Kotoran di Bawah Kuku, Wudhu Tidak Sah?

Ada silang pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam al-Mughni (1/174 terbitan Darul ‘Alam al-Kutub) setelah menukilkan pendapat yang mengatakan wudhunya tidak sah, “Ada kemungkinan dia tidak diharuskan menghilangkan kotoran yang menutup itu. Sebab, biasanya memang ada kotoran yang menutup di bawah kuku. Maka dari itu, seandainya bagian yang tertutup itu wajib dibasuh, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkannya kepada umat, karena tidak boleh menunda penjelasan suatu perkara dari waktu dibutuhkannya penjelasan itu.”

Ini adalah salah satu pendapat yang kuat di kalangan fuqaha (ahli fiqih) mazhab Hanbali dan dipilih oleh Ibnu Taimiyah sebagaimana dalam al-Ikhtiyarat al-’Ilmiyyah (hlm. 21).

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang kotoran di bawah kuku yang panjang dan menghalangi air untuk membasuh bagian itu dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram (pada syarah hadits Anas tentang lelaki yang pada kakinya ada bagian sebesar potongan kuku/ sebesar kuku yang tidak terbasuh air wudhu). Beliau berkata, “Syaikhul Islam memilih pendapat bahwa hal itu dimaafkan dan fuqaha mazhab Hanbali menyetujuinya, karena sulit untuk menjaga diri dan menghindar darinya. Kalau kita mengatakan wajib untuk mencungkilnya setiap kali hendak berwudhu, tentu hal itu memberatkan.”

Pendapat ini pula yang difatwakan oleh al-Imam Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa (10/50). Beliau berkata, “Wudhunya sah. Kotoran yang mungkin saja ada di bawah kuku tidak menghalangi sahnya wudhu, karena hal itu ringan dan dimaafkan.”

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini.

 

Mengalami Haid, Tapi Belum Sempat Shalat

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

 

Wanita mendapati haid sesudah masuk waktu shalat, tetapi belum mengerjakannya, apa wajib qadha? Jika shalat maghrib, apakah waktu qadha ketika suci juga waktu maghrib, misal suci di siang hari?

Terdapat silang pendapat di antara ulama mengenai wanita yang mendapati waktu shalat lantas datang bulan (haid) sebelum sempat mengerjakannya.

 

  1. Tidak wajib mengqadhanya, kecuali jika menundanya hingga sempit waktunya lantas datang bulan (haid), ia wajib mengqadhanya.

Alasannya, kewajiban qadha shalat harus berdasarkan perintah khusus yang memerintahkan hal itu, sedangkan dalam hal ini tidak ada. Lagi pula, ia menunda pelaksanaan shalat masih dalam batas yang dibolehkan. Jika kemudian datang bulan sebelum melaksanakannya, ia tidak tergolong sengaja melalaikannya sehingga diharuskan mengqadhanya. Berbeda halnya jika ia menundanya hingga batas waktu yang sudah sempit untuk pelaksanaannya lantas haid, ia wajib mengqadhanya.

Ini pendapat Malik dan Zufar. Zufar juga meriwayatkan pendapat ini dari Abu Hanifah. Pendapat ini yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sebagaimana dalam kitab al-Ikhtiyarat. Al-‘Utsaimin mengakui dalam kitab asy-Syarh al-Mumti bahwa alasan pendapat ini sangat kuat.

  1. Wajib mengqadhanya.

Namun, alim ulama yang memegang pendapat ini berbeda pendapat mengenai kriteria kadar waktu yang didapati olehnya lantas datang bulan. Terdapat tiga mazhab di antara mereka.

  1. Kadar waktu yang cukup untuk takbiratul ihram.

Alasannya, ia mendapati bagian awal shalat sehingga seakan-akan mendapatkan shalat secara utuh dari awal hingga akhir. Sebab, satu shalat tersusun dari serangkaian gerakan dan bacaan yang merupakan satu kesatuan yang utuh, itu tidak terpisahkan satu dengan lainnya. Ini yang masyhur pada mazhab Ahmad.

  1. Kadar waktu yang cukup untuk pelaksanaan satu rakaat.

Dalilnya adalah hadits umum yang menyatakan bahwa mendapati satu rakaat[1] dianggap mendapati shalat secara utuh, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa mendapati satu rakaat dari suatu shalat berarti dia telah mendapati shalat tersebut.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ini pendapat sebagian fuqaha mazhab Syafi’i. Al-‘Utsaimin menyatakan dalam kitab asy-Syarh al-Mumti’ dan Fath Dzil Jalal wal Ikram bahwa pendapat ini lebih hati-hati. Bahkan, beliau memfatwakan pendapat ini dengan tegas dalam kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il.

  1. Kadar waktu yang cukup untuk pelaksanaan shalat wajib waktu itu secara utuh dari awal sampai akhir.

Menurut pendapat ini, masalah ini berbeda dengan wanita haid yang suci di akhir waktu dengan mendapatkan kadar waktu untuk satu rakaat. Wanita haid yang suci di akhir waktu dengan mendapatkan kadar waktu untuk satu rakaat tercakup dalam keumuman makna hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, karena memungkinkan baginya menyempurnakan shalat itu meskipun waktunya telah keluar. Adapun masalah ini, artinya ia hanya sempat shalat satu rakaat lantas datang haid sehingga tidak bisa meneruskan shalatnya.

Ini adalah mazhab Syafi’i yang dipegang oleh jumhur fuqaha Syafi’iyah dan riwayat kedua dari Ahmad. An-Nawawi rahimahullah menukil silang pendapat yang ada pada mazhab Syafi’i mengenai diperhitungkan tidaknya kadar waktu untuk bersuci selain waktu untuk pelaksanaan shalat itu secara utuh. Ada yang memperhitungkan hal itu, ada pula yang tidak. Yang tidak memperhitungkan kadar waktu untuk bersuci berhujah bahwa memungkinkan baginya bersuci sebelum masuk waktu shalat, kecuali pada orang yang tidak sah bersuci sebelum masuk waktu shalat, seperti wanita yang istihadhah (keluar darah terus-menerus)[2], hal itu diperhitungkan. Inilah yang terkuat dari kedua pendapat tersebut.

Terus terang, pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah (pendapat pertama) dan pendapat terakhir tergolong kuat, tetapi sulit untuk menyelisihi keumuman makna hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, apalagi mengingat bahwa hal itu lebih hati-hati—seperti kata Ibnu ‘Utsaimin. Jika demikian, yang terbaik adalah mengikuti apa yang difatwakan oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam hal ini.

Jadi, jika seorang wanita mendapati kadar waktu yang cukup untuk pelaksanaan satu rakaat lantas haid, ia wajib mengqadhanya. Berdasarkan pendapat ini, yang diperhitungkan adalah kadar waktu untuk pelaksanaan satu rakaat semata tanpa memperhitungkan kadar waktu untuk bersuci, sesuai zahir (makna yang tampak dari) hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Wallahu a’lam.[3]

Adapun mengenai waktu mengqadhanya, wajib mengqadhanya kapan saja ia suci dari haid setelah bersuci terlebih dahulu. Jika yang harus diqadha adalah shalat maghrib (misalnya) dan ia suci di siang hari, ia tidak perlu menunggu sampai maghrib, tetapi saat itu juga harus mengqadhanya kemudian menunaikan shalat fardhu yang tiba waktu itu.

Berbeda halnya jika ia suci di ujung waktu shalat fardhu yang hadir waktunya dengan kadar waktu yang tersisa hanya cukup untuk pelaksanaan shalat fardhu yang hadir atau satu rakaat darinya[4], ia harus mendahulukan pelaksanaan shalat fardhu yang hadir/tiba itu kemudian mengqadha shalat maghribnya.

Misalnya, ia suci di pertengahan waktu shalat zuhur. Ia segera bersuci, kemudian mengqadha shalat maghrib, kemudian menunaikan shalat zuhur. Jika ia suci menjelang masuknya waktu shalat ashar dengan kadar waktu yang tersisa hanya cukup untuk menuaikan shalat zuhur atau hanya cukup untuk menunaikan satu rakaat darinya, hendaknya ia segera bersuci, kemudian menunaikan shalat zuhur, kemudian mengqadha shalat maghrib, kemudian menunaikan shalat ashar.

Contoh lain, seorang wanita suci di pengujung waktu dengan kadar waktu yang hanya cukup untuk pelaksanaan shalat ashar sebelum matahari menguning yang merupakan waktu darurat. Hendaknya ia mendahulukan shalat ashar agar tertunaikan sebelum waktu darurat mengingat tidak boleh menunda pelaksanaan shalat ashar hingga masuk waktu darurat kecuali bagi yang beruzur, baru kemudian mengqadha shalat maghrib.[5]

Wallahul muwaffiq.

 

[1] Satu rakaat yang dimaksud berupa takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, rukuk, i’tidal (bangkit dari rukuk), sujud dua kali yang diselingi oleh duduk di antara dua sujud. Lihat jawaban “Problema Anda” bertajuk Wanita Suci Dari Haid Setelah Waktu Shalat, Majalah Asy Syariah edisi 6.

[2] Lihat tata cara bersuci wanita istihadhah pada buku kami yang bertajuk Panduan Syar’i Cara Bersuci (hlm. 235 dst.). Adapun tayammum tidak dipersyaratkan harus setelah masuk waktu shalat, tetapi sah kapan saja hendak tayammum. Lihat pula buku kami tersebut pada (hlm. 157).

 

[3] Lihat kitab al-Mughni (2/47, Dar ‘Alam al-Kutub), al-Inshaf (2/441), al-Majmu’ (3/71—72), Majmu’ al-Fatawa (23/334—335), al-Ikhtiyarat (hlm. 53), asy-Syarh al-Mumti’ (2/128—132, Dar Ibnul Jauzi), Fath Dzil Jalal wal Ikram (1/Kitab ash-Shalah, Bab “Al-Mawaqith” syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu “Man Adraka Rak’atan min ash-Shubhi….”, dan Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (12/218).

[4] Sebab, suci dari haid di pengujung waktu shalat dengan kadar waktu yang tersisa hanya cukup untukpelaksanaan satu rakaat, terhitung mendapatkan shalat secara utuh, sehingga terkena kewajiban menunaikan shalat tersebut. Lihat kembali “Problema Anda” dengan tajuk Wanita Suci Dari Haid Setelah Waktu Shalat, Majalah Asy Syariah edisi 6.

[5] Lihat kitab al-Mughni (2/340—344) dan asy-Syarh al-Mumti’ (2/144—145).

Al-Lathif

Mahalembut terhadap hamba-Nya, Maha Mengetahui hal-hal yang lembut, itulah al-Lathif, salah satu asma’ul husna yang Dia subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 103)

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); sedangkan Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyebutkan nama Allah al-Lathif dalam sebuah hadits,

“Wahai Aisyah, ada apa denganmu? Nafasmu tampak terengah-engah.”

Aisyah menjawab, “Tidak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Engkau harus mengabarkan kepadaku atau Allah akan mengabariku, Yang Maha Mengetahui hal-hal yang lembut dan Maha Berilmu.” (Sahih, HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Penulis kitab an-Nihayah berkata, “Pada nama Allah اللَّطِيفُ ( al-Lathif) terkumpul makna kelembutan dalam bab perbuatan, dan dalam bab ilmu terhadap maslahat-maslahat yang lembut, serta menyampaikannya kepada makhluk-Nya yang Allah takdirkan untuk memperolehnya.

Ungkapan,

لَطَفَ بِهِ وَلَهُ

Maknanya ialah berbuat lembut padanya.

Adapun ungkapan لَطُفَ dengan harokat dhammah pada huruf tha’ maknanya kecil atau lembut.”

Ar-Raghib rahimahullah berkata, “(Dalam bahasa Arab) sesuatu yang tidak dapat ditangkap dengan indra terkadang diungkapkan dengan kata al-Latha’if. Bisa jadi, dari sisi inilah Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan nama al-Lathif, yakni bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang lembut. Bisa jadi pula, maknanya ialah Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya dalam hal memberikan hidayah kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (asy-Syura: 19)

“Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Yusuf: 100)

Dengan demikian, Allah Mahalembut terhadap hamba-Nya dalam urusanurusan yang ada dalam diri hamba tersebut, yakni yang terkait langsung dengan dirinya, dan lembut terhadapnya pada urusan-urusan yang di luar dirinya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menggiring hamba- Nya kepada apa yang menjadi maslahat baginya, dari arah yang hamba itu sendiri tidak merasa. Ini adalah buah dari pengetahuan Allah, rahmat-Nya dan kemurahan-Nya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa nama ini memiliki dua makna.

  1. Bermakna al-Khabir, yang berarti ilmu-Nya meliputi hal-hal yang rahasia, yang tersembunyi, yang tersimpan dalam dada, dan segala sesuatu yang lembut. Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu yang mungkin bagi-Nya, tidak ada sesuatu pun yang terlewat dari ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan pengetahuan-Nya.
  2. Kelembutan-Nya terhadap hamba-Nya dan wali-Nya yang ingin Dia beri karunia, meliputinya dengan kelembutan-Nya dan kemurahan-Nya, mengangkatnya ke derajat yang tinggi, memberikan kemudahan untuknya, dan menjauhkan-Nya dari kesulitan.

Karena itu, mengalirlah pada dirinya berbagai ujian dan berbagai ragam cobaan—yang Allah subhanahu wa ta’ala ketahui mengandung maslahat, kebahagiaan, dan akibat yang baik baginya, di dunia dan akhirat. Misalnya, Allah subhanahu wa ta’ala menguji para nabi dengan gangguan dari kaumnya kepada mereka dan dengan jihad di jalan-Nya. Allah menguji para walinya dengan sesuatu yang mereka benci agar Dia memberi mereka apa yang mereka sukai.

Inilah makna ucapan Ibnul Qayyim, “Maka dari itu, Allah memperlihatkan kepadamu kemuliaan-Nya,” yakni dengan mengujimu melalui sesuatu yang tidak engkau sukai; serta “Dia tampakkan kelembutan-Nya,” yakni pada akibat yang terpuji dan akhir yang membahagiakan.

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Betapa banyak hamba yang memperoleh berbagai keinginan dunia yang dia cari, baik berupa wilayah, kepemimpinan, atau suatu sebab yang disukai, lalu Allah subhanahu wa ta’ala memalingkannya dari hal tersebut karena kasih sayang-Nya kepadanya, agar hal tersebut tidak membahayakan urusan agamanya.

(Ketika itu) seorang hamba akan bersedih karena ketidaktahuannya dan karena tidak mengenal Rabbnya. Padahal apabila dia tahu apa yang disembunyikan untuknya di alam gaib dan apa yang dikehendaki sebagai kebaikan untuknya, tentu dia akan memuji Allah dan mensyukuri-Nya karena itu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya serta Mahalembut terhadap para wali-Nya.” (Dinukil dari Syarah Nuniyyah karya Muhammad Khalil Harras)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Lathif

Dengan mengimani nama Allah al-Lathif, seseorang akan memahami betapa besar kelembutan-Nya terhadap dirinya, berbagai kenikmatan Allah berikan dari arah yang dia ketahui maupun yang tidak. Ketika seseorang mengimani nama Allah al-Lathif, dia akan lebih merasaskan betapa besarnya kelembutan Allah terhadapnya. Berbeda halnya ketika seseorang belum mengetahui nama Allah al-Lathif, barangkali ia tak begitu berpikir tentang berbagai kelembutan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut pada dirinya.

Di samping itu, keimanan terhadap nama Allah al-Lathif ini akan membuahkan kehati-hatian seseorang ketika bertindak dengan lahiriah dan batiniahnya. Sebab, semuanya diketahui oleh Allah. Selembut apa pun, Allah mengetahuinya. Mahabesar Allah dan Mahaluas ilmu-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita agar selalu melakukan hal-hal yang diridhai-Nya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.

Bani Israil Terdampar di Padang Tiih (2)

Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kasih sayang Nabi-Nya kepada sesama manusia, terutama kepada kaumnya, Bani Israil. Atas dasar itu, mungkin Nabi Musa akan terbawa kesedihan melihat keadaan Bani Israil yang telah didoakannya, sehingga mendorong beliau meminta agar dibatalkan hukuman itu, padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukan demikian. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (al-Maidah: 26)

Seakan-akan, beliau diingatkan agar jangan merasa menyesal dan sedih terhadap keadaan mereka, karena sesungguhnya mereka telah fasik; keluar dari sikap menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, sedangkan kefasikan itu menyebabkan jatuhnya hukuman atas mereka, bukan kezaliman dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikianlah keadaan Bani Israil yang hidup di sahara yang sunyi dan terpencil. Semua itu berlangsung selama empat puluh tahun.

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pemurah selalu merahmati mereka. Allah subhanahu wa ta’ala menaungi mereka dari sengatan matahari dengan awan tipis yang senantiasa berarak di atas kepala mereka. Dia juga menurunkan manna dan salwa sebagai makanan terbaik mereka tanpa mereka harus bersusah payah.

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan pula untuk mereka pakaian yang tidak mudah rusak dan kotor. Setiap kali mereka ingin minum, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam agar memukul sebuah batu yang ada di tengah-tengah mereka dengan tongkatnya. Akibatnya, memancarlah dua belas mata air untuk minum masing-masing kabilah yang ada.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu al-manna dan as-salwa.” (al-Baqarah: 57)

Al-Manna ialah nama bagi semua rezeki yang baik dan diperoleh tanpa susah payah. Di antaranya adalah jahe, jamur, roti, dan sebagainya. Adapun as-salwa ialah burung kecil yang dinamakan juga as-sammani, dagingnya lezat. Turun kepada mereka dari manna dan salwa itu sesuatu yang mencukupi mereka dan menjadi makanan pokok mereka.

Akan tetapi, Bani Israil ketika itu kebanyakan tidak memelihara nikmat itu dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak mensyukuri kesenangan dan kemudahan yang mereka rasakan dalam kondisi yang sebetulnya mereka sedang menerima hukuman. Muncullah rasa bosan dalam hati mereka melihat yang mereka santap setiap hari adalah itu-itu saja.

Mereka datang menemui Nabi Musa ‘alaihissalam mengeluhkan keadaan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”

Musa berkata, “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.”

Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan.

Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (al-Baqarah: 61)

Mendengar perkataan mereka itu, Nabi Musa ‘alaihissalam menegur mereka dengan keras, bahkan mencela mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah,” yaitu makanan yang kamu sebutkan (bawang merah, bawang putih, dan adasnya),

Bumbu Dapur

“Sebagai pengganti dari yang lebih baik?” yaitu al-manna dan as-salwa. Ini tidak layak bagimu, karena makanan yang kamu minta ini, kota mana pun yang kamu datangi, tentu kamu mendapatkannya. Adapun makanan kamu diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada kamu, adalah sebaik-baik makanan dan paling mulia, mengapa kamu meminta ganti yang lain?

Seakan-akan Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan, “Aku tidak akan memenuhi permintaan kalian yang sangat tidak layak bagi kalian. Aku tidak akan menyampaikan permohonan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar mengabulkan keinginan kalian.”

Kejadian ini adalah bukti terbesar kurangnya kesabaran mereka dan adanya sikap meremehkan perintah dan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, karena itu Dia membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista,” yang mereka saksikan terlihat pada penampilan tubuh mereka.

“dan kehinaan,” di hati mereka, sehingga Anda tidak akan melihat diri mereka dalam keadaan mulia, tidak pula mempunyai cita-cita yang tinggi. Bahkan sebaliknya, jiwa mereka begitu hina dan cita-cita mereka adalah cita-cita yang sangat rendah.

“Serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah,” yakni tidak ada keuntungan yang mereka bawa kembali melainkan kemurkaan-Nya terhadap mereka. Itulah seburuk-buruk ghanimah yang mereka peroleh dan seburuk-buruk keadaan yang mereka rasakan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Hal itu (terjadi),” yaitu orang-orang yang berhak menerima kemurkaan-Nya.

“Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah,” yang menunjukkan kebenaran yang jelas bagi mereka. Akan tetapi, ketika mereka kufur kepadanya, Dia timpakan kepada mereka kemurkaan-Nya. Selain itu juga karena mereka dahulu

“Membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala , “yang memang tidak dibenarkan,’ menegaskan betapa buruknya perbuatan itu. Kalau tidak, seperti diketahui bahwa membunuh seorang nabi tidak mungkin dibenarkan, tetapi agar tidak ada yang menduga bahwa hal itu boleh karena kejahilan dan ketiadaan ilmu mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka,” yakni berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan melampaui batas,” terhadap hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya, kemaksiatan itu tarik-menarik satu sama lain. Adapun kelalaian akan memunculkan dosa yang kecil, lalu berkembang darinya dosa yang besar, dan dari situ muncullah berbagai kebid’ahan, kekafiran, dan sebagainya. Kita mohon keselamatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dari berbagai petaka.

Perlu diketahui bahwa dialog dalam ayat ini diarahkan kepada satu golongan Bani Israil yang ada pada masa-masa turunnya al-Qur’an. Adapun perbuatan-perbuatan yang diceritakan itu tertuju kepada para pendahulu mereka. Dihubungkannya hal itu kepada mereka karena beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Mereka dahulu sangat membanggakan dan menganggap suci diri mereka serta memiliki keutamaan yang lebih dari Muhammad n dan orang-orang yang beriman kepadanya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan keadaan para pendahulu mereka yang telah mereka ketahui, yang menampakkan kepada siapa pun di antara mereka bahwa mereka bukan orang-orang yang sabar dan memiliki akhlak mulia serta amalan yang tinggi.

Maka dari itu, setelah diketahui demikianlah keadaan pendahulu mereka, padahal dianggap mereka itu lebih utama dan lebih mulia keadaannya daripada orang-orang yang datang setelahnya, bagaimana pula halnya dengan orang-orang yang ditujukan dialog ini kepadanya?

  1. Nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang yang terdahulu di antara mereka adalah nikmat yang dirasakan pula oleh orang yang datang belakangan. Nikmat yang dirasakan oleh bapak, nikmat pula bagi anak-anaknya.

Karena itulah, mereka diajak bicara dengan kalimat-kalimat ini. Sebab, semua itu adalah nikmat yang bersifat umum, meliputi mereka juga.

  1. Pembicaraan perbuatan orang lain dengan mereka menunjukkan bahwa sebuah bangsa yang bersatu di atas satu agama, saling membantu dan menjamin kemaslahatannya, hingga seolah-olah orang-orang yang datang lebih dahulu berada pada satu masa dengan yang belakangan, dan peristiwa yang menimpa sebagian mereka adalah kejadian yang dialami oleh mereka seluruhnya.

Di samping itu, kebaikan yang dikerjakan sebagian dari mereka kemaslahatannya juga kembali kepada seluruhnya. Demikian pula mudarat akibat kejahatan yang dikerjakan oleh sebagian dari bangsa itu, kembali kepada seluruhnya.

  1. Perbuatan jelek mereka itu sebagian besarnya tidak mereka ingkari. Padahal, orang-orang yang meridhai sebuah kemaksiatan adalah rekan bagi orang yang bermaksiat.

Tentu saja masih ada hikmah lain yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Di saat mereka hidup di Padang Tiih itulah Nabi Harun ‘alaihissalam wafat, yang disusul meninggalnya Nabi Musa ‘alaihissalam beberapa waktu kemudian. Sepeninggal kedua Nabiyullah ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat Nabi Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam sebagai nabi Bani Israil. Melalui beliaulah Palestina berhasil dibebaskan dari tangan penjajah. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (7) : Tindakan Pertama

Tindakan Pertama

Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ash- Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah berangkat menyusul kekasihnya yang sangat dicintainya, Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak lama setelah itu, ‘Umar bin al-Khaththab dibai’at sebagai pengganti beliau.

Nun di seberang sahara yang membara, di balik bukit-bukit cadas dan lembah berbatu, pasukan muslimin yang dipimpin Khalid bin al-Walid, Si Pedang Allah itu sedang menyabung nyawa menyebarkan dan membela agama Allah. Satu demi satu tanah Arab yang menjadi jajahan Romawi telah dibebaskan. Sampai akhirnya mereka berhasil dengan gemilang meluluhlantakkan pasukan salibis di Yarmuk.

Yarmuk, menjadi saksi bisu sejarah kepahlawanan orang-orang yang jujur dalam ber-Islam. Meskipun mereka baru saja meninggalkan kejahiliahan, ternyata tidak rela tertinggal menuju surga.

Salah seorang dari mereka berkata,

“Di dunia kita dikalahkan oleh mereka (yang terlebih dahulu masuk Islam, –ed.). Di akhirat kita berdesakan dengan mereka di surga.”

Allahu Akbar.

Dan itu, telah mereka buktikan. Inilah murid-murid sejati Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia Agung yang mengemban risalah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi untuk seluruh manusia dan jin.

Hampir dua ratus ribu tentara salibis yang terkenal dengan keahlian mereka dalam berperang, bertubuh tegap dan lengkap dengan persenjataan serta perbekalannya, tanpa ampun harus merasakan sakitnya dicabik-cabik pedang-pedang tentara Allah subhanahu wa ta’ala. Kekalahan tragis itu hanya menyisakan dendam berkarat di dada anak cucu Nasrani, kecuali yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada gunanya latihan militer yang mereka jalankan selama ini. Semua tumpul di hadapan hati-hati yang membaja dengan keimanan sempurna kepada Penguasa langit dan bumi.

Mari, kita kenang kembali, bagaimana pemuda Bani Makhzum yang belum lama masuk Islam. Dahulu, di masa remajanya, dia beranjak dewasa bahu membahu bersama bapaknya menjadi petaka bagi kaum muslimin. Penentang nomor satu dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, bapaknya harus puas menerima gelar Fir’aun umat ini.

Betul, dia adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahl ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi radhiallahu ‘anhu. Di tengah-tengah berkecamuknya pertempuran yang tidak sebanding jumlah kedua kubu yang berhadapan itu, ‘Ikrimah menarik kekang kudanya ke depan dan berseru, “Siapa yang mau berbai’at untuk mati syahid, hari ini?!!”

Dua ratus lebih prajurit muslim yang meyakini angin surga sedang bertiup di bumi Yarmuk menyambut tantangan satria tersebut.

Derap ratusan kuda yang dipimpin ‘Ikrimah menerjang ke tengah musuh yang berjumlah dua ratus ribuan orang itu. Pekik Allahu Akbar menggema diiringi ringkik kuda dan dentingan pedang yang beradu.

Satu demi satu mereka jatuh ke bumi, setelah membuat pasukan musuh benar-benar harus menelan pil pahit di hari itu.

Yarmouk

Nun, di kota suci, Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat setelah mengukuhkan ‘Umar sebagai penggantinya. ‘Umar tidak menunda-nunda menjalankan tugasnya. Setelah menjadi khalifah, yang pertama dikerjakan beliau adalah memberhentikan Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu dari jabatan panglima kaum muslimin dan mengangkat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu sebagai penggantinya.

Ada yang berpendapat bahwa langkah ini sangat tepat. Alasan mereka, ‘Umar dan Khalid sama-sama memiliki sifat keras dan tegas, sedangkan Abu ‘Ubaidah berwatak lembut dan mudah. Karena itu, ‘Umar melihat, watak kerasnya harus ada yang mengimbangi dan menahannya. Beliau melihat Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu adalah yang tepat untuk itu.

Ada pula yang menceritakan bahwa pemecatan Khalid dari kedudukannya sebagai panglima adalah upaya Amirul Mukmin memangkas akar-akar fanatisme jahiliah di hati kaum muslimin. Beliau khawatir, kaum muslimin terfitnah karena mereka selalu berhasil mengalahkan musuh jika dipimpin oleh Khalid. Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan tauhid dan tawakal mereka kepada Allah, Amirul Mukminin memecat Khalid untuk menanamkan keyakinan kepada kaum muslimin, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memberi kemenangan itu, sama sekali bukan karena kelihaian dan kejeniusan Khalid dalam menjalankan taktik perang.

Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin menegaskan, “Aku memecat Khalid bukan karena dia lemah atau khianat, melainkan karena khawatir kaum muslimin terfitnah. Karena itu, aku ingin mereka menyadari bahwa semua (kemenangan) ini adalah Allah yang mengaturnya.”

Ada beberapa versi yang menerangkan peristiwa tersebut. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa kurir dari Madinah menyerahkan surat Amirul Mukminin langsung kepada Abu ‘Ubaidah, tetapi oleh Abu ‘Ubaidah dia disuruh diam dan menunggu sampai keadaan tenang. Setelah keadaan agak tenang, pasukan beristirahat, Abu ‘Ubaidah menemui kurir tersebut dan membaca surat yang dibawanya.

Abu ‘Ubaidah meminta kepada kurir itu agar tidak menceritakan isi surat tersebut kepada siapapun sampai keadaan benar-benar tenang, agar pencopotan Khalid tidak membuat goyah semangat tempur kaum muslimin.

Yang lain berpendapat bahwa surat itu sampai ke tangan Khalid, kemudian beliau mendoakan kebaikan untuk Amirul Mukminin. Kata Khalid, “Aku tidak berperang karena ‘Umar, tetapi karena Allah.” Kemudian, dia menemui Abu ‘Ubaidah untuk menyerahkan surat tersebut.

Begitu bertemu, beliau langsung memberi salam penghormatan sebagai prajurit biasa kepada panglima. Abu ‘Ubaidah tentu saja kaget menerima penghormatan itu, kemudian dia membaca surat yang diserahkan oleh Khalid.

Keadaan tetap tenang, seakan-akan tidak ada kejadian apapun dalam barisan kaum muslimin.

Khalid tetap bertempur dengan penuh semangat untuk mencari syahid. Dia merasa yakin, apapun kedudukannya, di manapun posisinya dia adalah tentara Allah. Sebelum itu, dia sebagai panglima, tetapi juga prajurit, bertempur sengit menerjang musuh untuk meraih syahid. Adapun sekarang, dia adalah prajurit biasa tetapi juga panglima.

Ya, dia panglima meskipun statusnya adalah prajurit biasa, karena dia tetap memimpin pasukan muslimin dengan memberikan saran dan arahan serta taktik yang jitu kepada panglima baru. Bahkan, diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Segala puji milik Allah yang menetapkan aku mencintai Amirul Mukminin.”

Ketika dalam keadaan terbaring menjemput maut, Khalid ditanya, “Siapa yang engkau wasiatkan mengurusi anak-anakmu?”

“Amirul Mukminin ‘Umar bin al- Khathathab,” jawab beliau. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Tanya Jawab Ringkas Edisi 97 (2)

Pertanyaan-pertanyaan berikut dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Shalat Sunnah bagi Wanita Haid

Bolehkah wanita haid melaksanakan shalat sunnah?

0899xxxxxxx

  • Jawaban:

Wanita haid tidak boleh shalat apa pun, wajib atau sunnah.

 

Menutup Telinga Saat Iqamat

Apakah sewaktu iqamat untuk shalat disyariatkan menutup telinga seperti saat adzan?

08214xxxxxxx

  • Jawaban:

Sebagian ulama berpendapat demikian, tetapi kebanyakan ulama berpendapat tanpa menutup telinga.

 

Gadai Sawah

Ada orang punya utang 4 juta dengan menggadaikan sawah, tenggang waktu 4 musim penghujan atau biasanya 4 tahun. Akan tetapi, sawah itu sekarang diolah dan hasil panennya diambil si pemberi utang.

Pertanyaannya:

1) Apakah boleh utang dibayar sekarang, walaupun belum 4 tahun, takut dilaknat karena memberi riba karena baru tahu hukumnya setelah baca Asy Syariah?

2) Apakah dia dikatakan menyalahi janji, karena yang berlaku di desa kami seperti itu. Kalau belum mencapai waktu yang disepakati, belum mau dibayar, karena belum dapat untung?

081392xxxxxx35

  • Jawaban:

Ya, bahkan harus segera dilunasi untuk menghindari riba.

 

Imunisasi

Apa hukumnya pemberian imunisasi pada bayi?

08774xxxxxxx

  • Jawaban:

Imunisasi pada dasarnya boleh. Adapun tinjauan secara medis, bisa ditanyakan kepada ahlinya.

 

Shalat di Belakang Shaf Sendirian

Dalam shalat berjamaah ketika shaf depan sudah penuh dan kita berada pada shaf kedua sendirian, apakah yang harus kita lakukan? Apakah tetap saja shalat meskipun sendirian dalam shaf kedua?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya, tetap shalat dan sah, insya Allah, jika shaf pertama memang sudah penuh. Tidak perlu menarik orang dari shaf di depannya untuk menemani.

 

Shalat Sunnah Rawatib Empat Rakaat

Apakah boleh shalat 4 rakaat sekaligus tanpa salam sebelum zuhur? Siapakah ulama yang berpendapat demikian?

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Yang rajih dikerjakan dua rakaat dua rakaat, walaupun ada yang membolehkan dengan satu salam. Keterangan tentang hal ini bisa dilihat pada buku Tuntunan Shalat Sunnah karya asy-Syaikh Muhammad Umar Bazmul.

 

Ibu Mengimami Anak Perempuan

Bolehkah ibu mengimami anak perempuannya yang berusia 7 tahun yang masih sering bercanda dalam shalat? Apakah sebaiknya shalat sendiri-sendiri atau bagaimana?

081227xxxxxx

  • Jawaban:

Boleh mengimaminya.

 

Bacaan Saat Sujud Syahwi

Apa yang bisa dibaca seseorang ketika sujud sahwi? Apa perlu bertakbir ketika hendak sujud sahwi?

08386xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada riwayat yang sahih yang menyebutkan bacaan tertentu sehingga bisa baca seperti sujud biasanya. Untuk sujud sahwi, memakai takbir.

 

Kapan Allah subhanahu wa ta’ala Mengampuni Dosa?

Sejak kapan Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa hambanya, apakah setelah tobat ataukah setelah disiksa di neraka?

08536xxxxxxx

  • Jawaban:

Bisa jadi hamba diampuni sebelum tobat dengan sebab tertentu. Bisa jadi pula setelah dia bertobat. Yang jelas, tobat itu wajib hukumnya.

 

Doa Khusus Bagi Ayah yang Sudah Meninggal

Apa doa yang dibacakan untuk ayah yang sudah meninggal? Apakah ada doa khusus yang dibacakan supaya dikabulkan?

0898xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada doa khusus, seperti yang biasa saja, “Rabbighfirli wa li walidayya.”

 

Doa Antara Azan dan Iqamat

Ada hadits yang menyatakan bahwa waktu berdoa yang afdal adalah setelah dikumandangkan azan. Yang saya tanyakan, apakah kita berdoa dengan menengadahkan kedua tangan?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya, dengan mengangkat tangan.

 

Hukum Karma dalam Islam

Apakah benar di dalam Islam ada istilah “hukum karma”?

08214xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada istilah hukum karma dalam Islam.

 

Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu?

Apakah bersentuhan kulit dengan istri itu membatalkan wudhu?

08538xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak membatalkan wudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu kemudian mencium istrinya, lalu pergi shalat tanpa berwudhu lagi.

 

Membaca al-Qur’an Saat Haid

Bolehkah wanita membaca/menulis al-Qur’an saat haid?

08564xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh.

 

Keluar Rumah Tanpa Izin Suami

Bolehkah wanita keluar rumah (bukan safar) tanpa seizin suami, karena suami merantau di Arab?

081327xxxxxx

  • Jawaban:

Izin dari suami, bisa jadi dengan ucapan langsung, bisa jadi pada sesuatu yang sudah maklum dia izinkan. Hal yang seperti itu boleh juga. Wallahu a’lam.

 

Tempat Afdal untuk Akikah

Seorang wanita saat lahirnya belum diakikahi dan sekarang dia ikut suaminya. Jika dia ingin mengakikahi dirinya, di mana tempat yang afdal?

0899xxxxxxx

  • Jawaban:
    Di tempat dia berada sekarang.

 

Membaca al – Qur ’an Tanpa Berkerudung

Bolehkah seorang perempuan membaca al-Qur’an tidak berkerudung?

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh.

 

Cairan Coklat setelah Haid

Seorang wanita yang tidak mempunyai kebiasaan (adat haid) melihat cairan kecoklatan setelah terputusnya darah. Apa yang seharusnya dia lakukan?

08534xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak termasuk haid.

 

Kapur Ajaib

Bagaimana hukumnya menggunakan kapur ajaib untuk mengusir serangga?

085227xxxxxx

  • Jawaban:

Boleh insya Allah.

 

Celana di Atas Mata Kaki

Mengapa celana kita harus dipotong di atas mata kaki?

02195xxxxxx

  • Jawaban:

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita memanjangkan celana sampai di bawah mata kaki. Di antara hikmahnya, hal demikian identik dengan kesombongan, terbukti biasanya yang memanjangkan memandang sinis kepada yang di atas mata kaki. Bisa jadi ada hikmah lain. Yang jelas, kita harus taat.

 

Nisbat Wahabi

Mau tanya. Apa boleh menisbahkan diri sebagai wahabi, soalnya itu kan penisbahan kepada seseorang?

08384xxxxxxx

  • Jawaban:

Nisbah yang benar adalah kepada salaf.

 

Menahan Buang Angin Saat Shalat

Apa boleh menahan kentut pada saat shalat?

08564xxxxxxx

  • Jawaban:

Kalau tekanan kentut tidak kuat dan tetap bisa khusyuk maka boleh, tetapi makruh.

 

Waktu Larangan Shalat Sunnah

Apa hukum shalat sunnah pada saat matahari terbit di ufuk timur dan pada saat matahari terbenam di ufuk barat?

08539xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak boleh shalat saat itu, tunggu matahari terbit dan agak meninggi sekitar 5—10 menit setelahnya. Demikian pula pada saat sore hari, tunggu sampai matahari tenggelam.

 

Waktu Sepertiga Malam

Kapan waktu sepertiga malam terakhir itu?

08521xxxxxxx

  • Jawaban:

Sejak sekitar jam 1 sampai dengan terbit fajar (azan subuh).

 

Membersihkan Bulu Ketiak

Apakah membersihkan bulu ketiak itu sunnah? Bagaimana cara membersihkannya agar tidak tumbuh lagi?

08963xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya, termasuk sunnah. Caranya, lebih baik dicabut meski boleh saja dikerik. Bulu tersebut tumbuh terus tidak mengapa, sehingga tetap bisa melaksanakan sunnah. Hanya saja tidak boleh melebihi waktu 40 hari kecuali harus dicabut.

 

Maulid Nabi

Mengapa kita dilarang memperingati Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Karena tidak dicontohkan oleh Nabi. Seandainya baik, tentu hal itu akan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Shalat Sunnah Qabliyah Maghrib

Apakah ada shalat sunnah qabliyah maghrib?

08233xxxxxxx

  • Jawaban:

Ada, dua rakaat. Sebagian ulama tidak memasukkannya sebagai shalat rawatib.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 97 (1)

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Daging Akikah untuk Orang Kafir

Apakah kita boleh memberikan daging akikah kepada saudara kita yang bukan muslim?

08522xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh, dengan niat untuk hadiah atau melembutkan hati mereka. Begitu pula daging hewan kurban. Jadi, akikah dan hewan kurban sebagian menjadi sedekah untuk fakir miskin, sebagian menjadi hadiah untuk orang kaya, termasuk di dalamnya orang yang kafir.

 

Kuas Sisir

Semir Rambut Hitam Kecoklatan

Bolehkah menyemir rambut dengan warna coklat kehitaman karena rambut sudah mulai memutih? Ini atas permintaan suami agar terlihat lebih muda.

081327xxxxxx

  • Jawaban:

Dalam Islam rambut yang memutih karena uban disunnahkan untuk disemir, tetapi dilarang memakai warna hitam. Selama bukan warna hitam, diperbolehkan baik untuk laki-laki maupun perempuan.

 

Sandal Wanita

Wanita Shalat Memakai Sendal

Apakah shalat memakai sendal hukumnya sunnah? Jika wanita sesekali tidak memakai sendal, apakah bisa dihukumi seperti Yahudi?

08539xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, karena hukumnya sunnah. Yang tidak melakukannya tidak mendapatkan dosa, apalagi dihukumi seperti Yahudi. Yang dinasihatkan ketika hendak shalat menggunakan sendal adalah mempertimbangkan maslahat dan muadarat dalam pandangan masyarakat umum.

 

Derajat Hadits Tentang Talak

Bagaimana kedudukan hadits, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak”?

08781xxxxxxx

  • Jawaban:

Hadits ini mursal, termasuk riwayat mursal Muharib bin Ditsar. Mursal termasuk golongan hadits dhaif.

 

Berlepas Diri dari Hizbiyah

Apakah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya berkonsekuensi bahwa saya juga harus berlepas diri dari mereka yang berdakwah tentang agama, namun dalam wadah atau kelompok baru yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Abu Abdillah—Lampung

08574xxxxxxx

  • Jawaban:

Benar, itu temasuk konsekuensi tauhid kita. Kita harus berlepas diri dari kaum musyrikin dan kesyirikan serta dari kebid’ahan dan ahli bid’ah.

koko-batik-biru

Shalat Memakai Pakaian Bermotif

Bagaimana hukumnya memakai pakaian, seperti sarung, songkok, jubah, gamis yang bermotif/tidak polos dalam shalat?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Selama motifnya tidak ramai dan tidak mengganggu orang yang shalat, tidak mengapa. Afdalnya memakai yang polos sehingga tidak menganggu pandangan orang yang shalat.

 

Partai Politik = Ashabiyah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bukan dari golongan kami, orang yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan).” (HR. Abu Dawud)

Apakah orang-orang yang masuk ke partai politik tertentu dan mengampanyekan partainya termasuk dalam hadits ini?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya. Semua riwayat yang melarang kita dari ashabiyah maka termasuk di antaranya adalah partai-partai politik yang ada ini.

kaus-kaki-pria

Kaos Kaki Tinggi = Musbil?

Jika seseorang memakai celana sampai setengah betis kemudian memakai kaos kaki tinggi, apakah termasuk musbil?

08154xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, karena menggunakan kaos kaki diperbolehkan. Selain itu, diperbolehkan pula menggunakan khuf (sepatu yang menutupi mata kaki). Yang dilarang adalah yang dari atas, baik itu celana, sarung, jubah, maupun gamis.

 

Antara Umrah & Membantu Orang Miskin

Saya pelanggan Majalah Asy Syariah ingin bertanya. Sekarang ada fenomena adanya ibadah umrah. Yang saya tanyakan, lebih penting mana antara menjalankan ibadah umrah sementara di sekitar kita, bahkan mungkin saudara di sekitar kita, masih banyak yang hidup miskin?

08564xxxxxxx

  • Jawaban:

Dikerjakan dua-duanya. Kita sisihkan uang untuk membantu orang lain yang membutuhkan, di sisi lain kita juga melakukan umrah. Ringkasnya, ibadah umrah sangat besar keutamaannya dan tidak bertentangan dengan ibadah sedekah.

 

Perempuan Mendakwahi Lelaki

Bolehkah seorang perempuan mendakwahi laki-laki? Sebab, wanita tersebut lebih berilmu dan tidak tahan dengan kemungkaran yang dilakukan oleh si lelaki.

08967xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh, dengan syarat aman dari fitnah (godaan) dan dengan cara yang hikmah.

 

Orang Tua Ingin Anak Belajar ke Luar Negeri

Orang tua saya menyuruh saya untuk belajar di Yaman bersama para ulama. Namun, saya merasa belum pantas untuk pergi ke sana karena ilmu saya yang masih sedikit dan umur saya masih 17 tahun. Saya masih merasa takut apabila pergi terlalu jauh. Apa nasihat ustadz, sikap terbaik yang harus saya lakukan?

08237xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika menunda keberangkatan dalam rangka memperdalam ilmu yang dirasa penting sehingga lebih mudah ketika belajar di Yaman, itu alasan yang tepat. Akan tetapi, jika ketidaksiapan tersebut karena takut, alasan itu kurang tepat. Sebab, keberangkatan biasanya bersama teman-teman dari Indonesia.

Di Yaman juga sudah ada teman-teman dari Indonesia yang akan membagikan pengalaman kepada kita. Kuatkan hati, azamkan tekad, ambil kesempatan ini sebelum hilang.

 

Wanita Memakai Sendal Lelaki

Wanita memakai sendal seperti laki-laki, apakah itu termasuk tasyabuh?

08579xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika sendal tersebut khusus laki-laki, tidak boleh. Jika bukan sendal khusus laki-laki, boleh. Tasyabuh tidak hanya terjadi dalam hal pakaian, tetapi dalam hal yang lain pula.

 

Suami Merantau, Istri Menyuruh Pulang

Apakah seorang istri berdosa menyuruh suaminya pulang apabila suami tersebut tidak bekerja di rantau. Suami masih menunggu mendapatkan pekerjaan.

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Hal ini kembali terserah kerelaan istri. Jika istri meridhai suami tidak pulang, tidak masalah berada di rantauan. Jika tidak rela, hal itu tidak boleh. Sebab, istri punya hak terhadap suaminya. Jika dalam kondisi yang demikian istri meminta suami pulang, suami harus pulang. Demikian juga ketika suami menimba ilmu agama dan istri memintanya pulang, suami harus pulang. Sebab, itu adalah hak istri.

 

Menasihati Murid di Depan Umum

Apakah boleh seorang pengajar menasihati murid di hadapan orang banyak, seperti di majlis taklim umum? Padahal murid itu tidak senang dengan yang seperti itu, walaupun memang dia bersalah.

08236xxxxxxx

  • Jawaban:

Hukum asal menasihati seseorang adalah secara sembunyi-sembunyi, bukan di forum umum karena akan menimbulkan banyak mudarat, timbul kesan mencerca, melecehkan, dan menghina. Akan tetapi, dikecualikan (dibolehkan) jika nasihat tersebut menggunakan bahasa yang umum (tidak menunjuk orang tertentu) sehingga bermanfaat bagi semua pihak. Demikian pula ketika menasihati di depan umum memiliki maslahat yang besar.

 

Makanan Orang Kafir

Tiap daerah ada makanan khasnya, gudeg khasnya Yogya; empek-empek khasnya Palembang; rujak cingur khasnya Surabaya, dst. Demikian pula di negara kafir Eropa dan Amerika ada makanan khas masing-masing, spaghetti, makaroni, dan pizza khas Italia; hotdog, hamburger, dan fried chicken khas USA, dst. Demikian halnya di negara kafir Asia punya kekhasan, misalnya sukiyaki dan tenpura hana adalah khas Jepang.

Pertanyaan:

  1. Apakah memasak, membeli, dan mengonsumsi makanan khas negeri kafir tersebut adalah bentuk tasyabuh dan mendukung syiar mereka?
  2. Bagaimana dengan makan di restoran Pizza Hut, McDonald, KFC, dan semacamnya?

0815xxxxxxx

  • Jawaban:

Hukum asal makanan adalah halal kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Selagi makanan itu halal maka boleh dikonsumsi, baik itu makanan yang dibuat oleh kaum muslimin maupun yang dibuat oleh orang kafir. Demikian pula makan di Pizza Hut dan yang semisalnya; jika makanan yang dimakan adalah makanan halal, tidak ada hal-hal yang negatif, diperbolehkan.

 

Mengaji di Tempat Kematian

Kami pelanggan Asy Syariah mau tanya, mengaji di tempat orang meninggal itu boleh atau tidak? Katanya untuk “sangu” orang yang meninggal. Apa pula hukumnya peringatan 7 hari sampai 1000 harinya orang yang meninggal.

08783xxxxxxx

  • Jawaban:

Semua yang disebutkan dalam pertanyaan Anda tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Zikir Khusus Setelah Witir

Apakah ada zikir khusus setelah shalat sunnah witir?

08232xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada zikir tertentu setelah shalat sunnah. Yang ada zikir khusus adalah setelah shalat fardhu.

 

Makna Hadits Roh Ibarat Pasukan

Apa maksud hadits, “Roh-roh ibarat sebuah pasukan kokoh. Jika saling kenal, akan bertemu. Jika tidak mengenal, akan berpisah”? (HR. al-Bukhari)

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kecocokan hati kepada setiap roh. Roh orang baik akan mencari orang baik yang semisalnya. Roh orang yang jelek juga akan mencari yang jelek semisalnya. Ini adalah introspeksi bagi diri kita, siapa yang kita cintai? Jika kita mencintai orang saleh, patut disyukuri. Akan tetapi, kalau kita mencintai orang yang tidak baik, tandanya roh kita juga tidak baik; perlu segera diperbaiki.

 

Menabung Untuk Kurban

Bolehkah menabung untuk kurban? Bagaimana jika ada orang yang berkata, “Daripada menabung untuk kurban, lebih baik menabung untuk thalabul ilmi.”

08570xxxxxxx

  • Jawaban:

Keduanya boleh. Boleh menabung untuk kurban karena hukumnya sunnah muakkadah; dan boleh menabung untuk thalabul ilmi. Jadi, dua amalan tersebut tidak bertentangan. Kita bisa melakukan kedua-duanya.

 

Suara Manusia Menyerupai Musik

Tidak diragukan lagi bahwa alat musik hukumnya haram. Bagaimana hukumnya suara manusia yang menyerupai suara alat musik (misal acapella atau beatbox)?

08574xxxxxxx

  • Jawaban:

Sebaiknya ditinggalkan, karena suaranya adalah suara musik.

 

Masbuk Satu Rakaat

Bagaimana cara shalat makmum yang masbuk satu rakaat saat shalat Isya?

08526xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika maksudnya tertinggal satu rakaat, ketika imam salam dia bangkit menyelesaikan rakaat keempat sampai salam. Jika maksudnya tertinggal tiga rakaat, dia bangkit untuk rakaat kedua dan tasyahud awal, lalu melanjutkan rakaat ketiga dan keempat hingga salam.

 

Tobat Pemelihara Tuyul

Apa dosa seseorang yang memelihara tuyul masih bisa diampuni?

08773xxxxxxx

  • Jawaban:

Semua dosa masih bisa bertobat darinya, asal bertobat dengan taubatan nasuha. Di antara cara tobat memelihara tuyul, dia melepaskan semua tuyul itu dan tidak ada lagi keterkaitan dengan tuyul-tuyul tersebut. Tinggalkan semua klenik yang selama ini dilakukan. Tinggalkan semua bentuk kesyirikan dan khurafat. Kembalilah kepada agama yang benar, bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan banyak beramal saleh.

 

Cara Berjamaah Dua Orang

Bagaimana tatacara shalat berjamaah dengan dua orang? Saya pernah membaca buku tuntunan shalat, jika berjamaah hanya dua orang, imam dan makmum berdiri berjajar. Akan tetapi, yang ada di masyarakat luas sekarang, imam berdiri di depan, makmum di belakangnya. Kalau seperti itu shalatnya mendapat pahala jamaah atau tidak?

08771xxxxxxx

  • Jawaban:

Yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam berdiri sejajar dengan makmum. Adapun imam di depan dan makmum di belakang, hal itu menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Definisi Ahlul Bait

Apa makna ahlul bait? Apa saja ketentuan-ketentuan ahlul bait? Apa yang harus dilakukan jika dia diberi suatu barang atau makanan?

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Ahlul bait adalah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah keluarga Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Abi Thalib, Aqil bin Abi Thalib, dan Harits bin Abi Thalib. Ahlul bait yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimuliakan karena dua alasan:

(1) di atas sunnah, dan

(2) keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika mereka termasuk ahli bid’ah, tidak dimuliakan. Ahlul bait tidak boleh memakan barang sedekah, tetapi boleh menerima dan memakan hadiah.

 

Tata Cara Azan

Apakah gugur syariat menengok ke arah kanan dan kiri ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘ala….” karena sekarang menggunakan pengeras suara?

08572xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, sebab itu adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tetap dikerjakan. Hikmahnya memang untuk mengeraskan suara.

 

Lafadz Azan Subuh

Apakah azan subuh hanya 1 kali, menggunakan lafadz ash-shalatu khairun min an-naum?

08125xxxxxxx

  • Jawaban:

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan, lafadz tersebut pada azan pertama, ada pula yang mengatakan pada azan kedua ketika masuk waktu subuh. Pendapat tersebut sama-sama kuat sehingga perlu dikaji. Pendapat yang dianggap kuat diamalkan, dengan tetap toleransi terhadap pendapat yang lain.

 

Antara Infak dan Sedekah

Mohon penjelasan antara infak dan sedekah, manakah yang lebih utama?

08xxxxxxxxx

  • Jawaban:

Infak ada yang sunnah dan wajib. Infak yang wajib contohnya menafkahi keluarga yang kita tanggung. Infak yang sunnah contohnya infak kepada fakir miskin. Sedekah ada yang wajib (zakat fitrah dan zakat mal) dan sedekah sunnah (sedekah kepada fakir miskin). Jadi, yang lebih afdal adalah yang wajib, kemudian yang sunnah setelahnya.

 

Tobat dari Dusta

Ustadz, bagaimana cara bertobat dari dosa dusta?

08586xxxxxxx

  • Jawaban:

Tinggalkan sifat dan akhlak berdusta, jangan lagi berdusta di kemudian hari. Gantilah dengan kejujuran.

 

Meminjam Uang di Bank

Apa hukum meminjam uang di bank untuk modal usaha?

08536xxxxxxx

  • Jawaban:

Meminjam uang di bank adalah riba, baik untuk usaha, menikah, atau apa pun; baik dalam bentuk rupiah, dolar, maupun mata uang lainnya.

 

Jam Warna Kuning

Apa boleh laki-laki memakai jam berwarna kuning tanpa mengandung emas?

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Selama bukan emas, diperbolehkan.

 

Syahwat Terhadap Wanita

Bagaimana cara menjaga diri dari syahwat terhadap wanita?

08xxxxxxxxx

  • Jawaban:
  1. Tundukkan pandangan.
  2. Cepat-cepat menikah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.

Ibadah yang Paling Utama

 

kabah

Dalam hal memandang amalan ibadah yang paling afdal, paling bermanfaat, dan paling tepat untuk diprioritaskan oleh seorang hamba, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan pandangan tersebut dalam kitab Madarij as-Salikin dan menguatkan salah satunya. Pendapat yang dipilih oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ini juga disebutkan oleh al- Imam al-Miqrizi dalam kitab beliau, Tajrid at-Tauhid al-Mufid. Berikut ringkasan yang mereka berdua sampaikan dengan sedikit perubahan dari kami sebagai penjelasan makna. Wallahu a’lam bish-shawab.

Ibadah yang paling afdal ialah beramal sesuai dengan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala di setiap waktu, dengan amalan yang paling dituntut dan paling sesuai dengan kondisi saat itu.

Ibadah yang paling afdal saat dikumandangkan seruan jihad ialah memenuhinya dan berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta, walaupun membuatnya terhalangi mengerjakan shalat malam dan puasa yang biasa dia lakukan. Bahkan, walaupun hal ini membuatnya terhalang dari menyempurnakan rukun-rukun shalat wajib.

Contoh lain, saat seorang tamu datang, maka ibadah yang paling afdal adalah menyambut dan melayaninya, walaupun hal ini menyibukkannya dari mengerjakan ibadah-ibadah sunnah yang lain.

Ibadah yang paling afdal di sepertiga malam terakhir adalah menyibukkan diri dengan shalat, membaca al-Qur’an, berzikir, beristighfar, dan memanjatkan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadah yang paling afdal saat ada orang yang membutuhkan pengarahan tentang masalah agama dari Anda adalah memfokuskan diri untuk membimbing dan mengajarkan ilmu kepadanya.

Ibadah yang paling afdal saat datangnya waktu shalat fardhu lima waktu adalah bersemangat dan bersungguhsungguh mengerjakannya sesempurna mungkin, bersegera mengerjakannya di awal waktu, keluar menuju masjid untuk mengerjakannya secara berjamaah. Semakin jauh masjid yang dituju, maka semakin afdal.

Ibadah yang paling afdal saat ada orang yang membutuhkan bantuan adalah membantunya semaksimal mungkin dengan tenaga, harta, atau kedudukan. Anda memfokuskan kegiatan untuk mencurahkan bantuan dan lebih memprioritaskan hal itu daripada amalan sunnah yang lain.

Ketika sedang membaca al-Qur’an, yang paling afdal adalah memusatkan hati dan pikiran untuk mentadabburi dan memahami kandungan maknanya hingga seakan-akan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang langsung berfirman kepada Anda dengan al-Qur’an tersebut. Anda pusatkan hati dan pikiran untuk mentadabburi dan memahami maknanya serta membulatkan tekad untuk melaksanakan perintah yang ada di dalamnya. Anda lakukan semua itu melebihi seorang yang sedang memusatkan hati dan pikirannya ketika sedang membaca surat perintah dari seorang kepala negara.

Saat wukuf di padang Arafah, ibadah yang paling afdal adalah bersungguh-sungguh merendah, berdoa, dan berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini lebih utama daripada berpuasa yang menyebabkan diri lemah untuk berdoa dan berzikir pada hari itu.

Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang paling afdal adalah memperbanyak ibadah, terkhusus bertakbir, bertahlil, dan bertahmid. Ini semua lebih afdal pada hari itu daripada berjihad yang bukan wajib ‘ain.

Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yang paling afdal adalah menetap di masjid, menyendiri beribadah, dan beriktikaf. Ini semua lebih baik daripada berbaur dan bercengkerama bersama manusia pada saat itu. Bahkan, hal ini lebih afdal daripada menyampaikan ilmu agama dan mengajarkan al-Qur’an pada sepuluh hari tersebut, menurut pendapat jumhur ulama.

Ibadah yang paling afdal saat ada saudara muslim tertimpa sakit atau meninggal adalah menjenguk atau melayat dan mengantarkan jenazahnya. Ini hendaknya lebih diprioritaskan daripada Anda berkonsentrasi beribadah seorang diri.

Ibadah yang paling afdal saat Anda ditimpa ujian dan gangguan dari manusia adalah melaksanakan kewajiban bersabar atas gangguan mereka. Anda tetap berbaur dan tidak lari meninggalkan mereka. Sebab, seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih afdal daripada seorang mukmin yang tidak mengalami ujian berupa gangguan dari manusia.

Berbaur dengan manusia dalam urusan kebaikan lebih afdal daripada mengasingkan diri dari mereka. Mengasingkan diri dari manusia dalam urusan kejelekan lebih afdal daripada berbaur dengan mereka saat itu. Akan tetapi, apabila dia tahu bahwa jika berbaur dengan mereka dirinya mampu menghilangkan kejelekan tersebut atau meminimalkannya, berbaur dengan mereka lebih afdal.

Ibadah yang paling afdal di setiap waktu dan kondisi adalah memprioritaskan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala pada setiap waktu dan kondisi tersebut. Anda menyibukkan diri dengan kewajiban yang dituntut untuk dilaksanakan pada waktu tersebut, melaksanakan tugas dan keharusan yang sesuai dengan waktu serta kondisi.

Mereka inilah hamba-hamba yang bebas dan fleksibel, sedangkan selain mereka adalah hamba yang kaku dan terikat; hamba yang fleksibel dan tidak terikat dengan suatu ibadah tertentu. Kesibukan utamanya hanyalah mencari keridhaan Rabbnya, di manapun keridhaan-Nya berada. Di situlah poros peredaran ibadah mereka, mencari ridha Rabb semata.

Dia terus-menerus berpindah dari satu amalan ibadah ke amalan ibadah lainnya. Setiap tampak baginya tingkatan ibadah yang paling afdal, dia segera menyibukkan diri untuk mengamalkannya hingga tampak baginya tingkatan lain yang lebih afdal untuk dikerjakan saat itu. Demikianlah kegiatan kesehariannya hingga akhir perjalanan hidupnya.

Jika memerhatikan orang-orang yang ilmu keagamaannya mendalam, Anda akan melihat dirinya bersama mereka.

Ketika memerhatikan orang-orang yang gemar beribadah, Anda akan melihat dirinya bersama mereka pula.

Ketika memerhatikan pasukan mujahidin, Anda pun akan melihatnya di antara mereka.

Saat memerhatikan orang-orang yang gemar berzikir, Anda juga akan melihatnya bersama mereka.

Jika memerhatikan orang-orang yang gemar bersedekah dan berbuat baik, Anda melihatnya lagi di tengah-tengah mereka.

Jika memerhatikan orang-orang yang selalu memusatkan hatinya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, Anda pun akan melihatnya bersama mereka.

Setiap orang yang baik akan merasa nyaman jika dia ada. Sebaliknya, orang yang jelek akan merasa sesak dengan keberadaannya.

Dia bagaikan hujan, di manapun singgah akan memberikan manfaat.

Bagaikan pohon kurma, seluruh bagian dirinya bermanfaat hingga durinya.

Dia begitu keras terhadap setiap orang yang menyelisihi perintah Allah subhanahu wa ta’ala, begitu marah ketika larangan Allah subhanahu wa ta’ala dilanggar.

Dia mempersembahkan amalannya hanya untuk Allah, dengan selalu meminta pertolongan kepada-Nya dan senantiasa membela agama-Nya.

Dia bermuamalah dengan Allah subhanahu wa ta’ala tanpa memedulikan pujian dan cercaan manusia.

Dia bermuamalah dengan manusia tanpa menghiraukan kepentingan pribadinya. (Madarij as-Salikin, hlm. 58, dan Tajrid at-Tauhid al-Mufid, hlm. 84)

Subhanallah, betapa menakjubkan keadaan hamba yang seperti ini. Sampai-sampai, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah melabeli hamba yang seperti ini sebagai hamba yang telah menegakkan kalimat,

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (al-Fatihah: 5)

dengan sebenar-benarnya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbing kita semua untuk meraih keridhaan-Nya di setiap waktu yang kita lalui. Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Pemimpin Rumah Tangga yang Dirahmati

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun malam menegakkan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya hingga sang istri shalat. Apabila sang istri enggan, ia percikkan (usapkan) air ke wajahnya. Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala juga merahmati seorang istri yang bangun malam untuk mengerjakan shalat malam lalu ia membangunkan suaminya. Apabila sang suami enggan, ia usapkan air ke wajah suaminya.”

 

Takhrij Hadits

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan Abu Dawud, di dua tempat dalam kitabnya as-Sunan.

  1. Dalam kitab at-Tathawwu’ bab “Qiyamul Lail” (Kitab Shalat Sunnah bab “Shalat Malam”) no. 1308.
  2. Dalam kitab al-Witr bab “al-Hats ‘ala Qiyamil Lail” (Kitab Shalat Witir bab “Anjuran Shalat Malam”) no. 1450, melalui jalan gurunya Muhammad bin Basyar dari Yahya bin Sa’id al-Qaththan dari Ibnu ‘Ajlan dari al-Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Melalui jalan Ibnu Qaththan ini, hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad (2/250), Ibnu Majah rahimahullah no. 1336, an-Nasai rahimahullah (3/205), Ibnu Khuzaimah rahimahullah no. 1148, Ibnu Hibban rahimahullah no. 2567, al-Hakim rahimahullah (1/309), dan al-Baihaqi rahimahullah (2/501).

Al-Mundziri rahimahullah berkata, “… Dalam sanadnya ada Muhammad bin ‘Ajlan, ia dinyatakan tsiqah (tepercaya) oleh al-Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, al-Bukhari menjadikannya sebagai syahid (penguat), al-Imam Muslim mengeluarkan haditsnya dalam mutaba’at (sebagai penguat), dan sebagian ulama lain membicarakannya.”[1]

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini sahih dalam Shahih Sunan Abu Dawud (no. 1181).

 

Di Antara Sifat Suami Dambaan

Setiap insan berharap akan hadirnya pendamping hidup. Bagi seorang muslimah, sebelum datangnya peminang, pasti di benaknya terbayang pertanyaan sekaligus harapan tentang sifat-sifat suami ideal yang akan menjadi penyejuk hatinya.

Hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang taat selalu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala pendamping yang menyejukkan hati itu, sebagaimana dalam doa yang selalu mereka panjatkan,

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri (pasangan hidup) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan: Bagaimanakah suami ideal yang diharapkan menjadi pendamping yang menyejukkan hati?

Dia adalah suami yang selalu mengajak istrinya menaati Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana sebaliknya, istri yang ideal dan menyejukkan pandangan mata adalah istri yang terus membantu dan mengajak sang suami menaati Allah subhanahu wa ta’ala. Suasana bantu-membantu di atas ketakwaan menjadi salah satu asas bagi suami dalam membangun rumah tangganya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala firmankan,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Apa yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah contoh dari figur pendamping yang baik. Setiap yang membaca hadits ini tentu tertegun dan berdecak kagum menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Betapa indahnya seandainya suasana ini terwujud dalam rumah tangga kita semua. Semoga.

Lihat apa yang dilakukan sang suami! Di tengah gulitanya malam ia terjaga. Tangannya segera meraih air wudhu, berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, membaca ayat demi ayat al-Qur’an. Setelah tenggelam dalam lautan munajat di tengah keheningan, suami yang saleh itu tidak mencukupkan kebaikan hanya untuk dirinya, dia bangunkan sang istri hingga menyusulnya beribadah. Saat sang istri enggan, usapan air kasih sayang mengenai wajahnya, hingga sang istri pun terbangun mengikuti jejak suaminya.

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bila sang istri enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah di dalam Musnad (2/247) menukilkan ucapan Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah tentang makna hadits. Sufyan rahimahullah berkata,

“Bukan (tidak harus) dipercikkan air ke wajahnya, namun diusapkan.”

Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menerangkan, “Maksud perkataan Sufyan adalah menafsirkan kata النَّضْحُ dalam hadits ini. Pada asalnya kata النَّضْحُ bermakna memercikkan air, namun Sufyan ingin menjelaskan bahwa dalam konteks hadits ini bukan itu yang dimaksud. Sebab, percikan mungkin saja akan mengganggu seorang yang tidur dan membangunkannya dalam keadaan terkejut. Akan tetapi, maksudnya ialah mengusap dengan air, sebagai bentuk kelembutan bagi orang yang tidur dan penyemangat dari rasa malas.” Allahu a’lam.

Suami yang demikian sungguh besar pahala yang dia raih. Banyak sisi kebaikan untuknya sebagaimana ditunjukkan oleh hadits tersebut.

  1. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati dirinya sebagaimana dalam hadits ini,

“Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun malam untuk mengerjakan shalat malam lalu ia bangunkan istrinya, hingga sang istri shalat. Bila sang istri enggan, ia usapkan air ke wajahnya.”

  1. Ketika dia mengajak sang istri berbuat taat, ia pun akan memperoleh pahala istri yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala istrinya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa memberikan contoh yang baik dalam Islam, dia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelah dirinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

  1. Allah subhanahu wa ta’ala akan mencatat mereka berdua, suami dan istri, sebagai hamba-hamba- Nya yang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang bangun di waktu malam lalu ia bangunkan istrinya kemudian keduanya shalat dua rakaat, niscaya keduanya akan dicatat sebagai orang yang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

 

Jagalah Diri Kalian dan Keluarga Kalian dari Api Neraka

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang demikian agung ini juga mengingatkan kita akan sebuah tugas yang Allah subhanahu wa ta’ala embankan atas orang-orang yang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jika shalat sunnah saja sang suami demikian bersemangat membangunkan sang istri, tentu dalam perkara yang wajib suami yang saleh lebih bersemangat dalam membimbing keluarganya.

Suami yang menyejukkan hati tidak kenal putus asa dalam mengajari keluarganya tauhid, dan memperingatkan mereka dari kesyirikan, terus membimbing mereka untuk mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya, serta membimbing keluarganya untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hak-hak beliau.

Semua itu dia lakukan dengan penuh kesabaran dan semangat sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dalam firman-Nya,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

 

Rumah dalam Pandangan Suami Ideal

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sebagai sebuah faedah besar yang tidak boleh luput dari perhatian: Suami yang saleh adalah yang memiliki pandangan bahwa rumah bukan sekadar tempat menunaikan hajat makan, minum, beristirahat, bersenang-senang dengan keluarga, atau memenuhi kebutuhan biologis.

Bukan ini tujuan utama seorang suami saleh membangun keluarga dan menempati sebuah rumah tempat tinggal dan memimpin rumah tangga. Suami yang saleh adalah sosok yang memimpin keluarganya untuk bersama-sama memandang bahwa rumah ialah tempat menabur benih-benih kebaikan guna menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Suami yang ideal selalu berupaya menjadikan rumahnya penuh dengan suasana ibadah, tarbiyah (pendidikan) di atas manhaj nubuwwah untuk keluarganya, sebagaimana tampak dalam hadits di atas. Sang suami dengan penuh kasih sayang membangunkan sang istri untuk bangun malam, shalat tahajud, bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika sang istri enggan usapan kasih pun mengusap wajah sang istri dengan air sejuk, hingga terbangun untuk berdiri di hadapan Rabbul ‘alamin.

Banyak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan akan hal ini, yakni seorang suami harus memandang rumah bukan sekadar tempat berteduh dan menunaikan beragam hajat, namun di antara yang terpenting bagaimana mewujudkan suasana ibadah dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam rumah dan keluarganya.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan-kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat al-Baqarah.” ( HR. Muslim [1/539] no. 780)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bacalah surat al-Baqarah karena sungguh mengambilnya adalah berkah dan meninggalkannya adalah kerugian, dan tukang-tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim no. 804)

Dua hadits di atas adalah bimbingan kepada kita agar tidak menjadikan rumah seperti pekuburan, tidak ada shalat[2], tidak ada bacaan al-Qur’an dan zikir. Namun, hendaknya rumah dimakmurkan dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di samping memakmurkan rumah dengan zikir dan shalat sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan agar para suami membersihkan rumah-rumahnya dari perkara yang memalingkan dari zikir dan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti patung dan gambar-gambar makhluk bernyawa, juga alat-alat musik serta media-media yang menjadi sebab kerusakan dan berpalingnya seorang dan keluarganya dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala.agi kaum lelaki, memakmurkan

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Ummul Mukminin, beliau pernah membeli numraqah berhiaskan gambar-gambar, maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau berdiri di depan pintu dan tidak berkenan masuk ke dalam rumah. Aisyah menangkap ketidaksukaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tampak dalam wajahnya.

Aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bertobat kepada Allah dan Rasul- Nya, dosa apa yang aku lakukan?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Mengapa ada numraqah (bergambar) ini, apa yang dimaukan?’

Aku berkata, ‘Aku membelinya agar engkau duduk di atasnya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya para pembuat gambar-gambar ini pada hari kiamat akan disiksa, dikatakan padanya: Hidupkanlah apa yang dahulu kalian buat (berupa patung dan gambar makhluk bernyawa, -pen.).’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki malaikat’.” (HR. al-Bukhari no. 2105)

 

Suasana Ibadah di Rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan tentang sepasang suami istri yang Allah subhanahu wa ta’ala rahmati, beliau amalkan pula bersama ummahatul mukminin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak cukupkan ibadah untuk diri beliau sendiri, namun beliau bangunkan keluarganya agar beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bercerita tentang kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat malam sementara Aisyah tidur melintang di hadapan beliau. Apabila tersisa shalat witir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan Aisyah, hingga Aisyah menunaikan witir.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebagian riwayat Muslim dikatakan,

“Dan apabila tersisa shalat witir beliau bersabda, ‘Bangunlah engkau dan shalat witirlah, wahai Aisyah’.”

Aisyah radhiallahu ‘anha juga bercerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan beliau kencangkan ikat pinggang, beliau hidupkan malamnya dan beliau bangunkan keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Suatu malam Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha, salah seorang ummahatul mukminin shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun telah berumur, gemuk serta berat badannya, beliau terus bersemangat beribadah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di pagi harinya Saudah berkata,

“Wahai Rasulullah, semalam aku shalat di belakangmu, aku rukuk bersama rukukmu (yang cukup panjang, -pen.) hingga aku pegang hidungku, khawatir seandainya darah menetes dari hidungku!” (karena beratnya tubuh Saudah, -pen.).

Mendengar perkataan Saudah, sang istri, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. Kisah ini diriwayatkan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/54), perawi-perawinya tsiqah, hanya saja hadits ini mursal.

Allahu Akbar, suasana ibadah dan kasih sayang demikian tampak dalam kisah ini. Tawa Rasul pun memecah keheningan, menghangatkan suasana keluarga beliau yang penuh dengan berkah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang husna (Mahaindah), dan sifat-sifat-Mu yang Mahaagung, mudahkanlah kami meneladani Nabi-Mu. Mudahkanlah kami menapakkan kedua kaki yang penuh dengan dosa ini ke dalam jannah-Mu, menatap Wajah-Mu yang mulia, dan berjumpa dengan khalil-Mu, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Faedah-Faedah Hadits

  1. Siapa pun yang mendapatkan kebaikan hendaknya senang apabila kebaikan itu juga diperoleh saudaranya, lebih-lebih orang yang sangat dekat dengannya, seperti istri dan anakanaknya.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk mengerjakan shalat malam.
  3. Anjuran agar suami istri saling membantu dalam mengerjakan shalat malam. Sampai-sampai sang istri boleh menggunakan cara terbaik untuk itu, yaitu dengan mengusapkan air ke wajah suaminya, demikian pula sebaliknya.
  4. Dikhususkan penyebutan wajah, karena wajahlah bagian yang sangat peka sehingga lebih mudah untuk terbangun.
  5. Disebutkannya air dalam hadits dalam membangunkan tidak berarti harus dengan air, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan Aisyah radhiallahu ‘anha dengan perkataan beliau,
  6. “Bangunlah engkau dan shalat witirlah, wahai Aisyah!”
  7. Intinya, baik suami maupun istri berupaya membangunkan pasangan hidupnya dengan penuh kelembutan, dengan cara yang baik dan diridhai.
  8. Hadits ini menetapkan sifat rahmat bagi Allah subhanahu wa ta’ala, dan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala merahmati hamba-Nya.
  9. Keutamaan shalat malam sebagai sebab rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.
  10. Disyariatkan mewujudkan suasana ibadah dalam rumah tangga, lebihlebih atas seorang suami yang memiliki tanggung jawab lebih atas istrinya
  11. Hadits ini menunjukkan bahwa syariat untuk kaum laki-laki pada asalnya juga berlaku untuk kaum wanita selama tidak ada dalil yang membedakan keduanya.
  12. Islam tidak mengajari umatnya untuk shalat semalam suntuk, tetapi mengajarkan keseimbangan.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc


 

[1] Seperti perkataan al-‘Uqaili, “Yadhtharibu fi Haditsi Nafi’ (Dia goncang dalam hadits Nafi’).”

[2] Bagi kaum lelaki, memakmurkan rumah dengan shalat tentulah yang dimaksud shalat sunnah. Adapun shalat lima waktu, kaum lelaki wajib menunaikannya berjamaah di masjid. Allahu a’lam.

Jagalah Akidah Keluarga

 Seorang muslim yang telah menikah tentunya menginginkan keluarga yang bahagia. Mendambakan rumah tangga yang sakinah penuh dengan mawaddah warahmah seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan. Mendapatkan anak keturunan yang saleh, yang dapat menjadi pelipur lara orang tuanya, serta bermanfaat bagi orang tuanya di dunia dan akhirat.

Namun, hanya sebagian mereka yang mendapatkan kebahagiaan yang mereka cita-citakan. Adapun yang lainnya telah gagal atau belum mendapatkan apa yang mereka cita-citakan. Untuk meraih kebahagiaan tersebut tentunya butuh keistiqamahan dalam Islam, banyak beramal saleh dalam kehidupannya.

“Barang siapa yang beramal saleh dari kalangan pria ataupun wanita dalam keadaan dia beriman, Kami akan hidupkan dia dalam kehidupan yang baik…. ”

Senantiasa berusaha pula dalam menjauhi penyimpangan syariat Islam baik besar maupun kecil, apalagi penyimpangan yang terjadi dalam masalah akidah. Karena perbuatan dosa dan penyimpangan sangatlah besar pengaruhnya bagi pribadi dan keluarga seorang hamba. Silakan pembaca melihat dan membaca kitab Ibnul Qayyim rahimahullah yang berjudul ad-Da’u wa Dawa, akan didapati di sana betapa banyak akibat jelek perbuatan maksiat hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Berikut adalah sebagian kecil dari penyimpangan yang ada dalam rumah tangga. Seorang muslim hendaknya menjauhi perkara-perkara berikut ini ketika mereka hendak berumah tangga atau ketika telah berumah tangga. Di antara penyimpangan dalam masalah akidah yang terkait dengan rumah tangga adalah sebagai berikut.

  1. Memilih pasangan suami/istri yang tidak baik agamanya, bahkan menikahi seorang musyrik atau kafir (nikah beda agama).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Wanita dinikahi karena kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Utamakanlah yang bagus agamanya. (Jika kamu tidak mengutamakan agamanya) merugilah kamu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Disebutkan oleh para ulama kita bahwa hadits ini walaupun teksnya ditujukan untuk kaum pria, namun wanita pun harus demikian. Mereka harus mendahulukan agama calon suaminya.

Namun disayangkan, banyak orang tidak memerhatikan hal ini. Sebagian mereka lebih mengutamakan materi, wajah/penampilan, dan nasab tanpa memperhitungkan agama calon pasangan hidupnya, sehingga rusaklah rumah tangga mereka.

 

Hukum Menikah dengan Orang Kafir

Sebagian mereka bahkan lancang dengan memilih pasangan yang kafir. Para ulama kita menjelaskan bahwa seorang muslimah diharamkan menikah dengan orang kafir secara mutlak, baik dari kalangan ahlul kitab, musyrikin, maupun orang yang murtad.

Adapun muslim, tidak boleh menikahi wanita musyrikah atau kafir kecuali ahlul kitab. Namun, para ulama kita menasihati untuk tidak melakukannya, karena berbahaya bagi diri dan anak keturunannya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Walaupun diperbolehkan, namun yang lebih utama tidak menikahi wanita ahlul kitab. Karena perempuan tersebut akan memengaruhi anak-anaknya atau bahkan memengaruhi suaminya yang muslim tadi, jika dia mengagumi kecantikan atau kecerdasannya, ilmu atau akhlaknya, hingga menghilangkan akalnya atau bahkan menyeretnya kepada kekufuran.” (Tafsir Surat al-Baqarah, 2/79)

 

  1. Mencari “hari baik” untuk akad nikah

Di antara penyimpangan yang terjadi adalah mencari “hari baik untuk hari pernikahan”. Hal seperti ini adalah satu perbuatan syirik, karena masuk ke dalam makna tathayur. Tathayur adalah beranggapan sial dengan sesuatu yang dilihat, didengar, waktu atau tempat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Thiyarah adalah syirik.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

  1. Akad nikah yang mengandung kesyirikan

Di sebagian tempat ada yang melakukan kesyirikan di hari pernikahan. Pengantin baru yang hendak masuk rumah diharuskan menginjakkan kaki mereka ke darah hewan sembelihan tersebut. Para ulama kita menyatakan ini adalah kesyirikan. Ini termasuk penyembelihan untuk jin. (al-Qaulul Mufid)

Asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi menyebutkan beberapa bentuk penyembelihan untuk jin, yang ini tentunya adalah perbuatan syirik. Di antaranya:

  1. Penyembelihan untuk sumur baru atau ketika kering air sumur tersebut.
  2. Ketika selesai membangun rumah baru sebelum ditinggali agar terjaga dari jin.
  3. Sembelihan untuk seorang yang sedang kemasukan jin agar jin keluar darinya.
  4. Menyembelih untuk jin ketika menemukan harta di satu tempat.

Selain bentuk kesyirikan, ada pula perbuatan mungkar yang biasa terjadi di acara pernikahan. Di antaranya:

  1. Di beberapa tempat bahkan membuat sesajen di hari pesta pernikahan, sesajen untuk “karuhun” katanya. Ini adalah satu kesyirikan yang harus dijauhi dan dingkari seorang muslim.
  2. Datang ke dukun minta agar menahan hujan di hari pesta pernikahan.
  3. Tukar cincin di antara kedua mempelai.

Disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa kalau sampai seseorang memiliki keyakinan pernikahan akan utuh selama kedua mempelai memakai cincin, ini dihukumi sebagai tamimah (yang merupakan syirik kecil). Terlebih lagi jika cincin tersebut terbuat dari emas, terdapat larangan bagi kaum lelaki memakai emas.

 

  1. Tidak mendidik istri dengan agama

Seorang suami diwajibkan untuk mengajari istri-istri tentang agamanya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Para ulama tafsir menyatakan bahwa maknanya adalah “ajarilah mereka perkara agama, perintahlah mereka kepada yang ma’ruf dan laranglah mereka dari yang mungkar.”

Mengajari istri tentang agama dan menyuruhnya untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah hak yang paling besar yang harus ditunaikan seorang suami.

“Perintahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah di atasnya.…” (Thaha: 132)

Tentu, urusan pertama dan utama yang harus disampaikan adalah perintah untuk bertauhid dan menjauhi kesyirikan.

  1. Tidak mendidik anak dengan akidah yang sahih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya peran orang tua dalam menjaga akidah putra-putri mereka. Namun sangat disayangkan, sebagian orang tua terkesan “membiarkan” anak mereka melakukan perkara-perkara yang akan menjadi sebab penyimpangan mereka. Mereka lalai dari pendidikan agama mereka. Padahal disebutkan oleh para ulama kita, di antaranya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Hak anak yang paling besar adalah hak tarbiyah diniyah, pendidikan agama mereka.” (Huquq Da’at Ilaiha Fitrah)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan di antara sebab menyimpangnya seorang pemuda adalah:

  1. Memiliki teman yang jelek.
  2. Membaca bacaan atau mendengar sesuatu yang merusak agama dan akhlaknya.
  3. Tidak memiliki wawasan yang benar tentang Islam.

(Musykilatus Syabab)

Kewajiban orang tua selain mengajari mereka perkara tauhid, shalat, dan ibadah lainnya; adalah memilihkan teman yang baik bagi anak-anak mereka, mengawasi, dan mengontrol bacaanbacaan mereka. Yang lebih penting dari itu, adalah menanamkan kepada mereka akan keindahan Islam. Islam adalah agama yang menghargai hak-hak hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Islam adalah agama yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengingatkan kita dalam kitabnya Tuhfatul Maudud, “Kebanyakan anak, kerusakan mereka adalah karena bapak mereka menelantarkan mereka, tidak mengajari mereka perkara agama ini, yang wajib dan yang sunnahnya….”

 

  1. Menyekolahkan putra dan putrinya ke sekolah atau lembaga pendidikan yang menyimpang manhaj dan akidahnya.

Di antara bentuknya ialah sekolah dengan kurikulum yang mengandung penyimpangan akidah dan akhlak, mengajarkan akidah Asy’ariyah Maturidiyah, ilmu kalam, tasyabuh dengan orang kafir, demokrasi, dan kemungkaran lainnya.

Demikian juga pengajar-pengajar yang tidak paham akidah Ahlus Sunnah atau memiliki manhaj yang tidak jelas. Padahal guru adalah panutan murid-muridnya, ia akan berpengaruh besar pada akidah, manhaj, dan akhlak murid-muridnya. Ini adalah musibah yang besar.

 

  1. Menamai anak dengan nama-nama orang kafir

Di antara hak anak kita adalah mendapatkan nama yang baik. Di antara amalan di hari ketujuh hari kelahiran anak kita adalah memberinya nama. Nama yang terbaik adalah Abdullah dan Abdurahman.

Sangat disayangkan, banyak muslimin yang memberi nama anak mereka dengan nama orang-orang kafir.

 

  1. Pembantu rumah tangga/ pengasuh anak yang tidak bagus agamanya

Di antara kesalahan sebuah rumah tangga muslim adalah mendatangkan orang-orang kafir atau yang jelek agamanya sebagai pembantu rumah tangga. Para ulama kita telah menjelaskan bahayanya hal tersebut.

 

  1. Tinggal di lingkungan yang mengancam agamanya

Lingkungan tempat tinggal adalah di antara faktor yang penting dalam keistiqamahan seorang hamba di atas akidah yang sahih. Para ulama kita menjelaskan tentang haramnya tinggal di negeri kafir dan haramnya bepergian untuk tamasya ke negeri kafir. Bahkan wajib hukumnya hijrah dari negeri kafir bila seorang tidak bisa menampakkan syiar Islam di negeri tersebut.

 

  1. Lalai memanjatkan doa yang baik untuk anak dan istri

Doa adalah perkara penting yang harus senantiasa kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Kita mestinya senantiasa berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala meminta kebaikan untuk istri dan anak-anak. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah memberikan contoh kepada kita,

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini menjadi negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada patung.

Wahai Rabbku, patung-patung tersebut telah menyesatkan banyak manusia.…” (Ibrahim: 35—36)

Dalam ayat lain,

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku seorang yang senantiasa menegakkan shalat dan demikian juga anak keturunanku. Wahai Rabb, kabulkanlah doa kami.” (Ibrahim: 40)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya dan menjauhkan kita dari segala bentuk penyimpangan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan rumah tangga kita rumah tangga yang sakinah penuh dengan mawaddah dan rahmah.

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri (pasangan hidup) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak