Awas, Dukun & Tukang Ramal, Penciduk Agama dan Harta (bagian 1)

Kebodohan identik dengan kesesatan. Karenanya, orang yang bodoh terhadap agama akan mudah ditipu, sekalipun oleh orang yang bodoh pula. Di antaranya adalah perilaku para dukun –yang sebenarnya mereka adalah orang-orang bodoh– yang mengaku mengetahui perkara-perkara gaib. Dengan pengakuannya itu mereka berhasil menipu demikian banyak kaum muslimin yang jauh dari agamanya. Seandainya setiap kaum muslimin tahu bahwa hanya Allah saja yang mengetahui perkara gaib, tentu mereka akan mudah mematahkan tipu daya dukun sang pendusta. Inilah antara lain pentingnya kita belajar akidah Islam yang benar.

Bahaya Kejahilan

Kejahilan terhadap syariat terkadang menjadikan seseorang bersifat gegabah, serampangan, dan tergesa-gesa dalam berbuat. Ia dengan mudah melakukan sesuatu padahal akan memudaratkan dirinya. Betapa sering, karena kejahilan, seseorang terjatuh ke dalam perbuatan kufur dan kesyirikan, bid’ah, pengingkaran terhadap sesuatu yang sudah jelas ada nashnya dalam syariat dan terjatuh dalam berbagai bentuk kemaksiatan.

Kita saksikan sekeliling kita. Ada orang yang hanya bermodal bisa memimpin zikir dan membaca doa, ia posisikan dirinya sebagai orang yang terpandang walaupun buta terhadap ilmu agama. Ada pula orang yang gemar berceloteh di panggung-panggung dan di mimbar-mimbar, merasa dirinya seakan da’i yang tidak tertandingi, padahal dia tidak memiliki ilmu agama kecuali hanya sedikit saja.

Allah subhanahu wa ta’ala telah banyak menjelaskan di dalam ayat-Nya tentang bahaya kejahilan, di antaranya:

  1. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang kaum Nabi Musa ‘alaihissalam:

قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ١٣٨

“Mereka (Bani Israil) mengatakan, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.” (al-A’raf: 138)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan, “Allah menyifati Bani Israil dengan kejahilan karena mereka mengetahui bukti-bukti kekuasaan Allah, yang mestinya hal itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk meminta (sesuatu yang hanya mampu dilakukan Allah) kepada selain Allah. Akan tetapi mereka terkenal sangat keras penentangannya, tinggi kejahilannya dan orang-orang yang tidak memiliki pendirian.” (Fathul Qadir, hlm. 586)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَئِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ٥٥

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsu kalian bukan (mendatangi) wanita, sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatan kalian).” (an-Naml:55)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Bagaimana kalian sampai melakukan demikian terhadap syahwat kalian. Kalian melampiaskannya kepada kaum pria melalui dubur mereka, padahal itu tempat keluar kotoran. Dan kalian meninggalkan apa yang Allah ciptakan buat kalian dari wanita-wanita, yaitu tempat-tempat yang baik di mana setiap manusia telah difitrahi untuk condong kepadanya. Demikianlah bila urusan telah terbalik, kalian menganggap yang jelek itu baik dan yang baik itu jelek, akan tetapi kalian tidak mengetahui artinya. Kalian melanggar batasan-batasan Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 556)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ ٨٩

“Yusuf berkata, ‘Apakah kalian mengetahui (kejelekan) apa yang kalian telah lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak mengetahui akibat perbuatan kalian itu.” (Yusuf: 89)

Ayat ini menjelaskan satu bentuk alasan yang mengakibatkan saudara-saudara Nabi Yusuf terjatuh dalam perbuatan yang tidak sepantasnya terjadi, atau ayat ini merupakan sebuah cercaan terhadap saudara-saudara Nabi Yusuf karena mereka melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil.

  1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَأۡمُرُوٓنِّيٓ أَعۡبُدُ أَيُّهَا ٱلۡجَٰهِلُونَ ٦٤

“Katakanlah: Apakah kalian menyuruh aku untuk menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (az-Zumar: 64)

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada oang-orang jahil (tentang perkataan mereka yang sesat –red.). Perintah orang-orang kafir kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala itu didasari oleh kejahilan. Jika mereka berilmu tentang Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha sempurna dari semua sisi, niscaya mereka tidak akan memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu.

Masih banyak lagi ayat semakna yang menjelaskan bahwa kejahilan merupakan sumber malapetaka.

tato-kafir

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Rukun kekufuran ada empat yaitu sombong, hasad, marah, dan syahwat.

Sifat sombong akan mencegah seseorang untuk tunduk, hasad menghalangi untuk menerima nasihat, marah akan menghalangi untuk berbuat adil, dan syahwat akan menghalangi untuk konsentrasi dalam beribadah.

Apabila hancur fondasi kesombongan akan mudah baginya untuk tunduk; apabila fondasi hasad runtuh maka akan mudah baginya menerima nasihat dan melaksanakannya. Bila fondasi marah runtuh maka akan mudah baginya untuk berbuat adil dan tawadhu’ dan bila fondasi syahwat itu hancur maka akan mudah baginya untuk bersabar, menahan diri dari maksiat serta istiqamah dalam beribadah.

Memindahkan sebuah gunung dari tempatnya lebih ringan, gampang dan mudah dibanding menghilangkan keempat perkara ini bagi orang yang telah terkena. Lebih-lebih bila semua telah menjadi perilaku dan tabiat yang mendarah daging.

Bersamaan dengan itu, tidak akan lurus amalan apa pun yang dibangun di atasnya dan amalan-amalan tersebut tidak akan dapat membersihkan dirinya. Setiap kali dia membangun sebuah amalan, maka akan diruntuhkan oleh keempat perkara tersebut, dan segala macam penyakit bermuara darinya.

Bila keempat perkara tersebut menancap di dalam hati maka akan menampilkan kebatilan sebagai kebenaran, kebenaran sebagai kebatilan, ma’ruf dalam bentuk mungkar dan mungkar dalam bentuk ma’ruf, dan dunia akan mendekatinya sedangkan akhirat akan menjauh darinya.

Bila kamu meneliti kekufuran umat terdahulu (kamu akan menjumpai –pen.) semuanya bermuara dari keempat perkara tersebut. Besar kecilnya sebuah azab tergantung dari besar dan kecilnya keempat sifat tersebut.

Barang siapa membiarkan keempat rukun kekufuran tersebut pada dirinya, dia telah membuka pintu kejahatan pada dirinya. Barang siapa menutupnya, akan tertutup pintu-pintu kejahatan pada dirinya.

Keempat perkara di atas akan menyebabkan seseorang terhalang untuk tunduk, ikhlas, bertaubat, menerima kebenaran, menerima nasihat dari saudaranya, dan tawadhu’ di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dan di hadapan makhluk.

Keempat sifat tersebut disebabkan kejahilan tentang Rabbnya dan kejahilan tentang dirinya. Jika dia mengetahui Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat-Nya yang Maha sempurna dan Agung, serta dia mengetahui tentang dirinya yang penuh kelemahan dan serba kekurangan, niscaya dia tidak akan menyombongkan diri, tidak akan marah, dan tidak akan iri hati kepada siapa pun yang telah mendapatkan anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala.” (al-Fawaid, hlm. 174—175)

Al-Imam Mujahid rahimahullah dan selain beliau mengatakan, “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala baik sengaja atau tidak, dia adalah orang jahil sampai dia bertaubat.”

Al-Imam Qatadah rahimahullah meriwayatkan dari Abu ‘Aliyah, ia mengatakan tentang para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka berkata, “Setiap dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, asasnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir)

Abdur Razzaq rahimahullah berkata, Ma’mar telah menyampaikan kepada kami dari Qatadah bahwa ia berkata, “ Para sahabat telah ijma’ (bersepakat) bahwa segala kemaksiatan dasarnya adalah kejahilan, baik disengaja ataupun tidak.”

Ibnu Juraij rahimahullah berkata, Abdullah bin Katsir menyampaikan kepadaku dari Mujahid bahwa ia berkata, “Setiap pelaku kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah dalam keadaan jahil ketika melakukannya.”

Ibnu Juraij rahimahullah juga berkata, ‘Atha bin Abi Rabbah telah menyampaikan kepadaku ucapan yang sejenis.

Abu Saleh rahimahullah berkata (riwayat) dari Ibnu ‘Abbas rahimahullah: “Kejahilan seseorang akan menyebabkan dia melakukan kejahatan.” (Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya, 1/572)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata di dalam Tafsir beliau, kejahilan yang dimaksud adalah, “Kejahilan tentang akibat perbuatan itu, kejahilan tentang sebuah amalan yang akan mengundang murka Allah subhanahu wa ta’ala dan azab-Nya, kejahilan dirinya tentang pantauan Allah dan penglihatan-Nya, kejahilan tentang amalan yang akan merugikan iman atau menghilangkannya. Berdasarkan tinjauan ini, maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia adalah orang jahil walaupun dia berilmu tentang keharaman.”

 

Berhati-hati dari Orang Jahil

Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita agar berhati-hati dari orang jahil dan sepak terjangnya, karena bahaya berteman dengan mereka sangat besar. Dia akan menjerumuskan dirimu ke lubang kemaksiatan walaupun kamu mengetahui hukumnya. Orang jahil lebih dekat kepada Iblis dan tentara-tentaranya daripada kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tentara-tentara-Nya, dan mereka sendiri adalah tentara Iblis. Bila kamu mendekati mereka, pasukan Iblis akan bergerak untuk menciduk dirimu, agama dan hartamu.

Dalam kehidupan kaum muslimin sekarang ini sangat terlihat berbagai praktik kehidupan yang didasari oleh kejahilan. Bahkan mayoritas praktik kehidupan yang merupakan perilaku jahiliah menjadi kebanggaan. Prinsip mereka adalah apa yang di jelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firman-Nya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَايَهۡتَدُونَ ١٧٠

“Mereka berkata, ‘(Tidak) kami hanya mengikuti apa yang kami telah dapati dari perbuatan nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 170)

Pertanyaan ini telah dijawab oleh kenyataan yang ada bahwa walaupun nenek moyang mereka dalam keadaan tidak mengetahui, tidak mendapatkan petunjuk dan berada dalam kesesatan, toh nenek moyang itu tetap diikuti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Demikianlah bahaya kebodohan, yaitu akan membutakan sehingga tidak bisa melihat cahaya Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menerangi alam ini, malamnya bagaikan siang.

bodoh

Prinsip “mati urip” membela ajaran nenek moyang dijadikan sebagai senjata untuk menolak kebenaran, berpaling darinya dan membencinya. Dengan prinsip di atas mereka berani membela kebatilan dan melindungi pelakunya.

  1. Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan di dalam firman-Nya,

فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ٣٥

“Maka janganlah kalian termasuk orang-orang yang jahil.” (al-An’am: 35)

Ayat ini menjelaskan agar kita jangan sampai menjadi orang jahil yang tidak mengetahui hakikat permasalahan dan meletakkan permasalahan tidak pada tempatnya.

  1. Allah subhanahu wa ta’ala membimbing agar Nabi Musa ‘alaihissalam berlindung dari sifat kejahilan:

قَالَ أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ٦٧

“Musa berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh.’” (al-Baqarah: 67)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Karena sesungguhnya orang jahil itu adalah orang yang berbicara dengan sebuah ucapan yang tidak berfaedah dan orang-orang yang suka menghina orang lain.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 37)

Beliau juga mensifati orang-orang jahil dan tolol dengan: “Kejahilan tentang maslahat dirinya dan dia melakukan segala apa yang memudaratkannya.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 26)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam agar menyingkir dan meninggalkan orang-orang jahiliah dalam firman-Nya,

وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا ٤٨

“Dan aku akan menyingkir dari kalian dan apa-apa yang kalian sembah selain Allah dan aku hanya berdoa kepada Rabbku semoga aku dengan itu tidak termasuk orang-orang yang celaka.” (Maryam: 48)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala bercerita tentang sikap Nabi Musa ‘alaihissalam terhadap kaumnya dalam firman-Nya,

وَإِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمۡ أَن تَرۡجُمُونِ ٢٠ وَإِن لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ لِي فَٱعۡتَزِلُونِ ٢١

“Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian dari keinginan kalian merajamku, dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku menyingkir dari kalian (memimpin bani Israil).” (ad-Dukhan: 20—21)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala bercerita tentang Ashabul Kahfi dalam firman-Nya,

وَإِذِ ٱعۡتَزَلۡتُمُوهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأۡوُۥٓاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقٗا ١٦

“Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna buat kalian dalam urusan kalian.” (al-Kahfi: 16)

6 . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan di dalam sabdanya,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari setiap hamba namun Allah mencabutnya dengan mematikan orang-orang alim. Sehingga di saat Allah tidak menyisakan seorang pun dari mereka, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka. Mereka ditanya mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh diambil ilmu dari empat orang (1) Orang yang memproklamirkan kejahilannya (2) Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu (3) Orang yang terkenal pendusta dalam ucapannya walaupun dia tidak berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (4) Orang memiliki keutamaan dan kebaikan namun dia tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.” (Jami’ Bayan al-‘Ilmi, 2/48)

Dalil-dalil di atas menjelaskan kepada kita sikap yang selamat dan menyelamatkan yaitu menyingkir dari orang-orang jahil yang tidak mau menerima kebenaran. Dan termasuk dari sederetan orang-orang jahil adalah para dukun dan tukang ramal.

 

Dukun adalah Orang Jahil

Dukun adalah orang yang menyatakan kepada manusia (bahwa dia mengetahui) perkara-perkara gaib yang belum terjadi dan perkara yang ada di dalam hati seseorang.

Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan, “Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang perkara-perkara yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia.

Memang dahulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya.

Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka.

Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya.” (an-Nihayah fii Gharibil Hadits, 4/214)

sesajen

Al-Lajnah Ad-Da’imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan, “Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara gaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui perkara-perkara gaib tersebut.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 1/393—394)

Mayoritas yang terjadi di tengah umat ini adalah pemberitaan yang dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang perkara gaib yang akan terjadi di muka bumi.

Orang-orang jahil menyangka bahwa itu adalah sebuah kasyaf (ilmu membuka tabir) dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan menyangka bahwa yang memberitahukan perkara tadi adalah seorang wali Allah subhanahu wa ta’ala padahal dia adalah wali setan.

 

Hukum Perdukunan

Dari penjelasan di atas maka tidak ada keraguan lagi tentang hukum perdukunan itu adalah haram.

Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah mengatakan, “Bukan satu orang dari ulama telah menukilkan ijma’ tentang keharamannya (keharaman dukun) seperti al-Imam al-Baghawi, al-Qadhi ‘Iyadh, dan selain mereka.” (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, hlm. 341)

Perdukunan adalah sebuah kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan pelakunya adalah kafir, keluar dari agama, karena mereka meyakini tahu perkara-perkara gaib, sedangkan permasalahan gaib merupakan kekhususan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala.

Tindakan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dalam salah satu sifat-Nya termasuk dari kesyirikan, disamping juga merupakan pendustaan terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi,

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ ٦٥

“Katakan bahwa tidak ada seorang pun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara gaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (an-Naml: 65)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ

“Barang siapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu dia membenarkan apa yang dikatakan, sungguh dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Hadits ini di keluarkan oleh Al-Hakim (1/8) dan beliau menyatakan sahihnya, disepakati oleh al-Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan sahih pula oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di dalam al-Irwa’ no. 2006, Shahih Sunan Abu Dawud no. 3304, Shahih Sunan Ibni Majah no. 522, al-Misykat no. 551 dan di dalam kitab Adab az-Zafaf hlm. 105—106.

Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Abu Dawud no. 3904, Ahmad (2/408, 429, 476), Ibnu Majah no. 639, al-Baihaqi (7/198), Ibnu Jarud no. 107, ad-Darimi no. 1141, dan ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (15/429).

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah mengatakan, “Kalau demikian keadaan orang yang mendatanginya, lantas bagaimana halnya tentang orang yang ditanya/didatangi (yaitu dukun)?” (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 341)

(Bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an-Nawawi

Comments are closed.