Pembelaan untuk Aisyah dari Celaan Syiah Rafidhah

Terlahir dari dua orang tua yang telah beriman dan memiliki kemuliaan, merupakan keistimewaan tersendiri bagi ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha[1]. Belum lagi sekian banyak kelebihan dan keutamaan yang disandang Humaira’[2], sebutan yang disematkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau[3], dari sisi kebaikan akhlak, kezuhudan, kecerdasan, amal ibadah, dan sebagainya.

Semua itu mengokohkan rasa cinta dan penghormatan kaum muslimin kepada beliau radhiallahu ‘anha. Apalagi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ

“Nabi itu lebih berhak untuk dicintai oleh orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka (orang-orang beriman).” (al-Ahzab: 6)

Tidak ada seorang Ahlus Sunnah pun kecuali mencintai dan memuliakan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai salah seorang dari ibu mereka. Bahkan, beliau adalah yang paling afdal di antara ummahatul mukminin bersama dengan Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha.

Menuliskan keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha niscaya akan memenuhi lembaran-lembaran kita. Beberapa di antaranya bisa kita nukilkan di bawah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Keutamaan ‘Aisyah dibanding semua wanita seperti keistimewaan tsarid[4] dibanding semua makanan.” (HR. al-Bukhari no. 3770 dan Muslim no. 6249)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menempati tempat yang istimewa di hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi ummahatul mukminin yang lain. Ini bukanlah rahasia karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakuinya.

Sahabat yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aisyah.[5] (HR. al-Bukhari no. 4358 dan Muslim no. 6127)

Rasa cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ini pun tak tersamarkan oleh para sahabat beliau. Jadi, apabila ingin memberi hadiah kepada Rasul, mereka menunggu saat hari giliran ‘Aisyah, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah Aisyah radhiallahu ‘anha, agar lebih menyenangkan hati dan membuat ridha beliau[6].

Kenyataannya, saat-saat bersama ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah sesuatu yang dinantikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa mengurangi hak istri-istri beliau yang lain karena beliau adalah suami yang sangat adil.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit menjelang wafat, beliau selalu bertanya, “Di rumah siapa saya hari ini? Di rumah siapa saya besok?”, dalam keadaan beliau mengharapkan giliran Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah parah, para istri beliau yang salihah mengizinkan beliau untuk dirawat di rumah istri yang mana pun yang beliau inginkan.

Akhirnya, asa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu dekat dengan al-Humaira’ terpenuhi. Beliau dirawat di rumah ‘Aisyah hingga ajal menjemput dalam keadaan kepala beliau berada dalam dekapan ‘Aisyah[7].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada putri beliau Fathimah radhiallahu ‘anha, “Wahai putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Tentu.”

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, cintai dia ( yakni ‘Aisyah).” (HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 6240)

Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bukan semata didorong karena ‘Aisyah adalah putri sahabat beliau yang utama, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, melainkan karena wahyu Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Aisyah, “Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam. Seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau.” (HR. al-Bukhari no. 5125 dan Muslim no. 6233)

Keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tampak dengan wahyu yang turun dari langit hanya saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam selimut ‘Aisyah, tidak dalam selimut istri-istri yang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang istri beliau, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku sedang berada di selimut salah seorang dari kalian selain ‘Aisyah.” (HR. al-Bukhari no. 3775)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mendapatkan salam dari malaikat yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi penyampainya, kata beliau, “Malaikat Jibril mengucapkan salam kepadamu.”

‘Aisyah menjawab, “Wa’alaihissalam wa rahmatullah.” (HR. al-Bukhari no. 6253 dan Muslim no. 6251)

Orang-orang munafik pernah mencoba menjatuhkan kehormatan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan menuduhnya berzina dengan sahabat Shafwan ibnul Mu’aththal radhiallahu ‘anhu saat tertinggal dari rombongan dalam perjalanan pulang dari pertempuran menghadapi Bani Musthaliq.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak membiarkan derita ‘Aisyah dan kehormatan keluarga Nabi-Nya terus diinjak-injak. Turunlah ayat-ayat dari atas langit sebagai pembelaan atas kehormatan ‘Aisyah. Surat an-Nur ayat 11 sampai 26 membantah tuduhan keji dan dusta kepada belahan jiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan dalam ayat-ayat tersebut bahwa ‘Aisyah adalah wanita yang baik dan menjaga kesuciannya. Adapun orang-orang yang memfitnahnya, Allah subhanahu wa ta’ala ancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat.

Adapula satu kejadian yang menimpa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menjadi sebab keberkahan bagi umat Islam. Dalam satu safarnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rombongan, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengenakan kalung yang dipinjamnya dari saudarinya, Asma’ radhiallahu ‘anha. Kalung itu hilang dalam perjalanan. Merasa bertanggung jawab dengan kalung pinjaman tersebut, ‘Aisyah menyampaikan kepada suaminya tentang perihal kalung itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengutus sahabatnya untuk mencarinya sampai masuk waktu shalat. Padahal di tempat tersebut tidak ada air untuk berwudhu. Mereka pun shalat tanpa berwudhu. Ketika berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adukan hal itu kepada beliau. Allah subhanahu wa ta’ala lalu menurunkan ayat tentang tayammum.

Hal ini mendorong Usaid bin Hudhair radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Jazakillahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Demi Allah, tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan keberkahan bagi kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 3773)

Menjadi istri pengajar kebaikan bagi umat manusia tidak disia-disiakan begitu saja oleh Aisyah radhiallahu ‘anha. Aisyah radhiallahu ‘anha belajar, berguru, dan mengambil ilmu serta keteladanan dari suami shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan apabila ‘Aisyah mengumpulkan banyak ilmu dan riwayat. Bahkan, ‘Aisyah termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keilmuan yang mendalam ini dipersaksikan oleh para sahabat dan tabi’in yang berguru kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Abu Musa al-As’ari radhiallahu ‘anhu, mengatakan, “Tidaklah para sahabat Rasulullah mengeluhkan sesuatu kecuali mereka bertanya kepada ‘Aisyah. Mereka akan mendapati di sisi ‘Aisyah ada ilmu tentang hal tersebut.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 2/322)

Urwah bin az-Zubair mempersaksikan keilmuan bibinya, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengerti tentang fikih, dunia pengobatan, dan syair daripada ‘Aisyah.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/183)

Masruq pernah ditanya, “Apakah ‘Aisyah pandai dalam ilmu waris?”

Dia menjawab, “Demi Allah, aku menyaksikan para pemuka sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah tentang ilmu waris.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 10/66)

Az-Zuhri berkata, “Kalau ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, pastilah ilmu ‘Aisyah lebih banyak.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/185)

Adz-Dzahabi menyebut ‘Aisyah sebagai wanita umat ini yang paling faqih secara mutlak. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/135)

 

Syiah Membenci Aisyah radhiallahu ‘anha

Lain Ahlus Sunnah, lain pula Syiah. Keduanya tidak bisa didekatkan apalagi disatukan. Bak minyak dan air, tidak mungkin keduanya menyatu.

Amat dekat dengan sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri dari orang yang dekat dengan Rasul dan berilmu banyak tentang syariat Islam. Bisa jadi, itu sebabnya Syiah sangat membenci ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, di samping juga membenci dan mengafirkan para sahabat yang lain, selain sejumlah nama yang tidak melampaui lima jari.

Syiah ingin meruntuhkan Islam dan membangun kembali imperium Majusi Persia yang dahulu diluluhlantakkan oleh kaum Muslimin. Caranya ialah dengan mencela para pembawa panji Islam. Syiah hendak menghancurkan kemuliaan Rasul umat Islam dengan mencacati orang-orang dekat beliau. Tujuan akhirnya ialah kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jelek karena beristrikan para perempuan jelek, bersahabat dengan manusia-manusia buruk. Na’udzubillah!

‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai, justru dinista oleh Syiah. Celaan, hinaan, sumpah serapah, mereka tujukan kepada Ibunda kaum mukminin tersebut. Tujuannya agar semua hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah ditolak dan tidak dijadikan pedoman dalam syariat Islam. Padahal dikatakan bahwa seperempat hukum syariat dinukilkan dari ‘Aisyah. (Fathul Bari, 7/135)

Bayangkan, apa jadinya apabila Syiah berhasil menanamkan kebencian tersebut di hati kaum muslimin. Na’udzubillah.

Sebenarnya, tidak sanggup tangan ini untuk menuliskan celaan dan hinaan Syiah yang sangat keji kepada Sang Ibunda. Hati pun tidak sanggup menanggungnya. Akan tetapi, bukti perlu didatangkan agar kaum muslimin yakin bahwa Syiah amat jauh dari Islam; tidak mungkin berkompromi dengan mereka; dan tidak tertipu dengan taqiyah mereka bahwa Syiah tidak membenci ‘Aisyah.

Berikut ini beberapa bentuk penghinaan dan tuduhan mereka kepada Aisyah.

  1. Ali bin Ibrahim al-Qummi dalam Tafsir-nya (2/192) menyebutkan bahwa ‘Aisyah memiliki akhlak dan perangai yang buruk.
  2. Dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya ath-Thusi (hlm. 57—60) dinukilkan secara dusta bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
  3. Ali al-’Amili al-Bayadhi dalam kitabnya, ash Shirathal Mustaqim (3/135 & 161) mengatakan bahwa ‘Aisyah digelari Ummu asy-Syurur (ibu kejelekan) dan Ummu asy-Syaithan (ibu setan).
  4. Di dalam Tafsirul Ayyasyi (1/342) karya Muhammad bin Mahmud al-Ayyasyi disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
  5. Al-Bayadhi juga menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala belum membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan orang-orang munafik dalam peristiwa haditsul ‘ifk.

Sebab, menurut mereka surat an-Nur ayat 26 turun tidak untuk membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan, tetapi menyucikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan zina. Jadi, mereka sepakat dengan orang-orang munafik bahwa ‘Aisyah benar-benar berbuat serong. (ash-Shirathal Mustaqim, 2/165)

  1. Ash-Shaduq dalam ‘Ilal asy-Syara’i (hlm. 303) dari Abdurrahim al-Qushahir berkata, “Abu Ja’far berkata kepadaku, ‘Ketika Imam kami (al-Qaim, imam Mahdi versi Syiah) sudah bangkit, Humaira’ akan dibawa kepadanya hingga Imam mencambuknya sebagai hukuman had dan membalaskan dendam untuk putri Muhammad, yaitu Fathimah’.”
  2. Muhammad Baqir al-Majlisi dalam kitabnya yang berbahasa Persia Haqqul Yaqin (hlm. 519) mengatakan, “Akidah kami (Syiah) dalam berlepas diri adalah sungguh kami berlepas diri dari empat berhala; Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan Mu’awiyah. Kami berlepas diri dari empat wanita; ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam. Kami juga berlepas diri dari semua pengikut dan kelompok mereka. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi.”
  3. Dalam al-Kafi (hlm. 17) disebutkan klaim mereka bahwa ‘Aisyah kafir sebagaimana istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam.
  4. Khomeini yang dielu-elukan sebagai pahlawan revolusi Islam Iran dalam bukunya, Thaharah (3/457) berkata, “Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu’awiyah, dan orang-orang yang sejenisnya—meskipun secara lahiriah tidak najis—lebih buruk dan menjijikkan daripada anjing dan babi.”
  5. Pada 10 Muharram, orang Syiah mendatangkan kambing betina yang diberi nama ‘Aisyah. Mereka lalu mencabuti bulunya memukulinya dengan sepatu sampai mati. (Tabdhiduzh Zhalam wa Tanbihun Niyam, hlm. 27)

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan kaum yang ingin merusak kehormatan wanita yang mulia ini. Wanita yang telah beroleh jaminan menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di surga kelak[8].

Kita tentu akan mendustakan semua celaan dan hinaan Syiah terhadap wanita yang kita agungkan. Kemuliaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak luntur di mata dan sanubari kaum muslimin karena celaan Syiah, kaum pendusta yang amat jahat. Al-Qur’an dan hadits yang menjadi pegangan kita, bukan ucapan para pendusta dan pendengki.

Orang Syiah jelas tidak percaya kalau kita sampaikan kepada mereka hadits-hadits tentang keutamaan ‘Aisyah. Sebab, mereka tidak memercayai hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ahlus Sunnah. Mereka hanya percaya dengan hadits-hadits yang ada di kitab mereka, seperti al-Kafi yang hendak dijadikan tandingan bagi Shahih al-Bukhari, kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an.

Kita katakan, “Berbahagialah Humaira dengan keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, dan sungguh celaka Syiah yang membencinya….”

Wallahu ta’ala bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

[1] Beliau adalah Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’aI al-Qurasyiyah at-Taimiyah al-Makkiyah—semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai beliau dan ayahnya.

[2] Disebut demikian karena ‘Aisyah adalah wanita jelita yang berkulit putih. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/140)

Syiah tidak setuju bila dikatakan ‘Aisyah adalah wanita jelita berkulit putih.

[3] Silakan lihat kembali Majalah Syariah, lembar Sakinah, vol. I, No. 03, Juni 2003/Rabiul Akhir 1424 H

[4] Tsarid adalah bubur daging dan roti, makanan istimewa dan kebanggaan bangsa Arab.

[5] Dalam lanjutan hadits ini, ‘Amr bertanya siapa yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai dari kalangan lelaki. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ayah ‘Aisyah.”

Ini adalah berita yang pasti, kata al-Imam adz-Dzahabi, walaupun Syiah Rafidhah membencinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mencintai kecuali yang baik. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai lelaki yang paling utama dari umat beliau dan mencintai wanita yang paling utama dari umat beliau. Jadi, barang siapa membenci kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pantas dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. (Siyar, 2/142)

[6] (HR. al-Bukhari no. 2574 dan Muslim no. 6239)

[7] (HR. al-Bukhari no. 3774 dan Muslim no. 6242)

[8] (HR. al-Bukhari no. 3772)

Berjabat Tangan dengan Lawan Jenis

Banyak hal dalam keseharian kita yang mesti dikoreksi. Karena ada di antara kebiasaan yang lazim berlaku di tengah masyarakat kita namun sesungguhnya menyimpang dari syariat. Berjabat tangan dengan lawan jenis adalah contohnya. Praktik ini tersuburkan dengan minimnya keteladanan dari mereka yang selama ini disebut tokoh agama.

Idul Fithri belum lama berlalu. Kegembiraannya masih tertinggal di tengah kita. Saat seorang muslim bertemu dengan saudaranya masih terdengar tahni`ah, ucapan selamat, “taqabballahu minna wa minkum[1].” Tradisi salam-salaman alias berjabat tangan di negeri kita saat hari raya masih terus berlangsung, walaupun sebenarnya untuk saling berjabat tangan dan meminta maaf tidak perlu menunggu hari raya[2]. Kapan kita memiliki kesalahan maka segera meminta maaf, dan kapan kita bertemu dengan saudara kita maka kita mengucapkan salam dan berjabat tangan.

Berjabat tangan yang dalam bahasa Arab disebut dengan mushafahah memang perkara yang ma’ruf, sebuah kebaikan. Hudzaifah radhiallahu ‘anhu menyampaikan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الْـمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْـمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ، تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin yang lain, lalu ia mengucapkan salam dan mengambil tangannya untuk menjabatnya, maka akan berguguran kesalahan-kesalahan keduanya sebagaimana bergugurannya daun-daun pepohonan.” (HR. Al-Mundziri dalam At-Targhib 3/270, Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 8/36, lihat Ash-Shahihah no. 526)

 

Amalan yang pertama kali dicontohkan oleh ahlul Yaman (penduduk Yaman)[3] kepada penduduk Madinah ini biasa dilakukan di tengah masyarakat kita. Kata sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Al-Bara` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu:

مِنْ تَمَامِ التَّحِيَّةِ أَنْ تُصَافِحَ أَخَاكَ

“Termasuk kesempurnaan tahiyyah (ucapan salam) adalah engkau menjabat tangan saudaramu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 968, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad menyatakan: Sanadnya shahih secara mauquf)

 

Berjabat tangan telah jelas kebaikannya. Namun bagaimana kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahram saling berjabat tangan, apakah suatu kebaikan pula? Tentu saja tidak!!! Walaupun menurut perasaan masyarakat kita, tidaklah beradab dan tidak punya tata krama sopan santun, bila seorang wanita diulurkan tangan oleh seorang lelaki dari kalangan karib kerabatnya, lalu ia menolak untuk menjabatnya. Dan mungkin lelaki yang uluran tangannya di-”tampik” itu akan tersinggung berat. Sebutan yang jelek pun akan disematkan pada si wanita. Padahal si wanita yang menolak berjabat tangan tersebut melakukan hal itu karena tahu tentang hukum berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

 

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai qudwah kita, tak pernah mencontohkan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Bahkan beliau mengharamkan seorang lelaki menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Beliau pernah bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Kepala salah seorang ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 20/210 dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, lihat Ash-Shahihah no. 226)

 

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada ancaman yang keras bagi lelaki yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Dan juga merupakan dalil haramnya berjabat tangan dengan para wanita, karena jabat tangan tanpa diragukan masuk dalam pengertian menyentuh. Sungguh kebanyakan kaum muslimin di zaman ini ditimpa musibah dengan kebiasaan berjabat tangan dengan wanita (dianggap sesuatu yang lazim, bukan suatu kemungkaran, -pent.). Di kalangan mereka ada sebagian ahlul ilmi, seandainya mereka mengingkari hal itu hanya di dalam hati saja, niscaya sebagian perkaranya akan menjadi ringan. Namun ternyata mereka menganggap halal berjabat tangan tersebut dengan beragam jalan dan takwil.

 

Telah sampai berita kepada kami ada seorang tokoh besar di Al-Azhar berjabat tangan dengan para wanita dan disaksikan oleh sebagian mereka. Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita sampaikan pengaduan dengan asingnya ajaran Islam ini di tengah pemeluknya sendiri. Bahkan sebagian organisasi-organisasi Islam berpendapat bolehnya jabat tangan tersebut. Mereka berargumen dengan apa yang tidak pantas dijadikan dalil, dengan berpaling dari hadits ini[4] dan hadits-hadits lain yang secara jelas menunjukkan tidak disyariatkan jabat tangan dengan kaum wanita non-mahram.” (Ash-Shahihah, 1/448-449)

 

Dalam membaiat para shahabiyyah sekalipun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjabat tangan mereka[5]. Aisyah radhiallahu ‘anha istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ كَانَ يَمْتَحِنُ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْـمُؤْمِنَاتِ بِهَذِهِ الْآيَةِ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى {ياَ أيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْـمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ} إِلَى قَوْلِهِ {غَفُورٌ رَحِيمٌ} قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا الشَّرْطِ مِنَ الْـمُؤْمِنَاتِ، قَالَ لـَهَا رَسُولُ اللهِ: قَدْ باَيَعْتُكِ؛ كَلاَمًا، وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْـمُبَايَعَةِ، مَا يبُاَيِعُهُنَّ إِلاَّ بِقَوْلِهِ: قَدْ باَيَعْتُكِ عَلَى ذَلِكَ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji kaum mukminat yang berhijrah kepada beliau dengan firman Allah ta’ala: “Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita yang beriman untuk membaiatmu….” Sampai pada firman-Nya: “Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” Urwah berkata, “Aisyah mengatakan: ‘Siapa di antara wanita-wanita yang beriman itu mau menetapkan syarat yang disebutkan dalam ayat tersebut’.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Sungguh aku telah membaiatmu”, beliau nyatakan dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” Aisyah berkata, “Tidak, demi Allah! Tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita pun dalam pembaiatan. Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali hanya dengan ucapan, “Sungguh aku telah membaiatmu atas hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 4891 dan Muslim no. 4811)

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaiat mereka hanya dengan mengucapkan “Sungguh aku telah membaiatmu”, tanpa beliau menjabat tangan wanita tersebut sebagaimana kebiasaan yang berlangsung pada pembaiatan kaum lelaki dengan menjabat tangan mereka.” (Fathul Bari, 8/811)

 

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan tidak bolehnya menyentuh kulit wanita ajnabiyyah (non mahram) tanpa keperluan darurat, seperti karena pengobatan dan hal lainnya bila memang tidak didapatkan dokter wanita yang bisa menanganinya. Karena keadaan darurat, seorang wanita boleh berobat kepada dokter laki-laki ajnabi (bukan mahram si wanita). (Al-Minhaj, 13/14)

 

Umaimah bintu Ruqaiqah berkata: “Aku bersama rombongan para wanita mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaiat beliau dalam Islam. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami membaiatmu bahwa kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak melakukan perbuatan buhtan yang kami ada-adakan di antara tangan dan kaki kami, serta kami tidak akan bermaksiat kepadamu dalam perkara kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesuai yang kalian mampu dan sanggupi.” Umaimah berkata, “Kami berucap, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih sayang kepada kami daripada sayangnya kami kepada diri-diri kami. Marilah, kami akan membaiatmu[6] wahai Rasulullah!’.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata:

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ، إِنَّمَا قَوْلِي لـِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ

“Sesungguhnya aku tidak mau berjabat tangan dengan kaum wanita. Hanyalah ucapanku kepada seratus wanita seperti ucapanku kepada seorang wanita.” (HR. Malik 2/982/2, An-Nasa`i dalam ‘Isyratun Nisa` dari As-Sunan Al-Kubra 2/93/2, At-Tirmidzi, dll. Lihat Ash-Shahihah no. 529)

 

Dari hadits-hadits yang telah disebutkan di atas, jelaslah larangan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Karena seorang lelaki haram hukumnya menyentuh atau bersentuhan dengan wanita yang tidak halal baginya. Al-Imam Asy-Syinqinthi rahimahullah berkata, “Tidaklah diragukan bahwa sentuhan tubuh dengan tubuh lebih kuat dalam membangkitkan hasrat laki-laki terhadap wanita, dan merupakan pendorong yang paling kuat kepada fitnah daripada sekedar memandang dengan mata.[7] Dan setiap orang yang adil/mau berlaku jujur akan mengetahui kebenaran hal itu.” (Adhwa`ul Bayan, 6/603)

 

Sebagian orang bila ingin berjabat tangan dengan wanita ajnabiyyah atau seorang wanita ingin berjabat tangan dengan lelaki ajnabi, ia meletakkan penghalang di atas tangannya berupa kain, kaos tangan dan semisalnya. Seolah maksud dari larangan jabat tangan dengan ajnabi hanyalah bila kulit bertemu dengan kulit, adapun bila ada penghalang tidaklah terlarang. Anggapan seperti ini jelas batilnya, karena dalil yang ada mencakupinya dan sebab pelarangan jabat tangan dengan ajnabi tetap didapatkan meski berjabat tangan memakai penghalang.

 

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, baik si wanita masih muda ataupun sudah tua. Dan sama saja baik yang menjabatnya itu anak muda atau kakek tua, karena adanya bahaya fitnah (ujian/cobaan) yang bisa didapatkan oleh masing-masingnya.”

 

Asy-Syaikh juga berkata, “Tidak ada bedanya baik jabat tangan itu dilakukan dengan ataupun tanpa penghalang, karena keumuman dalil yang ada. Juga dalam rangka menutup celah-celah yang mengantarkan kepada fitnah (ujian/cobaan).”

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Segala sesuatu yang menyebabkan fitnah (godaan) di antara laki-laki dan perempuan hukumnya haram, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.”

Tidaklah diragukan bahwa bersentuhannya kulit laki-laki dengan kulit perempuan akan menimbulkan fitnah. Kalaupun ada yang tidak terfitnah maka itu jarang sekali, sementara sesuatu yang jarang terjadinya tidak ada hukumnya sebagaimana dinyatakan oleh ahlul ilmi. Sungguh ahlul ilmi telah menulis permasalahan ini dan mereka menerangkan tidak halalnya laki-laki berjabat tangan dengan wanita ajnabiyah. Inilah kebenaran dalam masalah ini. Berjabat tangan dengan non mahram adalah perkara yang terlarang, baik dengan pengalas atau tanpa pengalas.”

Beliau juga mengatakan, “Secara umum, tergeraknya syahwat disebabkan sentuhan kulit dengan kulit lebih kuat daripada sekedar melihat dengan pandangan mata/tidak menyentuh. Bila seorang lelaki tidak dibolehkan memandang telapak tangan wanita yang bukan mahramnya, lalu bagaimana dibolehkan ia menggenggam telapak tangan tersebut?” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 2/541-543)

Demikian masalah hukum berjabat tangan antara lelaki dan wanita yang bukan mahram.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

 

[1] Ucapan selamat pada hari Id ini pernah ditanyakan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa (24/253). Beliau menjawab, “Tidak ada asalnya dalam syariat. Telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka melakukannya. Sebagian imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Al-Imam Ahmad rahimahullah dan selainnya. Akan tetapi Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘Aku tidak memulai mengucapkannya kepada seseorang. Namun bila ada yang lebih dahulu mengucapkannya kepadaku, aku pun menjawabnya karena menjawab tahiyyah itu wajib.’ Adapun memulai mengucapkan tahni`ah bukanlah sunnah yang diperintahkan dan juga tidak dilarang. Siapa yang melakukannya maka ia punya contoh dan siapa yang meninggalkannya maka ia punya contoh.”

Yang dimaksudkan tahiyyah oleh Imam Ahmad rahimahullah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan apabila kalian diberi ucapan salam penghormatan maka jawablah dengan yang lebih baik darinya atau balaslah dengan yang semisalnya.” (an-Nisa`: 86)

 

[2] Saling mengunjungi saat hari raya dan berjabat tangan ketika berjumpa di hari raya, demikian pula saling mengucapkan selamat, bukanlah perkara yang disyariatkan bagi pria maupun wanita. Namun demikian, hukumnya tidak sampai bid’ah. Terkecuali bila pelakunya menganggap hal itu sebagai taqarrub (ibadah yang dapat mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wa ta’ala , barulah sampai pada bid’ah karena hal itu tidak pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Nashihati lin Nisa`, Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah, hal. 124)

 

[3]  Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:

لـَماَّ جاَءَ أَهْلُ الْيَمَنِ، قَالَ النَّبِيُّ قَدْ أَقْبَلَ أَهْلُ الْيَمَنِ وَهُمْ أَرَقُّ قُلُوْبًا مِنْكُمْ، فَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْـمُصَافَحَةِ

Tatkala datang ahlul Yaman, berkatalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh telah datang ahlul Yaman, mereka adalah orang-orang yang paling halus/lembut hatinya daripada kalian.” (Kata Anas): “Mereka inilah yang pertama kali datang membawa mushafahah (adat berjabat tangan).” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 967, lihat Shahih Al-Adabil Mufrad dan Ash-Shahihah no. 527)

 

[4] Hadits Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.

 

[5]  Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad (2/213) dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ لاَ يُصَافِحُ النِّسَاءَ فِي الْبَيْعَةِ

“Beliau tidak menjabat tangan para wanita dalam baiat.” (Dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 530)

 

[6] Dijelaskan oleh Sufyan bahwa maksud mereka adalah, “Marilah engkau menjabat tangan kami.” Dalam riwayat Ahmad disebutkan dengan lafadz:

قُلْنَا: يَا رَسولَ اللهِ، أَلاَ تُصَافِحُنَا؟

“Kami katakan, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjabat tangan kami?’.”

 

[7] Sementara memandang wanita yang bukan mahram dengan sengaja adalah perkara yang dilarang dalam syariat. Bila demikian, tentunya lebih terlarang lagi bila lebih dari sekedar memandang.

 

Dari Air yang Terpancar

Wanita juga mengeluarkan mani. Hal demikian memang masih sulit dipahami oleh sebagian orang. Namun Islam justru memberikan gambaran yang lengkap akan hal ini.

 

Telah diketahui secara umum bahwa lelaki mengeluarkan air mani, baik dalam keadaan tidur (karena mimpi/ihtilam) ataupun terjaga, dengan syahwat ataupun tidak. Berbeda halnya dengan keadaan wanita, perkara demikian masih samar bagi sebagian orang. Padahal wanita juga mengeluarkan mani sebagaimana lelaki. Karena itu, ketika Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha istri Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu (untuk menerangkan) kebenaran[1]. Apakah wajib bagi wanita untuk mandi apabila ia ihtilam[2]?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Iya, bila ia melihat air (mani saat terjaga dari tidurnya,–pent.).”[3]

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kepada Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha bahwa wanita wajib mandi janabah bila ia bermimpi dan melihat air. Ini merupakan bukti yang jelas bahwa wanita pun mengeluarkan mani dan wajib mandi karena hal tersebut. Dalam hal ini kita dapat mengatakan “wanita itu saudara kandung (belahan) laki-laki”, seperti kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya kaum wanita itu saudara kandung (bagian) dari kaum lelaki.” [4]

() kata Ibnul Atsir rahimahullah adalah setara, semisal dalam akhlak dan tabiat, watak, serta pembawaan. Seakan-akan mereka (para wanita) bagian dari laki-laki, karena memang Hawa diciptakan dari Adam ‘alaihissalam.  adalah saudara seayah dan seibu dari seseorang. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, hal. 483)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata setelah membawakan hadits Ummu Sulaim radhiallahu‘anha: “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang menganggap mani wanita tidak muncul keluar, (menurut mereka,-pent.) diketahui si wanita keluar mani hanya dengan syahwat (namun tidak memancar keluar sebagaimana mani lelaki,-pent.).” (Fathul Bari, 1/505)

Hanya saja warna dan sifat mani wanita berbeda dengan mani lelaki, seperti keterangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya mani laki-laki itu kental putih sedangkan mani wanita encer berwarna kuning.”[5]

Al-Imam Al-Mawardi rahimahullah berkata: “Ketahuilah, sifat mani laki-laki berbeda dengan mani wanita. Mani laki-laki (berwarna putih) kental, bau/aromanya seperti bau mayang pohon kurma. Sifat ini ada bila keadaan (si lelaki) normal dan sehat. Terkadang dapat berubah karena sakit yang diderita, karena faktor makanan, dan banyak melakukan jima’. Adapun mani wanita berwarna kuning encer, tidak mengandung aroma mayang pohon kurma.” (Al-Hawil Kabir, 1/214)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menambahkan bahwa mani itu keluar dengan memancar, curahan demi curahan, keluarnya dengan syahwat dan terasa nikmat saat keluarnya, diikuti dengan melemahnya badan. Aromanya seperti mayang pohon kurma yang hampir mirip dengan bau adonan. Jika kering baunya seperti bau telur. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 2/120)

Dengan demikian ada tiga kekhususan mani yang bisa dijadikan sandaran untuk membedakannya dari yang lain:

Pertama: Keluarnya dengan syahwat diikuti dengan melemahnya badan
Kedua: Aromanya seperti aroma mayang pohon kurma dan bau adonan

Ketiga: Keluarnya dengan memancar

Adapun mani wanita, terkadang memutih karena kuatnya. Dalam hal ini terdapat kekhususan, yakni saat keluarnya terasa nikmat dan diikuti dengan melemahnya syahwat. Ar-Rauyani berkata: “Aromanya seperti aroma mani laki-laki.”

Berdasarkan hal ini berarti mani wanita memiliki dua kekhususan[6] yang bisa dikenali dengan keberadaan salah satunya. (Al-Majmu’ 2/160-161)

 

Anak Diciptakan dari Air Mani Kedua Orang tuanya

Adam ‘alaihissalam, bapak segenap manusia, diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari tanah. Kemudian anak turunannya diciptakan dari mani, sebagaimana dikabarkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Tanzil-Nya tentang perbuatan-Nya yang agung:

ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ٨

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani).” (as-Sajdah: 7-8)

Dari mani inilah, Allah subhanahu wa ta’ala jadikan anak turunan Adam ‘alaihissalam berkembang biak dan berketurunan. Generasi yang satu melahirkan generasi berikutnya, demikian seterusnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ مِمَّ خُلِقَ ٥ خُلِقَ مِن مَّآءٖ دَافِقٖ ٦  يَخۡرُجُ مِنۢ بَيۡنِ ٱلصُّلۡبِ وَٱلتَّرَآئِبِ ٧

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada.” (ath-Thariq: 5-7)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ia diciptakan dari air yang terpancar, yakni air yang keluar dengan terpancar dari laki-laki dan wanita. Maka akan lahirlah anak dari keduanya dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada, yakni tulang sulbi laki-laki dan dada wanita.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdradhiallahu ‘anhuib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1500)

Dengan demikian, janin itu terbentuk dari mani laki-laki dan mani wanita yang bercampur, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala kabarkan dalam firman-Nya:

 إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَٰهُ سَمِيعَۢا بَصِيرًا ٢

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari nuthfah amysaj.” (al-Insan: 2) (Taudhihul Ahkami min Bulughil Maram, 1/273)

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah menerangkan: مِن نُّطۡفَةٍ yakni mani laki-laki dan mani wanita. Sedangkan أَمۡشَاجٖ  maknanya bercampur. Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan, Mujahid, dan Ar-Rubayi’ mengatakan: “Mani laki-laki dan mani wanita bercampur di dalam rahim, maka darinyalah terbentuk anak.” (Ma’alimut Tanradhiallahu ‘anhuil, 1/395)

Asy-Syaikh ‘Athiyyah Salim rahimahullah menukilkan tafsir Surat al-Insan di atas dari gurunya Al-’Allamah Asy-Syinqithi rahimahullah, dengan menyatakan: “Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang asal penciptaan manusia. Ia memiliki tahapan-tahapan dalam wujudnya, setelah berupa nuthfah (air mani) berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah) kemudian menjadi (segumpal daging), kemudian ia berubah menjadi makhluk yang lain. mudhghah Semua itu terjadi dari sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

وَقَدۡ خَلَقۡتُكَ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ تَكُ شَيۡ‍ٔٗا ٩

“Sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau sebelum itu, padahal engkau waktu itu belum ada sama sekali.” (Maryam: 9) (Tatimmah Adhwa`il Bayan, 8/648)

Dari air mani inilah, anak bisa serupa dengan ayah atau dengan ibunya. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada yang meragukan bahwa wanita juga dapat keluar mani:

“Iya, lalu dari mana anak bisa serupa (dengan orang tuanya)?”[7]

Atau meragukan wanita bisa mimpi senggama dan mengeluarkan mani (ihtilam), beliau nyatakan:

“Maka dengan apa anaknya bisa serupa dengan ibunya?”[8]

Setelah membawakan lafadz hadits: , Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah berkata: “Ini merupakan pertanyaan pengingkaran (istifham ingkari). Dan penetapannya adalah bahwa anak itu terkadang mirip dengan ayahnya, dan terkadang ada yang mirip dengan ibu dan keluarga ibunya. Mana di antara dua mani itu (mani ayah atau mani ibu) yang dominan, maka kemiripan anak kepada yang lebih dominan.” (Subulus Salam, 1/133)

 

Bagaimana Anak Bisa Mirip dengan Orang tuanya?

Kita saksikan pada anak-anak yang dilahirkan oleh sepasang suami istri, ada yang mirip dengan ayahnya, ada yang mirip dengan ibunya. Atau tidak mirip dengan ayah dan ibunya, namun mirip dengan nenek atau pamannya, dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Kenapa demikian? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan rahasianya dalam hadits-hadits beliau. Perhatikanlah!

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

Ada seorang wanita berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah wanita harus mandi bila ia ihtilam dan melihat keluarnya air (mani). Rasulullah menjawab: “Ya.” ‘Aisyah berkata kepada si wanita yang bertanya: Taribat  yadaak[9] (semoga engkau terkena tombak).” Rasulullah berkata kepada ‘Aisyah[10]: “Biarkan dia (bertanya demikian), dari mana terjadi syabah (kemiripan anak dengan orang tuanya/ibunya) kecuali dari air mani itu. Apabila maninya mengungguli (‘uluw) mani laki-laki (suaminya) maka anaknya (yang lahir) serupa dengan akhwalnya (paman-paman/ keluarga dari pihak ibu, –pent.). Sebaliknya bila mani laki-laki (suami) mengungguli mani istrinya maka anak yang lahir serupa dengan a’mamnya (paman-paman/ keluarga dari pihak ayah).”[11]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani tmenyatakan bahwa yang dimaukan dengan ‘uluw adalah dari sisi banyaknya, di mana mani yang lain tergenang di dalam mani yang banyak tersebut. (Fathul Bari)

Tsauban radhiallahu ‘anhu maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah:

“Aku sedang berdiri di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang pendeta Yahudi. Ia berkata: “Assalamu ‘alaika, ya Muhammad!” Aku mendorongnya dengan sekali dorongan yang hampir-hampir membuatnya tersungkur.

“Kenapa engkau mendorongku?” tanyanya.

“Tidakkah seharusnya engkau mengatakan ya Rasulullah!” jawabku.

Si Yahudi berkata: “Aku hanya memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh keluarganya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menengahi: “Sesungguhnya namaku adalah Muhammad yang merupakan nama pemberian keluargaku.”

Si Yahudi berkata: “Aku datang untuk bertanya kepadamu.”

“Apakah bermanfaat bagimu sesuatu jika aku mengabarkannya kepadamu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Aku dengar dengan kedua telingaku,” jawabnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menggaris-garis tanah dengan ranting yang ada pada beliau sembari berpikir. Lalu beliau berkata kepada si Yahudi: “Tanyalah.”

“Di mana manusia pada hari digantinya bumi dengan bumi yang lain dan digantinya langit dengan langit yang lain?” tanyanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Mereka berada dalam kegelapan di bawah jembatan (shirath).”

“Manusia manakah yang pertama kali dapat melewati jembatan?” pertanyaan kedua dari si Yahudi.

“Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Si Yahudi bertanya lagi: “Apa sajian untuk mereka ketika mereka masuk ke dalam surga?”

“Ujung/tepi-hati ikan[12],” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Apa makanan mereka setelah itu?” tanya si Yahudi.

“Disembelihkan untuk mereka sapi (jantan) surga yang biasa makan dari tepi-tepi surga,” jawab Nabi.

“Lalu apa minuman mereka setelah hidangan itu?” tanya si Yahudi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dari mata air di dalam surga yang dinamakan Salsabil.”

“Engkau benar,” tukas si Yahudi, ia melanjutkan ucapannya: “Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang sesuatu yang tidak ada seorang penduduk bumi pun yang mengetahuinya, kecuali seorang nabi atau satu dua orang laki-laki.”

“Apakah bermanfaat bagimu jika aku mengabarkannya kepadamu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Aku dengar dengan kedua telingaku,” jawabnya. Lalu ia bertanya: “Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang anak?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: “Mani laki-laki berwarna putih sedangkan mani wanita berwarna kuning. Bila kedua mani itu berkumpul, lalu mani laki-laki mengungguli (‘uluw) mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dengan iradhiallahu ‘anhuin Allah. Sebaliknya bila mani wanita mengungguli mani laki-laki maka anak yang lahir perempuan dengan iradhiallahu ‘anhuin Allah”.

Si Yahudi berkata: “Sungguh engkau benar. Engkau memang seorang nabi.” Kemudian ia berpaling dan pergi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh orang itu bertanya kepadaku tentang perkara yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya sedikitpun, hingga Allah mendatangkan ilmunya kepadaku.” [13]

Dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha di atas, kita ketahui bahwa dari ‘uluw (dominasi) terjadi syabah (penyerupaan) dengan iradhiallahu ‘anhuin Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan dari hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa dari ‘uluw, anak yang lahir bisa laki-laki (dzukurah) atau bisa perempuan (unutsah). Sehingga bila dua hadits ini digabung kita dapat mengambil pemahaman bahwa dari ‘uluw terjadi syabah, dzukurah dan unutsah. Maknanya bila mani laki-laki lebih dominan dari mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dan serupa dengan keluarga ayahnya. Sebaliknya bila mani wanita yang dominan, anak yang lahir perempuan dan serupa dengan keluarga ibunya.

Namun bila melihat kenyataan yang ada, ada anak laki-laki namun serupa dengan keluarga ibunya. Dan terkadang ada anak perempuan namun ia serupa dengan keluarga ayahnya. Karena ada kenyataan demikian, sebagian ulama melakukan takwil. Di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, beliau mentakwil ‘uluw pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan makna sabaq (mendahului)[14] sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu sebagaimana dzahirnya (Fathul Bari, 7/341-342).

Beliau berkata: “Jadilah sabaq sebagai tanda anak yang lahir laki-laki atau perempuan, sedangkan ‘uluw sebagai tanda syabah, sehingga hilanglah isykal (kerumitan yang ada dalam memahami dua hadits ini dan melihat kenyataan yang ada,-pent.)”. (Fathul Bari, 7/342)

Namun bila kita kembali pada dua hadits di atas, kita lihat dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha disebutkan dengan ‘uluw, yang ditakwil oleh Al-Hafizh dengan sabaq, terjadi syabah, sedangkan dalam hadits Tsauban disebutkan dengan ‘uluw, dengan makna yang sesuai dradhiallahu ‘anhuahirnya, terjadi tadradhiallahu ‘anhukir (anaknya laki-laki) atau ta`nits (anaknya perempuan). Berarti yang tepat berdasarkan takwil Al-Hafiradhiallahu ‘anhuh, sabaq yang disebutkan (sebagai takwil ‘uluw) dalam hadits Aisyah merupakan tanda syabah sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsauban adalah tanda tadradhiallahu ‘anhukir dan ta’nits. (Jami’ Ahkamin Nisa, 1/14)

Hal ini diperjelas lagi dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Sampai kabar kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah kepada ‘Abdullah bin Salam (seorang tokoh dan ‘alim dari Yahudi Bani Qainuqa’, -pent.), ia pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara, tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang Nabi. (Pertanyaan pertama,) apa awal tanda datangnya hari kiamat? (Kedua,) makanan apa yang pertama kali disantap penduduk surga? (Ketiga,) dari apa anak bisa serupa dengan ayahnya dan bisa serupa dengan keluarga ibunya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jibril ‘alaihissalam baru saja mengabarkan kepadaku tentang jawaban dari tiga pertanyaan tersebut.” ‘Abdullah berkata: “Itu adalah musuh Yahudi dari kalangan para malaikat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Adapun awal tanda hari kiamat adalah munculnya api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat. Sedangkan makanan pertama yang disantap penduduk surga adalah ujung/tepi hati ikan. Adapun syabah (penyerupaan) pada anak, bila seorang lelaki menggauli seorang wanita lalu air mani si lelaki mendahului (sabaq) mani si wanita maka anak yang akan lahir serupa (terjadi syabah) dengan ayahnya. Sebaliknya bila mani si wanita yang mendahului (sabaq) maka anak yang akan lahir serupa dengan ibunya”.[15]

Pada akhirnya Abdullah bin Salam masuk Islam, radhiallahu ‘anhu, dengan menanggung cercaan dari Yahudi Bani Qainuqa’, kaumnya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, wal’ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

 

 

 

 

 

[1] Maknanya: Aku tidak mau menahan diri dari bertanya tentang perkara yang memang aku butuhkan. Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha mengucapkan hal ini dalam rangka meminta udzur sebelum bertanya tentang persoalan yang ia butuhkan, di mana dalam perkara tersebut biasanya wanita malu untuk menanyakan dan menyebutkannya di hadapan lelaki. Menahan diri dari bertanya tentang perkara yang dibutuhkan bukanlah suatu kebaikan, bahkan kejelekan. Maka bagaimana hal itu dianggap sebagai malu, sementara malu adalah kebaikan seluruhnya dan malu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 2/215)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah memuji wanita Anshar dengan mengatakan:

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk tafaqquh (mempelajari dan memahami) dalam agama.” (Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, kitab Al-’lmi bab Al-Haya` fil ‘Ilm, 1/301)

 

[2] Dalam riwayat Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, apabila dalam mimpinya seorang wanita melihat suaminya menggaulinya, apakah ia harus mandi?”

 

[3] HR. Al-Bukhari no. 282, kitab Al-Ghusl, bab Idradhiallahu ‘anhua Ihtalamatil Mar`ah dan Muslim no. 313 kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusl alal Mar‘ah bi Khurujil Mani minha

 

[4] HR. At-Tirmidradhiallahu ‘anhui no. 113, kitab Ath-Thaharah, bab Fiman Yastaiqiradhiallahu ‘anhuh fa Yara Balalan wala Yadradhiallahu ‘anhukuru Ihtilaman. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidradhiallahu ‘anhui.

 

[5] HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar`’ati bikhurujil Mani minha.

 

[6] Yaitu terasa nikmat dengan keluarnya, diikuti dengan melemahnya syahwat dan aromanya seperti aroma mani laki-laki.

 

[7] HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar`ati bikhurujil Mani minha

 

[8] HR. Al-Bukhari no. 130, kitab Al-’Ilmu, bab Al-Haya‘‘alaihissalam fil ‘Ilmi dan pada beberapa tempat lainnya dalam kitab Shahih-nya. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim no. 710, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar‘ati bikhurujil Mani minha

 

[9] Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, makna kalimat ini banyak diperselisihkan dan terbesar di kalangan salaf dan khalaf dari segala kelompok. Pendapat yang paling tepat dan paling kuat yang dipegangi para muhaqqiq tentang maknanya adalah kalimat ini asal maknanya: Engkau menjadi fakir. Orang Arab terbiasa menggunakannya namun tidak memaksudkan hakikat maknanya yang asli. Mereka menyatakan Taribat Yadaak, Qatalahullahu alangkah beraninya orang itu, Laa Umma Lahu, Laa Aba Laka, Tsakilathu Ummuh, Wailu Ummuhu dan lafadradhiallahu ‘anhu-lafadradhiallahu ‘anhu sejenis, mereka ucapkan ketika mengingkari sesuatu, mencerca, mencaci, membesarkan, menekankannya, atau untuk menyatakan keheranan/kekaguman. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 2/212)

 

[10] Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam balas mengatakan kepada ‘Aisyah: “Bahkan engkau, taribat yaminuk….” (HR. Muslim no. 707)

 

[11] HR. Muslim no. 713

 

[12] Bagian hati yang paling bagus, kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah (Al-Minhaj, 3/217). Al-Hafiradhiallahu ‘anhuh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah: “Ziyadah adalah potongan tersendiri/ terpisah yang tergantung pada hati, dan sangat leradhiallahu ‘anhuat rasanya.” (Fathul Bari, 7/341)

 

[13] HR. Muslim no. 714

 

[14] Karena setiap yang sabaq berarti perkaranya tinggi, sehingga ‘uluw di sini adalah ‘uluw maknawi. (Fathul Bari, 7/341)

 

[15] HR. Al-Bukhari no. 3329, kitab Ahaditsul Anbiya’, bab Khalqi Adam wa Dzurriyatihi

Ummu Sulaim bintu Milhan

Sejak iman merasuk dalam kalbunya, kemuliaan selalu menjadi miliknya. Bukan gemerlap permata mahar yang dipilihnya, melainkan semata keislaman suaminya. Kesabaran, keberanian, kecintaannya kepada Rasul-Nya, tidaklah menambah pada dirinya kecuali taburan keharuman kisah hidupnya. Siapa yang tak merasa bahagia dengan janji mulia untuk meraih surga? Lanjutkan membaca Ummu Sulaim bintu Milhan

Ummu Haram Bintu Milhan

        Bak kemuliaan raja-raja di atas singgasana, mereka hendak muliakan kalimat Rabbnya. Di antara mereka, seorang wanita menyimpan sebuah asa. Bukanlah dunia yang dia inginkan, melainkan menggapai ketinggian di sisi Rabbnya.

        Tak ubahnya seperti saudari kandungnya, Ummu Sulaim bintu Milhan, dia pun seorang wanita yang begitu mendambakan kemuliaan. Dia begitu dimuliakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengunjunginya, tidur siang di rumahnya[1], dan mendoakannya agar meraih kesyahidan.

Lanjutkan membaca Ummu Haram Bintu Milhan

Ruqayyah dan Ummu Kultsum, Kisah Perjalanan Dua Cahaya

Tumbuh beriringan bak dua kuntum bunga, berhias keindahan. Lepas dari belenggu ikatan, bertabur kemuliaan. Berlabuh di sisi kekasih nan dermawan, sang pemilik dua cahaya.

  Lanjutkan membaca Ruqayyah dan Ummu Kultsum, Kisah Perjalanan Dua Cahaya

Shaffiyah Binti Huyai Cinta dari Tanah Khaibar

Benteng-benteng Khaibar menyisakan kemenangan bagi kaum muslimin setelah terkepung selama 20 hari. Pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak hanya pulang membawa kegemilangan, namun juga membawa cinta seorang wanita, Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha.

Lanjutkan membaca Shaffiyah Binti Huyai Cinta dari Tanah Khaibar

Zainab Bintu Khuzaimah Sebuah Kisah dalam Sepenggal Masa

Dalam perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, tercatat tentang seorang wanita yang begitu pemurah dan dermawan. Namun, siapa gerangan yang dapat menolak keputusan Rabb semesta alam? Hingga wanita itu hanya sejenak menemani hari-hari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

  Lanjutkan membaca Zainab Bintu Khuzaimah Sebuah Kisah dalam Sepenggal Masa

Maimunah Bintu Al Harits, Anugrah Cinta Dalam Asa

Maimunah bintu al-Harits bin Hazn bin Jabir bin al-Hazm. Untuk apakah kiranya rentang usia apabila bukan untuk kemuliaan? Berita kedatangan Khairul Anam di tanah kelahirannya dalam nuansa kemenangan Khaibar disambut oleh seorang wanita mulia dengan sarat harapan. Ingin menyatakan ketundukannya pada Rabbnya, ingin berdamping hidup dengan Rasul-Nya….

Lanjutkan membaca Maimunah Bintu Al Harits, Anugrah Cinta Dalam Asa

Juwariyah Bintu Al-Harits, Kepak Kebebasan Dalam Jalinan Kasih Sayang

Wanita itu memesona setiap pandangan yang menatapnya, berpadu dengan kemuliaan dalam diri seorang wanita bangsawan. Di tengah kegundahan kaumnya, dia berikan pula segenap kebaikan lewat sebuah kebebasan.

Lanjutkan membaca Juwariyah Bintu Al-Harits, Kepak Kebebasan Dalam Jalinan Kasih Sayang

Zainab Bintu Jahsy

Terasa berat baginya kala itu menerima keputusan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Wanita bangsawan harus bersanding dengan seorang bekas sahaya. Namun, segala keinginan dan kegundahan ditepisnya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga menggiring keindahan hidup di sisi utusan Rabb-nya.

Lanjutkan membaca Zainab Bintu Jahsy

Ummu Habibah Pengantin Rasulullah di Negri Seberang

Mungkin tak pernah tersirat di dalam hati Abu Sufyan, akan ada seseorang dari kalangan Quraisy yang akan menentangnya, sementara dia adalah tokoh Makkah yang ditaati. Namun putrinya telah memorak-porandakan keyakinannya ini, manakala sang putri mengingkari sesembahan ayahnya dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, membenarkan risalah Nabi-Nya Muhammad bin ‘Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lanjutkan membaca Ummu Habibah Pengantin Rasulullah di Negri Seberang