Berdoa Ketika Lapang

Adh-Dhahhak bin Qais rahimahullah berkata, “Ingatlah Allah dalam keadaan senang, Dia akan mengingat kalian dalam keadaan susah. Sungguh, Yunus ‘alaihissalam dahulu berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika beliau masuk ke dalam perut ikan, Allah ‘azza wa jalla berfirman:

   فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ١٤٣  لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤٤

“Kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (ash-Shaffat: 143—144)

Di sisi lain, Fir’aun adalah orang yang melampaui batas dan melupakan zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika akan tenggelam, ia berkata, “Aku beriman.” Allah subhanahu wa ta’ala pun berfirman:

ءَآلۡـَٰٔنَ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٩١

“Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?!” (Yunus: 91)

 

(Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 254)

Ketika Menjenguk Orang Sakit

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menjenguk seorang A’rabi (penduduk pedalaman). Dahulu ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menjenguk seseorang, beliau mengatakan:

لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Tidak mengapa, insya Allah menjadi penyuci.” (HR. al-Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Jibril menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَال: بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ

“Wahai Muhammad, engkau sakit?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Jibril lalu berkata:

بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ

“Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala yang menyakitimu, dari kejelekan setiap jiwa atau ‘ain (pandangan mata yang jahat) yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku menruqyahmu.” (HR. Muslim)

Kurma Tak Sekedar Hidangan Berbuka Puasa

Kurma tak semata hidangan buka puasa. Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari buah yang mudah dijumpai karena tak mengenal musim ini. Kandungan kaliumnya yang tinggi, menjadikan kurma ampuh untuk mencegah stroke.

Lanjutkan membaca Kurma Tak Sekedar Hidangan Berbuka Puasa

Orang-orang Yang Tidak Wajib Berpuasa

Islam adalah agama yang sempurna dan mudah. Meski puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap muslim, namun dalam keadaan tertentu seseorang diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Berikut penjelasan tentang siapa saja yang dibolehkan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan.

Lanjutkan membaca Orang-orang Yang Tidak Wajib Berpuasa

Keutamaan Malam Seribu Bulan

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah k menamainya dengan Lailatul Qadar, menurut sebagian pendapat, karena pada malam itu Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan ajal, rezeki, dan apa yang terjadi selama satu tahun dari aturan-aturan Allah subhanahu wa ta’ala. Lanjutkan membaca Keutamaan Malam Seribu Bulan

Sahur dan Berbuka

Salah satu kebahagiaan yang dirasakan orang berpuasa adalah saat tiba waktu berbuka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa umatnya senantiasa dalam kebaikan selama mereka selalu menyegerakan berbuka. Sementara untuk makan sahur, yang dianjurkan adalah mengakhirkannya.

Lanjutkan membaca Sahur dan Berbuka

Jima’ Saat Puasa Ramadhan

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَ: هَلَكْتُ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: وَمَا أَهْلَكَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ. قَالَ: هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَينِ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟ قَالَ: لاَ. قَال: ثُمَّ جَلَسَ، فَأَتَى النَّبِيُّ بِعِرْقٍ فِيْهِ تَمْرٌ فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهَذَا. قَالَ: عَلَى أَفْقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا. فَضَحِكَ النَّبِيُّ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

Datang seseorang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah binasa!”

Rasulullah bertanya, “Apa yang membinasakanmu?”

Orang itu menjawab, “Aku telah menggauli (berjima’, pen.) istriku di siang Ramadhan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan, “Mampukah engkau untuk memerdekakan budak?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau memberi makan 60 orang miskin?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Kemudian ia pun duduk dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi satu wadah kurma (sebanyak 60 mud, pen.) dan beliau berkata, “Shadaqahkan ini.”

Orang itu bertanya, “Kepada yang lebih fakir dari kami? Sungguh di Kota Madinah ini tiada yang lebih membutuhkan kurma ini daripada kami.”

Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pulanglah dan berikan ini kepada keluargamu.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dalam Kutubus Sittah selain an-Nasa’i (al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah), dari jalan az-Zuhri Muhammad bin Muslim, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Dari az-Zuhri diriwayatkan dari sembilan jalan:

  1. Ibrahim bin Sa’d diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan Musa bin Ismail (lihat Fathul Bari, 10/519) dan Ahmad bin Yunus (al-Fath, 9/423).
  2. Sufyan bin ‘Uyainah diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan Ali bin Abdullah (al-Fath, 11/604) dan al-Qa’nabi (al-Fath, 11/605). Muslim dari jalan Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb, dan Ibnu Numair (7/224). Abu Dawud dari jalan Musaddad dan Muhammad bin ‘Isa (‘Aunul Ma’bud, 7/15), sementara at-Tirmidzi dari jalan Nasr bin ‘Ali dan Abu ‘Ammar al-Husain bin Huraits dan beliau menyatakan, “Hasan sahih.” (al-‘Aridhah, 3/198). Juga Ibnu Majah dari jalan Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah (2/312).
  3. Syu’aib bin Abi Hamzah diriwayatkan Bukhari dari jalan Abul Yaman (al-Fath, 4/193).
  4. Manshur diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan ‘Utsman dari Jarir (al-Fath, 4/204), sementara Muslim dari jalan Ishaq bin Ibrahim dari Jarir (7/226).
  5. Al-Laits diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan Qutaibah (al-Fath, 5/264), sementara Muslim dari jalan Yahya bin Yahya, Qutaibah, dan Muhammad bin Rumh (7/226)
  6. Ma’mar diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan Muhammad bin Mahbub dari Abdul Wahid (11/604), sementara Muslim dari jalan ‘Abd bin Humaid dari Abdurrazzaq (7/227), sementara Abu Dawud dari jalan al-Hasan bin ‘Ali dari Abdurrazzaq (‘Aunul Ma’bud, 7/16)
  7. Al-Auza’i diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan Muhammad bin Muqatil dari Abdullah (10/568).
  8. Ibnu Juraij diriwayatkan Muslim dari jalan Muhammad bin Rafi’ dari Abdurrazzaq (7/227).
  9. Malik diriwayatkan Abu Dawud dari jalan al-Qa’nabi (‘Aunul Ma’bud, 7/18).

 

Hadits ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha

Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha semakna dengan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, dan dalam Kutubus Sittah selain an-Nasa’i, diriwayatkan dari jalan Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair dari ‘Abad bin Abdullah bin az-Zubair dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Dari Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair diriwayatkan dari dua jalan:

  1. Abdurrahman bin Harits, diriwayatkan oleh Abu Dawud dari jalan Muhammad bin Auf dari Sa’id bin Abi Maryam dari Abdurrahman bin Abi Zinad dari Abdurrahman bin al-Harits. Dia berkata,

فَيَأْتِي بِعِرْقٍ فِيْهِ عِشْرُونَ صَاعًا

“Beliau membawa satu wadah berisi 20 sha’.” (al-‘Aun, 7/20)

  1. Abdurrahman bin Qasim dan darinya diriwayatkan dari dua jalan:

a). ‘Amr bin Harits, diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dari al-Laits (al-Fath, 12/134) dan disebutkan secara maushul oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta’liq (5/237). Sementara Muslim dari jalan Abu Thahir bin Sarh dari Ibn Wahb (7/229), dan Abu Dawud dari jalan Sulaiman bin Dawud al-Mahri dari Ibn Wahb (al-‘Aun, 7/20)

b). Yahya bin Sa’id diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan Abdullah bin Numair dari Yazid bin Harun (al-Fath, 4/190), sementara Muslim dari jalan Muhammad bin Rumh dari al-Laits (7/228) dan dari Muhammad bin Mutsanna dari Abdul Wahhab ats-Tsaqafi (7/228).

 

Fiqhul (Kandungan) Hadits

  1. Orang yang disebut dalam riwayat di atas adalah Salamah bin Shakhr al-Bayadhi, sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah, juga oleh Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid, dan Ibnu Mulaqqin dalam al-I’lam.
  2. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas dikeluarkan al-Bukhari dalam Shahih-nya pada bab Idza Jama’a fi Ramadhan

Menurut al-Hafizh, yang dimaksud adalah orang tersebut telah melakukan jima’ di siang hari pada bulan Ramadhan dengan sengaja dan tahu keharamannya sehingga ia wajib membayar kaffarah.

Al-Imam al-Bukhari dalam bab yang sama juga membawakan riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan sighah tamridh:

وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ: مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ. وَبِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ

Disebutkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu secara marfu’, “Barang siapa yang berbuka di bulan Ramadhan tanpa sebab dan bukan karena sakit maka ia tidak bisa membayarnya dengan puasa selamanya kalaupun ia lakukan.” Demikian pula yang dikatakan Ibnu Mas’ud.

Al-Hafizh berkata, “Riwayat di atas disebutkan secara maushul oleh Abu Dawud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dalam Sunan mereka serta disahihkan Ibnu Hazm dari jalan Sufyan ats-Tsauri dan Syu’bah, keduanya dari Habib bin Abi Tsabit dari ‘Ammarah bin Umair dari Abul Muthawwas dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mirip dengan riwayat di atas. Dalam riwayat Syu’bah dengan lafadz:

فِي غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللهُ تَعَالَى لَهُ لَمْ يُقْضَ عَنْهُ وَإِنْ صَامَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“… Tanpa rukhshah yang Allah berikan baginya maka ia tidak akan bisa membayarnya walaupun ia puasa sepanjang masa.”

  1. Lafadz yang dimaksud adalah “Aku terjatuh pada dosa”, karena melakukan hal terlarang yang diharamkan ketika puasa yaitu jima’. Dalam riwayat Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan lafadz, “Aku telah terbakar”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Mengapa?” Jawabnya, “Karena aku menggauli istriku di siang hari bulan Ramadhan.”
  2. Hadits ini menunjukkan wajibnya bertanya tentang hukum syariat dari apa yang dilakukan orang ketika menyelisihi syariat serta kekhawatiran akan dampak/bahayanya dosa.
  3. Juga menunjukkan bolehnya mengungkap maksiat bagi orang yang ingin membersihkan dirinya dari dosa dan akibat dosa tersebut.
  4. Pelajaran adab agar seseorang menggunakan kata kiasan dalam hal-hal yang tidak pantas disampaikan seperti penggunaan kata muwaqa’ah atau ishabah sebagai isyarat dari jima’.
  5. Hadits ini pula menunjukkan wajibnya membayar kaffarah bagi orang yang berjima’ dengan sengaja. Ini merupakan mazhab seluruh ulama kecuali yang menyelisihinya dengan pernyataannya tidak wajib membayar kaffarah, demikian diriwayatkan dari asy-Sya’bi dan beberapa ulama lainnya. Hal ini mereka kiaskan dengan shalat karena tidak ada kaffarah bagi yang merusaknya. Namun kias ini tidak berguna dengan adanya nash, selain juga karena perbedaan yang jelas yang tidak ada celah bagi harta untuk mengganti shalat. Berbeda dengan puasa, buktinya orang tua yang lemah dan lainnya yang tidak mampu puasa (menggantinya dengan harta, red.).

Mungkin mereka akan mengatakan, bila kaffarah itu memang wajib maka tidak akan gugur karena ketidakmampuan. Pernyataan ini pun lemah. Karena justru gugurnya kewajiban membayar kaffarah menunjukkan bahwa kaffarah itu wajib. Karena kalau tidak demikian (yaitu tidak wajib, red.) tidak akan dinyatakan gugur hukumnya.

  1. Jika seseorang melakukan jima’ di siang hari Ramadhan karena lupa, apakah puasanya batal sekaligus berkewajiban bayar kaffarah? Dalam masalah ini ada tiga pendapat ulama. Yang benar adalah dalam mazhab asy-Syafi’i bahwa puasanya tidak batal dan tidak wajib pula membayar kaffarah.
  2. Urutan/tingkatan pembayaran kaffarah dalam hadits yaitu memerdekakan budak, puasa dua bulan berturut-turut, dan memberi makan enam puluh orang miskin. Susunan ini dilakukan secara berurutan, tidak dengan pilihan secara bebas. Demikian menurut pendapat mayoritas ulama.
  3. Hadits ini juga menunjukkan bahwa jima’ antara suami istri hanya terkena satu kaffarah, di mana tidak disebutkan dalam riwayat di atas kewajiban kaffarah atas si istri. Demikian pendapat terbenar bagi al-Imam asy-Syafi’i, juga mazhab Dawud dan Dzahiri. Sementara ulama lain membedakan antara istri yang dipaksa melakukan jima’—dia tidak berkewajiban bayar kaffarah—dengan istri yang melakukan jima’ dengan kesadaran—wajib membayar kaffarah—. Demikian mazhab Malik, al-Imam Ahmad, dan Hanafiyyah. Ada pula di kalangan ulama yang menyamakan antara istri yang dipaksa maupun tidak, tetap berkewajiban bayar kaffarah, yaitu al-Imam al-Auza’i rahimahullah.
  4. Mazhab jumhur ulama menyebutkan bahwa puasa kaffarah ini dilakukan dua bulan dengan syarat berturut-turut.
  5. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَك

“Pergi dan berikan ini kepada keluargamu.”

Artinya yang paling benar menurut Ibnul ‘Arabi, al-Baghawi, Ibnu Abdil Bar, dan Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahumullah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan shadaqah itu kepada orang tersebut untuk dibagikan kepada keluarganya karena kefakirannya, sementara kewajiban kaffarah tetap dalam tanggungannya dan harus ia bayar ketika mampu. Ini adalah mazhab Malik bin Anas radhiallahu ‘anhu.

Oleh sebab itu al-Bukhari memberi judul bab:

إِذَا جَامَعَ وَلَـمْ يَكُنْ لَهُ شَيْءٌ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهِ فَلْيُكَفِّر

Jika berjima’ dan tidak memiliki sesuatu kemudian mendapat shadaqah maka hendaknya ia membayar kaffarah.

Kata al-Hafizh rahimahullah, ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan seseorang tidaklah menggugurkan kewajiban membayar kaffarah, namun hal itu tetap menjadi tanggungannya. (al-Fath, 4/204)

  1. Hadits di atas juga mengajarkan berlemah-lembut kepada orang yang belajar dan memberi pengajaran dengan cara lunak. Juga mengambil simpati orang dalam agama.
  2. Hadits itu juga mengajarkan penyesalan dari perbuatan maksiat dan merasa takut dari akibat buruknya.
  3. Bolehnya duduk di masjid untuk selain shalat tapi untuk kemaslahatan lainnya seperti belajar dan mengajar.
  4. Bolehnya tertawa ketika ada sebabnya.
  5. Diterimanya berita dari seseorang berkaitan dengan hal pribadinya yang tidak diketahui kecuali dari dirinya.
  6. Ta’awun dalam ibadah dan membantu seorang muslim dalam hajatnya.
  7. Orang yang mudhthar (sangat butuh pada apa yang ia miliki) tidak berkewajiban untuk memberikan itu atau sebagiannya pada orang mudhthar lainnya.
  8. Jumhur ulama berpendapat wajibnya membayar puasa (mengqadha) bagi yang merusak puasanya dengan jima’, dengan alasan puasa yang diwajibkan atasnya belum ia tunaikan (karena batal disebabkan jima’), maka (puasa itu masih) menjadi tanggungannya. Sama dengan shalat dan lainnya ketika belum ia lakukan dengan syarat-syaratnya.

Namun sebagian ulama menyatakan tidak wajib lagi puasa atasnya karena telah tertutupi dengan kaffarah. Juga karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak memerintahkan puasa kepadanya.

Ada pula yang menyatakan bila dia tunaikan kaffarah dengan puasa maka telah terbayar utang puasanya. Tetapi bila tidak, tetap harus dia bayar karena jenis amalannya berbeda. Demikian pendapat al-Auza’i.

Termasuk yang menguatkan pendapat yang mewajibkan membayar puasa bersama dengan kaffarah adalah lafadz, “Dan puasalah sehari sebagai gantinya” dalam riwayat Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. Juga disebutkan pada hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari jalan Abu Uwais, Abdul Jabbar, dan Hisyam bin Sa’d, semuanya dari az-Zuhri, juga dalam mursal Sa’id bin Musayyib, Nafi bin Jubair, Hasan, dan Muhammad bin Ka’b. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dari keseluruhan jalan di atas diketahui bahwa tambahan perintah untuk membayar puasa memiliki asal (ada benarnya).” (al-Fath, 4/204)

  1. Hadits dan atsar ini menurut Ibnu Hajar rahimahullah sengaja dibawakan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah untuk menunjukkan bahwa kewajiban membayar kaffarah diperselisihkan oleh salaf, dan bahwa yang membatalkan puasa dengan jima’, wajib membayar kaffarah. Sementara, beliau mengisyaratkan kelemahan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan sighah tamridh (bentuk pasif). Kalaupun sahih, maka isinya menguatkan pendapat yang tidak mewajibkan qadha (membayar puasa) bagi yang membatalkan puasanya dengan makan. Tetapi tetap hal itu menjadi tanggungannya sebagai tambahan balasan baginya. Karena dengan diqadha berarti terhapus dosa darinya, namun bukan berarti dengan tidak bisa diqadha berarti gugur pula kewajiban membayar kaffarah pada sebab yang disebutkan yaitu jima’. Pembatalan karena jima’ jelas berbeda dengan pembatalan karena makan.
  2. Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang menyampaikan udzur yang dengannya gugur suatu hukum atau berhak dengannya mengambil sesuatu, maka keterangannya diterima dan tidak dibebani untuk mendatangkan bukti. Karena orang ini mengaku bahwa dirinya fakir dan mengaku telah merusak puasanya.
  3. Hadits ini ditulis sebagai sebuah karya tersendiri tentang penjelasan dan keterangannya oleh al-Imam Abdurrahim bin Husain al-‘Iraqi rahimahullah, yang beliau membahas dan meng-istimbath (mengambil kesimpulan hukum) 1.001 masalah dari satu hadits ini. Ini cukup sebagai bantahan terhadap ahlul bid’ah yang menuduh bahwa ulama hadits hanya tersibukkan dengan periwayatan, pembicaraan tentang sanad, al-jarh wat-ta’dil, dan sejenisnya, serta tidak mengerti tentang fiqih hadits.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Usamah Mahri


Sumber Bacaan:

  1. al-I’lam bi Fawa’id ‘Umdatil Ahkam, Ibnul Mulaqqin
  2. Tuhfatul Ahwadzi, Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarakfury
  3. Sunan Ibnu Majah
  4. ‘Aridhatul Ahwadzi, Ibnul ‘Arabi al-Maliki
  5. ‘Aunul Ma’bud, Muhammad Syamsul Haq al-Adzimi Abadi
  6. Fathul Bari, Ibnu Hajar al-’Asqalani
  7. Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi.

Hal-hal yang diprbolehkan Bagi Orang yang Berpuasa

  1. Bersiwak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Jika aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

 

  1. Masuknya waktu fajar dalam keadaan junub

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati waktu fajar dalam keadaan junub setelah (bersetubuh dengan) istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. (Muttafaq ‘alaihi)

 

  1. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung asal tidak berlebihan

Laqith bin Shabirah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَبَالِغْ فِي الْاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung ketika berwudhu) kecuali bila kalian berpuasa.” (HR. Abu Dawud, 1/132, dan at-Tirmidzi, 3/788, an-Nasa’i, 1/66, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

  1. Menggauli istri selain bersetubuh

Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dan beliau berpuasa, menggaulinya (bukan jima’) dan beliau berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)

 

  1. Mencicipi makanan dan menciumnya asal tidak memasukkan ke dalam kerongkongan

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak mengapa seseorang mencicipi cuka atau sesuatu (yang lain) selama tidak masuk kerongkongannya dalam keadaan dia berpuasa.” (Diriwayatkan al-Bukhari secara mu’allaq dan disambung sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi)

 

  1. Mandi di siang hari

Sebagaimana yang terdapat pada kisah junub Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu.

 

Perbuatan yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan

  1. Memperbanyak shadaqah
  2. Memperbanyak bacaan Al-Qur’an, zikir, doa, dan shalat

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari)

  1. Memberikan makan kepada orang yang berbuka puasa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala (yang berpuasa) dalam keadaan tidak mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ahmad, 4/114, at-Tirmidzi, 3/807, Ibnu Majah, 1/1746, ad-Darimi no. 1702, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih at-Tirmidzi).

Wallahul muwaffiq.

 

ditulis oleh al-Ustadz Abu Abdirrahman al-Bugisi

Pembatal Puasa

  1. Makan dan minum dengan sengaja

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِۚ

“Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.” (al-Baqarah: 187)

Namun jika seseorang lupa maka puasanya tidak batal, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Jika ia lupa lalu makan dan minum hendaklah dia sempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. al-Bukhari no. 1831 dan Muslim no. 1155)

2. Keluar darah haid dan nifas

Hal ini sebagaimana dikatakan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Adalah kami mengalami (haid), maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama telah sepakat dalam perkara ini.

 

3. Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan

Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama. Bagi yang melakukannya diharuskan membayar kaffarah yaitu membebaskan budak. Bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan secara terus-menerus. Bila tidak mampu juga maka memberi makan 60 orang miskin. Tidak ada qadha baginya menurut pendapat yang kuat. Hukum ini berlaku secara umum baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Adapun bila seseorang melakukan hubungan suami-istri karena lupa bahwa dia sedang berpuasa, maka pendapat yang kuat dari para ulama adalah puasanya tidak batal, tidak ada qadha, dan tidak pula kaffarah.
Hal ini sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلَا كَفَّارَةَ

“Barang siapa yang berbuka sehari di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada qadha atasnya dan tidak ada kaffarah (baginya).” (HR. al-Baihaqi, 4/229, Ibnu Khuzaimah, 3/1990, ad-Daruquthni, 2/178, Ibnu Hibban, 8/3521, dan al-Hakim, 1/595, dengan sanad yang shahih)

Kata ifthar mencakup makan, minum, dan bersetubuh. Inilah pendapat jumhur ulama dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan asy-Syaukani rahimahumallah.

 

4.Berbekam

Ini termasuk perkara yang membatalkan puasa menurut pendapat yang rajih, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ

“Telah berbuka (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam.” (HR. at-Tirmidzi, 3/774, Abu Dawud, 2/236, 2370—2371, an-Nasa’i, 2/228, Ibnu Majah no. 1679, dan lainnya)

Hadits ini sahih dan diriwayatkan oleh kurang lebih delapan belas sahabat serta disahihkan oleh para ulama seperti al-Imam Ahmad, al-Bukhari, Ibnul Madini, dan yang lainnya. Ini merupakan pendapat al-Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah serta dikuatkan oleh Ibnul Mundzir.

 

Ada beberapa perkara lain yang juga disebutkan sebagian para ulama bahwa hal tersebut termasuk pembatal puasa. Di antaranya:

 

1.Muntah dengan sengaja

Namun yang rajih dari pendapat ulama bahwa muntah tidaklah membatalkan puasa secara mutlak, sengaja atau tidak sengaja. Sebab asal puasa seorang muslim adalah sah, tidaklah sesuatu itu membatalkan kecuali dengan dalil. Adapun hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ذَرَعَهُ الْقُيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

“Barang siapa yang dikalahkan oleh muntahnya maka tidak ada sesuatu atasnya dan barang siapa yang sengaja muntah maka hendaklah dia mengqadha (menggantinya).” (HR. Ahmad, 2/498, at-Tirmidzi, 3/720, Abu Dawud, no. 2376 dan 2380, Ibnu Majah no. 1676)

Hadits ini dilemahkan oleh para ulama, di antaranya al-Bukhari dan Ahmad. Juga dilemahkan oleh asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahumullah.
Namun jika muntah tersebut keluar lalu dia sengaja memasukkannya kembali maka hal ini membatalkan puasanya.

 

2.Menggunakan cairan pengganti makanan seperti infus

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama dan yang rajih bahwa suntikan terbagi menjadi dua bagian:

  1. Suntikan yang kedudukannya sebagai pengganti makanan, maka hal ini membatalkan puasanya. Sebab bila didapatkan sesuatu yang termasuk dalam penggambaran yang sama dengan nash-nash syariat maka dihukumi sama seperti yang terdapat dalam nash.
  2. Suntikan yang tidak berkedudukan sebagai pengganti makanan, maka hal ini tidaklah membatalkan puasa. Sebab gambarannya tidak seperti yang terdapat dalam nash baik lafadz maupun makna. Tidak dikatakan makan dan tidak pula minum, serta tidak pula termasuk dalam makna keduanya. Asalnya adalah sahnya puasa seorang muslim sampai meyakinkan pembatalnya berdasarkan dalil yang syar’i. (lihat fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa Islamiyyah, 2/130, fatwa asy-Syaikh Bin Baz dalam Fatawa Ramadhan, 2/485, Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah, 2/486, dan fatwa Syaikhul Islam rahimahumullah dalam Haqiqatu ash-Shiyam, 54—60)

Namun asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menasihatkan bagi orang yang sakit untuk berbuka dan tidak berpuasa, agar tidak terjatuh ke dalam sesuatu yang menimbulkan syubhat. (Min Fatawa ash-Shiyam hlm. 6)

 

3. Onani

Pendapat yang rajih dari pendapat para ulama bahwa onani tidaklah membatalkan puasa, namun termasuk perbuatan dosa yang diharamkan melakukannya, baik ketika berpuasa maupun tidak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyebutkan di antara ciri-ciri orang mukmin:

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧

“Dan (mereka adalah) orang yang memelihara kemaluannya, kecuali kepada istri-istrinya atau budak wanita yang mereka miliki. Maka sesungguhnya (hal itu) tidak tercela. Maka barang siapa yang mencari selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5—7)

ditulis oleh al-Ustadz Abu Abdirrahman al-Bugisi

Adab-adab Berpuasa

Gulai Kambing

Makan Sahur

Orang yang berpuasa sangat dianjurkan untuk makan sahur. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amru bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُورِ

“Perbedaan antara puasa kami dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Dari Salman radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبَرَكَةُ فِي ثَلَاثَةٌ: الْجَمَاعَةُ، وَالثَّرِيدُ، وَالسَّحُورُ

“Berkah ada pada tiga hal: berjamaah, tsarid (roti remas yang direndam dalam kuah), dan makan sahur.” (HR. ath-Thabarani, 6/251, dengan sanad yang hasan dengan penguatnya, lihat Shifat Shaum an-Nabi, hlm. 44)

Disukai untuk mengakhirkan makan sahur, berdasarkan hadits Anas dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau bangkit menuju shalat. Aku (Anas) bertanya, “Berapa jarak antara adzan[1] dan sahur?”

Beliau menjawab, “Kadarnya (seperti orang membaca) 50 ayat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Namun apa yang diistilahkan oleh kebanyakan kaum muslimin dengan istilah imsak yaitu menahan (tidak makan) beberapa saat sebelum adzan Subuh adalah perbuatan bid’ah, karena dalam ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada imsak (menahan diri) kecuali bila adzan fajar dikumandangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَذَّنَ بِلَالٌ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

“Apabila Bilal mengumandangkan adzan (pertama), maka (tetap) makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bahkan bagi orang yang ketika adzan dikumandangkan masih memegang gelas dan semisalnya untuk minum, diberikan rukhshah (keringanan) khusus baginya sehingga dia boleh meminumnya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

Jika salah seorang kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkannya hingga menuntaskan hajatnya dari bejana (tersebut).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud serta dihasankan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih, 2/418—419)

Hukum makan sahur adalah sunnah muakkadah. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Umat ini telah bersepakat bahwa makan sahur hukumnya sunnah, dan tidak ada dosa bagi yang tidak melakukannya, berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah, karena sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dianjurkan makan sahur dengan buah kurma jika ada, boleh pula dengan yang lain, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَ سَحُورِ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

Sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah buah kurma.” (HR. Abu Dawud, 2/2345, dan Ibnu Hibban, 8/3475, al-Baihaqi, 4/236, serta disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Jika seseorang ragu apakah fajar telah terbit atau belum, dibolehkan dia makan dan minum hingga dia yakin bahwa fajar telah terbit. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ

“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar ….” (al-Baqarah: 187)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Pada (ayat ini) terdapat (dalil) bahwa jika (seseorang) makan dan semisalnya dalam keadaan ragu akan terbitnya fajar maka (yang demikian) tidak mengapa.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hlm. 87)

kurma-dalam-mangkuk

Berbuka Puasa

Orang yang berpuasa dianjurkan untuk menyegerakan berbuka jika memang telah masuk waktu berbuka. Tidak boleh menundanya meski ia merasa masih kuat untuk berpuasa. ‘Amr bin Maimun al-Audi rahimahullah meriwayatkan:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ أَعْجَلُ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأُهُمْ سَحُورًا

“Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bersegera berbukanya dan paling lambat sahurnya.” (HR. al-Baihaqi, 4/238, dan al-Hafizh Ibnu Hajar mensahihkan sanadnya)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menyegerakan berbuka puasa (dianjurkan) bila telah terbenam matahari, bukan karena adzan. Namun di waktu sekarang (banyak) manusia menyesuaikan adzan dengan jam-jam mereka. Maka bila matahari telah terbenam boleh bagi kalian berbuka walaupun muadzdzin belum mengumandangkan adzan.” (asy-Syarh al-Mumti’)

Berbuka puasa dilakukan dalam keadaan ia mengetahui dengan yakin bahwa matahari telah terbenam. Hal ini bisa dilakukan dengan melihat di lautan dan semisalnya. Adapun hanya sekadar menduga dengan kegelapan dan semisalnya, bukanlah dalil atas terbenamnya matahari. Wallahu a’lam.
Menyegerakan buka puasa adalah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ

“Senantiasa umatku berada di atas Sunnahku selama mereka tidak menunggu (munculnya) bintang ketika hendak berbuka.” (HR. al-Hakim, 1/599, Ibnu Hibban, 8/3510, dengan sanad yang sahih. Lihat Shifat Shaum an-Nabi hlm. 63)

Menyegerakan berbuka puasa akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Seperti yang diriwayatkan Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan buka puasa.” (HR. al-Bukhari, 2/1856, dan Muslim, 2/1098)

Menyegerakan berbuka puasa juga merupakan perbuatan menyelisihi Yahudi dan Nasrani. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لِأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ

“Senantiasa agama ini tampak jelas selama manusia menyegerakan buka puasa karena Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” (HR. Abu Dawud, 2/2353, Ibnu Majah, 1/1698, an-Nasai dalam al-Kubra, 2/253, dan Ibnu Hibban, 8/3503, dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Selain itu, bersegera dalam berbuka puasa termasuk akhlak kenabian. Sebagaimana dikatakan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

ثَلَاثٌ مِنْ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ: تَعْجِيلُ الْإِفْطَارِ، وَتَأْخِيرُ السَّحُورِ، وَوَضْعِ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ

“Tiga hal dari akhlak kenabian: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. ad-Daruquthni, 1/284, dan al-Baihaqi, 2/29)

Orang harus berbuka puasa lebih dahulu sebelum shalat Maghrib, berdasarkan hadits Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa sebelum shalat (Maghrib). Dan makanan yang paling dianjurkan untuk berbuka puasa adalah kurma. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فَتُمَيْرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat (Maghrib). Bila tidak ada ruthab maka dengan tamr (kurma kering). Bila tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud, 2/2356, at-Tirmidzi, 3/696, ad-Daruquthni, 2/185, dengan sanad yang sahih, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Jangan lupa, berdoa sebelum berbuka puasa dengan doa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala insya Allah Ta’ala.” (HR. Abu Dawud, 2/306 no. 2357, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, 2/255, ad-Daruquthni, 2/185, dan al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Orang yang menjalankan ibadah puasa diharuskan menjauhkan perkataan dusta sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka tidak ada keinginan Allah pada puasanya.” (HR. al-Bukhari no. 1804)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Abdirrahman al-Bugisi


[1] Yang dimaksud adalah iqamat, karena terkadang iqamah disebut adzan, wallahu a’lam. Yang dimaksud dengan sahur adalah akhir waktu sahur yaitu ketika masuk waktu subuh, sebagaimana akan lebih jelas dalam “Sahur dan Berbuka”.

Hukum Ringkas Puasa Ramadhan

Saat Ramadhan tiba, kaum muslimin menyambutnya dengan gembira. Di antara mereka, ada yang menggelar berbagai acara. Tak jarang, acara-acara itu justru melanggar syariat. Persiapan paling baik yang dilakukan saat memasuki Ramadhan adalah mempelajari berbagai hal berkaitan dengan ibadah di dalamnya. Tentu agar ibadah yang akan dilakukan bisa lebih bermakna. Lanjutkan membaca Hukum Ringkas Puasa Ramadhan

Penentuan Awal Bulan Hijriah

Beberapa tahun terakhir, kaum muslimin di Indonesia mengalami perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan. Akibatnya, umat yang awam banyak dibuat bingung. Yang lebih buruk, perbedaan tersebut bisa memicu perpecahan di antara kaum muslimin. Bagaimana sebenarnya tuntunan syariat dalam menentukan awal bulan Hijriyah, lebih khusus Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah?

Lanjutkan membaca Penentuan Awal Bulan Hijriah

Meneropong Ilmu Hisab

Tak sedikit orang yang menggunakan ilmu hisab untuk menentukan awal bulan Ramadhan (Hijriyah). Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ilmu hisab sudah ada dan digunakan oleh orang-orang Romawi, Persia, dan Arab. Tapi mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan ilmu hisab untuk menentukan awal bulan dan lebih memilih dengan cara melihat hilal? Lanjutkan membaca Meneropong Ilmu Hisab

Berenang di Samudra Ilmu Ibnu Taimiyah

Menyelami karya-karya Ibnu Taimiyah, seorang alim Ahlus Sunnah dalam seluruh cabang keilmuan, ibarat berenang di samudra yang dalam tak bertepi. Fatwa-fatwa dan bukunya menjadi rujukan para pencari ilmu dan ulama yang sezaman maupun yang setelahnya hingga sekarang. Beliau diakui sebagai ahli dalam ilmu tafsir, hadits, bahasa Arab, akhlak, etika, hati, fiqih, ra’yu (akal), siyasah syar’iyyah, dan ilmu-ilmu lainnya. Bahkan ilmu-ilmu pengetahuan alam dan manusia pun beliau kuasai dengan baik. Lanjutkan membaca Berenang di Samudra Ilmu Ibnu Taimiyah

Lidah Tak Bertulang

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang demikian besar. Ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Lanjutkan membaca Lidah Tak Bertulang

Arti Sebuah Cinta

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Namun cinta apakah yang paling tinggi dan mulia?

Lanjutkan membaca Arti Sebuah Cinta