Berdoalah Pasti Allah Akan Mengabulkan Doamu

Saudariku muslimah… semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatimu.

Menempuh hari demi hari dalam perjalanan hidup kita, tentunya tak dapat bertumpu pada kemampuan dan kekuatan kita sendiri, karena manusia merupakan makhluk yang lemah.

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (an-Nisa`: 28)

Kita membutuhkan kekuatan dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, kita butuh rahmat-Nya, kita butuh segalanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Untuk itu semua, tentunya kita butuh berdoa kepada-Nya dalam rangka menyampaikan hajat-hajat kita, dalam keadaan kita yakin Dia Dzat Yang Maha Mengetahui.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.” (al-Baqarah: 186)

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menolak permintaan orang yang berdoa, dan tidak ada sesuatu pun yang menyibukkan Dia dari memperhatikan doa hamba-Nya, bahkan Dia Maha Mendengar doa. Di sini ada penekanan, dorongan dan anjuran untuk berdoa, karena doa itu tidaklah disia-siakan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/284)

Allah subhanahu wa ta’ala pasti mendengarkan dan mengabulkan doa kita. Ini adalah satu keyakinan yang harus kita tumbuhkan di dalam jiwa sehingga kita selalu husnuzhan (berbaik sangka) kepada-Nya. Kepastian ini dipertegas lagi dengan hadits-hadits Rasulullah n berikut ini:

“Sesungguhnya Allah ta’ala malu bila seorang hamba membentangkan kedua tangannya untuk memohon kebaikan kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan kedua tangan hamba itu dalam keadaan hampa/gagal.” (HR. Ahmad (5/438), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1757)

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah U dengan satu doa yang tidak ada di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah memberikan kepadanya dengan doa tersebut salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi permintaannya disegerakan, bisa jadi permintaannya itu disimpan untuknya di akhirat nanti, dan bisa jadi dipalingkan/dihindarkan kejelekan darinya yang sebanding dengan permintaannya.”

Ketika mendengar penjelasan seperti itu, para shahabat berkata: “Kalau begitu kita akan memperbanyak doa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah lebih banyak lagi yang ada di sisi-Nya (atau pemberian-Nya).” (HR. Ahmad 3/18, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5714)

Dalam hadits di atas jelas sekali apa yang dinyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan mengabulkan permintaan hamba-Nya selama doa yang dipanjatkan tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahim. Kalaupun permintaan yang dipinta tidak dikabulkan Allah subhanahu wa ta’ala, hal ini karena Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi si hamba. Bisa jadi permintaan itu disimpan untuk diberikan kelak di akhirat sehingga si hamba bisa memetik buah dari doanya ketika di dunia, ataupun dengan doa tersebut si hamba dihindarkan dari kejelekan.

Dengan demikian tidak ada ruginya seorang hamba meminta kepada Rabbnya Yang Maha Pemurah. Bahkan semestinya seorang hamba selalu menghadapkan permintaannya kepada Rabbnya di setiap waktu dan keadaan. Jangan ia biarkan ada sesuatu yang menghalanginya untuk menyampaikan hajat kepada Rabbnya. Orang yang selalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala berarti dia akan selalu mengingat-Nya. Siapa yang selalu ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala pun akan mengingatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi berikut ini:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Aku menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat (berdzikir) kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam Diriku. Jika ia mengingat-Ku di tengah orang banyak, Aku pun mengingatnya di tengah kelompok yang lebih baik dari mereka (yakni para malaikat,-pent.)” (HR. Al-Bukhari no. 7405, kitab At-Tauhid, bab Qaulullahi Ta’ala: Wa Yuhadzdzirukumullahu Nafsahahu, dan Muslim no. 6746, kitab Adz-Dzikr wad Du’a wat Taubah wal Istighfar, bab Al-Hatstsu ‘ala Dzikrillah Ta’ala)

Allah subhanahu wa ta’ala pun telah memerintahkan dalam firman-Nya :

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ

“Ingatlah kalian (berdzikirlah) kepada-Ku maka Aku pun akan mengingat kalian.” (al-Baqarah: 152)

Cukuplah penjelasan di atas untuk membuat kita rindu untuk selalu berdoa kepada-Nya, untuk selalu mengingat-Nya.

Namun mungkin masih terlintas “sebuah tanya” di benak kita akan adanya doa yang selalu kita pinta tetapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda dikabulkan. Padahal kita merasa kebaikan semata yang dipinta. Kenapa bisa demikian?

Penjelasan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berikut ini mungkin bisa kita jadikan renungan. Beliau berkata: “Demikian pula doa. Doa merupakan sebab terkuat untuk menolak kejelekan dan (sebab untuk) mendapatkan apa yang diinginkan. Akan tetapi terkadang pengaruhnya luput untuk diperoleh. Bisa jadi karena lemahnya doa tersebut di mana keberadaan doa itu tidak dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala disebabkan di dalamnya mengandung permusuhan. Bisa jadi karena lemahnya hati orang yang berdoa dan ia tidak menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, juga tidak memperhatikan waktu berdoa. Jadilah doa tersebut seperti busur yang sangat lemah, karena anak panah yang keluar darinya melesat dengan lemah. Bisa jadi pula doa tersebut tidak dikabulkan karena ada perkara-perkara yang menghalanginya seperti makan dari yang haram, adanya kedzaliman, hati yang penuh titik hitam karena dosa, kelalaian dan syahwat yang mendominasi.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik (halal). Sungguh Allah telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan apa yang diperintahkan-Nya kepada para rasul. Dia berfirman: “Wahai para rasul, makanlah kalian dari yang baik-baik (halal) dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian amalkan.” Dia pun berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari yang baik-baik (halal) dari apa yang telah Kami rizkikan kepada kalian dan bersyukurlah kalian kepada Allah jika memang hanya kepada-Nya kalian beribadah.” Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan yang panjang, dalam keadaan kusut masai lagi berdebu. Ia memben-tangkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia diberi makan dari yang haram, lalu dari mana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 2343 kitab Az-Zakah, bab Qabulush Shadaqah minal Kasbith Thayyib)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa minuman, makanan, pakaian dan semisalnya, sepantasnya berasal dari yang halal murni tanpa ada syubhat. Siapa yang ingin berdoa maka dia sepantasnya lebih memperhatikan hal ini daripada hal lainnya.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 7/102)

Dengan demikian, bila kita mendapatkan ada doa kebaikan yang kita panjatkan belum juga dikabulkan sepantasnya kita introspeksi diri dan menelaah. Adakah hal-hal yang menghalangi terijabahnya doa? Sudahkah kita memperhatikan adab-adab dalam berdoa dan waktu-waktu mustajabah?

Edisi depan, Insya Allah, kita coba membahasnya. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

Membentengi Diri dari Sihir

Saya seorang ibu rumah tangga yang telah menjalani pernikahan selama 17 tahun, dan telah dikarunia 6 anak. Selama 17 tahun berumah tangga, hanya 5 tahun saya hidup bahagia. Selebihnya, saya jadi benci kepada suami saya. Saya tidak suka dia berhubungan dengan saya sebagaimana hubungan suami istri. Saya merasa tidak sanggup tidur bersamanya. Saya mengira semua ini karena pengaruh sihir, maka untuk menanggulanginya saya pergi ke tukang sihir dan “orang tua pintar”.

Mereka memberi saya beberapa jimat, namun saya tidak mendapatkan manfaat apapun darinya. Sebenarnya saya tidak percaya dengan seorang pun dari mereka. Saya juga pergi ke para dokter ahli jiwa (psikiater), namun juga tidak mendapat faedah apa-apa. Saya menginginkan suamiku dan tidak menginginkan seorang pun selainnya. Namun rumah tangga saya hampir hancur. Apa yang harus saya lakukan -semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi anda-?

 

Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjawab dengan cukup panjang sebagai berikut:

Penyakit yang datang belakangan itu memang bisa jadi karena pengaruh sihir. Bisa jadi pula pengaruh ‘ain[1] (mata), atau yang dinamakan orang dengan nazhlah dan nafs. Mungkin juga karena penyakit lain yang menyebabkan timbulnya hal tersebut.

 

Dalam ajaran Islam, tidak diperkenankan mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal serta bertanya kepada mereka. Jadi, perbuatan anda mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal merupakan perkara yang tidak diperbolehkan. Anda benar-benar telah berbuat salah. Anda harus bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

 

‘Arraf adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara (gaib), dengan bantuan jin, dengan cara gaib atau tersembunyi. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan tempat bertanya (ketika ada masalah) dan tidak boleh dibenarkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau kahin (dukun) lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka orang itu telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

 

Maka tidak boleh mendatangi kahin (dukun), tidak pula tukang sihir, serta bertanya kepada mereka. Namun, anda bisa berobat kepada tabib (dokter) yang ma’ruf (dikenal) yang bisa jadi mengetahui obat apa yang dikenal bisa menyembuhkan perkara-perkara tersebut, baik berupa suntikan, pil, atau yang lainnya. Atau anda bisa mendatangi seorang pembaca al-Qur`an atau seorang wanita shalihah yang akan membacakan ayat-ayat al-Qur`an (pada tangannya) lalu meniup-niupnya (dan diusapkan) kepada anda.

 

Tentunya meminta bantuan kepada wanita shalihah untuk mengobati anda lebih diutamakan (karena kalian sama-sama wanita) daripada memintanya kepada seorang lelaki. Semoga dengannya Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan pengaruh ‘ain atau sihir tersebut. Kalau terpaksa berobat kepada seorang lelaki, maka jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan dengannya). Anda harus disertai orang lain, baik ibu anda, saudara laki-laki anda, ayah anda atau semisal mereka. Orang itu cukup membacakan ayat-ayat Al-Qur`an dan anda mendengarkannya.

 

Mungkin pula pengobatan dengan cara menyediakan air dalam wadah, lalu dibacakan padanya surat Al-Fatihah, ayat Kursi, ayat-ayat yang berbicara tentang sihir dalam surat al-A’raf (ayat 117-122,–pent.), surat Yunus (ayat 81-82,–pent.), dan surat Thaha (ayat 69,–pent.) Juga membaca surat al-Kafirun, Al-Ikhlas, dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas). Dibacakan pula di air tersebut doa-doa seperti:

 

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan/penyakit ini, sembuhkanlah. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dengan kesembuhanmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.

 

Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad, semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.

 

Doa ini dibaca tiga kali, karena doa ini tsabit (pasti datangnya) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagaimana termuat dalam Ash-Shahihain,-pent.)

 

Bila orang yang mengobati anda telah melakukan hal di atas, maka sebagian air itu anda minum, sisanya untuk membasuh tubuh anda. Pengobatan seperti ini mujarab untuk menyembuhkan pengaruh sihir dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula untuk mengobati seorang suami yang tercegah (tidak dapat) untuk menggauli istrinya. Juga untuk pengobatan ‘ain, karena ‘ain itu diobati dengan ruqyah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada pengobatan dengan ruqyah (yang paling tampak hasilnya/ mujarab-pent.) kecuali dari pengaruh ‘ain atau sengatan binatang berbisa.”

 

Pengobatan seperti di atas merupakan faktor-faktor kesembuhan yang terkadang Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya bermanfaat.

 

Bisa pula pengobatan dengan cara mencampur air dengan tujuh daun sidr (bidara) hijau yang telah ditumbuk, lalu dibacakan bacaan-bacaan yang telah disebutkan di atas. Pengobatan seperti ini terkadang Allah subhanahu wa ta’ala jadikan bermanfaat. Dan kami telah melakukannya untuk mengobati banyak orang, Allah subhanahu wa ta’ala pun menjadikannya bermanfaat. Cara ini disebutkan oleh ulama, di antaranya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh penulis kitab Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid. Beliau sebutkan dalam bab Ma Ja`a fin Nusyrah. Bila anda memiliki kitabnya, silahkan menelaahnya. Atau tanyakan kepada orang-orang yang berilmu dien, mereka Insya Allah subhanahu wa ta’ala akan menunaikan apa yang pantas.

 

Adapun kepada tukang sihir, kahin dan ‘arraf, janganlah anda bertanya dan membenarkan mereka. Hendaknya anda menemui orang-orang yang berilmu haq dan para pembaca al-Qur`an yang dikenal dengan kebaikan, sehingga mereka mengobati anda dengan bacaan-bacaan ruqyah. Atau anda mendatangi wanita-wanita shalihah dari kalangan pengajar/guru agama dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala  menganugerahkan kesembuhan dan kesehatan  kepada anda dengan sebab-sebab tersebut.

 

Termasuk perkara yang sepantasnya anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menghilangkan gangguan yang menimpa anda, karena Allah subhanahu wa ta’ala menyukai bila diajukan permintaan pada-Nya. Dia telah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)

Dan juga firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (al-Baqarah : 186)

 

Sepantasnya anda mohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula suami anda, ayah dan ibu anda, karena seorang mukmin itu seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Doa itu senjata orang mukmin, dan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri telah men-janjikan untuk menga-bulkan doa. Maka anda harus ber-sungguh-sungguh dan jujur dalam doa anda, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kesembuhan.

 

Selain itu, aku nasehatkan agar menjelang tidur, anda menggabungkan dua telapak tangan anda, lalu meniupnya dengan sedikit meludah dengan membacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, tiga kali. Setelahnya dengan kedua telapak tangan tersebut anda mengusap kepala, wajah dan dada (berikut apa yang bisa dicapai oleh kedua telapak tangan dari bagian tubuh,-pent.), dilakukan sebanyak tiga kali. Perbuatan seperti ini termasuk sebab kesembuhan.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya saat menjelang tidur dan ketika sakit, sebagaimana disebutkan dalam berita yang shahih dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha (dan ketika sakitnya bertambah parah, beliau memerintahkan ‘Aisyah agar melakukannya untuk beliau[2]-pent.).

 

Wallahu a’lam.  (Kitab Fatawa Nur ‘alad Darb, hal. 200-203)

 

 

[1] Lihat pembahasan ‘ain dalam rubrik Permata Hati, Majalah Syariah Vol. subhanahu wa ta’ala /No. 04/ Desember 2003/ Syawwal 1424 H.

 

[2] Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya

 

Dari Air yang Terpancar

Wanita juga mengeluarkan mani. Hal demikian memang masih sulit dipahami oleh sebagian orang. Namun Islam justru memberikan gambaran yang lengkap akan hal ini.

 

Telah diketahui secara umum bahwa lelaki mengeluarkan air mani, baik dalam keadaan tidur (karena mimpi/ihtilam) ataupun terjaga, dengan syahwat ataupun tidak. Berbeda halnya dengan keadaan wanita, perkara demikian masih samar bagi sebagian orang. Padahal wanita juga mengeluarkan mani sebagaimana lelaki. Karena itu, ketika Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha istri Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu (untuk menerangkan) kebenaran[1]. Apakah wajib bagi wanita untuk mandi apabila ia ihtilam[2]?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Iya, bila ia melihat air (mani saat terjaga dari tidurnya,–pent.).”[3]

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kepada Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha bahwa wanita wajib mandi janabah bila ia bermimpi dan melihat air. Ini merupakan bukti yang jelas bahwa wanita pun mengeluarkan mani dan wajib mandi karena hal tersebut. Dalam hal ini kita dapat mengatakan “wanita itu saudara kandung (belahan) laki-laki”, seperti kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya kaum wanita itu saudara kandung (bagian) dari kaum lelaki.” [4]

() kata Ibnul Atsir rahimahullah adalah setara, semisal dalam akhlak dan tabiat, watak, serta pembawaan. Seakan-akan mereka (para wanita) bagian dari laki-laki, karena memang Hawa diciptakan dari Adam ‘alaihissalam.  adalah saudara seayah dan seibu dari seseorang. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, hal. 483)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata setelah membawakan hadits Ummu Sulaim radhiallahu‘anha: “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang menganggap mani wanita tidak muncul keluar, (menurut mereka,-pent.) diketahui si wanita keluar mani hanya dengan syahwat (namun tidak memancar keluar sebagaimana mani lelaki,-pent.).” (Fathul Bari, 1/505)

Hanya saja warna dan sifat mani wanita berbeda dengan mani lelaki, seperti keterangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya mani laki-laki itu kental putih sedangkan mani wanita encer berwarna kuning.”[5]

Al-Imam Al-Mawardi rahimahullah berkata: “Ketahuilah, sifat mani laki-laki berbeda dengan mani wanita. Mani laki-laki (berwarna putih) kental, bau/aromanya seperti bau mayang pohon kurma. Sifat ini ada bila keadaan (si lelaki) normal dan sehat. Terkadang dapat berubah karena sakit yang diderita, karena faktor makanan, dan banyak melakukan jima’. Adapun mani wanita berwarna kuning encer, tidak mengandung aroma mayang pohon kurma.” (Al-Hawil Kabir, 1/214)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menambahkan bahwa mani itu keluar dengan memancar, curahan demi curahan, keluarnya dengan syahwat dan terasa nikmat saat keluarnya, diikuti dengan melemahnya badan. Aromanya seperti mayang pohon kurma yang hampir mirip dengan bau adonan. Jika kering baunya seperti bau telur. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 2/120)

Dengan demikian ada tiga kekhususan mani yang bisa dijadikan sandaran untuk membedakannya dari yang lain:

Pertama: Keluarnya dengan syahwat diikuti dengan melemahnya badan
Kedua: Aromanya seperti aroma mayang pohon kurma dan bau adonan

Ketiga: Keluarnya dengan memancar

Adapun mani wanita, terkadang memutih karena kuatnya. Dalam hal ini terdapat kekhususan, yakni saat keluarnya terasa nikmat dan diikuti dengan melemahnya syahwat. Ar-Rauyani berkata: “Aromanya seperti aroma mani laki-laki.”

Berdasarkan hal ini berarti mani wanita memiliki dua kekhususan[6] yang bisa dikenali dengan keberadaan salah satunya. (Al-Majmu’ 2/160-161)

 

Anak Diciptakan dari Air Mani Kedua Orang tuanya

Adam ‘alaihissalam, bapak segenap manusia, diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari tanah. Kemudian anak turunannya diciptakan dari mani, sebagaimana dikabarkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Tanzil-Nya tentang perbuatan-Nya yang agung:

ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ٨

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani).” (as-Sajdah: 7-8)

Dari mani inilah, Allah subhanahu wa ta’ala jadikan anak turunan Adam ‘alaihissalam berkembang biak dan berketurunan. Generasi yang satu melahirkan generasi berikutnya, demikian seterusnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ مِمَّ خُلِقَ ٥ خُلِقَ مِن مَّآءٖ دَافِقٖ ٦  يَخۡرُجُ مِنۢ بَيۡنِ ٱلصُّلۡبِ وَٱلتَّرَآئِبِ ٧

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada.” (ath-Thariq: 5-7)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ia diciptakan dari air yang terpancar, yakni air yang keluar dengan terpancar dari laki-laki dan wanita. Maka akan lahirlah anak dari keduanya dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada, yakni tulang sulbi laki-laki dan dada wanita.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdradhiallahu ‘anhuib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1500)

Dengan demikian, janin itu terbentuk dari mani laki-laki dan mani wanita yang bercampur, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala kabarkan dalam firman-Nya:

 إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَٰهُ سَمِيعَۢا بَصِيرًا ٢

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari nuthfah amysaj.” (al-Insan: 2) (Taudhihul Ahkami min Bulughil Maram, 1/273)

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah menerangkan: مِن نُّطۡفَةٍ yakni mani laki-laki dan mani wanita. Sedangkan أَمۡشَاجٖ  maknanya bercampur. Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan, Mujahid, dan Ar-Rubayi’ mengatakan: “Mani laki-laki dan mani wanita bercampur di dalam rahim, maka darinyalah terbentuk anak.” (Ma’alimut Tanradhiallahu ‘anhuil, 1/395)

Asy-Syaikh ‘Athiyyah Salim rahimahullah menukilkan tafsir Surat al-Insan di atas dari gurunya Al-’Allamah Asy-Syinqithi rahimahullah, dengan menyatakan: “Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang asal penciptaan manusia. Ia memiliki tahapan-tahapan dalam wujudnya, setelah berupa nuthfah (air mani) berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah) kemudian menjadi (segumpal daging), kemudian ia berubah menjadi makhluk yang lain. mudhghah Semua itu terjadi dari sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

وَقَدۡ خَلَقۡتُكَ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ تَكُ شَيۡ‍ٔٗا ٩

“Sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau sebelum itu, padahal engkau waktu itu belum ada sama sekali.” (Maryam: 9) (Tatimmah Adhwa`il Bayan, 8/648)

Dari air mani inilah, anak bisa serupa dengan ayah atau dengan ibunya. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada yang meragukan bahwa wanita juga dapat keluar mani:

“Iya, lalu dari mana anak bisa serupa (dengan orang tuanya)?”[7]

Atau meragukan wanita bisa mimpi senggama dan mengeluarkan mani (ihtilam), beliau nyatakan:

“Maka dengan apa anaknya bisa serupa dengan ibunya?”[8]

Setelah membawakan lafadz hadits: , Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah berkata: “Ini merupakan pertanyaan pengingkaran (istifham ingkari). Dan penetapannya adalah bahwa anak itu terkadang mirip dengan ayahnya, dan terkadang ada yang mirip dengan ibu dan keluarga ibunya. Mana di antara dua mani itu (mani ayah atau mani ibu) yang dominan, maka kemiripan anak kepada yang lebih dominan.” (Subulus Salam, 1/133)

 

Bagaimana Anak Bisa Mirip dengan Orang tuanya?

Kita saksikan pada anak-anak yang dilahirkan oleh sepasang suami istri, ada yang mirip dengan ayahnya, ada yang mirip dengan ibunya. Atau tidak mirip dengan ayah dan ibunya, namun mirip dengan nenek atau pamannya, dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Kenapa demikian? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan rahasianya dalam hadits-hadits beliau. Perhatikanlah!

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

Ada seorang wanita berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah wanita harus mandi bila ia ihtilam dan melihat keluarnya air (mani). Rasulullah menjawab: “Ya.” ‘Aisyah berkata kepada si wanita yang bertanya: Taribat  yadaak[9] (semoga engkau terkena tombak).” Rasulullah berkata kepada ‘Aisyah[10]: “Biarkan dia (bertanya demikian), dari mana terjadi syabah (kemiripan anak dengan orang tuanya/ibunya) kecuali dari air mani itu. Apabila maninya mengungguli (‘uluw) mani laki-laki (suaminya) maka anaknya (yang lahir) serupa dengan akhwalnya (paman-paman/ keluarga dari pihak ibu, –pent.). Sebaliknya bila mani laki-laki (suami) mengungguli mani istrinya maka anak yang lahir serupa dengan a’mamnya (paman-paman/ keluarga dari pihak ayah).”[11]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani tmenyatakan bahwa yang dimaukan dengan ‘uluw adalah dari sisi banyaknya, di mana mani yang lain tergenang di dalam mani yang banyak tersebut. (Fathul Bari)

Tsauban radhiallahu ‘anhu maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah:

“Aku sedang berdiri di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang pendeta Yahudi. Ia berkata: “Assalamu ‘alaika, ya Muhammad!” Aku mendorongnya dengan sekali dorongan yang hampir-hampir membuatnya tersungkur.

“Kenapa engkau mendorongku?” tanyanya.

“Tidakkah seharusnya engkau mengatakan ya Rasulullah!” jawabku.

Si Yahudi berkata: “Aku hanya memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh keluarganya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menengahi: “Sesungguhnya namaku adalah Muhammad yang merupakan nama pemberian keluargaku.”

Si Yahudi berkata: “Aku datang untuk bertanya kepadamu.”

“Apakah bermanfaat bagimu sesuatu jika aku mengabarkannya kepadamu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Aku dengar dengan kedua telingaku,” jawabnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menggaris-garis tanah dengan ranting yang ada pada beliau sembari berpikir. Lalu beliau berkata kepada si Yahudi: “Tanyalah.”

“Di mana manusia pada hari digantinya bumi dengan bumi yang lain dan digantinya langit dengan langit yang lain?” tanyanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Mereka berada dalam kegelapan di bawah jembatan (shirath).”

“Manusia manakah yang pertama kali dapat melewati jembatan?” pertanyaan kedua dari si Yahudi.

“Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Si Yahudi bertanya lagi: “Apa sajian untuk mereka ketika mereka masuk ke dalam surga?”

“Ujung/tepi-hati ikan[12],” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Apa makanan mereka setelah itu?” tanya si Yahudi.

“Disembelihkan untuk mereka sapi (jantan) surga yang biasa makan dari tepi-tepi surga,” jawab Nabi.

“Lalu apa minuman mereka setelah hidangan itu?” tanya si Yahudi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dari mata air di dalam surga yang dinamakan Salsabil.”

“Engkau benar,” tukas si Yahudi, ia melanjutkan ucapannya: “Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang sesuatu yang tidak ada seorang penduduk bumi pun yang mengetahuinya, kecuali seorang nabi atau satu dua orang laki-laki.”

“Apakah bermanfaat bagimu jika aku mengabarkannya kepadamu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Aku dengar dengan kedua telingaku,” jawabnya. Lalu ia bertanya: “Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang anak?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: “Mani laki-laki berwarna putih sedangkan mani wanita berwarna kuning. Bila kedua mani itu berkumpul, lalu mani laki-laki mengungguli (‘uluw) mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dengan iradhiallahu ‘anhuin Allah. Sebaliknya bila mani wanita mengungguli mani laki-laki maka anak yang lahir perempuan dengan iradhiallahu ‘anhuin Allah”.

Si Yahudi berkata: “Sungguh engkau benar. Engkau memang seorang nabi.” Kemudian ia berpaling dan pergi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh orang itu bertanya kepadaku tentang perkara yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya sedikitpun, hingga Allah mendatangkan ilmunya kepadaku.” [13]

Dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha di atas, kita ketahui bahwa dari ‘uluw (dominasi) terjadi syabah (penyerupaan) dengan iradhiallahu ‘anhuin Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan dari hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa dari ‘uluw, anak yang lahir bisa laki-laki (dzukurah) atau bisa perempuan (unutsah). Sehingga bila dua hadits ini digabung kita dapat mengambil pemahaman bahwa dari ‘uluw terjadi syabah, dzukurah dan unutsah. Maknanya bila mani laki-laki lebih dominan dari mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dan serupa dengan keluarga ayahnya. Sebaliknya bila mani wanita yang dominan, anak yang lahir perempuan dan serupa dengan keluarga ibunya.

Namun bila melihat kenyataan yang ada, ada anak laki-laki namun serupa dengan keluarga ibunya. Dan terkadang ada anak perempuan namun ia serupa dengan keluarga ayahnya. Karena ada kenyataan demikian, sebagian ulama melakukan takwil. Di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, beliau mentakwil ‘uluw pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan makna sabaq (mendahului)[14] sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu sebagaimana dzahirnya (Fathul Bari, 7/341-342).

Beliau berkata: “Jadilah sabaq sebagai tanda anak yang lahir laki-laki atau perempuan, sedangkan ‘uluw sebagai tanda syabah, sehingga hilanglah isykal (kerumitan yang ada dalam memahami dua hadits ini dan melihat kenyataan yang ada,-pent.)”. (Fathul Bari, 7/342)

Namun bila kita kembali pada dua hadits di atas, kita lihat dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha disebutkan dengan ‘uluw, yang ditakwil oleh Al-Hafizh dengan sabaq, terjadi syabah, sedangkan dalam hadits Tsauban disebutkan dengan ‘uluw, dengan makna yang sesuai dradhiallahu ‘anhuahirnya, terjadi tadradhiallahu ‘anhukir (anaknya laki-laki) atau ta`nits (anaknya perempuan). Berarti yang tepat berdasarkan takwil Al-Hafiradhiallahu ‘anhuh, sabaq yang disebutkan (sebagai takwil ‘uluw) dalam hadits Aisyah merupakan tanda syabah sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsauban adalah tanda tadradhiallahu ‘anhukir dan ta’nits. (Jami’ Ahkamin Nisa, 1/14)

Hal ini diperjelas lagi dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Sampai kabar kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah kepada ‘Abdullah bin Salam (seorang tokoh dan ‘alim dari Yahudi Bani Qainuqa’, -pent.), ia pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara, tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang Nabi. (Pertanyaan pertama,) apa awal tanda datangnya hari kiamat? (Kedua,) makanan apa yang pertama kali disantap penduduk surga? (Ketiga,) dari apa anak bisa serupa dengan ayahnya dan bisa serupa dengan keluarga ibunya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jibril ‘alaihissalam baru saja mengabarkan kepadaku tentang jawaban dari tiga pertanyaan tersebut.” ‘Abdullah berkata: “Itu adalah musuh Yahudi dari kalangan para malaikat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Adapun awal tanda hari kiamat adalah munculnya api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat. Sedangkan makanan pertama yang disantap penduduk surga adalah ujung/tepi hati ikan. Adapun syabah (penyerupaan) pada anak, bila seorang lelaki menggauli seorang wanita lalu air mani si lelaki mendahului (sabaq) mani si wanita maka anak yang akan lahir serupa (terjadi syabah) dengan ayahnya. Sebaliknya bila mani si wanita yang mendahului (sabaq) maka anak yang akan lahir serupa dengan ibunya”.[15]

Pada akhirnya Abdullah bin Salam masuk Islam, radhiallahu ‘anhu, dengan menanggung cercaan dari Yahudi Bani Qainuqa’, kaumnya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, wal’ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

 

 

 

 

 

[1] Maknanya: Aku tidak mau menahan diri dari bertanya tentang perkara yang memang aku butuhkan. Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha mengucapkan hal ini dalam rangka meminta udzur sebelum bertanya tentang persoalan yang ia butuhkan, di mana dalam perkara tersebut biasanya wanita malu untuk menanyakan dan menyebutkannya di hadapan lelaki. Menahan diri dari bertanya tentang perkara yang dibutuhkan bukanlah suatu kebaikan, bahkan kejelekan. Maka bagaimana hal itu dianggap sebagai malu, sementara malu adalah kebaikan seluruhnya dan malu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 2/215)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah memuji wanita Anshar dengan mengatakan:

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk tafaqquh (mempelajari dan memahami) dalam agama.” (Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, kitab Al-’lmi bab Al-Haya` fil ‘Ilm, 1/301)

 

[2] Dalam riwayat Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, apabila dalam mimpinya seorang wanita melihat suaminya menggaulinya, apakah ia harus mandi?”

 

[3] HR. Al-Bukhari no. 282, kitab Al-Ghusl, bab Idradhiallahu ‘anhua Ihtalamatil Mar`ah dan Muslim no. 313 kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusl alal Mar‘ah bi Khurujil Mani minha

 

[4] HR. At-Tirmidradhiallahu ‘anhui no. 113, kitab Ath-Thaharah, bab Fiman Yastaiqiradhiallahu ‘anhuh fa Yara Balalan wala Yadradhiallahu ‘anhukuru Ihtilaman. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidradhiallahu ‘anhui.

 

[5] HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar`’ati bikhurujil Mani minha.

 

[6] Yaitu terasa nikmat dengan keluarnya, diikuti dengan melemahnya syahwat dan aromanya seperti aroma mani laki-laki.

 

[7] HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar`ati bikhurujil Mani minha

 

[8] HR. Al-Bukhari no. 130, kitab Al-’Ilmu, bab Al-Haya‘‘alaihissalam fil ‘Ilmi dan pada beberapa tempat lainnya dalam kitab Shahih-nya. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim no. 710, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar‘ati bikhurujil Mani minha

 

[9] Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, makna kalimat ini banyak diperselisihkan dan terbesar di kalangan salaf dan khalaf dari segala kelompok. Pendapat yang paling tepat dan paling kuat yang dipegangi para muhaqqiq tentang maknanya adalah kalimat ini asal maknanya: Engkau menjadi fakir. Orang Arab terbiasa menggunakannya namun tidak memaksudkan hakikat maknanya yang asli. Mereka menyatakan Taribat Yadaak, Qatalahullahu alangkah beraninya orang itu, Laa Umma Lahu, Laa Aba Laka, Tsakilathu Ummuh, Wailu Ummuhu dan lafadradhiallahu ‘anhu-lafadradhiallahu ‘anhu sejenis, mereka ucapkan ketika mengingkari sesuatu, mencerca, mencaci, membesarkan, menekankannya, atau untuk menyatakan keheranan/kekaguman. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 2/212)

 

[10] Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam balas mengatakan kepada ‘Aisyah: “Bahkan engkau, taribat yaminuk….” (HR. Muslim no. 707)

 

[11] HR. Muslim no. 713

 

[12] Bagian hati yang paling bagus, kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah (Al-Minhaj, 3/217). Al-Hafiradhiallahu ‘anhuh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah: “Ziyadah adalah potongan tersendiri/ terpisah yang tergantung pada hati, dan sangat leradhiallahu ‘anhuat rasanya.” (Fathul Bari, 7/341)

 

[13] HR. Muslim no. 714

 

[14] Karena setiap yang sabaq berarti perkaranya tinggi, sehingga ‘uluw di sini adalah ‘uluw maknawi. (Fathul Bari, 7/341)

 

[15] HR. Al-Bukhari no. 3329, kitab Ahaditsul Anbiya’, bab Khalqi Adam wa Dzurriyatihi

Memukul Anak

Anak tak selamanya harus disikapi lembut. Terkadang kita perlu menghukumnya karena kenakalan atau kesalahan mereka. Tentunya semua itu dalam bingkai pendidikan. Sehingga tidak bertindak berlebihan yang justru mempengaruhi kejiwaan si anak.

 

Anak, bagaimanapun juga tak terlepas dari berbagai macam tingkah dan polahnya. Beragam perilaku dapat kita saksikan pada diri mereka. Masing-masing anak dalam satu keluarga pun seringkali berbeda perangainya. Terkadang di antara mereka ada yang nampak amat patuh dan sangat mudah diatur. Sedangkan yang lain, demikian bandel atau sering melakukan berbagai pelanggaran.

Yang demikian ini tentu tak boleh dibiarkan. Mau tak mau, orang tua harus mengetahui seluk-beluk mengarahkan anak. Haruskah segala keadaan dihadapi dengan kelemahlembutan dan penuh toleransi? Atau sebaliknya, selalu diatasi dengan hardikan dan wajah yang garang?

Selayaknya orang tua mengetahui sisi-sisi yang perlu dipertimbangkan ketika hendak menghukum anak, karena setiap keadaan menuntut sikap yang berbeda. Orang tua perlu meninjau, apakah permasalahan yang terjadi merupakan sesuatu yang betul-betul tercela atau tidak? Apakah si anak yang melakukannya mengetahui akan kejelekan dan bahaya hal tersebut, ataukah dia dalam keadaan tidak mengerti tentang hal itu maupun hukumnya?

Pada dasarnya, orang tua perlu menyertakan kelemahlembutan dalam mengarahkan anak-anaknya. Demikianlah contoh yang dapat ditemukan dari sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengarahkan dan membimbing umat beliau. Bahkan demikianlah sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Kitabullah:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ

Maka karena rahmat Allah-lah engkau bersikap lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kaku dan keras hati, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (ali ‘Imran: 159)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan: “Ini adalah akhlak Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah subhanahu wa ta’ala utus dengan membawa akhlak ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/106)

Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan perkara terpenting bagi seseorang untuk meneladani akhlak beliau yang mulia ini? Serta bergaul dengan manusia sebagaimana beliau bergaul, dengan sikap lembut, akhlak yang baik dan melunakkan hati mereka, dalam rangka menunaikan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan memikat hati hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala  untuk mengikuti agama-Nya? (Taisirul Karimir Rahman, hal. 154)

Begitu banyak anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersikap lemah lembut. Di antaranya disampaikan oleh istri beliau, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ketika beliau bersabda:

“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Allah memberikan pada kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan dan apa yang tidak Dia berikan pada yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2593)

Maknanya, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pahala atas kelembutan yang tidak Dia berikan pada yang lainnya. Al-Qadhi mengatakan bahwa maknanya, dengan kelembutan itu akan dapat meraih berbagai tujuan dan mudah mencapai apa yang diharapkan, yang tidak dapat diraih dengan selainnya. (Syarh Shahih Muslim, 16/144)

Demikian pula ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepadanya:

“Hendaklah engkau bersikap lembut. Karena tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti memperindahnya. Dan tidaklah kelembutan itu tercabut dari sesuatu, kecuali pasti memperjeleknya.” (HR. Muslim no. 2594)

Maksudnya, hendaklah engkau bersikap lembut dengan berlemah lembut kepada siapa pun yang ada di sekitarmu, sederhana dalam segala sesuatu dan menghukum dengan bentuk yang paling ringan dan paling baik. (Faidhul Qadir, 4/334)

Dalam riwayat dari Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang terhalang dari kelembutan, dia akan terhalang dari kebaikan.” (HR. Muslim no. 2592)

Oleh karena itu, apabila orang tua ingin memperbaiki keadaan anaknya, hendaknya menggunakan kata-kata yang lembut dan berbagai bentuk anjuran. Apabila tidak memungkinkan menggunakan kata-kata yang baik, maka dapat digunakan ucapan yang mengandung hardikan, juga ancaman sesuai dengan kesalahan dan perbuatan dosa yang dilakukan. Apabila hal itu tidak dapat dilakukan dan tidak memberi manfaat, maka saat itulah dibutuhkan pukulan.

Namun bagaimanapun, keadaan setiap anak berbeda. Demikian pula tabiat mereka. Di antara mereka ada yang cukup dengan pandangan mata untuk mendidik dan memarahinya, dan hal itu sudah memberikan pengaruh yang cukup mendalam serta membuatnya berhenti dari kesalahan yang dilakukannya. Ada anak yang bisa mengerti dan memahami maksud orang tua ketika orang tua memalingkan wajahnya sehingga dia berhenti dari kesalahannya. Ada yang cukup diberi pengarahan dengan kata-kata yang baik. Ada pula anak yang tidak dapat diperbaiki kecuali dengan pukulan. Tidak ada yang memberi manfaat padanya kecuali sikap yang keras. Saat itulah dibutuhkan pukulan dan sikap keras sekedar untuk memperbaiki keadaan si anak dengan tidak melampaui batas. Ibarat seorang dokter yang memberikan suntikan kepada seorang pasien. Suntikan itu memang akan terasa sakit bagi si pasien, namun itu hanya diberikan sesuai kadar penyakitnya. Sehingga boleh seseorang bersikap keras terhadap anak-anaknya manakala melihat mereka lalai atau mendapati kesalahan pada diri mereka. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 170-171)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang tua untuk memukul anaknya apabila mereka enggan menunaikan shalat ketika telah berusia 10 tahun. Demikian yang disampaikan Abdul Malik bin Ar-Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perintahkanlah anak untuk shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud no. 494, dan dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan shahih)

Banyak contoh yang dapat dilihat dari para pendahulu kita yang shalih. Di antaranya dikisahkan oleh Nafi’ rahimahullah, maula (bekas budak) Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma:

“Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu apabila mendapati salah seorang anggota keluarganya bermain dadu, beliau memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1273. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata dalam Shahih Al-Adabul Mufrad: shahihul isnad mauquf)

Begitu pula Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, sebagaimana penuturan Syumaisah Al-’Atakiyyah:

“Pernah disebutkan tentang pendidikan bagi anak yatim di sisi ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, maka beliau pun berkata, ‘Sungguh, aku pernah memukul anak yatim yang ada dalam asuhanku hingga dia telungkup menangis di tanah.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 142, dan dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabul Mufrad: shahihul isnad)

Akan tetapi, ada yang perlu diperhatikan dalam hal ini. Orang tua tidak diperkenankan memukul wajah. Hal ini secara umum dilarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Apabila salah seorang di antara kalian memukul, hendaknya menghindari wajah.” (HR. Al-Bukhari no. 2559 dan Muslim no. 2612)

Para ulama mengatakan bahwa ini adalah larangan memukul wajah secara tegas. Karena wajah merupakan sesuatu yang lembut yang terkumpul padanya seluruh keindahan. Anggota-anggota tubuh yang ada di wajah demikian berharga, dan sebagian besar penginderaan seseorang diperoleh dengan anggota tubuh tersebut. Sehingga terkadang pukulan di wajah bisa menghilangkan atau mengurangi fungsi anggota tubuh itu, terkadang pula menjadikan wajah cacat. Sementara cacat di wajah itu sendiri demikian buruk karena nampak jelas dan tidak mungkin ditutupi. Dan pada umumnya pukulan di wajah itu tidak lepas dari kemungkinan timbulnya cacat. Termasuk pula dalam larangan ini seseorang yang memukul istri, anak, ataupun budaknya dalam rangka mendidik, hendaknya dia hindari wajah. (Syarh Shahih Muslim, 16/164)

Hal lain yang perlu diperhatikan pula, pukulan pada si anak adalah semata-mata dalam rangka mendidik. Yang dimaksud dengan pukulan yang mendidik adalah pukulan yang tidak membahayakan. Sehingga tidak diperkenankan seorang ayah memukul anaknya dengan pukulan yang melukai, tidak boleh pula pukulan yang bertubi-tubi tanpa ada keperluan. Namun bila dibutuhkan, misalnya sang anak tidak mau menunaikan shalat kecuali dengan pukulan, maka sang ayah boleh memukulnya dengan pukulan yang membuat jera, namun tidak melukai. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang tua untuk memukul bukan untuk menyakiti si anak, melainkan untuk mendidik dan meluruskan mereka. (Syarh Riyadhish Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 2/123-124)

Semua ini perlulah kiranya untuk diketahui oleh orang tua yang hendak mengarahkan anak-anak mereka, mengingat tanggung jawab yang dibebankan ke pundak mereka, manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab dan akan ditanyai tentang tanggung jawabnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanya tentang mereka. Seorang laki-laki adalah penanggung jawab atas keluarganya dan kelak dia akan ditanya tentang mereka. Seorang istri adalah penanggung jawab rumah tangga dan anak-anak suaminya, dan kelak akan ditanya. Seorang hamba sahaya adalah penanggung jawab harta tuannya dan kelak dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanyai tentang tanggung jawabnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5188 dan Muslim no. 1829)

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

 

Mawaddah, Mahabbah wa Rahmah Dalam Kehidupan Sepasang Insan

Perasaan cinta kepada pasangan hidup kita terkadang mengalami gejolak sebagaimana pasang surut yang dialami sebuah kehidupan rumah tangga. Tinggal bagaimana kita menjaga tumbuhan cinta itu agar tidak layu terlebih mati.

 

Satu dari sekian tanda kebesaran-Nya yang agung, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan anak Adam ‘alaihissalam memiliki pasangan hidup dari jenis mereka sendiri, sebagaimana kenikmatan yang dianugerahkan kepada bapak mereka Adam ‘alaihissalam. Di saat awal-awal menghuni surga,  bersamaan dengan limpahan kenikmatan hidup yang diberikan kepadanya, Adam ‘alaihissalam hidup sendiri tanpa teman dari jenisnya. Allah subhanahu wa ta’ala pun melengkapi kebahagiaan Adam dengan menciptakan Hawa sebagai teman hidupnya, yang akan menyertai hari-harinya di surga nan indah.

Hingga akhirnya dengan ketetapan takdir yang penuh hikmah, keduanya diturunkan ke bumi untuk memakmurkan negeri yang kosong dari jenis manusia (karena merekalah manusia pertama yang menghuni bumi). Keduanya sempat berpisah selama beberapa lama karena diturunkan pada tempat yang berbeda di bumi (Al-Bidayah wan Nihayah,1/81). Mereka didera derita dan sepi sampai Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan mereka kembali.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala menutup “sepi” hidup-nya seorang lelaki keturunan Adam dengan memberi istri-istri sebagai pasangan hidupnya. Dia Yang Maha Agung berfirman:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٢١

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ruum: 21)

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan seorang istri dari keturunan anak manusia, yang asalnya dari jenis laki-laki itu sendiri, agar para suami merasa tenang dan memiliki kecenderungan terhadap pasangan mereka. Karena, pasangan yang berasal dari satu jenis termasuk faktor yang menumbuhkan adanya keteraturan dan saling mengenal, sebagaimana perbedaan merupakan penyebab perpisahan dan saling menjauh. (Ruhul Ma’ani,11/265)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِيَسۡكُنَ إِلَيۡهَاۖ

“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia jadikan dari jiwa yang satu itu pasangannya agar ia merasa tenang kepadanya…” (al-A’raf: 189)

Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah : “Yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah Hawa. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakannya dari Adam, dari tulang rusuk kirinya yang paling pendek. Seandainya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan anak Adam semuanya lelaki sedangkan wanita diciptakan dari jenis lain, bisa dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak akan tercapai kesatuan hati di antara mereka dengan pasangannya. Bahkan sebaliknya, akan saling menjauh. Namun termasuk kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak Adam, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan istri-istri atau pasangan hidup mereka dari jenis mereka sendiri, dan Allah subhanahu wa ta’ala tumbuhkan mawaddah yaitu cinta dan rahmah yakni kasih sayang. Karena seorang lelaki atau suami, ia akan senantiasa menjaga istrinya agar tetap dalam ikatan pernikahan dengannya. Bisa karena ia mencintai istrinya tersebut, karena kasihan kepada istrinya yang telah melahirkan anak untuknya, atau karena si istri membutuhkannya dari sisi kebutuhan belanja (biaya hidupnya), atau karena kedekatan di antara keduanya, dan sebagainya.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1052)

Mawaddah dan rahmah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik mereka. Di samping itu, ia merasakan ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak didapatkan mawaddah dan rahmah di antara  sesama manusia sebagaimana mawaddah dan rahmah yang ada di antara suami istri. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 639)

Allah subhanahu wa ta’ala tumbuhkan mawaddah dan rahmah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya kasih sayang, baik berupa hubungan kekerabatan ataupun hubungan rahim. Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, dan ‘Ikrimah rahimuhumullah berkata: “Mawaddah adalah ibarat/kiasan dari nikah (jima‘) sedangkan rahmah adalah ibarat/kiasan dari anak.” Adapula yang berpendapat, mawaddah adalah cinta seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya agar istrinya tidak ditimpa kejelekan. (Ruhul Ma’ani 11/265, Fathul Qadir 4/263)

Cinta Suami Istri adalah Anugerah Ilahi

Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada keduanya, dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun tentunya selama tidak melalaikan dari berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Munafiqun:9)

رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah… “ (an-Nur: 37) (Ad-Da`’alaihissalam wad Dawa`, Ibnul Qayyim, hal. 293, 363)

Juga, cinta yang merupakan tabiat manusia ini tidaklah tercela selama tidak menyibukkan hati seseorang dari kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Dzat yang sepantasnya mendapat kecintaan tertinggi. Karena Dia Yang Maha Agung mengancam dalam firman-Nya :

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٤

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 24)

Kecintaan kepada Istri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia dan sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya. Beliau nyatakan dalam sabdanya:

Dicintakan kepadaku dari dunia kalian[1], para wanita (istri) dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”[2]

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh shahabatnya yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu:

“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “Aisyah.”

Aku (‘Amr ibnul Ash) berkata: “Dari kalangan lelaki?”

“Ayahnya (Abu Bakar),” jawab beliau.[3]

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata membela dan memuji Khadijah bintu Khuwailid  radhiallahu ‘anha  ketika ‘Aisyah  radhiallahu ‘anha cemburu kepadanya:

“Sesungguhnya aku diberi rizki yaitu mencintainya.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah ingin menjadi perantara dan penolong seorang suami yang sangat mencintai istrinya untuk tetap mempertahankan istri yang dicintainya dalam ikatan pernikahan dengannya. Namun si wanita enggan dan tetap memilih untuk berpisah, sebagaimana kisah Mughits dan Barirah. Barirah[5] adalah seorang sahaya milik salah seorang dari Bani Hilal. Sedangkan suaminya Mughits adalah seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah. Barirah pada akhirnya merdeka, sementara suaminya masih berstatus budak. Ia pun memilih berpisah dengan suaminya diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits berjalan di belakang Barirah sembari berlinangan air mata hingga membasahi jenggotnya, memohon kerelaan Barirah untuk tetap hidup bersamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas radhiallahu ‘anhu:

“Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dengan rasa cinta Mughits pada Barirah dan rasa benci Barirah terhadap Mughits?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah: “Seandainya engkau kembali kepada Mughits.” Barirah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?”

“Tidak,” kata Rasulullah, “Akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”

“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Barirah.[6]

 

Tiga Macam Cinta Menurut Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah

Perlu diketahui oleh sepasang suami istri, menurut Al-Imam Al-’Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar yang lebih dikenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah  rahimahullah ada tiga macam cinta dari seorang insan kepada insan lainnya:

Pertama: Cinta asmara yang merupakan amal ketaatan. Yaitu cinta seorang suami kepada istri atau budak wanita yang dimilikinya. Ini adalah cinta yang bermanfaat. Karena akan mengantarkan kepada tujuan yang disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam pernikahan, akan menahan pandangan dari yang haram dan mencegah jiwa/hati dari melihat kepada selain istrinya. Karena itulah, cinta seperti ini dipuji di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan di sisi manusia.

Kedua: Cinta asmara yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala dan akan menjauhkan dari rahmat-Nya. Bahkan cinta ini paling berbahaya bagi agama dan dunia seorang hamba. Yaitu cinta kepada sesama jenis, seorang lelaki mencintai lelaki lain (homo) atau seorang wanita mencintai sesama wanita (lesbian). Tidak ada yang ditimpa bala dengan penyakit ini kecuali orang yang dijatuhkan dari pandangan Allah subhanahu wa ta’ala, hingga ia terusir dari pintu-Nya dan jauh hatinya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Penyakit ini merupakan penghalang terbesar yang memutuskan seorang hamba dari Allah subhanahu wa ta’ala. Cinta yang merupakan musibah ini merupakan tabiat kaum Luth ‘alaihissalam hingga mereka lebih cenderung kepada sesama jenis daripada pasangan hidup yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan:

لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ٧٢

“Demi umurmu (ya Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan.” (al-Hijr: 72)

Obat dari penyakit ini adalah minta tolong kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, berlindung kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, menyibukkan diri dengan berdzikir/mengingat-Nya, mengganti rasa itu dengan cinta kepada-Nya dan mendekati-Nya, memikirkan pedihnya akibat yang diterima karena cinta petaka itu dan hilangnya kelezatan karena cinta itu. Bila seseorang membiarkan jiwanya tenggelam dalam cinta ini, maka silahkan ia bertakbir seperti takbir dalam shalat jenazah[7]. Dan hendaklah ia mengetahui bahwa musibah dan petaka telah menyelimuti dan menyelubunginya.

Ketiga: Cinta yang mubah yang datang tanpa dapat dikuasai. Seperti ketika seorang lelaki diceritakan tentang sosok wanita yang jelita lalu tumbuh rasa suka di hatinya. Atau ia melihat wanita cantik secara tidak sengaja hingga hatinya terpikat. Namun rasa suka/ cinta itu tidak mengantarnya untuk berbuat maksiat. Datangnya begitu saja tanpa disengaja, sehingga ia tidak diberi hukuman karena perasaannya itu. Tindakan yang paling bermanfaat untuk dilakukan adalah menolak perasaan itu dan menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermanfaat. Ia wajib menyembunyikan perasaan tersebut, menjaga kehormatan dirinya (menjaga ‘iffah) dan bersabar. Bila ia berbuat demikian, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya pahala dan menggantinya dengan perkara yang lebih baik karena ia bersabar karena Allah subhanahu wa ta’ala dan menjaga ‘iffah-nya. Juga karena ia meninggalkan untuk menaati hawa nafsunya dengan lebih mengutamakan keridlaan Allah subhanahu wa ta’ala dan ganjaran yang ada di sisi-Nya. (Ad-Da`’alaihissalam wad Dawa`, hal. 370-371)

Bila cinta kepada pasangan hidup, kepada suami atau kepada istri, merupakan perkara kebaikan, maka apa kiranya yang mencegah seorang suami atau seorang istri untuk mencintai, atau paling tidak belajar mencintai teman hidupnya?

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

[1] Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi dan shalat) dinyatakan termasuk dari dunia. Maknanya adalah: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan bahwa dicintakan kepadaku di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita dan minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi, sedangkan yang ketiga (shalat) termasuk perkara diniyyah (agama). (Catatan kaki Misykatul Mashabih 4/1957, yang diringkas dari Al-Lam’aat, Abdul Haq Ad-Dahlawi)

[2] HR. Ahmad 3/128, 199, 285, An-Nasa`i no. 3939 kitab ‘Isyratun Nisa’ bab Hubbun Nisa`. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain (1/82)

[3] HR. Al-Bukhari no. 3662, kitab Fadha`il Ashabun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan” dan Muslim no. 6127 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Min Fadha`il Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

[4] HR. Muslim no. 6228 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Fadha`il Khadijah Ummul Mu`minin  radhiallahu ‘anha

[5] Disebutkan bahwa Barirah memiliki paras yang cantik, tidak berkulit hitam. Beda halnya dengan Mughits, suaminya. Barirah menikah dengan Mughits dalam keadaan ia tidak menyukai suaminya. Dan ini tampak ketika Barirah telah merdeka, ia memilih berpisah dengan suaminya yang masih berstatus budak. Dimungkinkan ketika masih terikat dalam pernikahan dengan suaminya, Barirah memilih bersabar di atas hukum Allah subhanahu wa ta’ala walaupun ia tidak menyukai suaminya. Dan ia tetap tidak menampakkan pergaulan yang buruk kepada suaminya sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kelapangan dan jalan keluar baginya. (Fathul Bari, 9/514)

[6] Lihat hadits dalam Shahih Al-Bukhari no. 5280-5282, kitab Ath-Thalaq, bab Khiyarul Amati Tahtal ‘Abd dan no. 5283, bab Syafa’atun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam fi Zauji Barirah.

[7] Artinya dia telah mati

 

Kenalilah Dirimu Pastikan Tujuan Hidupmu

Selera dan gaya hidup seringkali tak berbanding lurus dengan penghasilan yang diperoleh. Banyak orang yang kemudian mengorbankan banyak hal demi berburu kesenangan sesaat.

 

Banyak orang beranggapan, hidup memang untuk dinikmati. Tak heran jika kemudian mereka berprinsip “yang penting senang” dan bagaimana menciptakan kehidupan yang “serba ada”. Tak peduli bagaimana caranya. Harga diri pun siap digadaikan demi memenuhi selera dan tuntutan gaya hidup yang dianutnya. Sehingga karena ingin hidup senang, akhirnya terlena untuk menimbang akibat buruk yang bakal timbul di kemudian hari. Melupakan urusan diri sendiri padahal diri ini dituntut memiliki kesiapan bila pada saatnya harus kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Walhasil, banyak yang dinina-bobokkan dengan ‘kesenangan’ sehingga seolah tidak ada hari perhitungan, hisab dan pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Pelanggaran syariat terjadi di mana-mana. Zina, homoseks, mabuk-mabukan, pesta narkoba, judi, dan tindak kriminal lainnya, dilakukan demi apa yang disebut kesenangan. Bahkan tidak kalah besar adalah kesyirikan dan kebid’ahan yang dilakukan untuk mencari sebentuk kesenangan. Andai saja mereka mau belajar sejarah masa lampau dari para pendahulu yang telah dibinasakan Allah subhanahu wa ta’ala tanpa sisa karena kejahatan mereka!

Jelasnya, mereka ingin mengejar kesenangan hidup yang bersifat sementara dan melupakan kesenangan yang abadi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Yang pada akhirnya tidak mendapatkan kedua-duanya, kesenangan dunia ataupun kesenangan akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوۡمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيۡهِمۡۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلۡعُصۡبَةِ أُوْلِي ٱلۡقُوَّةِ إِذۡ قَالَ لَهُۥ قَوۡمُهُۥ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ ٧٦ وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧ قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِيٓۚ أَوَ لَمۡ يَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَهۡلَكَ مِن قَبۡلِهِۦ مِنَ ٱلۡقُرُونِ مَنۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُ قُوَّةٗ وَأَكۡثَرُ جَمۡعٗاۚ وَلَا يُسۡ‍َٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٧٨ فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِي زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٧٩ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَيۡلَكُمۡ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لِّمَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗاۚ وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ ٨٠ فَخَسَفۡنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلۡأَرۡضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٖ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُنتَصِرِينَ ٨١ وَأَصۡبَحَ ٱلَّذِينَ تَمَنَّوۡاْ مَكَانَهُۥ بِٱلۡأَمۡسِ يَقُولُونَ وَيۡكَأَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُۖ لَوۡلَآ أَن مَّنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا لَخَسَفَ بِنَاۖ وَيۡكَأَنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨٢ تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

“Sesungguhnya Qarun termasuk dari kaum Musa, namun ia berlaku aniaya terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh sangat berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Ingatlah ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu membanggakan diri. Dan carilah kepada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Jangan kamu melupakan bagian (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’ Qarun berkata: ‘Sesung-guhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripada dia dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya, orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia pun berkata: ‘Sekiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’ Orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu. Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman lagi beramal shalih, dan tidaklah diperoleh pahala itu melainkan bagi orang-orang yang bersabar.” Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada satu golonganpun yang menolongnya dari adzab Allah. Dan tidaklah ia termasuk dari orang yang membela dirinya. Jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: ‘Aduhai benarlah Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai benarlah tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).’ Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashas: 76-83)

Siapakah yang akan selamat? Merekalah orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang menahan dirinya untuk terus di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menahan diri dari bermaksiat kepada-Nya serta siap menerima segala ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala. Juga orang-orang yang bersabar dari rayuan dunia dan syahwatnya untuk tersibukkan dari beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menghalangi mereka dari tujuan mereka diciptakan. Merekalah orang-orang yang mengutamakan ganjaran di sisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada dunia yang fana. (Lihat Tafsir As-Sa’di hal. 574)

Sungguh malang nasibmu wahai saudaraku, jika kamu lupa dan melalaikan akibat perbuatanmu. Hendaknya engkau segera mencari jalan keluar dari perbuatanmu. Simaklah firman Allah subhanahu wa ta’ala dan camkan baik-baik:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Padanya (ada) malaikat yang keras dan kasar dan mereka tidak bermaksiat kepada Allah terhadap segala yang diperintahkan dan mereka melakukan segala apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣

“Dan aku tidak bisa melepaskan diriku. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ

“Apa yang menimpamu berupa kebaikan maka datangnya dari Allah dan apa yang menimpamu berupa kejahatan datangnya dari dirimu sendiri.” (an-Nisaa: 79)

ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهُۥۚ

“Dan barangsiapa melakukannya maka sungguh dia telah mendzalimi dirinya sendiri.”(al-Baqarah: 231)

قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ١٠٤

“Sungguh telah datang kepada kalian hujjah dari Rabb kalian. Maka barangsiapa melihatnya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa buta darinya atasnya dan aku bukan sebagai penolong atas kalian.” (al-An’am: 104)

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُمُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهۡتَدِي لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۖ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِوَكِيلٖ ١٠٨

“Katakan wahai sekalian manusia, telah datang kepada kalian kebenaran dari Rabb kalian. Maka barangsiapa mendapatkan petunjuk untuk dirinya dan barangsiapa yang sesat, maka dia tersesat atas dirinya sendiri dan Aku bukanlah pembela atas kalian.” (Yunus: 108)

Semua ayat di atas mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperhatikan urusan diri kita sendiri, di mana jika berhasil maka keberhasilan untuk diri kita sendiri dan jika merugi itu merupakan hasil usaha kita, tidak boleh kita mengkambinghitamkan orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa menemukan (ganjaran) kebaikan maka hendaklah dia memuji Allah dan barangsiapa mendapatkan selainnya janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.”[1]

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah di dalam Tafsirnya menjelaskan: “Berkata Atha’ dari Ibnu Abbas: ‘Tinggalkanlah segala perkara yang dilarang Allah dan lakukan segala amal ketaatan’.” Al-Qurthubi menjelaskan: “Allah memerintahkan untuk menjaga dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

At-Thabari di dalam Tafsirnya menjelaskan: “Ajarkanlah orang lain ilmu yang akan bisa menjaga kalian dari api neraka dan ilmu itu akan menjaga mereka dari neraka bila mereka mengamalkannya dalam bentuk mentaati Allah dan melakukan (segala bentuk) ketaatan (yang lain) kepada Allah.”

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan: “Menjaga diri artinya konsisten di atas perintah Allah dan larangannya dengan cara menjauhinya dan bertaubat dari segala yang akan mendatangkan kemurkaan dari Allah dan adzab-Nya.” Beliau juga mengatakan: “Apa yang menimpamu berupa kejelekan karena dirimu artinya karena dosa-dosa dan usahamu.”

Ketahuilah bahwa jiwa selalu berada dalam salah satu dari dua keadaan.

Pertama: Sibuk dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua: Tersibukkan oleh nafsunya (dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

Karena bila jiwa itu tidak disibukkan, dia akan menyibukkan. Dan jika didapati ada yang akan meluruskannya niscaya akan menjadi lurus. (Nasihati Lin Nisa` hal. 19 karya Ummu Abdillah, putri Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i)

 

Bimbinglah Dirimu dan Berjuanglah!

Ibnul Qayyim di dalam Zadul Ma’ad (1/9) mengatakan: “Jihad memiliki empat tingkatan; yaitu jihad melawan diri sendiri, jihad melawan setan, jihad melawan orang-orang kafir, dan jihad melawan kaum munafiqin. Jihad melawan diri sendiri ada empat tingkatan:

Pertama: Berjihad agar diri ini mau mempelajari petunjuk dan kebenaran, di mana tidak ada kemenangan dan kebahagiaan di dalam kehidupan dunia dan akhirat kecuali dengannya. Dan jika dia tidak memiliki ilmu, akan celaka dunia dan akhirat.

Kedua: Berjihad agar mau mengamalkan ilmunya setelah dia berilmu. Sebab bila ilmu tidak dibarengi dengan amal, jika tidak memudharatkan maka tidak akan bermanfaat.

Ketiga: Berjihad untuk mendakwahkan ilmunya dan mengajarkan orang yang tidak mengetahui. Jika dia tidak mengajarkannya niscaya dia termasuk orang-orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang telah diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala. Juga, ilmunya tidak akan bermanfaat dan tidak akan menyelamatkan dia dari adzab Allah subhanahu wa ta’ala.

Keempat: Berjihad agar bersabar terhadap segala beban berat dalam dakwah dan dari segala gangguan manusia, serta menanggung semuanya itu karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika keempat hal ini secara sempurna ada pada diri seseorang, niscaya dia termasuk Rabbaniyyun. Karena, ulama salaf sepakat bahwa seorang yang alim tidak pantas disebut Rabbani hingga dia mengetahui kebenaran, mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui. Barangsiapa belajar dan mengajarkannya lalu dia mengamalkannya, itulah orang yang memiliki kedudukan di hadapan seluruh makhluk.”

Dalam kesempatan lain, Ibnul Qayyim (1/6) menjelaskan: “Tatkala jihad melawan musuh dari luar merupakan bagian dari (berjihad melawan) musuh dari dalam diri kita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Seorang mujahid adalah orang yang menjihadi dirinya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala”, (berdasarkan hal ini) maka berjihad melawan diri sendiri lebih didahulukan dari melawan musuh dari luar diri kita, dan berjihad melawan diri sendiri merupakan muara dan landasan perjuangan. Karena barangsiapa tidak berhasil melawan diri sendiri dalam babak pertama agar dia melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang serta tidak memeranginya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak mungkin melawan musuh yang datang dari luar. Bagaimana dia akan mampu melawan musuh dari luar dan melepaskan diri darinya, sementara musuh yang ada di antara dua lambungnya mengalahkan dan menguasai dirinya, serta tidak dia lawan dan perangi di jalan Allah subhanahu wa ta’ala?”

 

Kiat Menuju Kemenangan Diri

  1. Bersemangat mencari ilmu

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ

“Maka berilmulah tentang bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan mintalah ampun (kepada-Nya) dari dosamu.” (Muhammad: 19)

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١٨

Allah telah mempersaksikan tentang kalimat La ilaha illallah dan berikut para Malaikat (ikut mempersaksikan) dan orang-orang yang berilmu, (bersaksi) dengan penuh keadilan dan tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Mulia dan Bijaksana.” (al imran: 18)

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allah inginkan untuk mendapatkan kebaikan, Allah faqihkan di dalam Agama.”[2]

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.”[3]

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim.”3

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Dan barangsiapa mengambil warisan tersebut berarti dia telah mengambil bagiannya yang terbanyak.”

 

[4] Memanfaatkan waktu luang dan kesehatan yang diberikan Allah
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢  وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣

“Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ di dalam shalat mereka. Dan orang yang berpaling dari segala yang melalaikan.” (al-Mu`minun: 1-3)

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

“Dan bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya (seluas) langit dan bumi yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.” (ali ‘Imran: 133)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Termasuk kebagusan agama seseorang yaitu dia meninggalkan segala yang tidak bermanfaat.”[5]

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua nikmat yang kebanyakan orang melalaikannya: Nikmat sehat dan waktu luang.”[6]

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah, akan tetapi setiap (dari mukmin yang kuat dan lemah) memiliki kebaikan, bersemangatlah untuk melakukan segala yang bermanfaat buatmu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bermalas-malasan.”[7]

 

Dari Abi Bazrah Al-Aslami radhiallahu ‘anhu ia berkata: dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan tergelincir kedua kaki pada hari kiamat sehingga ditanya: “Tentang umurnya di mana dia habiskan, tentang ilmunya apa yang diperbuat, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia pergunakan dan tentang jasadnya di mana dia hancurkan.”[8]

 

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata: “Rasulullah memegang pundakku lalu berkata: ‘Jadilah kamu di dunia seakan-akan orang asing atau penelusur jalan.” Ibnu Umar berkata: ‘Bila kamu berada di sore hari maka jangan kamu menunggu sampai datangnya pagi hari dan bila kamu berada di pagi hari jangan menunggu datangnya sore hari dan ambillah (kesempatan masa sehatmu) sebelum datang (masa) sakitmu dan hidupmu sebelum datang matimu.”[9]

  1. Berakhlak mulia

Dengarkan pengajaran Luqman kepada anaknya, dalam firman Allah (yang artinya):

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ١٢ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٥ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩

“Sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa bersyukur kepada Allah maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya. Dan barangsiapa tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Terpuji. Ingatlah ketia Luqman berkata kepada anaknya: “Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang paling besar.” Dan Kami telah perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya (di mana) ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan meyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu menaati keduanya dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu. Maka Aku akan beritahukan kepadamu apa yang kamu telah kerjakan. Luqman berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi berada dalam batu atau ada di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkan pembalasannya. Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan mencegah dari yang jelek. Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu sesungguhnya yang demikian itu adalah termasuk hal-hal yang diwajibkan atasmu. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu di dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (Luqman: 12-19)

 

Nasihat Indah Ibnul Qayyim

Barangsiapa tidak mengenal dirinya, mana mungkin dia mengenal penciptanya. Ketahuilah, Allah telah menciptakan di dadamu sebuah rumah. Itulah hati. Dan Allah telah meletakkan di dadamu singgasana untuk mengilmui Allah yang keagungan-Nya beristiwa` padanya dan Allah dengan dzatnya istiwa` di atas ‘Arsy-Nya, berbeda dengan makhluk-Nya. (Bagi Allah) perumpamaan yang tinggi dalam mengetahui-Nya, mencintai-Nya, dan mentauhidkan-Nya beristiwa’ di atas ranjang hati, dan ranjang permadani ridha. Allah letakkan di sebelah kanan dan kirinya para penjaga syariat-Nya dan peritah-perintah-Nya. Allah membukakan pintu menuju surga rahmat-Nya, tenteram bersama-Nya dan benar-benar berharap ingin berjumpa dengan-Nya.

Allah telah menurunkan hujan dengan siraman firman-firman-Nya yang dengannya tumbuh wewangian dan pepohonan yang berbuah segala bentuk ketaatan seperti bertahlil, bertasbih, bertahmid dan mensucikan Allah. Allah menjadikan di tengah-tengah kebun tersebut pohon ma’rifah (pengetahuan) yang memberikan buah sepanjang masa dengan seijin dari Rabbnya berupa cinta, bertaubat, takut bergembira dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Allah mengalirkan dari (celah-celah) pohon tersebut apa yang akan menyiraminya berupa penggalian firman-firman-Nya, memahaminya, dan mengamalkan segala wasiat-Nya. Dan Allah menggantungkan di dalam persinggahan tersebut, lentera yang meneranginya dengan cahaya pengetahuan dan dengan keimanan dan mentauhidkannya.

(Lentera) itu bersambung dari pohon yang berbarakah dan mengandung minyak yang tidak diketahui ujung timur dan baratnya, hampir-hampir minyaknya akan menerangi walaupun tidak disentuh api. Kemudian Allah melingkarinya dengan pagar yang akan mencegah segala hama perusak yang akan masuk. Barangsiapa mengganggu kebun, niscaya mereka tidak akan sanggup dan Allah meletakkan penjaga dari kalangan Malaikat yang akan menjaganya baik di waktu dia tertidur ataupun terjaga.

Kemudian Allah mengingatkan pemilik kebun dan rumah tersebut untuk dia tinggal padanya dan selalu membersihkan tempat tinggalnya serta segala apa yang akan mengotorinya agar penghuninya ridha (untuk menempatinya). Ketika dia merasa-kan ada sesuatu yang mengotorinya dia berusaha untuk membersihkannya karena khawatir jika yang menempatinya itu (tidak) mau tinggal padanya. Aduhai betapa nikmatnya orang yang tinggal padanya dan tempat tinggal tersebut.” (Al-Fawa`id hal. 190)

Beberapa faidah:

  1.  Kenalilah dirimu.
  2.  Menjaga segumpal daging, yang bila baik akan menentukan kebaikan anggota jasad dan bila rusak akan menetukan kerusakan seluruh jasad.
  3.  Bila kamu menjaga dan menerima segala yang datang dari Allah niscaya perlindungan dan pemeliharaan-Nya akan selalu menyertaimu. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

 

[1] HR. Al-Imam Muslim no. 4674 dari shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu

[2] HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 69, 2884, 6768 dan Muslim no. 1718, 1721 dari shahabat Mu’awiyah bin Abu Sufyan

[3] 3 HR. Al-Imam Muslim no. 4867 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

[4]  HR. Ibnu Majah no. 220 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu

[5] HR. Al-Imam At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi dari shahabat Abu Darda` radhiallahu ‘anhu

[6] HR. Al-Imam Bukhari no. 5933 dari shahabat Ibnu Abbas
[7] HR. Al-Imam Muslim no. 4816

[8] HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 2341 dan diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud dan Abu Sa’id Al-Khudri

[9] HR. Al-Imam Bukhari no. 5937

 

Mandi Janabah (3)

Masih ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita ketika mandi. Di antaranya:

Menjaga Aurat dari Pandangan Mata Orang Lain

Ya‘la rahimahullah bercerita:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki mandi di tempat terbuka. Maka beliau pun naik mimbar, lalu memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda:“Sesungguhnya Allah itu Maha Malu, Menutup (aib/cacat/cela dan keburukan). Dia menyukai sifat malu dan menutup, maka apabila salah seorang dari kalian mandi hendaklah ia menutupi dirinya.”1

Menutup aurat ketika mandi wajib dilakukan bila di tempat tersebut ada orang lain yang diharamkan melihat auratnya, atau dikhawatirkan auratnya akan terlihat oleh orang yang tidak halal untuk melihatnya2. Dan hukumnya bisa menjadi sunnah bila tidak ada kekhawatiran tersebut. (‘Aunul Ma‘bud, kitab Al-Hammam, bab An-Nahyu ‘anit Ta’ariy). Dan ketika seseorang mandi sendirian di mana tidak ada orang yang akan melihat auratnya, atau mandi di tempat tertutup seperti di kamar mandi, maka tidak wajib menutup auratnya. Bahkan diperbolehkan mandi tanpa busana,  sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut:

“Bani Israil biasa mandi bersama-sama dalam keadaan telanjang, sebagian mereka melihat aurat sebagian yang lain. Sementara Nabi Musa u, beliau mandi sendirian (dengan tanpa busana,–pent.).  Mereka berkata: ‘Demi Allah! Tidak ada yang mencegah Musa untuk mandi bersama-sama kita kecuali karena dia memiliki biji pelir yang besar (bengkak).’

Suatu kali Musa pergi mandi. Ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Ternyata batu itu lari membawa pakaian Musa. Musa pun berlari mengejar batu tersebut seraya berkata: ‘Wahai batu, pakaianku! Wahai batu, pakaianku!’  Hingga Bani Israil dapat melihat aurat Musa, mereka pun berkata: ‘Demi Allah! Ternyata Musa tidak memiliki cacat apa-apa (pada kemaluannya,–pent).’ Batu itu tegak hingga dapat dilihat, lalu Musa pun mengambil pakaiannya dan mulailah ia memukul batu tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 278 dan Muslim no. 768)

Hadits ini diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah: Bab Man Ightasala ‘Uryanan Wahdahu fil Khulwah wa Man Tasattar Fat Tasattur Afdhal (Seseorang yang mandi sendirian dalam keadaan telanjang tanpa kehadiran orang lain dan yang menutup diri, maka menutup diri itu lebih utama). Sedangkan Al-Imam An-Nawawi  rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim memberi judul: Bab Jawazul Ightisal ‘Uryanan fil Khulwah (bolehnya mandi dalam keadaan telanjang ketika sendirian/tidak ada orang lain).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Boleh membuka aurat ketika dibutuhkan dalam keadaan sendiri, tidak ada orang lain. Seperti ketika mandi, buang air kecil, berhubungan dengan istri, dan semisalnya. Semua keadaan ini dibolehkan membuka aurat ketika sendirian. Adapun bila di hadapan orang lain (selain suami/istri,–pent.) maka haram membuka aurat dalam seluruh keadaan tersebut.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 4/255)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mencontohkan menutup diri ketika mandi di hadapan orang lain, seperti ketika peristiwa Fathu Makkah. Ummu Hani bintu Abi Thalib radhiallahu ‘anha berkisah:

Aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu Makkah. Aku dapati beliau sedang mandi sementara Fathimah menutupi beliau. Beliau bertanya: “Siapa yang datang ini?”. “Saya Ummu Hani`,” jawabku.3

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah  membawakan hadits di atas dalam Shahih-nya dengan judul bab Menutup Diri ketika Mandi di Hadapan Manusia.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits di atas: “Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya seseorang mandi di hadapan seorang wanita yang merupakan mahramnya (sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dengan ditutupi Fathimah radhiallahu ‘anha putri beliau,–pent.), apabila antara dia dengan wanita tersebut ada penutup dari kain atau lainnya.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 4/252)

 

Suami Istri Boleh Mandi Janabah Bersama-sama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk menjaga aurat, kecuali di hadapan istri dan budak wanita yang dimiliki, sebagaimana dalam hadits:

“Jagalah auratmu kecuali dari istrimu dan budak wanita yang engkau miliki.”4

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada batasan aurat antara suami dengan istrinya. Demikian pula sebaliknya. Sehingga suami istri boleh mandi bersama, baik mandi biasa maupun mandi janabah, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini:

Aku dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Tangan kami bergantian menciduk air di dalam bejana tersebut.”5

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma juga mengabarkan dari bibinya, Maimunah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Bahwasanya ia pernah mandi bersama Nabi (dengan menggunakan air) dari satu bejana.”6

Ad-Dawudi berdalil dengan hadits yang semakna dengan hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas7 untuk menyatakan bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya dan sebaliknya.

Yang lebih memperkuat pendapat Ad-Dawudi ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalan Sulaiman bin Musa. Ia pernah ditanya tentang boleh tidaknya seorang suami melihat kemaluan istrinya. Sulaiman berkata: “Aku tanyakan hal itu kepada ‘Atha`, maka ia berkata: ‘Aku pernah menanyakannya kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, lalu beliau menyebutkan hadits ini secara makna. Dan ini merupakan nash/dalil dalam masalah ini’.” (Fathul Bari, 1/473)

 

Bolehkah Seorang Lelaki Memakai Sisa Air Mandi Seorang Wanita dan Sebaliknya?

Humaid Al-Himyari rahimahullah berkata: Aku bertemu dengan seseorang yang bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bersahabat dengan beliau. Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut berkata:

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita mandi dari sisa laki-laki atau laki-laki mandi dari sisa wanita.” Musaddad menambahkan: “Hendaknya keduanya menciduknya bersama-sama.”8

Hadits di atas menunjukkan dilarangnya seorang wanita mandi menggunakan sisa air mandi seorang lelaki, baik mandinya dilakukan secara bersama-sama (bila keduanya suami istri) atau setelah selesainya lelaki tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Makna : hendaklah seorang lelaki dan seorang wanita mengambil cidukan demi cidukan dari air tersebut ketika keduanya mandi. Keduanya menciduk bersama-sama, bukan saling bergantian, yang satu baru kemudian yang lain.

Dzahir hadits di atas menunjukkan bahwa lelaki ataupun wanita dilarang untuk mandi suci (janabah) menggunakan sisa air yang lainnya, baik keduanya mandi bersama-sama dari satu bejana, masing-masing menggunakan sisa air pasangannya, atau mandinya satu demi satu, yang lelaki terlebih dahulu atau si wanita. Namun boleh bagi keduanya untuk mandi bersama-sama dari satu bejana dengan menciduk air dari bejana tersebut secara bersamaan, bukannya bergantian mengambil air di dalam bejana.

Demikian salah satu pendapat kalangan ahlul ilmi. Memang dalam masalah menggunakan sisa air laki-laki atau sisa air wanita ada beberapa pendapat:

Pendapat pertama: laki-laki boleh bersuci dengan menggunakan sisa air wanita. Demikian pula sebaliknya, baik mandinya bersama-sama atau sendiri-sendiri.
Pendapat kedua: laki-laki makruh menggunakan sisa air mandi wanita dan sebaliknya.
Pendapat ketiga: masing-masing boleh bersuci/mandi dengan menggunakan sisa air pasangannya, bila keduanya menciduknya secara bersama-sama.
Pendapat keempat: boleh bersuci dengan menggunakan sisa air tersebut, bila si wanita tidak dalam keadaan haid dan si lelaki tidak dalam keadaan junub.
Pendapat kelima: wanita boleh menggunakan sisa air laki-laki, namun laki-laki makruh menggunakan sisa air wanita.

Pendapat keenam: masing-masing boleh menggunakan air yang ada bila keduanya mandi bersama-sama dari satu bejana, baik menciduknya secara bersama-sama ataupun tidak. (‘Aunul Ma‘bud, kitab Ath-Thaharah, bab An-Nahyu ‘an Dzalik)

Dari beberapa pendapat di atas, yang penulis pandang kuat adalah pendapat yang membolehkan, karena adanya hadits berikut ini:

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan:

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah.”9

Dalam riwayat Ashabus Sunan disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma  menyatakan:

Salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai mandi dari satu bejana yang besar. Lalu datanglah Nabi untuk mandi menggunakan air yang masih ada dalam bejana besar tersebut. Istri beliau berkata:“Tadi aku mandi junub (dengan menggunakan air tersebut).” Nabi bersabda:“Sesungguhnya air tidak membuat junub.”10

Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata:“Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menunjukkan bolehnya bersuci/mandi menggunakan sisa air mandi wanita. Sementara hadits Al-Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari yang telah lewat dalam bab terdahulu11 menunjukkan larangan dari hal tersebut.

Dua hadits tersebut digabungkan dengan pernyataan bahwa larangan yang ada adalah bila air yang digunakan merupakan air yang berjatuhan dari anggota-anggota tubuh si wanita, karena air tersebut telah menjadi air musta‘mal. Sementara air yang masih tersisa di ember/bejana atau tempat air lainnya boleh digunakan (tidak dilarang). Demikian penggabungan yang dilakukan oleh Al-Khaththabi.

(Dan cara lain menggabungkan dua hadits yang secara dzahir nampak bertentangan tersebut adalah) bahwa larangan yang ada dibawa kepada larangan tanzih (yakni makruh, bukan larangan yang menunjukkan keharaman/tahrim), dengan adanya hadits-hadits yang membolehkan (laki-laki menggunakan sisa air wanita).

Adapula yang berpendapat bahwa ucapan sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Tadi aku mandi junub (dengan menggunakan air tersebut)’, dia nyatakan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin berwudhu dengan sisa air mandi istrinya. Ini menunjukkan bahwa larangan menggunakan sisa air wanita itu telah ada lebih dahulu, lalu datanglah hadits yang menunjukkan kebolehan sebagai penghapus hadits yang melarang, wallahu a‘lam.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah telah menjelaskan permasalahan ini pula dalam kitab beliau Al-Majmu’ Syar-hul Muhadzdzab (2/220-222).

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul ‘Arabi Al-Maliki rahimahullah dalam syarahnya terhadap Sunan At-Tirmidzi (‘Aridhatul Ahwadzi, 1/72) berkata tentang permasalahan ini: “Dari sisi sanad, hadits yang membolehkan berwudhu dengan sisa wudhu wanita, seluruhnya shahih. Adapun hadits Al-Hakami, kata Al-Bukhari: ‘Abu Hajib Sawadah bin ‘Ashim Al-Ghanawi12 –demikian disebutkan Al-Imam Ahmad dan selainnya– termasuk kalangan orang-orang Mesir (Mishriyyun).’ Al-Ghifari berkata: ‘Aku tidak memandangnya shahih dari Al-Hakam bin ‘Amr.’

Adapun hukum dari permasalahan ini, jumhur ulama berkata: ‘Seorang laki-laki boleh berwudhu dengan sisa air wudhu dan mandi seorang wanita.’

Sedangkan Al-Imam Ahmad bin Hambal berkata: ‘Hal itu tidak boleh, bila si wanita telah menggunakan air tersebut sendirian (tidak menggunakannya bersama-sama)’.

Al-Hasan, Ibnul Musayyib, dan Ishaq memakruhkannya. Dan diriwayatkan kemakruhannya dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, bila si wanita menggunakan air tersebut dalam keadaan ia sedang haid, junub, atau bersendiri menggunakannya. Yang menjadi sandaran mereka adalah hadits Al-Hakam yang telah lewat.

Namun hadits kami (yang membolehkan) lebih utama dari dua sisi:
Pertama: haditsnya lebih shahih.

Kedua: haditsnya lebih belakangan daripada hadits yang melarang. Dengan dalil bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mandi dari bejana, Maimunah berkata kepada beliau: ‘Sungguh aku telah berwudhu menggunakan air tersebut’.

(Ucapan Maimunah ini) menunjukkan bahwa larangan itu telah ada sebelumnya, lalu Nabi menerangkan bahwa air itu tidak membuat junub. Berarti terangkatlah larangan yang terdahulu (sehingga hukumnya menjadi boleh,–pent.)”. Wallahu a’lam.

Sebagai kesimpulan, mandi orang yang junub atau wudhu seseorang dari satu bejana tidaklah mempengaruhi kesucian air, karena air (dalam bejana) tersebut tetap dalam keadaan suci. Sehingga laki-laki boleh mandi menggunakan sisa air wanita walaupun wanita tersebut junub. Adapun larangan yang ada, bukanlah larangan yang menunjukkan keharaman, namun larangan lit tanzih. (Taudhihul Ahkam 1/133, Subulus Salam 1/37)

Perselisihan yang ada ini khusus dalam masalah bersucinya seorang lelaki menggunakan sisa air wanita. Adapun bersucinya wanita dengan sisa air mandi laki-laki, kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah: “Boleh dengan kesepakatan yang ada.” Namun Al-Hafizh memberi komentar bahwa Ath-Thahawi telah menetapkan adanya perselisihan pendapat pula dalam permasalahan ini. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ath-Thaharah, bab Ma Ja`a fir Rukhshah fi Dzalik).

 

Catatan
Tata cara mandi janabah bagi wanita sama dengan laki-laki. Dan tidak ada kewajiban bagi wanita untuk memasukkan air ke dalam kemaluannya ketika mandi janabah ataupun mandi haid, karena tidak adanya perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Seandainya hal tersebut wajib dilakukan, niscaya akan ada keterangannya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Bila seorang suami menggauli istrinya pada selain kemaluan si istri, dengan kata lain mencumbui istri tanpa melakukan jima’ –tentu juga bukan pada duburnya karena itu haram dan terlaknat–, apakah si suami tetap wajib mandi?

Bila seorang suami menggauli istrinya pada selain kemaluannya, yakni sama sekali tidak memasukkan zakarnya ke dalam farji istrinya, namun si suami mengeluarkan mani pada selain kemaluan istrinya, maka telah kita ketahui dari penjelasan-penjelasan yang telah lewat bahwa ia tetap wajib mandi. Dengan dalil hadits:

“Hanyalah air itu dicurahkan karena keluar air (yakni mandi itu hanyalah diwajibkan karena keluar mani,–pent).” (HR. Muslim no. 343)

Juga dengan adanya kesepakatan ulama akan wajibnya mandi karena keluar mani.
Bagaimana dengan si istri, apakah ia juga wajib mandi?

Dalam hal ini perlu perincian. Bila si istri juga mengeluarkan mani maka ia wajib mandi. Namun bila ia tidak mengeluarkan mani, dan khitannya sama sekali tidak bersentuhan (dimasuki) oleh khitan suaminya13 maka tidak ada kewajiban mandi baginya.

Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata tentang seorang suami yang menggauli istrinya pada selain kemaluan si istri lalu si suami keluar mani:

Si suami mandi, sedangkan istrinya tidak, akan tetapi ia membasuh/mencuci bagian tubuhnya yang terkena.” (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 981)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

Bila si istri juga mengeluarkan mani maka ia mandi. Namun bila tidak, maka ia cukup berwudhu dan mencuci bagian tubuhnya yang terkena mani suaminya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/93).

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab. Untuk selanjutnya dalam edisi mendatang kita akan membahas tentang mandi yang diperselisihkan kewajibannya dan mandi yang sunnah, Insya Allah.

Wallahu al-muwaffiq.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 

Catatan Kaki:

1 HR. Ahmad 4/224, Abu Dawud no. 4012, An-Nasa`i no. 406. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih An-Nasa`i, Al-Irwa` 2335 dan Al-Misykat 447.

2 Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim no. 766, kitab Al-Haidh, bab Tahrimun Nazhar ilal ‘Aurat)

3 HR. Al-Bukhari no. 280 dan Muslim no. 762.

4 HR. Abu Dawud no. 4017, At-Tirmidzi no. 2769 dan yang lainnya. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud, Shahih At-Tirmidzi.

5 HR. Al-Bukhari no. 261 dan Muslim no. 729.

6 HR. Muslim no. 731

7 Yaitu hadits:

“Aku dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi (dengan menggunakan air) dari satu bejana, dari bejana yang disebut al-faraq.”  (HR. Al-Bukhari no. 250 dan Muslim no. 725)

Kata Qutaibah: Berkata Sufyan: “Al-faraq adalah (bejana yang isinya) tiga sha’.”
8 HR. Abu Dawud no. 81 dan An-Nasa`i no. 238. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih An-Nasa`i. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih (1/547) dari riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 4/110.

9  HR. Muslim no. 732

10  HR. Abu Dawud no. 68 dan Ashabus Sunan lainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan selainnya.

11  Yaitu hadits:

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang lelaki berwudhu menggunakan sisa air wanita.”

12 Nama perawi yang meriwayatkan hadits tentang larangan laki-laki berwudhu menggunakan sisa air wanita dari Al-Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari.

13 Sementara dalam hadits disebutkan:

“Apabila seorang laki-laki telah duduk di antara empat cabang seorang wanita kemudian ia memasukkan khitan (nya,–pent.) ke khitan (istrinya,–pent.) maka sungguh telah wajib mandi.” (Sunan Abi Dawud no.216,dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa pewajiban mandi karena jima‘ tidak tergantung dengan keluarnya mani bahkan kapan hasyafah (pucuk dzakar) masuk ke dalam farji hingga tersembunyi, telah wajib mandi bagi laki-laki dan wanita tersebut. (Syarhu Shahih Muslim 4/41)

 

Perang Bani Nadhir

Sejak jaman dahulu, bangsa Yahudi memang dikenal sebagai ahli makar. Pembunuhan terhadap para Nabi dan kekejian lainnya tidak lepas dari tangan-tangan mereka. Berbagai peperangan yang muncul di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga lahir dari persekongkolan jahat mereka. Salah satunya adalah Peperangan Bani Nadhir.

Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, sudah ada tiga kabilah besar bangsa Yahudi yang menetap di negeri tersebut. Mereka adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Masing-masing kabilah ini mempunyai sekutu dari kalangan penduduk asli Madinah yaitu Aus dan Khazraj. Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj, sedangkan Bani Quraizhah menjadi sekutu Aus.

Setiap kali terjadi peperangan di antara mereka dengan sekutu masing-masing, orang-orang Yahudi mengancam kaum musyrikin (Aus dan Khazraj) ketika itu dengan mengatakan: “Sudah tiba masanya kedatangan nabi kami. Dan kami akan memerangi kalian seperti memerangi ‘Ad dan Iram.”

Ketika muncul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Quraisy, berimanlah Aus dan Khazraj. Sementara orang-orang Yahudi justru kafir kepada beliau. Tentang merekalah turunnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٨٩

“Dan setelah datang kepada mereka al-Qur`an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, namun setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (al-Baqarah: 89)

Bani Nadhir adalah salah satu kabilah terbesar bangsa Yahudi yang bermukim di sebelah selatan Madinah sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka pun kafir kepada beliau bersama orang-orang kafir Yahudi lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengadakan ikatan perjanjian dengan seluruh golongan Yahudi yang menjadi tetangga beliau di Madinah.

Sebab-sebab Terjadinya Peperangan

Ketika perang Badr usai, enam bulan setelah peristiwa besar tersebut[1], Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui dan meminta mereka agar membantu beliau dalam urusan diyat (tebusan) orang-orang Bani Kilab yang dibunuh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamari. Merekapun berkata: “Kami akan bantu, wahai Abul Qasim (maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,red.). Duduklah di sini sampai kami selesaikan keperluanmu!”

Kemudian sebagian mereka memencilkan diri dari yang lain. Lalu setan membisikkan kepada mereka ‘kehinaan’ yang telah ditakdirkan atas mereka. (Dengan bisikan itu) mereka mencoba melakukan intrik keji untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka berkata: “Siapa di antara kalian yang memegang penggilingan ini, lalu naik ke loteng dan melemparkannya ke kepalanya sampai remuk?”

Orang paling celaka dari mereka, ‘Amr bin Jihasy, berkata: “Aku.”

Namun Sallam bin Misykam berkata kepada mereka: “Jangan lakukan. Demi Allah, pasti Dia akan membongkar apa yang kalian rencanakan terhadapnya. Sungguh, ini artinya melanggar perjanjian antara kita dengannya.”

Lalu datanglah Jibril menceritakan persekongkolan busuk mereka. Beliaupun bangkit dengan cepat dan segera menuju ke Madinah. Para shahabatpun menyusul beliau dan berkata: “Anda bangkit tanpa kami sadari?” Beliau pun menceritakan rencana keji orang-orang Yahudi itu atas beliau.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada mereka untuk memerintahkan: “Keluarlah kalian dari Madinah dan jangan bertetangga denganku di sini. Aku beri waktu sepuluh hari. Siapa yang masih kedapatan di Madinah setelah hari itu, tentu aku tebas lehernya.”

Akhirnya mereka mempersiapkan diri selama beberapa hari. Datanglah kepada mereka gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul, sembari mengatakan: “Janganlah kalian keluar dari rumah kalian. Karena saat ini aku memiliki sekitar duaribu pasukan yang siap bertahan bersama di benteng kalian ini. Mereka siap mati membela kalian. Bahkan Bani Quraizhah serta para sekutu kalian dari Ghathafan tentu akan membela kalian.”

Akhirnya Huyai bin Akhthab (pemimpin Bani Nadhir,-red.) tergiur dengan bujukan ini dan mengutus seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengatakan: “Kami tidak akan keluar dari kampung (rumah-rumah) kami. Berbuatlah sesukamu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat bertakbir, lalu berangkat menuju perkampungan mereka. Saat itu, ‘Ali bin Abi Thalib lah yang membawa bendera beliau.

Merekapun mengepung benteng Yahudi ini dan melemparinya dengan panah dan batu. Ternyata Bani Quraizhah meninggalkan Bani Nadhir. Bahkan sekutu mereka, Ibnu Ubay dan Ghathafan juga mengkhianati mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengepung mereka selama enam hari. Beliau menebang pokok-pokok (pohon) kurma milik mereka dan membakarnya.

Kemudian orang-orang Yahudi itu mengutus seseorang untuk memohon: “Kami akan keluar dari Madinah.” Beliau akhirnya memperkenankan mereka keluar dari kota itu dengan hanya membawa anak-cucu mereka serta barang-barang yang dapat diangkut seekor unta kecuali senjata. Dari sinilah kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat memperoleh harta dan senjata.

Seperlima bagian dari rampasan perang Bani Nadhir ini tidak dibagikan, dikhususkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengganti beliau (para pemimpin, khalifah,-pent.) demi kepentingan kaum muslimin. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikannya kepada beliau sebagai fai’, tanpa kaum muslimin mengerahkan seekor kuda ataupun unta untuk mendapatkannya.

Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka termasuk pembesar mereka, Huyai bin Akhthab, ke wilayah Khaibar. Beliau menguasai tanah dan rumah-rumah berikut senjata. Ketika itu diperoleh sekitar 50 perisai, 50 buah topi baja, dan 340 bilah pedang. Inilah kisah mereka yang diuraikan oleh sejumlah ahli sejarah.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan tentang hal ini:

Dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu, katanya: “Harta Bani Nadhir merupakan harta fai’ yang Allah berikan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa kaum muslimin mengerahkan kuda dan unta untuk memperolehnya. Harta itu milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus. Beliau menginfakkannya untuk keluarganya sebagai nafkah selama setahun, kemudian sisanya berupa senjata dan tanah sebagai persiapan bekal (jihad) di jalan Allah.”

Beberapa Pelajaran dari Kisah Ini

Berkaitan dengan peristiwa ini, Allah subhanahu wa ta’ala turunkan awal surat al-Hasyr (1-5) dan ditegaskan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Al-Maghazi dan Tafsir Al-Qur`an) dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma:

Dari Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas: ‘Surat al-Hasyr.’ Kata beliau: “Katakanlah: ‘Surat an-Nadhir’.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَخۡرَجَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ مِن دِيَٰرِهِمۡ لِأَوَّلِ ٱلۡحَشۡرِۚ مَا ظَنَنتُمۡ أَن يَخۡرُجُواْۖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ٢ وَلَوۡلَآ أَن كَتَبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡجَلَآءَ لَعَذَّبَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابُ ٱلنَّارِ ٣ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٤ مَا قَطَعۡتُم مِّن لِّينَةٍ أَوۡ تَرَكۡتُمُوهَا قَآئِمَةً عَلَىٰٓ أُصُولِهَا فَبِإِذۡنِ ٱللَّهِ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

“Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama kali. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah benamkan rasa takut ke dalam hati mereka; mereka musnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (peristiwa itu) sebagai pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan makna ayat ini dalam tafsirnya sebagai berikut:

Allah subhanahu wa ta’ala mengawali surat ini dengan penjelasan bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih memuji Rabbnya, mensucikan-Nya dari semua perkara yang tidak sesuai dengan kemuliaan-Nya, menghambakan diri dan tunduk kepada kebesaran-Nya. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi-Nya serta tidak ada sesuatupun yang sulit bagi-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mempunyai hikmah, dalam penciptaan dan perintah-Nya. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan segala sesuatu ini dengan sia-sia. Dan Dia tidak menetapkan syariat yang tidak mengandung kemaslahatan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak berbuat kecuali sesuai dengan hikmah-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam atas orang-orang kafir ahli kitab dari Bani Nadhir yang melanggar perjanjian dengan Rasul-Nya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala keluarkan mereka dari rumah dan tempat tinggal yang mereka cintai.

Pengusiran mereka ini merupakan pengusiran pertama yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala atas mereka melalui tangan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka diusir hingga ke Khaibar.

Ayat yang mulia ini memberi isyarat bahwa pengusiran mereka tidak hanya terjadi dalam peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka sekali lagi dari Khaibar. Juga di masa pemerintahan ‘Umar radhiallahu ‘anhu yang mengeluarkan seluruh Yahudi dari jazirah Arab.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: مَا ظَنَنتُمۡ  (Kamu tiada menyangka), wahai kaum muslimin.

Dan firman Allah: أَن يَخۡرُجُواْۖ    (bahwa mereka akan keluar).

Yakni, keluar dari rumah mereka karena kuatnya benteng pertahanan mereka dan mereka merasa mulia di dalamnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ

(dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah subhanahu wa ta’ala).

Artinya, kokohnya pertahanan mereka ini membuat mereka bangga. Namun hal ini justru memperdaya mereka. Mereka merasa tidak akan mungkin bisa dikalahkan dan tidak ada satupun yang sanggup menghadapi mereka. Padahal kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala ada di balik itu semua. Benteng mereka sama sekali tidak dapat melepaskan diri mereka dari adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kekuatan pertahanan mereka sedikitpun tidak berguna bagi mereka.

Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan:

فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ

(maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka).

Tidak pernah terbetik dalam pikiran mereka bahwa mereka akan didatangi dari arah tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ

(Dan Allah benamkan ketakutan ke dalam hati mereka).

Yaitu rasa takut yang sangat hebat. Rasa takut ini merupakan tentara Allah subhanahu wa ta’ala paling besar, yang tidak mungkin dilawan dengan jumlah dan persenjataan sebesar apapun. Tidak mungkin dihadapi oleh kekuatan dan kehebatan yang bagaimana-pun.

Kalaupun kekalahan menimpa mereka dari arah tertentu, mereka beranggapan bahwa itu tidak lain karena benteng pertahanan mereka. Mereka merasa tenteram dengan kekokohannya. Padahal, siapa yang mempercayakan sepenuhnya kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, dia pasti akan terhina. Dan siapa yang bersandar kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala pasti hal itu menjadi bencana atasnya.

Maka datanglah ketetapan dari langit yang menerpa hati sanubari mereka yang sebenarnya merupakan lahan keteguhan dan kesabaran atau kelemahan. Allah subhanahu wa ta’ala lenyapkan kekuatan dan kekokohan hati itu, dan membiarkan kelemahan serta ketakutan bertahta di dalamnya. Alhasil, tidak ada lagi tipu daya serta kekuatannya. Dan keadaan ini justru menjadi kemenangan kaum mukminin atas mereka.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan:

يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

(mereka musnahkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman).

Semua itu karena mereka pernah mengadakan kesepakatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka boleh membawa barang-barang yang dapat diangkut seekor unta. Karena itulah mereka menghancurkan atap-atap rumah yang masih mereka anggap baik. Mereka berikan keleluasaan bagi kaum mukminin –akibat kejahatan mereka sendiri– untuk menghancurkan rumah dan benteng-benteng mereka. Dengan demikian, sesungguhnya mereka sendirilah yang berbuat jahat terhadap diri mereka. Jadilah mereka sendiri yang mempunyai andil besar dalam kekalahan dan kehinaan tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ

(Maka ambillah (peristiwa itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan).

Artinya, bashirah yang tajam, akal yang sempurna. Karena sesungguhnya di dalam kejadian ini terdapat pelajaran yang membantu mengenal bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala bertindak terhadap orang-orang yang keras kepala dan menentang kebenaran (al-Haq), serta mengikuti hawa nafsunya. Kemuliaan mereka tidak lagi berguna. Kekuatan mereka pun tidak mampu menolong mereka. Bahkan benteng mereka tidak dapat melindungi mereka sedikitpun ketika keputusan Allah subhanahu wa ta’ala datang kepada mereka. Hukuman atas dosa-dosa mereka pun menimpa mereka.

Pelajaran (hukum) yang diambil berdasarkan keumuman lafadz suatu nash (ayat atau hadits) bukan berdasarkan sebab yang khusus. Sehingga, dapat dipahami bahwa ayat yang mulia ini merupakan alasan (dalil) adanya perintah untuk melakukan i’tibar (perbandingan, mengambil pelajaran). Termasuk di sini menilai suatu hal dengan hal yang semisal dengannya, atau menganalogikan (kias) suatu perkara dengan yang menyerupainya. Juga merenungkan makna dan hukum yang terdapat di dalam ketetapan-ketetapan tersebut. Di sinilah letak peranan akal dan pikiran. Melalui hal ini, pemahaman akan semakin bertambah, bashirah semakin terang, dan iman juga semakin meningkat. Selanjutnya, pemahaman yang hakikipun akan dapat diperoleh.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa orang-orang Yahudi ini tidaklah merasakan semua hukuman yang pantas mereka terima. Artinya, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi keringanan bagi mereka.

Seandainya bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan pengusiran terhadap mereka dan menentukan takdir yang sama sekali tidak dapat diganti dan berubah, tentulah ada perkara lain berupa adzab dunia yang akan mereka rasakan. Akan tetapi mereka –meskipun tidak mengalami adzab yang berat di dunia– sesungguhnya mereka di akhirat telah disediakan adzab neraka yang tidak satupun mengetahui kedahsyatannya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa hukuman mereka telah selesai dan tidak ada lagi yang tersisa. Karena siksaan yang Allah subhanahu wa ta’ala sediakan bagi mereka di akhirat jauh lebih berat dan lebih mengerikan. Semua ini karena mereka telah menentang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka memusuhi dan memerangi Allah subhanahu wa ta’ala serta Rasul-Nya. Bahkan bersegera dalam mendurhakai Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Demikianlah sunnatullah (ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala) terhadap orang-orang yang menentang-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

(Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya).

Artinya, tatkala orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin yang menebang pohon-pohon kurma, bahkan menuduh mereka berbuat kerusakan, mereka merasa mendapat celah untuk mengecam kaum muslimin. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa penebangan pohon-pohon kurma ataupun membiarkannya tetap tumbuh adalah dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala dan perintah-Nya. Juga:

وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

(dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik).

Artinya, di sini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kekuasaan kepada kaum mukminin untuk menebang dan membakar pohon-pohon tersebut agar menjadi hukuman dan kehinaan bagi mereka di dunia. Kemudian, dengan tindakan ini dapat diketahui betapa lengkapnya kelemahan mereka, di mana sama sekali tidak mampu menyelamatkan pohon-pohon kurma yang merupakan modal kekuatan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

لِّينَةٍ

adalah kata yang meliputi semua pohon kurma, menurut pendapat yang paling tepat dan lebih utama.

Inilah keadaan Bani Nadhir. Lihatlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghukum mereka di dunia, kemudian menerangkan tentang kepada siapa jatuhnya semua harta benda dan kekayaan mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(Dan apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (berupa harta benda) mereka), yakni dari Bani Nadhir.

Sesungguhnya kalian –wahai kaum muslimin– untuk mendapatkan itu sama sekali:  (kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun).

Maksudnya, kalian wahai muslimin, sama sekali tidak harus bersusah payah memperolehnya, dengan mengerahkan jiwa raga dan kendaraan kalian. Allah subhanahu wa ta’ala telah melemparkan rasa takut yang sangat hebat ke dalam hati mereka, hingga akhirnya mereka datang menyerah kepada kalian. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Akan tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sebagai kesempurnaan kodrat-Nya, tidak ada satupun yang dapat menghalangi-Nya dan tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengalahkan-Nya.

Al-Fai’ menurut istilah para ulama ahli fiqih adalah harta orang-orang kafir yang diambil dengan alasan yang haq (benar) tanpa melalui pertempuran. Seperti harta (Bani Nadhir ) ini, di mana mereka lari dan meninggalkannya karena takut kepada kaum muslimin. Harta ini dinamakan fai’, karena harta ini berpindah dari tangan orang-orang kafir yang tidak berhak, kepada kaum muslimin yang lebih berhak dan hukumnya berlaku secara umum.

Wallahu a’lam. (insya Allah bersambung: Perang Dzatu Riqa)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

[1] Ini berdasarkan keterangan Ibnu Syihab Az-Zuhri dan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah yang menyatakan bahwa perang Bani Nadhir ini terjadi 6 bulan sesudah perang Badr Al-Kubra. Dan ini adalah kekeliruan Az-Zuhri, atau kesalahan orang yang menukil dari beliau. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (3/249) menerangkan: “Tidak ragu lagi bahwa peristiwa ini terjadi setelah perang Uhud. Adapun yang terjadi setelah perang Badr adalah perang Bani Qainuqa’. Jadi, peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melawan Yahudi terjadi empat kali. Yang pertama dengan Bani Qainuqa’ yaitu setelah perang Badr, yang kedua dengan Bani Nadhir setelah perang Uhud, yang ketiga dengan Bani Quraizhah setelah peristiwa Khandaq, dan keempat dengan Yahudi Khaibar setelah peristiwa Hudaibiyah. Wallahu a’lam.

 

Bila Ruqyah Menjadi Alternatif Mencari Popularitas, Bolehkah?

Metode pengobatan ruqyah memang telah mendapat tempat di masyarakat. Sayangnya, hal ini justru kemudian disalahgunakan dan dikomersialkan sejumlah orang yang menampilkan sekaligus mengiklankan dirinya sebagai ahli ruqyah.

 

Ketika menelusuri sejarah kehidupan manusia, generasi demi generasi berikut segala peristiwa yang terjadi, seseorang akan terbawa ke dalam dua sifat mulia bila dia mendalaminya dengan kacamata Islam. Pertama, munculnya rasa takut ketika mengingat penghancuran hebat dari Allah subhanahu wa ta’ala atas suatu kaum yang mendustakan agama, menentang para rasul, serta ingkar kepada-Nya. Kedua, munculnya harapan ketika menemukan limpahan rahmat dan keberkahan hidup dari Allah subhanahu wa ta’ala yang didapatkan oleh suatu kaum yang taat dan menerima segala yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala melalui para rasul.

Setelah itu, rasa takut yang menghinggapinya membawanya kepada satu sikap “siap meninggalkan segala yang dilarang Allah subhanahu wa ta’ala yang akan mendatangkan murka-Nya, betapapun kuat dorongan dari dalam dirinya dan besarnya pembelaan dari luar.” Dan harapan yang tumbuh pada dirinya akan membawanya menuju “semangat untuk mewujudkan ketaatan dengan menapaki langkah pendahulunya yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala di dalam melaksanakan titah-titah-Nya, meskipun ia membencinya dan dari luar dirinya mendukungnya.”

Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan pengusiran kaum kafir Yahudi dan Nasrani dari negeri mereka. Mereka mau tidak mau harus keluar dari negerinya dan mengakui bahwa benteng-benteng mereka tidak akan bisa mencegah siksaan Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah itu Allah lmenurunkan hukuman kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah subhanahu wa ta’ala benamkan rasa takut ke dalam dada mereka. Akhirnya rumah mereka musnah oleh tangan mereka sendiri dan tangan orang yang beriman.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menutup pelajaran ini dengan firman-Nya:

فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ

“Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berfikir.” (al-Hasyr: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan pertemuan dua kubu dalam sebuah pertempuran, yakni antara orang kafir dan orang yang beriman. Di mana orang kafir menyaksikan orang yang beriman dua kali lipat jumlahnya. Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menolong kaum mukminin setelah itu. Dia menutup pelajaran ini dengan firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berfikir.” (ali ‘Imran: 13)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan pendustaan suatu kaum terhadap para rasul yang diutus kepada mereka, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala  menimpakan siksaan kepada mereka dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang beriman. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menutup pelajaran ini dengan firman-Nya:

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ١١١

“Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang yang berfikir. al-Qur`an itu bukanlah perkataan yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan keangkuhan Fir’aun yang telah menobatkan dirinya sebagai tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala setelah dia mendustakan Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala kemudian mengadzabnya di dunia maupun di akhirat. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menutup pelajaran ini dengan firman-Nya:

 إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰٓ ٢٦

“Sesungguhnya pada perkara itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang (memiliki) rasa takut.” (an-Nazi’at: 26)

قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُمۡ سُنَنٞ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ

“Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu lihatlah kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (ali ‘Imran: 137)

قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ ٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ

“Katakanlah: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi, kemudian saksikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)’.” (al-An’am: 11)

وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Dan saksikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang (melakukan) kerusakan.” (al-A’raf: 86)

قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ

“Katakanlah: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat maksiat’.” (an-Naml: 69)

قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu lihatlah kesudahan orang-orang sebelum kalian, kebanyakan mereka menyekutukan Allah’.” (ar-Rum: 42)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Katakanlah wahai Muhammad kepada mereka: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi ini. Saksikanlah kesudahan orang-orang yang berbuat maksiat, yaitu orang-orang yang mendustakan para rasul dan segala apa yang mereka bawa, baik yang terkait dengan urusan hari akhir ataupun selainnya. Bagaimana kemurkaan, adzab, dan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala menimpa mereka. Dan Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan para rasul dan orang-orang yang mengikutinya dari kalangan kaum mukminin. Semua ini menunjukkan kebenaran apa yang dibawa para rasul tersebut.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/390)

 

Ruqyah adalah Sebuah Ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ruqyah merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dikatakan sebagai salah satu bentuk ibadah, karena perbuatan ini dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sebagaimana definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah subhanahu wa ta’ala baik berbentuk ucapan atau perbuatan yang nampak ataupun tidak nampak.”

Terlebih lagi, pada amalan ruqyah ini terdapat unsur ta’awun (tolong-menolong) syar’i dalam upaya melepaskan saudara kita dari belenggu yang memberatkan dirinya. Dalil-dalil yang menunjukkan ruqyah sebagai salah satu bentuk ibadah terlalu banyak. Di antaranya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

 “Tolong-menolonglah kalian di dalam kebajikan dan ketaqwaan dan jangan kalian tolong-menolong di dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa melepaskan saudaranya dari kesulitan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa memberikan kemudahan bagi saudaranya yang mendapatkan kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Serta barangsiapa menyembunyikan aib saudaranya, maka Allah akan menyembunyikan aibnya di dunia dan akhirat. Pertolongan Allah selalu menyertai seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.”1

 

“Dari Salim, dari bapaknya (Ibnu ‘Umar), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya. Maka tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan selalu memenuhi hajatnya. Dan barangsiapa mengeluarkan saudaranya dari kesulitan, niscaya Allah akan mengeluarkannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib saudaranya, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.”2

“Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi meniup dirinya ketika sakit di akhir hayat beliau dengan al-mu’awwidzat. Dan ketika berat atas beliau (untuk melakukannya), (kata ‘Aisyah) sayalah yang meniupkan untuk beliau, lalu saya mengusapnya dengan tangan beliau sendiri karena barakah yang terkandung padanya.”3

“Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat di rumahnya seorang budak wanita dan di wajahnya terdapat warna (kehitaman) maka (beliau berkata): ‘Ruqyahlah dia, sesungguhnya dia terkena penyakit ‘ain (pandangan jahat).”4

Dari dalil-dalil di atas maka jelas bahwa ruqyah itu merupakan sebuah ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Syarat Ibadah

Karena ruqyah itu merupakan sebuah ibadah, sudah barang tentu akan bernilai ibadah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala jika dibangun di atas aqidah tauhid yang benar, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan illa liya’buduuni artinya: “Agar mereka mengakui peribadatan adalah milik-Ku, baik dalam keadaan suka ataupun terpaksa.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/246)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “(Maknanya adalah) tidaklah Aku menciptakan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dari kalangan jin dan manusia, melainkan (karena) mereka mentauhidkan-Ku.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah mengatakan: “Ibadah adalah tauhid.” Kemudian dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah: “Ibadah itu dibangun di atas tauhid. Dan setiap ibadah yang tidak (didasari) tauhid bukanlah sebuah ibadah. Terlebih lagi, sebagian ulama salaf menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala ‘kecuali agar mereka menyembah-Ku’ yaitu kecuali agar mereka mentauhidkan Aku. Dan ini sangat sesuai dengan apa yang disimpulkan pengarang (yakni Asy-Syaikh Muhammad) bahwa ibadah itu adalah tauhid, dan setiap ibadah yang tidak dibangun di atas tauhid adalah (ibadah) batil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Aku tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan sebuah amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku (pada amalan tersebut), Aku akan membiarkannya dengan amalan syiriknya tersebut.” (Al-Qaulul Al-Mufid Syarah Kitab Tauhid, 1/55)

Realisasi tauhid dalam peribadatan adalah “Tidak bertujuan melainkan mengharapkan wajah Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak memberikannya kepada selain-Nya. Yaitu ibadah yang tidak dikotori oleh noda-noda riya, mengharapkan pujian dari orang lain, atau agar memiliki tempat dalam hati manusia.”

Ada dua syarat ibadah yang harus dipenuhi ketika akan menegakkan sebuah ibadah:

Pertama: Ikhlas semata-mata mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala.

Ikhlas artinya mengharapkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala semata dan tidak menginginkan selainnya. Keikhlasan ini merupakan implementasi dari syahadat    لا إله إلا الله

Hudzaifah Al-Mar’asyi mengatakan: “Ikhlas adalah keseimbangan antara perbuatan lahiriah dan batiniah seorang hamba.”

Abu Qashim Al-Qusyairi menjelaskan: “Ikhlas adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ketaatan yang hanya bertujuan untuk-Nya. Yakni dengan ketaatan yang dilakukannya itu, dia ingin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bukan kepada selain-Nya, seperti berbuat karena makhluk, mencari pujian orang, senang mendapatkan pujian, atau segala makna yang tidak untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Abu Muhammad Sahl bin Abdullah rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang berilmu telah melakukan penggalian dalam menafsirkan keikhlasan. Dan mereka tidak menemukan (makna lain) selain: Gerak dan diamnya seseorang, baik ketika sendirian atau bersama orang lain, hanyalah untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata, dan tidak dicampuri oleh keinginan hawa nafsu dan dunia.” (Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi hal. 5)

 

Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan: “Ikhlas merupakan lawan syirik. Barang-siapa tidak ikhlas, dia adalah seorang musyrik. Namun kesyirikan itu memiliki tingkatan-tingkatan. Keikhlasan di dalam ketauhidan lawannya adalah kesyirikan di dalam uluhiyyah. Dan kesyirikan itu ada yang tersembunyi dan ada yang nyata. Begitu juga keikhlasan.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 366)

 

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang yang ikhlas adalah: orang-orang yang merealisasikan Iyyaka na’budu waiyyaka Nasta’in, yaitu menjadikan segala amal, ucapan, pemberian, menahan pemberian, kecintaan, kebencian, dan muamalah lahiriah serta batiniah mereka hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak menginginkan balas budi dari manusia. Tidak pula mencari kedudukan di sisi mereka. Tidak mencari pujian dan kedudukan di hati-hati mereka dan tidak pula lari dari cercaan mereka. Dan bahkan mereka (orang-orang yang ikhlas) menganggap manusia ini seperti penghuni kuburan yang tidak memiliki kesanggupan memberikan manfaat dan menolak mudharat, serta tidak bisa menghidupkan, mematikan, dan membangkitkan.” (Madarijus Salikin, hal. 83)

Dalil-dalil yang menunjukkan landasan pertama ini sangatlah banyak. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan agama untuk Allah yaitu agama yang lurus, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya amal itu sah dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan. Barangsiapa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya   maka sungguh dia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrah kepada dunia yang akan didapatnya, atau wanita yang akan dinikahinya maka dia akan mendapatkannya.”6

“Allah berfirman: ‘Aku tidak butuh kepada sekutu, maka barangsiapa melakukan satu amalan dan dia menyekutukan-Ku padanya (dalam amalan itu) dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya bersama amalan syiriknya’.”7

 

Beberapa Untaian Hikmah tentang Ikhlas

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: Diriwayatkan dari Ibnu Abid Dunya dengan sanad yang terputus dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Tidak ada amal bagi orang yang tidak berniat, dan orang yang tidak ikhlas tidak akan mendapatkan ganjaran.”

Beliau (Ibnu Rajab) mengatakan: “Maknanya adalah tidak ada pahala bagi orang yang tidak mengharapkan pahala dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala dalam amalannya.” Dan diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sebuah perkataan tidak akan bermanfaat melainkan bila diamalkan. Dan ucapan dan perbuatan tidak akan bermanfaat melainkan dengan niat. Dan ucapan, amalan dan niat tidak akan bermanfaat melainkan bila sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata: “Belajarlah kalian tentang niat. Karena niat lebih tinggi kedudukannya daripada amal.”

Zubaid Al-Yami rahimahullah berkata: “Sesung-guhnya aku sangat senang mendahulukan niat di dalam segala sesuatu, sampaipun dalam permasalahan makan dan minum.”

Beliau  rahimahullah juga berkata: “Berniatlah kamu dalam segala perkara yang kamu inginkan kebaikan padanya, sampaipun kamu hanya keluar ke tempat sampah.”

Dawud Ath-Tha`i rahimahullah berkata: “Aku melihat semua kebaikan dihimpun dalam kebagusan niat. Dan niat itu cukup sebagai kebaikan, sekalipun kamu tidak mengamalkannya.”

Sufyan At-Tsauri rahimahullah berkata: “Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku obati daripada niat, karena niat tersebut berbolak-balik dalam diriku.”

Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata: “Membersihkan niat dari kerusakan lebih sulit daripada melakukan amalan dengan penuh kesungguhan.” Beliau rahimahullah berkata juga:  “Mengarahkan semuanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala lebih utama dari berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata: “Kebagusan hati adalah karena kebagusan amal, dan kebagusan amal adalah karena kebagusan niat.”

Sebagian ulama salaf berkata: “Barangsiapa ingin disempurnakan nilai amalnya maka hendaklah dia memperbaiki niatnya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala akan mengganjar seorang hamba bila niatnya baik, sampai-pun permasalahan suapan nasi.”

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata: “Betapa seringnya amalan yang kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa seringnya amalan besar menjadi kecil karena niat.”

Ibnu ‘Ajlan rahimahullah berkata: “Sebuah amalan tidak akan menjadi baik melainkan dengan tiga perkara: Taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, niat yang baik, dan sesuai dengan tuntunan.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menginginkan darimu niat dan keinginanmu.” (Lihat Jami’ Ulum wal Hikam, hal. 18)

Kedua: Ibadah tersebut ada tuntunan-nya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sesuai dengan sunnah Nabi.

Syarat kedua ini merupakan implementasi dari syahadat محمدا رسول الله

Kedua syarat ini tidak bisa dipisahkan sebagaimana pula tidak bisa dipisahkan antara persaksian  dengan persaksian  لا إله إلا الله

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa melakukan sebuah ibadah yang tidak ada perintahnya dariku maka amalan tersebut tertolak.”8

 

Niat yang Jelek adalah Perusak Ibadah

Di antara bentuk gambaran niat yang jelek adalah

  1. Riya`

Riya` yaitu memamerkan sebuah amalan dengan tujuan ingin mendapatkan pujian dan sanjungan, ingin mendapatkan pengagungan atau pengakuan dari manusia.

Riya` termasuk syirik kecil bila sedikit, dan akan menjadi syirik besar bila banyak (lihat Syarah Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 2/1712)

“Allah berfirman: ‘Aku tidak butuh kepada sekutu, maka barangsiapa melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku padanya (dalam amalan tersebut) dengan selain-Ku, Aku akan meninggalkannya bersama amalan syiriknya.

2. Sum’ah

Sum’ah adalah memperdengarkan amal kebajikan agar mendapatkan pujian, sanjungan, atau kedudukan di hati manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa memperdengarkan kebaikannya, Allah akan memperdengarkan keburukannya (di dunia dan akhirat) dan barangsiapa yang memamerkan amalannya, Allah akan memamerkan keburukannya (di dunia dan akhirat).”

3.  Berbuat untuk dunia

Hal ini telah ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: “Adapun kesyirikan di dalam keinginan dan niat, bagaikan laut yang tidak bertepi. Sedikit orang yang selamat darinya. Barangsiapa yang beramal namun menginginkan selain wajah Allah subhanahu wa ta’ala, meniatkan sesuatu yang bukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan bukan karena meminta ganjaran dari Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh dia telah melakukan kesyirikan di dalam keinginan dan niatan.

Ikhlas adalah seseorang memurnikan ucapan dan perbuatannya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, keinginan serta niatnya. Inilah agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan seluruh hamba dengannya, dan tidak akan diterima dari siapapun selain agama ini. Dan ini merupakan hakikat Islam, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya):  “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

Inilah agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Barangsiapa membencinya, sungguh dia termasuk orang-orang yang paling bodoh.” (Al-Jawabul Kafi hal. 115, lihat ‘Aqidah At-Tauhid hal. 98)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Beramal karena dunia dan dalam rangka mendapatkan harta benda, maka:

  1. Jika keinginan seorang hamba seluruhnya demi tujuan ini dan tidak ada keinginan untuk mendapat ridha Allah dan akhirat, maka dia tidak akan mendapatkan bagian apapun di akhirat. Amal semacam ini tidak mungkin muncul dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin meskipun lemah imannya, pasti memiliki niat untuk beramal karena Allah dan dalam rangka mendapatkan bagian di akhirat.
  2. Jika seseorang beramal karena Allah dan karena dunia, dan kedua tujuan ini keadaannya sama atau mendekati sama, walaupun ia seorang mukmin, maka ia berada dalam keadaan kurang dalam keimanan, tauhid, dan keikhlasan. Begitu pula amalnya kurang, karena kehilangan kesempurnaan ikhlas.
  3. Seseorang yang beramal karena Allah semata dan keikhlasannya sempurna, namun ia mengambil semacam gaji dari amalan yang ia kerjakan untuk digunakan membantu pekerjaan dan agamanya  seperti seorang mujahid yang mendapat harta rampasan perang maka tidak ada efek negatif bagi iman dan tauhidnya jika ia mengambilnya. Karena ia beramal bukan untuk tujuan dunia, namun ia beramal dalam rangka menegakkan agama. Dan ia bertujuan dengan apa yang dia dapatkan itu untuk membantu tegaknya agama.

Jelasnya, “Tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara.” Ruqyah adalah sebuah ibadah, tidak boleh dijadikan jembatan alternatif mencari nama atau popularitas. Wallahu ta’ala a’lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

————————————————————————————————————————————–

Catatan kaki  :

1 HR. Al-Imam Muslim no. 2699 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

2 HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 1346

3 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 5735 dan Muslim no. 2192

4 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 5739 dan Muslim no. 2197

5 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 6953 dan Al-Imam Muslim no. 1097 dan ini lafadz Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu

6 HR. Al-Imam Muslim no. 2985 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

7 HR. Al-Imam Muslim no. 1718 dari shahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha

8 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 2986, 2987 dari Jundub bin Abdullah radhiallahu ‘anhu

 

 

Thibbun Nabawi Bukan Alternatif

Shahabat yang mulia Abu Sa‘id Al-Khudri rahimahullah berkata:

Sejumlah shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dalam sebuah safar (perjalanan) yang mereka tempuh, hingga mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka kemudian meminta penduduk kampung tersebut agar menjamu mereka, namun penduduk kampung itu menolak.

Tak lama setelah itu, kepala suku dari kampung tersebut tersengat binatang berbisa. Penduduknya pun mengupayakan segala cara pengobatan, namun tidak sedikit pun yang memberikan manfaat untuk kesembuhan pemimpin mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Seandainya kalian mendatangi rombongan yang tadi singgah di tempat kalian, mungkin saja ada di antara mereka punya obat (yang bisa menghilangkan sakit yang diderita pemimpin kita).” Penduduk kampung itu pun mendatangi rombongan shahabat Rasulullah yang tengah beristirahat tersebut, seraya berkata: “Wahai sekelompok orang, pemimpin kami disengat binatang berbisa. Kami telah mengupayakan berbagai cara untuk menyembuhkan sakitnya, namun tidak satu pun yang bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki obat?” Salah seorang shahabat berkata: “Iya, demi Allah, aku bisa meruqyah. Akan tetapi, demi Allah, tadi kami minta dijamu namun kalian enggan untuk menjamu kami. Maka aku tidak akan melakukan ruqyah untuk kalian hingga kalian bersedia memberikan imbalan kepada kami.”

Mereka pun bersepakat untuk memberikan sekawanan kambing2 sebagai upah dari ruqyah yang akan dilakukan. Shahabat itu pun pergi untuk meruqyah pemimpin kampung tersebut. Mulailah ia meniup disertai sedikit meludah dan membaca3: “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” (Surah al-Fatihah). Sampai akhirnya pemimpin tersebut seakan-akan terlepas dari ikatan yang mengekangnya. Ia pun pergi berjalan, tidak ada lagi rasa sakit (yang membuatnya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur).

Penduduk kampung itu lalu memberikan imbalan sebagaimana telah disepakati sebelumnya. Sebagian shahabat berkata: “Bagilah kambing itu.” Namun shahabat yang meruqyah berkata: “Jangan kita lakukan hal itu, sampai kita menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita ceritakan kejadiannya, dan kita tunggu apa yang beliau perintahkan.” Mereka pun menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengisahkan apa yang telah terjadi. Beliau bertanya kepada shahabat yang melakukan ruqyah: “Dari mana engkau tahu bahwa al-Fatihah itu bisa dibaca untuk meruqyah? Kalian benar, bagilah kambing itu dan berikanlah bagian untukku bersama kalian.”

Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya no. 5749, kitab Ath-Thibb, bab An-Nafats fir Ruqyah. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya no. 5697 kitab As-Salam, bab Jawazu Akhdzil Ujrah ‘alar Ruqyah.

Beberapa faedah yang dapat kita ambil dari hadits Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu di atas adalah:

  1. Surah Al-Fatihah mustahab untuk dibacakan kepada orang yang disengat binatang berbisa dan orang sakit.
  2. Boleh mengambil upah dari ruqyah dan upah itu halal.4
  3. Seluruh kambing itu sebenarnya milik orang yang meruqyah adapun yang lainnya tidak memiliki hak, namun dibagi-kannya kepada teman-temannya karena kedermawanan dan kebaikan.
  4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minta bagian dalam rangka lebih menenangkan hati para shahabatnya dan untuk lebih menunjukkan bahwa upah yang didapatkan tersebut halal, tidak mengandung syubhat.

Demikian faedah yang disebutkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (14/410).

 

Pengobatan Nabawiyyah (At-Thibbun Nabawi) Bukan Pengobatan Alternatif

Keberadaan berbagai penyakit termasuk sunnah kauniyyah yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Penyakit-penyakit itu merupakan musibah dan ujian yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala atas hamba-hamba-Nya. Dan sesungguhnya pada musibah itu terdapat kemanfaatan bagi kaum mukminin. Shuhaib Ar-Rumi rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh mengagumkan perkara  seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur. Maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Termasuk keutamaan Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada kaum mukminin, Dia menjadikan sakit yang menimpa seorang mukmin sebagai penghapus dosa dan kesalahan mereka. Sebagaimana tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas‘ud rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggu-gurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)

Di sisi lain, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan penyakit, Dia pun menurunkan obat bersama penyakit itu. Obat itupun menjadi rahmat dan keutamaan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5678)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya.  (Hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya.” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453. Dan hadits ini dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 451)
Jabir radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. Muslim no. 5705)

Al-Qur`anul Karim dan As-Sunnah yang shahihsarat dengan beragam penyembuhan dan obat yang bermanfaat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga mestinya kita tidak terlebih dahulu berpaling dan meninggalkannya untuk beralih kepada pengobatan kimiawi yang ada di masa sekarang ini5. (Shahih Ath-Thibbun Nabawi, hal. 5-6, Abu Anas Majid Al-Bankani Al-‘Iraqi)

Karena itulah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Sungguh para tabib telah sepakat bahwa ketika memung-kinkan pengobatan dengan bahan makanan maka jangan beralih kepada obat-obatan (kimiawi, –pent.). Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana, maka jangan beralih memakai obat yang kompleks. Mereka mengatakan: ‘Setiap penyakit yang bisa ditolak dengan makanan-makanan tertentu dan pencegahan, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan’.”

Ibnul Qayyim juga berkata: “Berpalingnya manusia dari cara pengobatan nubuwwah seperti halnya berpalingnya mereka dari pengobatan dengan al-Qur`an, yang merupakan obat bermanfaat.” (Ath-Thibbun Nabawi, hal. 6, 29)

Dengan demikian, tidak sepantasnya seorang muslim menjadikan pengobatan nabawiyyah sekedar sebagai pengobatan alternatif. Justru sepantasnya dia menjadi-kannya sebagai cara pengobatan yang utama, karena kepastiannya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala lewat lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pengobatan dengan obat-obatan kimiawi kepastiannya tidak seperti kepastian yang didapatkan dengan thibbun nabawi. Pengobatan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diyakini kesembuhannya karena bersumber dari wahyu. Sementara pengobatan dari selain Nabi kebanyakannya dugaan atau dengan pengalaman/ uji coba. (Fathul Bari, 10/210)

Namun tentunya, berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seorang hamba tidak boleh bersandar semata dengan pengobatan tertentu. Dan tidak boleh meyakini bahwa obatlah  yang menyembuhkan sakitnya. Namun seharusnya ia bersandar dan bergantung kepada Dzat yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang hamba hendaknya selalu bersandar kepada-Nya dalam segala keadaannya. Hendaknya ia selalu berdoa memohon kepada-Nya agar menghilangkan segala kemudharatan yang tengah menimpanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ

“Siapakah yang mengijabahi (menjawab/mengabulkan) permintaan orang yang dalam kesempitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah) Dia yang menghilangkan kejelekan?” (an-Naml: 62)

Sungguh tidak ada yang dapat memberikan kesembuhan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala semata. Karena itulah, Nabi Ibrahim u berkata memuji Rabbnya:

 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ ٨٠

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’ara: 80)

 

Contoh Pengobatan Nabawi

Banyak sekali cara pengobatan nabawi. Kami hanya menyebutkan beberapa di antaranya, karena keterbatasan halaman yang ada:

  1. Pengobatan dengan madu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang madu yang keluar dari perut lebah:

يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٞ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٞ لِّلنَّاسِۚ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (an-Nahl: 69)

Madu dapat digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Di antaranya untuk mengobati sakit perut, seperti ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya6.’ Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata:  ‘Minumkan ia madu.’ Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: ‘Minumkan ia madu.’

Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’7 Nabi bersabda: ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta8. Minumkan lagi madu.’ Orang itu meminum-kannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Al-Bukhari no. 5684 dan Muslim no. 5731)

  1. Pengobatan dengan habbahsauda` (jintan hitam, red.)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya habbah sauda` ini merupakan obat dari semua penyakit, kecuali dari penyakit as-samu”. Aku (yakni`Aisyah x) bertanya: “Apakah as-samu itu?” Beliau menjawab: “Kematian.” (HR. Al-Bukhari no. 5687 dan Muslim no. 5727)

  1. Pengobatan dengan susu dan kencing unta

Anas radhiallahu ‘anhu menceritakan: “Ada sekelompok orang ‘Urainah dari penduduk Hijaz menderita sakit (karena kelaparan atau keletihan). Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, berilah tempat kepada kami dan berilah kami makan.’ Ketika telah sehat, mereka berkata: ‘Sesungguhnya udara kota Madinah tidak cocok bagi kami (hingga kami menderita sakit,–pent.).’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menempatkan mereka di Harrah, di dekat tempat pemeliharaan unta-unta beliau (yang berjumlah 3-30 ekor). Beliau berkata: ‘Minumlah dari susu dan kencing unta-unta itu.’9

Tatkala mereka telah sehat, mereka justru membunuh penggembala unta-unta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah sebelumnya mereka mencungkil matanya) dan menggiring unta-unta tersebut (dalam keadaan mereka juga murtad dari Islam,-pent.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengirim utusan untuk mengejar mereka, hingga mereka tertangkap dan diberi hukuman dengan dipotong tangan dan kaki-kaki mereka serta dicungkil mata mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 5685, 5686 dan Muslim no. 4329)

  1. Pengobatan dengan berbekam (hijamah)10

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam pada bagian kepalanya dalam keadaan beliau sebagai muhrim (orang yang berihram) karena sakit pada sebagian kepalanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5701)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Obat/kesembuhan itu (antara lain) dalam tiga (cara pengobatan): minum madu, berbekam dan dengan kay, namun aku melarang umatku dari kay.”11 (HR. Al-Bukhari no. 5680)

 

Ruqyah,Salah Satu Pengobatan Nabawi

Di antara cara pengobatan nabawi yang bermanfaat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala adalah ruqyah yang syar’i, yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Ketahuilah, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Al-Qur`anul Karim sebagai syifa` (obat/penyembuh) sebagaimana firman-Nya:

وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِيّٗا لَّقَالُواْ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥٓۖ ءَا۬عۡجَمِيّٞ وَعَرَبِيّٞۗ قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ

“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur`an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur`an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang yang beriman’. (Fushshilat: 44)

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٢

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an apa yang merupakan syifa` dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-Isra: 82)

Huruf مِنَ dalam ayat di atas untuk menerangkan jenis, bukan menunjukkan tab‘idh (makna sebagian). Karena Al-Qur`an seluruhnya adalah syifa` dan rahmat bagi orang-orang beriman, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya (yaitu surat al-Fushshilat: 44).” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 7)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata ketika memberikan komentar terhadap hadits yang menyebutkan tentang wanita yang menderita ayan (epilepsi): “Dalam hadits ini ada dalil bahwa pengobatan seluruh penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah lebih manjur serta lebih bermanfaat daripada dengan obat-obatan. Pengaruh dan khasiatnya bagi tubuh pun lebih besar daripada pengaruh obat-obatan jasmani.

Namun kemanjurannya hanyalah didapatkan dengan dua perkara:

Pertama: Dari sisi orang yang menderita sakit, yaitu lurus niat/tujuannya.

Kedua: Dari sisi orang yang mengobati, yaitu kekuatan bimbingan/arahan dan kekuatan hatinya dengan takwa dan tawakkal. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari 10/115)

Dalam hadits Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu tentang ruqyah dengan surat al-Fatihah yang dilakukan salah seorang shahabat, benar-benar terlihat pengaruh obat tersebut pada penyakit yang diderita sang pemimpin kampung. Sehingga obat itu mampu menghilangkan penyakit, seakan-akan penyakit tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Cara seperti ini merupakan pengobatan yang paling mudah dan ringan. Seandainya seorang hamba melakukan pengobatan ruqyah dengan membaca al-Fatihah secara bagus, niscaya ia akan melihat pengaruh yang mengagumkan dalam kesembuhan.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Aku pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu dalam keadaan tertimpa berbagai penyakit. Dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan al-Fatihah yang dibaca berulang-ulang pada segelas air zam-zam kemudian meminumnya, hingga aku melihat dalam pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Lalu aku menceritakan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit. Mereka pun melakukan pengobatan dengan al-Fatihah, ternyata kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.”

Subhanallah! Demikian penjelasan dan persaksian Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah terhadap ruqyah serta pengalaman pribadinya berobat dengan membaca al-Fatihah. (Ad-Da`u wad Dawa`  hal. 8, Ath-Thibbun Nabawi hal. 139)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan   berkata: “Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan al-Qur`an sebagai syifa` bagi penyakit-penyakit hissi (yang dapat dirasakan indera) dan maknawi berupa penyakit-penyakit hati dan badan. Namun dengan syarat, peruqyah dan yang diruqyah harus mengikhlaskan niat. Dan masing-masing meyakini bahwa kesembuhan itu datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ruqyah dengan Kalamullah merupakan salah satu di antara sebab-sebab yang bermanfaat.”

 

Beliau juga berkata: “Pengobatan dengan ruqyah al-Qur`an merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amalan salaf. Mereka dahulu mengobati orang yang terkena ‘ain, kesurupan jin, sihir dan seluruh penyakit dengan ruqyah. Mereka meyakini bahwa ruqyah termasuk sarana yang mubah12 lagi bermanfaat, sementara yang menyembuhkan hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala saja.” (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, juz 1, jawaban soal  no. 77)

 

Thibbun Nabawi Memberi Pengaruh bagi Kesembuhan dengan Izin Allah subhanahu wa ta’ala

Mungkin ada di antara kita yang pernah mencoba melakukan pengobatan dengan thibbun nabawi dengan minum madu13 misalnya atau habbahsauda`. Atau dengan ruqyah membaca ayat-ayat al-Qur`an dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak merasakan pengaruh apa-apa. Penyakitnya tak kunjung hilang. Ujung-ujungnya, kita meninggalkan thibbun nabawi karena kurang percaya akan khasiatnya, lalu beralih ke obat-obatan kimiawi. Mengapa demikian? Mengapa kita tidak mendapatkan khasiat sebagaimana yang didapatkan Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah ketika meruqyah dirinya dengan al-Fatihah? Atau seperti yang dilakukan oleh seorang shahabat ketika meruqyah kepala suku yang tersengat binatang berbisa di mana usai pengobatan si kepala suku (pemimpin kampung) sembuh seakan-akan tidak pernah merasakan sakit?

Di antara jawabannya, sebagaimana ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah yang telah lewat, bahwasanya manjurnya ruqyah (pengobatan dengan membaca doa-doa dan ayat-ayat al-Qur`an) hanyalah diperoleh bila terpenuhi dua hal:

Pertama: Dari sisi si penderita, harus lurus dan benar niat/tujuannya.

Kedua: Dari sisi yang mengobati, harus memiliki kekuatan dalam memberi bimbingan/arahan dan kekuatan hati dengan takwa dan tawakkal.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Ada hal yang semestinya dipahami, yakni zikir, ayat, dan doa-doa yang dibacakan sebagai obat dan yang dibaca ketika meruqyah, memang merupakan obat yang bermanfaat. Namun dibutuhkan respon pada tempat, kuatnya semangat dan pengaruh orang yang meruqyah. Bila obat itu tidak memberi pengaruh, hal itu dikarenakan lemahnya pengaruh peruqyah, tidak adanya respon pada tempat terhadap orang yang diruqyah, atau adanya penghalang yang kuat yang mencegah khasiat obat tersebut, sebagaimana hal itu terdapat pada obat dan penyakit hissi.

Tidak adanya pengaruh obat itu bisa jadi karena tidak adanya penerimaan thabi’ah terhadap obat tersebut. Terkadang pula karena adanya penghalang yang kuat yang mencegah bekerjanya obat tersebut. Karena bila thabi’ah mengambil obat dengan penerimaan yang sempurna, niscaya manfaat yang diperoleh tubuh dari obat itu sesuai dengan penerimaan tersebut.

Demikian pula hati. Bila hati mengambil ruqyah dan doa-doa perlindungan dengan penerimaan yang sempurna, bersamaan dengan orang yang meruqyah memiliki semangat yang berpengaruh, niscaya ruqyah tersebut lebih berpengaruh dalam menghilangkan penyakit.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 8)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, terkadang sebagian orang yang menggunakan thibbun nabawi tidak mendapatkan kesembuhan. Yang demikian itu karena adanya penghalang pada diri orang yang menggunakan pengobatan tersebut. Penghalang itu berupa lemahnya keyakinan akan kesembuhan yang diperoleh dengan obat tersebut, dan lemahnya penerimaan terhadap obat tersebut.

Contoh yang paling tampak/jelas dalam hal ini adalah al-Qur`an, yang merupakan obat penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada. Meskipun demikian, ternyata sebagian manusia tidak mendapatkan kesembuhan atas penyakit yang ada dalam dadanya. (Hal ini tentunya terjadi,-pent.) karena kurangnya keyakinan dan penerimaannya. Bahkan bagi orang munafik, tidak menambah kecuali kotoran di atas kotoran yang telah ada pada dirinya, dan menambah sakit di atas sakit yang ada.

Dengan demikian thibbun nabawi tidak cocok/pantas kecuali bagi tubuh-tubuh yang baik, sebagaimana kesembuhan dengan al-Qur`an tidak cocok kecuali bagi hati-hati yang baik. (Fathul Bari, 10/210)

Tentunya perlu diketahui bahwa kesembuhan itu merupakan perkara yang ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala. Dia Yang Maha Kuasa sebagai Dzat yang memberikan kesembuhan  terkadang menunda pemberian kesembuhan tersebut, walaupun si hamba telah menempuh sebab-sebab kesembuhan. Dia menundanya hingga waktu yang ditetapkan hilangnya penyakit tersebut dengan hikmah-Nya.

Yang jelas kesembuhan dapat diperoleh dengan obat-obatan jika dikonsumsi secara tepat, sebagaimana  rasa lapar dapat hilang dengan makan dan rasa haus dapat hilang dengan minum. Jadi secara umum obat itu akan bermanfaat. Namun terkadang kemanfaatan itu luput diperoleh karena adanya penghalang. (Fathul Bari, 10/210)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 ———————————————————————————————————————————–

Catatan kaki

1Rahthun adalah kelompok yang terdiri dari 3 sampai 10 orang

2 Qathi’, kata ahli bahasa, umumnya digunakan untuk jumlah antara 10 sampai 40. Ada pula yang berpendapat 15 sampai 25. Namun yang dimaukan dalam hadits ini adalah 30 ekor kambing sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Al-A‘masy. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 14/409, Fathul Bari 4/576)

3 Ibnu Abi Hamzah berkata: “Saat meniup disertai meludah kecil dalam meruqyah adalah setelah qira`ah, agar diperoleh barakah qira`ah pada anggota badan yang diusapkan ludah di atasnya.” (Fathul Bari, 4/576)

4 Tentang mengambil upah dalam ruqyah, bisa dilihat lebih lanjut pembahasannya dalam rubrik Kajian Utama.

5 Namun bukan berarti di sini kita mengharamkan pengobatan kimiawi, selama hal tersebut dibolehkan dan jelas kehalalannya.

6 Dalam lafadz lain, disebutkan orang itu berkata: Makna  ( ) adalah banyak yang keluar dari isi perutnya yakni mencret/ diare. (Fathul Bari, 10/208)

7 Sebagaimana dalam riwayat Muslim, orang itu berkata:  “Aku telah meminumkannya madu namun tidak menambah bagi dia kecuali mencret.”

8 Maknanya, perutnya tidak pantas untuk menerima obat bahkan menolaknya. Di sini juga ada isyarat bahwa madu itu adalah obat yang bermanfaat. Adapun jika penyakit tetap ada dan tidak hilang setelah minum madu, bukan karena jeleknya madu, namun karena banyaknya unsur yang rusak dalam tubuh. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mengulang minum madu. (Fathul Bari, 10/209, 210)

9 Kencing unta bermanfaat khususnya untuk penyakit gangguan perut/pencernaan, sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Ibnul Mundzir dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’. (Fathul Bari, 10/177)

10 Dengan cara mengeluarkan darah kotor (darah penyakit) pada bagian tubuh tertentu.
11 Kay adalah pengobatan dengan cara menempelkan sambil menekan (mencobloskan) besi panas yang membara pada bagian tubuh yang sakit.

12 Dan kebolehan di sini adalah bagi orang yang tidak meminta agar dirinya diruqyah, juga karena hukum permasalahan ini ada pembahasan sendiri.

13 Dalam hadits yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan orang yang sakit perut untuk minum madu. Pada awalnya, madu yang diminumnya tidak menghentikan penyakit yang diderita karena obat harus memiliki kadar yang seimbang dengan penyakit. Bila obatnya kurang maka tidak menghilangkan penyakit secara keseluruhan, namun bila dosisnya berlebih malah melemahkan kekuatan dan menimbulkan kemudharatan lainnya. (Fathul Bari, 10/210)