkan perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang suatu masalah. Faktor lain adalah ketika sebuah pembahasan ilmiah berupa terjemah dari kitab ulama, yang terkadang penulis pun harus membacanya berulang-ulang agar bisa menerjemahkan dengan tepat. Beda halnya bila tulisan itu murni ungkapan penulis, insya Allah lebih mudah dipahami.
Sehingga bisa jadi karena hal ini, dan keterbatasan kami dalam mengedit bahasa, sejumlah artikel tertentu menjadi tidak mudah untuk dipahami. Mohon maaf jika apa yang kami sajikan masih jauh dari yang diharapkan, namun demikian kami terus berupaya memperbaiki diri, insya Allah.
2.    Sakinah merupakan kumpulan artikel yang ditulis dari sudut pandang wanita. Walaupun bisa jadi terkesan “mengalah” atau “dikalahkan”, tetapi itulah bimbingan syariat. Namun demikian, ini tetaplah kesan, karena jika kita bisa memahami lebih dalam, solusi yang ditawarkan Islam dalam menghadapi masalah wanita dan keluarga justru selaras dengan fitrah. Jika kita menyelesaikan setiap masalah keluarga dengan logika, perasaan, terlebih emosi, tentu bukan penyelesaian yang didapat namun justru pertikaian. Wallahu a’lam.
3.    Jazakumullahu khairan.