السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Berkah adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata. Dialah satu-satunya Dzat yang segala kebaikan dan berkah ada di Tangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi tempat yang Dia kehendaki, seperti Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, masjid-masjid atau tempat mana pun. Ayat-ayat al-Qur’an juga menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi hamba yang Dia kehendaki, seperti para nabi dan rasul.

Segala sesuatu yang mengandung berkah, semua telah dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan riwayat-riwayat para sahabat. Maka dari itu, ketika sesuatu telah dijelaskan oleh nas atau syariat, semestinya kita tidak perlu repot mencari-cari apalagi sibuk mencari pembenaran sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syariat. Tak perlu membela diri demi “menghalalkan” air Ponari, tidak perlu galau dengan kotoran kerbau, tidak perlu kurang kerjaan dengan berendam di sebuah petilasan, juga tidak perlu menjadi bodoh karena berebut puntung rokok seorang tokoh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia dan kekasih Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak mampu mendatangkan sedikit pun kebaikan atau menolak mudarat atas diri beliau, lebih-lebih atas orang lain. Saat air keluar dari jari-jemari Rasulullah yang digunakan untuk berwudhu dan minum oleh ribuan sahabat radhiallahu ‘anhum, Rasulullah tegas mengatakan, “Berkah itu dari Allah.”

Artinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satusatu- Nya Dzat yang memiliki berkah, dan Dialah satu-satunya Dzat yang memberkahi. Hanya dari Dialah dimohon berkah. Ini juga akidah yang diyakini para sahabat, manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul.

Maka dari itu, manusia-manusia selain mereka yang tidak dijamin masuk surga, tapi justru berlumur dosa, lebih tidak bisa untuk memberikan berkah, apalagi memutuskan sesuatu mengandung berkah atau tidak. Dikemanakan ayat atau hadits yang berbicara bahwa yang memberikan berkah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala?

Keyakinan dari mana bahwa para tokoh atau kyai yang kita agungkan setinggi langit itu mempunyai berkah dari jasadnya? Apakah para tokoh yang kita sematkan hak-hak ilahiah memang dijamin masuk surga sehingga kita rela berebut bekas air minumnya? Apakah pantas orang yang melakukan kesyirikan dan kebid’ahan kita agung-agungkan sedemikian rupa?

Sadarkah kita, dosa syirik menganga lebar di depan kita jika kita salah cari berkah?! Kebenaran adalah apa yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Syariat kita yang sempurna tidak memberi celah sedikit pun bagi kita untuk membuat syariat atau “berkah-berkah” baru di luar yang telah digariskan syariat.

Syirik adalah dosa yang tidak terampuni kecuali dengan tobat. Maka dari itu, cari berkah jangan asal. Neraka siap mengancam jika kita salah cari berkah.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته