Hukum Wanita yang Ditalak

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa talak ada dua macam: talak raj’i dan talak ba’in. Berikut keterangan hukum masing-masing dari wanita yang ditalak raj’i dan yang ditalak ba’in.

Wanita yang Ditalak Raj’i
Wanita yang ditalak raj’i masih berlaku hukum-hukum istri atasnya.
Dalilnya adalah firman Allah l:
“Dan suami-suaminya lebih berhak merujuknya dalam masa ‘iddah itu, jika mereka (para suami) menghendaki perbaikan.” (al-Baqarah: 228)
Pada ayat ini, Allah l menamakan suami yang telah menalak istrinya dengan talak raj’i sebagai suami yang berhak merujuknya. Ini menunjukkan bahwa wanita yang ditalak raj’i adalah istri yang berlaku atasnya hukum-hukum istri yang tidak ditalak.
Begitu pula, Allah l berfirman:
“Janganlah kalian keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar melainkan jika mereka melakukan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kalian tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru1.” (ath-Thalaq: 1)
Pada ayat ini, Allah l memerintahkan agar istri yang ditalak tetap tinggal bersama suaminya di rumah yang ditinggalinya dan Allah l menisbahkan rumah itu kepadanya sebagai rumahnya. Ini menunjukkan bahwa ia masih istrinya, karena seandainya tidak demikian, tentulah ia tidak boleh lagi tinggal bersamanya, dan rumah suaminya bukan lagi rumahnya.
Selama masa ‘iddah, istri yang ditalak raj’i berhak mendapat nafkah dan tempat tinggal. Wajib baginya tinggal di rumah yang ditinggalinya bersama suaminya dan makan apa yang dimakan suaminya sebagaimana layaknya istri. Wajib baginya menaati suaminya pada batas-batas yang ma’ruf dan tidak boleh keluar rumah untuk suatu hajat tanpa seizin suaminya. Halal baginya membuka auratnya di hadapan suaminya, berkhalwat dengannya, berdandan untuknya, bercanda dengannya, tertawa dengannya, safar bersamanya, dan seluruh perkara yang berlaku antara suami istri masih berlaku pada istri yang ditalak raj’i. Oleh karena itu, suaminya berhak merujuknya kapan saja ia mau tanpa dipersyaratkan adanya kerelaan istri, kecuali dalam masalah pembagian jatah gilir pada kehidupan poligami. Istri yang ditalak raj’i tidak punya hak untuk digilir, karena ia telah ditalak.
Demikian pula, suami tidak boleh menggaulinya tanpa niat rujuk, sebagaimana akan diterangkan nanti.

Wanita yang Ditalak Ba’in
Telah lewat keterangan bahwa talak ba’in ada dua jenis:
1. Talak ba’in bainunah shugra’ (perpisahan kecil)
Jenis ini pada wanita yang ditalak sebelum digauli. Artinya, tidak halal baginya untuk merujuknya kecuali dengan akad nikah yang baru. Kapan saja ia mau, maka boleh menikahinya kembali dengan akad baru.

2. Talak ba’in bainunah kubra’ (perpisahan besar)
Jenis ini pada wanita yang ditalak dengan talak tiga. Artinya, tidak halal lagi untuk dinikahinya sampai digauli oleh suami yang lain dengan pernikahan yang sah.2 Jadi, syarat yang harus terpenuhi agar halal kembali untuk dinikahinya adalah:
a. Dinikahi suami yang lain dengan pernikahan yang sah.
Dalilnya adalah firman Allah l:
“Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali.” (al-Baqarah: 229)
“Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga menikah dengan suami yang lain.” (al-Baqarah: 230)
Ayat ini menunjukkan bahwa pernikahan itu harus pernikahan yang sah, karena Allah l menamainya sebagai suami yang lain. Artinya, pernikahan yang sah yang dengannya keduanya menjadi suami istri. Dengan demikian, pernikahan yang tidak sah (fasid atau batil) tidak memenuhi syarat.
Begitu pula, tidaklah memenuhi syarat suatu pernikahan yang bertujuan sekadar untuk menjadikannya halal bagi suami pertamanya, sebagaimana akan diterangkan nanti.
As-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menerangkan, “Dipersyaratkan bahwa suami lain yang menikahinya karena memang menginginkannya. Bila ia menikahinya dengan maksud sekadar menjadikan halal bagi suami pertamanya, sesungguhnya itu bukanlah pernikahan dan tidak bermanfaat menjadikannya halal bagi suami pertamanya.”
Nabi n telah bersabda,
لَعَنَ رَسُولُ اَللَّهِ n اَلْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ.
“Rasulullah n melaknat lelaki yang menikahi wanita yang ditalak tiga untuk menghalalkannya (bagi suami pertamanya) dan yang dihalalkan untuknya (suami pertamanya).” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan lainnya dari Ibnu Mas’ud z, disahihkan oleh al-Albani)3
Keduanya dilaknat, karena kerjasama dalam melakukan dosa. Inilah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in, serta imam-imam Islam setelahnya. Tampak jelas dengan ini, kekeliruan pendapat sekelompok ulama yang membolehkan hal itu dan menganggap pelakunya mendapat pahala karena telah menjadi sebab hilangnya sekian mafsadah dengan menghalalkan kembalinya wanita itu kepada suami pertamanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membantah mereka—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—bahwa perbuatan tersebut termasuk dalam kategori rekayasa terlarang yang bertujuan menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah l.

b. Digauli olehnya.
Dipersyaratkan pula bahwa suami yang lain itu telah menggaulinya.
Sebagian ulama berdalil untuk persyaratan ini dengan ayat ini juga. Namun, Ibnu ‘Utsaimin tidak setuju dengan pendalilan ini. Beliau mengatakan bahwa ayat ini hanya menunjukkan persyaratan telah dinikahi oleh suami yang lain dengan pernikahan yang sah. Adapun persyaratan telah digauli oleh suami yang lain, dalilnya adalah hadits ‘Aisyah x:
أَنَّ امْرَأَةَ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيِّ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ n فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَنِي فَبَتَّ طَلاَقِي، وَإِنِّي نَكَحْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزُّبَيْرِ الْقُرَظِيَّ وَإِنَّمَا مَعَهُ مِثْلُ الْهُدْبَةِ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ n: لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ، لاَ، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ
(Mantan) istri Rifa’ah al-Qurazhi datang menemui Rasulullah n lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Rifa’ah telah menalakku dengan talak selamanya. Aku kemudian menikah setelahnya dengan ‘Abdurrahman bin Zubair al-Qurazhi, tetapi punyanya hanya seperti rumbai kain4.”
Rasulullah n bersabda, “Barangkali kamu ingin kembali kepada Rifa’ah. Tidak boleh, sampai ‘Abdurrahman merasakan nikmatnya senggama denganmu dan kamu merasakan nikmatnya senggama dengannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Cukup dalam hal ini, minimal yang dinamakan jima’, yaitu terbenamnya seluruh kepala zakar ke dalam farji.5 Hal ini tentu ditandai adanya ereksi (syahwat) sehingga kelezatan jima’ dapat dirasakan.
Kasus ‘Abdurrahman bin az-Zubair z menunjukkan syarat ini, karena zakarnya tidak ereksi sehingga tidak diperhitungkan oleh Rasulullah n. Jadi, tidak dipersyaratkan harus senggama secara sempurna. idak dipersyaratkan pula harus terjadi inzal (ejakulasi), karena hal ini tidak terkandung dalam hadits tersebut.
Oleh karena itu, Ibnu ‘Utsaimin, Ibnul Qayyim, dan jumhur (mayoritas) ulama menegaskan bahwa inzal (ejakulasi) bukan syarat.
Wanita yang berpisah dengan suaminya baik dengan bainunah shugra’ (perpisahan kecil)6 maupun bainunah kubra’ (perpisahan besar) statusnya bukan istri lagi. Maka dari itu, di masa ‘iddah tidak boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengannya dan membuka aurat di hadapannya, serta tidak ada hak nafkah dan tempat tinggal baginya kecuali bagi yang hamil (untuk janinnya).

Catatan Kaki:

1 Yaitu keinginan untuk bersatu kembali dengan cara rujuk.

2 Ada yang berpendapat hanya dipersyaratkan pernikahan yang sah tanpa syarat digauli olehnya. Pendapat ini lemah.
3 Diriwayatkan pula dari sahabat yang lain. Lihat kitab al-Irwa’ no. 1897.

4 Maksudnya, syahwatnya lemah sehingga zakarnya tidak ereksi.
5 Jika tidak punya kepala zakar karena putus, cukup terbenamnya seukuran kepala zakar dari zakarnya yang tersisa.
6 Termasuk yang pisah khulu’, baik dikatakan khulu’ itu jatuh sebagai talak atau sebagai fasakh.

Talak Raj’i dan Talak Ba’in

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Kesempatan Menalak Istri yang Telah Digauli Hanya Tiga Kali
Seorang lelaki yang merdeka memiliki kesempatan menalak istrinya yang telah digaulinya tiga kali, baik istrinya wanita merdeka maupun berstatus budak1.
Talak pertama dan talak kedua adalah talak raj’i yang artinya dia punya hak merujuk istrinya pada masa ‘iddah kapan saja dia mau, walaupun istrinya tidak rela dirujuk.
Talak yang ketiga adalah talak ba’in dengan derajat bainunah kubra’ (perpisahan besar)2 yang tidak menyisakan ikatan lagi antara keduanya sedikit pun sejak jatuhnya talak, bahkan tidak bisa menikahinya kembali sampai bekas istrinya itu telah digauli oleh suami yang lain.

Tata Cara Jatuhnya Talak Ba’in (Talak Tiga)
Ibnu Taimiyah berkata—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—, “Caranya, ia menalaknya, kemudian merujuknya dalam masa ‘iddah atau menikahinya seusai masa ‘iddah. Lantas ia menalaknya lagi, kemudian merujuknya atau menikahinya. Lantas ia menalaknya lagi untuk yang ketiga kalinya. Inilah talak yang menjadikan istrinya haram atasnya sampai menikah dengan suami lain dan menggaulinya menurut kesepakatan ulama.”
Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad menukil kesepakatan ulama bahwa bila ia telah menalak istrinya satu atau dua kali kemudian ia menikahinya kembali setelah dinikahi lelaki lain yang tidak menggaulinya, kesempatannya untuk menalak istrinya itu tetap mengikuti hitungan talak sebelumnya. Artinya, kesempatannya tersisa dua kali talak bila ia telah menalaknya satu kali dan tersisa satu kali talak bila ia telah menalaknya dua kali.
Adapun jika ia menikahinya setelah dinikahi lelaki lain yang menggaulinya, di sinilah terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Yang rajih, hitungan talak yang telah jatuh sebelumnya tidak gugur dan kesempatan untuk menalaknya apa yang tersisa dari talak sebelumnya. Ini mazhab Ahmad, asy-Syafi’i, dan Malik, yang dirajihkan Ibnu ‘Utsaimin.
Al-Imam Ahmad menegaskan, “Ini adalah pendapat sahabat besar yang terkemuka.”
Di antara sahabat yang berpendapat demikian adalah Umar bin al-Khaththab z. Ia berkata:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ طَلَّقَهَا زَوْجُهَا تَطْلِيْقَةً أَوْ تَطْلِيْقَتَيْنِ، ثُمَّ تَرَكَهَا حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَيَمُوْتَ عَنْهَا أَوْ يُطَلِّقَهَا، ثُمَّ يَنْكِحُهَا زَوْجُهَا اْلأَوَّلُ فَإِنَّهَا عِنْدَهُ عَلَى مَا بَقِيَ مِنْ طَلاَقِهَا
“Siapa pun wanita yang ditalak suaminya satu atau dua kali, kemudian suaminya membiarkannya sampai dinikahi suami lain, lantas (suami yang baru tersebut) meninggal atau menalaknya, kemudian suami pertamanya menikahinya kembali, wanita itu pun di sisi suaminya tersebut di atas kesempatan talak yang tersisa sebelumnya.” (Riwayat ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya dengan sanad yang sahih)3
Abdurrazzaq juga meriwayatkan atsar yang semisal dari ‘Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’b, dan ‘Imran bin Hushain g pada bab ini.
Menurut Ibnul Qayyim, alasannya adalah bahwa jima’ suami kedua dengan wanita tersebut tidak ada kaitannya dengan talak tiga dari suami pertama—yang berfungsi membuat halalnya kembali wanita tersebut untuk suami pertama. Juga, jima’ suami kedua bukan merupakan syarat halalnya kembali wanita tersebut untuk suami pertama, andai ia menikahinya lagi setelah diceraikan oleh suami yang kedua. Dengan demikian, terjadinya jima’ antara suami kedua dengan wanita tersebut atau tidak adalah sama saja, tidak ada pengaruh bagi suami pertama. Atas dasar itu, suami pertama tetap memberlakukan talak satu dan duanya, serta tidak memulai dengan penghitungan baru.
Ibnu ‘Utsaimin menerangkan pula dalam asy-Syarh al-Mumti’ bahwa yang tampak dari firman Allah l:
“Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali.” (al-Baqarah: 229)
dan ayat berikutnya:
“Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga menikah dengan suami yang lain.” (al-Baqarah: 230)
Sama saja apakah wanita itu telah sempat menikah dengan suami lain (yang menggaulinya)—antara talak kedua dan talak ketiga—atau tidak.
Telah datang hadits marfu’ (sabda Nabi n) yang semakna dengan ini, tetapi hadits itu sangat lemah (dha’if jiddan) dan didha’ifkan oleh Ibnul Qayyim.4

Talak Tiga Tidak Bisa Jatuh Sekaligus
As-Sa’di berkata dalam al-Mukhtarat al-Jaliyyah, “Asy-Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah merajihkan bahwa talak dengan lafadz apa pun jatuhnya hanya satu talak, walaupun diperjelas dengan lafadz talak tiga, talak ba’in, talak battah (selamanya), ataupun yang lainnya. Demikian pula, talak yang kedua tidak akan jatuh melainkan setelah terjadi rujuk yang benar. Ibnu Taimiyah mendukung pendapat ini dengan tinjauan dari banyak sisi. Siapa pun yang melihat keterangannya, tidak mungkin (ada alasan) baginya untuk menyelisihinya.”
Jadi, tidak ada sama sekali talak tiga ataupun talak dua selain yang dijatuhkan secara bertahap, yang diselingi dengan terjadinya rujuk atau pernikahan baru.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnul Qayyim, ash-Shan’ani, asy-Syaukani, al-Albani, al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai oleh Ibnu Baz), Ibnu ‘Utsaimin, dan guru besar kami al-Wadi’i.
Di antara dalil-dalilnya adalah:
1. Allah l tidak mensyariatkan dijatuhkannya talak tiga sekaligus tanpa melalui tahapan, karena Allah l berfirman:
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al-Baqarah: 229)
Tidak ada makna lain dari ayat ini yang dipahami oleh bangsa Arab selain bahwa dua talak tersebut jatuhnya secara bertahap. Jika dia berkata,
– “Aku menalakmu dua kali atau tiga kali.”
– “Aku menalakmu, aku menalakmu, aku menalakmu”
atau semisalnya, tidaklah ia dianggap menalaknya lebih dari satu kali.

2. Hadits Ibnu ‘Abbas c, ia berkata:
كَانَ الطَّلَاقُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ n وَأَبِي بَكْرٍ وَسَنَتَيْنِ مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ طَلاَقُ الثَّلاَثِ وَاحِدَةً، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: إِنَّ النَّاسَ قَدْ اسْتَعْجَلُوا فِي أَمْرٍ قَدْ كَانَتْ لَهُمْ فِيهِ أَنَاةٌ، فَلَوْ أَمْضَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ؟ فَأَمْضَاهُ عَلَيْهِمْ.
“Dahulu pada zaman Rasulullah n, kekhilafahan Abu Bakr z, dan dua tahun pertama dari kekhilafahan ‘Umar z, talak yang dijatuhkan tiga kali sekaligus dihitung satu talak. Lantas ‘Umar menyampaikan, ‘Sesungguhnya orang-orang telah tergesa-gesa pada urusan talak mereka yang mengandung tahapan (ingin menjatuhkan sebagai talak tiga sekaligus), maka bagaimana jika kami berlakukan saja bagi mereka hal itu?’ ‘Umar z pun memberlakukannya bagi mereka.” (HR. Muslim)
Asy-Syaukani dalam as-Sail al-Jarrar berkata, “Kesimpulannya, di sini ada satu hujjah yang melibas habis seluruh hujjah yang dikemukakan mengenai jatuhnya talak tiga sekaligus, dan satu dalil yang tidak dapat ditandingi sedikit pun oleh dalil-dalil yang dikemukakan itu, yaitu hadits Ibnu ‘Abbas c dalam Shahih Muslim dan lainnya. Jika seperti ini talak yang berlaku pada zaman Nabi n dan diamalkan oleh para sahabat g setelahnya lebih dari empat tahun, hujjah apa lagi yang dapat menolak hujjah ini dan dalil apa lagi yang dapat tegak menentangnya?”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—menerangkan alasan Umar z dan selainnya dari kalangan imam-imam mujtahid yang mengharuskan jatuhnya talak tiga bagi orang yang menjatuhkannya sekaligus, bahwa hal itu adalah ijtihad ‘Umar z tatkala menyaksikan kaum muslimin sering melakukan hal yang sesungguhnya diharamkan oleh Allah l itu. Mereka tidak akan berhenti melainkan dengan suatu hukuman, yang menurut ‘Umar z, yaitu memberlakukannya bagi mereka agar mereka tidak melakukannya. Boleh jadi, hal itu sebagai jenis ta’zir (hukuman agar jera darinya) yang dilakukan saat dibutuhkan. Boleh jadi pula, ‘Umar menganggap bahwa syariat talak tiga sekaligus dihitung satu, memiliki suatu persyaratan yang telah sirna (karena kondisi kaum muslimin saat itu, pen.).
Ibnu ‘Abbas c sendiri pada mulanya berfatwa jatuhnya hal itu sebagai talak tiga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Namun di kemudian hari, ia meralat fatwa tersebut dan berfatwa bahwa hal itu tidak jatuh sebagai talak tiga, sebagaimana yang diriwayatkan pula oleh Abu Dawud.5

Menalak Istri Sebelum Digauli Adalah Talak Ba’in
Menalak istri sebelum digauli adalah talak ba’in, meskipun sudah berkhalwat (berdua-duaan) dan terjadi apa yang terjadi (selain senggama).
Hukum perceraiannya adalah bainunah sughra’ (perpisahan kecil). Artinya, tidak halal baginya untuk merujuknya melainkan dengan akad nikah yang baru. Karena hak rujuk hanya ada pada masa ‘iddah, sedangkan ini tidak ada masa ‘iddahnya.
Dalilnya adalah firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, tidak wajib atas mereka ‘iddah (penantian) bagimu yang kalian minta menyempurnakannya.” (al-Ahzab: 49)6
Talak ini dihitung baginya. Artinya, jika ia menikahinya lalu kembali talak, tersisa baginya kesempatan talak satu kali lagi. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Yakni budak orang lain yang dinikahinya.
2 Adapun bainunah shughra’ (perpisahan kecil) yang tidak menyisakan ikatan sedikit pun antara keduanya tetapi masih bisa menikahinya secara langsung tanpa disyaratkan telah dinikahi dan digauli lelaki lain, hal ini akan diterangkan nanti, insya Allah.

3 Pada Bab “an-Nikah al-Jadid wath Thalaq al-Jadid” no. 11150 dengan sanad yang sahih.
4 Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari seorang sahabat. Pada sanadnya terdapat perawi yang haditsnya mungkar dan ditinggalkan oleh ahli hadits.
Pendapat yang kedua dalam masalah ini, hitungan talak yang telah lewat dianggap gugur dan kesempatan menalaknya dihitung kembali dari awal. Telah diriwayatkan atsar-atsar dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, dan Ibnu ‘Abbas z dalam Mushannaf ‘Abdurrazzaq pada bab ini. Sisi makna pengambilan hukumnya adalah jika ia digauli oleh suami yang kedua akan menggugurkan hitungan tiga talak yang telah jatuh sebelumnya, tentu hal itu menggugurkan hitungan dua talak yang telah jatuh sebelumnya.
Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan dirajihkan oleh asy-Syaukani dalam as-Sail al-Jarrar. Wallahu a’lam.

5 Keterangan kebenaran dua riwayat fatwa Ibnu ‘Abbas c ini dapat dilihat dalam al-Irwa’ (7/120—122).
6 Ini menurut pendapat yang rajih bahwa masis yang di
maksud dalam ayat ini adalah jima’ (senggama). Ada pula yang berpendapat bahwa masis dalam ayat ini mencakup khalwat dan hal lainnya yang hanya dilakukan oleh suami istri. Menurut pendapat ini, hukum pada ayat ini (tidak ada masa ‘iddah) tidak berlaku pada wanita yang ditalak setelah berkhalwat tetapi belum digauli. Jika sudah berkhalwat meskipun belum digauli, ada masa ‘iddah.

 

Talak Sunnah dan Talak Bid’ah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Talak Sunnah
Dalam hal menalak istri, wajib mengikuti tuntunan Allah l dan Rasul-Nya n. Yang disyariatkan dalam menalak istri adalah menalaknya selagi suci yang belum digauli atau menalaknya ketika dia hamil.
Dalilnya adalah sebagai berikut.
1. Allah l berfirman:
“Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya.” (ath-Thalaq: 1)
Maksud ayat ini adalah agar istri ditalak pada saat suci yang belum digauli atau pada saat hamil sehingga mereka dapat langsung ber-‘iddah, sebagaimana ditafsirkan pada hadits Ibnu ‘Umar c berikut.
2. Hadits Ibnu ‘Umar c menyebutkan bahwa ia menalak istrinya selagi haid. Umar z pun menanyakan hal itu kepada Rasulullah n. Rasulullah n bersabda,
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا, ثُمَّ لِيَتْرُكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ، ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ العِدَّةُ الَّتِيْ أَمَرَ اللهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ.
“Perintahkan kepadanya agar merujuk istrinya kemudian membiarkannya bersamanya hingga suci, kemudian haid lagi, kemudian suci. Lantas setelah itu terserah kepadanya, ia mempertahankannya jika mau dan ia bisa menalaknya jika mau. Itulah ‘iddah yang Allah perintahkan agar para istri ditalak pada waktu mereka dapat langsung menghadapinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Pada riwayat Muslim lainnya dengan lafadz:
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ ليُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أَو حَامِلاً
“Perintahkanlah kepadanya agar merujuk istrinya, kemudian menalaknya selagi suci atau hamil.”
Hadits ini menafsirkan ayat di atas. Artinya, istri yang ditalak pada masa suci yang belum digauli akan langsung menghadapi ‘iddahnya hingga tiga kali haid, sementara istri yang ditalak pada saat hamil akan langsung menghadapi ‘iddahnya hingga dia melahirkan.
Inilah talak yang dituntunkan Allah l dan Rasul-Nya n, yaitu:
1. Menalak istri di masa suci yang belum digauli.
Maksudnya adalah setelah mandi suci, menurut pendapat yang rajih. Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad, dirajihkan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar.
Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar c riwayat an-Nasa’i dengan lafadz:
مُرْ عَبْدَ اللهِ فَلْيُرَاجِعْهَا، فَإِذَا اغْتَسَلَتْ فَلْيَتْرُكْهَا حَتَّى تَحِيض، فَإِذَا اغْتَسَلَتْ مِنْ حَيْضَتِهَا الْأُخْرَى فَلاَ يَمَسَّهَا حَتَّى يُطَلِّقَهَا، فَإِنْ شَاءَ أَنْ يُمْسِكَهَا فَلْيُمْسِكْهَا، فَإِنَّهَا الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ
“Perintahkan Abdullah agar merujuk istrinya. Kemudian jika istrinya telah mandi, hendaklah ia membiarkannya sampai haid. Kemudian jika istrinya telah mandi dari haid berikutnya, janganlah ia menggaulinya sampai ia menalaknya. Jika ia ingin mempertahankannya, hendaklah ia melakukannya. Itulah ‘iddah yang Allah perintahkan agar para istri ditalak pada waktu mereka dapat langsung menghadapinya.” (HR. an-Nasa’i, disahihkan oleh al-Albani)1
Ibnu Taimiyah t menerangkan—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—, “Talak yang dibolehkan syariat menurut kesepakatan ulama adalah menalak istri dengan satu talak pada saat istri telah mandi suci dari haidnya sebelum digauli, kemudian membiarkannya tanpa menyusulnya dengan talak berikutnya hingga ‘iddahnya berakhir. Talak seperti ini disebut talak sunnah (yakni sesuai dengan tuntunan Nabi n).”

2. Menalak istri di masa hamil.
Ibnu Taimiyah t menjelaskan—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—, “Apabila kehamilannya telah tampak jelas dan suaminya ingin menalaknya, diperbolehkan, baik disebut sebagai talak sunnah, bukan talak sunnah, maupun talak bid’ah. Perbedaan pendapat ini hanya dalam istilah, tidak dalam hal hukum (khilaf lafzhi).”
Talak yang dijatuhkan sesuai dengan tuntunan syariat adalah talak yang dianggap sah dan diperhitungkan. Wallahu a’lam.
Dikecualikan dari hukum ini adalah:
1. Istri yang ber’iddah dengan tiga bulan (bukan dengan tiga kali haid) boleh ditalak kapan saja.
Seperti istri yang belum terkena haid dan yang tidak haid lagi karena telah menopause, operasi angkat rahim, atau semisalnya boleh ditalak kapan saja.

2. Istri yang tidak punya kewajiban ‘iddah boleh ditalak kapan saja, yaitu istri yang ditalak sebelum digauli.

Talak Bid’ah
Menalak istri selagi haid atau suci namun telah digauli, hukumnya haram. Talak seperti ini dinamakan talak bid’ah, karena menyelisihi apa yang disyariatkan Allah l dalam menalak istri. Penjelasannya sebagai berikut.
a. Istri yang ditalak selagi haid maka haidnya yang sekarang tidak dihitung sebagai ‘iddah. Artinya, dia akan melewati haid tersebut hingga suci tanpa dihitung sebagai ‘iddah dan ini bermakna menalaknya bukan pada saat istri langsung menghadapi ‘iddahnya. Hal ini berakibat panjangnya masa penantian yang akan dijalaninya dan ini memudaratkan istri.
b. Istri yang ditalak selagi suci yang telah digauli berarti ditalak untuk menghadapi ‘iddah yang tidak meyakinkan. Hal ini karena boleh jadi dia hamil sehingga ‘iddahnya adalah melahirkan, atau dia tidak hamil sehingga ‘iddahnya adalah tiga kali haid. Benar, dia dapat langsung menghadapi ‘iddahnya salah satu dari dua kemungkinan tersebut, tetapi ‘iddah yang akan dihadapinya tidak menentu.
Namun, menurut pendapat yang rajih, talak yang dijatuhkan dalam kondisi ini sah sebagai talak yang dihitung atas pelakunya. Inilah pendapat empat imam mazhab yang masyhur (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad), al-Bukhari, dan jumhur (mayoritas) ulama, yang dirajihkan asy-Syaukani dalam as-Sail al-Jarrar dan al-Albani.
Berbeda halnya dengan pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin dan al-Lajnah ad-Da’imah (yang diketuai oleh Ibnu Baz) bahwa yang seperti ini tidak sah.
Ibnul Qayyim secara panjang lebar mendiskusikan dalil-dalil kedua belah pihak dalam Zadul Ma’ad yang akan membuat pembacanya condong kepadanya.
Akan tetapi, al-Albani membantahnya dalam Irwa’ al-Ghalil2 dengan singkat dari segi ilmu hadits dan kandungan makna lafadz, yang menampakkan secara jelas bahwa yang benar talak tersebut sah.
Kesimpulannya, hadits Ibnu ‘Umar yang sahih dan datang dari banyak jalan perawinya, mengalami kegoncangan dalam hal apakah dianggap sah atau tidak talak yang dia jatuhkan ketika istrinya sedang haid tersebut?
Ternyata riwayat bahwa talak tersebut dianggap sah lebih kuat ditinjau dari dua sisi.
1. Telah tsabit (tetap) dua riwayat yang marfu’ (disandarkan sebagai sabda Nabi n) bahwa talak tersebut dihitung sebagai satu talak yang sah, yaitu:
a. Riwayat yang dikeluarkan oleh ath-Thayalisi dan ad-Daraquthni, dari jalan Nafi’, dari Ibnu ‘Umar c, dengan lafadz:
فَأَتَى عُمَرُ النَّبِيَّ n فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَجَعَلَهَا وَاحَدَةً.
“Umar kemudian mendatangi Nabi n dan menceritakan peristiwa itu kepadanya, maka Nabi n menjadikannya satu talak.”
Al-Albani mensahihkannya menurut syarat al-Bukhari dan Muslim.
b. Riwayat yang dikeluarkan oleh ad-Daraquthni dan al-Baihaqi, dari jalan asy-Sya’bi, dari Ibnu ‘Umar c, dengan lafadz:
فَانْطَلَقَ عُمَرُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n، فَأَخْبَرَهُ، فَأَمَرَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا، ثُمَّ يَسْتَقْبِلَ الطَّلاَقَ فِيْ عِدَّتِهَا، وَتُحْتَسَبُ بِهَذِهِ التَّطْلِيْقَةِ الَّتِيْ طَلَّقَ أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Umar pun menemui Rasulullah n dan menceritakannya kepada beliau. Nabi n pun memerintahkan agar Ibnu ‘Umar merujuk istrinya, kemudian melakukan talak pada waktu istrinya langsung menghadapi ‘iddahnya, dan talak yang pertama kali dijatuhkannya itu dihitung satu talak.”
Al-Albani mensahihkannya menurut syarat al-Bukhari dan Muslim. Riwayat ini semakin kuat dengan adanya tiga jalan riwayat yang mauquf atas Ibnu ‘Umar c bahwa hal itu dihitung sebagai satu talak atasnya.
Al-Albani berkata, “Riwayat ini memiliki hukum hadits yang marfu’ (disandarkan kepada Nabi n), karena riwayat ini bermakna bahwa Ibnu ‘Umar mengamalkan hukum yang ditetapkan pada riwayat yang marfu’. Maka dari itu, tidak diragukan lagi bahwa riwayat mauquf ini menguatkan riwayat yang marfu’ sebagaimana hal ini tampak secara jelas.”
Riwayat ini lebih kuat daripada riwayat marfu’ lainnya yang dijadikan dalil akan ketidakabsahan talak tersebut, yaitu:
a. Riwayat yang dikeluarkan oleh Muslim, asy-Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, dari jalan Abu az-Zubair, dari Ibnu ‘Umar c, dengan lafadz,
فَرَدَّهَا عَلَىَّ وَلَمْ يَرَهَا شَيْئًا.
“Nabi n mengembalikannya kepadaku dan tidak menganggapnya.”
Riwayat ini disahihkan oleh Ibnu Hajar dan al-Albani.
b. Riwayat yang dikeluarkan oleh an-Nasa’i, ath-Thahawi, ath-Thayalisi, dan lainnya dari jalan Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Umar c dengan lafadz,
فَرَدَّ النَّبِيُّ n ذَلِكَ عَلَيَّ حَتَّى طَلَّقْتُهَا وَهِيَ طَاهِرٌ.
“Maka Nabi n mengembalikan hal itu kepadaku sampai aku menalaknya di saat suci.”
Riwayat ini disahihkan oleh al-Albani menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim. Tidak ada riwayat mauquf yang menguatkan riwayat ini.

2. Kuatnya dalil riwayat yang pertama terhadap kandungan maknanya, karena jelas menunjukkan maknanya tanpa bisa ditakwil lagi bahwa talak tersebut dianggap sah.
Jadi, riwayat ini adalah nash (dalil yang tidak bisa ditafsirkan lain) bahwa Nabi n menghitungnya sebagai talak yang sah. Berbeda halnya dengan riwayat kedua yang tidak jelas penunjukannya dan bisa ditakwil ke makna lain. Seperti kata asy-Syafi’i, “Makna,
وَلَمْ يَرَهَا شَيْئًا
‘Nabi n tidak menganggapnya benar.’
bukan nash (dalil yang tidak bisa ditafsirkan lain) bahwa Nabi n tidak menganggapnya sebagai talak yang sah. Dengan demikian, riwayat pertama harus didahulukan daripada riwayat kedua.”
Al-Albani berkata, “Sesungguhnya Ibnul Qayyim sendiri mengakui hal ini. Akan tetapi, ia meragukan keabsahan riwayat marfu’ yang jelas menunjukkan sahnya talak tersebut.”
Jumhur juga berhujjah dengan perintah Nabi n kepada Ibnu ‘Umar agar merujuk istrinya, yang maksudnya adalah raj’ah syar’iyah (merujuk yang syar’i). Ini menunjukkan talak benar-benar jatuh, karena rujuk syar’i hanya dilakukan jika talak raj’i jatuh. Wallahu a’lam.

Masalah: Hukum menalak istri yang sedang nifas
Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama.
1. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat haram seperti halnya menalak istri selagi haid.
Dalilnya adalah keumuman hadits Ibnu ‘Umar c:
ثُمَّ لْيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أو حَامِلاً
“Kemudian menalaknya selagi suci atau hamil.”
Wanita yang nifas tentu saja tidak suci. Pendapat ini yang difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah (yang diketuai oleh Ibnu Baz) sebagaimana dalam Fatawa al-Lajnah.
2. Sebagian ulama berpendapat boleh.
Alasannya, istri yang ditalak selagi nifas akan langsung menghadapi ‘iddahnya. Dia langsung menanti sampai mengalami haid tiga kali, karena nifas itu sendiri tidak diperhitungkan dalam ‘iddah. Adapun perintah Nabi n kepada Ibnu ‘Umar c agar menalak istrinya saat suci maksudnya adalah suci dari haid, karena ia telah menalaknya selagi haid.
Ibnu ‘Utsaimin menyatakan dalam Fath Dzil Jalal wal Ikram, pendapat ini lebih tampak kebenarannya. Sepertinya, inilah yang rajih (kuat), mengingat ‘illah (faktor) dilarangnya menalak istri selagi haid tidak ada pada istri yang ditalak selagi nifas. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab Shahih Sunan an-Nasa’i no. 3396.

2 Lihat kitab Irwa’ al-Ghalil (7/124—136),

 

Lafadz-lafadz Talak

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Lafadz-lafadz yang digunakan mencerai istri diklasifikasikan menjadi dua kelompok:
1. Lafadz yang jelas
Lafadz yang jelas untuk talak adalah lafadz yang tidak dipahami darinya selain makna talak, yaitu lafadz ath-thalaq (talak). Begitu pula yang semisal dengan lafadz talak yang jelas untuk talak.

2. Lafadz kiasan/sindiran
Lafadz kiasan adalah lafadz yang memiliki kemungkinan makna talak dan selainnya, tetapi diniatkan untuk menalak atau ada indikasi yang menunjukkan maksud menalak. Dalil bahwa talak jatuh dengan lafadz sindiran yang diniatkan untuk talak adalah hadits ‘Aisyah x:
أَنَّ ابْنَةَ الْجَوْنِ لَمَّا أُدْخِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ n وَدَنَا مِنْهَا قَالَتْ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ. فَقَالَ لَهَا: لَقَدْ عُذْتِ بِعَظِيمٍ، الْحَقِي بِأَهْلِكِ.
“Sesungguhnya ketika Bintu al-Jaun dipertemukan dengan Rasulullah n lantas beliau mendekatinya, Bintu al-Jaun berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah l darimu.’ Nabi n berkata, ‘Sungguh kamu telah berlindung kepada Yang Mahaagung, kembalilah ke keluargamu’.” (HR. al-Bukhari)
Adapun dalil bahwa talak tidak jatuh dengan kata sindiran tanpa diniatkan talak adalah hadits Ka’b bin Malik z yang panjang mengisahkan kasus tentang dirinya yang tertinggal dalam Perang Tabuk sehingga ia dihajr (diboikot) oleh Rasulullah n bersama kaum muslimin. Ia bercerita bahwa di tengah-tengah berlangsungnya boikot itu, datang utusan Rasulullah n membawa perintah beliau kepadanya agar mengasingkan diri dari istrinya tanpa menalaknya, maka Ka’b berkata kepada istrinya,
الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَتَكُونِي عِنْدَهُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِي هَذَا الْأَمْرِ.
“Kembalilah kamu ke keluargamu dan tinggallah bersama mereka sampai Allah memberi keputusan atas urusan ini.” (Muttafaq ‘alaih)
Begitu pula lafadz kiasan yang disertai indikasi yang menunjukkan maksud menalak.
Ibnu Taimiyah t berkata—sebagaimana dalam al-Ikhtiyarat—, “(Talak jatuh) jika menggunakan kata kiasan yang disertai dengan lafadz lain yang mengindikasikan hukum talak. Contohnya:
– ‘Aku menfasakh (membatalkan) pernikahan kita.’
– ‘Aku memutuskan hubungan suami istri di antara kita.’
– ‘Aku telah menghilangkan hubungan kasih sayang antara aku dan istriku’.”
Ibnu Taimiyah t juga menyebutkan contoh lain yang termasuk kiasan disertai indikasi menalak, yaitu ucapan, “Kamu bukan istriku lagi.”
Kesimpulannya, tidak ada pembatasan lafadz tertentu yang merupakan lafadz yang jelas untuk talak. Setiap lafadz yang jelas untuk talak tanpa menyisakan kemungkinan makna lainnya berarti tergolong lafadz yang jelas untuk talak.
Begitu pula halnya dengan lafadz kiasan/sindiran, tidak terbatas dengan sejumlah lafadz tertentu. Setiap lafadz yang memiliki kemungkinan makna talak dan makna lainnya maka sah menjadi lafadz kiasan untuk talak dengan syarat disertai niat menalak atau indikasi yang menunjukkannya. Ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Utsaimin, as-Sa’di, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Taimiyah.
Ibnul Qayyim t berkata dalam Zadul Ma’ad, “Lafadz-lafadz itu tidaklah dimaksudkan lafadznya semata, namun untuk menunjukkan maksud orang yang mengucapkannya. Jika seseorang mengucapkan suatu lafadz yang menunjukkan makna tertentu dengan meniatkan makna tersebut, hukumnya pun berlaku sama. Itulah sebabnya, talak jatuh dari seorang berbangsa Ajam, Turki, atau India dengan menggunakan bahasa mereka masing-masing.1
Namun, seandainya salah satu dari mereka mengucapkan lafadz yang jelas dengan bahasa Arab tanpa dia mengerti maknanya, tentu saja talak tidak jatuh dengan itu, sebab ia telah mengucapkan sesuatu yang dia tidak memahami maknanya dan meniatkannya.
Hadits Ka’b bin Malik z menunjukkan bahwa talak dengan lafadz tersebut dan semisalnya (kata-kata sindiran) tidaklah jatuh kecuali jika diniatkan. Oleh karena itu, yang benar, hukum itu (talak tidak jatuh tanpa diniatkan) berlaku pada seluruh lafadz, baik yang jelas maupun yang kiasan.”
Beliau t melanjutkan, “Adapun klasifikasi menjadi lafadz yang jelas dan lafadz kiasan, walaupun ini benar ditinjau asal peletakannya, tetapi pada penerapannya terdapat perbedaan sesuai dengan komunitas masyarakat, waktu, dan daerah masing-masing. Jadi, klasifikasi ini bukanlah hukum yang tetap pada subtansi lafadz itu sendiri. Boleh jadi, suatu lafadz tergolong yang jelas di suatu komunitas ternyata di komunitas lainnya merupakan lafadz kiasan. Boleh jadi, suatu lafadz tergolong yang jelas pada suatu masa dan daerah tertentu, ternyata waktu dan tempat lain merupakan lafadz kiasan.”
Asy-Syaukani t berkata dalam as-Sail al-Jarrar, “Kesimpulannya, talak hanya jatuh dengan setiap lafadz apa pun atau semisalnya2 yang menunjukkan perceraian, selama dia bermaksud menalak dengannya. Oleh karena itu, tidak perlu memilah lafadz-lafadz tersebut (lafadz ini jelas dan lafadz itu kiasan, pen.).”

Masalah: Hukum menalak dengan tulisan dan isyarat
Menalak dengan tulisan terhitung sah dan jatuh walaupun dilakukan oleh orang yang bisa berbicara. Ini pendapat jumhur ulama dan yang difatwakan oleh Ibnu Baz.
Menalak dengan isyarat yang terpahami, hanya sah dilakukan oleh orang yang tidak mampu berbicara seperti halnya orang yang bisu. Adapun yang mampu berbicara, tidak sah baginya menjatuhkan talak dengan isyarat. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Ibnu Taimiyah berkata–sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa–, “Khulu’ dan talak sah (jatuh) dengan selain bahasa Arab, menurut kesepakatan imam-imam Islam.”
2 Maksudnya adalah tulisan dan isyarat sebagaimana akan diterangkan pada masalah berikutnya.

Yang Berwenang Menjatuhkan Talak

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Talak hanya jatuh jika diucapkan. Adapun niat semata dalam hati tanpa diucapkan, tidak terhitung talak. Ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama dan difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah z:
إِنَّ اللهَ تَجاوَزَ عَنْ أُمَّتِيْ مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسُهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.
“Sesungguhnya Allah l memaafkan dari umatku apa yang terbetik dalam diri mereka selama tidak diamalkan atau diucapkan.” (Muttafaq ‘alaih)
Hal ini juga dikarenakan menalak adalah tindakan melepas hak milik, maka tidak terjadi dengan niat semata tanpa diucapkan, seperti halnya menjual sesuatu atau menghibahkannya.1

Pihak yang Berwenang Menjatuhkan Talak
Talak hanya sah bila dijatuhkan oleh orang yang memenuhi syarat-syarat berikut.
1. Yang menalak adalah orang yang berkompeten untuk itu. Mereka adalah:
a. Yang menalak selaku pemilik, yaitu suami.
b. Yang menalak selaku wakil suami yang diberi amanat olehnya untuk mewakilinya menjatuhkan talak.
c. Yang menalak selaku wali hakim pada saat terjadi kasus persengketaan suami istri yang harus ditangani oleh pihak hakim.

2. Yang menalak adalah mukallaf (baligh dan berakal) atau mumayyiz (berusia tujuh tahun) yang mengetahui arti talak. Adapun yang tidak mengetahui makna talak, tentu saja tidak sah. Seperti salah seorang dari bangsa Ajam mengucapkan lafadz talak dalam bahasa Arab tanpa mengerti maknanya. Begitu pula halnya seorang mumayyiz yang mengucapkan talak tetapi tidak paham makna ucapannya.
Namun, seorang budak, mukatab2, dan orang dungu (safih), tetap dianggap sah talaknya, karena mereka mukallaf dan berakal.
Adapun orang gila, anak kecil yang belum mumayyiz, orang tidur (mengigau), dan orang mabuk—menurut pendapat yang benar—tidak sah talaknya, karena tidak berakal, maka ucapan dan tindakannya tidak diperhitungkan. Begitu pula, disepakati bahwa tidak sah talak orang marah yang kehilangan kontrol dan kesadarannya—bahkan ada yang sampai pingsan karena marahnya.
Menalak juga dipersyaratkan karena pilihannya sendiri, bukan paksaan.

Catatan Kaki:

1 Adapun pendapat yang mengatakan talak jatuh dengan niat semata jelas merupakan pendapat yang lemah.
2 Mukatab adalah seorang budak yang dijanjikan akan merdeka oleh majikannya jika ia mampu membayar/menebus dirinya.

Difinisi dan Hukum Talak

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Definisi Talak
Kata ath-thalaq ( الطَّلاَقُ) secara makna bahasa adalah isim mashdar kata thallaqa (طَلَّقَ), dan suatu isim mashdar menyamai mashdhar dari sisi makna tetapi berbeda dari segi huruf-hurufnya. Makna kata ini diambil dari kata al-ithlaq (الِإطْلاَقُ) yang artinya melepas. Hal itu karena pernikahan adalah ikatan (akad), apabila istri ditalak, lepaslah ikatan (akad) tersebut.
Secara istilah syariat, talak adalah melepas ikatan (akad) nikah secara menyeluruh atau sebagiannya. Jika talak ba’in (talak tiga), keutuhan ikatan (akad) lepas secara menyeluruh tanpa ada yang tersisa lagi. Sementara itu, talak raj’i (talak satu dan talak dua), hanya sebagian ikatan (akad) yang terlepas. Oleh karena itu, pada talak ba’in (talak tiga) ikatan (akad) terputus sama sekali dan keduanya tidak punya hubungan apa-apa lagi. Pada talak satu masih tersisa kesempatan menalaknya dua kali, dan pada talak kedua masih tersisa kesempatan menalaknya satu kali lagi.

Hukum Talak
Talak pada asalnya makruh dan bisa jadi boleh, sunnah, wajib, atau haram.
1. Makruh
Ibnu Taimiyah t berkata—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—, “Pada asalnya talak hukumnya makruh. Maka dari itu, Allah l tidak mengizinkan seorang suami menalak istrinya lebih dari tiga kali dan mengharamkan istrinya atasnya setelah talak tiga jatuh, sebagai hukuman baginya agar tidak menalak lagi.”
Ibnu Utsaimin t berkata dalam asy-Syarh al-Mumti’, “Talak hukum asalnya makruh. Dalilnya adalah firman Allah l tentang orang-orang yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya selamanya atau lebih dari empat bulan (ila’):
“Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jika mereka bertekad untuk menalaknya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahatahu.” (al-Baqarah: 226—227)
Dalam masalah talak, Allah l mengabarkan bahwa diri-Nya Maha Mendengar lagi Mahatahu, dan ini mengandung ancaman. Sementara itu, jika dia kembali (kepada istrinya) Allah l memberitakan bahwa diri-Nya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Semua ini menunjukkan bahwa talak tidak disukai oleh Allah l dan pada asalnya makruh. Memang demikianlah hukumnya. Adapun hadits:
أَبْغَضُ الْحَلاَلِ عِنْدَ اللهِ الطَّلاَقُ.
“Perkara halal (boleh) yang paling dibenci Allah l adalah talak.”
merupakan hadits dhaif (lemah) secara sanad dan tidak benar secara makna. Namun, ayat di atas sudah mewakili.”1
Inilah dalil bahwa pada asalnya talak dimakruhkan. Hal ini semakin kuat ditinjau dari segi makna, bahwa perceraian berakibat tercerai berainya anak-anak—jika ada—, telantarnya wanita yang dicerai, dan boleh jadi lelaki yang menceraikan akan telantar juga jika tidak mendapatkan istri lain sebagai gantinya, dan alasan-alasan lainnya.
Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa talak itu makruh jika tidak ada hajat yang menuntut terjadinya perceraian dan rumah tangga dalam keadaan baik.

2. Haram
Talak yang haram adalah talak yang dijatuhkan pada saat istri haid, atau pada saat suci yang telah digauli tanpa diketahui hamil/tidak. Masalah ini akan diterangkan secara detail, insya Allah.

3. Boleh
Talak dibolehkan tanpa kemakruhan jika suami berhajat atau mempunyai alasan untuk menalak istrinya. Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang suami menalak istrinya. Misalnya, dia tidak mencintai istrinya, atau perangai/kelakuan istri yang buruk terhadap suami, sementara suami tidak sanggup bersabar hingga mencerainya.
Dalil bolehnya menalak karena berhajat adalah firman Allah l,
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙﭚ ﭛ ﭜ ﭝﭞ
“Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya dan hitunglah waktu ‘iddah itu, serta bertakwalah kepada Allah Rabb-mu.” (ath-Thalaq: 1)
Akan tetapi, hal ini seperti kata Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’, “Namun, bersabar lebih baik sebagaimana diisyaratkan pada firman Allah l,
‘Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.’ (an-Nisa’: 19)
Rasulullah n juga telah bersabda,
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ.
‘Janganlah seorang lelaki beriman membenci istrinya yang beriman, (karena) mungkin saja ia tidak menyukai suatu perangai pada dirinya tetapi ia menyukai perangai lainnya.’ (HR. Muslim dari Abu Hurairah z).”

4. Sunnah
Talak hukumnya sunnah jika demi kemaslahatan istri serta mencegah kemudaratan dari dirinya akibat kebersamaannya dengan suami, meskipun sesungguhnya suaminya sendiri masih mencintainya. Talak disukai untuk dilakukan suami pada keadaan ini dan terhitung sebagai kebaikan terhadap istri. Hal ini termasuk dalam keumuman firman Allah l,
“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)

5. Wajib
Talak diwajibkan atas suami yang meng-ila’ istrinya (bersumpah tidak akan menggauli istrinya, red.) setelah masa penangguhannya selama empat bulan telah habis, bilamana ia enggan kembali kepada istrinya. Hakim berwenang memaksanya untuk menalak istrinya pada keadaan ini atau hakim yang menjatuhkan talak tersebut.
Demikian pula hukumnya talak yang dijatuhkan oleh dua penengah hukum antara suami istri yang cekcok bilamana kedua penengah tersebut berkesimpulan keduanya harus diceraikan.

Masalah: Hukum menalak istri yang melakukan kefasikan; baik berupa melalaikan kewajiban syariat maupun mengerjakan perkara haram.
Ibnu Qudamah t berkata dalam al-Mughni, “Hukumnya sunnah, dan bisa jadi wajib.”
Adapun melalaikan shalat lima waktu sama sekali tanpa bisa dinasihati, yang lebih hati-hati adalah wajib menalaknya karena kuatnya dalil-dalil yang menunjukkan kekafiran orang yang melalaikan shalat lima waktu sama sekali. Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai Ibnu Baz) berfatwa wajibnya menalak istri yang meninggalkan shalat lima waktu.

Masalah: Hukum menalak istri yang sudah tidak memiliki ‘iffah (terjaganya kesucian diri) karena berzina tanpa bisa dinasihati.
Terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di antara ulama dalam masalah ini.
Ibnu Hajar dan asy-Syaukani rahimahumallah berpendapat disunnahkan menalaknya. Ibnu Qudamah t juga berpendapat sunnah, tetapi mengatakan bahwa ada kemungkinan wajib. Kemungkinan inilah yang kuat dan benar, yaitu bahwa hukum menalaknya wajib, karena dengan berbuat demikian dia telah berstatus pezina sehingga tidak boleh dipertahankan sebagai istri. Jika dia tidak menalaknya sementara istrinya tetap saja berzina tanpa mampu menghalanginya berarti dia menjadi dayyuts2. Ini pendapat yang dipilih as-Sa’di dan Ibnu ‘Utsaimin.

Catatan Kaki:

1 Adapun hadits yang disebutkan Ibnu Utsaimin adalah hadits Ibnu Umar c diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Abu Hatim ar-Razi, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, al-Mundziri. Al-Albani merajihkan bahwa hadits ini mursal, yaitu mursal riwayat Muharib bin Ditsar t. Lihat kitab al-Irwa’ no. 2040.
Adapun ketidakbenarannya secara makna karena sesuatu yang halal mana mungkin dibenci Allah l. Jika Allah l membencinya tentulah tidak akan menghalalkannya. Siapakah yang bisa memaksa Allah l menghalalkan sesuatu yang dibencinya. Namun seandainya hadits ini sahih, bisa jadi bermakna Allah l tidak menyukainya dan tidak pula membencinya. Demikian keterangan Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzil Jalal Wal Ikram (syarah hadits Ibnu Umar).

2 Dayyuts adalah seseorang yang membiarkan orang-orang yang ada di bawah pengawasannya bermaksiat kepada Allah. Dayyuts merupakan salah satu golongan yang dilaknat dan tidak diajak bicara oleh Allah serta berhak mendapatkan azab yang pedih. (-ed.)

Rumah Tanga dalam Problema

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.)

Bertemunya sepasang insan—dalam lembaga rumah tangga—dari jenis yang berbeda (laki-laki dan perempuan), dengan latar belakang yang berbeda, karakter yang berbeda, dan berbagai kekurangan pada masing-masingnya, membutuhkan kesabaran dan kebersamaan. Tanpa pertolongan dari Allah l, lantas kesabaran dan perjuangan dari suami istri dalam menjalaninya, tak mungkin kehidupan yang berlimpah berkah, harmonis, dan diliputi kebahagiaan terjelma dalam kenyataan. Rumah tangga pun dalam problema yang mengkhawatirkan. Wallahul musta’an.

Merentas Kehidupan Rumah Tangga
Kala seorang anak manusia tumbuh dewasa, terfitrahlah jiwanya untuk mempunyai pendamping dalam hidupnya. Mendambakan kehidupan bahagia dalam mahligai rumah tangga yang dibangun di atas kasih sayang dan cinta. Demikianlah di antara tanda-tanda kekuasaan Allah l di alam semesta. Allah l berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Namun, semua itu tak bisa dijalani begitu saja. Semuanya harus melalui proses pernikahan yang merupakan pintu gerbang kehidupan rumah tangga. Pernikahan yang dibangun di atas keridhaan keduanya (mempelai laki-laki dan perempuan), diketahui/disetujui oleh wali dari pihak perempuan, dengan maskawin (mahar) yang ditentukan, disaksikan minimalnya oleh dua orang saksi, dan pernikahannya tidak dibatasi dengan batasan waktu tertentu. Dengan itulah kemudian hubungan sepasang insan dinyatakan sah sebagai suami istri dan berhak menjalani bersama kehidupan rumah tangga.
Demikian selektifnya Islam dalam mengesahkan hubungan sepasang anak manusia. Semua itu tiada lain karena perhatian Islam terhadap kehormatan, harkat, dan martabat manusia beserta keturunannya. Dari pernikahan itu, ada yang dikaruniai anak-anak bahkan cucu-cucu, dan ada pula yang tak dikaruniai-Nya. Allah l berfirman:
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 49—50)
“Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri dan menjadikan bagi kalian dari istri-istri kalian itu, anak-anak dan cucu-cucu, serta memberi kalian rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (an-Nahl: 72)

Keutuhan Rumah Tangga, Dambaan Setiap Keluarga
Keutuhan rumah tangga adalah nikmat yang selalu didamba oleh setiap keluarga. Berbagai dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n yang memerintahkan suami istri agar saling menyayangi dan bergaul dengan sesamanya secara patut, tak lain demi terjaganya keutuhan rumah tangga tersebut. Suami berkewajiban membina rumah tangganya, bergaul dengan istri secara patut, dan bersabar atas berbagai kekurangan yang ada padanya. Allah l berfirman:
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)
Di lain pihak, istri berkewajiban menaati suami, mengurus rumahnya, dan menjaga anak-anaknya. Rasulullah n bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada manusia, niscaya aku akan perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi 1/712 dari sahabat Abu Hurairah z.1 Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 1998)
Rasulullah n juga bersabda:
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
“Dan seorang istri itu bertanggung jawab atas rumah suaminya dan anak dari suaminya. (Kelak di hari kiamat) dia akan ditanya tentang mereka itu (tanggung jawabnya).” (HR. al-Bukhari no. 7138 dari sahabat Abdullah bin Umar c)
Al-Imam al-Khaththabi t berkata, “Tanggung jawab istri adalah mengatur urusan rumah, anak-anak, dan pembantu rumah tangga, kemudian memberikan masukan yang baik kepada suaminya terkait dengan apa yang diurusnya itu.” (Fathul Bari 13/121)
Lebih dari itu, memohon keutuhan rumah tangga dan kebahagiaannya merupakan ciri-ciri hamba Allah l yang diridhai-Nya. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati (kami), serta jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (al-Furqan: 74)

Romantika Kehidupan Rumah Tangga
Perjalanan sepasang insan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga tak lepas dari aral rintangan. Itulah fenomena kehidupan rumah tangga di alam dunia. Tanpa pertolongan dari Allah l, lantas kesabaran dan perjuangan dari suami istri dalam menjalaninya, tak mungkin kehidupan yang berlimpah berkah, harmonis, dan diliputi kebahagiaan terjelma dalam kenyataan. Tak sama dengan kehidupan rumah tangga di alam akhirat, di Jannatin Na’im (surga yang dipenuhi kenikmatan) yang selalu dalam kebahagiaan, pesona, dan bertabur kesenangan.
Tak heran, apabila kita mencermati perjalanan sepasang insan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, banyak terkoleksi darinya kisah dan pelajaran. Ada yang menjalaninya dengan bahagia, walaupun bersela dengan rintangan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing semaksimal kemampuan. Segala romantikanya dilalui dengan penuh kesabaran dan kebersamaan. Ada pula yang dikitari oleh riak-riak pertikaian dan persengketaan, walaupun akhirnya keutuhan rumah tangga tetap dapat dipertahankan. Bahkan, ada pula yang didera berbagai problem dan permasalahan, tiada daya dan upaya untuk bertahan, hingga akhirnya berujung dengan perpisahan.
Satu hal yang tak boleh dilupakan oleh setiap orang yang beriman, bahwa iblis la’natullah ‘alaihi dan segenap anak buahnya tak pernah suka jika ada keluarga muslim yang hidup bahagia, sakinah (tenteram), mawaddah warahmah (penuh kasih sayang). Dengan penuh antusias, Iblis dan anak buahnya berupaya mencerai-beraikan mereka. Bahkan, anak buah Iblis yang paling tinggi kedudukannya di sisinya adalah yang berhasil melakukan perbuatan jahat tersebut.
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ-قَالَ-فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ الأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ.
“Sesungguhnya iblis membangun singgasananya di atas air (lautan), kemudian mengutus anak buahnya. Di antara mereka yang paling tinggi kedudukannya di sisi iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Ketika salah seorang dari mereka datang (kepada iblis) seraya melaporkan, ‘Saya telah berhasil melakukan demikian dan demikian.’ Iblis menimpalinya, ‘Kamu belum berbuat apa-apa!’ Kemudian datanglah seorang dari mereka (kepada iblis) seraya melaporkan, ‘Saya tidak membiarkannya sampai berhasil menceraikan antara dia dan istrinya.’ Iblis menyuruhnya mendekat seraya berkata kepadanya, ‘Sebaik-baik (anak buahku) adalah kamu!” Al-A’masy (perawi) berkata, ‘Tampaknya beliau mengatakan, ‘(Iblis) merangkulnya’.” (HR. Muslim no. 2813 dari sahabat Jabir bin Abdillah z)
Oleh karena itu, manakala godaan iblis la’natullah ‘alaihi dan anak buahnya telah merambah kehidupan rumah tangga seseorang dan riak-riak pertikaian pun mulai mengitari bahtera rumah tangganya, tiada jalan keselamatan melainkan dengan berlindung kepada Allah l dari kejahatan mereka, kemudian berpikir jernih dalam mengambil setiap keputusan. Sikap saling memahami, memaklumi, dan memaafkan mutlak dibutuhkan dalam kondisi yang demikian. Karena tak ada gading yang tak retak, masing-masing mempunyai kelemahan dan bisa terjatuh dalam kesalahan. Kerja sama antara keduanya sangat membantu dalam mewujudkan kehidupan yang didambakan.
Bagaimana jika intern suami istri tersebut tak mampu lagi mengambil kata sepakat terkait keutuhan rumah tangga mereka? Dalam kondisi semacam ini, diharapkan ada pihak ketiga yang berperan aktif mengadakan ishlah (perbaikan) untuk keduanya. Allah l berfirman:
“Dan jika kalian mengkhawatirkan adanya persengketaan antara keduanya (suami istri), kirimlah seorang juru pendamai dari keluarga laki-laki dan seorang juru pendamai dari keluarga perempuan. Jika kedua orang juru pendamai itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (an-Nisa’: 35)
Bisa jadi, berbagai upaya ishlah (perbaikan) yang ditempuh oleh suami istri yang bertikai dan para juru pendamai dari kedua belah pihak itu sukses lantas berwujud dalam kenyataan. Kedua hati yang tadinya saling berjauhan dapat bersanding kembali dalam kebersamaan. Riak-riak pertikaian yang tadinya mewarnai kehidupan pun berganti dengan bunga-bunga perdamaian.
Akan tetapi, terkadang berbagai upaya ishlah (perbaikan) yang telah ditempuh itu pun jauh dari harapan, sehingga mau tak mau berakhir dengan perpisahan. Kadangkala keputusan pisah itu muncul dari pihak suami yang dalam bahasa syariat disebut dengan talak (cerai). Kadangkala pula keputusan pisah itu dari pihak istri dengan mengajukan gugatan cerai terhadap sang suami yang dalam bahasa syariat disebut dengan khulu’. Wallahul Musta’an.

Talak dan Khulu’ dalam Tinjauan Islam
Islam merupakan rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin). Tiada jalan yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan keselamatan melainkan telah dijelaskannya. Tiada pula jalan yang menjerumuskan ke dalam kebinasaan dan kesengsaraan melainkan telah dijelaskannya. Jauh berbeda dengan agama-agama selainnya.
Demikianlah Islam, satu-satunya agama yang sempurna dan diridhai oleh Allah l. Allah l berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagi kalian.” (al-Maidah: 3)
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
Oleh karena itu, tak akan diterima suatu prinsip keyakinan (akidah) dan juga amalan ibadah melainkan dengan bimbingan Islam dan syariatnya yang sempurna. Allah l berfirman:
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
Di antara yang dijelaskan dan diatur syariatnya oleh Islam adalah permasalahan rumah tangga dan segala yang berkaitan dengannya, termasuk talak dan khulu’. Salah satu permasalahan besar dalam kehidupan umat manusia yang kurang (baca: tidak) mendapat perhatian dalam agama-agama selain Islam. Tak kurang-kurangnya Islam dalam memberikan bimbingan seputar permasalahan talak dan khulu’. Porsi pembahasannya dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah n, yang merupakan dua referensi utama umat Islam, pun cukup luas. Bahkan, dalam Al-Qur’an sendiri terbubuhkan sebuah surat khusus tentang talak (Surah ath-Thalaq). Demikian pula, berbagai kitab hadits ternama seperti al-Kutubus Sittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa’i, Sunan at-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah) serta yang selainnya, memuat secara khusus kitab/bab tentang talak dan khulu’. Adapun kitab-kitab fiqih, pembahasannya lebih spesifik tentang rincian berbagai hukum (ahkam) yang terkait dengannya.
Bagaimanakah hukum talak dan khulu’ itu sendiri dalam tinjauan Islam? Talak dan khulu’ ada syariatnya dalam Islam, berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, sunnah Rasulullah, dan ijma’ (kesepakatan ulama’).
Jika ditinjau secara hukum asal, talak hukumnya adalah makruh (tidak disukai). Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dan asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam hafizhahullah.
Demikian pula khulu’, hukum asalnya adalah makruh (tidak disukai), sebagaimana ditegaskan oleh asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah. Hukum asal itu berdasar pada kondisi rumah tangga yang normal/kondusif, yaitu ketika tidak ada alasan untuk melakukan talak atau khulu’. Keduanya tergolong makruh (tak disukai), karena menyebabkan putusnya tali pernikahan yang semestinya dipertahankan semaksimal kemampuan dan dapat menggugurkan berbagai maslahat yang dituju dari sebuah pernikahan. Kemudian, hukum asal itu bisa berkembang kepada hukum-hukum yang lain, seperti haram, wajib, sunnah, dan mubah sesuai dengan situasi dan kondisi. (Lihat Tanbihul Afham 2/329, Taisirul ‘Allam 2/343, al-Mulakhkhash al-Fiqhi 2/219, dan Fathul Bari 9/258)
Atas dasar itu, kala sepasang insan tak mungkin lagi hidup bersama, seatap dan serasa, sementara berbagai upaya ishlah telah ditempuh dengan saksama, saat itulah talak dan juga khulu’ menjadi solusi bersama untuk menuju kehidupan berikutnya yang diharapkan lebih membahagiakan. Dari sisi hukum, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t menggolongkan kondisi semacam ini ke dalam kategori wajib. (Lihat Fathul Bari 9/258)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Manakala tujuan dari pernikahan itu tak dapat diwujudkan dalam kenyataan, cinta kasih dari keduanya mulai sirna, atau pada suami yang tak ada lagi cinta, sehingga pertikaian tak kunjung reda dan solusi damai pun sudah tak ada; dalam kondisi seperti ini, suami diperintahkan untuk menceraikan istrinya dengan cara yang baik dan bijaksana. Allah l berfirman:
“Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al-Baqarah: 229)
“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya, dan adalah Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 130)
Sebaliknya, manakala suami masih ada cinta sedangkan istri hampa darinya, bisa jadi karena tak suka dengan perangainya (suami), rupa fisiknya, kurang dari sisi agamanya, atau khawatir berdosa karena tak bisa memenuhi haknya; dalam kondisi seperti ini diperbolehkan bagi istri untuk mengajukan gugatan cerai kepada suaminya dengan mengembalikan mahar (maskawin) yang pernah diberikan kepadanya. Allah l berfirman:
“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229) (al-Mulakhkhash al-Fiqhi 2/218)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t berkata, “Perpisahan dengan cara yang baik lebih utama daripada (berkumpul) dalam perpecahan, persengketaan, dan tak tercapainya cita-cita dari sebuah pernikahan.” (Fatawa Ulama’ al-Biladil Haram hlm. 495)
Demikianlah posisi talak dan khulu’ dalam Islam. Talak bukanlah pedang terhunus di tangan para suami yang boleh digunakan sekehendak hawa nafsu untuk menzalimi sang istri. Demikian pula khulu’, bukan senjata api yang bebas digunakan oleh para istri untuk menodong cerai sang suami kapan saja mereka mau. Talak dan khulu’ adalah solusi, bukan reaksi.
Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam hafizhahullah berkata, “Jika pernikahan dengan segala kebaikan dan tujuannya itu menjadi sah dengan ikatan pernikahan, ikatan pernikahan itu pun bisa dibatalkan kembali dengan talak (dan khulu’-pen.) manakala ada tujuan yang dibenarkan.” (Taisirul ‘Allam 2/343)
Berangkat dari sini, sangat disayangkan jika ada suami dan istri yang bermudah-mudah dalam masalah talak ataupun khulu’. Sedikit-sedikit talak. Sedikit-sedikit khulu’. Sekadar mencari jalan pintas untuk kepentingan sesaat. Tak mau berpikir panjang demi kemaslahatan keluarga di hari depan. Mereka melangkah dengan penuh pasti, seakan-akan talak dan khulu’ adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan. Padahal Allah l mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kalian menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kalian berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata, dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)
Rasulullah n juga mengingatkan:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
“Siapa saja dari kaum wanita yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka haram baginya aroma al-Jannah (surga).” (HR. Abu Dawud no. 2226 dari sahabat Tsauban z. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1947)

Talak dan Khulu’ dalam Tinjauan Nonmuslim
Memang tak bisa disamakan Islam dengan yang lain. Tak bisa pula digantikan dengan yang lain. Karena Islam selalu mulia dan tidak akan terhinakan. Senantiasa suci dan tidak akan tercemarkan. Bahkan, senantiasa dijaga oleh Allah l dari berbagai bentuk penyimpangan.
Lihat saja dalam permasalahan talak dan khulu’. Islam membahasnya dengan penuh rincian dan penerapannya pun penuh dengan keadilan; kapan talak dan khulu’ itu boleh dilakukan, siapa yang berwenang menjatuhkan talak dan siapa yang berhak mengajukan gugatan cerai, dalam kondisi yang bagaimana talak dan khulu’ itu dapat dibenarkan dan dalam kondisi yang bagaimana tidak dibenarkan, berapa kali maksimal dilakukan, berapa lama masa ‘iddah (masa tenggang)nya, kapan boleh rujuk kembali dan kapan tak boleh, bagaimana cara rujuknya, dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah l dalam surah ath-Thalaq, surah al-Baqarah ayat 228—242, dan beberapa ayat dari surah an-Nisa’. Demikian pula oleh Rasulullah n dalam banyak sabdanya.2
Adapun agama-agama selain Islam, tak didapati padanya rincian dan penerapan yang adil tersebut. Mungkin timbul pertanyaan: Bukankah kaum Yahudi dan kaum musyrikin juga menerapkan “syariat” talak dalam kehidupan rumah tangga mereka?
Benar, mereka menerapkan “syariat” talak, tetapi penerapannya asal-asalan. Tidak mempunyai batasan, baik yang berkaitan dengan jumlah maksimalnya maupun yang berkaitan dengan masa ‘iddah (masa tenggang)nya. Kapan saja mau talak, bisa dilakukan. Demikian pula rujuk (kembali)nya, kapan saja bisa dilakukan tanpa batas waktu. Penuh ketidakpastian dan tampak acak-acakan.
Bagaimana halnya dengan kaum Nasrani? Secara realitas, kaum Nasrani (Katholik) tak membolehkan talak dalam kehidupan rumah tangga mereka. Padahal ada “syariatnya” dari Nabi Isa q sebagaimana dalam kitab Injil. Atas dasar itu, seorang istri yang tak disukai oleh suaminya tetap menjadi tanggungannya walaupun tak ada lagi kecocokan dengan suaminya atau tak ada niatan untuk mewujudkan nilai-nilai yang didambakan dari pernikahan. (Lihat Taisirul ‘Allam 2/344)

Jika demikian, betapa nikmatnya ber-Islam. Syariatnya sempurna, mudah, sarat dengan kebenaran, dan berujung pada kebahagiaan. Berbeda halnya dengan agama-agama selain Islam yang diliputi kekurangan, jauh dari kebenaran, dan berujung pada kesengsaraan. Tak heran jika Allah l berwasiat kepada semua hamba-Nya yang beriman agar tidak meninggal dunia melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Allah l berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari beberapa sahabat Nabi n, seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Abu Aufa, Mu’adz bin Jabal, Qais bin Sa’d, dan Aisyah bintu Abu Bakr ash-Shiddiq g. (Lihat Irwa’ul Ghalil, keterangan hadits no. 1998)

2 Pembahasan tentang rincian hukum talak dan khulu’ tersebut bisa Anda baca pada rubrik Kajian Utama edisi kali ini.

 

Surat Pembaca edisi 72

Makanan Halal-Haram-Syubhat
Saya ingin tahu lebih jauh tentang makanan dan minuman yang halal dan haram beserta syubhatnya. Dapatkah Asy-Syariah membahasnya. Jazakallahu khairan.
Abu Fakih-Cirebon
0853240xxxxx

Tentang makanan, kaidah dalam menentukan halal atau haramnya, hukum makanan dari acara-acara yang tidak syar’i atau yang tidak ada tuntunannya dalam Islam, insya Allah akan kami bahas di edisi 80. Jadi mohon bersabar, jazakumullahu khairan.

Mohon Desain Sampul yang Bagus
Afwan tolong desain sampul yang bagus, untuk edisi lalu kurang menarik. Untuk edisi-edisi selanjutnya mohon diperbagus. Walaupun yang penting isinya, tapi sampul ada baiknya juga dibuat menarik. Afwan jika ana yang salah.
0812150xxxxx
Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Edisi 69 Tidak Ada SHI
Afwan untuk edisi 69 tidak ada rubrik “Seputar Hukum Islam”? Semoga Asy-Syariah tetap istiqamah di atas as-Sunnah di tengah badai fitnah.
Abu Ibrahim-Wonorejo
0857282xxxxx

SHI memang tidak ada di dalam edisi 69 karena keterbatasan ruangan. Jazakumullahu khairan.

Bahas Tuntas Shalawat
Mohon dimuat bahasan shalawat nabi dengan tuntas dan detail.
Eddy Mulyadi-Lumajang
0812332xxxxx

Tentang shalawat, baik shalawat yang dituntunkan maupun shalawat bid’ah, pernah kami angkat pada edisi 7, silakan dibuka kembali. Jazakumullahu khairan.

Perceraian, Sebuah Solusi?

Setiap manusia normal yang memasuki gerbang pernikahan niscaya tak akan mau rumah tangganya berakhir dengan perceraian. Oleh karena itu, pertimbangan memilih pasangan dan kesiapan untuk menerima ketidaksempurnaan pasangan menjadi hal yang penting dalam tahap pranikah. Islam menuntunkan agar ketika memilih pasangan, yang dicari adalah yang baik agamanya. Ketika memilih pasangan hanya karena kecantikan/ketampanan, semata kekayaan, atau sebatas silsilah keturunan, tanpa pertimbangan kebaikan agama calon pasangan, kelanggengan rumah tangga pun bisa jadi sebatas asa.
Perceraian dalam Islam pada asalnya makruh, perkara yang sebaiknya dihindari. Kalau toh akhirnya terjadi, perceraian adalah tahapan paling akhir yang ditempuh, bukan solusi pertama yang dikedepankan. Oleh karena itu, tuduhan bahwa Islam memberikan celah bagi bubarnya sebuah tatanan rumah tangga adalah keliru. Islam sudah mengatur tahapan-tahapan sebelum vonis cerai dijatuhkan. Perceraian dalam Islam bukanlah keputusan yang gegabah, tanpa didasari pertimbangan yang matang. Lihatlah para artis yang suka kawin cerai atau tetangga kita yang juga mempunyai perilaku serupa, apakah mereka orang-orang yang paham Islam? Jawabannya tentu tidak. Lantas kenapa Islam lagi-lagi disudutkan?
Fakta sendiri berbicara bahwa perceraian di kalangan orang-orang awam seperti mereka, justru didahului aroma perselingkuhan atau perzinaan, yang bermakna bahwa perceraian ala mereka lebih dikuasai hawa nafsu. Kadang juga tak semata beda pendapat, tapi bisa juga hanya karena beda pendapatan. Penghasilan istri yang lebih besar acap memicu istri bersikap sewenang-wenang dan enggan menjaga kehormatan atau kewibawaan suami. Pertikaian demi pertikaian terjadi, lantas memuncak menjadi perceraian.
Perceraian dalam Islam, jika akhirnya tak terhindarkan—tentunya setelah ditempuh tahapan-tahapan yang benar—, tetaplah perceraian yang beradab. Suami istri dituntut untuk menjaga kehormatan dan menutup aib mantan pasangannya. Mereka juga tidak boleh mewariskan kebencian kepada anak-anak sehingga silaturahim tetap terpelihara, demikian juga tidak boleh menelantarkan pendidikan mereka.
Sementara itu, kalau kita berkaca pada kasus-kasus perceraian di masyarakat, yang dijumpai justru sebaliknya. Kebencian menyala-nyala di antara dua keluarga bahkan tak jarang berujung pada pembunuhan. Minimalnya, terjadi perebutan hak asuh anak dengan cara-cara yang tidak syar’i.
Langgengnya sebuah rumah tangga tentu saja sesuatu yang kita cari. Caranya, tentu dengan merujuk kaidah-kaidah Islam dalam berumah tangga. Bukan justru melakukan praktik khurafat dengan menentukan penentuan tanggal pernikahan secara klenik. Demikian juga tidak boleh menggunakan “jalur” dukun demi keakuran suami istri.
Oleh karena itu, dalam satu kasus, perceraian bisa jadi bukanlah solusi. Itu terjadi jika kemaslahatan berumah tangga masih bisa kita raih. Jika sebuah pernikahan dipertahankan namun justru akan menimbulkan banyak kemudaratan, tentu perceraian menjadi solusi yang terbaik. Semua kita kembalikan kepada akal sehat kita yang dibimbing oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Wallahu a’lam.

Sikap Pertengahan dalam Hal Mencari Rezeki

Umar bin al-Khaththab z mengatakan, “Antara seorang hamba dan rezekinya ada pemisah. Jika dia qanaah (merasa cukup) dan jiwanya merasa ridha, rezekinya akan menghampirinya. Akan tetapi, jika dia memaksa masuk dan meruntuhkan hijab itu, dia tidak akan bisa menambah rezekinya di atas kadar yang telah ditentukan untuknya.”
Sebagian salaf berkata, “Bertawakallah, maka engkau akan dianugerahi rezeki tanpa kelelahan dan susah payah.”
Al-Marwazi bertanya kepada al-Imam Ahmad tentang seseorang yang hanya duduk di rumahnya—padahal dia mampu untuk beraktivitas—dan mengatakan, “Aku akan duduk dan bersabar. Aku tidak akan mengharapkan sesuatu dari orang lain.”
Al-Imam Ahmad menjawab, “Dia keluar dari rumahnya dan berbuat sesuatu lebih aku sukai. Kalau dia hanya duduk di rumahnya, aku khawatir, dia malah berharap akan ada orang yang mengiriminya sesuatu.”

(diambil dari Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali, hlm. 591—592)